10 Jurusan Kuliah Yang Paling Sulit Dapat Kerja | Jangan Buang Uang
0k6PgrJqi8Y • 2025-09-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kamu ngabisin 4 tahun hanya untuk kuliah serta uang kurang lebih R00 juta kamu ngabisin duit orang tua kamu. Ujung-ujungnya ijazah kamu dibuat bungkus gorengan enggak kepakai. Lulus juga enggak tahu mau kerja apa. Yang tamatan SMA juga bingung mau kuliah apa. Nah, inilah 10 jurusan kuliah yang paling tidak berguna di tahun 2025 ini. Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Selamat datang kembali ke channel Success Before 30. Apa yang tadi saya sampaikan di awal itu memang betul-betul sebuah fakta pahit ketika dilematis kuliah di zaman sekarang. Ini berbeda dengan zaman saya kuliah 20 30 tahun yang lalu. Karena saat ini, saat ini kampus, universitas kalau enggak benar-benar bisa memuaskan keinginan daripada mahasiswa, kampus ini bisa kena disrupsi besar-besaran loh. Karena sekarang bayangkan ya, saya ini sering diundang di kampus ya. Mahasiswa sering curhat ini sama saya, "Pak, ngapain saya kuliah, Pak? Dosennya suruh ngerjakan saya ini, Pak. Tapi dosennya sendiri, Pak, ya suruh saya baca buku ini. Padahal saya keluarkan cuman CGBT, Gemini. Hasilnya udah keluar lebih baik, Pak. Terus ngapain saya bayar kuliah, Pak?" Ya kan ini saya cuman anak petani, Pak. Orang tua saya susah payah, Pak. Setiap bulan saya bayar jutaan. Dia kalau ada beasiswa, Pak. Saya ini bingung. Habis itu dosennya kadang enggak masuk lagi, Pak. Terus saya disuruh bayar ke kampusnya. Nah, keluhan-keluhan seperti ini di kalangan mahasiswa semakin lama semakin banyak. Karena apa? Bayangkan di jam kuliah mahasiswa itu scrolling sosmet jauh lebih menarik daripada kata-kata si dosen yang ada di depan. Karena si dosen ngajarnya sungguh sangat tidak menyenangkan dan sama sekali membosankan dan tidak menarik. Nah, ini sebuah problem yang sangat besar untuk zaman sekarang. Nah, oleh sebab itu di sini saya akan paparkan beberapa jurusan kuliah yang memang harus hati-hati ya. Karena kalau tidak 10 jurusan kuliah ini akan menjadi sebuah ancaman dan bagi kampus ya, bukan bagi mahasiswa dan pasti peminatnya akan semakin lama semakin menurun dari tahun ke tahun. Nah, mengapa ini terjadi? Karena jurang pemisah antara dunia kampus dan dunia kerja. Sebelum saya sebutkan jurusannya satu persatu, Anda harus paham dulu kenapa ini terjadi. Problemnya simpel, adanya di gap. Jurang pemisah yang sangat besar itu adalah apa yang diajarkan di ruang kelas sangat tidak relate dengan industri saat ini. Di kampus Anda diajarkan teori-teori hebat, rumus-rumus canggih, sejarah pemikiran yang luar biasa. Tapi di dunia kerja, CEO atau manajer, Anda tidak akan bertanya. Jelaskan teori ini, filosofi ini. Mereka enggak mau tahu. Yang penting result. Mereka mau tahu hasil. Mereka bertanya, "Kamu bisa apa? Kontribusi kamu apa? untuk menaikkan omset perusahaan ini. Nah, jadi tiga permasalahan utama penyebabnya adalah satu, kampus ini terlalu teoritis, ilmunya hebat, tapi tidak bisa dipraktikkan. Yang kedua adalah terlalu umum, terlalu general, tidak punya kealian spesifik yang jelas sehingga kalah bersaing. Dan yang ketiga, over supply. Lulusannya sudah terlalu banyak, sementara lapangan kerjanya terlalu sedikit. Nah, oleh sebab itu inilah beberapa jurusan yang akan mengalami tantangan yang sangat besar di masa akan datang dan Anda akan sangat sulit untuk dapat kerja. Yang pertama adalah jurusan arsitektur. Saya minta maaf ya, kakak saya ini seorang arsitektur. Keponan saya juga arsitektur. Lulusan salah satu kampus arsitektur terbaik swasta di Indonesia yaitu Universitas