DONALD TRUMP LARANG BELA PALESTlNE SECARA PAKSA ! UNIV HARVARD & COLUMBIA MELAWAN !
eD2bHplWMGU • 2025-06-02
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, kalian sempat dengar enggak pernyataan dari presiden kita, Pak Prabowo kemarin? Yang ini saya tegaskan bahwa kita juga harus mengakui dan menjamin hak Islam untuk berdiri sebagai negara yang berdaulat dan negara yang harus juga diperhatikan dan dijamin keamanannya. Nah, di dalam pidato itu Pak Prabowo menyatakan secara sadar ya itu bukan AI, itu emang video Pak Prabowo asli bahwa beliau menyatakan akan mendukung pendirian negara Isriwil apabila Isriwil mengakui kedaulatan apa negara Palestina gitu. Ini menuai pro dan kontra sebenarnya. Tapi di hari ini sebenarnya gua gak pengen ngebahas itu sih. Cuman gua agak menyinggung sedikit tentang hal itu. Karena gua berpikir kayak gini. Di saat presiden kita membuat pernyataan yang berisikan kata mendukung. Ya, sementara di luar sana terutama negara yang benar-benar getol banget men-support Isriwel itu sekarang masyarakatnya justru ya banyak yang berbalik arah. Nah, jadi ini sebuah fenomena yang mungkin ee terjadi belakangan ini karena masyarakatnya sudah mulai muak. Dikatakan nih, Geng, ya, negara Amerika yang mana sebenarnya ee masyarakat pro e rewel-nya sangat tinggi, sangat banyak. pendukungnya setia-setia, tapi ternyata sekarang malah muncul pergerakan untuk melawan Isriwil dan membela Palestina. Banyak orang-orang Amerika sekarang justru membela Palestina dan kemarin kita sudah sempat bahas juga ya saking mereka fanatiknya membela Palestina sampai ada ya staff kedubes is rewill yang dioor dua orang ya. Karena memang di Amerika kayak gitu, Geng. Kalau enggak senang sama orang itu udah pasti ee endingnya bakal didor ya. Karena penjualan senjata, kepemilikan senjata di sana sangat-sangatlah bebas. Di dalam video kali ini, ini pembahasan tentang bagaimana kondisi masyarakat Amerika sekarang yang mulai muak dengan perang antara Isriwil dan Palestina. Nah, kenapa mereka merasa muak? Ya, dikarenakan mereka sekarang kesal banget sama pemerintah mereka. Di saat kesejahteraan masyarakat Amerika Serikat itu mulai menurun, pemerintahnya justru berfokus pada membantu perang Isriwil. melawan Mamas. Jadi, uang Amerika malah banyak untuk dihabiskan, membeli peluru, membeli senjata untuk mendukung Isriwil. Di samping itu, masyarakat Amerika juga sudah mulai sadar akan aksi Isriwil yang mengenyampingkan kemanusiaan. Banyak ya di bawah umur itu dihabisi dan yah gitulah genosidya parah banget. Di dalam menunjukkan dukungannya, sekarang orang-orang Amerika melakukan demonstrasi sampai yang bikin gua geleng-geleng kepala adalah mahasiswa-mahasiswa di sana sudah mulai menunjukkan dukungannya terhadap Palestina saat mereka wisuda. Mau itu mereka tunjukkan dengan cara memakai benda-benda yang berhubungan dengan Palestina, mengibarkan benderanya sampai membentangkan poster bertuliskan bebaskan Palestina dalam bahasa Inggris. Tapi masalahnya nih, Geng, presiden mereka yaitu Donald Trump itu benar-benar gak suka sama orang-orang yang pro terhadap Palestina. Sehingga dia menerapkan sebuah kebijakan di banyak tempat untuk mengamankan para pendukung Palestina ini, termasuk di kampus-kampus. Nah, di video kali ini gua mau coba bahas dua kampus aja nih, Geng. Sebenarnya banyak nih, banyak banget kampusnya, tapi di sini gua ambil dua contoh kampus. Yang pertama adalah Colombia University dan juga Harvard University. Di Colombia itu ada beberapa mahasiswa yang pro Palestina sampai membakar ijazah sebagai bentuk dukungan mereka sekaligus protes terhadap pemerintah Amerika yang terus mendukung Isriwil. Kebayang tuh, Geng, bakar ijazah. Dokumen yang paling penting yang mereka gunakan ketika mencari kerja nanti. Mereka enggak peduli. Mereka merasa kayak, "Wah, gila, dunia ini udah hancur banget, udah enggak benar." Nah, ditambah lagi ada mahasiswa dari Colombia University ini sampai ditangkap oleh petugas imigrasi karena dianggap membahayakan politik Amerika gara-gara dia pro Palestina. Di saat itu ya benar-benar keos lah kondisinya. Lalu kita juga bakal membahas mengenai Harvard yang mana pihak Harvard ini berselisih dengan Donald Trump karena Harvard tidak mau tunduk dengan aturan Donald Trump yang mau menertibkan kampus-kampus yang mendukung mahasiswa pro Palestina sehingga mengakibatkan Harvard mendapatkan sanksi dari Donald Trump. Bisa kalian bayangkan tuh, Geng. Sebuah universitas ternama terbesar di dunia itu ribut sama presiden gara-gara pro Palestina. Dan di video ini kita bakal uraikan dan bahas semuanya. Nah, bagaimana cerita selengkapnya? Langsung aja kita bahas. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jerry genggeng. Oke, untuk kasus yang pertama ini kita bakal membahas kasus aksi pembakaran ijazah mahasiswa Columbia University. Jadi, geng, Colombia University menyelenggarakan wisuda di hari Rabu tanggal 21 Mei 2025 kemarin di Uper Manhattan, New York. Ada sekitar 12.000 wisudawan serta sekitar 25.000 keluarga dan teman yang ikut menghadiri wisuda tersebut untuk merayakannya bersama. Nah, biasanya upacara wisuda itu kan berlangsung dengan khidmat lah ya dan ya jadi suasana yang tenang gitu. dan para wisudawannya ya pasti mengikuti segala rangkaian dengan tertib. Tapi ada yang berbeda nih dengan upacara wisuda di Colombia ini. Karena wisudanya itu bisa dikatakan keos banget. Karena ada beberapa wisudawan yang pro Palestine tiba-tiba melakukan aksi membakar ijazah. Kebayang ya udah lama nih mereka kuliah ngampus setiap hari sampai pusing-pusing bikin skripsi. Tapi tiba-tiba pas wisuda ijazahnya justru dibakar. Nah, mereka membakar ijazah mereka ini di luar gedung Columbia University. Mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut sampai menutupi wajahnya menggunakan topeng. Ada juga yang menggunakan atribut yang identik dengan Palestina seperti ee selendang bermotif kotak yang biasanya digunakan oleh orang-orang Arab di kepala atau di leher mereka. Nah, lalu ada juga yang memegang bendera Palestina dan para mahasiswa yang melakukan aksi pembakaran ini juga mengecam Isriwil atas kekejaman yang mereka lakukan selama perang melawan Mamas. Kalau dibilang nekad memang mereka nekat banget, Geng. Nah, gimana enggak yang mereka bakar kan ijazah gitu. Kalau di negara kita udah pasti nih orang gak punya masa depan lagi nih. Enggak bisa kerja ya, enggak bisa melanjutkan kuliah S2 dan lain-lain lah. Nah, tapi gua enggak tahu juga ya gimana sistem penerimaan kerja di Amerika Serikat apakah sama dengan Indonesia atau enggak atau cuma dibutuhkan skill dan pengalaman aja. Buat kalian yang sekarang tinggal di Amerika atau kerja di sana, bolehlah bagi-bagi informasi gimana sistemnya di sana. Oke, setelah kekacauan yang ditimbulkan dari aksi pembakaran ijazah ini pecah, New York Police Department atau NYPD sampai dipanggil ke lokasi kejadian. Di saat itu NYPD tidak mengatakan siapa yang menelepon mereka ke sana dan mereka di saat itu langsung merengsek masuk ke dalam barisan para mahasiswa kemudian memadamkan api. NYPD juga menangkap satu orang geng yaitu salah satu mahasiswa yang ada di sana. Amerika ini kan salah satu negara yang menerapkan demokrasi yang sangat menyunjung tinggi kebebasan berpendapat. Nah, para mahasiswa yang melakukan aksi pembakaran ijazah tersebut menganggap kedatangan NYPD sebagai bagian dari pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat yang mereka lakukan. Nah, mereka enggak terima dan bentrokan antara mahasiswa dengan NYPD enggak bisa dihindari dan para mahasiswa berusaha untuk menerobos penghalang, namun dihalangi oleh beberapa personil dari NYPD yang sudah berjaga di seberang jalan dari pintu masuk Colombia dan berupaya untuk menghentikan aksi mereka. Mereka ini enggak bisa menerobos barikade polisi. Kelompok tersebut kemudian pergi menuju ke 116 Street menuju ke sungai Hudson. Tapi pergerakan mereka justru dipantau oleh NYPD dan mereka pun diikuti. Di tahun lalu, Geng, Columbia juga seharusnya menyelenggarakan acara wisuda, tapi wisudanya itu ya dibatalkan dengan alasan masalah keamanan yang disebabkan karena adanya mahasiswa dari Colombia ini yang pro Palestina sampai berkemah di depan kampus Colombia yang berada di daerah Morning Sathey. Mereka berkemah di sana selama berminggu-minggu dan enggak pulang-pulang demi bisa menunjukkan solidaritas dan aksi protes untuk membela Palestina. Nah, sementara diwisuda tahun ini tetap diselenggarakan. Namun, kampusnya sempat memberikan sebuah pengumuman untuk para hadirin, baik wisudawan maupun kerabat yang akan datang ke wisuda. Kalau wisuda yang akan diselenggarakan ini berpotensi mendapatkan gangguan dari penonton yang enggak diizinkan, katanya. yang mana bagi siapa saja yang melakukan gangguan tersebut diminta untuk meninggalkan tempat acara wisuda. Pada awal bulan Mei juga sempat ada sebuah insiden, geng. Ada sekitar 80 pengunjuk rasa yang mengenakan topeng itu sampai menyerbu masuk ke dalam perpustakaan Butler milik Columbia University. Mereka membuat sebuah grafiti ya tulisan coret-coretan yang salah satunya tertulis Columbia Wburn yang mana kalau diartikan dalam bahasa Indonesia ya Colombia bakal terbakar. Nah, kalimat tersebut dituliskan di kota kaca yang ada di dalam perpustakaan. Dan usai kejadian itu, Geng, ada sebanyak 60 orang yang ditangkap. Pihak kampus juga menjatuhkan setidaknya 65 scorsing sementara kepada para mahasiswa yang ikut di dalam kerusuhan tersebut. Nah, lalu melarang 33 orang untuk masuk ke dalam kampus. Nah, terus ada beberapa lembaga yang terafiliasi dengan pendukung Palestina serta sejumlah alumni yang juga enggak diperbolehkan masuk ke dalam area kampus. Dan mengenai penangkapan yang dilakukan oleh NYPD, seorang juru bicara Kolombia menyangkal hal tersebut. Dia mengatakan kalau upacara wisuda berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan. Meskipun dia juga enggak menepis kalau memang NYPD berada di luar gedung Columbia untuk menangani kelompok yang melakukan unjuk rasa. Nah, kita udah melihat sendiri ya, Geng, gimana situasi aksi pembakaran ijazah yang dilakukan oleh mahasiswa Columbia di luar gedung. Tapi gimana kondisi di dalam gedung terutama ketika wisuda dilangsungkan? Apakah juga berlangsung dengan tertib? Nah, ternyata enggak juga, Geng. Ada sejumlah wisudawan dari Barnard College eh perguruan tinggi yang terafiliasi dengan Columbia. Namun, Barnat ini khusus untuk perempuan. Pada saat wisuda, para mahasiswi dari Barnat ini mengenakan Kifeye, yaitu selendang kota-kota khas orang Arab sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Nah, mahasiswa Columbia University memang dikenal vokal dalam menyuarakan dukungan mereka terhadap Palestina. Bahkan mahasiswa di Colombia ini yang pro Palestine itu memiliki akun Instagram sendiri dengan username Colombia for Palestine yang menjadi wadah bagi para mahasiswa Colombia untuk terus menyuarakan dukungan mereka terhadap Palestina sekaligus memberikan informasi mengenai aksi protes yang akan mereka lakukan. Jadi, setiap mereka mau demo protes pasti di-update di sana. Terus, Geng, satu hari sebelum wisudanya dimulai, Presiden Colombia yaitu Claire Shipman itu memberikan pidato pembuka untuk ajaran baru di tahun 2025. Claire ini sendiri adalah presiden ketiga di Colombia dan dia menjabat setelah menggantikan Katrina Armstrong yang mengundurkan diri yang mana Katrina juga menjabat sebagai presiden setelah Menu Syafiq mengundurkan diri di bulan Agustus. Di dalam kurun waktu 1 tahun sudah ada tiga orang yang menjabat sebagai Presiden Colombia dan yang ketiganya adalah Claire. Pada saat dia memulai pidato, dia langsung disambut dengan ejekan yang terus berlanjut ketika dia berpidato. I know that many of you [Tepuk tangan] feel good morning class of 2025. [Tepuk tangan] Dalam pidatonya itu, Clerini bilang mungkin banyak mahasiswa yang merasa kecewa terhadap dia dan juga pihak administrasi. Dan dia tahu kalau di Colombia memiliki budaya kebebasan berpendapat yang kuat dan Clire sendiri terbuka terhadap semua masukan. Namun, kekacauan masih berlanjut ketika Clire berpidato di acara wisuda pada hari Rabbunya. Para wisudawan bukannya mendengarkan pidatonya dia, tapi justru teriak-teriak ketika Clear ini pidato. Dan di dalam pidato dia kali ini, dia sempat sebut nama Mahmud Kholil yang langsung disambut dengan teriakan dari para wisudawan yang mengatakan agar Columbia University bisa membebaskan si Mahmud ini. Dan Claire mengatakan bahwa tidak seharusnya mahasiswa asing menjadi target pemerintah karena mereka sama-sama memiliki kebebasan berpendapat dan dia juga menyampaikan rasa duka karena Mahmud tidak bisa hadir di dalam wisuda kali ini. Namun yang membuat wisudawan merasa marah di saat itu ya karena CL ini mengingatkan para mahasiswa kalau keberanian mereka untuk bersuara tidak selalu dijamin di dalam sistem negara sekalipun negara yang menganut demokrasi katanya. Nah, awalnya kan dia udah kayak seolah-olah berpihak gitu ya ee mengatakan Mahmud harusnya mempunyai kebebasan walaupun dia adalah orang Islam, orang asing gitu. Nah, tapi tiba-tiba dia ngomong nih, "Ini kalian-kalian yang ngedemo itu enggak selalu dijamin ya dalam sistem negara sekalipun negara ini menganut demokrasi katanya gitu. Jadi enggak bebas-bebas amat kalau ngomong. Kurang lebih kayak gitu." Sontak para wisudawan yang hadir meneriaki Clire atas pidatonya itu yang menurut mereka Clair ini mengucapkan kalimat-kalimat yang tendensius seperti menggunakan kata berduka yang dianggap oleh wisudawan seperti menunjukkan kalau Mahmud sudah meninggal. Padahal kenyataannya kan Mahmud ini enggak meninggal ya, masih ada orangnya, cuma kayak diasingkan aja. Nah, pasti kalian penasaran nih Mahmud Khalil ini siapa? Kok sampai disebut-sebut atau dibawa-bawa di dalam pidato orang penting ini, di dalam pidato eh wisuda Columbia University ini. Nah, sekarang kita bahas nih tentang si Mahmud Kholil ini. Kenapa dia sampai dibela banget oleh mahasiswa di Columbia University? Jadi, geng Mahmud Khalil ini adalah mahasiswa pasca sarjana di School of International and Public Affairs atau disingkat dengan SIPA yang ada di Columbia University. Nah, Mamud ini lahir di daerah kantong atau yang dikenal dengan sebutan Encliff di Damaskus, Suriah pada tahun 1995. Nah, orang tuanya dia itu adalah warga Palestina. Kakek neneknya tinggal di Tiberias tetapi dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggalnya ketika terjadi peristiwa NQb pada tahun 1948. Mahmud ini dan keluarganya melarikan diri ke Libanon pada tahun 2012 setelah dimulainya perang saudara yang ada di Suriah. Nah, dia kemudian mendapatkan kewarganegaraan Aljazair dari keluarga sang ibu yang diduga ibunya ini merupakan revolusioner Aljazair yang mengungsi ke daerah kekaisaran Otoman pada masa itu. Nah, singkat cerita nih, Geng. Pada tahun 2022, Mahmud ini pergi ke Amerika menggunakan visa pelajar untuk mendaftar di sipa tadi. Lalu 1 tahun kemudian dia menikah nih sama seorang perempuan yang bernama Nur Abdallah di New York setelah berpacaran selama 7 tahun. Nah, Nur ini adalah warga negara Amerika dan berprofesi sebagai seorang dokter gigi. Nah, karena menikahi Nur inilah akhirnya Mahmud bisa mendapatkan green card. Jadi, dia bisa tinggal di Amerika. Sebagai mahasiswa Colombia, Mahmud ini menjadi seorang aktivis dengan menyuarakan solidaritas terhadap Palestina selama perang di Gaza. Dia menjabat sebagai negosiator dan juga juru bicara bagi mahasiswa yang terkait dengan Gaza Solidarity Inkampsman, dan koalisi Columbia University Apertight Divice atau disingkat dengan CUAD. Mahmud ini sering melakukan diskusi dengan pejabat tinggi Columbia University dan sering terlihat mengikuti aksi protes yang mana dia berani banget melakukan aksi tanpa menggunakan penutup wajah. Jadi benar-benar transparan ya akhirnya dia itu ditandain gitu. Tapi karena dia ini masih memiliki visa pelajar, Mahmud ini tetap harus melakukan pendaftaran sebagai bagian dari mekanisme penerima visa. Nah, untuk bisa lolos pendaftaran, dia enggak boleh terlibat di dalam aksi protes yang besar-besaran. Nah, tapi di sini kan dia enggak nyamar nih, enggak nutup mukanya. Akhirnya kan ditandain dan dia juga sangat rutin berkomunikasi dengan pihak kampus untuk memastikan dia enggak akan membuat masalah. Karena kalau sampai dia membuat masalah, maka visa pelajarnya itu bisa ditangguhkan. Nah, namun nih, Geng, di tanggal 30 April 2024, dia pun menerima email dari pihak kampus yang justru memberikan dia scores karena dugaan keterlibatannya dia di dalam aksi protes mahasiswa Colombia dengan mendirikan khemah. Cuma sehari setelah mengirimkan email, pihak universitas mencabut pemberian scores terhadap dia setelah tahu kalau Mahmud ini enggak bersalah. Nah, tapi di saat itu semacam ada hal yang apa ya? kayak enggak membiarkan Mahmud ini bisa bebas karena kayak ada upaya lain untuk bisa menahan si Mahmud ini. Nah, kali ini pihak kampus mencoba menahan dia karena keterlibatan dia dengan cued atau CUAD tadi yang menyelenggarakan pawai yang dianggap oleh pihak kampus tidak sah karena tidak diizinkan oleh kampus. Nah, ada kabar yang mengatakan dalam pawai tersebut para demonstran menyuarakan dan membenarkan serangan Mamas di tanggal 7 Oktober 2023 kepada Isriw dan menyebarkan postingan di sosial media yang mengkritik zionisme. Mahmud ini sempat bilang kalau ada sekitar 13 tuduhan yang ditujukan kepada dia yang sebagian besarnya mengenai postingan yang beredar di sosial media. Tapi Mahmud mengaku kalau itu semua enggak ada hubungannya dengan dia. Pihak kampus juga dikabarkan mengancam bakal mencegah Mahmud untuk lulus dari kampus tersebut karena dia enggak mau menandatangani sebuah perjanjian kerahasiaan. Nah, cuma ancaman tersebut ditarik karena Mahmud mengajukan banding melalui seorang pengacara. Nah, jadi urusannya tuh panjang, Geng. Terus, Geng. Singkat cerita, pada tanggal 8 Maret tahun 2025, Mahmud dan Nur baru saja kembali ke apartemen mereka. Setelah berbuka puasa di sebuah restoran, nah tiba-tiba ada seorang petugas dari ICE, agen imigrasi Amerika yang mengikuti mereka sampai ke dalam gedung apartemen. Jadi, dibuntutilah mereka di saat itu. Nah, agen ini meminta Mahmud untuk mengkonfirmasi identitasnya dia. Lalu, agen itu juga menyuruh Mahmud untuk memberikan kunci apartemen mereka kepada Nur agar Nur bisa langsung masuk ke dalam apartemen. Sementara si Mahmud dibiarkan di luar. Nah, tapi di saat itu Nur enggak mau pergi ninggalin Mahmud. Nah, tapi petugas ICE ini justru mengancam Nur. Kalau dia gak pergi, Nur bisa ikut ditangkap juga sama Mahmud. Jadi, mau gak mau Nur itu nurut, Geng. Sebab saat itu dia dalam kondisi yang lagi ngandung, ya, lagi hamil. Nah, terus Nur diminta oleh petugas IC untuk menyerahkan dokumen imigrasi Mahmud yang disimpan di apartemen mereka yang kemudian mau enggak mau Nur ini menyerahkan ee dokumen yang diminta ini ke agen IC tersebut. Nah, si agen IC ini menelepon seseorang dengan mengatakan kalau Mahmud memiliki green card dan tiba-tiba seseorang yang ada di telepon tersebut bilang, "Lebih baik si Mahmud dibawa pergi langsung aja dari sana. Enggak peduli mau ada green card k, mau apa, pokoknya harus pergi dari sana." Nah, di sisi lain, Mahmud ini berusaha untuk menelepon pengacaranya dia yang namanya Emy Grear. Nah, Emy ini kemudian sempat berbicara dengan salah satu petugas ICE mengenai penangkapan dari Mahmud ini. Dan petugas IC ini bilang kalau mereka mendapatkan perintah dari Departemen luar negeri untuk mencabut visa pelajarnya si Mahmud. Di saat itu Emy ini berusaha untuk membela si Mahmud dengan bilang dia memiliki green card dan petugas ICE bisa mencabut green card tersebut sebagai ganti atas penahanan si Mahmud. Jadi kayak jaminan gitu, Geng. Nah, namun permintaan itu ditolak oleh si agen AC ini dengan mengatakan kalau mereka memiliki surat perintah untuk menahan Mahmud. Enggak peduli walaupun dia punya green card. Nah, tapi yang anehnya ketika Amy ini minta ditunjukkan surat perintah itu, petugas ICE langsung tutup telepon jadi kayak menghindar gitu. Nah, entah karena sebenarnya surat perintah itu gak ada atau gimana, tapi yang jelas si Mahmud ini tetap dibawa pergi oleh si een IC ini dan diyakini kalau Mahmud ini ditahan di penjara yang terletak di Louisiana. Nah, di tanggal 21 April Mahmud itu sempat meminta agar dia bisa datang untuk mengunjungi anaknya yang baru lahir. Karena di saat itu pas dia lagi di penjara si Nur itu lahiran. Nah, tapi permintaannya itu ditolak, Geng, oleh pihak imigrasi dan penegak Bea Cukai. Mahmud ini menjadi orang pertama yang ditangkap setelah Trump bilang bakal menindak semua pengunjuk rasa yang pro Palestina. Yang lebih mengecewakannya lagi adalah Columbia University, tempat di mana Mahmud mengenyam pendidikan itu lebih memilih diam dibandingkan memperjuangkan Mahmud agar dia bisa keluar dari penjara. Dan hal ini diungkapkan oleh Nur dalam sebuah wawancara yang mengaku kecewa dengan tindakan pihak kampus yang enggak berupaya apapun kepada si suaminya ini. Terus, Geng, bungkamnya pihak kampus ini disebabkan karena pada bulan April Colombia itu menyetujui daftar tuntutan yang diajukan oleh satuan tugas Trump untuk memerangi anti. Nah, jadi ada kontrol dari Donald Trump nih. Termasuk di dalamnya ada beberapa peraturan yang menindak tegas penggunaan masker di kampus dan menerjunkan satuan keamanan di kampus untuk bisa melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang pro Palestina dan menempatkan program studi Timur Tengah di Colombia di bawah pengawasan akademis. Nah, Donald Trump menganggap orang yang pro Palestina itu bakal melakukan tindakan yang berkaitan dengan antisemit. Padahal itu cuma salah satu alasan agar suara dari orang-orang yang pro Palestina bisa diredam oleh Trump. Nah, Donald Trump ini benar-benar membungkam lah, membungkam supaya orang-orang gak menyuarakan kebebasan, enggak menyuarakan pembelaan terhadap Palestina. Dan pihak kampus itu boleh saja nurut sama Trump ya, tapi enggak dengan mahasiswanya. Mahasiswanya sudah pasti melakukan perlawanan dan mahasiswa Kolombia itu masih tetap dan berani menyuarakan dukungan mereka terhadap Palestina yang mana dukungan mereka ini menyebabkan kampus tersebut sampai kehilangan 400 juta Do Amerika yang berupa dana federal dari Trump. Karena pihak kampus dianggap gagal untuk menghilangkan aksi antisemit di area kampus mereka karena dianggap ya mahasiswa mereka enggak bisa dikontrol oleh pihak kampus. Nah, itu Geng kurang lebih geng kasus yang terjadi di Columbia University yang melibatkan salah satu mahasiswa yang bernama Mahmud tadi. Itu baru satu kasus ya yang terjadi di Colombia. Sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan tentang kasus yang terjadi di Harvard University yang berselisih dengan Donald Trump karena menolak untuk menghentikan dukungan terhadap [Musik] Palestina. Jadi, geng Harvard ini adalah salah satu universitas paling terkenal dan bergengsi di dunia. Banyak orang yang ingin bisa berkuliah di sana. Dan Harvard ini memang dikenal dengan budaya keberagamannya. Mereka menerima mahasiswa dari berbagai kalangan, berbagai negara, berbagai latar belakang, termasuk dengan mahasiswa yang memihak kepada Palestina. Di bulan Oktober tahun 2023, setelah perang antara Mamas dan Istriwil pecah, beberapa kelompok mahasiswa Harvard itu menandatangani surat yang mengutuk aksi Isriwil. Meskipun dikenal dengan toleransi yang tinggi, ada banyak alumni sampai mantan Presiden Harvard sendiri yang bernama Larry Summers yang enggak setuju soal penandatanganan surat tersebut. Ya, dampaknya lebih jauh lagi beberapa donatur itu sampai enggak mau untuk memberikan sumbangan ke Harvard. Jadi, benar-benar dibikin terisolasi gitu, Geng. Nah, kemudian ada tuntutan dari Donald Trump agar Harvard ini membatasi aksi protes para mahasiswa yang pro terhadap Palestina dan menghapus kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di kampus tersebut. Nah, tapi berbeda dengan Colombia, Harvard justru secara terbuka menentang tuntutan tersebut, Geng. Kalau Colombia tadi kan yang menentang itu mahasiswanya kan. Kalau Harvard ini enggak, pihak kampusnya juga langsung menentang gitu. Bahkan Harvard menjadi kampus pertama yang menolak hal tersebut. Pemerintah menganggap Harvard sudah membangkang dan enggak mau nurut dengan pemerintah Donald Trump. Dan sehingga pemerintah federal memutuskan untuk memangkas dana hibah federal senilai 2,6 miliar dolar Amerika untuk Harvard. Dan dengan dipangkasnya dana tersebut, Harvard terpaksa menanai sendiri sebagian besar operasi penelitian dari para mahasiswa serta profesor mereka. Dan Harvard itu enggak tinggal diam, Geng. Mereka mengajukan gugatan kepada Donald Trump karena sudah membekukan pendanaan federal mereka. Tapi Donald Trump selalu punya cara untuk bisa mengintimidasi Harvard, yaitu dengan mengajukan gugatan keuangan lain dengan mencabut status bebas pajaknya Harvard sehingga Harvard akan dikenakan pajak yang besar nantinya. Banyak hukuman yang diberikan ke Harvard melalui satuan tugas antisemitisme yang dijalankan oleh pemerintah federal dengan alasan Harvard ini gagal melindungi mahasiswa Yahudi dari aksi antisemit di tengah gelombang protes pro Palestin di seluruh Amerika. Nah, pejabat keamanan dalam negeri itu bilang ada laporan internal terbaru di Harvard yang menemukan banyak mahasiswa Yahudi mengalami diskriminasi di kampus tersebut. Di saat itu banyak pihak yang berpendapat kebijakan yang diberikan oleh Donald Trump kepada Harvard itu sebagai bagian dari tindakan presiden yang melanggar hukum. Pencabutan bebas pajak kepada Harvard itu adalah sebuah upaya yang melewati batas dan dia melakukan itu untuk mengintimidasi lawan politiknya atau kelompok yang enggak disukai agar mereka bisa diam dan menuruti keinginan Donald Trump. Nah, tapi kita juga harus salut, Geng, sama Harvard karena mereka mengambil sikap yang melindungi kebebasan berpendapat di lingkungan kampus. Meskipun mereka juga terancam bakal kehilangan dana federal sebesar 2,2 miliar dolar Amerika dan pemerintah juga mengancam bakal mencabut hibah tambahan lagi sebesar 1 miliar dolar Amerika. Penanaan dari pemerintah federal ini melebihi dari jumlah yang didistribusikan dari Dana abadi atau endomen Harvard sebesar 2,4 miliar dolar Amerika untuk tahun fiskal yang berakhir di bulan Juni 2024 yang mencakup 40% dari total pendapatan operasional kampus tersebut. Tapi Harvard di saat itu enggak peduli, Geng. Mereka lebih memilih untuk membela mahasiswa yang pro Palestine dibandingkan menuruti perintah Trump. Dan untuk meringankan beban Harvard, banyak staf kampus dan puluhan profesor yang berjanji untuk menerima pemotongan gaji supaya bisa membantu Harvard melawan Trump di pengadilan. Jadi, dosen-dosennya itu, profesor-profesor mereka itu kayak ya udah potong aja gaji kita supaya meringankan kampus. Karena kan dana hibah buat kampus tuh udah mulai ditahan-tahan sama Donald Trump. Nah, untungnya baik pihak kampus dan mahasiswa itu solid, Geng. Mereka bekerja sama semua untuk melawan Donald Trump. Nah, tapi Geng, lagi-lagi Donald Trump ini enggak kehabisan cara untuk terus mengintimidasi Harvard. Yang terbaru, Donald Trump melarang Harvard untuk menerima mahasiswa asing di tahun ajaran 2025 sampai 2026. Sehingga ada ribuan mahasiswa yang terancam harus pindah ke kampus lain atau terpaksa meninggalkan Amerika. semuanya bermula di tanggal 16 April tahun 2025 ketika Kristinom selaku Menteri Keamanan Dalam Negeri itu meminta Harvard untuk menyerahkan informasi mengenai mahasiswa asing yang mungkin terlibat di dalam kekerasan atau protes yang bisa menyebabkan mereka dideportasi. Nah, namun Harvard itu enggak memberikan informasi tersebut, Geng. Dan pelarangan ini menjadi sanksi yang diberikan oleh pemerintah kepada Harvard. Misalnya, Harvard menerima hampir 68.800 mahasiswa asing di kampus mereka yang ada di Cambridge, Massachusett yang mencakup lebih dari seperempat jumlah mahasiswa mereka. Nah, sebagian besar dari mereka itu adalah mahasiswa pasca sarjana yang berasal lebih dari 100 negara. Mereka semua terancam enggak bakal bisa kuliah. Terus menurut keterangan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri, larangan tersebut disebabkan karena Harvard ini sudah menciptakan lingkungan kampus yang enggak aman dengan mengizinkan orang-orang anti Amerika dan juga pro teroris untuk menyerang mahasiswa Yahudi yang ada di area kampus. Departemen Keamanan Dalam Negeri juga menuduh Harvard sudah bekerja sama dengan Partai Komunis Cina untuk menampung dan melatih anggota kelompok para militer Cina sampai tahun 2024. Aneh-aneh aja tuduhannya dan kedengaran enggak masuk akal gitu. Nah, tapi itulah adanya tuduhan tersebut ditujukan kepada Harvard dan Harvard menyebut pelarangan tersebut sudah melanggar hukum dan akan memberikan bimbingan kepada mahasiswa mereka. Dan Kristi mengatakan Harvard ini bisa kembali menerima mahasiswa asing kalau mereka bisa menunjukkan banyak informasi mengenai mahasiswa asing dalam waktu 72 jam yang berisikan rekaman audio atau video mengenai mahasiswa asing yang ikut di dalam aksi protes atau aktivitas yang mendukung Palestina atau yang melakukan diskriminasi kepada mahasiswa Yahudi. Jadi ibaratnya tuh kayak ngebocorin data ee mahasiswa-mahasiswa asing yang membela Palestina lah. Nah itu diminta tuh datanya oleh pihak pemerintah Trump. Kalau bisa itu dikasih, ya berarti mahasiswa asing yang lain yang enggak terlibat boleh tuh belajar di Harvard. Kurang lebih kayak gitu. Tapi di saat itu Harvard tetap enggak mau, Geng. Mereka tetap teguh pendiriannya untuk membela mahasiswa yang pro Palestina. Jadi enggak mereka bocorkan data itu ke pemerintah Donald Trump. Dan tindakan pemerintah tersebut mendapatkan kecaman dari banyak mahasiswa Harvard. Mahasiswa Harvard itu terus memberikan dukungan kepada Harvard untuk terus bertahan meskipun diterpa dengan berbagai kebijakan Trump yang merugikan mereka. Dan karena inilah pemerintahannya Trump sekarang sedang mendapatkan kecaman dari berbagai kelompok yang memperjuangkan kebebasan berbicara yang mana hal tersebut merupakan salah satu elemen penting dalam demokrasi di Amerika. Nah, sebagai negara demokrasi, Amerika pun harus melindungi setiap orang yang berpendapat sekalipun itu bertentangan dengan pendapat pemerintah. Nah, pembungkaman yang dilakukan oleh Donald Trump dianggap sebagai sikap yang otoriter dan membatasi kebebasan dari semua orang, termasuk mahasiswa yang pro Palestina. Gila ya Donald Trump ya. Biasanya kan Amerika tuh senang banget tuh merangin negara orang, habis itu e pemerintahannya digulingkan, presidennya di e matiin gitu ya dengan alasan tuh presiden otoriter atau diktator. Nah, sekarang coba lihat apa yang dilakukan oleh Donald Trump. Ini semacam ya menjilat ludah sendiri. Sikapnya benar-benar otoriter dan seperti seorang diktator. Gila banget ya karma itu nyata. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai mahasiswa dan kampus yang ada di Amerika yang pro terhadap Palestina yang mana mereka mendapat tekanan dari berbagai sisi. Di Colombia University, pihak kampusnya memilih untuk tunduk dengan aturan dari Presiden Donald Trump. Sehingga ketika ada penangkapan terhadap mahasiswa yang pro Palestin, pihak kampus diam aja. Namun di sisi lain ada Harvard University yang mana mereka sangat solid bekerja sama dengan mahasiswa untuk menentang Donald Trump dan tetap membela Palestina. Gimana geng menurut tanggapan kalian tentang pembahasan kita kali ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories