Transcript
k43Dc3hMDh4 • Cara Konglomerat Ngutang itu Beda! Pinjam Uang Tapi Yang Bayari Utang Pemerintah!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1435_k43Dc3hMDh4.txt
Kind: captions
Language: id
Lagi-lagi saya kali ini membuat video
tentang bagaimana mereka menipu duit
orang lain atau bahkan menipu bank.
Kalau 10 miliar sampai 100 miliar, nah
ilmunya ini lebih canggih lagi. Itu kan
sudah saya bahas di video yang lalu.
Tapi di video kali ini saya akan
membahas bagaimana cara menipu orang
duit ratusan miliar sampai triliunan
yaitu dengan cara mereka membuat bank.
Loh kok bisa? Selaing saat ini sahabat
SW30 salam hebat luar biasa. Selamat
datang kembali ke dalam channel Success
Before Thy. Tolong sebelum Anda tonton
video ini, tonton video kami yang lalu
ya. Di mana di video yang lalu itu saya
membahas bagaimana orang cara ngerampok
duit bank. Tapi kali ini saya akan
mengajarkan cara konglomerat ngerampok
duit bank dan akhirnya yang disuruh
menanggung beban adalah rakyat. Loh, kok
bisa? Apa hubungannya sama rakyat? Nah,
kita bahas ya. modal 10 M tapi bank bisa
minjamin 100 M kok bisa? Nah, kita bahas
nih di sini. Jadi teman-teman ya, kalau
Anda punya 10 M, berapa banyak uang yang
Anda bisa pinjamkan ke orang lain?
Logikanya 10 M juga kan. Anda punya 10,
Anda pinjamkan 10. Enggak mungkin lebih.
Tapi kalau Anda punya sebuah bank yang
modal 10 M, Anda bisa salurkan kredit
atau pinjaman sampai 100 M bahkan lebih.
Kok bisa? Itu sulap, pesugihan atau uang
siluman? Enggak. Nah, di sinilah yang
istilahnya perbankan adalah DPK, dana
pihak ketiga. Kok bisa sih? Ini kurang
lebihnya saya berikan ilustrasi sebagai
berikut. Kalau Anda hari ini punya motor
yang disewakan, misalkan ee anggap aja
Anda punya 1000 motor. Bank itu seperti
jasa penitipan motor raksasa. 1000 orang
titip motor di sana, si pemilik jasa
titipan tahu. Bersaman pengalaman enggak
mungkin 1000-su itu ngambil motor di jam
yang sama persis. Paling dalam 1 jam
hanya 100 orang yang keluar masuk.
Artinya apa? Ada 900 motor nganggur kan
di dalam. Otak bisnisnya jalan nih. Si
pemilik jasa titipan kemudian menyewakan
800 atau 900 motor yang nganggur itu
sebagai ojek online atau kurier paket.
Nah, dia dapat untung besar dari mayakan
motor yang bukan miliknya. Itulah cara
kerja bank dalam konsep fractional
reserve banking. Dan ini legal dan ini
normal. sama uang itu tadi. Anda hari
ini punya 900 M yang nganggur padahal
modal Anda cuman 10 M, 90 M nganggur. 90
M itu di dikreditkan ulang dengan cara
apapun. Hampir sama analoginya. Kemudian
kita lihat pinjaman ini terafiliasi
dengan kalau saya istilahkan pom bensin
pribadi. Kok bisa pom bensin pribadi? Di
sini letak pisau bermata duanya. Gimana
kalau si pemilik jasa titipan motor itu
menggunakan 800900 motor nganggur tadi
untuk armada bisnis kurir miliknya? Di
situlah permainannya dimulai. Ini yang
dilakukan oleh para konglom rat. Mereka
mendirikan bank untuk menjadikannya
koperasi pribadi yang legal karena
aturannya memang ada. Pom bensin adalah
gurita bisnisnya. Butuh dana untuk
proyek properti. Oh, saya bisa salurkan.
Ambil di bank sendiri. Butuh dana untuk
ekspansi pabrik sawit? Ada. butuh bisnis
untuk ee pabrik ban ada siram dari bank
sendiri. Eh, pabrik ban saya lagi
ngomongin grup siapa ya? Pernah saya
wawancara di podcast success before 30
loh. Praktik ini disebut pinjaman
terafiliasi. Mekanisme ini seperti
memberikan akses ke sebuah berankas
raksaka dari uang masyarakat. Nah, ini
ngeri. Kiri saya bilang ini ngeri karena
itu bukan duit dia. Dia cuma dana
titipan. Kepada seseorang yang juga
memiliki kunci untuk buka bisnisnya
sendiri. sangat menggoda jika tanpa
pengawasan sangat berbahaya. Nah, saya
kembali ke sebuah peraturan yang kita
kenal namanya Facto 88. Ini Anda-Anda
yang sudah generasi baby boomer, Anda
pasti sudah tidak asing dengan namanya
Pakto 88. Demam emas perbankan PTO 88.
Ini mekanisme ini sebenarnya ada aturan
ketat namanya BMPK atau batas maksimum
pemberian kredit pada saat itu. Tapi
teman-teman, ada sebuah era yang cukup
kelam dalam sejarah Indonesia di mana
aturan ini seperti macan kertas. Di
akhir 80-an pemerintah mengeluarkan
kebijakan sakti bernama Pacto 88 atau
paket Oktober 1988. Siapa di sini
kelahiran 1988 ngacung? Anda pasti
enggak tahu karena waktu itu masih bayi.
Intinya syarat mendirikan bank
dipermudah gila-gilaan. Hasilnya
terjadilah demam bank. Konglomerat mana
yang enggak punya bank saat itu? Bank
yang saat itu yang harusnya izinnya itu
sangat ketat tiba-tiba kena pakto 88 ini
semua kalau meret tiba-tiba punya bank.
Ya, saya juga waktu itu masih berusia 12
tahun. Saya juga bingung kenapa kok bank
ini tiba-tiba ya namanya anak usia 12.
Tapi saya itu kan sudah mulai membuka
rekening bank waktu saya masih kelas 3
SD. Jadi waktu itu saya kelas 3 SD. Saya
bingung ini kok bank kok banyak sekali.
Waktu itu BCA masih namanya lengkap Bank
Sentral Asia namanya enggak berubah dari
dulu. Tapi tiba-tiba bank ini, bank ini,
bank ini banyak sekali. Nah, inilah yang
namanya era koboy. Aturan hanya hiasan.
Bank-bank yang sudah ada seperti Bank
Danamon ekspansi luar biasa. Grup besar
mendirikan bank baru seperti bank umum
nasional. dan banyak lainnya seperti
jamur di musim hujan. Pengasan dari BI
saat itu minim. Ini adalah era koboy
yang sesungguhnya. Dan akhirnya benar
terjadi Babel. 10 tahun kemudian terjadi
Krismon yang sangat terkenal. Kiamat
kecil terjadi Babel. Kita semua tahu ada
terjadi sebuah era di mana tahun '9798
angin itu datang. Bukan sekedar angin,
tapi badai tsunami Krismon. Rupiah yang
tadinya 2.400 per dolar meledak menjadi
16.500 ya seperti sekarang ini hampir
sampai 17.000 dalam waktu yang sangat
singkat dan keluarga kami menjadi
korbannya saat itu. Kenapa saya bisa
sangat relate dengan cerita ini? Anda
yang seusia saya, Anda yang sudah saat
ini usianya 5 60 tahunan. Anda pasti
tahu masa-masa kelam itu. Kita juga
adalah korban daripada Pak 88.
Perusahaan milik konglomerat yang punya
utang dalam US dollar langsung koid.
Mereka tidak bisa bayar hutang dan bank
itu seperti koperasi pribadi yang ikut
colollaps. Rumah itu ambruk total.
Makanya waktu itu semua pemerintah Bank
Indonesia membuat rencana penyelamatan
dadurat. Semua di negara diambang
kekacauan. Dan di saat itu juga
terjadilah ya kerusan Mei '98. Itu semua
pergulingan kekuasaan juga. Pemerintah
datang dengan obat dewa yang namanya
BLBI, bantuan likuiditas Bank Indonesia.
Tiba-tiba bank itu merger ya. Saya masih
ingat ada BDNI, ada bank ya pokoknya
macam-macamlah bank itu. Macam-macam
lah. Dan akhirnya semua bank itu
dimerger jadi satu nama Bank Mandiri.
Nah, itulah awal Bank Mandiri itu
terjadi. Bank Mandiri, Anda silakan
googling aja. Bank Mandiri itu kan
asalnya merger dari banyak bank-bank
aneh-aneh pada saat itu. Dan itulah
akhirnya sejarah 98. Niat baik dibalas
penjarahan.
Apa yang terjadi? Itulah puncak semua
dosa. Bayangkan Anda panggil pemadam
kebakaran menyelamatkan rumah Anda.
Bukannya menyiram api. Oknum pemadam itu
malah mencuri TV, perhiasan, kabur.
Itulah yang terjadi pada dana BLBI. Para
konglo yang nakal itu disebut obligor
nakal melihat BLBI bukan sebagai
penyelamat tapi sebagai kesempatan
terakhir untuk ngerampok. Ini memang
kurang ajar. Memang saat itu contoh
konkret dosa BLBI adalah Samsul Nur
Salim. Sor ya saya sebut nama di sini
karena ini sudah menjadi bagian dari
sejarah. Pemilik BDNI menerima puluhan
triliun dana BLBI tujuannya untuk
menyelamatkan. Tapi dana itu disalurkan
ke grupnya sendiri dan dipakai spekulasi
valas. Diduga ya Selik diduga ya. Ini
contoh juga enggak habis-habis. Contoh
lagi The Nin King. Ketika video ini saya
buat saya minta maaf karena beliau resmi
S du hari ini almarhum. Beliau pemilih
Alam Sutra Grup dan waktu itu beliau
memiliki bank juga bernama Dana Hutama.
Modusnya serupa. BLPI diduga dialirkan
menyelamatkan grup Argo Pantes miliknya.
Nama-nama besar dari keluarga Cendana
saat itu seperti Bambang Driat Mojo,
Bank Andromedanya pun ikut keseret.
Dalam kemelut ini banknya jadi zombie.
Uangnya hilang, pemiliknya banyak bahkan
banyak yang jadi buron internasional.
Akhirnya inilah yang terjadi. Utang
mereka jadi tagihan kita. Loh, kok bisa,
Pak? Kongomat yang hudang buron yang
mungkin bahasa sekarang jadi koruptor
kok jadi hutang kita. Apakah kita ikut
merasakannya? Nah, ini kita bahas nih.
Betul kok bisa? Mungkin Anda berpikir,
"Pak Candra, utang mereka kok bisa jadi
hutang kita? Anda kan secara tidak
langsung menanggung mereka kan. Cicilan
saya juga sama, angsuran saya juga
sama." Nah, tapi mereka merusak dompet
negara yang disebut dengan namanya APBM.
Nah, inilah yang agennya secara enggak
langsung berdampak langsung pada inflasi
kehidupan kita yang semakin sulit dan
mencekik belakangan ini. Saat dompet
negara harus menambah lubang, logikanya
negara akibat dana PLB yang bicara harus
menebarkan SUN atau surat utang negara.
Pemerintah meminjam uang baru untuk
menambal utang lama. Karena sekarang
negara punya utang baru yang jumbo, maka
setiap tahun dalam APBN wajib ada
pengeluaran pos baru, yaitu pembayaran
bunga dan pokok hutang yang jumlahnya
ratusan triliun setiap tahun. Ada
tagihan yang tak terlihat tapi itu
dirasakan oleh masyarakat. Pertama, jata
pembangunan berkurang. Kedua, nilai uang
tergerus. Akhirnya inflasi di mana-mana.
Bayangkan saya masih ingat waktu tahun
1988 ada Pak 88 itu. Saya masih ingat
saya beli nasi goreng abang-abang itu
masih 500 perak di Jakarta. Saya masih
ingat. Sekarang Anda lihat 500 perak
bisa beli apa. Anda kasih pengamen aja
uang itu bisa dibanting. Loh itu saya
ngalamin. Nah sekarang kayaknya nasi
goreng abang-abang minim Rp20.000 enggak
pakai telur. Itu di Jakarta loh ya. Saya
enggak ngomong di daerah. Mau pakai
telur 25. Kira duit Rp50.000 Ibu cuman
bisa beli nasi goreng pakai telur dua.
Ini sesuatu yang kayaknya Nah, Anda
lihat ini dampak berdampak dan ketiga,
potensi pajak jauh lebih tinggi. Inilah
bentuk tagihan yang sebenarnya. Ketika
utang mereka tagihannya dikirimkan ke
Anda, apa yang didambak langsung?
Pertama, jalanan rusak. Itu salah satu
bentuk dosa kongomerat itu tadi yang
kita sebut koruptor itu tadi. Sekolah
rusak, negara yang tidak dibangun.
fasilitas rumah sakit negara yang juga
tidak diperbaiki. Agen nilai uang di
dompet Anda juga terus-menerus berjuang
keras setiap tahunnya yang kita sebut
dengan inflasi. Nah, oleh sebab itu
itulah cara konglomerat yang zaman dulu
betul-betul ngerampok duit negara.
So, apa itu pondasi kekayaan sejati?
Sejarah kelam inilah yang membuat
regulator sekarang sangatlah ketat. Ya,
bagus ya. Negara kan harus maju. Jangan
sampai koruptor. Makanya Pak Purbaya
belakangan kan ada sebuah statement tuh
hutang negara R.00 triliun duit dari
mana? Pak Purbai ngomong, "Tenang,
koruptor kita 3.000 triliun. Kalau duit
koruptor dibalikin, negara kita enggak
ada hutang." Betul juga statement Pak
Purbaya. Itu yang melegakkan bangsa
Indonesia. Dan ini sangat mahal, tidak
boleh dilupakan. Kekayaan sejati tidak
dibangun dengan mengakali sistem, tapi
dengan memberikan file. So, terima kasih
sahabat S30 sudah menyimak video kali
ini. Semoga keep optimis dan dengan
video ini tujuan saya satu, mengapa APBN
kita bisa bengkak, mengapa inflasi di
mana-mana itu bukan terjadi dalam 1 du
hari, tapi ini adalah sistemik yang
sudah rusak beberapa puluh tahun yang
lalu. Oke. Tapi semoga dengan
Kementerian Keuangan yang baru kita
menatap Indonesia optimis sehingga
Indonesia bisa bebas hutang 2045 menuju
Indonesia. Sukses untuk Anda. Jangan
lupa like-nya and salam hebat luar
biasa. Yeah.