Kristen Petra Surabaya. Ya, saya sih bersyukur ya keponakan saya hari ini dapat kerja, kakak saya juga buka usaha interior. Tapi kedepannya Anda benar-benar bisa bertahan adalah arsitektur yang bermental entrepreneur. Mengapa? Arsitektur zaman sekarang itu jurusan yang keren, elit, kuliahnya setengah mati susahnya. Apalagi kalau Anda kerja market bisa sampai pagi-pagi ya. Coba Anda yang lulusan Petra, lulusan ITS Surabaya, coba tulis di kolom komen benar atau enggak. Tapi faktanya perusahaan yang mau ggaji arsitek internal itu sedikit sekali. Arsitektur itu sukses itu biasanya buka firma sendiri atau buka usaha sendiri menjadi entrepreneur. Kalau mental Anda bukan pebisnis, siap-siap saja portofolio Anda hanya dijadikan pa pajangan. Nah, ini yang sebuah problem. Nah, kemudian yang paling tidak sulit atau dapat kerja yang kedua yang kita sebut nomor 9 di sini adalah industri peduli karya bukan ijazah. Jadi seni ini adalah sebuah seni rupa. Contoh yang tamu podcast saya yaitu Pak Rian Filbert itu kan lulusan seni rupa. Kenapa tamatan seni rupa ini sangat sulit dapat kerja? Karena industri itu butuhnya karya bukan ijazah. Mau jadi seniman, musisi, pelukis, hebat. Tapi perlu enggak S1? Karena sekarang orang melihat karya Anda itu di sosmet. Bukan kamu tamatan kuliah atau universitas mana. Tapi pertanyaannya adalah Anda butuh gelar untuk itu. Kenyataannya industri kreatif tidak peduli dengan ijazah Anda. Mereka peduli dengan karya Anda. Banyak seniman sukses di Indonesia bahkan tidak lulus kuliah seni. Ini sebuah fakta. Nah, sekarang kita beranjak ke nomor 8. Ke semakin ke bawah semakin sulit untuk melamar pekerjaan. Kita lihat ya. Jadi dari yang tadi paling sulit itu nomor 10 arsitek. Sekarang kita masuk ke sosiolog yaitu sosiologi. Ada yang tamatan sosiologi enggak? Susah loh dapat kerja ya. Posisi nanggung di dunia korporat. Jadi sarjana sosiologi itu mempelajari masyarakat itu penting. Tapi di dunia bisnis HRD akan bingung lulusan sosiologi ini mau saya tempatkan di mana? Riset pasar. Mereka kan pilih lulusan manajemen pemasaran untuk rekrutmen. Mereka pilih psikologi. Jadi posisinya serba nanggung. Jadi sarjana sosiologi ini, Anda ingat ya yang nonton video saya ini para orang tua kalau Anda-Anda itu pengin kuliah sosiologi, suruh pikir baik-baik karena ke depan mau susah cari kerja. Kecuali dia memang betul-betul Anda mau invest di anak Anda ratusan juta sebagai sarjana sosiologi. Karena dia memang hobi di bidang itu. Silakan. Tapi jangan harap Anda balik modal kuliah anak Anda setelah dia menjadi sarjana sosiologi. Itu ee nasihat dari saya. Yang ketujuh yaitu ilmu pemerintahan. Kursi PNS ini semakin lama semakin terbatas. Lulusan tak terbatas ya. Karena lowongan jadi PNS ini ke depannya ini ee semakin lama semakin sedikit. Nomor tujuh ilmu pemerintahan. Namanya sudah jelas tujuannya untuk bekerja di pemerintahan kan. Tapi tujuannya Anda mau jadi PNS. Masalahnya kursi PNS ini terbatas dan diperbutkan oleh jutaan orang setiap tahun. Ingat, sarjana ilmu pemerintahan itu tidak semestinya Anda diterima jadi PNS. Sementara lulusan ilmu pemerintahan terus dicetak ribuan setiap tahunnya. Kalau tidak lolos CPNS terus manda mau kerja di mana? Perusahaan swasta jarang sekali loh butuh kalian ini. Makanya Anda hari ini kalau CPNS Anda mungkin kalah bersaing sama seorang atlet. Contohnya atlet Anda mewakili Indonesia di SE Game, wah kursi PNS sudah pasti, tapi intinya lolos atlet dulu, ya kan? Mewakili Indonesia dulu. Nah, itu lowongan jadi PNS berikutnya masih lebih tinggi. Tapi kalau sarjana karena Anda sudah berkarya duluan gitu loh. Tapi kalau