Jajanan Pasar Mati Pelan-Pelan: Ini Bukan Soal Rasa, Tapi Pembunuhan Ekonomi
ztFe-LwbJjk • 2026-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Coba lo mata sebentar deh. Iya, beneran. Tutup dulu. Terus tarik napas dalam-dalam. Apa yang lo sium? Kalau gua ajak lo mundur pakai mesin waktu 10 atau mungkin 15 tahun ke belakang di jam segini nih, jam 5. Pagi buta, udara itu punya wangi yang khas banget. Ada aroma kayu bakar yang samar-samar nyampur sama uap manis gula merah yang lagi luluh dimasak. Terus suaranya bukan suara notifikasi WhatsApp atau email kerjaan, tapi bunyi SSSH panjang dari kukusan bambu kue putu yang lewat atau suara kelentang-kelenting sendok logam yang lagi ngaduk teh manis panas di gelas kaca tebal yang ada motif kembangnya itu. Lu bisa ngerasain hangatnya enggak? Itu tuh era di mana kata jajan bukan cuma sekedar lo ngeluarin duit terus dapat barang. Itu ritual, Man. Lor rela datang ke pasar subuh becek-becekan dikit kena air comberan pasar enggak masalah. Demi dapetin kelepon yang kelapanya masih fresh banget, basah, atau lupis yang saus kincanya itu nempel lengket di lidah. Rasanya tuh jujur, harganya masuk akal di kantong. Dan yang paling penting ada manusianya di sana. Ada si ibu penjual yang nanya, "Gimana kabar Ibu di rumah, Mas?" Ada interaksi, ada kehidupan yang denyutnya pelan tapi hangat banget. Sekarang buka mata lo. Selamat datang di realitas kita hari ini. Selamat datang di awal tahun 2026. Dingin banget kan? Coba lu tengok sekeliling lu sekarang. Kita udah enggak berdiri di atas tanah pasar yang becek lagi. Kita lagi berdiri di atas lantai marmer stasiun MRT atau lobi perkantoran elit yang hawanya di set paksa tepat di 18 derajat Celcius. Baunya bukan lagi pandan wangi atau daun pisang yang kebakar dikit, tapi bau pembersih lantai kimia sama bau ozon dari AC sentral yang nyala 24 jam. Di tangan kiri low bukan bungkusan daun pisang yang agak berminyak itu, tapi kup plastik tebal dengan logo minimalis font sun serif yang shock estetik. Di tangan kanan lo handphone yang nyala terus nampilin fit atau Instagram yang isinya makanan-makanan warna neon. Dessert box yang warnanya ungu mentereng. Roti yang dikasih krim tumpah-tumpah sampai belepotan ke mana-mana atau minuman dengan topping yang tingginya ngalahin logika gravitasi saking numpuknya. Semuanya estetik, semuanya instagramable, semuanya didesain bukan buat dimakan sebenarnya, tapi buat difoto, diposting, dapat like. Terus rasanya gimana? Rata-rata doang, Bro. Manis doang atau gurih micin yang nyegrak banget ditenggorokan sampai bikin batuk? Tapi harganya gila-gilaan. Enggak ngotak. Lo sadar enggak sih ada yang hilang dari hidup kita? Ke mana perginya kue cucur yang pinggirannya garing crispy tapi tengahnya lembut bersarang itu? Ke mana perginya ongol-onggol yang kenyalnya pas enggak alot kayak karet ban? Kenapa tiba-tiba di tahun 2026 ini ee nyari jajanan pasar yang otentik di Jakarta rasanya kayak nyari jarum ditumpukan jerami digital? Susah banget. Banyak orang bilang, "Ah, itu kan seleksi alam, Bro. Anak muda zaman now lidahnya udah beda, udah upgrade. Mereka lebih suka kromboloni viral daripada getuk lindri. Gua kasih tahu satu rahasia besar. Itu bohong. Bullshit. Ini bukan soal selera, Soop. Lidah kita tuh enggak berevolusi secepat itu cuma dalam satu dekade. Reseptor rasa di lidah lo masih sama kayak nenek moyang lo. Lo masih mendambahkan rasa manis yang pas, gurih yang alami, dan tekstur yang kompleks. Masalahnya bukan di demand atau permintaan lo, tapi di supply yang dipaksa berubah sama keadaan ekonomi yang brutal banget. Coba kita bedah datanya ya, biar lo enggak ngira gua cuma lagi romantisasi masa lalu atau sok puitis. Coba tengok ke laporan BPS. Di penghujung