Transcript
O9wokl5wTFo • Rumah Sakit Tutup & Dokter Mogok: Kenapa Lansia Korea Jadi "Pengungsi"?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0050_O9wokl5wTFo.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Lo pernah enggak
sih ngebayangin skenario paling buruk
pas lo tenang-tenangnya kerja? Coba
bayangin pagi lo dimulai kayak biasa. Lo
sibuk make up, buru-buru mau ngantor,
mikirin tudulis hari ini, terus
tiba-tiba HP lo bunyi. Telepon dari
rumah sakit tempat orang tua lo dirawat.
Di kepala lo mungkin lu mikir mereka
cuma mau ngabarin kalau obat habis. atau
minta kirimin popok baru. Tapi suara di
seberang sana dingin banget kayak robot.
Maaf, Bu. Kami mau menginformasikan
rumah sakit kami akan tutup total bulan
depan. Tolong cari tempat lain untuk
orang tua ibu secepatnya. Tutup. Tunggu
dulu. Lo panik. Lo langsung cabut ke
sana. Dan pas sampai di lobi,
pemandangannya bikin otak lo error.
Kamarnya penuh, pasiennya ramai.
Nenek-nenek di kursi roda berjejer di
lorong. Antrian obat panjang. Lu pasti
mau teriak. Ini rame banget, kenapa
tutup? Kalau restoran rame, logikanya
dia buka cabang kan. Kalau coffee shop
antriannya mengular, pemiliknya pasti
senyum lebar ngitung cuan. Itu logika
bisnis dasar. Di mana ada deman, di situ
ada dik. Tapi di Korea Selatan, negeri
yang sering kita puja karena drakor dan
teknologinya, logika itu lagi dijungkir
balikkan. Sistem perawatan lansia mereka
lagi collaps bukan karena sepi pasien.
Mereka collaps karena sistem yang rusak
total dari dalam. Dengerin gue
baik-baik. Ini bukan cerita fiksi. Ini
horor nyata yang lagi kejadian di sana.
Dan alasan gua bahas ini panjang lebar
sama lo hari ini bukan cuma buat nambah
wawasan. Gua bahas ini karena ini adalah
preview film horor yang mungkin bentar
lagi bakal tayang di negara kita, di
keluarga kita, dan menimpa dompet kita
sendiri nanti. Kita bedah anatomi
kehancuran ini pelan-pelan. Kita semua
tahu Korea itu fast moving banget kan.
Internetnya tercepat. Trend fashion
ganti tiap minggu, K-pop Idol baru
bermunculan tiap bulan. Ternyata urusan
jadi tua pun mereka ngebut banget. Ada
istilah demografi namanya Super Aged
Society. Ini label buat negara yang
isinya lebih dari 20% adalah lansia di
atas 65 tahun. Tahun 2025, Korea Selatan
officially jadi super aged society.
21,2% populasi mereka sekarang adalah
lansia. Dan ini bukan kejadian yang
tiba-tiba. Yang bikin shocking adalah
kecepatannya. Jepang tetangganya butuh
waktu 11 tahun buat loncat dari status
age society ke Super Age. Prancis butuh
39 tahun, tapi Korea Selatan mereka cuma
butuh 7 tahun. 7 tahun. Itu secepat
durasi kontrak satu grup K-pop dari
debut sampai bubar. Dalam waktu sependek
itu demografi Korea berubah total.
Jalanan Seul yang dulu isinya anak muda
modis, sekarang makin didominasi tongkat
jalan dan kursi roda. Proyeksinya makin
mengerikan. Tahun 2050, lebih dari 40%
populasi Korea akan berusia di atas 65
tahun. Itu tertinggi di dunia. Kenapa
bisa secepat itu? Simple, karena enggak
ada bay baru yang gantiin. Lu tahulah
ceritanya tahun 2023 cuma 230.000 Ibu
bayi lahir di Korea sepertiga dari
jumlah 20 tahun lalu. Fertility rate
mereka turun ke 0,72
di tahun 2024. Jauh dari angka 2,1 yang
dibutuhkan buat maintain populasi. Ini
terendah di dunia. Biaya hidup brutal,
kompetisi kerja gila-gilaan, harga
properti melonjak. Cewek-cewek di sana
milih buat enggak nikah atau enggak
punya anak karena enggak mau bawa anak
ke dunia yang super kompetitif.
Akibatnya piramida penduduknya kebalik.
Yang muda dikit, yang tua numpuk di
atas. Dan masalahnya struktur keluarga
di sana juga udah berubah. Dulu tugas
ngerawat orang tua itu tugas wajib anak
di rumah. Survei pemerintah tahun 2006
nunjukin 67,3%
orang Korea percaya merawat orang tua
adalah tanggung jawab keluarga. Tahun
2016 angkanya anjlok jadi 32,6%.