sarjana kok saya kok berpikir enggak ya gitu loh ya. Jadi memang ee ke depannya Anda cuman berbekal sarjana ilmu pemerintahan, enggak banget deh. Nah, yang keenam yaitu sarjana geografi. Aduh, gimana ya? Menarik sebagai ilmu tapi kurang menjual di pasar kerja. Geografi, ilmu yang memang sangat menarik untuk pengetahuan, tapi sayangnya kurang menjual di dunia kerja. Mengapa? Karena beda dengan geologi. Geodesi yang lebih teknis dan banyak dicari perusahaan tambang atau konstruksi. Tapi geografi itu terlalu luas dan teoritis. Mending Anda langsung spesifik kek sarjana geologis kek atau sarjana geodesis kek. Itu jauh lebih menjual. Jadi Anda pikirkan sarjana geografi. Nah, yang kelima yang paling lebih sulit lagi untuk dapat kerja adalah sistem informasi. Teknik kurang, bisnis kurang. Hati-hati loh ya kuliah sistem informasi ini. Sistem informasi ini seringkiali jadi perdebatan, nanggung kata kuncinya. Dibilang jago coding seperti anakor ya enggak juga. Dibilang jago bisnis seperti anak manajemen ya enggak juga. Jadi lulusannya harus punya inisiatif super tinggi untuk memperdalam salah satu sisi kalau tidak tergerus persaingan. Jadi intinya kalau Anda sudah terancur kuliah sistem informasi ya mending nambah sekalian atau mending putus kuliah sekalian ya. Kalau enggak ya langsung informatika kek, langsung ilmu komputer kek atau apa kek gitu loh. Kalau Anda sistem informasi kayaknya nanggung gitu. Jadi jurusan ini akan menjadi sepi peminat ke depannya. Catat baik-baik kata-kata saya ya. Nah, ini yang lebih sulit lagi yaitu nomor empat yaitu jurusan hubungan internasional. Kelihatannya hubungan internasional ini keren, gengsi, bisa jadi diplomat, bisa jadi reality di korporat. Tapi Anda tunggu baik-baik. Ini jurusan yang gengsinya setinggi langit. Hubungan internasional ini jurusan yang paling keren di Fakultas Ilmu Sosial. Bukan? Cita-citanya jadi diplomat, kerjanya di PBB keliling dunia bisa pakai pasor biru, bangsawan, Anda bisa jadi duta besar, bla bla bla dan sebagainya. Tapi bangun wei, sadar sadar. Posisi diploma di Kemenlu itu dalam setahun hanya bisa membuka belasan formasi. Sementara yang daftar puluhan ribu lulusan HI dari seluruh Indonesia. Lalu sisanya ribuan ke mana? Ya jawabannya mereka kembali ke habitat awal yaitu jadi staf marketing, HRD, admin di perusahaan swasta. Paling banter jadi penerjemah. Mereka harus bersaing lagi dengan lulusan semua jurusan. Gengsinya internasional tapi reality-nya saingannya se-Indonesia. Pikirin itu. Ini semakin sulit loh. Nah, kemudian yang ketiga yaitu sastra dan ilmu budaya. ini kelihatannya keren jurusan sastra ya. Mm kreativitas Anda ini sekarang punya saingan yaitu AI. Ini masalahnya kenapa? Kenapa ini ditulis semakin sulit dapat kerja? Karena sebuah jurusan untuk mereka yang punya jiwa seni dan pemikiran yang mendalam, sastra dan ilmu budaya kemampuannya merangkai kata, menganalisi budaya, bercerita, ini adalah skill yang sangat indah dan berharga. Tapi di tahun 2025 ini ada sebuah kenyataan pahit. yang memang kamu suka enggak suka kamu harus terima itu. Yaitu saingan terbesar jurusannya bukan lagi sesama manusia tapi lawannya. AI. AI sekarang udah sangat canggih. Ia bisa menulis artikel SEO, membuat puisi, menterjemahkan dokumen lebih cepat dari kamu. Dari bahkan membuat naskah, iklan dalam hitungan detik, pekerjaan travel, apapun di bidan content writing, penterjemahan, copywriting kini sudah diotomasi oleh mesin. Mereka dalam hitungan detik udah jadi. Kamu masih merenung, cari inspirasi, harus buka-buka dulu. Hasilnya pun belum tentu sebagus AI. AI hitungan cedik. Jadi, kamu mungkin harus berhari-hari