Transcript
YIjI2QDB3-8 • Rupiah Terancam - Dampak 200T Prabowo "Cetak Uang" untuk Asta Cita (Janji MBG)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1414_YIjI2QDB3-8.txt
Kind: captions Language: id Anda merasakan enggak belakangan ini harga barang terasa mulai naik semua, daya beli juga semakin sepi? Ini bukan tanpa sebab. Ini semua mulai berdampak gara-gara demo DPR. Jauh itu sebelumnya kebijakan-kebijakan yang aneh-aneh. Ditambah lagi sekarang setelah demo DPR 178 sudah agak meredah, eh presiden kita tiba-tiba membuat kebijakan mau printing Mane senilai R triliun. Resikonya membuat rakyat semakin miskin, nilai rupiah semakin jatuh, inflasi semakin gila-gilaan, rupiah semakin enggak punya nilai. Tapi pemerintah kita berdalnya apa? menolong rakyat miskin dengan cara memberikan uang langsung ke BLT. Ketika orang miskin diberikan uang, orang miskin akan semakin setor ke uang kaya. Kenapa? Karena orang kaya akan menerima pembelanjaan orang miskin. Mereka flexing, mereka beli yang mereka enggak punya. Dan celakanya dibelikan rokok, main judi online, semakin pinjol, mereka headon, mereka ikut flexing. Ya, ini semua gara-gara siapa? Sahabat Entrepreneur, salam hebat luar biasa. Nah, memang video kali ini saya juga cukup gemes ya. Kita selamat datang kembali ke sisi yang lain. Saya membuat video ini itu saya merenung cukup mendalam. Saya tidak bisa cuman semata-mata sekedar menampaikan opini saya, tapi berdasarkan riset yang mendalam. Saya mulai membacakan berita terlebih dahulu. BI borong SBN 200 triliun buat ongkosi Asta Cita Prabowo. Saya cukup senang dan saya cukup happy. Asta citanya Pak Prabowo itu keren amat. Bukan enggak keren karena itu sebuah take off menuju negara maju. Saya juga sudah pernah bahas sama Pak Sandiaga Uno. Itu cita-cita beliau waktu sudah tahun 2014. Maklum beliau ini kan cucunya yang punya BNI ya. Jadi beliau itu tahu syarat menuju negara maju itu gimana. Beliau juga lulusan Eropa. Saya yakin beliau itu punya wawasan luar biasa. Apalagi beliau dari keluarga Cendana. Jadi saya yakin beliau itu cukup paham bagaimana membuat negara ini take off. Dan baru-baru ini kan beliau juga diundang di acara parade militernya 80 tahunnya ee Republik Rakyat Tiongkok ya bersama si Jinping dan beliau duduk VIP itu di situ bersama Putin bersama Kim Jong Un dan sebelahnya itu Pak Prabowo. Keren memang cukup keren. Tapi problemnya tuh di sini ini yang bikin saya gemes. Negara ini enggak punya duit. Nah, ini yang saya pertanyakan. Terus R00 triliun dari mana? Ini kan sama aja Indonesia itu pinjam duit sama Bank Indonesia. Berarti ini kan pinjam duit sama diri sendiri. Ini kan aneh. Duitnya enggak ada. Duitnya enggak ada. Terus dari mana pinjam duitnya? Kalau kita pribadi mau ke bank, kita mau pinjam duit, kita jaminkan BPKB motor kita, BPKB mobil kita, kita dapat duit tunai. Tapi asetnya, kolateral asetnya atau underlying asetnya dijaminkan. Nah, ini negara ini enggak ada yang dijaminkan lagi. Iya, kan? Jadi, ini enggak ada yang dijaminkan. Akhirnya kita itu berhutang untuk sesuatu yang sebetulnya kolateralnya enggak ada. Oke, bisa juga yang namanya ee GDP negara kita yang sudah semakin bagus. Tapi ini kan sama aja dengan printing money. Oke, let's see. Mari kita bahas satu persatu. Sabar ya, semua gemes ini dengan video ini. Kita semua sepakat menurut berita ekonomi, sepakat cetak duit demi pembian Asta Cita. Wah, Anda tahu Asta Cita apa? Tinggal Google sendiri. Keren. Itu memang idenya Pak Presiden kita. Pertanyaan loh, saya pribadi loh ya. Saya pribadi itu