Transcript
Yec13Lhp_3A • HATI2 Kenaikan Saham Palsu! Mau CRASH MARKET? Ekonomi Tidak Sedang Baik-Baik Saja!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1454_Yec13Lhp_3A.txt
Kind: captions Language: id Bro, lu tahu enggak upper class itu daya belinya terpangkas 21% loh. Jadi jauh lebih besar dibandingkan middle class malah. Nah, saya khawatir tahun depan bisa terjadi crash lagi seperti tahun 2008 pada waktu itu bagaimana harga-harga saham yang terkait dengan internet dengan PE rasio diperdagangkan sampai 400 P rasionya. Nah, jadi masalahnya ini agak sedikit kontras sama di lapangan. Kalau tadi kan diceritakan pengusaha mengeluh, tapi ini masalahnya IASG all time high terus ini sejak Pak Purbaya masuk ini. Nah, ini nih fenomena apa ini? Tadi Pak Feri bicara ekonomi dunia tidak baik, tapi kok ISG tinggi terus. Jangan devisa kita yang 150 miliar US dolar itu sebetulnya Pak Candra itu bukan cadangan devisa yang berasal dari ekspor tapi dari utang. Apa kabar Pak Feri? Sehat. Sehat bos. Waduh. kita udah terakhir setengah tahun yang lalu ya, kita bikin workshop bareng sama e podcast bareng. Nah, kali ini Pak Feri saya melihat gonjang-ganjingnya Indonesia ini enggak selesai ini. Saya ini kan dapat banyak curhatan dari teman-teman ya, terutama pengusaha ya. Ee dan baru-baru ini berbicara soal ekonomi kita yang setelah Menteri Keuangan kita yang baru diganti. [tertawa] Seru ini kalau bahas sama Pak Feri ini Pak Feri saya mulai dulu. Jadi gini, kita ini seperti seolah-olah kayak negara kita ini tumbuh tapi kok rakyat kita ini kok seolah-olah jatuh. Ini jadi ada masalah makro sama geopolitik. Jadi langsung saja saya pada inti pertanyaannya. Pemerintah kan baru-baru ini merevisi target pertumbuhan ekonomi ke 5,5%. Alasannya bencana katanya. Tapi di lapangan pengusaha yang curhat sama saya itu enggak sedikit loh. Mereka pada berteriak sepi, kemudian terpaksa harus pengurangan karyawan, kemudian perputaran agak seret, omset sekarang struggling, enggak jatuh aja udah untung gitu. Nah, pandangan Pak Feri gimana? Ya, itu sesuai dengan data kredit ya, Pak Candra ya. Ee kredit itu kan biasanya growth kalau umpamanya ekonomi tumbuh ke 5% itu biasanya pertumbuhan kredit itu 10,5 sampai 11% bahkan sampai 12% ya. Karena apa? Karena memang ekonomi kita itu bank dependent Pak Candra ya. Jadi selalu kalau Heeh. Jadi bank dependent in the sense bahwa memang kalau kita butuh dana larinya ke bank. Beda sama di Amerika ya. Kalau Amerika kan bisa isuing obligasi ya kan, isu saham lagi ya kan ya. Tapi kalau kita majority of our forms, our corporate itu kalau perlu dana pasti ke bank. Nah, kita lihat credit growth kita itu cuma 7,02% per September yang lalu ya, Pak Candra ya. Mungkin Heeh. Sepanjang 2025 ini bisa lebih rendah dari 7,02% ya. Apalagi sekarang ada bencana Pak Candra ya kan. bank ini sekarang kena loh. Sekarang saham-saham bank aja kemarin e tadi juga under pressure ya pada saat indeks rebound ya kan kemarin mereka tertekan tadi pada saat indeks rebound saham-saham bank pun pada merah ya. Kenapa? Karena bencana ini bencana yang terjadi di Sumatera itu bisa menyebabkan NPL mereka naik pecandra ya. Nah itu artinya apa? Artinya bencana ini aja sudah memangkas pertumbuhan ekonomi kita ya. Nah, bagaimana kalau kita lihat lagi data-data indikator lain ya? Misalnya adalah kembali lagi kalau kita ngomongin masalah susah cari kerja ya, tabungan masyarakat yang makin menipis ya. Lantas selebihnya lagi kita lihat juga