Transcript
YIjI2QDB3-8 • Rupiah Terancam - Dampak 200T Prabowo "Cetak Uang" untuk Asta Cita (Janji MBG)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1414_YIjI2QDB3-8.txt
Kind: captions
Language: id
Anda merasakan enggak belakangan ini
harga barang terasa mulai naik semua,
daya beli juga semakin sepi? Ini bukan
tanpa sebab. Ini semua mulai berdampak
gara-gara demo DPR. Jauh itu sebelumnya
kebijakan-kebijakan yang aneh-aneh.
Ditambah lagi sekarang setelah demo DPR
178 sudah agak meredah, eh presiden kita
tiba-tiba membuat kebijakan mau printing
Mane senilai R triliun. Resikonya
membuat rakyat semakin miskin, nilai
rupiah semakin jatuh, inflasi semakin
gila-gilaan, rupiah semakin enggak punya
nilai. Tapi pemerintah kita berdalnya
apa? menolong rakyat miskin dengan cara
memberikan uang langsung ke BLT. Ketika
orang miskin diberikan uang, orang
miskin akan semakin setor ke uang kaya.
Kenapa? Karena orang kaya akan menerima
pembelanjaan orang miskin. Mereka
flexing, mereka beli yang mereka enggak
punya. Dan celakanya dibelikan rokok,
main judi online, semakin pinjol, mereka
headon, mereka ikut flexing. Ya, ini
semua gara-gara siapa? Sahabat
Entrepreneur, salam hebat luar biasa.
Nah, memang video kali ini saya juga
cukup gemes ya. Kita selamat datang
kembali ke sisi yang lain. Saya membuat
video ini itu saya merenung cukup
mendalam. Saya tidak bisa cuman
semata-mata sekedar menampaikan opini
saya, tapi berdasarkan riset yang
mendalam. Saya mulai membacakan berita
terlebih dahulu. BI borong SBN 200
triliun buat ongkosi Asta Cita Prabowo.
Saya cukup senang dan saya cukup happy.
Asta citanya Pak Prabowo itu keren amat.
Bukan enggak keren karena itu sebuah
take off menuju negara maju. Saya juga
sudah pernah bahas sama Pak Sandiaga
Uno. Itu cita-cita beliau waktu sudah
tahun 2014. Maklum beliau ini kan
cucunya yang punya BNI ya. Jadi beliau
itu tahu syarat menuju negara maju itu
gimana. Beliau juga lulusan Eropa. Saya
yakin beliau itu punya wawasan luar
biasa. Apalagi beliau dari keluarga
Cendana. Jadi saya yakin beliau itu
cukup paham bagaimana membuat negara ini
take off. Dan baru-baru ini kan beliau
juga diundang di acara parade militernya
80 tahunnya ee Republik Rakyat Tiongkok
ya bersama si Jinping dan beliau duduk
VIP itu di situ bersama Putin bersama
Kim Jong Un dan sebelahnya itu Pak
Prabowo. Keren memang cukup keren. Tapi
problemnya tuh di sini ini yang bikin
saya gemes. Negara ini enggak punya
duit. Nah, ini yang saya pertanyakan.
Terus R00 triliun dari mana? Ini kan
sama aja Indonesia itu pinjam duit sama
Bank Indonesia. Berarti ini kan pinjam
duit sama diri sendiri. Ini kan aneh.
Duitnya enggak ada. Duitnya enggak ada.
Terus dari mana pinjam duitnya? Kalau
kita pribadi mau ke bank, kita mau
pinjam duit, kita jaminkan BPKB motor
kita, BPKB mobil kita, kita dapat duit
tunai. Tapi asetnya, kolateral asetnya
atau underlying asetnya dijaminkan. Nah,
ini negara ini enggak ada yang
dijaminkan lagi.