tahun 2025 kemarin, kita menutup tahun dengan angka deflasi beruntun yang ngeri banget. Itu sinyal merah kalau daya beli kelas menengah orang-orang kayak gue dan lo yang gajinya cuma numpang lewat itu lagi hancur-hancurnya. Data menunjukkan proporsi pengeluaran buat makanan jadi emang naik, tapi nilai tukar petani dan produsen skala mikro justru lagi kecekik. Apa artinya tuh? Artinya si ibu penjual kue lapis di pasar itu udah enggak sanggup lagi bertahan napas. Harga bahan baku kayak tepung beras sama gula aren asli naiknya udah gila-gilaan gara-gara rantai pasok yang kacau balau. Sementara dia gak bisa naikin harga jual. Bayangin kalau dia jual kue lapis sepotong Rp5.000, orang-orang di pasar bakal teriak, "Mahal amat, Bu." Tapi anehnya orang yang sama enggak keberatan beli croisan geprek seharga Rp55.000 di mall. Cuma karena tempatnya dingin dan ada stiker viralnya asin on TikTok. Ini paradoks sensorik yang kita hadapi di 2026. Gila enggak sih kita hidup di zaman di mana kemasan itu lebih mahal harganya daripada isinya. Di mana experience atau pengalaman dihargai jauh lebih tinggi daripada substance atau isinya itu sendiri. Jajanan pasar kita. Warisan kuliner yang usianya ratusan tahun yang resepnya turun-temurun dari nenek moyang lagi dipaksa bertarung di ring tinju yang enggak adil sama sekali. Mereka dipaksa ngelawan algoritma, Bos. Bayangin aja, kue talam yang warnanya hijau pucat alami karena pakai daun suji harus bersaing secara visual di layar HP loh. Ngelawan donat glaze warna-warni yang warnanya diedit pakai filter saturation mentok kanan sampai mata sakit ngelihatnya. Jelas kalahlah. Kue talam tuh enggak fotogenik di mata algoritma 2026. Dan karena dia enggak viral, dia dianggap enggak ada, dianggap enggak eksis. Kenyataan pahitnya adalah jajanan pasar tidak punah karena rasanya tidak enak. Gua ulangi sekali lagi ya biar meresap ke otak lu. Jajanan pasar tidak punah karena rasanya tidak enak. Mereka punah karena gagal berevolusi melawan zaman yang menuntut segala sesuatu harus serba cepat, harus steril, dan harus sharable alias layak pamer. Mereka gagal beradaptasi sama sistem ekonomi yang lebih memihak ke franchise besar dengan modal miliaran yang bisa sewa spot strategis di stasiun MRT ketimbang pedagang gerobakan yang tiap hari deg-degan diusir Satpol PP karena dianggap merusak pemandangan kota modern yang sok rapi ini. Kita tuh lagi ngelihat sebuah pergeseran budaya yang dipaksakan sama kapitalisme. Makanan tradisional kita dianggap kotor, kampungan, dan tidak higienis sama standar baru yang diciptakan oleh industri makanan olahan. Padahal makanan-makanan seril di dalam kemasan plastik yang lo beli di minimarket itu penuh sama pengawet dan gula buatan yang pelan-pelan ngebunuh kita juga sebenarnya. Ironis banget kan? Kita membuang yang sehat dan berbudaya demi memeluk yang plastik dan artifisial. Cuma biar kita merasa maju, biar kita merasa relevan dan enggak ketinggalan zaman di tahun 2026 ini. Jadi, ketika lo nanti pulang kerja desak-desakan di kereta terus ngelihat e outlet roti modern yang wanginya artificial banget itu, coba tanya sama diri lo sendiri, apakah ini kemajuan atau ini sebenarnya kemunduran yang dibungkus kertas kado mahal? Karena bagi gue, hilangnya suara kue putu dari sudut jalan dan digantikannya lapak mereka sama fending machine otomatis yang dingin itu bukan sekedar perubahan tren kuliner biasa. Ini bukan soal perut doang. Ini bukan soal nostalgia ee cengeng masa kecil. Ini adalah pembunuhan terencana terhadap identitas kita. Ini bukan soal kuliner. Ini soal economic murder. Economic murder, pembunuhan ekonomi. Istilah itu mungkin terdengar ekstrem banget di kuping lo. Mungkin lu mikir gue terlalu lebay atau dramatis. Mungkin