GARA-GARA PAK SOEHARTO SELURUH RAKYAT INDONESIA HARUS MAKAN NASI SEUMUR HIDUP ! SEJARAH !
DEeaW-hkSuU • 2024-06-08
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Gatot ini tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang tanaman padinya itu dan dia dengan sengaja mengundang pihak koramil yang mana pihak Koramil ini adalah orang-orang yang mencabuti tanaman padi milik Gatot dan sekaligus memenjarakan Gatot. Nah, di saat itu sengaja tuh Gatot ngundang orang-orang tersebut lalu disajikanlah. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Geng. Eo, what's good? Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, kali ini mungkin setup-nya berbeda lagi karena gua sedang ada di luar kota dan kita tetap ngonten, kita tetap berbagi informasi. Nah, tapi sebelumnya gua minta maaf banget kalau misalkan ada suara motor lalu-lalang di belakang ya. Karena sekarang gua posisinya itu ada di sebuah villa dan vilanya itu kebetulan langsung di depan jalan raya gitu. Tapi gak apa-apa, kita tetap e berbagi informasi. Jadi sesuai judul yang udah kalian baca, mungkin menurut kalian ini sebuah informasi yang apaan sih? Basic banget, dasar banget gitu ya. Kayak aneh aja gitu membahas mengapa masyarakat Indonesia makan nasi, mengapa masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras. Nah, padahal nih, Geng ya, ini pembahasannya cukup menarik dan ada sejarahnya tersendiri yang mana sebenarnya kita masyarakat Indonesia itu tidak semuanya makan nasi, Geng pada dasarnya. Ya, sebagai salah satu contoh nih yang paling dekat saat ini, ya, yang bisa kita lihat adalah saudara-saudara kita di Papua. Masyarakat Papua itu aslinya enggak makan beras. Mereka justru makan sagu. Sagu itu terbuat dari pohon sagu. Nah, tapi untuk saat sekarang ini masyarakat di Papua sana justru juga sudah makan nasi seperti orang-orang dari daerah Indonesia yang lain. Dan sampai saat sekarang ini budaya makan nasi itu menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat Indonesia yang mana kalau belum makan nasi itu artinya ya kita belum makan gitu kan. Dan ternyata nih geng sejarah orang Indonesia semuanya makan nasi itu tidak sesimpel yang kita kira. Ternyata dulunya ada unsur politik dan kebijakan yang diterapkan pada masa Orde Baru alias pada masa kepemimpinan Pak Harto yang membuat masyarakat Indonesia akhirnya memilih nasi sebagai makanan pokok. Dan walaupun pemerintahan Orde Baru sudah berakhir, Pak Harto sudah dilengserkan, tapi kebiasaan makan nasi itu sampai sekarang masih diterapkan di Indonesia. Dan perlu kalian ketahui nih, Geng, kalian boleh tanya ke dokter manapun. Yang namanya nasi itu memang mengenyangkan, terus juga sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Tetapi nasi ini punya efek samping yang juga berbahaya, yaitu kadar gulanya yang tinggi. Dan nasi itu bertanggung jawab atas tingginya angka kematian orang-orang yang menderita diabetes. Nah, sekarang gua pengen ajak kalian nih untuk ngebahas bagaimana sih sejarahnya nasi ini bisa dipolitikkan menjadi makanan pokok orang Indonesia sehingga orang Indonesia benar-benar ketergantungan dengan nasi. Langsung aja kita bahas di sisi lain. [Musik] Oke, untuk membahas sejarah ini kita perlu bahas dulu kondisi Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda yang mana masyarakat Indonesia pada zaman itu belum seluruhnya mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. [Musik] Seperti yang kita tahu ya, Geng, Indonesia ini kan terdiri dari banyak pulau dan setiap pulau itu memiliki karakteristik geografisnya sendiri-sendiri. Nah, jadi bisa dipastikan enggak mungkin setiap pulau, setiap daerah itu memiliki kesamaan budaya, tradisi, suku sampai dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Udah pasti beda pulau, makanan khasnya bakal beda. Lalu, bagaimana dengan nasi? Untuk saat ini semua masyarakat Indonesia udah pasti makan nasi. Dari barat sampai ke timur pasti makan nasi. Nah, tapi apakah pada zaman dulu orang Indonesia itu semua makan nasi, membutuhkan beras? Jawabannya enggak. Jadi dari zaman dulu itu hanya sebagian besar suku atau hanya sebagian daerah di