DONALD TRUMP LARANG BELA PALESTlNE SECARA PAKSA ! UNIV HARVARD & COLUMBIA MELAWAN !
eD2bHplWMGU • 2025-06-02
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, kalian sempat dengar enggak
pernyataan dari presiden kita, Pak
Prabowo kemarin? Yang ini
saya tegaskan bahwa kita juga
harus mengakui dan menjamin hak Islam
untuk berdiri sebagai negara yang
berdaulat dan negara yang harus juga
diperhatikan dan dijamin keamanannya.
Nah, di dalam pidato itu Pak Prabowo
menyatakan secara sadar ya itu bukan AI,
itu emang video Pak Prabowo asli bahwa
beliau menyatakan akan mendukung
pendirian negara Isriwil apabila Isriwil
mengakui kedaulatan apa negara Palestina
gitu. Ini menuai pro dan kontra
sebenarnya. Tapi di hari ini sebenarnya
gua gak pengen ngebahas itu sih. Cuman
gua agak menyinggung sedikit tentang hal
itu. Karena gua berpikir kayak gini. Di
saat presiden kita membuat pernyataan
yang berisikan kata mendukung. Ya,
sementara di luar sana terutama negara
yang benar-benar getol banget
men-support Isriwel itu sekarang
masyarakatnya justru ya banyak yang
berbalik arah. Nah, jadi ini sebuah
fenomena yang mungkin ee terjadi
belakangan ini karena masyarakatnya
sudah mulai
muak. Dikatakan nih, Geng, ya, negara
Amerika yang mana sebenarnya ee
masyarakat pro e rewel-nya sangat
tinggi, sangat banyak. pendukungnya
setia-setia, tapi ternyata sekarang
malah muncul pergerakan untuk melawan
Isriwil dan membela Palestina. Banyak
orang-orang Amerika sekarang justru
membela Palestina dan kemarin kita sudah
sempat bahas juga ya saking mereka
fanatiknya membela Palestina sampai ada
ya staff kedubes is rewill yang dioor
dua orang ya. Karena memang di Amerika
kayak gitu, Geng. Kalau enggak senang
sama orang itu udah pasti ee endingnya
bakal didor ya. Karena penjualan
senjata, kepemilikan senjata di sana
sangat-sangatlah bebas. Di dalam video
kali ini, ini pembahasan tentang
bagaimana kondisi masyarakat Amerika
sekarang yang mulai muak dengan perang
antara Isriwil dan Palestina. Nah,
kenapa mereka merasa muak? Ya,
dikarenakan mereka sekarang kesal banget
sama pemerintah mereka. Di saat
kesejahteraan masyarakat Amerika Serikat
itu mulai menurun, pemerintahnya justru
berfokus pada membantu perang Isriwil.
melawan Mamas. Jadi, uang Amerika malah
banyak untuk dihabiskan, membeli peluru,
membeli senjata untuk mendukung Isriwil.
Di samping itu, masyarakat Amerika juga
sudah mulai sadar akan aksi Isriwil yang
mengenyampingkan kemanusiaan. Banyak ya
di bawah umur itu dihabisi dan yah
gitulah genosidya parah banget. Di dalam
menunjukkan dukungannya, sekarang
orang-orang Amerika melakukan
demonstrasi sampai yang bikin gua
geleng-geleng kepala adalah
mahasiswa-mahasiswa di sana sudah mulai
menunjukkan dukungannya terhadap
Palestina saat mereka wisuda. Mau itu
mereka tunjukkan dengan cara memakai
benda-benda yang berhubungan dengan
Palestina, mengibarkan benderanya sampai
membentangkan poster bertuliskan
bebaskan Palestina dalam bahasa Inggris.
