Transcript
meWr3rV794Y • Penyebab Kehancuran Iran? BUKAN PERANG!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0012_meWr3rV794Y.txt
Kind: captions
Language: id
Selamat datang di Iran, tempat yang
biasanya kita kenal isinya nuklir rudal
dan bapak-bapak brewok yang hobi banget
ribut sama Amerika. Tapi stop dulu,
lupain bentar drama politik itu. Kita
mau bahas hal yang lebih ngeri dari bom
atom. Negara ini lagi haus parah.
Bayangin kayak lagi puasa di tengah
gurun tapi enggak ada azan magrib. Iran
lagi mode survival. Bukan lawan musuh
tapi lawan keran air yang mampet. Halo
semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Iran lagi
ngadapin krisis survival. Bukan krisis
galau milih menu makan siang ya, tapi
krisis besok tanah gua masih ada enggak.
Selama ini dunia sibuk ngintipin uranium
mereka. Padahal di balik layar Iran lagi
keringkerontang lebih cepat daripada
dompet kalian pas tanggal tua. Ini
tragedi yang enggak bisa diselesain
pakai rudal. Apalagi cuma pakai doa
minta hujan tanpa usaha. Yang paling
horor tuh gini. Iran enggak air bukan
karena takdir ilahi atau azab ya. Mereka
krisis air gara-gara blunder kebijakan
para petinggi selama setengah abad.
Ibarat kata punya air segalon bukannya
diminum malah dipakai nyuci mobil di
gurun pasir. Kocak gaming kan? Ini murni
hasil dari keputusan politik militer dan
ekonomi yang redflek banget. Buat paham
kenapa negara yang dulunya suhu
pengendali air ini bisa boncos, kita
kudu flashback. Kita bakal bedah kondisi
alam, sejarah perang, sampai lahirnya
geng elit yang disebut Mafia Air.
Kedengarannya kayak film The Godfather,
tapi bedanya mereka enggak jualan tepung
putih, tapi jualan sungai. Yap, bisnis
basah di lahan kering. Coba lihat peta
ini. Iran itu gede 90 juta orang isinya.
Tapi apesnya kebanyakan tinggal di
dataran tinggi yang keringnya ngalahin
cat doi. Curah hujan cuma 250 mm
setahun. Dikit banget, woi. Distribusi
airnya juga enggak adil. Persis kayak
kasih sayang orang tua tiri di sinetron
bagian utara dekat laut Kaspia hijau
royo-royo. Sisanya gersang kayak Mars.
Karena alamnya pelit air, orang Persia
kuno tuh pintar-pintar enggak bisa hidup
foya-foya kayak kita yang dikit-dikit
mandi kembang. Selama ribuan tahun
mereka bikin kanat. Ini saluran air
bawah tanah canggih, pakai gravitasi
doang. Enggak butuh pompa, enggak butuh
token listrik, dan yang paling penting
enggak bikin sumur kering. Definisi
workmart yang sebenarnya. Kanat itu tahu
diri. Air banyak dia ngalir deres. Air
dikit dia santui. Ecofriendly bangetlah
pokoknya. Ini mahakarya manajemen air
yang bikin dunia sungkem. Tapi kemudian
abad 20 datang membawa racun bernama
modernisasi.
Mulai deh segala karifan lokal itu
dianggap kuno dan dibuang demi teknologi
yang katanya lebih hype. Zaman syah
berkuasa, Iran pengen glow up instan.
Pompa mesin, sumur bor dalam, sama
bendungan raksasa jadi simbol kemajuan.
Kanat dibilang kampungan, ih gak level.
Air mulai disedot gila-gilaan. Lebih
cepat dari kemampuan alam buat ngisi
ulang. Mulai deh mentalitas mending gaya
dulu. Mikir belakangan menjangkiti
negara ini. Blunder ini kayak kalian
gesek kartu kredit buat foya-foya.
Awalnya sih happy, berasa jadi sultan.
Tagihannya belum datang, tapi sebenarnya
bibit kehancuran udah ditanam dan boom.
