Transcript
VZLcv_Fwv3Y • Raja Wisata Tumbang: Kenapa Ekonomi Thailand Makin Redup?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0022_VZLcv_Fwv3Y.txt
Kind: captions Language: id Coba deh lu bayangin sebuah negara di Asia Tenggara yang dulu tuh benar-benar jadi anak emas. Tipe murid teladan yang selalu dipuji-puji guru. Negara yang diagung-agungkan sebagai surga wisatanya dunia. Bayangin setiap tahun negara ini didatangin lebih dari 40 juta turis asing. Gila enggak tuh? Selama berpuluh-puluh tahun kalau orang ngomongin negara ini, yang kebayang langsung pantai puket yang airnya bening banget. Gemerlap dunia malam Bangkok yang gak pernah tidur dan pijat tradisional yang bikin badan kretek-kretek enak. Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Jajanan pinggir jalan alias street food yang murah meriah dan industri pariwisata yang dianggap sebagai mesin pencetak duit yang enggak ada tombol stopnya. Yap, benar banget kita lagi ngomongin Thailand. Tapi masalahnya Thailand itu bukan karena mereka jago bikin pariwisata. Masalahnya justru karena mereka tuh terlalu jago. Saking jagonya mereka sampai lupa daratan, lupa kalau sebuah negara itu enggak bisa cuma hidup dari ongkang-kang kaki nungguin turis datang buat healing. Nih, gua kasih datanya biar lu paham seberapa parahnya ketergantungan mereka. Sebelum COVID-19 nyerang, pariwisata itu nyumbang baik secara langsung maupun enggak langsung sekitar 18 sampai 20% dari total GDP Thailand. Kalau diuangkan itu setara lebih dari 100 miliar dolar Amerika per tahun. K bangit, Bos. Menurut data Kementerian Pariwisata Thailand sendiri, tahun 2019 negara ini kedatangan sekitar 39,8 juta turis asing. Lu bayangin jumlah turisnya lebih banyak daripada jumlah penduduk di banyak negara lain. Bahkan jumlahnya lebih tinggi dari populasi mereka sendiri di beberapa wilayah. Dan yang lebih ngeri sekitar seperlima dari seluruh angkatan kerja di Thailand itu kerjanya di sektor pariwisata atau yang nyerempet-nyerempet ke situ. Mulai dari hotel, restoran, sopir, hiburan, semuanya cari makan dari turis. Kalau didengar sekilas ini kayak kisah sukses kan. Wah, hebat Thailand, cuan terus. Tapi sebenarnya angka-angka fantastis itu adalah sinyal bahaya. Itu tanda ketergantungan yang toksik banget. Lu bayangin gini, ketika satu sektor aja menguasai hampir seperlima ekonomi negara, ketika puluhan juta perut rakyat bergantung sama bule-bule yang datang liburan, maka pariwisata itu udah bukan lagi sekedar sektor ekonomi. Ketika anggaran negara, bisnis properti, sekolah kejuruan sampai pembangunan jalan, semuanya cuma punya satu tujuan, yaitu melayani Paduka Raja Turis. Dia udah jadi tulang punggung. Dan lu tahu kan apa yang terjadi kalau tulang punggung patah? Seluruh badan bakal lumpuh total dan jeng-jeng Covid-19 datang cuma buat ngebuktiin fakta pahit itu. Tahun 2020, jumlah turis asing ke Thailand terjun bebas anjlok lebih dari 80%. Dari yang tadinya hampir 40 juta orang jadi cuma di bawah 7 juta. Tahun 2021 makin nyungsep lagi angkanya. GDP Thailand di tahun 2020 langsung minus. kontraksi sekitar 6,1%. Itu penurunan paling parah yang pernah mereka rasain dalam lebih dari 2 dekade. Jutaan orang yang kerja di pariwisata tiba-tiba jadi pengangguran atau terpaksa kerja serabutan di sektor informal. Tempat-tempat hits kayak Bangkok, pataya, puket yang biasanya macet sama manusia tiba-tiba jadi kota hantu. Banyak hotel yang akhirnya gulung tikar tutup selamanya. Tapi poin paling sakitnya adalah ini. Thailand enggak punya ban serep. Mereka enggak punya industri lain yang cukup kuat buat nahan benturan keras itu. Coba kita bandingin sama tetangga kita Vietnam di periode yang sama. Pariwisata Vietnam juga sebenarnya mati suri, Bos. Jumlah turis asing tahun 2020 di sana juga turun lebih dari 80% mirip banget sama Thailand. Tapi ajaibnya GDP Vietnam masih tumbuh positif sekitar 2,9% di tahun 2020. Kenapa bisa beda nasib? Apa karena Vietnam lebih jago ngusir virus? Bukan. Alasannya simpel. Karena pariwisata bukan nyawa utama ekonomi Vietnam. Sebelum COVID pariwisata Vietnam tuh cuma nyumbang sekitar 9 sampai 10% GDP. Cuma setengahnya dari ketergantungan Thailand. Sementara itu, ekspor barang Vietnam gila-gilaan. Tahun 2019 ekspor mereka tembus lebih dari 264 miliar USD. Tahun 2020 pas pandemi masih bisa dapat sekitar 282 miliar USD. Dan tahun 2022 malah tembus 370 miliar US dar. Jadi biarpun turis pada hilang, pabrik-pabrik di Vietnam tetap ngebul. Rantai pasok global tetap butuh barang mereka dan duit dolar tetap ngalir masuk ke negara Thailand. Ya, mereka enggak punya keistimewaan itu di level yang sama. Memang sih Thailand punya industri manufaktur kayak perakitan mobil dan elektronik, tapi masalahnya kebanyakan cuma sekadar tukang rakit alias perakitan dan maklon doang. Nilai tambahnya enggak seberapa. Ekspor Thailand tahun 2019 cuma sekitar 246 miliar US Dalah. Lebih rendah dari Vietnam. Padahal populasi dan tingkat industrialisasinya mirip-mirip. Dan yang paling krusial, industri di Thailand itu enggak nyiptain cukup banyak lapangan kerja skill tinggi yang bisa nampung jutaan orang yang kena PHK dari sektor pariwisata pas krisis terjadi. Nah, ini nih bahayanya. Kalau negara udah kebiasaan cari duit gampang dari pariwisata alias money, mereka jadi punya mindset yang bahaya. Daripada capek-capek bangun pondasi ekonomi jangka panjang yang ribet, mending cari cara instan buat narik turis lagi. Habis COVID, mindset ini kelihatan banget. Bukannya rombak ulang ekonomi, investasi gila-gilaan di industri, teknologi atau pendidikan teknik Thailand malah milih jalan pintas. Mereka buka perbatasan buru-buru, gampangin visa, nurunin standar, bahkan sampai melegalkan ganja. Ingat ya, legalisasi ganja di sana itu bukan strategi buat kesehatan atau industri farmasi canggih, tapi murni jadi produk jualan baru buat turis. Ganja di sini bukan penyebab masalah Thailand, tapi itu gejalanya. Itu gejala dari ekonomi yang lagi megap-megap, cari cara buat narik orang balik, enggak peduli dampak jangka panjangnya apa. Ini persis kayak toko yang lagi rugi bandar, terus pasang spanduk diskon gila-gilaan cuma biar ada yang beli. Bukannya benerin model bisnisnya yang bobrok. Sekarang coba kita tengok negara kita sendiri. Indonesia gambarnya beda banget, Bro. Indonesia juga punya Bali, punya pariwisata, punya tempat-tempat keren yang mendunia. Tapi pariwisata itu cuma nyumbang sekitar 5 sampai 6% doang ke GDP Indonesia sebelum pandemi. Dengan penduduk lebih dari 270 juta jiwa. Yang jadi tulang punggung ekonomi kita itu sebenarnya konsumsi dalam negeri alias kita-kita ini yang doyan belanja. Tahun 2019 GDP Indonesia sekitar 11.100 miliar USD dan sebagian besarnya datang dari konsumsi domestik, sumber daya alam, industri pengolahan, sama investasi pemerintah. Pas COVID ngahajar, Bali emang babak belur parah. Nangis darahlah pokoknya. Tapi Indonesia sebagai negara enggak ikut runtuh bareng Bali. Pulau-pulau lain, sektor-sektor lain masih jalan terus. Pemerintah kita masih punya ruang buat kasih stimulus ekonomi, bangun infrastruktur, dan jaga pertumbuhan. Makanya GDP Indonesia tahun 2020 cuma turun sekitar 2,1% jauh lebih mending daripada Thailand dan recovery-nya juga lebih cepat setelah itu. Bedanya di mana? Bedanya adalah Indonesia enggak pernah naruh seluruh nasib masa depan bangsa di tangan mood-nya turis asing. Sedangkan Thailand mereka sudah ngelakuin itu bertahun-tahun lamanya. Mereka bangun infrastruktur bukan buat ngelancarin produksi pabrik, tapi buat ngelancarin jalan turis ke tempat wisata. Mereka didik tenaga kerja bukan buat jadi insinyur canggih, tapi buat jadi pelayan yang ramah. Mereka branding negara bukan sebagai pusat industri atau teknologi, tapi sebagai tempat hura-hura. Pas semuanya lancar, model begini emang ngasilin duit cepat, kelihatan mentereng dan bikin masyarakat terlena. Seolah-olah kita udah benar nih jalannya. Tapi model begini tuh ibarat bangun rumah di atas pasir. Rumah di atas pasir enggak bakal langsung rubuh. Dia baru bakal goyang pas ada ombak gede. Dan buat Thailand, ombak itu bukan cuma COVID, tapi juga struktur ekonomi rapuh yang udah mereka bangun sendiri selama puluhan tahun. Biar makin jelas, kita lihat satu lagi negara tetangga, Filipina. Filipina itu enggak pernah dianggap sebagai raja pariwisata di ASEAN. Sebelum pandemi, turis ke sana cuma 8 sampai 9 juta per tahun. Enggak ada seperempatnya Thailand. Pariwisata cuma nyumbang 12% GDP jauh di bawah Thailand yang hampir 20%. Kalau dilihat dari luar, Filipina kayaknya kalah seksi soal wisata. Tapi justru karena mereka kalah seksi, mereka milih jalan ninja yang lain. Bertahun-tahun, Filipina fokus ngembangin jasa outsourcing, terutama BPO Bisnis Proses outsourcing, dan layanan IT. Tahun 2019 industri BPO Filipina nyetak duit lebih dari 26 miliar US Dar. Industri ini mempekerjakan 1,3 juta orang secara langsung dan jutaan lagi secara enggak langsung. Sektor ini nyumbang 7 sampai 8% GDP dan yang paling penting ngasih aliran dolar yang stabil dari Amerika, Eropa, dan perusahaan global. Pas COVID datang, turis kabur semua. Tapi call center tetap jalan, Bos. Pegawainya tinggal pindah kerja dari rumah WFH. Duit enggak berhenti ngalir. Belum lagi kiriman duit dari TKI-nya Filipina OFW di luar negeri tahun 2020 masih tembus 33 miliar USD. Hampir enggak turun dibanding sebelum pandemi. Emang sih GDP Filipina tahun 2020 turun tajam sekitar 9,5%. Tapi itu gara-gara lockdown yang super ketat dan panjang serta struktur domestik mereka. Bukan karena satu sektor amdan tiba-tiba mati total. Dan yang paling penting, Filipina enggak perlu sampai jual murah harga diri bangsa. Cuman buat ngemis turis balik lagi dengan segala cara. Thailand beda cerita. Ketika pariwisata itu hampir seperlima napas ekonomi, ketika jutaan orang hidupnya tergantung langsung sama bule, maka setiap bulan tanpa turis itu rasanya kayak pendarahan hebat. Tekanan itu bikin pemerintah panik dan semua kebijakan cuma muter-muter di satu pertanyaan. Gimana caranya biar turis balik secepatnya? Itulah kenapa habis COVID Thailand buka pintu cepat banget. Visa digampangin buat puluhan negara. Masa tinggal dibikin lama, pajak, bisnis, wisata dipotong, dan cari segala cara buat bikin gimik baru. Di situasi kepepet inilah legalisasi ganja muncul sebagai langkah the power of kepepet. Sekali lagi, bukan buat bikin industri obat, bukan buat riset medis, tapi utamanya buat nambah menu hiburan bagi turis. Lu lihat aja toko ganja yang jamur di Bangkok, Buket, Pataya itu semua ngikutin arus turis, bukan ngikutin rantai pasok industri yang benar. Dan lagi-lagi ganja bukan sebab Thailand lemah. Itu cuman bukti kalau Thailand masih mikir pakai otak negara pariwisata, bukan negara yang mau benerin struktur ekonominya. Masalah yang lebih dalam lagi ada di tenaga kerjanya. Data sebelum pandemi bilang sekitar 30 sampai 35% tenaga kerja Thailand ada di sektor jasa dan mayoritasnya nyambung sama pariwisata. Ini adalah kelompok pekerja dengan skill rendah sampai menengah, gampang diganti, dan gajinya enggak pasti. Pas krisis mereka enggak bisa tiba-tiba loncat kerja jadi teknisi atau engineer karena ya emang enggak ada industri lain yang cukup gede buat nampung mereka. Bandingin sama Vietnam, bedanya langit dan bumi. Tahun 2019, tenaga kerja di sektor industri dan konstruksi Vietnam itu sekitar 33% dari total pekerja, lebih tinggi dari Thailand. Jutaan orang kerja di pabrik elektronik, tekstil, mesin. Pas pariwisata mati, Vietnam masih bisa nyelamatin lapangan kerja di pabrik. Bahkan malah nambah investasi asing FDI karena banyak pabrik dunia yang pindah ke sana. Indonesia juga mirip meski skalanya lebih gede. Industri pengolahan kita nyumbang 19 sampai 20% GDP jauh di atas pariwisata. Ini jadi bantalan empuk. Kalau satu sektor bonyok yang lain enggak ikutan ambruk kayak domino. Thailand enggak punya bantalan empuk itu. Bertahun-tahun properti di Thailand dibangun dengan asumsi kalau turis dan expat bakal terus datang tanpa henti. Condotel, hotel, apartemen sewa harian tumbuh kayak jamur di musim hujan. Pas turis hilang, harga properti di banyak tempat terjun bebas, kamar-kamar kosong melompong, dan kredit macet di bank mulai bermunculan. Estimasi lembaga keuangan bilang utang rumah tangga di Thailand sudah tembus 90% GDP. Itu salah satu yang paling tinggi di Asia Tenggara. Lu bayangin rakyatnya udah kelilit utang eh pendapatan dari wisata anjlok. Beban utang ini jadi bom waktu. Ekonomi yang hidup dari pariwisata itu enggak cuma butuh turis, tapi butuh keyakinan. Kalau turis bakal balik. Pas keyakinan itu goyah, sistem keuangannya juga ikut gempa. Sementara itu, Indonesia utang rumah tangganya jauh lebih rendah sekitar 17 sampai 20% GDP. Karena pola belanja dan kredit kita beda. Ini bikin ekonomi kita lebih lues pas kena krisis. Sebenarnya Thailand sadar kok sama masalah ini. Pemerintah mereka udah koar-koar soal mau pindah haluan ke industri teknologi tinggi, mobil listrik EV, bikin koridor ekonomi timur E, dan narik investasi baru. Tapi masalahnya bukan di slogan, tapi di timing alias waktu. Pas Thailand baru mulai ngomongin mobil listrik dan teknologi, Vietnam udah narik raksasa elektronik kayak Samsung lebih dari satu dekade lalu. Pas Thailand baru sadar kekurangan insinyur, Indonesia udah punya pasar tenaga kerja yang melimpah dan lagi giat-giatnya pelatihan. Pas Thailand mau ngurangin candu pariwisata, citra negara mereka di mata dunia udah terlanjur nempel banget sama hiburan dan pijat-pijat, bukan sebagai pusat inovasi atau produksi. Susah, Bro, ngubah image negara dalam beberapa tahun kalau selama puluhan tahun sebelumnya lu udah nge-branding diri lu cuma dengan satu peran doang. Nah, ini pelajaran paling mahal buat Indonesia. Indonesia punya pariwisata, punya Bali, punya spot-spot yang enggak kalah cakep dari Thailand. Tapi untungnya Indonesia belum pernah ngebiarin pariwisata jadi tulang punggung tunggal ekonomi. Kalau sampai Indonesia kepleset dan bikin kesalahan yang sama di masa depan. Kalau semua kebijakan cuma demi nyenengin turis asing, kalau industri dan pendidikan teknik diak tirikan, maka skenario horor Thailand hari ini bisa jadi masa depan Indonesia besok. Negara bisa aja jadi kayak mendadak gara-gara pariwisata, tapi buat bertahan hidup pas badai datang, buat maju terus secara berkelanjutan. Negara butuh industri yang tetap bisa jalan biarpun bandara ditutup dan hotel kosong melompong. Thailand udah milih jalan yang terlalu gampang, terlalu lama, dan harga yang harus dibayar dari jalan pintas itu baru kelihatan tagihannya sekarang pas enggak ada lagi yang datang liburan. Masalah Thailand sebenarnya bukan cuma soal ketergantungan, tapi mereka kejebak dalam lingkaran setan ketergantungan yang susah banget diputus. Lingkaran itu dimulai dari kesuksesan. Pas pariwisata ngasih duit cepat, kas negara tebal, pengusaha untung, rakyat kerja. Di masa jayanya sebelum 2020, duit dari turis asing di Thailand itu lebih dari 60 miliar USD per tahun paling tajir seasean. Dengan duit segitu, ekonomi kelihatan sehat walafiat. Tapi justru karena duitnya gampang banget didapat, motivasi buat investasi di bidang yang susah jadi hilang. Mau bangun industri, butuh waktu lama, butuh nyetak insinyur, harus rela untung tipis di tahun-tahun awal. Mau ngembangin teknologi, butuh ekosistem, risiko gagal gede, butuh kebijakan yang konsisten puluhan tahun. Lah bandingin sama pariwisata, cuma perlu promosi bagus, bikin hotel, duduk manis, nunggu tamu. Dibanding bangun pabrik yang saingannya global, pariwisata itu kayak jalan tol buat pertumbuhan ekonomi. Masalahnya jalan tol itu buntu di ujungnya. Pas pariwisata jadi dominan, satu negara bakal nyetel dirinya buat melayani itu. Mahasiswa milih jurusan perhotelan karena gampang dapat kerja. UMKM buka warung atau jasa tur karena modal kecil perputaran cepat. Pemda kasih izin proyek wisata karena langsung nyerap tenaga kerja. Lama-lama semua sumber daya negara kesedot ke satu lubang itu. Pas krisis nyebluk, negara baru sadar kalau mereka enggak punya pilihan lain. Thailand pasca COVID adalah contoh nyata. Pas turis enggak balik secepat kilat, pemerintah terpaksa perpanjang bansos, subsidi bisnis wisata dan bantu pekerja. Utang negara naik, duit buat manuver makin tipis. Di sisi lain, sektor lain enggak cukup kuat buat nyiptain gelombang lapangan kerja baru. Pelayan restoran enggak bisa disulap jadi teknisi robot atau programmer dalam semalam. Inilah harga mahal dari kelalaian investasi di kualitas manusia. Bandingin lagi sama Filipina, industri BPO mereka enggak cuma ngasilin duit, tapi nyetak tenaga kerja yang punya skill. Biasa kerja sama pasar global, jago bahasa Inggris. Kalau satu kontrak habis, mereka bisa pindah ke kontrak lain. Kalau satu perusahaan cabut, perusahaan lain masuk. Itu namanya fleksibilitas. Sesuatu yang pariwisata enggak punya. Vietnam juga sama. Walau masih banyak orangnya, Vietnam udah ngebentuk puluhan juta buruh pabrik yang terbiasa sama disiplin industri dan rantai pasok dunia. Ini bikin ekonomi mereka lebih tahan banting. Thailand mereka kurang dua-duanya di skala yang cukup besar. Tanda lain dari lingkaran setan ini adalah reaksi Thailand pas ada saingan. Pas Vietnam, Indonesia, Filipina mulai narik turis dengan harga lebih murah atau tempat baru. Thailand bukannya naik kelas alias upgrade value, malah banting harga dan nurunin standar. Ini emang nahan turis dalam jangka pendek, tapi ngerusak citra dan keuntungan jangka panjang. Makin murah harganya, makin butuh banyak turis buat nutup target. Makin butuh banyak turis, makin ketergantungan lagi. Itu jebakan Batman, Bos. Di situasi kayak gini, ganja cuma kepingan kecil dari puzzle yang gede. Itu nunjukin kalau Thailand rela nyoba apa aja yang bisa mancing turis, asal duit cepat muter. Tapi sama kayak ide-ide wisata instan lainnya, itu enggak ngebangun fondasi industri, enggak bikin pintar tenaga kerja, dan enggak bikin ekonomi jadi lebih kuat ngadapin krisis berikutnya. Masalah Thailand hari ini bukan karena mereka salah jalan total, tapi karena mereka udah jalan di rute yang sama terlalu lama tanpa lihat peta. Dan karena udah kejauhan, mau putar balik itu susahnya minta ampun. Buat rombak ekonomi, Thailand butuh investasi gila-gilaan di pendidikan teknik, industri bernilai tinggi, teknologi, dan inovasi. Tapi hasil dari investasi ginian enggak bakal kelihatan dalam satu periode pemilu, bahkan mungkin enggak dalam satu dekade. Sementara itu, tekanan dari masyarakat, dari bos-bos wisata, dari pekerja hotel, maksa pemerintah buat prioritasin solusi yang ngasilin duit sekarang juga. Ini dilema yang banyak negara berkembang alamin. Tapi enggak semua negara kejeblos sedalam Thailand. Indonesia dengan jumlah penduduk dan pasar dalam negeri yang jumbo punya keuntungan yang Thailand enggak punya. Tapi keuntungan itu cuma bakal ada kalau Indonesia enggak ngerusak dirinya sendiri dengan milih jalan yang gampang. Pariwisata itu boleh jadi mesin pertumbuhan. Tapi kalau Indonesia ngebiarin pariwisata nguasai GDP terlalu gede, nguasai terlalu banyak lapangan kerja dan mendikte kebijakan negara, maka suatu hari nanti Indonesia juga bakal dihadapkan sama pertanyaan horor yang lagi dihadapi Thailand sekarang. Kalau turis enggak datang lagi, kita makan apa? Pelajaran dari Thailand bukan jangan bikin pariwisata. Pelajarannya adalah jangan biarkan pariwisata jadi satu-satunya takdir ekonomi negara. Negara yang kuat itu negara yang punya banyak tiang penyangga. Kalau satu tiang retak, tiang lain masih nahan atap biar enggak rubuh. Negara yang lemah adalah negara yang taruhan all in di satu sumber duit. Biarpun sumber duit itu dulunya bikin kaya raya, Thailand dulu adalah role model contoh sukses. Tapi hari ini mereka jadi lampu kuning. Sebuah peringatan keras. Pertanyaan terakhir bukan buat Thailand lagi, tapi buat negara-negara tetangga khususnya Indonesia. Apa kita mau belajar dari cerita ini? Mumpung masih ada waktu.