File TXT tidak ditemukan.
Transcript
LLgtOfkWOKk • TR4GEDI TALANGSARI ! PEMB4NTAIAN JEMAAH PENGAJIAN DI LAMPUNG TIMUR
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1138_LLgtOfkWOKk.txt
Kind: captions
Language: id
namun sayangnya ya di saat itu para
penduduk Talangsari jumlahnya masih
sekitar 90 kepala keluarga mereka di
saat itu ya merasa takut dan khawatir
dengan aktivitas para jemaah Warsidi ini
dan yang lebih parahnya adalah banyak
warga di sana yang berkebun terutama
berkebun Singkong itu hasil kebun mereka
malah diambil dengan kata lain dicuri
gitu ya oleh anak-anak atau
santri-santri dari kelompok warsi dengan
alasan mereka menganggap semua hal yang
ada di bumi Allah itu adalah milik Allah
Siapapun boleh
memanfaatkan yo geng tekan tombol
subscribe geng e Yo what's good Welcome
back to kamar
[Musik]
Jerry geng geng kita udah lama gak
ngebahas tentang sejarah kelam negara
kita Republik Indonesia nah ini ada satu
sejarah yang termasuk ke dalam sejarah
yang terlupakan namanya itu adalah
tragedi Talangsari
1989 dan peristiwa ini benar-benar
mencekam masuk ke dalam Salah satu
peristiwa pelanggaran HAM yang ada di
Indonesia seperti yang gua katakan tadi
peristiwa ini mengerikan banget geng
tapi tiba-tiba bisa terlupakan begitu
aja peristiwa ini sendiri terjadi pada
masa pemerintahan orde baru yang mana
seperti yang kita tahu ya kondisi
Indonesia di saat itu memang sedang
sangat ketat-ket atnya banyak ormas atau
organisasi masyarakat yang dibekukan
oleh pemerintah dan ketika peristiwa
Talangsari ini pecah itu menyebabkan
banyaknya korban jiwa yang tewas di
dalam kasus
ini dan yang bikin miris nih geng ya
presiden kita Bapak Joko Widodo itu
sudah mengakui bahwa tragedi Talangsari
merupakan salah satu pelanggaran HAM
berat yang pernah terjadi di Indonesia
namun tetap aja para keluarga korban
sampai saat sekarang ini masih belum
mendap apatkan keadilan atas apa yang
sudah terjadi kepada keluarga mereka
Bagaimana kisah selengkapnya tentang
kejadian ini langsung aja kita bahas di
Permisi peristiwa misteri dari berbagai
sisi
[Musik]
sebelum kita masuk ke dalam kronologi
kejadiannya kita kilas balik sedikit
mengenai kondisi politik Indonesia di
masa orde baru tersebut geng Nah mungkin
kalau ada penjelasan gua yang kurang
atau beda pemahaman dengan teman-teman
semua kalian boleh boleh tinggalkan
komentar di bawah untuk meluruskan atau
menambahkan informasinya di masa orde
baru itu berlaku penerapan asas tunggal
Pancasila Presiden Soeharto di saat itu
sebagai Presiden Republik Indonesia
menyebut prinsip tunggal tersebut dengan
Eka Prasetya Pancakarsa dengan program
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila atau disingkat dengan P4
semenjak aturan tersebut diusulkan atau
ditetapkan seluruh organisasi masyarakat
wajib mengusung asas Pancasila tidak ter
kecuali ormas keagamaan Nah di sini gua
enggak perlu sebutlah ya ormas keagamaan
itu seperti apa misalnya yang jelas
walaupun ini ormas terbentuk karena satu
visi dan misi dalam sebuah agama
tertentu nah tapi mereka harus
menjunjung tinggi Pancasila di atasnya
Nah kalau ada ormas yang tidak mengusung
asas Pancasila maka ormas tersebut
dianggap menganut ideologi terlarang
yang akan membahayakan Negara jadi wajib
ditumpas atau dibubarkan Nah dari aturan
inilah atau dari penerapan aturan yang
dibuat oleh pres Presiden Soeharto Ini
akhirnya ada salah satu ormas keagamaan
nih yang berasal dari Talangsari Lampung
jadi di sana itu ada sebuah kelompok
kecil yang bernama usroh nah kelompok
ini diketuai oleh seseorang yang bernama
Abdullah Sungkar pada awalnya mereka ini
sudah terlebih dahulu diburu oleh pihak
pemerintah Orde Baru namun mereka
berhasil kabur ke wilayah Lampung lalu
Selama kelompok ini kabur ke sana
kelompok usroh ini bergabung dengan
pengajian milik seorang petani yang
bernama Warsidi dan jemaah pengajian
Warsidi ini juga bukan asli dari Lampung
bahkan Warsidi sendiri bukan asli orang
Lampung dia di Lampung itu sebagai
pendatang seperti yang kita tahu ya di
Lampung sendiri kan banyak orang Jawa
transmigrasi di sana Nah Warsidi ini
berasal dari daerah asli Magelang Jawa
Tengah kemudian dia pindah ke Lampung
Pada tahun
1939 antara kelompok Warsidi dengan
kelompok usroh ini memiliki visi misi
yang sama ideologi yang sama yaitu
mereka bertujuan ingin mendirikan sebuah
daerah atau kampung dengan menjalankan
syariat Islam di sana untuk peraturan
kehidupan mereka sehari-hari nah
sebenarnya kegiatan sehari-hari yang
diadakan oleh kelompok Warsidi dengan
bergabungnya kelompok usroh ini itu
merupakan kegiatan yang positif Nah jadi
menurut informasi yang gua dapat dari
sebuah jurnal yang dibuat oleh faradia
Indra terus Iskandar Syah dan juga
Saiful m setiap hari para jemaah Warsidi
ini selalu diseut bukan dengan aktivitas
seperti pengajian terus mereka ibadah
terus memperdalam ilmu agama Jadi
sebenarnya kegiatannya tetap positif nah
namun geng kegiatan mereka yang selalu
berfokus pada ibadah ini ternyata
disalah artikan nih oleh pemerintah Orde
Baru di saat itu karena saking fokusnya
mereka mendalami ilmu agama dan fokus
beribadah sampai-sampai Mereka jarang
sekali berbaur dengan masyarakat di luar
Pondok nah di saat itu dianggap mereka
ini mengisolasi diri dianggap mereka ini
cuma pengin hidup sendiri tidak mau
berbaur dengan masyarakat Indonesia yang
lain dan bahkan jemaah Warsidi ini
sering sekali menolak undangan Apabila
ada pesta atau dengan sebutan lain
kenduri jadi kayak misalkan pesta
pernikahan atau justru ada sunatan pesta
pengajian nah mereka tuh enggak mau
diundang di luar Pondok mereka berbaur
dengan masyarakat di sana Nah alasan
mereka adalah mereka tidak menjalankan
hal yang tidak sesuai dengan ajaran
wajib di dalam agama islam atau di luar
sunah di dalam agama Islam Jadi mereka
itu benar-benar enggak mau sebuah
kegiatan yang menurut mereka itu Syirik
musyrik dan tidak diperbolehkan oleh
agama akhirnya karena sering sekali
kelompok ini menolak undangan dari pihak
desa dan juga orang-orang sekitar yang
membuat hubungan mereka dengan warga di
sana itu jadi berselisih mereka
ibaratnya kayak mendirikan ya kelompok
mereka sendiri dan berbeda atau asing
dengan warga di sekitar sana padahal
Pondok mereka didirikan di atas ya
lingkungan warga gitu dan ada juga
informasi yang mengatakan kalau jemaah
dari Warsidi ini dianggap terlalu
eksklusif dan enggak mau bergaul dengan
penduduk di luar komunitas mereka mereka
tidak mau melaksanakan salat berjamaah
dengan orang yang tidak ikut di dalam
kelompok pengajian mereka kebayang ya
geng ya Bahkan untuk ibadah bareng aja
mereka enggak mau sesama umat muslim nih
Padahal nih ya kalau kita lihat ya
secara gamblang aja filosofi dalam
ibadah umat muslim itu sangat-sangat
baik geng Kenapa demikian ketika kalian
salat berjamaah ah di masjid kita tuh
enggak peduli Lo mau artis lu mau Raffi
Ahmad lu mau anaknya Pak Jokowi lu mau
siapa aja juga tapi kalau sudah di dalam
masjid beribadah bersama salat berjamaah
lu sujud gue sujud ya kan lu ruku gua
ruku ketika jidat lu sejajar dengan
lutut dan kaki sama gua juga gitu jadi
ketika salat berjamaah di Masjid itu
tidak peduli kita dari kelompok mana
dari kasta mana semuanya akan sejajar
akan sama Nah itulah kehebatan daripada
ibadah terkhususnya untuk umat muslim
yaitu salat jadi semua pangkat kita
semua status kita dilepas kita semua
sama
[Musik]
rata kelompok Warsidi ini malah membuat
eksklusivitasnya sendiri yang mana Ini
justru melenceng dari ajaran agama gitu
kan enggak ada yang lebih eksklusif
enggak ada yang lebih tinggi lebih
rendah harusnya ketika berjamaaah mau
mereka dari kelompok tertentu mereka
tetap harus bisa sama rata dengan
masyarakat di luar kelompok mereka
ketika beribadah toh yang di sembah juga
sama gitu akhirnya nih ya penduduk di
sana lama-kelamaan jadi sakit hati dan
tersinggung dengan kelompok warsid ini
namun sayangnya ya di saat itu para
penduduk Talangsari jumlahnya Masih
sekitar 90 kepala keluarga mereka di
saat itu ya merasa takut dan khawatir
dengan aktivitas para jemaah Warsidi ini
dan yang lebih parahnya adalah banyak
warga di sana yang berkebun terutama
berkebun Singkong itu hasil kebun mereka
malah diambil dengan kata lain dicuri
gitu ya oleh oleh anak-anak atau
santri-santri dari kelompok Warsidi
dengan alasan mereka menganggap semua
hal yang ada di bumi Allah itu adalah
milik Allah Siapapun boleh memanfaatkan
nah ini udah apa ya beragama tapi tidak
beradab gitu ya tidak berilmu yang mana
kan enggak gitu konsepnya yang nanam Pak
Tani ya Pak Tani yang berhak untuk
memanen Walaupun dia ditanam di bumi
Allah gitu ya lu Masa iya orang lain
yang tanam El yang panen lu yang cabut
lu yang makan gitu kan Nah akhirnya Apa
yang dilakukan oleh kelompok Warsidi
iniemb buat masyarakat jadi jengkel dan
terkadang masyarakat itu enggak mau
meneraki mereka maling tapi masyarakat
cuma pengin apa yang sudah diambil oleh
kelompok ini Ya udah tapi lu bayar gitu
dan saat itu kelompok warsid malah
membuat statement mereka tidak mau
membayar mereka tidak mau memberikan
sejumlah uang karena menurut mereka alat
tukar yang dipakai oleh pemerintah itu
adalah ya sistem kafir katanya dan
bahkan nih sampai kelewatannya Mereka
menolak untuk mengibarkan bendera merah
putih karena mereka menganggap kalau
bendera itu adalah benda mati sehingga
tidak boleh
dihormati Nah dari situlah awalnya geng
yang mana kelompok ini mula-mulanya
berselisih dengan warga berselisih
dengan masyarakat setempat gitu ya
akhirnya karena sudah menyenggol
permasalahan bendera merah putih mereka
berurusan dengan pemerintah di saat itu
pemerintah Orde Baru menganggap mereka
ini adalah pemberontak karena tidak
sesuai dengan asas Pancasila lalu
singkat ceritanya nih geng mulai pada
pertengahan bulan November tahun 19 88
ada beberapa orang yang datang ke
Talangsari untuk bergabung dengan
kelompok Warsidi ini Rombongan pertama
itu berjumlah sekitar 7 orang lalu
singkat ceritanya lagi seminggu kemudian
datang lagi sekitar 35 orang nah dan
yang gilanya nih ya setiap kali mereka
datang ke Talangsari mereka Langsung ke
pondok kelompok Warsidi ini tapi mereka
sama sekali tidak melaporkan kedatangan
mereka ini kepada perangkat desa itu kan
sudah melanggar aturan masuk ke wilayah
orang tapi enggak ada laporan dan Bahkan
mereka ini enggak punya KTP enggak punya
tanda pengenal tidak selayaknya
masyarakat Indonesia pada umumnya dan
tidak ada yang mengetahui mereka ini
asalnya dari mana ilegal atau enggak
yang jelas mereka Udah tinggal aja Tuh
di Talangsari dan semakin hari jumlah
mereka itu semakin banyak bertambah
terus kepala dusun Talangsari di saat
itu yang bernama sukidi itu sampai
melakukan peninjauan ke lokasi jemaah
Warsidi ini dan ternyata Ketika dilihat
jumlah mereka sudah mencapai 70 orang
lebih di pondok kelompok mereka itu nah
mereka bahkan sampai bangun
pondok-pondok dengan atap dari
alang-alang yang terdapat di sekitar
musola untuk menampung para jemaah yang
semakin hari semakin banyak berdatangan
dan semakin hari juga masyarakat di sana
Jadi semakin resah nah mau enggak mau
masyarakat mendorong dan mendesak kepala
dusun mereka yaitu sukidi untuk
mengambil tindakan tegas lalu di tanggal
11 Januari tahun 1989 sukidi si kepala
dusun bersama dengan Pamong Desa
setempat melaporkan keberadaan jemaah
Warsidi ini kepada kepala desa raja basa
lama yaitu yang bernama Amir Puspa Mega
melalui sebuah surat nah laporan
tersebut akhirnya ditanggapi dengan
serius dan diteruskan kepada camat
waijepara yang bernama Zulkifli Maliki
dan di hari itu juga Camat waepara ini
memanggil kepala desa Rajabasa yang
bernama Amir tadi untuk segera menghadap
termasuk dengan orang-orang yang
terlibat di dalam hal ini yaitu si
kepala dusun yang bernama sukidi dan dia
juga meminta untuk si pemimpin jemaah
Warsidi yaitu Warsidi sendiri agar
datang juga ke sana namun sayangnya nih
ya ketika perangkat daerah tadi sudah
oke untuk datang berdiskusi malah si
kepala kelompok yang bernama Warsidi itu
membalas surat undangan tersebut dengan
penolakan dia di saat itu menulis nih ya
dia buat di sana maaf saya enggak bisa
hadir dan dia bilang juga sebaik-baiknya
pejabat adalah pejabat yang mendatangi
ulama bukannya ulama yang sebaliknya
mendatangi kalian kata Warsidi Nah
akhirnya nih geng pertemuan itu atau
diskusi itu tidak terjadi
lalu singkat cerita nih geng setelah itu
sekitar tanggal 21 Januari tahun 1989
udah masuk tahun depannya akhirnya
Warsidi ini angkat bicara dengan
menjelaskan kepada Zulkifli Amir dan
juga sukidi sebagai kepala dusun dan
juga tujuh orang staf pamong praja dia
menjelaskan mengenai kedatangan
rombongan jemaahnya beberapa waktu lalu
yang semakin hari semakin banyak Setelah
dia menjelaskan tepat keesokan harinya
nih geng disebutkan kalau ada salah satu
aparat keamanan yang bernama Sersan
Mayor Dahlan Ar bersama dengan beberapa
orang mendatangi perkampungan cihideng
Talangsari pada tengah malam nah pada
saat itu aparat keamanan yang bernama
serm dahahlan ini datang ke lokasi itu
membawa lengkap dengan senjata api dan
ada satu hal yang dia lakukan yang mana
ini dianggap tidak sopan dan ya
melanggarlah sebenarnya yaitu si
sermadahlan ini masuk ke dalam musala
tanpa melepas alas kaki Nah itu kan
enggak boleh karena di dalam musala kan
ada batas suci gitu ya dan sesampainya
dia di sana Setelah dia masuk ke dalam
musala dia mencaci maki peserta
pengajian disertai dengan
umpatan-umpatan jadi kata-katanya Kasar
banget dan dia juga menyebutkan kalau
para jemaah itu melakukan kebatilan atau
kesalahan dan kegiatan mereka dianggap
menentang pemerintah di saat itu
sermadahlan ini mengancam akan
menghancurkan Talangsari Kalau kegiatan
pengajian tersebut tidak segera
dihentikan dan kalimat-kalimat yang dia
ucapkan itu sembari mengintimidasi
menggunakan senjata api di saat yang
bersamaan itu ada sekitar 10 orang
jemaah yang di saat itu mendengar caci
maki dari aparat keamanan Ini Mereka
mencoba menahan diri mereka enggak mau
terpancing dan di dalam hati mereka juga
mereka itu siap untuk mati mereka enggak
peduli yang mengancam mereka atau yang
memberikan peringatan kepada mereka ini
adalah aparat bersenjata lengkap mereka
siap melawan siap membela agama gitu
jadi memang apa ya bisa dikatakan ya
mereka enggak takutlah sama yang namanya
ajal nah tapi mereka tetap menahan diri
agar tidak terpancing dan setiap
perkataan dari serm dahahlan itu hanya
dibalas oleh para jemaah ini dengan
ucapan Astagfirullah lalu mereka
mengelus dadanya di tengah-tengah
sermadahlan ini marah-marah itu
jemaahnya diam aja enggak mau ngelawan
Mereka cuma ngedengerin aja sambil
nyabarin hati gitu akhirnya sekitar
setengah jam kemudian para aparat
keamanan ini memilih untuk pergi
meninggalkan musala tersebut dan
ternyata dengan datangnya aparat
keamanan di sana di dalam pertemuan
tersebut tetap tidak menemukan titik
temu atau solusi apapun kelompok
tersebut enggak sama sekali takut sama
aparat keamanan dan aparat keaman an
juga bingung cara menangani mereka Nah
akhirnya pejabat Lurah setempat
memerintahkan agar warga setempat atau
warga sekitar itu untuk lebih waspada
karena menurut pejabat Lurah wah ini
udah bahaya banget aparat keamanan aja
enggak didengerin nih sama kelompok ini
apalagi kita yang sipil-sipil warga
biasa gitu kan jadi harus waspada Nah
sebagai kepala dusun sukidi akhirnya
memberlakukan ronda malam bersama dengan
Pamong desa dan masyarakat setempat
secara bergantian berjaga-jaga agar
kelompok Warsidi itu tidak melakukan
hal-hal yang tidak di inginkan dan
semenjak datangnya para tentara tersebut
ternyata kelompok Warsidi pun itu sudah
mulai bersiap-siaga setiap hari mereka
itu sering terlihat membawa golok dan
mengayun-ngayunkan golok mereka tanpa
alasan yang jelas dan hal tersebut
membuat daerah Talangsari menjadi
mencekam jadi orang-orang sekitar tuh
jadi bingung Kayak nih apa-apaan nih
jemaah Warsidi biasanya mereka cuma
fokus ibadah mereka ngadain pengajian
kok sekarang udah jadi kayak petarung
jadi kayak pendekar ke mana-mana bawa
golok semenjak didatangi oleh aparat
keamanan tadi otomatis suasananya
benar-benar mencekam dan membuat warga
sekitar jadi ketakutan lalu karena
mereka tidak mau mengambil resiko
terlalu besar ronda malam pun dihentikan
takut nantinya malah pada malam hari itu
ketika lagi ngeronda warga malah bentrok
nih dengan jemaah Warsidi yang membawa
golok ini Nah akhirnya terbengkalailah
pos-pos ronda warga yang ada di desa
tersebut dan tiba-tiba nih semua pos
ronda yang mulai sepi ini malah diambil
alih oleh jemaahnya Warsidi dan keadaan
di sini semakin mencekam jemaah Warsidi
yang sebenarnya bukan asli warga sana
malah sudah berkuasa dan ini benar-benar
sudah
kelewatan singkat ceritanya tibalah di
tanggal 1 Februari tahun 1989 pihak
pemerintah setempat akhirnya mengirimkan
surat kepada komandan Koramil atau
danramil w Jepara yang bernama kapten
sutiman di dalam surat tersebut
diadukanlah bahwa di wilayah mereka ada
orang-orang yang melakukan kegiatan
mencurigakan yang mana tidak sesuai
dengan asas tunggal Pancasila nah surat
inilah yang memprovokasi pemerintah ya
kan yang membuat pemerintah jadi
mendidih darahnya jadi pemerintah di
saat itu anti banget dan tidak terima
nih dengan adanya kelompok-kelompok yang
tidak sesuai dengan asas Pancasila Pak
Harto sangat marah ya kan lalu geng
surat itu dikirim oleh Kepala Desa Raja
Basa lama yang bernama Amir tadi di
dalam surat itu disebutkan kalau anggota
dari jemaah sudah bersiap untuk menunggu
kedatangan pihak luar yang akan
membubarkan mereka menggunakan bom
melotov Waduh gila engak tuh jadi
ibaratnya si jemaah ini udah siap buat
perang nah lalu enggak cukup satu surat
tiba-tiba ada lagi surat yang lain
dikirimkan oleh Camat W Jepara tadi yang
bernama Zulkifli di dalam surat yang
dikirim oleh Zulkifli juga meminta agar
Koramil meneliti beberapa orang yang
bernama ussman Jayus dan juga Anwar yang
disebut sebagai orang yang berada di
balik pengajian tersebut dan akhirnya
setelah surat itu diterima berlanjutlah
di tanggal 5 Februari tahun 1989 sekitar
jam 11.45 orang yang sebelumnya kita
ceritakan yaitu sersan mayor atau
sermadlan Ar terus bersama dengan kopda
Abdurrahman Ahmad baherman sukidi
sebagai kepala dusun dan juga beberapa
orang sekitar ya salah satunya ada
poniran dan juga Supar itu melakukan
penyergapan terhadap salah satu pos
ronda yang sudah dikuasai oleh jemaah
pengajian Warsidi nah di saat dilakukan
penggerebekan itu ada tujuh orang di
sana namun hanya lima orang yang
berhasil ditangkap sementara dua orang
lainnya itu berhasil melarikan diri Nah
dari sinilah nih geng perselisihan
semakin besar dan semakin memanas dan
dari tertangkapnya lima jemaah tadilah
akhirnya pihak Warsidi tersulut emosinya
dan mereka memilih untuk bersiap-siap
berperang dengan pihak pemerintah
Indonesia Nah sekarang kita masuk nih
geng ke dalam kronologi pecahnya tragedi
Talangsari yang mengerikan
Nah jadi geng pada tanggal 6 Februari
tahun
1989 tepatnya pada jam 08.30 ketika itu
si Serma Dahlan Ar yang sudah menangkap
lima orang di pos ronda yang merupakan
anggota jemaah tadi akhirnya diserahkan
ke pihak Kodim 0411 Metro lalu di hari
yang sama nih geng pemerintah setempat
juga melakukan musyawarah pimpinan
kecamatan atau muspika yang dipimpin
oleh Kapten sutiman di mana Hasil dari
Musyawarah tersebut disepakatilah kalau
mereka harus meminta keterangan secara
langsung kepada si pemimpin dari jemaah
tersebut yaitu Warsidi dan juga para
pengikutnya lalu akhirnya berangkatlah
nih rombongan tersebut dari kantor camat
wejepara yang dipimpin oleh kasd Mayor
Oloan Sinaga menuju Kompleks kediaman
dari Anwar dan di dalam rombongan itu
diikuti oleh Kapten sutiman Zulkifli
Kapolsek W jeepara Amir dan juga
beberapa anggota Koramil serta seorang
hansib yang totalnya ada 20 orang nah
dikatakan di saat itu sempat terjadi
kesalah paham antara jemaah dan
rombongan aparat ini sehingga memicu
bentrokan dan kedatangan dari rombongan
aparat tersebut justru disambut dengan
senjata saat itu banyak yang menggunakan
panah dan juga menggunakan golok dalam
melakukan perlawanan terhadap aparat
yang mengakibatkan ini yang paling fatal
nih jadi kapten sutiman di dalam
kejadian tersebut tewas di tangan pihak
yang melakukan perlawanan Kabar mengenai
tewasnya Kapten sutiman itu sampai ke
telinga komandan Korem 043 Garuda hitam
Lampung yaitu Kolonel Abdullah Mahmud
piono dia juga melaporkan peristiwa
tersebut kepada Panglima Kodam 2
Sriwijaya yaitu maijen TNI R Sunardi
yang pada saat itu sedang berada di
Bandar Lampung dalam rangka peresmian
lapangan tenis baru untuk Korem Garuda
hitam nah kemudian maijen Sunardi di
saat itu langsung memerintahkan Kolonel
henro priono untuk melanjutkan
penertiban di Dusun Talangsari tersebut
Lalu tibalah pada tanggal 7 Februari
tahun 1989 ada sekitar tiga ploton
tentara dan 40 anggota brimop yang
dipersiapkan untuk mendatangi daerah
cihideng Talangsari Di mana tempat
tersebut adalah pusat dari jemaah
Warsidi berada pada saat itu rombongan
aparat atau ABRI gitu ya diangkut
menggunakan beberapa truk menuju ke
lokasi geng dan akhirnya tepat pada jam
12.00 malam serangan pun dilakukan di
Talangsari dengan suara tembakan yang
terdengar saling bersahutan jadi di saat
itu benar-benar keos banget kondisinya
dan seperti biasa para anggota jemaah
dari Warsidi ini memang selalu melakukan
ronda malam dan mereka memang sudah
dalam keadaan siap untuk melakukan an
perlawanan mereka dilengkapi dengan
senjata tajam panah tadi yang jelas pada
malam itu mereka sudah siap berperang
nah ketika para jemaah yang melakukan
ronda malam ini sudah mengetahui kalau
mereka akan segera diserang mereka
Langsung membalas tembakan para aparat
menggunakan senjata yang ternyata
berhasil mereka rampas dari aparat jadi
pada bentrokan sebelumnya ini
jemaah-jemaah sempat mengambil senjata
para tentara dan brimok ketika senjata
itu ditinggalkan pada saat terjadi
kerusuhan nah mereka menggunakan senjata
itu membalas tembakan pihak aparat
tentara dan brimop nah sontak aja di
saat itu situasi semakin memanas geng
karena kan pihak aparat juga kaget ini
kok bisa masyarakat sipil Biasa anak
pondok tapi punya senjata api akhirnya
karena mereka saling bersautan saling
berbalasan tembak beberapa kali para
aparat mencoba untuk menyusup ke dalam
pondok jemaah tersebut Namun sayangnya
sempat dipergoki oleh si jemaah yang
menggunakan senjata Nah akhirnya
beberapa aparat memilih untuk melarikan
diri dari lokasi tersebut karena
lawannya juga memiliki senjata dan
jumlahnya jauh lebih banyak tapi sem
sementara perlawanan dilakukan oleh para
jemaah di saat itu aparat sudah
melakukan pengepungan di desa tersebut
jadi sudahah dikelilingi semuanya geng
Nah lalu geng bentrokan pun akhirnya
tidak bisa terhindarkan dan terjadi
selama beberapa jam dari segi
persenjataan aparat menggunakan senjata
M1 bom pembakar serta granat dan
sebagian dari pasukan aparat juga
menggunakan helikopter Yang membentengi
arah barat jadi benar-benar perangnya
sengit banget geng sampai menggunakan
jalur udara juga sementara dari sisi
para jemaah itu mereka kalah dalam
persenjataan karena mereka hanya
mengandalkan senjata hasil jarahan yang
tertinggal aja dan jumlahnya Enggak
banyak selebihnya mereka menggunakan
senjata tradisional seperti panah tombak
dan juga Parang atau golok Nah akhirnya
dari sisi para jemaah banyak sekali yang
tewas di dalam kejadian bentrokan
tersebut penyerbuan pun terus berlanjut
para anggota jemaah pengajian yang
kebanyakan terdiri dari perempuan dan
juga anak-anak itu ikut ditangkap dan
dibawa menuju ke Kodim 0411 Metro yang
berjarak 2 km dari cih hideng Talangsari
mereka semua dibawa dengan berjalan
kaki Nah dari sini kita bisa lihat ya
geng bagaimana bentrokannya itu
benar-benar pecah dan semuanya berawal
dari serangan yang dilakukan oleh pihak
jemaah terlebih dahulu sehingga
menewaskan salah satu pemimpin aparat
gitu ya yaitu Kapten sutiman Nah
akhirnya ya Semua ini tidak bisa
terhindarkan dan tidak hanya korban jiwa
yang berjatuhan di saat itu juga banyak
rumah yang sampai dibakar dan rusaknya
sarana serta prasarana Desa serta rumah
rumah di luar pondok juga ikut kena
imbas dan menurut catatan Komnas HAM
tragedi ini sampai menewaskan sebanyak
130 orang dan 77 orang dipindahkan
secara paksa atau diusir dari sana 53
orang haknya dirampas secara
sewenang-wenang dan 46 orang mengalami
penyiksaan namun dikatakan secara pasti
jumlah dari korban itu tidak diketahui
sampai saat ini geng berdasarkan laporan
dari kontras nih sedikitnya ada sekitar
246 jamaah yang dinyata akan hilang
karena tidak diketahui keberadaannya
Jadi mereka itu sudah dihabisi Terus
jasadnya entah dibuang ke mana Yang
jelas di saat itu ya pihak aparat
melakukan pembersihan terhadap
jasad-jasad tersebut dan ratusan orang
yang masih hidup itu mengalami
penyiksaan ditangkap ditahan dan diadili
secara semena-mena di mana di antara
mereka itu termasuk perempuan dan
anak-anak tadi dan peristiwa itu menjadi
sebuah sejarah yang sangat kelam di desa
cihideng tersebut dan orang enggak bisa
lupalah dengan peristiwa itu Desa
cihideng itu sempat ditutup untuk
sementara waktu karena dianggap sebagai
bekas tempat kerusuhan dan terjadi
banyak pembantaian di sana Nah yang mana
tidak tertutup kemungkinan di bawah
tanah Desa tersebut itu adalah kuburan
massal bagi ratusan jemaah yang dibantai
tadi tapi untuk sekarang kondisi desa
cihideng itu sudah dibuka kembali dan
sudah ditempati namun pembangunannya
masih jauh Tertinggal daripada
dusun-dusun yang ada di sekitarnya Belum
lagi masih banyak tuduhan atau stigma
negatif dari orang-orang terhadap para
korban dan keluarganya yang menganggap
mereka ini adalah teroris dan
antiasionalis karena kasus tersebut
sekarang kita masuk ke dalam pembahasan
upaya penyelesaian terhadap tragedi yang
dianggap sebagai pelanggaran HAM
ini nah jadi geng upaya untuk mengusut
Kasus Tragedi Talangsari ini dilakukan
oleh Komnas HAM yang pada tanggal 2
Maret tahun 2005 membentuk sebuah komisi
penyelesaian pelanggaran atau KPP HAM
untuk melakukan penyelidikan terhadap
peristiwa Talangsari lalu kemudian pada
tanggal 19 Mei tahun 2005 kpph
menyimpulkan bahwa adanya unsur
pelanggaran HAM berat dalam peristiwa
tersebut berkas dari hasil penyelidikan
itu diserahkan kepada Kejaksaan Agung
pada tahun 2006 untuk dilanjutkan ke
tahap penyidikan nah namun sampai saat
ini geng Jaksa Agung belum melakukan
penyidikan dengan alasan masih dalam
penelitian Direktorat penanganan
pelanggaran HAM berat dan beberapa
alasan
lainnya kebayang Enggak tuh udah
berapa tahun gitu kejadiannya ya bukan
tahun lagi sudah puluhan gitu kan dan
upaya serupa juga dilakukan oleh
Presiden Susilo bamang Yudoyono pada Mei
tahun 2011 presiden sempat membentuk tim
penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM
berat termasuk dengan tragedi yang
terjadi di Talangsari tim ini diketuai
oleh menteri koordinator bidang politik
dan hukum dan keamanan dan beranggotakan
Kementerian Hukum dan HAM Kejaksaan
Agung Komnas HAM Kementerian Pertahanan
Mabes Tni Mabes Pri serta beberapa
lembaga dan institusi terkait tapi
sampai saat ini tidak ada perkembangan
sama sekali Nah lalu di tanggal 20
Februari tahun 2019 deklarasi damai
dilakukan oleh tim terpadu pelanggaran
HAM yang terdiri dari Kementerian
koordinator bidang politik hukum dan
keamanan atau kemenkopul hukam serta
ketua DPRD Lampung Timur Wakil Bupati
Lampung Timur Kepala Kejaksaan Negeri
Lampung Timur Kapolres Lampung Timur
terus ada Dandim 429 Lampung Timur KPN
Sukadana Lampung Timur dan Camat Labuhan
Ratu serta kepala desa Rajabasa lama dan
juga beberapa tokoh masyarakat
Talangsari Isi dari deklarasi tersebut
adalah meminta agar para korban itu
tidak lagi memperpanjang kasus yang
terjadi di Talangsari karena sudah
dianggap selesai oleh pemerintah dengan
kompensasi berupa pembangunan jalan dan
fasilitas umum yang ada di
Lampung jadi nyawa diganti dengan
fasilitas gokil banget Emang ya terus
deklarasi tersebut juga tertulis kalau
korban dan keluarga korban sudah sepakat
agar peristiwa ini tidak diungkap
kembali oleh pihak mana pun katanya nah
namun sayangnya deklarasi ini tidak
disetujui oleh para korban yang selamat
dan masyarakat sipil yang ada di sana
karena kompensasi yang diberikan
bukanlah kompensasi khusus untuk korban
Ya kan karena kan tadi dibilang tuh
fasilitas buat e Lampung jalan-jalanan
dibangun itu kan bukan buat korban ya
menikmati ya seluruh isi Lampung gitu
kan dan menurut salah satu korban dari
tragedi ini yang bernama Edi arsadat ada
salah satu warga asal Talangsari yang
seolah-olah dijadikan sebagai wakil
korban untuk menyetujui deklarasi
sehingga deklarasi tersebut tidak
melibatkan korban yang asli dari
peristiwa yang sebenarnya jadi orang
yang apa ya pemeran pengganti disuruh
tanda tangan disuruh menyetujui padahal
orang tersebut tidak mengalami kasus ini
tidak mengalami tragedi ini secara
langsung lalu geng menurut Direktur
eksekutif amnestti internationional
Indonesia yang bernama Utsman Hamid
deklarasi Damai itu dilakukan secara
terpihak tanpa melibatkan semua korban
jadi deklarasi ini kayak Ya udah dibikin
yang penting supaya kasusnya itu
tertutup aja gitu Padahal korban dan
keluarga korban sudah dirampas
hak-haknya dan ini merupakan pelanggaran
HAM berat dan kasusnya masih bergulir di
Komnas HAM serta Jaksa Agung nah
menanggapi kritik dari amnesti Sri
Yunanto selaku tenaga ahli Kementerian
koordinator bidang politik hukum dan
keamanan Republik Indonesia mengatakan
kalau pemerintah tidak dapat melakukan
intervensi terhadap kasus Talangsari
karena penuntasan dari kasus ini
sepenuhnya menjadi kewenangan dari
Komnas HAM dan jaks Agung katanya dan
seperti yang gu katakan sebelumnya
sampai saat sekarang ini belum ada upaya
yang signifikan dalam mengungkap
peristiwa yang terjadi di Talangsari
geng dan para korban serta keluarganya
yang masih selamat yang dirampas
hak-haknya itu masih belum mendapatkan
keadilan mereka masih menuntut keadilan
kepada pemerintah kebayang ya bagaimana
sedihnya ya di negara kita ya hak-hak
masyarakat Seperti ini tidak ditangani
dengan serius ya kan gimana Menurut
kalian geng tentang peristiwa yang satu
ini coba Ting tgalkan komentar di bawah