File TXT tidak ditemukan.
Transcript
L6pA4Tq07-I • Memahami Hadist-Hadist Nabi ﷺ Lebih Dekat [ENG-ID SUB] - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/0228_L6pA4Tq07-I.txt
Kind: captions Language: id بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه اللهم صلّ عليه وعلى آله وأصحابه و إخواني Para hadirin dan hadirat, para pemirsa yang dirahmati oleh Allah SWT pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang mengenal lebih dekat Hadits-Hadits Nabi ﷺ Secara umum, agama Islam menjadi spesial di antaranya karena isnad Al-Imam Muhammad bin Sirin, seorang tabi'in, pernah berkata, الإسناد من الدين لولا الإسناد لقال من شاء ما شاء. sebagaimana disebutkan oleh Imam Muslim dalam mukaddimah Shahihnya, bahwasanya isnad (sanad) adalah bagian daripada agama, kalau bukan karena isnad tentu setiap orang bebas mengucapkan apa yang dia sukai Karenanya, yang membedakan antara agama Islam dengan agama yang lain adalah masalah isnad Agama-agama yang lain, agama apa pun, isnad mereka terputus sanad mereka terputus kepada nabinya, atau kepada pendirinya, atau kepada pengusungnya, dan hal tersebut berbeda dengan Islam Islam terjaga, Allah menjaga Islam dengan sanad Ini adalah salah satu bentuk penjagaan Allah yang Allah isyaratkan dalam firman-Nya, إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami yang akan menjaganya Dan kata para ulama, di antara Adz-dzikr, yang dijaga oleh Allah SWT yaitu Al-Qur'an dan juga syarahnya (penjelasannya), yaitu penjagaan terhadap Al-Qur'an mengkonsekuensikan penjagaan terhadap Hadits-Hadits Nabi ﷺ Maka, Allah SWT siapkan bagi umat ini orang-orang hebat, yang mereka memenuhi kriteria untuk bisa menjaga agama ini baik dari sisi ketakwaan yang luar biasa, dan juga dari sisi hafalan yang kuat, dan juga kecerdasan, ...yang dengan perantara merekalah kemudian Allah SWT menjaga agama ini Saya akan menjelaskan tentang hadits... (namun) sebelumnya saya akan beri gambaran tentang sumber-sumber hukum Islam... ...baru kemudian saya akan menjelaskan tentang Hadits-Hadits Nabi ﷺ, yang tentunya secara global, karena untuk mempelajari secara detail butuh waktu yang panjang butuh para pakar dan ahli, dan saya bukanlah orangnya Saya hanya sekedar ingin menyampaikan secara global tentang ilmu hadits, agar kita bisa lebih mengerti istilah-istilah yang disampaikan oleh para ulama tatkala mereka menjelaskan tentang syariat Baik... Sumber hukum Islam yang disepakati, yang bisa kita jelaskan maksudnya, itu bisa terbagi menjadi dua sumber pokok atau primer, kemudian sumber sekunder Sumber pokok ada dua, yaitu Al-Qur'an, kemudian Al-Hadits adapun sumber sekunder diantaranya adalah Al-Ijma', kemudian Qiyas Ijma' maksudnya adalah kesepakatan ulama atas suatu hukum tertentu kemudian Qiyas adalah hukum yang dibangun di atas analogi tehadap dalil yang sudah ada Baik, kita perhatikan di sini, bahwasanya sumber hukum primer yang ada pada Islam adalah Al-Qur'an dan Hadits adapun Ijma' dan Qiyas, (keduanya) kembali kepada sumber hukum primer jadi, kesepakatan ulama terhadap suatu hukum itu adalah hukum yang dibangun di atas Al-Qur'an maupun Hadits Demikian juga Qiyas, membangun suatu hukum yang tidak ada dalilnya, dianalogikan dengan perkara yang sudah ada dalilnya Jadi, semuanya kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits Yang mau kita fokuskan adalah Al-Qur'an dan Hadits Apa bedanya Al-Qur'an dengan Hadits? Al-Qur'an, kalau kita mau gampangkan, yaitu firman Allah SWT adapun Hadits adalah sabda Nabi ﷺ Bedanya, al-Qur'an sampai kepada kita secara mutawatir Mutawatir yaitu yang meriwayatkan sangat banyak sehingga