DONOR DARAH MENGANDUNG HIV/AIDS DI INGGRIS ! AKIBAT PEMERINTAH AMBIL STOCK DARI TAHANAN PENJARA
2qtJ1awjRCA • 2025-03-26
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Nah, di dalam laporan itu terungkap
bahwa penghancuran dokumen penting
terkait data donor darah impor yang
katanya gara-gara staf kurang
berpengalaman itu dianggap adalah
kesengajaan sebagai bagian dari
akal-akalan untuk menutupi kelalaian
pemerintah Inggris. Wah,
kayak gua kayak ini ya kayak flashback
gitu. Kayak pernah ada enggak sih di
sebuah negara yang terjadi kasus
tiba-tiba nih gedung yang apa ya tempat
menyimpan dokumennya terbakar ya kan
supaya dokumen-dokumennya hilang dan
bukti-buktinya hilang. Hmm kayak di
negara mana ya? Ternyata hal kayak gini
udah dilakuin sama Inggris jauh sebelum
itu ya. Ternyata akal-akalannya membakar
dokumen tersebut yang katanya ya
staffnya enggak sengaja, enggak tahu
gitu. ternyata untuk menutupi kesalahan
dan kegagalan
ini. Namun sampai saat ini ya jujur ya
gua belum menemukan sumber dari manapun
siapa yang bertanggung jawab dan siapa
yang dipenjara akibat kejahatan ini.
Sampai detik ini enggak ada yang tahu.
Yo, Geng. Tekan tombol subscribe,
Geng. Halo, Geng. Welcome back to kamar
[Musik]
Jeri. Genggeng. Pernah kebayang enggak,
Geng, saat kita lagi sakit berat terus
tiba-tiba butuh donor darah? Nah, gua
sering banget nih mendapatkan kondisi
kayak gini di mana teman-teman gua itu
biasanya bakal mengirimkan eh chat atau
e nge-bless broadcast gitu ya.
dibutuhkan darah golongan bla bla bla
bla untuk keperluan bla bla bla bla
misalkan gitu. Biasanya itu kalau ada
seseorang yang sedang membutuhkan banget
udah sekarat bahkan ya baik itu dari
keluarga atau kerabat-kerabat terdekat.
Nah biasanya itu dalam posisi yang
sangat-sangat genting dan harus segera
didapatkan. Tapi gimana kalau misalkan
nih ya, kalau misalkan kita mendapatkan
donor darah tapi bukannya sembuh malah
makin sakit, malah tambah parah dan
justru mendapatkan penyakit tambahan
akibat transfusi darah tersebut yang
bahkan mengakibatkan sampai meninggal
dunia. Gimana tuh kalau kalian
dihadapkan dengan situasi itu?
Di pembahasan kali ini, gua pengen
ngebahas sebuah skandal kasus kisah
nyata yang terjadi yang berhubungan
dengan transfusi darah atau donor darah
yang terkontaminasi. Dan bahkan ini
korbannya sampai ribuan orang yang
meninggal dunia. Kedengaran sangat
menyeramkan tapi ini adalah kisah nyata
yang terjadi pada tahun 1970-an. Nah,
jadi ini adalah sebuah skandal medis
terbesar dalam sejarah sebuah negara
yaitu Inggris. Kebayang ya negara
sebesar Inggris tapi ya di tahun 1970-an
yang mungkin di saat itu teknologi belum
semaju sekarang. Jadi kejadian kayak
gini sangat memungkinkan. Total di saat
itu terdapat puluhan ribu pasien yang
mendapatkan penyakit tambahan usai
menerima transfusi darah dan totalnya
ada ribuan orang yang tewas atau
meninggal dunia akibat penyakit tambahan
tersebut. Penyakitnya juga enggak
main-main. Yang paling banyak itu adalah
HIV dan hepatitis. Nah, yang mana pada
zaman tersebut penanganannya masih belum
secanggih
sekarang. Lantas pasti timbul
pertanyaan, kok bisa ada ribuan orang
meninggal dunia akibat donor darah yang
terkontaminasi ini? Dan kenapa petugas
medisnya tidak bisa menangani hal
tersebut terkesan kayak enggak tahu
apa-apa. Nah, emangnya ada apa dengan
darah yang ditransfusikan tersebut? Dan
ketika keluarga para korban protes
kepada pemerintah Inggris untuk
diselidiki lebih lanjut soal kasus ini.
Dan di situlah setelah diselidiki
terungkap fakta yang sangat-sangat
mengerikan. Nah, sekarang kita bakal
bahas nih, Geng, tentang skandal kasus
ini. Langsung aja kita bahas secara
lengkap di sisi
[Musik]
lain. Jadi, Geng, tepatnya pada tahun
1970-an sampai tahun 1980-an, dunia
medis Inggris yang biasanya disebut
dengan NHS atau National Health Service
atau layanan kesehatan nasional milik
Inggris pada saat itu mengalami
kelangkaan pasokan darah. Masalahnya,
Geng, pada saat itu juga warga-warga di
Inggris itu banyak yang sakitnya itu
membutuhkan transfusi darah seperti
misalnya buat orang-orang yang habis
cedera atau operasi besar terus
melahirkan dan lain-lain. Tapi selain
itu ada lagi penyakit yang juga butuh
banyak banget pasokan darah pada saat
itu, yaitu penyakit hemofilia. Buat yang
belum tahu, penyakit hemofilia ini
adalah kelainan genetik yang
mempengaruhi kemampuan darah untuk
membeku. Nah, kondisi ini disebabkan
oleh kekurangan atau tidak adanya
protein khusus yang disebut dengan
faktor pembukuan darah. Penjelasan
simpelnya tuh kayak gini, Geng. Misal
nih kalian kebeset nih atau ya kena
pisau gitu. Nah, biasanya kan darahnya
mengalir. Nah, kalau misalkan enggak ada
nih proses pembekuan darah, maka tuh
darah bakal ngalir terus. Makanya
dibutuhkan protein khusus tadi supaya
darahnya bisa berhenti. Nah, pasien
hemofilia ini memerlukan faktor
pembekuhan darah yaitu faktor 8 angkanya
tuh Romawi. Kayak gini nih tulisannya.
Nah, ini untuk mencegah pendarahan
berlebih. Dan sebenarnya penyakit
hemofilia ini sampai sekarang masih
belum ada obatnya. Tapi kalau sekarang
ya yang menderita hemofilia masih bisa
beraktivitas seperti biasa dengan
melakukan perawatan dan juga pencegahan
yaitu salah satunya dengan terapi gen.
Nah, jadi udah mulai ada penanganannya
lah. Dan terapi gen untuk hemofilia ini
adalah pendekatan medis yang bertujuan
untuk mengatasi penyebab utama penyakit
hemofilia dengan memperbaiki gen yang
rusak. Nah, terapi ini menggunakan virus
yang sudah dimodifikasi seperti adeno
associate virus atau AAV untuk membawa
salinan gen sehat ke dalam sel hati
pasien. Setelah gen baru dimasukkan, sel
tubuh mulai memproduksi faktor pembekuan
darah yang dibutuhkan secara alami
sehingga mengurangi atau bahkan
menghilangkan kebutuhan akan infus rutin
faktor pembukuan tadi. Tapi meskipun
begitu, terapi gen ini sendiri sampai
saat sekarang ini masih dalam tahap
pengembangan, Geng. Jadi khususnya untuk
di bagian efek samping sama kecocokannya
terhadap pasien. Jadi enggak semua
pasien bisa untuk melakukan treatmen
ini. Waktu tahun 1970-an di Inggris
terapi
genemukan. Jadi pada saat itu memang
enggak ada pengobatan jangka panjang
untuk hemofilia. Tapi pada pertengahan
1970-an, pengobatan hemofilia ini yang
disebut dengan faktor
8/9 itu tersedia untuk pertama kalinya.
Jadi, pasien-pasien yang menderita
hemofilia ini nantinya akan ditransfusi
faktor pembukuan yang diambil dari
plasma darah manusia lain. Plasma ini
dikumpulkan dari donor darah. Jadi,
orang-orang dimintain nih donor
darahnya. Terus kemudian nanti baru
diproses untuk mengekstraksi faktor
pembekuan tersebut. Biasanya yang akan
diekstraksi itu faktor 8 itu untuk
hemofilia A dan juga faktor 9 untuk
hemofilia B. Nah, faktor tersebut
kemudian diberikan melalui infus kepada
pasien yang membutuhkan untuk membantu
darah mereka bisa membeku secara normal.
Nah, jadi kurang lebih tuh proteinnya
diambil dari orang terus disuntikkan ke
badan si pasien yang membutuhkan. Dan
perlu digaris bawahi, Geng. Pengobatan
menggunakan plasma darah ini termasuk
tindakan medis baru. Di saat itu,
permintaan pasokan darah di Inggris pun
menjadi melonjak, terlebih dengan adanya
pengobatan hemofilia berupa konsentrat
faktor tersebut. Tapi gara-gara itu,
akhirnya NHS atau layanan kesehatan
nasional Inggris ini jadi kekurangan
pasokan darah. Jadi mereka enggak punya
lagi stok darah. Apalagi pada saat itu
yang butuh pasokan darah juga banyak
banget dari yang operasi melahirkan dan
lain-lain. Gara-gara itu, pada tahun
1974 pemerintah Inggris akhirnya
memutuskan untuk mengimpor pasokan darah
dari Amerika Serikat. Nah, karena di
saat itu kalau pemerintahnya hanya
terfokus mencari pendonor dari Inggris
itu bakal kurang banget. Sementara
mereka benar-benar butuh. Nah, akhirnya
diimporlah, dicarilah di luar Inggris
dan ditemukanlah di Amerika Serikat. Dan
seperti yang kita tahu, kehidupan
masyarakat di Amerika Serikat sebebas
apa? Seks bebas, ya kan? Mereka juga ee
punya senjata api, terus narko gitu.
Jadi kehidupannya tuh cukup kotor dan
itu berpengaruh kepada kondisi tubuh
mereka bahkan kondisi darah mereka. Nah,
tapi sebenarnya organisasi kesehatan
dunia alias WHO di saat itu udah
mewanti-wanti soal cara pengobatan
hemofilia dengan menggunakan konsentrat
faktor ini. Bahkan sudah dari tahun
1953, Geng. Nah, kalau kata WHO intinya
plasma darah ini tuh rentan
terkontaminasi. Jadi, plasma darah yang
sudah jadi bubuk itu enggak boleh
banyak-banyak dicampur sama plasma darah
dari donor yang lain untuk bisa
mengurangi potensi kontaminasi. Jadi
intinya ini jadi tanda kalau terkait
pengobatan hemofilia ini menggunakan
konsentrat faktor sangat berbahaya dan
hati-hati banget. Dan kemudian Inggris
pun akhirnya ya sudah terpaksa
menggunakan pasokan daerah yang mereka
impor dari Amerika tadi ke berbagai
pasien mereka karena udah enggak ada
pilihan lain termasuk juga kepada pasien
hemofilia terus operasi dan juga
melahirkan serta yang lain-lain yang
jelas yang butuh transfusi darah. Dan
sebenarnya di tahun 1975 WHO sempat
bilang lagi kepada dunia internasional
kalau negara-negara itu harus mandiri
dalam produksi pasukan darah. Jadi
enggak boleh bergantung atau minta dari
negara lain karena nanti enggak bisa
diseleksi dengan benar. Menteri
Kesehatan Inggris di saat itu yaitu Lord
David Owen pada tahun 1975 itu setelah
pengumuman dari WHO tersebut dia sempat
bilang kalau Inggris bakal mandiri dalam
memproduksi pasokan darah. Salah satunya
adalah dengan investasi yang bernilai
500.000 R000 pon sterling atau setara
dengan Rp10,57 miliar untuk memproduksi
pasokan darah. Nah, tapi sebenarnya
angkanya juga enggak pasti 500.000
Ponsterling tersebut. Soalnya ada sumber
yang mengatakan setelah 3 tahun berlalu
hingga 1978, pemerintah Inggris ini
malah terus-terusan impor pasokan darah
dan enggak sesuai omongan mereka. yang
mana sebelumnya mereka bilang bakal mau
mandiri sampai investasi miliaran
rupiah. Bahkan penggunaan plasma darah
untuk konsentrat faktor bagi penderita
hemofilia aja itu 50%-nya berasal dari
impor. Nah, singkat cerita nih, Geng.
Pada sekitar tahun 1980 sampai 1983
mulai bermunculan banyak laporan
orang-orang yang meninggal dunia secara
mendadak. Dan ketika dilakukan
pemeriksaan, ternyata orang-orang yang
meninggal tersebut lagi-lagi memiliki
riwayat pernah menjadi pasien konsentrat
faktor untuk pengobatan hemofilia. Dan
ada juga yang pernah terima transfusi
darah impor dari Amerika. Dan setelah
kejadian tersebut, mereka semua
diperiksa. Nah, ternyata mereka ini
setelah melakukan transfusi darah dan
menjadi pasien konsentrat faktor untuk
pengobatan hemofilia, mereka mendapatkan
penyakit tambahan. Penyakit yang paling
umum itu enggak jauh-jauh dari HIV dan
hepatitis. Nah, tapi tiap tahun itu,
Geng, yang tercatat memang ada banyak
banget dan kesamaan dari mereka semua
adalah mereka itu sudah menerima
transfusi darah dan pengobatan hemofilia
lewat konsentrat faktor dari donor darah
impor. Nah, bahkan ada banyak yang
sampai meninggal dunia karena penyakit
hepatitis dan HIV tadi. Pada saat itu
akibat banyaknya laporan soal orang
sakit atau meninggal akibat donor darah
impor, akhirnya pada sekitar tahun
1980-an ke atas keluarga dari korban
yang terdampak dan juga berbagai aktivis
sudah mulai bertanya-tanya dan meminta
pertanggungjawaban dari Kementerian
Kesehatan
Inggris. Nah, ini adalah langkah tempat
dari warga Inggris di saat itu. Apalagi
yang beli donor darah impor untuk
pasukan darah di Inggris itu adalah
Kementerian Kesehatan mereka sendiri.
Makanya mereka protes nih ke pemerintah
mereka tersebut. Nah, sebenarnya nih
Geng di tahun 1983 Spence Galbid yaitu
direktur communicable DC Survey Lance
Center yang ada di Inggris dan Wells itu
mengirimkan makalah yang berjudul Action
on AIDS kepada Dr. Iam Field dari
Departemen of Health and Social Security
atau DHS yang ada di London. Nah, di
dalam makalah itu dia menginformasikan
bahwa seorang penderita hemofilia sudah
meninggal dunia karena AIDS. Setelah
menerima konsentrat faktor yang
merupakan asal muasalnya itu dari plasma
darah yang diimpor dari Amerika Serikat.
Wah gila ya. Dari yang enggak punya
penyakit AIDS, enggak punya penyakit HIV
jadi punya gara-gara nerima transfusi
darah tersebut. Nah, ini kan benar-benar
sebuah kebodohan yang sangat besar dari
tenaga medis mereka. Nah, Galbright ini
juga mengatakan bahwa setelah meninjau
literatur ilmiah, dia menyimpulkan bahwa
semua produk darah yang didapatkan dari
donor darah di Amerika Serikat setelah
tahun 1978 seharusnya ditarik dari
peredaran sampai resiko penularan AIDS
ini melalui produk tersebut bisa
diklarifikasi lebih lanjut. Jadi enggak
boleh disuntikkan ke tubuh orang lagi.
Dia juga mengungkapkan dia sangat heran
kalau produsen produk darah di Amerika
Serikat tidak memberikan peringatan
kepada para pelanggan mereka tentang
bahaya ini. Dia bahkan mempertanyakan
apakah Inggris pernah menerima
peringatan kritis terkait resiko
tersebut dari Amerika. Nah, namun
meskipun begitu ada peringatan dari
Galbid yang menyebutkan pemerintah
Inggris tidak menarik produk yang
berasal dari pasokan darah impor Amerika
tersebut. Kalau kata Departemen
Kesehatan Inggris, katanya penelitian
Galbid itu dianggap sebagai terlalu dini
dan ya kayak dikatain sotoi lu gitu.
Nah, mereka menganggap kayak buktinya
kurang kuat. Nah, ini kalau di zaman
kita kayak pejabat nyempelein COVID gitu
loh, Geng. Padahal ini benar-benar
penyakit yang berbahaya. Nah, sebenarnya
di situ aja udah ada aktivis dan
peneliti yang membagikan semacam koran
gratis yang isinya tentang pembahasan
penyakit HIV Age dapat ditularkan
melalui darah. Dan memang pada tahun
1980-an tersebut pengetahuan soal HIV
AID bisa menular lewat darah itu masih
sangat kurang. Nah, tapi meskipun sudah
ada penelitian yang bilang kalau HIV
bisa tertular lewat darah, namun
Kementerian Kesehatan Inggris melalui
sekretaris mereka yang bernama Kenneth
Clark itu bilang kalau penularan
hepatitis dan HIV akibat donor darah
impor itu tidak terbukti katanya. Dan
buktinya tuh masih kurang jadi enggak
terbuktilah. Nah, enggak mungkinlah
donor darah bisa kena HIV, katanya di
zaman itu. Nah, padahal pada saat itu
juga dokter-dokter tenaga medis itu
mereka semua percaya kalau donor darah
itu bisa menularkan hepatitis dan juga
HIV. Dan bahkan sekarang udah terbukti
sih. Kemudian geng, bertahun-tahun
setelahnya, warga Inggris pada konsisten
banget nih mendesak pertanggungjawaban
ke pemerintah mereka dari tahun ke tahun
supaya kasus skandal donor darah ini
bisa diusut tuntas. Apalagi karena makin
lama korbannya juga makin gak bisa
dihitung jari. Karena ya memang sih
kalau misalkan didonornya sekarang
efeknya enggak sekarang bisa jadi 2
tahun, 3 tahun, 4 tahun, bahkan 10 tahun
ke depan. Nah, tapi geng parahnya nih
pemerintah Inggris di saat itu terkesan
melakukan tindakan yang sangat lambat
dan juga alot. Ada aja dramanya dari
tahun ke tahun. Misalkan nih pada April
tahun 2000, pemerintah Inggris itu
bilang kalau dokumen-dokumen penting di
tahun 1989 sampai tahun 1992 tentang
data-data donor darah impor ini banyak
yang hilang. Soalnya dihancurkan atau
dibuang gitu aja sama staf mereka yang
kalau kata mereka itu stafnya kurang
berpengalaman jadi enggak tahu kalau
dokumen itu penting katanya. Jadi
sesepele itu penjelasan mereka dan warga
di Inggris apalagi keluarga dari korban
yang terdampak itu makin kesal dengan
hal ini. Hingga 7 tahun setelahnya yaitu
tepatnya tahun 2007 ada seorang politisi
dan juga pengacara Inggris yang cukup
terkenal yang bernama Lord Arser of
Swell itu memimpin penyelidikan
independen yang dia dan timnya danai
sendiri untuk mengusut skandal donor
darah impor ini di Inggris. Nah, jadi
udah saking jengahnya mereka. Lord
Archer had no power to call witnesses or
compel government to act, but he could
set out what went
wrong. The procrastination in achieving
national self-sufficiency to avoid the
use of highrisk blood products from
overseas had disastrous consequences.
Had selfsiciency
achieved the scale of the catastrophe
would have been significantly
reduced. Lalu, Geng, setelah 2 tahun
penyelidikan, terbitlah hasil laporan
dari penyelidikan independen oleh Lord
Arser tersebut yang mana laporannya
dikenal dengan sebutan The Arser Report.
Nah, di dalam laporan itu terungkap
bahwa penghancuran dokumen penting
terkait data donor darah impor yang
katanya gara-gara staf kurang
berpengalaman itu dianggap adalah
kesengajaan sebagai bagian dari
akal-akalan untuk menutupi kelalaian
pemerintah Inggris. Wah,
kayak gua kayak ini ya kayak flashback
gitu. Kayak pernah ada enggak sih di
sebuah negara yang terjadi kasus
tiba-tiba nih gedung yang apa ya tempat
menyimpan dokumennya terbakar ya kan
supaya dokumen-dokumennya hilang dan
bukti-buktinya hilang. Hmm kayak di
negara mana ya? Ternyata hal kayak gini
udah dilakuin sama Inggris jauh sebelum
itu ya. Ternyata akal-akalannya membakar
dokumen tersebut yang katanya ya
staffnya enggak sengaja, enggak tahu
gitu. ternyata untuk menutupi kesalahan
dan kegagalan ini. Terus yang parahnya
lagi, Geng, dari kasus ini, korban yang
terkena hepatitis atau HIVID, ya itu
korbannya diperkirakan mencapai lebih
dari ribuan orang. Sakit enggak tuh? Lu
enggak ngelakuin dosa untuk ya apa
bersetubuh sembarangan atau ya hal-hal
yang aneh-anehlah di luar sana, tapi lu
jadi kena imbasnya gara-gara transfusi
darah yang terkontaminasi. Ya, sayangnya
nih, Geng, ada sumber yang mengatakan
kalau laporan arser tidak memiliki
status hukum. Jadinya kurang bisa
dijadikan sebagai alat bukti untuk
menuntut pemerintah karena kan dilakukan
secara independen. Nah, kemudian geng,
tahun ke tahun terus berjalan tanpa
adanya keadilan bagi para korban dan
keluarga yang terdampak akibat skandal
donor darah impor ini. Sampai kemudian
pada Juli tahun 2017 nih, ini udah
berpuluh-puluh tahun kasusnya. Lebih
dari 500 korban skandal darah
terkontaminasi ini akhirnya menggugat
pemerintah Inggris. Mereka di saat itu
udah capek, Geng. Setelah bertahun-tahun
nungguin keadilan yang ggak kunjung
datang, gugatan ini pun akhirnya mereka
layangkan dan dikenal sebagai Jason
Evans and Ors yang diambil dari nama
salah satu korban yang ng-push kasus ini
biar tidak tenggelam. Nah, makin ke sini
makin banyak yang bersuara. Tekanan dari
aktivis, korban, bahkan politisi membuat
perdana menteri di waktu itu yaitu
Teresa May itu akhirnya menanggapi
desakan ini dan mengeluarkan pengumuman
besar yang mana Inggris akan membuat
penyelidikan publik nasional untuk
ngebongkar skandal ini. Nah, ini untuk
pertama kalinya pemerintah Inggris
benar-benar mau mendengarkan korban
setelah bertahun-tahun kasus ini
diulur-ulur. Meskipun sempat tertunda
karena pandemi Covid-19 pada tahun 2020,
tapi pada akhirnya tabir kebenaran
terungkap juga. Setelah penantian
berpuluh-puluh tahun lamanya, akhirnya
dirilislah laporan penyelidikan
sesungguhnya yang menjelaskan dengan
lengkap sebenarnya apa yang terjadi
terkait kasus skandal donor darah impor
di Inggris dari tahun 1980-an ini. Nah,
juga faktanya mengerikan banget, Geng.
Wah, gua merinding deh kalau udah baca
cerita ini tuh merinding banget. Around
28,000 NHS patients were given
contaminated blood between the 1970s and
1990s. 3000
people and thousands still symptoms
today.
Sekarang kita masuk nih, Geng, ke dalam
fakta mengerikan di balik kasus skandal
ini. Langsung
aja. Oke, fakta mengerikan pertama.
Ternyata totalnya ya korban di dalam
kasus ini ada 30.000 orang. Ingat ya,
30.000 orang yang ada di Inggris yang
akhirnya terinfeksi HIV dan hepatitis C
setelah menerima donor darah impor pada
tahun 1970-an sampai 1980-an. Fakta
mengerikan selanjutnya di tahun 1970-an
ketika orang-orang diberikan konsentrat
faktor untuk pengobatan hemofilia yang
berasal dari donor darah impor. Ternyata
di batch tahun 1970 tersebut seluruh
konsentrat faktor itu untuk pengobatan
hemofilia sudah terkontaminasi oleh
virus mematikan. Salah satunya HIV.
Diketahui sama ee tenaga medisnya tapi
tetap dilakukan gitu. Dan yang kemudian
ini mengakibatkan 1250 orang di Inggris
menderita penyakit tambahan yaitu
hepatitis C dan juga HIV tadi. Dan
gilanya lagi dari 1250 korban tersebut
380-nya adalah yang masih di bawah umur.
Nah, dari 1250 orang yang terinfeksi itu
sekitar 2/3 akhirnya meninggal dunia.
Dan banyak dari mereka yang tidak sadar
sudah ditularkan virus tersebut di dalam
tubuh mereka dan mereka menularkannya
lagi ke pasangan mereka dan mereka
enggak sadar itu. Dan enggak cuma itu
aja, Geng. Di antara tahun 1970 itu
sampai 1991, ada kelompok kedua yang
menjadi korban, yaitu orang-orang yang
dapat transfusi darah setelah
melahirkan, terus operasi, dan juga
perawatan medis lain. Darah yang mereka
terima ternyata juga sudah
terkontaminasi dan dari penyelidikan
diperkirakan ada 80 sampai 100 orang
terinfeksi HIV akibat transfusi ini dan
sekitar 27.000 orang terkena hepatitis
C. Jadi totalnya diperkirakan ada
sekitar 2.900 orang yang meninggal dunia
gara-gara donor darah impor yang
ternyata terkontaminasi virus. Nah, tapi
enggak cuma mereka yang terkena dampak,
ada 2.400 sampai 5.000 orang lain yang
terkena hepatitis C. Dan ini merupakan
penyakit yang bisa membuat sirosis hati
sampai dengan kanker hati. Nah, yang
lebih mengerikannya lagi hepatitis C itu
bisa tidur di dalam tubuh selama
bertahun-tahun tanpa gejala. Jadi,
enggak ketahuan. Jadi banyak korban yang
baru sadar ketika kondisi mereka sudah
parah dan bahkan sudah terlambat untuk
bisa diobati. Lalu, Geng, yang bikin
geramnya dari kasus ini adalah padahal
sejak tahun 1948 resiko kalau produk
darah seperti plasma dan juga darah yang
didonorkan itu bisa mengandung virus
bawaan dari pendonornya padahal udah
diketahui. Tapi meskipun bahayanya udah
sejelas itu udah tahu gitu. Otoritas
kesehatan, dokter, layanan darah, hingga
pemerintah Inggris itu masih aja
bersikap kalau itu semua enggak perlu
dikhawatirkan. Jadi kayak enggak peduli
mereka. Bahkan banyak korban dibiarkan
dalam ketidaktahuan. Jadi enggak dikasih
ee apa ya? Enggak dikasih penyuluhan,
enggak dikasih ilmu pengetahuan. Kayak
ya udah lu ikutin apa kata gua aja.
Kurang lebih begitulah pemerintah
mereka. Dan para korban enggak dikasih
tahu tentang resiko pengobatan mereka.
Alternatif lain yang lebih amannya ada
atau enggak? Atau bahkan apakah mereka
sudah terinfeksi atau belum. Pokoknya
mereka benar-benar dibutakan. Dan apakah
cuma sampai di situ aja fakta
mengerikannya? Ya tentu enggak, Geng.
Kalian pasti bertanya-tanya dari awal
kenapa kok bisa dalam darah yang
didonorkan yang diimpor dari Amerika ini
bisa mengandung virus hepatitis sampai
HIVh? Jawabannya adalah karena darah
yang diimpor itu berasal dari pendonor
yang merupakan narapidana dan pecandu
narkoba. Gila enggak tuh? Kebayang
enggak mereka enggak mencari pendonor
dari masyarakat yang baik-baik gitu,
enggak. Mereka datang ke
penjara-penjara. Donor darah, donor
darah, donor darah. Udah dari situ yang
penting ada stoknya. Jadi segila itu,
Geng. Jadi memang di Amerika Serikat itu
donor darah sering sekali berasal dari
kelompok yang berisiko tinggi seperti
narapidana dan pengguna narkoba karena
mereka dibayar untuk menonorkan darah.
Nah, itu karena pada masa lalu terutama
sebelum sistem donasi darah sukarela
yang ketat diterapkan, praktik donor
darah berbayar itu memang umum di
Amerika Serikat. Dan makanya beberapa
bank darah komersial itu mengandalkan
donasi dari individu yang berada di
dalam kelompok berisiko tinggi tertular
penyakit bawaan darah termasuk
narapidana dan pengguna narkotika karena
mereka sering sekali membutuhkan uang
dan bisa dibayar murah. Praktik ini
meningkatkan risiko kontaminasi di dalam
darah. Tapi pada saat itu pengawasan
terhadap keamanan darah belum seketat
sekarang. Makanya praktik seperti ini
bisa lolos.
Nah, namun geng yang paling di luar
nalarnya lagi adalah pemerintah Inggris
sebetulnya udah tahu kalau donor darah
yang diimpor dari Amerika itu berasal
dari donor yang beresiko tinggi ya dari
para pecandu dan narapidana tadi. Tapi
kenapa Inggris tetap memaksa impor
padahal sudah tahu ini bakal beresiko?
Ya, balik lagi kayak yang gue ceritakan
sebelumnya, Inggris memang mengalami
kelangkaan produk darah tersebut pada
tahun 1970-an sampai 80-an sehingga
harus melakukan impor apapun alasannya.
Apalagi pada saat itu pengobatan untuk
hemofilia lewat konsentrat faktor dari
plasma darah itu lagi
booming-boomingnya. Makanya pemerintah
Inggris itu enggak mau ketinggalan dan
apalagi pada saat itu juga sedang ada
tekanan dari WHO untuk tiap negara harus
mandiri dalam menyuplai stok darah.
Terus, Geng, ada fakta yang lebih
mengerikan lagi. Ini makin di luar
nalar. Ternyata berdasarkan laporan dari
berita media BBC terungkap bahwa
pemerintah Inggris lewat NHS atau
National Health Service atau layanan
kesehatan nasional Inggris itu melakukan
uji coba klinis kepada yang masih di
bawah umur yang menderita hemofilia.
Jadi gini, Geng. Konsentrat faktor untuk
pengobatan hemofilia itu mesti kena
terapi panas dulu supaya bisa dipakai.
Proses terapi panas ini meskipun
dimaksud untuk membunuh virus yang
berkemungkinan sudah terkontaminasi
dalam plasma darah yang dipakai,
bocil-bocil yang menderita hemofilia itu
sengaja dikasih konsentrat faktor yang
terinfeksi virus antara hepatitis atau
HIV tadi oleh para dokter di sana.
Karena para dokter di sana itu mau tahu
kira-kira terapi panas mereka ini
berhasil atau enggak untuk menghilangkan
virus yang terbawa di dalam darah. Kejam
banget ya. Jadi kelinci percobaan gitu.
Dan kalau berhasil berarti bagus. Kalau
enggak berhasil berarti coba lagi. Alias
si bocil-bocil tadi ya udah dikorbankan
untuk itu dan bakal dikasih konsentrat
faktor yang mengandung virus dengan
tujuan untuk mengetes terapi panas yang
baru mereka ciptakan itu bisa berhasil
atau enggak. Yang paling gila nih, Geng.
Seorang dokter dari Inggris yang di saat
itu yang bernama Dr. Samuel Machin itu
dia sampai menulis surat ke ahli
hemofilia lainnya yaitu Peter Kerov
dengan berharap supaya bisa melakukan
uji coba lagi untuk terapi panas baru
untuk yang masih di bawah umur yang
sudah dia uji cobakan sebelumnya. Nah,
berbulan-bulan sebelumnya dokter Kernov
ini memberikan himbauan kepada
rekan-rekan sejawatnya untuk
mengidentifikasi pasien-pasien yang
cocok untuk diuji coba klinis. Dan
secara spesifik, Dr. Kernov berkata
bahwa mereka haruslah pasien yang belum
pernah diobati alias belum pernah
menjadi bahan uji coba. Julukan pasien
ini adalah ya perawan hemofilia. Jadi
ibaratnya ni orang dengan penyakit
hemofilia belum pernah disentuh, belum
pernah diobati, nah itu disebut dengan
perawan hemofilia. Dan ya mayoritas
mereka-mereka yang menjadi kelinci
percobaan ini ujung-ujungnya udah di
liang kubur semua, udah tewas. Yang
bikin sedihnya adalah para keluarga dari
mayoritas e bocil-bocil di bawah umur
ini yang jadi korban itu adalah mereka
yang enggak tahu kalau anak mereka
dijadikan kelinci percobaan. Gila ya,
jahat banget dunia medis di zaman itu.
Nah, sekarang ini geng, selain
pemerintah Inggris yang sudah mengaku
mereka bersalah, kabarnya yang gua
dapatkan sekarang adalah pemerintah
Inggris juga sudah memberikan kompensasi
sebesar
11,8 pon sterling ya kepada para korban,
pasangan, serta keluarga yang terdampak
akibat kasus ini. Dan setelah puluhan
tahun berjuang demi mendapatkan
keadilan, akhirnya para korban bisa
mendapatkan kompensasi. Dan terkait
kompensasi tersebut, ada lima hal yang
menjadi dasar penilaian untuk menentukan
berapa banyak yang bakal diterima setiap
orang. Yang pertama, tingkat kerusakan
yang ditimbulkan, dampak sosial dari
stigma dan isolasi, dan juga dampak
terhadap kebebasan pribadi serta biaya
perawatan dan kerugian finansial mereka.
Dan untuk yang terinfeksi HIV, mereka
bisa mendapatkan kompensasi antara 2,2
juta poon sterling sampai dengan 2,6
juta pon sterling. Yang terinfeksi
hepatitis C itu lebih dari 6 bulan gitu
ya, bisa mendapatkan dana sebesar
665.000 pon sterling sampai 810.000 pon
sterling. Dan pasangan dari orang yang
terinfeksi HIV ya. Misalkan nih lu
enggak tahu nih misalkan istri lu
terkena terus lu juga terdampak tuh dan
lu masih hidup. Nah, itu bisa
mendapatkan kompensasi juga sekitar
110.000 R000 ponsterling. Sementara
bocil-bocil itu dapat 55.000 pon
sterling. Nah, kalau yang terinfeksinya
sudah meninggal, pembayaran
kompensasinya akan diberikan kepada ya
ee pewaris gitu, penerima warisan. Nah,
namun sayangnya jika pasangan atau
keluarga dari ee si pewaris tadi udah
meninggal dunia ya enggak ada lagi
kompensasi yang bisa diterima. Jadi udah
diangkap hangus. Nah, jadi itulah kurang
lebih cara memberikan kompensasinya dan
kompensasinya diberikan bertahapan. Jadi
tiap tahun dan hal ini sudah berlangsung
sejak akhir tahun 2022 kemarin dan masih
berjalan sampai sekarang. Namun sampai
saat ini ya jujur ya gua belum menemukan
sumber dari manapun siapa yang
bertanggung jawab dan siapa yang
dipenjara akibat kejahatan ini. Sampai
detik ini enggak ada yang tahu. Ya
mungkin kalau kalian ada yang tahu bisa
sharing di kolom komentar siapa yang
bertanggung jawab dan siapa yang
dipenjara atas kesalahan ini. Nah, itu
dia, Geng, pembahasan kita hari ini.
Menurut kalian bagaimana kasus ini?
Cukup mengerikan atau enggak? Coba
tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:17:06 UTC
Categories
Manage