Transcript
i_OI95W0qO0 • Tragedi Borobudur: Ribuan Turis Datang, Tapi Warga Cuma Dapat Debu?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0040_i_OI95W0qO0.txt
Kind: captions Language: id Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Ada satu dogma, satu kepercayaan yang udah mendarah daging banget di otak kebanyakan orang Indonesia yang levelnya udah kayak keyakinan kalau makan mie instan itu paling enak pas hujan, enggak perlu didebat lagi. Keyakinan ini simpel banget. Kalau jalan tol dibuka, daerah situ auto tajir. Kalau bandara baru kelar dibangun, ekonomi lokal bakal meroket. Kalau ada kereta cepat lewat, wah itu uang bakal ngalir deras. Warung-warung bakal antre kayak mau beli takjil. Dan anak muda yang merantau bakal balik kampung buat bangun desa. Keyakinan ini tuh saking kuatnya tiap kali kita dengar ada proyek infrastruktur baru, otak kita langsung nge-set ekspektasi masa depan yang cerah, silau, gemilang. Tapi pernah enggak sih kita berhenti sebentar sambil nyeruput kopi terus nanya satu hal yang agak jahat tapi penting? Cerah buat siapa dulu nih, Bos? Coba kita flashback dikit. Selama lebih dari satu dekade terakhir, Indonesia ini lagi gila-gilaan bangun infrastruktur. Skalanya enggak main-main. Belum pernah kejadian sebelumnya. Dari tahun 2015 sampai 2024, pemerintah kita sudah ngegelar karpet aspal alias jalan tol baru sepanjang lebih dari 2.000 km. Lu bayangin itu jaraknya hampir sama kayak lu tarik garis lurus dari Aceh sampai Papua. Gila enggak tuh? Belum lagi belasan bandara baru dibuka di tempat-tempat yang dulunya cuma bisa diakses sama burung atau pendaki gunung. Pelabuhan digedein, rel kereta dibenerin. Dan yang paling bikin heboh seAsia Tenggara akhirnya kita punya kereta cepat Jakarta Bandung yang super ngebut itu. Ratusan triliun rupiah duit negara diguyur dengan satu misi suci yaitu mempercepat pergerakan manusia dan barang. Logikanya emang kedengaran seksi banget. Kalau orang bisa datang lebih cepat, lebih gampang, ya pasti ekonomi daerah bakal goyang dalam artian positif ya. Kalau jarak makin dekat, peluang makin gede. Dan jujur aja di awal-awal logika ini emang kerasa benar banget kayak lu baru jadian. Dunia serasa milik berdua. Tapi plot twist-nya mulai kejadian belakangan ini. Di banyak tempat muncul pemandangan yang bikin garu-garu kepala. Pemandangan yang enggak pernah ditampilin di slide presentasi PowerPoint pejabat pas lagi ground breaking proyek. Datanya bilang jumlah pengunjung naik, tapi kok dompet warga lokal enggak makin tebal. Jalanan di depan rumah makin mulus kayak pipi selepgram tapi toko-toko malah pada gulung tikar. Hotel-hotel gede berdiri gagah tapi homestay punya warga malah sepi kayak kuburan kosong melompong. Orang yang datang emang lebih ramai dari rombongan kondangan, tapi entah kenapa duit mereka ggak nyangkut di situ. Fenomena inilah yang sering banget lolos dari radar kita karena mata kita udah ketutupan sama euforia pembangunan. Efek ini kerjanya diam-diam, pelan tapi pasti. Persis kayak sedotan yang lagi nyedot isi gelas es teh lu pas lu lagi lengah. Para ekonom yang pintar-pintar itu nyebutnya sebagai straw effect atau efek sedotan. Dan sadar enggak sadar, Indonesia lagi ngalamin ini secara real time di berbagai pelosok. Biar gampang pahamnya, enggak usah pakai bahasa ekonomi yang bikin pusing. Bayangin aja segelas es teh manis jumbo di warung makan. Selama ini kita terlalu fokus ngebagusin gelasnya. Kita gedein gelasnya. Kita bikin es batunya kristal. Kita hias biar estetik supaya orang mau datang. Tapi tanpa kita sadar, kita juga masang sedotan yang panjang banget dan daya sedotnya kencang parah. Tiap kali ada orang minum itu air teh enggak diam di dasar gelas, tapi langsung kesedot ke atas bablas pergi entah ke mana. Gelasnya sih masih di situ. Kelihatan dari luar masih ada wujudnya, tapi isinya makin lama makin kering, keronteng. Nah, begitulah nasib yang lagi dialami banyak daerah wisata dan kota-kota kecil di Indonesia. Pas infrastruktur datang ngebut, tapi ekonomi lokalnya masih jalan santai alias belum siap. Di dunia pariwisata ada satu fakta pahit yang sering dicuekin yang nentuin seberapa banyak cuan yang beredar di suatu daerah itu. Bukan cuma seberapa banyak kepala yang nongol, tapi seberapa lama pantat mereka nempel di situ. Wisatawan yang cuma mampir bentar, biarpun jumlahnya kayak semut, hampir selalu ngeluarin duit jauh lebih dikit dibanding wisatawan yang nginep. Ini bukan opini soto ya, ini pola yang udah kejadian di banyak negara dan udah divalidasi sama macam-macam penelitian. Data dari berbagai destinasi wisata tuh nunjukin fakta yang nampar banget. Wisatawan yang nginp itu belanjanya bisa 3 sampai li kali lipat lebih banyak dibanding turis di penumpang lewat alias day tripper. Orang yang datang pagi terus sore udah cabut. Mereka enggak butuh hotel, makan paling cuma sekali. itu pun kadang udah bawa bekel atau udah include paket tour dan hampir enggak pernah beli oleh-oleh yang bikin pedagang senyum lebar. Fisik mereka emang ada di lokasi menuh-menuhin jalan, tapi jejak ekonominya tipis banget. Setipis tisu dibagi dua. Coba kita bedah contoh nyatanya. Borobudur. Siapa sih yang enggak tahu selama puluhan tahun jadi ikcon pariwisata Indonesia? Top global lah pokoknya. Tiap tahun lebih dari 4 juta manusia datang buat lihat candi ini. Kalau dilihat dari drone atau dari laporan statistik, Borobudur sukses besar. Parkiran bus pariwisata enggak pernah sepi. Foto-foto selfie bertebaran di Instagram pakai hashtag yang sama. Tapi coba lu geser dikit sudut pandang lu keluar dari pagar candi masuk ke desa-desa di sekelilingnya. Ceritanya enggak seindah fit Instagram itu, Bro. Dulu zaman akses belum secepat sekarang pas jalan dari Jogja ke Borobudur masih meliuk-liuk. Dan butuh waktu hampir 2 jam. Turis yang ke Borobudur itu hampir pasti bakal nginp. Mereka tidur di Magelang atau di homestay desa sekitar, makan di warung Tegal lokal, nyewa guide dari warga situ, beli kerajinan tangan langsung dari pengrajinnya. Duitnya mungkin enggak gede-gede amat per orang, tapi muternya di tangan banyak orang. Homestay hidup. Warung nasi goreng laku, pengrajin souvenir senang, ekonomi kerakyatan jalan. Sekarang situasinya beda 180 derajat. Jalan udah mulus. Sistem turour makin canggih dan efisien. Banyak turis datang pakai paket one day trip. Pagi buta berangkat dari Jogja, siang udah sampai Borobudur. Foto-foto sejam 2 jam, update status, sorenya udah balik lagi ke kota. Makan siangnya udah include paket, kadang malah kateringnya dibawa dari Jogja sama operator tournya. Oleh-oleh belinya di rest area atau toko gede yang udah kerja sama, bukan di lapak mbok-mbok pedagang kecil sekitar candi. Secara angka pengunjung Borobudur emang ramai, grafiknya naik terus, tapi secara ekonomi lokal dampaknya enggak sebanding. Duitnya malah parkir di Jogja, hotel gede di Jogja yang panen tamu, operator tour dari kota yang dapat untung, aplikasi booking online yang dapat komisi. Borobudur tetap ramai tiap hari, tapi desa-desa di sekitarnya cuma kebagian macet sama debunya doang. Enggak ikut sejahtera kayak yang digembar-gemborkan. Warga lokal sering curhat hal yang sama. Tiap hari lihat ribuan bule atau turis lokal lewat, tapi hidup mereka segitu-gitu aja. Anak-anak mereka tetap harus merantau ke kota karena enggak ada masa depan jelas di kampung. Warung yang dulu ramai, sekarang buka cuma kalau ada event gede doang. Homestay yang dulu full book, sekarang cuma keisi pas long weekend atau libur sekolah. Ini contoh klasik gimana infrastruktur canggih dan sistem pariwisata modern malah bikin destinasi cuma jadi titik singgah, bukan tempat tinggal. Borobudur masih jadi magnet kuat, tapi magnetnya cuma narik orang datang tanpa nahan mereka cukup lama buat bagi-bagi rezeki ke warga lokal. Cerita yang sama malah lebih dramatis lagi. Kejadian di Mandalika. Pas Mandalika di Lombok ditetapin jadi salah satu dari 10 Bali baru atau destinasi super prioritas. Ekspektasinya tuh udah setinggi langit. Investasi miliaran dolar masuk. Sirkuit MotoGP dibangun standar internasional nama Mandalika Mendunia. Di atas kertas ini mimpi basah buat daerah manapun. Event kelas dunia disorot media global. Turis mancanegara antre masuk. Tapi lagi-lagi pertanyaannya bukan apakah orang datang. Orang jelas datang apalagi pas ada balapan. Pertanyaannya adalah duit mereka larinya ke kantong siapa? Model pengembangan Mandalika itu berat banget di resort-resort raksasa dan kawasan eksklusif yang dikelola korporasi gede. Wisatawan datang bobo cantik di Hotel Bintang 5, makan di restoran fancy di dalam resort. Nikmatin fasilitas yang semuanya udah dibayar di depan pakai paket all inclusif. Buat turis ini surga nyaman, enggak ribet semua diurus. Buat investor ini efisien banget buat ngeruk cuan. Tapi buat UMKM lokal di luar pagar tinggi resort itu buat warung kopi pinggir jalan, buat pengrajin lokal manfaatnya seringkiali cuma remah-remah. Banyak warga lokal akhirnya cuma jadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Mereka cuma bisa ngelihat lampu-lampu resort nyala terang benderang pas malam. Sementara rumah mereka di desa tetap gelap. Baik secara harfiah mati lampu atau gelap secara ekonomi. Data ketenagakerjaan dari kawasan Kay Mandalika nunjukin fakta pahit. Lapangan kerja emang ada, tapi kebanyakan posisi buat warga lokal itu mentok di level operasional. Jadi housekeeping, tukang laundry, security atau cleaning service. Kerjaan yang emang ada gajinya tapi value-nya rendah dan jenjang karirnya sempit. Sementara posisi manajer GM yang gajinya dolar atau dua digit tebal seringkiali diimpor dari luar daerah atau malah bule sekalian. Cuan utama dari resort-resot mewah ini ngalirnya ke mana? Ya, balik ke perusahaan induk di Jakarta, di Bali atau malah ke luar negeri. Uang emang masuk ke Lombok tapi numpang lewat doang. Enggak ngendap dan muter di level warga. Ini bukan cuma salah satu proyek doang. Ini pola yang terus berulang. Kalau infrastruktur dan investasi gede masuk tanpa strategi jelas buat nahan duit biar muter di rakyat kecil. Nah, sekarang kita geser ke mainan baru kita yang sering dibanggain di mana-mana. kereta cepat