mustahil terjadi kedustaan, atau mustahil mereka sepakat untuk berdusta Baik, jadi Al-Qur'an sampai kepada kita secara mutawatir Gambarannya begini... Allah SWT, kemudian malaikat Jibril, kemudian Nabi ﷺ kemudian dari Nabi, diajarkan kepada Sahabat yang sangat banyak para sahabat banyak sekali Lalu, dari para Sahabat kemudian sampai kebawah, lebih banyak lagi dari para sahabat kemudian menuju kebawah, lebih banyak lagi Jadi, karena begitu banyaknya sahabat yang meriwayatkan, maka kita pastikan bahwasanya ini adalah suatu hal yang mutawatir, karena banyak yang meriwayatkan Oleh karenanya, kalau kita bicara di zaman kita sekarang, misalnya kita berbicara tahun 2020 ini, yang hafal Al-Qur'an sangat banyak, yang punya sanad Al-Qur'an banyak Intinya, Al-Qur'an tidak diragukan lagi akan kebenarannya, sanadnya jelas Lain halnya kalau kita bicara tentang agama lain, tentang Taurat, , maka sanadnya tidak jelas, apalagi pernah hilang, dan macam-macam (masalah lainnya) Sama, Injil juga tidak ada sanadnya dan yang ada hanya Al-Qur'an Adapun Hadits Nabi ﷺ berbeda dengan Al-Qur'an Hadits Nabi secara umum ada dua model, ada hadits yang mutawatir, kemudian ada hadits ahad Apa itu mutawatir? Yaitu sahabat yang meriwayatkan lebih dari sepuluh orang Kalau Hadits ahad, sahabat yang meriwayatkan kurang dari sepuluh orang Adapun Hadits yang mutawatir, maka tidak diragukan akan keshahihannya, karena yang meriwayatkan banyak Contoh, misalnya Hadits tentang mengusap sepatu ketika wudhu, sehingga tidak perlu dibuka hadits ini, mungkin ada sekitar delapan puluh orang sahabat yang meriwayatkan Contoh Hadits tentang telaga Nabi ﷺ, kata Ibnu Hajar, ini yang meriwayatkan sekitar lima puluh sahabat... ...ada yang mengatakan delapan puluh Kata Ibnu Hajar, ada sebagian ulama yang mengatakan delapan puluh sahabat yang meriwayatkannya Contoh (lain) Hadits tentang melihat Allah di akhirat, ini diriwayatkan kurang lebih dua puluh enam sahabat, banyak Jadi, Hadits-Hadits seperti ini namanya Hadits Mutawatir Seperti banyak disebutkan sebagian orang, مما تواتر حديث من كذب ومن بنى لله مسجدا واحتسب kemudian, والحوض والشفاعة kemudian, والحوض Jadi (kata mereka), di antara Hadits Mutawatir seperti, من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار "Barang siapa yang berdusta atas Namaku, maka disiapkan kaplingnya di neraka", Haditsnya mutawatir Hadits "barang siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan baginya istana di surga", Haditsnya juga mutawatir Kemduian, لمسح على الخفين Ini yang tadi kita sebutkan kemudian Hadits tentang telaga dan syafa'at Nabi ﷺ juga banyak yang meriwayatkan, Hadits tentang melihat Allah yang tadi juga mutawatir Tapi, Hadits mutawatir bukan yang mendominasi, yang mendominasi adalah Hadits-Hadits ahad Nah, Hadits ahad ini, karena sahabat yang meriwayatkan kurang dari sepuluh orang, -kalau yang ini sudah pasti shahih- adapun Hadits ahad karena yang meriwayatkan kurang dari sepuluh orang, maka dia terbagi-bagi Secara umum ada namanya Hadits masyhur, ada namanya Hadits aziz, ada namanya Hadits mustafid, dan yang lainnya tapi intinya saya ingin menyampaikan, karena ini yang meriwayatkan kurang dari sepuluh orang, kemudian di bawahnya ada perawi yang bermacam-macam... ...maka dia terbagi menjadi dua Hadits yang diterima, dan Hadits yang ditolak Kenapa ditolak? Karena bermasalah sanadnya, atau bermasalah para perawinya Di sinilah pentingnya para ulama ketika mereka membahas tentang ilmu Hadits, untuk membedakan mana Hadits yang shahih dan mana yang dha'if Baik ini dulu untuk sementara, habis ini saya akan lanjutkan lagi, tolong dihapus! Tapi intinya, ini menunjukkan bahwasanya agama kita adalah agama yang bisa kita pertanggungjawabkan keautentikan sumber-sumbernya dan ini adalah keistimewaan Islam Di antara keistimewaan Islam ada tiga, Al-isnad, kemudian Al-Anshab, dan Al-I'rab dan tidak ada Agama lain yang perhatiannya seperti Islam dari sisi... ...Isnad, Nasab, dan I'rab Adapun yang berkaitan dengan sumber agama adalah berkaitan dengan sanad jadi, sanad inilah yang menjaga keautentikan ajaran Islam Setelah ini, kita akan fokus membahas tentang masalah Hadits Nabi ﷺ Baik, apa itu hadits? Definisi al-Hadits adalah... مَا أُضِيْفُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ، أَوْ فِعْلٍ، أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ وَصْفٍ خلق أو خلق Baik, Hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ... ...baik berupa perkataan atau perbuatan... ...kemudian perbuatan... ...kemudian pembenaran... ...kemudian sifat akhlak Nabi, kemudian sifat fisik Nabi Baik, jadi (hadits adalah) apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ berupa perkataan, dst Jadi, inilah yang disebut dengan Hadits Nabi ﷺ Semua yang disandarkan kepada Nabi berupa Perkataan atau Perbuatan beliau, atau pembenaran beliau ﷺ (disebut hadits) Adapun akhlak dan sifat Nabi di sini adalah tambahan dari sebagian ulama tapi yang kita fokuskan adalah mengenai perkataan, perbuatan, dan pembenaran Perkataan Nabi, yaitu seperti sabda-sabda beliau ﷺ perkataan Nabi maksudnya adalah sabda-sabda Nabi ﷺ Perbuatan Nabi, yaitu sikap-sikap Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat Pembenaran yaitu sesuatu yang dilakukan di hadapan Nabi, dan Nabi membenarkan, atau khabar yang sampai kepada Nabi dan Nabi tidak menyalahkan Contoh sabda Nabi ﷺ banyak, seperti إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ "Amal tergantung niatnya" طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim Sikap-sikap Nabi ﷺ, misalkan tentang akhlak Nabi ﷺ, akhlak terhadap istrinya, atau sikap beliau ketika di rumah, perbuatan sehari-hari beliau, atau seperti shalat Nabi ﷺ Rasulullah ﷺ shalat, maka sahabat meriwayatkan (tata caranya), itu namanya sikap atau perbuatan-perbuatan Nabi Adapun pembenaran, seperti ketika Khalid bin Walid makan dhab dihadapan Nabi ﷺ dan Nabi tidak melarang Ketika itu Khalid berkata, أ حرام هو يا رسول الله؟ Engkau tidak makan ya Rasulullah, apakah ini haram? -Kata Khalid- Kata Rasulullah ﷺ, "Tidak" Rasulullah tidak melarang dia makan dhab لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ Aku tidak mendapati dhab di kampungku, maka aku tidak bisa makan Contoh juga seperti, كنا نعزل والقرآن ينزل kata para sahabat, "Kami dahulu melakukan 'azl" 'Azl yaitu berhubungan badan, kemudian mengeluarkan air mani di luar rahim, di luar kemaluan wanita Kabar ini pun sampai kepada Nabi, namun Nabi tidak melarang, Nabi membiarkan Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut adalah perkara yang diakui dan boleh, karena Nabi mengetahui dan Nabi tidak melarang Seperti juga ketika hari Id (raya), kemudian orang-orang Habasyah bermain perang-perangan di Masjid Nabawi, Nabi lihat, namun Nabi tidak melarang Contoh seperti dhuff yang dibunyikna ketika Id (hari raya) atau ada nyanyian ketika hari Id yang dinyanyikan oleh dua orang budak wanita, Nabi membiarkan, Nabi tidak melarang Ini semua namanya pembenaran, dan itu dijadikan dalil Karena kalau dilarang, maka Nabi pasti menegur Nabi tidak akan menunda, pasti Nabi menegur (kalau terlarang) Namun ketika Nabi tidak menegur, berarti tidak jadi masalah Contoh lagi, seperti para sahabat ketika mereka berperang, kemudian darah kena baju mereka, dan mereka shalat dengan baju yang penuh darah tersebut namun Nabi ﷺ tidak menyuruh mereka mengganti dengan baju yang baru Ini menunjukkan bahwa hal tersebut tidak jadi masalah Tidak ada lafal pembolehan secara khusus, tapi Nabi membiarkan hal tersebut, maka ketika Nabi membiarkan hal tersebut, itu menunjukkan pembenaran Baik, kita ingin sampaikan poin di sini Definisi hadits, hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ Ingat, yaitu apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ, maka selain yang disandarkan kepada Nabi bukanlah hadits Contoh, perkataan sahabat atau perbuatan sahabat Itu namanya Al-Mauquf Ada yang bilang hadits mauquf tapi maksudnya dia adalah Al-Mauquf الموقوف على الصحابة istilahnya adalah Mauquf. Jika orang berkatam "Oh ini mauquf, bukan Hadits", artinya itu perkataan dan perbuatan sahabat Contoh lagi misalnya para salaf yang berada di bawah para sahabat Orang menyebutnya dengan istilah Al-Atsar, yaitu riwayat dari para sahabat Mereka tidak mengatakan hadits secara khusus, karena itu bukan disandarkan kepada Nabi ﷺ Karenanya, dari sini kita tahu bedanya antara Ahlussunnah dengan Syi'ah, Syi'ah, perkataan para imam mereka kedudukannya sama seperti hadits, yaitu sama-sama hujah, sama-sama merupakan sumber hukum Kenapa bisa demikian? Karena para imam yang dua belas juga maksum sebagaimana Rasulullah ﷺ (kata mereka) Oleh karenya, mereka punya buku-buku Hadits tersendiri, yang berisi perkataan dan perbuatan para imam Contoh buku-buku mereka seperti Al-Kafii Li Al-Kullaini, kalau tidak salah ini dicetak tujuh jilid, Al-Kafi ini tujuh jilid Contohnya lagi, Bihar Al-Anwar Li Al-Majlisi Ini isinya bukan hanya Hadits-Hadits Nabi, tapi juga isinya Hadits-Hadits imam seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Ja'far Ash-Shadiq, Imam Muhammad Al-Baqir... ...yang mereka masukkan dalam buku-buku tersebut Abu Abdillah maksudnya Ja'far Ash-Shadiq.. (dalam buku mereka) "Berkata Abu Abdillah" Sudah seperti hadits Dari sini kita tahu perbedaan mendasar antara kita dengan Syi'ah adalah masalah hadits Kalau hadits kita (Ahlussunnah) hanya Hadits Nabi ﷺ, sedangkan orang-orang Syi'ah ada Hadits-Hadits imam sehingga Hadits-Hadits tersebut dijadikan sumber hukum juga oleh mereka (Syi'ah), sama seperti Nabi karena sama-sama illahnya, yaitu sama-sama ma'shum (kata mereka) Nabi ma'shum, para imam ma'shum, maka mereka menjadikan itu sebagai sumber hukum Inilah secara umum makna dari pada hadits, ada Hadits berupa perkataan, ada Hadits berupa perbuatan, ada Hadits berupa taqriri, yaitu pembenaran Nabi ﷺ Bagaimana mengetahui hadits itu shahih atau tidak? (sebelumnya) saya ulangi lagi tentang pembagian Hadits Tadi sudah saya singgung dan saya ulangi lagi Pembangian hadits: Ada yang mutawatir Mutawatir terbagi menjadi dua, ada yang lafdzi dan ada yang maknawi Lafdzi itu semua sahabat meriwayatkan dengan lafal yang sama Yang maknawi, maknawi itu lafalnya beda-beda tapi berputar pada satu makna Contoh ini seperti Hadits -Hadits tentang azab kubur Hadits-Hadits tentang azab kubur ini berbeda-beda lafalnya, ada tentang berlindung dari azab kubur, ada tentang kejadian di azab kubur, ada tentang malaikat Munkar dan Nakir, tapi semuanya berkisah tentang azab kubur dan sahabat banyak yang meriwayatkan, tapi lafalnya berdeda-beda, tetapi menuju pada satu makna yang sama, maka disebut dengan Hadits mutawatir maknawi, karena yang meriwayatkan lebih dari sepuluh sahabat Adapun lafdzi, tadi kita sebutkan bahwa lafalnya sama persis, dan yang meriwayatkan banyak orang yaitu semua meriwayatkan dengan lafal yang sama Kita ingin menuju pada pembagian Hadits yang shahih dan yang tidak shahih Baik, yang kedua adalah Hadits ahad Al-Ahad Ini sudah disebutkan, bahwa perawinya kurang dari sepuluh orang dari sini nanti ada yang namanya Hadits gharib Gharib itu artinya satu sahabat yang meriwayatkan Ada juga Al-Aziz, ada Al-Masyhur, ada Al-Mustafid, yang intinya ini semua adalah istilah-istilah Mungkin sahabat yang meriwayatkannya hanya satu, dua, tiga, atau lebih daripada itu Intinya yang meriwayatkan kurang dari sepuluh sahabat Ini bisa kita klasifikasikan menjadi dua sebagaimana yang tadi sudah saya singgung, yaitu Al-Makbul Yaitu yang diterima ini Al-Mardud Yaiut yang ditolak Al-Makbul kita bisa bagi lagi... Ini yang diterima, dan ini yang ditolak Al-Makbul, ini kita bisa bagi menjadi dua: ada namanya Ash-Shahih dan ada namanya Al-Hasan Apa perbedaan shahih dan hasan? yaitu hanya masalah perbedaan perawinya Kalau shahih perawinya adalah tsiqah, kalau hasan perawinya adalah shaduq shaduq ini derajatnya (kredibilitas) perawi lebih rendah di bawah yang tsiqah, tetapi sama-sama diterima periwayatannya mungkin satu ada yang sangat saleh, yang ini agak kurang saleh sedikit, atau satu hafalannya sangat kuat, yang satu juga hafalannya benar tapi tidak sekuat yang satunya yang satu namanya shahih, yang satu namanya hasan Baik, Al-Hasan kita bisa bagi dua: Ada namanya Al-Hasan lidzatihi, dan Al-Hasan lighairihi Al-Hasan lidzatihi di sini secara asalnya dia hasan Jadi saya ulangi, yang Al-Hasan perawinya disebut shaduq, yaitu jujur kalau yang ini perawinya disebut tsiqah kalau yang ini shaduq Al-Hasan lidzatihi secara asalnya dia hasan adapun hasan lighairihi asalnya dia dha'if, namun datang dalam banyak jalur yang saling menguatkan, sehingga menjadi hasan Saya contohkan, Hadits-Hadits yang orang bilang hasan lighairihi banyak, bahkan ada khilaf juga di antara para ulama tapi contoh seperti Hadits tentang shalat tasbih Shalat tasbih, semua Haditsnya dha'if, kemudian munurut Syekh Al-Albani jadi naik derajatnya, karena riwayatnya banyak contohnya shalat tasbih Contohnya lagi masalah shalat syuruq, itu riwayatnya dari beberapa sahabat semuanya dha'if, menurut Syekh Al-Albani, Syekh Bin Baz, Syekh Utsaimin, karena perawinya banyak, maka naik jadi derajat hadits yang hasan Tapi sebenarnya kalau kita meneliti satu persatu, dari jalur ini dha'if, jalur ini dha'if, jalur ini dha'if, jalur ini dha'if tetapi karena dha'if, plus dha'if, plus dha'if, plus dha'if, jadi kuat, kemudian menjadi hasan Contoh lagi misalnya... Banyak sih kalau kita buka, tapi saya tidak hafal, tapi initnya banyak sekali contoh-contoh Hadits yang asalnya dha'if menjadi hasan Contoh seperti, كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ ببسملة فَهُوَ أَبْتَرُ Segala perkara penting yang tidak dibuka dengan bismillah, maka dia tertolak Ini juga Haditsnya dha'if, tapi derajatnya naik jadi hasan Sekarang shahih, yang juga kita bisa bagi jadi dua: Ada shahih lidzatihi, ada shahih lighairihi Perkaranya sama, Shahih lidzatihi secara asal dia shahih, perawinya juga secara asal adalah tsiqah Adapun shahih lighairihi asalnya hasan atau dha'if, namun karena banyak jalur yang saling menguatkan, maka jadi shahih Baik, ini berkaitan dengan Hadits yang diterima Adapun Hadits yang ditolak... Jadi ini istilah-istilah ulama Ketika disebutkan shahih lighairihi berarti asalnya dia tidak shahih, asalnya mungkin dia hasan atau dia dha'if, tapi begitu banyak yang meriwayatkan, sehingga naik menjadi shahih Berbeda dengan shahih lidzatihi, asalnya memang dia shahih Contoh Hadits