Jajanan Pasar Mati Pelan-Pelan: Ini Bukan Soal Rasa, Tapi Pembunuhan Ekonomi
ztFe-LwbJjk • 2026-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Coba lo mata
sebentar deh. Iya, beneran. Tutup dulu.
Terus tarik napas dalam-dalam. Apa yang
lo sium? Kalau gua ajak lo mundur pakai
mesin waktu 10 atau mungkin 15 tahun ke
belakang di jam segini nih, jam 5. Pagi
buta, udara itu punya wangi yang khas
banget. Ada aroma kayu bakar yang
samar-samar nyampur sama uap manis gula
merah yang lagi luluh dimasak. Terus
suaranya
bukan suara notifikasi WhatsApp atau
email kerjaan, tapi bunyi SSSH panjang
dari kukusan bambu kue putu yang lewat
atau suara kelentang-kelenting sendok
logam yang lagi ngaduk teh manis panas
di gelas kaca tebal yang ada motif
kembangnya itu. Lu bisa ngerasain
hangatnya enggak? Itu tuh era di mana
kata jajan bukan cuma sekedar lo
ngeluarin duit terus dapat barang. Itu
ritual, Man. Lor rela datang ke pasar
subuh becek-becekan dikit kena air
comberan pasar enggak masalah. Demi
dapetin kelepon yang kelapanya masih
fresh banget, basah, atau lupis yang
saus kincanya itu nempel lengket di
lidah. Rasanya tuh jujur, harganya masuk
akal di kantong. Dan yang paling penting
ada manusianya di sana. Ada si ibu
penjual yang nanya, "Gimana kabar Ibu di
rumah, Mas?"
Ada interaksi, ada kehidupan yang
denyutnya pelan tapi hangat banget.
Sekarang buka mata lo. Selamat datang di
realitas kita hari ini. Selamat datang
di awal tahun 2026. Dingin banget kan?
Coba lu tengok sekeliling lu sekarang.
Kita udah enggak berdiri di atas tanah
pasar yang becek lagi. Kita lagi berdiri
di atas lantai marmer stasiun MRT atau
lobi perkantoran elit yang hawanya di
set paksa tepat di 18 derajat Celcius.
Baunya bukan lagi pandan wangi atau daun
pisang yang kebakar dikit, tapi bau
pembersih lantai kimia sama bau ozon
dari AC sentral yang nyala 24 jam. Di
tangan kiri low bukan bungkusan daun
pisang yang agak berminyak itu, tapi kup
plastik tebal dengan logo minimalis font
sun serif yang shock estetik. Di tangan
kanan lo handphone yang nyala terus
nampilin fit atau Instagram yang isinya
makanan-makanan warna neon. Dessert box
yang warnanya ungu mentereng. Roti yang
dikasih krim tumpah-tumpah sampai
belepotan ke mana-mana atau minuman
dengan topping yang tingginya ngalahin
logika gravitasi saking numpuknya.
Semuanya estetik, semuanya
instagramable, semuanya didesain bukan
buat dimakan sebenarnya, tapi buat
difoto, diposting, dapat like. Terus
rasanya gimana? Rata-rata doang, Bro.
Manis doang atau gurih micin yang
nyegrak banget ditenggorokan sampai
bikin batuk? Tapi harganya gila-gilaan.
Enggak ngotak. Lo sadar enggak sih ada
yang hilang dari hidup kita? Ke mana
perginya kue cucur yang pinggirannya
garing crispy tapi tengahnya lembut
bersarang itu? Ke mana perginya
ongol-onggol yang kenyalnya pas enggak
alot kayak karet ban? Kenapa tiba-tiba
di tahun 2026 ini ee nyari jajanan pasar
yang otentik di Jakarta rasanya kayak
nyari jarum ditumpukan jerami digital?
Susah banget. Banyak orang bilang, "Ah,
itu kan seleksi alam, Bro. Anak muda
zaman now lidahnya udah beda, udah
upgrade. Mereka lebih suka kromboloni
viral daripada getuk lindri. Gua kasih
tahu satu rahasia besar. Itu bohong.
Bullshit. Ini bukan soal selera, Soop.
Lidah kita tuh enggak berevolusi secepat
itu cuma dalam satu dekade. Reseptor
rasa di lidah lo masih sama kayak nenek
moyang lo. Lo masih mendambahkan rasa
manis yang pas, gurih yang alami, dan
tekstur yang kompleks. Masalahnya bukan
di demand atau permintaan lo, tapi di
supply yang dipaksa berubah sama keadaan
ekonomi yang brutal banget. Coba kita
bedah datanya ya, biar lo enggak ngira
gua cuma lagi romantisasi masa lalu atau
sok puitis. Coba tengok ke laporan BPS.
Di penghujung tahun 2025 kemarin, kita
menutup tahun dengan angka deflasi
beruntun yang ngeri banget. Itu sinyal
merah kalau daya beli kelas menengah
orang-orang kayak gue dan lo yang
gajinya cuma numpang lewat itu lagi
hancur-hancurnya. Data menunjukkan
proporsi pengeluaran buat makanan jadi
emang naik, tapi nilai tukar petani dan
produsen skala mikro justru lagi
kecekik. Apa artinya tuh? Artinya si ibu
penjual kue lapis di pasar itu udah
enggak sanggup lagi bertahan napas.
Harga bahan baku kayak tepung beras sama
gula aren asli naiknya udah gila-gilaan
gara-gara rantai pasok yang kacau balau.
Sementara dia gak bisa naikin harga
jual. Bayangin kalau dia jual kue lapis
sepotong Rp5.000, orang-orang di pasar
bakal teriak, "Mahal amat, Bu." Tapi
anehnya orang yang sama enggak keberatan
beli croisan geprek seharga Rp55.000 di
mall. Cuma karena tempatnya dingin dan
ada stiker viralnya asin on TikTok. Ini
paradoks sensorik yang kita hadapi di
2026. Gila enggak sih kita hidup di
zaman di mana kemasan itu lebih mahal
harganya daripada isinya. Di mana
experience atau pengalaman dihargai jauh
lebih tinggi daripada substance atau
isinya itu sendiri. Jajanan pasar kita.
Warisan kuliner yang usianya ratusan
tahun yang resepnya turun-temurun dari
nenek moyang lagi dipaksa bertarung di
ring tinju yang enggak adil sama sekali.
Mereka dipaksa ngelawan algoritma, Bos.
Bayangin aja, kue talam yang warnanya
hijau pucat alami karena pakai daun suji
harus bersaing secara visual di layar HP
loh. Ngelawan donat glaze warna-warni
yang warnanya diedit pakai filter
saturation mentok kanan sampai mata
sakit ngelihatnya. Jelas kalahlah. Kue
talam tuh enggak fotogenik di mata
algoritma 2026. Dan karena dia enggak
viral, dia dianggap enggak ada, dianggap
enggak eksis. Kenyataan pahitnya adalah
jajanan pasar tidak punah karena rasanya
tidak enak. Gua ulangi sekali lagi ya
biar meresap ke otak lu. Jajanan pasar
tidak punah karena rasanya tidak enak.
Mereka punah karena gagal berevolusi
melawan zaman yang menuntut segala
sesuatu harus serba cepat, harus steril,
dan harus sharable alias layak pamer.
Mereka gagal beradaptasi sama sistem
ekonomi yang lebih memihak ke franchise
besar dengan modal miliaran yang bisa
sewa spot strategis di stasiun MRT
ketimbang pedagang gerobakan yang tiap
hari deg-degan diusir Satpol PP karena
dianggap merusak pemandangan kota modern
yang sok rapi ini. Kita tuh lagi
ngelihat sebuah pergeseran budaya yang
dipaksakan sama kapitalisme. Makanan
tradisional kita dianggap kotor,
kampungan, dan tidak higienis sama
standar baru yang diciptakan oleh
industri makanan olahan. Padahal
makanan-makanan seril di dalam kemasan
plastik yang lo beli di minimarket itu
penuh sama pengawet dan gula buatan yang
pelan-pelan ngebunuh kita juga
sebenarnya. Ironis banget kan? Kita
membuang yang sehat dan berbudaya demi
memeluk yang plastik dan artifisial.
Cuma biar kita merasa maju, biar kita
merasa relevan dan enggak ketinggalan
zaman di tahun 2026 ini. Jadi, ketika lo
nanti pulang kerja desak-desakan di
kereta terus ngelihat e outlet roti
modern yang wanginya artificial banget
itu, coba tanya sama diri lo sendiri,
apakah ini kemajuan atau ini sebenarnya
kemunduran yang dibungkus kertas kado
mahal? Karena bagi gue, hilangnya suara
kue putu dari sudut jalan dan
digantikannya lapak mereka sama fending
machine otomatis yang dingin itu bukan
sekedar perubahan tren kuliner biasa.
Ini bukan soal perut doang. Ini bukan
soal nostalgia ee cengeng masa kecil.
Ini adalah pembunuhan terencana terhadap
identitas kita. Ini bukan soal kuliner.
Ini soal economic murder. Economic
murder, pembunuhan ekonomi. Istilah itu
mungkin terdengar ekstrem banget di
kuping lo. Mungkin lu mikir gue terlalu
lebay atau dramatis. Mungkin lu mikir,
"Ah, itu kan cuman seleksi alam biasa.