Iya, kan? Jadi, ini enggak ada yang
dijaminkan. Akhirnya kita itu berhutang
untuk sesuatu yang sebetulnya
kolateralnya enggak ada. Oke, bisa juga
yang namanya ee GDP negara kita yang
sudah semakin bagus. Tapi ini kan sama
aja dengan printing money. Oke, let's
see. Mari kita bahas satu persatu. Sabar
ya, semua gemes ini dengan video ini.
Kita semua sepakat menurut berita
ekonomi, sepakat cetak duit demi pembian
Asta Cita. Wah, Anda tahu Asta Cita apa?
Tinggal Google sendiri. Keren. Itu
memang idenya Pak Presiden kita.
Pertanyaan loh, saya pribadi loh ya.
Saya pribadi itu mendukung penuh loh.
Siapa sih yang enggak kepin negara
Indonesia maju kayak negara Tiongkok
gitu? Maju semua. Penginlah bandaranya
keren, pelabuhannya keren, bangunannya
keren, siapa yang enggak maju. Semua ya
kepenginlah Indonesia itu enggak mau
jadi negara yang tertinggal. Terus kita
semua mau maju gitu. Pertanyaan sekarang
ini benar-benar cuma rencana atau
jangan-jangan cuman ada kejadian di
belakang kita. Mari kita lihat.
Pemerintah ini punya janji manis nih
lewat program Asta Cita. Mulai dari
membangun Rp3 juta rumah, kemudian MBG,
makan bergizi gratis. Tujuannya mulia
untuk rakyat. Program ini butuh dana
super jumbo loh. Eh, kasih makan gratis
itu enggak mudah loh. Tapi caranya bukan
cara biasa. Pemerintah ini memilih jalan
pintas lewat skema burden sharing. Apa
itu burden sharing dengan Bank
Indonesia? Bur sharing ini tampilannya
tuh seperti ini deh. Indonesia money
supply. Kita lihat ya dari tahun '84 itu
ya ini naik terus. Artinya apa? Rupiah
ini semakin melemah, semakin melemah dan
semakin nilainya semakin tak bernilai.
Jadi sebenarnya Indonesia itu sudah
printing mane sejak era 80-an. Kalian
enggak sadar aja cuman istilah printing
mane baru aja populer belakangan
dipopulerkan sama orang-orang kripto.
Tapi Indonesia ini sebenarnya sudah
printing mane jat uang. Maaf loh ya.
Bukan berarti saya bikin video ini
mungkin membuat Anda itu semakin tidak
cinta rupiah. Betul. Sekarang semua
transaksi dalam negeri itu harus pakai
rupiah. Tapi percaya enggak percaya 200
triliun ini semakin membuat rupiah tak
bernilai. Kenapa? Enggak ada
kelangkaannya. Beda sama emas. Emas itu
langka karena semakin ditambang semakin
sedikit. Ya kan? Bitcoin itu langka
karena jumlahnya semakin sedikit. Kok
saya jadi bahas Bitcoin sih? Tapi
intinya logikanya seperti itu. Rupiah
enggak langkah. Rupiahnya ini naik
terus. Iya kan? Tuh lihat dari tahun '84
ini dataanya. Anda lihat sekarang
9.570T.
Makanya kenapa negara kita utangnya
membak terus i kan? Nah ketengarannya
canggih tapi simpel. B diminta cetak
uang baru
ya untuk membeli surat utang pemerintah
ya. Tapi Pak Candra, Pak Candra ada beli
bond enggak sih? Beli FR enggak sih
rupiah? Saya percaya negara ini. Jadi
artinya saya juga masih membeli surat
utang negara alias FR alias Ori obligasi
retail Indonesia. I love this country.
Cuman yang saya mau kritisi itu di sini
karena apa? Success before 30 menjadi
media pembanding. Saya enggak kalau
programnya bagus saya support, kalau
jelek ya saya kritik gitu. Dan ini yang
paling bikin kaget. Ini bukan lagi
wacana. ini sudah terjadi. Data
menunjukkan per hari ini BI sudah
membeli ratusan triliun surat utang
negara untuk biayai program ini. Oh my
God. Jadi menyebutnya ratusan triliun.
Ini buktinya apa nih dari CNBC? BI
suntik program Prabowo ratusan triliun
begini skemanya. Anda baca sendiri.
Bahkan burden sharing dan program
prioritas Asta Cita. Satu R juta rumah.
Du Koperasi Merah Putih. Oh, tuh lihat
anggaran program Asas Cita. Ketahanan
pangan 164T, ketahanan energi 402T,
makan MBG 335 triliun. Gede loh itu.
Pendidikan bermutu R57 triliun,
kesehatan berkualitas R44 triliun. Ini
bagus sih, asal dananya jangan lari ke
koruptor.
Negara ini miskin terus, tapi
koruptornya tambah kaya. Pembangunan
desa koperasi 181T
dan pertahanan semesta 425T. Siapa yang
enggak mau sekolah-sekolah di desa itu
maju, semuanya, berac, semuanya keren,
semuanya guru-guru tunjangannya naik,
bukan anggota DPR.
Iya kan? Karena guru itu masa depan
bangsa. Guru itu kalau perlu gajinya R30
juta. Saya setuju itu. Jangan guru itu
cuman UMR, kasihan. Jadi guru itu
kerjanya itu betul-betul mati-matian.
Saya loh banyak teman-teman guru yang
akhirnya setelah pensiun mereka ungg
enggak punya uang. kasihan akselerasi
investasi dan perdagangan danantara bla
bla bla 57 triliun. Jadi ini artinya
mesin cetak uang itu sudah dinyalakan.
Jadi kenapa para ahli justru panik nih
resikonya apa buat kita nih? Penjelasan
pertama suara rakyat sudah terdengar.
Nah ini dia. Nah apa resikonya buat kita
ketika printing man ini sudah terjadi?
Kita bedah lebih dalam ya. Lihat aja
kolom komen di media sosial. Kersan ini
nyata. Saya sih bukan bacain komentar
netizen, tapi ini ada penjelasannya dan
saya juga sudah posting di IG saya
tentang apa resiko printing money.
Inflasi sudah pasti karena rupiah
melemah dong. Rupiah enggak ada harganya
karena tinggal dicetak apa susahnya.
Harga barang dan jasa naik karena uang
yang beredar banyak. Nilai tukar jatuh,
mata uang jadi kurang berharga dibanding
uang asing. Utang membengkak, utang
pakai mata uang asing. Beban utang berat
kalau nilai jatuh. Saya enggak paham
ilmu finansial. Rasanya kok seram ya.
Kayak jeruk mau busuk tapi makan jeruk
supaya sehat. Ketika bank pemerintah
memberikan uang ke pemerintahan kita
lagi enggak jelas ini untuk program yang
enggak jelas danantara bla bla bla dan
sebagainya. Koperasi merah putih yang
enggak jelas kemanya. Ini suara rakyat
benar loh ya. Harap maklum ini Konoa.
Kalau nyetak duit cetaklah US dolar
jangan rupiah.
Kalau nyetak dolar efek inflasi rupiah
enggak ada. Tapi siap-siap disebut FBI.
lebih setuju cetak uang senilai utang
Indo, terus buat lunasi itu utang luar
negeri. Nah, ini yang bahaya. Ini
ideliar aja sih, jangan dibawa serius.
Terus duitnya dipakai buat beli
barang-barang dari Indo. Artinya enggak
ada lagi devisa masuk bertahun-tahun.
Ada yang bilang Svel ini inflasi harga
barang naik karena uang beredar banyak,
nilai tukar jatuh. Logis kan? Nah,
bahkan ada yang cemas menyebut kebijakan
ini bom waktu karena uangnya disuntik ke
program-program yang belum jelas
evaluasinya. Yang lain nyindir kalau
nyetak duit cetaklah US dollar. Ini
bukti bahwa kejadian panik itu nyata.
Ini risiko besar loh. Benar. Risiko
besar. Asal transparansinya itu ada,
penggunaannya itu jelas, maka negara
akan nyusul. Indonesia ini akan nyusul
China. Si Jinting itu menjabat 2013 loh.
12 tahun beliau menjabat. Kinerjanya
nyata. Semoga Pak Prabowo itu menyusul
si jinting ya. Bagaimana membuat China
tuh maju, rakyatnya tuh makmur, nilai
properti naik semua, kesejahteraan
rakyat menaik semua. meskipun yang
tertinggal juga ada. Enggak bisalah
negara besar tuh tidak mudah gitu ya.
Nah, kenapa cetak uang itu berbahaya?
Mari kita lihat di sini. Ini salah satu
risiko besar. Analogi paling bampang itu
rupiah itu seperti cabe ya di pasar.
Harga cabe lah. Kalau pasar dibanjiri
cabe harganya pasti turun kan. Kenapa
cabai kadang bisa sekilo Rp100.000
kadang sekilo Rp10.000. Kalau Rp100.000
cabai langkah harganya naik ya kan.
Suplai kurang, demand tinggi. Tapi kalau
cabai banjir, cabe sampai busuk. Harga
Rp10.000 pun banyak, murah. Nah, itu dia
contoh dengan rupiah juga. S rupiahnya
banjir ya enggak ada nilainya. Apa
bedanya sama cabe? Sama kan. Nah,
pemerintah membanjiri ekonomi dengan
rupiah baru. Sementara jumlah barang dan
jasa tumbuhnya lambat. Nah, nilai setiap
rumbat melembar uang kita merosot.
Inilah inflasi uang Rp100.000 Ibu hari
ini nilainya terus digerogoti secara
diam-diam. Saya itu kemarin diskusi sama
anak saya sebelum saya membuat video
ini. Kemarin kita makan nasi goreng di
pinggir jalan. Ayo ee papa ajak kamu
makan di pinggir jalan. Makan nasi
goreng di kota kecil di Jawa Timur.
Harga cuma Rp13.000 tapi nasi gorengnya
gede banget bisa dibagi 4 piring. Terus
anak saya yang gede ngomong gini, "Pah,
kok nasi gorengnya murah sekali? R3.000
bisa dibagi 4 piring. Berarti per piring
ini harganya cuman Rp3.000 sampai
Rp4.000."
Saya ketawa ini kota kecil, Nak. Saya
ngomong gitu. Tapi ini banyak sekali.
Iya. Sampai ke kota besar enggak bisa
pakai telur sudah 18.000, Rp20.000
harganya satu kecil gitu. Itu namanya
inflasi. Mau tahu waktu papa dulu masih
kuliah, Papa waktu kuliah harga nasi
goreng itu cuman R.00 di kota besar
sudah pakai telur lagi. Hah? Segitunya
anak saya yang kecil lebih lucu lagi
yang cewek. Dulu kakek saya e ayah kakek
kalian, ayah saya beli rumah itu tahun 0
cuman Rp45uta.
Hah? Terus anak saya yang kecil itu kan
sudah punya tabungan loh. Tabungan saya
ini Rp9 juta katanya anak saya yang
kecil. Lucu dia bilang masih dia kan
masih SMP kelas 1. Tabunganku sudah Rp9
juta. E by the way itu dia cari duit
sendiri ya. Dia menang lomba, menang apa
dia nabung. Berarti saya bisa beli dua
rumah dong. Nah jawabannya dengan pola
seperti itu. Artinya apa? Inflasi itu
nyata. Kan tadi saya sudah tunjukkan
bahwa tahun 0 negara ini sudah printing
mane sebetulnya di eranya Orde Baru.
Nah, kurang lebih seperti itu loh
inflasi. Ngerinya itu seperti itu. Jadi
inflasi nilai yang ditunjukkan itu sama
dengan printing money secara enggak
langsung. Kalau rupiah lemah, harga
barang impor jadi mahal. Jadi jangan
kaget kalau nanti harga instan, tahu
tempe, BBM ikut naik. Ini namanya import
inflation yang langsung memukul dapur
kita. Nah, selanjutnya resikonya apaagi?
Mari kita lihat akun ngerti saham. Hmm,
kita lihat nih dari ngerti saham membuat
perhitungannya seperti ini. Banyak yang
DM suruh bahas ini. Tolong Anda baca e
postingan itu. Dia menganalisa dari
postingan itu. Masih ingat enggak
stimulus penambahan jumlah uang beredar
agar masyarakat mau belanja? Nah,
mungkin seperti itu dampaknya. Kali ini
syoknya dari awal masyarakat tidak
menahan belanja. Dari hasil diskusi
dengan ZGBT, jika dilakukan dengan upaya
pengendalian oleh pemerintah dan BI,
maka dampaknya bisa 0% inflasi. Tapi ini
sangat susah sampai 12% kan, Guys?
Tergantung kecepatan uang tersebut
berputar di masyarakat kita. in means
humble opinion imho. Nah, artinya ini
ada kemungkinan potensi 7 sampai 12%
kalau betul-betul printing money ini
sudah pelan-pelan akan terjadi. Ini sama
aja Anda berhutang tapi rupiah yang
dikorbankan. Nah, ini sangat-sangat
dangerous. Nah, skenario paling dasar
jika 200 triliun ini beredar akan ada
tambahan inflasi 2,17%
dari analisa itu tadi. Ini skenario
paling optimis. Bahkan ada yang nyebut
7% sampai 12%. Anda lihat postingan ini
tertinggi 12%.
Nah, ini sangat-sangat dangerous. Kalau
inflasi 7 sampai 12% ya itu tadi saya
ngobrol sama anak saya itu tadi tahun
2000-an ketika tahun 94 ketika saya tuh
masih kuliah harga nasi goreng sampai
sekarang harganya sudah melambung 10
kali lipat. itu dalam kurun waktu sekian
ee 20 tahun, 30 tahun ini akan terus
naik inflasinya dan harga barang semakin
mahal sedangkan gaji tidak kunjung naik.
Nah, ini ada masalah dengan masyarakat.
Betul negara maju. Jadi, jurang ini akan
semakin tinggi. Hati-hati loh. Ini saya
cuma bantu mengingatkan halo para
anggota DPR. Kalau Anda membuat
undang-undang, halo para menteri yang
sedang bekerja di kabinet merah putih
ini. Saya ingin berpesan ya
kebijakan-kebijakan ini. Halo
pembisik-pembisik ekonominya Pak
Prabowo. Ketika video ini dibuat, Ibu
Sri Mulyani resmi diganti. Jadi saya
membuat video ini beritanya sudah
muncul. Halo, tolong kalau dipergunakan
dengan benar hutang tersebut, sip.
Negara ini pasti akan maju dan terbang.
Tapi kalau hutang ini dipergunakan
dengan tidak benar
dan tidak jelas dan tidak transparan,
rakyat dikorbankan. Akhirnya takutnya
Indonesia nyusul.
Moga-moga negara Indonesia ini maju,
GDP-nya semakin naik. Moga-moga negara
kita ini semakin kuat seperti Tiongkok.
Moga-moga negara kita ini asta citanya
terwujud dan negara adil dan makmur.
Tapi ini kan moga-moga saya sih juga
mendoakan negara kita seperti itu. Video
ini saya bukan nyinyirin pemerintah.
Kalau bagus saya puji, kalau jelek saya
gas. Karena saya enggak mau negara kita
ini dirongrong oleh kebijakan-kebijakan
yang kemarin sudah bikin panas DPR
didemo rusuh dan sekarang sudah mulai
adem. panas lagi gara-gara problem ini.
Jadi, ini bukan lagi soal rasanya, tapi
ini data potensi inflasi belasan persen
yang bisa menggerus tabungan kita. Jadi,
lain kali uang Rp100.000 itu sekarang
kalau Anda belanja di supermarket enggak
kelihatan kan sekarang uang Rp100.000
itu dapatnya apa kan. Anda uang
Rp100.000 bisa hidup berapa hari? Jangan
hitungan hari. Bahaya nih sekarang ini.
So, stabilitas ekonomi kita bergantung
pada kepercayaan terutama dari investor
asing. Bila kepercayaan adalah
independensi
Bank Indonesia. BI itu ibarat wasit yang
harus netral. Ketika BI dipaksa
membiayai kemauan pemerintah, maka wasit
gak netral. Investor melihat wasitnya
sudah enggak netral. Ini sinyal bahaya.
So, tiga risiko ini saya bacain ya. tiga
risiko mengintai usai BI agresif cetak
uang untuk biaya program Asta Cita
Prabowo ini disebut fiscal dominance.
Investor bakal mikir, "Wah, bahaya ini
nilai investasi saya dalam rupiah bisa
hancur kapan aja. Hasilnya mereka bisa
kabur menarik modalnya dari Indonesia.
Rupiah makin tertekan. Ekonomi makin
goyang." Ingat kita ini punya sejarah
kelam Indonesia yang pernah terjadi. Ya,
saya mau cerita sedikit ini bukan cuman
teori. Indonesia ini pernah ngalami
mimpi buruk di era 60-an. 15 tahun
Indonesia setelah merdeka. Pemerintah
mengambil jalan pintas yang sama yaitu
printing uang gila-gilaan. Itu yang
disebut dengan namanya pemotongan nilai
uang.
Gila loh itu hasilnya bencana. Indonesia
mengalami hyper inflasi sampai 635%.
Ini Indonesia punya sejarah kelam di era
Pak Karno. Pemotongan nilai uang. Anda
yang lahir di era 40-an tanya kakek
buyut Anda. Pasti harga barang naik
635%. Jadi kalau nasi goreng yang tadi
kenapa saya selalu identik dengan nasi
goreng? Karena nasi goreng itu makanan
rakyat. Nasi goreng yang harganya
Rp18.000 itu tadi tiba-tiba harganya
kalau naik 600% nasi goreng satu piring
Rp100.000. Gila enggak kalau seperti
itu? Ini kalau tidak awas tuh uang jadi
tidak berharga. Puncaknya pemerintah
melakukan senering moto nilai uang 1.000
menjadi Rp1. Jadi Rp100.000 akhirnya
jadi Rp1.000. Jadi seolah-olah nasi
goreng itu cuma harganya Rp1.000.
Itu namanya sening. Bayangkan kalau Anda
punya tabungan Rp100 juta, besok pagi
tinggal Rp100.000.
Ini ngeri kan? Pemotongan nilai ini
bukan film. Ini sejarah kelam bangsa.
Ini benar terjadi. Saya sering dengar
nih cerita dari ayah saya tentang
pemotongan nilai uang tahun era tahun
6060-an. Itu bahaya 61 atau 62 gitu
kurang lebih. Itu bahaya. Saya juga
belum lahir waktu itu. Nah, inilah yang
dimaksud dengan senering. Nah, ini
akhirnya membuka pintu pesta koruptor.
Uang mudah ratusan triliun tanpa
pengawasan ketat, resep bencana ekonomi
korupsi. Saya sih mendukung dan antara
Pak Rosan tolong Anda bekerja dengan
baik. Tapi mohon maaf kalau Anda itu
enggak pernah punya pengalaman pegang
uang waduh ratusan triliun dalam waktu
singkat untuk program ini, program itu,
ini bahaya. Tapi kalau melihat track
record-nya Pak Rosan harusnya beliau itu
sudah biasa. Nah, tapi kita doakan
semoga beliau sehat, diberikan
kebijaksanaan agar betul-betul negara
ini take off. Kalau enggak tahun 60 bisa
terulang loh. Ini bahaya. Nah, uang ini
ngalir ke proyek-proyek besar seperti
sektor yang disebut Indonesian
corruption watch disebut primadona
korupsi. Iya, ini tempat ladang korupsi
paling enak. Kita juga punya pelajaran
pa dari skandal BLBI di mana suntikan
dana darurat ratusan deli ini malah jadi
ajang estapora para koruptor. Saat ini
kita menanggung risiko inflasi. Ada
potensi para koruptor bersiap untuk
pesta parti ini. Kalau sejarah Indonesia
ini kurang menakutkan, lihat negara lain
yang sudah tamat. Jerman contohnya
masyarakat bakar uang kertas untuk
penghangat ruangan karena lebih murah
dari kayu bakar. Gila enggak? Itu pernah
loh lahirlah Hitler di perang dunia
kedua. Ini sejarah loh. Ini betul-betul
Anda Google aja sudah tahu. Zimbabwe
contohnya menerbitkan uang kertas 100
triliun dolar yang tak cukup untuk beli
roti. 100 triliun dolar. Mau Indonesia
seperti itu? Atau Venezuela, negara
kayaminya hancur, jutaan rakyatnya
mengungsi. Ini sejarah
apa? Indonesia mau nyusul tertulis di
sini sejarah. Semua mulai dari titik
yang sama yaitu pemerintah menyelesaikan
masalah keuangan dengan cara printing
money, printing money, printing money.
So, kesimpulannya jelas bahwa janji
permintaan ini dibiayai untuk sebuah
judi massal, pertaruhan nilai tabungan
dan masa depan ekonomi kita semua.
Pertanyaannya, apa yang harus kita
lakukan? Pasrah dan jadi korban? No.
Orang dengan mindset pemenang akan cari
cara untuk melindungi diri. Ini bukan
waktunya 100% percaya pada satu mata
uang saja. Prinsip paling dasar untuk
selamat daripada ekonomi ini adalah
diversifikasi.
Jangan taruh telur di dalam satu
keranjang. Mulailah berpikir untuk
memindahkan sebagian kecil aset Anda ke
benteng pertahanan dan ada nilai
perlindungan lain yang lebih kuat
daripada rupiah. Nah, kalau Anda mau
tahu apa saja, saya hari ini akan
memperkenalkan salah satu workshop yang
akan mengajarkan ini yang akan kami
adakan bersama Pak Toni Dikaryo di
pelatihan merdeka tanggal 1 dan 2
November di Jakarta. Kita akan belajar
dengan kondisi bangsa ini. Dari situ
kita akan berpikir, Anda silakan lihat
link di deskripsi. Di situ kita ajak
berpikir untuk bagaimana apakah kita
harus tras sama rupiah saja atau saatnya
kita mendiversifikasi mungkin ke emas
atau ke uang digital seperti kripto?
Kita harus survive. Karena kalau negara
ini bukan kita enggak terus sama negara
ini, tapi negara ini mengambil risiko
yang cukup besar.
Dan apakah resiko itu harus kita
tanggung? Nah, kalau Anda smart, mari
kita belajar bersama, diskusi bersama
dengan seorang pakar dan ahli agar kita
punya wawasan ke depan. Oleh saat itu,
mari mulai belajar. Jangan cuman pasrah,
jangan cuman lihat berita negatif, tapi
level up successiv 30 ini sisi yang lain
ini mengajak kita untuk benar-benar
level up. Jangan lagi terjadi kejadian
tahun 60 pemotongan nilai uang.
Amit-amit kita nyusul Zimbabwe dan
Jerman sebelum lahirnya Hitler atau
Venezuela. Tapi hari ini kita bisa
menjadi lebih cerdas. Sukses untuk Anda.
Salam hebat luar biasa.