shahih lidzatihi seperti Hadits Bukhari-Muslim, Hadits Bukhari-Muslim rata-rata Hadits shahih lidzatihi Shahih lighairihi misalnya ada di Tirmidzi, Abi Daud Hadits-Hadits hasan juga banyak di sunan Abi Daud, sunan Tirmidzi Adapun qismul mardud, atau yang ditolak, kita bisa bagi jadi dua: Pertama, yang ada asalnya Lalu ini terbagi menjadi dua: Yaitu dha'if dan dha'if jiddan (sangat lemah) Kedua, yang tidak ada asalnya ini dibagi menjadi... tidak ada asalnya... istilahnya لا أصل له Ini berarti Hadits palsu, tidak ada asalnya Jadi, ada dha'if jiddan, ada juga hadits Al-Maudhu' (hadits palsu) Kenapa disebut hadits palsu? Karena dalam sanadnya ada perawi pendusta kalau ini tanpa sanad atau ini maksudnya yang ada sanadnya, mohon maaf Ini palsu, dalam sanadnya ada perawi pendusta Nanti juga ada istilah Hadits bathil, Hadits bathil itu maksudnya perawinya salah jadi ia bukan sengaja berdusta, tapi mungkin dia salah sehingga ucapan dia bathil, bertentangan dengan yang lainnya, karena salah dalam berucap Adapun Hadits palsu ini karena memang dia sengaja berdusta, perawinya ini bikin Hadits palsu, perawi ini bikin Hadits-Hadits palsu karena ada kepentingan-kepentingan yang dia inginkan Sebab-sebabnya banyak, di antaranya karena fanatik terhadap madzhab, atau terkadang dia memiliki penyimpangan dalam akidah sehingga dia menguatkan akidah dia dengan Hadits yang palsu, atau bisa jadi karena fanatik madzhab sehingga dia menjelek-jelekkan madzhab yang lain, dia mendukung madzhabnya sehingga dia membuat Hadits palsu Atau tadi, ada penyimpangan dalam akidah sehingga dia mendukung akidahnya dengan membuat Hadits palsu mungkin dia Murji'ah, Syi'ah, atau yang lainnya Misalnya juga karena kepentingan duniawi, karena ada masalah perdagangan, misalnya dia bikin Hadits tentang terong atau yang lainnya karena dia lagi jualan, ini adalah Hadits palsu kenapa ada yang dha'if dan dha'if jiddan? Apa sebab-sebab dha'if? Ini yang perlu dibahas! Baik, kalau sudah kita lanjut lagi insya Allah ini saya kasih secara global saja tentang pembagian Hadits, sehingga kita tahu bahwa Hadits itu bermacam-macam, ada Hadits yang mutawatir dan ada juga Hadits yang ahad Hadits ahad juga macam-macam, ada yang diterima dan ada yang ditolak Hadits yang yang tidak ada asalnya seperti Hadits tentang nur Muhammad, ini tidak ada sanadnya sama sekali Jadi, kita bisa lihat dalam buku khusus tentang hadits-hadits palsu, seperti الموضوعات karya Ibnul Jauzi Baik, dari sini ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah SWT, kita tahu bahwasanya untuk mengenal hadits itu shahih atau dha'if bukan perkara yang mudah, ini butuh ilmu tersendiri ada ahlinya, ada pakar-pakarnya, yang mereka tenggelam dalam ilmu ini puluhan tahun, sehingga mereka kalau berbicara tentang perawi, bicara tentang sanad, merekalah pakarnya Tidak seperti kita yang hanya sekedar mengetahui secara global Tapi ada ulama-ulama terkenal yang memang berkecimpung dalam ilmu Hadits, dari dulu sampai zaman sekarang Seperti dimasa kita ada syaikh Al-Albani rahimahullahu ta'ala yang telah meneliti puluhan ribu hadits, kemudian membuat buku, berusaha menjelaskan hadits shahih atau hadits dha'if Jadi, ilmu ini tidak mudah, ada ulama khusus yang mempelajari hal ini dan ini butuh ketelatenan, butuh waktu, hafalan yang kuat, kecerdasan, dan banyak hal Saya belum menemukan seorang di zaman kita seperti syaikh Al-Albani rahimahullah Dan dia tidak ma'sum, dia punya kesalahan-kesalahan, sehingga dikritik oleh sebagian ulama namun itu sangat sedikit dibandingkan dengan lautan kebaikan beliau Jadi, kita tidak fanatik terhadap Syekh Al-Albani rahimahullah, tapi kita katakan bahwasanya beliau adalah seorang alim yang diakui oleh kawan dan lawan Baik, sekarang mungkin ada pertanyaan "Ustadz, bagaimana mengetahui Hadits shahih dan Hadits dha'if?" Saya pun juga hanya bisa menjelaskan secara global yah Baik, sekarang kita ke pembahasan "Apa itu Hadits shahih?" Gampangnya, hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung, atau saya ganti "syarat" yaitu Hadits yang memenuhi syarat-syarat berikut: Yang pertama, seluruh perawinya tsiqah, seluruh perawinya tsiqah dari awal sampai akhir itu yang pertama Yang kedua, sanadnya muttashil, yaitu bersambung dari awal sampai akhir Yang ketiga, tidak syadz Kemudian, tidak ada 'illah qadihah illah atau penyakit yang tersembunyi ini syarat sederhana kalau kita mau mengetahui Haditsnya shahih, yaitu harus memenuhi persyaratan ini, satu, dua, tiga, empat Baik, ketika kita berbicara tentang perawinya, maka kita harus cek perawinya, apakah tsiqah dari awal sampai akhir atau tidak? Misalnya kita kasih gambaran... Nabi ﷺ, kemudian sahabat (sohabiy), kemudian fulan (tabi'in), kemudian fulan, kemudian misalnya fulan, kemudian Imam At-Tirmidzi Ini maksudnya dalam Sunan At- Tirmidzi Maka kita harus cek Kalau sahabat tidak usah dicek, sudah jelas, fulan setelah sahabat (tabi'in), tsiqah atau tidak? Di cek dulu! Perawi berikutnya, tsiqah atau tidak? dicek dulu! perawi berikutnya, tsiqah atau tidak? Dicek dulu! Gurunya Tirmidzi tsiqah atau tidak? Dicek dulu! Jadi yang pertama seperti itu Setelah kita cek ternyata tsiqah, yang ini tsiqah, lalu ada satu yang dha'if maka selesai, Haditsnya jadi dha'if jika ini tsiqah, ini tsiqah, ini tsiqah, ini ternyata tabi'innya dha'if, maka selesai, berarti Haditsnya dha'if Ini tahapan yang pertama Jadi, tahapan pertama adalah perawinya harus tsiqah tahapan pertama adalah mengecek perawinya, apakah tsiqah seluruhnya atau tidak? Bagaimana cara mengeceknya? Mengecek di buku-buku Jarh wa At-ta'dil, buku-buku biografi Dan itu banyak, misalnya ada buku Tahdzibul kamal, tentang perawi-perawi, atau Tahdzib At-Tahdzib, banyak buku-buku perawi Bahkan ada buku tentang khusus perawi-perawi dha'if, misalnya seperti Mizanul I'tidal, Lisanul mizan, kemudian juga ada Al-Majruhin, ada juga kitab Tsiqat Li Ibnu Hibban Perawinya dicek, dan ini butuh kerajinan, ketelatenan, karena dicek satu-satu Apakah sudah selesai sampai di situ? Belum, yang kedua dicek Apakah seluruhnya tersambung atau tidak? Ini pekerjaan yang kedua, karena syarat yang kedua sanadnya harus muttashil, bersambung dari awal sampai akhir Cara mengeceknya bagaimana? Caranya, cari tahu apakah si Fulan ketemu dengan Fulan ini atau tidak? Itu yang pertama Jadi cara mengeceknya, pertama: Dicek apakah perawi yang di bawah ketemu dengan yang di atas atau tidak? Ini yang pertama Kalau ketemu, langkah kedua, apakah perawi tersebut meriwayatkan hadits atau tidak? Bahkan pengecekan yang ketiga, apakah benar hadiist ini dia dengar langsung dan ia riwayatkan darinya? Ini di cek karena bisa jadi si fulan ini satu zaman dengan si fulan yang di atas, bisa jadi Ternyata hanya satu zaman, tapi tidak pernah ketemu, kalau tidak pernah ketemu, maka tidak tersambung misal satunya tinggal di Bandung, satunya tinggal di Papua, tidak pernah bersambung, padahal satu zaman Dicek tanggal lahirnya, masa hidupnya sama, wafatnya, sehingga kita tahu bahwa dia satu zaman Lalu apakah dia pernah ketemu atau tidak? Yang ini pernah ke Bashrah tidak? Karena mungkin satunya di Basrah dan yang satunya di Madinah, pernah ketemu tidak? Setelah dicek ternyata pernah ketemu, Maka kemudian apakah dia pernah meriwayatkan Hadits dari si fulan atau tidak? Dicek lagi Kemudian untuk Hadits ini, apakah dia meriwayatkan atau tidak? Jadi banyak pengecekan untuk mengetahui bersambung atau tidaknya Sama halnya dicek terlebih dahulu apakah ini gurunya atau bukan? Maka lihat daftar gurunya, ada si fulan atau tidak? Kalau ternyata gurunya yang namanya Abdullah dari Muhammad, misalnya, ternyata Muhammad ada lima, Muhammad yang mana? Maka dicek lagi Maksud saya, perkara ini tidak mudah Ini harus sambung semua, dari sini ke sini harus tersambung, dari sini ke sini harus tersambung, dari sini ke sini harus tersambung semuanya harus tersambung, itu yang kedua Tahap yang ketiga, kalau ternyata sudah dicek dan semuanya tsiqah, kemudian semuanya nyambung, dan tidak ada yang dijatuhkan di tengah-tengah, maka dicek lagi, apakah syadz atau tidak? Mohon maaf... sebelum syadz, harusnya di cek 'illahnya dulu Atau kalau tidak juga tidak mengapa, sama saja jadi, dicek apakah syadz atau tidak? Apa itu syadz? Yaitu apakah dia menyelisihi? Dan apakah ada riwayat lain yang lebih tsiqah lebih daripada riwayat ini? Itulah namanya syadz Kalau Hadits syadz itu Hadits yang perawinnya tsiqah, tapi ternyata dia menyelisihi perawi yang lebih tsiqah dari pada dia itu namanya Hadits syadz, maka harus dicek lagi Kalau ternyata lolos semua, masih ada pengecekan terakhir Yaitu apakah ada illah tersembunyi atau tidak? Dan ini yang paling sulit! Ini yang kelihatannya shahih, ternyata ada penyakitnya Dan ini yang paling sulit dalam pengecekan Maka, ini yang perlu di cek dalam buku-buku illah oleh ahli-ahlinya, seperti 'Illah Ad-Daruquthni, 'Illah At-Tirmidzi, 'Illah Ibnu Abi Hatim, dan yang lainnya sehingga baru Hadits tersebut dikatakan tsiqah atau shahih Kalau tidak memenuhi persyaratan ini maka tidak dikatakan shahih Contoh, di sini ternyata ada perawi yang dha'if... atau contoh ternyata ada perawi yang tidak bertemu, maka ada satu yang gugur contoh ternyata syadz, kemudian ada 'illahnya, maka Hadits tersebut batal menjadi Hadits shahih Sekarang saya kasih contoh! Contohnya banyak, kita tentu tidak bisa menjelaskan semuanya Ada istilah-istilah "Sanad terputus" Tapi saya rasa cukup di sini saja ya ikhwan, karena kalau kita membahas semuanya, maka jadinya kita belajar ilmu musthalah Hadits nanti ya dan itu tidak sempat, terlalu panjang dan akan jadi lebih rumit, saya khawatir antum tidak bisa paham tentang apa yang saya sampaikan Tapi inilah sekilas ikhwan dan akhwat... Kalau kita bicara tentang sebab-sebab kenapa Hadits tersebut lemah, maka banyak lagi sebabnya banyak sebab terputusnya, sebab perawinya, atau sanadnya yang bermasalah, atau ternyata syadz, atau ternyata ada 'illahnya, masing-masing semua ada pembahasannya yang juga panjang Tapi untuk sementara mungkin sampai di sini saja, bila nanti kalau ada kesempatan, kita bisa lanjutkan tentang hal ini, wallahu a'lam bishshowab Tentunya, kalau ada kesempatan kita akan bahas tentang macam-macam atau model-model Hadits dha'if tentang apa itu Hadits mursal, apa itu Hadits mudallas, apa itu Hadits mu'allaq, apa itu Hadits mauquf, apa itu Hadits munqathi' apa itu Hadits mu'dhal, apa itu Hadits mudraj, nanti kita bahas pada kesempatan berikutnya, karena waktu kita tidak ada Insya Allah kesempatan lain kita akan menjelaskan, namun tentu tidak detail hanya seperti ini, sebagai gambaran bagi kita tentang apa itu Hadits-Hadits yang dha'if tadi wallahu a'lam bishshowab Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf وَبِاللهِ التَّوفِيقْ وَالهِدَايَةْ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته