Transcript
dD58t3dCJs4 • Perang Itu Neraka… Tapi Kenapa Ada yang Kaya Raya?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0038_dD58t3dCJs4.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Oke, tarik napas
dulu, Besti. Siapin kopi atau teh anget.
Karena cerita kali ini agak bikin sesak
dada, tapi penting banget buat lu tahu.
Coba deh lu bayangin lu bangun pagi di
awal tahun 2026 ini, buka HP sambil
nyari nyawa, terus scroll berita. Isinya
kacau balau, Bro. Seriusan. Januari baru
jalan beberapa minggu, tapi rasanya
dunia udah kayak lagi cosplay jadi
neraka bocor. Di perbatasan Sudan sama
Cat, ratusan orang tewas gara-gara
bentrokan bersenjata. Geser dikit ke
Asia, di Myanmar, kelompok etnis di sana
lagi hobi banget nyerang pos militer
pemerintah. Belum lagi drama abadi di
Timur Tengah, Israel sama Iran makin
panas-panasan. Habis ada drone yang
nekat nyolek fasilitas nuklir. Terus lu
nengok ke Eropa Timur itu perang besar
udah masuk tahun keempat. Bukannya capek
malah makin gaspol. Bahkan di tempat
yang lu kira cuma ada telenovela kayak
Mexico, sekarang geng-geng di sana
perangnya udah bukan pakai pistol air
lagi. Mereka pakai senjata standar
militer yang biasa dipakai tentara buat
ngeratain kota. Dunia rasanya makin
oleng, makin enggak stabil. Tapi di
balik semua headline seram soal korban
jiwa, pengungsi yang luntang-lantung dan
kota-kota yang hancur lebur, ada satu
industri yang justru lagi pestapora.
Mereka ini jarang banget disebut namanya
di berita utama TV1 atau CNN. Tapi
percayalah, mereka selalu ada di pojokan
senyum-senyum sambil mastiin kalau semua
orang yang lagi berantem itu punya cukup
peluru buat saling tembak sampai kiamat.
Kita sering dengar kalau perang itu
tragedi kemanusiaan. Ya emang bener sih
sedih banget. Tapi ada satu sisi gelap
yang orang malas ngomongin. Bukan karena
enggak penting, tapi karena bikin enggak
enak hati alias inconvenient truth. Di
balik setiap konflik yang enggak
kelar-kelar itu ada pabrik yang mesinnya
ngebul 24 jam nonstop. Ada karyawan yang
kerjanya tiga shift kayak robot. Ada
kontrak bisnis yang nilainya terbang ke
bulan. Ada negara serta perusahaan yang
ngelihat perang bukan sebagai bencana,
tapi sebagai cuan alias peluang bisnis
yang legit banget. Jadi, selamat datang
di cerita tentang bisnis senjata. Di
mana perang modern itu enggak cuma
kejadian di lapangan berlumpur, tapi
juga di ruang meeting berac dingin dan
laporan keuangan yang angkanya hijau
semua. Coba lu bayangin sebuah pabrik di
pinggiran kota industri di Jerman
sebelum tahun 2022, tempat ini santai
banget. kerjanya cuman satu shift bikin
spare part mobil sipil. Mungkin buat
sedan yang biasa lu lihat di jalanan
Jakarta. Tapi sekarang Bu lampunya nyala
terus sepanjang malam kayak pasar malam.
Tiga shift muter terus tanpa napas. Yang
mereka bikin sekarang bukan lagi kampas
rem mobil keluarga, tapi komponen buat
sistem artileriy self propelled yang
segede gaban. Enggak ada tuh orang dalam
perusahaan yang koar-koar pamer di
media. Tapi di dalam ruang rapat
direksi, semua orang tahu orderan naik
lima kali lipat. Bonus cair, Bos. Harga
saham meroket. Dan semua rezeki nomplok
ini mulainya pas perang meletus ribuan
kilom dari pabrik mereka. Enggak ada
yang tumpengan ngerayain perang sih,
tapi ya enggak ada juga yang nolak duit
masuk ke rekening. Munafik yah. Namanya
juga bisnis. Inilah dunia absurd tempat
kita numpang hidup sekarang. Dunia di
mana perdamaian itu bagus buat nyawa
manusia, tapi ternyata boncos buat
ekonomi sektor tertentu. Kedengarannya
jahat banget ya. Tapi pas lu lihat
angka-angkanya, pas lu telusuri ke mana
duit itu ngalir, pas lu dengerin omongan
CEO perusahaan pertahanan lagi
presentasi depan investor, lu bakal
sadar ini bukan teori konspirasi ala
grup WhatsApp Bapak Apak. Ini realitas
yang sangat terukur, sangat logis, dan
cuannya gila-gilaan buat mereka yang
tahu cara mainnya. Di zaman now, bisnis
senjata itu bukan lagi transaksi gelap
di lorong pasar gelap atau deal-dealan
rahasia antar mafia. Enggak, Bro.
Sekarang itu udah official jadi bagian
resmi kebijakan negara. Dilindungi
undang-undang dan dibungkus pakai
istilah keren kayak keamanan nasional,
stabilitas kawasan, atau kepentingan
strategis. Negara-negara adidaya itu
enggak bilang mereka lagi jualan alat
pembunuh, tapi bilangnya ekspor
pertahanan atau kerja sama militer.
Bahasanya sopan, rapi, beradab kayak
bahasa pejabat pas kampanye. Tapi
intinya sama aja. Satu pihak bikin alat
buat ngelukain dan matiin orang. Pihak
satunya beli karena paranoid atau pengin
lebih sangar dari tetangganya. Pas dunia
lagi damai, bisnis ini jalannya santai
kayak mobil di gigi satu. Tapi begitu
ada konflik meletus di mana-mana kayak
sekarang, ritmenya berubah jadi balapan
F1. Permintaan meledak, produksi
digenjot, dan senjata yang tadinya cuma
jadi pajangan di pameran militer
tiba-tiba jadi barang rebutan kayak
takcil gratis pas buka puasa. Nah, kalau
kita buka peta perdagangan senjata dunia
di awal 2026 ini, rajanya masih Amerika
Serikat. Enggak ada lawan. Mereka megang
sekitar 42% pasar ekspor senjata dunia.
Kenapa bisa segede itu? Bukan cuma
karena mereka bikin paling banyak, tapi
karena cara jualan mereka pintar banget.
Mereka jual paket lengkap, lu beli
pesawat tempur dari Amerika itu rasanya
kayak lu beli iPhone. Lu enggak cuma
dapat HP-nya, lu beli ekosistemnya, lu
harus bayar pelatihan pilot
bertahun-tahun. Lu harus langganan
update software yang wajib diperbarui.
Lu harus beli suku cadang yang cuma bisa
dibeli dari pabrik aslinya, plus
dukungan teknis yang kontraknya bisa
puluhan tahun. Ini bukan jual beli putus
kayak lu beli gorengan. Ini hubungan
jangka panjang yang mengikat kayak
cicilan KPR. Apple cuan dari lu tiap
bulan lewat iCloud dan layanan lain.
Nah, bisnis senjata modern juga persis
kayak gitu cara kerjanya. Ambil contoh
paling nyata, program F35, pesawat
tempur siluman yang harganya bikin
dompet negara manapun nangis darah.
Harga satu biji FAA
di tahun 2026 ini sekitar 2 juta Do
Amerika. Mahal banget. Tapi tunggu dulu,
itu baru harga unitnya doang, belum
termasuk perintilannya. Biaya
operasional selama masa pakainya,
bensin, service, update system, training
crew bisa tembus 3 sampai empat kali
lipat dari harga belinya. Dan semuanya
harus lewat jalur resmi produsen. Lu
enggak bisa bawa tuh F 35 ke bengkel
ketok magic pinggir jalan kalau rusak.
Lu enggak bisa pakai spare part KW.
Semuanya eksklusif, semuanya dikontrol.
