File TXT tidak ditemukan.
Transcript
e2q_bSPqOf0 • KALAH TELAK! Nvidia Resmi Masuk Malaysia, Indonesia Nasibnya Jadi Negara Tertinggal?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1447_e2q_bSPqOf0.txt
Kind: captions Language: id Wah, video ini bakal bikin kebakaran jenggot ini. Kenapa? Karena baru-baru ini perusahaan bernama Nvidia baru saja invest ke Malaysia 72 triliun. Sedangkan Nvidia juga invest ke Indonesia. Tahu berapa? Cuman 3 triliun. Astaga. Jauh dong. Mengapa Nvidia lebih melirik ke Malaysia dengan investasi yang 20 kali lipat lebih besar di Indonesia dibandingkan investasi di Indonesia? Video ini akan menggedor cara berpikir kita. Tonton sampai selesai. Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Wah, pembukaannya tadi itu sudah jelas-jelas seolah-olah nasionalisme kita tercabik-cabik ya. Lagi-lagi kok kalah sama negara jiran tetangga Malaysia. [musik] Ya, saya ucapkan congratulation Malaysia. ee negara Anda terpilih oleh Nvidia [musik] untuk investasi pabrik. Kenapa kok enggak investasi di Indonesia? Nah, inilah problemnya dan ini juga tamparan bagi orang Indonesia video ini agar kita harus akui bahwa ini kita kalah sama Malaysia, kalah jauh. Nah, yang pertama adalah kita lihat Malaysia itu investasi 72 triliun4,3 miliar dolar [musik] yaitu data center, superkomputer, dan basis produksi. Sedangkan di Indonesia cuman 200 juta dolar alias ya seperti angka yang tadi saya sebutkan kecil sekali cuman Rp3 triliun yaitu human capital pusat pelatihan Indonesia AI Indonesian AI Nation sama basis talent. Artinya apa? Malaysia itu dipilih jadi tuan tanah ya [musik] basis produksi. Sedangkan 3 tril yang masuk ke Solo itu apa? Yaitu untuk bangun Indonesian AI Nation. Nah, jadi cuman pusat pelatihan aja. Jadi bukan ya bukan semacam manufacture yang besar yang investasi sampai harus melibatkan lahan dan membuat regulasi pemerintahan dan sebagainya. Dari sini kita harus tahu bahwa Nvidia itu bukan perusahaan suka. Oh, saya suka sama negara Indonesia, saya suka sama pemimpinnya. Bukan begitu. Nvidia itu perusahaan berbasis data logis, semua by riset. Mereka ndak ngawur. Mereka juga belajar kondisi politik sebuah negara dan mereka juga belajar tentang kualitas SDM sebuah negara. Nvidia enggak mungkin menggelontorkan dana segitu besar [musik] tanpa dia tahu riset ideologinya, politiknya, sosialnya ke hukum, keamanan, hankamnya, semua dipelajari. Jadi inilah sebuah tamparan keras bagi kita orang Indonesia. Nah, pertanyaannya mengapa mesin di tetangga tapi otaknya di Indonesia? [musik] Karena Malaysia siap, listrik stabil, air ready, tempat mesin ada. Nah, Indonesia 280 juta jiwa [musik] jadi tempat jualan market, user base, dan mindsetnya investasi layar ke atas sebelum aset fisik. Nah, dari sini artinya apa? Indonesia itu Nvidia mempersiapkan bahwa Indonesia secara SDM kita harus akui kalah dibandingkan dengan Malaysia. Bukan saya ngomong tapi Nvidia yang riset. Ya mungkin orang Indonesia dengar ini enggak setuju sama Pak Candra. Kok bisa kita kalama Malaysia? Kita beberapa tempat kita menang kok. Tunggu dulu yang ngomong bukan saya dan ini bukan duit lu. Ini duitnya Nvidia. Kenapa beda perlakuan? Nih kita bahas ya. Ini murni strategi bisnis. CEO Nvidia itu kan kita atau orang Taiwan ya, Jensen Huang ya. [musik] Anda itu butuh tempat untuk naruh mesin super canggih. Infrastruktur fisiknya di Johor itu sudah siap tempur. Makanya Anda harus tahu di Johor itu ada Legoland ya. Indonesia enggak ada Legoland. Jadi, Anda jangan marah-marah dulu. Legoland itu juga [musik] enggak mungkin sembarangan. Kenapa? Nah, kita juga tahu Johor Bahru itu juga dekat sama Singapura. dekat sama Singapura di sana itu juga artinya Johor Bahru itu udah menjadi tempat singgahnya orang Singapura dan orang Singapura udah biasa kita tahu gajinya orang Singapura tuh berapa. Nah, Indonesia mau taruh di mana ya kan? Sekarang kita lihat Indonesia listrik dominan masih