Siapa yang enggak bisa bersaing ya
mati." Itu bisnis, Bung. Oke, fair
enough. Kita singkirkan dulu deh soal
budaya, nostalgia, dan perasaan melow.
Kita bicara pakai bahasa yang paling
jujur di dunia ini, matematika. Kita
bicara data, angka, fakta. Gua mau ajak
lo bedah bangkai bisnis UMKM kuliner
ini. Kita lakukan autopsi finansial.
Kenapa banyak banget pedagang kue pasar,
wartek, dan kaki lima yang tiba-tiba
gulung tikar alias bangkrut dalam 2
tahun terakhir ini? Jawabannya bukan
karena masakan mereka jadi enggak enak.
Jawabannya ada di tabel Excel yang
warnanya merah berdarah semua. Mari kita
flashback sebentar. Kita bandingkan data
harga bahan baku dari PIHPS atau pusat
informasi harga pangan strategis
nasional punya Bank Indonesia. Kita
ambil baseline tahun 2020
masa sebelum kegilaan inflasi pasca
pandemi benar-benar meledak dan kita adu
sama data hari ini awal tahun 2026 siap
sakit hati. Pertama gula pasir ini nyawa
buat kue basah man. Kue putuh dadar
gulung kelepon. Semuanya butuh gula. Di
tahun 2020, harga rata-rata gula pasir
lokal itu di kisaran Rp1.000 sampai
Rp14.000 per kilo. Hari ini di Januari
2026, coba loar deh, lu enggak akan
dapat barang itu di bawah Rp18.500
sampai Rp19.000.
Kenaikannya nyaris 40%. Gila enggak?
Lanjut ke telur ayam. Tahun 2020
rata-rata masih di angka Rp24.000 R000
per kilo. Sekarang standar nasional udah
stabil nangkring di angka Rp32.000
sampai Rp34.000.
Kalau lagi hari raya bisa tembus
Rp40.000, Bos. Itu kenaikan biaya yang
gila-gilaan buat pedagang yang margin
untungnya cuma recehan. Dan yang paling
brutal, tepung terigu. Di 2020 lo bisa
dapat terigu curah atau kemasan
sederhana di angka Rp8.000 sampai
Rp9.000.
Sekarang di 2026, gara-gara konflik
geopolitik global yang enggak
kelar-kelar perang sana sini dan
gangguan rantai pasok, harga terigu
sudah duduk manis di angka Rp14.000
sampai Rp15.000.
Lu bayangin bahan bakunya naik 40, 50
sampai 60%. Tapi sekarang coba lo lihat
harga jualnya. Ini yang bikin otak gue
mau meledak rasanya. Harga kue jajanan
pasar di tahun 2020 itu rata-rata
Rp2.000 R per biji. Sekarang di tahun
2026 harganya berapa? Paling mentok
Rp2.500.
Kalau mereka berani jual Rp3.000,
pembeli yaitu gue dan lo langsung
protes. Kok mahal banget sih, Bu?
Biasanya juga R.000 kok naik 1.000. Lo
sadar enggak sih kejamnya situasi ini?
Biaya produksi mereka meroket hampir dua
kali lipat, tapi harga jual mereka
dipaksa staknan, dipaksa diam di tempat
sama daya beli masyarakat yang juga lagi
hancur. Mereka tuh sebenarnya lagi
mensubsidi perut kita dengan cara
menggerogoti modal mereka sendiri. Sakit
kan? Dan tunggu, penderitaan belum
selesai. Kita belum ngomongin kebijakan
pemerintah yang baru efektif tahun lalu
2025 kenaikan PPN jadi 12%. Gue tahu apa
yang lu pikirin. Ah, pedagang kue di
pasar kan enggak pungut PPN ke pembeli.
Ngaruhnya apa? Salah besar.
Betul. Bu Yati yang jualan lemper di
tikungan jalan enggak mungut PPN 12%
dari lo pas lo beli. Tapi Bu Yati
membayar kenaikan itu di setiap lini
belanja dia. PPN 12% itu menghantam
biaya logistik, menghantam harga plastik
kemasan, menghantam harga gas,
menghantam biaya transportasi bahan baku
dari pabrik ke pasar induk. Semua
kenaikan itu numpuk, terakumulasi, dan
dibebankan ke siapa? Ke user bahan baku,
yaitu si pedagang kecil. Mereka kena
getahnya, tapi mereka enggak bisa
meneruskannya ke konsumen karena takut
dagangan enggak laku. Ini namanya supply
chain bullying, bullying rantai pasok.
Belum lagi kalau kita bicara soal
energi. Ingat kebijakan pembatasan LPG 3
kg alias gas melon yang makin ketat di
akhir 2024 dan 2025 kemarin. Sekarang
banyak pelaku UMKM yang dipaksa atau
terpaksa beralih ke gas non subsidi
karena gas melon langka banget kayak
nyari jodoh. Lo tahu selisih harganya?
