Transcript
tRV6J6dgpDM • Starbucks, McD, Zara, Netflix Lagi “Turun Gunung”? Ada Apa dengan Dompet Kita di 2026?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0062_tRV6J6dgpDM.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Bro, lo pernah
enggak sih ngerasa hidup tuh belakangan
ini kayak lagi main game survival, tapi
musuhnya bukan monster, melainkan
tulisan kecil harga naik yang nongol di
mana-mana? Lo bangun pagi niatnya cuma
hidup normal, mandi, kerja, pulang,
makan, tidur. Tapi begitu buka aplikasi
ojol, lihat ongkir, lihat harga kopi,
lihat harga makan siang, tiba-tiba otak
lo mode akuntan ini worth it enggak ya?
Dan lucunya yang ikut-ikutan jadi
akuntan bukan cuma lo. Brand-brand
raksasa yang dulu gaya banget, yang dulu
vibe-nya kalau lo enggak sanggup, ya
sudah jangan masuk. Sekarang malah mulai
ngajak damai. Bro, sini deh. Gua ada
promo. Gua kasih gambarannya. Dulu kita
tuh belanja sering bukan karena butuh,
tapi karena pengin jadi versi diri yang
lebih keren. Belum minum Starbucks bukan
sekedar pengen kafein, tapi pengen jadi
orang yang kelihatan punya agenda. Ya,
yang kalau duduk di pojokan kafe laptop
kebuka, muka serius, orang lewat mikir,
"Wah, ini pasti kerjaannya penting." Lo
makan McD kadang bukan karena itu
makanan terenak sedunia, tapi karena
hidup lo capek dan lo butuh sesuatu yang
familiar yang enggak bikin lo mikir.
Tinggal ya sudah ini aja. Lu masuk Zara
di mall bukan karena kainnya bikin lu
jadi manusia baru, tapi karena begitu lu
bawa kantongnya keluar ada rasa oke gua
upgrade. Terus Netflix itu dulu rasanya
wajib kayak listrik. Lu bayar biar bisa
kabur dari iklan, kabur dari TV yang
ribet, kabur dari hidup yang terlalu
banyak drama dengan cara nonton drama
orang lain yang lebih rapi lighting-nya.
Nah, sekarang sekarang ada satu hal yang
berubah. Kita masih konsumsi, tapi cara
kita konsumsi jadi lebih sinis, lebih
curiga, lebih gue gak mau dibego-begoin
sama harga. Kayak kita semua baru lulus
dari sekolah pahit bernama realita. Gue
enggak bilang orang Indonesia jadi
miskin mendadak. Ya, jangan salah paham.
Mall masih rameai, kafe masih rame,
konser masih rame, gitu. Tapi ada
perbedaan vibe. Kalau dulu orang masuk
store tuh impulsif, lihat, suka, beli.
Sekarang orang masuk store tuh kayak
investigator lihat, suka, terus cek
harga, cek diskon, cek tanggal gajian,
cek promo kartu bank, cek cashback
marketplace baru mutusin. Bahkan ada
manusia-manusia spesial yang levelnya
udah tinggi. Dia suka barangnya tapi
sengaja enggak beli hari itu karena dia
yakin minggu depan pasti ada promo. Itu
bukan pelit, itu pengalaman. Dan
perubahan vibe ini bukan cuma perasaan.
Kalau lu mau angka, biar kita enggak
ngomong pakai intuisi doang. BPS nyatat
inflasi year on year Indonesia di
Desember 2024 itu 1,57%.
Terus di Desember 2025 naik jadi 2,92%.
Jadi dalam setahun harga-harga makin
berasa di dompet walaupun headline-nya
kedengaran masih aman. Aman buat siapa?