mendukung penuh loh. Siapa sih yang enggak kepin negara Indonesia maju kayak negara Tiongkok gitu? Maju semua. Penginlah bandaranya keren, pelabuhannya keren, bangunannya keren, siapa yang enggak maju. Semua ya kepenginlah Indonesia itu enggak mau jadi negara yang tertinggal. Terus kita semua mau maju gitu. Pertanyaan sekarang ini benar-benar cuma rencana atau jangan-jangan cuman ada kejadian di belakang kita. Mari kita lihat. Pemerintah ini punya janji manis nih lewat program Asta Cita. Mulai dari membangun Rp3 juta rumah, kemudian MBG, makan bergizi gratis. Tujuannya mulia untuk rakyat. Program ini butuh dana super jumbo loh. Eh, kasih makan gratis itu enggak mudah loh. Tapi caranya bukan cara biasa. Pemerintah ini memilih jalan pintas lewat skema burden sharing. Apa itu burden sharing dengan Bank Indonesia? Bur sharing ini tampilannya tuh seperti ini deh. Indonesia money supply. Kita lihat ya dari tahun '84 itu ya ini naik terus. Artinya apa? Rupiah ini semakin melemah, semakin melemah dan semakin nilainya semakin tak bernilai. Jadi sebenarnya Indonesia itu sudah printing mane sejak era 80-an. Kalian enggak sadar aja cuman istilah printing mane baru aja populer belakangan dipopulerkan sama orang-orang kripto. Tapi Indonesia ini sebenarnya sudah printing mane jat uang. Maaf loh ya. Bukan berarti saya bikin video ini mungkin membuat Anda itu semakin tidak cinta rupiah. Betul. Sekarang semua transaksi dalam negeri itu harus pakai rupiah. Tapi percaya enggak percaya 200 triliun ini semakin membuat rupiah tak bernilai. Kenapa? Enggak ada kelangkaannya. Beda sama emas. Emas itu langka karena semakin ditambang semakin sedikit. Ya kan? Bitcoin itu langka karena jumlahnya semakin sedikit. Kok saya jadi bahas Bitcoin sih? Tapi intinya logikanya seperti itu. Rupiah enggak langkah. Rupiahnya ini naik terus. Iya kan? Tuh lihat dari tahun '84 ini dataanya. Anda lihat sekarang 9.570T. Makanya kenapa negara kita utangnya membak terus i kan? Nah ketengarannya canggih tapi simpel. B diminta cetak uang baru ya untuk membeli surat utang pemerintah ya. Tapi Pak Candra, Pak Candra ada beli bond enggak sih? Beli FR enggak sih rupiah? Saya percaya negara ini. Jadi artinya saya juga masih membeli surat utang negara alias FR alias Ori obligasi retail Indonesia. I love this country. Cuman yang saya mau kritisi itu di sini karena apa? Success before 30 menjadi media pembanding. Saya enggak kalau programnya bagus saya support, kalau jelek ya saya kritik gitu. Dan ini yang paling bikin kaget. Ini bukan lagi wacana. ini sudah terjadi. Data menunjukkan per hari ini BI sudah membeli ratusan triliun surat utang negara untuk biayai program ini. Oh my God. Jadi menyebutnya ratusan triliun. Ini buktinya apa nih dari CNBC? BI suntik program Prabowo ratusan triliun begini skemanya. Anda baca sendiri. Bahkan burden sharing dan program prioritas Asta Cita. Satu R juta rumah. Du Koperasi Merah Putih. Oh, tuh lihat anggaran program Asas Cita. Ketahanan pangan 164T, ketahanan energi 402T, makan MBG 335 triliun. Gede loh itu. Pendidikan bermutu R57 triliun, kesehatan berkualitas R44 triliun. Ini bagus sih, asal dananya jangan lari ke koruptor. Negara ini miskin terus, tapi koruptornya tambah kaya. Pembangunan desa koperasi 181T dan pertahanan semesta 425T. Siapa yang enggak mau sekolah-sekolah di desa itu maju, semuanya, berac, semuanya keren, semuanya guru-guru tunjangannya naik, bukan anggota DPR. Iya kan? Karena guru itu masa depan bangsa. Guru itu kalau perlu gajinya R30 juta. Saya setuju itu. Jangan