Tapi masalahnya nih, Geng, presiden
mereka yaitu Donald Trump itu
benar-benar gak suka sama orang-orang
yang pro terhadap Palestina. Sehingga
dia menerapkan sebuah kebijakan di
banyak tempat untuk mengamankan para
pendukung Palestina ini, termasuk di
kampus-kampus. Nah, di video kali ini
gua mau coba bahas dua kampus aja nih,
Geng. Sebenarnya banyak nih, banyak
banget kampusnya, tapi di sini gua ambil
dua contoh kampus. Yang pertama adalah
Colombia University dan juga Harvard
University. Di Colombia itu ada beberapa
mahasiswa yang pro Palestina sampai
membakar ijazah sebagai bentuk dukungan
mereka sekaligus protes terhadap
pemerintah Amerika yang terus mendukung
Isriwil. Kebayang tuh, Geng, bakar
ijazah. Dokumen yang paling penting yang
mereka gunakan ketika mencari kerja
nanti. Mereka enggak peduli. Mereka
merasa kayak, "Wah, gila, dunia ini udah
hancur banget, udah enggak benar." Nah,
ditambah lagi ada mahasiswa dari
Colombia University ini sampai ditangkap
oleh petugas imigrasi karena dianggap
membahayakan politik Amerika gara-gara
dia pro Palestina. Di saat itu ya
benar-benar keos lah kondisinya. Lalu
kita juga bakal membahas mengenai
Harvard yang mana pihak Harvard ini
berselisih dengan Donald Trump karena
Harvard tidak mau tunduk dengan aturan
Donald Trump yang mau menertibkan
kampus-kampus yang mendukung mahasiswa
pro Palestina sehingga mengakibatkan
Harvard mendapatkan sanksi dari Donald
Trump.
Bisa kalian bayangkan tuh, Geng. Sebuah
universitas ternama terbesar di dunia
itu ribut sama presiden gara-gara pro
Palestina. Dan di video ini kita bakal
uraikan dan bahas semuanya. Nah,
bagaimana cerita selengkapnya? Langsung
aja kita bahas. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar
[Musik]
Jerry genggeng. Oke, untuk kasus yang
pertama ini kita bakal membahas kasus
aksi pembakaran ijazah mahasiswa
Columbia University.
Jadi, geng, Colombia University
menyelenggarakan wisuda di hari Rabu
tanggal 21 Mei 2025 kemarin di Uper
Manhattan, New York. Ada sekitar 12.000
wisudawan serta sekitar 25.000 keluarga
dan teman yang ikut menghadiri wisuda
tersebut untuk merayakannya bersama.
Nah, biasanya upacara wisuda itu kan
berlangsung dengan khidmat lah ya dan ya
jadi suasana yang tenang gitu. dan para
wisudawannya ya pasti mengikuti segala
rangkaian dengan tertib. Tapi ada yang
berbeda nih dengan upacara wisuda di
Colombia ini. Karena wisudanya itu bisa
dikatakan keos banget. Karena ada
beberapa wisudawan yang pro Palestine
tiba-tiba melakukan aksi membakar
ijazah. Kebayang ya udah lama nih mereka
kuliah ngampus setiap hari sampai
pusing-pusing bikin skripsi. Tapi
tiba-tiba pas wisuda ijazahnya justru
dibakar. Nah, mereka membakar ijazah
mereka ini di luar gedung Columbia
University. Mahasiswa yang mengikuti
aksi tersebut sampai menutupi wajahnya
menggunakan topeng. Ada juga yang
menggunakan atribut yang identik dengan
Palestina seperti ee selendang bermotif
kotak yang biasanya digunakan oleh
orang-orang Arab di kepala atau di leher
mereka. Nah, lalu ada juga yang memegang
bendera Palestina dan para mahasiswa
yang melakukan aksi pembakaran ini juga
mengecam Isriwil atas kekejaman yang
mereka lakukan selama perang melawan
Mamas. Kalau dibilang nekad memang
mereka nekat banget, Geng. Nah, gimana
enggak yang mereka bakar kan ijazah
gitu. Kalau di negara kita udah pasti
nih orang gak punya masa depan lagi nih.
Enggak bisa kerja ya, enggak bisa
melanjutkan kuliah S2 dan lain-lain lah.
Nah, tapi gua enggak tahu juga ya gimana
sistem penerimaan kerja di Amerika
Serikat apakah sama dengan Indonesia
atau enggak atau cuma dibutuhkan skill
dan pengalaman aja. Buat kalian yang
sekarang tinggal di Amerika atau kerja
di sana, bolehlah bagi-bagi informasi
gimana sistemnya di sana.
