Transcript
z-WA7a6t9AA • Parkiran Penuh Mobil, Tapi Orangnya Hilang—Industri Mobil Bekas Korea Lagi Runtuh?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0043_z-WA7a6t9AA.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Oke, kencengin
sabuk pengaman lo. Siapin kopi atau
sebat dulu kalau perlu. Gua mau dongeng
dikit. Bukan dongeng pengantar tidur,
tapi dongeng horor nyata dari negeri
yang biasanya kita puja-puja. Lu tahu
kan Korea Selatan? Itu tuh negara yang
di otak kita isinya cuma opa-opa
ganteng, girlband bening, teknologi
Samsung yang canggih, sama mobil-mobil
keren yang seliweran di Drakor. Kita
sering banget jadiin mereka kiblat. Wah
gila ya Korea maju banget, orangnya
kerja keras, disiplin, bla bla bla. Tapi
justru dari balik kemewahan itu ada satu
pemandangan yang kalau lo lihat langsung
rasanya kayak masuk ke setie. Serius.
Bayangin satu kompleks raksasa isinya
jual beli mobil bekas. Ratusan ribuan
mobil diparkir rapi. Catnya masih
kinclong. Berjejer presisi banget kayak
barisan tentara. Tapi manusianya mana?
Enggak ada, Bos. Kosong melompong. Bukan
sepi karena
tanggal merah atau libur lebaran. Ya,
ini Sepi yang dead silence. Saking
sepinya orang Korea sana sampai bilang,
"Jangan pembeli, tikus aja kayaknya
malas lewat situ." Waktu gua pertama
kali dengar soal ini, reaksi gua bukan
kasihan, tapi, "Hah, kok bisa?" Ini
Korea Selatan, Bos. Bukan kampung
Antah-Brantah yang jalannya masih tanah.
Ini negara di mana mobil itu udah kayak
sendal jepit, kebutuhan pokok
sehari-hari, dan pasar mobil bekas di
sana itu bukan kaleng-kaleng. Putarannya
gila-gilaan. Tiap tahun ada sekitar 2,5
juta mobil bekas yang pindah tangan. Itu
angkanya 1,5 kali lipat lebih banyak
dari penjualan mobil baru. Jadi ini
industri raksasa duitnya triliunan.
Makanya kalau tempat segede itu
tiba-tiba jadi kayak kota hantu, jelas
ada yang enggak beres. Ini bukan sekadar
satu atau dua showroom yang bangkrut.
Ini adalah runtuhnya satu sistem secara
massal. Awalnya netizen atau pengamat
dadakan pasti bilang, "Ah, paling
ekonomi lagi lesu. Biasalah siklus."
Jawaban kayak gitu tuh jawaban malas.
Kenapa? Karena kalau cuma ekonomi
melambat, biasanya orangnya masih ada.
Abang-abang dealernya masih nongkrong,
ngopi, nungguin nyawa lewat. Tapi ini
enggak. Orangnya beneran hilang.
Dealer-dealer pada kabur, kantor
ditinggalin gitu aja kayak rumah hantu.
Ee mobil-mobilnya jadi kayak anak yatim
piatu yang enggak ada bapak ibunya. Ada
yang udah mangkrak berbulan-bulan, ada
yang setahunan lebih. Lu bayangin mobil
bagus-bagus, baterainya mati, ban kempes
sebelah, mesin dingin enggak pernah
dipanasin. Luarnya doang glowing,
dalamnya udah mulai rongsok pelan-pelan
dimakan waktu. Dan gilanya ini bukan
kejadian di satu kota doang. Incon,
Buceon, Bundang, Dejon sampai Busan
semuanya kena wabah yang sama. Kompleks
gedung mahal isinya mobil mewah tapi
auranya kematian. Nah, di sini kita
harus bedah dulu satu salah kaprah yang
sering ada di kepala kita. Kita sering
mikir dealer mobil itu pasti orang kaya
raya, duitnya enggak berseri, tidurnya
di atas tumpukan won. Padahal realitanya
mayoritas dealer mobil bekas di Korea
itu modal dengkul. Serius, mereka hampir
enggak pakai duit pribadi buat beli stok
mobil. Terus duitnya dari mana? Mereka
hidup dari selang infus yang namanya
stock financing atau pembiayaan stok.
Sederhananya gini, biar relate sama
kehidupan kita ini kayak lu mau dagang
tapi pakai duit pinjaman online atau
pelater tapi skalanya miliaran. Dealer
mau ambil stok mobil harga R00 juta Won.
Dia enggak keluar duit. Perusahaan
pembiayaan yang bayarin 100%. Dealer
tugasnya cuma bayar bunga tiap bulan.
Nanti kalau mobilnya laku, baru deh dia
lunasin utang pokoknya dan sisanya
diambil jadi cuan. Di atas kertas.
Sistem ini kelihatan jenius banget.
Dealer kecil yang modalnya pas-pasan
bisa ikut main di liga besar, bisa
pajang mobil mewah tanpa harus jual
tanah warisan. Tapi sistem ini punya
syarat mutlak yang enggak bisa ditawar.
Mobil harus laku cepat dan bunga
pinjaman harus rendah. Selama dua hal
itu jalan, semua orang happy. Semua
orang merasa jadi pebisnis ulung. Dan
itulah yang terjadi pas tahun 2019
sampai 2021. Itu zaman keemasan, Bro.
Surga dunia. Suku bunga acuan Korea
tahun 2020 cuma 0,5%.
Pinjaman buat stok mobil bunganya cuma
2% sampai 3%. Murah banget. Lebih murah
dari jajan kopi tiap hari. Di saat yang
sama muncul fenomena sosial yang unik di
Korea. Orang-orang yang gajinya
pas-pasan, biasa aja, tapi nekad beli
mobil mewah. Orang Korea nyebutnya CarP.
Ini mirip-miriplah sama sobat BPJS.
Budget pas-pasan jiwa sosialita di sini.
Gaji sebulan cuma Rp3 juta won, tapi
berani ambil Mercedes harga R juta won.
Kok berani? Ya, karena cicilannya murah
dan masih masuk akal di otak mereka.
Apalagi di Korea, mobil itu bukan cuma
alat transportasi. Mobil itu harga diri,
Bos. Lo enggak punya mobil bagus, lo
dianggap kurang sukses. Status sosial
itu segalanya. Makin gila lagi, pas ada
krisis chip global kemarin. Ingat kan,
pas mobil baru susah banget diproduksi.
Indian mobil baru bisa setahun lebih.
Orang-orang yang udah gatal pengin punya
mobil, akhirnya lari ke mobil bekas.
Permintaan meledak, harga mobil bekas
naik gila-gilaan. Ya, sampai ada
kejadian absurd. Orang beli mobil bekas
dipakai setahun terus dijual lagi
harganya malah lebih mahal dari pas dia
beli. Ajaib kan? Pakai mobil gratis
malah dapat untung. Di situlah
dealer-dealer mulai mabuk ke Payang.
Mereka percaya sama satu kebohongan
kolektif. Pasar ini bakal naik terus,
enggak akan pernah turun. Yang tadinya
cuman berani pegang stok tiga mobil,
nekat nambah jadi 10. Yang punya 10
gaspol jadi 30. Kenapa takut? Toh
mobilnya cepat laku kayak kacang goreng.
Toh bunganya kecil banget. Toh semua
orang lagi gila beli mobil. Tapi ya
namanya hidup pesta enggak mungkin 24
jam nonstop. Tahun 2022 musik berhenti,
lampu dinyalain terang-terang, bunga
naik dan naiknya enggak sopan, brutal
banget. Dari suku bunga acuan 0,5%
loncat ke 3,5% dalam waktu singkat.
Begitu suku bunga pusat naik, semua
bunga pinjaman ikutan terbang. Termasuk
bunga payter para dealer tadi yang
tadinya cuma kena bunga 3 sampai 4%
tiba-tiba meledak jadi 10%. Bahkan ada
yang 13%. Biar kebayang sakitnya kita
hitung pakai duit beneran. Misalnya ada
satu mobil stok harganya R500 juta won.
Dulu dealer cuma perlu bayar bunga
sekitar 120.000 won per bulan. Kecillah,
enggak kerasa. Sekarang dengan bunga
baru, dia harus setor 500.000 won per
bulan. Itu baru SA mobil. Dealer
rata-rata enggak cuma pegang satu, Bos.
Kalau dia punya lima mobil, berarti dia
harus bakar duit 2,5 juta won per bulan.
Kalau 10 mobil, R5 juta won melayang
tiap bulan. Itu uang keluar cuma buat
bayar bunga. Padahal mobilnya diam
doang. Di parkiran berdebu gak ada yang
beli. Bongkos n enggak tuh. Di titik ini
banyak dealer masih deniel, masih
ngeyel. Ah, badai pasti berlalu. Bentar
lagi juga normal. Tapi kenyataannya
makin pahit. Pembeli ngilang total. Para
carp tadi udah enggak bisa gaya-gayaan
lagi. Bunga cicilan mobil buat konsumen
juga naik. Dari 2 sampai 3% jadi 6
sampai 8%. Cicilan bulanan. jadi nyekek
leher. Belum lagi harga telor naik,
listrik naik, bensin naik, tapi gaji
segitu-gitu aja. Orang yang tadinya
nekad mau beli mobil mewah sekarang
mikir 1000 kali. Yang udah terlanjur
punya mobil mewah malah panik. Buru-buru
mau jual mobilnya sebelum kreditnya
macet dikejar depollekor. Akibatnya,
pasar banjir mobil bekas. Stok melimpah
ruah, tapi yang beli enggak ada. Hukum
ekonomi berlaku, suplly banyak, demand
nol, harga terjun bebas. Di sinilah
neraka buat dealer dimulai. Mobil enggak
laku-laku, tapi bunga jalan terus kayak
argometer taksi setan. Dealer panik,
akhirnya nurunin harga. Dealer sebelah
lihat ikutan nurunin harga lebih murah
lagi. Terjadilah perang harga atau
spiral kematian. Harga mobil yang hari
ini Rp50 juta, bulan depan jadi Rp45
juta, bulan depannya lagi jadi Rp40
juta. Kalau lu nunggu lu rugi makin
gede, tapi kalau lo jual sekarang pun
tetap rugi dan enggak ada yang beli.
Banyak dealer akhirnya angkat tangan
gagal bayar bunga ke perusahaan
pembiayaan. Datanglah pihak leasing atau
pembiayaan nyita mobil-mobil itu. Tapi
penderitaan belum kelar, Ferguso. Kalau
mobil itu disita dan dijual lelang
dengan harga murah, terus duitnya masih
kurang buat nutup utang pokok, si dealer
tetap harus bayar sisanya. Kalau enggak
bisa bayar, kelar hidup lo. Status
kredit hancur, masuk daftar hitam, izin
dealer dicabut, dan lo harus mulai hidup
dari nol atau malah minus. Mungkin
banyak dari lo yang nyeletuk ya.
Syukurin dealer kan emang banyak yang
nakal, tukang tipu. Iya, gua enggak
memungkiri ada oknum yang nakal mainin
odometer nipu kondisi mesin. Tapi
masalah di Korea ini bukan cuma soal
moral individu satu dua orang. Ini
masalah sistem yang menjebak semua orang
buat main utang pas bunga rendah, terus
membantai mereka bareng-bareng pas bunga
naik. Sistem ini bikin dealer yang jujur
sama dealer yang bangsat sama-sama
nyungsep. Sebenarnya di tengah kekacauan
ini masih ada satu pintu darurat yang
biasanya dipakai yaitu ekspor. Selama
bertahun-tahun mobil bekas Korea itu
primadona di Rusia Asia Tengah sampai
Timur Tengah. Barangnya bagus, mesin
awet, fitur canggih. Dealer Korea
biasanya kalau mobil enggak laku 3 bulan
di kandang sendiri langsung lempar ke
eksportir. Untungnya tipis enggak
apa-apa yang penting duit muter, bunga
berhenti. Tapi nasib emang lagi enggak
berpihak. Pintu darurat ini tiba-tiba
digembok rapat. Akhir 2024 kemarin,
Rusia, salah satu pasar terbesar mereka,
naikin pajak impor mobil bekas
gila-gilaan lewat skema biaya daur
ulang. Angkanya enggak ngotak. Mobil
mesin 2000 cc ke atas pajaknya bisa
puluhan juta won. Bahkan ada kasus
konyol, harga mobilnya cuma Rp juta won,
tapi pajaknya lebih mahal dari harga
mobilnya. Siapa yang mau beli coba?
Otomatis jalur ekspor mati total. Dealer
kejebak di dalam gedung yang terbakar
dan pintu keluarnya dikunci dari luar.
Dan seolah-olah itu belum cukup bikin
bengek. Datanglah pukulan fatelity.
Raksasa otomotif kayak Hyundai dan Kia
memutuskan buat terjun langsung ke
bisnis mobil bekas bersertifikat.
Awalnya sih dibatasin kuotanya sama
pemerintah biar dealer kecil bisa napas.
Tapi mulai 2025 batasan itu dilepas.
Raksasa ini boleh ekspansi bebas. Emang
sih mobil bekas jualan Hyundai dan Kia
harganya lebih mahal, tapi mereka jual
kepastian. Transparan, ada garansi
resmi, inspeksi ratusan titik, enggak
ada tipu-tipu. Di saat kondisi ekonomi
lagi enggak pasti, pembeli yang tersisa
yang duitnya pas-pasan pasti cari aman.
Mereka enggak mau ambil risiko beli di
dealer kecil yang enggak jelas
cuntrungannya. Mending mahal dikit tapi
tidur nyenyak. Akhirnya dealer-dealer
kecil ditinggalin. Yang tersisa di
tangan mereka cuma sampah, mobil tua,
kilometer gondrong, riwayat servis
enggak jelas. Barang-barang yang makin
hari makin mustahil buat dijual.
Sekarang pertanyaannya, ini kabar baik
atau buruk buat kita sebagai konsumen?
Jawabannya enggak sesimpel hitam putih.
Iya, harga mobil bekas di Korea emang
lagi turun 20 sampai 30%. Buat lo yang
pegang uang cash keras, ini surga dunia.
Dealer lagi butuh duit tunai, hari ini
juga buat nyambung napas. Lu bisa tawar
sadis. Tapi hati-hati, di balik harga
murah ada jebakan Batman. Banyak mobil
di sana udah lama banget nganggur jadi
bangkai di parkiran. Enggak dirawat oli
ngendap karet-karet getas. Dari luar
mulus, dalamnya rapuh, lo beli murah
tapi biaya bengkelnya bisa bikin nangis
darah. Jadi di pasar kayak gini,
kesabaran itu kuncinya. Jangan lapar
mata lihat harga miring. Cek tanggal
inspeksi, cek riwayat servis, tes jalan
dulu. Jangan beli kucing dalam karung.
Kalau kita tarik napas bentar dan lihat
dari helicopter view, cerita ini tuh
sebenarnya sederhana tapi nyeremin. Ini
adalah cerita klasik tentang bisnis yang
dibangun di atas pondasi utang. Tentang
ilusi kalau kita itu pintar banget pas
lagi zaman gampang cari duit. Tentang
kepercayaan buta kalau besok pasti lebih
baik dari hari ini. Dan cerita tentang
apa yang terjadi pas bunga naik dan
kepercayaan itu runtuh seketika.
Sekarang gua mau lempar bola panas ini
ke lo semua yang lagi nonton di
Indonesia. Coba lo renungin pelan-pelan
sambil nyeruput kopi lo. Industri mana
di sekitar kita yang hidupnya ditopang
sama cicilan, leverage, atau daya ungkit
utang dan asumsi optimis berlebihan?
Properti, motor, gadget, atau bahkan
gaya hidup kita sendiri? Kalau di negara
maju kayak Korea Selatan aja industrinya
bisa runtuh sehancur ini. Lo yakin kita
di sini kebal? Yakin pondasi kita lebih
kuat? Sebelum lo buru-buru komen, "Ah,
elah, Bang, enggak relevan. Itu kan
Korea, Indonesia beda kondisinya. Tahan
dulu jempol lo. Justru di titik inilah
cerita ini jadi penting banget. Bukan
soal negaranya Korea atau Wakanda, tapi
soal polanya. Pola ini universal, Bos.
Pola keserakahan manusia, pola bisnis
gali lubang tutup lubang, pola keputusan
kecil yang kelihatan rasional di awal
tapi jadi bom waktu di akhir. Di Korea
sana banyak dealer yang sekarang
hidupnya jatuh bebas tanpa parasut.
