Transcript
UV0nJ7Fmynk • PENDIDIKAN INDONESIA MAKIN RUSAK ! CALON MAHASISWA UTBK PAKAI JOKI DI ITB, UNHAS, UNPAD HINGGA USU !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1444_UV0nJ7Fmynk.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, gimana perasaan kalian ngelihat
Indonesia saat ini? Apakah menurut
kalian banyak kemajuan atau justru
banyak kemundurannya? Ya, hari ini gua
pengen berbicara tentang dunia
pendidikan. Ya, sesuai dengan judul yang
ada di thumbnail juga. Kenapa gua
tertarik untuk membahas hal ini? Karena
ini semua berhubungan dengan masa depan
kita nanti. Ya, ini mungkin akan sangat
remeh buat kalian, ya. Buat kalian yang
mungkin masih muda-muda nih, ya.
berpikir kayak, "Ah, bodo amat enggak
usah dipikirin. Presiden udah ada
orangnya." Ya kan? DPR udah ada
orangnya, kita ngapain mikir sampai ke
sana? Ada tuh yang berpikir kayak gitu
tuh. Tapi di sini perlu gua tekankan ya,
kehidupan kita ke depan ya, apalagi
kayak gua nih yang umurnya udah udah
toku-toku nih ya, kehidupan gua ke depan
itu bergantung sama kalian yang umurnya
sekarang masih di bawah 20 tahunan.
Kenapa? Karena nanti ketika gua tua
banget nih udah gak bisa kerja, kalian
tuh yang ngontrol negara ini. Kalian tuh
yang membuat kebijakan-kebijakannya.
Nah, bayangin kalau kalian semua di
dalam otaknya cuma ada main Mobile
Legends,
main ya kan alias lolot ya kalau dibalik
toyol gitu ya. Nah, gimana nasib
kita-kita nih yang tua-tua nih?
kebijakan kalian nanti aneh-aneh. Belum
lagi kalau misalkan kalian semuanya
lolot, tiba-tiba negara ini dipegang
oleh asing. Wah, lebih gila lagi tuh
kondisinya. Makanya pembahasan kali ini
penting banget buat kalian simak, buat
kalian dengar. Ini berhubungan dengan
sisi gelap dunia pendidikan di Indonesia
ya. Ee mungkin kalian pernah di sekolah
ya karena menganggap remeh pelajaran
kalian tiba-tiba nyontek gitu ya.
tiba-tiba kalian nyontek dan kalian
justru yang nyontek itu nilainya jauh
lebih tinggi daripada orang yang
ngerjain sendiri. Nah, itu nyebelin
banget biasanya orang yang ngerjain
sendiri udah capek-capek ngerjain
semuanya tapi kalian malah dapat nilai
yang lebih tinggi. Ini sering banget
terjadi. Ini salah satu hal yang enggak
boleh ditiru ya di dunia pendidikan.
Nah, tapi ini ada hal yang lebih krusial
lagi, yang lebih gila lagi nih ya di
luar nyontek ya. Selain nyontek, ini
lebih bahaya lagi, yaitu fenomena joki.
Sebelumnya gua udah pernah membahas soal
perjokian ini, tapi joki skripsi gua
pernah bahas di konten gue yang ini.
Nah, di pembahasan kali ini
pembahasannya beda, yaitu jasa joki
untuk UTBK yang mana ini memiliki
jaringan yang ternyata berbasis di
kampus-kampus besar, kampus-kampus
terkemuka di Indonesia seperti
Universitas Hasanuddin Makassar salah
satunya. Nah, terus ada lagi kasus joki
yang menyeret empat kampus ternama di
Bandung, yaitu ITB, UNPAT, Universitas
Pendidikan Indonesia atau UPI, dan juga
Institut Seni Budaya Indonesia atau
ISBI. Terus ada juga yang terjadi di
Universitas Sumatera Utara atau USU dan
juga Universitas Jember. Kalau jasa
kenakalan joki ini terus eksis pastinya
bakal membuat kualitas pendidikan di
Indonesia itu semakin buruk. Karena
kalau gua lihat ya, orang-orang
Indonesia sekarang lebih mengutamakan
yang namanya uang alias lebih
mementingkan keuntungan ketimbang
melihat dampaknya. Gimana bisa nih hal
kayak gini terjadi? Di video kali ini
gua bakal bahas mengenai fenomena joki
UTBK yang berasal dari berbagai kampus
terkenal di Indonesia dan ini semakin
memperburu kualitas generasi bangsa
Indonesia sampai saat sekarang ini. Oke,
langsung aja kita bahas nih soal
kecurangan ini secara lengkap. Halo,
Geng. Welcome back to kamar
[Musik]
Jerry genggeng. Oke, kita langsung masuk
ke dalam kasus joki UTBK di Universitas
Hasanuddin
Makassar. Buat kalian yang belum tahu ya
mengenai UTBK ini, ini adalah sebuah
ujian untuk masuk perguruan tinggi ee
negeri atau PTN. Nah, PTN Vokasi dan
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
atau PTKIN, Geng. UTBK ini merupakan
singkatan dari ujian tulis berbasis
komputer dan penyelenggaraannya
dilakukan secara serentak di seluruh
Indonesia. Dan yang pertama kali kita
bahas ini adalah joki UTBK yang terjadi
di Universitas Hasanuddin Makassar. Nah,
ini ada enggak nih dari kalian yang
mungkin berkuliah di sana? Nah, jadi
geng awal mula terungkapnya joki UTBK di
sana itu terjadi di tanggal 27 April
kemarin. Tim pengawas UTBK itu
mencurigai adanya sesuatu yang enggak
wajar dalam pengisian data peserta ujian
yang disadari karena ada satu komputer
yang diduga sudah diretas menggunakan
aplikasi pengendali jarak jauh. Padahal
ya, Geng, pihak panitia UTBK Unhas ini
udah mengambil berbagai langkah untuk
mencegah kecurangan, termasuk penggunaan
alat perusak sinyal atau jammer. Cuma
upaya tersebut belum maksimal karena
ternyata masih bisa aja kecolongan. Nah,
dengan meretas komputer tersebut
memungkinkan si joki bisa mengerjakan
soal-soal UTBK dari jarak jauh. Karena
penggunaan joki untuk UTBK ini enggak
cuma termasuk ke dalam praktik curang,
tapi udah masuk ke dalam aksi kejahatan.