Oke, setelah kekacauan yang ditimbulkan
dari aksi pembakaran ijazah ini pecah,
New York Police Department atau NYPD
sampai dipanggil ke lokasi kejadian. Di
saat itu NYPD tidak mengatakan siapa
yang menelepon mereka ke sana dan mereka
di saat itu langsung merengsek masuk ke
dalam barisan para mahasiswa kemudian
memadamkan api. NYPD juga menangkap satu
orang geng yaitu salah satu mahasiswa
yang ada di sana. Amerika ini kan salah
satu negara yang menerapkan demokrasi
yang sangat menyunjung tinggi kebebasan
berpendapat. Nah, para mahasiswa yang
melakukan aksi pembakaran ijazah
tersebut menganggap kedatangan NYPD
sebagai bagian dari pembungkaman
terhadap kebebasan berpendapat yang
mereka lakukan. Nah, mereka enggak
terima dan bentrokan antara mahasiswa
dengan NYPD enggak bisa dihindari dan
para mahasiswa berusaha untuk menerobos
penghalang, namun dihalangi oleh
beberapa personil dari NYPD yang sudah
berjaga di seberang jalan dari pintu
masuk Colombia dan berupaya untuk
menghentikan aksi mereka. Mereka ini
enggak bisa menerobos barikade polisi.
Kelompok tersebut kemudian pergi menuju
ke 116 Street menuju ke sungai Hudson.
Tapi pergerakan mereka justru dipantau
oleh NYPD dan mereka pun
diikuti. Di tahun lalu, Geng, Columbia
juga seharusnya menyelenggarakan acara
wisuda, tapi wisudanya itu ya dibatalkan
dengan alasan masalah keamanan yang
disebabkan karena adanya mahasiswa dari
Colombia ini yang pro Palestina sampai
berkemah di depan kampus Colombia yang
berada di daerah Morning Sathey. Mereka
berkemah di sana selama berminggu-minggu
dan enggak pulang-pulang demi bisa
menunjukkan solidaritas dan aksi protes
untuk membela Palestina. Nah, sementara
diwisuda tahun ini tetap
diselenggarakan. Namun, kampusnya sempat
memberikan sebuah pengumuman untuk para
hadirin, baik wisudawan maupun kerabat
yang akan datang ke wisuda. Kalau wisuda
yang akan diselenggarakan ini berpotensi
mendapatkan gangguan dari penonton yang
enggak diizinkan, katanya. yang mana
bagi siapa saja yang melakukan gangguan
tersebut diminta untuk meninggalkan
tempat acara wisuda. Pada awal bulan Mei
juga sempat ada sebuah insiden, geng.
Ada sekitar 80 pengunjuk rasa yang
mengenakan topeng itu sampai menyerbu
masuk ke dalam perpustakaan Butler milik
Columbia University. Mereka membuat
sebuah grafiti ya tulisan coret-coretan
yang salah satunya tertulis Columbia
Wburn yang mana kalau diartikan dalam
bahasa Indonesia ya Colombia bakal
terbakar. Nah, kalimat tersebut
dituliskan di kota kaca yang ada di
dalam perpustakaan. Dan usai kejadian
itu, Geng, ada sebanyak 60 orang yang
ditangkap. Pihak kampus juga menjatuhkan
setidaknya 65 scorsing sementara kepada
para mahasiswa yang ikut di dalam
kerusuhan tersebut. Nah, lalu melarang
33 orang untuk masuk ke dalam kampus.
Nah, terus ada beberapa lembaga yang
terafiliasi dengan pendukung Palestina
serta sejumlah alumni yang juga enggak
diperbolehkan masuk ke dalam area
kampus. Dan mengenai penangkapan yang
dilakukan oleh NYPD, seorang juru bicara
Kolombia menyangkal hal tersebut. Dia
mengatakan kalau upacara wisuda berjalan
dengan lancar tanpa adanya hambatan.
Meskipun dia juga enggak menepis kalau
memang NYPD berada di luar gedung
Columbia untuk menangani kelompok yang
melakukan unjuk
rasa. Nah, kita udah melihat sendiri ya,
Geng, gimana situasi aksi pembakaran
ijazah yang dilakukan oleh mahasiswa
Columbia di luar gedung. Tapi gimana
kondisi di dalam gedung terutama ketika
wisuda dilangsungkan? Apakah juga
berlangsung dengan tertib? Nah, ternyata
enggak juga, Geng. Ada sejumlah
wisudawan dari Barnard College eh
perguruan tinggi yang terafiliasi dengan
Columbia. Namun, Barnat ini khusus untuk
perempuan. Pada saat wisuda, para
mahasiswi dari Barnat ini mengenakan
Kifeye, yaitu selendang kota-kota khas
orang Arab sebagai bentuk dukungan
terhadap Palestina. Nah, mahasiswa
Columbia University memang dikenal vokal
dalam menyuarakan dukungan mereka
terhadap Palestina. Bahkan mahasiswa di
Colombia ini yang pro Palestine itu
memiliki akun Instagram sendiri dengan
username Colombia for Palestine yang
menjadi wadah bagi para mahasiswa
Colombia untuk terus menyuarakan
dukungan mereka terhadap Palestina
sekaligus memberikan informasi mengenai
aksi protes yang akan mereka lakukan.
Jadi, setiap mereka mau demo protes
pasti di-update di sana.
Terus, Geng, satu hari sebelum wisudanya
dimulai, Presiden Colombia yaitu Claire
Shipman itu memberikan pidato pembuka
untuk ajaran baru di tahun 2025. Claire
ini sendiri adalah presiden ketiga di
Colombia dan dia menjabat setelah
menggantikan Katrina Armstrong yang
mengundurkan diri yang mana Katrina juga
menjabat sebagai presiden setelah Menu
Syafiq mengundurkan diri di bulan
Agustus. Di dalam kurun waktu 1 tahun
sudah ada tiga orang yang menjabat
sebagai Presiden Colombia dan yang
ketiganya adalah Claire. Pada saat dia
memulai pidato, dia langsung disambut
dengan ejekan yang terus berlanjut
ketika dia berpidato.
I know that many of
you
[Tepuk tangan]
feel good morning class of 2025.
[Tepuk tangan]
Dalam pidatonya itu, Clerini bilang
mungkin banyak mahasiswa yang merasa
kecewa terhadap dia dan juga pihak
administrasi. Dan dia tahu kalau di
Colombia memiliki budaya kebebasan
berpendapat yang kuat dan Clire sendiri
terbuka terhadap semua masukan. Namun,
kekacauan masih berlanjut ketika Clire
berpidato di acara wisuda pada hari
Rabbunya. Para wisudawan bukannya
mendengarkan pidatonya dia, tapi justru
teriak-teriak ketika Clear ini pidato.
Dan di dalam pidato dia kali ini, dia
sempat sebut nama Mahmud Kholil yang
langsung disambut dengan teriakan dari
para wisudawan yang mengatakan agar
Columbia University bisa membebaskan si
Mahmud ini. Dan Claire mengatakan bahwa
tidak seharusnya mahasiswa asing menjadi
target pemerintah karena mereka
sama-sama memiliki kebebasan berpendapat
dan dia juga menyampaikan rasa duka
karena Mahmud tidak bisa hadir di dalam
wisuda kali ini. Namun yang membuat
wisudawan merasa marah di saat itu ya
karena CL ini mengingatkan para
mahasiswa kalau keberanian mereka untuk
bersuara tidak selalu dijamin di dalam
sistem negara sekalipun negara yang
menganut demokrasi katanya. Nah, awalnya
kan dia udah kayak seolah-olah berpihak
gitu ya ee mengatakan Mahmud harusnya
mempunyai kebebasan walaupun dia adalah
orang Islam, orang asing gitu. Nah, tapi
tiba-tiba dia ngomong nih, "Ini
kalian-kalian yang ngedemo itu enggak
selalu dijamin ya dalam sistem negara
sekalipun negara ini menganut demokrasi
katanya gitu. Jadi enggak bebas-bebas
amat kalau ngomong. Kurang lebih kayak
gitu." Sontak para wisudawan yang hadir
meneriaki Clire atas pidatonya itu yang
menurut mereka Clair ini mengucapkan
kalimat-kalimat yang tendensius seperti
menggunakan kata berduka yang dianggap
oleh wisudawan seperti menunjukkan kalau
Mahmud sudah meninggal. Padahal
kenyataannya kan Mahmud ini enggak
meninggal ya, masih ada orangnya, cuma
kayak diasingkan aja. Nah, pasti kalian
penasaran nih Mahmud Khalil ini siapa?
