PEMILU 2019 ! 894 ORANG PETUGAS KPPS TEW4S MENDADAK SETELAH PEMILIHAN
8LWaBhWKZP4 • 2024-02-04
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
di tengah meriahnya kontestasi politik
karena diadakannya pemilu di Indonesia
terjadilah sebuah tragedi yang
benar-benar memilukan yaitu ada sebanyak
894 petugas KPPS meninggal dunia secara
serentak di dalam waktu yang berdekatan
pasca Pemilu
diadakan yo geng tekan tombol subscribe
geng e Yo what's good Welcome back to
kamar J
[Musik]
geng geng Oke gimana nih geng menjelang
pemilu dan sekarang pesta demokrasinya
lagi gila-gilaan banget ya di Indonesia
Ya ada fenomena-fenomena yang
menyenangkan ada juga yang mengerikan
kayak baru-baru ini kan ada demo tuh
gede banget tuh demo apaan Gua enggak
tahu dah pokoknya demo dan semoga ya
pemilu di Indonesia berjalan dengan
damai jadi kita bisa melangsungkan hidup
kita dengan tentram dan bahagia enggak
ada gunanya berantem-berantem beda
pilihan itu biasa dan seperti yang kita
tahu pemilu di Indonesia nanti akan
diadakan pada tanggal 14 Februari tahun
2024 yang mana itu artinya pemilu kita
akan diadakan bertepatan dengan hari
valentine alias hari kasih sayang gitu
ya Nah semoga ya pemilunya penuh dengan
kasih sayang juga terus berbicara
tentang pemilu ada hal yang sedang
viral-viralnya juga sekarang yang ya
menjadi lelucon yaitu kelompok pen
selenggara pemungutan suara atau yang
disingkat dengan KPPS Nah sekarang KPPS
nih malah jadi Memes banyak banget orang
yang bikin konten tentang petugas KPPS
kalau kalian lihat di tiktok itu banyak
banget tapi konteksnya bukan untuk
menghina tapi lebih kepada memparodikan
seolah-olah menjadi petugas KPPS Itu
adalah sebuah pencapaian seseorang yang
sudah dia perjuangkan sepanjang hidupnya
Ya udah kayak orang lolos kepolisian
lolos TNI atau lolos PNS gitu jadi
diparodikan seperti itu yang paling
kocak ada adalah ada satu konten kalian
bisa cek nih tiba-tiba mantannya
nge-chat dia dengan kalimat kangen nah
lalu dia ngebalas selama ini Ketika aku
pengangguran ke mana aja sekarang aku
udah jadi petugas KPPS kamu balik lagi
kat ya memang sih menjadi seorang
petugas KPPS ya sama dengan mengabdi
kepada negara tetapi bukan berarti
semerta-merta dia jadi abdi negara yang
setara dengan polisi atau TNI atau
sederajatnya lah gitu ya Ya beda menjadi
petugas KPPS itu kerjanya 5 tahun sekali
digajinya juga 5 tahun sekali Enggak
setiap bulan gitu ya tapi tahukah kalian
geng di balik lelucon-lelucon yang
sedang ramai tentang KPPS saat ini
Pernah Ada sebuah kasus kelam sebuah
pemberitaan yang menyayat hati tentang
tragedi meninggalnya ratusan petugas
KPPS di dalam sejarah pemilu Indonesia
dan itu belum lama terjadi sekarang gua
mau ngajak Kalian nih untuk ngebahas
tragedi tersebut Nah langsung aja kita
bahas di Permisi peristiwa misteri dari
berbagai
[Musik]
sisi
[Musik]
oke di sini nanti kita akan membahas dua
tragedi sebenarnya tragedi pertama kita
akan membahas soal meninggalnya ratusan
petugas KPPS pada pemilu tahun 2019 Nah
setelah itu nanti kita akan bercerita
tentang 40 petugas KPPS yang keracunan
di Cilacap Nah jadi kita bahas dulu
topik yang pertama
jadi geng pada tahun 2019 di tengah
meriahnya kontestasi politik karena
diadakannya pemilu di Indonesia
terjadilah sebuah tragedi yang
benar-benar memilukan yaitu ada sebanyak
894 petugas KPPS meninggal dunia secara
serentak di dalam waktu yang berdekatan
pasca Pemilu diadakan selain 894 yang
meninggal sebenarnya itu ada sekitar
5175 petugas yang mengalami sakit nah di
saat itu menurut keterangan ketua KPU
saat itu yaitu Pak Arif Budiman kalau
Kejadian ini dikarenakan gara-gara beban
kerja pada pemilu tahun 2019 cukup besar
sehingga menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan kesehatan para petugas KPPS
ini jadi menurun dan meninggal dunia
tapi kok bisa apa triggernya kok bisa
meninggalnya segitu banyak udah kaya
bencana alam dan meninggalnya adalah
para petugas yang dianggap menerima
tugas pekerjaan yang berlebih sehingga
mereka tidak kuat dan berakhir sakit
serta meninggal di tengah-tengah
kebingungan ini sebenarnya banyak isu
yang beredar cuman di saat itu memang
pemberitaannya tidak dilanjutkan jadi
geng kasus ini sempat hangat dibicarakan
Yang mana Banyak masyarakat menciptakan
asumsi-asumsi liar tentang tragedi ini
salah satunya adalah ada yang menuduh
kalau ini gara-gara diracun nah tapi
tunggu dulu itu belum tentu 100% benar
Nah walaupun sebenarnya asumsi ini
tersebar luas banyak dibicara akan di
media-media di saat itu sehingga hal ini
membuat Sebagian besar orang asumsi
tersebut atau berita tersebut jadilah
tuh banyak yang percaya Oh iya berarti
ini diracun nih petugas kpps-nya Wah
parah nih Ya kurang lebih seperti itulah
komentar netizen pada saat itu Hal ini
disebabkan karena jumlah korban yang
banyak dan meninggal di waktu yang
berdekatan seperti yang gua katakan
sebelumnya dan Hal inilah yang
menimbulkan pertanyaan enggak mungkin
gara-gara capek meninggalnya itu
bebarengan kayak gitu dalam waktu yang
berdekatan dan menurut netizen yang bisa
melakukan hal seperti ini adalah
racun dan fenomena ini sebenarnya cukup
mengkhawatirkan sehingga ketika itu ada
urgensi untuk menyelidiki Apa faktor
sebenarnya dari meninggalnya para
anggota KPPS ini dan Apakah benar isu
yang diciptakan oleh masyarakat asumsi
liar yang diciptakan oleh para netizen
mengenai para petugas ini yang katanya
diracun nah lalu Universitas Gajah Mada
atau UGM langsung melakukan sebuah
penelitian untuk mencari tahu penyebab
pasti dari kematian para anggota KPPS
dengan studi kasus di Jogja penelitian
ini dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik atau visi pool lalu
melibatkan juga fakultas kedokteran
kesehatan masyarakat dan keperawatan
lalu Fakultas Psikologi dan juga
fakultas
geografi berdasarkan hasil dari
penelitian tersebut dikatakan kalau
ternyata anggota KPPS pada tahun 2019
yang meninggal itu semuanya rata-rata
berjenis kelamin laki-laki dengan rentan
umur Mul mulai dari 46 sampai dengan 47
tahun katanya nah gimana tuh Menurut
kalian 46 sampai 47 termasuk muda atau
sudah rentah coba deh kalian yang
menilai sendiri mayoritas dari petugas
ini dikatakan memiliki penyakit jantung
katanya dan juga mereka rata-rata
perokok perokok berat gitu Dan dari
hasil penelitian pihak UGM Ini
menghasilkan jawaban kalau semua petugas
yang meninggal dunia atau jatuh sakit
itu merupakan kejadian yang terjadi
secara natural dan tidak adanya indikasi
kesengajaan indikasi kekerasan atau
hal-hal yang dianggap tidak wajar Nah
jadi menurut mereka ini semua alami tapi
tetap aja di saat itu masyarakat enggak
percaya geng masyarakat tetap kekeh
mengatakan kalau itu diracun katanya ya
demi kepentingan politik tapi tidak ada
satuun orang yang bisa membuktikan
itu nah lalu kejadian meninggalnya
anggota KPPS ini juga disoroti oleh
Komnas HAM yang mana komisioner Komnas
HAM di saat itu Bern nama Pramono ubaid
Tantowi mengatakan kalau ada tiga faktor
mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi
nah dikatakanlah faktor pertama karena
adanya faktor komorbid faktor komorbid
ini menurut keterangannya gitu ya ini
berhubungan dengan riwayat penyakit dari
para anggota seperti penyakit jantung
adanya darah tinggi dan juga stroke yang
bisa meningkatkan resiko kematian nah
lalu Selain itu menurut ketua Departemen
ilmu kedokteran Komunitas dari FKUI
yaitu Retno Asri wirdani mengatakan
kalau kasus kematian dari segi individu
karena banyaknya petugas KPPS yang
berusia di atas 60 tahun nah ini agak
sedikit membingungkan memang kalau kita
lihat dari Hasil studi kasusnya UGM
dengan mengambil sampel KPPS Jogja gitu
ya dikatakan umurnya 46 sampai dengan 47
ya kan nah namun secara keseluruhan atau
seluruh Indonesia dikatakan mayoritasnya
justru berumur di atas 60 tahun nah
sebenarnya di saat itu masyarakat masih
belum percaya ya karena yang mereka
saksikan rata-rata petugas dari KPPS ini
itu enggak ada yang kelihatan tua-tua
banget gitu rata-rata Yang tua-tua ya
cuma sebagai pemilih atau penyoblos
bukan petugas nah namun dari keterangan
Retno Asri werdani dikatakan kondisi
psikologis juga mempengaruhi kondisi
kesehatan seperti stres dan juga cemas
nah lalu yang kedua karena adanya
manajemen resiko yang lemah terutama
pada beban kerja dan minimnya kualitas
pemeriksaan kesehatan bagi anggota KPPS
Nah katanya kayak
gitu nah lalu Pemilu tahun 2019 itu ada
sebanyak lima surat suara yang berbeda
sementara itu petugas KPPS harus
menyelesaikan perhitungan suara itu di
hari itu juga paling telat 12 jam
setelah pemungutan selesai Wah gila
ngejar tayang ngejar waktu banget jadi
bisa dikatakan dalam bekerja mereka
tidak memiliki jeda sama sekali yang
mana mereka Langsung bekerja keras
selesai kita memilih dan langsung
langsung melakukan perhitungan suara di
hari itu juga sementara kondisinya untuk
menghitung surat suara itu membutuhkan
waktu yang enggak sebentar bayangkan aja
satu orang harus mencoblos 5 surat Nah
kalau di TPS itu ada daftar pemilih
tetap sebanyak 100 orang maka ada 500
surat yang harus dihitung oleh para
petugas KPPS ini nah lalu Selain itu
yang paling beresikonya adalah
pihak-pihak medis seperti Kemenkes dan
juga Dinkes tidak dilibatkan dalam
setiap kegiatan Bimtek yang dihadiri
oleh anggota KP PPS jadi ini sangat
beresiko untuk keselamatan mereka dan
ketika mereka berada di lapangan di
lokasi pemilihan durasi kerja mereka
bisa saja secara tiba-tiba berubah ya
Tergantung apapun faktornya seperti
misalkan faktor karena logistik atau
Pengiriman data yang belum sesuai dan
juga hal-hal lainnya sehingga petugas
KPPS ini hanya memiliki sedikit waktu
untuk beristirahat nah jadi itu dianggap
menjadi salah satu faktor mengapa mereka
akhirnya kelelahan dan meninggal
dunia
nah Lalu ada faktor terakhir yang paling
banyak disangkakan oleh masyarakat atas
Kejadian ini yang mana faktor ini
dikatakan adalah faktor yang paling kuat
yang menjadi alasan kenapa banyaknya
korban jiwa yaitu faktor beban kerja
yang tidak manusiawi menurut Pramono
beban kerja yang dijalani oleh petugas
KPPS sangat tinggi dan durasi kerjanya
itu panjang yaitu sampai 48 jam tetapi
harus menyelesaikan dalam waktu yang
terhitung singkat jadinya mereka itu
kerja tanpa henti dimulai dari persiapan
pendirian TPS sampai dengan penghitungan
hasil surat suara nah walaupun bekerja
selama 48 jam dikatakan honornya itu
enggak sepadan dengan lelahnya pekerjaan
mereka yang dianggap begitu banyak
karena dari informasi yang gua dapatkan
nih geng ya petugas KPPS pada tahun 2019
itu hanya mendapatkan honor sebanyak
500.000 doang dalam sehari bekerja
berbeda banget ya dengan petugas KPPS
yang sekarang kabarnya sih honor yang
didapat itu jauh lebih tinggi yaitu
mulai dari R juta sampai dengan Rp2 juta
jadi bisa dibayangkan aja tuh ya jadi
petugas KPPS di tahun 2019 dengan tugas
yang begitu banyak hanya dibayar r00.000
nah belum lagi menjadi seorang anggota
KPPS itu tidak mendapatkan perlindungan
berupa pemenuhan hak kesehatan dan
kesejahteraan dari KPU Jadi 500.000 yang
mereka dapatkan Ya udah segitu-gitunya
gitu enggak ada tambahan apapun kecuali
mungkin ada konsumsi yang seadanya
ketika mereka bertugas di
TPS
lalu sebelumnya kita sempat ngebahas
tentang faktor penyakit komorbit yang
digadang-gadang menjadi alasan utama
Kenapa banyak yang meninggal nah tapi
ini ada sebuah pengakuan dari salah satu
istri petugas KPPS di tahun 2019 itu
namanya itu adalah Mimin Sumarni dia ini
merupakan istri dari ver Yunus yang
bertugas sebagai KPPS Mimin ini
mengatakan kalau suaminya tidak
menunjukkan tanda-tanda sedang sakit
sebelum dia meninggal pasnya jadi
petugas KPPS Feri di saat itu umurnya
juga masih terbilang ya cukup muda untuk
seorang laki-laki yaitu 45 tahun dari
riwayat sakit yang dimiliki oleh Ferry
dikatakan oleh istrinya Dia cuma punya
riwayat sakit gigi gara-gara giginya
bolong itu doang gitu dan itu bukan
sebuah hal yang menurut dia fatal banget
jadi menurut Mimin kalau suaminya ini
tidak mungkin meninggal karena penyakit
bawaan ya Seperti penjelasan yang
diberikan baik dari pihak UGM maupun
pihak komnashham yang mengatakan ya para
petugas yang meninggal adalah
petugas-petugas yang memiliki penyakit
komorbit dan juga sudah tua gara-gara
pernyataan dan keterangan dari Mimin
soal meninggalnya suaminya Ini akhirnya
banyak yang tidak percaya nih geng
dengan pernyataan soal penyakit komorbid
tersebut karena menurut masyarakat
banyak petugas KPPS yang meninggal itu
terlihat tidak wajar menurut mereka ya
bukan karena sakit tetapi melainkan ada
faktor lain kalau dibilang karena faktor
kelelahan ya mungkin bisa jadi tetapi
masyarakat lebih Percaya adanya faktor
eksternal yang berbeda ya faktornya Apa
kalian boleh nilai
sendiri lalu geng agar mencegah kejadian
tersebut dapat terulang kembali pihak
KPU itu sempat melakukan beberapa
antisipasi pada pemilu tahun 2024 ini
Jadi jangan sampai malapetaka seperti
itu terulang di Pemilu tahun ini Komnas
HAM membentuk sebuah tim untuk memantau
Pemilu 2024 ini agar memastikan kalau
kejadian di pemilu 2019 itu tidak
terulang kembali Komnas HAM memastikan
regulasi yang ada di tingkat KPU maupun
Bawaslu agar kesehatan para petugas bisa
terjamin jadi supaya tidak terulang hal
yang mengerikan kayak kemarin lagi nah
tapi nih geng Pemilu 2024 belum dimulai
tetapi sudah ada tragedi nih Nah
tragedinya itu ya melibatkan petugas
KPPS sekarang kita bakal bahas nih ada
dua nih tragedinya Yang pertama dulu
kita bahas yaitu kasus 40 petugas KPPS
di Cilacap yang
[Musik]
keracunan sebelumnya gua Jelaskan dulu
nih geng ya hari di mana sebelum
kejadian keracunan ini terjadi jadi Pada
hari Kamis tanggal 25 Januari tahun 2024
diselenggarakan sebuah kegiatan
pelantikan anggota KPPS setelah kegiatan
pelantikan keesokan harinya langsung
diselenggarakan kegiatan untuk melakukan
beamtech atau bimbingan teknis dan
beamtech di celacap sendiri dilaksanakan
selama 2 hari dikarenakan jumlah TPS di
daerah sana itu cukup banyak dan berada
di beberapa desa nah sehingga para
petugas KPPS ini diputuskan untuk dibagi
menjadi dua koter ada yang melaksanakan
beamtech pada hari Jumat tanggal 26 dan
ada juga yang melaksanakan beimtech di
hari Sabtu tanggal 27 nah jadilah di
saat itu langsung tuh pelantikan
dilanjutkan dengan mengikuti beamtech di
tanggal 26-nya dan beamtech-nya itu
berlangsung sampai sore hari Nah lalu
Selama beamtech tersebut para petugas
KPPS ini diberikan fasilitas berupa
makanan dan snack lalu pada awalnya
semuanya berjalan baik-baik aja enggak
ada hal-hal yang janggal lalu tepat
keesokan harinya di tanggal 27 Januari
tahun 2024 panitia penyelenggara bimtech
melanjutkan kegiatan beamtech di hari
kedua untuk clotter kedua nah di hari
kedua inilah tiba-tiba terjadi
malapetaka para anggota KPPS itu malah
keracunan di hari Sabtu itu para
pesertanya berjumlah 56 Orang yang
terdiri dari anggota KPPS dan juga PPS
yang berasal dari desa manjingklak
Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap di
saat itu konsumsi yang diberikan di
lokasi itu berupa nasi box yang
berisikan ayam lalapan dan sambal serta
Snake yang berisi kue lapis agar-agar
kue ketan abon dan juga tahu goreng
tiba-tiba 56 peserta ini memakan makanan
tersebut dan dari 56 ada sekitar 40
orang peserta tiba-tiba mengalami
keracunan ke-40 anggota yang keracunan
tersebut mengalami Mual pusing muntah
sakit perut sampai dengan diare lalu
beruntungnya 16 orang lainnya tidak
mengalami gejala tersebut mereka selamat
dari keracunan di saat itu diselidikilah
apa nih penyebabnya Apakah benar makanan
soalnya penyedia makanan di tanggal 26
dan tanggal 27 itu masih sama vendornya
masih dari warung atau restoran yang
sama tapi justru di tanggal 27 lah para
peserta beamtech ini justru keracunan
dan menurut kabarnya gejala keracunan
itu tidak langsung Mereka rasakan Tetapi
gejalanya itu baru timbul ketika pada
malam hari dan keesokan harinya tragedi
keracunan ini juga enggak main-main 40
orang yang keracunan itu sebilan di
antaranya harus dirawat di Puskesmas
wanaareja dan dua orang lainnya itu
harus dirawat di rumah sakit Rafa
Majenang lalu masih ada dua orang lagi
dirawat di klinik Eta medicaa dan sisa
lainnya itu bisa dirawat jalan Jadi
mereka berobat langsung pulang ke rumah
Atas kejadian ini Dinas Kesehatan
Kabupaten Cilacap itu langsung turun
tangan geng Nah mereka mencari tahu
penyebab ke-40 anggota KPPS ini kenapa
bisa keracunan nah namun geng melalui
Kepala Dinkes Cilacap yaitu Dr Pramesti
griana Dewi mengatakan ketika tim gerak
cepat atau tgc dari Dinkes Cilacap
langsung menuju ke lokasi bimtech mereka
sudah tidak bisa mendapatkan sisa
makanan yang ingin mereka jadikan sampel
untuk diteliti kandungannya karena udah
keburu dibersihin Jadi buru-buru
dibersihin di saat itu ya Gimana Enggak
kan beamtech-nya pada pagi sampai sore
hari ya Otomatis di sore hari selesai
itu langsung dibersihkan sementara para
peserta yang mengalami keracunan itu
baru merasakan gejalanya pada malam hari
jadilah di saat itu pihak Dinkes Cilacap
hanya membawa sampel air bersih pada
tanggal 30 Januari tahun 2024 dari
tempat usaha penyedia makanan yang
dipakai selama kegiatan bimtech nah
rencananya sampel air tersebut akan
dibawa ke Balai laboratorium kesehatan
provinsi Jawa Tengah untuk
[Musik]
diteliti lalu Kejadian ini juga enggak
main-main pihak kolsek Wanareja dan juga
Polres jelacap sampai turun tangan
mereka melakukan penyelidikan mengenai
dugaan keracunan massal yang menimpa 40
anggota KPPS ini nah tapi pihak
kepolisian juga sama harus menunggu
hasil dari pemeriksaan sampel yang sudah
diambil oleh Dinkes untuk mengetahui
apakah di dalam kandungan sampel air
tersebut mengandung racun atau tidak nah
lalu sementara itu komisioner KPU
Kabupaten Cilacap yang bernama m mukni
mengatakan kalau KPU berjanji akan terus
melakukan monitoring dan mendata seluruh
korban nah pihaknya juga memastikan
kalau seluruh korban akan mendapatkan
pelayanan kesehatan dengan baik serta
biayanya akan ditanggung oleh
pemerintah Wah gila ya pihak KPU
bertanggung jawab Tetapi kan yang jadi
permasalahannya bukan itu kok bisa gitu
hal ini terjadi ya Enggak tahu juga
mungkin karena human error gitu ya ada
sesuatu yang tidak terkontrol akhirnya
terjadilah musibah seperti ini ya Semoga
di hari pemilihan nanti ya
keracunan-keracunan kayak gini Enggak
terjadi ya geng ya karena kan seram
banget gitu dan untuk saat ini para
petugas KPPS Cilacap itu sudah
beransur-ansur pulih dan mereka tetap
bersedia untuk menjadi petugas KPPS di
hari pemilihan nanti Oke sekarang kita
bahas kasus selanjutnya yang mirip
dengan yang terjadi di celacap yaitu
kali ini petugas KPPS Samarinda yang
keracunan
kasus ini terjadi di Samarinda
Kalimantan Timur pada tanggal 25 Januari
2024 kemarin jadi di saat itu sedang
berlangsung kegiatan pelantikan anggota
KPPS di RT 36 Kecamatan sambutan
Samarinda Kalimantan Timur ada informasi
yang mengatakan kalau kegiatan
pelantikan anggota KPPS ini tidak hanya
dihadiri oleh anggota KPPS saja
melainkan anggota keluarganya juga ikut
hadir para petugas KPPS yang baru
dilantik ini mendapatkan fasilitas
berupa makan siang yang disajikan di
dalam boks berisi nasi goreng dan ayam
tepung menurut keterangan dari salah
satu korban dalam kejadian ini yang
bernama kanaisa Samara novana awalnya
semua peserta mendapatkan konsumsi yang
berisi nasi goreng dan ayam tepung
tersebut dan perempuan yang akrab disapa
ia ini sendiri membawa makanan tersebut
ke rumahnya lalu hanya menyantap makanan
tersebut beberapa suap aja karena memang
dia merasa kurang suka dengan rasa
makanan itu dia mengaku ketika awal-awal
makanan tersebut dia makan tidak ada
yang aneh dari rasa makanan itu nah
Tetapi beberapa saat kemudian Di saat
dia mau berangkat ke kampus Icha ini
baru merasa tidak enak badan di saat itu
badannya tiba-tiba lemas dan tidak punya
tenaga nah Awalnya dia pikir dia itu
cuma kecapekan karena baru pulang
pelantikan lalu langsung ke kampus Nah
Tapi beberapa saat kemudian dia
menyadari ada yang tidak beres dengan
tubuhnya dia tidak cuma lemas tetapi
juga mengalami diare saat malam hari
sampai keesokan harinya dia masih dalam
kondisi yang sama bahkan lebih parah nah
lalu tidak lama kemudian di dia
mendapatkan sebuah laporan di
handphone-nya yaitu di grup WhatsApp
yang mengatakan banyak dari anggota KPPS
rt36 mengalami hal yang sama dengan dia
yaitu demam lemas sampai diare dan ini
semua gara-gara mereka keracunan enggak
tanggung-tanggung ada sebanyak 70
anggota KPPS mengalami gejala keracunan
ini dan 70 orang itu belum semua anggota
yang sudah melapor jadi ada juga yang
tidak melapor karena sebagian lain yang
tidak melapor ini memutuskan untuk
melakukan perawatan sendiri Langsung
langsung ke rumah sakit dengan biaya
sendiri lalu Atas kejadian ini geng
pihak KPU Samarinda bersama dengan
stakeholder lain sudah Mengunjungi dan
memberikan pendampingan pada anggota
KPPS yang keracunan ini dan bahkan
Enggak cuma anggota KPPS doang yang
menjadi korban anggota keluarganya juga
Karena di hari pelantikan itu anggota
keluarga dari para petugas yang dilantik
ikut hadir dan makan makanan bok
tersebut dari informasi yang gua
dapatkan nih geng ya dikatakan di antara
70 korban itu ada sebanyak 47 korban
yang dinyatakan keracunan makanan
menjadi terkena penyakit asam lambung
dan kesimpulan ini diambil dari hasil
lab yang dilakukan oleh beberapa korban
dan hasilnya menunjukkan bahwa para
korban ini mengalami peningkatan asam
lambung di dalam
tubuhnya Nah itu dia geng berita tentang
musibah yang menimpa petugas KPPS jadi
buat kalian yang masih menjadikan
profesi petugas KPPS ini sebagai lelucon
ya mikir-mikir dulu deh karena di negara
kita ada sejarah kelamnya ada tragedi
kelamnya yang benar-benar menyayat hati
karena mau bagaimanapun ketika kalian
membuat lelucon itu anggota keluarga
dari petugas KPPS yang meninggal dunia
tahun 2019 pasti akan sedih melihat itu
mereka jadi terkenang lagi anggota
keluarganya yang meninggal mereka jadi
teringat dengan tragedi pada tahun 2019
tersebut nah semoga untuk pemilu di
Indonesia tahun ini para petugas KPPS
kita tetap sehat walafiat dan tragedi
mengerikan seperti di tahun 2019 tidak
terulang kembali amin ya rabbal alamin
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:10 UTC
Categories
Manage