Malaysia Dijebak Amerika? Kenapa Indonesia Menolak Uang AS?
Nnmrurmvatg • 2026-01-13
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Malaysia. Apakah melakukan salah [musik]
langkah? Baru-baru ini kita tahu ringgit
Malaysia menguat. Tahu sebabnya kenapa?
Di video ini akan dijelaskan mengapa
ringgit Malaysia [musik] menguat. Tapi
Malaysia apakah baru saja melakukan
salah langkah [musik] ataukah justru
Malaysia melakukan langkah yang jenius?
Tonton video ini sampai selesai. [musik]
Kita akan kuliti dan bongkar habis
Malaysia setelah yang satu ini. Sahabat
End RER, salam hebat luar biasa. Selamat
datang kembali ke acara sisi yang lain.
Ini acara kesukaan kalian. Baru saja
kita tahu ringgit itu menguat tajam,
investasi Amerika Serikat masuk deras.
Tapi prime minister legend Malaysia yang
barusan berusia 100 tahun ini, Mahathir
Muhammad berkata bahwa ini adalah
penyerahan kedaulatan.
Ini di satu sisi memang keren, tapi di
satu yang sisi yang lain prime minister
pertama Mahatir Muhammad ini khawatir.
Kita lihat ringgit Malaysia ini luar
biasa ya. Tapi [musik] investasi asing
daripada Amerika Serikat ini masuk
gila-gilaan. Cuman ini adalah sebuah
problem di sini karena pabrik chip dan
semikonduktor di Pineng dan Kulim
bekerja full capacity pesanan dari
Silicon Valley. Secara cash flow memang
Malaysia terlihat banyak menangnya. Dia
bisa ngunci tarif Amerika tuh ke 19%
loh. Sementara negara lain termasuk
Indonesia masih diancam tarif kiamat
32%. Keren. Ada apa? Memang harga mahal
tersembunyi di balik angka cantik itu.
Mantan perdana menteri berkata sampai
turun gunung dan menyebut kesepakatan
ini sebagai penyaran kedaulatan.
Mengapa? Karena dalam kontrak manis itu
ada S dan K berlaku. Nah, ini yang
mungkin tidak dibahas di media-media
yang lain. Ada racun yang memaksa
Malaysia itu memilih mau uang Amerika
atau kebebasan bernegara. Nah, ini kita
lihat hari ini kita bedah strategi
tingkat tinggi. Kita tidak akan
menjelekkan Malaysia. Kalau video yang
lain kan video sebelumnya saya yang lain
tentang Malaysia itu kan cerita, "Wah,
Malaysia keren diinvestasi Nvidia
makanya ringgitnya menguat." Tapi ini
ada ketar-ketirnya juga Malaysia karena
dalam bisnis mereka mengambil keputusan
pragmatis yang logis. Kita belajar nih
kenapa strategi jalan pintas ini bisa
jadi bumerang bagi Malaysia. Kita bicara
fakta dulu. Malaysia itu gak bodoh.
Mereka itu kepepet sebetulnya. Mereka
menghitung untung rugi. Ekonomi Malaysia
itu sekarang sangat tergantung pada
ekspor khususnya elektronik dan
semikonduktor yang menyumbang lebih dari
40% total ekspor mereka. Itu semua
semikonduktor dan elektronik loh. Karena
pabriknya di Malaysia semua.
Ketergantungan mereka ke pangsa pasar
Amerika itu mencapai 15% lebih tinggi
daripada Indonesia yang cuma 10%.
Ekonomi Malaysia ini sangat tergantung
sama Amerika. Jadi kalau mereka tidak
segera tanda tangan kesepakatan dengan
Amerika, tarif 32% akan membunuh ribuan
pabrik. Jadi dilemati juga di Malaysia.
Industri mereka yang mayoritas masih
level perakitan, assembling tidak punya
margin cukup untuk menahan tarif 32%
itu. Jadi, Malaysia ini sebetulnya
secara enggak langsung di dikunci oleh
Amerika untuk mau enggak mau terpaksa
harus tanda tangan. Memang benefitnya
19%. Indonesia aja sekarang 19% tapi
masih digantung karena Indonesia belum
tanda tangan ini betul 19% soalnya
Indonesia masih pintar tarik ulur nanti
saya akan bahas di belakang jadi
akhirnya Malaysia ini punya solusi cepat
dengan cara build out dan mereka tanda
tangan agreement of reprokal yaitu ART
Oktober 2025 yang lalu. Hasilnya positif
tarif 19% devisa selamat miliaran dolar
pabrik cip baru dibangun dan uang
ringgit mereka menguat. Jadi mereka ini
memang baru saja melakukan tanda tangan
tersebut, tapi yang tidak disadari mal
mungkin disadari juga tapi tidak banyak
orang tahu yaitu di balik tanda tangan
yang manis itu ada poison pill.
Apa itu poison pill? Poison pe itu ada
tiga. Satu ada artikel 53 paragraf 3.
Nah, jadi kalau tanda tangan itu harus
tahu itu setiap tanda tangan itu ada
syaratnya. Kedua, fakta hukum. Tapi ini
bukan rumor loh. Dan yang ketiga isi
Amerika berhak membatalkan perjanjian
kontrak sepihak. Wah, ini enggak enak.
Bukan kekuatan dua pihak, sepihak. Nah,
klausur racun dalam perjanjian itu yang
disebut poison pill itu adalah datanya
ada di hitam dan tas putih pasal 53 ayat
3 dokumen ART itu tadi. Klausul ini
memberikan hak pada Amerika untuk
membatalkan seluruh perjanjian secara
sepihak. Jika Malaysia dianggap nakal,
ini adalah tali pengikat dipasang di
layar ekonomi Malaysia. Jadi beda teks
asli perjanjian bunyi aslinya gini dalam
bahasa Inggris. If Malaysia enters into
a new bilateral free trade agreement,
bila Malaysia
mempunyai perjanjian bilateral lain or
prevent racial economic agreement with a
country that geopard essential US
interest [musik]
dan menandatangi perjanjian lain yang
melanggar perjanjian ini. Wah, ini dia.
United States may terminate this
agreement and reimpose the applicable
repral tarif rate. Ini enggak enak ini
perjanjiannya. Jadi S dan K-nya itu
makanya kalau Anda tanda tangan
perjanjian klausa usul, kenapa kita itu
kadang perlu notaris? Kenapa perlu
saksi? Kalau Anda tanda tangan itu itu
karena ada pasal-pasal yang memberatkan
satu pihak. Kita terjemahkan maknanya
itu seperti ini. Jika Malaysia masuk ke
Perjanjian Baru ini mengunci ke masa
depan mereka loh ya. Jadi Malaysia
enggak bebas karena Malaysia satu kaki
sudah di Amerika. Kemudian dengan negara
yang membahayakan kepentingan Amerika.
Wah ini jelas ya. Maka ini kepentingan
esensial ini kayak karet gitu loh.
Amerika tidak mendefinisikan negara
manapun tapi mereka punya hak penuh.
Jadi contohnya Malaysia punya deal sama
China contohnya gitu. Wah bisa
dibatalkan sepi ya. Ambruk ekonomi
Malaysia. Itulah mungkin-mungkin feeling
daripada prime minister Malaysia
Mahathir Muhammad. Dia khawatir ini
penyerahan kedaulatan. Mungkin itu yang
dimaksud dan ini secara de facto adalah
hak veto untuk melarang Malaysia kerja
sama dengan China. Jadi eksklusi sama
dia. Negara blok melawan Amerika hanya
terjadi di masa depan. Dan pertanyaan
saya apakah suatu saat akan ada tawaran
lebih menarik dari Amerika? Pasti. Tapi
Amerika eh Malaysia sudah terkunci
karena dia sudah terikat sama perjanjian
poison pill ini. Tapi kalau Malaysia
melanggar hancur Malaysia. cabut semua
Amerika. Nah, ini ada sebuah permainan
geopolitik yang kita harus paham. Oke,
akhirnya kita lihat ketiga, perjanjian
ketiga. Malau Malaysia melanggar,
Amerika berhak membatalkan kontrak
sepihak. Tarif 19% dicabut, tarif
hukuman 32% langsung berlaku lagi. Mati
itu pabrik-pabrik di Malaysia. [musik]
Enggak cuman itu, ada aturan tentang
sanction alignment, yaitu Malaysia wajib
menyelesaikan kontrol ekspornya dengan
Amerika. Jadi kalau besok Amerika
memblokir pengiriman cip teknologi ke
China, Malaysia wajib ikut memblokir
meskipun China adalah mitra dagang
terbesar mereka. Nah, ini dia. Ini yang
membuat posisi Malaysia kejepit. Mereka
dapat duitnya tapi kehilangan
kendalinya. Mereka menyerahkan
kedaulatan ekonomi demi tarif. Wah, ini
Malaysia hati-hati ini. Hati-hati ya.
Hati-hati. Saya pesan sama teman-teman
Malaysia, hati-hati mata uang kalian
menguat ringgit itu memang happy. Tapi
ini ada faktornya karena faktornya ada
poison pill ini. Jadi kalau suatu hari
misalkan moga-moga Malaysia ini tetap
punya kendali baru bisa. Memang paspor
Malaysia keren loh. Paspor terkuat nomor
tiga di dunia loh. Enggak punya visa
masuk negara mana pun enak loh. Sekarang
Malaysia oke gitu. [musik] Tapi
hati-hati ya pesan saya ya. Jadi ini
akan terjadi hukuman dari sangga. Apa
maksudnya hukuman dari sang naga? Kita
tahu naga itu adalah China. Benar saja,
China blokir transfer teknologi rare
earth, logam tanah yang jarang.
Dampaknya
ambisi hilirisasi Malaysia bisa mati
suri. Benar. Reaksi pasar enggak seindah
teori. Anda tidak bisa makan dari dua
piring. Di geopolitik, China langsung
bereaksi bukan dengan marah-marah di
koran, tapi dengan tindakan zona abu-abu
yang menyakitkan. Laporan riset terbaru
menunjukkan China memblokir transfer
teknologi pemrosesan logam tanah jarang
rare Earth ke Malaysia. Wah, ini
belum-belum sudah kayak gitu. Padahal
Malaysia punya cadangan rare Earth
sekitar 16 juta ton dan punya mimpi
besar melakukan hilirisasi. Tapi
bahannya ada. Teknologinya dikunci di
China. Akibatnya Malaysia untuk naik
kelas sekedar dari tukang rakit cip
menjadi pemain inti teknologi jadi layu.
Karena Malaysia juga mau level up dong.
Tapi layu. Menteri investasi mereka
bahkan mengakui lisensi teknologi dari
China enggak kunjung keluar. [musik]
Nah, inilah harga daripada sebuah
pilihan. Kamu terima duit dari Amerika,
investasi, maka tarif ekspor langsung
turun, sign agreement, tapi China
langsung bereaksi gitu. Benar. Reaksi
pasar mulai terasa. Anda enggak bisa
makan dari dua piring sekaligus. Laporan
riset mencatat China menolak memberikan
lisensi transfer ke Malaysia. Menteri
Investasi Malaysia perasa ini adalah
opportunity cost yang mahal. Ironisnya
salah satu alisan Malaysia mengejar deal
ini adalah akses pasar sawit. Padahal
data menunjukkan pasar sawit Amerika itu
relatif kecil. Hanya sekitar 183 juta
dolar jauh dibanding pasar China atau
India. Jadi Malaysia ini juga lebih
memilih Amerika daripada sawitnya dia
gitu. Jika ada resiko, salah saya hitung
di sini mengejar pasar kecil tapi
mengorbankan akses teknologi dan mitra
terbesar. Nah, itulah [musik] masalah
Malaysia saat ini. Gimana dengan
Indonesia ini negara kita yang tercinta?
Kita punya seni melawan. Bandingkan
dengan Indonesia, berita terbaru dari
Ryuts menyebutkan negosiasi kita dengan
Amerika sedang di ujung tanduk. pejabat
Amerika bahkan secara terbuka menuduh
Indonesia melakukan backtracking atau
mundur dari komitmen. Kenapa Amerika
sampai kesal? Ceritanya gini, kita ini
sebenarnya sudah menyepakati tarif 19%
sejak pertengahan tahun lalu kan. Anda
lihat tuh para CEO yang diutus sama Pak
Presiden kan negosiasi tuh ke Amerika.
Masalah tarif perang dagang ini kita
sudah deal 19% tapi belum tanda tangan.
Nah, begitu masuk finalisasi Amerika
menyodorkan klausal tambahan si poison
pill ini tadi. Nah, Indonesia teliti.
Wah, kalau saya pegang Amerika
kehilangan pangsa pasar China dong.
Indonesia mikir. Indonesia kan juga
sawitnya ya kita jauh lebih besarlah
daripada Malaysia. Di sinilah bedanya
mental kita. Kalau Malaysia pragmatis
tanda tangan, menyerah langsung meskipun
poison. Ya sudahlah yang penting
terimait. Indonesia justru menahan diri.
Ah, makanya Indonesia ini hati-hati ini
ya. Keren ini Indonesia ini kita tidak
membatalkan perundingan tapi kita
menolak dipaksa menyetujui klausul yang
memang mengikat kedaulatan tersebut.
Kita ini berani gantung Amerika loh.
Keren kan Indonesia nih. Wah kita harus
wajib tepuk tangan. Kita berani loh
gantung Amerika. Posisi pemerintah kita
jelas kita mau tarif preferensi itu.
Kita mau 19% tapi kita enggak mau poison
pill-nya. Langkah ini berani loh.
Risikonya besar. Kalau enggak ya kita
masuk 32% lagi. Tapi peran apa
pemerintah kita berani menggantung dan
mengambil risiko sama Amerika sebesar
ini? Kenapa kita enggak panik?
Jawabannya adalah kekuatan ekonomi real
yang kita miliki. Kita mempunyai daya
tawar dan leverage yang berbeda dengan
negara tetangga kita. Nah, itu apa?
Nomor satu, Indonesia itu the nickel
king. Ahah. Ini jelas nikel dunia itu
60% produksinya itu ada di Indonesia.
Amerika boleh punya dolar, tapi mereka
butuh nikel di bawah tanah NKRI kita ini
yang kaya ini. Programnya seperti kayak
Freeportnya yang dikuasai Amerika
berpuluh-puluh tahun itu. Sekarang kan
nilai tawarnya kan balik ke Indonesia.
Itu faktanya 40% pasukan nikel non China
yang mereka butuhkan itu ada di tangan
kita. Kita ini punya nikel. Lu mau apa
ya kan? kamu punya teknologi tapi
bateraah apa semua yang diproduksi
Amerika itu nikelnya butuh dari tanah
kita di Nusantara ini gitu loh. Jadi
kalau Amerika tuh terpaksa memusuhi
China lewat klausur racun itu rantai
pasok baterai mereka sendiri yang putus.
Teknologi pemroses pemrofesan nikel itu
saat ini mayoritas dikelola China di
tanah Indonesia. Jadi Amerika butuh
nikel tapi kita butuh pasar mereka. Nah,
ini yang bikin mereka terpaksa sabar
karena bagaimanapun juga memang dia ini
ngasih poison B kita enggak mau karena
mereka butuh nikel kita gitu. Nah,
itulah sebab kita berani menggantung
Amerika. Nah, kartu as kedua manuver
Danantara. Ya, kalau kemarin kita masih
meragukan Danantara ya. Tapi moga-moga
kita terus kawal terus Danantara ini
bekerja dengan baik. Nih, ini jarang
dibahas dan bagus. Tepat di tengah
alotnya negosiasi dengan Amerika,
lembaga investasi baru kita danantara
justru mengumumkan kesepakatan strategis
dengan mitra China. Ini adalah pesan
nonverbal yang keras. Indonesia
seolah-olah bilang ke Amerika, "Lihat
nih, [musik] kami punya bargaining power
yang lain. Kalau kalian kasih syarat
yang enggak masuk akal, kami punya teman
lain yang siap menerima. Ya terserah aja
kamu kasih 32% batal aja yang 19. Tapi
karena kamu punya bergening power yang
lain." Nah, ini yang tidak dilakukan
Malaysia, [musik] ini yang sedang
dilakukan Indonesia. So, teman-teman
Malaysia siap-siap ya. Bukan saya hari
ini meremehkan Malaysia, tapi hati-hati
karena kalian itu sudah satu kaki diikat
di Amerika. Indonesia enggak. Indonesia
tetap negara nonblok. Indonesia tetap
sampai detik ini politiknya bebas dan
aktif. Bebas tidak memihak pada blok
manapun, nonblok. Dan kita berperan
aktif menciptakan perdamaian dunia dan
memajukan kepentingan nasional. So, dari
video ini saya juga bisa membuat
kesimpulan bahwa itulah sebab kenapa
ringgit Malaysia menguat dan itulah
sebab kenapa kita tidak kunjung
menandatangani 19% tarif dagang dari
Amerika Serikat. Semoga video ini
mencerahkan. Tetap stay tune di Success
Woery. Tetap menonton sisi yang lain
supaya Anda tidak mentah-mentah menerima
berita dari luar. Kalau Anda menerima
berita dari luar, cross check di Success
with WaterT. Kami pasti selalu membahas
sisi yang lain agar Anda punya insight
dari dua sudut pandang yang berbeda.
Sukses untuk Anda. Stay tune selalu di
Sucses Pottery Channel kesayangan Anda.
Jangan lupa like-nya. And always salam
hebat luar biasa. Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:17:31 UTC
Categories
Manage