Aman buat orang yang dompetnya enggak
sensitif. Buat kita yang hidupnya
bergantung sama Payday, angka segitu tuh
bisa jadi beda antara bisa nongkrong dan
nongkrongnya cuma lihatin menu. Sekarang
di tengah atmosfer kayak gini, lo bisa
lihat fenomena lucu, brand premium mulai
turun gunung. Mereka enggak mengaku gue
turun harga, tapi tingkahnya ya gitu
deh. Kayak teman lo yang dulu sok kaya,
selalu ngajak makan di tempat mahal.
Tapi belakangan kalau lo ajak ketemu,
dia bilang, "Di wartek aja yuk, gua lagi
pengen yang homie, home. Kepala lu." Itu
namanya dompet lagi ngobrol sama
realita. Starbucks itu contoh paling
gampang. Eh, Starbucks tuh bukan sekedar
jual kopi. Starbucks jual perasaan
urban, jual third place yang katanya
bikin lo merasa punya hidup modern. Dulu
Starbucks itu punya aura, harga tinggi
bukan masalah. Karena lo enggak cuma
beli minuman, lo beli identitas. Tapi
pas identitas mulai kalah sama tagihan,
Starbucks mulai harus ngelakuin hal-hal
yang dulu mereka ogah. Lu mulai sering
lihat promo member, promo jam tertentu,
bundling, dan segala macam cara biar
orang enggak kabur ke kopi yang lebih
murah. Dan lucunya dari sisi bisnis
globalnya, Starbucks di tahun fiskal
2025 itu net revenue-nya naik 3% jadi
sekitar 37,2 miliar dolar. Tapi di saat
yang sama global comparable store sales
justru turun 1%. transaksinya turun
ketolong sama tiket rata-rata yang naik.
Ini bahasa halusnya gini, duit masuk
masih naik tapi orangnya enggak nambah.
Bahkan yang datang ada yang berkurang.
Jadi kita harus mainin harga, mix produk
dan strategi biar angka tetap bagus.
Nah, kalau lo orang Indonesia, lo akan
langsung ngerti konteksnya tanpa perlu
jadi analis Wall Street. Karena lu lihat
sendiri di lapangan sekarang nongkrong
kopi itu bukan lagi sekadar gaya tapi
jadi keputusan ekonomi. Bahkan orang
yang tadinya setiap hari Starbucks bisa
berubah jadi Starbucks kalau ada promo
sisanya kopi Literan. Kopi susu lokal
atau yang paling realistis kopi Sacat di
kosan ditemenin kipas angin yang
bunyinya kayak mesin pesawat mau take
off. Gua pernah lihat adegan yang
menurut gua puitis. Ada anak muda
mungkin fresh grad duduk di cafe buka
laptop tapi minumannya bukan Starbucks.
Dia duduk di tempat yang sama stylish
tapi minumnya kopi yang harganya
separuhnya dan dia tetap bisa kelihatan
produktif. Jadi ternyata yang bikin lo
kelihatan sibuk tuh bukan logo di gelas.
Yang bikin lo kelihatan sibuk tuh muka
lo yang capek. Terus McDonald's ini
menarik karena McD itu beda kelas sama
Starbucks. Starbucks premium McDask.
Dua-duanya sama-sama kena satu virus,
konsumen makin rasional. Bedanya, McD
lebih jago adaptasi karena dari awal
mereka bisnisnya volume. Kalau ekonomi
ketat, McD tinggal ngeluarin jurus lama,
menu hemat, bundling, paket yang bikin
orang merasa gua dapat banyak dengan
uang segini. Di tingkat global misalnya
di Q3 2025, McDonald's ngelaporin global
comparable sales naik 3,6% dan
consolidated revenues naik 3%. Itu angka
yang kedengarannya kecil. Tapi di dunia
ritel makanan cepat saji, itu tanda
mereka masih bisa narik orang buat
datang dan beli di tengah situasi orang
makin mikir. Kalau kita terjemahin ke
bahasa tongkrongan, McD itu ngerti kalau
di masa orang lagi hemat. Yang dicari
bukan paling enak, tapi paling enggak
nyusahin. Loar, lo capek, lo enggak mau
drama, lo mau kenyang. McD itu kayak
teman lo yang walaupun lo sering
julidin, tapi kalau lo butuh dia selalu
ada. Dan karena dia selalu ada, dia bisa
mainin psikologi paket. Kadang lu enggak
butuh semuanya, tapi karena paketnya
kelihatan murah, lu jadi beli. Itu bukan
lo bodoh, itu sistem yang pintar.
Sekarang geser ke Zara. Nah, ini yang
paling relate sama kultur mall
Indonesia. Zara itu di kepala banyak
orang Indonesia, bukan fast fashion
doang. Zara itu mall upgrade. Kalau lu
pakai Zara, lu merasa satu tingkat di
atas orang yang beli random di toko
biasa. Bukan berarti Zara itu luxury ya,
tapi dia punya aura gue niat. Dan aura
itu dulunya kuat banget. Orang masuk
Zara bisa impulsif. Lihat jaket coba
cocok bayar. Keluar-keluar udah senyum.
Tapi begitu 2024 sampai 2025 ini vibe
berubah, Zara ketemu musuh yang enggak
bisa mereka lawan dengan desain doang.
Kebiasaan orang nunggu diskon. Orang
sekarang bukan cuma nanya keren enggak,
tapi nanya awet enggak? Bahannya gimana,
ini bakal rusak setelah tiga kali cuci
enggak? Dan yang paling kejam nanti
diskon berapa? Ya, gue tahu Zara di
Indonesia enggak buka angka Indonesia
secara publik sedetail itu. Tapi kita
bisa lihat ee tekanan di level grupnya
Index induknya Zara di laporan 9 bulan
2025 sempat nyebut penjualan toko dan
online dalam mata uang konstan di
periode 1 November sampai 1 Desember
2025 naik 10,6% dibanding periode yang
sama 2024. Artinya demand masih ada.
Orang masih beli baju tapi cara beli dan
kompetisinya makin ketat dan mereka
harus terus dorong produktivitas store
dan online supaya pertumbuhannya kejaga.
Terus kenapa ini nyambung ke Indonesia?
Karena orang Indonesia itu salah satu
pengguna ritual diskon paling kreatif di
muka bumi. Lu tahu kan budaya nanti aja
pas 1111, tunggu 1212,
tunggu payday, tunggu bank promo, tunggu
mall midnight sale. Kita tuh punya
kalender sendiri selain kalender Masehi.
Dan Zara yang dulu hidup dari impulsif
Mall, sekarang harus berhadapan sama
manusia Indonesia yang udah dilatih
marketplace bertahun-tahun. Kalau enggak
diskon, jangan harap dibeli cepat. Dan
di sinilah lucunya. Dulu Zara itu
semacam anti diskon vibe. Diskon ada
sih, tapi kayak event bukan kebiasaan.
Sekarang banyak orang masuk Zara bukan
buat beli hari itu, tapi buat survei.
Mereka coba di fitting room, foto
diam-diam terus pulang masukin ke chart
di kepala, nunggu momen Zara jadi
showroom, mall jadi katalog fisik. orang
beli. Akhirnya bisa jadi belinya di hari
lain, bisa jadi belinya brand lain yang
mirip tapi lebih murah. Dan kalau itu
terjadi massal, brand yang dulu kuat
karena image mulai harus main di
permainan harga walaupun mereka malu
ngaku. Sekarang Netflix ini juga unik
karena Netflix bukan jual barang fisik,
tapi jual kebebasan dari iklan dan
kebebasan dari ribet. Netflix itu gua
bayar, gua mau tenang. Tapi begitu
ekonomi makin ketat, orang mulai
ngelihat subscription kayak ngelihat
cicilan ini perlu enggak sih? Dan makin
banyak layanan hiburan, makin banyak
pilihan gratis, makin kuat juga godaan
buat cancel. Tapi Netflix juga bukan
pemain sembarangan. Di 2025 mereka
bilang eh revenue setahun sekitar 45,2
miliar dolar naik 16% dibanding 2024 dan
mereka nyebutin mereka nembus 325 juta
paid memberships di akhir 2025. Bahkan
revenue iklan mereka naik gila-gilaan
sampai lebih dari 2,5 kali. Jadi lebih
dari 1,5 miliar dolar. Itu artinya
Netflix benar-benar ngelihat satu hal.
Kalau orang makin sensitif harga, ya
sudah kasih opsi lebih murah yang ada
iklannya. Lu mau hemat boleh, tapi lo
bayar dengan nonton iklan. Hidup itu
selalu barter. Kalau kita bawa ke
konteks Indonesia, Netflix tuh jadi
kayak gini. Dulu lo langganan bareng
teman-teman, sharing akun itu budaya.
Sekarang ketika platform mulai ketat
sama sharing, orang mulai mikir, "Kalau
gua harus bayar sendiri, gua nonton
berapa jam sih?"
Dan di Indonesia lawan Netflix tuh bukan
cuma Disney Plus atau platform lain,
tapi juga TikTok, YouTube, Reals,
hiburan gratis yang lebih cepat, lebih
adiktif, dan enggak butuh komitmen.
Netflix itu ngajak lo nikah. TikTok itu
ngajak lo HTS tapi tiap hari ketemu.
Nah, kalau lo tarik garis, lo akan lihat
sesuatu yang menarik. Empat brand ini
beda industri, beda vibe, beda target.
Tapi semuanya lagi ngomong bahasa yang
sama ke konsumen. Tolong jangan pergi.
Starbucks ngomong lewat promo dan
loyalti. MCD ngomong lewat bundling
hemat. Zara ngomong lewat sell yang
makin sering dan strategi online yang
makin agresif. Netflix ngomong lewat
paket lebih murah dan monetisasi iklan.
Semuanya sama-sama ngakuin satu fakta
pahit. Di 2025 konsumen itu masih ada.
Tapi kesabarannya buat bayar full price
itu berkurang. Dan ini balik lagi ke
kondisi kita. Bukan berarti e orang
Indonesia tiba-tiba berhenti konsumsi.
Kita masih konsumsi tapi konsumsi kita
jadi penuh syarat. Kayak hubungannya
udah lama. Dulu masih bucin. Sekarang
banyak pertanyaan. Lo serius enggak? Lo
worth it enggak? Lo ada promo enggak? Lo
sadar enggak? Sekarang kata promo itu
bukan cuma kata marketing, tapi jadi
bagian dari bahasa sehari-hari. Ada
orang yang ngajak nongkrong bukan nanya
ngopi di mana, tapi nanya ada promo
enggak. Ada orang yang makan bukan nanya
mau makan apa, tapi nanya yang diskon
apa. Bahkan ada orang yang kalau dikasih
hadiah ulang tahun, dia bukannya senang,
dia tanya, "Belinya pas cashback berapa
persen?" Ini bukan materialistis, ini
coping mechanism. Kalau lu masih ragu
ini cuma perasaan. Ingat lagi angka
inflasi tadi. Desember 2024 1,57%,
Desember 2025 2,92%.
Di atas kertas itu cuma naik sekitar
1,35 poin persentase. Tapi di dunia
nyata itu bisa berarti harga makanan
langganan lo naik, biaya hidup lo naik,
sementara gaji lo belum tentu naik
secepat itu. Dan ketika ruang napas
mengecil yang pertama kali dikorbanin
biasanya pengeluaran perasaan. Starbucks
itu pengeluaran perasaan. Zara itu
pengeluaran perasaan. Eh Netflix itu
pengeluaran perasaan. McD McD punya dua
kaki. Bisa jadi perasaan, bisa jadi
kebutuhan. Makanya McD lebih tahan. Jadi
sebenarnya kita lagi ngelihat apa?
Apakah ini krisis brand besar? Menurut
gua ini bukan soal brand besar tiba-tiba
jelek. Ini lebih kayak perubahan musim.
Dulu musimnya konsumsi identitas, orang
beli supaya jadi sesuatu. Sekarang
musimnya konsumsi utilitas, orang beli
supaya hidupnya jalan. Dan di musim
utilitas, brand premium harus turun
level atau setidaknya bikin pintu masuk
baru. Eh, Starbucks masih bisa jual
pengalaman, tapi dia harus ngakuin bahwa
sekarang orang datang bukan selalu buat
duduk 2 jam. Banyak orang datang buat
ambil cepat, buat foto, buat meeting
sebentar, lalu cabut. Third place yang
dulu dijual sebagai tempat santai bisa
berubah jadi pit stop. Dan kalau
Starbucks mau tetap jadi premium, mereka
harus bikin premium yang terasa worth
bukan premium yang cuma logo. McD tetap
jadi McD, tapi mereka makin keras mainin
psikologi harga. Paket hemat itu bukan
cuma soal murah, tapi soal bikin otak lo
merasa aman. Karena ketika ekonomi bikin
lo cemas, hal paling mahal itu bukan
makanan, tapi ketidakpastian. McD jual
kepastian. Rasa standar, porsi standar,
waktu standar. Lo datang, lo tahu apa
yang lu dapat. Hidup lo udah keos, jadi
makanan lo jangan keos. Zara juga masih
bisa jual desain, tapi Zara harus
menghadapi fakta. Orang Indonesia
sekarang punya alternatif yang jauh
lebih banyak. Dulu pilihan lo di mall
itu terbatas. Sekarang pilihan lo itu
satu jempol doang. Lu bisa kari dupe, lu
bisa kari local brand, lu bisa kari
prelobet, lu bisa kari Trif. Dan karena
pilihan banyak, harga jadi senjata. Zara
yang dulu kuat karena keren, sekarang
harus berurusan sama pertanyaan paling
jahat. Keren sih, tapi ada versi lebih
murah enggak? Netflix tetap raja untuk
konten yang panjang dan rapi, tapi
Netflix harus mengakui perang atensinya
brutal. Dan orang Indonesia tuh jago
nge-snack konten. Kalau lo jam film,
orang mungkin bilang nanti. Tapi kalau
lo kasih 30 detik video lucu, orang
habis 2 jam tanpa sadar. Jadi Netflix
harus bikin orang merasa langganan ini
masih pantas. Makanya mereka dorong
iklan dan paket lebih fleksibel biar
orang yang sensitif harga tetap bisa
masuk ekosistem. Kalau gua ringkas pakai
bahasa warung kopi, kita ini bukan jadi
anti brand. Kita cuma jadi lebih sadar
diri. Dulu lo beli Starbucks buat merasa
hidup lo rapi. Sekarang lo beli
Starbucks kalau hidup lo rapi dan ada
promo. Dulu lo beli Zara buat merasa lo
naik kelas. Sekarang lo beli Zara kalau
lu naik kelas dan dapat diskon. Dulu lo
langganan Netflix buat quality time.
Sekarang lo langganan Netflix kalau lo
beneran punya waktu, bukan cuma punya
niat. Dan McD, McD selalu ada di saat lo
menyerah sama hidup. Itu sebabnya dia
sering menang. Ada satu momen yang
menurut gua lucu tapi juga sedih. Lu
pernah lihat orang berdiri depan kasir
udah pegang barang, udah senyum, terus
pasir nyebut total, orangnya langsung
berubah jadi filsuf, diam, menatap jauh,
mikir tentang arti kehidupan, lalu
bilang pelan, "Mbak, yang ini jadi
enggak?" Itu bukan drama, itu adalah
ekonomi dalam bentuk paling manusiawi.
Dan di titik ini, gua pengin melihat
fenomena ini bukan cuma sebagai brand
turun harga, tapi sebagai tanda bahwa
middle class lagi ketekan. Orang yang
dulunya punya ruang buat beli perasaan,
sekarang ruangnya menyempit. Dan ketika
ruang itu menyempit, yang terjadi adalah
negosiasi besar-besaran antara konsumen
dan brand. Brand bilang dia punya story.
Konsumen jawab, "Story lo bagus, tapi
dompet gue lagi enggak romantis." Yang
bikin ini makin menarik, negosiasi itu
sekarang terbuka. Dulu brand bisa shok,
harga segini mau ya mau. Sekarang
konsumen punya kekuatan baru, bisa
nunggu, bisa bandingin, bisa viral in
complain, bisa pindah ke alternatif.
Loyalitas itu menurun bukan karena
manusia jadi jahat, tapi karena pilihan
makin banyak dan uang makin harus
dijaga. Kalau lu tanya ini bakal balik
lagi enggak? Apakah kalau ekonomi
membaik orang bakal bucin lagi sama
brand? Bisa jadi sebagian. Tapi ada
kebiasaan yang kalau udah terbentuk
susah hilang. Kebiasaan nunggu promo.
Kebiasaan bandingin, kebiasaan mikir dua
kali. Itu kayak lo dulu sering minum
manis. Begitu dokter bilang gula lo
naik, lo mulai ngurangin. Nanti kalau
gula lo normal, lu mungkin balik manis.
Tapi lu enggak akan sepolos dulu. Lu
udah pernah ngerasain takut dan takut
itu bikin lo lebih sadar. Jadi ketika lo
lihat Starbucks ngeluarin promo, jangan
cuma bilang, "Wih, Starbucks murah."
Lihat itu sebagai gejala bahwa bahkan
simbol premium pun harus negosiasi.
Ketika lu lihat MCD gencar paket hemat,
jangan cuma bilang, "Wah, mantap. Lihat
itu sebagai strategi bertahan di era
orang makin hati-hati." Ketika lo lihat
Zara Sale, jangan cuma bilang gue tunggu
diskon. Lihat itu sebagai tanda bahwa
impulsif udah enggak seganas dulu.
Ketika lo lihat Netflix dorong paket
iklan, jangan cuma bilang, "Ih, ganggu."
Lihat itu sebagai pengakuan bahwa
subscription itu sekarang diperlakukan
kayak barang mewah. Kalau enggak penting
dicoret. Dan buat lo yang bikin konten
di Indonesia, ini emas. Karena ini bukan
cerita jauh di Amerika atau Eropa doang.
Ini cerita yang orang Indonesia rasain
tiap hari. Kontennya tinggal lu bungkus
dengan momen-momen kecil. Teman yang
dulu tiap hari Starbucks sekarang jadi
kopi Tubruk Supremacy. Sepupu yang dulu
belanja Zara full price sekarang jadi
gue tunggu Midnight sale. Teman kos yang
dulu Netflix setiap bulan sekarang jadi
nonton YouTube aja sampai ibu-ibu yang
kalau lihat promo McD langsung kirim ke
grup keluarga. Anak-anak besok makan ini
ya. Dan kalau gua boleh nutup dengan
satu kalimat yang nempel di kepala
masalahnya bukan Starbucks jadi murah.
Masalahnya adalah kita makin jarang
punya ruang buat beli perasaan. Kita
masih pengin hidup keren, tapi hidup
sekarang minta kita jadi realistis.
Realistis itu bukan berarti menyerah.
Realistis itu cara kita bertahan sambil
tetap ngelucu. Karena kalau enggak
ngelucu nanti kita nangis di kasir.
Kalau lo ngerasa cerita ini relate, lo
pasti punya satu contoh di hidup lo
sendiri. Brand apa yang dulu lo beli
buat gaya, tapi sekarang lo beli cuma
kalau diskon. Dan jujur aja, itu bukan
aib. Itu tanda lo makin pintar. Di zaman
begini, pintar itu bukan yang paling
banyak beli, tapi yang paling ngerti
kapan harus bilang oke nanti aja pas
promo.