Orang-orang yang dulu tiap hari berdiri
gagah di parkiran pakai jam tangan
Rolex, mobil pribadinya lebih mewah dari
dagangannya. Sekarang nyari kerja
serabutan. Ada yang jadi kurir paket,
ada yang kerja buruh pabrik, ada yang
ngojek. Bukan karena mereka tiba-tiba
jadi pemalas, tapi karena kapal yang
mereka tumpangi karam dan skoci
penyelamatnya enggak cukup. Skill jualan
mobil enggak selalu bisa dipakai di
kerjaan lain. Mentalitas bulan ini gua
harus closing dua mobil biar dapat
komisi gede enggak laku di dunia kerja
yang gajinya UMR dan flat. Banyak dari
mereka bukan cuma rugi duit tapi kena
mental. Kris identitas. Bayangin umur lo
masih 30-an atau 40-an. Dulu penghasilan
lo belasan atau puluhan jutawan, lu
dihormati orang. Sekarang mulai dari nol
lagi. Utang numpuk. Nama di BI
checking-nya Korea udah merah. Telepon
di teror leasing tiap hari. Dan di
kepala mereka cuma muter satu
pertanyaan. Gue salah di mana sih?
Padahal kalau mau jujur kesalahan mereka
bukan satu keputusan fatal di satu hari
sial. Tapi tumpukan keputusan wajar
selama bertahun-tahun. Nambah stok lagi
karena kemarin laku. Nahan jual mobil
karena nunggu harga naik. Ambil utang
lagi karena bunga murah. Di sinilah
pelajaran pahitnya. Dalam bisnis yang
napasnya dari utang, waktu adalah musuh
paling kejam. Pas kondisi lagi bagus,
waktu rasanya kayak teman akrab. Tapi
begitu angin berubah arah, waktu berubah
jadi algojo. Setiap hari yang lewat
tanpa ada mobil laku, itu bukan cuma
hari yang kosong, tapi kerugian nyata
yang ngerogoh kantong. Dan yang bikin
makin sadis, semua orang kena barengan.
Enggak ada yang bisa nolongin
siapa-siapa. Dealer Eggak bisa overstok
ke dealer B karena dealer B juga lagi
megap-megap kelebihan stok. Semua sibuk
nyelametin diri sendiri. Terus coba kita
geser sudut pandang kita dikit. Pasti
ada yang mikir, "Ya udah sih biarin aja
dealer kecil mati. Toh konsumen jadi
untung dapat harga murah. Terus nanti
dilayani sama perusahaan gede yang lebih
pro." Pemikiran ini kedengarannya logis
tapi cuma setengah benar. Iya. Jangka
pendek konsumen senang dapat diskon.
Tapi jangka panjang. Kalau pasar mobil
bekas akhirnya cuma dikuasai sama
segelintir pemain besar atau oligopoli,
pilihan lo bakal makin dikit. Harga
bakal distandarisasi alias suka-suka
mereka nentuin harga karena enggak ada
saingan. Seni negosiasi bakal hilang.
Pasar yang tadinya liar tapi penuh warna
dan opsi bakal jadi rapi, steril tapi
dingin dan mahal. Di titik itu, konsumen
baru bakal sadar kalau yang hilang bukan
cuma dealer kecil, tapi juga daya tawar
atau bargaining power kita sebagai
pembeli. Ini bukan teori konspirasi,
Bos. Ini udah kejadian di banyak
industri lain. Retil, minimarket,
logistik. Perusahaan besar itu pintar.
Mereka enggak datang pas pesta lagi
meriah. Mereka datang pas pestanya udah
bubar, piring gelas pecah, tuan rumahnya
kelelahan dan kehabisan duit. Mereka
punya napas panjang, modal tak terbatas.
Mereka bisa nunggu, bisa rugi sementara
buat matiin lawan. Dealer kecil rugi
sebulan aja udah keringat dingin. Jadi
pas krisis datang pemenangnya hampir
selalu sama. Yang kuat makin raksasa,
yang lemah tinggal nama. Sekarang gua
mau tarik benang merahnya pelan-pelan ke
Indonesia. Bukan buat nakut-nakutin,
tapi buat ngajak lo mikir kritis. Di
Indonesia, berapa banyak bisnis yang
berdiri tegak cuma karena cicilan murah?
Berapa banyak orang yang hidupnya
kelihatan mentereng, stabil, tapi
sebenarnya rapuh kayak kerupuk kena air
kalau bunga naik dikit aja. Kita sering
merasa aman cuma karena cicilan bulan
ini masih bisa kebayar. Tapi kita lupa
cicilan itu adalah kontrak dengan masa
depan. Begitu kondisi masa depan
berubah, kita yang harus bayar harganya
seringkiali dengan bunga berbunga. Kisah
dealer Korea ini bukan cuma soal mobil
bekas. Ini cerita tentang leverage,
tentang ilusi kalau kita pegang kendali,
tentang kesombongan, "Ah, gue beda, gue
lebih pintar ngelola duit." Padahal pas
lagi di puncak siklus ekonomi, semua
orang merasa dirinya jenius investasi.
Yang kelihatan bodoh justru orang-orang
yang hati-hati, yang enggak mau nambah
utang, yang ngem stok. Mereka sering
diejek penakut atau enggak punya visi
sampai akhirnya badai datang dan si
penakut itu justru satu-satunya yang
masih bisa berdiri tegak. Ada satu
kalimat yang selalu gua ingat kalau
lihat kasus kayak gini. Bunga rendah itu
obat penghilang rasa sakit bukan obat
penyembuh. Dia bikin lo berani lari
kencang banget padahal kaki lo
sebenarnya udah retak. Lu enggak ngerasa
sakitnya jadi lu lari terus dan pas efek
obat biusnya habis lo bakal jatuh dan
sakitnya berkali-kali lipat lebih parah.
Dealer Korea enggak tiba-tiba jatuh
miskin karena satu kesalahan. Mereka
jatuh karena sistem ngedorong mereka
buat terus lari. Dan enggak ada satu
orang pun yang ngingetin kalau jalan di
depan itu ujungnya jurang. Sekarang
pasar mobil bekas Korea lagi fase
bersih-bersih yang brutal. Seleksi alam.
Yang bertahan cuma mereka yang punya
modal sendiri, stoknya ramping atau yang
jadi kacung perusahaan besar. yang lain,
sayonara. Dan pemandangan parkiran luas
yang penuh mobil tapi kosong manusia itu
bukan cuma simbol krisis ekonomi. Itu
monumen peringatan dari berakhirnya satu
era. Era di mana utang murah bikin semua
orang merasa aman. Era di mana risiko
disembunyiin rapi di balik kertas
cicilan bulanan. Buat lo yang konsumen,
mungkin ini timing bagus buat beli kalau
lo punya cash dan ngerti barang. Tapi
buat lo pelaku usaha, cerita ini lebih
nakutin dari film horor. Karena ini
cermin. Cermin yang nunjukin apa yang
bakal terjadi kalau bisnis lo bergantung
100% sama satu asumsi. Kondisi bakal
baik-baik aja sampai gue sempat keluar.
Padahal faktanya pasar jarang banget
ngasih waktu buat pamitan. Gua enggak
bilang jangan utang ya. Utang itu alat.
Tapi ingat utang itu alat tajam kayak
pisau dapur. Di tangan Chef Jago dia
bisa bikin masakan enak. Tapi kalau
dipakai sembarangan sambil lari-lari ya
siap-siap aja berdarah. Dealer Korea
megang pisau itu di waktu yang salah
dengan PD yang overdosis di tengah pesta
yang kelamaan dan sekarang lukanya
nganga lebar. Jadi sebelum kita
ngetawain nasib mereka atau nganggap ini
cuma berita internasional yang numpang
lewat, coba tanya jujur ke diri sendiri.
Kalau besok bunga bank naik 2% lagi,
bisnis gue aman enggak? Kalau penjualan
stop total 3 bulan, gua masih bisa makan
enggak? Kalau jawabannya bikin perut lo
mules, nah mungkin itu inti dari cerita
ini yang harus lo bawa pulang. Karena
krisis itu jarang datang pakai suara
sirena yang kencang. Dia datangnya
pelan-pelan lewat angka bunga di
aplikasi lu, lewat toko yang makin sepi,
lewat 1 bulan yang agak seret, terus 1
bulan lagi. Sampai suatu hari lo nengok
ke sekeliling dan sadar parkiran masih
penuh, barang masih ada, tapi manusianya
udah pada pergi. Dan pertanyaan terakhir
yang gua tinggalin buat loungin, ketika
pasar ini akhirnya cuma dikuasai sama
segelintir raksasa, kita beneran menang
sebagai konsumen atau kita cuma nukar
satu masalah lama dengan masalah baru
yang lebih rapi, lebih bersih, tapi jauh
lebih mahal? Coba tulis pendapat lo di
kolom komentar. Yeah.