Ada satu kejadian sejarah yang bikin
proses perusakan alam ini jadi ngebut
kayak motor GP tanpa rem. Masuklah
revolusi Islam 1979 dan perang Iran Irak
yang awet banget sampai 8 tahun. Perang
ini enggak cuma bikin sejuta nyawa
melayang, tapi juga ngerubah total
mindset para bos di Iran. Diamgo,
dikucilkan, diserang, mereka jadi punya
trauma mendalam. Enggak boleh percaya
sama orang luar, apalagi tetangga yang
toxic. Muncullah prinsip swasembada
harga mati. Makan harus tanam sendiri,
listrik bikin sendiri, pokoknya semua
harus mandiri. Bodo amat alamnya
mendukung atau enggak. Iran pengin jadi
benteng yang gak butuh siapa-siapa. Nah,
buat mewujudkan ambisi gila ini, mereka
butuh kontraktor yang kuat, setia, dan
gak kenal ampun. Sambutlah IRGC Garda
Revolusi Iran. Ini bukan tentara biasa
yang jagain perbatasan ya, tapi
bodyguard-nya rezim kelar perang. IRGC
kebanyakan personel tapi nganggur.
Solusi negara udah sana kalian jadi kuli
proyek aja. Jadilah tentara banting
setir jadi kontraktor. Bayangin tentara
bawa senapan sambil bawa semen. IRGC
terjun ke bisnis bukan buat jualan
seblak, tapi megang sektor vital,
energi, infrastruktur, dan utamanya air.
Di sini lahirlah ordal orang dalam level
dewa. Perusahaan negara yang desain,
perusahaan IRG yang ngerjain, duitnya
muter-muter aja di situ dari kantong
kiri masuk kantong kanan. Enak banget
kan? Inilah markas besar mafia air.
Enggak perlu nodong pistol buat
ngerampok. Mereka ngerampok legal lewat
proyek bendungan. Mau bendungannya guna
atau enggak, mau alam hancur atau
enggak, bodo amat yang penting cair. Pas
air makin langka, mereka makin kencang
teriak. Kita butuh bendungan baru dan
duit anggaran pun ngucur deres kayak air
terjun. Hasilnya ratusan bendungan salah
lokasi. Sungai dicekik, hilir mati. Tapi
yang paling gila, mereka bangun pabrik
baja, industri yang boros air banget di
tengah gurun. Kenapa? Biar pejabat dapat
suara pemilu dengan janji lapangan kerja
di kampungnya. Logika dibuang, air
dirampok dari petani demi ngasih minum
pabrik baja. Enggak cuma industri,
pertaniannya juga lawak. Iran bakar 90%
air buat tani, tapi cuma nyumbang 10%
GDP. Mereka nanam gandum di gurun yang
biayanya 5 kali lipat lebih mahal dari
impor. Bayangin lu nanam cabe sendiri
habis Rp50.000 padahal di pasar cuma
Ceban. Itu yang mereka sebut ketahanan
pangan. Pas sungai kering petani
ngapain? Ya ngebor sumur lah. Ada sumur
legal, sumur ilegal, sampai sumur
bismillah aja. Ratusan ribu sumur nyedot
air purba yang udah ngendap ribuan
tahun. Ini ibarat duit warisan nenek
moyang yang harusnya dijaga malah
difoya-foya sama cucu laknat cuma dalam
hitungan tahun. Akibatnya, 200 miliar
met kubik air tanah lenyap. Alam mulai
ngamuk. Tanah amblas di mana-mana. Ada
yang turun sampai 30 cm setahun. Rel
kereta patah, rumah miring kayak menara
Pisa versi KW. Kota-kota di Iran lagi
otw tenggelam secara harfiah. Cosplay
jadi Atlantis tapi versi darat. Tehran
ibu kota yang katanya elit isinya 10
juta manusia sekarang jadi korban paling
ngenes. Waduk sekitar kota kering
kerontang. Air mati nyala gantian kayak
lampu diskotik. Tekanan air lemah
syahwat sampai enggak kuat naik ke
gedung tinggi. Pemerintah sampai wacana
mau pindah ibu kota. Mau kabur aja
karena udah nyerah ngadapin kenyataan.
Udah jatuh tertimpa tangga ada tetangga
rese pula. Afghanistan di hulu sungai
lagi asik bangun bendungan buat mereka
sendiri. Tahu sendirilah Taliban mana
peduli sama perjanjian internasional.
Bodo amat adalah jalan Ninjaku. Iran di
Hilir cuma bisa nangis lihat sungai
makin kering. Sementara daerah
perbatasan udah kayak padang mahsyar.
Belum kelar penderitaan. Final bos
perubahan iklim ikutan join. Iran
memanas dua kali lebih cepat dari
rata-rata dunia. Kemarau panjang, hujan
makin langka. Ibu Pertiwi kayaknya udah
muak dan bilang, "Rasain lu." Sisa air
yang dikit itu pun menguap kena panas
lenyap ditelan matahari. Kekacauan
sosial enggak bisa dihindari. Kaum
minoritas mulai ngamuk. Mereka nuduh
pemerintah pilih kasih. Air buat orang
pusat doang. Kita di pinggiran disuruh
minum pasir. Air sekarang bukan cuma zat
cair, tapi udah jadi masalah politik,
isu sara, dan sumbuh pendek buat
kerusuhan. Terus pemerintah ngapain?
Bukannya tobat, stop subsidi pertanian
boros atau larang sumur bor, mereka
malah lakuin hobi lama. Buang duit ke
proyek raksasa, bikin bendungan lagi,
saluran air lagi. Kenapa? Ya, karena
mafia air butuh makan dan IRGC butuh
proyek. Ini mah bukan nyelesaiin
masalah, tapi nyiram bensin ke api. Iran
enggak kurang ilmuwan pintar. Mereka
cuma kurang nyali buat nyentuh ordal.
Ini pelajaran mahal buat Indonesia dan
negara berkembang lain. Kris itu enggak
tiba-tiba turun dari langit, tapi dari
keserakahan, dari manajemen bobrok, dan
dari kelompok elit yang seenak jidat
mainin aset negara demi cuan pribadi.
Tapi bentar, jangan buru-buru nyalahin
alam atau kebijakan doang. Ada musuh
lain yang ngumpet di bawah kaki kita.
Infrastruktur bobrok. Coba lihat
jalanan. Sistem pipa air di sana lagi
nangis darah saking tuanya dan enggak
pernah dirawat. Benar-benar mengenaskan.
Warga disuruh hemat air kayak itu, air
zamzam. Tapi pipa air di kota tuh bobrok
banget sampai bocor 30%. Bayangin kalian
nabung mati-matian, tapi dompet kalian
bolong segede gaban. Duit hilang gitu
aja di jalan. Ya sama aja bohong,
Bambang. Paradoksnya enggak berhenti di
situ. Pas keran warga kering, rumput di
jalanan malah ijau royo-royo disiram
pakai air bersih. Kota-kota di sana
lebih mentingin estetika biar kelihatan
keren daripada ngasih air minum ke
warga. Definisi gaya nomor satu nyawa
nomor sekian, mubazir level dewa. Kenapa
air dibuang-buang? Karena harganya murah
banget, besti. Pemerintah subsidi harga
air biar rakyat enggak ngamuk. Akibatnya
enggak ada yang hemat. Cuci mobil, siram
aspal, keran dibiarin nyala semalaman.
Emang benar ya kalau sesuatu terlalu
murah, orang jadi enggak nghargain
persis kayak nasehat gratisan? Lihat
Danau Urmia ini. Dulu danau air asin
terbesar di Tim tank, tempat healing
favorit. Sekarang udah kayak ladang
garam raksasa. Angin bawa garam ke
ladang warga bikin tanah asing, tanaman
mati semua. Dari surga jadi neraka cuma
dalam beberapa dekade. Prestasi
perusakan yang patut diacungi jempol.
Jempol kaki. Kalau tanah udah enggak
bisa ditanam, ya warga cabutlah. Jutaan
orang migrasi dari desa ke kota bikin
kawasan kumuh makin padat. Pengangguran
naik, kriminal naik, beban hidup makin
berat. Kris air beranak jadi krisis
sosial. Lingkaran setan yang enggak ada
ujungnya. Pusing pala Barbie. Tapi para
dukun IRGC punya ide gila baru. Mindahin
air laut Teluk Persia ke tengah gurun.
Proyek puluhan miliar dolar butuh energi
gaban buat nyuling garam dan mompa air
naik gunung. Kedengaran wow, tapi kata
ahli, harga airnya bakal setara emas
cair. Mending beli air mineral botolan
sekalian. Tentu aja masuk akal apa
enggak itu urusan belakangan. Yang
penting proyek ACC dulu, Bos. Proyek
makin gede, komisinya makin sedap. Ini
alasan sempurna buat ngeruk anggaran
negara. Mereka jualan mimpi bikin sungai
buatan. Padahal aslinya cuma pipa-pipa
besi yang dijemur sampai karatan. Proyek
abadi nih, Bos. Ada yang berani protes?
Ada. Ilmuwan sama aktivis sudah teriak
dari lama. Tapi di Iran ngomong jujur
soal air itu dianggap ancaman negara.
Banyak yang diciduk cuma gara-gara
bilang, "Woi, airnya habis, woi." Nasib
jadi orang benar di sistem yang salah
emang berat, Besti. Ironis banget. Iran
bisa bikin drone canggih diekspor ke
mana-mana, bisa mainan nuklir. Tapi
benerin irigasi sawah aja enggak becus.
Buat apa teknologi tinggi kalau
rakyatnya lapar dan haus? Prioritas
negara ini emang lagi jungkir balik
kayak senam lantai tapi gagal landing.
Coba ke IShan, kota wisata hits Sungai
Zayan Dehrut yang dulu estetik parah,
sekarang cuma jadi parit gersang. Warga
kadang ngumpul di dasar sungai buat demo
atau nyanyi lagu galau. Jembatan kuno
yang megah itu sekarang ngangkangin
angin doang. Lonely banget kayak jomblo
di malam minggu. Kesabaran ada batasnya.
Demo air makin brutal. Petani bakar ban,
blokir jalan. Mereka udah nothing to
lose. Kalau orang udah kepepet, rasa
takut hilang ganti jadi ngamuk.
Pemerintah balas pakai water canon sama
gas air mata. Wah, setidaknya mereka
masih punya air buat ngisi water canon
ya. Prioritas mantap. Enggak cuma haus,
Iran juga diserang badai debu. Tanah
kering enggak ada tanaman yang megangin.
Jadinya terbang semua pas kena angin.
Badai debu di Hestan bikin langit merah
kayak kiamat. Napas aja susah. Paru-paru
auto bengek. Suasananya benar-benar
kayak film zombie tapi tanpa zombie.
Respon pejabatnya gimana? Lagu lama
kaset kusut. Ini ulah musuh. Awan kita
dicuri. Yap. Mereka pernah nuduh Israel
sama Barat nyolong awan hujan Iran pakai
teknologi canggih. Imajinasi mereka liar
banget. Penulis naskah sinetron Indosiar
aja kalah kreatif. Sumpah ngebor
sumurnya makin ngadi-ngadi. Saking
dalamnya kena lapisan air asin purba,
alhasil air tawar yang sisa malah jadi
asin semua. Tanah asin ya Salam enggak
bisa ditanamin lagi. Ini namanya bunuh
diri pelan-pelan. Ngeracunin tanah
sendiri demi gengsi swasembada yang
halu. Bencana tanah amblas enggak cuma
nelan rumah, tapi juga ngancam sejarah.
Persepolis, kota legendaris umur 2.500
tahun mulai retak gara-gara tanah di
bawahnya turun. Raja Cirus kalau hidup
lagi pasti nangis kejar lihat warisannya
mau kebur gara-gara kebodohan
cucu-cucunya ngurus air. Cek desa hantu
di Sistan dan Balu Cestan. Pintu
ngablak. Ruang tamu isinya pasir doang.
Mainan anak geletakan bukan karena
perang, tapi kekeringan yang ngusir
mereka. Yang nekad bertahan hidup
melarat nungguin truk tangki air datang
seminggu sekali kayak nungguin jodoh
yang enggak pasti. Pas truk air datang
keos parah. Lansia, bocil, sikut-sikutan
demi setetes air. Ini bukan syuting film
MadMax ya. Ini realita 2024 di negara
yang katanya kaya minyak dan gas. Kaya
harta tapi miskin kehidupan. Ironisnya
nembus tulang rusuk. Ekosistem hancur,
hewan liar ikutan mokat. Macan Iran,
rusa, kijang, enggak ada air minum.
Cagar alam jadi kuburan massal.
Hilangnya hewan-hewan ini tuh kayak
hilangnya benteng terakhir alam. Kalau
hewan aja enggak kuat, apalagi manusia
yang manja. Iran punya ahli pintar
banyak lulusan luar negeri semua. Mereka
bilang, "Stop bendungan balikin kanan
impor makan aja." Tapi saran mereka
masuk tong sampah karena enggak cuan
buat pejabat, enggak ada proyek, enggak
ada komisi. Di sini kepentingan perut
pejabat selalu menang lawan logika
sains. Contoh kebodohan hakiki,
bendungan Godfan. Mereka bangun
bendungan gede persis di atas tambang
Garem. Pintar banget kan hasilnya air
waduk jadi asin parah malah ngerusak
sawah di bawahnya. Proyek miliaran dolar
cuma jadi asinan termahal dalam sejarah.
Tepuk tangan buat kejeniusannya. Terus
warga ngapain? Ya curhat di medsos pakai
VPN pastinya mereka bikin meme soal
haus, ngetawain nasib sendiri. Dark
humor jadi satu-satunya hiburan biar
enggak gila. Definisi tertawa di atas
penderitaan yang sebenarnya. Mau nangis
tapi air mata juga harus dihemat.
Penduduk nambah terus, air makin habis.
Grafik ini ngebentuk silang kematian.
Kalau enggak berubah, bakal ada
gelombang pengungsi iklim gila-gilaan.
Puluhan juta orang harus pindah rumah.
Mau ke mana? Eropa, Turki, planet NAMC.
Masalah ini bakal jadi pusingan satu
dunia. Tetangga-tetangga Iran mulai
parno. Mereka bangun tembok makin
tinggi. Bukan cuma buat nahan teroris,
tapi buat nahan orang-orang yang mau
minta air di masa depan. Air udah jadi
alasan buat ngerubah peta politik dan
keamanan. Siap-siap aja, Hunger Games
versi nyata. Bayangin Iran itu spons.
Dulu lembab, kenyal. Sekarang kering
kerontang, crispy. Pas hujan deres,
airnya bukannya ngeresep malah jadi
banjir bandang karena tanahnya udah mati
rasa. Kemarau sama banjir itu sebenarnya
dua sisi dari koin yang sama. Koin salah
urus. Generasi muda Iran bakal dapat
warisan apa? Bukan kerajaan Persia yang
megah, tapi tanah mati dan utang
lingkungan yang numpuk. Mereka yang
harus bayar tagihan atas pestapora
proyek bapak-bapaknya sekarang. Kasihan
banget lahir-lahir udah nanggung beban
dosa ekologis. Kepepet bikin nekat.
Maling air sekarang lagi tren. Warga
diam-diam ngebolongin pipa utama buat
nyolong air. Ini udah kayak perang
gerilia rebutan sumber daya. Hukum udah
enggak mempan lagi kalau urusannya soal
hidup dan mati. Polisi pusing, malingnya
sekampung. Kacang pista dulu kebanggaan
Iran. Ekspor nomor dua habis minyak.
Sekarang kebunnya mati semua. Petani
nebang pohon buat kayu bakar. Hilang
pistayo. Bukan cuma hilang duit tapi
hilang jati diri. Kacang tertawa
pistachio sekarang udah enggak bisa
ketawa lagi. Nangis bombai adanya. Tapi
ya fair dikitlah. Iran juga dikerjain
Turki. Turki bangun bendungan di hulu
sungai Tigris sama Eufrat bikin air yang
masuk Iran seret. Perang air di tim tank
ini emang ribet. Semua negara mau
monopoli air. Tetangga mah masa bodoh.
Yang penting gue kenyang. Dunia
internasional ngapain? Rapat bikin
resolusi. Prihatin doang. Enggak ada
yang bisa bantu kalau Iran enggak mau
tobat. Mana lagi di embargo. Teknologi
air canggih susah masuk. Iran
benar-benar sendirian di pojokan sambil
nahan haus. Sedih amat besti. Di
beberapa daerah hidup balik lagi ke
zaman purba. Ibu-ibu sama bocel habisin
waktu seharian cuma buat cari air.
Padahal waktunya bisa buat sekolah atau
kerja. Kurang air itu bukan cuma soal
haus, tapi bikin satu generasi jadi
stuck. Enggak bisa maju-maju.
Rugi bandar banget. Pohon sekarang
seharga emas batangan. Ada tempat yang
pohonnya dipagarin besi biar enggak
dimaling atau dimakan kambing. Berteduk
itu sekarang kemewahan, cuma sultan yang
bisa. Lu bisa beli AC tapi lu enggak
bisa beli oksigen, Bos. Makanya jangan
ditebangin mulu. Pas hujan turun yang
jarang banget terjadi itu udah kayak
lebaran. Orang lari keluar joget,
nampung air, tapi senangnya bentar
doang. Tanah saking keringnya enggak
bisa nyerap terus panas bikin airnya
menguap lagi. Bahagianya cuma numpang
lewat kayak janji manis mantan.
Masjid-masjid megah yang biasanya ada
kolam air mancur estetik sekarang kering
kerontang. Vibe spiritualnya jadi agak
garing gara-gara realita pahit. Emang
benar sih doa itu penting, tapi kalau
manusianya ngerusak alam terus, ya
alamnya maogok kerja lah. Saking putus
asanya, mereka bikin proyek halu pompa
air dari Laut Kaspia lewatin Gunung
Albor yang tinggi banget. Ilmuwan bilang
ini ide paling ngawur abad ini karena
mahal dan ngerusak alam. Tapi tetap aja
dipamerin buat nenangin rakyat kayak
ngasih obat placebo ke pasien kritis.
Slogan hemat air tanda cinta negara ada
di mana-mana tapi basi banget. Rakyat
disuruh irit tapi proyek raksasa punya
oral buang-buang air seenaknya.
Kemunafikan ini bikin kepercayaan rakyat
ke pemerintah abis lebih cepat daripada
air di waduk. Udah capek dibohongin.
Ahli ngeramal kalau gini terus. 20 tahun
lagi banyak daerah Iran bakal jadi zona
mati. Bukan susah hidup ya, tapi enggak
bisa hidup. Panas neraka, air nol. Ini
bakal jadi akhir dari peradaban Persia
di tanah kelahirannya sendiri. Ngeri
banget sumpah kayak trailer film kiamat.
Iran coba nyelesaiin masalah pakai duit
tapi alam enggak terima sogokan. Bos lu
gak bisa nyawer matahari biar enggak
panas, enggak bisa nyogok tanah biar
keluar air. Ini pelajaran keras. Sekuat
apapun manusia di depan alam kita cuma
remah-remah rengginang. Lampu-lampu kota
di pinggiran mulai padam. Air hilang,
manusia hilang, lampu mati. Iran makin
menyusut, cuma hidup di beberapa kota
gede doang. Sisanya dikasih ke gurun
pasir. Sedih ya negara segede itu
pelan-pelan jadi kota hantu. Rakyat udah
jelas maunya apa. Butuh air minum, bukan
uranium. Emang uranium bisa dijadiin
lauk, tapi suara mereka kalah kencang
sama ambisi negara. Gengsi pengen jadi
negara super power tapi rakyatnya
kehausan. Prioritasnya benar-benar agak
lain. N krisis air enggak pandang buluh.
Mauluk kaya, miskin, pintar, bodoh kena
semua. Ini musuh bersama tapi bukannya
bersatu. Warga malah makin ribut-rebutan
sisa air. Kayak battle royale tapi versi
slow motion dan menyedihkan. Terus
Indonesia belajar apa? Kita emang banyak
air tapi jangan jumawa besti. Jakarta
lagi tenggelam, air tanah disedot terus
sungai kotor. Jalan yang ditempuh Iran
itu trailer masa depan kita kalau kita
masih ngurus air seenak udel. Jangan
sampai kita cosplay jadi Iran, ya. Air
itu aset, bukan gratisan dari langit
yang unlimited. Anggap air itu duit.
Kalau lu boros duit, lu bangkrut. Kalau
negara boros air, negaranya bubar.
Simpel kan? Enggak usah pakai teori
konspirasi. Ini matematika dasar
kehidupan. Masih ada harapan buat Iran,
tapi pintunya udah mau nutup. Butuh
revolusi mental beneran, bukan revolusi
bedil. Singkirin mafia, hormatin alam.
Bisa enggak mereka? Yang enggak tahu kok
tanya saya. Kita doain aja semoga mereka
sadar sebelum telat. Kisah Iran ini
tragedi zaman now. Pas ambisi politik
sama keserakahan ngalahin akal sehat.
Negara yang dulu ngajarin dunia cara
cari air, sekarang mati kehausan di atas
warisannya sendiri. Ending yang set boy
banget buat sejarah yang sebenarnya
keren. Makasih udah nemenin perjalanan
gersang ini. Lihat air di gelas kalian
itu harta karun, woi. Jangan sampai
nunggu kudu tukar Ferrari sama sebotol
air mineral baru nyesel. Sampai jumpa di
video berikutnya. Jangan lupa like,
subscribe biar gak ketinggalan cerita
yang lebih asin dari air laut.