guru itu cuman UMR, kasihan. Jadi guru itu kerjanya itu betul-betul mati-matian. Saya loh banyak teman-teman guru yang akhirnya setelah pensiun mereka ungg enggak punya uang. kasihan akselerasi investasi dan perdagangan danantara bla bla bla 57 triliun. Jadi ini artinya mesin cetak uang itu sudah dinyalakan. Jadi kenapa para ahli justru panik nih resikonya apa buat kita nih? Penjelasan pertama suara rakyat sudah terdengar. Nah ini dia. Nah apa resikonya buat kita ketika printing man ini sudah terjadi? Kita bedah lebih dalam ya. Lihat aja kolom komen di media sosial. Kersan ini nyata. Saya sih bukan bacain komentar netizen, tapi ini ada penjelasannya dan saya juga sudah posting di IG saya tentang apa resiko printing money. Inflasi sudah pasti karena rupiah melemah dong. Rupiah enggak ada harganya karena tinggal dicetak apa susahnya. Harga barang dan jasa naik karena uang yang beredar banyak. Nilai tukar jatuh, mata uang jadi kurang berharga dibanding uang asing. Utang membengkak, utang pakai mata uang asing. Beban utang berat kalau nilai jatuh. Saya enggak paham ilmu finansial. Rasanya kok seram ya. Kayak jeruk mau busuk tapi makan jeruk supaya sehat. Ketika bank pemerintah memberikan uang ke pemerintahan kita lagi enggak jelas ini untuk program yang enggak jelas danantara bla bla bla dan sebagainya. Koperasi merah putih yang enggak jelas kemanya. Ini suara rakyat benar loh ya. Harap maklum ini Konoa. Kalau nyetak duit cetaklah US dolar jangan rupiah. Kalau nyetak dolar efek inflasi rupiah enggak ada. Tapi siap-siap disebut FBI. lebih setuju cetak uang senilai utang Indo, terus buat lunasi itu utang luar negeri. Nah, ini yang bahaya. Ini ideliar aja sih, jangan dibawa serius. Terus duitnya dipakai buat beli barang-barang dari Indo. Artinya enggak ada lagi devisa masuk bertahun-tahun. Ada yang bilang Svel ini inflasi harga barang naik karena uang beredar banyak, nilai tukar jatuh. Logis kan? Nah, bahkan ada yang cemas menyebut kebijakan ini bom waktu karena uangnya disuntik ke program-program yang belum jelas evaluasinya. Yang lain nyindir kalau nyetak duit cetaklah US dollar. Ini bukti bahwa kejadian panik itu nyata. Ini risiko besar loh. Benar. Risiko besar. Asal transparansinya itu ada, penggunaannya itu jelas, maka negara akan nyusul. Indonesia ini akan nyusul China. Si Jinting itu menjabat 2013 loh. 12 tahun beliau menjabat. Kinerjanya nyata. Semoga Pak Prabowo itu menyusul si jinting ya. Bagaimana membuat China tuh maju, rakyatnya tuh makmur, nilai properti naik semua, kesejahteraan rakyat menaik semua. meskipun yang tertinggal juga ada. Enggak bisalah negara besar tuh tidak mudah gitu ya. Nah, kenapa cetak uang itu berbahaya? Mari kita lihat di sini. Ini salah satu risiko besar. Analogi paling bampang itu rupiah itu seperti cabe ya di pasar. Harga cabe lah. Kalau pasar dibanjiri cabe harganya pasti turun kan. Kenapa cabai kadang bisa sekilo Rp100.000 kadang sekilo Rp10.000. Kalau Rp100.000 cabai langkah harganya naik ya kan. Suplai kurang, demand tinggi. Tapi kalau cabai banjir, cabe sampai busuk. Harga Rp10.000 pun banyak, murah. Nah, itu dia contoh dengan rupiah juga. S rupiahnya banjir ya enggak ada nilainya. Apa bedanya sama cabe? Sama kan. Nah, pemerintah membanjiri ekonomi dengan rupiah baru. Sementara jumlah barang dan jasa tumbuhnya lambat. Nah, nilai setiap rumbat melembar uang kita merosot. Inilah inflasi uang Rp100.000 Ibu hari ini nilainya terus digerogoti secara diam-diam. Saya itu kemarin diskusi sama anak saya sebelum saya membuat video ini. Kemarin kita makan nasi goreng di pinggir jalan. Ayo ee papa ajak kamu makan di pinggir jalan. Makan nasi goreng di kota kecil di Jawa Timur. Harga cuma Rp13.000 tapi nasi gorengnya gede banget bisa dibagi 4 piring. Terus anak saya yang gede ngomong gini, "Pah, kok nasi gorengnya murah sekali? R3.000 bisa dibagi 4 piring. Berarti per piring ini harganya cuman Rp3.000 sampai Rp4.000." Saya ketawa ini kota kecil, Nak. Saya ngomong gitu. Tapi ini banyak sekali. Iya. Sampai ke kota besar enggak bisa pakai telur sudah 18.000, Rp20.000 harganya satu kecil gitu. Itu namanya inflasi. Mau tahu waktu papa dulu masih kuliah, Papa waktu kuliah harga nasi goreng itu cuman R.00 di kota besar sudah pakai telur lagi. Hah? Segitunya anak saya yang kecil lebih lucu lagi yang cewek. Dulu kakek saya e ayah kakek kalian, ayah saya beli rumah itu tahun 0 cuman Rp45uta. Hah? Terus anak saya yang kecil itu kan sudah punya tabungan loh. Tabungan saya ini Rp9 juta katanya anak saya yang kecil. Lucu dia bilang masih dia kan masih SMP kelas 1. Tabunganku sudah Rp9 juta. E by the way itu dia cari duit sendiri ya. Dia menang lomba, menang apa dia nabung. Berarti saya bisa beli dua rumah dong. Nah jawabannya dengan pola seperti itu. Artinya apa? Inflasi itu nyata. Kan tadi saya sudah tunjukkan bahwa tahun 0 negara ini sudah printing mane sebetulnya di eranya Orde Baru. Nah, kurang lebih seperti itu loh inflasi. Ngerinya itu seperti itu. Jadi inflasi nilai yang ditunjukkan itu sama dengan printing money secara enggak langsung. Kalau rupiah lemah, harga barang impor jadi mahal. Jadi jangan kaget kalau nanti harga instan, tahu tempe, BBM ikut naik. Ini namanya import inflation yang langsung memukul dapur kita. Nah, selanjutnya resikonya apaagi? Mari kita lihat akun ngerti saham. Hmm, kita lihat nih dari ngerti saham membuat perhitungannya seperti ini. Banyak yang DM suruh bahas ini. Tolong Anda baca e postingan itu. Dia menganalisa dari postingan itu. Masih ingat enggak stimulus penambahan jumlah uang beredar agar masyarakat mau belanja? Nah, mungkin seperti itu dampaknya. Kali ini syoknya dari awal masyarakat tidak menahan belanja. Dari hasil diskusi dengan ZGBT, jika dilakukan dengan upaya pengendalian oleh pemerintah dan BI, maka dampaknya bisa 0% inflasi. Tapi ini sangat susah sampai 12% kan, Guys? Tergantung kecepatan uang tersebut berputar di masyarakat kita. in means humble opinion imho. Nah, artinya ini ada kemungkinan potensi 7 sampai 12% kalau betul-betul printing money ini sudah pelan-pelan akan terjadi. Ini sama aja Anda berhutang tapi rupiah yang dikorbankan. Nah, ini sangat-sangat dangerous. Nah, skenario paling dasar jika 200 triliun ini beredar akan ada tambahan inflasi 2,17% dari analisa itu tadi. Ini skenario paling optimis. Bahkan ada yang nyebut 7% sampai 12%. Anda lihat postingan ini tertinggi 12%. Nah, ini sangat-sangat dangerous. Kalau inflasi 7 sampai 12% ya itu tadi saya ngobrol sama anak saya itu tadi tahun 2000-an ketika tahun 94 ketika saya tuh masih kuliah harga nasi goreng sampai sekarang harganya sudah melambung 10 kali lipat. itu dalam kurun waktu sekian ee 20 tahun, 30 tahun ini akan terus naik inflasinya dan harga barang semakin mahal sedangkan gaji tidak kunjung naik. Nah, ini ada masalah dengan masyarakat. Betul negara maju. Jadi, jurang ini akan semakin tinggi. Hati-hati loh. Ini saya cuma bantu mengingatkan halo para anggota DPR. Kalau Anda membuat undang-undang, halo para menteri yang sedang bekerja di kabinet merah putih ini. Saya ingin berpesan ya kebijakan-kebijakan ini. Halo pembisik-pembisik ekonominya Pak Prabowo. Ketika video ini dibuat, Ibu Sri Mulyani resmi diganti. Jadi saya membuat video ini beritanya sudah muncul. Halo, tolong kalau dipergunakan dengan benar hutang tersebut, sip. Negara ini pasti akan maju dan terbang. Tapi kalau hutang ini dipergunakan dengan tidak benar dan tidak jelas dan tidak transparan, rakyat dikorbankan. Akhirnya takutnya Indonesia nyusul. Moga-moga negara Indonesia ini maju, GDP-nya semakin naik. Moga-moga negara kita ini semakin kuat seperti Tiongkok. Moga-moga negara kita ini asta citanya terwujud dan negara adil dan makmur. Tapi ini kan moga-moga saya sih juga mendoakan negara kita seperti itu. Video ini saya bukan nyinyirin pemerintah. Kalau bagus saya puji, kalau jelek saya gas. Karena saya enggak mau negara kita ini dirongrong oleh kebijakan-kebijakan yang kemarin sudah bikin panas DPR didemo rusuh dan sekarang sudah mulai adem. panas lagi gara-gara problem ini. Jadi, ini bukan lagi soal rasanya, tapi ini data potensi inflasi belasan persen yang bisa menggerus tabungan kita. Jadi, lain kali uang Rp100.000 itu sekarang kalau Anda belanja di supermarket enggak kelihatan kan sekarang uang Rp100.000 itu dapatnya apa kan. Anda uang Rp100.000 bisa hidup berapa hari? Jangan hitungan hari. Bahaya nih sekarang ini. So, stabilitas ekonomi kita bergantung pada kepercayaan terutama dari investor asing. Bila kepercayaan adalah independensi Bank Indonesia. BI itu ibarat wasit yang harus netral. Ketika BI dipaksa membiayai kemauan pemerintah, maka wasit gak netral. Investor melihat wasitnya sudah enggak netral. Ini sinyal bahaya. So, tiga risiko ini saya bacain ya. tiga risiko mengintai usai BI agresif cetak uang untuk biaya program Asta Cita Prabowo ini disebut fiscal dominance. Investor bakal mikir, "Wah, bahaya ini nilai investasi saya dalam rupiah bisa hancur kapan aja. Hasilnya mereka bisa kabur menarik modalnya dari Indonesia. Rupiah makin tertekan. Ekonomi makin goyang." Ingat kita ini punya sejarah kelam Indonesia yang pernah terjadi. Ya, saya mau cerita sedikit ini bukan cuman teori. Indonesia ini pernah ngalami mimpi buruk di era 60-an. 15 tahun Indonesia setelah merdeka. Pemerintah mengambil jalan pintas yang sama yaitu printing uang gila-gilaan. Itu yang disebut dengan namanya pemotongan nilai uang. Gila loh itu hasilnya bencana. Indonesia mengalami hyper inflasi sampai 635%. Ini Indonesia punya sejarah kelam di era Pak Karno. Pemotongan nilai uang. Anda yang lahir di era 40-an tanya kakek buyut Anda. Pasti harga barang naik 635%. Jadi kalau nasi goreng yang tadi kenapa saya selalu identik dengan nasi goreng? Karena nasi goreng itu makanan rakyat. Nasi goreng yang harganya Rp18.000 itu tadi tiba-tiba harganya kalau naik 600% nasi goreng satu piring Rp100.000. Gila enggak kalau seperti itu? Ini kalau tidak awas tuh uang jadi tidak berharga. Puncaknya pemerintah melakukan senering moto nilai uang 1.000 menjadi Rp1. Jadi Rp100.000 akhirnya jadi Rp1.000. Jadi seolah-olah nasi goreng itu cuma harganya Rp1.000. Itu namanya sening. Bayangkan kalau Anda punya tabungan Rp100 juta, besok pagi tinggal Rp100.000. Ini ngeri kan? Pemotongan nilai ini bukan film. Ini sejarah kelam bangsa. Ini benar terjadi. Saya sering dengar nih cerita dari ayah saya tentang pemotongan nilai uang tahun era tahun 6060-an. Itu bahaya 61 atau 62 gitu kurang lebih. Itu bahaya. Saya juga belum lahir waktu itu. Nah, inilah yang dimaksud dengan senering. Nah, ini akhirnya membuka pintu pesta koruptor. Uang mudah