Transcript
pE0_a094Cl8 • Di Balik Kemilau Singapore
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0036_pE0_a094Cl8.txt
Kind: captions
Language: id
Ada cerita menarik nih dari seorang
teman gua. [musik] Jadi gini,
keluarganya tuh cabut pindah ke
Singapura tahun 2015 lalu. Waktu itu beh
satu kampung heboh bilangnya mereka
dapat jackpot.
Komentarnya tuh kayak, "Wah, [musik]
gila sih enak banget pindah ke
Singapura. Gaji dolar, hidup tenang,
masa depan cerah benderang kayak lampu
stadion." Nah, fast forward 10 tahun
kemudian pas ditanya gimana rasanya
hidup di negeri singa itu jawabannya
singkat padat tapi nyesek banget. Aman
sih tapi capek. Halo semuanya, selamat
datang kembali di channel Jendela Dunia.
Jangan lupa tekan tombol subscribe dan
nyalakan loncengnya. Mari kita buka
jendela wawasan kita hari ini. Dua kata
itu aman tapi capek. Sebenarnya
ngerangkum banget realitas Singapura
yang jarang banget kita dengar di sini.
Kita kan tahunya Singapura dari luarnya
doang ya. Gedung pencakar langit yang
estetik, Bandara Changi yang udah kayak
Mall Bintang 5, kereta MRT yang
datangnya on time banget, sama jalanan
yang bersih, kinclong tanpa ada sampah
bungkus permen satu pun. Dari sini, dari
Jakarta, Surabaya atau kota-kota kita
yang macet dan semraut, Singapura itu
kelihatan kayak versi premium dari
kehidupan modern. Tapi apa yang
sebenarnya terjadi kalau kita beneran
nyemplung dan hidup di dalam sistem itu?
AIDS disclaimer dulu nih. Ini bukan
cerita buat ngejelek-jelekin Singapura
ya. Bukan juga cerita soal negara gagal.
Justru kebalikannya, Guys. Ini cerita
tentang negara yang saking suksesnya,
saking berhasilnya sampai
keberhasilannya itu nyiptain masalah
baru. Masalah level dewa yang enggak
bisa diselesain cuma dengan nambah
tinggi gedung atau bikin aplikasi
pemerintah yang lebih canggih. Singapore
hari ini tuh hasil transformasi yang
gila-gilaan. Bayangin tahun 1965
pas mereka baru merdeka, GDP per kapita
mereka tuh 111 sama kita, sama
Indonesia. Sekarang jauh, Bos. GDP per
kapita Singapura udah tembus sekitar
5.000 AS. Kita masih ngesot di angka
4.000-an. Dalam 60 tahun mereka lompat
indah dari negara berkembang jadi salah
satu negara paling tajir melintir di
dunia. Dan lompatan itu bukan hoki
doang. Itu hasil dari disiplin alam
militer. Perencanaan yang detail banget
sama eksekusi yang sempurna tanpa cela.
Tapi ada tapinya nih. Ketika sebuah
sistem berjalan terlalu sempurna, mulai
muncul hal aneh. Manusia di dalamnya
pelan-pelan mulai ngerasa bukan kayak
manusia lagi, tapi kayak spare part
mesin. Dan tahu kan aturannya mesin?
Mesin enggak boleh salah. Mesin enggak
boleh capek. Mesin harus jalan tero
bedah mulai dari hal yang paling jarang
diomongin orang. Sebenarnya isi kepala
orang Singapura itu lagi kayak gimana
sih? Dari berbagai survei kesehatan
mental faktanya seram, Guys. Sekitar
satu dari tujuh orang di Singapura
pernah ngalamin gangguan mental yang
lumayan serius dalam hidupnya. Angka ini
mungkin kedengaran ah biasa aja kalau
kita enggak tahu konteksnya. Tapi ingat
ini kejadian di negara yang enggak lagi
perang, enggak lagi krisis ekonomi, dan
stok makanannya aman jaya. Ini negara
stabil, kaya raya, dan aman sentosa.
Jadi pertanyaannya, tekanan batin ini
datangnya dari mana? Jawabannya simpel,
tapi bikin sakit hati. Tekanannya datang
dari kesuksesan itu sendiri. Coba lo
bayangin, hidup di tempat di mana semua
orang kelihatan have it all. Tetangga
sebelah kerja di bank, gajinya 6 digit
dolar. Teman lama udah punya kondo di
lokasi strategis. Rekan kerja baru aja
beli mobil mewah, padahal buat izin
punya mobilnya doang yang namanya COE
itu harganya bisa hampir Rp1 miliar.
Gila enggak? Itu baru izinnya doang loh.
Terus buka Instagram, isinya orang
liburan ke Jepang, ke Eropa, ke
mana-mana. Hidupnya kelihatan sempurna
banget kayak filter IG yang enggak
pernah luntur. Nah, di lingkungan kayak
gini, gimana rasanya kalau el yang
ketinggalan? Gimana rasanya kalau gaji
lo masih UMR sana alias pas-pasan? Kalau
lo masih ngontrak, kalau lo belum bisa
pamer liburan ke luar negeri. Kalau di
Indonesia kita masih bisa ngeles, ya
udahlah santui. Rezeki orang kan
beda-beda, yang penting sehat. Tapi di
Singapura standar hidupnya tuh udah
diset tinggi banget. Jadi kalau lo belum
nyampai di level itu rasanya kayak lo
yang salah, kayak lo yang gagal jadi
manusia. Ini nih yang disebut orang
Singapura sebagai budaya kiasu. Takut
kalah, h
takut ketinggalan, takut orang lain
lebih oke dari kita. Dan budaya ini
bukan cuma ada di kepala, tapi udah
mendarah daging jadi sistem. Dari orok,
anak-anak udah didoktrin. Kalau hidup
adalah kompetisi, sekolah itu ajang
tarung, kerja itu medan perang. Bahkan
mau beli rumah pun pakai sistem baloting
alias undian. Kayak lagi ikut giveaway
tapi taruhannya masa depan. Jadi
sepanjang hidup lo lari terus dalam
perlombaan. Sekarang coba bayangin lo
ikut lomba lari yang garis finishnya
enggak ada. Dari bangun tidur sampai
merem lagi, lo harus mode siaga satu.
Harus on time, harus produktif, harus
deliver result. Kalau di Indonesia kita
telat 10 menit masih bisa cengengesan
bilang, "Sor, Bro, macet ada galian
kabel. Di Singapura telat 10 menit itu
dosa besar." Kenapa? Karena semua orang
tahu keretanya on time. Jadi, enggak ada
alasan. Bos. Rata-rata jam kerja di
Singapore itu termasuk yang paling sadis
di dunia. Banyak orang kerja lebih dari
50 jam seminggu. Kalau di sini jam 5.00
sore kita udah siap-siap absen pulang
atau tenggo di Singapura pulang jam .
atau 8 malam itu normal banget. Itu
belum kalau ada deadline, belum kalau
bos lagi rese, belum lagi rasa takut
dipecat karena di luar sana ada antrean
orang yang siap gantiin posisi lu kapan
aja. Yang bikin makin engap jatah cuti
tahunan di Singapura rata-rata cuma 14
hari. Bandingin sama negara Eropa yang
bisa dapat 20 sampai 30 hari. Jadi waktu
buat benar-benar istirahat buat healing
yang sebenarnya itu dikit banget. Badan
sama otak enggak pernah benar-benar
dikasih kesempatan buat recharge sampai
penuh. Akibatnya apa? Banyak orang di
sana hidup dalam mode autopilot. Bangun
kerja pulang tidur repit. Besoknya sama
lagi. Mereka enggak lagi menikmati
hidup. Mereka cuma lagi bertahan hidup.
Masalah makin runyam pas lo sadar lo
butuh bantuan. Pas lu ngerasa, "Wah, gua
enggak kuat nih, gua butuh ke psikolog."
Di Singapura jumlah dokter spesialis
kesehatan mental dibanding jumlah
penduduknya itu jomplang. Permintaan
jauh lebih gede dari kapasitas.
Akibatnya, lo bisa nunggu berbulan-bulan
cuma buat dapat jadwal konsultasi di
klinik publik. Kalau mau cepat, ya ke
klinik swasta, tapi siap-siap dompet
jebol karena biayanya bisa ratusan dolar
per sesi. Jadinya banyak orang milih
diam, memendam rasa. Mereka tahu ada
yang salah tapi bingung mau ke mana atau
tahu mau ke mana tapi duitnya enggak ada
atau waktunya enggak sempat. Akhirnya
masalah mental itu numpuk kayak sampah
yang enggak diangkut-angkut dari minggu
ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke
tahun sampai suatu saat meledak atau
orangnya benar-benar collaps. Dan ini
bukan cerita satu dua orang doang, ini
pola massal. Yang paling sedih dari luar
mereka kelihatan oke-oke aja. Tetap
ngantor, baju rapi, senyum sopan. Tapi
dalamnya remuk, Bro. Kalau kita bilang
stres di Indonesia sering datang dari
hal-hal gede kayak bencana atau politik.
Stres di Singapore itu datang dari
hal-hal kecil yang nyerang terus-terusan
kayak tetesan air. Target kerja tinggi,
email masuk tengah malam, notifikasi
WhatsApp dari kantor pas hari Minggu,
perasaan kalau lo enggak boleh salah
sedikit pun. Semua itu kayak air yang
netes di batu. Satu tetes enggak kerasa.
Tapi kalau ribuan tetes tiap hari,
bolong juga tuh batu alias mental low.
Terus mari kita gibahin soal rumah.
Kalau lu tanya orang Singapura apa mimpi
terbesar mereka, mayoritas bakal jawab
satu hal. Punya rumah sendiri, bukan
nyewa, bukan numpang orang tua, tapi
rumah yang beneran punya mereka. Di
Singapura kebanyakan orang tinggal di
HDB alias housing development board. Ini
semacam rusunami yang dibangun
pemerintah. Dari luar sih HDB ini cakep,
bersih, teratur, ada tamannya. Bukan
kayak rumah susun kumuh di film-film.
kualitasnya oke punya. Dan emang HDB ini
salah satu prestasi terkeren Singapore
dalam nyediain atap buat warganya. Tapi
ada satu plot twist tentang HDB yang
harus lo pahami. Rumah ini bukan milik
lo selamanya. Pemerintah cuma ngasih
list atau hak pakai selama 99 tahun.
Jadi pas lo beli HDB sebenarnya lo tuh
lagi nge-cos jangka panjang sama negara
selama 99 tahun. Kalau waktunya habis
tuh rumah balik ke negara. Bye bye. 99
tahun kedengaran lama ya. Eh, tapi coba
mikir gini, banyak HDB dibangun tahun
70-an atau 80-an. Sekarang udah mau
2026. Artinya ada HDB yang sisa masa
pakainya tinggal 40 atau 50 tahun lagi.
Nah, pas sisa waktunya makin dikit,
harga jual rumah itu terjun bebas. Siapa
coba yang mau beli rumah mahal-mahal
kalau hak pakainya tinggal bentar lagi?
Enggak ada. Jadi rumah yang dulu dibeli
mahal, nanti bisa jadi enggak ada
harganya. Ini bikin horor generasi muda
Singapura. Mereka lihat orang tua mereka
nyicil HDB seumur hidup, ngerawat
rumahnya sepenuh hati, tapi sadar kalau
rumah itu enggak bisa diwarisin sebagai
aset berharga. Pas listnya habis, ya
udah hilang. Di Indonesia kan kita masih
megang banget konsep rumah warisan.
Rumah eyang turun ke Bapak, turun ke
kita. Rumah jadi simbol keluarga, simbol
akar. Simbol kalau ada sesuatu yang
abadi walaupun dunia kiamat. Di
Singapore konsep ini nyaris punah. Rumah
cuma tempat berteduh sementara, bukan
warisan abadi. Terus soal harganya nih,
HDB harusnya kan perumahan rakyat yang
terjangkau ya. Tapi realitanya harga HDB
apalagi yang lokasinya strategis atau
ukurannya agak lega, mahalnya minta
ampun. Ada HDB seconden yang laku dijual
lebih dari 1 juta. Doar Singapura itu
sekitar Rp1 miliar, Bos. Buat rumah
susun yang status kepemilikannya ada
expired date-nya. Kalau mau beli HDB
baru yang subsidi dari pemerintah,
prosesnya ribetnya minta ampun. Pertama,
lu harus udah nikah. Kalau lu jomblo,
sorry ye, lu harus nunggu sampai umur 35
tahun baru boleh beli. Itu pun ukurannya
dibatasin. Kedua, ada batas gaji. Kalau
gaji lo kegedean dikit, lo ditendang
dari daftar subsidi. Ketiga, sistemnya
gaca alias baloting. Lo daftar terus
diundi. Kalau hoki dapat, kalau zong ya
coba lagi bulan depan. Dan pas akhirnya
dapat, lo harus nunggu 3 sampai 5 tahun
sampai rumahnya jadi. Bayangin lo nikah
umur 28, langsung daftar HDB, dapat
undian umur 29, nunggu rumah jadi sampai
umur 32 baru bisa masuk. Selama 3 tahun
itu lu tinggal di mana? Ya ngontrak.
Duit yang harusnya bisa ditabung buat
nyicil rumah malah hangus buat bayar
sewa yang harganya selangit.
Alternatifnya apa? Beli properti swasta
kayak kondo atau apartemen, tapi
harganya 2 sampai 3 kali lipat HDB.
Kalau HDB aja udah sejuta dolar, kondo
bisa du atau Rp3 juta. Buat rakyat
jelata ini mah heill yang mustahal. Jadi
pilihan realistisnya ya balik lagi ke
HDB dengan segala dramanya. Yang bikin
hidup makin sumpek itu ukuran rumahnya.
HDB tipe kecil dua atau tiga kamar.
Luasnya paling 50 sampai 70 m². Buat Pak
Sutri baru sih oke. Tapi banyak keluarga
Singapura tinggal numpuk tiga generasi.
Kakek, nenek, orang tua, anak,
uyel-uyelan di situ. Ruang privasi,
wasalam. Bayangin hidup bertahun-tahun
di ruang sempit. Enggak ada tempat buat
mojok. Enggak ada tempat buat
benar-benar metime dari orang lain. Tiap
hari sikut-sikutan. Kalau enggak ada
ruang buat sendiri, tekanan mental makin
cepat numpuknya. Sekarang kita bahas
soal duit. Dari jauh orang Singapura
kelihatan tajir. Dan emang sih gaji
mereka gede. Gaji median atau
tengah-tengah di sana sekitar 5 sampai
6.000 per bulan. Itu sekitar R0 sampai
Rp70 juta. Di Indonesia gaji segitu lo
udah bisa jadi raja kecil. Tapi
masalahnya biaya hidup di Singapura itu
juga raja mahalnya. Yuk kita
hitung-hitungan pengeluaran bulanan
keluarga standar dengan dua anak.
Cicilan HDB bisa 1.00 sampai 2.500
sebulan. Itu udah motong 20 sampai 30%
gaji. Listrik, air, internet siapin 150
sampai 200. Belanja bulanan alias
groceries 600 sampai 800.
Transportasi kalau naik MRT sama bus ya
200. Tapi kalau lu nekad punya mobil,
siapin 500 sampai 800 dolar lagi, itu
belum bensin sama parkir yang harganya
bikin nangis. Nah, ini nih yang gila.
Childcare atau preschool buat bocil itu
bisa 800 sampai 15.500 per bulan per
anak. Kalau punya dua anak dikali dua,
Bos. Asuransi kesehatan keluarga 200
sampai 400 makan di luar. Meskipun di
Hawer Center atau pujaseraya murah,
kalau rutin ya habis 400 sampai 600
sebulan. Kalau di tootal pengeluaran
bulanan bisa 4.000 sampai 7.000. Gaji
median tadi berapa? 5.000 sampai 6.000.
Artinya apa? Artinya gaji yang kelihatan
gede itu sebenarnya numpang lewat doang.
Habis bis-bis bahkan sering kurang. Jadi
banyak keluarga yang hidup dari gaji ke
gaji atau pay to pay. Enggak banyak yang
bisa ditabung. Salah langkah dikit soal
duit kelar hidup lo. Belum lagi soal
mobil tadi. Di Indonesia mobil tuh
kebutuhan dari LCGC sampai SUV ada. Di
Singapore mobil itu barang mewah super
luxury. Kenapa? Karena sebelum beli
mobil lu harus beli CO certificate of
entitlement. Ini semacam tiket sakti
biar lu boleh punya mobil. Harganya bisa
100.000 Singapura lebih itu Rp1,5
miliar. Cuma buat selembar kertas izin,
belum harga mobilnya. Makanya banyak
orang Singapura hidup tanpa mobil.
Mereka ngandelin MRT, bus, atau taksi.
Emang sih transportasi publiknya juara
dunia, tapi tetap aja ada rasa
terkekang. Lu enggak bisa seenak jidat
pergi ke mana aja, kapan aja hidup lo
diatur jadwal kereta. Sistem keuangan
Singapura juga punya satu fitur unik
namanya CPF Central Provident Fund. Ini
tabungan wajib. Tiap bulan 20% gaji lo
dipotong otomatis masuk CPF. Duit ini
buat rumah, kesehatan, sama pensiun.
Kedengarannya bagus kan? Dipaksa nabung.
Tapi plot twist-nya duit itu enggak bisa
lo pakai seenak udel. Lo enggak bisa
tiba-tiba ambil duit CPF buat liburan ke
Bali atau beli iPhone baru. Duit itu
dikunci rapat sampai lo tua. Jadi
meskipun di akun CPF lo angkanya ratusan
ribu dolar, di kehidupan sehari-hari
dompet lo bisa aja keringkerontang. Ini
nyiptain paradoks aneh. Lo kayak di atas
kertas tapi ngerasa miskin di dunia
nyata. Karena cash yang benar-benar bisa
lo pakai buat jajan itu sebenarnya
ngepas banget. Dengan tekanan finansial
kayak gini, coba bayangin kalau ada
tante-tante yang nanya pas lebaran kapan
mau punya anak. Banyak pasangan muda di
Singapura dengar pertanyaan itu langsung
migrain. Bukan karena mereka childf atau
egois, tapi karena mereka udah ngitung
pakai kalkulator dan angkanya horor
banget. Singapura punya tingkat
kelahiran paling rendah di dunia. Total
fertility rate-nya cuma sekitar 1,0.
Artinya, rata-rata satu cewek cuma punya
satu anak seumur hidup. Padahal biar
populasi aman harusnya 2,1. Jadi,
populasi asli Singapura sebenarnya lagi
menyusut. Kalau bukan karena imigran
sama pekerja asing, penduduk mereka
bakal habis. Kenapa pada ogah punya
anak? Pertama, ya duit tadi ngegedein
satu anak dari bayi sampai lulus kuliah
bisa habis R00.000. R000 sampai 500.000
itu miliaran rupiah, Bro. Dan itu baru
satu anak. Kalau dua atau tiga tinggal
kaliin aja. Biaya ini bukan cuma buat
susu sama popok, tapi biaya pendidikan.
Di Singapore, les atau tuition itu udah
kayak kewajiban agama. Kenapa? Karena
persaingan di sekolah itu brutal. Kalau
anak lo enggak les, dia bakal
ketinggalan. Dan kalau ketinggalan di
SD, efek dominonya bisa sampai dia tua.
Satu mata pelajaran lesulan.
Kalau anak les tiga pelajaran,
00 melayang cuma buat les. Belum bayar
sekolah, belum makan, belum baju. Kedua,
waktu. Punya anak itu butuh energi dan
waktu. Kalau lo udah kerja 50 jam
seminggu, pulang malam, weekend masih
diganggu, bos. Kapan mau main sama anak?
Siapa yang jagain kalau lo sama bini lo
sama-sama kerja rodi? Di Indonesia kita
masih punya support sistem bernama Eyang
Kakung dan Eyang Putri atau Om dan Tante
yang bisa dimintain tolong jagain bocah.
Di Singapura kakek neneknya juga masih
kerja, Bos. Mereka belum pensiun karena
biaya hidup mahal atau kalau udah
pensiun mereka tinggal pisah. Jadi
enggak ada yang bisa dimintain tolong
gratisan. Mau pakai jasa childc atau
babysitter, balik lagi ke masalah duit.
Mahal. Dan banyak orang tua enggak tega
nitipin bayi ke orang asing seharian
penuh. Ketiga, tekanan mental buat para
cewek. Banyak cewek Singapura
pendidikannya tinggi dan karirnya
moncer. Pas hamil dan punya anak, mereka
dihadapkan pilihan sulit, fokus karir
atau anak. Sistem kerja di sana enggak
fleksibel. Cuti melahirkan cuma 16
minggu. Habis itu harus balik kerja full
speed. Dan pas balik ekspektasi bos
tetap tinggi. Enggak bisa lo bilang
sori, Pak. Saya kurang tidur gara-gara
bayi nangis semalam. Enggak ada excuse.
Jadi banyak cewek akhirnya milih nunda
punya anak atau milih satu aja cukup
atau one is enough atau malah milih
enggak punya sama sekali. Ini bukan
keputusan gampang. Ini keputusan berat
penuh air mata. Pemerintah Singapura
udah putar otak. Ada baby bonus dikasih
duit cash sampai 10.000 per anak. Ada
potongan pajak, ada subsidi penitipan
anak. Tapi semua itu enggak mempan
ngubah mindset. Karena masalahnya bukan
cuma duit receh bonusan. Masalahnya
adalah seluruh sistem hidup yang terlalu
berat buat nambah beban. Bandingin sama
Indonesia, tingkat kelahiran kita masih
2,1 sampai 2,3. Kenapa? Bukan karena
orang kita lebih kaya kebalikannya
malah. Tapi karena sistem sosial kita
lebih santui dan supportif. Keluarga
besar dekat, tetangga saling bantu.
Biaya hidup lebih masuk akal. Dan ada
satu mantra ajaib, tiap anak bawa
rezekinya masing-masing. Di Singapura
mantra itu enggak laku. Semua harus
dihitung pakai Excel. Dan pas
kalkulasinya minus, orang bakal mikir
1000 kali. Lanjut ke sistem pendidikan
yang sering dibangga-banggain dunia.
Ranking PISA tinggi, siswanya jenius
matematika dan sains. Kampus Enus dan
NTU top global. Kelihatan sempurna kan?
Tapi coba kita lihat dari kacamata anak
SD atau orang tua di sana. Kompetisi
dimulai sejak dini banget. Bahkan buat
masuk SD favorit, orang tua harus war
daftar jauh-jauh hari. Ada sistem
prioritas berdasarkan jarak rumah,
alumni sampai orang tua harus jadi
sukarelawan di sekolah biar dapat poin.
Jadi sebelum anak bisa baca tulis, orang
tua udah harus susun strategi perang.
Pas masuk SD dimulailah Hunger Games
Academic. Ujian harian, ujian semester,
ranking dibanding-bandingin. Dan
puncaknya adalah PSLE atau Primary
School Living Examination. Ini ujian
nasional buat anak umur 12 tahun. Hasil
PSLE ini nentuin nasib mereka bakal
masuk SMP mana dan SMP mana bakal
nentuin masa depan mereka. Dramatis
emang, tapi gitu sistemnya. Umur 12
tahun nasib lo udah dikotak-kotakan. Ada
jalur ekspres buat yang pintar atau
jalan tol ke universitas. Normal
akademik atau jalan biasa sama normal
tchnikal yang lebih ke vokasi atau kerja
kasar. Bayangin loh anak umur 12 tahun
masih bau kencur tapi udah tahu kalau
satu ujian ini bakal nentuin sisa hidup
lo. Gimana enggak stres atau lo jadi
orang tua yang lihat anak lu ubanan
gara-gara matematika. Akibatnya
muncullah budaya tuition alias les yang
gila-gilaan. 70% lebih siswa di
Singapura ikut les tambahan. Bukan les
buat yang bego biar pintar, tapi les
buat semua orang karena semua takut
kalah. Kalau tetangga les, lo harus les.
Kalau teman sekelas les bahasa Inggris,
lo juga harus ikut. Biaya les ini bikin
dompet nangis darah. Satu subjek bisa
200 sampai 500. Banyak anak les 3 sampai
4 subjek. Sebulan bisa 1$.000 lebih cuma
buat les. Dan ini bukan cuma anak SD
sampai SMP. Bahkan anak TK umur 4 sampai
5 tahun udah diikutin enrichment class.
Belajar baca, hitung, Mandarin, Inggris.
Umur segitu harusnya main tanah. Ini
udah belajar kayak mau ujian skripsi.
Dampaknya banyak anak kehilangan masa
kecil. Hari-hari mereka isinya sekolah,
les, PR, try out. Enggak ada waktu main
layangan atau lari-larian. Enggak ada
waktu buat bosan. Enggak ada waktu buat
jadi anak-anak. Dampak mentalnya nyata
banget. Kasus kecemasan dan depresi di
kalangan pelajar naik terus. Ada anak
yang ngerasa gagal total kalau enggak
ranking satu. Ada yang takut pulang ke
rumah kalau nilai ujiannya jelek. Buat
orang tua ini juga neraka. Mereka harus
kerja keras sebagai kuda buat bayar les.
Mereka harus jadi manajer pendidikan
anak. Grup WhatsApp. Orang tua di sana
tuh aktif banget. Kadang toxic parah.
Saling pamer nilai anak. Saling tanya
guru. Les mana yang sakti? Saling kepo
sekolah mana yang paling top. Hidup jadi
perlombaan yang enggak ada remnya.
Ironisnya sistem ini emang nyetak siswa
pintar dan pekerja efisien. Tapi apa
mereka bahagia? Apa mereka kreatif? Apa
mereka punya passion? Itu urusan
belakangan. Banyak yang bilang sistem
pendidikan Singapura nyiptain orang yang
successful but not happy. Sukses di atas
kertas tapi kosong di dalam hati. Karena
dari kecil cuma diajarin satu hal,
menang. Terus ada satu hal lagi yang
jarang dibahas. Kehidupan sosial dan
ruang buat jadi manusia biasa. Di
Indonesia walau hidup sering semrawut.
Kita punya banyak ruang sosial. Ada
warkop di ujung gang buat ngopi Ceban.
Ada taman kota atau alun-alun buat duduk
gratisan. Ada tetangga yang kalau masak
sayur asem kebanyakan bakal nganterin
semangkuk ke sebelah. Ada teman yang
bisa tiba-tiba nongol di pagar rumah
cuma buat numpang ngopi. Hidup kita
emang enggak efisien tapi hangat, Bro.
Di Singapura ruang sosial organik kayak
gitu nyaris punah. Semua tempat itu
komersial. Mau ngobrol ke kafe, bayar.
Mau duduk santai ke mall, ujung-ujungnya
belanja. Mau ketemu teman harus bikin
janji dulu cocokin jadwal di Google
Calendar. pilih tempat. Spontanitas itu
barang langkah. Ini bukan cuma soal
duit, tapi kultur. Kehidupan sosial jadi
transaksional.
Lu ketemu orang karena ada maunya.
Networking, bisnis bukan cuma buat
connect sebagai sesama manusia.
Singapore emang negara multikultural.
Ada Chinese, Melayu, India, Bulai
Expart. Dari luar kelihatan harmonis
kayak iklan layanan masyarakat. Enggak
ada rusuh. Tapi kalau di zoom in, setiap
kelompok punya dunianya sendiri-sendiri.
Integrasi cuma di permukaan, di kantor,
di sekolah. Tapi pas pulang ke rumah
mereka misah lagi ke bubble
masing-masing. Banyak anak muda
Singapura ngerasa enggak punya identitas
nasional yang kuat. Mereka bukan orang
Cina daratan, bukan orang Melayu
Malaysia, bukan orang India asli. Tapi
mereka juga enggak ngerasa punya akar
budaya Singapura yang dalam. Mereka jadi
kayak global citizen, efisien,
produktif, tapi enggak punya kampung
halaman di hati. Beda sama kita. Kita
punya budaya gado-gado tapi identitas
nasionalnya kuat. Kita tahu kita
Indonesia. Ada Pancasila, ada bahasa
Indonesia, ada sejarah perjuangan.
Identitas itu ngasih rasa belonging,
rasa kalau lo adalah bagian dari sesuatu
yang lebih gede. Di Singapura rasa
memiliki itu lemah. Banyak orang pintar
di sana akhirnya cabut ke luar negeri.
Mereka ngerasa Singapura cuma tempat
cari duit, bukan rumah. Pas ada tawaran
lebih oke di negara lain, mereka packing
koper tanpa nengok belakang. Kehidupan
di sana juga teratur banget sampai
rasanya steril kayak ruang operasi. Ada
aturan buat segalanya. Makan di MRT
denda, buang sampah sembarangan, denda.
Nyebrang jalan enggak di zebra Cross
denda. Aturan-aturan ini bikin kota
bersih dan rapi, tapi juga bikin hidup
jadi kaku kayak kano kering. Enggak ada
ruang buat spontanitas. Enggak ada ruang
buat sedikit kekacauan yang sebenarnya
bikin hidup jadi berwarna. Di Indonesia
kita bisa tiba-tiba dangdutan di gang,
pasang tenda kawinan, nutup jalan. Oke,
ini ngeselin. Tapi hidup di Singapura
hal kayak gitu mustahil. Semua harus
izin, semua harus terencana. Seni dan
budaya juga kurang berkembang dibanding
ekonominya. Museum ada, teater ada,
galeri ada, tapi rasanya formal banget.
Enggak ada street artisi
jalanan yang spontan bikin konser
dadakan. Enggak ada budaya underground
yang kritis. Karena semua yang liar
bakal langsung ditertibkan sama petugas.
Kontrol ini juga ngerambat ke politik
dan media. Pemerintah Singapura megang
kendali ketat soal informasi. Media di
sana hati-hati banget. Kritik pemerintah
bisa berujung tuntutan hukum sampai
bangkrut. Kebebasan ngomong ada, tapi
dalam kotak yang sempit banget. Banyak
orang Singapura nerima ini sebagai
tradeof alias tukar guling. Mereka rela
kehilangan sebagian kebebasan demi
stabilitas dan dompetable. Dan emang
berhasil sih. Singapura aman, makmur,
stabil. Tapi pertanyaannya apakah tukar
guling ini worth it buat jangka panjang?
Terus gimana peran negara? Pemerintah
Singapura tuh hadir banget di setiap
aspek hidup warganya. Dari lahir sampai
mati diurusin, sistemnya komplit. Tapi
di saat yang sama, negara nuntut
warganya buat mandiri. Habis filosofinya
selfreliance. Jangan manja sama negara.
Lo harus kerja keras. Lo harus tanggung
jawab sendiri. Jadi, ada paradoks lagi.
Negara ngatur banget tapi juga nuntut lo
mandiri. Negara kasih sistem tapi lo
harus survive sendiri di dalamnya.
Bandingin sama negara-negara Eropa yang
welfare state. Di sana kalau lo di PHK
dapat tunjangan pengangguran gede. Kalau
sakit gratis. Kalau tua dapat pensiun
negara yang cukup buat hidup layak. Jadi
ada jaring pengaman atau safety net yang
tebal. Di Singapura jaring pengamannya
tipis, Bos. Kalau lo di PHK bantuan ada,
tapi dikit. Kalau sakit ada subsidi,
tapi tetap harus bayar pakai tabungan
sendiri atau CP. Kalau tua, lo hidup
dari duit yang lo kumpulin sendiri.
Sistem ini bikin orang jadi super
produktif karena takut miskin. Enggak
ada budaya males-malesan, nunggu bansos.
Tapi kelemahannya orang yang jatuh bisa
jatuh dalam banget. Dan ketakutan akan
jatuh itu bikin semua orang hidup dalam
kecemasan abadi atau constant anxiety.
Kontrol politik yang ketat juga bikin
orang ngerasa enggak punya suara. Mereka
bisa kerja, bisa hidup nyaman, tapi
enggak bisa ngubah sistem. Mereka cuma
penumpang, bukan sopir. Buat sebagian
orang ini oke-oke aja, tapi buat yang
lain ini bikin sesak napas. Apalagi
generasi muda yang lihat di internet
kalau di negara lain orang bisa bebas
banget berekspresi. Bisa ngeritik
presiden tanpa takut diciduk. Di
Indonesia walau politik kita sering
bikin sakit kepala, setidaknya kita
punya ruang buat teriak. Ada demo, ada
kritik pedas di Twitter, ada dinamika
masyarakat. Itu hal yang sering kita
remehkan tapi sebenarnya mahal harganya.
Sekarang pertanyaan besarnya, masa depan
Singapura bakal kayak gimana? Ada
tantangan raksasa di depan mata.
Pertama, populasi yang menua atau aging
population. Karena enggak ada yang mau
punya anak dan orang-orangnya panjang
umur, Singapura bakal isinya orang tua
semua. Siapa yang bakal kerja? Siapa
bayar pajak? Siapa yang ngerawat lansia?
Pemerintah udah coba segala cara. Dorong
orang bikin anak buka pintu buat imigran
pintar perpanjang usia pensiun. Tapi
masalah dasarnya tetap orang malas punya
anak karena hidupnya kera. Kedua,
ketergantungan sama pekerja asing.
Sekarang hampir 1,5 juta dari 5,5 juta
penduduk Singapura itu orang asing.
Mereka kerja di konstruksi, restoran,
rumah tangga sampai kantoran. Tanpa
mereka ekonomi Singapura bakal runtuh.
Tapi ini bikin gesekan sosial. Warga
lokal ngerasa kerjaan diambil, gaji
ditekan, negara jadi sumpek. Di sisi
lain, pekerja asing sering diperlakukan
enggak adil. Gaji kecil, kerja rodi, hak
dibatasin. Ketiga, soal model ekonomi.
Apa model Singapura ini bisa bertahan 50
tahun lagi? Model ini butuh pertumbuhan
ekonomi terus-menerus. Tapi kan enggak
mungkin tumbuh terus, ada batasnya. Pas
ekonomi melambat, sistem yang udah berat
ini bakal jadi makin berat, kompetisi
makin sadis. Keempat, krisis identitas
dan brain drain atau kaburnya orang
pintar. Generasi muda makin banyak
nanya, "Apa sih artinya jadi orang
Singapore? Ngapain gua di sini?" Banyak
yang punya skill mending cabut ke luar
negeri. Cari hidup yang lebih wess atau
work life balance. Cari lingkungan yang
lebih manusiawi. Pas orang-orang terbaik
pergi, negara kehilangan aset masa
depan. Pemerintah sadar kok ada kampanye
kesehatan mental, ada wacana ngurangin
jam kerja, tapi ngubah sistem yang udah
jalan puluhan tahun itu susahnya minta
ampun. Mereka takut kalau dilonggarin
dikit Singapore bakal kalah saing. Jadi
mereka kejebak maju kena, mundur kena.
Nah, dari semua drama ini, apa yang bisa
kita pelajari sebagai warga plus 62?
Pertama, kita harus fair. Akui kalau
Singapura sukses besar dalam banyak hal.
Mereka bangun negara modern secepat
kilat. Standar hidup tinggi, sistem
efisien, birokrasi, satset, anti korupsi
tegas. Ini patut kita copas. Sistem
transportasi publiknya, kebersihannya,
efisiensinya,
investasi di pendidikan dan
infrastruktur itu hal-hal positif yang
harus kita tiru. Tapi dan ini penting
banget, kita juga harus belajar dari
harga mahal yang mereka bayar. Jangan
sampai demi ngejar kemajuan kita
ngorbanin hal-hal yang bikin hidup layak
dinikmati. Jangan sampai kita bikin
sistem yang kaku banget sampai
manusianya lupa cara napas. Jangan
sampai kita bangun gedung pencakar
langit tapi lupa nyediain bangku taman
buat bengong sore-sore. Ada beberapa
harta karun Indonesia yang harus kita
jaga mati-matian. Satu, sistem keluarga
besar atau extended family. Di sini om,
tante, Pakde, Bude, sepupu, semua masih
kontak dan saling bantu. Ini jaring
pengaman alami paling ampuh. Pas lo
jatuh ada tangan yang nangkap. Pas butuh
bantuan ada yang support. Ini yang bikin
beban hidup jadi ringan dan orang berani
punya anak walau gaji pas-pasan. Dua,
fleksibilitas dan ruang buat salah.
Hidup di Indo emang berantakan, tapi
justru karena berantakan ada ruang buat
salah dan bangkit lagi. Telat dikit
dimaafin, salah dikit diperbaiki, gagal
masih bisa coba lagi. Manusia bukan
robot, Bro. Kita butuh ruang buat enggak
sempurna. Kalau keketatan kayak
Singapore, kita bakal jadi bangsa yang
tegang dan lelah mental. Tiga, kehidupan
sosial yang organik. Warkop, pos ronda,
alun-alun. Tetangga yang kepo tapi
peduli. Teman yang bisa disamper tanpa
janji. Ini bikin hidup enggak sepi.
Bikin lo ngerasa punya komunitas
kebahagiaan jenis ini enggak bisa dibeli
pakai dolar. Empat, budaya dan identitas
kuat. Kita punya sejarah, budaya
beragam, bahasa pemersatu, Pancasila.
Kita tahu siapa kita. Kita punya akar.
Pas dunia lagi guncang, akar ini yang
bikin kita enggak tumbang. Lima,
kreativitas dari kekacauan atau keos.
Karena hidup di sini enggak teratur,
kita jadi jago improvisasi. The power of
kepepet. Kita belajar nyelesaiin masalah
pakai cara unik. Makanya industri
kreatif kita, musik, film, kuliner,
fashion berkembang pesat karena ada
kebebasan buat eksperimen. Jadi eh visi
Indonesia maju itu jangan sampai jadi
copy paste Singapura mentah-mentah. Visi
kita harusnya Indonesia yang modern tapi
tetap manusiawi, efisien tapi tetap
lues, bersih dan rapi tapi tetap anget.
Maju ekonominya, tapi warganya enggak
gila karena stres. Kita bisa kok punya
MRT on time tanpa bikin orang serangan
jantung kalau telat 5 menit. Kita bisa
punya pendidikan bagus tanpa nyuri masa
kecil anak-anak. Kita bisa punya ekonomi
kuat tanpa bikin biaya hidup nyekek
leher keluarga muda. Kita bisa belajar
disiplin dari tetangga tanpa kehilangan
kehangatan Nusantara. Belajar efisiensi
tanpa kehilangan keluasan. Belajar
kemajuan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Karena ujung-ujungnya apa sih tujuan
pembangunan? Bukan buat jadi negara
paling tajir, bukan buat punya gedung
paling tinggi. Tujuannya tuh buat bikin
warganya hidup lebih baik. Dan lebih
baik itu bukan cuma angka GDP di kertas.
Lebih baik itu artinya orang punya waktu
buat keluarga. Orang bisa tidur nyenyak
tanpa cemas besok makan apa. Orang
ngerasa hidupnya bermakna bukan cuma
jadi robot pekerja. Singapore ngasih
pelajaran mahal. Mereka buktiin kalau
mimpi bisa dicapai. Negara kecil bisa
jadi raksasa. Disiplin bisa ngubah
nasib. Tapi mereka juga nunjukin sisi
gelapnya. Kemajuan tanpa kemanusiaan
bisa nyiptain masyarakat yang sukses
tapi capek atau exhausted, aman tapi
cemas atau anxious, kaya tapi kosong
atau empty. Pas orang Singapura bilang
hidup mereka baik-baik saja. Seringkiali
maksudnya hidupnya berjalan sesuai
rencana. Ontrack enggak ada bencana tapi
onack belum tentu bahagia. Ontrack bisa
aja berarti lu lagi lari di atas
tradmal. Gerak terus, keringetan, capek,
tapi enggak ke mana-mana dan enggak bisa
berhenti. Mungkin pelajaran terpenting
dari Singapura bukan soal apa yang harus
kita kejar, tapi apa yang harus kita
jaga. Jangan sampai pas jadi negara maju
kita kehilangan hal-hal sederhana yang
bikin hidup jadi hidup. Jangan sampai
punya kereta cepat tapi kehilangan waktu
buat ngopi santai sama bapak. Jangan
sampai punya gedung tinggi tapi
kehilangan lapangan bola tempat bocah
main layangan. Jangan sampai jadi negara
yang warganya panjang umur tapi enggak
pernah benar-benar ngerasain hidup.
Karena pembangunan sejati itu bukan cuma
bangun beton dan aspal. Pembangunan
sejati itu ngebangun kehidupan yang
layak dijalani. Kehidupan yang bukan
cuma bertahan tapi dinikmati. Yang bukan
cuma produktif tapi punya arti.
Singapura udah kasih lihat jalannya.
Sekarang giliran kita milih mau ngekor
jalan yang sama persis atau bikin jalan
kita sendiri. Jalan yang ambil ilmunya
tapi buang capeknya. Jalan yang
menghormati efisiensi tapi memuliakan
manusia. Pertanyaannya bukan kapan
Indonesia kayak Singapura. Pertanyaannya
adalah Indonesia kayak apa yang kita
mau? Yang maju pasti, tapi juga yang
hangat. Yang modern? Iya dong, tapi juga
yang tetap punya jiwa. Karena kalau ada
satu hal yang bisa dipetik dari cerita
teman gue tadi, itu adalah mimpi yang
tercapai tanpa mikirin manusianya itu
bukan mimpi, itu beban. Dan kita enggak
lagi ngebangun negara buat jadi beban.
Kita ngebangun negara buat jadi rumah.
Rumah yang bukan cuma aman dan rapi,
tapi tempat di mana kita bisa napas
lega, ketawa lepas, bikin salah, bangkit
lagi, dan ngerasa benar-benar hidup.
Yeah.