Maka setelah mengetahui temuan tersebut,
pihak pengawas UTBK itu melaporkan
kejadian ini ke unit tindak pidana
tertentu atau tiper Polres Tabes
Makassar. Nah, namun ada informasi lain
nih, Geng, yang bilang kalau indikasi
kecurangan tersebut diketahui oleh Wakil
Dekan tiga Fakultas Hukum Pasca Sarjana
UNAS yang bernama Prof. Dr. Amir Ilyas.
Pihak dari kampus Unhas yang juga enggak
mau tinggal diam langsung bertindak
tegas karena mereka merasa ya aksi
kecurungan kayak gini dinilai merusak
citra dari universitas. Nah, polisi dan
pihak kampus itu langsung percaya kalau
kemungkinan besar ada orang dari dalam
Unhas sendiri yang terlibat di dalam
kasus ini. Dan ternyata benar aja, dari
penyelidikan terungkap ada seseorang
yang berinisial MYI, yaitu seorang
pegawai honorer yang bertugas sebagai
admin IT yang terlibat di dalam praktik
joki UTBK. Setelah MYI ini diamankan,
dia memberikan informasi kalau aplikasi
yang dipakai untuk mengoperasikan
komputer yang digunakan untuk UTBK
diberikan oleh orang lain yang
berinisial I. Nah, ketika mendapatkan
informasi tersebut, polisi langsung
bergerak cepat mengendus keberadaan CE
ini dan akhirnya berhasil ditangkap nih
orang di Kabupaten Luwu, Sulawesi
Selatan. Di dalam penyelidikan yang
terus dikembangkan oleh polisi, akhirnya
terungkap tuh ada seorang mahasiswi
Fakultas Kedokteran Unhas angkatan 2024
yang berinisial CAI yang ikut terlibat
di dalam praktik joki UTBK.
Ini kacau ya. Gimana bisa kita mencapai
Indonesia Emas 2045? Kayaknya sampai
3.45 juga enggak bakal nih. Kalau
kecerdasan para mahasiswanya itu semua
dijokikan oleh beberapa orang doang. ya,
apa yang mereka limpahkan di dalam ujian
itu bukan isi otak mereka ya kan. Hancur
banget negara kita. Nah, CAI ini masuk
FK atau fakultas kedokteran itu jalur
penelusuran minat dan kemampuan atau
PMDK yang mana jalur penerimaan ini
mengutamakan prestasi dari siswa yang
mendaftar. Nah, sebagai mahasiswi
kedokteran kita enggak bisa bilang kalau
CAI ini orang yang biasa-biasa aja.
Entah dia pintar banget atau mungkin
kaya banget gitu kan. Kan kalau di
Indonesia kan selama ada duitnya lu bisa
kuliah yang bagus gitu. Nah, karena gak
semua orang pintar atau orang kaya bisa
masuk dan kuliah di fakultas kedokteran
lah gitu ya. Walaupun sempat marah waktu
itu ada joki tugas kedokteran juga. Nah,
namun CAI ini adalah salah satu
mahasiswi yang berprestasi di FK Unhas
dan dia selalu dikenal sebagai mahasiswi
dengan indeks prestasi kumulatif atau
IPK yang tinggi. Dan CAI ini
disebut-sebut juga pernah ikut dalam
Olimpiade Sains. Dan ketika dia masih
duduk di bangku salah satu SMA di Luwu
Timur di saat itu dia dikenal sangat
pintar. Nah, dari Olimpiade itu CAI ini
menerima penghargaan khusus cabang
matematika kabupaten, dan juga kota.
Nah, jadi memang dia ini pintar banget,
Geng, dengan segudang prestasi yang
pernah dia capai. Tapi pada akhirnya
pengembangan kasus ini terus dilakukan
sampai akhirnya terungkap lagi nih
tersangka lain, yaitu yang berinisial
AL, MS, dan juga ZR. Mereka bertiga ini
adalah seorang wiraswasta. Dan total
dari enam orang yang tertangkap ini
ternyata mereka saling kenal satu sama
lain. Terus, Geng, saat mereka
menjalankan aksi, ada dua modus utama
yang dilakukan oleh para pelaku ini.
Yang pertama mereka menggunakan joki
untuk menggantikan peserta ujian. Terus
yang kedua, memasang aplikasi pengendali
jarak jauh dan remote akses di komputer
peserta ujian. Nah, setiap orang itu
punya peran masing-masing. CAI itu
berperan sebagai joki untuk menggantikan
peserta UTBK yang mendaftar di FK.
Selain itu, dia juga mengerjakan soal
ujian yang dikirimkan melalui sistem
remote akses yang sudah dipasang di
komputer ujian. Al itu adalah otak dari
aksi ini, Geng. Dan merupakan guru dari
sebuah ee apa ya? Kelas bimbingan
belajar gitulah, guru bimbel. Nah, dia
inilah yang merekrut CAI sebagai joki
sekaligus mengkoordinasikan alur
pengiriman soal dan jawaban. Nah, AL ini
juga membujuk MYI untuk membuat dan
memasang aplikasi remote di komputer
peserta ujian. Selain MYI, ada juga I
yang ikut mengembangkan serta memasang
aplikasi pengendali jarak jauh di
perangkat ujian. Setelah aplikasi
berhasil dipasang, ini menjadi
penghubung antara AL dan MS agar sistem
berjalan sesuai rencana. dan MS itu
mengoperasikan aplikasi remote, menerima
soal dari komputer ujian, kemudian
mengirimkan soal kepada AL agar
diteruskan ke CAI. Nah, MS juga memilih
jawaban yang benar dari CAI di komputer
miliknya dia yang sudah terhubung dengan
komputer peserta melalui aplikasi
remote. Nah, sementara ZR memiliki peran
itu untuk pemberi aplikasi remote akses
kepada tersangka I dan kemudian
diteruskan kepada MYI dan juga MS. Nah,
di dalam hal ini si MYI ini terbukti
terlibat karena ada bukti rekaman CCTV
yang memperlihatkan ketika MyIi masuk ke
dalam ruangan UTBK di malam hari. Jadi
benar-benar kayak maling gitu, Geng. Ya,
intinya tuh ini sistem nge-hack juga
ngebobol sebenarnya. Tapi mungkin
ngebobolnya agak sedikit manual ya.
Harus nginstal dulu aplikasi cloning
atau remote-nya baru setelah itu bisa
dibantu dari jarak jauh. Nah, sebenarnya
ada juga nih aplikasi kayak gini nih.
Kalau kalian tahu Anyx, anyx itu bisa
nih ngremote dari jarak jauh
komputer-komputer dari teman kalian atau
komputer kalian sendiri kalau kalian
lagi berpergian. Nah, itu bisa kalian
kendalikan dari jarak jauh yang penting
ada jaringannya. Nah, jadi cara kerjanya
kurang lebih kayak gitu nih, Geng. Dan
ini benar-benar udah kayak maling gitu,
masuknya malam-malam gitu kan. Nah, dan
dia juga sempat nghapus aplikasi
tersebut saat kasusnya ini udah mulai
ketahuan. Jadi, kasusnya udah mulai
kecium. dia buru-buru nghapus aplikasi
itu. Dan dari keterangan MYI, ternyata
enggak cuma satu komputer aja yang sudah
terpasang aplikasi pengendali jarak jauh
ini, tapi ada tujuh komputer di satu
ruangan. Belum lagi juga ada di ruangan
lain. Dan berdasarkan penelusuran dari
pihak Unhas dan juga polisi, selain MYI,
ada beberapa lagi tim IT maupun admin
server UTBK Unhas yang terlibat di dalam
kecurangan ini. Dan singkat cerita, ada
empat tersangka baru yang akhirnya
terungkap lagi, yaitu yang berinisial
HI, MI, MT, dan juga RA. Nah, mereka
semua ini adalah orang IT Unhas, geng.
orang pintar bagian komputer dan mereka
berperan untuk memasukkan aplikasi ke
komputer peserta UTBK. Nah, ada beberapa
barang bukti yang diamankan oleh polisi
di saat itu, yaitu ada 10 komputer, 12
handphone, tablet, dan barang bukti lain
yang nantinya bakal dicek di
laboratorium forensik. Terus kemudian
terungkap juga ada nominal uang dari
sindikat joki UTBK di Unhas ini. Kalau
mereka berhasil meloloskan peserta ya,
maka mereka bisa mendapatkan uang
sekitar Rp200 juta. Gokil enggak tuh?
Nah, namun beruntungnya mereka semua
berhasil tertangkap sebelum terjadinya
transaksi tersebut. Dan sindikat ini
sudah beroperasi selama 4 tahun
terakhir. Jadi bukan tahun ini aja. Jadi
kalian sudah bisa bayangkan berapa
keuntungan yang sudah mereka raup dari
kecurangan ini. Dan kebayang enggak tuh,
Geng? ya. Mereka selalu meloloskan e
orang-orang yang sebenarnya tidak punya
kapasitas otak ya untuk belajar di Unhas
ya kan yang punya kapasitas malah
tersingkir. Ya orang-orang goblok-goblok
ini malah masuk kacau banget ya.
Walaupun konsepnya memang namanya
belajar untuk orang goblok ya biar
enggak jadi goblok. Tapi maksudnya dari
awal aja niatnya udah enggak baik gitu
lu. Kalau udah tahu goblok belajar gitu
kan. Bukannya malah ngejoki, dari awal
aja pengin masuk lu ngejoki, apalagi pas
pengen lulus karena mendingan orang
goblok sebenarnya ya, dibanding orang
males. Nah, kalau ini masuknya ke orang
malas nih. Terus, Geng, apa alasan dari
si CAI ya? Kan padahal dia ini kan udah
memiliki prestasi yang sangat baik. Kok
dia mau-maunya bekerja curang kayak
gini. Nah, ternyata alasan dia apalagi
kalau bukan karena uang. Dia dijanjikan
akan mendapatkan uang sebesar Rp2 juta
kalau peserta ujiannya berhasil
dinyatakan lulus. Buset, Rp2 juta
merusak masa depan generasi bangsa.
Anjir. Anjir, ini gua jadi pengen
ngomong kasar gitu ya. Nah, tapi ada
reaksi netizen yang agak lain nih, Geng,
dari kasus ini. Karena netizen-netizen
di TikTok itu malah bersimpati dengan si
CAI ya, dengan dalih dia adalah anak
yang pintar. Jadi, lebih baik dibebaskan
aja karena masa depannya masih panjang.
Emang sarang monyet ya TikTok-tiktok ini
emang sarang monyet gitu. Udah tahu
orang salah malah dapat simpati. aneh
dan cuma yang namanya kejahatan tetaplah
kejahatan ya dan CAI ini tetap harus
menghadapi tuntutan hukum yang bakal
menjerat dia bersama dengan tersangka
lain dan atas perbuatannya dia ini para
tersangka bakal dijerat dengan
Undang-Undang ITE pasal 48 ayat 2 dan
jungto pasal 32 ayat 2 atau pasal 46
ayat 1 dan juga 2 jungto pasal 30 tahun
2008. Nah, jadi penanganannya itu enggak
main-main, Geng. Dia bakal berurusan
dengan
hukum. Ada hati. Ada hati. Hati-hati.
Awas. Ada hati. Ada hati. Ada hati.
Nah, itu baru satu kasus yang pertama.
Ternyata masih ada kasus lainnya yang
menyeret tiga kampus ternama, yaitu ITB,
UNPAT, dan ISBI. Semuanya di Bandung.
Dan ketiga kampus ini saling berkaitan
di kasus joki yang bakal kita bahas
selanjutnya ini. Sekarang kita masuk ke
dalam pembahasannya.
Jadi, Geng, kejadian serupa terkait
dengan joki UTBK juga terjadi di
Institut Seni Budaya Indonesia atau ISBI
di Bandung tahun ini. Nah, saat itu ada
sebanyak 6.603 peserta yang mengikuti
UTBK di sana. Dan panitia pelaksanaan
UTBK di saat itu menemukan adanya
kecurangan. Kecurangan tersebut yaitu
dua orang yang menjadi joki ujian bagi
lima peserta ujian di kampus itu. Nah,
ini terjadi pada tanggal 30 April 2025.
Dua joki ini namanya itu ada Lukas
Valentino Naing Goland dan juga Camila
Jibren. Lukas ini menjadi joki untuk
tiga peserta. Sementara Camila itu
sisanya. Nah, Lukas itu melakukan
aksinya menjadi joki ujian pada sesi
pertama tanggal 23 April 2025 dan sesi 6
di tanggal 25 April 2025. Terus e dia
juga menjadi joki bagi peserta UTBK
untuk program studi kedokteran di
Universitas Udayana dan Universitas
Airlangga. Pantesan ya eh maaf nih ya
nih lulusan kedokteran gimana nih? Masih
bisa dipercaya enggak nih nyawa kita ke
kalian nih? Ternyata pakai joki ya kan?
Nah di sisi lain Kamila melakukan
aksinya dia pada sesi kedua, yaitu
tanggal 23 April 2025 dan sesi 9 pada
tanggal 27 April 2025. Dia ini menjadi
pengganti untuk dua peserta di ISBI
Bandung untuk prodi kedokteran.
Kecurangan mereka berdua terungkap dari
rekaman CCTV. Nah, dari pemeriksaan
absensi bukti hadir peserta atau ABHP.
Nah, kedua pelaku menggunakan foto
dengan wajah yang sangat mirip. Namun
nama dan nomor pesertanya
beda-beda. Gila ya seberani itu. Nah,
mereka berdua ini tertangkap dengan cara
yang berbeda-beda juga. Lukas ketahuan
di sesi 6 di tanggal 25 April 2025. Di
saat itu Lukas datang terlambat di saat
peserta lain udah masuk ke dalam ruangan
ujian. Nah, di saat itu pengawas jadi
curiga karena merasa pernah ngelihat dia
ikut ujian di sesi dan hari yang lain.
Kok bisa ikut lagi? Di saat itu
pengawasnya sampai nanya, "Bukannya kamu
pernah ujian di sini ya kemarin? Kok
ikut lagi?" Dan Lukas menjawab dengan
kata, "Enggak," katanya. Nah, terus
pengawas nanya lagi sama dia, "Apakah
dia punya saudara kembar yang juga ikut
ujian di ISBI Bandung?" Nah, Lukas
lagi-lagi ngelak, Geng. Tapi pengawasnya
yakin kalau dia pernah melihat Lukas
sebelumnya. Dan oleh karena itu,
pengawas melakukan pencocokan data
peserta ujian di sesi sesi sebelumnya.
Dan ditemukanlah kemiripan foto wajah
Lukas ini. Yang anehnya nama peserta
dengan nomor pesertanya di kartu ujian
tuh beda-beda. Kecurigaan inilah yang
semakin diperkuat dengan adanya rekaman
CCTV tadi. Terus sementara yang satu
lagi nih, si Kamila juga punya ceritanya
sendiri, Geng. Jadi pada saat dia mau
masuk ke ruang ujian, pengawas UTBK ini
meminta setiap peserta untuk melepas
aksesoris yang digunakan. Nah, ini epik
banget nih kejadiannya. Si Kamila ini
itu pakai anting dan antingnya itu
diperbolehkan untuk digunakan lah ya.
Nah, karena mungkin antingnya itu adalah
aksesoris yang umum digunakan oleh
perempuan gitu kan. Nah, tapi entah
kenapa Kamila di saat itu tetap memaksa
untuk ngelepas antingnya dia sampai ee
menimbulkan ada luka gitu. Nah, panitia
pengawas UTBK di saat itu meminta
maaflah sama si Kamila ini setelah ujian
selesai. Tapi tanpa sengaja ketika mau
dicek tuh ya kartu peserta untuk
mengidentifikasi identitas peserta,
ditemukanlah adanya kemiripan foto
dengan peserta lain yang sudah pernah
ikut ujian di sesi sebelumnya. Nah,
gara-gara itu tuh gara-gara mau lepasin
aksesoris akhirnya dicek secara detail
secara enggak sengaja. Dan selain itu
ditemukan juga adanya kesamaan pilihan
jurusan dengan peserta yang dijokiin
sama Lukas. Akhirnya tim pengawas UTBK
meminta tim sekretariat untuk memeriksa
foto Camila pada ABHP dan ditemukanlah
adanya kemiripan foto-foto tersebut
walaupun gambarnya dibuat agak-agak
berbeda. Dan singkat cerita setelah
aksinya ketahuan mereka berdua nih si
Kamila dan si Lukas ini ditangkap
urusannya sama hukum. Barulah
menangis-nangis di situ dia dimakan
cacing dia. Terus geng enggak cuma di
ISBI Bandung Kamila juga melakukan aksi
yang sama di kampus yang berbeda, yaitu
di UNPAT. Aksinya ini terungkap setelah
tim pusat UTBK UNPAT berhasil menelusuri
data setelah mendapatkan informasi dari
panitia seleksi nasional penerimaan baru
atau SNPMB yang ada di pusat. Nah,
terungkaplah, Geng, kalau salah satu
terduga joki ternyata sudah terlebih
dahulu ditangkap, yaitu si Kamila tadi.
Tim pusat UTBK Unpat itu mengungkapkan
kalau ternyata Camila ini mau
menggantikan dua peserta asli yang tidak
hadir ketika tes UTBK di kampus UNPAT
Jatinangor. Peserta asli ini berinisial
JAM yang dijadwalkan bakal melaksanakan
UTBK di tanggal 24 April 2025 dan yang
satu lagi berinisial FABW di tanggal 30
April 2025. Mereka berdua ini memilih
prodi kedokteran lagi di salah satu PTN
yang ada di Jawa Tengah. Kacau banget.
Dan di nomor peserta mereka, mereka
menggunakan foto yang mirip dengan
Camilla. Bedanya peserta ini menggunakan
jilbab. Ketika dilakukan pendalaman ya
ternyata baik Lukas dan Camila itu
direkrut oleh seseorang yang berinisial
TN yang mengiming-imingi mereka dengan
uang sebesar R30 sampai Rp50 juta kalau
peserta yang dijokiin ke mereka ini
lolos UTBK. Nah, sampai sekarang
identitas CTN ini masih belum diketahui
dan Kamila sendiri tertarik untuk
menjadi joki tersebut karena alasan
ekonomi dia butuh uang. Ya gimana ya
Indonesia ya? Lu pintar enggak menjamin
lu kaya, lu pintar enggak menjamin lu
kenyang apalagi
bodoh. Ah, negara kita memang kita mesti
mesti cerdik sih ya di negara ini. Kalau
pintar doang enggak cukup gitu. Eh,
kasihan nih yang kayak kayak Kamila ini
terkadang ya dia walaupun berbuat curang
tapi di balik itu semua kita tidak bisa
memukiri dia pintar gitu. Sementara dari
pihak UNPAT itu setelah aksi kecurangan
UTBK di sana terungkap, mereka menduga
adanya indikasi penyalahgunaan identitas
oleh salah satu peserta ujian. Dan
kecurangan ini ditemukan setelah ada
penyebaran pesan melalui WhatsApp secara
massal kepada peserta UTBKS SNBT yang
mengikuti ujian di kampus UNPAT. Panitia
menduga hal ini ada kaitannya dengan
motif mengenali pola soal. Jadi dia
masuk ke dalam sesi awal, terus mencuri
soal untuk digunakan di sesi berikutnya
dan dengan mengolah serta mengambil
jawabannya nantinya bakal dijual atau
digunakan oleh orang lain yang menjadi
joki. Nah, kecurangan ini dilakukan oleh
seorang peserta yang mengambil identitas
seseorang mahasiswi di salah satu PTN di
Sumatera Utara. Dan oleh karena itu,
kasus yang terjadi di UNPAT ini bukanlah
joki, Geng. Mengingat pelaku menggunakan
identitas orang lain dengan cara mencuri
dan enggak diketahui pemilik data
aslinya. Jadi semisal lulus pun yang
bersangkutan enggak akan bisa melakukan
registrasi karena data yang digunakan
itu milik orang lain. Nah, sehingga
kesimpulan sementara nih ya, Kamila ini
dikatakan hanya ingin memantau pola soal
aja, tapi nantinya bakal diselidiki
lebih lanjut nih mengenai modus yang dia
lakukan ini tujuannya apa. Terus, geng,
dari kartu peserta ujian yang dijokiin
oleh Lukas, Lukas ini memanfaatkan AI
untuk mengganti model rambutnya dia
supaya bisa mengelabuhi panitia pengawas
UTBK. Dan sama seperti CAI di kasus yang
awal tadi, Lukas ini juga merupakan
seseorang yang pintar dan eh apa ya? Dia
ini merupakan alumni dari ITB. Kita tahu
sendiri ya, ITB adalah salah satu kampus
paling terkenal di Indonesia dan
lulusannya pintar-pintar dan kerja di
perusahaan level nasional sampai
internasional. Informasi mengenai adanya
alumni ITB yang menjadi joki UTBK ini
membuat pihak ITB itu melakukan
langkah-langkah penegakan aturan
akademik dan kemahasiswaan terhadap
Lukas. Dan ITB juga sudah membentuk
Komisi Pelanggaran Akademik dan
Kemahasiswaan untuk menindaklanjuti
kasus si Lukas ini. Nah, komisi tersebut
bertugas memeriksa dugaan pelanggaran
yang dilakukan oleh Lukas dan kalau
terbukti ya komisi bakal
merekomendasikan sanksi terhadap Lukas
kepada rektor ITB sesuai dengan
ketentuan. Kebayang enggak tuh, Geng?
Kalau misalkan si Lukas ini tahu-tahunya
ya dicabut ijazahnya gimana tuh? Udah
capek-capek kuliah tahu-tahu gara-gara
uang yang enggak seberapa gitu ya. Ya
masa depan dia hancur. Udah capek-capek
kuliah bertahun-tahun ijazahnya dicabut
kan hancur banget tuh. Terus geng
kemudian ada beberapa kasus joki UTBK
yang dilakukan di kampus lain seperti di
UPI kampus Cibiru. Ada tiga orang yang
ditetapkan sebagai tersangka karena
sudah menjadi joki UTBK. Dua orang di
antaranya tertangkap saat pelaksanaan
UTBK di kampus Tib biru. Jadi di saat
itu ada seorang perempuan berinisial F
yang merupakan alumni ITB 2024. Dia ini
menjadi joki menggantikan peserta asli
berinisial DSL asal Makassar. Penanggung
jawab di lokasi OTbk itu curiga karena F
ini menunjukkan gelagat yang enggak
biasa. Dia itu kelihatan gelisah terus
bolak-balik toilet. Nah, ketika ditanya
dia menunjukkan tanda pengenal ya. Dia
beralasan enggak membawa KTP asli. Tapi
setelah dicecer nih ya, Ev ini akhirnya
ngaku kalau dia adalah joki dan datang
ke sana dengan seseorang yang mengaku
sebagai sopir berinisial TS. Cuma
setelah didalami TS ini ternyata bukan
sopir, melainkan rekannya dia yang
merupakan alumni ITB tahun 2022.
Mobilnya terparkir di sekitar kampus
yang diduga agar memudahkan mereka untuk
berkoordinasi. Wah, gila banget
kecurangannya itu terstruktur gitu ya.
Mereka ini mengaku sudah beroperasi
sejak 2 tahun terakhir mulai dari tahun
2024 sampai dengan 2025 dan para
tersangka memasang tarif jasa joki yang
cukup tinggi antara R00 juta sampai
dengan 150 juta per orang. Dan ketika
ditanya apakah ada orang lain lagi yang
terlibat? Nah, mereka bilang yang
menjalankan joki di kampus Cibiru cuma
mereka bertiga, enggak ada orang lain
lagi. Nah, meskipun begitu kasusnya
sampai sekarang masih didalami oleh
polisi. Takutnya ada lagi yang terlibat
gitu, Geng. Nah, terus geng ada lagi nih
e kasus joki UTBK di Universitas
Sumatera Utara alias USU. Joki yang ada
di Usu ini lebih keren lagi. Dia
menggunakan kacamata yang dilengkapi
dengan kamera serta
mikrofon. Wah, gila canggih banget ya.
Di hari Jumat tanggal 25 April 2025
sekitar jam 8.00 Pagi, pengawas ujian di
Visip USU itu mencurigai salah satu
peserta yang berada di ruang Visip 2.
Kecurigaan tersebut dikarenakan peserta
yang bersangkutan menggunakan kacamata
yang ada kamera tersembunyinya dan juga
perangkat speaker berjenis bon
konduktor. Nah, setelah itu pengawas
ujian ini melaporkan kecurigaannya
kepada para penanggung jawab lokasi
visip dan disampaikan lagi ke
koordinator pelaksanaan ujian. Terus
enggak lama dari itu, koordinator
pelaksanaan ujian sekretaris pelaksana
dan koordinator teknologi informasi
serta komunikasi UTBK segera mendatangi
lokasi joki tersebut beraksi. Dia
kemudian dibawa ke kantor panitia ujian
mandiri lokal atau PMUL untuk kemudian
didalami lebih lanjut. Nah, saat
melakukan klarifikasi, panitia menemukan
kalau si joki ini ternyata menggunakan
identitas palsu berupa KTP dan ijazah
atas nama peserta asli. Tapi foto yang
ada di KTP dan ijazahnya itu sudah
diganti dengan wajah si Joki. Nah,
dilakukan lagi nih proses interogasi dan
dia mengaku masih memiliki rekan lain
yang berada di sebuah hotel katanya.
Nah, berbekal informasi itu, tim SNPMB
mendatangi hotel yang dimaksud untuk
menjemput si rekannya ini. Sesampainya
di hotel itu, tim menemukan adanya tiga
orang yang mengaku terlibat.
Ketangkaplah mereka di situ. Nah, salah
satunya bilang kalau dia sudah mengikuti
UTBK satu hari sebelumnya dan diduga
sudah menggunakan metode yang sama.
Mereka bertiga langsung diamankan ke
kantor PUML untuk mendapatkan keterangan
lebih lanjut. Singkat cerita nih, Geng.
Panitia ujian melakukan proses
verifikasi data dan menemukan adanya dua
peserta lain yang sedang mengikuti ujian
di FISIP dan FB. Dua orang itu diduga
juga bagian dari jaringan para tersangka
yang terungkap di hotel. Mereka berdua
kemudian diamankan di Visip dan FB lalu
dibawa ke kantor PUML. Nah, dilakukanlah
lagi pengecekan nih data peserta ini
dicek lagi di mana panitia menemukan
adanya satu orang lagi yang diduga
terlibat kecorangan UTBK. Nah, dia ini
terlacak berada di sebuah hotel dan
kembali dijemput oleh panitia. Nah, jika
di tootal panitia sudah menemukan atau
sudah menangkap tujuh orang yang
melakukan aksi kecurangan saat
pelaksanaan UTBK. Nah, cuma Geng di
dalam perkembangannya enggak semuanya
ditetapkan sebagai tersangka. Ada empat
orang yang ditetapkan sebagai
tersangkanya yaitu ada inisial NF dan
juga inisial Sy. Mereka berdua warga
Sleman Yogyakarta. Terus ada KRA warga
Malang dan Jawa Timur dan juga AHM warga
Pekalongan Jawa Tengah. NF ini berperan
untuk merekrut peserta ujian dan
memalsukan foto KTP ee peserta UTBK.
Nah, dia juga mengaku baru pertama kali
terlibat di dalam kasus perjokian ini
dan dia juga bilang cuma memantau dari
hotel aja. Foto asli peserta itu diganti
dengan foto dari tiga pelaku lain yang
akan masuk ruang ujian dan ketiga
tersangka lainnya bakal mengikuti ujian
menggunakan peserta asli. SY
menggantikan peserta atas nama Alanis
Hafizza Wardanta, KRA menggantikan Naila
Afrilia Fahlevi, dan SiM menggantikan M.
Adriansyah Effendi. Mereka ini bisa
mendapatkan uang senilai Rp10 juta kalau
pesertanya lulus. Tapi kalau enggak
lulus, mereka cuma diberikan imbalan
sebesar Rp5 juta.
Jadi, rekan-rekan di sini mereka
diiming-imingkan apabila berhasil ee
lulus seperti begitu diberikan berupa ee
imbalan R10 juta, tapi kalau tidak lulus
diberikan imbalan R juta,
tetap sama-sama untung gitu kan. Gila,
bisnis yang menjanjikan. Nah, jadi
enggak salah ya kenapa supla-nya ada ya?
Karena ada demand-nya gitu. ada orang
yang mau memakai jasanya. Terus, geng,
kasus yang terakhir ini datang dari
Universitas Jember dan melibatkan
seorang pegawai honorer yang diduga
menjadi joki UTBK. Pegawai honorer
tersebut diduga memanfaatkan beragam
perangkat dan teknologi canggih yang
bisa memudahkan dia untuk mengakses ke
berbagai perangkat di Universitas
Jember. Bahkan, Geng, ada kamera
tersembunyi yang dipasang diikat
pinggangnya, terus dikancing baju sampai
di behel. Jadi dia nih selama nulis nih
kayak gini. Terus nih yang gini. Ini kan
behel nih ya. Ah, yang ini yang mana?
Yang A yang A.
kayak gitu tuh kayaknya tuh. Jadi memang
pelakunya ini e orang yang berasal dari
orang dalam kampus ya, tapi ada juga
yang berasal dari luar kampus. Bahkan
juga ada oknum dari bimbel atau tempat
belajar gitu, Geng. Nah, kalau dari
penjelasan gua tadi kalian bisa
ngebayangin lah ya kalau di tahun ini
aja nih ya kasus-kasus kayak tadi itu
udah banyak banget. Gimana yang
dulu-dulu yang enggak ketangkap gitu.
Dan berdasarkan data dari panitia SNPMB,
setidaknya ada 50 pelaku kecurangan dan
10 orang yang bertindak sebagai joki di
UTBK tahun ini. Apalagi kalau ditotal
dengan tahun-tahun sebelumnya. Nah,
mungkin bisa puluhan bahkan ratusan
joki, Geng. Nah, mengapa nih, Geng,
kasus kayak gini terus terjadi? Sekarang
kita bakal masuk ke dalam pembahasan
mengenai praktik joki UTBK yang terus
berulang setiap tahunnya dan
menjamur. Jadi, Geng, keberadaan joki di
dalam ekosistem pendidikan Indonesia
tentu sudah sangat mengkhawatirkan dan
ini bahaya banget ya kan? Karena
pendidikan itu adalah hal yang penting
bagi kemajuan bangsa, ya kan, generasi
kita. Tapi kenapa setiap tahunnya selalu
terjadi fenomena joki kayak gini? Nah,
ternyata salah satu faktornya adalah
karena masih banyak peserta yang gak
siap mental dan juga malas. Dengan
mental yang selalu enggak siap itu
berbagai kecurangan terus terjadi dan
terus berkembang. Dan selain itu, adanya
joki menandakan memang adanya pasar gitu
ya. Memang banyak orang malas yang
pengin ee pakai jasa orang-orang pintar
dan ada orang tua serta peserta yang
bersedia membayar mahal untuk jasa joki.
Yang penting anaknya atau dirinya
sendiri bisa lolos. Nah, bahkan
sistemnya berjenjang. Bayar
operasionalnya dulu. Nanti kalau lulus
akan ada biaya tambahan. Nah, misalnya
enggak ada permintaan gitu, enggak ada
pasarnya, ya enggak akan ada yang pakai
jasa joki. Ya, ini karena permintaannya
tinggi makanya jokinya jadi banyak. Mau
pakai sistem modus apapun yang
ditawarkan oleh joki pasti enggak akan
laku kalau ya enggak ada yang butuh ya
kan. Semakin lama perjokian dan
kecurangan ini juga semakin kompleks
karena melibatkan teknologi-teknologi
canggih seperti salah satunya ya
kacamata yang ada kameranya lah ya kan
mikrofon yang sampai ada di kancing dan
lain-lain sampai yang ada di behel gitu
berarti kan udah segala macam cara
kecanggihan udah digunakan. Terus
kemudian geng ada informasi menarik nih.
Dikatakan kalau banyak dari bisnis joki
yang memanfaatkan mahasiswa yang
kehilangan kepercayaan diri untuk
mendapatkan nilai tinggi mau itu tugas
ataupun ujian. Jadi mereka-mereka yang
insecure enggak percaya diri sama
kemampuan mereka, ya ditawarkanlah tuh
mau enggak dijokiin biar nilai lu bagus
gitu. Dan para joki ini juga pintar,
Geng. Mereka sering mempromosikan jasa
mereka dengan dalih layanan pendukung
atau dengan memakai strategi pemasaran
yang menjanjikan kepada mahasiswa. Yang
mana si mahasiswa ini ya dikatakan bakal
memiliki banyak waktu untuk
bersenang-senang, main-main tanpa harus
pusing, tanpa harus memikirkan beban
akademik, ya kan. Nah, jadinya siapa
yang enggak mau gitu? Santai-santai aja.
Nah, intinya joki ini memanipulasi
pikiran kita sampai kita berpikir kalau
tindakan curang seperti ini adalah hal
yang wajar dan menguntungkan. Nah,
padahal ini malah bikin kita semakin
bodoh. Nah, ada juga yang menciptakan
kesan kalau apa yang mereka lakukan ini
bukanlah sebuah kecurangan, tapi
mengikuti tren seperti teman-teman
mereka yang menggunakan joki
sebelum-sebelumnya. Jadi kayak di
tongkrongan nih, lu ketemu teman, "Eh,
lu lulus enggak?" "Luluslah gitu kan."
Orang gua pakai joki seru tahu. Pakai
joki lu enggak pusing-pusing. Lu masih
bisa ngerjain pekerjaan lain, nilai lu
tetap tinggi. Nah, kayak gitu-gitu tuh
jadinya tren. Nah, hal kayak gini
semakin menjamur karena peraturan yang
mengatur aksi joki di Indonesia masih
enggak jelas banget. Dan sampai saat ini
enggak jelas apakah penyedia jasa joki
ataupun yang menggunakan jasa mereka
bisa dihukum atau enggak. Karena kita
lihat aja ya, terkadang yang melakukan
aksi joki ini bahkan ada yang dosen atau
tenaga pengajar. Gimana tuh?
Ekosistemnya udah buruk banget. Nah,
sementara nih beberapa pihak lain
beranggapan kalau mereka yang curang
bisa dituntut sebenarnya atas penipuan
atau pemalsuan seperti yang tertera
dalam undang-undang karena sudah memakai
karya orang lain sebagai miliknya dia
demi keuntungan pribadi. Nah, ini
sebenarnya bisa dihukum. Tapi di sisi
lain ada pandangan yang lebih menarik
lagi, Geng. Karena semua pelaku yang
menyediakan jasa joki ini alasannya
karena mereka diberikan iming-iming
uang. Apalagi ada di antara para joki
ini adalah lulusan kampus ternama
seperti ITB. Nah, sehingga kita bisa
menyoroti adanya joki ini dikarenakan ya
kondisi negara kita yang susahnya
mencari kerja ya kan. Bahkan dari
lulusan kampus terbaik sekalipun masih
susah cari kerja ya. Akhirnya apa?
Mereka melakukan kecurangan. Dan ketika
mereka enggak bisa bersaing di industri
pekerjaan mereka kemudian memutar otak
bagaimana caranya agar tetap bisa
bertahan hidup dengan mengandalkan
kepintaran mereka dan mendapatkan uang.
Ya, inilah hasilnya. Jadi, joki UTBK.
Bayarannya pun cukup besar bagi mereka.
Ya, sekarang kita lihat aja, Geng.
lulusan S1 aja sulit banget cari kerja.
Bahkan gak sedikit juga yang jadi
ngambil lowongan kerja yang
kualifikasinya sebenarnya enggak setara
mereka. Misalkan kayak SMA, SMK, apalagi
banyak perusahaan yang mencari kandidat
yang sudah berpengalaman kerja terus
yang baru lulus kuliah, gimana?
Pengalaman mereka dari mana gitu. Jadi
bisa gua simpulkan keberadaan joki dan
banyaknya joki saat ini di dunia
pendidikan kita itu karena berbagai
faktor dan ini udah sistematik. Dan oleh
karena itu ya lagi-lagi ya ini memang
harus ada peran pemerintah di sini.
Enggak cuma menanggulangi kecurangan
yang terjadi di UTBK doang, enggak cuma
ngelarang-larang doang, tapi juga lihat
permasalahan dasarnya. Akarnya di mana.
Mereka itu butuh uang, mereka itu butuh
pekerjaan. Dan hari gini cari kerja
enggak semudah itu. Di Indonesia. Ingat
ya, gua kutipin nih di Indonesia. Jadi,
ya semoga selain memenjarakan para joki,
tolonglah kasih pekerjaan mereka. Mereka
yang dipenjara ini adalah orang pintar.
Sebenarnya kalau ada pekerjaan yang
menjanjikan, mereka enggak akan jadi
joki. Itu intinya.
Nah, jadi geng itu dia pembahasan kita
kali ini mengenai kasus-kasus joki UTBK
ini. Gimana menurut kalian? Ini
berbahayakah atau biasa aja menurut
kalian? Coba tinggalkan komentar di
bawah.