Transcript
HqHnskf__Q0 • Ini Cara Jepang Menjalankan MBG di Sekolah! Pak Prabowo Tolong Anak Buahnya Disuruh Belajar
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1421_HqHnskf__Q0.txt
Kind: captions
Language: id
anak-anak di Bandung Barat keracunan
gara-gara program MBG. Ini sebuah berita
yang sangat tidak mengenakkan.
Permasalahannya adalah pemerintah
memberikan solusi berupa CCTV dan
memberikan insentif Rp100.000 per hari
untuk pengawas. Kenapa kita enggak
belajar dari Jepang sih? Jepang itu loh
bukan masalah CCTV, bukan masalah
pengawas, tapi dia perbaiki sistem
software dapurnya dan dia invest mahal
loh. Kalau hari ini MBG itu niru
programnya Jepang, which is is good.
Tetapi kita harus meniru juga sistem
pengawasan yang begitu ketat di dapur di
Jepang. Nah, bagaimana sistemnya? Kita
bahas setelah yang satu ini. Sahabat
entrepreneur, salam hebat luar biasa.
Selamat datang ke dalam acara sisi yang
lain, video Success Voterti. Berikut ini
saya hari ini pengin membahas masalah
MBG. Ya, memang MBG ini masih pro dan
kontra. Maksud hati, visi dari Pak
Prabowo tentang nawaita atau asta
citanya Pak Prabowo itu memang bagus ya.
Siapa sih yang enggak kepengin negara
kita jadi maju? Tapi ada satu perbedaan
besar antara negara maju seperti Jepang
dengan MBG-nya Indonesia ini ada satu
fundamental yang sangat berbeda. Di mana
letak fundamentalnya? Saya akan sering
bicara di video Success Vivo 30 tentang
kalau kita itu mau mendidik sebuah
bangsa, kita itu harus mendidik nelayan
untuk mereka itu bisa mencari ikan
sendiri. Kita jangan mendidik mental
pengemis. Mental pengemis itu apa? Yaitu
menunggu nelayan yang pergi ke laut
pulang terus kemudian anak-anak cuman
berharap ikan gratis setiap harinya.
Kalau anak-anak masih SD it's ok. Mereka
fokus sekolah dan mereka masih
bertumbuh. Tapi kalau mereka sudah
remaja apalagi sudah dewasa masih
berharap ikan gratis, berarti Anda kan
tidak mendidik SDM itu dengan baik.
Jepang itu salah satu proyek percontohan
yang paling bagus. Saya yakin juga MBG
ini niru di Jepang salah satunya ya.
Saya enggak tahu tim suksesnya Pak
Prabowo atau penasihat kepresidenan MBG
ini dari mana. Saya yakin itu beliau
juga punya sebuah e wawasan tersendiri
gitu. Tetapi Jepang itu menurut saya
sebagai salah satu proyek percontohan
yang sangat menarik. Mari kita lihat eh
sistem mesin pendidikan karakter di
Jepang. Untuk memahami betapa jauhnya
kita tertinggal, mari kita lihat mesin
di balik ee makan siang sekolah gratis.
Pertama, sistem presisi namanya QSOKu.
Program makan siang sekolah yang
beroperasi bertepatan dengan ketepatan
tinggi dan bukan proyek logistik
reaktif. Kalau di sini kan sistem MBG
itu mungkin ee template-nya ada ya,
semua orang bisa bikin gitu. Tapi setiap
daerah ini kan menunya kadar gizinya tuh
seperti apa kita enggak tahu. Makanya
kemarin ee salah satu dokter yang cukup
vokal, Dr. Tanoten itu kan sangat protes
keras masalah MBG tentang gizinya anak.
Anda lihat gizinya anak itu dokter Tan
mengatakan apa? Mas anak-anak dikasih
burger gitu lah. Burger itu apa? Gandum
katanya. Nah gandum itu dari mana? Bukan
dari Indonesia asli. Itu impor dan itu
semua karbohidrat ringan semuanya.
Gizinya dari mana? Kemudian dikasih lagi
cilok, loh mati enggak? Lah kan sama aja
anak ini diberikan jajanan gratis.
Betul. Lidah orang Indonesia itu suka
yang gurih, tapi gizinya dari mana? Mari
kita bedakan sama di Jepang. Bukan
proyek logistik reaktif, setiap komponen
dirancang untuk tujuan edukatif dan
nutrisinya tepat. Kedua, pilar koko.
Program ini dibangun di atas pondasi
yang kuat. Menekankan tidak hanya gizi,
tapi juga pendidikan karakter,
kebersihan, dan kemandirian siswa. Ini
penting loh. Ketiga, secara panjang
sistem QSOK ini telah berkembang
disempurnakan selama lebih dari 1 abad
loh 100 tahun dan menjadikannya
investasi fundamental daripada SDM.
Bukan gratisan tapi investasi bersama.
Kok bisa? Mari kita pelajari. Pila
pertama yang mengejutkan banyak orang di
program makan siang di Jepang pada
dasarnya tidak gratis. Ini adalah model
kemitraan di mana pemerintah itu
menanggung seluruh biaya operasional.
Jadi karyawan itu semua ditanggung ee
atau pekerja relawan MBG itu yang di
Jepang itu semuanya ditanggung
pemerintah. Nah, infrastruktur dapur,
peralatan, utilitas, dan gaji staf
profesional. Sementara orang tua itu
berinvestasi langsung untuk bahan baku
makanan anak mereka. Nah, ini baru saya
setuju. Anda perhatikan podcast saya
sama Profesor Feri Latuhihin.
Berkali-kali profesor itu kan menekankan
tentang mengkritik program MBG ini sudah
menghabiskan APBN dana itu besar sekali.
Belum tentu anaknya itu doyan karena
anaknya itu cuman doyan masakan ibunya
atau makanan rumah. Tapi dia itu kan
dicekokin untuk makanan yang belum tentu
anaknya suka. Nah, di Jepang beda. Yang
beli bahan baku itu orang tuanya. Jadi
orang tua itu berinvestasi. Kenapa?
Karena dia tahu makanan kesukaan
anaknya. Ya, kurang lebih seperti itu.
Nah, biayanya rata-rata sekitar 4.000
yen sampai 6.000 yen per bulan atau
sekitar 400 sampai 600.000 per bulan.
Menurut saya masuk akal BLT aja
Rp600.000. Tapi ini bukan soal duitnya.
Ini adalah pelajaran pertemuan tentang
value. Bagaimana kontribusi finansial
orang tua dan siswa secara sadar
memahami bahwa makanan itu berharga,
tidak boleh disia-siakan dan merupakan
tanggung jawab bersama. Orang tua boleh
bukan penonton pasif dari proyek
pemerintah. Mereka adalah stakeholder
aktif yang peduli pada kualitas dan
fondasi rasa memiliki. Kemudian secara
keadilan subsidinya tepat sasaran, bukan
pukul rata. Jadi orang tua itu mitra
daripada pemerintah. Ini saya setuju
inilah negara yang sudah melakukan riset
satu abad gitu. Indonesia ini kan baru
dimulai belum sampai 1 tahun ya. Makanya
video ini memberikan masukan juga bukan
cuma tukang mengkritik ya kan. Lalu
gimana dengan mereka yang tidak mampu?
Apakah sistem ini tidak adil? Justru di
sini letak keadilan sejati model Jepang.
Mereka memiliki school attendance
financial age system namanya Sugaku Enjo
Seido. Sebuah jaring pengaman sosial
yang sangat kuat dan terstruktur.
Keluarga yang memenuhi kriteria
pendapatan rendah akan dibebaskan
sepenuhnya dari biaya makan siang yang
ditanggung oleh pemerintahan kota.
Faktanya sekitar satu dari tujuh anak di
Jepang menerima bantuan ini. Satu dari
tujuh anak loh. Bantuan ini tepat
sasaran. Sumber daya negara tidak
dihamburkan untuk mensubsidi mereka yang
sangat-sangat mampu. Ini yang dikritik
oleh Prof. Fi. Jadi, anak itu mampu
malah dapat makan siang gratis. Nah, ini
tidak tepat sasaran. Ini adalah sistem
yang cerdas dan adil, bukan pemaksaan
keadilan pukul rata yang justru
menciptakan pemborosan dan ketidakadilan
baru. Ini adalah prinsip demokrasi di
mana ada pilihan, kontribusi, tanggung
jawab, dan bukan paksaan satu arah.
Selain itu ada profesionalisme di dapur,
bukan cuman CCTV. Inilah sebuah problem.
Nah, setelah kasus keracunan di Bandung
mulailah pasang CCTV lah, insentif
Rp100.000 bola. Nah, sedangkan di Jepang
secara tegas mewajibkan setiap sekolah
atau sekelompok anak mempekerjakan ahli
gizi bernutrisi dan ahli diet dan
nutrisi. Nah, ini penting. Makanya kita
harus paham kenapa orang Jepang itu
IQ-nya cerdas ya. Bahkan untuk anak-anak
yang kalas rendah sekalipun. Dan di
Jepang itu jarang ada anak itu obesitas.
Sekarang kan Anda perhatikan ya,
anak-anak Indonesia itu banyak gemuk loh
katanya gemoy dan lucu. Itu bukan gemo
itu penyakitan. makanannya cilok,
jajanannya itu cuman e minuman sasetan.
Kemudian mereka itu suka minuman-minuman
kemasan. Itu bahaya. Nah, di Jepang
enggak boleh. Merekalah otak di balik
setiap menu. Standar gizi yang ketat,
dimasak dari bahan segar. Mereka adalah
penjaga gerbang kualitas, sistem
pencegahan proaktif. Mereka menapan
profesional untuk memastikan masalah itu
tidak terjadi. So, Sokuiku dan Toban
Katsudo yaitu software pembentuk
karakter. Di sinilah kita harus belajar
di Jepang. Inilah roh dari software yang
seluruh sistem ini berjalan. Sukoku atau
pendidikan pangan ini bukan sekedar
slogan, tapi dia adalah Undang-Undang
Dasar yang disahkan tahun 2005 di mana
mendefinisikan makan siang sebagai
bagian inti kurikulum pendidikan.
Tujuannya menanamkan rasa syukur,
penanaman budaya makanan, koneksi dengan
alam, dan biasa makan sehat seumur
hidup. Makanya Anda jangan salah kenapa
di Jepang itu umurnya panjang-panjang ya
kan. Banyak orang tua Jepang itu masih
umur 70 80 itu masih aktif bekerja.
Enggak kayak di Indonesia. Umur 55
pensiun, umur 60 sudah kursi rodaan
semua pakai tongkat semua. Salat
lututnya sakit semua. Anda cek aja orang
tua Anda di rumah benar atau enggak.
Mereka melalui Toban Katsudo sistem
paket siswa. Setiap hari kelompok siswa
secara bergirinan mengenangkan celemek
dan masker putih bersih. Mereka pergi ke
dapur mengambil makanan mendorong
kembali ke kelas. Siswa menyajikan porsi
yang sama untuk teman mereka. Setelah
makan mereka hari ini memimpin proses
pembersihan, menyortir makanan, sampah,
mencuci, mendaur olang kotak susu. Dan
ini bukan perbudakan. Ini cara melatih
kepemimpinan mereka. Setelah makan cuci
sendiri. Saya sendiri kalau waktu saya
di Korea, saya di Taiwan, Taiwan itu kan
menganut sistemnya Jepang atau di Jepang
itu sendiri iya mengalami hal yang sama.
Mereka belajar melayani bukan dilayani.
Mereka berarti warga negara aktif bukan
cuman disuguhi makan siang gratis gitu
loh. Setelah itu buang kotaknya. enggak
tahu ke mana atau makanannya habis atau
enggak kita juga enggak tahu. Nah,
cermin untuk MBG proyek reaktif dan
sistem proaktif. Nah, inilah sesuatu
yang kita harus belajar. Kita leas ya
HCTV dan insentif Rp100.000 sedangkan
guru penanggung jawab MBG dapat
insentif. Respon kita terhadap krisis
itu pendekatan kita. Manakala CCTV itu
mengakuan bahwa kita tidak percaya pada
sistem dan orang-orang di dalamnya. Ini
adalah alat pengawasan, bukan alat
pemberdayaan. yang saya kritik ini tidak
memberdayakan karena mental yang
dibangun mental pengemis makan siang
gratis karena pemerintah yang subsidi.
Bagus tapi Anda cuma menciptakan
generasi yang peminta bukan generasi
yang mau mandiri. Nah, ini yang menjadi
kritik keras saya. Akhirnya biang kerok
sebenarnya adalah sistem tanpa jiwa.
Ketika menyebut bakteri sebagai biang
kerok keracunan ini sesungguhnya adalah
sistem tanpa jiwa. Sistem di mana
sekolah seringki hanya menerima penerima
pasif. Tapi ini menciptakan ekosistem
yang rawan masalah. Inilah mengapa
hasilnya seperti kayak lotre di
Tulungagung. Mungkin kebetulan
penanganannya baik gitu loh. Di Bandung
terjadi bencana, Bandung Barat. Makanya
ada 1.300 anak itu tadi keracunan.
Kualitas lari dari sistem standarisasi
dan profesionalitas. Kenapa kita enggak
niru Jepang? Yaitu jangan cuman dapat
makan siang gratis gitu loh. Tapi mereka
itu juga harus bekerja untuk mereka itu
dapat makan siang gratis. Makanya saya
sekarang cukup setuju dengan sistem
anak-anak sekarang. sekolah itu sampai
memberikan Indonesia ya, terutama saya
juga puji yaitu memberikan beasiswa
kepada siswa berprestasi. Contoh mereka
itu dari kecil sudah biasa ee juara,
punya prestasi di kelas, maka sekolah
memberikan scholarship atau beasiswa.
Itu boleh karena siswa itu bekerja
keras, siswa itu mati-matian. Nah,
sistem seperti itu kenapa enggak
diterapkan di MBG? Ini yang jadi
masalah. Jadi, buatlah sistem yang baik.
Maka pelajaran utama dari negara yang
sudah sangat sukses seperti MBG,
MBG-nya, masalah kita sesungguhnya
adalah hilangnya filosofi pendidikan,
profesionalitas, dan rasa memiliki
bersama. Kita terjebak dalam mindset
proyek yang mana sistem proaktif cerdas.
Nah, berikut empat pilar solusi bukan
success before 30 namanya. Kalau cuman
mengkritik enggak memberikan solusi.
Yang pertama adalah hardware cerdas.
Dapur sentra di fungsi yang menggerakkan
ekonomi lokal. Yang kedua, standar
profesional ahli gizi berlisensi, bukan
insentif 100.000 recean untuk pengawasan
makanan. Yang ketiga, software
pendidikan sistem piket kurikulum
pembentukan karakter. Habis makan cuci
sendiri. Jangan cuman dibuang, taruh
gitu aja. Anda lihat kalau Anda makan
McD KFC di luar negeri, Anda setelah
makan itu Anda harus taruh sendiri di
tempatnya. Loh, makanya saya itu pernah
sekali ya, saya itu makan di Spanyol,
saya itu makan KFC sama teman-teman ya
kan. Setelah makan kita orang Indonesia
biasa ditinggal kan ada yang bersihin
enggak ada dikritik kita sana eh please
clear up katanya. Nah itu makanya
Indonesia ini tolong belum sampai ke
sana karena terbiasa. Karena maklumlah
di sini kan tenaga kerja masih murah
sehingga kebiasaan dilayani gitu. Dan
yang keempat strategi cerdas
implementasi tepat sasaran bukan pukul
rata. Jadi pila pertama bangun hardware,
central kitchen, kemudian infrastruktur
pondasi solusinya membangun dapur
sentral seperti SEA Kitchen. Ini kalau
di Jepang dapur bersama yang disewakan
untuk UMKM. Dengan ini memberdayakan
sekolah dan komunitas. Inilah saatnya
menjadikan sekolah sebagai manajer,
bukan penerima pasif. Ngelola dapurnya
prioritas bahan baku dari petani lokal.
Yang kedua adalah instal software
pendidikan dari isi perut ke pembentukan
karakter. Kalau sekarang wajibkan
partisipasi siswa, contoh tanamkan
pembayaran nonfinansial seperti sistem
piket. Nah, itu kan dapat reward dan
insentif gitu loh. Jadi mereka itu sudah
bekerja saatnya mereka terima insentif.
Bahkan siswa belajar tanggung jawab,
kerja sama, kesetaraan dengan melayani
teman-temannya. Kembangkan kurikulum
pendidikan pangan, adaptasi filosofi
sokuiku dari Jepang. Menjadikan
kurikulum nasional yang mengajarkan anak
tentang gizi, budaya pangan lokal, dan
pentingnya menghargai makanan. Saya itu
paling enggak senang ya, benci ya lihat
anak-anak kita itu kalau Anda perhatikan
ya makanan itu tebang buang gitu. Mereka
makan cuman sampai setengah terus
dibuang gitu. Itu pendidikan dari mana
sih? Apakah dari pesantren mengajarkan
seperti itu? Mohon maaf loh ya. Atau
kalau yang muslim pesantren mungkin
kalau yang agama yang lain seperti kayak
Katolik atau Kristen mungkin ee apakah
di asramanya diajarkan seperti itu. Maka
nanti harusnya diajarkan makan sampai
habis gitu. Kalau enggak habis ya jangan
ngambil banyak-banyak, ambillah
setengah. Yang penting makanan harus
bersih. Anda perhatikan ya, enggak usah
jauh-jauh di ee sekolah. Kita lihat di
mall aja berapa banyak orang yang habis
makan di mall sampai tengah-tengah
dibuang gitu aja enggak usah dihabiskan.
Itu kan apa ya enggak enggak baguslah
pendidikan seperti itu. Itu. Nah, ini
terbiasa MBG juga sama toh gratis kan.
Jadi mereka dapat makanan itu
seolah-olah gratis gitu loh, dicekokin
gitu loh. Nah, mereka itu bukan bekerja
keras untuk dapat lunch itu. Nah, kalau
mereka harus bekerja keras untuk dapat
lunch itu, apa salahnya? Seperti Anda
nelayan yang bekerja keras untuk dapat
ikan itu. You must work, then you get
the reward. Nah, itu yang benar. Nah,
program ini harus memiliki roh tanpa
pendidikan MBG hanya program bagi
makan-makanan gratis saja yang dikritik
sama proferi itu. Pilar ketiga, terapkan
standar profesional bukan insentif.
recehan. Kualitas keamanan enggak bisa
ditawar. Profesionalisasi rancangan itu
yang paling utama. Bukan cuman CCTV,
tapi ada SOP yang ketat untuk semua
sistem dapur yang ada di Indonesia. Ya,
baru MBG kita bisa sukses. Anda lihat
kalau Jepang punya sistem share kitchen,
kita bisa niru aja. Tujuannya bantu UMKM
produksi makanan dengan alat bagus ya.
Kalau alatnya enggak mumpuni bisa jadi
penyebab terjadinya keracunan. Nih, Anda
lihat nih. Nanti linknya saya tampilkan
di sini ya. Ini ada satu sistem namanya
home eh share kitchen di Hiroshima.
Jadi, UMKM itu sebelum dia itu
menyiapkan nasinya, mereka tuh
rombongan, gerobak, mereka jualan loh,
tapi mereka masak nasinya dan sebagainya
mereka tuh bikinnya di dapur terpusat
ini, Share Kitchen. Ini mungkin di
Indonesia sekarang sudah ada namanya
Ghost kitchen ya, tapi itu kan dijual di
Grab Gojek. Tapi mereka tuh jualan dan
mereka tuh bikinnya standar di situ.
Bersih loh cara makan nasinya bersih,
cara nyiapakan bumbunya juga bersih.
Tapi bahan baku mereka beli sendiri
karena mereka jualannya untuk UMKM. Nah,
equipment propertinya itu namanya
Fujimiko Kitchen. Nah, ini disewakan
semuanya di Jepang. Nah, ini kan bisa
menjadi masukan. Akhirnya masukan untuk
MBG supaya kualitas MBG itu bagus dan
mereka tuh bekerja keras bukan cuman
CCTV buat apa. Nah, terus Surabaya ini
juga punya program namanya Sentra Wisata
kuliner SWK. Nah, ini kan juga bisa buat
namanya Sentra dapur. Pemkot Surabaya
gratiskan sor ini berita 2021 waktu
COVID sekarang mungkin setiap UMKM itu
cuma dikenakan biaya sewa yang sangat
rendah daripada mereka jualan di pinggir
jalan, kenapa enggak dibikin sentra
UMKM? Mirip sih kayak di Singapura.
Mirip sih juga kayak di Malaysia. Ya
murah sih. Sewa satu stan cuma Rp500.000
bayarnya per bulan. Menurut saya itu
bagus. Ini kan dilakukan di Surabaya.
Wah saya puji nih Pemkot Surabaya. Ini
kan juga bisa diterapkan di kota-kota
yang lain. Nah termasuk yang pilar
keempat jalankan serat pikir cerdas
bukan pukul rata. Untuk sekolah mahal
berikan opsi pendidikan mandiri
terverifikasi. Mereka boleh jalankan
programnya sendiri asal standar gizinya
terbukti. Kalau terapkan strategi dua
jalur, contoh percontohan di kota
sebagai etalase dan punjat pembelajaran
sambil secara bersamaan fokuskan
majoritas sumber daya intervensi di
daerah 3T, terdepan, dan terluar di
wilayah dengan angka stunting yang
sangat tinggi. Oleh sebab itu saya
menyambut baik tentang program MBG ini.
Sebetulnya kalau proferi kan jelas-jelas
kontra, kalau saya ini masih menyambut
baik karena saya percaya ee SDM yang
berkualitas dimulai dari makanan yang
berkualitas. itu saya setuju. Indonesia
ini kan lumbung pangan nasional. Zaman
dulu 80-an kita ekspor beras loh.
Sekarang kan masih impor beras karena
iklim cuaca yang tidak menentu. Tapi Pak
Prabowo mau mengantisipasi ini semua mau
bikin giant seawall di atas Pulau Jawa
supaya lumbung pangan Indonesia ini juga
tetap terjaga dan Indonesia bisa
sasembada beras lagi dan MBG nasional
menciptakan generasi yang kuat. Saya
setuju. Akhirnya waktu Indonesia Emas
2045 ketika waktu itu terjadi ledakan
penduduk Indonesia itu terjadi namanya
ee bonus demografi waktu itu penduduk
Indonesia bisa mencapai R50 juta atau
setara dengan penduduk Amerika sekarang.
Tapi SDM-nya SDM unggul. Makanya kalau
SDM yang enggak unggul itu ini
seringkiali menjadi SDM rendah. Nah, SDM
rendah itu dari mana? Ya, sekali lagi
dari kualitas makanannya. Nah, tapi
kalau dari meskipun SDM rendah kualitas
makanan bagus, tapi dibuat sistem kayak
Jepang, maka anak-anak Indonesia sudah
terdidik bahwa mereka itu harus bekerja
untuk mereka dapat makan siang gratis.
Ini penting bekerjanya itu di mana? Ya,
di sekolah ya. Sistem seperti Jepang itu
tadi. Melayani teman, cuci piring
sendiri itu penting. Maka dengan
demikian akan terjadi satu sinergisitas.
Kalau bahasa saya sistem yang terpadu
agennya proyek nasional ini berjalan
dengan baik. So, pilihan di tangan kita
proyek rapuh atau sistem kokoh. Nah,
itulah sebab akhirnya masukan saya untuk
pemerintah supaya Indonesia ini menjadi
Indonesia emas. Demikian video Success
Boter kali ini. Semoga menginspirasi dan
memberikan sebuah daya juang dan daya
dobrak. Kita doakan Indonesia menjadi
luar biasa. Sukses untuk Anda dari saya
Canda Puntara. Salam hebat. Luar biasa.
Yeah.