PEMILU 2019 ! 894 ORANG PETUGAS KPPS TEW4S MENDADAK SETELAH PEMILIHAN
8LWaBhWKZP4 • 2024-02-04
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id di tengah meriahnya kontestasi politik karena diadakannya pemilu di Indonesia terjadilah sebuah tragedi yang benar-benar memilukan yaitu ada sebanyak 894 petugas KPPS meninggal dunia secara serentak di dalam waktu yang berdekatan pasca Pemilu diadakan yo geng tekan tombol subscribe geng e Yo what's good Welcome back to kamar J [Musik] geng geng Oke gimana nih geng menjelang pemilu dan sekarang pesta demokrasinya lagi gila-gilaan banget ya di Indonesia Ya ada fenomena-fenomena yang menyenangkan ada juga yang mengerikan kayak baru-baru ini kan ada demo tuh gede banget tuh demo apaan Gua enggak tahu dah pokoknya demo dan semoga ya pemilu di Indonesia berjalan dengan damai jadi kita bisa melangsungkan hidup kita dengan tentram dan bahagia enggak ada gunanya berantem-berantem beda pilihan itu biasa dan seperti yang kita tahu pemilu di Indonesia nanti akan diadakan pada tanggal 14 Februari tahun 2024 yang mana itu artinya pemilu kita akan diadakan bertepatan dengan hari valentine alias hari kasih sayang gitu ya Nah semoga ya pemilunya penuh dengan kasih sayang juga terus berbicara tentang pemilu ada hal yang sedang viral-viralnya juga sekarang yang ya menjadi lelucon yaitu kelompok pen selenggara pemungutan suara atau yang disingkat dengan KPPS Nah sekarang KPPS nih malah jadi Memes banyak banget orang yang bikin konten tentang petugas KPPS kalau kalian lihat di tiktok itu banyak banget tapi konteksnya bukan untuk menghina tapi lebih kepada memparodikan seolah-olah menjadi petugas KPPS Itu adalah sebuah pencapaian seseorang yang sudah dia perjuangkan sepanjang hidupnya Ya udah kayak orang lolos kepolisian lolos TNI atau lolos PNS gitu jadi diparodikan seperti itu yang paling kocak ada adalah ada satu konten kalian bisa cek nih tiba-tiba mantannya nge-chat dia dengan kalimat kangen nah lalu dia ngebalas selama ini Ketika aku pengangguran ke mana aja sekarang aku udah jadi petugas KPPS kamu balik lagi kat ya memang sih menjadi seorang petugas KPPS ya sama dengan mengabdi kepada negara tetapi bukan berarti semerta-merta dia jadi abdi negara yang setara dengan polisi atau TNI atau sederajatnya lah gitu ya Ya beda menjadi petugas KPPS itu kerjanya 5 tahun sekali digajinya juga 5 tahun sekali Enggak setiap bulan gitu ya tapi tahukah kalian geng di balik lelucon-lelucon yang sedang ramai tentang KPPS saat ini Pernah Ada sebuah kasus kelam sebuah pemberitaan yang menyayat hati tentang tragedi meninggalnya ratusan petugas KPPS di dalam sejarah pemilu Indonesia dan itu belum lama terjadi sekarang gua mau ngajak Kalian nih untuk ngebahas tragedi tersebut Nah langsung aja kita bahas di Permisi peristiwa misteri dari berbagai [Musik] sisi [Musik] oke di sini nanti kita akan membahas dua tragedi sebenarnya tragedi pertama kita akan membahas soal meninggalnya ratusan petugas KPPS pada pemilu tahun 2019 Nah setelah itu nanti kita akan bercerita tentang 40 petugas KPPS yang keracunan di Cilacap Nah jadi kita bahas dulu topik yang pertama jadi geng pada tahun 2019 di tengah meriahnya kontestasi politik karena diadakannya pemilu di Indonesia terjadilah sebuah tragedi yang benar-benar memilukan yaitu ada sebanyak 894 petugas KPPS meninggal dunia secara serentak di dalam waktu yang berdekatan pasca Pemilu diadakan selain 894 yang meninggal sebenarnya itu ada sekitar 5175 petugas yang mengalami sakit nah di saat itu menurut keterangan ketua KPU saat itu yaitu Pak Arif Budiman kalau Kejadian ini dikarenakan gara-gara beban kerja pada pemilu tahun 2019 cukup besar sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kesehatan para petugas KPPS ini jadi menurun dan meninggal dunia tapi kok bisa apa triggernya kok bisa meninggalnya segitu banyak udah kaya bencana alam dan meninggalnya adalah para petugas yang dianggap menerima tugas pekerjaan yang berlebih sehingga mereka tidak kuat dan berakhir sakit serta meninggal di tengah-tengah kebingungan ini sebenarnya banyak isu yang beredar cuman di saat itu memang pemberitaannya tidak dilanjutkan jadi geng kasus ini sempat hangat dibicarakan Yang mana Banyak masyarakat menciptakan asumsi-asumsi liar tentang tragedi ini salah satunya adalah ada yang menuduh kalau ini gara-gara diracun nah tapi tunggu dulu itu belum tentu 100% benar Nah walaupun sebenarnya asumsi ini tersebar luas banyak dibicara akan di media-media di saat itu sehingga hal ini membuat Sebagian besar orang asumsi tersebut atau berita tersebut jadilah tuh banyak yang percaya Oh iya berarti ini diracun nih petugas kpps-nya Wah parah nih Ya kurang lebih seperti itulah komentar netizen pada saat itu Hal ini disebabkan karena jumlah korban yang banyak dan meninggal di waktu yang berdekatan seperti yang gua katakan sebelumnya dan Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan enggak mungkin gara-gara capek meninggalnya itu bebarengan kayak gitu dalam waktu yang berdekatan dan menurut netizen yang bisa melakukan hal seperti ini adalah racun dan fenomena ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan sehingga ketika itu ada urgensi untuk menyelidiki Apa faktor sebenarnya dari meninggalnya para anggota KPPS ini dan Apakah benar isu yang diciptakan oleh masyarakat asumsi liar yang diciptakan oleh para netizen mengenai para petugas ini yang katanya diracun nah lalu Universitas Gajah Mada atau UGM langsung melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu penyebab pasti dari kematian para anggota KPPS dengan studi kasus di Jogja penelitian ini dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau visi pool lalu melibatkan juga fakultas kedokteran kesehatan masyarakat dan keperawatan lalu Fakultas Psikologi dan juga fakultas geografi berdasarkan hasil dari penelitian tersebut dikatakan kalau ternyata anggota KPPS pada tahun 2019 yang meninggal itu semuanya rata-rata berjenis kelamin laki-laki dengan rentan umur Mul mulai dari 46 sampai dengan 47 tahun katanya nah gimana tuh Menurut kalian 46 sampai 47 termasuk muda atau sudah rentah coba deh kalian yang menilai sendiri mayoritas dari petugas ini dikatakan memiliki penyakit jantung katanya dan juga mereka rata-rata perokok perokok berat gitu Dan dari hasil penelitian pihak UGM Ini menghasilkan jawaban kalau semua petugas yang meninggal dunia atau jatuh sakit itu merupakan kejadian yang terjadi secara natural dan tidak adanya indikasi kesengajaan indikasi kekerasan atau hal-hal yang dianggap tidak wajar Nah jadi menurut mereka ini semua alami tapi tetap aja di saat itu masyarakat enggak percaya geng masyarakat tetap kekeh mengatakan kalau itu diracun katanya ya demi kepentingan politik tapi tidak ada satuun orang yang bisa membuktikan itu nah lalu kejadian meninggalnya anggota KPPS ini juga disoroti oleh Komnas HAM yang mana komisioner Komnas HAM di saat itu Bern nama Pramono ubaid Tantowi mengatakan kalau ada tiga faktor mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi nah dikatakanlah faktor pertama karena adanya faktor komorbid faktor komorbid ini menurut keterangannya gitu ya ini berhubungan dengan riwayat penyakit dari para anggota seperti penyakit jantung adanya darah tinggi dan juga stroke yang bisa meningkatkan resiko kematian nah lalu Selain itu menurut ketua Departemen ilmu kedokteran Komunitas dari FKUI yaitu Retno Asri wirdani mengatakan kalau kasus kematian dari segi individu karena banyaknya petugas KPPS yang berusia di atas 60 tahun nah ini agak sedikit membingungkan memang kalau kita lihat dari Hasil studi kasusnya UGM dengan mengambil sampel KPPS Jogja gitu ya dikatakan umurnya 46 sampai dengan 47 ya kan nah namun secara keseluruhan atau seluruh Indonesia dikatakan mayoritasnya justru berumur di atas 60 tahun nah sebenarnya di saat itu masyarakat masih belum percaya ya karena yang mereka saksikan rata-rata petugas dari KPPS ini itu enggak ada yang kelihatan tua-tua banget gitu rata-rata Yang tua-tua ya cuma sebagai pemilih atau penyoblos bukan petugas nah namun dari keterangan Retno Asri werdani dikatakan kondisi psikologis juga mempengaruhi kondisi kesehatan seperti stres dan juga cemas nah lalu yang kedua karena adanya manajemen resiko yang lemah terutama pada beban kerja dan minimnya kualitas pemeriksaan kesehatan bagi anggota KPPS Nah katanya kayak gitu nah lalu Pemilu tahun 2019 itu ada sebanyak lima surat suara yang berbeda sementara itu petugas KPPS harus menyelesaikan perhitungan suara itu di hari itu juga paling telat 12 jam setelah pemungutan selesai Wah gila ngejar tayang ngejar waktu banget jadi bisa dikatakan dalam bekerja mereka tidak memiliki jeda sama sekali yang mana mereka Langsung bekerja keras selesai kita memilih dan langsung langsung melakukan perhitungan suara di hari itu juga sementara kondisinya untuk menghitung surat suara itu membutuhkan waktu yang enggak sebentar bayangkan aja satu orang harus mencoblos 5 surat Nah kalau di TPS itu ada daftar pemilih tetap sebanyak 100 orang maka ada 500 surat yang harus dihitung oleh para petugas KPPS ini nah lalu Selain itu yang paling beresikonya adalah pihak-pihak medis seperti Kemenkes dan juga Dinkes tidak dilibatkan dalam setiap kegiatan Bimtek yang dihadiri oleh anggota KP PPS jadi ini sangat beresiko untuk keselamatan mereka dan ketika mereka berada di lapangan di lokasi pemilihan durasi kerja mereka bisa saja secara tiba-tiba berubah ya Tergantung apapun faktornya seperti misalkan faktor karena logistik atau Pengiriman data yang belum sesuai dan juga hal-hal lainnya sehingga petugas KPPS ini hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat nah jadi itu dianggap menjadi salah satu faktor mengapa mereka akhirnya kelelahan dan meninggal dunia nah Lalu ada faktor terakhir yang paling banyak disangkakan oleh masyarakat atas Kejadian ini yang mana faktor ini dikatakan adalah faktor yang paling kuat yang menjadi alasan kenapa banyaknya korban jiwa yaitu faktor beban kerja yang tidak manusiawi menurut Pramono beban kerja yang dijalani oleh petugas KPPS sangat tinggi dan durasi kerjanya itu panjang yaitu sampai 48 jam tetapi harus menyelesaikan dalam waktu yang terhitung singkat jadinya mereka itu kerja tanpa henti dimulai dari persiapan pendirian TPS sampai dengan penghitungan hasil surat suara nah walaupun bekerja selama 48 jam dikatakan honornya itu enggak sepadan dengan lelahnya pekerjaan mereka yang dianggap begitu banyak karena dari informasi yang gua dapatkan nih geng ya petugas KPPS pada tahun 2019 itu hanya mendapatkan honor sebanyak 500.000 doang dalam sehari bekerja berbeda banget ya dengan petugas KPPS yang sekarang kabarnya sih honor yang didapat itu jauh lebih tinggi yaitu mulai dari R juta sampai dengan Rp2 juta jadi bisa dibayangkan aja tuh ya jadi petugas KPPS di tahun 2019 dengan tugas yang begitu banyak hanya dibayar r00.000 nah belum lagi menjadi seorang anggota KPPS itu tidak mendapatkan perlindungan berupa pemenuhan hak kesehatan dan kesejahteraan dari KPU Jadi 500.000 yang mereka dapatkan Ya udah segitu-gitunya gitu enggak ada tambahan apapun kecuali mungkin ada konsumsi yang seadanya ketika mereka bertugas di TPS lalu sebelumnya kita sempat ngebahas tentang faktor penyakit komorbit yang digadang-gadang menjadi alasan utama Kenapa banyak yang meninggal nah tapi ini ada sebuah pengakuan dari salah satu istri petugas KPPS di tahun 2019 itu namanya itu adalah Mimin Sumarni dia ini merupakan istri dari ver Yunus yang bertugas sebagai KPPS Mimin ini mengatakan kalau suaminya tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit sebelum dia meninggal pasnya jadi petugas KPPS Feri di saat itu umurnya juga masih terbilang ya cukup muda untuk seorang laki-laki yaitu 45 tahun dari riwayat sakit yang dimiliki oleh Ferry dikatakan oleh istrinya Dia cuma punya riwayat sakit gigi gara-gara giginya bolong itu doang gitu dan itu bukan sebuah hal yang menurut dia fatal banget jadi menurut Mimin kalau suaminya ini tidak mungkin meninggal karena penyakit bawaan ya Seperti penjelasan yang diberikan baik dari pihak UGM maupun pihak komnashham yang mengatakan ya para petugas yang meninggal adalah petugas-petugas yang memiliki penyakit komorbit dan juga sudah tua gara-gara pernyataan dan keterangan dari Mimin soal meninggalnya suaminya Ini akhirnya banyak yang tidak percaya nih geng dengan pernyataan soal penyakit komorbid tersebut karena menurut masyarakat banyak petugas KPPS yang meninggal itu terlihat tidak wajar menurut mereka ya bukan karena sakit tetapi melainkan ada faktor lain kalau dibilang karena faktor kelelahan ya mungkin bisa jadi tetapi masyarakat lebih Percaya adanya faktor eksternal yang berbeda ya faktornya Apa kalian boleh nilai sendiri lalu geng agar mencegah kejadian tersebut dapat terulang kembali pihak KPU itu sempat melakukan beberapa antisipasi pada pemilu tahun 2024 ini Jadi jangan sampai malapetaka seperti itu terulang di Pemilu tahun ini Komnas HAM membentuk sebuah tim untuk memantau Pemilu 2024 ini agar memastikan kalau kejadian di pemilu 2019 itu tidak terulang kembali Komnas HAM memastikan regulasi yang ada di tingkat KPU maupun Bawaslu agar kesehatan para petugas bisa terjamin jadi supaya tidak terulang hal yang mengerikan kayak kemarin lagi nah tapi nih geng Pemilu 2024 belum dimulai tetapi sudah ada tragedi nih Nah tragedinya itu ya melibatkan petugas KPPS sekarang kita bakal bahas nih ada dua nih tragedinya Yang pertama dulu kita bahas yaitu kasus 40 petugas KPPS di Cilacap yang [Musik] keracunan sebelumnya gua Jelaskan dulu nih geng ya hari di mana sebelum kejadian keracunan ini terjadi jadi Pada hari Kamis tanggal 25 Januari tahun 2024 diselenggarakan sebuah kegiatan pelantikan anggota KPPS setelah kegiatan pelantikan keesokan harinya langsung diselenggarakan kegiatan untuk melakukan beamtech atau bimbingan teknis dan beamtech di celacap sendiri dilaksanakan selama 2 hari dikarenakan jumlah TPS di daerah sana itu cukup banyak dan berada di beberapa desa nah sehingga para petugas KPPS ini diputuskan untuk dibagi menjadi dua koter ada yang melaksanakan beamtech pada hari Jumat tanggal 26 dan ada juga yang melaksanakan beimtech di hari Sabtu tanggal 27 nah jadilah di saat itu langsung tuh pelantikan dilanjutkan dengan mengikuti beamtech di tanggal 26-nya dan beamtech-nya itu berlangsung sampai sore hari Nah lalu Selama beamtech tersebut para petugas KPPS ini diberikan fasilitas berupa makanan dan snack lalu pada awalnya semuanya berjalan baik-baik aja enggak ada hal-hal yang janggal lalu tepat keesokan harinya di tanggal 27 Januari tahun 2024 panitia penyelenggara bimtech melanjutkan kegiatan beamtech di hari kedua untuk clotter kedua nah di hari kedua inilah tiba-tiba terjadi malapetaka para anggota KPPS itu malah keracunan di hari Sabtu itu para pesertanya berjumlah 56 Orang yang terdiri dari anggota KPPS dan juga PPS yang berasal dari desa manjingklak Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap di saat itu konsumsi yang diberikan di lokasi itu berupa nasi box yang berisikan ayam lalapan dan sambal serta Snake yang berisi kue lapis agar-agar kue ketan abon dan juga tahu goreng tiba-tiba 56 peserta ini memakan makanan tersebut dan dari 56 ada sekitar 40 orang peserta tiba-tiba mengalami keracunan ke-40 anggota yang keracunan tersebut mengalami Mual pusing muntah sakit perut sampai dengan diare lalu beruntungnya 16 orang lainnya tidak mengalami gejala tersebut mereka selamat dari keracunan di saat itu diselidikilah apa nih penyebabnya Apakah benar makanan soalnya penyedia makanan di tanggal 26 dan tanggal 27 itu masih sama vendornya masih dari warung atau restoran yang sama tapi justru di tanggal 27 lah para peserta beamtech ini justru keracunan dan menurut kabarnya gejala keracunan itu tidak langsung Mereka rasakan Tetapi gejalanya itu baru timbul ketika pada malam hari dan keesokan harinya tragedi keracunan ini juga enggak main-main 40 orang yang keracunan itu sebilan di antaranya harus dirawat di Puskesmas wanaareja dan dua orang lainnya itu harus dirawat di rumah sakit Rafa Majenang lalu masih ada dua orang lagi dirawat di klinik Eta medicaa dan sisa lainnya itu bisa dirawat jalan Jadi mereka berobat langsung pulang ke rumah Atas kejadian ini Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap itu langsung turun tangan geng Nah mereka mencari tahu penyebab ke-40 anggota KPPS ini kenapa bisa keracunan nah namun geng melalui Kepala Dinkes Cilacap yaitu Dr Pramesti griana Dewi mengatakan ketika tim gerak cepat atau tgc dari Dinkes Cilacap langsung menuju ke lokasi bimtech mereka sudah tidak bisa mendapatkan sisa makanan yang ingin mereka jadikan sampel untuk diteliti kandungannya karena udah keburu dibersihin Jadi buru-buru dibersihin di saat itu ya Gimana Enggak kan beamtech-nya pada pagi sampai sore hari ya Otomatis di sore hari selesai itu langsung dibersihkan sementara para peserta yang mengalami keracunan itu baru merasakan gejalanya pada malam hari jadilah di saat itu pihak Dinkes Cilacap hanya membawa sampel air bersih pada tanggal 30 Januari tahun 2024 dari tempat usaha penyedia makanan yang dipakai selama kegiatan bimtech nah rencananya sampel air tersebut akan dibawa ke Balai laboratorium kesehatan provinsi Jawa Tengah untuk [Musik] diteliti lalu Kejadian ini juga enggak main-main pihak kolsek Wanareja dan juga Polres jelacap sampai turun tangan mereka melakukan penyelidikan mengenai dugaan keracunan massal yang menimpa 40 anggota KPPS ini nah tapi pihak kepolisian juga sama harus menunggu hasil dari pemeriksaan sampel yang sudah diambil oleh Dinkes untuk mengetahui apakah di dalam kandungan sampel air tersebut mengandung racun atau tidak nah lalu sementara itu komisioner KPU Kabupaten Cilacap yang bernama m mukni mengatakan kalau KPU berjanji akan terus melakukan monitoring dan mendata seluruh korban nah pihaknya juga memastikan kalau seluruh korban akan mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik serta biayanya akan ditanggung oleh pemerintah Wah gila ya pihak KPU bertanggung jawab Tetapi kan yang jadi permasalahannya bukan itu kok bisa gitu hal ini terjadi ya Enggak tahu juga mungkin karena human error gitu ya ada sesuatu yang tidak terkontrol akhirnya terjadilah musibah seperti ini ya Semoga di hari pemilihan nanti ya keracunan-keracunan kayak gini Enggak terjadi ya geng ya karena kan seram banget gitu dan untuk saat ini para petugas KPPS Cilacap itu sudah beransur-ansur pulih dan mereka tetap bersedia untuk menjadi petugas KPPS di hari pemilihan nanti Oke sekarang kita bahas kasus selanjutnya yang mirip dengan yang terjadi di celacap yaitu kali ini petugas KPPS Samarinda yang keracunan kasus ini terjadi di Samarinda Kalimantan Timur pada tanggal 25 Januari 2024 kemarin jadi di saat itu sedang berlangsung kegiatan pelantikan anggota KPPS di RT 36 Kecamatan sambutan Samarinda Kalimantan Timur ada informasi yang mengatakan kalau kegiatan pelantikan anggota KPPS ini tidak hanya dihadiri oleh anggota KPPS saja melainkan anggota keluarganya juga ikut hadir para petugas KPPS yang baru dilantik ini mendapatkan fasilitas berupa makan siang yang disajikan di dalam boks berisi nasi goreng dan ayam tepung menurut keterangan dari salah satu korban dalam kejadian ini yang bernama kanaisa Samara novana awalnya semua peserta mendapatkan konsumsi yang berisi nasi goreng dan ayam tepung tersebut dan perempuan yang akrab disapa ia ini sendiri membawa makanan tersebut ke rumahnya lalu hanya menyantap makanan tersebut beberapa suap aja karena memang dia merasa kurang suka dengan rasa makanan itu dia mengaku ketika awal-awal makanan tersebut dia makan tidak ada yang aneh dari rasa makanan itu nah Tetapi beberapa saat kemudian Di saat dia mau berangkat ke kampus Icha ini baru merasa tidak enak badan di saat itu badannya tiba-tiba lemas dan tidak punya tenaga nah Awalnya dia pikir dia itu cuma kecapekan karena baru pulang pelantikan lalu langsung ke kampus Nah Tapi beberapa saat kemudian dia menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya dia tidak cuma lemas tetapi juga mengalami diare saat malam hari sampai keesokan harinya dia masih dalam kondisi yang sama bahkan lebih parah nah lalu tidak lama kemudian di dia mendapatkan sebuah laporan di handphone-nya yaitu di grup WhatsApp yang mengatakan banyak dari anggota KPPS rt36 mengalami hal yang sama dengan dia yaitu demam lemas sampai diare dan ini semua gara-gara mereka keracunan enggak tanggung-tanggung ada sebanyak 70 anggota KPPS mengalami gejala keracunan ini dan 70 orang itu belum semua anggota yang sudah melapor jadi ada juga yang tidak melapor karena sebagian lain yang tidak melapor ini memutuskan untuk melakukan perawatan sendiri Langsung langsung ke rumah sakit dengan biaya sendiri lalu Atas kejadian ini geng pihak KPU Samarinda bersama dengan stakeholder lain sudah Mengunjungi dan memberikan pendampingan pada anggota KPPS yang keracunan ini dan bahkan Enggak cuma anggota KPPS doang yang menjadi korban anggota keluarganya juga Karena di hari pelantikan itu anggota keluarga dari para petugas yang dilantik ikut hadir dan makan makanan bok tersebut dari informasi yang gua dapatkan nih geng ya dikatakan di antara 70 korban itu ada sebanyak 47 korban yang dinyatakan keracunan makanan menjadi terkena penyakit asam lambung dan kesimpulan ini diambil dari hasil lab yang dilakukan oleh beberapa korban dan hasilnya menunjukkan bahwa para korban ini mengalami peningkatan asam lambung di dalam tubuhnya Nah itu dia geng berita tentang musibah yang menimpa petugas KPPS jadi buat kalian yang masih menjadikan profesi petugas KPPS ini sebagai lelucon ya mikir-mikir dulu deh karena di negara kita ada sejarah kelamnya ada tragedi kelamnya yang benar-benar menyayat hati karena mau bagaimanapun ketika kalian membuat lelucon itu anggota keluarga dari petugas KPPS yang meninggal dunia tahun 2019 pasti akan sedih melihat itu mereka jadi terkenang lagi anggota keluarganya yang meninggal mereka jadi teringat dengan tragedi pada tahun 2019 tersebut nah semoga untuk pemilu di Indonesia tahun ini para petugas KPPS kita tetap sehat walafiat dan tragedi mengerikan seperti di tahun 2019 tidak terulang kembali amin ya rabbal alamin
Resume
Categories