lu mikir, "Ah, itu kan cuman seleksi alam biasa. Siapa yang enggak bisa bersaing ya mati." Itu bisnis, Bung. Oke, fair enough. Kita singkirkan dulu deh soal budaya, nostalgia, dan perasaan melow. Kita bicara pakai bahasa yang paling jujur di dunia ini, matematika. Kita bicara data, angka, fakta. Gua mau ajak lo bedah bangkai bisnis UMKM kuliner ini. Kita lakukan autopsi finansial. Kenapa banyak banget pedagang kue pasar, wartek, dan kaki lima yang tiba-tiba gulung tikar alias bangkrut dalam 2 tahun terakhir ini? Jawabannya bukan karena masakan mereka jadi enggak enak. Jawabannya ada di tabel Excel yang warnanya merah berdarah semua. Mari kita flashback sebentar. Kita bandingkan data harga bahan baku dari PIHPS atau pusat informasi harga pangan strategis nasional punya Bank Indonesia. Kita ambil baseline tahun 2020 masa sebelum kegilaan inflasi pasca pandemi benar-benar meledak dan kita adu sama data hari ini awal tahun 2026 siap sakit hati. Pertama gula pasir ini nyawa buat kue basah man. Kue putuh dadar gulung kelepon. Semuanya butuh gula. Di tahun 2020, harga rata-rata gula pasir lokal itu di kisaran Rp1.000 sampai Rp14.000 per kilo. Hari ini di Januari 2026, coba loar deh, lu enggak akan dapat barang itu di bawah Rp18.500 sampai Rp19.000. Kenaikannya nyaris 40%. Gila enggak? Lanjut ke telur ayam. Tahun 2020 rata-rata masih di angka Rp24.000 R000 per kilo. Sekarang standar nasional udah stabil nangkring di angka Rp32.000 sampai Rp34.000. Kalau lagi hari raya bisa tembus Rp40.000, Bos. Itu kenaikan biaya yang gila-gilaan buat pedagang yang margin untungnya cuma recehan. Dan yang paling brutal, tepung terigu. Di 2020 lo bisa dapat terigu curah atau kemasan sederhana di angka Rp8.000 sampai Rp9.000. Sekarang di 2026, gara-gara konflik geopolitik global yang enggak kelar-kelar perang sana sini dan gangguan rantai pasok, harga terigu sudah duduk manis di angka Rp14.000 sampai Rp15.000. Lu bayangin bahan bakunya naik 40, 50 sampai 60%. Tapi sekarang coba lo lihat harga jualnya. Ini yang bikin otak gue mau meledak rasanya. Harga kue jajanan pasar di tahun 2020 itu rata-rata Rp2.000 R per biji. Sekarang di tahun 2026 harganya berapa? Paling mentok Rp2.500. Kalau mereka berani jual Rp3.000, pembeli yaitu gue dan lo langsung protes. Kok mahal banget sih, Bu? Biasanya juga R.000 kok naik 1.000. Lo sadar enggak sih kejamnya situasi ini? Biaya produksi mereka meroket hampir dua kali lipat, tapi harga jual mereka dipaksa staknan, dipaksa diam di tempat sama daya beli masyarakat yang juga lagi hancur. Mereka tuh sebenarnya lagi mensubsidi perut kita dengan cara menggerogoti modal mereka sendiri. Sakit kan? Dan tunggu, penderitaan belum selesai. Kita belum ngomongin kebijakan pemerintah yang baru efektif tahun lalu 2025 kenaikan PPN jadi 12%. Gue tahu apa yang lu pikirin. Ah, pedagang kue di pasar kan enggak pungut PPN ke pembeli. Ngaruhnya apa? Salah besar. Betul. Bu Yati yang jualan lemper di tikungan jalan enggak mungut PPN 12% dari lo pas lo beli. Tapi Bu Yati membayar kenaikan itu di setiap lini belanja dia. PPN 12% itu menghantam biaya logistik, menghantam harga plastik kemasan, menghantam harga gas, menghantam biaya transportasi bahan baku dari pabrik ke pasar induk. Semua kenaikan itu numpuk, terakumulasi, dan dibebankan ke siapa? Ke user bahan baku, yaitu si pedagang kecil. Mereka kena getahnya, tapi mereka enggak bisa meneruskannya ke konsumen karena takut dagangan enggak laku. Ini namanya supply chain bullying, bullying rantai pasok. Belum lagi kalau kita bicara soal energi. Ingat kebijakan pembatasan LPG 3 kg alias gas melon yang makin ketat di akhir 2024 dan 2025 kemarin. Sekarang banyak pelaku UMKM yang dipaksa atau terpaksa beralih ke gas non subsidi karena gas melon langka banget kayak nyari jodoh. Lo tahu selisih harganya? Gas melon 3 kg itu harganya disubsidi habis-habisan. Begitu mereka harus beli bright gas atau tabung biru 12 kg dengan harga pasar internasional yang naik turun, struktur biaya mereka langsung ambruk, Bos. Biaya bahan bakar yang tadinya cuma 5% dari OMZ, sekarang bisa makan 15% sampai 20% pendapatan mereka. Jadi, kalau lo tanya kenapa kue putuh hilang, kenapa pastel rasanya makin banyak angin daripada isinya? Karena mereka beroperasi dengan apa yang gua sebut sebagai margin setipis tisu toilet. Serius setipis itu. Tisu toilet yang satu lapis pula yang ada di WC umum gratisan kena air dikit hancur, ditarik dikit robek. Dalam model bisnis harga Rp2.500 perak ini, keuntungan bersih pedagang mungkin cuma Rp200 atau Rp300 per biji. Itu pun kalau laku semua. Kalau hujan turun deras sore hari dan dagangan sisa, rugi bandar. Kalau harga telur naik Rp1.000 R saja besok pagi. Rugi. Kalau gas tiba-tiba langka dan harus beli di Calo. Rugi. Mereka enggak punya safety net. Mereka enggak punya cadangan modal kayak franchise raksasa yang bisa bakar duit alias burning money buat promo gila-gilaan. Bisnis mereka sangat rapuh. Satu guncangan kecil di ekonomi makro, satu kebijakan ngawur dari pusat dan puff lapak mereka hilang selamanya. Inilah brutalitas data yang enggak pernah masuk headline berita TV. Kita sibuk ngomongin pertumbuhan ekonomi makro yang katanya 5%. Kita sibuk ngomongin hilirisasi nikel. Kita sibuk ngomongin AI dan teknologi canggih. Tapi kita lupa fondasi ekonomi kerakyatan kita. Orang-orang yang bangun jam 2. pagi buat ngukus ketan sedang tercekik pelan-pelan oleh angka-angka yang enggak masuk akal ini. Mereka enggak mati karena kalah saing. Mereka mati karena matematikanya sudah enggak mungkin lagi dimenangkan. Dan ketika lo sadar bahwa kue seharga Rp2.500 R itu adalah hasil dari keringat orang yang bertaruh nyawa finansial setiap harinya. Ee rasanya sulit buat nelen makanan itu tanpa rasa bersalah. Kan ada rasa nyangkut di tenggorokan. Tapi pertanyaannya kalau mereka mati siapa yang menggantikan? Ke mana perginya uang receh kita kalau bukan ke pedagang pasar? Jawabannya ada di tangan raksasa. Dan data berikutnya bakal bikin lo lebih merinding lagi. Tahan dulu amarah lo ke para raksasa retil atau minimarket yang menjamur di tiap tikungan gang rumah lo. Sebelum kita nunjuk jari ke mereka sebagai pembunuh pasar tradisional, kita perlu ngaca dulu. Kita perlu melihat ke dalam ruang tamu kita sendiri, ke dalam kebiasaan kita sehari-hari dan menyadari bahwa ada sesuatu yang fundamental yang sudah bergeser. Gue sebut ini sebagai matinya B2B tradisional. AIDS. Tunggu. Jangan mikir kejauhan soal kontrak bisnis antar perusahaan besar. B2B di level akar rumput kita tuh namanya arisan, tahlilan, pengajian, rapat RT sampai acara kunjungan tetangga. Coba ingat-ingat lagi deh, kapan terakhir kali lo datang ke acara kumpul-kumpul RT yang suguhannya adalah kue basah lengkap dalam kotak kardus putih? Itu loh kotak legendaris yang isinya ada lemper, risol, kue sus, sama air mineral gelas yang sedotannya susah ditusuk. Kapan terakhir kali lo lihat itu? Sadar enggak sadar, itulah nyawa pedagang pasar yang sebenarnya. Pedagang kue subuh di Pasar Senen atau pasar becek di komplek lo itu enggak hidup dari lo yang beli satu biji donat buat sarapan. Mereka hidup dari Bu RT yang pesan 50 kotak buat arisan. Mereka hidup dari Pak Haji yang pesan 100 potong lapis legit buat tahlilan. Tapi sekarang di tahun 2026 ini budaya itu lagi sekarat dan datanya ada valid hitam di atas putih. Coba kita bedah data BPS terbaru soal statistik kesejahteraan rakyat. Kalau lu perhatikan trennya dari 5 tahun lalu sampai