Tiap kali ada update software atau ada
musuh baru muncul, lu harus gesek kartu
lagi buat upgrade. Dari kacamata bisnis
ini mesin pencetak duit yang bakal muter
terus selama 30 tahun lebih. Dari
kacamata politik, ini cara Amerika
ngikat negara pembeli biar tetap nurut
sama mereka. Kalau suatu hari negara
pembeli macam-macam atau musuhan sama
Amerika, tinggal stop pasokan suku
cadang. Dan itu pesawat canggih, cuma
bakal jadi rongsokan mahal yang enggak
bisa terbang. Terus gimana sama Rusia?
Nah, Rusia ini mainnya beda strategi.
Mereka kayak toko grosir yang enggak
banyak cingcong. Mereka enggak nawarin
teknologi paling mutakir atau servis
bintang lima kayak Amerika. Tapi mereka
menang di harga murah dan syarat yang
cincai. Selama bertahun-tahun, banyak
negara di Afrika, Timur Tengah, sama
Asia Tenggara lebih demen beli senjata
Rusia. Kenapa? Karena Rusia enggak bakal
nanya-nanya soal HAM, demokrasi atau
kebijakan luar negeri lu. Kalau lu beli
dari Amerika, lu bakal diinterogasi
macam-macam kayak lagi sidang skripsi.
Kalau beli dari Rusia, pertanyaannya
cuma satu, lu punya duit enggak? Kalau
ada, bungkus. Tapi sejak 2022, posisi
Rusia agak ribet. Sanksi ekonomi bikin
mereka megap-megap nyari komponen
elektronik buat bikin senjata mereka
sendiri. Pelanggan lama mulai ragu.
Bukan karena kualitasnya jelek, tapi
takut enggak ada suku cadang. Kalau
perang Rusia sendiri enggak kelar-kelar
dan mereka butuh barang buat dipakai
sendiri. Tapi ada plot twist-nya.
Konflik panjang yang dialami Rusia
justru jadi ajang pameran gratis dunia.
Jadi bisa lihat langsung tank Rusia
dipakai di medan lumpur beneran. Sistem
pertahanan udara mereka nangkis serangan
atau drone mereka ngebombardir musuh.
Ada yang terbukti ampuh, ada yang zong.
Tapi tetap aja ini iklan gratis. Buat
negara-negara yang budgetnya pas-pasan
dan enggak sanggup beli teknologi
Amerika, Rusia tetap jadi opsi BPJS
alias budget pas jiwa selamat yang masuk
akal. Eropa. Wah, ini lebih menarik
lagi. Benua yang selama puluhan tahun
koar-koar soal perdamaian, hak asasi
manusia, dan ngurangin senjata sekarang
berubah drastis jadi war mode. Jerman
contoh paling epik sebelum 2022, militer
Jerman tuh kondisinya menyedihkan hampir
bikin malu. Amunisi kurang, kendaraan
tempur banyak yang mogok. Bahkan ada
gosip tentara latihan pakai tongkat kayu
saking enggak adanya senjata. Terus
perang pecah di tetangga sebelah Eropa
Timur dan boom. Pemerintah Jerman
langsung gelontorin 100 miliar euro buat
modernisasi militer. Pabrik-pabrik yang
tadinya sepi kayak kuburan, sekarang
kebanjiran orderan. Perusahaan kayak
rain metal yang dulu orang tahunya cuma
bikin sparep otomotif, sekarang jadi
raja artileri Eropa. Saham mereka naik
ratusan persen. Rekrut ribuan pegawai
baru, buka lini produksi baru.
Permintaan kayak air bah, enggak ada
tanda-tanda surut. Prancis sama Inggris
juga enggak mau kalah, Bro. Prancis
dengan pesawat rafalnya yang laris manis
kayak kacang goreng dipesan lebih dari
10 negara, termasuk negara kita
tercinta, Indonesia, terus Uni Emirat
Arab sama India. Inggris sibuk jualan
sistem pertahanan udara sama teknologi
kapal selam yang bikin geleng-geleng
kepala negara-negara Eropa ini di forum
internasional ngomongnya manis banget
soal diplomasi dan perdamaian. Tapi di
belakang layar, sales marketing senjata
mereka agresif banget keliling dunia.
Mereka bikin pameran pertahanan, kirim
delegasi, nawarin kredit lunak. Secara
hukum sih enggak salah, tapi ironis
banget kan. Mulut ngomong kemanusiaan,
tangan sibuk packing rudal buat dikirim
ke zona konflik. Lalu ada Tiongkok alias
Cina. Strategi mereka beda lagi, lebih
merakyat. Mereka enggak nyoba head to
head lawan Amerika di barang-barang
super premium. Mereka ngincar pasar yang
dicuekin barat. Negara berkembang yang
budgetnya ngepas tapi butuh senjata
canggih. Drone adalah contoh paling pas.
Drone militer Amerika kayak MQ 9 riper
harganya sekitar 32 juta per biji. Mahal
gila. Nah, Tiongkok datang bawa Winglung
2 atau CH5. Harganya cuma seperempatnya,
tapi fungsinya 111. Tetap bisa buat
ngintip musuh dan ngebom. Buat negara
kayak Pakistan, Nigeria atau Serbia, ini
best deal banget. Dapat teknologi
modern, harga bersahabat, dan enggak
banyak drama politik. China juga pintar.
Mereka nge-bundle jualan senjata sama
proyek infrastruktur. Jadi mereka bangun
pelabuhan, kasih utang buat bikin jalan
tol, terus sekalian nawarin paket
pertahanan sebagai bonus. Paket hemat.
Kalau kata orang sini, ini bukan cuma
dagang, ini strategi geopolitik jangka
panjang yang dibungkus rapi pakai kerdus
transaksi komersial. Sekarang mari kita
bahas barang dagangan apa yang paling
cuan di era ini. Kalau 102 tahun lalu
simbol kekuatan itu tank baja sama
pesawat tempur, hari ini trennya geser.
Senjata paling laris itu yang cepat
habis, gampang dibikin, dan selalu
dibutuhin. Juaranya adalah drone. Di
medan perang Eropa Timur, drone FPV
rakitan lokal yang harganya cuma
beberapa ratus dolar seharga HP kentang
lu bisa ngghancurin tank yang harganya
jutaan dolar. Ini perubahan ekonomi yang
brutal, man. Bayangin lu jualan pulpen.
Lu bisa jual satu pulpen mewah harga
sejutaan yang awet 10 tahun atau lu jual
pulpen murah gocengan yang habis
seminggu. Pembeli pulpen murah bakal
balik lagi, lagi, dan lagi. Drone itu
kayak gitu logikanya. Tiap drone yang
jatuh atau meledak berarti orderan baru
masuk. Tiap serangan berarti konsumsi.
Selama orang masih berantem, pabrik
drone bakal ngebul terus. Ada cerita
gila tentang startup teknologi di
Ukraina. Baru berdiri beberapa bulan
habis perang mulai. Isinya anak-anak
muda insinyur yang kerjanya di garasi.
Mereka enggak punya pabrik gede, enggak
punya sejarah militer. Mereka cuma
ngerakit drone FPV pakai komponen yang
dijual bebas di pasaran. Kurang dari 2
tahun mereka udah produksi puluhan ribu
unit dan ngerap jutaan dolar. Ini bukti
kalau hambatan masuk ke bisnis senjata
modern itu udah rendah banget buat
kategori tertentu. Lu gak perlu jadi
raksasa kayak Lockit Martin atau Boeing
buat cari duit dari perang. Lu cuma
butuh produk yang pas di waktu yang
tepat. Startup unicorn versi militer,
Bro. Terus ada kategori senjata yang
lebih high tech kayak sistem pertahanan
rudal. Contohnya Iron Dome punya Israel.
Tiap kali sistem ini nembak jatuh roket
musuh biayanya sekitar. Do sekali
tembak. Padahal roket musuhnya mungkin
cuma seharga motor bekas beberapa ribu
dolar doang. Secara hitungan ekonomi
perang sebenarnya boncos kan. Tapi dari
kacamata bisnis perusahaan pembuatnya
ini model bisnis yang sempurna. Tiap
kali Iron Dome kerja pelanggan harus
pesan isi ulang interceptornya. Tiap
tahun sistemnya harus di-update,
dikalibrasi, teknisinya dilatih ulang.