Sekarang forget it. Anak-anaknya sibuk
kerja 14 jam sehari. Mereka tinggal di
apartemen sempit. Enggak ada ruang,
enggak ada waktu, dan jujur aja enggak
ada tenaga buat ngurus orang tua yang
sakit parah. Jadi solusinya adalah
outsource, masukkan ke nursing hospital
atau nursing home. Tapi eh sistem
outsource ini sekarang lagi collapse.
Ini yang lebih tragis. Korea Selatan
bukan negara miskin. Mereka GDP-nya top
10 dunia. Samsung, Hyundai, LG, semua
brand global. Tapi lo tahu berapa
tingkat kemiskinan lansia mereka? 39,8%
di tahun
2023, hampir 40% lansia Korea hidup
dengan penghasilan di bawah 50% median
income nasional. Ini tertinggi di antara
semua negara OECD. Rata-rata OECD cuma
13,1%.
Korea triple lipatnya. Estonia di posisi
kedua aja cuma 34,6%.
Ini achievement yang memalukan buat
negara sekaya Korea. Kenapa bisa? Karena
sistem pensiun mereka masih muda.
National Pension System baru dimulai
tahun 1988
dan baru universal tahun 1998.
Artinya banyak lansia sekarang cuma ikut
program pensiun bentar. Jadi pensiunnya
kecil banget. Tahun 2018 public
transfers cuma 25,9%
dari income lansia Korea, setengah dari
rata-rata OCD yang 57,1%.
Jadi, gimana mereka survive? Banyak yang
harus tetap kerja. 57,6% lansia usia 65
sampai 79 tahun bilang mereka masih
pengin kerja. Bukan karena mereka hobi
kerja, karena mereka butuh makan. Dan
banyak yang akhirnya bergantung pada
aset, terutama rumah. Tapi rumah enggak
bisa dimakan. Lu enggak bisa bayar obat
pakai sertifikat tanah? Yang lebih
menyedihkan, gender gap-nya brutal.
Tingkat kemiskinan lansia perempuan
43,4%
sementara laki-laki 31,2%.
Perempuan lebih miskin karena mereka
dulu enggak bekerja formal, jadi enggak
punya pensiun yang memadai. Dan ini
bukan cuma soal uang. Survei kualitas
hidup nunjukin cuma 29,9%
lansia Korea bilang mereka puas dengan
hidupnya. Bandingkan dengan remaja usia
13 sampai 19 tahun, 56,5%
puas. Lansia Korea itu lonely, po dan
unhappy. Triple wam. Sekarang bayangkan
situasi udah parah gini terus sistem
kesehatannya ikut collapse. Itu yang
terjadi Februari 2024. Pemerintah Korea
mengumumkan mereka mau naikin kuota
mahasiswa kedokteran dari 3.000 jadi
5.058 per tahun tambah 2000 seats.
Alasannya logis, populasi menua, dokter
kurang, terutama di daerah rural dan
spesialisasi penting kayak pediatri dan
emergency care. Korea punya rasio dokter
terendah di OECD cuma 2,6/1000
orang. Sementara rata-rata OECD 3,7.
Tapi dokter-dokter marah. Tanggal 19
Februari 2024, lebih dari 11.000 junior
doctors, residence dan interns resign
massal dan mogok kerja. Mereka bilang
masalahnya bukan jumlah dokter, tapi
working conditions yang brutal dan
kompensasi yang enggak adil. Dan mereka
enggak salah, junior dokters di Korea
kerja 36 jam shift, kadang lebih dari
100 jam seminggu. Gaji average mereka
cuma sekitar 70 juta won per tahun,
sekitar Rp50.000. 000 enggak sebanding
dengan jam kerja dan tanggung jawab
mereka. Di Amerika, Half of Doctors
kerja enggak lebih dari 60 jam seminggu.
Satu dari tiga dokter Korea pernah kena
kasus mau practice sejak 2019.
Litigation ris tinggi banget. Dan ini
yang mereka protes. Sistem fee for
service yang timpang. Rumah sakit
dibayar berdasarkan volume service. Jadi
eh rumah sakit mau lihat pasien sebanyak
mungkin dengan biaya serendah mungkin.
Essential medical care kayak pediatri,
obstetri, emergency medicine dibayar
rendah oleh asuransi nasional. Jadi
dokter lari ke dermatologi, plastic
surgery, cosmetic medicine, bidang yang
lebih untung dan lebih santai. Mogoknya
berlangsung berbulan-bulan. Maret 2025,
lebih dari 90% junior dokters masih
belum balik kerja. Cuma 8% yang staffing
211 general hospitals di seluruh negara.
Pemerintah ngasih ultimatum, suspend
licenses, ancam pidana, tapi tetap aja
mereka enggak balik. Dampaknya brutal.
Major hospitals ngurangin cancer surgery
16%. Emergency responders struggle cari
rumah sakit yang bisa terima pasien.
