Transcript
i_OI95W0qO0 • Tragedi Borobudur: Ribuan Turis Datang, Tapi Warga Cuma Dapat Debu?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0040_i_OI95W0qO0.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Ada satu dogma,
satu kepercayaan yang udah mendarah
daging banget di otak kebanyakan orang
Indonesia yang levelnya udah kayak
keyakinan kalau makan mie instan itu
paling enak pas hujan, enggak perlu
didebat lagi. Keyakinan ini simpel
banget. Kalau jalan tol dibuka, daerah
situ auto tajir. Kalau bandara baru
kelar dibangun, ekonomi lokal bakal
meroket. Kalau ada kereta cepat lewat,
wah itu uang bakal ngalir deras.
Warung-warung bakal antre kayak mau beli
takjil. Dan anak muda yang merantau
bakal balik kampung buat bangun desa.
Keyakinan ini tuh saking kuatnya tiap
kali kita dengar ada proyek
infrastruktur baru, otak kita langsung
nge-set ekspektasi masa depan yang
cerah, silau, gemilang. Tapi pernah
enggak sih kita berhenti sebentar sambil
nyeruput kopi terus nanya satu hal yang
agak jahat tapi penting? Cerah buat
siapa dulu nih, Bos? Coba kita flashback
dikit. Selama lebih dari satu dekade
terakhir, Indonesia ini lagi gila-gilaan
bangun infrastruktur. Skalanya enggak
main-main. Belum pernah kejadian
sebelumnya. Dari tahun 2015 sampai 2024,
pemerintah kita sudah ngegelar karpet
aspal alias jalan tol baru sepanjang
lebih dari 2.000 km. Lu bayangin itu
jaraknya hampir sama kayak lu tarik
garis lurus dari Aceh sampai Papua. Gila
enggak tuh? Belum lagi belasan bandara
baru dibuka di tempat-tempat yang
dulunya cuma bisa diakses sama burung
atau pendaki gunung. Pelabuhan digedein,
rel kereta dibenerin. Dan yang paling
bikin heboh seAsia Tenggara akhirnya
kita punya kereta cepat Jakarta Bandung
yang super ngebut itu. Ratusan triliun
rupiah duit negara diguyur dengan satu
misi suci yaitu mempercepat pergerakan
manusia dan barang. Logikanya emang
kedengaran seksi banget. Kalau orang
bisa datang lebih cepat, lebih gampang,
ya pasti ekonomi daerah bakal goyang
dalam artian positif ya. Kalau jarak
makin dekat, peluang makin gede. Dan
jujur aja di awal-awal logika ini emang
kerasa benar banget kayak lu baru
jadian. Dunia serasa milik berdua. Tapi
plot twist-nya mulai kejadian belakangan
ini. Di banyak tempat muncul pemandangan
yang bikin garu-garu kepala. Pemandangan
yang enggak pernah ditampilin di slide
presentasi PowerPoint pejabat pas lagi
ground breaking proyek. Datanya bilang
jumlah pengunjung naik, tapi kok dompet
warga lokal enggak makin tebal. Jalanan
di depan rumah makin mulus kayak pipi
selepgram tapi toko-toko malah pada
gulung tikar. Hotel-hotel gede berdiri
gagah tapi homestay punya warga malah
sepi kayak kuburan kosong melompong.
Orang yang datang emang lebih ramai dari
rombongan kondangan, tapi entah kenapa
duit mereka ggak nyangkut di situ.
Fenomena inilah yang sering banget lolos
dari radar kita karena mata kita udah
ketutupan sama euforia pembangunan. Efek
ini kerjanya diam-diam, pelan tapi
pasti. Persis kayak sedotan yang lagi
nyedot isi gelas es teh lu pas lu lagi
lengah. Para ekonom yang pintar-pintar
itu nyebutnya sebagai straw effect atau
efek sedotan. Dan sadar enggak sadar,
Indonesia lagi ngalamin ini secara real
time di berbagai pelosok. Biar gampang
pahamnya, enggak usah pakai bahasa
ekonomi yang bikin pusing. Bayangin aja
segelas es teh manis jumbo di warung
makan. Selama ini kita terlalu fokus
ngebagusin gelasnya. Kita gedein
gelasnya. Kita bikin es batunya kristal.
Kita hias biar estetik supaya orang mau
datang. Tapi tanpa kita sadar, kita juga
masang sedotan yang panjang banget dan
daya sedotnya kencang parah. Tiap kali
ada orang minum itu air teh enggak diam
di dasar gelas, tapi langsung kesedot ke
atas bablas pergi entah ke mana.
Gelasnya sih masih di situ. Kelihatan
dari luar masih ada wujudnya, tapi
isinya makin lama makin kering,
keronteng. Nah, begitulah nasib yang
lagi dialami banyak daerah wisata dan
kota-kota kecil di Indonesia. Pas
infrastruktur datang ngebut, tapi
ekonomi lokalnya masih jalan santai
alias belum siap. Di dunia pariwisata
ada satu fakta pahit yang sering
dicuekin yang nentuin seberapa banyak
cuan yang beredar di suatu daerah itu.
Bukan cuma seberapa banyak kepala yang
nongol, tapi seberapa lama pantat mereka
nempel di situ. Wisatawan yang cuma
mampir bentar, biarpun jumlahnya kayak
semut, hampir selalu ngeluarin duit jauh
lebih dikit dibanding wisatawan yang
nginep. Ini bukan opini soto ya, ini
pola yang udah kejadian di banyak negara
dan udah divalidasi sama macam-macam
penelitian. Data dari berbagai destinasi
wisata tuh nunjukin fakta yang nampar
banget. Wisatawan yang nginp itu
belanjanya bisa 3 sampai li kali lipat
lebih banyak dibanding turis di
penumpang lewat alias day tripper. Orang
yang datang pagi terus sore udah cabut.
Mereka enggak butuh hotel, makan paling
cuma sekali. itu pun kadang udah bawa
bekel atau udah include paket tour dan
hampir enggak pernah beli oleh-oleh yang
bikin pedagang senyum lebar. Fisik
mereka emang ada di lokasi menuh-menuhin
jalan, tapi jejak ekonominya tipis
banget. Setipis tisu dibagi dua. Coba
kita bedah contoh nyatanya. Borobudur.
Siapa sih yang enggak tahu selama
puluhan tahun jadi ikcon pariwisata
Indonesia? Top global lah pokoknya. Tiap
tahun lebih dari 4 juta manusia datang
buat lihat candi ini. Kalau dilihat dari
drone atau dari laporan statistik,
Borobudur sukses besar. Parkiran bus
pariwisata enggak pernah sepi. Foto-foto
selfie bertebaran di Instagram pakai
hashtag yang sama. Tapi coba lu geser
dikit sudut pandang lu keluar dari pagar
candi masuk ke desa-desa di
sekelilingnya. Ceritanya enggak seindah
fit Instagram itu, Bro. Dulu zaman akses
belum secepat sekarang pas jalan dari
Jogja ke Borobudur masih meliuk-liuk.
Dan butuh waktu hampir 2 jam. Turis yang
ke Borobudur itu hampir pasti bakal
nginp. Mereka tidur di Magelang atau di
homestay desa sekitar, makan di warung
Tegal lokal, nyewa guide dari warga
situ, beli kerajinan tangan langsung
dari pengrajinnya. Duitnya mungkin
enggak gede-gede amat per orang, tapi
muternya di tangan banyak orang.
Homestay hidup. Warung nasi goreng laku,
pengrajin souvenir senang, ekonomi
kerakyatan jalan. Sekarang situasinya
beda 180 derajat. Jalan udah mulus.
Sistem turour makin canggih dan efisien.
Banyak turis datang pakai paket one day
trip. Pagi buta berangkat dari Jogja,
siang udah sampai Borobudur. Foto-foto
sejam 2 jam, update status, sorenya udah
balik lagi ke kota. Makan siangnya udah
include paket, kadang malah kateringnya
dibawa dari Jogja sama operator tournya.
Oleh-oleh belinya di rest area atau toko
gede yang udah kerja sama, bukan di
lapak mbok-mbok pedagang kecil sekitar
candi. Secara angka pengunjung Borobudur
emang ramai, grafiknya naik terus, tapi
secara ekonomi lokal dampaknya enggak
sebanding. Duitnya malah parkir di
Jogja, hotel gede di Jogja yang panen
tamu, operator tour dari kota yang dapat
untung, aplikasi booking online yang
dapat komisi. Borobudur tetap ramai tiap
hari, tapi desa-desa di sekitarnya cuma
kebagian macet sama debunya doang.
Enggak ikut sejahtera kayak yang
digembar-gemborkan. Warga lokal sering
curhat hal yang sama. Tiap hari lihat
ribuan bule atau turis lokal lewat, tapi
hidup mereka segitu-gitu aja. Anak-anak
mereka tetap harus merantau ke kota
karena enggak ada masa depan jelas di
kampung. Warung yang dulu ramai,
sekarang buka cuma kalau ada event gede
doang. Homestay yang dulu full book,
sekarang cuma keisi pas long weekend
atau libur sekolah. Ini contoh klasik
gimana infrastruktur canggih dan sistem
pariwisata modern malah bikin destinasi
cuma jadi titik singgah, bukan tempat
tinggal. Borobudur masih jadi magnet
kuat, tapi magnetnya cuma narik orang
datang tanpa nahan mereka cukup lama
buat bagi-bagi rezeki ke warga lokal.
Cerita yang sama malah lebih dramatis
lagi. Kejadian di Mandalika. Pas
Mandalika di Lombok ditetapin jadi salah
satu dari 10 Bali baru atau destinasi
super prioritas. Ekspektasinya tuh udah
setinggi langit. Investasi miliaran
dolar masuk. Sirkuit MotoGP dibangun
standar internasional nama Mandalika
Mendunia. Di atas kertas ini mimpi basah
buat daerah manapun. Event kelas dunia
disorot media global. Turis mancanegara
antre masuk. Tapi lagi-lagi
pertanyaannya bukan apakah orang datang.
Orang jelas datang apalagi pas ada
balapan. Pertanyaannya adalah duit
mereka larinya ke kantong siapa? Model
pengembangan Mandalika itu berat banget
di resort-resort raksasa dan kawasan
eksklusif yang dikelola korporasi gede.
Wisatawan datang bobo cantik di Hotel
Bintang 5, makan di restoran fancy di
dalam resort. Nikmatin fasilitas yang
semuanya udah dibayar di depan pakai
paket all inclusif. Buat turis ini surga
nyaman, enggak ribet semua diurus. Buat
investor ini efisien banget buat ngeruk
cuan. Tapi buat UMKM lokal di luar pagar
tinggi resort itu buat warung kopi
pinggir jalan, buat pengrajin lokal
manfaatnya seringkiali cuma remah-remah.
Banyak warga lokal akhirnya cuma jadi
penonton di tanah kelahirannya sendiri.
Mereka cuma bisa ngelihat lampu-lampu
resort nyala terang benderang pas malam.
Sementara rumah mereka di desa tetap
gelap. Baik secara harfiah mati lampu
atau gelap secara ekonomi. Data
ketenagakerjaan dari kawasan Kay
Mandalika nunjukin fakta pahit. Lapangan
kerja emang ada, tapi kebanyakan posisi
buat warga lokal itu mentok di level
operasional. Jadi housekeeping, tukang
laundry, security atau cleaning service.
Kerjaan yang emang ada gajinya tapi
value-nya rendah dan jenjang karirnya
sempit. Sementara posisi manajer GM yang
gajinya dolar atau dua digit tebal
seringkiali diimpor dari luar daerah
atau malah bule sekalian. Cuan utama
dari resort-resot mewah ini ngalirnya ke
mana? Ya, balik ke perusahaan induk di
Jakarta, di Bali atau malah ke luar
negeri. Uang emang masuk ke Lombok tapi
numpang lewat doang. Enggak ngendap dan
muter di level warga. Ini bukan cuma
salah satu proyek doang. Ini pola yang
terus berulang. Kalau infrastruktur dan
investasi gede masuk tanpa strategi
jelas buat nahan duit biar muter di
rakyat kecil. Nah, sekarang kita geser
ke mainan baru kita yang sering
dibanggain di mana-mana. kereta cepat
Jakarta Bandung alias Hush. Dari sisi
teknologi dan gengsi, ini proyek emang
gokil. Kita jadi negara pertama di ASEAN
yang punya mainan canggih ini. Jakarta,
Bandung cuma 40 menitan tuh rasanya
kayak cheat codat di game mimpi jadi
nyata. Tapi justru di kemudahan inilah
potensi masalahnya ngintip kalau kita
enggak hati-hati. Ini bukan kritik ke
kereta cepatnya, tapi risiko yang sering
muncul kalau kota tujuannya belum siap.
Bayangin skenario yang sangat mungkin
kejadian ini. Orang Jakarta bangun pagi
naik hush jam 0. Jam 09.00 udah sampai
Bandung. Sarapan cantik di Cafe Hits.
Ngopi sambil buka laptop bentar.
Jalan-jalan ke Factory Outlet atau Dago.
Makan siang di resto viral. Foto-foto
buat stok konten Instagram seminggu.
Terus sorenya naik kereta lagi. Dan
sebelum jam makan malam udah sampai
rumah di Jakarta. Total waktu
perjalanannya bahkan bisa lebih cepat
daripada lu macet-macetan dari Jaksel ke
Jakut pas jam pulang kantor. Dalam
skenario kayak gini, Bandung beresiko
banget cuma jadi tempat nongkrong. Bukan
tujuan liburan buat nginp. Kalau pola
ini kejadian massal, Bandung bakal
nerima keramaiannya. Bakal macetnya
makin parah. Ribuan orang datang tiap
hari. Tapi hotel-hotel di Bandung bakal
gigit jari karena enggak dapat jatah
nginep. Pengalaman di negara maju yang
udah duluan punya kereta cepat kayak
Jepang nunjukin fenomena ini. Kota-kota
yang jaraknya 1 sampai 2 jam dari Tokyo
naik Shinkansen itu ngalamin nasib jadi
kota singgah. Orang Tokyo datang cuma
buat makan siang atau jalan sore terus
balik lagi hari itu juga. Ini bukan
karena turisnya jahat, tapi karena
logika efisiensi. Kalau bisa pulang ke
kasur sendiri dengan nyaman dan cepat,
ngapain buang duit sewa hotel? Bedanya
di Jepang, kota-kota itu udah punya
infrastruktur pariwisata yang badak
banget. Mereka punya atraksi malam yang
keren, festival lokal unik, kuliner yang
enggak bisa ditemuin di tempat lain.
Mereka udah siap ngadepin serbuan day
triper dan punya strategi buat tetap
mengambil nilai ekonomi mereka secara
elegan. Nah, Indonesia khususnya kota
kaynya
udah siap belum? Dan ini yang bikin kita
lebih rentan kena efek sedotan tadi.
Kita punya kelemahan struktural, Bos.
Pertama, data Kemain Parcraf bilang
rata-rata turis domestik kita itu
liburannya singkat banget, cuma 1 sampai
2 hari. Beda sama bule yang bisa
berminggu-minggu. Kedua, UMKM kita
seringkiali kalah start sama pemain
gede. Warung Maijah kalah saing sama
franchise minimarket yang lampunya
terang benderang. Homestay warga kalah
marketing sama chain hotel yang budget
iklannya miliaran. Guide lokal kalah
praktis sama aplikasi traveling. Ketiga,
perencanaan wisata kita tuh seringnya
cuman fokus bikin spot foto. Kita lupa
kalau turis zaman now, apalagi Gen
Millenial, enggak cuma cari background
foto, mereka cari experience, cari
cerita, eh cari sesuatu yang enggak bisa
kelar cuma dalam sehari. Kita terlalu
lama mikir kalau mendatangkan orang itu
adalah gol terakhir. Padahal
mendatangkan orang itu baru langkah
pertama, bosku. Yang jauh lebih susah
level boss fight-nya adalah bikin mereka
betah, bikin mereka mau stay lebih lama,
belanja di warung warga dan pengin balik
lagi. Tanpa itu, infrastruktur canggih
cuma jadi pipa pembuangan duit ke luar
daerah dengan kecepatan tinggi. Tapi
jangan pesimis dulu. Enggak semua daerah
gagal kok. Ada tempat-tempat yang
berhasil lolos dari jebakan Batman ini.
Dan kalau diperhatiin, mereka punya satu
kesamaan. Mereka berhasil nyiptain
alasan kuat kenapa orang harus tinggal
lebih lama. Contoh paling valid Ubut
Bali. Ubut itu enggak punya pantai,
enggak ada sunset spektakuler kayak di
Kuta atau Seminyak. Tapi kenapa orang
bisa betah 3 sampai 5 hari di sana?
Karena Ubut jualan pengalaman yang butuh
waktu. Ada kelas yoga pagi-pagi, cooking
class masakan Bali, tracking ke sawah
trasering, blusukan ke galeri seni,
nonton tarik kecak malam-malam.
Suasananya bikin orang pengen slow down.
Ubut juga desain kawasannya asik buat
jalan kaki atau sepedaan. Wisatawan
enggak gabut. Mereka ngerasa waktu
sehari du hari tuh enggak cukup buat
nyerep energi ubut. Hasilnya turis di
sana rata-rata nginp 3 sampai 4 malam.
Duitnya muter ke pemilik homestay, ke
warung lokal, ke komunitas seni rata dan
awet. Atau lihat Jogja di luar kasus
Borobudur tadi ya, Jogja tetap berhasil
bikin orang nginp. Kenapa? Karena Jogja
enggak cuma jualan candi, Jogja jualan
vibe. Ada Malioboro pas malam angkringan
di tiap tikungan, suasana kota pelajar,
belajar membatik, bikin gerabah atau
susur gua. Lapisannya banyak. 3 hari di
Jogja rasanya masih kurang. Pola
suksesnya sama. Mereka nyiptain layer
pengalaman. Bukan cuma satu atraksi luar
gede, tapi banyak hal kecil-kecil yang
bikin nagih. Mereka paham kalau turis
tuh butuh tempat buat dirasakan dan
dihidupi, bukan cuma dilihat. Intinya
gini, cuy. Infrastruktur itu bukan mesin
pencetak uang otomatis. Infrastruktur
itu cuma alat, cuma tools. Dia bisa jadi
jembatan emas menuju kemakmuran atau
malah jadi pipa penyedot yang bikin
daerah makin miskin karena duitnya kabur
keluar. Semua tergantung kesiapan
daerahnya. Daerah yang fondasi ekonomi
lokalnya udah kuat, UMKM-nya solid,
produknya unik, bakal terbang tinggi pas
ada tol baru. Tapi daerah yang
pondasinya rapuh, yang warganya belum
siap mental buat bersaing, yang cuma
ngarep cipratan justru bisa ambruk lebih
cepat. Infrastruktur itu akselerator.
Dia mempercepat yang baik, tapi juga
mempercepat kehancuran kalau enggak
siap. Kesiapan di sini bukan cuma soal
jalanan dicat ulang atau gapura
dibagusin ya. Ini soal mindset, soal
cara mikir. Kita sering mikir masalah
utama daerah itu kurang akses.
Seolah-olah kalau akses dibuka, duit
bakal jatuh dari langit. Padahal akses
itu cuma pintu. Pas pintu kebuka lebar,
pertanyaannya jadi lebih horor. Apa isi
rumah lu cukup menarik buat bikin tamu
betah duduk lama atau rumah lu
sebenarnya ngebosenin dan bikin tamu
pengen buru-buru pamit? Jujur aja banyak
daerah wisata kita masih pakai pola
pikir jadul yang udah enggak relevan.
Pola pikir panen raya setahun sekali pas
lebaran atau tahun baru. Di luar itu
sepi, nyenyet. Pola ini mungkin oke
zaman dulu pas traveling itu susah dan
mahal. Tapi sekarang pas tiket murah dan
jalan tol di mana-mana, orang bisa
liburan kapan aja. Spontan. Justru
tempat wisatanya yang harus adaptasi
sama gaya hidup manusia modern yang
mobile dan rewel. Wisatawan hari ini
beda banget sama bapak- emak kita dulu.
Mereka spontan, cepat, bosan, dan
hitung-hitungan soal value for money.
Mereka nanya, "Gua keluar duit segini,
worth it enggak pengalamannya?" Kalau
jawabannya enggak, mereka enggak bakal
marah-marah atau demo. Mereka bakal
ngelakuin hal yang lebih nyeremin, yaitu
ghosting. Pergi diam-diam dan enggak
bakal balik lagi. Dan kepergian yang
sunyi ini jauh lebih bahaya daripada
dikomplain. Karena kita enggak tahu
salah kita di mana. Salah kaprah paling
fatal adalah mikir. Kalau solusi masalah
ini cuma promosi yang gencar. Pas
pengunjung turun, respon standarnya
bikin logo baru, slogan baru, video
cinematic baru, festival baru, itu mah
kayak ngasih bedak tebal ke muka yang
lagi jerawatan parah. Kelihatan bagus di
foto aslinya tetap sakit. Promosi bisa
datangin orang di awal karena penasaran
atau fomo, tapi promosi enggak bisa
maksa orang buat stay kalau tempatnya
emang enggak asik. Experience yang real,
otentik, dan berkesan itu kuncinya. Dan
yang berkesan itu enggak meluluh, harus
mewah. Kadang cuma butuh trotoar yang
enggak bolong, toilet yang enggak bau
pesing, makanan yang harganya jujur,
enggak nembak harga, sama senyum warga
yang tulus bukan senyum karena lihat
duit. Hal-hal basic kayak gini enggak
otomatis muncul pas tol. Jadi ini butuh
perencanaan, butuh latihan, butuh
revolusi mental warga lokal dan
perubahan itu pasti sakit. Biayanya
bukan cuma duit, tapi ego. Kita sering
kejebak nostalgia. Dulu tempat ini ramai
banget loh. Dulu bule antre. Kalimat
kayak gitu tuh racun, Bro. itu penjara
mental. Generasi yang punya kenangan itu
udah tua. Generasi baru yang punya duit
sekarang enggak peduli masa lalu lu.
Mereka peduli apa yang bisa lu kasih
sekarang. Infrastruktur modern itu
kejam. Dia mempercepat tabrakan antara
masa lalu dan masa kini. Perubahan
datangnya gedebuk sekaligus. Daerah yang
enggak siap bakal kerasa kayak
dikeroyok. Dari atas digempur investor
raksasa. Dari samping digampar perilaku
turis yang makin demanding. Dari dalam
digerogoti anak muda lokal yang kabur
karena enggak lihat harapan. Di sinilah
ironi terbesarnya. Infrastruktur
dibangun buat nyatuin, buat ngeratain
akses. Tapi kalau salah kelola, dia
malah memisahkan. Misahin si kaya yang
siap adaptasi sama si miskin yang cuma
dapat ampas. Misahin pusat keuntungan
sama daerah pinggiran yang cuma jadi
penonton keramaian. Indonesia bakal
terus ngebangun. Itu pasti. Jalan tol
baru, bandara baru, stasiun baru bakal
terus bermunculan. Pertanyaannya bukan
lagi perlu enggak infrastruktur itu.
Jelas perlu, tapi pertanyaannya daerah
yang dilewatin itu udah siap belum nahan
duit yang lewat? Apakah ada rencana
jelas buat ngelibatin UMKM? Apakah ada
strategi bikin orang nginp? Apakah warga
lokal dilatih jadi pengusaha, bukan cuma
jadi tukang bersih-bersih? Jadi kalau
besok di daerah lu ada pengumuman mau
dibangun tol atau stasiun kereta cepat,
jangan langsung sujud syukur dan euforia
berlebihan. Jangan mikir hidup lu
otomatis jadi kaya sultan. Tanya satu
hal ini. Setelah orang gampang datang ke
sini, apa alasan kuat yang bikin mereka
enggak mau buru-buru pulang? Kalau
jawabannya masih ya lihat nantilah. Atau
pasti ramai kok. Mending lu siap-siap
deh. Siap-siap karena yang datang
mungkin bukan berkah tapi ujian berat.
Tanpa jawaban yang jelas, kita
sebenarnya cuma lagi masang sedotan
raksasa ke gelas yang sama, terus
berharap pakai ilmu sihir kalau gelasnya
enggak bakal habis. Infrastruktur itu
cuma jalan, Bro. Cuma highway. Dia bisa
ngantterin orang datang, tapi cuma
strategi cerdas dan kesiapan mental kita
yang bisa bikin duit dan kehidupan
beneran tumbuh dan bertahan di situ.
Jangan sampai jalan tol dan kereta cepat
itu cuma jadi jalur ekspres buat datang
dan pergi, bukan alasan buat tinggal dan
tumbuh bareng. Yeah.