Kok sampai disebut-sebut atau
dibawa-bawa di dalam pidato orang
penting ini, di dalam pidato eh wisuda
Columbia University ini. Nah, sekarang
kita bahas nih tentang si Mahmud Kholil
ini. Kenapa dia sampai dibela banget
oleh mahasiswa di Columbia University?
Jadi, geng Mahmud Khalil ini adalah
mahasiswa pasca sarjana di School of
International and Public Affairs atau
disingkat dengan SIPA yang ada di
Columbia University. Nah, Mamud ini
lahir di daerah kantong atau yang
dikenal dengan sebutan Encliff di
Damaskus, Suriah pada tahun 1995. Nah,
orang tuanya dia itu adalah warga
Palestina. Kakek neneknya tinggal di
Tiberias tetapi dipaksa untuk
meninggalkan tempat tinggalnya ketika
terjadi peristiwa NQb pada tahun 1948.
Mahmud ini dan keluarganya melarikan
diri ke Libanon pada tahun 2012 setelah
dimulainya perang saudara yang ada di
Suriah. Nah, dia kemudian mendapatkan
kewarganegaraan Aljazair dari keluarga
sang ibu yang diduga ibunya ini
merupakan revolusioner Aljazair yang
mengungsi ke daerah kekaisaran Otoman
pada masa
itu. Nah, singkat cerita nih, Geng. Pada
tahun 2022, Mahmud ini pergi ke Amerika
menggunakan visa pelajar untuk mendaftar
di sipa tadi. Lalu 1 tahun kemudian dia
menikah nih sama seorang perempuan yang
bernama Nur Abdallah di New York setelah
berpacaran selama 7 tahun. Nah, Nur ini
adalah warga negara Amerika dan
berprofesi sebagai seorang dokter gigi.
Nah, karena menikahi Nur inilah akhirnya
Mahmud bisa mendapatkan green card.
Jadi, dia bisa tinggal di Amerika.
Sebagai mahasiswa Colombia, Mahmud ini
menjadi seorang aktivis dengan
menyuarakan solidaritas terhadap
Palestina selama perang di Gaza. Dia
menjabat sebagai negosiator dan juga
juru bicara bagi mahasiswa yang terkait
dengan Gaza Solidarity Inkampsman, dan
koalisi Columbia University Apertight
Divice atau disingkat dengan CUAD.
Mahmud ini sering melakukan diskusi
dengan pejabat tinggi Columbia
University dan sering terlihat mengikuti
aksi protes yang mana dia berani banget
melakukan aksi tanpa menggunakan penutup
wajah. Jadi benar-benar transparan ya
akhirnya dia itu ditandain gitu. Tapi
karena dia ini masih memiliki visa
pelajar, Mahmud ini tetap harus
melakukan pendaftaran sebagai bagian
dari mekanisme penerima visa. Nah, untuk
bisa lolos pendaftaran, dia enggak boleh
terlibat di dalam aksi protes yang
besar-besaran. Nah, tapi di sini kan dia
enggak nyamar nih, enggak nutup mukanya.
Akhirnya kan ditandain dan dia juga
sangat rutin berkomunikasi dengan pihak
kampus untuk memastikan dia enggak akan
membuat masalah. Karena kalau sampai dia
membuat masalah, maka visa pelajarnya
itu bisa ditangguhkan. Nah, namun nih,
Geng, di tanggal 30 April 2024, dia pun
menerima email dari pihak kampus yang
justru memberikan dia scores karena
dugaan keterlibatannya dia di dalam aksi
protes mahasiswa Colombia dengan
mendirikan khemah.
Cuma sehari setelah mengirimkan email,
pihak universitas mencabut pemberian
scores terhadap dia setelah tahu kalau
Mahmud ini enggak bersalah. Nah, tapi di
saat itu semacam ada hal yang apa ya?
kayak enggak membiarkan Mahmud ini bisa
bebas karena kayak ada upaya lain untuk
bisa menahan si Mahmud ini. Nah, kali
ini pihak kampus mencoba menahan dia
karena keterlibatan dia dengan cued atau
CUAD tadi yang menyelenggarakan pawai
yang dianggap oleh pihak kampus tidak
sah karena tidak diizinkan oleh kampus.