Beberapa clinic emergency partially
suspend operations. Angka pasien yang
miss window of opportunity buat
treatment naik 40% dibanding tahun
sebelumnya. Proporsi pasien yang
meninggal di emergency room naik 13,5%
di semester pertama 2024. Ada laporan
pasien meninggal di ambulans yang
keliling nyari rumah sakit. Ada yang
sampai ke rumah sakit tapi terlambat
akhirnya meninggal. Buat pasien yang
survive, effect delay treatment enggak
bisa dihitung. Cancer yang seharusnya
bisa disembuhkan kalau ketangkap stage
awal. Jadi fatal karena operasinya
ditunda berbulan-bulan. Pemerintah coba
deploy military doctors, expand peran
nurse assistance lewat legislasi baru,
bahkan legalize telemedicine buat semua
klinik. Tapi ini cuma bendet di luka
yang mengangah, sistem fundamentalnya
yang rusak. Dan di tengah keos ini ada
satu kelompok yang paling menderita,
lansia. Mereka yang paling butuh
perawatan medis rutin. Mereka yang
paling rapuh, mereka yang paling enggak
bisa wait. Dan sistem lagi enggak ada
buat mereka. Ya, sekarang kita masuk ke
jantung masalahnya. nursing hospital dan
longterm care facilities. Korea punya
dua sistem paralel yang enggak
terkoordinasi dengan baik. Pertama,
longterm Care Insurance yang ngurusin
nursing homes dan home care. Kedua,
National Health Insurance yang ngurusin
longterm care hospitals. Dua sistem ini
punya aturan beda, bayaran beda, standar
beda, dan mereka enggak ngomong satu
sama lain. Longterm Care Hospitals itu
semacam rumah sakit khusus buat pasien
yang butuh perawatan medis jangka
panjang. bukan ICU tapi lebih dari
sekedar panti jompo. Pasien stroke yang
lumpuh, demensia parah, komplikasi
diabetes, kanker terminal, mereka semua
ee ditampung di sini. Per tahun 2020 ada
longterm care hospitals di Korea dengan
ratusan ribu kasur. Sistemnya gini,
semua warga Korea bisa masuk karena
diover National Health Insurance. Out of
pocket payment cuma 10 sampai 20% dari
total medical fee. Kedengarannya bagus
kan? Universal coverage, tapi masalahnya
ada di cara rumah sakit dibayar. Mereka
pakai sistem resource utilization
groups. Pasien diklasifikasiin jadi 15
kategori berdasarkan tingkat kebutuhan
perawatan mereka. Kategori rendah
bayarannya rendah. Kategori tinggi
bayarannya lebih tinggi. Tapi tetap aja
pakai sistem paket harian. Biar gampang
masuk otak. Gua jelasin pakai analogi
restoran buffet. Bayangin lu buka
restoran All you Can Eat. Lu pasang
harga tiket masuk Rp100.000 per orang.
Aturannya orang boleh makan sepuasnya.
Kalau yang datang itu cewek-cewek diet
yang cuma makan salad dikit terus
kenyang. Lo untung gede. Modal lo cuma
Rp20.000
lo dapat Rp100.000
cuan Rp80.000.
Tapi apa yang terjadi kalau yang datang
itu rombongan atlet sumo yang kelaperan?
Mereka makan daging bertumpuk-tumpuk
nambah berkali-kali. Modal bahan baku
yang mereka makan itu Rp150.000.
Padahal mereka cuma bayar Rp100.000.
Artinya apa? Setiap kali mereka nyuap
makanan, lo rugi. Makin banyak atlet
sumo yang datang, makin cepat restoran
lo bangkrut. Nah, longterm Care Hospital
di Korea itu sekarang lagi kejebak di
skenario atlet sumo ini. Pemerintah dan
asuransi kesehatan ngasih bayaran flat
per hari berdasarkan kategori pasien. Ee
tapi lansia zaman sekarang itu
penyakitnya ee komplikasi parah. Mereka
enggak cuma tua, mereka kena demensia
butuh obat penenang mahal. Mereka kena
diabetes, butuh insulin. Mereka kena
stroke, butuh fisioterapi. Mereka butuh
popok diganti 5 sampai 6 kali sehari.
Harga obat naik, gaji perawat naik,
harga makanan naik, listrik naik, tapi
uang jatah dari asuransi jalannya kayak
siput. Naiknya dikit banget, enggak
ngejar inflasi. Yang lebih parah, ada
masalah lain. Rumah sakit umum biasa
yang buat operasi usus buntu atau
lahiran mereka pakai sistem V for
service. Loai obat A bayar A. Loai
dokter spesialis bayar lebih. Jadi kalau
pasien sakit parah, rumah sakit malah
untung. Tapi nursing hospital pakai
sistem paket. Artinya makin sakit
pasiennya, makin kompleks kondisinya,
makin rugi rumah sakitnya. Dan pasien
lansia itu ya pasti sakit. Enggak ada
orang masuk nursing hospital karena dia
sehat walafiat mau healing. Tahun 2024
pemerintah mulai pilot project buat 20
longterm care hospitals. Kasih financial
assistance buat Care Cost rencana expan
tahun 2027.
