Transcript
qUGJofwsCg4 • Paradoks Nikel Indonesia: Harga Baterai Naik, Tapi Kok PHK Massal?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0015_qUGJofwsCg4.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Oke, gengs.
Kumpul dulu. Siapin kopi atau teh manis
anget karena kita bakal nyelamin satu
drama ekonomi yang plot twist-nya lebih
njelimet daripada sinetron azab. Jadi
gini ceritanya, Indonesia masuk ke
gelanggang pertarungan nikel dunia
dengan satu keyakinan yang hakiki
banget. sehakiki keyakinan lo kalau dia
bakal balas chat lo. Negara ini lagi
duduk di atas harta karun. Nikel itu
bukan barang asing, Sob. Dia emang
enggak kinclong kayak emas yang bikin
silau mata dan enggak sepopuler minyak
bumi yang bikin negara-negara rela
perang. Tapi di abad di mana mobil
listrik dan baterai litium jadi
primadona, nikel ini tiba-tiba naik
kasta jadi bahan baku strategis.
Orang-orang pintar bilang masa depan
transportasi itu ada di baterai dan masa
depan baterai butuh nikel. Dari sinilah
sebuah dongeng besar dimulai. Pemerintah
kita yang tercinta menyebut misi ini
dengan satu kata sakti yaitu hilirisasi
atau downstreaming. Istilahnya
kedengaran teknis banget ya kayak bahasa
alien di buku diktat kuliah. Tapi
aslinya logikanya itu receh banget.
Selevel logika dagang di pasar Impress.
Coba bayangin lo punya kebon kopi. Kalau
lo cuma jual biji kopi mentah ke
tengkulak, untung lo cuma cukup buat
beli gorengan. Tapi kalau lo sangrai itu
kopi, lo giling, lo packing cakep, terus
lo buka coffee shop estetik ala-ala
Jaksel, satu biji kopi itu nilainya bisa
naik berkali-kali lipat. Nah, hilirisasi
itu persis kayak gitu. Daripada kita
gali tanah, ambil biji nikel, terus jual
mentah-mentah ke luar negeri, Indonesia
pengen nahan barangnya. Barang itu
dimasak dulu di sini, diolah sampai
jadi. Dan gol akhirnya adalah bikin
baterai mobil listrik buatan anak
bangsa. Kedengarannya masuk akal banget,
kan? Dan di awal-awal rasanya kayak kita
lagi on the track menuju kejayaan.
Kawasan industri ujuk-ujuk numbuh kayak
jamur di musim hujan, terutama di
Sulawesi dan Maluku. Pabrik pemurnian
nikel atau bahasa kerennya smelter.
Ngebul asepnya siang malam enggak ada
istirahatnya. Duit investasi asing
ngucur deres banget kayak air terjun,
apalagi dari Tiongkok. Saking ngebutnya,
produksi nikel Indonesia meledak
sampai-sampai dalam beberapa tahun doang
kita langsung jadi raja nikel dunia,
juara satu, Bos. Tapi namanya hidup
enggak ada yang mulus. Di sinilah
masalah pertama nongol. Meski waktu itu
yang sadar cuma segelintir orang.
Masalahnya bernama over supply alias
kelebihan pasok. Ini konsepnya gampang.
Lu bayangin satu kampung tiba-tiba
jualan es kepal Milo semua karena viral.
Pas semua udah jualan, pembelinya
segitu-gitu aja. Barangnya numpuk, yang
beli enggak ada, harganya ya terjun
bebas. Nikel Indonesia kena skenario
ginian. Produksinya ngebut gila-gilaan,
tapi permintaan dunia enggak seheboh itu
naiknya. Pas harga nikel mulai nyungsep,
pabrik sama bos-bos tambang langsung
mules. Di sini kita kenalan sama istilah
margin keuntungan. Ini selisih antara
duit jualan sama modal bikinnya. Pas
harga jual turun tapi biaya operasional
tetap segitu, margin keuntungannya
kejepit. tipis setipis tisu toilet
warung pecelele. Bos-bos ini enggak
punya banyak pilihan. Mereka harus
potong biaya. Dan cara paling gampang,
paling klasik, dan paling nyesek buat
kita-kita ini adalah potong jumlah
karyawan. PHK massal pun terjadi.
Jadilah paradoks yang bikin garuk-garuk
kepala. Di satu sisi, berita di TV
bilang Indonesia adalah pusat nikel
dunia. Tapi di lapangan, ribuan buruh di
kawasan industri malah kehilangan
kerjaan atau jata shift-nya dipangkas.
Kos-kosan di sekitar pabrik yang tadinya
ramai kayak pasar malam, sekarang jadi
sepi kayak hati jomblo. Warung nasi yang
tadinya antre, sekarang yang makan cuma
laler. Mimpi indah industrialisasi
berubah jadi mimpi buruk ketidakpastian
buat rakyat kecil. AIDS. Tapi jangan
sedih dulu karena ceritanya makin aneh.
Pas buru di bagian bawah rantai makanan
lagi megap-megap, di ujung sana konsumen
ngelihat kenyataan yang 180 derajat
beda. Mungkin termasuk lo yang lagi
nabung buat beli mobil listrik, lo bakal
lihat harga baterai mobil listrik kok
enggak turun, malah ada yang naik. Ini
bikin bingung kan, nikelnya murah,
buruhnya dipecatin, kok baterainya makin
mahal. Logikanya di mana? Buat ngejawab
misteri ilahi ini, kita harus paham
istilah rantai nilai atau value chain.
Rantai nilai itu kayak estafet panjang
dari barang mentah sampai jadi barang
jadi di tangan lo. Nikel itu cuma satu
titik kecil di awal banget. Baterai
mobil listrik itu enggak cuma dibikin
dari nikel doang, Sob. Dia butuh litium,
butuh grafit, butuh bahan kimia yang
namanya susah disebut, butuh teknologi
sel baterai, sistem manajemen baterai,
dan printilan-printilan mahal lainnya.
Terus ada lagi nih istilah ribet yaitu
nikel kelas 1 dan nikel kelas 2. Biar
gampang kita pakai analogi beras. Nikel
kelas 2 itu kayak beras raskin atau
beras curah biasa dipakai buat bikin
baja tahan karat atau stainless steel
buat panci atau sendok. Nah, nikel 1 itu
kayak beras pandan wangi premium atau
beras Jepang yang super pulen, murni,
bersih, dan cuma jenis inilah yang bisa
dipakai buat baterai mobil listrik yang
canggih. Masalahnya Indonesia ini
jagonya produksi nikel kelas 2. Buat
nyulap nikel beras curah ini jadi nikel
beras premium buat baterai, butuh
teknologi yang ribetnya minta ampun.
Teknologi itu namanya hapal atau high
pressure acid le. Kedengaran kayak nama
obat kuat, tapi sebenarnya ini proses
pakai asam dan tekanan tinggi buat
misahin nikel murni dari biji laterit.
Simpelnya ini kayak panci presto raksasa
buat masak biji nikel. Masalahnya panci
presto ini mahal banget, berisiko
meledak dan gampang rusak. Enggak semua
negara punya skill buat mainin alat ini.
Ironisnya, Indonesia punya bijinya,
punya pabriknya, tapi teknologi hafalnya
mayoritas dipegang sama perusahaan
asing. Ini masalah struktural, Gengs.
Nilai tambah paling gede alias cuan
paling tebal itu enggak nyangkut di
Indonesia. Buruh kita kerja di bagian
paling kotor, paling berat, paling
beresiko. Sementara profit gedenya lari
ke yang punya teknologi dan desain
baterai. Masuk lagi istilah IP atau
intellectual property, yaitu hak
kekayaan intelektual. Ini soal paten,
resep rahasia, sama software. Siapa yang
pegang IP, dia yang ngatur harga.
Indonesia itu hampir enggak punya IP di
industri baterai. Ibaratnya kita punya
sapinya, susunya melimpah, tapi resep
bikin susu formula bayi yang mahal itu
punya orang lain. Kita jual susu sapi
murah, mereka jual susu formula mahal ke
kita. Pedih kan? Belum lagi ada faktor
lain yang bikin harga baterai naik
padahal nikel turun, yaitu perubahan
teknologi. Akhir-akhir ini muncul tren
baterai LFP atau lithium Iron Phosfate.
Baterai jenis ini kayak anak baru yang
lagi hits. Dia hampir enggak butuh nikel
sama sekali. Lebih murah, lebih aman,
dan cocok buat mobil listrik rakyat
jelata. Pas pabrik mobil mulai selingkuh
ke LFP, permintaan nikel turun. Ini
bikin pasar nikel makin banjir barang
atau oversupply. Tapi harga baterai
enggak turun karena LFP pun masih butuh
litium dan teknologi canggih lainnya.
Terus ada lagi nih istilah risk premium
atau biaya risiko. Pas pabrik baterai
nentuin harga. Mereka enggak cuman
ngitung harga bahan hari ini. Mereka
kayak cenayang ngitung risiko masa
depan. Perang dagang, sanksi ekonomi,
aturan lingkungan yang makin ribet,
rantai pasok yang macet, semua itu
dihitung. Risiko-risiko itu dikonversi
jadi duit dan ditemplokin ke harga jual
baterai. Nah, ini yang paling work yaitu
ESG atau environmental social
governance. Ini standar lingkungan dan
sosial yang diagung-agungkan investor
bule di Amerika dan Eropa. Kalau baterai
dibikin pakai listrik dari batu bara
yang asepnya ngebull item atau ada isu
buruh yang enggak benar, nilainya jelek,
biar lolos standar ISG ini, pabrik
baterai harus keluar duit banyak buat
energi bersih, audit sana sini, dan
laporan yang tebal. Biaya ini ya dibebin
ke harga baterai lah. Sementara itu di
Indonesia mayoritas melter nikel kita
energinya masih dari PLTU Batubara. Ini
paradoks tingkat dewa. Nikel Indonesia
jadi bahan buat mobil hijau sedunia,
tapi proses bikinnya item banget.
Polusinya numpuk di Sulawesi, mobil
bersihnya dipakai di Eropa. Warga lokal
dapat debunya, orang luar dapat udara
bersihnya. Pas perusahaan nikel kejepit,
harga turun dan biaya ESG naik. Siapa
yang jadi korban? Ya, benar. Karyawan
lagi dipecat atau dirumahkan. Buat
perusahaan ini strategi bertahan hidup
biar enggak bangkrut. Tapi buat Pak Budi
atau Mas Asep yang kerja di sana ini
artinya dapur enggak ngebul, cicilan
motor macet, dan janji manis hilirisasi
bikin sejahtera rasanya pahit banget.
Semua benang kusut ini membentuk satu
konsep ekonomi yang seram, yaitu jebakan
sumber daya atau resource trap. Ini
kondisi di mana negara kaya alam malah
enggak jadi kaya beneran karena nilai
terbesarnya disedot keluar. Sementara di
dalam negeri cuma nyisain risiko dan
kerusakan lingkungan. Indonesia lagi
berdiri di bibir jurang jebakan ini sama
nikelnya. Jadi drama nikel ini bukan
cuma soal logam atau baterai. Ini soal
siapa yang pegang kendali, siapa yang
punya teknologi, siapa yang nentuin
harga, dan siapa yang jadi tumbal
paspasar lagi enggak bersahabat. Balik
ke pertanyaan awal. Kenapa PHK jalan
terus tapi harga baterai naik?
Jawabannya karena dua hal ini kejadian
di lantai yang beda. Di lantai bawah
yaitu bahan baku dan buruh. Persaingan
berdarah-darah bikin harga ditekan
habis. Di lantai atas yaitu teknologi
dan pasar para raksasa global masih
megang remote control buat nentuin
harga. Indonesia punya nikel? Iya. Tapi
punya nikel enggak otomatis bikin kita
yang megang setir masa depan. Kalau kita
gak bisa nguasain teknologinya, IP-nya,
dan naik ke lantai atas, ya nasibnya
bakal gini-gini aja. Gali tanah lebih
dalam, tapi tetap di PHK pas harga
anjlok. Sementara harga baterai di luar
sana asyik jalan-jalan sendiri. Kalau lu
lihat dari Jakarta atau baca laporan
pemerintah, industri nikel ini kayak
kisah sukses Disney. Grafik naik, duit
masuk, pita peresmian digunting. Tapi
coba lu geser dikit terbang ke timur, ke
Sulawesi atau Halmahera. Ceritanya
berubah genre jadi thriller. Di sana
nikel itu bukan masa depan bangsa, tapi
shift kerja panjang, bau kimia yang
nyengat, dan kontrak kerja yang umurnya
sependek umur jagung. Pas perusahaan
mulai efisiensi, yang kena sikat duluan
bukan bos-bos yang duduk di AC atau
tenaga ahli asing, tapi buruh lokal.
Mereka ini seringnya status kontrak atau
outsourcing. Begitu pasar batuk dikit,
kontrak mereka enggak diperpanjang
kelar. Di sini ada istilah tenaga kerja
fleksibel. Kedengarannya enak ya,
fleksibel kayak yoga. Tapi aslinya ini
berarti enggak aman. Perusahaan bisa
buang pasang orang seenak jidadanya
enggak punya jaring pengaman kalau
tiba-tiba diut. Di saat yang sama,
buru-buru ini lihat berita kalau harga
baterai internasional lagi mahal. Pusing
enggak tuh? Pabrik sepi, gaji dipotong,
tapi mobil listrik makin mahal. Mereka
ngalamin paradoks ini langsung di kulit
mereka sendiri. Biar paham kenapa bisa
gini, kita harus lihat struktur pasar
baterai. Pasarnya ini terkonsentrasi.
Artinya pemainnya cuma dikit tapi
gede-gede banget kayak monster. Karena
mereka yang nguasain pasar, mereka bisa
ngatur harga. Mau bahan baku murah kek,
mereka enggak wajib nurunin harga jual
selama orang masih mau beli. Mirip pasar
susu formula tadi. Mau harga susu sapi
di peternak jatuh, harga susu bubuk
kalengan di supermarket mana pernah
turun drastis karena lu beli merek, beli
kepercayaan, beli resep, baterai juga
gitu. Ada lagi konsep nilai tak berwujud
atau intangible value. Nilai ini enggak
bisa dipegang. adanya di merek, paten,
data, sama jaringan distribusi.
Indonesia nyediain nilai yang berwujud
yaitu tanah, biji, tenaga otot, tapi
duit gedenya ada di nilai tak berwujud
itu. Pemerintah kita masih ngotot sama
hilirisasi. Tapi hilirisasi itu ada
levelnya, Sob. Level kroco itu cuma
manasin biji jadi barang setengah jadi.
Level dewa itu bikin sel baterai, desain
sistemnya sampai bikin mobilnya utuh.
Indonesia kita masih kebanyakan main di
level crocoo sampai menengah. Loncat
level itu enggak cuma butuh duit, tapi
butuh waktu dan otak. Teknologi baterai
enggak bisa dipelajari lewat tutorial
YouTube 5 menit. Butuh riset puluhan
tahun, gagal berkali-kali, dan data
segunung. Makanya walau nikel kita
tumpah ruah, kita belum bisa maksa harga
baterai turun pakai kekuatan kita
sendiri. Terus ada biaya transisi hijau.
Kedengaran yang mulia, tapi mahal, Bos.
Negara maju pasang standar emisi ketat.
Pabrik baterai harus investasi alat
canggih biar enggak polusi. Biaya alat
canggih ini ya dibebankan ke pembeli
akhir dan duitnya enggak bakal mampir ke
kantong buruh tambang di Morowali. Peran
Tiongkok di sini juga krusial banget.
Mereka investor terbesar nikel kita
sekaligus pusat pabrik baterai dunia.
Hubungannya kayak benci tapi rindu. Kita
butuh duit dan teknologi mereka, mereka
butuh tanah kita. Tapi dalam hubungan
ini yang punya teknologi yang pegang
remote TV ini bentuk kekuasaan ekonomi
gaya baru. Enggak perlu kirim tentara,
cukup kuasain rantai pasok. Nikel itu
penting, tapi bukan segalanya. Kekuasaan
sebenarnya ada di ujung rantai. Pas
barang udah jadi dan dikasih label
harga, nikel Indonesia juga kejepit
drama geopolitik. Amerika sama Eropa
pengin bikin baterai yang bebas Tiongkok
dan bersih lingkungan. Tapi nikel kita
capnya masih kotor karena batu bara dan
dominasi Tiongkok. Jadinya kita kejepit.
Tiongkok mau nikel murah, barat mau
nikel bersih dan ribet. Di tengah
gempuran gajah-gajah ini, buruh adalah
pelanduk yang paling enggak punya suara.
Mereka enggak ikut rapat di meja bundar,
enggak nentuin standar ISG, enggak
pegang paten. Mereka cuma nerima nasib,
yaitu kerjaan enggak jelas dan dompet
tipis. Ada istilah pergeseran struktur
ekonomi. Harapannya nikel jadi batu
loncatan biar Indonesia naik kelas dari
negara agraris ke industri canggih. Tapi
kalau batu loncatannya licin, kita malah
kepeleset masuk jurang. Banyak daerah
tambang yang nasibnya kayak roller
coaster. Pas harga naik foya-foya, pas
harga turun jadi kota mati.
Infrastruktur hancur, anak muda kabur.
Sisa orang tua yang bingung mau ngapain.
Ini cerita klasik kutukan sumber daya
alam dan Indonesia belum lolos dari
sini. Sementara itu, harga baterai tetap
mahal karena permintaan mobil listrik
dunia belum surut. Orang kota beli Tesla
bukan karena peduli harga nikel per,
tapi karena gengsi, subsidi pemerintah,
atau takut harga bensin naik.
Faktor-faktor ini di luar kendali buruh
nikel kita. Jadi jelaskan PHK massal dan
harga baterai mahal itu bukan kebetulan.
Itu hasil logis dari sistem kasta
ekonomi. Di kasta bawah yaitu kita
sikut-sikutan rebutan remah-remah. Di
kasta atas yaitu global mereka duduk
manis nentuin harga. PR buat Indonesia
bukan cuma gali atau enggak gali tapi
gimana caranya biar enggak jadi jongos
abadi di kasta bawah. Kalau kita enggak
bisa naik kelas di rantai nilai ini, mau
harga baterai semahal apapun di luar
sana, nasib di lubang tambang bakal
tetap sama. kerja rodi, gaji UMR, dan
siap-siap kardus kalau dipanggil HRD.
Kalau dramanya udah jalan cukup lama,
kita mulai sadar kalau ini bukan cuma
soal harga nikel naik turun kayak mood
pacar. Ini masalah fondasi, masalah
struktur. Dan balik lagi kita ketemu
sama hantu bernama jebakan Sumber Daya
atau Resource Trap. Jebakan ini bukan
kutukan dukun santet, tapi hasil dari
kebiasaan buruk negara kaya alam.
Biasanya negara kayak gini milih jalan
pintas yaitu gali, jual, dapat duit
cepat. Awalnya GDP naik, pejabat pamer
prestasi, lapangan kerja ada. Tapi kalau
lupa bangun fondasi teknologi dan aturan
main yang benar, negara itu cuma jadi
tukang gali doang. Begitu harga
komoditas anjlok, ambyar semuanya.
Indonesia lagi ada di persimpangan jalan
yang ngeri-ngeri sedap, nikel, bikin
ekonomi ngebut, tapi juga telanjangin
ketergantungan kita. Tergantung harga
pasar dunia, tergantung modal asing,
tergantung teknologi orang, dan
tergantung mau-maunya pembeli di benua
seberang. Coba bandingin sama tetangga
jauh. Cilya litium, Kongo punya cobalt,
Norwegia punya minyak. Bedanya bukan di
barangnya, tapi di otaknya. Norwegia
pakai duit minyak buat dana abadi masa
depan. Cile galak banget ngontrol rantai
pasok litiumnya. Kongo masih kejebak
perang, saudara dan kemiskinan walau
tanahnya kaya raya. Indonesia mau jadi
yang mana? Nikel bisa jadi tiket kita
jadi negara maju atau cuma jadi siklus
gali lubang tutup lubang yang ujungnya
melarat lagi? Pilihan ada di tangan kita
hari ini. Istilah penting lainnya adalah
nilai tambah domestik. Ini intinya
berapa banyak duit dan ilmu yang
benar-benar nyangkut di dalam negeri.
Gaji, pajak, profit yang diputar lagi di
sini sama transfer ilmu. Kalau
industrinya gede tapi duitnya numpang
lewat doang ke rekening luar negeri, ya
percuma, Bambang. di nikel kita nilai
tambah domestiknya masih biasa saja.