DONOR DARAH MENGANDUNG HIV/AIDS DI INGGRIS ! AKIBAT PEMERINTAH AMBIL STOCK DARI TAHANAN PENJARA
2qtJ1awjRCA • 2025-03-26
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Nah, di dalam laporan itu terungkap bahwa penghancuran dokumen penting terkait data donor darah impor yang katanya gara-gara staf kurang berpengalaman itu dianggap adalah kesengajaan sebagai bagian dari akal-akalan untuk menutupi kelalaian pemerintah Inggris. Wah, kayak gua kayak ini ya kayak flashback gitu. Kayak pernah ada enggak sih di sebuah negara yang terjadi kasus tiba-tiba nih gedung yang apa ya tempat menyimpan dokumennya terbakar ya kan supaya dokumen-dokumennya hilang dan bukti-buktinya hilang. Hmm kayak di negara mana ya? Ternyata hal kayak gini udah dilakuin sama Inggris jauh sebelum itu ya. Ternyata akal-akalannya membakar dokumen tersebut yang katanya ya staffnya enggak sengaja, enggak tahu gitu. ternyata untuk menutupi kesalahan dan kegagalan ini. Namun sampai saat ini ya jujur ya gua belum menemukan sumber dari manapun siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang dipenjara akibat kejahatan ini. Sampai detik ini enggak ada yang tahu. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Geng. Halo, Geng. Welcome back to kamar [Musik] Jeri. Genggeng. Pernah kebayang enggak, Geng, saat kita lagi sakit berat terus tiba-tiba butuh donor darah? Nah, gua sering banget nih mendapatkan kondisi kayak gini di mana teman-teman gua itu biasanya bakal mengirimkan eh chat atau e nge-bless broadcast gitu ya. dibutuhkan darah golongan bla bla bla bla untuk keperluan bla bla bla bla misalkan gitu. Biasanya itu kalau ada seseorang yang sedang membutuhkan banget udah sekarat bahkan ya baik itu dari keluarga atau kerabat-kerabat terdekat. Nah biasanya itu dalam posisi yang sangat-sangat genting dan harus segera didapatkan. Tapi gimana kalau misalkan nih ya, kalau misalkan kita mendapatkan donor darah tapi bukannya sembuh malah makin sakit, malah tambah parah dan justru mendapatkan penyakit tambahan akibat transfusi darah tersebut yang bahkan mengakibatkan sampai meninggal dunia. Gimana tuh kalau kalian dihadapkan dengan situasi itu? Di pembahasan kali ini, gua pengen ngebahas sebuah skandal kasus kisah nyata yang terjadi yang berhubungan dengan transfusi darah atau donor darah yang terkontaminasi. Dan bahkan ini korbannya sampai ribuan orang yang meninggal dunia. Kedengaran sangat menyeramkan tapi ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1970-an. Nah, jadi ini adalah sebuah skandal medis terbesar dalam sejarah sebuah negara yaitu Inggris. Kebayang ya negara sebesar Inggris tapi ya di tahun 1970-an yang mungkin di saat itu teknologi belum semaju sekarang. Jadi kejadian kayak gini sangat memungkinkan. Total di saat itu terdapat puluhan ribu pasien yang mendapatkan penyakit tambahan usai menerima transfusi darah dan totalnya ada ribuan orang yang tewas atau meninggal dunia akibat penyakit tambahan tersebut. Penyakitnya juga enggak main-main. Yang paling banyak itu adalah HIV dan hepatitis. Nah, yang mana pada zaman tersebut penanganannya masih belum secanggih sekarang. Lantas pasti timbul pertanyaan, kok bisa ada ribuan orang meninggal dunia akibat donor darah yang terkontaminasi ini? Dan kenapa petugas medisnya tidak bisa menangani hal tersebut terkesan kayak enggak tahu apa-apa. Nah, emangnya ada apa dengan darah yang ditransfusikan tersebut? Dan ketika keluarga para korban protes kepada pemerintah Inggris untuk diselidiki lebih lanjut soal kasus ini. Dan di situlah setelah diselidiki terungkap fakta yang sangat-sangat mengerikan. Nah, sekarang kita bakal bahas nih, Geng, tentang skandal kasus ini. Langsung