Gas melon 3 kg itu harganya disubsidi
habis-habisan. Begitu mereka harus beli
bright gas atau tabung biru 12 kg dengan
harga pasar internasional yang naik
turun, struktur biaya mereka langsung
ambruk, Bos. Biaya bahan bakar yang
tadinya cuma 5% dari OMZ, sekarang bisa
makan 15% sampai 20% pendapatan mereka.
Jadi, kalau lo tanya kenapa kue putuh
hilang, kenapa pastel rasanya makin
banyak angin daripada isinya? Karena
mereka beroperasi dengan apa yang gua
sebut sebagai margin setipis tisu
toilet. Serius setipis itu. Tisu toilet
yang satu lapis pula yang ada di WC umum
gratisan kena air dikit hancur, ditarik
dikit robek. Dalam model bisnis harga
Rp2.500 perak ini, keuntungan bersih
pedagang mungkin cuma Rp200 atau Rp300
per biji. Itu pun kalau laku semua.
Kalau hujan turun deras sore hari dan
dagangan sisa, rugi bandar. Kalau harga
telur naik Rp1.000 R saja besok pagi.
Rugi. Kalau gas tiba-tiba langka dan
harus beli di Calo. Rugi. Mereka enggak
punya safety net. Mereka enggak punya
cadangan modal kayak franchise raksasa
yang bisa bakar duit alias burning money
buat promo gila-gilaan. Bisnis mereka
sangat rapuh. Satu guncangan kecil di
ekonomi makro, satu kebijakan ngawur
dari pusat dan puff lapak mereka hilang
selamanya. Inilah brutalitas data yang
enggak pernah masuk headline berita TV.
Kita sibuk ngomongin pertumbuhan ekonomi
makro yang katanya 5%. Kita sibuk
ngomongin hilirisasi nikel. Kita sibuk
ngomongin AI dan teknologi canggih. Tapi
kita lupa fondasi ekonomi kerakyatan
kita. Orang-orang yang bangun jam 2.
pagi buat ngukus ketan sedang tercekik
pelan-pelan oleh angka-angka yang enggak
masuk akal ini. Mereka enggak mati
karena kalah saing. Mereka mati karena
matematikanya sudah enggak mungkin lagi
dimenangkan. Dan ketika lo sadar bahwa
kue seharga Rp2.500 R itu adalah hasil
dari keringat orang yang bertaruh nyawa
finansial setiap harinya. Ee rasanya
sulit buat nelen makanan itu tanpa rasa
bersalah. Kan ada rasa nyangkut di
tenggorokan. Tapi pertanyaannya kalau
mereka mati siapa yang menggantikan? Ke
mana perginya uang receh kita kalau
bukan ke pedagang pasar? Jawabannya ada
di tangan raksasa. Dan data berikutnya
bakal bikin lo lebih merinding lagi.
Tahan dulu amarah lo ke para raksasa
retil atau minimarket yang menjamur di
tiap tikungan gang rumah lo. Sebelum
kita nunjuk jari ke mereka sebagai
pembunuh pasar tradisional, kita perlu
ngaca dulu. Kita perlu melihat ke dalam
ruang tamu kita sendiri, ke dalam
kebiasaan kita sehari-hari dan menyadari
bahwa ada sesuatu yang fundamental yang
sudah bergeser. Gue sebut ini sebagai
matinya B2B tradisional. AIDS. Tunggu.
Jangan mikir kejauhan soal kontrak
bisnis antar perusahaan besar. B2B di
level akar rumput kita tuh namanya
arisan, tahlilan, pengajian, rapat RT
sampai acara kunjungan tetangga. Coba
ingat-ingat lagi deh, kapan terakhir
kali lo datang ke acara kumpul-kumpul RT
yang suguhannya adalah kue basah lengkap
dalam kotak kardus putih? Itu loh kotak
legendaris yang isinya ada lemper,
risol, kue sus, sama air mineral gelas
yang sedotannya susah ditusuk. Kapan
terakhir kali lo lihat itu? Sadar enggak
sadar, itulah nyawa pedagang pasar yang
sebenarnya. Pedagang kue subuh di Pasar
Senen atau pasar becek di komplek lo itu
enggak hidup dari lo yang beli satu biji
donat buat sarapan. Mereka hidup dari Bu
RT yang pesan 50 kotak buat arisan.
Mereka hidup dari Pak Haji yang pesan
100 potong lapis legit buat tahlilan.
Tapi sekarang di tahun 2026 ini budaya
itu lagi sekarat dan datanya ada valid
hitam di atas putih. Coba kita bedah
data BPS terbaru soal statistik
kesejahteraan rakyat. Kalau lu
perhatikan trennya dari 5 tahun lalu
sampai sekarang, rata-rata jumlah
anggota rumah tangga di Indonesia terus
menyusut makin kecil. Dulu satu rumah
isinya bisa 5 sampai en orang. Ada
kakek, nenek, om, tante. Sekarang
angkanya terjun bebas mendekati tiga
orang perumah tangga di kota besar.
Keluarga kita makin kecil, kita makin
nuklir. Dan efek dominonya ke ekonomi
pasar itu gila banget. Ketika rumah
tangga makin kecil, acara kumpul-kumpul
komunal otomatis berkurang drastis.
Kalaupun ada acara, ngapain ribet-ribet
pesan kue basah yang tahannya cuman
setengah hari? Mending beli donat
bermerek yang bisa ditaruh di kulkas
atau pizza yang semua orang pasti suka
dan praktis. Di sinilah letak
sociological shift atau pergeseran
sosiologis yang mematikan itu. Pasar
tradisional kehilangan basis pelanggan
grosir alaminya yaitu komunitas. Dan
mari kita bicara soal faktor yang paling
brutal buat orang kota kayak kita.
Waktu. Lo tahu kenapa pasar tradisional
buka jam .00 pagi dan ramai sampai jam
.00 pagi? Karena itu didesain untuk
masyarakat agraris atau masyarakat kota
era 80 komaan di mana satu orang bekerja
dan pasangannya punya waktu, punya
luxury of time untuk belanja bahan
segar, masak, dan nyiapin segalanya dari
nol. Sekarang coba lihat jadwal lo. Di
Jakarta, Bandung atau Surabaya tahun
2026 ini jam 0.00 pagi itu bukan
waktunya ke pasar nawar harga cabai. Jam
.00 Pagi itu waktunya lo desak-desakan
di gerbong kereta, kegencet di KRL, atau
macet-macetan di tol dalam kota sambil
dengerin podcast ini biar enggak stres
dan enggak gila. Kita kaum urban sudah
kehilangan priviles untuk menjadi
romantis soal makanan. Kita sering
kelar-kar media sosial, duh kangen
jajanan pasar. Rasanya otentik banget.
Tapi begitu lo pulang kerja jam . Malam,
badan remuk redam, otak udah ngebul
berasap, apa lo bakal mampir ke pasar
becek yang udah tutup itu? Enggak kan?
Jari lo otomatis buka aplikasi delivery,
pesan ojol makanan, atau kaki lo
melangkah ke minimarket berac di lantai
dasar apartemen atau di ujung gang. Lo
ambil roti kemasan yang rasanya standar
tapi pasti. Lo ambil frozen food yang
tinggal cemplung ke air fryer. Selesai.
Inilah realitas pahit generasi sandwich.
Generasi yang kejepit ngurusin orang
tua, ngurusin anak sambil ngejar karir
yang makin demanding. Buat generasi ini,
kepraktisan itu bukan pilihan gaya
hidup, tapi tuntutan survival. Data BPS
soal statistik komputer JABO Tabek juga
mendukung ini. Rata-rata waktu tempuh
orang buat kerja itu makin lama memakan
porsi waktu istirahat kita. Jadi
menuntut orang modern untuk belanja di
pasar tradisional demi menjaga kearifan
lokal adalah permintaan yang egois dan
enggak realistis secara sosiologis.
Pasar tradisional mati bukan cuma karena
harganya kalah murah. Mereka mati karena
model bisnis mereka menuntut waktu dan
keterlibatan fisik yang kita udah enggak
punya. Pedagang pasar menjual bahan
mentah yang butuh diolah. Sementara kita
di tahun 2026 membeli waktu luang dalam
bentuk makanan siap saji atau bahan
setengah jadi. Jadi, eh ketika Bu Yati
penjual kue lapis itu gulung tikar, itu
bukan cuma salah pemerintah yang enggak
becus ngurus inflasi, itu juga karena
kita secara kolektif sudah berubah. Kita
jadi makhluk yang lebih soliter, lebih
sibuk, lebih individualis, dan lebih
pragmatis. Komunitas kita bubar, arisan
kita pindah ke grup WhatsApp tanpa tatap
muka dan makanan kita. Makanan kita
berubah dari buatan tangan tetangga
menjadi produksi massal pabrikan. Tapi
tunggu dulu, kalau pasar tradisional
mati karena kita enggak punya waktu dan
kita lari ke yang praktis, lantas siapa
yang paling diuntungkan dari perubahan
gaya hidup ini? Siapa yang punya modal
buat bikin pabrik frozen food? Siapa
yang punya duit buat buka minimarket di
setiap radius 500 m biar lo gak usah
jalan jauh? Siapa yang mendesain
algoritma aplikasi biar lo belanja tanpa
mikir? Di sinilah kepingan puzzle
terakhir mulai terlihat menakutkan.
Perubahan sosiologis ini bukan
kebetulan. Ini adalah karpet merah yang
kita gelar sendiri untuk menyambut sang
penguasa baru. Dan di bagian selanjutnya
gua bakal bongkar siapa mereka dan
gimana teknologi jadi paku terakhir di
peti mati ekonomi kerakyatan kita. Musuh
itu tidak berwajah, tidak punya kantor
pusat, tapi dia tinggal di saku celana
lo setiap hari. Selamat datang di tahun
2026 di mana selera lidah kita tidak
lagi ditentukan oleh resep nenek moyang,
tapi didikte oleh kode biner yang kita
sebut algoritma. Coba lo buka HP lo
sekarang. Eh, scroll timeline low 5
menit saja deh. Apa yang lo lihat?
Apakah lo lihat lemper yang berminyak
dibungkus daun pisang layu? atau loli
desert box lumer dengan lelehan cokelat
yang warnanya kontras banget sama
background video atau mungkin pastry
blasteran Prancis Jepang yang bunyi
keraknya pas dipatahkan sengaja dibost
pakai mic ASMR mahal. Di sinilah letak
masalah sistemiknya. Kita sedang
menghadapi gentrifikasi kuliner yang
brutal banget. Ini bukan soal rasa,
Teman-teman. Ini soal visual branding.
Masalah terbesar kue pasar dan jajanan
tradisional kita di era digital ini
satu, mereka kalah ganteng. Mereka tidak
kamera ready. Kue cucur itu warnanya
coklat gelap berminyak. Bentuknya kadang
enggak simetris, bopeng-bopeng. Kalau
difoto pakai iPhone 16 pun dia enggak
akan terlihat menggoda buat standar
algoritma Instagram atau TikTok.
Bandingkan sama chromboloni atau apapun
hybrid pastry yang lagi viral bulan ini.
Warnanya cerah, bentuknya presisi, dan
punya gimmik visual. Bisa ditarik, bisa
lumer, bisa meledak isiannya. Algoritma
media sosial itu memprioritaskan high
retention visuals. Makanan yang warnanya
kontras dan punya aksi dinamis bakal
didorong ke jutaan mata. Makanan yang
warnanya earthy, coklat-coklat tanah
kayak getuk atau tiwel, tenggelam by.
Akibatnya apa? Value proposition atau
nilai jual makanan berubah total. Mari
kita bedah datanya biar lo enggak ngira
gua cuma asal ngomong. Kalau kita lihat
laporan Indonesia Genz Millenial Report
yang dirilis akhir tahun 2025 kemarin,
ada pergeseran budget FB yang gila
banget. Hampir 65% responden Genzi
mengaku rela mengeluarkan uang tiga kali
lipat lebih mahal untuk makanan yang
mereka anggap shareble atau layak pamer.
Lu bayangin tiga kali lipat, Bos. Ini
yang menjelaskan kenapa Klepon di pasar
tradisional harganya cuma Rp2.000 dan
pedagangnya ngos-ngosan cari untung.
Sementara di Cafe Cafe Hits Jakarta
Selatan, menu yang sama di rebranding
Hadipandan Sticky Rice Ball with Palm
Sugar Glaze. Ditaruh di piring keramik
handmade dikasih satu scop es krim
vanila. Harganya jadi Rp45.000 sebelum
pajak dan layanan. Dan laku keras antre.
Kenapa? Karena lo enggak beli
keleponnya, lo beli kontennya, lo beli
validasi sosial bahwa lo mampu nongkrong
di tempat itu, lo beli story 15 detik
yang membuktikan eksistensi lo di
lingkaran pergaulan. Di tahun 2026 ini,
fungsi primer makanan sudah bergeser.
Makanan bukan lagi sumber kalori untuk
bertahan hidup, tapi mata uang sosial
untuk bertahan dalam pergaulan. Makanan
bukan untuk dimakan, tapi untuk
dikontankan. Ini adalah fenomena FOMO
ekonomi yang dimanfaatkan habis-habisan
oleh korporasi. Mereka tahu psikologis
kita. Mereka tahu kita takut ketinggalan
tren. Jadi mereka menciptakan produk
makanan yang didesain bukan di dapur
oleh koki, tapi di ruang rapat oleh tim
marketing dan data analis. E. Data
menunjukkan warna ungu lagi trending nih
di TikTok. Ayo kita bikin roti warna
ungu. Kasih keju melimpah biar visualnya
messi tapi satisfying. Rasanya nomor
sekian. Bodoh amat. Yang penting
thumbnail-nya bagus. Sementara itu,
gimana nasib ibu penjual kue lupis di
pasar becek? Dia enggak punya tim
marketing. Dia enggak ngerti cara bikin
video transisi jedak-jeduk. Dia enggak
tahu jam berapa harus upload biar masuk
FYP. Dia cuma tahu cara bikin ketan yang
pulen dan saus gula merah yang legit.
Skill yang sayangnya tidak dihargai oleh
algoritma. Jadinya timpang kan? Jomplang
banget. Kita secara tidak sadar sedang
membunuh ekonomi kerakyatan kita sendiri
hanya karena mereka tidak estetik. Kita
membiarkan jajanan pasar mati perlahan
karena mereka jelek di kamera. Gila
enggak sih kalau dipikir-pikir kita jadi
hamba visual? Lidah kita ditipu oleh
mata dan musuh ini pintar. Algoritma ini
terus-menerus menyuapi kita dengan
standar enak yang baru. Enak itu harus
lumer, enak itu harus crunchy, enak itu
harus banyak keju mozzarellanya yang
bisa ditarik panjang. Lama-kelamaan
lidah kita lupa sama kompleksitas rasa
rempah, manis gurihnya santan asli, atau
tekstur kenyal alami tepung beras yang
dibuat tangan. Selera kita diseragamkan.
Kita digiring untuk menyukai apa yang
viral, bukan apa yang otentik. Lo sadar
enggak kalau jajanan pasar itu adalah
produk budaya yang paling jujur? Enggak
ada gimik. Apa yang lu lihat itu yang
loh. Tapi di era penuh kepalsuan filter
dan editing ini, kejujuran itu justru
enggak laku. Kita lebih suka dibohongi
oleh visual yang cantik tapi rasanya
kosong melompong. Jadi ketika pasar
tradisional makin sepi dan lapak kue
basah satu persatu tutup digantikan oleh
boot franchise minuman manis kekinian.
Jangan cuma nyalahin pemerintah. Jangan
cuma nyalahin ekonomi yang lagi sulit.
Coba cek history tontonan lo. Coba cek
kali foto lo. Siapa yang lebih sering lu
kasih panggung? Siapa yang lo promosikan
secara gratis ke teman-teman lo. Kelepon
pasar seharga Rp2.000 atau crosan geprek
seharga Rp50.000.
Kita adalah pelakunya. Kita adalah
eksekutor yang memegang pisau guotin
untuk budaya kuliner kita sendiri atas
perintah sang raja baru bernama
Algoritma. Tapi pertanyaannya sekarang
eh kalau sistem ini sudah begitu kuat
mencengkeram otak dan dompet kita kalau
musuhnya sudah merasuk ke alam bawah
sadar masih ada jalan keluar enggak sih?
Atau kita emang udah dikutuk jadi
generasi yang bakal melihat kepunahan
kuliner asli Indonesia di masa hidup
kita sendiri? Jawabannya ada, tapi
mungkin enggak enak didengar. Dan untuk
melakukan itu kita butuh revolusi cara
berpikir yang radikal. Kita bahas
solusinya di bagian terakhir. Solusinya
ada tapi pahit. Sangat pahit. Lebih
pahit dari kopi tanpa gula yang biasa lo
minum di cafe estetik itu. Kita harus
berhenti berhalusinasi. Kita harus
berhenti menuntut jajanan pasar tetap
murah. Sementara biaya hidup di tahun
2026 ini sudah mencekik leher semua
orang. Termasuk simbah penjual kue itu.
Coba kita bedah ini pakai logika ekonomi
dingin tanpa bumbu nostalgia. Data Badan
Pusat Statistik selama 3 tahun terakhir
dari 2023 sampai 2025 konsisten
menunjukkan kenaikan indeks harga
konsumen untuk bahan makanan pokok.
Gula, tepung, telur, minyak goreng,
semuanya naik grafiknya. Enggak pernah
turun. Margin keuntungan pedagang kecil
itu kalau dihitung pakai kalkulator
bisnis modern sebenarnya sudah minus.
Mereka bertahan bukan karena untung,
tapi karena maaf mereka enggak punya
pilihan lain atau mereka mensubsidi
harga jajanan kita dengan tenaga mereka
yang tidak dibayar. Lo sadar enggak
selama ini kenikmatan kita makan lemper
seharga Rp2.000 itu dibangun di atas
subsidi kemiskinan para pembuatnya. Kita
menikmati kue enak dan murah karena ada
ibu-ibu yang rela bangun jam . pagi,
mengukus ketan, memarut kelapa,
membungkus daun pisang satu persatu
dengan tangan yang sudah keriput, dan
mereka tidak menghitung biaya tenaga
kerja mereka sendiri. Kalau mereka
memasukkan UMR tahun 2026 ke dalam harga
pokok produksi kue cucur atau Nagasari,
itu harganya enggak mungkin lagi
Rp2.000. Harganya harus Rp5.000 atau
bahkan Rp7.000 R000 per biji. Dan inilah
inti masalahnya. Inilah tembok besar
yang bakal kita tabrak. Pertanyaan saya
sederhana dan tolong jawab dalam hati
lo. Yang paling jujur kalau besok pagi
lo ke pasar dan melihat harga onde-onde
atau kue lumpur naik jadi Rp5.000 atau
Rp7.000 R000 per biji. Ee harga yang
wajar supaya si penjual bisa hidup layak
di tahun 2026. Apakah loet beli atau lo
akan mundur perlahan mencibir lalu
bilang, "Gila, mahal banget. Mending gua
beli roti di minimarket." Gua yakin 80%
dari kita akan memilih mundur. Kenapa?
Karena di otak kita jajanan pasar itu
kasta rendah. Kita sudah terprogram
untuk menganggap kuliner asli kita
sendiri sebagai barang murah. Kita rela
bayar Rp50.000. R000 untuk sepotong
pestri beku yang dipanaskan di oven
microwave Cafe Waralaba. Tapi kita
merasa dirampok kalau harus bayar
Rp5.000 untuk kue basah yang dibuat
fresh dengan tangan manusia pagi buta
tadi. Itu bukan masalah ekonomi, itu
masalah mentalitas. Dan itulah kenapa
kepunahan ini adalah inevitabilitas
sosiologis. Generasi penerus simbah
penjual kue itu enggak bodoh. Anak-anak
mereka melihat betapa kerasnya orang tua
mereka bekerja demi recehan. Mereka
melihat data, mereka melihat realita. Ee
enggak ada anak muda Genzi atau Gen Alfa
yang mau meneruskan bisnis yang secara
matematis tidak masuk akal. Mereka lebih
memilih jadi kurir, jadi admin slot
online, atau jadi buruh pabrik yang
setidaknya gajinya jelas. Jadi jangan
kaget kalau dalam 5 atau 10 tahun ke
depan jajanan pasar yang asli akan
hilang dari jalanan. Mereka akan
mengalami gentrifikasi total. Kue-kue
ini akan pindah tempat dari tanpa bambu
di pinggir jalan yang becek masuk ke
dalam etalase kaca di Hotel Bintang 5
atau restoran heritage mewah. Namanya
bukan lagi jajanan pasar tapi
traditional Indonesian Dessert Platter.
Harganya mungkin Rp150.000
per porsi. Saat itu terjadi kuliner ini
selamat secara fisik tapi mati secara
jiwa. Dia bukan lagi makanan rakyat. Dia
jadi artefak museum yang bisa dimakan.
Dia jadi barang eksotis di negerinya
sendiri yang cuma bisa diakses oleh
mereka yang berduit. Sementara rakyat
jelata, kita akan makan makanan pabrikan
penuh pengawet yang diproduksi massal
oleh mesin karena cuman itu yang
harganya masuk akal. Terakhis bisa
dicegah? Mungkin caranya cuman satu,
kita harus berani membayar lebih untuk
menyelamatkan mereka. Kita harus rela
merogoh kocek 5.000 atau Rp10.000 untuk
sepotong kue dan menganggap itu sebagai
donasi kebudayaan, sebagai investasi
identitas, bukan sekadar transaksi jual
beli, tapi ee
melihat bagaimana kita lebih sibuk
mengejar validasi di media sosial
daripada menghargai akar budaya sendiri.
Gua skeptis kita mau melakukan itu. Kita
mungkin memang generasi yang ditakdirkan
untuk menutup buku sejarah kuliner ini.
Jadi, nikmatilah selagi bisa. Besok pagi
kalau lu masih nemu ibu-ibu jualan kue
lupis atau getuk di pojokan jalan,
belilah. Beli yang banyak, jangan
ditawar. Karena bisa jadi itu adalah
kali terakhir lo melihat mereka di sana
sebelum lapaknya digusur oleh waktu atau
digantikan oleh boot minuman manis sacet
yang entah apa isinya. Dan ketika hari
itu tiba, ketika pasar tradisional
benar-benar sunyi dan piring di depan
kita kosong melompong tanpa warna-warni
kue basah. Jangan menangis, jangan
menyesal. Ingat saja bahwa kita pernah
punya harta karun yang luar biasa kaya,
tapi kita biarkan membusuk dan hilang
cuma karena kita terlalu pelit untuk
menghargainya. Selamat datang di masa
depan yang hambar. Selamat tinggal rasa
asli Indonesia. Yeah.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 02:04:40 UTC
Categories
Manage