Indonesia yang mengkonsumsi nasi. Kita contohkan aja nih, Geng. Ada masyarakat yang berasal dari Gunung Kidul. Mereka ini tidak makan nasi yang berasal dari beras, tetapi mereka justru memakan tiwul. Tiwul ini berasal dari bahan dasar singkong yang dikeringkan lalu ditumbuk. Dan itulah yang menjadi makanan pokok mereka sehari-hari. Mereka tidak makan nasi di sana. Nah, terus ada lagi yang makannya jagung. Pada zaman dahulu yang mengkonsumsi jagung atau tepung yang berasal dari jagung sebagai makanan pokok sehari-hari itu ada orang Madura, orang Nusa Tenggara Timur, orang Jawa Tengah, dan juga orang Sulawesi. Lalu seperti yang gu katakan tadi, orang di Indonesia Timur yaitu Papua dan Maluku itu juga tidak mengenal beras alias tidak memakan nasi. Mereka justru memakan sagu sebagai bahan pokok makanan mereka. Perbedaan makanan pokok ini itu disebabkan karena perbedaan daerah yang membedakan jenis tanah, terus ketinggian wilayah, cuaca, dan curah hujan, serta faktor-faktor lainnya termasuk faktor indra perasa alias lidah yang berbeda-beda. Ya, kita contohin aja ya. Ada masyarakat suku di Indonesia yang enggak suka pedas, ada juga yang suka banget pedas. Bahkan sampai makan pisang goreng pun harus pakai cabe, harus pakai sambal. biasanya orang Sulawesi tuh makanya itu udah menjadi faktor yang sangat berbeda. Dan di zaman dulu sebelum Pak Harto menjadi presiden, kita ini makanannya berbeda-beda. Jadi kalau misalkan kalian traveling ke Papua di zaman itu, di zaman 10 Pak Harto jadi presiden, udah pasti kalian enggak bakal bisa dapat nasi goreng atau nasi gurih, nasi uduk. Enggak bakal ada di Papua. Atau kalian mau ke Madura, udah pasti kalian bakal sangat sulit mendapatkan yang namanya nasi goreng nasi gurih tadi. Karena pada masa itu orang-orang di Madura makannya jagung. [Musik] Lalu bagaimana bisa nih, Geng? Perbedaan-perbedaan tersebut akhirnya diseragamkan alias disamaatakan. Jadinya semua orang makan nasi. Jadi untuk membahas ini kita mundur sedikit ketika Indonesia masih berbentuk kerajaan nih, Geng. Jadi menurut seorang sejarawan gastronomi bernama Fadli Rahman, ketergantungan orang Indonesia terhadap nasi atau beras itu pada awalnya hanya terjadi di sebagian daerah atau di sebuah daerah kecil yang pada saat itu ia masih dipimpin oleh kerajaan Mataram. Nah, di masa kekuasaan kerajaan Mataram, beras atau nasi itu dianggap menjadi salah satu simbol keberhasilan raja dalam memimpin. Yang mana berhasilnya seorang raja sebagai penguasa suatu wilayah ditentukan dari keberhasilan si raja tersebut mensejahterakan rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan pangan yang notabnya di saat itu adalah beras. Nah, jadi rakyat kerajaan Mataram ini konsumsinya atau bahan pokoknya beras. Nah, tapi cukup di lingkup mereka aja, belum ke lingkup-lingkup luar. Dari pasokan beras yang mereka punya nih, Geng. Kerajaan Mataram menjadi bisa membeli barang-barang seperti rotan, terus kain sutra, katun, dan lain-lain. Yang mana sistemnya di saat itu dengan cara barter. Nah, di saat itu hanya orang-orang Mataram lah atau rakyat yang di bawah kepemimpinan kerajaan Mataram yang mengkonsumsi beras. Dan beras di dalam aturan kerajaan mereka itu sakral karena menjadi bahan makanan pokok. Lalu bagaimana bisa, Geng? Tiba-tiba kok beras ini atau nasi ini tersebar kepada masyarakat di luar kerajaan Mataram. Jadi awal ceritanya itu gara-gara kedatangan bangsa Belanda yang mana di saat itu diawali dengan kedatangan sebuah perusahaan asal Belanda yang bernama VOC. Jadi ceritanya ketika kita Indonesia dijajah oleh Belanda yang mana inisiatif tersebut dibawa oleh VOC dan VOC mulai menguasai wilayah Indonesia dan memotongoli perdagangan rempah-rempah yang ada di Indonesia, salah satu komoditas yang dikuasai atau mulai dilirik oleh VOC adalah beras. Yang mana beras di saat itu hanya berasal dari Pulau Jawa, terkhususnya di wilayah kekuasaan kerajaan Mataram. Nah, jadi awalnya kayak gitu, Geng. Jadi tuh VOC ngambil tuh pala cengkeh yang ada di Maluku, terus lada hitam yang ada di Aceh zaman itu. Ganja juga dari Aceh, terus banyak lagi kayak bawang, terus cabe, pokoknya banyaklah yang dikuasai oleh VOC. Nah, salah satu komoditi yang mereka lihat ini cukup menguntungkan apabila dijual dalam porsi yang banyak. Dan juga komodi ini bakal bisa membuat orang ketergantungan supaya kenyang, yaitu beras. Nah, beras-beras tersebut yang sudah dikuasai oleh VOC kemudian diekspor oleh VOC ke berbagai pulau di luar Jawa bahkan sampai ke luar Indonesia yang mana nama Indonesia di masa itu masih Hindia Belanda. Nah, pada masa itu Indonesia yang bernama Hindia Belanda tercatat di mata dunia sebagai pengekspor beras salah satu terbesar di pasar internasional yang mana pada awalnya VOC hanya mendapatkan beras ini dari Pulau Jawa pada awalnya. Nah, mereka mulai mencoba untuk memperluaskan lagi sumber beras yaitu sawah mulai dari Pulau Jawa sampai dengan ke Nusa Tenggara Barat. Jadi, di saat itu VOC membuat lahan yang begitu luas di daerah Indramayu dan juga Lombok. Nah, kualitas beras yang dimiliki oleh VOC dari hasil menguasai ee persawahan yang ada di Indonesia itu dikatakan oleh dunia internasional sebagai beras dengan kualitas terbaik. Tapi di masa itu walaupun produksinya dari Lombok, produksinya dari Indramayu, tetap dikenal dengan beras Jawa. Jadi dulunya tuh dikenal dengan sebutan beras Jawa. Dan beras Jawa ini bisa bersaing dengan beras-beras dari negara lain seperti beras produksi Italia, Carolina, dan juga Burma. Nah, Burma itu adalah Myanmar. Dulu namanya Burma, sekarang berganti menjadi Myanmar. Namun ada hal yang menyedihkan, Geng, di dalam praktik monopoli atau penguasaan beras Jawa ini. Yang mana di saat itu masyarakat Jawa sendiri itu hanya disisakan beras saringan atau filter ketiga sampai kelima alias yang masih bagusnya nih ya itu diperjual belikan ke negara lain. Sementara sisa-sisanya yang ada kutu, yang masih ada kulitnya, yang kotor gitu ya, yang enggak bagus kualitasnya, itu semuanya diberikan kepada masyarakat pribumi Indonesia untuk konsumsi mereka. Nah, namun geng di masa VOC tersebut kualitas beras Jawa itu memang udah bagus. Nah, tetapi karena mayoritas para petani di saat itu masih sangat tradisional, jadinya untuk ukuran berasnya terus juga jangka waktu panennya itu memakan waktu yang cukup lama. Sehingga di masa itu VOC mendatangkan seorang ahli botani asal Jerman yang bernama George Eberhard Rumpius. Nah, di saat itu George ini ditempatkan untuk bekerja di Maluku dan tugasnya adalah mencatat perdagangan beras yang mulai dibawa dari Jawa sampai ke Maluku. Nah, tapi ini geng jangan salah. Walaupun beras dari Jawa ini dibawa ke Maluku, bukan berarti itu untuk konsumsi orang Maluku. Di saat itu menurut George ni sebagai saksi mata, masyarakat Maluku justru melihat beras dari Jawa ini sebagai barang yang sangat mewah. hanya orang-orang tertentu yang bisa mengkonsumsi beras seperti bangsawan, orang kaya, juragan, saudagar gitu. Sementara masyarakat Maluku di masa itu mereka hanya mengkonsumsi sagu, ubi rambat dan juga talas yang sudah mereka jadikan sebagai makanan pokok mereka dari zaman nenek moyang mereka dulu. Nah, jadi beras yang dibawa ke Maluku itu untuk diseberangkan ke negara lain ya, disebarkan ke pasar internasional. Lalu geng singkat ceritanya tiba-tiba nih geng Pulau Jawa yang menjadi pusat dari penghasil komoditas beras tiba-tiba mengalami musim paceklik yang menyebabkan persediaan beras jadi berkurang dengan sangat drastis sampai menyebabkan kekurangannya pasokan. Di saat itu, Indonesia yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan untuk mengimpor beras dari Burma, India, dan Cina. Nah, kenapa bisa begitu? Ya, karena pasarnya harus tetap dikuasai. Jadi, ya beras-beras yang dibeli dari luar tadi dimasukkan dulu ke Indonesia, ke Jawa lalu nanti baru dilepaskan lagi atau dijual lagi ke pasar internasional. Jadi ibaratnya di saat itu pemerintah Belanda itu enggak mau kalah lah di dalam perdagangan tersebut. Beras-beras yang dimasukkan dari Burma, India dan Cina ini dikirim menggunakan kapal yang berlabuh di Surabaya. Dan setelah kapal pengangkut beras sampai di Surabaya, beras tersebut kemudian diangkut lagi menggunakan kereta api ke daerah selatan Surabaya yang sedang mengalami musim paceklik. Lalu sampai pada bulan Agustus tahun 1910, beras yang diimpor semakin meningkat dan terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya. Nah, namun sayangnya ya di saat itu nih pemerintah Hindia Belanda tidak mengetahui kalau sebenarnya Burma atau Myanmar sedang dilanda oleh wabah pes yang mana wabah pes ini kan berasal dari tikus. Tikus-tikus dari Burma ternyata ikut tersangkut atau ikut masuk ke dalam kapal-kapal pengangkut beras yang membawa beras menuju ke Surabaya. Dan karena perjalanan dari Burma ke Indonesia itu cukup jauh ya karena kan ditempuh menggunakan kapal memakan waktu berbulan-bulan gitu ya. Si tikus-tikus yang ikut naik ke kapal tadi sedikit demi sedikit itu jumlahnya semakin banyak karena beranak-pinak dan mereka memakan beras-beras yang ada di kapal itu dan sekaligus mereka membuang kotoran di dekat beras-beras yang diangkut tadi. Dan juga si tikus-tikus tadi yang sudah tua, yang sudah berpenyakit gitu ya, itu juga mati di atas kapal itu. Jadi kebayang geng, beras-beras yang nantinya akan dikonsumsi itu sudah terkontaminasi oleh bangkai-bangkai tikus serta bakteri dan penyakitnya. Lalu singkat cerita, sampailah kapal itu ke Surabaya dan tidak ada satuun yang curiga mengenai banyaknya tikus yang mati di dalam kapal tersebut. Serta terlihat juga beras-beras itu sudah mulai berkutu. Nah, tapi pemerintah Hindia Belanda di saat itu tetap mendistribusikan beras tersebut ke berbagai wilayah. Nah, dari beras impor itulah akhirnya penyakit pes yang berasal dari Burma, Myanmar itu sampai ke Pulau Jawa. perjalanan untuk distribusi beras yang rencananya akan dilanjutkan ke Malang kemudian ke Ulingi. Namun di saat itu terjadi banjir. Nah, akhirnya rencana untuk melanjutkan beras-beras tersebut ke Malang dibatalkan dan ini terjadi tepat di sekitar bulan Desember tahun 1910. Sehingga akhirnya si beras yang sudah terkontaminasi dengan penyakit pest tadi disimpan di gudang-gudang yang ada di dekat stasiun Malang. Dan ternyata karena udara di daerah Malang yang cukup lembab, karena kan mereka tuh daerah dataran tinggi gitu ya, akhirnya membuat kutu-kutu pada beras dan juga tikus itu lebih cepat berkembang biak di gudang beras tersebut. Dan di saat itu banyak sekali bangkai tikus yang mati di gudang itu. Namun tetap aja enggak ada yang curiga. Dan akhirnya wabah pes itu merenggut nyawa masyarakat desa. Di situlah ketika ada sekitar 17 orang secara bersamaan meninggal dunia di sebuah desa setelah mereka mengalami demam yang tinggi, pemerintah Hindia Belanda menyadari bahwa beras yang diimpor dari Burma itu sudah terkontaminasi gara-gara tikus yang terbawa dari Burma juga. Wah, di zaman itu pemerintah Hindia Belanda kebingungan karena obat untuk penanganannya tuh belum ada, Geng. Kebayang enggak tuh orang-orang yang ada di wilayah Pulau Jawa di saat itu memakan beras yang mengandung penyakit. [Musik] Oke, itu dia sejarah beras atau nasi yang mana pada awalnya berasal dari kerajaan Mataram terlebih dahulu lalu mulai dikuasai oleh VOC dan diekspor oleh VOC dengan cara mempekerjakan para petani-petani asal Pulau Jawa. Dan di masa itu beras hanya dikonsumsi oleh masyarakat Pulau Jawa saja. Nah, sekarang kita masuk ke dalam pembahasan kebijakan Orde Baru yang membuat seluruh masyarakat Indonesia jadi ketergantungan dengan beras atau nasi. [Musik] Kalau tadi kita membahas tentang bagaimana beras itu disebar luaskan, dimonopoli oleh VOC. Nah, ternyata apa yang dijalankan oleh VOC ini sempat dilanjutkan oleh Presiden Soeharto yang mana Presiden Soeharto di masa Orde Baru itu berusaha untuk memperbaiki segala permasalahan yang ada di Indonesia yang menyebabkan Indonesia mengalami banyak ketertinggalan. Di saat itu Presiden Soeharto memulai dengan mengatur kebijakan ekonomi dengan tujuan agar kondisi perekonomian negara kembali stabil. Lalu Presiden Soeharto juga melakukan kebijakan pembayaran utang luar negeri Indonesia dengan jumlah yang sangat besar dengan beberapa program ekonomi yang diterapkan oleh Presiden Soeharto. Inflasi di Indonesia berhasil menurun pada tahun 1969. Nah, di saat itu Presiden Soeharto bisa dikatakan berhasil nih membuat Indonesia itu kembali bangkit, inflasinya menurun, terus juga mata uang kita menguat gitu ya. Dan di saat itu karena sudah tercapainya kestabilan ekonomi, barulah Presiden Soeharto menerapkan stabilitas dalam sektor pertanian dan pangan. Dan kebijakan pangan pada era Orde Baru itu berkaitan dengan ketahanan pangan. Pemerintah Orde Baru di saat itu bersama Pak Harto berusaha untuk meningkatkan keberlangsungan dan produksi pangan dari dalam negeri. Karena sebelumnya di akhir masa Orde Lama yaitu di masa Pak Soekarno gitu ya, terjadi kekurangan pangan yang berdampak pada kelaparan yang melanda Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah evaluasi nih geng pada pemerintahan Orde Baru dan Presiden Soeharto di saat itu membuat sebuah kebijakan untuk mencegah kekurangan pangan. Nah, pemerintah Orde Baru langsung membuat sebuah program untuk meningkatkan produksi pangan. Kebijakan pangan tersebut diarahkan untuk mendapatkan produksi nasional yang tinggi untuk mencapai suasembada beras. Jadi, terfokusnya tuh pada beras, nasi. Nah, mulai dari sini segala kebijakan pangan yang dicetuskan oleh pemerintah Orde Baru itu berkaitan dengan beras yang mana itu diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dan seperti yang kita tahu nih, Geng, beras atau nasi itu kan pada awalnya memang sumber terbesarnya dari Pulau Jawa. Dan bahkan VOC sendiri seperti yang kita ceritakan sebelumnya, itu memanfaatkan petani-petani Jawa untuk memproduksi beras lalu dimonopoli. Nah, makanya Geng jangan heran kalau ada sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Soeharto yang memberangkatkan orang-orang Jawa di dalam program transmigrasi ke banyak daerah. Salah satunya ada di Lampung, di Aceh, terus banyak di daerah lain lagi yang mana profesi mereka itu adalah sebagai petani beras. Nah, karena Presiden Soeharto di saat itu melihat kalau masyarakat dari Pulau Jawa itu sangat ulet, cekatan dalam menggarap sawah. Nah, lalu geng kebijakan ketahanan pangan di era Orde Baru ini termasuk ke dalam agenda repelita yang merupakan singkatan dari rencana pembangunan 5 tahun. Nah, kebijakan pangan ini ada banyak di mana salah satunya adalah suas sembada beras tadi yang merupakan bagian dari hal yang terpengaruh dengan revolusi hijau. Nah, revolusi hijau ini sendiri sebuah gagasan atau hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Thomas Robert Maltus. Nah, hasil dari penelitian si Thomas ini adalah kemiskinan dan kemelaratan itu disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan produksi pangan di mana masyarakat tumbuh lebih cepat daripada sumber pangan yang ada. Nah, Indonesia di saat itu berpatokan pada hasil penelitian si Thomas ini dan langsung di era Orde Baru mencoba untuk menerapkan revolusi hijau yang dimaksud dengan cara yang pertama nih intensifikasi pertanian yaitu yang dilakukan dengan memilih bibit unggul, mengelola tanah, irigasi, pemumpukan, dan memberantas hama. Jadi, udah enggak ada tuh sistem pertanian yang biasa-biasa alias dengan cara yang old school atau cara lama. Di masa itu, pemerintahan Soeharto itu mengadakan bimas atau bimbingan massal untuk membantu petani meningkatkan hasil produksi mereka. Nah, yang di mana para petani tradisional yang awalnya hanya sebagai petani bias, tidak mengenal cara-cara keilmuan yang modern gitu ya, itu diberikan pelatihan, subsidi, dan juga bantuan untuk mengadopsi teknik pertanian yang lebih efisien. Intensifikasi ini juga disebut dengan pancausaha tani. Nah, itu yang pertama tuh. Nah, lalu yang kedua adalah ekstensifikasi pertanian yang mana ini adalah usaha untuk memperluas lahan tani dengan membuka lahan-lahan baru. Nah, itu yang kedua. Dan yang ketiga, diversifikasi pertanian. Yaitu usaha untuk membuat sebuah lahan berisi beragam jenis tanaman lewat sistem tumpang sari dengan tujuan untuk mencegah gagalnya panen pokok. Dan lalu yang terakhir adalah rehabilitasi pertanian, yaitu upaya pemulihan produktivitas yang bisa membahayakan kondisi lingkungan. Kebijakan-kebijakan ini, Geng, terus digemborkan sepanjang tahun pada era Orde Baru yang dianggap merupakan suatu kebijakan yang memiliki upaya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia di masa itu. Dan program ini juga dianggap dapat meningkatkan produktivitas dari sumber daya manusia dan produksi komoditas pertanian terutama di sektor beras. Ada sebanyak kurang lebih 160 juta warga pada saat itu serempak menanam beras karena kebijakan Orde Baru tersebut. Atas produksi yang sangat melimpah ini, Indonesia mendapatkan prestasi dan membuat Indonesia mendapatkan penghargaan dari Food Agriculture Organization sebagai negara yang berhasil menerapkan sua sembada beras. Nah, hal ini merupakan salah satu keberhasilan yang diterapkan oleh Presiden Soeharto dan merupakan sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia di masa itu. Namun tetap, Geng, di masa itu masyarakat Indonesia belum seluruhnya memakan nasi karena keberhasilan Presiden Soeharto di saat itu. Presiden Soeharto di masa Orde Baru berusaha untuk mempromosikan nasi atau beras sebagai makanan pokok. Dia promosikanlah di berbagai media massa bahkan sampai ke ranah pendidikan yang mana semakin lama masyarakat di Indonesia ikut terdoktrin untuk menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Jadi di saat orang-orang Maluku dan Papua masih makan sagu, orang-orang di daerah lainnya masih makan singkong, kentang, dan juga jagung. Nah, di saat itu Presiden Soeharto berusaha untuk memperkenalkan nasi sebagai pengganti makanan pokok lain. Yang sebenarnya di masa itu tidak semua orang-orang dari daerah-daerah yang gua sebutkan tadi bisa menerima nasi sebagai makanan pokok mereka. Nah, tapi semacam ada doktrin atau dengan kata lain semacam ada promosi yang diadakan secara memaksa gitu ya di pelajaran-pelajaran sekolah, di media massa, di TV, di koran itu semuanya mempromosikan nasi, mempromosikan beras atas perintah Presiden Soeharto. Dan di saat itu orang-orang dari Papua, Maluku, NTT, Sulawesi yang dari Timur semua akhirnya mulai terpengaruh dengan berasis sasi promosi besar-besaran beras atau nasi sebagai bahan pokok. yang digembar-gemborkan oleh pemerintahan Soeharto di saat itu. Dan mulailah tuh makanan pokok seperti tiwul, sagu, dan juga jagung perlahanlahan mulai tergantikan atau tergeser dengan satu jenis makanan pokok yaitu beras atau nasi. Jadi di sini mungkin kita bisa lihat ya, kenapa kok ketahanan tubuh orang-orang di timur sana tuh kuat banget. Bahkan mereka masuk di dalam hutan, mereka main di lumpur segala macam, tapi jarang sakit. Nah, itu kembali kepada penilaian kalian. Karena seperti yang kita tahu ya, seorang anak manusia itu tergantung dengan apa yang dia makan, apa yang dia minum atau apa yang dia konsumsi. Dan kita bisa lihat di berbeda-beda daerah dari bentuk fisik, ketahanan fisik itu juga berbeda-beda. Nah, kalau kita lihat orang-orang di Papua sana fisiknya kuat-kuat banget. Kalian bisa lihatlah pemain-pemain bola dari Papua atau fighter petinju dari Papua kok keras-keras banget gitu. Nah, karena sampai detik ini di Papua itu masih jarang makan nasi. mereka masih mempertahankan makanan tradisional mereka yaitu sagu yang mana sagu itu bisa memberikan nutrisi bagi mereka tanpa adanya kandungan gula yang tinggi yang memberikan resiko bagi tubuh mereka. Jadi kurang lebih penjelasan simpelnya kayak gitu, Geng. Tapi kalau misalkan kalian mau lebih jelasnya mungkin bisa kalian tanyakan kepada ahli gizi. Karena gua kan bukan ahli gizi. Jadi itu di luar ranah gua. Jadi kita di sini membahas yang simpel-simpelnya aja. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan kritikan masyarakat terhadap sua sembada beras di zaman orde baru yang dianggap sebagai pemaksaan untuk menyamaaratakan makanan pokok di seluruh daerah. Jadi, Geng, kebijakan Presiden Soeharto dengan suasembada beras yang dilakukan dengan label revolusi hijau memang terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia dan membuat semua orang di Indonesia di saat itu hampir mayoritasnya gitu ya, mengkonsumsi nasi atau beras sebagai bahan pokok. Lalu pasti kalian bakal bilang, "Loh, enggak ada yang salah kok orang makan nasi itu enak. Buktinya kita semua bisa besar. Kita tumbuh hebat, pintar karena makan nasi." Nah, jangan salah, Geng. Di awal-awal ketika beras atau nasi dijadikan sebagai makanan pokok, ternyata di saat itu banyak timbul masalah. Jadi, banyak hal-hal negatif yang timbul atas kebijakan ini. Seperti beberapa orang yang tadinya mengkonsumsi sagu atau singkong dan lain-lain itu mulai muncul adanya penyakit-penyakit tertentu akibat mereka mulai mengganti makanan pokok mereka menjadi beras. Nah, terus geng berdasarkan keterangan dari Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian yang bernama Agung Hendradi, jumlah konsumen beras di Indonesia masih melebihi jumlah yang wajar. Kalau dilihat dari data pola konsumsi itu menunjukkan kalau beras atau nasi mendominasi porsi menu konsumsi masyarakat Indonesia sampai 60% yang mana idealnya itu maksimal 50% aja agar masyarakat masih bisa hidup lebih sehat, aktif, dan juga produktif. Nah, karena kenapa? Kandungan di dalam nasi, kandungan di dalam beras itu tidak semuanya baik. Jadi, memang yang kita konsumsi itu adalah karbohidratnya gitu ya. Tapi di sana ada glukosa alias gula yang mana itu bisa menyebabkan penyakit bagi tubuh manusia. Dan untuk sebuah negara yang menjadikan nasi sebagai bahan pokok itu sudah seharusnya masyarakatnya berolahraga. Tapi pada kenyataannya kita lihat masyarakat kita tidak semuanya berolahraga gitu kan. Bahkan resiko diabetes masih sangat tinggi dan masih menjadi sumber yang sangat besar atas penyebab kematian di Indonesia. Nah, makanya jangan heran kalau kita lihat bentuk fisik kita, kalau kita bandingkan fisik kita dengan orang luar negeri itu kok beda banget. Orang kita tuh kecil-kecil, kadang cepat menggendut ya kan. Pas tua udah di atas umur 40 tahun, tubuhnya mengembang, laki-laki membuncit dan segala macam. Nah, itu semua karena pola hidup, terutama karena pola makan yang mana seharusnya kita sebagai pengkonsumsi nasi, pengkonsumsi beras itu sudah sangat wajib untuk berolahraga, Geng. [Musik] Nah, jadi geng semenjak adanya revolusi hijau atau kebijakan pada masa orde lama oleh Pak Soeharto mengenai beras sebagai makanan pokok, akhirnya banyak masyarakat Indonesia yang mengalami diabetes. Selain dampak dari kesehatan tadi, revolusi hijau juga berdampak terhadap lingkungan yang mana penerapan kebijakan revolusi hijau sebenarnya berhasil mengubah kebiasaan para petani Indonesia yang awalnya hanya menggunakan sistem bertani secara tradisional menjadi sistem bertani dengan cara yang lebih modern. di mana para petani mulai menggunakan teknologi pertanian yang ditawarkan oleh program-program di dalam revolusi hijau seperti misalkan pupuk kimia, alat-alat pembajak yang mulai canggih-canggih dan lain-lain lah yang mana hal tersebut terlihat memudahkan petani. Tetapi untuk efek jangka panjangnya sebenarnya tetap ada efek samping atau efek negatifnya seperti salah satunya adalah penggunaan pupuk berbahan kimia. Pupuk-pupuk berbahan kimia ini tidak hanya berbahaya bagi tubuh manusia, Geng, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Dan kegiatan bertani untuk saat ini dengan segala macam bahan kimia tersebut dianggap sangat tidak ramah lingkungan karena dapat membunuh spesies-spesies lain. Salah satu contohnya adalah cacing-cacing ya itu banyak yang mati, ikan juga banyak yang mati, serangga-serangga yang dianggap hama juga ikut mati karena penggunaan bahan-bahan kimia tadi. Jadi revolusi hijau yang sebenarnya dianggap sebagai sebuah upaya untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi pada para petani yang mana memang ya masyarakat Indonesia terselamatkanlah dengan ketahanan pangan, kondisi pangan yang melimpah. Tapi dimulai pada masa Orde Baru tersebut sampai detik ini kesejahteraan petani tetap tidak terjamin. Banyak petani yang masih hidup miskin di negara kita. Dan yang menyedihkannya adalah banyak hewan yang tidak bisa makan rumput, terutama rumput-rumput yang sudah tercemar dengan pestisida. [Musik] Terus biaya untuk bertani saat ini itu jauh lebih mahal karena mengharuskan para petani dengan membeli pupuk-pupuk bermerek, terus juga jenis-jenis pestisida kimia beraneka macam ragam yang harganya sudah mulai melambung. Sementara keuntungan dari hasil panen juga tidak seberapa. Lalu yang jadi pertanyaannya, apakah para petani ini bisa menolak untuk tidak mengikuti program dari revolusi hijau? Jawabannya tentu enggak. Semua petani itu diharuskan untuk mengikuti panduan dari revolusi hijau. Kalau tidak mau nurut di masa itu, ya pastinya mereka bakal ditangkap karena melawan pemerintah Orde Baru. Dan kejadian ini pernah terjadi nih, Geng. Dialami oleh seorang petani yang bernama Gatot Surono. Dia ini berasal dari Purbalingga. Di masa itu dia tidak mau mengikuti program revolusi hijau yang mana dia menganggap program tersebut yang menggunakan e pupuk kimia, bahan-bahan kimia lain itu membuat lahan pertaniannya dia rusak. Nah, Gatot ini bersih kukuh untuk menanam padi lokal dengan memakai pupuk kandang dari kotoran hewan dari alam, bukan menggunakan pupuk kimia. Jadinya di saat itu karena dia dianggap menolak program revolusi hijau, dia pun ditangkap oleh pihak koramil dan tanamannya dia yang ada di sawah itu dicabuti semua. Dan setelah menjalankan hukuman, Gatot pun dibebaskan dan Gatot di saat itu menjadi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan lagi karena dia dilarang untuk bertani. Nah, di masa itu dia benar-benar terasingkan karena dianggap melawan pemerintah Orde Baru. Nah, jadi bisa dikatakan program revolusi hijau itu juga diterapkan oleh pemerintah secara paksa di masa itu. Nah, lalu singkat ceritanya Gatot mulai mendapatkan pekerjaan lagi. Dia diterima di sebuah pabrik penyulingan. Tetapi dia dikeluarkan dari pabrik itu pada tahun 1984 dan dia mendapatkan pesangon. Nah, dari hasil uang pesangon itu dia mencoba untuk memberanikan diri dengan menyewa tanah dan mulai bertani lagi. Nah, bertani secara diam-diam. Lalu Gatot ini tetap tidak mengikuti aturan pemerintah yang menyebabkan akhirnya dia kembali ditahan, Geng. Nah, Gatot di saat itu ditahan selama 4 bulan oleh pemerintah dan setelah dia dibebaskan, dia memberanikan diri lagi dengan jadi petani dan menanam padi lokal lagi dengan menggunakan pupuk alami. Nah, namun untuk kali ini dia tidak ketahuan dan sampai akhirnya dia berhasil memanen tanaman padinya. Di saat itu uniknya nih, Geng ya, Gatot ini tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang tanaman padinya itu. Dan dia dengan sengaja mengundang pihak Koramil yang mana pihak Koramil ini adalah orang-orang yang mencabuti tanaman padi milik Gatot dan sekaligus memenjarakan Gatot. Nah, di saat itu sengaja tuh Gatot ngundang orang-orang tersebut. Lalu disajikanlah beras hasil tanaman Gatot tadi. Dan ketika mereka makan, mereka bilang, "Wah, enak banget rasanya." Beda banget ya dengan beras-beras atau nasi pada umumnya yang menggunakan pupuk kimia dan juga pestisida. Nah, dan di saat itu Gatot langsung jujur. Dia bilang, "Iya, Pak. Itu padi saya tanam secara tradisional yang dulunya pernah Bapak-Bapak cabut gitu. Dan itu merupakan padi yang ditanam secara tradisional tanpa menggunakan pupuk kimia." Sontak di saat itu pihak koramil tersebut pun ya merasa malu dan mereka mengatakan mereka hanya menjalankan perintah atasan. Nah, di akhir perbincangan, Gatot ini meminta kepada para anggota koramil tersebut untuk mengizinkan dia menanam padi tradisional dan jangan diganggu lagi. Yang mana akhirnya banyak petani-petani lain yang mulai berani menanam padi lokal lagi. [Musik] Nah, itu dia, Geng, penjelasan mengenai perjalanan nasi atau beras sehingga menjadi makanan pokok seluruh masyarakat Indonesia. yang mana pada awalnya nasi atau beras ini hanyalah makanan pokok di Pulau Jawa, tidak untuk seluruh Indonesia. Tetapi mulai dari kerajaan Mataram lalu disambut oleh VOC sampai dengan masa Orde Baru, kebijakan memakan nasi bagi rakyat Indonesia akhirnya merubah budaya orang Indonesia yang sebenarnya memiliki keanekaragaman makanan pokok di masa itu. Nah, jadilah sekarang permasalahannya adalah banyak orang Indonesia yang setiap harinya mengkonsumsi nasi namun tidak berolahraga, akhirnya mereka menderita diabetes akibat kandungan gula yang cukup tinggi di dalam Así.
Resume
Categories