Transcript
XZ2rOySia1M • SAMSUNG vs APPLE 2025: Perang AI & Siapa Raja Smartphone Sebenarnya?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0024_XZ2rOySia1M.txt
Kind: captions Language: id Coba deh kita duduk bentar, tarik napas, terus ngomong jujur sama pantulan diri kita di layar HP yang udah penuh sidik jari itu. Smartphone hari ini tuh sebenarnya udah enggak bikin kita bilang wow lagi kan? Jujur, Li udah enggak ada tuh sensasi merinding kayak dulu. Ingat enggak masa-masa indah sekitar tahun 2010 sampai 2018? Wah, itu tiap tahun rasanya kayak ada kewajiban moral buat ganti HP. Layar makin gede dikit, kita heboh, kamera nambah megapel, kita takjub, desain berubah dikit, dompet langsung gatal. Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Tapi sekarang halah, sekarang orang ganti HP bukan karena penasaran atau FOMO sama teknologi, tapi murni karena kepepet. Entah karena HP lama lemotnya udah kayak siput stroke, baterai bocor yang harus dichage tiga kali sehari kayak minum obat atau storage yang udah teriak-teriak minta dihapus memorinya. Angka-angkanya juga enggak bisa bohong, Bos. Tahun 2025 ini total smartphone yang terjual di seluruh dunia itu ada di kisaran 1,25 miliar unit. Kelihatannya banyak ya, padahal itu cuma naik seuprit cuma 1,5% dari tahun sebelumnya. Kedengarannya sih masih tumbuh, tapi tunggu dulu. Kita ini hidup bareng 8 miliar manusia di bumi. Angka segitu tuh nunjukin satu fakta pahit. Pasar udah jenuh, Bro. Ini bukan lagi hutan rimba yang tumbuh liar. Ini udah kayak kolam ikan yang kekecilan, tapi ikannya kebanyakan. Jadinya saling makan. Perilaku kita juga udah berubah. Rata-rata orang sekarang itu meluk HP lamanya lebih lama, makin setia. Counterpoint Research mencatat siklus ganti HP global itu udah tembus 3,2 sampai 3,5 tahun. Di negara-negara maju yang duitnya kencang kayak Amerika Serikat, Korea Selatan, sama Jepang malah lebih parah lagi. Udah lewat 3,7 tahun. Artinya apa? Artinya orang udah enggak gampang tergoda imannya cuma gara-gara kamera lebih tajam dikit atau cip lebih ngebut dikit. Ah, HP gua masih bisa buka WhatsApp kok. Gitu kan pikirannya. Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali lu benar-benar excited sampai deg-degan waktu lihat peluncuran smartphone baru. Bukan karena HP lo rusak ya, tapi beneran pengen ganti karena ada fitur yang bikin lo ngerasa wah gila gua harus punya ini. Kayaknya udah jarang banget kan? Dulu waktu iPhone pertama kali bisa touch screen waktu Samsung ngeluarin layar melengkung yang futuristik atau waktu kamera HP tiba-tiba bisa saingan sama DSLR, itu orang rela ngantri dari subuh kayak mau ambil sembakau. Sekarang paling cuma scroll notifikasi di YouTube bilang, "Halah, gitu doang, mahal lagi." Terus lanjut scroll TikTok nyari asupan humor receh. Nah, di titik kebosanan mal inilah perang smartphone berubah wujud. bukan lagi adu mekanik siapa punya layar paling silau atau skore benchmark paling dewa. Tapi soal siapa yang bisa ngasih alasan baru supaya HP lama yang sebenarnya masih oke itu terasa jadul dan butut. Dan di tengah kericuhan ini, dua raksasa lagi pasang kuda-kuda Samsung dan Apple. Kalau kita bedah angkanya, persaingan mereka ini sengit banget kayak laga El Clasico. Tahun 2025 buat pertama kalinya dalam 14 tahun Apple diperkirakan bakal nyalip Samsung dalam jumlah pengiriman smartphone. Apple diprediksi bakal megang market share 19,4% dengan total kiriman sekitar 243 juta unit. Samsung nempel ketat di posisi kedua dengan 18,7% sekitar 235 juta unit. Selisihnya tipis banget, cuma 0,7%. Kalau orang awam lihat sih bakal bilang, "Wah, gila, ketat banget persaingannya." Tapi kenyataannya, Bos, ini jauh lebih rumit daripada sekedar angka di atas kertas. Apple itu mainnya cantik tapi jahat. Mereka jual model dikit, harganya selangit, margin untungnya gede banget. Samsung mereka main keroyokan. Jual banyak model. Dari yang murah meriah, buat kau mendang-mending sampai yang harganya bikin ginjal bergetar. Cara mainnya beda total. Kalau kita bicara duit alias cuan, bedanya makin jomplang. Di tahun 2025, pendapatan Apple cuma dari jualan iPhone doang. Diperkirakan tembus 261 miliar dolar Amerika, naik 7,2%. Itu baru iPhone loh, belum iPad, Mac atau Apple Watch. Sementara Samsung total bisnis mobile-nya termasuk smartphone dan perintilan komponennya cuma di kisaran 110 sampai 115 miliar dolar. Samsung capek-capek jual lebih banyak jenis barang, tapi Apple yang nyedot keuntungan jauh lebih dalam dari setiap unit yang kejual. Bayanginnya gini deh, Samsung itu kayak to serba palu gada. Apa lu mau gua ada? Jual dari sendal jepit sampai sepatu basket edisi terbatas. Ramai yang beli, antri panjang, tapi untung perbarangnya tipis-tipis. Apple, Apple itu kayak butik eksklusif yang cuma jual sepatu basket limited edition doang. Harganya mahal mampus, tapi setiap satu sepatu laku, untungnya bisa buat beli motor. Dan yang lebih ngeri, orang yang udah beli sepatu Apple, besoknya balik lagi beli kaos kaki Apple, tas Apple, jam tangan Apple. Mereka udah terperangkap dalam sekte eh maksudnya ekosistem. Nah, mulai tahun 2023 kemarin sampai sekarang muncul satu pertanyaan yang bikin bos-bos teknologi pada keringat dingin. Kalau hardware udah mentok, apalagi yang bisa kita jual biar orang mau keluar duit? Jawabannya datang dari dua huruf yang sekarang ada di mana-mana sampai kita enek dengarnya AI. Samsung dengan gaya satset watwetnya gerak duluan. Begitu chat GPT meledak di akhir 2022, Samsung langsung sadar, "Wah, ini bukan tren numpang lewat doang nih. Ini perubahan cara manusia ngobrol sama teknologi. Samsung enggak sok ide mau jadi pahlawan kesiangan yang bikin semuanya sendiri. Mereka realistis. Mereka tahu Google punya AI pintar, punya data segudang, punya pengalaman. Jadi ya udah Samsung gandeng Google Colab, Bro. Awal tahun 2024, Galaxy S24 rilis dan Samsung ngenalin istilah Galaxy AI. Ini bukan AI jelimet yang cuma bagus di brosur, tapi AI yang beneran kepakai. Nelpon bule bisa diterjemahin real time, jadi enggak perlu lagi tuh pura-pura ngangguk padahal enggak ngerti. Pesan panjang lebar bisa diringkas. Foto ada orang lewat bisa diedit hilang tanpa perlu instal aplikasi ribet. Tinggal pencet. Jadi, Samsung bahkan enggak peduli-peduli amat jelasin algoritmanya gimana. Pesan mereka simpel banget. Hidup lo jadi lebih gampang. Titik. Dan tebak, strategi ini berhasil. Samsung ngeklaim lebih dari 70% pengguna Galaxy S24 nyobain fitur AI dalam 3 bulan pertama. Angka segitu tuh tinggi banget buat fitur baru. Artinya, AI-nya Samsung bukan cuma gimmik atau pajangan doang, orang beneran pakai. Tahun 2025 Samsung makin ngegas. Galaxy Z4 dan Zflip 7 yang rilis tahun ini performanya makin gila dibanding modal lipat sebelumnya. Mereka bikin segmen HP lipat yang tadinya agak loyo jadi bergairah lagi. Sementara itu, Apple kelihatan kayak orang yang telat datang ke pesta. Apple Intelligence baru dikenalin malu-malu di paruh kedua 2024. Banyak fitur pentingnya baru benar-benar matang di tahun 2025. Dari luar kelihatannya Apple lambat bahkan agak canggung. Tapi jangan salah, Apple bukan perusahaan kemarin sore yang bego. Mereka bakar duit lebih dari 30 miliar dolar per tahun cuma buat riset. Mereka punya chip sendiri, OS sendiri, dan ekosistem paling tertutup sekaligus paling cuan di dunia. Kalau mereka mau, bisa aja mereka keluar-ko soal AI lebih awal. Masalahnya bukan bisa atau enggak bisa, masalahnya ada di warisan masa lalu bernama Siri. S siri ini lahir tahun 2011 zaman purba sebelum era EI generatif. Fondasinya itu berbasis aturan kaku, bukan pemahaman konteks. Dia cepat sih, tapi dangkal. Pas dunia geser ke EAI yang bisa mikir, nyimpulin, dan bertindak, Siri malah jadi beban, jadi utang teknis. Apple punya per gede buat benerin ini. Ibaratnya mereka harus ganti mesin pesawat pas pesawatnya lagi terbang tinggi. Apple tahu kalau mereka salah langkah, pengalaman pengguna bisa hancur lebur. Dan buat Apple, user experience adalah harga mati. Di sini nih, filosofi dua raksasa ini tabrakan keras. Samsung milih gerak cepat, rangkul AI hybrid, sebagian di HP, sebagian di cloud. Apple milih gerak pelan kayak kura-kura Ninja, tapi pengen AI-nya nyatu banget sama sistem dan data tetap aman di tangan mereka. Samsung pengen AI langsung dipakai hari ini juga. Apple pengen AI jadi bagian hidup lo buat jangka panjang. Tapi yang menarik, tahun 2025 ini strategi alon-alon asal kelakonnya Apple mulai kelihatan hasilnya. Permintaan buat iPhone 17 series kencang banget. Preordernya malah ngalahin generasi sebelumnya. Di China, pasar terbesarnya Apple, permintaan iPhone 17 saking masifnya sampai bikin IDC ngubah ramalan cuaca bisnis mereka. Dari proyeksi minus 1% jadi plus 3% buat tahun ini. Itu perubahan yang gila-gilaan, Bro. Dan ini bukan cuma soal hardware, ini soal orang mulai ngerasain kalau Apple Intelligence itu kerjanya benar. Di titik ini, perang Samsung dan Apple bukan lagi soal siapa paling canggih, tapi siapa yang paling ngerti masa depan. Tapi AIDS cerita belum kelar. Karena di luar gelembung Amerika dan Korea ada ratusan juta pengguna di negara berkembang kayak kita dengan kebiasaan, kebutuhan, dan isi dompet yang sangat-sangat beda. Di sinilah plot twist-nya dimulai. Pas cerita ini geser keluar dari Amerika atau Korea, kita mulai lihat hal yang seru. Perang Samsung versus Apple itu enggak sama di tiap negara. Di Amerika, iPhone itu udah kayak KTP. Hampir semua orang punya. Di Korea, Samsung punya keuntungan kandang. Tapi pas kita lihat pasar yang populasinya berjibun, banyak anak muda, dan ekonominya lagi tumbuh, di mana smartphone itu bukan cuma mainan, tapi alat bertahan hidup, ceritanya belok tajam. Dan Indonesia adalah contoh paling nyata. Indonesia itu bukan pasar yang beli HP cuma karena ih lucu brandnya. Kita ini pasar yang beli HP karena butuh fungsinya, Bos. dengan lebih dari 277 juta penduduk yang mana 60%-nya di bawah 40 tahun. Smartphone di sini tuh nyawa buat foto-foto. Iya, tapi lebih dari itu ini dompet digital, alat kerja, alat belajar, pintu masuk buat nyari duit online. Data tahun 2025 bilang pasar smartphone Indonesia tumbuh subur banget. Tahun 2024 aja tumbuh 15,5%. year on year nyampai hampir 40 juta unit. Penetrasi smartphone udah lewat 70% setara 190 juta lebih pengguna. Tapi yang paling penting bukan jumlahnya tapi harganya. Harga rata-rata HP yang dibeli orang Indonesia alias average selling price-nya cuma di kisaran 180 sampai 220 Amerika. Jauh jauh lebih murah dibanding HP yang dibeli orang Amerika atau Korea. Ini harusnya jadi keuntungan alami buat Samsung. Samsung kan dari dulu paham kalau Indonesia bukan tempat buat cuma jualan HP flagship mahal. Galaxy A series, M Series, terus F Edition itu kan tulang punggung mereka. Tapi plot twist lagi nih, di kuartal ketiga 2025, peta kekuasaan di Indonesia bikin kaget. Menurut riset yang jadi raja pasar justru trenion itu loh induknya Itel, Infinix, sama Techno. Mereka megang 21% market share. Xiaomi di posisi 2 dengan 19%, Oppo 18%, Vivo 16%. Lah Samsung Samsung malah keplempar ke posisi 5 dengan 15%. Tunggu, kok Samsung sang raksasa global cuma dapat 15%. Ini nih uniknya Indonesia. Kita tuh sensitif banget sama harga. Segmen ultra low end, HP di bawah 100 atau sejutaan itu tumbuhnya cepat banget. Di sini Transion mainnya pintar banget. Mereka bikin HP murah, tapi speknya kayak dewa buat harganya. Kamera bagus, pas gelap, baterai badak, dual SIM bahasa lokal. Harganya di bawah Rp1,5 juta. Buat jutaan orang Indonesia yang baru pertama kali pegang smartphone atau kau mendang-mending yang budgetnya mepet, ini pilihan paling masuk akal. Ngapain beli mahal kalau yang murah udah bisa Mobile Legends. Xiaomi juga main di kolam yang sama lewat Redmi Note dan Poco. Oppo sama Vivo juga agresif banget promo online dan nyegerin produk midrange mereka pakai fitur AI buat kamera Samsung. Mereka tetap kuat di kelas menengah dan premium, tapi di kelas bawah mereka ngos-ngosan dikeroyok brand China. Terus Apple di mana? Market share Apple di Indonesia tuh kecil, cuma sekitar 11 sampai 12%. Kelihatannya cupu ya. Tapi jangan salah sangka. Apple di sini enggak menang jumlah, tapi menang simbol. iPhone di Indonesia itu tanda kesuksesan, Bos. Meskipun pendapatan per kapita kita tahun 2025 cuma sekitar 5.000 setahun, banyak banget orang yang rela makan mie instan demi nyicil iPhone 12 bulan bahkan 24 bulan. Makanya iPhone ada di mana-mana. dari SCBD Jakarta sampai Warkop di Surabaya, dari mahasiswa sampai konten kreator. Fenomena BPJS alias budget pas-pasan jiwa sosialita itu nyata adanya. Nah, di sinilah AI mulai punya arti yang beda banget buat pengguna Indonesia. AI itu bukan buat pamer, "Woi, gua punya teknologi canggih nih." Enggak penting. AI cuma berharga kalau dia bisa bikin hemat waktu dan bikin dompet tebal. Terjemahin lebih cepat buat deal sama klien luar. Kerja lebih satset, jualan online lebih laku. Edit foto produk biar kinclong buat di-upload di marketplace atau bikin caption otomatis buat toko online biar enggak pusing mikir kata-kata. Samsung ngerti ini banget. Fitur kayak live translate, circle to search, atau AI edit foto enggak dipromosiin pakai bahasa langit yang rumit. Mereka ngomongnya membumi, bikin hidup lo lebih gampang. Dan ini kena banget di hati. Penjual online bisa foto produk, lingkari, terus langsung tahu harga kompetitor dalam hitungan detik. Kait wisata bisa ngobrol sama turis asing tanpa harus kursus bahasa Inggris dulu. Content creator bisa edit foto, hapus background orang yang ganggu langsung di HP yang harganya di bawah Rp5 juta. Cuan, Bos. Apple jalannya lebih pelan. Tapi bukan karena mereka enggak ngerti Indonesia. Masalahnya ada di model bisnis mereka. IApple itu dirancang buat ngikat kita di ekosistem, iCloud, App Store, langganan ini itu. Tapi di Indonesia enggak semua orang siap mental buat bayar langganan bulanan. Survei lokal 2024 bilang pengguna Indonesia yang mau bayar buat digital subscription masih di bawah 30%. Kita kan mentalnya kalau ada yang gratis atau petani kenapa harus bayar? Ini bikin strategi AI Apple yang mau ngurung pengguna jadi agak susah jalan. Tapi Apple tetap punya kartu AS yang susah ditiru Samsung, stabilitas, dan gengsi. Pas Apple Intelligence jalan benar, pengguna enggak perlu belajar cara pakai. Dia diam-diam kerja di belakang layar dari email, kalender, foto, sampai ngasih saran. Ini mungkin belum meledak sekarang, tapi buat jangka panjang pas kelas menengah makin banyak duitnya, ini bakal jadi senjata mematikan. Kalau kita jalan-jalan ke luar Indonesia dikit ke India misalnya, pasar smartphone terbesar kedua di dunia dengan 1,43 miliar manusia, kondisinya mirip-mirip kita. Samsung market share-nya sekitar 18% di 2025, Apple cuma 7%. Tapi yang gila, pertumbuhan Apple di India tuh ngebut banget. Naik 20% year on year. Kok bisa? Karena Apple mulai produksi lokal lewat Foxcon dan Pegatron di sana. Pajak impor jadi murah, harga iPhone turun 10 sampai 15%. Mereka juga buka Apple Store pertama di Mumbai dan Delhi tahun 2023. Targetnya jelas, kelas menengah India yang lagi OKB, orang kaya baru. Geser ke Cina, ceritanya drama banget. Samsung di sana hampir punah, market share-nya di bawah 1%. Kalah telak sama brand lokal kayak Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo. Harga enggak bersaing, fitur enggak ada yang unik buat selera sana. Apple market share mereka sekitar 15% di 2025 turun dari 20%-an di 2020. Mereka lagi pusing tujuh keliling. Huawei bangkit dari kubur lewat Mate 60 Pro. Terus ada larangan pakai iPhone di beberapa kantor pemerintah. Apple terpaksa diskon gila-gilaan buat nahan pelanggan. Belum lagi masalah AI di China. Hukum di sana ngewajibin semua AI harus dapat restu pemerintah. Apple lagi nego keras sama Baidu dan Alibaba buat pakai AI lokal. Risikonya Apple yang biasanya teriak-teriak soal privasi bisa kehilangan muka kalau harus tunduk pakai AI China. Di Amerika sama Eropa beda lagi dunianya. Di Amerika Apple itu rajanya market share 58%. Samsung cuma dapat remah-remah 25 sampai 27%. Gen di Amerika 87% pakai iPhone. Kenapa? Gara-gara blue bubble di i message. Kalau lo pakai Android bubbleya hijau. Kelihatannya sepele. Tapi ini bikin tekanan sosial alias bullying halus di kalangan anak muda sana. Ih, chatnya hijau. Pasti HP-nya Android miskin. Ya, gitu kira-kira logika toxicnya. Di Eropa pertarungannya lebih imbang. Apple sekitar 32 sampai 35%. Samsung 30 sampai 33%. Orang Eropa lebih peduli privasi. Jadi Apple punya nilai plus. Tapi Apple juga lagi dipes Uni Eropa lewat Digital Markets Act yang maksa mereka buka ekosistem tertutupnya. Nah, sekarang pertanyaannya masa depan gimana nih? Tahun 2025 sampai 2026 kita bakal lihat AI jadi fitur standar kayak kamera di HP bukan lagi barang mewah. Galaxy S25 series yang bakal keluar kuartal pertama 2026 diprediksi punya AI yang jauh lebih monster. Integrasi sama Gemininya Google makin dalam dan banyak fitur jalan langsung di HP tanpa internet. Tapi siap-siap aja Samsung mungkin mulai narik bayaran buat fitur AI premium mulai 2026. Enggak ada makan siang gratis, Bro. Apple dengan iOS 18,4 dan seterusnya bakal ngeluncurin siri 2,0 yang benar-benar beda. AI bakal ada di semua barang mereka. iPhone, iPad, Mac, bahkan Vision Pro. Mereka juga udah gandengan sama chat GPT, jadi makin pintar. Fokus mereka jelas, AI buat produktivitas kerja, kesehatan, sama edukasi. Pasarnya sendiri, AI bakal jadi hal biasa. Persaingan bakal geser. Bukan AI mana yang paling canggih di kertas, tapi AI mana yang beneran berguna. User mulai pintar bedain mana AI gimik alias tipu-tipu marketing, mana AI yang beneran bikin hidup enteng. Kalau kita terawang 3 sampai 4 tahun ke depan, tahun 2027 sampai 2028 bakal ada perubahan besar cara kita pakai HP. Kita bakal lebih jarang nyentuh layar suara dan AI agent yang bakal ngerjain banyak hal. Bayangin lo cuma ngomong, cariin tiket ke Bali minggu depan yang paling murah, terus bookingin hotel sekalian dan AI langsung lakuin semuanya. Nyari bandingin booking, masukin kalender. Smartphone jadi pusat komando yang ngontrol hidup digital kita. Samsung mungkin bakal bikin otak AI sendiri atau beli startup AI biar enggak terus-terusan disetir sama Google. AI mereka bakal belajar kebiasaan lo sampai ke akar-akarnya. Apple AI bakal jadi inti dari iOS, bukan lagi fitur tempelan. Siri bukan lagi asisten, tapi jadi OS itu sendiri. Semua aplikasi bakal bertenaga AI. Mereka mungkin bakal bikin paket langganan Apple One Plus Apple Intelligence jadi satu. Bayar lagi, bayar terus. Kompetisinya ini bukan lagi Samsung lawan Apple. Ini ekosistem Apple lawan ekosistem Google. Samsung ada di dalam perahu Google kecuali mereka nekat pisah. Tapi susah banget karena mereka pakai Android. Kalau kita lihat lebih jauh lagi tahun 2030, pertanyaan besarnya emang smartphone masih ada? Ada dua skenario nih. Skenario pertama smartphone berevolusi. Layar lipat gulung transparan, ARVR nyatu. AI jadi otaknya, HP jadi badannya. masih jadi pusat tapi bentuknya aneh-aneh. Skenario kedua, smartphone digantiin kacamata AR kayak Apple Vision Meta atau Samsung, Wearable Spinter earphone AI atau malah cip tanam. Ambient computing di mana AI ada di sekeliling kita, enggak butuh alat khusus buat dipegang. Samsung versus Apple di masa depan Apple bakal nge-push Vision Pro dan wearable AI gila-gilaan. Samsung bakal nyebar ke TV AI, kulkas AI, mesin cuci AI, bahkan mobil. Siapa yang bisa adaptasi lebih cepat, dia yang menang. Tapi buat jangka pendek, minimal 10 tahun ke depan smartphone masih bakal ada di kantong kita. Dan AI adalah penentu siapa yang bakal jadi raja. Tapi ingat, ada risiko yang ngintip. Regulasi AI kayak EU AI atau aturan dari Amerika bisa ngubah segalanya dalam semalam. Ada juga reaksi balik soal privasi, orang takut dimata-matai AI tiap detik. Terus masalah AI hallucination di mana AI ngomong ngacau dan bikin orang hilang kepercayaan. Belum lagi cyber security kalau AI di-hack kelar hidup loh. Faktor tak terduga juga banyak. Huawei bisa aja bangkit lagi secara global. Bisa ada teknologi baru kayak quantum computing yang bikin AI sekarang kelihatan kayak mainan kalkulator atau resesi ekonomi yang bikin orang makin pelit ganti HP. Di akhir semua drama ini, ada satu hal yang harus kita ingat baik-baik. Perang antara Samsung dan Apple ini enggak pernah cuma soal angka penjualan, market share, atau teknologi dewa. Ini soal siapa yang paling paham apa sih yang benar-benar dibutuhin manusia. Apakah teknologi ini beneran bikin hidup lebih mudah atau cuma nambah ribet? AI bukan tujuan akhir, Bro. AI itu cuma alat kayak obeng atau palu. Pertanyaannya bukan AI siapa yang lebih kuat, tapi AI siapa yang lebih berguna buat gue. Dan di dunia yang makin ruwet ini mungkin jawabannya bukan item putih lagi. Mungkin Samsung dan Apple sama-sama benar. Cuma benar buat orang yang beda di waktu yang beda. Pada akhirnya yang menang bukan yang punya teknologi paling canggih sedunia. Yang menang adalah yang bisa bikin hidup lo rakyat jelata kayak kita jadi lebih baik, lebih enteng, dan lebih happy sedikit setiap harinya. Dan itulah pertunjukan yang bakal terus kita tonton sambil makan gorengan di tahun-tahun mendatang.