Transcript
Masu2zCOVVk • Bukan CHINA, inilah THE ORIGINAL GIANT:KISAH NYATA JEPANG MENGUASAI DUNIA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1445_Masu2zCOVVk.txt
Kind: captions
Language: id
Jepang, negara hancur lebur yang bangkit
jadi raja ekonomi dunia. Mari kita
belajar dari mental juara dari era
1980-an.
Lupakan Cina sesaat. Kita semua tahu
hari ini Cina adalah raksasa ekonomi.
Tapi tahukah Anda? Sebelum dunia takut
pada China, dunia pernah tunduk dan
gemetar pada satu negara kecil di Asia
Timur yang bernama Jepang.
Dengan memanasnya hubungan geopolitik
saat ini, kita sering lupa bahwa Jepang
adalah the original giant. Jangan salah,
Jepang hari ini masih merupakan salah
satu negara terkaya dan pemegang aset
terbesar di dunia.
Coba kita putar waktu ke belakang. Tahun
1945, negara ini rata dengan tanah,
kalah perang. Dua kotanya di bom atom.
Industrinya hancur lebur, tidak ada
harapan. Namun hanya dalam waktu 35
tahun Jepang melakukan hal yang
mustahil. Di tahun 1980 Jepang bukan
cuma bangkit, mereka menjadi nomor satu.
Mereka mengalahkan Amerika dalam
industri mobil, teknologi, bahkan
perbankan.
Bagaimana caranya sebuah bangsa yang
hancur lebur, rakyat dan pemerintahnya
bersatu padatu bekerja gila-gilaan demi
satu tujuan menjadi yang terbaik di
dunia. Hari ini di Success Vivot, kita
akan bedah rahasia kebangkitan Jepang
yang legendaris ini.
Presiden Amerika Serikat Harry Estruman
pernah berkata, "The only thing new in
the world is the history you don't
know." Kita sering merasa masalah kita
hari ini, krisis ekonomi, persaingan
bisnis adalah hal yang baru. Padahal
solusinya sudah pernah ditemukan oleh
bangsa lain puluhan tahun yang lalu.
Hari ini kita akan bahas sebuah negara
yang pernah hancur lebur jadi debu tapi
bangkit menjadi raksasa yang bisa
membeli Amerika. Jadi jangan skip video
ini karena strategi yang mereka pakai
untuk bangkit dari nol adalah strategi
yang sama yang bisa Anda pakai untuk
bisnis dan karir Anda. Bayangkan ini. Di
tahun 1980-an ada sebuah buku bestseller
berjudul Japan as number one. Itu bukan
cuma judul, itu adalah kenyataan.
Saat itu orang Barat tidak takut pada
made in China. Mereka takut pada
efisiensi made in Japan. [musik]
Kenapa? Karena Jepang tidak lagi bermain
di industri kasar seperti baja atau
kapal laut. Mereka bertransformasi ke
presisi tinggi, yaitu adalah industri
teknologi dan elektronika. Mari kita
lihat datanya. Di tahun 1980-an, Jepang
menguasai lebih dari 10% dari total
perdagangan di seluruh dunia. Dalam
industri chip komputer atau
semikonductor yang sekarang diperebutkan
China dan Amerika Serikat.
Jepang dulu adalah rajanya. Bayangkan
perusahaan Jepang seperti Toshiba,
Hitaji menguasai 80% pasar global untuk
cip memori di tahun 1987.
Amerika mereka kalah telak. Perusahaan
raksasa Amerika Serikat seperti Intel
bahkan tergeser dari pasar memori.
Kualitas produk Jepang begitu tinggi.
Sampai-sampai komputer buatan Amerika
pun terpaksa pakai komponen Jepang
[musik] supaya tidak cepat rusak. Ini
adalah bukti bahwa ketika orang Jepang
mengerjakan sesuatu, mereka tidak
setengah-setengah. Mereka mengejar
kesempurnaan. Ini bagian paling menarik
yang harus kita pelajari, terutama untuk
Indonesia. Jepang tidak bangun tidur di
tahun 1980 dan tidak tiba-tiba kaya.
Kekayaan di tahun -an tersebut adalah
hasil panen dari benih yang ditanam 20
tahun sebelumnya dengan disiplin tingkat
tinggi. Pemerintah Jepang punya strategi
jangka panjang yang disebut longterm
Planning State Guided [musik] Industrial
Policy. Mereka tidak ganti pemimpin lalu
ganti kebijakan.
Siapapun perdana menterinya visi
ekonominya tetap satu rel. Apa
strateginya? Mereka melakukan pivot
industri yang brilian. Di tahun 1950
sampai 60-an, Jepang fokus pada industri
berat, yaitu baja, kapal, dan tekstil.
Tapi masuk ke tahun 1970-an, setelah
krisis minyak, pemerintah Jepang sadar
bahwa mereka tidak punya sumber daya
alam. Kalau terus main di industri
berat, mereka akan bangkrut karena biaya
energi yang mahal. Maka Kementerian
Perdagangan Mereka, MITI membuat
keputusan berani. Kita harus ubah haluan
negara ini. Dari industri yang
mengandalkan otot atau heavy industry,
mereka beralih ke industri yang
mengandalkan otak atau high value
technology and electronics.
MITI mengumpulkan perusahaan-perusahaan
raksasa. Mereka tidak dibiarkan
bertarung sendiri-sendiri.
Pemerintah membagikan tugas. kamu riset
ini, kamu bikin itu. Contoh paling nyata
adalah di industri semiconductor. Di
tahun 0-an, MITI menerapkan cip komputer
sebagai prioritas strategi nasional.
Pemerintah mengucurkan dana riset dan
perusahaan swasta mengeksekusi dengan
presisi. Hasilnya butuh waktu 10 tahun
lebih, tapi saat masuk ke tahun 1980,
strategi itu meledak. Jepang menguasai
teknologi presisi yang tidak bisa ditiru
negara lain. Pelajarannya mahal.
Pemimpin Jepang punya kesabaran
strategis. Mereka berani membuat rencana
sakit-sakit dahulu di tahun 0-an demi
panden raya di tahun-an. Mungkin Anda
bertanya, kok pemerintah Jepang bisa
tahu masa depan ada di elektronik?
Apakah mereka punya bola kristal
peramal? Jawabannya tidak. Visi itu
lahir dari rasa takut. Di tahun 1970-an
terjadi krisis minyak dunia. Harga
minyak naik gila-gilaan. Bagi Jepang
yang tidak punya sumber daya alam, ini
adalah kiamat. Industri andalan mereka
saat itu, baja, dan kapal sangat boros
energi. Kalau mereka bertahan di situ,
negara akan bangkrut karena biaya
produksi yang kemahalan. Di situlah para
pemimpin Jepang berpikir realistis dan
tajam. Kita tidak punya minyak, tapi
kita punya otak dan SDM yang disiplin.
Maka keluarlah rumus baru. Tinggalkan
industri yang butuh banyak bahan bakar.
Pindah ke industri yang butuh banyak
pengetahuan.
Jawabannya adalah semikonduktor atau
microchip. Barang kecil, hemat bahan
baku, tapi harganya mahal sekali.
Lalu, bagaimana cara memuluskan
perubahan arah kapal sebesar negara ini?
Inilah tindakan jenius pemerintah Jepang
yang disebut proyeksi FLSI, yaitu Valley
large scale integration.
Biasanya perusahaan seperti Tosiba,
Hitachi, TNE itu musuhan dan saling
bersaing sengit. Tapi pemerintah lewat
MITI memaksa mereka duduk satu meja.
Pemerintah Jepang bilang, "Kalian jangan
perang dulu. Kita kumpulkan ilmuwan
terbaik kalian di satu laboratorium
bersama. Kita keroyok riset dasarnya
bareng-bareng supaya biayanya murah dan
resiko dibagi rata. Kalau teknologi
sudah jadi, baru kalian boleh bersaing
lagi jualan produknya. Ini strategi
musuh jadi teman demi negara. Hasilnya
dalam 4 tahun gabungan ilmuwan ini
berhasil menghasilkan ribuan paten
teknologi yang membuat Jepang menyalib
Amerika. Jadi transisi itu mulus karena
pemerintah memfasilitasi kolaborasi
riset.
Resiko kegagalan riset yang biasanya
mahal ditanggung bersama sehingga
perusahaan berani banding setir dari
baja ke elektronik tanpa rasa takut.
Tapi rencana pemerintah yang canggih itu
akan jadi sampah kalau rakyatnya tidak
mendukung. Di sinilah mentalitas rakyat
Jepang berbicara. Ada sistem unik di
Jepang yang bernama Keiretsu. Apa itu
Keiretsu? Secara sederhana, Keiretsu
adalah sebuah jaringan aliansi
perusahaan di Jepang yang saling
terhubung satu sama lain. Mereka bukan
satu perusahaan seperti BUMN di sini ya,
tapi sekumpulan perusahaan swasta
berbeda bidang yang bersumpah untuk
saling melindungi, saling dukung, dan
bekerja sama demi tujuan jangka panjang.
Dokumen menyebutkan bahwa ekonomi Jepang
dilumasi oleh sistem kiritsu yang
terdiri dari kepemilikan saham, cross
shareholding, dan pembiayaan bank utama
atau mainband financing.
Dan apa peran rakyat kecil? Rakyat
Jepang di era itu mendukung negara
dengan cara yang sangat sederhana tapi
powerful, yaitu adalah menabung di Bank
Dalam Negeri. Tingkat tabungan atau
saving rate rumah tangga di Jepang
sangat tinggi karena rakyat rajin
menabung. Jadi, akhirnya bank punya
banyak uang tunai. Uang tabungan rakyat
inilah yang dipinjamkan bank ke
perusahaan-perusahaan seperti Toyota
Sony untuk membangun pabrik dan riset
teknologi dengan bunga yang rendah. Jadi
secara tidak langsung setiap yen yang
ditabung oleh orang-orang kaya,
nenek-nenek di desa atau pekerja pabrik
di Tokyo ikut membiayai kebangkitan
teknologi Jepang.
Rakyat percaya pada pemerintahannya dan
pemerintah bekerja keras untuk
rakyatnya. Sebuah gotongroyong nasional
yang sempurna.
Bayangkan jika rekening Anda tidak
berhenti bertambah karena bisnis ekspor
Anda lancar, Anda rajin menabung, apa
yang Anda lakukan? Anda pasti mulai
berinvestasi membeli aset, kan? Itulah
yang dilakukan Jepang. Karena bank-bank
mereka menguasai daftar bank terbesar di
dunia, perusahaan Jepang punya akses ke
modal tanpa batas yang sangat murah.
Mereka merasal terlalu besar jika hanya
jago kandang. Akhirnya Japan
Incorporation mulai belanja dan yang
mereka beli bukan barang sembarangan.
Mereka membeli harga diri bangsa barat.
Simbol-simbol kebanggaan Amerika jatuh
ke cangan Jepang satu persatu.
Gedung Rockaveller Center di New York
simbol kapitalisme Amerika dibeli
sebanyak 51% sahamnya oleh Mitsubishi
Estate. Studio film legendaris yaitu
Columbia Pictures dibeli oleh Sony
seharga 3,4 biliun US Dar. Bahkan orang
kaya Jepang memborong lukisan Van Goh
dan lapangan golf di California.
Saat itu dunia tercengang. Ada satu
fakta gila yang menggambarkan betapa
tidak masuk akalnya kekayaan aset Jepang
saat itu. Di puncak kejayaannya tahun
1989, nilai tanah istana kekaisaran
Imperial Palace di Tokyo yang luasnya
cuma 1,1 km² secara teori dinilai lebih
mahal daripada harga tanah di seluruh
negara bagian California Amerika
Serikat. Kekayaan aset yang melimpah ini
menciptakan wealth effect. Rakyat yang
tadinya hemat mulai merasa kaya raya.
Gaya hidup pun berubah. muncul istilah
Ien goka atau kemewahan satu poin.
Jadi orang biasa yang gaji pas-pasan
rela makan mie instan tiap hari demi
bisa beli satu barang mewah entah itu
jam Rolex atau tas Louis Futong.
Jepang saat itu mengkonsumsi 40% barang
mewah yang ada di dunia.
Namun tidak ada pohon yang tumbuh sampai
ke langit. [musik] Dominasi Jepang ini
membuat Amerika gerah.
Defisit perdagangan Amerika Serikat
membengkak dan politisi Amerika Serikat
mulai melakukan aksi Japan basing.
Bahkan ada anggota kongres yang
menghancurkan Radio Toshiba di depan
gedung Capital. Tahun 1985 terjadi
peristiwa bersejarah bernama Plaza
Accord.
Lima negara besar berkumpul dan memaksa
mata uang yen Jepang untuk menguat yaitu
apresiasi terhadap US Dollar. Jadi
nilainya lebih mahal dari US Dollar
dipaksa.
Tujuannya supaya barang ekspor Jepang
jadi mahal dan tidak laku.
Dalam waktu singkat, nilai yen naik
gila-gilaan. Dari 240 menjadi ke 150 yen
per dolar. Eksportir Jepang mulai
menjerit. Untuk menyelamatkan ekonomi,
bank sentral Jepang menurunkan suku
bunga serendah-rendahnya sampai hingga
2,5% agar bisnisnya tetap berjalan.
Tapi uang murah ini malah dipakai untuk
spekulasi saham dan properti. Inilah
yang menciptakan bubble ekonomi. Orang
tidak lagi fokus produksi, tapi malah
fokus main saham dan tanah. Sampai
akhirnya di awal 1990 gelembung itu
pecah. Pasar saham jatuh 50% dalam
setahun dan Jepang masuk ke era lost
decade.
Tapi itu cerita untuk video lain ya.
Kali ini kita akan pelajari semangat
bangkitnya Jepang.
Jadi sebenarnya apa yang Indonesia bisa
pelajari dari sejarah Jepang ini?
Seringkiali kita melihat negara maju dan
berkata, "Enak ya jadi mereka, enak ya
gajinya besar." Kita lupa proses
berdarah-darah dan disiplin puluhan
tahun di belakangnya.
Jepang mengajarkan kita tiga hal untuk
menjadi bangsa yang besar. Satu adalah
konsistensi rencana. Ganti pemimpin
tidak boleh ganti visi. Jepang butuh 20
tahun transisi dari industri baja ke
teknologi. Kalau setiap 5 tahun ganti
pemimpin, ganti rencana, kita tidak akan
pernah sampai ke tujuan. Kedua, disiplin
eksekusi. Ketika pemerintah menetapkan
arah seperti hilirisasi, ya kalau di
Indonesia, seluruh elemen bangsa dari
pengusaha perbankan harus dukung, bukan
saling sikut dan saling menjatuhkan.
Tiga yaitu mentalitas rakyat. Rakyat
Jepang tidak manja dan tidak menunggu.
Mereka bekerja keras, menabung, dan
membeli produk bangsanya sendiri. Karena
mereka tahu itu demi masa depan
negaranya. Tahun 1945, Jepang hancur
lebur. Indonesia mulai merdeka. Tahun
1980 mereka menguasai dunia. Kalau
Jepang bisa, kenapa Indonesia tidak?
Kuncinya ada di persatuan visi dan kerja
keras kita semuanya.
Sebagai penutup, Mark Twin pernah
berkata, "History doesn't repeat itself,
but it often rhymes."
Banyak orang bertanya, "Bagaimana cara
memprediksi masa depan? Jawabannya ada
di masa lalu. Apa yang kita lihat pada
raksasa ekonomi hari ini sebenarnya
adalah siaran ulang dari apa yang pernah
terjadi 40 tahun yang lalu.
Jika Anda ingin tahu cara membangun
kekayaan dari nol atau cara menghindari
kebangkrutan saat Anda berada di puncak,
Anda wajib menonton video seperti ini.
Karena kita tidak sedang membicarakan
masa lalu negara Jepang misalnya. Kita
sedang membicarakan pola kesuksesan yang
bisa Anda tiru untuk masa depan Anda
sendiri.
Terima kasih telah menonton. Tunggu
video kedua kita. Kita akan bahas
tentang China.
Sampai jumpa di video berikutnya. Salam
hebat luar biasa.