Jakarta Bandung alias Hush. Dari sisi teknologi dan gengsi, ini proyek emang gokil. Kita jadi negara pertama di ASEAN yang punya mainan canggih ini. Jakarta, Bandung cuma 40 menitan tuh rasanya kayak cheat codat di game mimpi jadi nyata. Tapi justru di kemudahan inilah potensi masalahnya ngintip kalau kita enggak hati-hati. Ini bukan kritik ke kereta cepatnya, tapi risiko yang sering muncul kalau kota tujuannya belum siap. Bayangin skenario yang sangat mungkin kejadian ini. Orang Jakarta bangun pagi naik hush jam 0. Jam 09.00 udah sampai Bandung. Sarapan cantik di Cafe Hits. Ngopi sambil buka laptop bentar. Jalan-jalan ke Factory Outlet atau Dago. Makan siang di resto viral. Foto-foto buat stok konten Instagram seminggu. Terus sorenya naik kereta lagi. Dan sebelum jam makan malam udah sampai rumah di Jakarta. Total waktu perjalanannya bahkan bisa lebih cepat daripada lu macet-macetan dari Jaksel ke Jakut pas jam pulang kantor. Dalam skenario kayak gini, Bandung beresiko banget cuma jadi tempat nongkrong. Bukan tujuan liburan buat nginp. Kalau pola ini kejadian massal, Bandung bakal nerima keramaiannya. Bakal macetnya makin parah. Ribuan orang datang tiap hari. Tapi hotel-hotel di Bandung bakal gigit jari karena enggak dapat jatah nginep. Pengalaman di negara maju yang udah duluan punya kereta cepat kayak Jepang nunjukin fenomena ini. Kota-kota yang jaraknya 1 sampai 2 jam dari Tokyo naik Shinkansen itu ngalamin nasib jadi kota singgah. Orang Tokyo datang cuma buat makan siang atau jalan sore terus balik lagi hari itu juga. Ini bukan karena turisnya jahat, tapi karena logika efisiensi. Kalau bisa pulang ke kasur sendiri dengan nyaman dan cepat, ngapain buang duit sewa hotel? Bedanya di Jepang, kota-kota itu udah punya infrastruktur pariwisata yang badak banget. Mereka punya atraksi malam yang keren, festival lokal unik, kuliner yang enggak bisa ditemuin di tempat lain. Mereka udah siap ngadepin serbuan day triper dan punya strategi buat tetap mengambil nilai ekonomi mereka secara elegan. Nah, Indonesia khususnya kota kaynya udah siap belum? Dan ini yang bikin kita lebih rentan kena efek sedotan tadi. Kita punya kelemahan struktural, Bos. Pertama, data Kemain Parcraf bilang rata-rata turis domestik kita itu liburannya singkat banget, cuma 1 sampai 2 hari. Beda sama bule yang bisa berminggu-minggu. Kedua, UMKM kita seringkiali kalah start sama pemain gede. Warung Maijah kalah saing sama franchise minimarket yang lampunya terang benderang. Homestay warga kalah marketing sama chain hotel yang budget iklannya miliaran. Guide lokal kalah praktis sama aplikasi traveling. Ketiga, perencanaan wisata kita tuh seringnya cuman fokus bikin spot foto. Kita lupa kalau turis zaman now, apalagi Gen Millenial, enggak cuma cari background foto, mereka cari experience, cari cerita, eh cari sesuatu yang enggak bisa kelar cuma dalam sehari. Kita terlalu lama mikir kalau mendatangkan orang itu adalah gol terakhir. Padahal mendatangkan orang itu baru langkah pertama, bosku. Yang jauh lebih susah level boss fight-nya adalah bikin mereka betah, bikin mereka mau stay lebih lama, belanja di warung warga dan pengin balik lagi. Tanpa itu, infrastruktur canggih cuma jadi pipa pembuangan duit ke luar daerah dengan kecepatan tinggi. Tapi jangan pesimis dulu. Enggak semua daerah gagal kok. Ada tempat-tempat yang berhasil lolos dari jebakan Batman ini. Dan kalau diperhatiin, mereka punya satu kesamaan. Mereka berhasil nyiptain alasan kuat kenapa orang harus tinggal lebih lama. Contoh paling valid Ubut Bali. Ubut itu enggak punya pantai, enggak ada sunset spektakuler kayak di Kuta atau Seminyak. Tapi kenapa orang bisa betah 3 sampai 5 hari di sana? Karena Ubut jualan pengalaman yang butuh waktu. Ada kelas yoga pagi-pagi, cooking class masakan Bali, tracking ke sawah trasering, blusukan ke galeri seni, nonton tarik kecak malam-malam. Suasananya bikin orang pengen slow down. Ubut juga desain kawasannya asik buat jalan kaki atau sepedaan. Wisatawan enggak gabut. Mereka ngerasa waktu sehari du hari tuh enggak cukup buat nyerep energi ubut. Hasilnya turis di sana rata-rata nginp 3 sampai 4 malam. Duitnya muter ke pemilik homestay, ke warung lokal, ke komunitas seni rata dan awet. Atau lihat Jogja di luar kasus Borobudur tadi ya, Jogja tetap berhasil bikin orang nginp. Kenapa? Karena Jogja enggak cuma jualan candi, Jogja jualan vibe. Ada Malioboro pas malam angkringan di tiap tikungan, suasana kota pelajar, belajar membatik, bikin gerabah atau susur gua. Lapisannya banyak. 3 hari di Jogja rasanya masih kurang. Pola suksesnya sama. Mereka nyiptain layer pengalaman. Bukan cuma satu atraksi luar gede, tapi banyak hal kecil-kecil yang bikin nagih. Mereka paham kalau turis tuh butuh tempat buat dirasakan dan dihidupi, bukan cuma dilihat. Intinya gini, cuy. Infrastruktur itu bukan mesin pencetak uang otomatis. Infrastruktur itu cuma alat, cuma tools. Dia bisa jadi jembatan emas menuju kemakmuran atau malah jadi pipa penyedot yang bikin daerah makin miskin karena duitnya kabur keluar. Semua tergantung kesiapan daerahnya. Daerah yang fondasi ekonomi lokalnya udah kuat, UMKM-nya solid, produknya unik, bakal terbang tinggi pas ada tol baru. Tapi daerah yang pondasinya rapuh, yang warganya belum siap mental buat bersaing, yang cuma ngarep cipratan justru bisa ambruk lebih cepat. Infrastruktur itu akselerator. Dia mempercepat yang baik, tapi juga mempercepat kehancuran kalau enggak siap. Kesiapan di sini bukan cuma soal jalanan dicat ulang atau gapura dibagusin ya. Ini soal mindset, soal cara mikir. Kita sering mikir masalah utama daerah itu kurang akses. Seolah-olah kalau akses dibuka, duit bakal jatuh dari langit. Padahal akses itu cuma pintu. Pas pintu kebuka lebar, pertanyaannya jadi lebih horor. Apa isi rumah lu cukup menarik buat bikin tamu betah duduk lama atau rumah lu sebenarnya ngebosenin dan bikin tamu pengen buru-buru pamit? Jujur aja banyak daerah wisata kita masih pakai pola pikir jadul yang udah enggak relevan. Pola pikir panen raya setahun sekali pas lebaran atau tahun baru. Di luar itu sepi, nyenyet. Pola ini mungkin oke zaman dulu pas traveling itu susah dan mahal. Tapi sekarang pas tiket murah dan jalan tol di mana-mana, orang bisa liburan kapan aja. Spontan. Justru tempat wisatanya yang harus adaptasi sama gaya hidup manusia modern yang mobile dan rewel. Wisatawan hari ini beda banget sama bapak- emak kita dulu. Mereka spontan, cepat, bosan, dan hitung-hitungan soal value for money. Mereka nanya, "Gua keluar duit segini, worth it enggak pengalamannya?" Kalau jawabannya enggak, mereka enggak bakal marah-marah atau demo. Mereka bakal ngelakuin hal yang lebih nyeremin, yaitu ghosting. Pergi diam-diam dan enggak bakal balik lagi. Dan kepergian yang sunyi ini jauh lebih bahaya daripada dikomplain. Karena kita enggak tahu salah kita di mana. Salah kaprah paling fatal adalah mikir. Kalau solusi masalah ini cuma promosi yang gencar. Pas pengunjung turun, respon standarnya bikin logo baru, slogan baru, video cinematic baru, festival baru, itu mah kayak ngasih bedak tebal ke muka yang lagi jerawatan parah. Kelihatan bagus di foto aslinya tetap sakit. Promosi bisa datangin orang di awal karena penasaran atau fomo, tapi promosi enggak bisa maksa orang buat stay kalau tempatnya emang enggak asik. Experience yang real, otentik, dan berkesan itu kuncinya. Dan yang berkesan itu enggak meluluh, harus mewah. Kadang cuma butuh trotoar yang enggak bolong, toilet yang enggak bau pesing, makanan yang harganya jujur, enggak nembak harga, sama senyum warga yang tulus bukan senyum karena lihat duit. Hal-hal basic kayak gini enggak otomatis muncul pas tol. Jadi ini butuh perencanaan, butuh latihan, butuh revolusi mental warga lokal dan perubahan itu pasti sakit. Biayanya bukan cuma duit, tapi ego. Kita sering kejebak nostalgia. Dulu tempat ini ramai banget loh. Dulu bule antre. Kalimat kayak gitu tuh racun, Bro. itu penjara mental. Generasi yang punya kenangan itu udah tua. Generasi baru yang punya duit sekarang enggak peduli masa lalu lu. Mereka peduli apa yang bisa lu kasih sekarang. Infrastruktur modern itu kejam. Dia mempercepat tabrakan antara masa lalu dan masa kini. Perubahan datangnya gedebuk sekaligus. Daerah yang enggak siap bakal kerasa kayak dikeroyok. Dari atas digempur investor raksasa. Dari samping digampar perilaku turis yang makin demanding. Dari dalam digerogoti anak muda lokal yang kabur karena enggak lihat harapan. Di sinilah ironi terbesarnya. Infrastruktur dibangun buat nyatuin, buat ngeratain akses. Tapi kalau salah kelola, dia malah memisahkan. Misahin si kaya yang siap adaptasi sama si miskin yang cuma dapat ampas. Misahin pusat keuntungan sama daerah pinggiran yang cuma jadi penonton keramaian. Indonesia bakal terus ngebangun. Itu pasti. Jalan tol baru, bandara baru, stasiun baru bakal terus bermunculan. Pertanyaannya bukan lagi perlu enggak infrastruktur itu. Jelas perlu, tapi pertanyaannya daerah yang dilewatin itu udah siap belum nahan duit yang lewat? Apakah ada rencana jelas buat ngelibatin UMKM? Apakah ada strategi bikin orang nginp? Apakah warga lokal dilatih jadi pengusaha, bukan cuma jadi tukang bersih-bersih? Jadi kalau besok di daerah lu ada pengumuman mau dibangun tol atau stasiun kereta cepat, jangan langsung sujud syukur dan euforia berlebihan. Jangan mikir hidup lu otomatis jadi kaya sultan. Tanya satu hal ini. Setelah orang gampang datang ke sini, apa alasan kuat yang bikin mereka enggak mau buru-buru pulang? Kalau jawabannya masih ya lihat nantilah. Atau pasti ramai kok. Mending lu siap-siap deh. Siap-siap karena yang datang mungkin bukan berkah tapi ujian berat. Tanpa jawaban yang jelas, kita sebenarnya cuma lagi masang sedotan raksasa ke gelas yang sama, terus berharap pakai ilmu sihir kalau gelasnya enggak bakal habis. Infrastruktur itu cuma jalan, Bro. Cuma highway. Dia bisa ngantterin orang datang, tapi cuma strategi cerdas dan kesiapan mental kita yang bisa bikin duit dan kehidupan beneran tumbuh dan bertahan di situ. Jangan sampai jalan tol dan kereta cepat itu cuma jadi jalur ekspres buat datang dan pergi, bukan alasan buat tinggal dan tumbuh bareng. Yeah.