sekarang, rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia terus menyusut makin kecil. Dulu satu rumah isinya bisa 5 sampai en orang. Ada kakek, nenek, om, tante. Sekarang angkanya terjun bebas mendekati tiga orang perumah tangga di kota besar. Keluarga kita makin kecil, kita makin nuklir. Dan efek dominonya ke ekonomi pasar itu gila banget. Ketika rumah tangga makin kecil, acara kumpul-kumpul komunal otomatis berkurang drastis. Kalaupun ada acara, ngapain ribet-ribet pesan kue basah yang tahannya cuman setengah hari? Mending beli donat bermerek yang bisa ditaruh di kulkas atau pizza yang semua orang pasti suka dan praktis. Di sinilah letak sociological shift atau pergeseran sosiologis yang mematikan itu. Pasar tradisional kehilangan basis pelanggan grosir alaminya yaitu komunitas. Dan mari kita bicara soal faktor yang paling brutal buat orang kota kayak kita. Waktu. Lo tahu kenapa pasar tradisional buka jam .00 pagi dan ramai sampai jam .00 pagi? Karena itu didesain untuk masyarakat agraris atau masyarakat kota era 80 komaan di mana satu orang bekerja dan pasangannya punya waktu, punya luxury of time untuk belanja bahan segar, masak, dan nyiapin segalanya dari nol. Sekarang coba lihat jadwal lo. Di Jakarta, Bandung atau Surabaya tahun 2026 ini jam 0.00 pagi itu bukan waktunya ke pasar nawar harga cabai. Jam .00 Pagi itu waktunya lo desak-desakan di gerbong kereta, kegencet di KRL, atau macet-macetan di tol dalam kota sambil dengerin podcast ini biar enggak stres dan enggak gila. Kita kaum urban sudah kehilangan priviles untuk menjadi romantis soal makanan. Kita sering kelar-kar media sosial, duh kangen jajanan pasar. Rasanya otentik banget. Tapi begitu lo pulang kerja jam . Malam, badan remuk redam, otak udah ngebul berasap, apa lo bakal mampir ke pasar becek yang udah tutup itu? Enggak kan? Jari lo otomatis buka aplikasi delivery, pesan ojol makanan, atau kaki lo melangkah ke minimarket berac di lantai dasar apartemen atau di ujung gang. Lo ambil roti kemasan yang rasanya standar tapi pasti. Lo ambil frozen food yang tinggal cemplung ke air fryer. Selesai. Inilah realitas pahit generasi sandwich. Generasi yang kejepit ngurusin orang tua, ngurusin anak sambil ngejar karir yang makin demanding. Buat generasi ini, kepraktisan itu bukan pilihan gaya hidup, tapi tuntutan survival. Data BPS soal statistik komputer JABO Tabek juga mendukung ini. Rata-rata waktu tempuh orang buat kerja itu makin lama memakan porsi waktu istirahat kita. Jadi menuntut orang modern untuk belanja di pasar tradisional demi menjaga kearifan lokal adalah permintaan yang egois dan enggak realistis secara sosiologis. Pasar tradisional mati bukan cuma karena harganya kalah murah. Mereka mati karena model bisnis mereka menuntut waktu dan keterlibatan fisik yang kita udah enggak punya. Pedagang pasar menjual bahan mentah yang butuh diolah. Sementara kita di tahun 2026 membeli waktu luang dalam bentuk makanan siap saji atau bahan setengah jadi. Jadi, eh ketika Bu Yati penjual kue lapis itu gulung tikar, itu bukan cuma salah pemerintah yang enggak becus ngurus inflasi, itu juga karena kita secara kolektif sudah berubah. Kita jadi makhluk yang lebih soliter, lebih sibuk, lebih individualis, dan lebih pragmatis. Komunitas kita bubar, arisan kita pindah ke grup WhatsApp tanpa tatap muka dan makanan kita. Makanan kita berubah dari buatan tangan tetangga menjadi produksi massal pabrikan. Tapi tunggu dulu, kalau pasar tradisional mati karena kita enggak punya waktu dan kita lari ke yang praktis, lantas siapa yang paling diuntungkan dari perubahan gaya hidup ini? Siapa yang punya modal buat bikin pabrik frozen food? Siapa yang punya duit buat buka minimarket di setiap radius 500 m biar lo gak usah jalan jauh? Siapa yang mendesain algoritma aplikasi biar lo belanja tanpa mikir? Di sinilah kepingan puzzle terakhir mulai terlihat menakutkan. Perubahan sosiologis ini bukan kebetulan. Ini adalah karpet merah yang kita gelar sendiri untuk menyambut sang penguasa baru. Dan di bagian selanjutnya gua bakal bongkar siapa mereka dan gimana teknologi jadi paku terakhir di peti mati ekonomi kerakyatan kita. Musuh itu tidak berwajah, tidak punya kantor pusat, tapi dia tinggal di saku celana lo setiap hari. Selamat datang di tahun 2026 di mana selera lidah kita tidak lagi ditentukan oleh resep nenek moyang, tapi didikte oleh kode biner yang kita sebut algoritma. Coba lo buka HP lo sekarang. Eh, scroll timeline low 5 menit saja deh. Apa yang lo lihat? Apakah lo lihat lemper yang berminyak dibungkus daun pisang layu? atau loli desert box lumer dengan lelehan cokelat yang warnanya kontras banget sama background video atau mungkin pastry blasteran Prancis Jepang yang bunyi keraknya pas dipatahkan sengaja dibost pakai mic ASMR mahal. Di sinilah letak masalah sistemiknya. Kita sedang menghadapi gentrifikasi kuliner yang brutal banget. Ini bukan soal rasa, Teman-teman. Ini soal visual branding. Masalah terbesar kue pasar dan jajanan tradisional kita di era digital ini satu, mereka kalah ganteng. Mereka tidak kamera ready. Kue cucur itu warnanya coklat gelap berminyak. Bentuknya kadang enggak simetris, bopeng-bopeng. Kalau difoto pakai iPhone 16 pun dia enggak akan terlihat menggoda buat standar algoritma Instagram atau TikTok. Bandingkan sama chromboloni atau apapun hybrid pastry yang lagi viral bulan ini. Warnanya cerah, bentuknya presisi, dan punya gimmik visual. Bisa ditarik, bisa lumer, bisa meledak isiannya. Algoritma media sosial itu memprioritaskan high retention visuals. Makanan yang warnanya kontras dan punya aksi dinamis bakal didorong ke jutaan mata. Makanan yang warnanya earthy, coklat-coklat tanah kayak getuk atau tiwel, tenggelam by. Akibatnya apa? Value proposition atau nilai jual makanan berubah total. Mari kita bedah datanya biar lo enggak ngira gua cuma asal ngomong. Kalau kita lihat laporan Indonesia Genz Millenial Report yang dirilis akhir tahun 2025 kemarin, ada pergeseran budget FB yang gila banget. Hampir 65% responden Genzi mengaku rela mengeluarkan uang tiga kali lipat lebih mahal untuk makanan yang mereka anggap shareble atau layak pamer. Lu bayangin tiga kali lipat, Bos. Ini yang menjelaskan kenapa Klepon di pasar tradisional harganya cuma Rp2.000 dan pedagangnya ngos-ngosan cari untung. Sementara di Cafe Cafe Hits Jakarta Selatan, menu yang sama di rebranding Hadipandan Sticky Rice Ball with Palm Sugar Glaze. Ditaruh di piring keramik handmade dikasih satu scop es krim vanila. Harganya jadi Rp45.000 sebelum pajak dan layanan. Dan laku keras antre. Kenapa? Karena lo enggak beli keleponnya, lo beli kontennya, lo beli validasi sosial bahwa lo mampu nongkrong di tempat itu, lo beli story 15 detik yang membuktikan eksistensi lo di lingkaran pergaulan. Di tahun 2026 ini, fungsi primer makanan sudah bergeser. Makanan bukan lagi sumber kalori untuk bertahan hidup, tapi mata uang sosial untuk bertahan dalam pergaulan. Makanan bukan untuk dimakan, tapi untuk dikontankan. Ini adalah fenomena FOMO ekonomi yang dimanfaatkan habis-habisan oleh korporasi. Mereka tahu psikologis kita. Mereka tahu kita takut ketinggalan tren. Jadi mereka menciptakan produk makanan yang didesain bukan di dapur oleh koki, tapi di ruang rapat oleh tim marketing dan data analis. E. Data menunjukkan warna ungu lagi trending nih di TikTok. Ayo kita bikin roti warna ungu. Kasih keju melimpah biar visualnya messi tapi satisfying. Rasanya nomor sekian. Bodoh amat. Yang penting thumbnail-nya bagus. Sementara itu, gimana nasib ibu penjual kue lupis di pasar becek? Dia enggak punya tim marketing. Dia enggak ngerti cara bikin video transisi jedak-jeduk. Dia enggak tahu jam berapa harus upload biar masuk FYP. Dia cuma tahu cara bikin ketan yang pulen dan saus gula merah yang legit. Skill yang sayangnya tidak dihargai oleh algoritma. Jadinya timpang kan? Jomplang banget. Kita secara tidak sadar sedang membunuh ekonomi kerakyatan kita sendiri hanya karena mereka tidak estetik. Kita membiarkan jajanan pasar mati perlahan karena mereka jelek di kamera. Gila enggak sih kalau dipikir-pikir kita jadi hamba visual? Lidah kita ditipu oleh mata dan musuh ini pintar. Algoritma ini terus-menerus menyuapi kita dengan standar enak yang baru. Enak itu harus lumer, enak itu harus crunchy, enak itu harus banyak keju mozzarellanya yang bisa ditarik panjang. Lama-kelamaan lidah kita lupa sama kompleksitas rasa rempah, manis gurihnya santan asli, atau tekstur kenyal alami tepung beras yang dibuat tangan. Selera kita diseragamkan. Kita digiring untuk menyukai apa yang viral, bukan apa yang otentik. Lo sadar enggak kalau jajanan pasar itu adalah produk budaya yang paling jujur? Enggak ada gimik. Apa yang lu lihat itu yang loh. Tapi di era penuh kepalsuan filter dan editing ini, kejujuran itu justru enggak laku. Kita lebih suka dibohongi oleh visual yang cantik tapi rasanya kosong melompong. Jadi ketika pasar tradisional makin sepi dan lapak kue basah satu persatu tutup digantikan oleh boot franchise minuman manis kekinian. Jangan cuma nyalahin pemerintah. Jangan cuma nyalahin ekonomi yang lagi sulit. Coba cek history tontonan lo. Coba cek kali foto lo. Siapa yang lebih sering lu kasih panggung? Siapa yang lo promosikan secara gratis ke teman-teman lo. Kelepon pasar seharga Rp2.000 atau crosan geprek seharga Rp50.000. Kita adalah pelakunya. Kita adalah eksekutor yang memegang pisau guotin untuk budaya kuliner kita sendiri atas perintah sang raja baru bernama Algoritma. Tapi pertanyaannya sekarang eh kalau sistem ini sudah begitu kuat mencengkeram otak dan dompet kita kalau musuhnya sudah merasuk ke alam bawah sadar masih ada jalan keluar enggak sih? Atau kita emang udah dikutuk jadi generasi yang bakal melihat kepunahan kuliner asli Indonesia di masa hidup kita sendiri? Jawabannya ada, tapi mungkin enggak enak didengar. Dan untuk melakukan itu kita butuh revolusi cara berpikir yang radikal. Kita bahas solusinya di bagian terakhir. Solusinya ada tapi pahit. Sangat pahit. Lebih pahit dari kopi tanpa gula yang biasa lo minum di cafe estetik itu. Kita harus berhenti berhalusinasi. Kita harus berhenti menuntut jajanan pasar tetap murah. Sementara biaya hidup di tahun 2026 ini sudah mencekik leher semua orang. Termasuk simbah penjual kue itu. Coba kita bedah ini pakai logika ekonomi dingin tanpa bumbu nostalgia. Data Badan Pusat Statistik selama 3 tahun terakhir dari 2023 sampai 2025 konsisten menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen untuk bahan makanan pokok. Gula, tepung, telur, minyak goreng, semuanya naik grafiknya. Enggak pernah turun. Margin keuntungan pedagang kecil itu kalau dihitung pakai kalkulator bisnis modern sebenarnya sudah minus. Mereka bertahan bukan karena untung, tapi karena maaf mereka enggak punya pilihan lain atau mereka mensubsidi harga jajanan kita dengan tenaga mereka yang tidak dibayar. Lo sadar enggak selama ini kenikmatan kita makan lemper seharga Rp2.000 itu dibangun di atas subsidi kemiskinan para pembuatnya. Kita menikmati kue enak dan murah karena ada ibu-ibu yang rela bangun jam . pagi, mengukus ketan, memarut kelapa, membungkus daun pisang satu persatu dengan tangan yang sudah keriput, dan mereka tidak menghitung biaya tenaga kerja