aja kita bahas secara lengkap di sisi [Musik] lain. Jadi, Geng, tepatnya pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an, dunia medis Inggris yang biasanya disebut dengan NHS atau National Health Service atau layanan kesehatan nasional milik Inggris pada saat itu mengalami kelangkaan pasokan darah. Masalahnya, Geng, pada saat itu juga warga-warga di Inggris itu banyak yang sakitnya itu membutuhkan transfusi darah seperti misalnya buat orang-orang yang habis cedera atau operasi besar terus melahirkan dan lain-lain. Tapi selain itu ada lagi penyakit yang juga butuh banyak banget pasokan darah pada saat itu, yaitu penyakit hemofilia. Buat yang belum tahu, penyakit hemofilia ini adalah kelainan genetik yang mempengaruhi kemampuan darah untuk membeku. Nah, kondisi ini disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya protein khusus yang disebut dengan faktor pembukuan darah. Penjelasan simpelnya tuh kayak gini, Geng. Misal nih kalian kebeset nih atau ya kena pisau gitu. Nah, biasanya kan darahnya mengalir. Nah, kalau misalkan enggak ada nih proses pembekuan darah, maka tuh darah bakal ngalir terus. Makanya dibutuhkan protein khusus tadi supaya darahnya bisa berhenti. Nah, pasien hemofilia ini memerlukan faktor pembekuhan darah yaitu faktor 8 angkanya tuh Romawi. Kayak gini nih tulisannya. Nah, ini untuk mencegah pendarahan berlebih. Dan sebenarnya penyakit hemofilia ini sampai sekarang masih belum ada obatnya. Tapi kalau sekarang ya yang menderita hemofilia masih bisa beraktivitas seperti biasa dengan melakukan perawatan dan juga pencegahan yaitu salah satunya dengan terapi gen. Nah, jadi udah mulai ada penanganannya lah. Dan terapi gen untuk hemofilia ini adalah pendekatan medis yang bertujuan untuk mengatasi penyebab utama penyakit hemofilia dengan memperbaiki gen yang rusak. Nah, terapi ini menggunakan virus yang sudah dimodifikasi seperti adeno associate virus atau AAV untuk membawa salinan gen sehat ke dalam sel hati pasien. Setelah gen baru dimasukkan, sel tubuh mulai memproduksi faktor pembekuan darah yang dibutuhkan secara alami sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan akan infus rutin faktor pembukuan tadi. Tapi meskipun begitu, terapi gen ini sendiri sampai saat sekarang ini masih dalam tahap pengembangan, Geng. Jadi khususnya untuk di bagian efek samping sama kecocokannya terhadap pasien. Jadi enggak semua pasien bisa untuk melakukan treatmen ini. Waktu tahun 1970-an di Inggris terapi genemukan. Jadi pada saat itu memang enggak ada pengobatan jangka panjang untuk hemofilia. Tapi pada pertengahan 1970-an, pengobatan hemofilia ini yang disebut dengan faktor 8/9 itu tersedia untuk pertama kalinya. Jadi, pasien-pasien yang menderita hemofilia ini nantinya akan ditransfusi faktor pembukuan yang diambil dari plasma darah manusia lain. Plasma ini dikumpulkan dari donor darah. Jadi, orang-orang dimintain nih donor darahnya. Terus kemudian nanti baru diproses untuk mengekstraksi faktor pembekuan tersebut. Biasanya yang akan diekstraksi itu faktor 8 itu untuk hemofilia A dan juga faktor 9 untuk hemofilia B. Nah, faktor tersebut kemudian diberikan melalui infus kepada pasien yang membutuhkan untuk membantu darah mereka bisa membeku secara normal. Nah, jadi kurang lebih tuh proteinnya diambil dari orang terus disuntikkan ke badan si pasien yang membutuhkan. Dan perlu digaris bawahi, Geng. Pengobatan menggunakan plasma darah ini termasuk tindakan medis baru. Di saat itu, permintaan pasokan darah di Inggris pun menjadi melonjak, terlebih dengan adanya pengobatan hemofilia berupa konsentrat faktor tersebut. Tapi gara-gara itu, akhirnya NHS atau layanan kesehatan nasional