Nah, ada kabar yang mengatakan dalam
pawai tersebut para demonstran
menyuarakan dan membenarkan serangan
Mamas di tanggal 7 Oktober 2023 kepada
Isriw dan menyebarkan postingan di
sosial media yang mengkritik zionisme.
Mahmud ini sempat bilang kalau ada
sekitar 13 tuduhan yang ditujukan kepada
dia yang sebagian besarnya mengenai
postingan yang beredar di sosial media.
Tapi Mahmud mengaku kalau itu semua
enggak ada hubungannya dengan dia. Pihak
kampus juga dikabarkan mengancam bakal
mencegah Mahmud untuk lulus dari kampus
tersebut karena dia enggak mau
menandatangani sebuah perjanjian
kerahasiaan. Nah, cuma ancaman tersebut
ditarik karena Mahmud mengajukan banding
melalui seorang pengacara. Nah, jadi
urusannya tuh panjang,
Geng. Terus, Geng. Singkat cerita, pada
tanggal 8 Maret tahun 2025, Mahmud dan
Nur baru saja kembali ke apartemen
mereka. Setelah berbuka puasa di sebuah
restoran, nah tiba-tiba ada seorang
petugas dari ICE, agen imigrasi Amerika
yang mengikuti mereka sampai ke dalam
gedung apartemen. Jadi, dibuntutilah
mereka di saat itu. Nah, agen ini
meminta Mahmud untuk mengkonfirmasi
identitasnya dia. Lalu, agen itu juga
menyuruh Mahmud untuk memberikan kunci
apartemen mereka kepada Nur agar Nur
bisa langsung masuk ke dalam apartemen.
Sementara si Mahmud dibiarkan di luar.
Nah, tapi di saat itu Nur enggak mau
pergi ninggalin Mahmud. Nah, tapi
petugas ICE ini justru mengancam Nur.
Kalau dia gak pergi, Nur bisa ikut
ditangkap juga sama Mahmud. Jadi, mau
gak mau Nur itu nurut, Geng. Sebab saat
itu dia dalam kondisi yang lagi
ngandung, ya, lagi hamil. Nah, terus Nur
diminta oleh petugas IC untuk
menyerahkan dokumen imigrasi Mahmud yang
disimpan di apartemen mereka yang
kemudian mau enggak mau Nur ini
menyerahkan ee dokumen yang diminta ini
ke agen IC tersebut. Nah, si agen IC ini
menelepon seseorang dengan mengatakan
kalau Mahmud memiliki green card dan
tiba-tiba seseorang yang ada di telepon
tersebut bilang, "Lebih baik si Mahmud
dibawa pergi langsung aja dari sana.
Enggak peduli mau ada green card k, mau
apa, pokoknya harus pergi dari sana."
Nah, di sisi lain, Mahmud ini berusaha
untuk menelepon pengacaranya dia yang
namanya Emy Grear. Nah, Emy ini kemudian
sempat berbicara dengan salah satu
petugas ICE mengenai penangkapan dari
Mahmud ini. Dan petugas IC ini bilang
kalau mereka mendapatkan perintah dari
Departemen luar negeri untuk mencabut
visa pelajarnya si Mahmud. Di saat itu
Emy ini berusaha untuk membela si Mahmud
dengan bilang dia memiliki green card
dan petugas ICE bisa mencabut green card
tersebut sebagai ganti atas penahanan si
Mahmud. Jadi kayak jaminan gitu, Geng.