ya bukan cuma middle class aja yang turun sepanjang 2025 dari 57 juta jumlahnya ke 47 juta berdasarkan data BPS statistik ya. Tapi juga upper class itu juga kalau enggak salah juga kena karena kebanyakan kan pengusaha ya Pak Candra ya. Nah, saya kebetulan Heeh. Saya kebetulan sering golf ya. Jadi waktu bulan lalu saya golf itu hampir semua lapangan golf itu sepi Pak Candra. Nah, orang golf itu ya orang golf itu kan boleh bilang upper class lah ya. Golf class kan orang yang punya duit ya. Nah, itu sampai sepi. Artinya apa? Daya beli mereka pun kemakan ya. Bahkan menurut salah satu eh mantan preser ya yang kebetulan sama-sama saya golf Pak Bang Arman Arif itu dia bilang, "Bro, lu tahu enggak itu upper class itu daya belinya terpangkas 21% loh. Jadi jauh lebih besar dibandingkan middle class malah ya. Jadi, bagaimana kalau memang pemerintah atau BI mau mencadangkan bahwa tahun depan ekonomi bisa tumbuh 5,5% bahkan angka 5,12% pun di kuarter kedua dan 5,04% di kuarter ketiga itu suspek kalau menurut saya. Karena apa? Tidak sesuai dengan Heeh. Saya ragukan karena tidak sesuai dengan indikator-indikator ekonomi lainnya ya. E seperti misalnya tadi credit growth. Lantas kemarin lebaran bagaimana pemudik drop sampai 24%. Lantas penerimaan pajak negara drop hampir 20% dari PPN. Nah, dikhawatirkan fiscal shortf kita itu kemarin ada yang meramalkan bisa 300 triliun. Nah, pemerintah sendiri sudah menaikkan ee apa? Government budget deficit dari 2,48 ke 268%. Bahkan IMF bilang lebih tinggi lagi 2,80%. bahkan murah meramalkan 3,5%. Jadi, it is impossible. Sama sekali tidak mungkin untuk 5,5% tahun depan. Dan tahun ini pun saya khawatir juga mungkin lebih rendah dari 4% loh kalau memang ke kalau memang jujur ya data statistik yang dipakai ya bukan data yang dirancang-rancang ya. Nah, sebab kenyataannya seperti Pak Chandra bilang tadi ya, di real life itu orang susah loh. Orang cari kerja ya, buka lowongan dua orang, tiga orang yang datang 100, 200 orang ya. Pengusaha pun juga banyak ke teman-teman saya yang ditodong sama bank untuk mencairkan kreditnya ya. Ee dia bilang, "Ya, saya enggak punya enggak punya project. Bagaimana saya mencairkan kredit kita?" Nah, kan Pak Candra tahu undisbers loan ya, undisbers loan di perbankan kita itu berdasarkan data statistik dari BI yang dirilis kemarin itu 2.450 triliun loh ya. Itu bukan itu bukan duit kecil ya. Jadi kredit lain sudah dibuka tapi debiter masih belum bisa ngambil duitnya dalam arti ya karena enggak ada proyek Pak Candra ya. Nah itulah iya ya ya ya. Itulah makanya saya bilang. Nah, gini Pak Feri. Pak Feri ini kan soal bicara suka bicara soal IOR. Ikor kita itu jelek. Nah, itu sebenarnya kalau mau disampaikan ke sahabat SP30 apa sih IOR jelek itu maksudnya apa sih? Iya. Kalau IKOR 6,7 sampai 7 artinya multiplier efek setiap investasi itu kecil sekali Pak Candra ya. Jadi penciptaan lapangan kerja melalui investasi pun kecil karena ekornya tinggi ya. IOR itu kan incremental capital output ratio yang menandakan bahwa pertambahan kapital dibagi dengan pertambahan output itu sekali tinggi segitu berarti pertambahan kapitalnya harus tinggi sekali ya untuk menghasilkan output. Nah, diramalkan untuk 1% pertumbuhan ekonomi tambahan itu diperlukan 3.000 triliun investasi dan itu hampir tidak mungkin ya sama sekali kita capai. Sedangkan investasi kita tuh kebanyakan di bawah 2.000 triliun ya, 1100, 1200 ee triliun ya, yang namanya gross fix capital eh formation ya. Nah, makanya saya bilang tahun depan itu mungkin ekonomi akan lebih berat dibandingkan tahun ini loh ya. Jadi hati-hati aja ya. Itu satu. Yang kedua, keadaan global pun tidak baik-baik saja Pak Chandra ya. Nah, makanya The Fat kemarin nurunin suku bunga ya karena unemployment rate sudah mulai naik di Amerika. Tapi more than that, lebih daripada itu utang Amerika itu udah sangat luar biasa tingginya dan Jepang juga lebih gila lagi ya sampai 230% of GDP ya. Nah, saya khawatir tahun depan e banyak beberapa houses ya, investment houses yang meramalkan, eh jangan anggap enteng loh, tahun depan tuh bisa terjadi crash lagi seperti tahun 2008. Kenapa? Karena sekarang Heeh. Pak Candra pernah ngerasain.com Bubble ya tahun 99 2000 ya pada waktu itu bagaimana harga-harga saham yang terkait dengan internet itu bisa dengan P rasio diperdagangkan sampai 400 P rasionya ya. Nah, sekarang ini banyak sekali orang-orang head fund justru yang memburu saham-saham AI ya, seperti Nvidia dan kawan-kawannya ya. Dan mereka menggunakan leverage, mereka menggunakan utang dari broker. Nah, kalau sampai terjadi crash sedikit aja mereka harus for sale itu bisa krisis ke mana-mana itu gitu loh ya. Nah, jadi masalahnya ini agak sedikit kontras sama di lapangan. Kalau tadi kan diceritakan pengusaha mengeluh, tapi ini masalahnya IASG all time high terus ini sejak Pak Purbaya masuk ini. Nah, ini ini fenomena apa ini? Tadi Pak Feri bicara IOR gitu terus ekonomi dunia tidak baik tapi kok ISG tinggi terus gimana ini ceritanya? Enggak, bukan karena Pak Purba ya ee Pak Chandra ini all over the world ya. Di Amerika kan orang lagi gila saham EA ya. Nah, makanya tadi saya katakan kalau Pak Candra pernah ngerasain DCOM Bubble di tahun 99 2000 ini mirip-mirip nih sekarang dengan DOTCOM Bubble di tahun 2000 ya. Nah, pada waktu itu kan pada waktu itu kan saham-saham DOCOM itu yang terkait dengan internet P rasionya luar biasa Pak Candra ratusan ya. Nah, tahun 99 tuh ratusan sampai akhirnya tahun 2000 di bulan Maret tuh terjadi crash. Nasdak itu rontok 78% loh, Pak Candra dari 5.000 ke 1200 you can imagine ya 3 apa 4/5-nya terpangkas ya hampir 80%. Nah, ini yang dikhawatirkan oleh para analis global yang terjadi sekarang di Wall Street seperti itu dengan saham-saham teknologi AI ya, artificial intelligence ya. Nah, masalahnya adalah hatunhed fun itu bermain saham-saham ini dengan menggunakan leverage. Artinya apa? Meminjam uang broker, Pak Candra ya. Kadang-kadang punya uang sendiri 100, diambil posisi 1.000 ya. Nah, kalau sampai s mereka terjadi sello off atau for sale karena sahamnya turun itu bisa sistemic ris loh ya, bisa risiko ke mana-mana gitu loh. Nah, saham-saham kita pun all time ham. Hai, kalau Kak Candra jujur ya ee kembali kita kaitkan dengan ekonomi. Sebetulnya juga itu aneh. Kenapa? Saham-saham yang terkait dengan ekonomi adalah saham-saham Pak Candra ya kan. Nah, sementara kita tahu ya saham-saham itu under pressure terus ya sampai tadi aja masih merah terus ya walaupun indeks rebound. Justru yang naik nih saham-saham yang enggak jelas gitu loh ya. Saham-saham Prayogo Pangestu ya kan ya kayak brand gitu yang yang P yang PI rasionya sampai 400 gitu kan ya. ini beli saham apa beli mimpi kan gitu ya. Jadi jadi IHSG ini tidak mewakili ekonomi. Oke. Nah, jadi gini nih. Apalagi sekarang kalau kita bicara ekonomi global. Rusia ini kan perang juga masih belum selesai. Donald Trump ya kita tahulah seperti apa. Nah, sekarang kita juga bisa melihat US Dollar ini bisa melemah lagi sampai apakah berpotensi sampai 17 sampai 18.000 ini tahun depan. Saat ini kan sudah di 16700. Iya. Ini aneh. Kalau US dollar terhadap hard currency Pak Candra ya misalnya terhadap swing dollar, terhadap swis frank ya, terhadap euro, terhadap yen, dolar itu melemah tapi terhadap negara kita ee rupiah justru dolar itu menguat kan aneh ya. Ya, seharusnya ya ya kan lucu ya. Pada saat dolar melemah terhadap hard currency malah rupiah kita melemah terhadap dolar. Nah, saya khawatir walaupun tidak terjadi di akhir tahun 18.000 ya. Tapi it is just a matter of time ya. Mungkin kalau enggak terjadi akhir tahun bisa aja di Januari atau di Februari ya kan. Intinya adalah rupiah melemah secara sistematis. Kita lihat bagaimana ee dia sedikit ribuan aja kan 16.650 dihajar lagi menuju 16.700. Kalau BI enggak intervensi itu pasti sudah tembus ke 17.000 ya kan. BI gila-gila intervensi gitu kan ya. Nah, ini bahaya sekali cadangan devisa kita yang 150 miliar US dar itu sebetulnya Pak Candra itu bukan cadangan devisa yang berasal dari ekspor tapi dari utang. Kita kan minjam dolar ya. Ini bahaya ya. Apakah ini gara-gara BI printing maneh ya melalui SBRI ya kan ya itu kan terjadi ya untuk membela membela rupiah kita ya kan ya. Dengan demikian memancing dolar masuk kan ya. Ini kan utang, Bos, ya. Nah, kalau ngomong utangnya, Bos, dari 150 miliar US dolar, sebetulnya tuh yang berasal dari utang hampir 100 miliar loh. You can imagine. Iya. Jadi bukan kayak Cina kan memang cadangan devisa mereka dari ekspor. Kalau kita kan enggak dari utang kan beda ya. Orang enggak memisahkan itu tuh ya. Dihitungnya cuma 6 bulan impor, 7 bulan impor. Come on men. Bukan itu poinnya. Asalnya dolar yang ada di cadangan BI itu dari mana ya kan dari utang itu beda sama dari ekspor ya. Jadi gini Pak. Oke intinya Pak Bapak kan tadi sudah bisa membaca sejarah ini kayak babelnya.com awal tahun 2000 terus kemudian ini tahun depan kok mirip-mirip. Nah Pak ketika Bapak bisa membaca pola itu ada peluang enggak sih Pak di dalamnya? Peluang itu pasti ada, Pak Candra di mana, Pak? Nah asal kita mampu membacanya ya. Oh iya peluang pasti ada. Sebab gini gini Pak Feri to the point aja saya pengin belajar sama Pak Feri baca peluang ini. Kalau saya bisa baca peluangnya ini justru di saya saat ekonomi gonjang-ganjing ini justru saya selalu bilang orang kaya selalu suka dengan krisis dan setiap krisis pasti ada peluang. Setuju ya Pak? Nah, ketika ini krisis ini tercipta lagi, kalau kita mampu baca peluangnya, mampu baca polanya, kita bisa meraih keuntungan besar melalui krisis ini. Pak, kalau saya mau belajar nih sama Pak Feri, saya paksa Pak Feri datang ke Surabaya kali ini. Biasanya di Jakarta. Pak, boleh ya saya belajar ya, Pak ya sama Pak Feri ya? I saya belajar sama Pak Feri. Nanti tanggalnya Anda silakan cek di tanggal deskripsi kalau enggak salah tanggal 27 Januari. Nanti Anda lihat di kolom deskripsi. Saya culik Pak Feri untuk mengajari kita bagaimana membaca pattern krisis global ini di tahun 2026. Jadi kalau semua media memberitakan negatif, negatif, negatif tapi justru ada peluangnya, ada ceruknya di situ. Di situ peluangnya, Pak. Iya, peluangnya. Pak Feri tolong ajarin peluangnya pada kita semua. So, tunggu apaagi? Kita tunggu Pak Feri Latuhin untuk datang di workshop mengajarin kita semua. Silakan cek link deskripsi sekarang juga. Sampai jumpa di workshop. Terima kasih. Kita tutup dengan salam hebat luar biasa.