SISI GELAP MOBIL LISTRIK CHINA: Kenapa Murah Banget?
9268QA4dO8g • 2026-01-16
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Oke, gengs. Duduk
manis, siapin kopi atau es teh manis lo.
Karena kita bakal nyelem dalam banget ke
satu cerita yang sebenarnya agak
ngeri-ngeri sedap. Jadi gini, belum lama
ini dunia tuh kayak lagi kena hipnotis
massal sama Tiongkok. Semua orang mikir
Tiongkok adalah the chosen one buat masa
depan mobil listrik. Kalau lu
jalan-jalan ke kota gede di sana kayak
Shenzen, Shanghai atau Guangzo, beh itu
mobil listrik udah kayak kacang goreng
ada di mana-mana. Pemandangan langka
kagak, itu udah jadi makanan
sehari-hari. Jalanan sunyi senyap karena
enggak ada suara mesin knalpot. Stasiun
ngecas bertebaran di pusat kota kayak
minimarket di Jakarta. Pabrik-pabrik di
sana kerjanya rodanya muter terus. Siang
malam enggak ada matinya. 24 jam
nonstop. Angka produksi sama penjualan
tiap tahun nanjak terus. Bikin ilusi
seolah-olah Tiongkok udah nemuin cheat
code buat ngerajain industri otomotif
masa depan. Coba lu bayangin menurut
data dari International Energy Agency
alias EA, di tahun 2023 kemarin, lebih
dari 60% mobil listrik yang kejual di
seluruh muka bumi ini itu buatan
Tiongkok. Gila enggak tuh angka segitu
jelas bikin negara-negara maju panas
dingin. Amerika Serikat, Jepang sama
negara-negara Eropa yang udah puluhan
tahun ngerasa jadi raja jalanan
tiba-tiba kelihatan kayak kakek-kakek
yang ketinggalan bas. Tiongkok enggak
cuma bikin lebih banyak, Gengs. Tapi
mereka jual dengan harga yang murahnya
kebangetan. Dunia pun mulai
manggut-manggut percaya kalau pusat
kekuatan otomotif lagi pindah alamat ke
negeri tirai bambu. Nah, buat kita-kita
orang Indonesia nih, kabar ini jelas
terdengar seksi banget. Siapa sih yang
gak ngiler? Mobil listrik buatan
Tiongkok tuh tampangnya modern abis.
Layarnya gede-gede kayak TV di ruang
tamu. Fiturnya canggih kayak film
sci-fi. Desainnya futuristik pula. Tapi
yang paling bikin iman goyah jelas
harganya, Bos. Di pameran otomotif Asia,
mobil listrik Tiongkok ini sering dijual
dengan diskon gila-gilaan. Bisa 30
sampai 40% lebih murah dibanding mobil
sejenis dari Jepang atau Eropa. Buat kau
mendang-mending kayak kita yang sensitif
banget sama harga, ini rasanya kayak
dapat durian runtuh. Banyak yang mulai
mikir, "Ah, mobil Jepang sama Eropa
mahal amat, mending ambil Tiongkok aja."
Logis kan? Tapi AIDS tunggu dulu. Kayak
semua cerita drama ekonomi yang ada di
sejarah, apa yang kelihatan kinclong di
luar? Seringki nyimpan borok gede di
dalamnya. Biar lo paham kenapa industri
mobil listrik Tiongkok ini bisa ngegas
cepat banget, terus sekarang malah mulai
kayak mau nyungsep. kita harus flashback
dulu ke masa lalu. Kita balik ke zaman
di mana niat awalnya sebenarnya mulia
banget. Sekitar 10 tahunan lalu,
Tiongkok itu pusing tujuh keliling
ngadapin dua masalah raksasa. Pertama,
polusi udaranya ampun-ampunan. Kota-kota
besar di sana ketutup kabut Asep hampir
sepanjang tahun. Laporan resminya aja
bilang lebih dari 70% kota besar di
Tiongkok polusinya udah di level bahaya
buat paru-paru. Kedua, mereka kecanduan
minyak parah. lebih dari 70% kebutuhan
minyak Tiongkok itu harus impor. Ini
bukan cuma soal duit, tapi soal keamanan
negara, Bro. Kalau lu tergantung sama
impor, lu jadi gampang disenggol kalau
ada konflik global atau harga minyak
lagi gila. Nah, di situasi kejepit gini,
kendaraan listrik tuh datang kayak
pahlawan kesiangan, mobil listrik enggak
ngebul, jadi solusi buat polusi. Enggak
butuh bensin atau solar, jadi bisa
ngurangin kecanduan minyak impor. Plus
ini kesempatan emas buat Tiongkok, buat
nyalip negara lain di tikungan
teknologi. Daripada capek-capek saingan
sama Jepang atau Jerman bikin mesin
bensin yang mereka udah jago banget,
mending Tiongkok jadi raja di teknologi
baru, kan. Pemerintah Tiongkok akhirnya
ambil keputusan nekad. Mereka enggak
cuma dukung, tapi jor-joran bakar duit.
Dari awal 2010-an sampai awal 2020-an,
pemerintah pusat sama daerah di sana
ngucurin subsidi yang jumlahnya bikin
dompet gemeter. Menurut Kementerian
Keuangan Tiongkok, total duit yang
dikeluarin buat industri ini tembus
lebih dari 200 miliar dolar Amerika. itu
nolnya banyak banget, Guys. Konsumen
yang beli dapat diskon langsung,
perusahaan yang bikin pabrik dapat tanah
murah, pajak diringanin, akses utang
digampangin. Enak banget kan hidupnya?
Buat pemerintah daerah di sana, mobil
listrik ini jadi alat buat ngejar target
pertumbuhan ekonomi. Ada pabrik baru,
berarti ada investasi, ada lowongan
kerja, dan angka PDB daerah naik. Di
sistem birokrasi Tiongkok kalau angka
ekonomi naik, pejabat lokalnya dapat
rapor bagus, bisa naik pangkat. Makanya
hampir tiap provinsi sama kota di sana
lomba-lomba ngerayu perusahaan mobil
listrik buat bikin pabrik di tempat
mereka. Sini, Bos, bikin di tempat gua
aja. Tanah gratis. Kira-kira gitulah.
Awalnya sih hasilnya emang kelihatan wow
banget. Produksi meledak, harga turun
terus. Di beberapa kota, separuh mobil
baru yang kejual itu mobil listrik.
Media internasional muji-muji Tiongkok
setinggi langit sebagai pemimpin
transisi energi. Analis-analis pintar
pada ngeramal kalau Jepang sama Eropa
bakal megap-megap ngejar ketertinggalan
karena mereka jalannya lelet kayak
siput. Tapi justru pas lagi pestapora
inilah bibit bencana mulai ditanam
karena subsidinya gila-gilaan dan siapa
aja boleh masuk. Akhirnya semua orang
latah pengen ikutan main. Enggak cuma
perusahaan mobil beneran, tapi
perusahaan teknologi, startup
antah-berantah, bahkan perusahaan
properti sama elektronik yang enggak
ngerti apa-apa soal mesin, ikutan bikin
mobil. Tiap daerah pengin punya merek
mobil sendiri. Investor pada FOMO alias
Fear of Missing Out takut ketinggalan
kereta cuan ini. Dalam sekejap merek
mobil listrik di Tiongkok jumlahnya jadi
enggak ngotak. Pas lagi
puncak-puncaknya, ada lebih dari 130
merek mobil listrik yang aktif. Bayangin
130 Jepang yang rajanya otomotif aja
merek gedenya enggak nyampai 10 jari.
Korea Selatan lebih dikit lagi. Tiongkok
kebanyakan pemain di kolam yang sama
jadinya sesak napas. Beberapa tahun sih
masalah ini belum kerasa soalnya duit
subsidi masih ngalir deres kayak air
terjun. Produksi naik terus di atas
kertas semua kelihatan sukses. Tapi di
balik layar mulai ada yang enggak beres.
Kapasitas produksi tumbuhnya kecepatan.
jauh ninggalin permintaan orang yang mau
beli. Coba dengerin data dari China
Association of Automobile Manufacturers
ini. Di tahun 2024, kapasitas produksi
kendaraan di Tiongkok itu nyampai 55
juta unit per tahun. Tapi yang beli di
dalam negeri cuma sekitar 27 juta unit.
Hitung sendiri deh, hampir setengah
kemampuan produksi enggak ada yang beli.
Mobil-mobil mulai numpuk awalnya cuma di
gudang pabrik, terus meluber ke parkiran
dealer. Akhirnya ditaruh di lahan kosong
terbuka jauh dari peradaban. Media mulai
ngeliput fenomena seram yang disebut
kuburan mobil listrik. Foto dari drone
ngelihatin ribuan bahkan puluhan ribu
mobil baru diparkir rapat-rapat di tanah
lapang. Kehujanan, kepanasan belum
pernah dipakai tapi nilainya udah
hancur. Debu numpuk, cat buluk, baterai
soak, analis nebak ada sekitar 3 juta
unit mobil listrik yang jadi bangkai di
sana. Itu hampir sama kayak jumlah mobil
di seluruh Jakarta, Bro. Buat perusahaan
ini mimpi buruk finansial. Mobil enggak
laku itu artinya modal macet. Tapi mau
stop produksi juga serba salah. Kalau
pabrik berhenti, angka pertumbuhan
ekonomi turun. Kalau turun subsidi
dicabut pemerintah. Kalau dicabut ya
bangkrut. Jadinya banyak produsen milih
tetap produksi mobil walau mereka tahu
pasarnya udah muntah-muntah kekenyangan.
Pas pembeli mulai sepi, satu-satunya
cara biar laku ya banting harga. Awalnya
diskon tipis-tipis 10% 20%. Tapi karena
yang jualan kebanyakan jadinya perang
harga brutal. Dalam waktu singkat ada
model yang harganya terjun bebas sampai
lebih dari 40%. Mobil baru dijual lebih
murah daripada mobil bekas spek sama.
Gila kan? Buat konsumen sih asik-asyik
aja. Wah, murah nih. Tapi buat industri
ini namanya bunuh diri pelan-pelan.
Laporan keuangan nunjukin margin
keuntungan produsen mobil listrik di
Tiongkok itu tipis banget. Mendekati nol
bahkan minus. Mereka jualan rugi cuma
biar ada duit cash masuk buat napas
sehari-hari. Masalahnya jualan rugi
enggak bisa selamanya, Bos. buat nutupin
dompet yang bolong. Perusahaan mulai
nunda bayar ke pemasok alias supplier.
Kalau dulu bayarnya 90 hari, sekarang
molor jadi 270 hari bahkan setahun.
Kasihan tuh supplier harus bayar gaji
karyawan sama beli bahan baku pakai duit
sendiri dulu. Sementara duit dari pabrik
mobil enggak cair-cair. Utang numpuk di
mana-mana kayak nunggu bom waktu
meledak. Nah, di saat genting gini
muncul lagi kelakuan ajaib buat nipu
pasar. Biar target penjualan kelihatan
tercapai dan laporan kelihatan cakep,
beberapa perusahaan sama dealer mulai
mendaftarkan mobil baru seolah-olah udah
laku, padahal enggak ada pembelinya.
Mobil dikasih plat nomor, dicatat salt,
terus dijual lagi sebagai mobil bekas
padahal kilometernya nol. Di kertas
kelihatan laku keras, tapi duit aslinya
mahzong. Gara-gara ini pasar mobil bekas
jadi kacau balau, harga jatuh. Konsumen
jadi bingung dan hilang kepercayaan.
Mereka mulai curiga. Ini angka penjualan
beneran apa tipu-tipu doang sih? Tekanan
harga yang sadis ini juga bawa petaka
lain. Kualitas jadi tumbal. Biar biaya
murah, perusahaan motong sana sini.
Pakai bahan murahan, ketebalan besi
dikurangin, anti karat dipangkas, fitur
keselamatan diakalin. Pas baru keluar
showroom si kinclong. Tapi setahun 2
tahun dipakai, mulai deh drama. Karat
muncul cepat banget. Suspensi gampang
ambrol. sampai ada kecelakaan-kecelakaan
ngeri yang viral di SOSM gara-gara
kualitas jelek. Kepercayaan orang lokal
sana sama mobil buatan sendiri mulai
retak. Terus mau buang stok ke luar
negeri, eh pintunya ditutup. Amerika
naikin pajak impor mobil listrik
Tiongkok sampai lebih dari 100%. Uni
Eropa juga mulai investigasi soal
subsidi curang. Dua pasar paling gede di
dunia nutup pintu rapat-rapat. Mampus
enggak tuh? Pas ekspor macet dan pasar
lokal penuh sesak, ya meledaklah.
Perusahaan kecil kehabisan napas, pabrik
tutup. Ribuan orang di PHK. Dealer kabur
ninggalin konsumen yang udah bayar DP.
Mau nuntut ke mana orangnya udah hilang.
Di sini baru kelihatan yang runtuh bukan
cuma satu du PT, tapi satu model bisnis.
Model bisnis yang kecanduan subsidi,
cuma mikirin jumlah produksi dan bodo
amat sama keseimbangan jangka panjang.
Hari ini industri mobil listrik Tiongkok
emang masih gede, tapi aura tak
terkalahkannya udah luntur. Masa bulan
madu udah kelar. Sekarang tinggal
seleksi alam yang kejam, cuma perusahaan
yang duitnya sehat, teknologinya beneran
canggih, dan peduli kualitas yang bakal
selamat. Sisanya wasalam. Buat kita di
Indonesia dan negara berkembang lain,
cerita ini relate banget. Mobil listrik
Tiongkok emang kelihatan manis di
dompet. Tapi di balik harga murah itu
ada cerita horor soal risiko, utang, dan
kompromi kualitas. Mobil itu bukan HP
yang setahun sekali bisa lu ganti kalau
lemot. Mobil itu investasi gede, Bos.
Kalau gagal, taruhannya bukan cuma duit,
tapi nyawa di jalanan. Kisah naik
turunnya industri ini ngasih pelajaran
mahal. Ambisi kalau enggak pakai rem
bakal bikin gelembung yang akhirnya
pecah. Tumbuh kecepatan tanpa pondasi
kuat. Pasti ujung-ujungnya koreksi yang
sakit banget. Dan koreksi itu sekarang
lagi kejadian. Tapi ceritanya belum
kelar di Tiongkok doang, Gengs.
Pas-pasar mereka di sana lagi
berdarah-darah. dampaknya mulai nyiprat
ke luar negeri termasuk ke tetangga kita
Asia Tenggara. Nah, di sinilah Indonesia
masuk ke dalam radar mereka. Ini fase
yang penting banget buat kita sadari
karena ini nyenggol langsung kehidupan
kita sehari-hari. Pas jutaan mobil
listrik udah enggak laku di kandang
sendiri, perusahaan Tiongkok pusing
tujuh keliling. Mereka butuh duit cash
cepat, harus kosongin gudang biar enggak
bangkrut. Ekspor ke sini bukan lagi soal
strategi keren jangka panjang, tapi soal
bertahan hidup. Yang penting barang
keluar dulu, Bos. Asia Tenggara termasuk
Indonesia dilihat sebagai sasaran empuk.
Penduduknya banyak, ekonominya lumayan,
dan orangnya lagi demen-demennya beli
mobil. Apalagi pemerintah kita lagi
getol banget dorong mobil listrik pakai
insentif pajak. Wah, surga dunia buat
mereka. Indonesia dengan 270 juta orang
itu pasar yang seksi banget. Kelas
menengah lagi tumbuh. Nafsu punya mobil
pribadi gede. Emang sih tempat ngecas
belum banyak, tapi lumayan lah. Semua
ini bikin Indonesia kelihatan kayak
lapak jualan paling pas buat buang stok
mobil listrik murah. Makanya jangan
kaget kalau sekarang iklan mobil listrik
Tiongkok di sini agresif banget.
Harganya dibanting jauh di bawah merek
Jepang atau Eropa. Iklannya pakai
kata-kata sakti, terjangkau, canggih,
ramah lingkungan. Di sosmet influencer
pada pamer fitur mobil yang bejibun.
Padahal harganya miring. Buat kita yang
belum pernah punya mobil listrik,
tawaran ini emang susah ditolak. Kapan
lagi punya mobil canggih harga kacang
goreng. Tapi yang sering kita enggak
sadar adalah konteks di balik harga
murah itu. Mobil-mobil ini murah bukan
karena teknologi alien yang super
efisien, tapi seringki karena
perusahaannya lagi kepepet. Stok harus
keluar, duit harus masuk. Walau
untungnya tipis setipis tisu toilet atau
malah enggak untung sama sekali. Di
sinilah risiko jangka panjang buat kita
mulai nongol. Kalau perusahaan jualan
karena kepepet, fokus mereka bukan lagi
gimana caranya biar konsumen senang
sampai 10 tahun ke depan, tapi gimana
caranya jual sebanyak mungkin hari ini.
Prioritasnya geser dari kualitas dan
layanan purna jual. Jadi volume
penjualan semata. Bodo amat mobilnya
awet apa enggak, yang penting laku dulu.
Buat kita konsumen Indonesia ini harus
dipikirin matang-matang. Beli mobil itu
keputusan finansial paling gede kedua
setelah beli rumah buat kebanyakan
orang. Kita beli mobil kan harapannya
dipakai bertahun-tahun, servis gampang,
dan kalau dijual lagi harganya enggak
nyungsep-nyungsep amat. Itu semua butuh
ekosistem yang stabil, bukan perusahaan
yang engap-engapan. Pengalaman di
Tiongkok udah ngasih spoiler. Ada dealer
yang tiba-tiba tutup tanpa pamit. Ada
konsumen yang DP-nya hangus karena
perusahaan habis duit. Ada yang mobilnya
rusak tapi bingung cari spare part
karena mereknya udah almarhum. Ini bukan
satu dua kasus, tapi pola yang kejadian
kalau industri lagi sakit. Satu lagi
yang sering dilupain, nilai jual kembali
alias resell value. Di Tiongkok, harga
mobil listrik bekas itu terjun bebas
parah. Mobil baru beli, setahun, 2 tahun
harganya bisa hilang setengah. Kenapa?
Ya, karena banjir stok, perang harga,
sama praktik jualan yang enggak sehat
tadi. Kalau penyakit ini nular ke pasar
Indonesia, kita yang bakal nangis darah,
mobil yang dikira aset malah jadi beban
hidup. Emang sih ada yang bilang, "Ah,
ini kan sementara nanti juga industrinya
sehat lagi." Dulu Jepang sama Korea juga
gitu. Benar sih, industri itu ada
seleksi alamnya. Tapi bedanya Jepang
sama Korea ngebangun reputasi itu
pelan-pelan. Pakai keringat darah, fokus
ke kualitas dan kepercayaan jangka
panjang. Mereka mungkin enggak selalu
paling murah, tapi mereka mastiin
mobilnya enggak mogok di tengah jalan.
Tiongkok ini beda. Mereka ngegas pol di
awal demi angka statistik. Hasilnya
emang cepat, tapi pondasinya keropos.
Pas subsidi habis dan pasar jenuh,
kelihatan aslinya. Perusahaan yang modal
nekat doang mulai goyang, utang numpuk
kepercayaan hilang. Jadi buat Indonesia,
pelajaran dari cerita ini bukan berarti
kita harus anti sama semua mobil listrik
Tiongkok, ya.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:04:41 UTC
Categories
Manage