ya kalah cepat. Terus kamu kuliah jurusan di sini habisin ratusan juta, kemudian habisin waktu 4 sampai 5 tahun. Kalah sama AI yang hitungan detik. Nah, passion Anda pada bahasa itu mulia. Bukan berarti kamu itu enggak boleh menurut saya. kecuali kamu memang hobi dan kamu enggak perlu gunakan gelar sarjana ini untuk cari kerja, ya monggo silakan. Tapi kalau hari ini Anda bersaing dengan mesin yang enggak pernah tidur, enggak pernah minta gaji, Anda minta 10 kali lebih kreatif, ya. Saya pilih AI. Yang kedua, jurusan filsafat. Astaga. Makanya semua jurusan yang saya sebut ini adalah jurusan yang menurut saya hobi. Enggak bisa dijadikan gunakan sertifikat Anda untuk cari kerja, enggak bisa. Jurusan filsafat. Kenapa? Jago berpikir, bingung saat harus bekerja. Kecuali kamu kayak Rocky Gerung ya. Ya, Rocky Grung kan ahli filsafat gitu ya. Jadi memang Anda harus seperti kayak gitu. Iya kan? Nah, jadi kontroversi di sosm baru bisa. Tapi masalahnya kamu seberani Rocky Gru enggak. Nomor dua ini adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan filsafat. Filsafat itu membuat Anda memang jadi seorang pemikir yang sangat mendalam, logis, kritis. Kemampuan Anda menganalisis argumen akan setajam silet. Luar biasa. Tapi Anda lulus dengan segala kehebatan berpikir lu. Anda akan dihadapkan pada satu perangai kritis yang paling sulit Anda jawab. Saya mau kerja jadi apa kalau ahli filsafat? Mikir. Ya kan? Jadi kadang idealisme itu berbeda dengan kenyataan di lapangan. Kalau memang kamu ahli filsafat dan kamu punya idealisme, akhirnya kamu bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang memastikan keadaan ekonomi keluarga kamu aman, ya silakan. Tapi kalau kamu hari ini masih berkutat sama cicilan, kamu semua masih berkutat sama anak kamu, besok itu mau makan apa, mikir deh. Mikir untuk kuliah jurusan filsafat. Maka ini saya bilang kuliah jurusan hobi bukan untuk cari duit. Nah, ekstremnya passionnya sayangnya tidak ketemu dengan permintaan pasar. Dan itu semakin lama semakin berat. Dan yang paling sulit nomor satu cari kerja dengan lulusan dari sarjana ini adalah manajemen. Hah, Pak Candra jangan gitu dong ya. Saya belum selesai ngomongnya. Manajemen itu apa? Jurusan paling aman atau jebakan paling mematikan? Gini, kenapa saya membuat banyak sekali mahasiswa orang tua di Indonesia tersinggung jurusan yang lulusannya paling sulit dapat kerja di tahun 2025 adalah manajemen. Saya kan belum selesai ngomongnya manajemen apa. Bukankah ini jurusan sejuta umat? Yes. Jurusan paling populer? Yes. Jurusan paling aman? Yes. Jurusan yang enggak ada eksertis apapun. Yes. Jurusan yang enggak perlu mikir apapun. Yes. Jurusan yang kalau ditanya kuliah nanti kuliah apa? Kamu suruh elektro enggak bisa. Suruh mesin enggak bisa. Suruh ini enggak bisa. Suruh itu enggak bisa. Suruh kimia enggak bisa, suruh ilmu pem enggak bisa. Ya mending kuliah paling aman manajemen aja. Tepat sekali. Karena justru itulah jurusan yang paling berbahaya, jurusan paling aman. Ini kenapa? Seorang lusa manajemen itu ibaratkan seekor bebek. Bisa terbang sedikit, bisa berenang sedikit, bisa berjalan sedikit. Tapi tidak ada satuun yang benar-benar dia kuasai. Anda tidak punya kalian teknis yang spesifik. Anda bukan seorang akuntan. Anda juga bukan seorang programmer, Anda juga bukan seorang insinyur. Hasilnya di dunia kerja untuk posisi level staff, Anda akan bersaing dengan semua jurusan, teknik anak hukum, anak komunikasi, semua bisa melamar posisi manajemen. Nah, Anda menjadi seorang generalis atau ahli umum yang posisinya serba nanggung sebagai seorang spesialis. Jurusan ini mencetak Anda menjadi Jack of Altridge atau Masters of No one. Ya, di pasar kerja yang kejam ini menjadi master of no one adalah resep pasti untuk kalah bersaing. Tapi ada berita baiknya jurusan manajemen ini karena Anda tidak bisa diterima jadi susah dapat kerja ya mending jadi entrepreneur aja. Ini joke dari saya ya. Nah, tapi memang benar yang saya sampaikan ini sebuah fakta. Entah itu ekonomi manajemen atau teknik dan manajemen industri. Seperti siapa? Seperti saya sendiri. Candra Putanegara adalah lulusan teknik dan manajemen industri. Jadi apakah jurusan ini jelek? Enggak. Tapi Anda harus realistis. Ya, makanya saya juga enggak bisa lamar kerja di mana pun. Ya, saya mending jadi pengusaha aja. Jadi, sahabat itu semua 10 jurusannya. Apakah jurusannya jelek? Jawabannya tidak. Sekali lagi kalau Anda mau hobi, Anda kelebihan duit, enggak perlu harus cari pengalaman pekerjaan, monggo. Jurusan tadi itu fine-fine aja. Jurusan tadi itu baik-baik saja. Tapi Anda harus realistis. Kalau orang tua Anda ekonominya pas-pasan, Anda generasi perindis, bukan pewaris, mikir deh kalau Anda mau kuliah jurusan tersebut. Menurut saya boleh-boleh aja Anda kuliah di jurusan itu. Kalau nanti Anda sudah mapan secara finansial, sudah financial freedom, Anda itu memang punya waktu luang untuk kuliah lagi, ya silakan pilih 10 jurusan tersebut untuk mewujudkan hobi Anda. Tapi ingat, jurusan tadi tidak bisa memastikan Anda untuk membayar cicilan rumah Anda atau cicilan motor dan mobil Anda. Oke, solusinya nomor satu, bangun skill, fokus pada kalian praktis. bangun portofolio karena sekarang sosmet itu sangat menentukan itu lebih penting daripada ijazah. Tunjukkan hasil kerja nyata bukan akademis. Dan yang ketiga bangun jaringan. Hubungan profesional sering lebih penting daripada ijazah. So pesan saya simpel. Apa-apaan jurusan yang Anda pilih nanti, jangan pernah menjadi mahasiswa kupu-kupu, yaitu kuliah dan pulang. Kuliah dan pulang. Jangan cuma mengejar IPK, bangun skill, bangun portofolio, bangun jaringan. Kalau bisa kuliahlah di kampus yang lebih mahal. Kenapa? Di situ Anda bisa networking dengan anak-anak pengusaha, anak-anak diplomat, anak-anak pejabat. Bukan berarti Anda saya suruh menjadi penjilat. Tidak. Karena networking itu justru lebih penting. Anda habis uang kuliah enggak apa-apa, tapi Anda bisa dapat relasi. Kalau orang itu cocok dan senang dengan Anda, siapa tahu Anda diterima di pekerjaan perusahaan bapaknya. Pada akhirnya dunia kerja tidak peduli dengan judul ijazah Anda, tapi mereka hanya peduli pada satu hal value apa yang bisa Anda berikan untuk perusahaan mereka. So, jangan hanya tahu masalahnya, ambil solusinya. Oleh sebab itu, jangan lupa saat ini saya harus paham bangun skill, tapi mulai dari mana saya bisa menemukan jalurnya. Saya tidak akan meninggalkan dengan masalah, tapi saya memberikan solusi praktisnya. Saya sudah membuat sebuah WhatsApp channel khusus. Di situ saya akan berbagi informasi peluang sertifikasi profesi. Ini adalah jalan pintas cerdas. Tidak perlu kuliah 4 tahun lagi. Cukup dengan beberapa bulan Anda bisa punya skill praktis yang dicari oleh industri. Anda bisa langsung mulai kerja dengan sertifikasi tersebut. Inilah gerakan baru dari Success Pottery. Kami bukan cuman kritikus pemerintahan. Kami bukan cuman kritikus sistem yang sudah ada, tapi kami mengkritik sekaligus memberikan solusi. Scan QR code di bawah ini sekarang juga lihat link di deskripsi. Bergabung dengan komunitas yang membangun skill nyata. Bukan sekedar menunggu nasib baik datang. Sampai jumpa di channel dan kita tutup dengan salam hebat luar biasa. Yeah.
Resume
Categories