DUE TO A HERETIC FILM! WALID FROM LOMBOK WAS REPORTED TO THE POLICE BY A FEMALE STUDENT AS A VICT...
l02teVZfI-I • 2025-05-05
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Baru kemarin dibahas, ternyata sekarang malah muncul di dunia nyata. Walid beneran ada, Geng. Nah, gua tahu, Geng. Orang yang seperti sosok walid ini memang beneran ada sih di dunia nyata. Kalian juga udah ngasih tahu ke gua dari komen-komen kalian kemarin, itu udah banyak banget referensi komentarnya. Kalian udah nunjukin lah. Nah, sekarang malah justru viral kasusnya yang mana ini berhubungan langsung dengan film Walid ini. Ini terjadi di Lombok, Geng. Dikatakan ada seorang ketua pondok pesantren yang bernama Ahmad Faisal. Dia ini melakukan berbagai hal yang enggak senonoh kepada para santri-santrinya dan korbannya diduga ada puluhan orang. Dan kasus ini bisa terungkap gara-gara film walid. 20 orang yang mengaku menjadi korban Ahmad Faisal. Sedangkan aksi beja tersangka terjadi dalam kurun 2016 sampai 2023. series walid itu yang menginspirasi para korban untuk melaporkan kasus ini. Yang mana di saat itu para korban ini posisinya udah alumni pondok pesantren tersebut. Dan ketika mereka habis nonton filmnya si Walid yaitu bidaah ini, mereka mikir, "Loh, loh kok kayak kasus gua nih, gua pernah nih dulu kayak gini." dan akhirnya mereka melaporkan kejadian ini. Nah, jadi walaupun serial tersebut dianggap kontroversial, tapi ternyata berguna juga untuk mengedukasi banyak orang yang sudah ee apa ya dibrainwash yang tidak sadar kalau mereka itu diperlakukan seperti santri-santrinya si Walid yang mana mereka dimanfaatkan ee melalui ajaran agama untuk dimanipulasi dan menuruti keinginan si pemimpin pondok pesantren. Dari sosok walid inilah yang ada di serial bidaah, para korban ini akhirnya sadar lalu melaporkan Ahmad Faisal yang ternyata melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Walid. Geng enggak kebayang ya kalau enggak ada serial bidaah ini, mungkin para korban enggak akan pernah tahu apa yang mereka alami. Mungkin mereka menormalisasikan saja apa yang mereka alami selama ini. Nah, makanya akhirnya nih ya Ahmad Faisal ini dijuluki sebagai walidnya Lombok. Waduh. Selamat buat orang Lombok ya. Kalian sudah memiliki walid. Untuk kota-kota lain jangan lupa nyusul. Enggak, enggak canda gua. Gara-gara aksinya ini ya akhirnya si Ahmad Faisal ini jadi viral. Nah, di video kali ini kita bakal membahas tentang walid asal Lombok ini. Oke, langsung aja kita mulai. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jiri Genggeng. kita langsung masuk ke dalam pembahasan terungkapnya aksi dari Ahmad Faisal ini, Geng. Jadi, Geng, seperti yang gua udah sebutkan di awal tadi, kalau kasus ini bisa terungkap setelah korban melihat kelakuan dari si walid di serial bidaah yang mirip dengan ketua pondok pesantren tempat mereka belajar, yaitu di Pondok Pesantren Nabiu, Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Nah, namanya itu adalah Ahmad Faisal. Sekarang status dari korban bukan lagi sebagai santri, Geng. Karena mereka udah lulus dan udah jadi alumni. Dan mereka sadar selama mereka belajar di pondok pesantren dulu, Ahmad Faisal itu sudah melakukan berbagai hal yang tidak senonoh kepada mereka. Informasi mengenai hal-hal seperti ini sebenarnya kan masih banyak yang belum paham, Geng. Apalagi kalau korbannya masih di bawah umur. Terlebih lagi kalau mereka itu masih berada di tempat yang akses informasinya terbatas ya seperti pondok pesantren ini. Mereka enggak akan pernah sadar apa yang dilakukan oleh e orang-orang seperti Ahmad Faisal ini. Yang mana ini selalu dibungkus dengan agama