Duit ngalir, deres, dan stabil. Israel
enggak cuma pakai sendiri, mereka jual
ke negara lain. Bahkan lisensiin
produksi komponennya ke Amerika. Winwin
solution buat produsen. Boncos solution
buat pembayar pajak. Jangan lupa juga
soal perang Siber. Ini barang enggak
kelihatan tapi makin vital. Serangan
siber bisa bikin mati lampu satu negara
atau ngacak-ngacak data bank tanpa perlu
nembakin satu peluru pun. Biayanya murah
banget dibanding perang konvensional.
Modal sekumpulan hacker jago sama
komputer canggih bisa bikin kerusakan
miliaran dolar. Gara-gara ini muncul
pasar baru buat software pertahanan
Siber. Perusahaan teknologi yang tadinya
cuma bikin software buat kantor,
sekarang dapat kontrak miliaran dolar
dari pemerintah buat bikin sistem perang
digital. Ini medan perang tanpa garis
depan, tapi ladang duit basah buat yang
punya skill IT dewa. Sekarang kita bedah
ekosistem di baliknya. Banyak orang
mikir bisnis senjata itu cuma soal jual
putus terus kelar. Salah besar. Pas
negara beli sistem senjata gede, mereka
sebenarnya lagi nikah sama produsennya.
Mereka beli ekosistem pendukung yang
bakal nyedot duit selama puluhan tahun.
Contoh, sistem rudal Patriot dari
Amerika. Satu set baterai lengkap
harganya sekitar 1 miliar dolar. Mahal
belum seberapa. Dalam 20 tahun ke depan
biaya perawatan, latihan tentara ganti
rudal yang dipakai sama upgrade
teknologi bisa habis 3 sampai empat kali
lipat dari harga awal. Sah. Ini persis
kayak lu beli printer murah, tapi
tintanya mahal setengah mati dan lu
harus beli terus-terusan. Di situlah
produsen benar ener panen duit.
Pemerintah juga punya andil gede banget.
Bukan cuma sebagai pembeli, tapi juga
sebagai marketing dan penjamin. Di
Amerika ada undang-undang yang bolehin
pemerintah ngejamin bakal beli teknologi
militer baru yang lagi dikembangin
swasta. Jadi risikonya minim buat
perusahaan. Mau habisin miliaran dolar
buat riset, santai. Pamansam bakal beli
kok. Biarpun enggak ada negara lain yang
mau, pemerintah juga bantu jualan ke
negara lain lewat program bantuan
militer. Mereka kasih duit ke negara
sekutu, tapi syaratnya duit itu harus
dipakai buat beli senjata buatan Amerika
lagi. Itu bukan sedekah, Bro. Itu
subsidi muter buat industri pertahanan
mereka sendiri. Cuma bungkusnya aja
bantuan luar negeri. Pintar kan? Terus
ada fenomena yang namanya pintu putar
atau revolving door. Ini rahasia umum.
Pejabat tinggi militer atau pertahanan
pensiun. Terus besoknya udah kerja di
perusahaan senjata dengan gaji yang jauh
lebih fantastis. Mereka bawa koneksi
orang dalam, info rahasia dan pengaruh
mereka ke sektor swasta. Illegal sih
enggak, tapi baunya amis banget. Konflik
kepentingan. Bayangin jenderal yang dulu
nentuin pembelian senjata, sekarang jadi
konsultan buat perusahaan yang jual
senjata itu. Yakin keputusan dia dulu
objektif? Pertanyaan ini jarang dijawab
jujur. Lobi politik, wah ini mah udah
jadi SOP. Di Amerika doang industri
pertahanan ngabisin lebih dari 150 juta
dolar tiap tahun buat ngelobi. Mereka
bayar ratusan pelobi buat bisikin
anggota kongres, ngebentuk opini publik,
dan mastiin anggaran pertahanan tetap
gendut. Mereka juga nyawer dana kampanye
ke politisi kiri kanan. Hasilnya,
biarpun ada program senjata yang gagal,
overbudget, telat bertahun-tahun, atau
malah enggak fungsi benar, jarang banget
dibatalin total. Alasannya klasik, ah
ini nyiptain lapangan kerja di distrik
pemilihan Bapak loh. Terlalu banyak uang
kampanye yang dipertaruhkan. Nah, kita
masuk ke bagian yang paling bikin galau
masalah moral. Bisnis senjata emang
enggak secara langsung nyiptain perang.