Inggris ini jadi kekurangan pasokan darah. Jadi mereka enggak punya lagi stok darah. Apalagi pada saat itu yang butuh pasokan darah juga banyak banget dari yang operasi melahirkan dan lain-lain. Gara-gara itu, pada tahun 1974 pemerintah Inggris akhirnya memutuskan untuk mengimpor pasokan darah dari Amerika Serikat. Nah, karena di saat itu kalau pemerintahnya hanya terfokus mencari pendonor dari Inggris itu bakal kurang banget. Sementara mereka benar-benar butuh. Nah, akhirnya diimporlah, dicarilah di luar Inggris dan ditemukanlah di Amerika Serikat. Dan seperti yang kita tahu, kehidupan masyarakat di Amerika Serikat sebebas apa? Seks bebas, ya kan? Mereka juga ee punya senjata api, terus narko gitu. Jadi kehidupannya tuh cukup kotor dan itu berpengaruh kepada kondisi tubuh mereka bahkan kondisi darah mereka. Nah, tapi sebenarnya organisasi kesehatan dunia alias WHO di saat itu udah mewanti-wanti soal cara pengobatan hemofilia dengan menggunakan konsentrat faktor ini. Bahkan sudah dari tahun 1953, Geng. Nah, kalau kata WHO intinya plasma darah ini tuh rentan terkontaminasi. Jadi, plasma darah yang sudah jadi bubuk itu enggak boleh banyak-banyak dicampur sama plasma darah dari donor yang lain untuk bisa mengurangi potensi kontaminasi. Jadi intinya ini jadi tanda kalau terkait pengobatan hemofilia ini menggunakan konsentrat faktor sangat berbahaya dan hati-hati banget. Dan kemudian Inggris pun akhirnya ya sudah terpaksa menggunakan pasokan daerah yang mereka impor dari Amerika tadi ke berbagai pasien mereka karena udah enggak ada pilihan lain termasuk juga kepada pasien hemofilia terus operasi dan juga melahirkan serta yang lain-lain yang jelas yang butuh transfusi darah. Dan sebenarnya di tahun 1975 WHO sempat bilang lagi kepada dunia internasional kalau negara-negara itu harus mandiri dalam produksi pasukan darah. Jadi enggak boleh bergantung atau minta dari negara lain karena nanti enggak bisa diseleksi dengan benar. Menteri Kesehatan Inggris di saat itu yaitu Lord David Owen pada tahun 1975 itu setelah pengumuman dari WHO tersebut dia sempat bilang kalau Inggris bakal mandiri dalam memproduksi pasokan darah. Salah satunya adalah dengan investasi yang bernilai 500.000 R000 pon sterling atau setara dengan Rp10,57 miliar untuk memproduksi pasokan darah. Nah, tapi sebenarnya angkanya juga enggak pasti 500.000 Ponsterling tersebut. Soalnya ada sumber yang mengatakan setelah 3 tahun berlalu hingga 1978, pemerintah Inggris ini malah terus-terusan impor pasokan darah dan enggak sesuai omongan mereka. yang mana sebelumnya mereka bilang bakal mau mandiri sampai investasi miliaran rupiah. Bahkan penggunaan plasma darah untuk konsentrat faktor bagi penderita hemofilia aja itu 50%-nya berasal dari impor. Nah, singkat cerita nih, Geng. Pada sekitar tahun 1980 sampai 1983 mulai bermunculan banyak laporan orang-orang yang meninggal dunia secara mendadak. Dan ketika dilakukan pemeriksaan, ternyata orang-orang yang meninggal tersebut lagi-lagi memiliki riwayat pernah menjadi pasien konsentrat faktor untuk pengobatan hemofilia. Dan ada juga yang pernah terima transfusi darah impor dari Amerika. Dan setelah kejadian tersebut, mereka semua diperiksa. Nah, ternyata mereka ini setelah melakukan transfusi darah dan menjadi pasien konsentrat faktor untuk pengobatan hemofilia, mereka mendapatkan penyakit tambahan. Penyakit yang paling umum itu enggak jauh-jauh dari HIV dan hepatitis. Nah, tapi tiap tahun itu, Geng, yang tercatat memang ada banyak banget dan kesamaan dari mereka semua adalah mereka itu sudah menerima transfusi darah dan pengobatan hemofilia lewat konsentrat faktor dari donor darah impor. Nah, bahkan ada banyak yang sampai meninggal dunia karena penyakit hepatitis dan HIV tadi. Pada saat itu akibat banyaknya laporan soal orang sakit atau meninggal akibat donor darah impor, akhirnya pada sekitar tahun 1980-an ke atas keluarga dari korban yang terdampak dan juga berbagai aktivis sudah mulai bertanya-tanya dan meminta pertanggungjawaban dari Kementerian Kesehatan Inggris. Nah, ini adalah langkah tempat dari warga Inggris di saat itu. Apalagi yang beli donor darah impor untuk pasukan darah di Inggris itu adalah Kementerian Kesehatan mereka sendiri. Makanya mereka protes nih ke pemerintah mereka tersebut. Nah, sebenarnya nih Geng di tahun 1983 Spence Galbid yaitu direktur communicable DC Survey Lance Center yang ada di Inggris dan Wells itu mengirimkan makalah yang berjudul Action on AIDS kepada Dr. Iam Field dari Departemen of Health and Social Security atau DHS yang ada di London. Nah, di dalam makalah itu dia menginformasikan bahwa seorang penderita hemofilia sudah meninggal dunia karena AIDS. Setelah menerima konsentrat faktor yang merupakan asal muasalnya itu dari plasma darah yang diimpor dari Amerika Serikat. Wah gila ya. Dari yang enggak punya penyakit AIDS, enggak punya penyakit HIV jadi punya gara-gara nerima transfusi darah tersebut. Nah, ini kan benar-benar sebuah kebodohan yang sangat besar dari tenaga medis mereka. Nah, Galbright ini juga mengatakan bahwa setelah meninjau literatur ilmiah, dia menyimpulkan bahwa semua produk darah yang didapatkan dari donor darah di Amerika Serikat setelah tahun 1978 seharusnya ditarik dari peredaran sampai resiko penularan AIDS ini melalui produk tersebut bisa diklarifikasi lebih lanjut. Jadi enggak boleh disuntikkan ke tubuh orang lagi. Dia juga mengungkapkan dia sangat heran kalau produsen produk darah di Amerika Serikat tidak memberikan peringatan kepada para pelanggan mereka tentang bahaya ini. Dia bahkan mempertanyakan apakah Inggris pernah menerima peringatan kritis terkait resiko tersebut dari Amerika. Nah, namun meskipun begitu ada peringatan dari Galbid yang menyebutkan pemerintah Inggris tidak menarik produk yang berasal dari pasokan darah impor Amerika tersebut. Kalau kata Departemen Kesehatan Inggris, katanya penelitian Galbid itu dianggap sebagai terlalu dini dan ya kayak dikatain sotoi lu gitu. Nah, mereka menganggap kayak buktinya kurang kuat. Nah, ini kalau di zaman kita kayak pejabat nyempelein COVID gitu loh, Geng. Padahal ini benar-benar penyakit yang berbahaya. Nah, sebenarnya di situ aja udah ada aktivis dan peneliti yang membagikan semacam koran gratis yang isinya tentang pembahasan penyakit HIV Age dapat ditularkan melalui darah. Dan memang pada tahun 1980-an tersebut pengetahuan soal HIV AID bisa menular lewat darah itu masih sangat kurang. Nah, tapi meskipun sudah ada penelitian yang bilang kalau HIV bisa tertular lewat darah, namun Kementerian Kesehatan Inggris melalui sekretaris mereka yang bernama Kenneth Clark itu bilang kalau penularan hepatitis dan HIV akibat donor darah impor itu tidak terbukti katanya. Dan buktinya tuh masih kurang jadi enggak terbuktilah. Nah, enggak mungkinlah donor darah bisa kena HIV, katanya di zaman itu. Nah, padahal pada saat itu juga dokter-dokter tenaga medis itu mereka semua percaya kalau donor darah itu bisa menularkan hepatitis dan juga HIV. Dan bahkan sekarang udah terbukti sih. Kemudian geng, bertahun-tahun setelahnya, warga Inggris pada konsisten banget nih mendesak pertanggungjawaban ke pemerintah mereka dari tahun ke tahun supaya kasus skandal donor darah ini bisa diusut tuntas. Apalagi karena makin lama korbannya juga makin gak bisa dihitung jari. Karena ya memang sih kalau misalkan didonornya sekarang efeknya enggak sekarang bisa jadi 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, bahkan 10 tahun ke depan. Nah, tapi geng parahnya nih pemerintah Inggris di saat itu terkesan melakukan tindakan yang sangat lambat dan juga alot. Ada aja dramanya dari tahun ke tahun. Misalkan nih pada April tahun 2000, pemerintah Inggris itu bilang kalau dokumen-dokumen penting di tahun 1989 sampai tahun 1992 tentang data-data donor darah impor ini banyak yang hilang. Soalnya dihancurkan atau dibuang gitu aja sama staf mereka yang kalau kata mereka itu stafnya kurang berpengalaman jadi enggak tahu kalau dokumen itu penting katanya. Jadi sesepele itu penjelasan mereka dan warga di Inggris apalagi keluarga dari korban yang terdampak itu makin kesal dengan hal ini. Hingga 7 tahun setelahnya yaitu tepatnya tahun 2007 ada seorang politisi dan juga pengacara Inggris yang cukup terkenal yang bernama Lord Arser of Swell itu memimpin penyelidikan independen yang dia dan timnya danai sendiri untuk mengusut skandal donor darah impor ini di Inggris. Nah, jadi udah saking jengahnya mereka. Lord Archer had no power to call witnesses or compel government to act, but he could set out what went wrong. The procrastination in achieving national self-sufficiency to avoid the use of highrisk blood products from overseas had disastrous consequences. Had selfsiciency achieved the scale of the catastrophe would have been significantly reduced. Lalu, Geng, setelah 2 tahun penyelidikan, terbitlah hasil laporan dari penyelidikan independen oleh Lord Arser tersebut yang mana laporannya dikenal dengan sebutan The Arser Report. Nah, di dalam laporan itu terungkap bahwa penghancuran dokumen penting terkait data donor darah impor yang katanya gara-gara staf kurang berpengalaman itu dianggap adalah kesengajaan sebagai bagian dari akal-akalan untuk menutupi kelalaian pemerintah Inggris. Wah, kayak gua kayak ini ya kayak flashback gitu. Kayak pernah ada enggak sih di sebuah negara yang terjadi kasus tiba-tiba nih gedung yang apa ya tempat menyimpan dokumennya terbakar ya kan supaya dokumen-dokumennya hilang dan bukti-buktinya hilang. Hmm kayak di negara mana ya? Ternyata hal kayak gini udah dilakuin sama Inggris jauh sebelum itu ya. Ternyata akal-akalannya membakar dokumen tersebut yang katanya ya staffnya enggak sengaja, enggak tahu gitu. ternyata untuk menutupi kesalahan dan kegagalan ini. Terus yang parahnya lagi, Geng, dari kasus ini, korban yang terkena hepatitis atau HIVID, ya itu korbannya diperkirakan mencapai lebih dari ribuan orang. Sakit enggak tuh? Lu enggak ngelakuin dosa untuk ya apa bersetubuh sembarangan atau ya hal-hal yang aneh-anehlah di luar sana, tapi lu jadi kena imbasnya gara-gara transfusi darah yang terkontaminasi. Ya, sayangnya nih, Geng, ada sumber yang mengatakan kalau laporan arser tidak memiliki status hukum. Jadinya kurang bisa dijadikan sebagai alat bukti untuk menuntut pemerintah karena kan dilakukan secara independen. Nah, kemudian geng, tahun ke tahun terus berjalan tanpa adanya keadilan bagi para korban dan keluarga yang terdampak akibat skandal donor darah impor ini. Sampai kemudian pada Juli tahun 2017 nih, ini udah berpuluh-puluh tahun kasusnya. Lebih dari 500 korban skandal darah terkontaminasi ini akhirnya menggugat pemerintah Inggris. Mereka di saat itu udah capek, Geng. Setelah bertahun-tahun nungguin keadilan yang ggak kunjung datang, gugatan ini pun akhirnya mereka layangkan dan dikenal sebagai Jason Evans and Ors yang diambil dari nama salah satu korban yang ng-push kasus ini biar tidak tenggelam. Nah, makin ke sini makin banyak yang bersuara. Tekanan dari aktivis, korban, bahkan politisi membuat perdana menteri di waktu itu yaitu Teresa May itu akhirnya menanggapi desakan ini dan mengeluarkan pengumuman besar yang mana Inggris akan membuat penyelidikan publik nasional untuk ngebongkar skandal ini. Nah, ini untuk pertama kalinya pemerintah Inggris benar-benar mau mendengarkan korban setelah bertahun-tahun kasus ini diulur-ulur. Meskipun sempat tertunda karena pandemi Covid-19 pada tahun 2020, tapi pada akhirnya tabir kebenaran terungkap juga. Setelah penantian berpuluh-puluh tahun lamanya, akhirnya dirilislah laporan penyelidikan sesungguhnya yang menjelaskan dengan lengkap sebenarnya apa yang terjadi terkait kasus skandal donor darah impor di Inggris dari tahun 1980-an ini. Nah, juga faktanya mengerikan banget, Geng. Wah, gua merinding deh kalau udah baca cerita ini tuh merinding banget. Around 28,000 NHS patients were given contaminated blood between the 1970s and 1990s. 3000 people and thousands still symptoms today. Sekarang kita masuk nih, Geng, ke dalam fakta mengerikan di balik kasus skandal ini. Langsung aja. Oke, fakta mengerikan pertama. Ternyata totalnya ya korban di dalam kasus ini ada 30.000 orang. Ingat ya, 30.000 orang yang ada di Inggris yang akhirnya terinfeksi HIV dan hepatitis C setelah menerima donor darah impor pada tahun 1970-an sampai 1980-an. Fakta mengerikan selanjutnya di tahun 1970-an ketika orang-orang diberikan konsentrat faktor untuk pengobatan hemofilia yang berasal dari donor darah impor. Ternyata di batch tahun 1970 tersebut seluruh konsentrat faktor itu untuk pengobatan hemofilia sudah terkontaminasi oleh virus mematikan. Salah satunya HIV. Diketahui sama ee tenaga medisnya tapi tetap dilakukan gitu. Dan yang kemudian ini mengakibatkan 1250 orang di Inggris menderita penyakit tambahan yaitu hepatitis C dan juga HIV tadi. Dan gilanya lagi dari 1250 korban tersebut 380-nya adalah yang masih di bawah umur. Nah, dari 1250 orang yang terinfeksi itu sekitar 2/3 akhirnya meninggal dunia. Dan banyak dari mereka yang tidak sadar sudah ditularkan virus tersebut di dalam tubuh mereka dan mereka menularkannya lagi ke pasangan mereka dan mereka enggak sadar itu. Dan enggak cuma itu aja, Geng. Di antara tahun 1970 itu sampai 1991, ada kelompok kedua yang menjadi korban, yaitu orang-orang yang dapat transfusi darah setelah melahirkan, terus operasi, dan juga perawatan medis lain. Darah yang mereka terima ternyata juga sudah terkontaminasi dan dari penyelidikan diperkirakan ada 80 sampai 100 orang terinfeksi HIV akibat transfusi ini dan sekitar 27.000 orang terkena hepatitis C. Jadi totalnya diperkirakan ada sekitar 2.900 orang yang meninggal dunia gara-gara donor darah impor yang ternyata terkontaminasi virus. Nah, tapi enggak cuma mereka yang terkena dampak, ada 2.400 sampai 5.000 orang lain yang terkena hepatitis C. Dan ini merupakan penyakit yang bisa membuat sirosis hati sampai dengan kanker hati. Nah, yang lebih mengerikannya lagi hepatitis C itu bisa tidur di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa gejala. Jadi, enggak ketahuan. Jadi banyak korban yang baru sadar ketika kondisi mereka sudah parah dan bahkan sudah terlambat untuk bisa diobati. Lalu, Geng, yang bikin geramnya dari kasus ini adalah padahal sejak tahun 1948 resiko kalau produk darah seperti plasma dan juga darah yang didonorkan itu bisa mengandung virus bawaan dari pendonornya padahal udah diketahui. Tapi meskipun bahayanya udah sejelas itu udah tahu gitu. Otoritas kesehatan, dokter, layanan darah, hingga pemerintah Inggris itu masih aja bersikap kalau itu semua enggak perlu dikhawatirkan. Jadi kayak enggak peduli mereka. Bahkan banyak korban dibiarkan dalam ketidaktahuan. Jadi enggak dikasih ee apa ya? Enggak dikasih penyuluhan, enggak dikasih ilmu pengetahuan. Kayak ya udah lu ikutin apa kata gua aja. Kurang lebih begitulah pemerintah mereka. Dan para korban enggak dikasih tahu tentang resiko pengobatan mereka. Alternatif lain yang lebih amannya ada atau enggak? Atau bahkan apakah mereka sudah terinfeksi atau belum. Pokoknya mereka benar-benar dibutakan. Dan apakah cuma sampai di situ aja fakta mengerikannya? Ya tentu enggak, Geng. Kalian pasti bertanya-tanya dari awal kenapa kok bisa dalam darah yang didonorkan yang diimpor dari Amerika ini bisa mengandung virus hepatitis sampai HIVh? Jawabannya adalah karena darah yang diimpor itu berasal dari pendonor yang merupakan narapidana dan pecandu narkoba. Gila enggak tuh? Kebayang enggak mereka enggak mencari pendonor dari masyarakat yang baik-baik gitu, enggak. Mereka datang ke penjara-penjara. Donor darah, donor darah, donor darah. Udah dari situ yang penting ada stoknya. Jadi segila itu, Geng. Jadi memang di Amerika Serikat itu donor darah sering sekali berasal dari kelompok yang berisiko tinggi seperti narapidana dan pengguna narkoba karena mereka dibayar untuk menonorkan darah. Nah, itu karena pada masa lalu terutama sebelum sistem donasi darah sukarela yang ketat diterapkan, praktik donor darah berbayar itu memang umum di Amerika Serikat. Dan makanya beberapa bank darah komersial itu mengandalkan donasi dari individu yang berada di dalam kelompok berisiko tinggi tertular penyakit bawaan darah termasuk narapidana dan pengguna narkotika karena mereka sering sekali membutuhkan uang dan bisa dibayar murah. Praktik ini meningkatkan risiko kontaminasi di dalam darah. Tapi pada saat itu pengawasan terhadap keamanan darah belum seketat sekarang. Makanya praktik seperti ini bisa lolos. Nah, namun geng yang paling di luar nalarnya lagi adalah pemerintah Inggris sebetulnya udah tahu kalau donor darah yang diimpor dari Amerika itu berasal dari donor yang beresiko tinggi ya dari para pecandu dan narapidana tadi. Tapi kenapa Inggris tetap memaksa impor padahal sudah tahu ini bakal beresiko? Ya, balik lagi kayak yang gue ceritakan sebelumnya, Inggris memang mengalami kelangkaan produk darah tersebut pada tahun 1970-an sampai 80-an sehingga harus melakukan impor apapun alasannya. Apalagi pada saat itu pengobatan untuk hemofilia lewat konsentrat faktor dari plasma darah itu lagi booming-boomingnya. Makanya pemerintah Inggris itu enggak mau ketinggalan dan apalagi pada saat itu juga sedang ada tekanan dari WHO untuk tiap negara harus mandiri dalam menyuplai stok darah. Terus, Geng, ada fakta yang lebih mengerikan lagi. Ini makin di luar nalar. Ternyata berdasarkan laporan dari berita media BBC terungkap bahwa pemerintah Inggris lewat NHS atau National Health Service atau layanan kesehatan nasional Inggris itu melakukan uji coba klinis kepada yang masih di bawah umur yang menderita hemofilia. Jadi gini, Geng. Konsentrat faktor untuk pengobatan hemofilia itu mesti kena terapi panas dulu supaya bisa dipakai. Proses terapi panas ini meskipun dimaksud untuk membunuh virus yang berkemungkinan sudah terkontaminasi dalam plasma darah yang dipakai, bocil-bocil yang menderita hemofilia itu sengaja dikasih konsentrat faktor yang terinfeksi virus antara hepatitis atau HIV tadi oleh para dokter di sana. Karena para dokter di sana itu mau tahu kira-kira terapi panas mereka ini berhasil atau enggak untuk menghilangkan virus yang terbawa di dalam darah. Kejam banget ya. Jadi kelinci percobaan gitu. Dan kalau berhasil berarti bagus. Kalau enggak berhasil berarti coba lagi. Alias si bocil-bocil tadi ya udah dikorbankan untuk itu dan bakal dikasih konsentrat faktor yang mengandung virus dengan tujuan untuk mengetes terapi panas yang baru mereka ciptakan itu bisa berhasil atau enggak. Yang paling gila nih, Geng. Seorang dokter dari Inggris yang di saat itu yang bernama Dr. Samuel Machin itu dia sampai menulis surat ke ahli hemofilia lainnya yaitu Peter Kerov dengan berharap supaya bisa melakukan uji coba lagi untuk terapi panas baru untuk yang masih di bawah umur yang sudah dia uji cobakan sebelumnya. Nah, berbulan-bulan sebelumnya dokter Kernov ini memberikan himbauan kepada rekan-rekan sejawatnya untuk mengidentifikasi pasien-pasien yang cocok untuk diuji coba klinis. Dan secara spesifik, Dr. Kernov berkata bahwa mereka haruslah pasien yang belum pernah diobati alias belum pernah menjadi bahan uji coba. Julukan pasien ini adalah ya perawan hemofilia. Jadi ibaratnya ni orang dengan penyakit hemofilia belum pernah disentuh, belum pernah diobati, nah itu disebut dengan perawan hemofilia. Dan ya mayoritas mereka-mereka yang menjadi kelinci percobaan ini ujung-ujungnya udah di liang kubur semua, udah tewas. Yang bikin sedihnya adalah para keluarga dari mayoritas e bocil-bocil di bawah umur ini yang jadi korban itu adalah mereka yang enggak tahu kalau anak mereka dijadikan kelinci percobaan. Gila ya, jahat banget dunia medis di zaman itu. Nah, sekarang ini geng, selain pemerintah Inggris yang sudah mengaku mereka bersalah, kabarnya yang gua dapatkan sekarang adalah pemerintah Inggris juga sudah memberikan kompensasi sebesar 11,8 pon sterling ya kepada para korban, pasangan, serta keluarga yang terdampak akibat kasus ini. Dan setelah puluhan tahun berjuang demi mendapatkan keadilan, akhirnya para korban bisa mendapatkan kompensasi. Dan terkait kompensasi tersebut, ada lima hal yang menjadi dasar penilaian untuk menentukan berapa banyak yang bakal diterima setiap orang. Yang pertama, tingkat kerusakan yang ditimbulkan, dampak sosial dari stigma dan isolasi, dan juga dampak terhadap kebebasan pribadi serta biaya perawatan dan kerugian finansial mereka. Dan untuk yang terinfeksi HIV, mereka bisa mendapatkan kompensasi antara 2,2 juta poon sterling sampai dengan 2,6 juta pon sterling. Yang terinfeksi hepatitis C itu lebih dari 6 bulan gitu ya, bisa mendapatkan dana sebesar 665.000 pon sterling sampai 810.000 pon sterling. Dan pasangan dari orang yang terinfeksi HIV ya. Misalkan nih lu enggak tahu nih misalkan istri lu terkena terus lu juga terdampak tuh dan lu masih hidup. Nah, itu bisa mendapatkan kompensasi juga sekitar 110.000 R000 ponsterling. Sementara bocil-bocil itu dapat 55.000 pon sterling. Nah, kalau yang terinfeksinya sudah meninggal, pembayaran kompensasinya akan diberikan kepada ya ee pewaris gitu, penerima warisan. Nah, namun sayangnya jika pasangan atau keluarga dari ee si pewaris tadi udah meninggal dunia ya enggak ada lagi kompensasi yang bisa diterima. Jadi udah diangkap hangus. Nah, jadi itulah kurang lebih cara memberikan kompensasinya dan kompensasinya diberikan bertahapan. Jadi tiap tahun dan hal ini sudah berlangsung sejak akhir tahun 2022 kemarin dan masih berjalan sampai sekarang. Namun sampai saat ini ya jujur ya gua belum menemukan sumber dari manapun siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang dipenjara akibat kejahatan ini. Sampai detik ini enggak ada yang tahu. Ya mungkin kalau kalian ada yang tahu bisa sharing di kolom komentar siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang dipenjara atas kesalahan ini. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini. Menurut kalian bagaimana kasus ini? Cukup mengerikan atau enggak? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories