GARA-GARA PAK SOEHARTO SELURUH RAKYAT INDONESIA HARUS MAKAN NASI SEUMUR HIDUP ! SEJARAH !
DEeaW-hkSuU • 2024-06-08
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Gatot ini tidak pernah menceritakan
kepada siapapun tentang tanaman padinya
itu dan dia dengan sengaja mengundang
pihak koramil yang mana pihak Koramil
ini adalah orang-orang yang mencabuti
tanaman padi milik Gatot dan sekaligus
memenjarakan Gatot. Nah, di saat itu
sengaja tuh Gatot ngundang orang-orang
tersebut lalu disajikanlah.
Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Geng.
Eo, what's good? Welcome back to Kamar
Jerry
[Musik]
Genggeng. Oke, kali ini mungkin
setup-nya berbeda lagi karena gua sedang
ada di luar kota dan kita tetap ngonten,
kita tetap berbagi informasi. Nah, tapi
sebelumnya gua minta maaf banget kalau
misalkan ada suara motor lalu-lalang di
belakang ya. Karena sekarang gua
posisinya itu ada di sebuah villa dan
vilanya itu kebetulan langsung di depan
jalan raya gitu. Tapi gak apa-apa, kita
tetap e berbagi informasi. Jadi sesuai
judul yang udah kalian baca, mungkin
menurut kalian ini sebuah informasi yang
apaan sih? Basic banget, dasar banget
gitu ya. Kayak aneh aja gitu membahas
mengapa masyarakat Indonesia makan nasi,
mengapa masyarakat Indonesia
mengkonsumsi beras. Nah, padahal nih,
Geng ya, ini pembahasannya cukup menarik
dan ada sejarahnya tersendiri yang mana
sebenarnya kita masyarakat Indonesia itu
tidak semuanya makan nasi, Geng pada
dasarnya. Ya, sebagai salah satu contoh
nih yang paling dekat saat ini, ya, yang
bisa kita lihat adalah saudara-saudara
kita di Papua. Masyarakat Papua itu
aslinya enggak makan beras. Mereka
justru makan sagu. Sagu itu terbuat dari
pohon sagu. Nah, tapi untuk saat
sekarang ini masyarakat di Papua sana
justru juga sudah makan nasi seperti
orang-orang dari daerah Indonesia yang
lain. Dan sampai saat sekarang ini
budaya makan nasi itu menjadi sebuah
keharusan bagi masyarakat Indonesia yang
mana kalau belum makan nasi itu artinya
ya kita belum makan gitu kan. Dan
ternyata nih geng sejarah orang
Indonesia semuanya makan nasi itu tidak
sesimpel yang kita kira. Ternyata
dulunya ada unsur politik dan kebijakan
yang diterapkan pada masa Orde Baru
alias pada masa kepemimpinan Pak Harto
yang membuat masyarakat Indonesia
akhirnya memilih nasi sebagai makanan
pokok. Dan walaupun pemerintahan Orde
Baru sudah berakhir, Pak Harto sudah
dilengserkan, tapi kebiasaan makan nasi
itu sampai sekarang masih diterapkan di
Indonesia. Dan perlu kalian ketahui nih,
Geng, kalian boleh tanya ke dokter
manapun. Yang namanya nasi itu memang
mengenyangkan, terus juga sudah menjadi
makanan sehari-hari masyarakat
Indonesia. Tetapi nasi ini punya efek
samping yang juga berbahaya, yaitu kadar
gulanya yang tinggi. Dan nasi itu
bertanggung jawab atas tingginya angka
kematian orang-orang yang menderita
diabetes. Nah, sekarang gua pengen ajak
kalian nih untuk ngebahas bagaimana sih
sejarahnya nasi ini bisa dipolitikkan
menjadi makanan pokok orang Indonesia
sehingga orang Indonesia benar-benar
ketergantungan dengan nasi. Langsung aja
kita bahas di sisi lain.
[Musik]
Oke, untuk membahas sejarah ini kita
perlu bahas dulu kondisi Indonesia pada
zaman kolonialisme Belanda yang mana
masyarakat Indonesia pada zaman itu
belum seluruhnya mengkonsumsi nasi
sebagai makanan pokok.
[Musik]
Seperti yang kita tahu ya, Geng,
Indonesia ini kan terdiri dari banyak
pulau dan setiap pulau itu memiliki
karakteristik geografisnya
sendiri-sendiri. Nah, jadi bisa
dipastikan enggak mungkin setiap pulau,
setiap daerah itu memiliki kesamaan
budaya, tradisi, suku sampai dengan
makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Udah pasti beda pulau, makanan khasnya
bakal beda. Lalu, bagaimana dengan nasi?
Untuk saat ini semua masyarakat
Indonesia udah pasti makan nasi. Dari
barat sampai ke timur pasti makan nasi.
Nah, tapi apakah pada zaman dulu orang
Indonesia itu semua makan nasi,
membutuhkan beras? Jawabannya enggak.
Jadi dari zaman dulu itu hanya sebagian
besar suku atau hanya sebagian daerah di
Indonesia yang mengkonsumsi nasi. Kita
contohkan aja nih, Geng. Ada masyarakat
yang berasal dari Gunung Kidul. Mereka
ini tidak makan nasi yang berasal dari
beras, tetapi mereka justru memakan
tiwul. Tiwul ini berasal dari bahan
dasar singkong yang dikeringkan lalu
ditumbuk. Dan itulah yang menjadi
makanan pokok mereka sehari-hari. Mereka
tidak makan nasi di sana. Nah, terus ada
lagi yang makannya jagung. Pada zaman
dahulu yang mengkonsumsi jagung atau
tepung yang berasal dari jagung sebagai
makanan pokok sehari-hari itu ada orang
Madura, orang Nusa Tenggara Timur, orang
Jawa Tengah, dan juga orang Sulawesi.
Lalu seperti yang gu katakan tadi, orang
di Indonesia Timur yaitu Papua dan
Maluku itu juga tidak mengenal beras
alias tidak memakan nasi. Mereka justru
memakan sagu sebagai bahan pokok makanan
mereka. Perbedaan makanan pokok ini itu
disebabkan karena perbedaan daerah yang
membedakan jenis tanah, terus ketinggian
wilayah, cuaca, dan curah hujan, serta
faktor-faktor lainnya termasuk faktor
indra perasa alias lidah yang
berbeda-beda. Ya, kita contohin aja ya.
Ada masyarakat suku di Indonesia yang
enggak suka pedas, ada juga yang suka
banget pedas. Bahkan sampai makan pisang
goreng pun harus pakai cabe, harus pakai
sambal. biasanya orang Sulawesi tuh
makanya itu udah menjadi faktor yang
sangat berbeda. Dan di zaman dulu
sebelum Pak Harto menjadi presiden, kita
ini makanannya berbeda-beda. Jadi kalau
misalkan kalian traveling ke Papua di
zaman itu, di zaman 10 Pak Harto jadi
presiden, udah pasti kalian enggak bakal
bisa dapat nasi goreng atau nasi gurih,
nasi uduk. Enggak bakal ada di Papua.
Atau kalian mau ke Madura, udah pasti
kalian bakal sangat sulit mendapatkan
yang namanya nasi goreng nasi gurih
tadi. Karena pada masa itu orang-orang
di Madura makannya jagung.
[Musik]
Lalu bagaimana bisa nih, Geng?
Perbedaan-perbedaan tersebut akhirnya
diseragamkan alias disamaatakan. Jadinya
semua orang makan nasi. Jadi untuk
membahas ini kita mundur sedikit ketika
Indonesia masih berbentuk kerajaan nih,
Geng. Jadi menurut seorang sejarawan
gastronomi bernama Fadli Rahman,
ketergantungan orang Indonesia terhadap
nasi atau beras itu pada awalnya hanya
terjadi di sebagian daerah atau di
sebuah daerah kecil yang pada saat itu
ia masih dipimpin oleh kerajaan Mataram.
Nah, di masa kekuasaan kerajaan Mataram,
beras atau nasi itu dianggap menjadi
salah satu simbol keberhasilan raja
dalam memimpin. Yang mana berhasilnya
seorang raja sebagai penguasa suatu
wilayah ditentukan dari keberhasilan si
raja tersebut mensejahterakan rakyatnya
dengan memenuhi kebutuhan pangan yang
notabnya di saat itu adalah beras. Nah,
jadi rakyat kerajaan Mataram ini
konsumsinya atau bahan pokoknya beras.
Nah, tapi cukup di lingkup mereka aja,
belum ke lingkup-lingkup luar. Dari
pasokan beras yang mereka punya nih,
Geng. Kerajaan Mataram menjadi bisa
membeli barang-barang seperti rotan,
terus kain sutra, katun, dan lain-lain.
Yang mana sistemnya di saat itu dengan
cara barter. Nah, di saat itu hanya
orang-orang Mataram lah atau rakyat yang
di bawah kepemimpinan kerajaan Mataram
yang mengkonsumsi beras. Dan beras di
dalam aturan kerajaan mereka itu sakral
karena menjadi bahan makanan pokok.
Lalu bagaimana bisa, Geng? Tiba-tiba kok
beras ini atau nasi ini tersebar kepada
masyarakat di luar kerajaan Mataram.
Jadi awal ceritanya itu gara-gara
kedatangan bangsa Belanda yang mana di
saat itu diawali dengan kedatangan
sebuah perusahaan asal Belanda yang
bernama VOC. Jadi ceritanya ketika kita
Indonesia dijajah oleh Belanda yang mana
inisiatif tersebut dibawa oleh VOC dan
VOC mulai menguasai wilayah Indonesia
dan memotongoli perdagangan
rempah-rempah yang ada di Indonesia,
salah satu komoditas yang dikuasai atau
mulai dilirik oleh VOC adalah beras.
Yang mana beras di saat itu hanya
berasal dari Pulau Jawa, terkhususnya di
wilayah kekuasaan kerajaan Mataram. Nah,
jadi awalnya kayak gitu, Geng. Jadi tuh
VOC ngambil tuh pala cengkeh yang ada di
Maluku, terus lada hitam yang ada di
Aceh zaman itu. Ganja juga dari Aceh,
terus banyak lagi kayak bawang, terus
cabe, pokoknya banyaklah yang dikuasai
oleh VOC. Nah, salah satu komoditi yang
mereka lihat ini cukup menguntungkan
apabila dijual dalam porsi yang banyak.
Dan juga komodi ini bakal bisa membuat
orang ketergantungan supaya kenyang,
yaitu beras. Nah, beras-beras tersebut
yang sudah dikuasai oleh VOC kemudian
diekspor oleh VOC ke berbagai pulau di
luar Jawa bahkan sampai ke luar
Indonesia yang mana nama Indonesia di
masa itu masih Hindia Belanda. Nah, pada
masa itu Indonesia yang bernama Hindia
Belanda tercatat di mata dunia sebagai
pengekspor beras salah satu terbesar di
pasar internasional yang mana pada
awalnya VOC hanya mendapatkan beras ini
dari Pulau Jawa pada awalnya. Nah,
mereka mulai mencoba untuk memperluaskan
lagi sumber beras yaitu sawah mulai dari
Pulau Jawa sampai dengan ke Nusa
Tenggara Barat. Jadi, di saat itu VOC
membuat lahan yang begitu luas di daerah
Indramayu dan juga Lombok. Nah, kualitas
beras yang dimiliki oleh VOC dari hasil
menguasai ee persawahan yang ada di
Indonesia itu dikatakan oleh dunia
internasional sebagai beras dengan
kualitas terbaik. Tapi di masa itu
walaupun produksinya dari Lombok,
produksinya dari Indramayu, tetap
dikenal dengan beras Jawa. Jadi dulunya
tuh dikenal dengan sebutan beras Jawa.
Dan beras Jawa ini bisa bersaing dengan
beras-beras dari negara lain seperti
beras produksi Italia, Carolina, dan
juga Burma. Nah, Burma itu adalah
Myanmar. Dulu namanya Burma, sekarang
berganti menjadi Myanmar. Namun ada hal
yang menyedihkan, Geng, di dalam praktik
monopoli atau penguasaan beras Jawa ini.
Yang mana di saat itu masyarakat Jawa
sendiri itu hanya disisakan beras
saringan atau filter ketiga sampai
kelima alias yang masih bagusnya nih ya
itu diperjual belikan ke negara lain.
Sementara sisa-sisanya yang ada kutu,
yang masih ada kulitnya, yang kotor gitu
ya, yang enggak bagus kualitasnya, itu
semuanya diberikan kepada masyarakat
pribumi Indonesia untuk konsumsi mereka.
Nah, namun geng di masa VOC tersebut
kualitas beras Jawa itu memang udah
bagus. Nah, tetapi karena mayoritas para
petani di saat itu masih sangat
tradisional, jadinya untuk ukuran
berasnya terus juga jangka waktu
panennya itu memakan waktu yang cukup
lama. Sehingga di masa itu VOC
mendatangkan seorang ahli botani asal
Jerman yang bernama George Eberhard
Rumpius. Nah, di saat itu George ini
ditempatkan untuk bekerja di Maluku dan
tugasnya adalah mencatat perdagangan
beras yang mulai dibawa dari Jawa sampai
ke Maluku. Nah, tapi ini geng jangan
salah. Walaupun beras dari Jawa ini
dibawa ke Maluku, bukan berarti itu
untuk konsumsi orang Maluku. Di saat itu
menurut George ni sebagai saksi mata,
masyarakat Maluku justru melihat beras
dari Jawa ini sebagai barang yang sangat
mewah. hanya orang-orang tertentu yang
bisa mengkonsumsi beras seperti
bangsawan, orang kaya, juragan, saudagar
gitu. Sementara masyarakat Maluku di
masa itu mereka hanya mengkonsumsi sagu,
ubi rambat dan juga talas yang sudah
mereka jadikan sebagai makanan pokok
mereka dari zaman nenek moyang mereka
dulu. Nah, jadi beras yang dibawa ke
Maluku itu untuk diseberangkan ke negara
lain ya, disebarkan ke pasar
internasional.
Lalu geng singkat ceritanya tiba-tiba
nih geng Pulau Jawa yang menjadi pusat
dari penghasil komoditas beras tiba-tiba
mengalami musim paceklik yang
menyebabkan persediaan beras jadi
berkurang dengan sangat drastis sampai
menyebabkan kekurangannya pasokan. Di
saat itu, Indonesia yang dikuasai oleh
pemerintah kolonial Hindia Belanda
memutuskan untuk mengimpor beras dari
Burma, India, dan Cina. Nah, kenapa bisa
begitu? Ya, karena pasarnya harus tetap
dikuasai. Jadi, ya beras-beras yang
dibeli dari luar tadi dimasukkan dulu ke
Indonesia, ke Jawa lalu nanti baru
dilepaskan lagi atau dijual lagi ke
pasar internasional. Jadi ibaratnya di
saat itu pemerintah Belanda itu enggak
mau kalah lah di dalam perdagangan
tersebut. Beras-beras yang dimasukkan
dari Burma, India dan Cina ini dikirim
menggunakan kapal yang berlabuh di
Surabaya. Dan setelah kapal pengangkut
beras sampai di Surabaya, beras tersebut
kemudian diangkut lagi menggunakan
kereta api ke daerah selatan Surabaya
yang sedang mengalami musim paceklik.
Lalu sampai pada bulan Agustus tahun
1910, beras yang diimpor semakin
meningkat dan terus meningkat pada
bulan-bulan berikutnya. Nah, namun
sayangnya ya di saat itu nih pemerintah
Hindia Belanda tidak mengetahui kalau
sebenarnya Burma atau Myanmar sedang
dilanda oleh wabah pes yang mana wabah
pes ini kan berasal dari tikus.
Tikus-tikus dari Burma ternyata ikut
tersangkut atau ikut masuk ke dalam
kapal-kapal pengangkut beras yang
membawa beras menuju ke Surabaya. Dan
karena perjalanan dari Burma ke
Indonesia itu cukup jauh ya karena kan
ditempuh menggunakan kapal memakan waktu
berbulan-bulan gitu ya. Si tikus-tikus
yang ikut naik ke kapal tadi sedikit
demi sedikit itu jumlahnya semakin
banyak karena beranak-pinak dan mereka
memakan beras-beras yang ada di kapal
itu dan sekaligus mereka membuang
kotoran di dekat beras-beras yang
diangkut tadi. Dan juga si tikus-tikus
tadi yang sudah tua, yang sudah
berpenyakit gitu ya, itu juga mati di
atas kapal itu. Jadi kebayang geng,
beras-beras yang nantinya akan
dikonsumsi itu sudah terkontaminasi oleh
bangkai-bangkai tikus serta bakteri dan
penyakitnya.
Lalu singkat cerita, sampailah kapal itu
ke Surabaya dan tidak ada satuun yang
curiga mengenai banyaknya tikus yang
mati di dalam kapal tersebut. Serta
terlihat juga beras-beras itu sudah
mulai berkutu. Nah, tapi pemerintah
Hindia Belanda di saat itu tetap
mendistribusikan beras tersebut ke
berbagai wilayah.
Nah, dari beras impor itulah akhirnya
penyakit pes yang berasal dari Burma,
Myanmar itu sampai ke Pulau Jawa.
perjalanan untuk distribusi beras yang
rencananya akan dilanjutkan ke Malang
kemudian ke Ulingi. Namun di saat itu
terjadi banjir. Nah, akhirnya rencana
untuk melanjutkan beras-beras tersebut
ke Malang dibatalkan dan ini terjadi
tepat di sekitar bulan Desember tahun
1910. Sehingga akhirnya si beras yang
sudah terkontaminasi dengan penyakit
pest tadi disimpan di gudang-gudang yang
ada di dekat stasiun Malang.
Dan ternyata karena udara di daerah
Malang yang cukup lembab, karena kan
mereka tuh daerah dataran tinggi gitu
ya, akhirnya membuat kutu-kutu pada
beras dan juga tikus itu lebih cepat
berkembang biak di gudang beras
tersebut. Dan di saat itu banyak sekali
bangkai tikus yang mati di gudang itu.
Namun tetap aja enggak ada yang curiga.
Dan akhirnya wabah pes itu merenggut
nyawa masyarakat desa. Di situlah ketika
ada sekitar 17 orang secara bersamaan
meninggal dunia di sebuah desa setelah
mereka mengalami demam yang tinggi,
pemerintah Hindia Belanda menyadari
bahwa beras yang diimpor dari Burma itu
sudah terkontaminasi gara-gara tikus
yang terbawa dari Burma juga. Wah, di
zaman itu pemerintah Hindia Belanda
kebingungan karena obat untuk
penanganannya tuh belum ada, Geng.
Kebayang enggak tuh orang-orang yang ada
di wilayah Pulau Jawa di saat itu
memakan beras yang mengandung penyakit.
[Musik]
Oke, itu dia sejarah beras atau nasi
yang mana pada awalnya berasal dari
kerajaan Mataram terlebih dahulu lalu
mulai dikuasai oleh VOC dan diekspor
oleh VOC dengan cara mempekerjakan para
petani-petani asal Pulau Jawa. Dan di
masa itu beras hanya dikonsumsi oleh
masyarakat Pulau Jawa saja. Nah,
sekarang kita masuk ke dalam pembahasan
kebijakan Orde Baru yang membuat seluruh
masyarakat Indonesia jadi ketergantungan
dengan beras atau nasi.
[Musik]
Kalau tadi kita membahas tentang
bagaimana beras itu disebar luaskan,
dimonopoli oleh VOC. Nah, ternyata apa
yang dijalankan oleh VOC ini sempat
dilanjutkan oleh Presiden Soeharto yang
mana Presiden Soeharto di masa Orde Baru
itu berusaha untuk memperbaiki segala
permasalahan yang ada di Indonesia yang
menyebabkan Indonesia mengalami banyak
ketertinggalan. Di saat itu Presiden
Soeharto memulai dengan mengatur
kebijakan ekonomi dengan tujuan agar
kondisi perekonomian negara kembali
stabil. Lalu Presiden Soeharto juga
melakukan kebijakan pembayaran utang
luar negeri Indonesia dengan jumlah yang
sangat besar dengan beberapa program
ekonomi yang diterapkan oleh Presiden
Soeharto. Inflasi di Indonesia berhasil
menurun pada tahun 1969.
Nah, di saat itu Presiden Soeharto bisa
dikatakan berhasil nih membuat Indonesia
itu kembali bangkit, inflasinya menurun,
terus juga mata uang kita menguat gitu
ya. Dan di saat itu karena sudah
tercapainya kestabilan ekonomi, barulah
Presiden Soeharto menerapkan stabilitas
dalam sektor pertanian dan pangan. Dan
kebijakan pangan pada era Orde Baru itu
berkaitan dengan ketahanan pangan.
Pemerintah Orde Baru di saat itu bersama
Pak Harto berusaha untuk meningkatkan
keberlangsungan dan produksi pangan dari
dalam negeri. Karena sebelumnya di akhir
masa Orde Lama yaitu di masa Pak
Soekarno gitu ya, terjadi kekurangan
pangan yang berdampak pada kelaparan
yang melanda Indonesia. Hal tersebut
kemudian menjadi sebuah evaluasi nih
geng pada pemerintahan Orde Baru dan
Presiden Soeharto di saat itu membuat
sebuah kebijakan untuk mencegah
kekurangan pangan.
Nah, pemerintah Orde Baru langsung
membuat sebuah program untuk
meningkatkan produksi pangan. Kebijakan
pangan tersebut diarahkan untuk
mendapatkan produksi nasional yang
tinggi untuk mencapai suasembada beras.
Jadi, terfokusnya tuh pada beras, nasi.
Nah, mulai dari sini segala kebijakan
pangan yang dicetuskan oleh pemerintah
Orde Baru itu berkaitan dengan beras
yang mana itu diterapkan oleh seluruh
masyarakat Indonesia.
Dan seperti yang kita tahu nih, Geng,
beras atau nasi itu kan pada awalnya
memang sumber terbesarnya dari Pulau
Jawa. Dan bahkan VOC sendiri seperti
yang kita ceritakan sebelumnya, itu
memanfaatkan petani-petani Jawa untuk
memproduksi beras lalu dimonopoli. Nah,
makanya Geng jangan heran kalau ada
sebuah kebijakan yang diterapkan oleh
Presiden Soeharto yang memberangkatkan
orang-orang Jawa di dalam program
transmigrasi ke banyak daerah. Salah
satunya ada di Lampung, di Aceh, terus
banyak di daerah lain lagi yang mana
profesi mereka itu adalah sebagai petani
beras. Nah, karena Presiden Soeharto di
saat itu melihat kalau masyarakat dari
Pulau Jawa itu sangat ulet, cekatan
dalam menggarap sawah.
Nah, lalu geng kebijakan ketahanan
pangan di era Orde Baru ini termasuk ke
dalam agenda repelita yang merupakan
singkatan dari rencana pembangunan 5
tahun. Nah, kebijakan pangan ini ada
banyak di mana salah satunya adalah suas
sembada beras tadi yang merupakan bagian
dari hal yang terpengaruh dengan
revolusi hijau.
Nah, revolusi hijau ini sendiri sebuah
gagasan atau hasil dari penelitian yang
dilakukan oleh Thomas Robert Maltus.
Nah, hasil dari penelitian si Thomas ini
adalah kemiskinan dan kemelaratan itu
disebabkan oleh pertumbuhan penduduk
yang tidak seimbang dengan produksi
pangan di mana masyarakat tumbuh lebih
cepat daripada sumber pangan yang ada.
Nah, Indonesia di saat itu berpatokan
pada hasil penelitian si Thomas ini dan
langsung di era Orde Baru mencoba untuk
menerapkan revolusi hijau yang dimaksud
dengan cara yang pertama nih
intensifikasi pertanian yaitu yang
dilakukan dengan memilih bibit unggul,
mengelola tanah, irigasi, pemumpukan,
dan memberantas hama. Jadi, udah enggak
ada tuh sistem pertanian yang
biasa-biasa alias dengan cara yang old
school atau cara lama. Di masa itu,
pemerintahan Soeharto itu mengadakan
bimas atau bimbingan massal untuk
membantu petani meningkatkan hasil
produksi mereka. Nah, yang di mana para
petani tradisional yang awalnya hanya
sebagai petani bias, tidak mengenal
cara-cara keilmuan yang modern gitu ya,
itu diberikan pelatihan, subsidi, dan
juga bantuan untuk mengadopsi teknik
pertanian yang lebih efisien.
Intensifikasi ini juga disebut dengan
pancausaha tani. Nah, itu yang pertama
tuh. Nah, lalu yang kedua adalah
ekstensifikasi pertanian yang mana ini
adalah usaha untuk memperluas lahan tani
dengan membuka lahan-lahan baru. Nah,
itu yang kedua. Dan yang ketiga,
diversifikasi pertanian. Yaitu usaha
untuk membuat sebuah lahan berisi
beragam jenis tanaman lewat sistem
tumpang sari dengan tujuan untuk
mencegah gagalnya panen pokok. Dan lalu
yang terakhir adalah rehabilitasi
pertanian, yaitu upaya pemulihan
produktivitas yang bisa membahayakan
kondisi lingkungan. Kebijakan-kebijakan
ini, Geng, terus digemborkan sepanjang
tahun pada era Orde Baru yang dianggap
merupakan suatu kebijakan yang memiliki
upaya untuk mensejahterakan rakyat
Indonesia di masa itu. Dan program ini
juga dianggap dapat meningkatkan
produktivitas dari sumber daya manusia
dan produksi komoditas pertanian
terutama di sektor beras. Ada sebanyak
kurang lebih 160 juta warga pada saat
itu serempak menanam beras karena
kebijakan Orde Baru tersebut. Atas
produksi yang sangat melimpah ini,
Indonesia mendapatkan prestasi dan
membuat Indonesia mendapatkan
penghargaan dari Food Agriculture
Organization sebagai negara yang
berhasil menerapkan sua sembada beras.
Nah, hal ini merupakan salah satu
keberhasilan yang diterapkan oleh
Presiden Soeharto dan merupakan sebuah
kebanggaan bagi bangsa Indonesia di masa
itu. Namun tetap, Geng, di masa itu
masyarakat Indonesia belum seluruhnya
memakan nasi karena keberhasilan
Presiden Soeharto di saat itu. Presiden
Soeharto di masa Orde Baru berusaha
untuk mempromosikan nasi atau beras
sebagai makanan pokok. Dia promosikanlah
di berbagai media massa bahkan sampai ke
ranah pendidikan yang mana semakin lama
masyarakat di Indonesia ikut terdoktrin
untuk menjadikan nasi sebagai makanan
pokok. Jadi di saat orang-orang Maluku
dan Papua masih makan sagu, orang-orang
di daerah lainnya masih makan singkong,
kentang, dan juga jagung. Nah, di saat
itu Presiden Soeharto berusaha untuk
memperkenalkan nasi sebagai pengganti
makanan pokok lain. Yang sebenarnya di
masa itu tidak semua orang-orang dari
daerah-daerah yang gua sebutkan tadi
bisa menerima nasi sebagai makanan pokok
mereka. Nah, tapi semacam ada doktrin
atau dengan kata lain semacam ada
promosi yang diadakan secara memaksa
gitu ya di pelajaran-pelajaran sekolah,
di media massa, di TV, di koran itu
semuanya mempromosikan nasi,
mempromosikan beras atas perintah
Presiden Soeharto. Dan di saat itu
orang-orang dari Papua, Maluku, NTT,
Sulawesi yang dari Timur semua akhirnya
mulai terpengaruh dengan berasis sasi
promosi besar-besaran beras atau nasi
sebagai bahan pokok. yang
digembar-gemborkan oleh pemerintahan
Soeharto di saat itu. Dan mulailah tuh
makanan pokok seperti tiwul, sagu, dan
juga jagung perlahanlahan mulai
tergantikan atau tergeser dengan satu
jenis makanan pokok yaitu beras atau
nasi. Jadi di sini mungkin kita bisa
lihat ya, kenapa kok ketahanan tubuh
orang-orang di timur sana tuh kuat
banget. Bahkan mereka masuk di dalam
hutan, mereka main di lumpur segala
macam, tapi jarang sakit. Nah, itu
kembali kepada penilaian kalian. Karena
seperti yang kita tahu ya, seorang anak
manusia itu tergantung dengan apa yang
dia makan, apa yang dia minum atau apa
yang dia konsumsi. Dan kita bisa lihat
di berbeda-beda daerah dari bentuk
fisik, ketahanan fisik itu juga
berbeda-beda. Nah, kalau kita lihat
orang-orang di Papua sana fisiknya
kuat-kuat banget. Kalian bisa lihatlah
pemain-pemain bola dari Papua atau
fighter petinju dari Papua kok
keras-keras banget gitu. Nah, karena
sampai detik ini di Papua itu masih
jarang makan nasi. mereka masih
mempertahankan makanan tradisional
mereka yaitu sagu yang mana sagu itu
bisa memberikan nutrisi bagi mereka
tanpa adanya kandungan gula yang tinggi
yang memberikan resiko bagi tubuh
mereka. Jadi kurang lebih penjelasan
simpelnya kayak gitu, Geng. Tapi kalau
misalkan kalian mau lebih jelasnya
mungkin bisa kalian tanyakan kepada ahli
gizi. Karena gua kan bukan ahli gizi.
Jadi itu di luar ranah gua. Jadi kita di
sini membahas yang simpel-simpelnya aja.
Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan
kritikan masyarakat terhadap sua sembada
beras di zaman orde baru yang dianggap
sebagai pemaksaan untuk menyamaaratakan
makanan pokok di seluruh daerah.
Jadi, Geng, kebijakan Presiden Soeharto
dengan suasembada beras yang dilakukan
dengan label revolusi hijau memang
terbukti efektif dalam meningkatkan
ketahanan pangan di Indonesia dan
membuat semua orang di Indonesia di saat
itu hampir mayoritasnya gitu ya,
mengkonsumsi nasi atau beras sebagai
bahan pokok. Lalu pasti kalian bakal
bilang, "Loh, enggak ada yang salah kok
orang makan nasi itu enak. Buktinya kita
semua bisa besar. Kita tumbuh hebat,
pintar karena makan nasi." Nah, jangan
salah, Geng. Di awal-awal ketika beras
atau nasi dijadikan sebagai makanan
pokok, ternyata di saat itu banyak
timbul masalah. Jadi, banyak hal-hal
negatif yang timbul atas kebijakan ini.
Seperti beberapa orang yang tadinya
mengkonsumsi sagu atau singkong dan
lain-lain itu mulai muncul adanya
penyakit-penyakit tertentu akibat mereka
mulai mengganti makanan pokok mereka
menjadi beras.
Nah, terus geng berdasarkan keterangan
dari Kepala Badan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian yang bernama Agung
Hendradi, jumlah konsumen beras di
Indonesia masih melebihi jumlah yang
wajar. Kalau dilihat dari data pola
konsumsi itu menunjukkan kalau beras
atau nasi mendominasi porsi menu
konsumsi masyarakat Indonesia sampai 60%
yang mana idealnya itu maksimal 50% aja
agar masyarakat masih bisa hidup lebih
sehat, aktif, dan juga produktif. Nah,
karena kenapa? Kandungan di dalam nasi,
kandungan di dalam beras itu tidak
semuanya baik. Jadi, memang yang kita
konsumsi itu adalah karbohidratnya gitu
ya. Tapi di sana ada glukosa alias gula
yang mana itu bisa menyebabkan penyakit
bagi tubuh manusia. Dan untuk sebuah
negara yang menjadikan nasi sebagai
bahan pokok itu sudah seharusnya
masyarakatnya berolahraga. Tapi pada
kenyataannya kita lihat masyarakat kita
tidak semuanya berolahraga gitu kan.
Bahkan resiko diabetes masih sangat
tinggi dan masih menjadi sumber yang
sangat besar atas penyebab kematian di
Indonesia. Nah, makanya jangan heran
kalau kita lihat bentuk fisik kita,
kalau kita bandingkan fisik kita dengan
orang luar negeri itu kok beda banget.
Orang kita tuh kecil-kecil, kadang cepat
menggendut ya kan. Pas tua udah di atas
umur 40 tahun, tubuhnya mengembang,
laki-laki membuncit dan segala macam.
Nah, itu semua karena pola hidup,
terutama karena pola makan yang mana
seharusnya kita sebagai pengkonsumsi
nasi, pengkonsumsi beras itu sudah
sangat wajib untuk berolahraga, Geng.
[Musik]
Nah, jadi geng semenjak adanya revolusi
hijau atau kebijakan pada masa orde lama
oleh Pak Soeharto mengenai beras sebagai
makanan pokok, akhirnya banyak
masyarakat Indonesia yang mengalami
diabetes. Selain dampak dari kesehatan
tadi, revolusi hijau juga berdampak
terhadap lingkungan yang mana penerapan
kebijakan revolusi hijau sebenarnya
berhasil mengubah kebiasaan para petani
Indonesia yang awalnya hanya menggunakan
sistem bertani secara tradisional
menjadi sistem bertani dengan cara yang
lebih modern. di mana para petani mulai
menggunakan teknologi pertanian yang
ditawarkan oleh program-program di dalam
revolusi hijau seperti misalkan pupuk
kimia, alat-alat pembajak yang mulai
canggih-canggih dan lain-lain lah yang
mana hal tersebut terlihat memudahkan
petani. Tetapi untuk efek jangka
panjangnya sebenarnya tetap ada efek
samping atau efek negatifnya seperti
salah satunya adalah penggunaan pupuk
berbahan kimia. Pupuk-pupuk berbahan
kimia ini tidak hanya berbahaya bagi
tubuh manusia, Geng, tetapi juga dapat
menyebabkan kerusakan pada lingkungan.
Dan kegiatan bertani untuk saat ini
dengan segala macam bahan kimia tersebut
dianggap sangat tidak ramah lingkungan
karena dapat membunuh spesies-spesies
lain. Salah satu contohnya adalah
cacing-cacing ya itu banyak yang mati,
ikan juga banyak yang mati,
serangga-serangga yang dianggap hama
juga ikut mati karena penggunaan
bahan-bahan kimia tadi. Jadi revolusi
hijau yang sebenarnya dianggap sebagai
sebuah upaya untuk menyelamatkan
masyarakat Indonesia pada kenyataannya
berbanding terbalik dengan kondisi yang
terjadi pada para petani yang mana
memang ya masyarakat Indonesia
terselamatkanlah dengan ketahanan
pangan, kondisi pangan yang melimpah.
Tapi dimulai pada masa Orde Baru
tersebut sampai detik ini kesejahteraan
petani tetap tidak terjamin. Banyak
petani yang masih hidup miskin di negara
kita. Dan yang menyedihkannya adalah
banyak hewan yang tidak bisa makan
rumput, terutama rumput-rumput yang
sudah tercemar dengan pestisida.
[Musik]
Terus biaya untuk bertani saat ini itu
jauh lebih mahal karena mengharuskan
para petani dengan membeli pupuk-pupuk
bermerek, terus juga jenis-jenis
pestisida kimia beraneka macam ragam
yang harganya sudah mulai melambung.
Sementara keuntungan dari hasil panen
juga tidak seberapa. Lalu yang jadi
pertanyaannya, apakah para petani ini
bisa menolak untuk tidak mengikuti
program dari revolusi hijau? Jawabannya
tentu enggak. Semua petani itu
diharuskan untuk mengikuti panduan dari
revolusi hijau. Kalau tidak mau nurut di
masa itu, ya pastinya mereka bakal
ditangkap karena melawan pemerintah Orde
Baru. Dan kejadian ini pernah terjadi
nih, Geng. Dialami oleh seorang petani
yang bernama Gatot Surono. Dia ini
berasal dari Purbalingga. Di masa itu
dia tidak mau mengikuti program revolusi
hijau yang mana dia menganggap program
tersebut yang menggunakan e pupuk kimia,
bahan-bahan kimia lain itu membuat lahan
pertaniannya dia rusak. Nah, Gatot ini
bersih kukuh untuk menanam padi lokal
dengan memakai pupuk kandang dari
kotoran hewan dari alam, bukan
menggunakan pupuk kimia. Jadinya di saat
itu karena dia dianggap menolak program
revolusi hijau, dia pun ditangkap oleh
pihak koramil dan tanamannya dia yang
ada di sawah itu dicabuti semua. Dan
setelah menjalankan hukuman, Gatot pun
dibebaskan dan Gatot di saat itu menjadi
kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan
lagi karena dia dilarang untuk bertani.
Nah, di masa itu dia benar-benar
terasingkan karena dianggap melawan
pemerintah Orde Baru. Nah, jadi bisa
dikatakan program revolusi hijau itu
juga diterapkan oleh pemerintah secara
paksa di masa itu.
Nah, lalu singkat ceritanya Gatot mulai
mendapatkan pekerjaan lagi. Dia diterima
di sebuah pabrik penyulingan. Tetapi dia
dikeluarkan dari pabrik itu pada tahun
1984 dan dia mendapatkan pesangon. Nah,
dari hasil uang pesangon itu dia mencoba
untuk memberanikan diri dengan menyewa
tanah dan mulai bertani lagi. Nah,
bertani secara diam-diam. Lalu Gatot ini
tetap tidak mengikuti aturan pemerintah
yang menyebabkan akhirnya dia kembali
ditahan, Geng. Nah, Gatot di saat itu
ditahan selama 4 bulan oleh pemerintah
dan setelah dia dibebaskan, dia
memberanikan diri lagi dengan jadi
petani dan menanam padi lokal lagi
dengan menggunakan pupuk alami. Nah,
namun untuk kali ini dia tidak ketahuan
dan sampai akhirnya dia berhasil memanen
tanaman padinya. Di saat itu uniknya
nih, Geng ya, Gatot ini tidak pernah
menceritakan kepada siapapun tentang
tanaman padinya itu. Dan dia dengan
sengaja mengundang pihak Koramil yang
mana pihak Koramil ini adalah
orang-orang yang mencabuti tanaman padi
milik Gatot dan sekaligus memenjarakan
Gatot. Nah, di saat itu sengaja tuh
Gatot ngundang orang-orang tersebut.
Lalu disajikanlah beras hasil tanaman
Gatot tadi. Dan ketika mereka makan,
mereka bilang, "Wah, enak banget
rasanya." Beda banget ya dengan
beras-beras atau nasi pada umumnya yang
menggunakan pupuk kimia dan juga
pestisida. Nah, dan di saat itu Gatot
langsung jujur. Dia bilang, "Iya, Pak.
Itu padi saya tanam secara tradisional
yang dulunya pernah Bapak-Bapak cabut
gitu. Dan itu merupakan padi yang
ditanam secara tradisional tanpa
menggunakan pupuk kimia." Sontak di saat
itu pihak koramil tersebut pun ya merasa
malu dan mereka mengatakan mereka hanya
menjalankan perintah atasan. Nah, di
akhir perbincangan, Gatot ini meminta
kepada para anggota koramil tersebut
untuk mengizinkan dia menanam padi
tradisional dan jangan diganggu lagi.
Yang mana akhirnya banyak petani-petani
lain yang mulai berani menanam padi
lokal lagi.
[Musik]
Nah, itu dia, Geng, penjelasan mengenai
perjalanan nasi atau beras sehingga
menjadi makanan pokok seluruh masyarakat
Indonesia. yang mana pada awalnya nasi
atau beras ini hanyalah makanan pokok di
Pulau Jawa, tidak untuk seluruh
Indonesia. Tetapi mulai dari kerajaan
Mataram lalu disambut oleh VOC sampai
dengan masa Orde Baru, kebijakan memakan
nasi bagi rakyat Indonesia akhirnya
merubah budaya orang Indonesia yang
sebenarnya memiliki keanekaragaman
makanan pokok di masa itu. Nah, jadilah
sekarang permasalahannya adalah banyak
orang Indonesia yang setiap harinya
mengkonsumsi nasi namun tidak
berolahraga, akhirnya mereka menderita
diabetes akibat kandungan gula yang
cukup tinggi di dalam Así.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:17:12 UTC
Categories
Manage