Enggak ada CEO Lit Martin yang rapat
terus bilang, "Yuk, kita bikin kerusuhan
di negara A biar rudal kita laku."
Enggak segamblang itu. Tapi faktanya
mereka hidup dari adanya perang. Makin
lama konflik awet, makin stabil gaji
mereka. Makin banyak negara yang parno
merasa terancam, makin gede anggaran
belanja alut sista global. Ini paradoks
perdamaian buat kita manusia biasa.
Damai itu tujuan utama buat bisnis ini.
Damai itu ancaman resesi. Gimana kita
bisa berharap konflik cepat kelar kalau
struktur ekonomi globalnya malah dapat
untung pas dunia lagi rusuh? Biaya
perang juga punya sisi lain yang sering
dilupain. Biaya kesempatan alias
opportunity cost. Tiap dolar yang
dipakai buat beli tank itu adalah dolar
yang hilang buat bangun sekolah. Tiap
miliar dolar buat riset pesawat tempur
baru itu duit yang hilang buat riset
obat kanker atau energi bersih. Di tahun
2026 ini, total belanja militer dunia
diprediksi tembus 2,4 triliun dolar.
Gila enggak tuh nolnya? Kalau cuma 20%
aja dari duit segitu dialihin, kita bisa
hapus kelaparan dunia, kasih air bersih
buat 2 miliar orang dan vaksinasi
seluruh umat manusia. Tapi pilihan itu
enggak pernah diambil karena rasa takut
lebih laku dijual daripada harapan.
Persiapan perang selalu dianggap lebih
urgen daripada investasi buat
perdamaian. Dampaknya ke SDM juga ngeri.
Insinyur-insinyur paling jenius di
Amerika atau Rusia itu mayoritas
kerjanya buat industri pertahanan.
Otak-otak brilian yang harusnya bisa
nemuin cara ngatasin perubahan iklim
atau nyembuhin penyakit malah habisin
karir mereka buat ngerancang cara paling
efisien buat ngeledakin orang. Ini bukan
salah mereka pribadi sih, ini salah
sistem insentif yang ngasih nilai paling
tinggi buat keamanan nasional. Biarpun
harus ngorbanin kemajuan di bidang lain
yang lebih manusiawi. Terus gimana
posisi Indonesia di tengah kegilaan ini?
Ya, kita ini sebenarnya tim hore doang,
bukan pemain inti. Industri pertahanan
kita lebih fokus buat menuhin kebutuhan
sendiri alias kemandirian, bukan buat
ekspor gede-gedean. Anggaran pertahanan
kita tahun 2026 ini sekitar 25 miliar
dolar. Naik sih dari tahun lalu, tapi
kalau dibandingin luas wilayah dan e
tantangan geografis kita, itu masih
tergolong paket hemat. Kebanyakan
senjata TNI kita masih barang impor dari
Amerika, Prancis, Rusia sampai yang
baru-baru ini dari Turki dan Korea
Selatan. Emang ada usaha buat majuin
industri lokal kayak PT Pindat yang
bikin tank atau PT Dirgantara Indonesia
yang bikin pesawat angkut, tapi skalanya
masih terbatas. buat alat canggih, kita
masih harus check out dari luar negeri.
Yang menarik dari cara main Indonesia
itu kebijakan offset. Jadi, kalau kita
beli senjata mahal dari luar, kita minta
syarat, "Eh, gua beli barang el, tapi lu
harus transfer ilmunya ke gua atau bikin
sebagian di sini." Ya, contoh, pas kita
beli Rafal dari Prancis, ada deal biar
Prancis bantu kita bangun kapal perang
atau kapal selam. Pas kita join proyek
Jet Tempur KF 21 sama Korea Selatan,
kita dapat hak atas teknologi dan
rencana produksi lokal. Tujuannya biar
belanja pertahanan enggak cuma jadi duit
hangus, tapi jadi investasi ilmu jangka
panjang. Cuma ya realitanya di lapangan
transfer teknologi itu seringkiali
enggak seindah janji manis di atas
kertas. Tapi Indonesia juga enggak bisa
tutup mata sama tetangga. Kawasan Asia
Tenggara ini lagi lomba belanja senjata
diam-diam Singapura. Biarpun negaranya
seuprit, belanja pertahanannya
gila-gilaan, hampir 20 miliar dolar,
mereka borong F35, kapal selam canggih.
Sistem anti rudal. Vietnam juga nambah
kapal selam sama pesawat tempur Rusia.
Filipina yang dulu militernya biasa aja,
sekarang ngebut modernisasi dibantuin
Amerika gara-gara panas dingin di laut
Cina Selatan. Thailand, Malaysia,
Myanmar, semua naikin anggaran. Ini
namanya perlombaan senjata regional yang
halus. Enggak ada yang mau kelihatan
lemah kayak tetangga lu beli mobil baru,
lu jadi gatal pengen beli juga biar
enggak diremehin. Kenapa pada belanja
gila-gilaan? Pertama, gara-gara
geopolitik global lagi tegang, terutama
persaingan Amerika lawan Cina, semua
negara ASEAN ngerasa perlu punya pagar
yang kuat biar enggak gampang
diinjak-injak. Kedua, efek demo dari
perang di tempat lain. Pas negara-negara
lihat drone efektif banget di perang
beneran, mereka jadi mikir, "Waduh, kita
harus punya juga nih." Ketiga, ya karena
sel-sel senjata itu pintar banget
nawarin diskon dan paket cicilan. Buat
kita rakyat jelata, semua ini rasanya
jauh banget dan abstrak. Perang cuma
tontonan di TV atau timeline sosm.
Berita beli pesawat cuma lewat sekilas,
hidup jalan terus. Tapi kenyataannya
bonnya itu kita yang bayar, Bos. lewat
pajak yang dipakai buat bayar anggaran
pertahanan, lewat inflasi pas pemerintah
nyetak duit atau ngutang buat beli
rudal, lewat dana pendidikan atau
kesehatan yang dipotong demi beli alut
sista. Pas negara mutusin beli jet
tempur seharga miliar dolar, itu artinya
ada 1 miliar dolar yang enggak dipakai
buat benerin jalan rusak, enggak dipakai
buat naikin gaji guru honorer atau
bangun puskesmas. Ini tradeof nyata,
pilihan sulit yang jarang dijelasin
transparan ke publik. Ada juga sisi
psikologisnya. Kita terus-terusan
ditakut-takutin kalau ancaman ada di
mana-mana. Musuh mengintai. Jadi, kita
harus siap perang. Ini bikin kita hidup
dalam ketakutan kronis. Dan rasa takut
itu alat paling ampuh buat nyetop
pertanyaan kritis. Siapa yang berani
protes soal anggaran militer kalau
dibilang negara sedang bahaya? Siapa
yang berani nanya kok mahal banget?
Kalau narasinya ini demi kedaulatan
rakyat. Retorika keamanan nasional itu
sakti mandraguna karena mainin insting
bertahan hidup kita. Intinya cerita
bisnis senjata ini adalah cerita tentang
dunia yang kejebak dalam dilema
keamanan. Negara A beli senjata karena
takut sama negara B. Negara B lihat
negara A beli senjata jadi ikutan beli
karena takut diserang. Muter terus kayak
lingkaran setan. Enggak ada yang mau
perang sebenarnya. Tapi semua orang
siap-siap perang dan persiapan itu
sendiri yang malah bikin suasana makin
panas. Susah banget mutu siklus ini
karena butuh rasa percaya tingkat dewa
yang mustahil ada di dunia politik
internasional yang hukum rimba. Satu
lagi, industri senjata modern ini udah
nyampur banget sama ekonomi sipil. Susah
misahinnya, perusahaan yang bikin drone
buat ngebom juga bikin drone buat nyiram
sawah. Teknologi komunikasi militer
akhirnya dipakai buat sinyal HP kita.
internet, GPS itu semua awalnya proyek
militer. Jadi sering ada argumen belanja
pertahanan itu bagus kok bikin inovasi
teknologi buat masyarakat. Ya, ada
benarnya sih, tapi itu juga ngelupain
fakta. Kalau duit yang sama dipakai
langsung buat riset sipil tanpa lewat
jalur militer, mungkin hasilnya sama
bagusnya atau malah lebih cepat tanpa
perlu embel-embel bom. Terus kita juga
harus ngomongin soal janji palsu senjata
canggih. Banyak proyek senjata itu
molornya minta ampun dan biayanya
bengkak gila-gilaan. Jet tempur yang
janjinya kelar 10 tahun ee jadinya 20
tahun. Kapal perang budget sekian
jadinya tiga kali lipat. Tapi karena
udah terlanjur basah alias Sang Cos
Velessy, proyeknya enggak bisa diop.
Udah terlalu banyak duit masuk, terlalu
banyak gengsi dipertaruhkan. Jadi, ya
lanjut terus biarpun boncos karena
mundur udah enggak mungkin. So, di tahun
2026 ini pas kita lihat berita konflik
meletus tiap minggu, pas negara-negara
lomba gedein otot militer, pas
perusahaan senjata laporin untung
triliunan. Ingat satu hal, ini bukan
takdir Tuhan yang enggak bisa diubah.
Ini hasil pilihan manusia, pilihan
pemerintah, perusahaan, dan secara
enggak langsung pilihan kita juga
sebagai warga negara yang milih
pemimpin. Sistem ini bisa berubah kalau
dan cuma kalau ada kemauan politik yang
kuat dan rakyat yang berani nuntut
prioritas beda. Tapi ngerubah ini butuh
lebih dari sekadar mimpi siang bolong.
butuh paham gimana sistem licin ini
bekerja, siapa yang kenyang makan
duitnya dan apa yang bikin mereka terus
ngelakuin itu. Butuh keberanian buat
nanya pertanyaan enggak enak dan nantang
narasi yang udah kita telan
mentah-mentah. Keamanan sejati itu
enggak datang dari senjata yang lebih
banyak, tapi dari beresin akar masalah
konflik dan bikin dunia di mana orang
ngerasa lebih untung kalau damai
daripada perang. Pada akhirnya cerita
bisnis senjata ini adalah cermin siapa
kita sebagai spesies manusia saat ini.
Kita bisa bikin teknologi canggih, bikin
sistem ekonomi rumit, tapi kita masih
bego dalam hal hidup bareng tanpa
ancam-ancaman. Kita masih percaya cara
terbaik ngelindungin diri adalah dengan
punya alat buat ngghancurin orang lain.
Selama kita masih mikir gitu bisnis
senjata bakal terus jaya. Pabrik bakal
ngebul tiga shift, kontrak ditekan, dan
di suatu tempat bakal ada orang yang
mati kena senjata buatan seseorang.
Seseorang yang mungkin lagi asik ngopi
tanpa mikirin akibat kerjaan mereka. Ini
bukan cerita dongeng yang endingnya
bahagia selamanya. Ini cerita yang masih
jalan terus selama kita ngebiarin.
Pertanyaannya bukan kapan bisnis senjata
bangkrut? Karena kayaknya enggak bakal
kejadian dalam waktu dekat.
Pertanyaannya adalah kapan kita mulai
sadar dan nanya, "Woi, ini duit kita
dipakai buat apa sebenarnya?" Karena
ujung-ujungnya duit yang muter di sana
itu duit kita. Keputusan yang diambil
itu atas nama kita. Dan kalau dunia
meledak, yang nanggung akibatnya ya kita
semua. Baik sekarang atau nanti pas anak
cucu kita yang harus mungutin
puing-puingnya.