padahal yang dilakukan itu sebuah hal yang tidak benar dan sudah masuk ke dalam aksi kriminal. Mereka baru akan sadar setelah sudah beranyak dewasa, sudah keluar dari pondok pesantren tersebut dan mulai mendapatkan informasi mengenai kasus-kasus kayak gini dari luar. Nah, dari sini kemungkinan besar santri-santri yang menonton serial bidaah ini langsung berkomunikasi satu sama lain melalui grup WhatsApp alumni mereka. Mereka sama-sama untuk meyakinkan diri mereka satu sama lain kalau apa yang selama ini mereka e alami yang dilakukan oleh Ahmad Faisal ketika itu kepada mereka sama dan mirip banget seperti yang ditampilkan oleh ee serial bidaah tentang walid ini. Oleh karena itu, para korban akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian ini, Geng. Dari informasi awal yang didapatkan oleh Lembaga Perlindungan Anak atau LPA Kota Mataram, nah sudah ada 20 orang yang mengaku sebagai korban. Nah, tapi cuma ada tujuh orang yang udah diperiksa dan melaporkan Ahmad Faisal kepada polisi. Yang mana menurut keterangan para korban, aksi bejat Ahmad Faisal ini udah berlangsung sejak 10 tahun yang lalu, Geng. Sammad Faisal ini juga dilaporkan melakukan perset. Dan hal yang mengejutkan lagi ternyata aksi ini sudah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu, tepatnya sejak tahun 2016 sampai tahun 2023 yang mana pada saat itu para korban ini masih di bawah umur. Ada yang masih SMP dan juga SMA. Di saat si Ahmad Faisal ini ngelakuin aksi bejatnya itu, dia melakukan dengan berbagai modus. Ya biasalah rayuan-rayuan maut si e pemimpin pondok pesantren kayak gini nih. Nah, yang pertama nih kalimat dia yang paling mutakir nih. Ini gua geli banget sebenarnya. Dia ini bilang kalau dia itu bisa mensucikan rahim para korbannya. Buset, gua juga bisa tuh mensucikan rahim. Wah, bahasa apa sih ini nih? Kocok banget semua. Dan dia ini beraksi di sebuah ruangan pada malam hari dengan iming-iming kalau korban akan melahirkan anak yang nantinya bisa menjadi seorang wali. Nah, wali nih tinggal tambah dia jadi walid ya kan. Terus yang kedua nih ya, Faisal ini kemudian memberikan iming-iming kalau para korban bisa dapat pasangan dan keturunan yang baik kalau mau gitu-gituan sama dia. Dah gila. Nah, terus andalan dia yang ketiga adalah dia bilang dia bisa mengusir jin yang mengganggu si korban atau yang mengganggu si santriwatinya itu. Nah, di dalam dia melakukan aksinya ini, Ahmad Faisal itu bakal mendatangi korban di malam hari ketika mereka sedang tidur. Dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ahmad Faisal langsung memegang bagian tubuh dari korban. Kalau korban terbangun, Ahmad Faisal bakal bilang di atas badan korban ada bayangan yang lewat. Puset, ada sesosok jin gitu. Nah, makanya dia berani memegang tubuh korban untuk membangunkan. Nah, terus geng andalan yang keempat. Ahmad Faisal ini mengklaim kalau korban mau meminum air liurnya dia, maka korban bakal mendapatkan kemuliaan dan memiliki keturunan yang bisa menjadi tokoh di desa mereka. Hah, dada aja tahayulnya ya. Nah, intinya geng, si Ahmad Faisal ini selalu membuat image seolah-olah dia adalah orang yang sakti, suci, dan bisa memberikan kemuliaan kepada para muridnya itu. Dan Ahmad Faisal ini selain sebagai ketua pondok pesantren, dia dianggap oleh para santrinya adalah orang yang sangat dihormati. Makanya para korbannya mau-mau aja melakukan segala hal yang diminta oleh si Ahmad Faisal ini. Termasuk dengan melakukan perilaku yang tidak senonoh sampai meminta para korbannya ya meminum air liurnya dia, air jigongnya dia. H eh kacau. Nah, terus geng selain itu para korban yang sudah menjadi alumni ini juga ingat kalau Ahmad Faisal ini sempat mengajarkan dan mengijazahkan doa kepada para korbannya ini sebelum melakukan aksi bejatnya tersebut agar terlihat kalau apa yang mereka lakukan kepada para korban itu sesuai dengan syariat agama Islam. Padahal sebenarnya enggak sama sekali. Buat yang enggak tahu nih, Geng, ya, mengijazahkan doa itu apa sih? Nah, setahu gua nih ya yang e sesuai pemahaman gua nih berdasarkan pencarian gua nih mengijazahkan doa itu adalah istilah yang digunakan di dalam tradisi Islam khususnya di pesantren atau tarekat yang berarti memberikan izin secara spiritual dari guru kepada murid untuk mengamalkan suatu doa atau amalan tertentu. Nah, kalau ada yang kurang dari penjelasan gua nih ya boleh nih ditambahkan di kolom komentar buat kalian yang mungkin lebih paham tentang dunia pesantren. Oke. Terus, Geng, selain itu Ahmad Faisal ini juga sering menyebarkan doktrin kepada para korban dengan mengaku sebagai wali Allah dan dia mau transfer ilmunya ke para korban melalui aksi-aksi bejatnya ini. Dan selain itu, ada informasi lain yang mengatakan kalau aksi tersebut sering terjadi di ruang kelas sekolah. Kacau banget. Orang tua-orang tua ingin menitipkan anak mereka supaya menjadi sosok yang berbakti, berilmu, malah dirusak oleh si Ahmad Faisal ini. Nah, Ahmad Faisal ini juga diduga memanggil korban satu persatu untuk masuk ke dalam ruangan tersebut pada malam hari, tepatnya ketika jam istirahat supaya kondisinya sepi dan terkendali. Terus geng, informasi yang didapatkan oleh polisi dari keterangan para korban, ternyata Ahmad Faisal ini melakukan aksinya tersebut di lokasi yang berbeda-beda. Ada yang di kamar, ada yang di ruangan, ada yang di ruangan tertentu dan rata-rata kejadiannya pada malam hari semua. Yang jelas tuh di atas jam .00 dan jam . dini hari. Nah, LPA Kota Mataram akhirnya mengungkapkan fakta mengejutkan, Geng, dari kasus ini yang mana dikatakan kalau puluhan korban dari Ahmad Faisal ini mendapatkan ancaman. Nah, namun ancamannya bukanlah ancaman yang membahayakan nyawa. tapi dengan menawarkan untuk dinikahi dengan seseorang. Ada juga yang menawarkan untuk dibiayai pernikahannya. Bahkan ada juga yang memberikan iming-iming untuk menikah dengan adiknya Ahmad Faisal. Nah, penawaran-penawaran itu, Geng, berasal dari orang-orang yang ada di lingkarannya Ahmad Faisal. Nah, tujuannya ya supaya kasus ini tuh enggak diperpanjang oleh korban. Nah, ibarat itu Ahmad Faisal ini ingin bertanggung jawab dengan penawaran-penawaran tersebut. Pastinya korban enggak maulah, Geng. Emangnya dengan dinikahkan akan menyelesaikan masalah? Ya, ini pemikiran orang kolot gitu. Kalau zaman dulu iya ada beberapa kasus nih ya perempuan diruda paksa nih di desa-desa. Yang ngeruda paksa bukannya di penjara tapi malah justru dinikahkan dengan si wanita itu sebagai bentuk pertanggungjawaban. Itu kan aneh ya. Si Ahmad Faisal ini masih pakai cara kayak gitu, Geng. Ya jelas enggak akan berhasil. Ini zaman modern gitu. Dan kalau Ahmad Faisal enggak segera diproses, maka dia bakal terus melakukan aksinya ke santri-santri lain dan akan makin banyak nanti korbannya. Dan diharapkan dengan adanya laporan ini jadi membuat korban-korban lain juga berani untuk speak up melaporkan si Ahmad Faisal ini. Karena dikabarkan korbannya banyak. Karena adanya ancaman tersebut, para korban meminta perlindungan kepada lembaga perlindungan saksi dan juga korban atau LPSK karena merasa takut dan khawatir akan keselamatan mereka. Nah, singkat cerita nih, Geng. Setelah mendapatkan keterangan dari para korban, polisi juga melakukan visum untuk memastikan perbuatan yang dilakukan oleh Faisal ini benar adanya. Dan ketika mengetahui adanya sebuah laporan terhadap si Ahmad Faisal ini, si ketua pondok pesantren tersebut dan pihak pondok pesantrennya membuat klarifikasi mengenai kasus ini. Dan Ahmad Faisal mengakui semua perbuatannya seperti yang diceritakan oleh para korban. Dia enggak bisa ngelak. Nah, dia mengaku menyesal atas perbuatannya kepada para korban. Nah, cuma di saat itu dia sendiri lupa berapa orang yang sudah dia jadikan korban. Yang dia ingat hanyalah aksi tersebut sudah dia lakukan sejak 2015 sampai dengan 2021. Setelah itu kayaknya udah letoy tuh si Jonnynya udah letoy dia udah enggak kuat untuk ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi. Ahmad Faisal ini mengaku kalau ketika dia melancarkan aksinya tersebut, dia enggak milih-milih korban, tapi langsung tertuju pada santriwati yang dia inginkan di saat itu. Kenapa demikian? Karena saking mudahnya mendoktrin para targetnya ini seperti sudah menjadi hal yang lumrah untuk melayani nafsunya dia. Nah, dia ini juga membenarkan upaya untuk memperdaya para korban dengan menyentuh bagian-bagian yang enggak boleh sebenarnya. karena dia lihat adanya bayangan putih atau jin di atas kepala mereka dan keluar dari tubuhnya. Nah, itu semua adalah upaya-upaya manipulatifnya dia dan setelah itu dia bakal mengajak korban untuk melakukan gitu-gituan dan mengiming-imingi korban akan melahirkan keturunan wali. Bukan dikasih duit, dikasih keturunan wali. Nah, tapi pintarnya dia ini tidak pernah melakukan hal itu sampai kebablasan. Padahal dia udah menjanjikan akan mendapatkan keturunan wali nih kan. Nah, tapi dia gak sampai gitulah bikin mengandung gitu. Jadi dia tahu cara main aman. Lalu, Geng mengenai aksi dari Ahmad Faisal yang meminta para korban untuk meminum air jigongnya dan mengiming-imingi korban akan melahirkan seorang tokoh desa atau wali gitu ya. Nah, dia berdalih kalau hal itu enggak benar. Dia bilang dia cuma menjanjikan para korban ini bakal bisa mendapatkan pasangan yang baik katanya. Dan Ahmad Faisal mengaku khilaf dan kesetanan ketika itu. Nah, atas apa yang sudah dia lakukan ini, Ahmad Faisal meminta maaf kepada para santriwati yang sudah menjadi korbannya. Dan dia juga sadar kalau apa yang dia lakukan ini menghancurkan segala-galanya, menghancurkan keluarganya sendiri dan serta menghancurkan hati masyarakat yang menganggap dia sebagai seorang tokoh yang baik dan alim tapi ternyata merupakan seorang predator. Dan perkembangan selanjutnya dikatakan sudah ada 13 orang korban yang sudah berani melaporkan Ahmad Faisal ke polisi dengan rincian ada lima korban yang mengaku diruda paksa oleh Ahmad Faisal dan lima orang lainnya ya digitu-gituin lah. Gua enggak bisa nyebutin. Lalu ada tiga orang korban yang lain. Namun polisi masih belum bisa memastikan apakah mereka korban yang mengalami hal yang sama atau ruda paksa. Yang mana pada saat ini Ahmad Faisal sudah ditahan oleh pihak kepolisian dan ditetapkan sebagai tersangka. Geng penetapan AF sebagai tersangka dilakukan berdasarkan hasil gelar perkara dari keterangan ahli serta saksi hingga hasil visum. Polisi menyebut ketika diperiksa AF mengakui seluruh perbuatannya. Nah, lalu geng setelah viral kasus ini mengundang perhatian dari Gubernur NTB yang bernama Muhammad Iqbal. Beliau menyempatkan diri untuk menemui para korban dari si Ahmad Faisal ini yang mana dikatakan ada empat korban yang melakukan pertemuan dengan si Pak Gubernur. Nah, pertemuan tersebut dilakukan secara tertutup supaya identitas korban tetap rahasia dan mereka sudah melakukan koordinasi dengan Kapolda serta Kajati NTB mengenai kasus tersebut. Nah, di dalam kesempatan ini Pak Iqbal ini mengatakan siapapun pelaku dalam kasus ini harus diberikan hukuman seberat-beratnya. Ini sebagai pesan agar kasus seperti ini enggak lagi terjadi di kemudian hari. Walaupun pelakunya adalah pemimpin pondok pesantren, enggak ada cerita, enggak ada keringanan. Nah, menurut dia walaupun aksi tersebut terjadi di dalam lingkungan Ponpes, tapi murni dilakukan oleh satu oknum saja yaitu Ahmad Faisal dan enggak ada kaitannya dengan pondok pesantrennya. Makanya kalian harus hati-hati, Geng. Kalau kalian mengikuti ajaran-ajaran tertentu, pengajian-pengajian tertentu, ya nih enggak apa-apa gitu ya kalau yang diambil itu positifnya. Tapi kalau kalian sudah melihat pemimpinnya itu belok-belok, aneh-aneh nih mengarah-ngarah ke birahi, kalian hati-hati. E contohnya nih yang pernah ngomong gini nih. Jika cinta tak direstui, Dede bayi jadi solusi. Ah, itu jangan diikuti tuh yang model-model begitu. Jangan diikuti. Itu sudah mengarah ke perselangkangan. Itu bahaya buat kalian. Apalagi kalau pengajian ada gini-gini gini gini. Aduh kacau itu. Jangan. Gua cuma ngingetin doang ya. Gua cuma ngingetin doang. Hati-hati. Oke. Sementara itu, Geng, kantor wilayah dari Kemenak NTB sudah menyiapkan sanksi terhadap Ahmad Faisal ini dan akan mengevaluasi Ponpes tersebut. Kalau ternyata di dalam pemeriksaan Ponpes ini tidak memenuhi regulasi yang ada, maka Kanwil Kemenak NTB enggak segan-segan untuk mencabut izin dari pondok pesantren itu. Nah, Kemenak juga sudah membuat satgas untuk terus memantau perkembangan dari kasus ini, Geng. Meskipun kemungkinan besar satgas tersebut enggak akan mengawal kasus ini di ranah hukum dan hanya mengawasi pengelolaan pondok pesantrennya aja. Karena ya sayang aja gitu ya, pondok pesantrennya bubar. Itu kan tempat pengajian, tempat menuntut ilmu, tempat belajar. Gara-gara si Ahmad Faisal ini jadi tercoreng. ya ibaratnya domino efek gitu gara-gara satu orang yang berbuat buruk semuanya jadi kecipratan. LPA Kota Mataram yang ikut mengawal kasus ini itu mendorong supaya para penegak hukum bisa menerapkan pasal hukuman metong kepada si Ahmad Faisal ini. Karena ini predator yang berbahaya. Joko Jumadi selaku ketua LPA Kota Matara mengaku kalau dia mempertanyakan peran dari Kemenak di dalam kasus ini. Apa tindakan Kemenak sejauh ini? Sebab seharusnya Kemenak bisa menguatkan pondok pesantren tersebut, memperbaiki tata kelolanya dan memperbaiki sistem pengawasannya. Semua ada prosesnya. Jadi enggak tiba-tiba melakukan pembekuan atau penutupan pondok pesantren begitu aja ya. Kayak yang gua bilang tadi, sayang banget gitu. Gara-gara satu predator ini doang. Masalahnya dikatakan Kemenak tidak melakukan proses tersebut dan Joko juga menyinggung Kemenak yang sebelumnya berjanji akan membentuk Satgas untuk merespon maraknya kasus seperti ini di beberapa waktu yang lalu. Tapi sampai saat ini pernyataan tersebut hanya sekedar janji belaka yang menurut dia enggak kunjung dilaksanakan. Nah, ujung-ujungnya cuma ditutup aja tuh, Geng, pondok pesantren yang terlibat kasus-kasus kayak gini. Enggak ada pemeriksaan menyeluruh di pondok-pondok pesantren lain yang kemungkinan besar belum terungkap kasus-kasus kayak gini. Nah, ini ada benarnya juga. gitu. Oke, kita udah tahu nih, Geng, ya, kronologinya seperti apa, ya. Dan kita juga udah tahu hal-hal kayak gini kalau di Indonesia sebenarnya bukan rahasia umum lagi. Ahmad Faisal, Ahmad Faisal lain juga banyak gitu. Kalian bisa cek pemberitaannya udah banyak banget. Tapi karena kasus ini lokasinya di Lombok, gua mau membahas kasus serupa juga yang terjadi di Lombok juga, Geng. Jadi, ada dua kasus yang akan gua bahas selanjutnya. Nah, kedua kasusnya terjadi 1 sampai 2 tahun yang lalu dan kejadiannya berturut-turut. Yang satu di tahun 2023 dan yang satu lagi di tahun 2024. Nah, kalau Ahmad Faisal tahun 2025 berarti kan sudah sering. Harusnya ini bisa menjadi perhatian pemerintah. Kita akan masuk ke dalam pembahasan kasus-kasus serupa di Lombok yang mana yang pertama gua akan membahas kasus di tahun 2023. Oke, kita bakal bahas kasus yang pertama dulu nih, Geng. Yaitu yang terjadi pada tahun 2023 yang mana pelakunya itu adalah dua pimpinan Ponpes di Kecamatan Sikur, Lombok Timur yang berinisial HSN dan LMI. Nah, awalnya nih, Geng, para korban itu udah berupaya buat ngelaporin dua orang ini. Tapi karena korban pada saat itu tidak mendapatkan pendampingan sehingga ya mereka itu dapat ancaman serta intimidasi dari si HSN dan juga yang namanya LMI ini beserta dengan pengikut-pengikutnya yang lain. Nah, pengikut mereka kan itu besar alias bisa dikatakan ee sangat militan gitu. Nah, sampai pada akhirnya korban baru benar-benar berani ngelapor itu tepat pada bulan April tahun 2023 yang mana dikatakan korbannya sampai mencapai 41 orang dan mereka semua menjadi korban itu di sepanjang tahun 2023 itu, Geng. Nah, namun ada informasi yang mengatakan kalau aksi ini sudah dilakukan jauh lebih lama dari itu. Bahkan katanya dari tahun 2012. Wah, gila banget. Apa ya? Sebagai penjahat mereka puas banget gitu ya. 2012 sampai 2023, Geng. Berdasarkan pengakuan para korban, dua orang tadi membuat sebuah pengajian untuk para santri mereka yang mana pada saat itu santri-santri ini masih di bawah umur. Dan enggak ada yang aneh, Geng, dari pengajian tersebut terlihat biasa-biasa aja. Nah, namun di balik itu semua, ternyata pengajian itu menjadi cara bagi dua pelaku ini untuk bisa mengincar target-target mereka. Kalau mereka sudah memilih, para santri akan dikelompokkan untuk ikut di dalam pengajian yang lain, pengajian khusus. Cuma, geng, pengajiannya itu adalah pengajian yang membahas mengenai seksualitas. Aneh banget ya, ada pengajian kayak gitu. Mungkin gini, Geng. Kalau membahas mengenai ilmu tentang perzinahan di dalam agama, nah itu kan masih wajar gitu. Nah, itu masih masuk akal lah. Nah, namun si HSN ini malah membahas tentang hubungan yang gitu-gitu yang mana seharusnya belum waktunya untuk diberikan kepada para santri yang belum cukup umur ini. Nah, dari situlah ketika si ASN ini mulai tertarik dengan salah seorang santri, dia bakal meminta santri tersebut untuk bertemu secara privat, secara khusus. Nah, cuma dia enggak meminta secara langsung, tapi melalui perantara, Geng. Dengan mengatakan kalimat, "Kamu dipanggil sama Abah, minta berkah di rumah." Haduh, berkahnya dari burungnya Abah nih. Gua lihat-lihat ya. Dan menurut informasi yang gua dapatkan, perantara yang dimaksud itu adalah para pengurus pondok pesantren. Nah, berarti mereka ini mengetahui adanya penyimpangan dari si Abah ini. Nah, jadi nantinya si Abah yang berinisial HSN ini bakal menyampaikan kepada pengurus Ponpes itu dan pengurus Ponpes itu bakal meneruskan ke si santri. Dan ketika si santri sudah berduaan dengan si HSN, maka HSN ini bakal melakukan aksinya. Diduga dia ini menjanjikan berkah berupa surga kepada para santri yang mau melayani dia. Dan para korban juga mengaku kalau mereka seperti terhipnotis ketika bertemu dengan si HSN ini. Dan menurut pengakuan para korban sebelum melakukan aksinya, HSN ini dikatakan mengusap-ngusap kepala korban. Dan seluruh korban di saat itu mengaku kalau si HSN ini yang mereka panggil Abah itu mengklaim bisa membuat santrinya memiliki wajah yang berseri-seri dan mendapatkan berkah untuk bisa masuk surga. karena dia mengaku sebagai wali Allah dan bisa masuk ke dunia gaib. Aduh, cuci otaknya gila banget. Nah, terus sementara itu yang satunya lagi alias pelaku yang satunya yang berinisial LMI diduga melakukan aksi bejatnya kepada korban dengan janji akan masuk surga. Nah, kalau enggak menuruti kemauannya maka santri dan keluarganya bakal celaka. Intinya mereka berdua memberikan doktrin kepada santrinya. Jadi sekalipun mereka menolak permintaan tersebut, ya santri-santri ini enggak bisa berbuat apa-apa karena sudah terlanjur terdoktrin kalau mereka harus menjalankan perintah guru dan mereka percaya-percaya aja. Ketika mengalami kekerasan itu terlebih lagi ada relasi kuasa yang membuat korban enggak bisa melakukan apapun kecuali diam. Tubuh mereka enggak bisa memberi reaksi dan ya padahal nih ya di dalam hati mereka itu mereka mau ngelawan, mau memberontak, nolak, tapi enggak berdaya gitu. Apalagi yang melakukannya adalah orang yang sangat mereka hormati dan mereka takuti yaitu guru mereka. Sampai pada akhirnya para santri ini saling menceritakan satu sama lain apa yang mereka alami dan mereka memiliki keinginan untuk keluar dari tempat itu serta ingin melaporkan apa yang ya dilakukan oleh si pelaku terhadap mereka. Nah, para santri ini bahkan udah banyak yang keluar dari pondok pesantren itu dan bekerja di luar pulau. Mereka merasa takut dan ingin melupakan apa yang terjadi karena trauma. Nah, tapi makin lama makin banyak santri yang menjadi korban sampai akhirnya ada di antara mereka yang berani untuk melaporkan ini. Nah, biasanya nih kalau udah ada satu yang berani bakal jadi pemicu untuk yang lain-lain juga bakal berani. Ketika korban sudah memiliki keberanian untuk melapor, datanglah ancaman nih dari pondok pesantren itu dengan mengintimidasi keluarga korban. Nah, namun pada akhirnya kasus ini tetap diproses dan HSN serta LMI ditangkap, Geng. Nah, HSN tidak mau mengakui perbuatannya dengan mengatakan kalau dia difitnah. Padahal dia sedang sakit dan sedang menjalankan operasi, kata dia. Bahkan ketika ditanyakan jumlah korbannya ada sebanyak 41 korban, dia jawab kalau itu semua adalah bohong. Katanya enggak mungkin saya kuat melakukan itu. Gitu-gitulah. Sementara itu, LMI enggak berkomentar apa-apa. Ketika ditanya oleh media, dia cuma kunci mulut, enggak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Dan akhirnya karena emang sudah ada bukti dan saksinya, mereka berdua dijerat dengan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar. Tetap jadi tersangka. Nah, itu adalah salah satu kasus yang terjadi pada 2023. Oke, kita masuk ke kasus selanjutnya yang terjadi di tahun depannya yaitu tahun 2024. Kasus ini terjadi di daerah Sekotong, Lombok Barat dan lagi-lagi dilakukan oleh pimpinan pondok pesantren yang berinisial AM dan juga yang berinisial D yang merupakan anak dari AM dan seorang ustaz yang berinisial WM. Nah, mereka ini diduga sudah melakukan aksi bejat terhadap empat santrinya. Salah satu korbannya sudah ya digutuhu-gituin lah. Bahkan ada satu korban dengan dua pelaku yang sama. Modus dari para tersangka ini adalah meminta korban untuk menjaga anggota keluarga pelaku yang sakit secara bergiliran di lingkungan pondok pesantren. Nah, hal tersebut dijadikan kesempatan oleh tersangka untuk melancarkan aksinya dan akhirnya, geng, korban pun menceritakan kejadian itu kepada keluarganya dan keluarganyaalah yang akhirnya melaporkan ini ke polisi. Nah, kasus ini akhirnya mencuat nih di masyarakat sehingga membuat publik jadi marah. Dan di saat itu ya masa yang marah langsung merusak pondok pesantren tersebut tepat pada tanggal 8 Mei tahun 2024. Nah, namun Geng ketika kasus ini diusut, para pelakunya itu kabur, Geng, di awal bulan Mei tahun 2024. Dan beruntungnya polisi berhasil menangkap si D dan WM. Nah, mereka dijerat dengan pasal perlindungan anak di saat itu, Geng. Nah, sehingga mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan bejat mereka ini di dalam penjara. Nah, banyaknya kasus seperti ini tentunya sangat mengkhawatirkan, Geng. tempat yang seharusnya dijadikan sebagai lokasi untuk menimba ilmu ya, khususnya belajar agama malah menjadi tempat bagi orang-orang yang hanya memikirkan nafsunya aja. Nah, tapi Geng kenapa kasus kayak gini masih terus terjadi, Geng? Ya, seperti enggak belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Dan kasus-kasus kayak gini yang terjadi di pesantren biasanya memiliki karakternya masing-masing. Di mana pelakunya mencari pembenaran atas perilaku melalui tafsir agama yang mana itu sebenarnya keliru. Nah, ditambah lagi pondok pesantren itu kan cenderung tertutup dan pimpinannya biasanya menjadi sosok yang paling dihormati sehingga banyak korban yang takut untuk melaporkan. Peraturan dari Kementerian Agama seharusnya bisa menciptakan wadah untuk menjadi media pelaporan kasus-kasus kayak gini. Walaupun di sisi lain karena faktanya justru pimpinan dari Ponpes lah yang menjadi pelaku dan peraturan seperti ini biasanya ya menghambat untuk bisa mencegah kasus ini terjadi. Dengan pola asuh di pesantren yang banyak dilakukan oleh pimpinan maupun guru, penting untuk dipastikan kalau pesantren itu tidak boleh terlalu terisolasi alias sulit ditembus. Ya, aturan-aturan itu terlalu ketat sehingga orang tua murid enggak boleh ngelihat, orang tua santri enggak boleh ngelihat, yang gitu-gitulah enggak bisa dikontrol gitu. Nah, sebab banyak kasus yang enggak terungkap karena sistem pesantren yang terlalu tertutup kayak gini ya. Contohnya aja ada aturan yang melarang santri-santri menggunakan handphone selama berada di pondok pesantren. Mereka jadi bingung kalau ada apa-apa gimana caranya melaporkan kepada orang tua mereka yang ada di luar. Nah, selain itu, Geng, perlu adanya wadah pengaduan yang enggak cuma satu bagi para korban dan pentingnya keterlibatan orang tua di dalam kasus ini. Nah, kalau begini ketika pelakunya itu adalah pimpinan atau guru di pondok pesantren, tetap akan ada ruang yang aman. bagi korban untuk bisa melaporkan. Dan Kementerian Agama sebagai instansi yang menaungi pondok pesantren masih memiliki banyak PR nih untuk bisa mensosialisasikan dan memberikan bimbingan bagi pondok pesantren di seluruh Indonesia terkait pencegahan dan penanganan terhadap kasus kayak gini. Dan yang paling penting ya, seorang guru itu enggak cuma dites ilmunya ya enggak sih? Kalau misalkan ada seseorang yang apa ya secara keilmuan tinggi baik itu ilmu agama misalkan ya kalau dia di pondok pesantren. Tapi yang harus diwaspadai adalah mentalnya. Nah, seharusnya nih seleksi-seleksi e seorang guru atau petinggi pondok pesantren kayak gini harus dicek juga kejiwaannya. Kalau sampai ada yang hyper-hyper terus juga apa predator kayak gini, kasihan generasi bangsa, kasihan anak-anak orang yang mana tujuan orang tuanya dimasukkan ke pesantren itu biar lurus, biar berkembang, masa depannya baik, malah dihancurkan. Nah, jadi gila banget. Itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai walid dari Lombok dan beberapa kasus walid-walid yang lain. Baru aja viral si Walid di serial e dramanya, ternyata muncul yang aslinya. Gimana, Geng, menurut kalian tentang kasus yang satu ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories