Transcript
1BrkNV4Z_Ko • Kenapa Bisnis "Orang Mati" di Korea Justru Bangkrut?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0026_1BrkNV4Z_Ko.txt
Kind: captions Language: id Oke, coba kita pakai logika pedagang kaki lima atau pebisnis paling dasar deh. Harusnya bisnis pemakaman itu adalah satu-satunya bisnis di dunia yang anti rugi, anti bangkrut, dan anti mati. Kenapa? Simpel, Bos. Orang bisa nunda beli rumah karena KPR ditolak. Orang bisa nunda nikah karena modal belum kumpul. Orang bahkan bisa nunda ke dokter walau badan udah greges-greges demi hemat BPJS. Tapi mati. Enggak ada ceritanya orang bisa nunda itu. Mau lu Sultan, mau lu Sobat Miss Queen, cepat atau lambat lo bakal check out dari dunia ini. Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Dan pas momen itu kejadian pasti butuh pemakaman. Enggak ada opsi skip atau remind me later. Makanya selama puluhan tahun orang-orang percaya kalau bisnis rumah duka itu adalah investasi paling aman sentosa di muka bumi. Ekonomi mau nyungsep, krisis moneter, orang tetap meninggal. Perang dunia atau damai sentosa, orang tetap meninggal. Logikanya, rumah duka itu mesin pencetak duit yang enggak ada tombol off-nya. Tapi plot twist-nya ada di Korea Selatan. Di sana logika bisnis abadi ini hancur lebur sehancur hati lo pas lihat mantan nikah duluan. Bayangin tahun 2024 kemarin hampir 360.000 orang meninggal di Korea. Ini rekor tertinggi sepanjang sejarah negeri ginseng itu. Hampir 1000 orang lewat setiap harinya. Korea ini kan emang salah satu negara yang penduduknya menua paling ngebut sedunia. Orang tua makin banyak, bayi yang lahir makin dikit. Otomatis angka kematian bakal naik terus kayak tagihan paylighter lo yang enggak lunas-lunas. Nah, pakai logika bodoh aja harusnya rumah duka di sana lagi panen raya dong. Jadwal full book, waiting list cuan mengalir deras. Tapi kenyataannya justru kebalikannya, Bro. Satu persatu rumah duka di sana malah gulung tikar. Bukan cuma rumah duka ecek-ecek di pinggir jalan, tapi rumah duka yang nempel sama rumah sakit gede pun ikutan tewas. Tahun 2025 nanti, rumah duka di Rumah Sakit Universitas Jeju resmi tutup buku setelah 16 tahun beroperasi. Padahal tempat ini ngurusin sekitar 500 pemakaman tiap tahun. Hampir tiap hari ada jenazah masuk, tapi tetap aja mereka angkat tangan enggak sanggup bertahan hidup. Orang Korea sendiri pada bengong, media bingung, profesor di kampus diskusi. Netizen bertanya-tanya, "Kok bisa? Pasarnya dalam tanda kutip orang mati makin banyak tapi tempat bisnisnya malah mati duluan. Aneh bin ajaib kan? Jawabannya bukan karena harga bunga atau peti mati tiba-tiba melambung tinggi. Bukan. Yang berubah itu mindset manusianya. Cara orang mandang kematian, cara orang berinteraksi, sama cara orang ngelihat apa itu tanggung jawab sosial udah beda total. Biar lo paham, kita harus flashback dulu ke gimana sih gaya pemakaman Korea selama puluhan tahun ini. Tradisinya tuh pemakaman di sana durasinya 3 hari. Jenazah ditaruh di ruang duka rumah sakit. Di situ ada foto almarhum, meja tamu, buku tamu, dan keluarga yang jaga stand alias begadang hampir enggak tidur-tidur. Tamu datang sili berganti kayak antrean sembakau. Mulai dari keluarga dekat, kerabat jauh yang lo lupa namanya, teman SD, rekan kerja, bos galak, anak buah, sampai kenalan yang udah bertahun-tahun cuma jadi pajangan di kontak HP. Datang melayat di sana itu bukan cuma soal empati atau sedih-sedihan. Itu kewajiban sosial, Bos. Kalau bos lu meninggal, lu wajib setor muka. Kalau teman satu tim meninggal, satu divisi berangkat. Kalau saudara jauh meninggal, tetap harus nongol walaupun lo enggak dekat. Ini bukan soal perasaan. Ini soal muka dan ngejaga koneksi. Nah, habis lo nunduk hormat, nulis nama di buku tamu, terus nyerahin amplop putih. Dan ini yang penting. Tamu bakal disuruh duduk terus makan. Menunya standar sup daging pedas atau yuga jang, nasi lauk pauk sama minum. Lo makan sambil ngobrol sambil nunggu tamu lain. Suasananya enggak melulus sururam nangis-nangis, kadang malah jadi ajang reuni kecil-kecilan. Di sinilah letak rahasia dapur bisnisnya yang banyak orang enggak sadar. Rumah duka itu hidupnya bukan dari rasa sedih loh, tapi dari keramaian loh. Cuan utama rumah duka di Korea itu bukan dari sewa ruangannya. Sewa ruangan mah receh. Duit gedenya datang dari makanan dan minuman. Setiap tamu yang datang hampir pasti makan. Dan setiap porsi makanan itu margin keuntungannya gila-gilaan. Bisa bikin restoran bintang lima minder. Hitung-hitungannya gini, rata-rata satu tamu itu ngabisin sekitar Rp240.000 sampai Rp360.000 buat makan doang. Dalam satu pemakaman tradisional yang ramai, tamunya bisa Rp150 orang bahkan lebih. Coba kita kalkulator bebek. 150 orang dikali 300.000 perak. Hasilnya Rp45 juta, Bos. Itu baru sehari loh pemakaman kan 3 hari. Jadi total omzet dari makanan doang bisa tembus 100 sampai Rp10 juta buat satu acara kematian. Bandingin sama biaya sewa ruang dukanya paling cuma Rp600.000 sampai R1,2 juta per hari. Murah banget, kan? Jadi, ruang duka itu sebenarnya cuma pancingan buat ngumpulin massa. Begitu orang ngumpul dan lapar, mesin kasir bunyi. Margin keuntungan jualan makanan di rumah duka Rumah Sakit Nasional itu rata-rata 82%. Bayangin makanan yang modalnya mungkin cuma R juta dijual hampir R juta. Gila enggak tuh? Rumah Sakit Universitas Nasional Soul aja dalam 3 tahun bisa ngeruk pendapatan sekitar Rp720 miliar dari bisnis ini. Angka yang fantastis buat sesuatu yang sering kita anggap sebagai bertahun-tahun model bisnis jualan makanan di acara orang mati ini jalan mulus kayak jalan tol. Enggak ada yang protes. Keluarga yang berduka ngerasa wah banyak yang datang terhibur. Tamu ngerasa udah gugurin kewajiban. Rumah duka dapat cuan. Semua happy kalau bisa dibilang gitu. Terus datanglah si perusak suasana COVID-19 dan keseimbangan itu langsung ambyar. Pas pandemi nyerang, pemerintah Korea bikin aturan ketat. Enggak boleh ramai-ramai. Makanan enggak boleh disajiin prasmanan. Waktu pemakaman dipotong jadi singkat. Banyak keluarga dipaksa bikin pemakaman kilat sederhana dan sepi. Enggak ada lagi tuh acara makan-makan reuni sambil ketawa-ketiwi. Enggak ada lagi duduk berjam-jam. Awalnya orang mikir, "Ah, ini kan darurat doang. Nanti kalau pandemi kelar balik normal lagiah. Tapi namanya manusia kita ini makhluk yang paling cepat adaptasi sama kenyamanan. Dan setelah adaptasi malas banget buat balik ke cara lama yang ribet. Begitu COVID mereda, orang-orang enggak balik lagi ke kebiasaan melayat yang heboh itu. Dari yang biasanya datang 150 orang, sekarang yang nongol paling cuma 30 sampai 50 orang. Malah ada pemakaman yang cuma dihadiri keluarga inti doang, kurang dari 10 orang. Buat keluarga yang ditinggalkan ini rasanya lebih zen, lebih tenang, lebih privat, enggak capek ngeladenin orang, enggak capek pura-pura kuat. Tapi buat rumah duka ini kiamat, Bro. Bayangin kalau tamu turun dari 150 jadi cuma 30 biji. Pemasukan dari makanan terjun bebas dari R00 juta jadi cuma 20 juta perak. Padahal biaya operasional kayak listrik, gaji karyawan, perawatan gedung itu enggak bisa didiskon. Staf tetap harus digaji, dapur tetap harus ngebul. Dalam kondisi kayak gini, setiap ada pemakaman, rumah duka malah mendekati boncos. Tapi sebenarnya pandemi itu cuma katalis alias yang mempercepat doang. Masalah aslinya udah ada dari dulu, yaitu struktur sosial yang berubah. Keluarga Korea sekarang beda banget sama dulu. Dulu satu orang meninggal, satu kampung keluarga besar datang. Sekarang keluarga inti rata-rata cuma tiga atau empat orang. Hubungan sama sepupu atau paman jauh udah kayak orang asing. Boro-boro dekat, kenal mukanya aja mungkin enggak. Hubungan kerja juga sama. Orang sekarang hobi tuh loncat alias pindah-pindah kerja. Ikatan emosional sama teman kantor itu dangkal banget. Begitu dengar kabar teman kantor meninggal, banyak yang milih opsi praktis. Transfer uang duka. Sekarang kan udah canggih, ada fitur amplop digital khusus belah Sungkawa. Tinggal klik, masukin nominal, kirim, beres. Secara sosial itu udah dianggap sopan. Yang penting cuannya nyampe, Bro. Faktor waktu juga ngaruh banget. Datang melayat itu butuh effort, Bos. Harus izin kerja setengah hari, kadang seharian kena macet, keluar ongkos bensin atau taksi, belum lagi capek hati. Banyak orang sebenarnya niatnya baik, tapi tenaganya yang udah habis digilas kerjaan. Generasi muda di sana juga mulai kritis. Mereka mikir, ngapain sih kita ritual kaku gini? Duduk lama makan sup nunduk-nunduk doang. Apa faedahnya buat ngenang almarhum? Mereka ngerasa itu cuman formalitas kosong. Dari sinilah muncul tren baru yang dulu haram banget dipikirin. Pemakaman tanpa ruang duka. Di Korea ini artinya keluarga benar-benar enggak buka lapak buat nerima tamu. Enggak ada buku tamu, enggak ada katering, enggak ada acara 3 hari 3 malam. Jenazah cuma disimpan sementara di kamar pendingin, terus langsung dibawa kremasi. Prosesnya satset, tenang, dan yang paling penting murah meriah. Coba bandingin biayanya. Pemakaman tradisional di Korea rata-rata habis sekitar Rp16 juta. Kadang bisa bengkak sampai Rp240 juta kalau gengsinya gede. Nah, pemakaman tanpa ruang duka ini cuma butuh sekitar 24 sampai Rp36 juta. Jauh banget kan bedanya? Selisihnya bisa buat DP, apartemen, atau beli mobil scan. Setelah orang sadar ada opsi hemat ini, banyak yang ogaah balik ke cara lama. Kata penyedia jasa pemakaman di sana, sekarang sekitar 30% klien milih opsi. Paket hemat tanpa ruang duka ini dan angkanya naik terus setiap tahun. Tapi di balik efisiensi ini, ada sisi gelap yang bikin merinding. Makin banyak orang yang meninggal tanpa ada yang benar-benar ngurusin. Tahun 2019, jumlah kematian tanpa keluarga alias jenazah terlantar di Korea itu sekitar 434 orang. Tahun 2022 angkanya loncat jadi lebih dari 1100 orang. Naik 2 seteng kali lipat cuma dalam 3 tahun. Banyak dari mereka sebenarnya punya keluarga, tapi hubungannya udah putus. Atau lebih parah lagi, keluarganya nolak ngambil jenazahnya karena enggak punya duit buat bayar biaya pemakaman. Miris, kan? Di titik inilah kita sadar gambaran besarnya. Industri pemakaman Korea itu runtuh bukan karena orang berhenti mati. Bisnis ini runtuh karena manusia berhenti berkumpul. Masalahnya bukan di rumah dukanya, bukan juga di angka kematiannya. Masalahnya ada di manusianya yang makin bingung harus bersikap gimana pas ngadapin kematian orang lain. Dulu kematian itu urusan gotongroyong. Satu orang meninggal, satu komunitas gerak. Tetangga, kerabat, temen nongkrong, semua datang. Orang yang enggak dekat-dekat amat pun ngerasa punya beban moral buat nongol. Kehadiran fisik itu pesannya jelas. Lu enggak sendirian, Bro? Sekarang pesan itu pelan-pelan hilang. Ghosting dari kehidupan sosial kita. Di Korea banyak warga yang mulai ngerasa capek mental alias burnout kalau harus ngurus pemakaman tradisional. Bukan karena mereka enggak sedih ditinggal mati, tapi karena mereka harus sandiwara sosial di tengah duka. Bayangin lagi sedih-sedihnya lo harus nyambut tamu, bungkuk ratusan kali, bilang makasih kayak robot sambil nahan nangis. Buat generasi tua ini wajar, tapi buat anak muda ini nyiksa dan rasanya palsu banget. Ada satu cerita viral dari pekerja rumah duka. Ada pria umur 40-an. Tajir duit bukan masalah. Pas bapaknya meninggal, dia ditanya, "Mau buka ruang duka 3 hari enggak?" Dia nolak mentah-mentah. Alasannya simpel tapi ngena. Dia enggak tega lihat ibunya yang udah tua harus duduk berjam-jam nyalamin orang asing yang bahkan ibunya enggak kenal. Dia juga malas harus pura-pura tegar di depan puluhan orang. Akhirnya dia pilih pemakaman tanpa ruang duka. Cuma keluarga inti, enggak ada makan-makan, sepi. Buat dia. Justru itu cara paling manusiawi buat ngucapin selamat tinggal tanpa drama, tanpa topeng. Cerita kayak gini makin sering kejadian. Dan inilah yang bikin rumah duka mati kutuh. Model bisnis mereka kan dibangun di atas asumsi orang pasti datang. Eh, asumsinya runtuh, orang pada mager. Di sisi lain, generasi tua di Korea bingung dan sedih. Mereka ngerasa kehilangan nilai luhur buat mereka. Pemakaman yang sepi itu rasanya dingin, enggak sopan kayak ngebuang sampah. Mereka nanya, "Anak-anak zaman now udah enggak punya hati ya? Terjadilah benturan antar generasi. Yang tua lihat pemakaman sebagai ritual sosial wajib. Yang muda lihatnya sebagai beban mental dan finansial yang enggak perlu. Dan jangan lupa, ujung-ujungnya duit selalu jadi raja. Di Korea biaya pemakaman tradisional bisa tembus Rp200 juta. Buat kelas menengah yang gaji pas-pasan, ini angka yang bikin jantungan. Apalagi kalau almarhum enggak ninggalin warisan atau tabungan khusus. Banyak keluarga yang terpaksa gesek kartu kredit sampai limit atau pinjam duit sana sini. Demi apa? Demi kepantasan. Demi enggak diomongin orang. Setelah pandemi membuka mata mereka, banyak orang mulai mikir, "Emang perlu ya buang duit segitu banyak? Pas mereka tahu bisa hemat lebih dari 100 juta cuma dengan enggak nyewa ruang duka, pilihan itu jadi sangat masuk akal secara ekonomi. Dan begitu pilihan rasional ini jadi hal yang lumrah. Industri lama langsung goyah, kehilangan pijakan. Rumah duka nyoba segala cara buat survive. Ada yang pecat karyawan, ada yang kurangin servis, ada yang banting harga. Tapi masalahnya bukan di harga paket, Bos. Masalahnya di struktur bisnisnya. Selama mereka ngarepin untung dari jualan makanan ke tamu, selama itu juga mereka gantungin nasib ke keramaian. Dan keramaian itu udah logout, enggak balik lagi. Beberapa rumah duka nyoba strategi lain menyasar para sultan. Mereka ubah ruang duka jadi kayak hotel bintang lima. Ada ruang privat luas, sofa empuk, lampu syahdu, makanan ala restoran mewah. Targetnya keluarga super kaya alias Crazy Rich Koreans. Biayanya bisa Rp600 juta sampai Rp1,2 miliar. Tapi ini solusi buat segelintir tempat doang. Kebanyakan rumah duka enggak punya modal buat renovasi jadi hotel kematian. Mereka kejebak di tengah-tengah alias middle income trap versi bisnis mayat. Mau saingan harga sama pemakaman minimalis kalah murah. Mau ngincer orang kaya fasilitasnya kalah mewah. Di sinilah kenyataan pahitnya. Kelas menengah lagi-lagi jadi korban. Mereka terlalu miskin buat pemakaman ala sultan. Tapi gengsinya terlalu tinggi buat pemakaman super sederhana ala kaum Papa. Dan karena jumlah kelas menengah ini paling banyak, begitu mereka cabut dari sistem lama, sistemnya ambruk. Ada lagi sisi gelap yang jarang diomongin keras-keras tapi makin nyata. Kematian yang benar-benar sendirian alias lonely death. Di Korea makin banyak orang meninggal tanpa satuun keluarga yang nongol. Beberapa ditemuin di apartemen sempit udah jadi mayat berhari-hari. Pas dibawa ke rumah sakit, enggak ada yang jemput, enggak ada yang mau nanggung biayanya. keluarganya nolak ngambil jenazahnya karena enggak punya duit buat bayar biaya pemakaman. Pemerintah akhirnya turun tangan. Pemakaman diurus negara seadanya. Enggak ada keluarga, enggak ada upacara, enggak ada kenangan manis. Cuma prosedur administrasi biar tubuh manusia bisa balik ke tanah atau jadi abu. Selesai. Fenomena ini nampar kita banget. Kris pemakaman ini sebenarnya adalah krisis hubungan antar manusia. Masalahnya bukan di rumah dukanya, bukan juga di angka kematiannya. Masalahnya ada di manusianya yang makin bingung harus bersikap gimana pas ngadepin kematian orang lain. Dulu kematian itu urusan gotongroyong. Satu orang meninggal, satu komunitas gerak. Tetangga, kerabat, teman nongkrong, semua datang. Orang yang enggak dekat-dekat amat pun ngerasa punya beban moral buat nongol. Kehadiran fisik itu pesannya jelas. Di Korea banyak keluarga yang mulai ngerasa capek mental alias bayangin lagi sedih-sedihnya lu harus nyambut tamu, bungkuk ratusan kali, bilang makasih kayak robot sambil nahan nangis. Buat generasi tua ini wajar, tapi buat anak muda ini nyiksa dan rasanya palsu banget. Ada satu cerita viral dari pekerja rumah duka. Ada pria umur 40-an tajir, duit bukan masalah. Pas bapaknya meninggal, dia ditanya mau buka ruang duka 3 hari enggak. Dia nolak mentah-mentah. Alasannya simpel tapi ngena. Dia enggak tega lihat ibunya yang udah tua harus duduk berjam-jam nyalamin orang asing yang bahkan ibunya enggak kenal. Dia juga malas harus pura-pura tegar di depan puluhan orang. Akhirnya dia pilih pemakaman tanpa ruang duk. Cuma keluarga inti. Enggak ada makan-makan sepi. Buat dia, justru itu cara paling manusiawi buat ngucapin selamat tinggal. Tanpa drama, tanpa topeng, cerita kayak gini makin sering kejadian. Dan inilah yang bikin rumah duka mati kutuh. Model bisnis mereka kan dibangun di atas asumsi orang pasti datang. Eh, asumsinya runtuh, orang pada mager. Di sisi lain, generasi tua di Korea bingung dan sedih. Mereka ngerasa kehilangan nilai luhur. Buat mereka, pemakaman yang sepi itu rasanya dingin, enggak sopan kayak ngebuang sampah. Mereka nanya, "Anak-anak zaman now udah enggak punya hati ya? Terjadilah benturan antar generasi." Yang tua lihat pemakaman sebagai ritual sosial wajib. yang mudah lihatnya sebagai beban mental dan finansial yang enggak perlu. Dan jangan lupa, ujung-ujungnya duit selalu jadi raja. Di Korea, biaya pemakaman tradisional bisa tembus Rp200 juta. Buat kelas menengah yang gaji pas-pasan, ini angka yang bikin jantungan. Apalagi kalau almarhum enggak ninggalin warisan atau tabungan khusus. Banyak keluarga yang terpaksa gesek kartu kredit sampai limit atau pinjam duit sana sini. Demi apa? Demi kepantasan. Demi enggak diomongin orang. Setelah pandemi membuka mata mereka, banyak orang mulai mikir, emang perlu ya buang duit segitu banyak? Pas mereka tahu bisa hemat lebih dari 100 juta cuma dengan enggak nyewa ruang duka, pilihan itu jadi sangat masuk akal secara ekonomi. Dan begitu pilihan rasional ini jadi hal yang lumrah, industri lama langsung goyah kehilangan pijakan, rumah duka nyoba segala cara buat survive. Ya, ada yang pecat karyawan, ada yang kurangin servis, ada yang banting harga. Tapi masalahnya bukan di harga paket, Bos. Masalahnya di struktur bisnisnya. Selama mereka ngarepin untung dari jualan makanan ke tamu, selama itu juga mereka gantungin nasib ke keramaian. Dan keramaian itu udah logout, enggak balik lagi. Beberapa rumah duka nyoba strategi lain menyasar para sultan. Mereka ubah ruang duka jadi kayak hotel bintang lima. Ada ruang privat luas, sofa empuk, lampu syahdu, makanan ala restoran mewah. targetnya keluarga super kaya alias Crazy Rich Koreans. Biayanya bisa R00 juta sampai Rp1,2 miliar. Tapi ini solusi buat segelintir tempat doang. Kebanyakan rumah duka enggak punya modal buat renovasi jadi hotel kematian. Mereka kejebak di tengah-tengah alias middle income trap versi bisnis mayat. Mau saingan harga sama pemakaman minimalis kalah murah. Mau ngincer orang kaya fasilitasnya kalah mewah. Di sinilah kenyataan pahitnya. kelas menengah lagi-lagi jadi korban. Mereka terlalu miskin buat pemakaman ala Sultan, tapi gengsinya terlalu tinggi buat pemakaman super sederhana ala kaum Papa. Dan karena jumlah kelas menengah ini paling banyak, begitu mereka cabut dari sistem lama, sistemnya ambruk. Ada lagi sisi gelap yang jarang diomongin keras-keras, tapi makin nyata. Kematian yang benar-benar sendirian alias lonely death. Di Korea makin banyak orang meninggal tanpa satuun keluarga yang nongol. beberapa ditemuin di apartemen sempit udah jadi mayat berhari-hari. Pas dibawa ke rumah sakit enggak ada yang jemput, enggak ada yang mau nanggung biayanya. Keluarganya nolak ngambil jenazahnya karena enggak punya duit buat bayar biaya pemakaman. Pemerintah akhirnya turun tangan. Pemakaman diurus negara seadanya. Enggak ada keluarga, enggak ada upacara, enggak ada kenangan manis. Cuma prosedur administrasi biar tubuh manusia bisa balik ke tanah atau jadi abu. Selesai. Fenomena ini nampar kita banget. Kris pemakaman ini sebenarnya adalah krisis hubungan antar manusia. Nah, sekarang pertanyaannya, apakah drama ini cuma milik Korea? Jawabannya, yakin loh. Coba nengok kiri kanan. Kalau kita geser pandangan ke Indonesia, tanda-tandanya udah mulai kerasa familiar banget. Kayak lagu lama yang diremang terkenal sama budaya gotongroyongnya. Ada yang meninggal, tetangga langsung pasang tenda. Ibu-ibu masak di dapur umum. Bapak-apa ngopi sambil nemenin keluarga berduka. Tapi jujur-jujuran aja deh perubahannya udah mulai kerasa kan. Di kota besar kayak Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, pemakaman enggak sesimpel dulu. Orang tinggal di perumahan kluster tertutup, apartemen, atau ngekos. Hubungan sama tetangga boro-boro akrab kadang cuma kenal muka. Pas ada kabar duka yang datang seringkiali cuma keluarga dekat sama beberapa tetangga yang emang rajin aja. Biaya pemakaman di Indonesia juga enggak murah, Bro. Buat standar kota besar, sewa tenda, kursi, catering, dan pritilan lainnya bisa gampang banget tembus 30 sampai R juta. Itu belum termasuk harga tanah makam. Kalau di San Diego Hills ya beda lagi ceritanya. Atau biaya kremasi yang bisa puluhan juta. Buat keluarga kelas menengah, ini beban gajah. Banyak yang terpaksa minjam duit, jual aset, atau bobol tabungan darurat. Dan lagi-lagi semua ini seringkiali dilakuin demi satu kata keramat gengsi. Takut dibilang pelit sama mayat, takut diomongin tetangga. Pemakaman cepat, sederhana, tamu dikit. Dan kayak di Korea banyak yang diam-diam ngebatin. Di sinilah kita mulai ngintip masa depan. Indonesia emang masih di babak awal, tapi alur ceritanya mirip. Urbanisasi, keluarga makin kecil, hubungan sosial makin longgar, tekanan biaya hidup makin gila, dan anak muda yang mulai nanya. Itu kayak cermin masa depan yang lagi jalan mendekat ke arah kita. Pertanyaan besarnya, Indonesia bakal belajar dari spoiler ini atau malah ng-replay kesalahan yang sama sampai telat? Banyak yang masih denial, "Ah, di sini kan beda. Kita punya budaya, kumpul, tahlilan, tetangga, kepo, tapi peduli." Benar enggak salah. Tapi masalahnya bukan di niat, tapi di realitas hidup yang berubah pelan-pelan tanpa permisi. Bayangin satu keluarga di Jakarta, ayahnya meninggal mendadak. Rumahnya di komplek biasa, bukan kampung Guyub zaman dulu. Tetangga kenal sih, tapi enggak dekat. Pas kabar duka nyebar emang ada yang bantu, tapi jumlahnya jauh lebih dikit dibanding 10 atau 20 tahun lalu. Enggak ada lagi tuh puluhan orang yang rela begadang semalaman main gaple. Enggak ada lagi arisan kampung yang otomatis gerak nyiapin segalanya. Yang tersisa cuma keluarga inti yang lagi pusing tujuh keliling ngitung biaya. Di kota besar pemakaman itu bukan cuma soal sedih, tapi soal logistik. Sewa tenda bisa 8 sampai R juta. Kursi sama kipas angin biar tamu enggak kepanasan 3 sampai R juta. Konsumsi kalau yang sederhana aja, snackbox plus makan prasmanan bisa 15 sampai R5 juta tergantung jumlah tamu. Belum biaya mandiin jenazah, mobil jenazah, administrasi rumah sakit yang bisa 5 sampai R10 juta. Kalau di tootal pemakaman biasa aja di kota besar dengan 200 sampai 300 pelayat bisa gampang banget nembus R0 sampai Rp60 juta. Buat keluarga yang gajinya UMR atau sedikit di atasnya ini angka seram. Bahkan buat kelas menengah ini tetap bikin dompet nangis darah. Apalagi kalau kematiannya dadakan. Yang menarik banyak keluarga Indonesia sebenarnya dalam hati enggak pengin keluar duit segitu banyak tapi tekanan sosialnya kuat banget, Bos. Tekanan enggak enak sama tetangga, tekanan jaga nama baik keluarga, tekanan buat terlihat mampu di mata orang lain. Meskipun orang lain itu cuma datang 15 menit, makan sate ayam, terus pulang. Di sinilah kemiripannya sama Korea mulai nonjok. Bedanya di Indonesia tekanannya lebih halus, main perasaan. Masa orang tua meninggal enggak dibikinin acara sih, itu kalimat pembunuh. Setelah pandemi, banyak keluarga terpaksa bikin pemakaman sederhana. Tamu dibatasin, makanan dikurangin, acara dipersingkat. Dan setelah semuanya kelar, banyak yang ngomong pelan-pelan sambil ngelus dada lega. Ternyata begini juga enggak dosa kok, yang penting doanya. Kalimat itu bahaya banget buat industri pemakaman lama, tapi melegakan buat banyak dompet keluarga. Karena begitu satu keluarga ngerasa oke-oke aja dengan pemakaman hemat, ceritanya nyebar. Bukan lewat berita TV, tapi lewat gosip arisan, lewat obrolan warung kopi. Dan perubahan budaya paling cepat itu emang lewat pengalaman teman, bukan lewat teori dosen. Esi anu kemarin pemakamannya simpel banget loh, tapi khidmat. Di beberapa kota besar mulai muncul fenomena mirip pemakaman tanpa ruang duka di Korea. Em enggak disebut gitu sih, tapi praktiknya sama. Jenazah disemayamkan bentar di rumah sakit atau rumah duka, terus langsung cus ke makam atau krematorium. Enggak ada tenda biru yang nutupin jalan umum, enggak ada prasmanan heboh, cuma keluarga dan sahabat dekat. biayanya bisa terjun bebas dari Rp50 juta jadi cuma 10 sampai R juta. Buat banyak keluarga, selisih duit ini bukan cuma soal irit, tapi penyelamat hidup buat yang ditinggalin. Tapi ada sisi lain yang perlu kita omongin. Jujur, kalau pemakaman dipermudah, kalau kehadiran fisik dianggap sunah alias enggak wajib, apakah ini bakal bikin hubungan kita makin renggang? Di Indonesia tanda-tandanya udah ada. Banyak orang ngerasa cukup kirim stiker, turut berdukaita di grup WhatsApp, terus transfer duit duka via Curies, kelar urusan. Enggak salah sih, tapi ini ngubah makna hadir. Di Korea, perubahan ini ujung-ujungnya bikin angka kematian sepi melonjak. Di Indonesia belum separah itu, tapi arah anginnya ke sana. Jumlah orang yang tinggal sendirian makin banyak. Urbanisasi misahin anak dari orang tua. Anak kerja di Jakarta, orang tua sendirian di kampung atau kota lain. Kalau suatu hari nanti orang tua itu meninggal sendirian di rumah kontrakan, siapa yang ngurus? Tetangga, Pak RT, atau negara? Ini bukan sinetron azab. Ini pertanyaan realistis. Kita sering ngomongin kematian sebagai takdir, tapi jarang ngomongin gimana sistem sosial kita ngelolanya. Pemakaman bukan cuma tradisi, tapi struktur masyarakat. Kalau strukturnya goyang, tradisinya ya ikut ambruk. Indonesia lagi ada di persimpangan jalan. Di satu sisi kita masih pegang nilai kebersamaan. Di sisi lain, gaya hidup kota maksa kita jadi individualis. Pemakaman jadi titik tabrakan paling keras antara dua nilai ini. Kalau ngikutin pola Korea, ada kemungkinan besar Indonesia juga bakal kebelah jadi dua ekstrem. Di satu sisi, pemakaman super irit, cepat, murah. Di sisi lain, pemakaman super mewah. eksklusif service buat para sultan. Nah, yang di tengah-tengah perlahan punah. Buat keluarga kaya duit bukan masalah. Mereka bisa bayar ratusan juta buat pemakaman yang instagramable. Buat keluarga miskin pilihan emang terbatas. Tapi buat kelas menengah pilihan makin sulit. Mereka harus milih antara jaga gengsi atau jaga duit buat biaya hidup anak istri yang masih napas. Dan mungkin inilah pertanyaan paling nusuk. Sebenarnya pemakaman itu buat siapa sih? buat yang meninggal atau buat showof yang masih hidup. Di Korea banyak yang udah jawab, "Buat yang masih hidup tapi cuma keluarga aja, orang lain enggak usah kepo. Di Indonesia jawabannya masih abu-abu, tapi arahnya mulai kelihatan." Mungkin di masa depan pemakaman di sini enggak lagi jadi festival sosial. Mungkin bakal jadi momen privat, sunyi, tapi lebih jujur. Atau mungkin kita nemu jalan tengah ala Indonesia yang enggak mahal-mahal amat, enggak sepi-sepi amat, tapi tetap dapat feel-nya. Satu hal yang pasti cerita Korea itu peringatan halus bahwa ketika masyarakat berubah, cara kita mandang kematian juga berubah. Dan industri yang telat mikir bakal ketinggalan kereta. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apa ini bakal kejadian di Indonesia, tapi kapan dan seberapa siap kita? Kalau kita tarik napas bentar dan lihat big picture-nya, sebenarnya kita lagi nyaksiin perubahan yang sunyi banget. Enggak ada demo di bundaran HI, enggak ada debat kusir di TV, tapi dampaknya pelan-pelan masuk ke ruang tamu setiap rumah. Perubahan itu adalah cara manusia memaknai kematian. Dulu kematian itu ramai. Banyak orang, banyak suara, banyak ritual. Sekarang kematian mulai jadi sepi. Bukan karena orang jahat atau enggak peduli, tapi karena hidup udah terlalu padat, terlalu cepat, dan terlalu mahal. Bos, di Korea sepinya kematian datang duluan. Indonesia masih punya waktu injury time, tapi sinyalnya udah nyala merah di mana-mana. Coba jujur ke diri sendiri. Kapan terakhir kali lo datang melayat? Bukan karena enggak enak, tapi karena benar-benar pengen hadir. Bukan karena takut dicoret dari kakak, tapi karena empati. Banyak dari kita mulai nghindarin pemakaman bukan karena enggak punya hati, tapi karena capek mental. Pakai baju hitam, macet-macetan, duduk lama, basa-basi busuk. Gimana kronologinya? Makan soto tanpa selera, terus pulang dengan perasaan kosong. Buat Genzi dan Milenial, semua itu rasanya makin enggak relevan. Mereka nanya dalam hati, "Apa sih makna semua sandiwara ini?" Pertanyaan itu valid, tapi kalau enggak dijawab, hati-hati bisa menggerus rasa koneksi kita sebagai manusia. Di Indonesia, pemakaman itu salah satu momen langka di mana semua lapisan masyarakat ketemu. Tukang bakso bisa duduk sebelah manajer bank, tetangga yang musuhan bisa salaman. Saudara jauh bisa saling nanya kabar. Tapi kalau pemakaman dipersempit jadi urusan keluarga inti doang, momen magic itu bakal hilang. Masalahnya kita juga enggak bisa tutup mata sama realitas dompet. Buat keluarga dengan gaji 5 sampai 7 juta sebulan, biaya pemakaman R juta, itu artinya tabungan bertahun-tahun hangus dalam semalam. Dan habis pemakaman kelar, hidupkan tetap jalan. Anak butuh bayar sekolah, token listrik bunyi, cicilan motor nagih, duka belum sembuh, dep collector, atau minimal tagihan udah datang. Dalam situasi gini, milih pemakaman sederhana itu bukan soal enggak hormat sama almarhum, tapi soal survival alias bertahan hidup. Di titik inilah Indonesia beda dikit, tapi mirip sama Korea. Di Korea, tekanan sosial runtuhnya cepat banget. Di Indonesia tekanan itu masih ada tapi mulai retak. Retaknya pelan-pelan lewat bisikan. bukan teriakan. Yang penting doanya, yang penting keluarganya ikhlas, yang penting yang hidup bisa lanjut makan. Kalimat-kalimat ini makin sering kedengaran dan ketika kalimat ini jadi normal, industri lama bakal makin kehilangan pasar. Kita juga harus bicara masa depan. Jangan cuma hari ini. Jumlah lansia di Indonesia naik terus. Angka kelahiran turun. Rumah tangga satu orang atau single household naik, terutama di kota besar. Anak-anak merantau jauh. Ini bukan ramalan dukun, ini fakta demografi. Artinya apa? Artinya kasus kematian dengan keluarga terbatas bakal makin sering. Risiko kematian tanpa pendamping juga bakal naik walau mungkin enggak seekstrem Korea. Kalau itu kejadian. Pertanyaan besarnya siapa yang tanggung jawab keluarga, tetangga, negara, atau sistem yang belum siap? Kalau kita belajar dari Korea, nunggu sampai krisis kejadian, itu pilihan paling blow on. Rumah duka tutup satu-satu, sistem colapse. Baru orang sadar yang hilang bukan cuma bisnis, tapi makna sosial. Indonesia masih punya kesempatan milih jalan yang lebih balance. Bukan balik ke pemakaman mahal yang nyiksa, tapi juga bukan menuju kematian yang benar-benar sunyi senyap kayak di ruang hampa. Mungkin jawabannya ada di tengah. pemakaman yang sederhana, manusiawi, terjangkau, tapi tetap ngasih ruang buat hadir dan berbagi duka. Tapi buat nyampai ke situ, kita harus berani ngomongin kematian secara jujur. Jangan anggap tabu, jangan anggep pamali, tapi anggep sebagai bagian dari paket hidup. Ironisnya, makin jarang kita ngomongin kematian, makin enggak siap kita pas dia datang. Di Korea, banyak orang tua mulai nulis wasiat bukan karena takut mati, tapi karena takut ngebebanin anaknya. Di Indonesia budaya ini masih jarang, tapi mungkin bakal jadi tren. Bukan karena orang tua jadi dingin, tapi karena mereka peduli sama nasib anaknya. Kalau Bapak meninggal, jangan bikin repot, ya. Enggak usah bikin acara mahal-mahal. Doain aja dari rumah. Kalimat-kalimat kayak gini pelan-pelan mulai kedengaran di ruang keluarga Indonesia. Dan mungkin di masa depan ukuran pemakaman yang baik bukan lagi seberapa banyak karangan bunga yang datang atau seberapa mahal cateringnya, tapi seberapa jujur perpisahan itu terjadi. Ada satu aspek lagi yang jarang kelihatan tapi ngefek banget. Gimana kematian ngubah cara kita hidup. Pas pemakaman jadi beban finansial berat, orang mulai mikirin kematian mereka sendiri lebih awal. Bukan mikir akhirat doang, tapi mikir teknis. Duitnya ada enggak ya? Siapa yang ngurus? Anak gua sanggup enggak? Di Korea muncul fenomena orang tua aktif beli paket pemakaman jauh-jauh hari alias primit. Mereka bayar di muka pas sehat biar anak-anak enggak pusing nanti. Ada yang milih kremasi dari awal, nulis detail mau diurus gimana, bahkan minta tolong jangan bikin acara gede. Ini bukan pesimis, Bos. Ini pragmatis. Fenomena ini juga mulai nongol di Indonesia. Perusahaan asuransi mulai jualan produk khusus biaya pemakaman. Ada layanan prit funeral di mana lo bisa nyicil liang lahat dan paket pemakaman bertahun-tahun sebelum lo mati. Harganya lebih murah karena dicicil dan keluarga enggak perlu bingung cari duit cash pas hari H. Tapi di balik kepraktisan ini ada rasa yang hilang. Kematian yang tadinya momen komunal atau milik bersama berubah jadi transaksi individual. Orang rencanain kematian kayak rencanain liburan ke Bali. Semua udah diatur, udah dibayar lunas. Enggak ada yang perlu direpotin. Kedengarannya efisien banget, tapi juga kedengarannya sepi. Pertanyaannya, ini bagus atau buruk? Jawabannya, enggak, hitam putih. Buat sebagian orang, ini bentuk tanggung jawab. Mereka enggak mau jadi beban buat keluarga. Mereka tahu mahalnya biaya mati, tahu capeknya ngurusin jenazah. Jadi, mereka take control. Tapi buat sebagian lain, ini rasanya kayak mutusin tali ikatan terakhir sama komunitas. Kalau seseorang udah rencanain kematiannya sendiri sampai detail, apa yang tersisa buat orang lain? Apa tetangga masih ngerasa dibutuhin? Apa anak masih ngerasa punya peran bakti terakhir? Di sinilah dilema manusia modern. Kita pengin mandiri tapi pengin ditemenin. Pengin efisien tapi pengin bermakna. Pengin enggak ngerepotin tapi enggak pengin dilupain. Dan kematian maksa kita nelen semua kontradiksi itu sekaligus. Kalau kita zoom in lagi ada pola yang berulang di Korea maupun Indonesia. Kematian bukan lagi milik komunitas, tapi milik keluarga inti. Dan lama-lama keluarga inti pun makin menyusut. Di Korea ada istilah godoksa, kematian kesepian. Orang meninggal sendirian di apartemen enggak ketahuan sampai bau busuk nyebar berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Biasanya lansia yang hidup sendiri enggak punya keluarga dekat atau udah lost contact. Tahun 2023 kasus godoksa di Korea tembus 3.600 kasus. Itu artinya tiap hari rata-rata ada 10 orang mati sendirian tanpa ada yang tahu. Angkanya naik terus. Yang bikin nyesek enggak semua dari mereka itu sebatang kara. Banyak yang punya anak, punya saudara, tapi hubungan udah renggang. Mungkin karena konflik warisan, jarak, atau kesibukan. Pas mereka meninggal enggak ada yang datang ambil jenazah. Pemerintah Korea akhirnya turun tangan bikin program khusus. Negara yang ngurus, negara yang bayar kremasi. Enggak ada doa, enggak ada air mata, cuma administrasi. Kalau lu pikir ini cuma masalah Korea, lu salah besar. Di Indonesia fenomena serupa mulai muncul walau skalanya belum segila itu. Di Jakarta, Surabaya, kota besar lain mulai ada laporan lansia meninggal di kontrakan atau kos-kosan. Baru ketahuan pas tetangga nyium bau enggak sedap. Belum ada data nasional lengkap, tapi Pak RT dan kelurahan di beberapa wilayah sudah mulai lapor tren seram. Ini lansia makin banyak tinggal sendiri, yang nengokin makin dikit. Pas mereka meninggal, prosesnya jadi ribet. Siapa yang ambil keputusan? Siapa yang bayar? Kalau keluarga enggak bisa dihubungin atau nolak ngurus, pemda harus turun tangan. Tapi enggak semua daerah punya anggaran atau SOP. Jelas. Akibatnya banyak jenazah ketahan di kamar mayat nunggu keputusan yang enggak datang-datang. Ini bukan cerita horor fiksi. Ini realitas yang lagi menggelinding kayak bola salju. Dan ironisnya ini kejadian di masyarakat yang katanya guyup rukun. Tapi guyub itu cuma fungsi kalau ada komunitas yang saling kenal. Kalau lo hidup di apartemen lantai 25, kerja remote, belanja online, jarang keluar, siapa yang bakal tahu kalau lo meninggal? Teknologi juga ngubah segalanya, tapi enggak selalu ke arah positif. Dulu kalau tetangga enggak kelihatan 2 hari, orang langsung gedor pintu. Sekarang orang bisa hidup berbulan-bulan tanpa ketemu fisik sama siapapun. belanja online, kerja online, ngobrol online. Kehadiran fisik bukan lagi tanda kehidupan. Di Korea ada aplikasi buat lansia yang hidup sendiri. Mereka harus checkin di aplikasi tiap hari. Kalau enggak, klik tombol sistem ngirim notifikasi bahaya ke petugas sosial. Canggih sih, tapi sedih banget dengarnya. Seseorang harus buktiin dia masih hidup lewat klik tombol di HP. Indonesia belum sampai situ, tapi kita on the way. Lansia makin banyak, anak makin jauh, hubungan tetangga makin loose. Tapi ada satu perbedaan mendasar yang mungkin bisa nyelamatin Indonesia dari nasib copy paste Korea. Kultur kita soal bakti anak ke orang tua masih lumayan kuat. Di Indonesia masih ada ekspektasi sosial kalau anak wajib ngurus orang tua. Walau kerja jauh, walau sibuk, walau gaji pas-pasan, ninggalin orang tua sendirian sampai mati itu masih dianggap dosa besar. dan aib sosial. Tapi kultur ini juga lagi diuji. Generasi muda makin realistis. Mereka tahu ngurus orang tua sambil kerja full time, sambil ngurus anak sendiri sambil bayar KPR itu misi yang hampir mustahil alias Mission Impossible. Banyak yang ngasa bersalah tapi juga kewalahan. Muncullah solusi tengah. Panti jompo yang sekarang namanya Senior Living Biar Keren yang dulu dianggap membuang orang tua sekarang mulai diterima sebagai pilihan logis. Perawat lansia, home care daycare lansia, semua mulai tumbuh. Tapi ya itu semua butuh duit. Balik lagi ke masalah kelas menengah yang kejepit. Enggak kaya buat sewa perawat full time atau masukin ke senior living mewah, tapi enggak bisa berhenti kerja buat ngurus sendiri. Akhirnya ngelakuin sebisanya yang seringkiali enggak cukup. Dan pas orang tua meninggal, rasa bersalah itu meledak dua kali lipat. Ngerasa gagal jadi anak. Ngerasa harusnya bisa lebih baik. Di sinilah pemakaman jadi pelampiasan. Pemakaman besar dan mahal kadang jadi kompensasi. Ini bukan tentang nghormatin yang mati, tapi tentang nebus rasa bersalah yang masih hidup. Maaf ya, Pak. Dulu jarang jenguk. Sekarang pemakamannya dibikin mewah deh. Semakin gede rasa bersalahnya, semakin gede tendanya. Industri pemakaman tahu banget celah psikologis ini. Makanya banyak paket dijual dengan narasi penghormatan terakhir, bakti terakhir. Keluarga yang lagi rapuh emosinya gampang banget. nelen narasi ini. Tapi setelah pandemi, narasi itu mulai enggak mempan. Banyak keluarga terpaksa bikin pemakaman sederhana dan sadar almarhum enggak peduli seberapa mahal petinya. Yang penting gimana mereka diperlakukan pas masih napas. Kesadaran ini pelan-pelan nyebar dan senjata rasa bersalah milik industri pemakaman mulai tumpul. Terus apa yang terjadi setelah pemakaman? Ini jarang dibahas. Dalam model tradisional habis dikubur masih ada lanjutannya. Korea ada ritual 49 hari. Indonesia ada tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari hal tahunan. Tujuannya biar memori almarhum tetap hidup. Tapi ritual ini juga kena imbas. Makin sederhana, makin sepi, makin singkat. Di Korea banyak yang ritual 49 hari cuma sendiri di rumah. Di Indonesia tahlilan yang dulu sekampung datang, sekarang sering cuma keluarga inti plus tetangga kiri kanan doang. Habis ritual kelar, apa yang sisa? Dulu makam itu tempat buat dikunjungi, buat nyekar, buat ngerasa terhubung. Tapi sekarang tren kremasi naik. Abu disimpan di rumah atau dilarung ke laut. Enggak ada makam fisik buat dikunjungi. Di Korea ada fasilitas loker abu jenazah yang canggih kayak di film sci-fi. Punya kartu akses, masuk ruangan privat, duduk depan kotak kaca isi abu. Ada layar digital nampilin foto almarhum plus musik syahdu. modern, bersih, efisien, tapi dingin banget, Bos. Indonesia belum sampai situ, tapi tren kremasi naik, terutama di kota besar dan kalangan nonmuslim. Alasannya praktis, tanah makam makin mahal dan langka. Kremasi lebih murah, cepat, enggak butuh lahan, tapi ada yang hilang. Makam itu penanda fisik kalau seseorang pernah ada di dunia ini. Pas abu dilarung ke laut atau disimpan di lemari, penanda itu hilang. Generasi cucu cicit nanti enggak punya tempat buat dikunjungi, enggak punya ritual nyekar. Dan pelan-pelan memori tentang leluhur itu pudar. Mungkin ini konsekuensi dunia yang geraknya kecepatan. Kita hemat duit tapi hilang ritual. Kita hemat waktu tapi hilang momen kumpul. Kita jadi efisien tapi kesepian. Kematian yang tadinya pengalaman bareng-bareng jadi pengalaman privat yang sunyi. Di titik ini kita harus tanya apa yang sebenarnya kita mau. Apa kita mau balik ke zaman pemakaman mahal yang bikin bangkrut dan capek? Mungkin enggak. Tapi apa kita mau pemakaman yang hampa, tanpa makna, tanpa kehadiran orang lain? Kayaknya juga enggak jawabannya ada di tengah. Tapi buat nemuin ee tengahnya, kita harus mulai ngomongin ini. Di negara maju ada gerakan death positif. Gerakan ngajak orang ngomongin kematian secara terbuka, ngerencanain mau mati kayak gimana tanpa rasa takut atau malu. Ada Death Cafe, tempat orang ngopi sambil ngobrolin kematian. Ada workshop, nulis wasiat. Kedengarannya aneh bin ajaib buat kuping orang Indonesia, tapi sebenarnya sehat banget. Karena kalau kematian diomongin terbuka, dia jadi enggak nyeremin lagi. Dan keluarga yang ditinggal enggak perlu bingung nebak-nebak atau ngerasa bersalah. Indonesia belum punya kafe kematian, tapi enggak ada salahnya mulai dari sekarang. Mulai dari obrolan meja makan, tanya orang tua, "Bapak atau Ibu penginnya gimana nanti?" Tulis keinginan sendiri biar anak enggak pusing. Ini bukan nyumpahin mati. Ini realistis. Dan mungkin dengan ngomongin kematian lebih terbuka, kita bisa nemuin cara yang lebih baik buat jalanin hidup. Karena pada akhirnya cara kita mandang kematian itu nentuin banget cara kita ngghargain hidup. Kalau kita takut ngomongin kematian, kita bakal nunda hal penting. Kalau kita anggap kematian kegagalan, kita bakal dihantui rasa bersalah. Tapi kalau kita lihat kematian sebagai siklus alami, kita bisa lebih siap, tenang, dan jujur. Cerita rumah duka yang tutup di Korea itu bukan cuma berita ekonomi, itu cerita tentang perubahan peradaban. Indonesia lagi jalan di trek yang sama, tapi kita masih punya waktu buat belok dikit. Cari jalan yang enggak bikin bangkrut, enggak terlalu sepi, tapi tetap punya makna. Tapi ya itu harus mulai sekarang, mulai jujur, mulai ngobrol, mulai ngakuin kalau kematian itu pasti datang. Tapi gimana cara kita nyambutnya? itu pilihan kita.