ratusan triliun tanpa pengawasan ketat, resep bencana ekonomi korupsi. Saya sih mendukung dan antara Pak Rosan tolong Anda bekerja dengan baik. Tapi mohon maaf kalau Anda itu enggak pernah punya pengalaman pegang uang waduh ratusan triliun dalam waktu singkat untuk program ini, program itu, ini bahaya. Tapi kalau melihat track record-nya Pak Rosan harusnya beliau itu sudah biasa. Nah, tapi kita doakan semoga beliau sehat, diberikan kebijaksanaan agar betul-betul negara ini take off. Kalau enggak tahun 60 bisa terulang loh. Ini bahaya. Nah, uang ini ngalir ke proyek-proyek besar seperti sektor yang disebut Indonesian corruption watch disebut primadona korupsi. Iya, ini tempat ladang korupsi paling enak. Kita juga punya pelajaran pa dari skandal BLBI di mana suntikan dana darurat ratusan deli ini malah jadi ajang estapora para koruptor. Saat ini kita menanggung risiko inflasi. Ada potensi para koruptor bersiap untuk pesta parti ini. Kalau sejarah Indonesia ini kurang menakutkan, lihat negara lain yang sudah tamat. Jerman contohnya masyarakat bakar uang kertas untuk penghangat ruangan karena lebih murah dari kayu bakar. Gila enggak? Itu pernah loh lahirlah Hitler di perang dunia kedua. Ini sejarah loh. Ini betul-betul Anda Google aja sudah tahu. Zimbabwe contohnya menerbitkan uang kertas 100 triliun dolar yang tak cukup untuk beli roti. 100 triliun dolar. Mau Indonesia seperti itu? Atau Venezuela, negara kayaminya hancur, jutaan rakyatnya mengungsi. Ini sejarah apa? Indonesia mau nyusul tertulis di sini sejarah. Semua mulai dari titik yang sama yaitu pemerintah menyelesaikan masalah keuangan dengan cara printing money, printing money, printing money. So, kesimpulannya jelas bahwa janji permintaan ini dibiayai untuk sebuah judi massal, pertaruhan nilai tabungan dan masa depan ekonomi kita semua. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan? Pasrah dan jadi korban? No. Orang dengan mindset pemenang akan cari cara untuk melindungi diri. Ini bukan waktunya 100% percaya pada satu mata uang saja. Prinsip paling dasar untuk selamat daripada ekonomi ini adalah diversifikasi. Jangan taruh telur di dalam satu keranjang. Mulailah berpikir untuk memindahkan sebagian kecil aset Anda ke benteng pertahanan dan ada nilai perlindungan lain yang lebih kuat daripada rupiah. Nah, kalau Anda mau tahu apa saja, saya hari ini akan memperkenalkan salah satu workshop yang akan mengajarkan ini yang akan kami adakan bersama Pak Toni Dikaryo di pelatihan merdeka tanggal 1 dan 2 November di Jakarta. Kita akan belajar dengan kondisi bangsa ini. Dari situ kita akan berpikir, Anda silakan lihat link di deskripsi. Di situ kita ajak berpikir untuk bagaimana apakah kita harus tras sama rupiah saja atau saatnya kita mendiversifikasi mungkin ke emas atau ke uang digital seperti kripto? Kita harus survive. Karena kalau negara ini bukan kita enggak terus sama negara ini, tapi negara ini mengambil risiko yang cukup besar. Dan apakah resiko itu harus kita tanggung? Nah, kalau Anda smart, mari kita belajar bersama, diskusi bersama dengan seorang pakar dan ahli agar kita punya wawasan ke depan. Oleh saat itu, mari mulai belajar. Jangan cuman pasrah, jangan cuman lihat berita negatif, tapi level up successiv 30 ini sisi yang lain ini mengajak kita untuk benar-benar level up. Jangan lagi terjadi kejadian tahun 60 pemotongan nilai uang. Amit-amit kita nyusul Zimbabwe dan Jerman sebelum lahirnya Hitler atau Venezuela. Tapi hari ini kita bisa menjadi lebih cerdas. Sukses untuk Anda. Salam hebat luar biasa.