batubara aturan sering berubah. Ini fakta loh. Apakah Anda berani taruh mesin 72 triliun di situ? Risikonya gede. Siapa yang masih pakai teknologi ini? Pasarnya ada di Indonesia. penduduk R80 juta. Enggak salah dong, pintar dong Nvidia. Nah, ini sebabnya kenapa Nvidia mau taruh di Johor. Terus Harvard reality otak versus perut. Nih kita lihat nih di sini. Ini ada beberapa riset lucu. Riset housem and Hidelgo. Ekonomi complexity. Negara maju jual barang high complex. [musik] Malaysia fokus sovereign AI. data center bangun otak abad 21 lah Indonesia fokus komoditas dan pangan. kita masih ngurusin MBG ya, mohon maaf ya. Ini MBG itu seharusnya udah di [musik] dicaneng sama pemerintah-pemerintah sebelumnya, tapi baru di pemerintah Pak Prabowo masih ngurus ini gitu. [musik] Malaysia enggak ada MBG gitu. Terus bahayanya terjebak jadi konsumen teknologi selama-lamanya karena Indonesia pangsa pasar besar dan ingat Malaysia itu impor impor GPU besar-besaran. Mereka bangun infrastruktur AI. Barang high complexity Indonesia. Kita masih sibuk investasi pabrik kelapa, pabrik pelangan, sekarang baru dapur MBG untuk UMKM-nya. Itu barang low, kompleks, jauh kita sana high, sini low. Jadi istilahnya Malaysia ini sedang bangun otak, sementara Indonesia masih ngurusin perut. Ini problemnya ya. Jelas aja Nvidia bahas padahal penduduk Malaysia itu cuman enggak sampai R juta [musik] ya. Indonesia R80 juta hampir 9 sampai 10 kali lipatnya tapi SDM jauh. Jadi ini terjadi gap masa depan soverein AI versus pabrik sawit kelapa lah. Ini jok sarkas ya. Jadi Anda harus tahu Indonesia ini kan di mana-mana. Tapi sekali kebakaran kebun sawitnya satu Malaysia langsung langsung jadi kabut asap untuk hari bencana nasional batuk massal itu akibat apa? Akibat asap dari Indonesia ya. Kita lihat ini terjadi kan Malaysia itu mengampkan fondasi teknologi masa depannya. Dia bangun hub AI hub sedangkan Indonesia masih perbaiki masa lalu baru hilirisasi komoditas. Kita masih ketinggalan jauh. Baru di era Pak Jokowi kita baru bangun pikirkan hilirisasi. Ini aja masih ribut dicari-cari terus kesalahannya. Saya bukan pembela Pak Jokowi ya. Tapi kita tahu kan Indonesia ini masih ribut soal agama lah. Presiden lalu dicari salah-salahnya apalah. Nah, ini loh ini yang menurut saya orang lain sudah bangun pabrik AI kita masih ribut soal presiden korupsi lah, masalah ijazah lah. Padahal harusnya negara itu membangun yang namanya hilirisasi. Negara harus bangunnya infrastruktur dan harus diciptakan SDM yang bagus. Baru kita di sini itu lebih jelas dan lebih detail dan lebih lengkap baru melek gitu. Ya wajar kita kalah sama Malaysia dalam hal ini. So, dampaknya apa? Malaysia jadi produsen infrastruktur, Indonesia jadi consumer teknologi. Ya. Ya. Jadi jangan kaget kalau next time kita beli robot dari Malaysia gitu. Iya kan? Kita impor mesin dari Malaysia buatan Nvidia ya kan. Kenapa Nvidia bangun di sana? Ya mungkin SDM-nya jauh lebih rendah kali. Eh sori SDM-nya harganya lebih murah. Bisa jadi ya kalau dia bangun sendiri di Taiwan kan jelas lebih mahal. Nah, itulah sebab kita harus paham gitu. Jadi perbandingan Malaysia mengkunci investasi Nvidia bangun soverein AI kedaulatan di negara sendiri. Di saat yang sama kita umumkan investasi pabrik kelapa senilai 1,6 triliun. Investasi kelapa itu bagus buat petani. Tapi kalau narasi nasional kita masih hilirisasi komoditas, ya kita ini sedang bermain di level rendah di ekonomi global. Nah, ini masalahnya. Jadi kita harus tahu sejarah 50 tahun pabrik cip sama pabrik kelapa. Ini loh sebabnya di sini kita tersakui kita kalah sama Malaysia. Buktinya siapa? Yang nentukan Nvidia. Bukan kita. Yang punya dua dia, Bos. Bukan kita, gitu. Kamu enggak boleh baper sama orang Malaysia gitu. Malaysia menang gitu. Sepak bola mungkin kita boleh menang tapi sepak bolanya isinya keturunan Belanda ya kan? Kalau ribut kan sama soal sepak bola gitu. Tapi kalau soal teknologi, soal dipilih sama Nvidia kita kalah ya tiarap kita. Selamat Malaysia, Anda luar biasa. Kita enggak boleh baper nih. Karena Malaysia fokus pabrik chip, fokus INI sejak 70 loh. Di Penang ada loh. Sudah Indonesia kapan? Terus ekspor elektronik ada 40% dan ekonomi digital 23% GDP loh. Ya, kita harus akui kita sejak 50 tahun Indonesia ya pabrik sawit di mana-mana karena kebun sawit di mana-mana. Raja komoditas Indonesia entah batu bara, sawit dan nikel ya kita harus akui itu Indonesia banget gitu. Produsen kelapa terbesar nomor dua di dunia ya agak mirip sama Brazil lah kan negara di selatan ya. Terus ekspor dominan adalah SDA mentah. Dari sini kita sudah tahu bahwa tahun 0 Malaysia sudah bangun pabrik cip. Kita belum. Kenapa kita tertinggal nih? Faktanya ini bukan masalah sejarah 1 atau 2 tahun. Ini sejarah 50 tahun, Bos. Hari ini 40% ekspor Malaysia itu barang elektronik dan semikonduktor. EM digital menyumbang 23% [musik] GDP. Jadi wajarlah Nvidia pilih Malaysia karena dia sudah bangun 50 tahun lalu. Lah Indonesia ya raja komoditas. Kita punya tambang, punya hutan, punya laut. Ekspor utama kita adalah batu bara, minyak, sawit, dan nikel. Dan kita ini sebenarnya kelebihannya produsen kelapa terbesar nomor dua di dunia. Oleh sebab itu solusinya adalah nih dari tadi kan saya mengagum-ngagumi Malaysia terus, tapi tunggu dulu. Bukan berarti kita Indonesia itu kalah ya. Enggak. kita itu solusinya ada hilirisasi digital dan pangan. Jangan cuman jual santan. Selama ini kan kita kopra ya kan, kemudian kelapa gitu, terus ujung-ujungnya jual santan gitu. Robot enggak butuh makan, manusia yang butuh makan. Jadi VCO kek, minyak kelapa premium, activated carbon kek, filter udara air dan tempurung kelapa kek, biosolar kek, ya kan air kelapa kek yang saat ini jadi isotonik. I kan seperti Hydroco ya saya sebut brand lah dan sebagainya. Termasuk sabut kelapa untuk kualitas ekspor baru bukan cuman santan. Apakah kita pesimis? Ya tidak. Kita nomor dua loh di dunia. Jadi kita harus bakar semangat meskipun pabrik kelapa, cuman pabrik kelapa, tapi kelapa itu emas hijau. Terpuruknya activated carbon buat filter udara sabutnya menjadi media tanam eksport. Kalau kita cuman jual kelapa bulat-bulat, ya lakukan hilirisasi. Kulitnya jangan dibuang gitu aja. Setelah ditebas masih bisa dipakai. Bikin brand global, keuntungan komoditas ini. Invest ke teknologi. Jadi kita menjadi raja komunitas bahan mentah. Sambil kita juga lihat dosa masa lalu. Infrastruktur 1 itu harga listrik. [musik] Indonesia itu cuman 8 sen US DO per KWH. Nah, Indonesia itu 11 sampai 12 sen per kWh lebih mahal 40%. Ya jelas Nvidia pilih yang murah loh. Tapi Pak, kita enggak bisa siapin infrastrukturnya pakai AI. Ini PR besar. Kalau Anda mau main di level global, surplus enggak cukup. Ada hantu pertama harga nih. Nah, kita aja udah kalah 40% sama Malaysia. Data center tuh 24 jam loh. Server tuh ndak mati loh. Muter terus. Kamu harus istirahat. Server enggak boleh istirahat. Itu jutaan watt. Itu kalau dikali 40% OPEX itu bisa triliunan rupiah per tahun. Investor ya enggak bodoh lah. Ngapain? Mending dia invest ke Johor. Dosa infrastruktur kedua warna energi ESG. Komitmen global net zero emission Nvidia Google Microsoft Indonesia surplus dominan PLTU batara listrik kotor artinya batu bara. Nah, ini kan udah sangat jelas kalau mereka kan net serot emission semuanya enggak ada asap, enggak ada limbah. Nah, Malaysia program green lane jalur cepat listrik hijau. Nah, ini sangat sejalan dengan perusahaan Nvidia. Nah, warna energi ini inilah yang jadi masalah. Malaysia itu punya program green lane. Semua bebas asap, listrik energi terbarukan, semua EV lah, semuanya bahan bakarnya itu enggak ada asap di mana-mana. Indonesia pengirim asap terbesar ke Malaysia sampai Malaysia terbatuk-batuk. Kalau kita kebakaran hutan sawit, habislah Malaysia. Kita bisa belajar dari kesalahan dari Johor. Betul. Johor yang dipilih. Tapi Johor ini punya kesalahan yaitu apa? Kita tahu air itu dibutuhkan untuk pendingin. Robot yang bekerja 24 jam. Server 24 jam bekerja itu butuh air. Entah itu AC, entah itu lingkungan yang dingin, kalau enggak mesinnya cepat haus, panas bermasalah. Dan stop haw. Karena 2019 limbah kimia, tapi ancaman 2025 itu nyata karena data center. Nah, kondisi Jor 2024-2025 ini ancaman krisis air nyata. Pemerintah nolak 30% pengajuan baru. Kenapa? Memang bermasalah airnya suplainya tidak sebagus beberapa daerah di Indonesia. Oleh sebab itu kita belajar nih dari pengalaman Johor ini karena sudah mulai terjadi ancaman krisis air maka satu hal yang kita perlu pertegas adalah tahun 2019 itu krisis air karena polusi limbah kimia. Jadi ancaman air di 2004 dan 2025 itu nyata. Nah, ini sebenarnya juga good news to Indonesia. Kenapa? Karena ke depannya kalau seandainya Nvidia siapa tahu nih Indonesia sudah mulai siap STM-nya, bisa jadi Nvidia juga melirik. Karena Indonesia mungkin di beberapa wilayah justru malah surganya air gitu. Kita lihat pabrik air minum mana yang enggak dibikin sama Kong Merat. Surganya air curah hujan tinggi, negara katolistiwa cuman dua musim air itu tinggi. Kita bukan Afrika atau Afrika Tengah. yang panas sepanjang tahun gitu, kelaparan di mana-mana. Indonesia surganya air. Nah, oleh sebab itu mari kita belajar dari video ini. So, keuntungan telat investasi itu adalah pertama air tanah kering belum terjadi di Indonesia. Risiko lingkungan. Kedua, inilah kesempatan regulasi. Jadi, video ini saya juga tujuannya untuk memberikan masukan kepada para regulator di pemerintah untuk berpikir lebih jauh, menyiapkan regulasi dan pipa industri. Dan yang ketiga belajar dari Johor studi kasus sebelum membuka keran investasi. Jadi untungnya memang kita kalah dan telat sedikit. Tapi kalau 72 triliun seandainya bukan masuk ke cor masuk ke Cikarang sekarang regulasi air belum siap, pipa industri belum siap. Bisa-bisa malah tanah kita kering, malah ada masalah AMDAL, keamanan, dan dampak lingkungan. kita cuma dapat ampasnya dan akhirnya kesulitan air bersih. Jadi enggak apa-apa kita kalah dulu sama Malaysia. Tapi ini kita tahu bahwa ke depan yang namanya AI dan robot itu sangat perlu air. Kesimpulannya dari video ini adalah pertama terima data. Kita akui kita kalah staf baik secara infrastruktur dan kompleksitas ekonomi. Kedua, ambil peluang SDM. Manfaatkan investasi R00 juta solo itu untuk AI skill. Dan yang ketiga, hilirisasi digital. Bangunlah modal STA untuk bangun teknologi, bukan cuman jual mentah seperti yang sudah saya bagikan di [musik] awal. Oleh sebab itu, saat inilah dari pelajaran kita Kal sama Malaysia ini, ini tamparan keras bagi para pemangku kepentingan dari para regulator untuk saat ini kita keluar dari zona nyaman kita. Kita enggak boleh kalah sama Malaysia ya. Tapi dari Malaysia ini juga pelajaran bahwa AI sangat butuh air. Itu saya sudah bilang. Jadilah pengusaha yang cerdas karena ingat, hanya orang yang bervalue akan berteman dan mendapatkan orang yang bervalue. Nvidia jelas perusahaan yang besar di dunia. Dia pasti juga memilih yang bisa diajak punya value yang sama. Kalau Indonesia dianggap belum selevel, wajar. Tapi apakah Indonesia mengaku kalah? Tidak. Kalau bilang air, kita jauh lebih siap. Kalau bilang lahan, Indonesia ribuan kali lipat lebih besar dari Malaysia. ya ribuan bahkan saya bilangah kita Sabang sampai Merauki itu sudah berapa besar sekali dari mulai sekarang tonton video ini dari awal sampai selesai Anda pasti akan menjadi penonton yang cerdas karena Anda jangan mengeluh di kolom komen saja seolah-olah saya mengagung-agungkan Malaysia tapi menjelek-jelekkan Indonesia tidak karena yang saya bicarakan ini semua adalah fakta. Mari bangkit kita boleh kalah sekarang, tapi suatu hari kita akan sejajar bahkan lebih dibanding Malaysia. Sukses untuk Anda. Jangan lupa komentar positif di kolom komen. Sukses untuk Anda dan salam hebat luar biasa.