File TXT tidak ditemukan.
Transcript
LLgtOfkWOKk • TR4GEDI TALANGSARI ! PEMB4NTAIAN JEMAAH PENGAJIAN DI LAMPUNG TIMUR
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1138_LLgtOfkWOKk.txt
Kind: captions Language: id namun sayangnya ya di saat itu para penduduk Talangsari jumlahnya masih sekitar 90 kepala keluarga mereka di saat itu ya merasa takut dan khawatir dengan aktivitas para jemaah Warsidi ini dan yang lebih parahnya adalah banyak warga di sana yang berkebun terutama berkebun Singkong itu hasil kebun mereka malah diambil dengan kata lain dicuri gitu ya oleh anak-anak atau santri-santri dari kelompok warsi dengan alasan mereka menganggap semua hal yang ada di bumi Allah itu adalah milik Allah Siapapun boleh memanfaatkan yo geng tekan tombol subscribe geng e Yo what's good Welcome back to kamar [Musik] Jerry geng geng kita udah lama gak ngebahas tentang sejarah kelam negara kita Republik Indonesia nah ini ada satu sejarah yang termasuk ke dalam sejarah yang terlupakan namanya itu adalah tragedi Talangsari 1989 dan peristiwa ini benar-benar mencekam masuk ke dalam Salah satu peristiwa pelanggaran HAM yang ada di Indonesia seperti yang gua katakan tadi peristiwa ini mengerikan banget geng tapi tiba-tiba bisa terlupakan begitu aja peristiwa ini sendiri terjadi pada masa pemerintahan orde baru yang mana seperti yang kita tahu ya kondisi Indonesia di saat itu memang sedang sangat ketat-ket atnya banyak ormas atau organisasi masyarakat yang dibekukan oleh pemerintah dan ketika peristiwa Talangsari ini pecah itu menyebabkan banyaknya korban jiwa yang tewas di dalam kasus ini dan yang bikin miris nih geng ya presiden kita Bapak Joko Widodo itu sudah mengakui bahwa tragedi Talangsari merupakan salah satu pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi di Indonesia namun tetap aja para keluarga korban sampai saat sekarang ini masih belum mendap apatkan keadilan atas apa yang sudah terjadi kepada keluarga mereka Bagaimana kisah selengkapnya tentang kejadian ini langsung aja kita bahas di Permisi peristiwa misteri dari berbagai sisi [Musik] sebelum kita masuk ke dalam kronologi kejadiannya kita kilas balik sedikit mengenai kondisi politik Indonesia di masa orde baru tersebut geng Nah mungkin kalau ada penjelasan gua yang kurang atau beda pemahaman dengan teman-teman semua kalian boleh boleh tinggalkan komentar di bawah untuk meluruskan atau menambahkan informasinya di masa orde baru itu berlaku penerapan asas tunggal Pancasila Presiden Soeharto di saat itu sebagai Presiden Republik Indonesia menyebut prinsip tunggal tersebut dengan Eka Prasetya Pancakarsa dengan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau disingkat dengan P4 semenjak aturan tersebut diusulkan atau ditetapkan seluruh organisasi masyarakat wajib mengusung asas Pancasila tidak ter kecuali ormas keagamaan Nah di sini gua enggak perlu sebutlah ya ormas keagamaan itu seperti apa misalnya yang jelas walaupun ini ormas terbentuk karena satu visi dan misi dalam sebuah agama tertentu nah tapi mereka harus menjunjung tinggi Pancasila di atasnya Nah kalau ada ormas yang tidak mengusung asas Pancasila maka ormas tersebut dianggap menganut ideologi terlarang yang akan membahayakan Negara jadi wajib ditumpas atau dibubarkan Nah dari aturan inilah atau dari penerapan aturan yang dibuat oleh pres Presiden Soeharto Ini akhirnya ada salah satu ormas keagamaan nih yang berasal dari Talangsari Lampung jadi di sana itu ada sebuah kelompok kecil yang bernama usroh nah kelompok ini diketuai oleh seseorang yang bernama Abdullah Sungkar pada awalnya mereka ini sudah terlebih dahulu diburu oleh pihak pemerintah Orde Baru namun mereka berhasil kabur ke wilayah Lampung lalu Selama kelompok ini kabur ke sana kelompok usroh ini bergabung dengan pengajian milik seorang petani yang bernama Warsidi dan jemaah pengajian Warsidi ini juga bukan asli dari Lampung bahkan Warsidi sendiri bukan asli orang Lampung dia di Lampung itu sebagai pendatang seperti yang kita tahu ya di Lampung sendiri kan banyak orang Jawa transmigrasi di sana Nah Warsidi ini berasal dari daerah asli Magelang Jawa Tengah kemudian dia pindah ke Lampung Pada tahun 1939 antara kelompok Warsidi dengan kelompok usroh ini memiliki visi misi yang sama ideologi yang sama yaitu mereka bertujuan ingin mendirikan sebuah daerah atau kampung dengan menjalankan syariat Islam di sana untuk peraturan kehidupan mereka sehari-hari nah sebenarnya kegiatan sehari-hari yang diadakan oleh kelompok Warsidi dengan bergabungnya kelompok usroh ini itu merupakan kegiatan yang positif Nah jadi menurut informasi yang gua dapat dari sebuah jurnal yang dibuat oleh faradia Indra terus Iskandar Syah dan juga Saiful m setiap hari para jemaah Warsidi ini selalu diseut bukan dengan aktivitas seperti pengajian terus mereka ibadah terus memperdalam ilmu agama Jadi sebenarnya kegiatannya tetap positif nah namun geng kegiatan mereka yang selalu berfokus pada ibadah ini ternyata disalah artikan nih oleh pemerintah Orde Baru di saat itu karena saking fokusnya mereka mendalami ilmu agama dan fokus beribadah sampai-sampai Mereka jarang sekali berbaur dengan masyarakat di luar Pondok nah di saat itu dianggap mereka ini mengisolasi diri dianggap mereka ini cuma pengin hidup sendiri tidak mau berbaur dengan masyarakat Indonesia yang lain dan bahkan jemaah Warsidi ini sering sekali menolak undangan Apabila ada pesta atau dengan sebutan lain kenduri jadi kayak misalkan pesta pernikahan atau justru ada sunatan pesta pengajian nah mereka tuh enggak mau diundang di luar Pondok mereka berbaur dengan masyarakat di sana Nah alasan mereka adalah mereka tidak menjalankan hal yang tidak sesuai dengan ajaran wajib di dalam agama islam atau di luar sunah di dalam agama Islam Jadi mereka itu benar-benar enggak mau sebuah kegiatan yang menurut mereka itu Syirik musyrik dan tidak diperbolehkan oleh agama akhirnya karena sering sekali kelompok ini menolak undangan dari pihak desa dan juga orang-orang sekitar yang membuat hubungan mereka dengan warga di sana itu jadi berselisih mereka ibaratnya kayak mendirikan ya kelompok mereka sendiri dan berbeda atau asing dengan warga di sekitar sana padahal Pondok mereka didirikan di atas ya lingkungan warga gitu dan ada juga informasi yang mengatakan kalau jemaah dari Warsidi ini dianggap terlalu eksklusif dan enggak mau bergaul dengan penduduk di luar komunitas mereka mereka tidak mau melaksanakan salat berjamaah dengan orang yang tidak ikut di dalam kelompok pengajian mereka kebayang ya geng ya Bahkan untuk ibadah bareng aja mereka enggak mau sesama umat muslim nih Padahal nih ya kalau kita lihat ya secara gamblang aja filosofi dalam ibadah umat muslim itu sangat-sangat baik geng Kenapa demikian ketika kalian salat berjamaah ah di masjid kita tuh enggak peduli Lo mau artis lu mau Raffi Ahmad lu mau anaknya Pak Jokowi lu mau siapa aja juga tapi kalau sudah di dalam masjid beribadah bersama salat berjamaah lu sujud gue sujud ya kan lu ruku gua ruku ketika jidat lu sejajar dengan lutut dan kaki sama gua juga gitu jadi ketika salat berjamaah di Masjid itu tidak peduli kita dari kelompok mana dari kasta mana semuanya akan sejajar akan sama Nah itulah kehebatan daripada ibadah terkhususnya untuk umat muslim yaitu salat jadi semua pangkat kita semua status kita dilepas kita semua sama [Musik] rata kelompok Warsidi ini malah membuat eksklusivitasnya sendiri yang mana Ini justru melenceng dari ajaran agama gitu kan enggak ada yang lebih eksklusif enggak ada yang lebih tinggi lebih rendah harusnya ketika berjamaaah mau mereka dari kelompok tertentu mereka tetap harus bisa sama rata dengan masyarakat di luar kelompok mereka ketika beribadah toh yang di sembah juga sama gitu akhirnya nih ya penduduk di sana lama-kelamaan jadi sakit hati dan tersinggung dengan kelompok warsid ini namun sayangnya ya di saat itu para penduduk Talangsari jumlahnya Masih sekitar 90 kepala keluarga mereka di saat itu ya merasa takut dan khawatir dengan aktivitas para jemaah Warsidi ini dan yang lebih parahnya adalah banyak warga di sana yang berkebun terutama berkebun Singkong itu hasil kebun mereka malah diambil dengan kata lain dicuri gitu ya oleh oleh anak-anak atau santri-santri dari kelompok Warsidi dengan alasan mereka menganggap semua hal yang ada di bumi Allah itu adalah milik Allah Siapapun boleh memanfaatkan nah ini udah apa ya beragama tapi tidak beradab gitu ya tidak berilmu yang mana kan enggak gitu konsepnya yang nanam Pak Tani ya Pak Tani yang berhak untuk memanen Walaupun dia ditanam di bumi Allah gitu ya lu Masa iya orang lain yang tanam El yang panen lu yang cabut lu yang makan gitu kan Nah akhirnya Apa yang dilakukan oleh kelompok Warsidi iniemb buat masyarakat jadi jengkel dan terkadang masyarakat itu enggak mau meneraki mereka maling tapi masyarakat cuma pengin apa yang sudah diambil oleh kelompok ini Ya udah tapi lu bayar gitu dan saat itu kelompok warsid malah membuat statement mereka tidak mau membayar mereka tidak mau memberikan sejumlah uang karena menurut mereka alat tukar yang dipakai oleh pemerintah itu adalah ya sistem kafir katanya dan bahkan nih sampai kelewatannya Mereka menolak untuk mengibarkan bendera merah putih karena mereka menganggap kalau bendera itu adalah benda mati sehingga tidak boleh dihormati Nah dari situlah awalnya geng yang mana kelompok ini mula-mulanya berselisih dengan warga berselisih dengan masyarakat setempat gitu ya akhirnya karena sudah menyenggol permasalahan bendera merah putih mereka berurusan dengan pemerintah di saat itu pemerintah Orde Baru menganggap mereka ini adalah pemberontak karena tidak sesuai dengan asas Pancasila lalu singkat ceritanya nih geng mulai pada pertengahan bulan November tahun 19 88 ada beberapa orang yang datang ke Talangsari untuk bergabung dengan kelompok Warsidi ini Rombongan pertama itu berjumlah sekitar 7 orang lalu singkat ceritanya lagi seminggu kemudian datang lagi sekitar 35 orang nah dan yang gilanya nih ya setiap kali mereka datang ke Talangsari mereka Langsung ke pondok kelompok Warsidi ini tapi mereka sama sekali tidak melaporkan kedatangan mereka ini kepada perangkat desa itu kan sudah melanggar aturan masuk ke wilayah orang tapi enggak ada laporan dan Bahkan mereka ini enggak punya KTP enggak punya tanda pengenal tidak selayaknya masyarakat Indonesia pada umumnya dan tidak ada yang mengetahui mereka ini asalnya dari mana ilegal atau enggak yang jelas mereka Udah tinggal aja Tuh di Talangsari dan semakin hari jumlah mereka itu semakin banyak bertambah terus kepala dusun Talangsari di saat itu yang bernama sukidi itu sampai melakukan peninjauan ke lokasi jemaah Warsidi ini dan ternyata Ketika dilihat jumlah mereka sudah mencapai 70 orang lebih di pondok kelompok mereka itu nah mereka bahkan sampai bangun pondok-pondok dengan atap dari alang-alang yang terdapat di sekitar musola untuk menampung para jemaah yang semakin hari semakin banyak berdatangan dan semakin hari juga masyarakat di sana Jadi semakin resah nah mau enggak mau masyarakat mendorong dan mendesak kepala dusun mereka yaitu sukidi untuk mengambil tindakan tegas lalu di tanggal 11 Januari tahun 1989 sukidi si kepala dusun bersama dengan Pamong Desa setempat melaporkan keberadaan jemaah Warsidi ini kepada kepala desa raja basa lama yaitu yang bernama Amir Puspa Mega melalui sebuah surat nah laporan tersebut akhirnya ditanggapi dengan serius dan diteruskan kepada camat waijepara yang bernama Zulkifli Maliki dan di hari itu juga Camat waepara ini memanggil kepala desa Rajabasa yang bernama Amir tadi untuk segera menghadap termasuk dengan orang-orang yang terlibat di dalam hal ini yaitu si kepala dusun yang bernama sukidi dan dia juga meminta untuk si pemimpin jemaah Warsidi yaitu Warsidi sendiri agar datang juga ke sana namun sayangnya nih ya ketika perangkat daerah tadi sudah oke untuk datang berdiskusi malah si kepala kelompok yang bernama Warsidi itu membalas surat undangan tersebut dengan penolakan dia di saat itu menulis nih ya dia buat di sana maaf saya enggak bisa hadir dan dia bilang juga sebaik-baiknya pejabat adalah pejabat yang mendatangi ulama bukannya ulama yang sebaliknya mendatangi kalian kata Warsidi Nah akhirnya nih geng pertemuan itu atau diskusi itu tidak terjadi lalu singkat cerita nih geng setelah itu sekitar tanggal 21 Januari tahun 1989 udah masuk tahun depannya akhirnya Warsidi ini angkat bicara dengan menjelaskan kepada Zulkifli Amir dan juga sukidi sebagai kepala dusun dan juga tujuh orang staf pamong praja dia menjelaskan mengenai kedatangan rombongan jemaahnya beberapa waktu lalu yang semakin hari semakin banyak Setelah dia menjelaskan tepat keesokan harinya nih geng disebutkan kalau ada salah satu aparat keamanan yang bernama Sersan Mayor Dahlan Ar bersama dengan beberapa orang mendatangi perkampungan cihideng Talangsari pada tengah malam nah pada saat itu aparat keamanan yang bernama serm dahahlan ini datang ke lokasi itu membawa lengkap dengan senjata api dan ada satu hal yang dia lakukan yang mana ini dianggap tidak sopan dan ya melanggarlah sebenarnya yaitu si sermadahlan ini masuk ke dalam musala tanpa melepas alas kaki Nah itu kan enggak boleh karena di dalam musala kan ada batas suci gitu ya dan sesampainya dia di sana Setelah dia masuk ke dalam musala dia mencaci maki peserta pengajian disertai dengan umpatan-umpatan jadi kata-katanya Kasar banget dan dia juga menyebutkan kalau para jemaah itu melakukan kebatilan atau kesalahan dan kegiatan mereka dianggap menentang pemerintah di saat itu sermadahlan ini mengancam akan menghancurkan Talangsari Kalau kegiatan pengajian tersebut tidak segera dihentikan dan kalimat-kalimat yang dia ucapkan itu sembari mengintimidasi menggunakan senjata api di saat yang bersamaan itu ada sekitar 10 orang jemaah yang di saat itu mendengar caci maki dari aparat keamanan Ini Mereka mencoba menahan diri mereka enggak mau terpancing dan di dalam hati mereka juga mereka itu siap untuk mati mereka enggak peduli yang mengancam mereka atau yang memberikan peringatan kepada mereka ini adalah aparat bersenjata lengkap mereka siap melawan siap membela agama gitu jadi memang apa ya bisa dikatakan ya mereka enggak takutlah sama yang namanya ajal nah tapi mereka tetap menahan diri agar tidak terpancing dan setiap perkataan dari serm dahahlan itu hanya dibalas oleh para jemaah ini dengan ucapan Astagfirullah lalu mereka mengelus dadanya di tengah-tengah sermadahlan ini marah-marah itu jemaahnya diam aja enggak mau ngelawan Mereka cuma ngedengerin aja sambil nyabarin hati gitu akhirnya sekitar setengah jam kemudian para aparat keamanan ini memilih untuk pergi meninggalkan musala tersebut dan ternyata dengan datangnya aparat keamanan di sana di dalam pertemuan tersebut tetap tidak menemukan titik temu atau solusi apapun kelompok tersebut enggak sama sekali takut sama aparat keamanan dan aparat keaman an juga bingung cara menangani mereka Nah akhirnya pejabat Lurah setempat memerintahkan agar warga setempat atau warga sekitar itu untuk lebih waspada karena menurut pejabat Lurah wah ini udah bahaya banget aparat keamanan aja enggak didengerin nih sama kelompok ini apalagi kita yang sipil-sipil warga biasa gitu kan jadi harus waspada Nah sebagai kepala dusun sukidi akhirnya memberlakukan ronda malam bersama dengan Pamong desa dan masyarakat setempat secara bergantian berjaga-jaga agar kelompok Warsidi itu tidak melakukan hal-hal yang tidak di inginkan dan semenjak datangnya para tentara tersebut ternyata kelompok Warsidi pun itu sudah mulai bersiap-siaga setiap hari mereka itu sering terlihat membawa golok dan mengayun-ngayunkan golok mereka tanpa alasan yang jelas dan hal tersebut membuat daerah Talangsari menjadi mencekam jadi orang-orang sekitar tuh jadi bingung Kayak nih apa-apaan nih jemaah Warsidi biasanya mereka cuma fokus ibadah mereka ngadain pengajian kok sekarang udah jadi kayak petarung jadi kayak pendekar ke mana-mana bawa golok semenjak didatangi oleh aparat keamanan tadi otomatis suasananya benar-benar mencekam dan membuat warga sekitar jadi ketakutan lalu karena mereka tidak mau mengambil resiko terlalu besar ronda malam pun dihentikan takut nantinya malah pada malam hari itu ketika lagi ngeronda warga malah bentrok nih dengan jemaah Warsidi yang membawa golok ini Nah akhirnya terbengkalailah pos-pos ronda warga yang ada di desa tersebut dan tiba-tiba nih semua pos ronda yang mulai sepi ini malah diambil alih oleh jemaahnya Warsidi dan keadaan di sini semakin mencekam jemaah Warsidi yang sebenarnya bukan asli warga sana malah sudah berkuasa dan ini benar-benar sudah kelewatan singkat ceritanya tibalah di tanggal 1 Februari tahun 1989 pihak pemerintah setempat akhirnya mengirimkan surat kepada komandan Koramil atau danramil w Jepara yang bernama kapten sutiman di dalam surat tersebut diadukanlah bahwa di wilayah mereka ada orang-orang yang melakukan kegiatan mencurigakan yang mana tidak sesuai dengan asas tunggal Pancasila nah surat inilah yang memprovokasi pemerintah ya kan yang membuat pemerintah jadi mendidih darahnya jadi pemerintah di saat itu anti banget dan tidak terima nih dengan adanya kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan asas Pancasila Pak Harto sangat marah ya kan lalu geng surat itu dikirim oleh Kepala Desa Raja Basa lama yang bernama Amir tadi di dalam surat itu disebutkan kalau anggota dari jemaah sudah bersiap untuk menunggu kedatangan pihak luar yang akan membubarkan mereka menggunakan bom melotov Waduh gila engak tuh jadi ibaratnya si jemaah ini udah siap buat perang nah lalu enggak cukup satu surat tiba-tiba ada lagi surat yang lain dikirimkan oleh Camat W Jepara tadi yang bernama Zulkifli di dalam surat yang dikirim oleh Zulkifli juga meminta agar Koramil meneliti beberapa orang yang bernama ussman Jayus dan juga Anwar yang disebut sebagai orang yang berada di balik pengajian tersebut dan akhirnya setelah surat itu diterima berlanjutlah di tanggal 5 Februari tahun 1989 sekitar jam 11.45 orang yang sebelumnya kita ceritakan yaitu sersan mayor atau sermadlan Ar terus bersama dengan kopda Abdurrahman Ahmad baherman sukidi sebagai kepala dusun dan juga beberapa orang sekitar ya salah satunya ada poniran dan juga Supar itu melakukan penyergapan terhadap salah satu pos ronda yang sudah dikuasai oleh jemaah pengajian Warsidi nah di saat dilakukan penggerebekan itu ada tujuh orang di sana namun hanya lima orang yang berhasil ditangkap sementara dua orang lainnya itu berhasil melarikan diri Nah dari sinilah nih geng perselisihan semakin besar dan semakin memanas dan dari tertangkapnya lima jemaah tadilah akhirnya pihak Warsidi tersulut emosinya dan mereka memilih untuk bersiap-siap berperang dengan pihak pemerintah Indonesia Nah sekarang kita masuk nih geng ke dalam kronologi pecahnya tragedi Talangsari yang mengerikan Nah jadi geng pada tanggal 6 Februari tahun 1989 tepatnya pada jam 08.30 ketika itu si Serma Dahlan Ar yang sudah menangkap lima orang di pos ronda yang merupakan anggota jemaah tadi akhirnya diserahkan ke pihak Kodim 0411 Metro lalu di hari yang sama nih geng pemerintah setempat juga melakukan musyawarah pimpinan kecamatan atau muspika yang dipimpin oleh Kapten sutiman di mana Hasil dari Musyawarah tersebut disepakatilah kalau mereka harus meminta keterangan secara langsung kepada si pemimpin dari jemaah tersebut yaitu Warsidi dan juga para pengikutnya lalu akhirnya berangkatlah nih rombongan tersebut dari kantor camat wejepara yang dipimpin oleh kasd Mayor Oloan Sinaga menuju Kompleks kediaman dari Anwar dan di dalam rombongan itu diikuti oleh Kapten sutiman Zulkifli Kapolsek W jeepara Amir dan juga beberapa anggota Koramil serta seorang hansib yang totalnya ada 20 orang nah dikatakan di saat itu sempat terjadi kesalah paham antara jemaah dan rombongan aparat ini sehingga memicu bentrokan dan kedatangan dari rombongan aparat tersebut justru disambut dengan senjata saat itu banyak yang menggunakan panah dan juga menggunakan golok dalam melakukan perlawanan terhadap aparat yang mengakibatkan ini yang paling fatal nih jadi kapten sutiman di dalam kejadian tersebut tewas di tangan pihak yang melakukan perlawanan Kabar mengenai tewasnya Kapten sutiman itu sampai ke telinga komandan Korem 043 Garuda hitam Lampung yaitu Kolonel Abdullah Mahmud piono dia juga melaporkan peristiwa tersebut kepada Panglima Kodam 2 Sriwijaya yaitu maijen TNI R Sunardi yang pada saat itu sedang berada di Bandar Lampung dalam rangka peresmian lapangan tenis baru untuk Korem Garuda hitam nah kemudian maijen Sunardi di saat itu langsung memerintahkan Kolonel henro priono untuk melanjutkan penertiban di Dusun Talangsari tersebut Lalu tibalah pada tanggal 7 Februari tahun 1989 ada sekitar tiga ploton tentara dan 40 anggota brimop yang dipersiapkan untuk mendatangi daerah cihideng Talangsari Di mana tempat tersebut adalah pusat dari jemaah Warsidi berada pada saat itu rombongan aparat atau ABRI gitu ya diangkut menggunakan beberapa truk menuju ke lokasi geng dan akhirnya tepat pada jam 12.00 malam serangan pun dilakukan di Talangsari dengan suara tembakan yang terdengar saling bersahutan jadi di saat itu benar-benar keos banget kondisinya dan seperti biasa para anggota jemaah dari Warsidi ini memang selalu melakukan ronda malam dan mereka memang sudah dalam keadaan siap untuk melakukan an perlawanan mereka dilengkapi dengan senjata tajam panah tadi yang jelas pada malam itu mereka sudah siap berperang nah ketika para jemaah yang melakukan ronda malam ini sudah mengetahui kalau mereka akan segera diserang mereka Langsung membalas tembakan para aparat menggunakan senjata yang ternyata berhasil mereka rampas dari aparat jadi pada bentrokan sebelumnya ini jemaah-jemaah sempat mengambil senjata para tentara dan brimok ketika senjata itu ditinggalkan pada saat terjadi kerusuhan nah mereka menggunakan senjata itu membalas tembakan pihak aparat tentara dan brimop nah sontak aja di saat itu situasi semakin memanas geng karena kan pihak aparat juga kaget ini kok bisa masyarakat sipil Biasa anak pondok tapi punya senjata api akhirnya karena mereka saling bersautan saling berbalasan tembak beberapa kali para aparat mencoba untuk menyusup ke dalam pondok jemaah tersebut Namun sayangnya sempat dipergoki oleh si jemaah yang menggunakan senjata Nah akhirnya beberapa aparat memilih untuk melarikan diri dari lokasi tersebut karena lawannya juga memiliki senjata dan jumlahnya jauh lebih banyak tapi sem sementara perlawanan dilakukan oleh para jemaah di saat itu aparat sudah melakukan pengepungan di desa tersebut jadi sudahah dikelilingi semuanya geng Nah lalu geng bentrokan pun akhirnya tidak bisa terhindarkan dan terjadi selama beberapa jam dari segi persenjataan aparat menggunakan senjata M1 bom pembakar serta granat dan sebagian dari pasukan aparat juga menggunakan helikopter Yang membentengi arah barat jadi benar-benar perangnya sengit banget geng sampai menggunakan jalur udara juga sementara dari sisi para jemaah itu mereka kalah dalam persenjataan karena mereka hanya mengandalkan senjata hasil jarahan yang tertinggal aja dan jumlahnya Enggak banyak selebihnya mereka menggunakan senjata tradisional seperti panah tombak dan juga Parang atau golok Nah akhirnya dari sisi para jemaah banyak sekali yang tewas di dalam kejadian bentrokan tersebut penyerbuan pun terus berlanjut para anggota jemaah pengajian yang kebanyakan terdiri dari perempuan dan juga anak-anak itu ikut ditangkap dan dibawa menuju ke Kodim 0411 Metro yang berjarak 2 km dari cih hideng Talangsari mereka semua dibawa dengan berjalan kaki Nah dari sini kita bisa lihat ya geng bagaimana bentrokannya itu benar-benar pecah dan semuanya berawal dari serangan yang dilakukan oleh pihak jemaah terlebih dahulu sehingga menewaskan salah satu pemimpin aparat gitu ya yaitu Kapten sutiman Nah akhirnya ya Semua ini tidak bisa terhindarkan dan tidak hanya korban jiwa yang berjatuhan di saat itu juga banyak rumah yang sampai dibakar dan rusaknya sarana serta prasarana Desa serta rumah rumah di luar pondok juga ikut kena imbas dan menurut catatan Komnas HAM tragedi ini sampai menewaskan sebanyak 130 orang dan 77 orang dipindahkan secara paksa atau diusir dari sana 53 orang haknya dirampas secara sewenang-wenang dan 46 orang mengalami penyiksaan namun dikatakan secara pasti jumlah dari korban itu tidak diketahui sampai saat ini geng berdasarkan laporan dari kontras nih sedikitnya ada sekitar 246 jamaah yang dinyata akan hilang karena tidak diketahui keberadaannya Jadi mereka itu sudah dihabisi Terus jasadnya entah dibuang ke mana Yang jelas di saat itu ya pihak aparat melakukan pembersihan terhadap jasad-jasad tersebut dan ratusan orang yang masih hidup itu mengalami penyiksaan ditangkap ditahan dan diadili secara semena-mena di mana di antara mereka itu termasuk perempuan dan anak-anak tadi dan peristiwa itu menjadi sebuah sejarah yang sangat kelam di desa cihideng tersebut dan orang enggak bisa lupalah dengan peristiwa itu Desa cihideng itu sempat ditutup untuk sementara waktu karena dianggap sebagai bekas tempat kerusuhan dan terjadi banyak pembantaian di sana Nah yang mana tidak tertutup kemungkinan di bawah tanah Desa tersebut itu adalah kuburan massal bagi ratusan jemaah yang dibantai tadi tapi untuk sekarang kondisi desa cihideng itu sudah dibuka kembali dan sudah ditempati namun pembangunannya masih jauh Tertinggal daripada dusun-dusun yang ada di sekitarnya Belum lagi masih banyak tuduhan atau stigma negatif dari orang-orang terhadap para korban dan keluarganya yang menganggap mereka ini adalah teroris dan antiasionalis karena kasus tersebut sekarang kita masuk ke dalam pembahasan upaya penyelesaian terhadap tragedi yang dianggap sebagai pelanggaran HAM ini nah jadi geng upaya untuk mengusut Kasus Tragedi Talangsari ini dilakukan oleh Komnas HAM yang pada tanggal 2 Maret tahun 2005 membentuk sebuah komisi penyelesaian pelanggaran atau KPP HAM untuk melakukan penyelidikan terhadap peristiwa Talangsari lalu kemudian pada tanggal 19 Mei tahun 2005 kpph menyimpulkan bahwa adanya unsur pelanggaran HAM berat dalam peristiwa tersebut berkas dari hasil penyelidikan itu diserahkan kepada Kejaksaan Agung pada tahun 2006 untuk dilanjutkan ke tahap penyidikan nah namun sampai saat ini geng Jaksa Agung belum melakukan penyidikan dengan alasan masih dalam penelitian Direktorat penanganan pelanggaran HAM berat dan beberapa alasan lainnya kebayang Enggak tuh udah berapa tahun gitu kejadiannya ya bukan tahun lagi sudah puluhan gitu kan dan upaya serupa juga dilakukan oleh Presiden Susilo bamang Yudoyono pada Mei tahun 2011 presiden sempat membentuk tim penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat termasuk dengan tragedi yang terjadi di Talangsari tim ini diketuai oleh menteri koordinator bidang politik dan hukum dan keamanan dan beranggotakan Kementerian Hukum dan HAM Kejaksaan Agung Komnas HAM Kementerian Pertahanan Mabes Tni Mabes Pri serta beberapa lembaga dan institusi terkait tapi sampai saat ini tidak ada perkembangan sama sekali Nah lalu di tanggal 20 Februari tahun 2019 deklarasi damai dilakukan oleh tim terpadu pelanggaran HAM yang terdiri dari Kementerian koordinator bidang politik hukum dan keamanan atau kemenkopul hukam serta ketua DPRD Lampung Timur Wakil Bupati Lampung Timur Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Timur Kapolres Lampung Timur terus ada Dandim 429 Lampung Timur KPN Sukadana Lampung Timur dan Camat Labuhan Ratu serta kepala desa Rajabasa lama dan juga beberapa tokoh masyarakat Talangsari Isi dari deklarasi tersebut adalah meminta agar para korban itu tidak lagi memperpanjang kasus yang terjadi di Talangsari karena sudah dianggap selesai oleh pemerintah dengan kompensasi berupa pembangunan jalan dan fasilitas umum yang ada di Lampung jadi nyawa diganti dengan fasilitas gokil banget Emang ya terus deklarasi tersebut juga tertulis kalau korban dan keluarga korban sudah sepakat agar peristiwa ini tidak diungkap kembali oleh pihak mana pun katanya nah namun sayangnya deklarasi ini tidak disetujui oleh para korban yang selamat dan masyarakat sipil yang ada di sana karena kompensasi yang diberikan bukanlah kompensasi khusus untuk korban Ya kan karena kan tadi dibilang tuh fasilitas buat e Lampung jalan-jalanan dibangun itu kan bukan buat korban ya menikmati ya seluruh isi Lampung gitu kan dan menurut salah satu korban dari tragedi ini yang bernama Edi arsadat ada salah satu warga asal Talangsari yang seolah-olah dijadikan sebagai wakil korban untuk menyetujui deklarasi sehingga deklarasi tersebut tidak melibatkan korban yang asli dari peristiwa yang sebenarnya jadi orang yang apa ya pemeran pengganti disuruh tanda tangan disuruh menyetujui padahal orang tersebut tidak mengalami kasus ini tidak mengalami tragedi ini secara langsung lalu geng menurut Direktur eksekutif amnestti internationional Indonesia yang bernama Utsman Hamid deklarasi Damai itu dilakukan secara terpihak tanpa melibatkan semua korban jadi deklarasi ini kayak Ya udah dibikin yang penting supaya kasusnya itu tertutup aja gitu Padahal korban dan keluarga korban sudah dirampas hak-haknya dan ini merupakan pelanggaran HAM berat dan kasusnya masih bergulir di Komnas HAM serta Jaksa Agung nah menanggapi kritik dari amnesti Sri Yunanto selaku tenaga ahli Kementerian koordinator bidang politik hukum dan keamanan Republik Indonesia mengatakan kalau pemerintah tidak dapat melakukan intervensi terhadap kasus Talangsari karena penuntasan dari kasus ini sepenuhnya menjadi kewenangan dari Komnas HAM dan jaks Agung katanya dan seperti yang gu katakan sebelumnya sampai saat sekarang ini belum ada upaya yang signifikan dalam mengungkap peristiwa yang terjadi di Talangsari geng dan para korban serta keluarganya yang masih selamat yang dirampas hak-haknya itu masih belum mendapatkan keadilan mereka masih menuntut keadilan kepada pemerintah kebayang ya bagaimana sedihnya ya di negara kita ya hak-hak masyarakat Seperti ini tidak ditangani dengan serius ya kan gimana Menurut kalian geng tentang peristiwa yang satu ini coba Ting tgalkan komentar di bawah