mereka sendiri. Kalau mereka memasukkan UMR tahun 2026 ke dalam harga pokok produksi kue cucur atau Nagasari, itu harganya enggak mungkin lagi Rp2.000. Harganya harus Rp5.000 atau bahkan Rp7.000 R000 per biji. Dan inilah inti masalahnya. Inilah tembok besar yang bakal kita tabrak. Pertanyaan saya sederhana dan tolong jawab dalam hati lo. Yang paling jujur kalau besok pagi lo ke pasar dan melihat harga onde-onde atau kue lumpur naik jadi Rp5.000 atau Rp7.000 R000 per biji. Ee harga yang wajar supaya si penjual bisa hidup layak di tahun 2026. Apakah loet beli atau lo akan mundur perlahan mencibir lalu bilang, "Gila, mahal banget. Mending gua beli roti di minimarket." Gua yakin 80% dari kita akan memilih mundur. Kenapa? Karena di otak kita jajanan pasar itu kasta rendah. Kita sudah terprogram untuk menganggap kuliner asli kita sendiri sebagai barang murah. Kita rela bayar Rp50.000. R000 untuk sepotong pestri beku yang dipanaskan di oven microwave Cafe Waralaba. Tapi kita merasa dirampok kalau harus bayar Rp5.000 untuk kue basah yang dibuat fresh dengan tangan manusia pagi buta tadi. Itu bukan masalah ekonomi, itu masalah mentalitas. Dan itulah kenapa kepunahan ini adalah inevitabilitas sosiologis. Generasi penerus simbah penjual kue itu enggak bodoh. Anak-anak mereka melihat betapa kerasnya orang tua mereka bekerja demi recehan. Mereka melihat data, mereka melihat realita. Ee enggak ada anak muda Genzi atau Gen Alfa yang mau meneruskan bisnis yang secara matematis tidak masuk akal. Mereka lebih memilih jadi kurir, jadi admin slot online, atau jadi buruh pabrik yang setidaknya gajinya jelas. Jadi jangan kaget kalau dalam 5 atau 10 tahun ke depan jajanan pasar yang asli akan hilang dari jalanan. Mereka akan mengalami gentrifikasi total. Kue-kue ini akan pindah tempat dari tanpa bambu di pinggir jalan yang becek masuk ke dalam etalase kaca di Hotel Bintang 5 atau restoran heritage mewah. Namanya bukan lagi jajanan pasar tapi traditional Indonesian Dessert Platter. Harganya mungkin Rp150.000 per porsi. Saat itu terjadi kuliner ini selamat secara fisik tapi mati secara jiwa. Dia bukan lagi makanan rakyat. Dia jadi artefak museum yang bisa dimakan. Dia jadi barang eksotis di negerinya sendiri yang cuma bisa diakses oleh mereka yang berduit. Sementara rakyat jelata, kita akan makan makanan pabrikan penuh pengawet yang diproduksi massal oleh mesin karena cuman itu yang harganya masuk akal. Terakhis bisa dicegah? Mungkin caranya cuman satu, kita harus berani membayar lebih untuk menyelamatkan mereka. Kita harus rela merogoh kocek 5.000 atau Rp10.000 untuk sepotong kue dan menganggap itu sebagai donasi kebudayaan, sebagai investasi identitas, bukan sekadar transaksi jual beli, tapi ee melihat bagaimana kita lebih sibuk mengejar validasi di media sosial daripada menghargai akar budaya sendiri. Gua skeptis kita mau melakukan itu. Kita mungkin memang generasi yang ditakdirkan untuk menutup buku sejarah kuliner ini. Jadi, nikmatilah selagi bisa. Besok pagi kalau lu masih nemu ibu-ibu jualan kue lupis atau getuk di pojokan jalan, belilah. Beli yang banyak, jangan ditawar. Karena bisa jadi itu adalah kali terakhir lo melihat mereka di sana sebelum lapaknya digusur oleh waktu atau digantikan oleh boot minuman manis sacet yang entah apa isinya. Dan ketika hari itu tiba, ketika pasar tradisional benar-benar sunyi dan piring di depan kita kosong melompong tanpa warna-warni kue basah. Jangan menangis, jangan menyesal. Ingat saja bahwa kita pernah punya harta karun yang luar biasa kaya, tapi kita biarkan membusuk dan hilang cuma karena kita terlalu pelit untuk menghargainya. Selamat datang di masa depan yang hambar. Selamat tinggal rasa asli Indonesia. Yeah.
Resume
Requeue
Categories