Tapi ini terlalu lambat, terlalu
sedikit. Masalahnya udah terlalu besar.
Jadi kalimat yang harus lo tanam di otak
sekarang adalah di Korea punya banyak
pasien lansia itu bukan berkah buat
rumah sakit. Itu beban finansial. Dan
ketika financial pressure makin besar,
ada dua pilihan. Tutup atau cut cost
sampai kualitas perawatan jadi bahaya.
Sekarang bayangin lu jadi direktur rumah
sakit tadi tiap bulan laporan keuangan
merah. Lo enggak bisa naikin harga
seenaknya karena diatur pemerintah. Lo
enggak bisa nolak pasien karena
melanggar etika, tapi uang kas lo
menipis. Apa yang bakal lo lakuin? Tarif
dari asuransi itu dipatok per hari. Cara
satu-satunya biar lo untung adalah
menekan pengeluaran sampai titik darah
penghabisan. Gimana caranya? Pertama,
makanan yang tadinya lauknya daging dan
sayur segar pelan-pelan berubah jadi
bubur encer dan sayur layu. Kedua, suhu
ruangan. Pemanas dikurangi pas musim
dingin biar hemat listrik. Pasien tua
dibiarin menggigil di balik selimut
tipis. Ketiga, dan ini yang paling
jahat, tenaga kerja. Suster yang tadinya
pegang lima pasien sekarang disuruh
pegang 10, 15, bahkan 20 pasien.
Akibatnya apa? Lu bayangin nenek lo di
sana. Dia ngompol, dia butuh ganti
popok. Dia panggil suster. Tapi
susternya lagi lari-larian ngurus pasien
lain yang lagi kejang di ujung lorong.
Suster itu manusia bukan robot. Dia
kapek, dia stres, dia overwhelmed.
Akhirnya popok nenek lo enggak diganti
selama 6 jam. Kulit lansia itu tipis
banget. Kena kotoran dikit, lembab
dikit, langsung luka. Muncul betores
atau luka baring, infek, baunya mulai
menyengat satu ruangan. Dan ketika
keluarga komplain, rumah sakit cuma bisa
bilang, "Maaf, kami kekurangan orang."
Ini bukan spekulasi. Ini realita yang
terjadi di banyak nursing facilities di
Korea. Survei dari longterm Care
Insurance Recipient tahun 2020 nunjukin
26,8%
dari mereka pernah hospitalize dalam 12
bulan terakhir. 12,6%
diinstitutionalize
ke convalesent hospitals. Dan banyak
dari mereka komplain soal kualitas care
yang menurun. Eh, sekarang kita geser
pandangan dari dalam kamar pasien ke
peta Korea Selatan secara luas. Kalau lu
pikir horor ini cuma terjadi di kota
kecil, lu salah. Justru di desa
situasinya udah kayak film posta
apokaliptik. Anak muda pada kabur ke SEO
di desa tinggal orang-orang tua.
Logikanya harusnya rumah sakit di desa
laku keras dong. Salah besar. Dokter
juga manusia. Dokter muda enggak mau
kerja di desa terpencil. Mereka mau
digangnam, mau di soul, mau hidup enak.
Akibatnya rumah sakit di daerah pedesaan
kekurangan dokter parah. Jumlah dokter
kesehatan masyarakat berkurang drastis
dalam 10 tahun terakhir. Dan dokter yang
tersisa di desa mereka sendiri udah tua.
Dokternya udah umur 60 sampai 70 tahun
ngerawat pasien umur 80 tahun. Ini kayak
kakek-kakek ngerawat kakek-kakek. Lalu
satu persatu rumah sakit daerah struggle
karena enggak ada tenaga medis.
Daerah-daerah ini sekarang disebut
medical desert atau gurun medis. Lu
bayangin lu tinggal di desa, ibu lu kena
serangan jantung atau stroke. Rumah
sakit terdekat 2 jam perjalanan naik
mobil. Dalam stroke 2 jam itu bedanya
antara hidup, mati atau lumpuh seumur
hidup. Study tahun 2023 yang pakai
metode enhance two step floating
catchment area buat ukur spial
accessibility lansia ke layanan
kesehatan di tujuh kota besar Korea
nunjukin hasil yang shocking. Area
dengan populasi lansia tertinggi justru
punya accessibility rate terendah ke
nearby healthc services. Kota besar
kayak Seul masih oke, tapi daerah rural
hopeless. Banyak lansia di desa
meninggal bukan karena penyakitnya
enggak bisa disembuhin. Mereka meninggal
karena enggak sempat disembuhin. Mereka
mati di jalan di dalam ambulans yang
lagi ngebut cari rumah sakit yang masih
buka. Pneumonia adalah salah satu
leading caes of death di Korea. Terutama
buat lansia. Dengan limited mobility,
homebound senior patients sering nenggak
bisa access timely care yang exacerbit
kondisi mereka dan lead higher hospital
admissions dan mortality rates. Data
dari Korea disease control and
prevention Agency periode 2020 sampai
2022 nunjukin 30 day in hospital
mortality rate buat community acquired
pneumonia jauh lebih tinggi di elderly
patients dibanding adult patients. Oke,
kalau gitu gua bawa orang tua gua ke
seul aja. Di sana kan ibu kota pasti
aman. Wah, naif banget pemikiran lu. Seo
emang punya rumah sakit terbaik,
fasilitas canggih, dokter lulusan luar
negeri. Tapi ada satu hal yang SEO
enggak punya. Kasur kosong di Seul. Ini
bukan lagi soal uang, ini soal antrian.
Rumah sakit-rumah sakit top di Seul
punya waiting list buat masuk nursing
world yang panjangnya enggak ketulungan.
Lo bayangin orang tua lo butuh perawatan
hari ini. Resepsionis bilang, "Silakan
tunggu. Lo mau marah, mau sogok, enggak
bisa karena emang penuh. Satu-satunya
cara lo bisa dapat kasur adalah nunggu
ada pasien lain yang meninggal atau
keluar." Jahat banget kan kedengarannya?
Lu secara enggak sadar berharap ada
orang lain lewat supaya orang tua lu
bisa masuk. Sistem ini bikin manusia
jadi serigala buat manusia lain dan buat
mereka yang enggak sabar nunggu mereka
lari ke jasa caregiver atau pengasuh
pribadi. Biaya sewa pengasuh lansia
profesional di Korea bisa tembus puluhan
juta rupiah per bulan kalau dikonversi.
Cuma buat jasa orangnya doang belum
obat, belum makan. Bahkan kelas menengah
di Korea pun teriak ampun-ampunan.
Tabungan pensiun seumur hidup bisa ludes
cuma dalam setahun. Jadi opsinya cuma
dua. Di desa enggak ada rumah sakit, di
kota ada tapi enggak bisa masuk atau
harganya bikin lu jual ginjal. Ada satu
kelompok yang bahkan lebih tragis dari
yang di rumah sakit. Mereka yang enggak
bisa keluar rumah sama sekali. Di tahun
2025, estimated 1,4 juta lansia Korea
adalah homebound. Mereka severely
mobility impaired, enggak bisa keluar
rumah. Itu sekitar 15% dari populasi
lansia. 60% dari mereka rely on
assistance buat gerak atau harus pakai
kursi roda. 7 basen completely better
than system healthcare Korea. Heavily
centered around hospital based care
offering limited support homebound older
patients. Longterm care insurance system
largely neglects medical home visits
focusing primarily on nursing care to be
failing to provide comprehensive medical
support. Akibatnya significant
proportion dari lansia ini rely on
family members buat manage chronic
illnesses via proxy prescriptions.
Praktik yang bisa delay critical
treatments. Pneumonia salah satu leading
causes of death di Korea. Jadi perfect
example dengan limited mobility,
homebound senior patients sering enggak
bisa akses timely care yang exacerbated
kondisi mereka. Tahun 2A 2020, M4
pemerintah mulai pilot project buat
integrated medical care support buat
older individuals scheduled untuk
implementation di duabelas local
governments by Desember 2025. Tapi ini
baru pilot, baru 12 daerah, 1,4 juta
orang butuh yang dilayani baru ribuan.
Maret 2024, Integrated Community Care
Assistance Act di Promulgate akan
implemented from March 2026. Under this
new law, central dan local governments
akan provide various services kayak
health care, disease prevention, health
management, longterm care, care for
daily living, dan family support buat
older adults. Tapi ini baru
undang-undang implementation di lapangan
masih question mark besar sampai
akhirnya bom waktu itu meledak, rumah
sakit menyerah. Mereka tempel kertas
pengumuman di pintu depan. Kami tutup
bulan depan. Ini yang disebut tragedi 30
hari. Keluarga dikasih waktu cuma
sebulan buat mindahin orang tua mereka.
Lo pikir gampang cari rumah sakit lansia
baru? Lo telepon sana sini. Penuh, Bu.
Mafck, waiting list. Ada kosong tapi
harganya Rp50 juta per bulan. Keluarga
panik, stres. Dan lahirlah istilah baru
yang menyedihkan, Care Refuges atau
pengungsi perawatan. Orang-orang tua ini
kayak pengungsi perang. terusir dari
satu rumah sakit, dilempar ke rumah
sakit lain, atau terpaksa dibawa pulang
ke rumah oleh anak-anak yang sebenarnya
enggak sanggup ngurus. Bayangin lu harus
resign dari kerjaan lo. Kehilangan
penghasilan, cuma buat gantiin peran
suster di rumah 24 jam. Ekonomi keluarga
lo hancur, mental lo hankur, dan lo
mulai benci sama orang tua lo sendiri.
Ngeri kan? Itu realita yang terjadi di
Korea sekarang. Stari dari Korea tahun
2001 sampai 2014 nunjukin 57,82%
lansia meninggal di rumah sakit, 32,12%
meninggal di rumah, dan 2,61%
meninggal di social welfare facilities.
Buat Terminali ill cancer patient, 91,5%
meninggal di rumah sakit tahun 2013.
Tapi introduction of insurance covered
homebased hospice care di September
2020. to increase in probability of
patients with cancer dying in their own
homes. Ini nunjukin apa? Changes in cost
of care bisa result in changes in place
of death. Tapi bukan dalam artian yang
baik. Bukan karena mereka memilih
meninggal di rumah yang hangat
dikelilingi keluarga, tapi karena mereka
enggak bisa afford rumah sakit lagi atau
rumah sakit enggak ada yang terima. Jadi
ee siapa yang paling babak belur di
medan perang ini? Jawabannya kelise tapi
nyata. Mereka yang miskin dan mereka
yang sendirian. Di Korea, fenomena ini
melahirkan kelas sosial baru yang
tragis. Orang kaya bisa bayar perawat
pribadi puluhan juta per bulan. Mereka
bisa beli tiket VIP ke rumah sakit elit.
Tapi kelas menengah ke bawah, mereka
terpaksa merawat orang tua sendiri
dengan pengetahuan nol atau membiarkan
orang tua mereka antri di rumah sakit
pinggiran yang standarnya jauh di bawah
layak. Ingat angka tadi 39,8%
lansia Korea hidup dalam kemiskinan.
Hampir 40%. Ini bukan cuma soal uang,
ini soal martabat. Bayangin lu kerja
keras seumur hidup, bayar pajak, taat
hukum, eh pas tua lu diperlakukan kayak
barang reject di pabrik yang mau dibuang
karena dianggap beban biaya operasional.
Sakit nenggak tuh. Dan di sinilah gua
mau lu berhenti sejenak. Jangan cuma
mikir, "Wah, kasihan ya orang Korea.
Game mau lo enggak, Kang?" Gua mau lo
lihat kondisi di sekitar kita di
Indonesia. Lo pikir kita aman? Lo pikir
ini cuma masalah negara maju? Wake up.
Indonesia itu sekarang lagi di fase
bonus demografi. Iya, benar. Tenaga
kerja kita banyak. Tahun 2025 populasi
kita estimated 284 juta. 68,4%
working age population 42,4%
under 25. Median age cuma 31,4 tahun.
Kita masih muda, tapi ingat bonus itu
ada masa berlakunya dan setelah bonus
habis, tagihannya datang. Coba lihat
pola keluarga kita sekarang. Mirip
enggak sama Korea 20 tahun lalu? Mirip
banget. Anak-anak muda merantau ke
Jakarta, ke Cikarang, ke luar pulau.
Orang tua ditinggal di kampung. Dulu
satu keluarga punya 5 sampai en anak.
Jadi beban ngerawat orang tua dibagi
rata, ringan. Sekarang banyak keluarga
muda cuma punya satu atau dua anak,
bebannya makin berat. Data UNFPA
Indonesia nunjukin populasi lansia usia
60 plus akan grow from 10,1% in 2020 to
18,0% in 2045.
Jumlah lansia akan double dalam 25
tahun. Jumlah lansia usia 80 plus akan
triple. Growth rate lansia jauh lebih
cepat dibanding populasi total. Lu kenal
istilah generasi sandwich? itu kita kita
kejepit harus biayain hidup sendiri yang
makin mahal. Biayain anak sekolah plus
kirim uang buat orang tua di kampung.
Dan sebentar lagi bebannya akan makin
berat. Proyeksinya mengerikan. Tahun
2045 kita akan punya 90 juta lansia. Itu
nyaris sepertiga populasi Indonesia dan
sistem kesehatan kita. Siap enggak? BPJS
aja sekarang udah defisit tiap tahun.
Coba bayangin kalau demand naik triple
dalam 20 tahun. Sanggup enggak? Kita
lihat indikatornya. Fertility rate
Indonesia tahun 2023 sekitar 2,2 birds
per woman. Masih di atas replacement
level 2,1 tapi turunnya cepat banget.
Tahun 2000 masih 2,7.
Within just over two decades turun 0,5
poin. Kalau tren ini terus dalam 10
sampai 15 tahun kita akan di bawah 2,1
kayak Korea dulu dan setelah itu aging
spiral yang sama. Pertanyaannya kalau
sistem kesehatan kita nanti colollaps
kayak Korea karena jumlah lansia meledak
lebih cepat dari kesiapan rumah sakit,
siapa yang bakal ngerawat orang tua lo?
Siapa yang bakal ngerawat lo nanti?
Apakah lu yakin BPJS bakal cukup buat
nanggung biaya perawatan jangka panjang
yang butuh puluhan juta per bulan? Korea
yang negaranya tajir melintir aja
kewalahan. Apalagi kita yang masih
negara berkembang. Ggak lagi
nakut-nakutin lo. Gua lagi ngasih lo
contekan soal masa depan. Apa yang
terjadi di Korea adalah peringatan keras
buat kita. Bahwa menua itu pasti tapi
menua dengan nyaman dan bermartabat itu
mahal. Itu butuh persiapan. Kita gak
bisa lagi naif mikir, "Ah, nanti anak
gue yang urus. Kasihan anak lo." Mereka
bakal punya perangnya sendiri. Korea
ngajarin kita satu hal pahit. Sistem
pasar bebas enggak selalu solve
everything. Mereka punya GDP gede,
teknologi canggih, tapi tetap aja gagal
protect most vulnerable population
mereka. Kenapa? Karena ada fundamental
mismatch antara healthcare as a versus
health care as a human. Nursing hospital
itu profitability-nya rendah,
operationalnya kompleks, risknya tinggi.
Jadi private sektor enggak tertarik
invest. Meanwhile, government funding
enggak cukup. Jadinya gap yang melebar.
Supply nch demand. Dan ketika crisis
datang, dokter mogok, hospital tutup.
Siapa yang kena? Bukan orang kaya.
Mereka bisa bayar private care. Eh, yang
kena adalah middle class dan poor
elderly. Mereka yang kerja keras seumur
hidup, bayar taxes, follow rules, tapi
di akhir hidup mereka diperlakukan kayak
disposable goods. Jadi, apa poinnya?
Poinnya adalah kita harus sadar bahwa
sistem itu enggak selalu ada buat
nyelamatin kita. Pemerintah punya
keterbatasan, rumah sakit punya hitungan
bisnis. Di ujung hari, satu-satunya
orang yang bisa nyelamatin masa tua lo
adalah diri lo sendiri yang sekarang. Lo
yang masih muda, masih produktif, mulai
melek finansial. Bukan biar jadi kaya
raya pamer di Sosmet, tapi biar nanti
pas lo tua, lu punya opsi, lo punya dana
darurat, lu punya asuransi yang benar,
lu punya aset supaya lo enggak jadi
beban buat anak lo dan lo enggak jadi
korban sistem yang kejam kayak di Korea
tadi. Konkretnya gimana? Pertama, mulai
nabung dana lansia dari sekarang. Enggak
perlu gede-gedean. 10% dari gaji tiap
bulan taruh di instrumen yang aman dan
liquid. Kalau lo berusia 30 tahun
sekarang, lu punya 35 tahun untuk
prepare, compound interest itu powerful.
Kedua, cek asuransi low. Asuransi
kesehatan standar biasanya cuma cover
acute care, operasi, rawat inap singkat.
Tapi longterm care, chronic disease
management, nursing home fees,
sering enggak ke-cover? Pasti lu punya
coverage yang eh adequate atau minimal
eh set aside emergency fund yang
specifically buat ini eh ketiga research
nursing home atau home care option
sekarang jangan pas udah kepepet lo
perlu tahu di kota lo ada berapa nursing
home yang decent biayanya berapa standar
perawatannya gimana waiting list-nya
panjang enggak knowledge isu lo tahu
options low sebelum crisis lo bisa make
Better decisions, kimpat family
discussion. Ini yang paling awkward tapi
paling penting. Duduk bareng sama
saudara, sama orang tua. Bicarain kalau
ada yang sakit, siapa yang bakal ngurus.
Pembagian tanggung jawabnya gimana,
finansialnya dari mana? Jangan tunggu
sampai ada yang stroke baru ribut
berebutan tanggung jawab. Dan kelima,
advocate buat policy change. Ini beyond
individual action. Tapi kita perlu push
pemerintah dan BPJS buat prepare better.
Longterm care insurance yang
komprehensif, subsidi buat nursing
homes, insentif buat train more
geriatric nurses dan caregivers,
standards dan oversight buat nursing
facilities. Ini bukan charity, ini
investment buat masa depan kita semua.
Korea failing enggak berarti kita harus
fail juga. Kita bisa belajar dari
mistakes mereka, tapi itu butuh
political will, public awareness, dan
individual responsibility. Tragedi di
Korea ngajarin kita satu hal pahit,
cinta aja enggak cukup buat ngerawat
orang tua. Butuh sistem, butuh tenaga,
dan ya butuh biaya. Ada satu scene yang
guenang anggap bisa lupain dari
dokumentari tentang Korea Elderly
Crisis. Seorang anak perempuan usianya
sekitar 40 tahunan nangis di depan
kamera. Dia bilang, "Saya kerja penuh
waktu. Gaji saya pas-pasan buat hidup
saya sendiri. Ibu saya butuh perawatan
24 jam. Saya enggak bisa resign karena
saya harus bayar nursing home-nya. Tapi
kalau saya kerja, saya enggak bisa
ketemu dia. Dan sekarang nursing
home-nya mau tutup. Saya enggak tahu
harus gimana lagi." Dia collapse.
Literally pingsan di depan kamera karena
stress dan exhausion. Itu realita, bukan
drama Korea, bukan fiksi. itu human
being yang desperate, yang sudah
mentally dan financially drained, yang
gak tahu harus ke mana lagi. Dan yang
lebih menyedihkan, dia bukan
satu-satunya. Ada jutaan anak-anak
seperti dia di Korea sekarang. Caug
between duty to parents dan survival
sendiri. Generasi sandwich yang
literally crushed in the middle. Sistem
seharusnya ada buat prevent tragedi
kayak gini. Tapi kalau sistemnya sendiri
yang broken, kalau government gak
allocate enough resources, kalau private
sector kuma chasse profit tanpa social
responsibility, maka yang tertinggal
adalah individual families fighting
alone against impossible odds. Suatu
hari nanti kita semua akan ada di posisi
itu. Keriput, lemah, mungkin sakit.
Pertanyaan besarnya bukan apakah kita
akan tua, tapi di mana kita akan dirawat
saat hari itu tiba di rumah yang hangat
dikelilingi keluarga atau di antrian
dingin rumah sakit yang mau tutup, di
nursing home yang decent dengan staff
yang caring atau di fasilitas murahan
yang treat kita kayak barang inventory.
Pilihan itu sedikit banyak ditentukan
sama apa yang lo lakuin hari ini, sama
awareness lo hari ini, sama preparation
lo hari ini. Korea adalah case study
paling ekstrem dari apa yang terjadi
kalau satu negara terlalu fokus pada
economic growth, tapi neglect social
safety net. Mereka punya Samsung, tapi
lansia mereka paling miskin di OECD.
Mereka punya K-pop Global Domination,
tapi gak punya enough nurses buat ganti
popok nenek-nenek di nursing homes.
Indonesia masih punya waktu, kita masih
di face bonus demografy, tapi window-nya
closing 20 tahun dari sekarang kita bisa
jadi Korea kedua. Atau kita bisa jadi
case study yang berbeda, negara
berkembang yang successfully navigate
aging crisis dengan smart policy dan
strong social solidarity. Tapi itu
enggak akan terjadi sendiri. Itu butu
collective action dari pemerintah yang
allocate adequate budget dari sektor
swasta yang invest bukan cuma chase
profit dari civil society yang advocate
buat elderly rights dan dari kita
sebagai individuals yang prepare dan
support satu sama lain karena pada
akhirnya cara satu masyarakat treat
elderlynya adalah cerminan dari values
mereka. Apakah kita percaya bahwa every
human being deserves dignity di akhir
hidup mereka regardless of economic
productivity? Atau kita percaya bahwa
old age adalah eh burden yang harus
diminimize cost-nya? Jawaban dari
pertanyaan itu akan determin masa depan
kita semua. Korea sedang menjawab
pertanyaan itu dengan cara yang paling
brutal dan tragik. Kita punya kesempatan
untuk menjawab dengan cara yang berbeda.
Tapi kesempatan itu enggak akan ada
selamanya. Clock is ticking. Dan
sementara kita berdebat, sementara kita
menunda, ada jutaan lansia di Korea dan
Sun di Indonesia yang suffer dalam
silence, yang deserve better tapi enggak
dapat, yang punya hak atas dignity tapi
diperlakukan kayak beban. Mereka adalah
cermin masa depan kita. Dan kalau kita
enggak mau ending kayak mereka, waktunya
untuk adalah sekarang, bukan besok,
bukan tahun depan sekarang. Karena kalau
kita tunggu sampai kita sendiri yang
tua, sampai kita sendiri yang butuh
nursing care, sampai kita sendiri yang
antri di hospital yang mau tutup, saat
itu sudah terlambat. Saat itu kita cuma
bisa regret, kenapa kita enggak prepare
lebih baik dulu. Jadi, pertanyaan buat
lo yang nonton ini, apa yang akan lo
lakuin hari ini buat ensure bahwa masa
tua lo dan masa tua orang-orang yang lo
sayangi akan lebih baik dari nightmare
yang sedang terjadi di Korea? Yeah.