Transcript
6EJDclATfRs • Racah: Industri Penghasil Uang Besar Kalau Lo Melihatnya dengan Benar
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0066_6EJDclATfRs.txt
Kind: captions Language: id Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Bro, coba lu bayangin jam .00 subuh di Jakarta, langit masih hitam kayak layar HP lo pas kuota habis. Orang-orang baru mau mimpi indah kedua. Tapi ada satu influencer yang udah keliling duluan. Truk sampah. Iya, truk sampah. Bukan yang kontennya morning routin pakai Macha skincare 12 step terus bilang grateful. Tapi yang rutin beneran ngangkut sisa hidup kita semalam. Dan lucunya ya, kita tuh sering sok jijik. Ibaw, ih kotor. Ih, kerjaan rendah. Padahal kalau truk itu ngambek seminggu aja, percayalah kota ini bakal trending bukan karena FYP, tapi karena darurat bau nasional. Heileng. Kagak jadi nongkrong. Lo nongkrong sama aroma yang nempel di jiwa. Anje, itu baru beneran estetik versi real life. Nah, di sinilah gua mau ngajak lu mikir agak nyeleneh dikit. Banyak orang ngelihat dunia cuma dari yang kinclong. Mall, cafe estetic, corking space. Orang-orang yang kalau ngobrol suka bilang literally padahal lagi di Ciputat. Terus habis itu upload story caption, work hard, play hard, tapi kerjaannya rapat doang. Tapi ekonomi yang beneran gerakin kota itu seringnya bukan yang kinclong. Justru yang kotor yang lo hindarin, yang lo pura-pura enggak lihat pas lewat. Sampah itu bukan sekadar kotoran. Sampah itu bukti orang masih makan, masih belanja, masih hidup. Dan kalau orang masih hidup roh, di situ selalu ada uang. Pertanyaannya bukan ada uang enggak di sampah? Pertanyaannya uangnya nyangkut di siapa? Karena kebanyakan orang kalau ngomongin bisnis sampah bayangannya langsung ke abang-abang yang dorong gerobak atau petugas yang naik turun angkut karung. Mereka kerja paling capek, paling kepanasan, paling kena aroma campuran neraka, dan sisa ayam geprek. Tapi justru mereka bukan yang paling kaya. Ini kayak dunia konten juga yang paling capek edit kadang bukan yang paling cuan. Yang paling cuan kadang yang cuma senyum bilang, "Guys, jangan lupa like." Udah. Dunia ini emang hobi banget ngasih panggung ke yang kelihatan, bukan ke yang nahan beban. Coba gua tarik lu ke realita yang bikin kepala auto ngeklik. Jakarta itu bisa buang sekitar 8.600 ton sampah per hari. Per hari ya, bukan per minggu. 8.600 ton. Itu kalau lu tumpuk bisa jadi gunung kecil versi Rungkat. Dan kalau ada yang bilang, "Ya elah, paling lebay, lu suruh dia coba ngendus 2 detik aja langsung no debat." Dan itu baru satu kota. Sekarang lu kebayang enggak kalau satu kota aja segitu skala nasional gimana? Makanya ada estimasi pasar pengelolaan sampah Indonesia itu bukan receh. Kisaran belasan miliar dolar per tahun sekitar 15 miliar dolar dan banyak proyeksi bilang bisa tembus dua kali lipat menuju sekitar 30 miliar dolar sebelum 2030. Ini bukan usaha sampingan sambil rebahan. Ini industri bro. industri yang orangnya jarang pakai jaz rapi tapi duitnya jalan rapi. Bedanya duitnya jalan rapi itu bukan karena mereka estetik, tapi karena orang enggak punya pilihan selain bayar. Cuma ya itu duitnya enggak turun dari langit ke orang yang paling kotor. Duitnya ngalir lewat struktur. Dan struktur itu yang bikin sesuatu kelihatan miskin tapi sebenarnya makan duit dari hal yang lo enggak bisa hindarin. Lu tahu apa yang paling seram dari sampah? Bukan baunya. Yang paling seram itu sifatnya sampah itu enggak bisa ditolak. Lu bisa nolak mantan, bisa nolak ajakan reuni yang isinya flexing semua. Bisa nolak ikut arisan kalau dompet lagi Miss Queen, tapi lu enggak bisa nolak sampah. Lu makan ada bungkus, lo minum ada botol, lo belanja online ada kardus, lo skincare-an biar kingklong, ada sash. Ada box, ada bubble wrap. Lo bahkan kalau lagi diet clean eating pun tetap aja ada sampah. Jadi sampah itu kebutuhan yang dibenci dan kebutuhan yang dibenci itu biasanya justru paling stabil buat dijadiin bisnis yang dicari orang kaya bukan yang viral tapi yang wajib. Viral itu kayak mie pedas level neraka panas di awal besoknya perut lo protes. Yang wajib itu kayak nasi. Lu capek, lu sedih, lu senang, ujung-ujungnya balik ke nasi juga. Sekarang gua ajak lo imajinasi biar lo ngerasain dampaknya. Bayangin satu hari aja cuma satu hari sampah enggak diangkut di Jakarta. Pagi lo bangun masih aman karena sampah rumah lo masih di tong. Siang warung-warung mulai penuh plastik. Pasar mulai numpuk sisa sayur. Restoran mulai kebingungan. Sore tongtong udah overload. Orang taruh di luar. Kucing sama tikus mulai party. Vibes-nya kayak festival underground tapi pesertanya bukan manusia. Malam selokan mulai mampet karena sampah liar. Air mulai genang. Bau mulai nyelonong masuk ke rumah. Dan lo yang awalnya sok jiji cuma jadi penonton, sekarang jadi korban utama. Besoknya warga ngamuk, pengelola ribut, pemerintah ditelepon mulu, media ramai dan lo baru sadar kebersihan itu bukan bonus. Itu syarat supaya hidup normal. Jadi kalau ada orang bilang, "Ah, pengelolaan sampah mah enggak penting." Itu orang belum pernah hidup tanpa sistem. Dia pikir dunia ini jalan sendiri kayak autoplay di TikTok. Nah, dari sini kita masuk ke inti. Siapa yang beneran pegang uang di dunia sampah? Pertama yang paling bawah pekerja lapangan. Ini level pro player dari segi tenaga. Mereka bangun saat kita masih mager. Mereka kerja saat kita masih ngeluh. Aduh, capek meeting. Mereka ngangkut, nyapu, ngumpulin. Tapi posisi mereka mirip driver ojol, kerja keras. Tapi harga sering bukan mereka yang nentuin. Mereka dibayar dari sistem yang udah dipatok. Mereka bisa nambah tenaga tapi susah nambah tarif. Kalau lo cuma ngelihat level ini, lu bakal bilang tuh kan miskin. Padahal lu baru ngelihat ujung sendok belum lihat panci. Dan panci ini isinya bisa tebal, Bro. Kedua, yang mulai pegang kendali. Pihak yang megang rute atau megang wilayah di sinilah mulai ada uang yang lebih benar. Kenapa? Karena rute itu aset bukan aset yang bisa lo pajang di Instagram kayak mobil baru, tapi aset yang tiap bulan ngeluarin duit kayak mesin ATM yang enggak pernah update story. Rute itu berarti ada area yang sampahnya harus diambil teratur berkali-kali. Ada rumah-rumah, ada komplek, ada ruko, ada pasar, dan di situ ada pembayaran rutin. Bukan sekali dua kali rutin. Lu ngerti kan kenapa orang kaya itu suka bisnis yang rutin? Karena hidup itu udah cukup random. Jangan cari duit yang random juga. Lo bayangin ada satu komplek warganya mungkin tiap bulan bayar iuran kebersihan. Mereka enggak mikir gua mau bayar apa enggak. Mereka mikir kalau enggak bayar nanti ribut satu grup WhatsApp komplek. Terus pengelola komplek juga enggak bisa bilang, "Ya udah kita skip minggu ini." Karena begitu skip langsung ada protes. Bau, tikus, lalat, anak kecil sakit, semua pada ngeluh. Jadi di situ lahir uang yang sifatnya bukan jualan, tapi langganan terpaksa, retribusi, iuran, kontrak layanan namanya beda-beda. Tapi intinya sama, ada struktur harus diangkut dan ada yang bayar. Lu udah punya cash flow dan cash flow itu lebih seksi daripada viral. Viral itu kayak cinta monyet, rameai sebentar, habis itu ghosting. Cash flow itu kayak pasangan dewasa. Mungkin enggak heboh, tapi lu tenang. Yang megang rute ini biasanya bukan yang kelihatan paling capek, tapi dia yang bikin sistem berjalan. Dia yang bisa ngomong angka, ngomong jadwal, ngomong kapasitas. Dia bukan NPC, dia yang main mode manager. Dan ini penting di dunia sampah, manajemen itu bukan gaya-gayaan. Itu nyawa. Kalau jadwal kacau, satu RT bisa keos. Kalau armada kurang, satu pasar bisa meledak baunya. Jadi orang yang bisa bikin router api itu nilainya tinggi. Orang enggak muji tapi mereka bayar. Ketiga, ini yang paling penting dan sering orang enggak sadar pihak pengolahan akhir tempat sampah itu beneran jadi urusan serius. Bukan lagi sekadar ngangkut, tapi ngurus apa yang terjadi setelahnya. Pemilahan, pengolahan, daur ulang sampai pembuangan akhir. Dan di sinilah uangnya mulai tebal karena ini titik yang enggak bisa dilewatin. Sampah itu harus berakhir di suatu tempat dan tempat itu punya kapasitas. punya teknologi, punya izin, punya biaya, punya ee nilai. Lu mau sebersih apapun image kota, kalau ujungnya enggak beres, semuanya balik jadi masalah. Ini kayak lo bisa tampil rapi di depan kamera, tapi kalau hidup lo berantakan di belakang layar, ujung-ujungnya ketahuan juga. Sampah itu belakang layarnya kota. Gua kasih analogi yang gampang. Kalau rute itu seperti jalan tol yang mengalirkan barang, maka tempat pengolahan akhir itu seperti pelabuhan yang barangnya harus masuk. Kalau mau ekspor, lu bisa ngotot lewat jalan lain, tapi ujungnya tetap harus masuk pelabuhan. Kalau pelabuhan macet, semua macet. Nah, pengolahan akhir itu pelabuhannya sampah. Dan pelabuhan selalu punya satu kekuatan. Lo boleh enggak suka, tapi lo butuh. Di titik ini ada dua jenis uang, uang layanan dan uang material. Uang layanan itu jelas orang bayar supaya sampahnya diurus. Pemerintah, perusahaan, pengelola kawasan mereka bayar karena kalau enggak bayar keos. Banyak hal di dunia ini dibayar bukan karena orang pengin, tapi karena orang takut konsekuensi. Sampah itu konsekuensinya brutal. Penyakit, banjir, bau, protes warga. Jadi, layanan pengolahan itu pembayaran untuk ketenangan. Orang bayar supaya hidupnya enggak diganggu. Itu motivasi paling kuat setelah pengin kaya. Nah, uang material ini yang bikin kepala lo beneran ngeklik. Karena sampah itu bukan cuma sisa. Sampah itu bahan baku yang salah tempat. plastik, kertas, logam, kaca. Kalau ketemu orang yang ngerti itu bukan najis, itu inventory. Makanya ada pemulung, pengepul, bank sampah sampai pabrik daur ulang. Ini ekosistem sendiri. Dan di Indonesia ekosistem ini tuh sering kelihatan kumuh. Tapi jangan salah, di situ ada ekonomi yang jalan tiap hari. Cash jalan, barang jalan, harga jalan. Cuma ya enggak ada yang bikin konten get ready with me jadi pengepul botol plastik. Jadi orang nganggap itu enggak keren. Biar lu kebayang gua bikin satu cerita kecil. Anggap ada satu botol plastik air mineral, hidupnya pendek. Lu minum 5 menit terus lo buang. Tapi perjalanan botol itu panjang banget, Bro. Botol itu jatuh ke tong sampah rumah. Habis itu diangkut sama petugas sampai TPS. Di TPS ada yang mulai milah. Botol itu bisa kepilih karena plastiknya ada nilai. Lalu masuk ke tangan pemulung atau pekerja sortir. Dari situ botol itu dikumpulin jadi satu karung. Kar itu pindah ke pengepul kecil. Dari pengepul kecil pindah ke lapak lebih besar. Dari lapak besar pindah ke pabrik daur ulang atau ke rantai distribusi bahan baku. Ujungnya botol itu bisa jadi biji plastik lalu jadi produk baru. Pt, bahkan bisa jadi fiber buat tekstil. Jadi botol yang lo anggap sampah itu sebenarnya barang yang salah tempat. Sekarang pertanyaan paling tajam, di tiap titik perjalanan itu siapa yang ambil duit? Petugas angkut dapat gaji, pekerja sortir dapat upah, pemulung dapat hasil per kilo, pengepul kecil ambil margin, pengepul besar ambil margin lebih stabil karena volume. Pabrik ambil margin paling besar karena dia yang ubah barang jadi produk bernilai. Loh, lihat kan? Ini bukan satu orang kaya mendadak. Ini rantai nilai. Yang paling rawan itu yang di bawah yang kerjanya berat dan posisinya gampang digeser. Yang paling kuat itu yang dekat ke titik transformasi yang bisa ngubah sampah jadi sesuatu yang orang mau beli. Makanya ada cerita bank sampah. Banyak orang nganggap bank sampah itu cuma gerakan sosial. Padahal kalau sistemnya jalan, bank sampah itu bisa muter uang yang lumayan sampai miliaran rupiah per tahun di level tertentu karena dia jadi gerbang material yang bisa dijual lagi. Orang setor sampah terpilah, dapat poin atau tabungan. Bank sampah kumpulin volume, jual ke pengepul besar atau langsung ke jalur yang lebih tinggi. Itu bukan sulap, itu struktur. Dan struktur selalu bikin uang selama orang disiplin dan sistemnya rapi. Cuma ya disiplin itu barang langka. Makanya yang bisa serius di situ enggak banyak. Di level negara ada yang sering dibahas kalau plastik diputar ulang dengan benar, nilai ekonominya bisa sampai sekitar 9 miliar dolar per tahun. Gale banget. Ini bukan uang jajan. Ini uang yang bisa bikin satu industri berdiri tegak. Tapi ya bedanya potensi sama kenyataan itu kayak bedanya niat-diat sama jam 11.00 malam pesan martabak. Potensi ada tapi butuh sistem. Butuh pemilahan dari sumbernya. Butuh logistik. butuh pabrik, butuh pasar. Dan lo tahu yang lucu? Banyak orang pengin hasilnya tapi malas prosesnya. Pengin kota bersih tapi malas pilah sampah. Pengen banjir hilang tapi masih buang plastik ke selokan. Ini kayak pengen kaya tapi tiap ada diskon sebelah--sebel langsung kalap. Ya, gimana, Bro? Yang penting cuan, katanya. Tapi cuannya kabur ke payat. Nah, keempat ini level yang lebih silent killer yang nguasain titik-titik yang enggak bisa dihindari. tempat penabungan sementara, titik transfer, depo, sampai fasilitas pengolahan. Kenapa ini penting? Karena sampah itu punya sifat yang nyebelin. Begitu udah terkumpul, dia enggak bisa balik lagi. Lu enggak mungkin bilang ke warga, "Maaf ya, sampahnya kita refun." Kagak. Sampah itu one way. Sekali masuk arus dia harus selesai. Jadi, siapa yang punya kontrol di titik-titik itu dia punya leverage. Ini mirip banget sama bisnis platform. Begitu lo udah kebiasaan jualan di satu platform, lo susah pindah, ee sampah juga gitu. Begitu sistem udah kebentuk, mengubahnya mahal. Dan yang untung biasanya yang udah ada di tengah arus. Gua kasih contoh yang gampang kebayang, ada satu TPS atau titik transfer yang jadi pintu masuk untuk beberapa rute. Kalau titik itu bermasalah, misalnya kapasitas penuh atau aksesnya ditutup, apa yang terjadi? Truk sampah muter-muter, rute kacau, sampah menumpuk di permukiman. Warga ngamuk, pengelola ribut, pemerintah ditekan. Dan dalam kondisi panik gitu, yang punya pintu itu jadi penting banget. Kadang orang baru sadar siapa yang punya kuasa ketika pintunya ketutup. Sama kayak lu baru sadar pentingnya sinyal pas lagi butuh transfer tapi tiba-tiba no service, auto emoji. Nah, sekarang lu mulai ngerti kenapa orang bisa salah kaprah. Karena kalau lo cuma lihat pekerja lapangan, lu lihatnya capek dan miskin. Tapi kalau lo lihat struktur, lu bakal sadar industri ini punya beberapa gate yang kalau lo pegang duitnya stabil. Dan stabil itu, Bro, adalah kata yang bikin orang dewasa nangis terharu. Anak muda nangis karena putus cinta. Orang dewasa nangis karena cicilan aman. Dan industri sampah itu salah satu sumber cicilan aman paling underrated selama lo berdiri di posisi yang benar. Terus kenapa kok industri ini jarang dibahas sebagai bisnis keren? Karena dia enggak punya estetika, enggak ada yang bikin konten day in my life. Pengelola TPA sambil slow motion pakai lagu Melow terus caption trust the process. Orang takut terlihat dekat dengan hal yang dianggap rendah. Padahal lucunya kota modern itu justru ditopang oleh pekerjaan-pekerjaan yang dianggap rendah. Ini paradoks paling kocak. Kita menikmati hasilnya tapi malu menghargai prosesnya. Kita suka kota bersih tapi ogah lihat orang yang bikin bersih. Kita suka jalanan enggak bau tapi jiji sama yang ngurusin bau. Kita suka rumah rapi tapi meremehkan yang buangin sampah kita. Kalau ini bukan drama sosial paling absurd, gua enggak tahu lagi apa. Sekarang gua lempar punch line yang agak pedas. Kita hidup di era orang rela bayar mahal buat hal yang bikin hidup kelihatan bersih. Tapi ogah bayar cukup buat orang yang bikin hidup beneran bersih. Lu bisa bayar kopi Rp40.000 tanpa mikir, tapi pas dengar iuran kebersihan naik dikit langsung jadi ekonom dadakan. Wah, inflasi nih. Haha. Padahal kalau lingkungan lo jadi kotor, yang kena pertama bukan orang kaya yang tinggal di tempat steril, tapi lo yang hidupnya berdampingan sama realita. Jadi kadang kebersihan itu bukan isu moral doang. Itu isu kelas juga. Yang punya uang bisa beli jarak dari sampah. Yang enggak punya uang ya hidupnya dekat sama sampah, kejam. Tapi hidup memang sering begitu. Not. Dan kalau lo mau bikin ini makin indo banget, masukin konteks yang semua orang relate, belanja online. Lu tahu kan Indonesia itu salah satu negara yang hobi banget belanja online. Kardus numpuk, bubble wrap berserakan, plastik pembungkus kayak ular kecil di lantai. Rumah lo kadang lebih sering kedatangan paket daripada kedatangan kabar baik. Nah, semua itu ujungnya jadi sampah. Artinya apa? Setiap kali ada flash sell 99, 1010, 1111 yang ikut panen bukan cuma seller dan kurir, tapi juga rantai pengelolaan sampah. Cuma mereka panennya enggak bisa flexing. Mereka panennya diam-diam tapi stabil. Lu bisa pamer unboxing, mereka pamer karung kalau perlu, tapi ya siapa yang mau nonton? Padahal itu ekonomi beneran. Eh, terus ada lagi yang lagi ngetren payter. Banyak orang hidupnya jadi healing dulu, mikir belakangan. Barang datang, sampah datang, tagihan datang belakangan, tapi sampah enggak pernah nunggu tagihan lunas. Sampah itu real time. Jadi, sampah itu semacam cermin brutal yang ngasih tahu gaya hidup lo jalan terus. Dan selama gaya hidup jalan, industri sampah jalan, kalau lo mau puitis dikit, sampah adalah bukti paling jujur dari kebiasaan lo. Loh di caption, lo bisa bohong di cerita hidup, tapi sampah lo enggak bisa bohong. Dia ngasih bukti lu konsumsi apa, lu buang apa, lu hidup seperti apa. Sekarang biar video lo enggak dikira memuja-muja industri ini tanpa ngelihat sisi gelapnya, gua harus jujur kerja di sektor ini keras, risiko kesehatan tinggi, stigma tinggi, banyak pekerja rentan, banyak yang posisinya lemah di rantai nilai, dan di beberapa tempat sistemnya bisa jadi ajang tarik-menarik kepentingan karena ini urusan publik, urusan lahan, urusan izin. Kalau lu ngomong pengolahan akhir, lu ngomongin lahan luas, lu ngomongin akses, lu ngomongin regulasi, lu ngomongin teknologi, ada yang mau bikin waste to energy, ada yang mau perkuat daur ulang, ada yang mau perbaiki pemilahan. Semuanya bagus di kertas. Tapi di lapangan kalau pemilahan di rumah aja masih campur aja udah ya sistemnya megap-megap. Ini bukan bisnis yang bisa lo bikin cuma karena lo habis nonton seminar jadi pengusaha dalam 7 hari. Ini bisnis yang nuntut lo ngerti lapangan, ngerti logistik, ngerti aturan, dan siap main panjang. Kalau lu tipe yang maunya cepat kaya, mending jangan. Ini bukan cuan kilat, ini cuan sistem. Dan yang bikin makin menarik, krisis ekonomi biasanya enggak mematikan industri ini. Kalau ekonomi lagi seret, orang mungkin berhenti nongkrong fancy, tapi orang tetap makan, orang tetap hidup, sampah tetap keluar. Bahkan ada kondisi tertentu, sampah bisa naik karena orang lebih banyak masak di rumah, lebih banyak beli kemasan murah, lebih banyak konsumsi barang low cost yang kemasannya banyak. Jadi industri ini punya sifat anti rapuh dalam hal permintaan. Yang rapuh biasanya orang-orang di bawah yang enggak punya bargaining power. Makanya kalau lu mau bikin pesan yang ngena tapi enggak sok bijak, lu bisa bilang gini, masalahnya bukan di industrinya. Masalahnya di posisi loh dalam industri. Karena di dunia nyata kerja keras itu penting, tapi posisi itu penentu. Lo dorong gerobak dari subuh sampai malam. Tapi kalau lo enggak pegang akses, enggak pegang kontrak, enggak pegang titik transfer, lo tetap jadi yang digiling. Ini yang jarang orang ngomongin karena kedengarannya kejam. Tapi ya emang hidup tuh kadang lebih mirip game strategi daripada film motivasi. Film motivasi ngajarin asal usaha pasti berhasil. Game strategi ngajarin asal salah posisi, lo habis walau rajin. Dan sayangnya hidup kita lebih sering kayak game strategi. Terus supaya penonton lo enggak merasa, "Ya udah gua harus masuk bisnis sampah dong, lo perlu rem yang elegan." Bilang, "Ini bukan ajakan, ini pelajaran cara ngelihat dunia." Banyak orang salah fokus ngejar yang kelihatan keren. Padahal yang bikin sistem hidup itu sering yang enggak enak dilihat. Dan kalau lo ngelihat yang gak enak dilihat, lu biasanya bisa ngelihat peluang yang orang lain lewatin. Ini kayak lu ngerti kenapa orang kaya suka beli hal yang orang lain anggap remeh. Gudang, logistik, bahan baku, kontrak, izin. Bukan karena mereka lebih jenius, tapi karena mereka main di lapisan yang orang lain malas sentuh. Nah, akhirnya kita balik ke truk sampah tadi. Bayangin kota bangun pagi, jalanan relatif bersih. Orang bisa kerja, sekolah, jualan, pacaran, putus balikan, bikin konten, debat di kolom komentar, semuanya berjalan. Lu jarang mikir siapa yang bikin kota lo enggak jadi neraka bau. Itu kerja orang yang enggak pernah masuk highlight, yang enggak pernah jadi topik podcast sukses di usia muda. Tapi tanpa mereka, lo enggak punya panggung buat hidup lo yang estetik. Semua kafe estetik bakal kalah sama bau kalau sampah numpuk. Semua mall kinclong bakal kalah sama lalat kalau sistem macet. Semua healing tipis-tipis bakal jadi trauma tebal-tebal. Jadi kalau ada orang masih ngomong, "Ah, bisnis sampah mah bisnis orang miskin." Lu senyum aja. Terus lu tanya pelan-pelan kayak lagi spilty. Oke, kalau memang miskin kenapa setiap hari seluruh kota bayar? Dan lebih nendang lagi kalau lo tambahin dalam ekonomi yang paling mahal itu bukan yang paling cantik. Yang paling mahal itu yang paling enggak bisa lo hindari. Orang bisa tahan enggak beli kopi mahal, tapi enggak bisa tahan hidup di lingkungan bau dan sakit. Jadi, pada akhirnya ee kebersihan itu kebutuhan dasar dan kebutuhan dasar selalu punya harga. Terus loan yang bikin penonton diam sebentar. Coba bayangin sehari aja tanpa sampah diangkut. Bukan sehari tanpa internet, tapi sehari tanpa sampah diangkut. Lo sadar betapa cepatnya peradaban berubah jadi kekacauan. Di situ lu ngerti pekerjaan yang kita anggap rendah itu sebenarnya pekerjaan yang nahan runtuhnya sistem. Dan biasanya yang nahan runtuhnya sistem selalu punya nilai. Tinggal pertanyaannya, nilai itu jatuh ke tangan siapa? Apakah jatuh ke mereka yang paling capek atau jatuh ke mereka yang paling ngerti struktur? Kalau lo hari ini masih ngelihat uang cuma dari yang kinclong, mungkin loet sama estetika. Tapi kalau lu mulai ngelihat uang dari yang wajib, dari yang dibenci, dari yang harus ada, selamat. Lu baru aja naik level dari penonton kehidupan jadi pembaca struktur. Dan di Indonesia, Bro, pembaca struktur itu langkah. Kebanyakan orang maunya shortcut. Padahal dunia nyata itu enggak ngasih shortcut, dia ngasih rute. Dan lucunya rute paling stabil kadang justru rute sampah yang enggak pernah masuk FYP tapi selalu bikin kota bisa hidup. Gaskeun pikirin itu pelan-pelan. Karena kadang yang paling kotor justru yang paling jujur ngasih pelajaran soal uang.