Nah, namun permintaan itu ditolak oleh
si agen AC ini dengan mengatakan kalau
mereka memiliki surat perintah untuk
menahan Mahmud. Enggak peduli walaupun
dia punya green card. Nah, tapi yang
anehnya ketika Amy ini minta ditunjukkan
surat perintah itu, petugas ICE langsung
tutup telepon jadi kayak menghindar
gitu. Nah, entah karena sebenarnya surat
perintah itu gak ada atau gimana, tapi
yang jelas si Mahmud ini tetap dibawa
pergi oleh si een IC ini dan diyakini
kalau Mahmud ini ditahan di penjara yang
terletak di Louisiana. Nah, di tanggal
21 April Mahmud itu sempat meminta agar
dia bisa datang untuk mengunjungi
anaknya yang baru lahir. Karena di saat
itu pas dia lagi di penjara si Nur itu
lahiran. Nah, tapi permintaannya itu
ditolak, Geng, oleh pihak imigrasi dan
penegak Bea Cukai. Mahmud ini menjadi
orang pertama yang ditangkap setelah
Trump bilang bakal menindak semua
pengunjuk rasa yang pro Palestina. Yang
lebih mengecewakannya lagi adalah
Columbia University, tempat di mana
Mahmud mengenyam pendidikan itu lebih
memilih diam dibandingkan memperjuangkan
Mahmud agar dia bisa keluar dari
penjara. Dan hal ini diungkapkan oleh
Nur dalam sebuah wawancara yang mengaku
kecewa dengan tindakan pihak kampus yang
enggak berupaya apapun kepada si
suaminya
ini. Terus, Geng, bungkamnya pihak
kampus ini disebabkan karena pada bulan
April Colombia itu menyetujui daftar
tuntutan yang diajukan oleh satuan tugas
Trump untuk memerangi anti. Nah, jadi
ada kontrol dari Donald Trump nih.
Termasuk di dalamnya ada beberapa
peraturan yang menindak tegas penggunaan
masker di kampus dan menerjunkan satuan
keamanan di kampus untuk bisa melakukan
penangkapan terhadap orang-orang yang
pro Palestina dan menempatkan program
studi Timur Tengah di Colombia di bawah
pengawasan akademis. Nah, Donald Trump
menganggap orang yang pro Palestina itu
bakal melakukan tindakan yang berkaitan
dengan antisemit. Padahal itu cuma salah
satu alasan agar suara dari orang-orang
yang pro Palestina bisa diredam oleh
Trump. Nah, Donald Trump ini benar-benar
membungkam lah, membungkam supaya
orang-orang gak menyuarakan kebebasan,
enggak menyuarakan pembelaan terhadap
Palestina. Dan pihak kampus itu boleh
saja nurut sama Trump ya, tapi enggak
dengan mahasiswanya. Mahasiswanya sudah
pasti melakukan perlawanan dan mahasiswa
Kolombia itu masih tetap dan berani
menyuarakan dukungan mereka terhadap
Palestina yang mana dukungan mereka ini
menyebabkan kampus tersebut sampai
kehilangan 400 juta Do Amerika yang
berupa dana federal dari Trump. Karena
pihak kampus dianggap gagal untuk
menghilangkan aksi antisemit di area
kampus mereka karena dianggap ya
mahasiswa mereka enggak bisa dikontrol
oleh pihak kampus. Nah, itu Geng kurang
lebih geng kasus yang terjadi di
Columbia University yang melibatkan
salah satu mahasiswa yang bernama Mahmud
tadi. Itu baru satu kasus ya yang
terjadi di Colombia. Sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan tentang kasus
yang terjadi di Harvard University yang
berselisih dengan Donald Trump karena
menolak untuk menghentikan dukungan
terhadap
[Musik]
Palestina. Jadi, geng Harvard ini adalah
salah satu universitas paling terkenal
dan bergengsi di dunia. Banyak orang
yang ingin bisa berkuliah di sana. Dan
Harvard ini memang dikenal dengan budaya
keberagamannya. Mereka menerima
mahasiswa dari berbagai kalangan,
berbagai negara, berbagai latar
belakang, termasuk dengan mahasiswa yang
memihak kepada Palestina. Di bulan
Oktober tahun 2023, setelah perang
antara Mamas dan Istriwil pecah,
beberapa kelompok mahasiswa Harvard itu
menandatangani surat yang mengutuk aksi
Isriwil. Meskipun dikenal dengan
toleransi yang tinggi, ada banyak alumni
sampai mantan Presiden Harvard sendiri
yang bernama Larry Summers yang enggak
setuju soal penandatanganan surat
tersebut. Ya, dampaknya lebih jauh lagi
beberapa donatur itu sampai enggak mau
untuk memberikan sumbangan ke Harvard.
Jadi, benar-benar dibikin terisolasi
gitu, Geng. Nah, kemudian ada tuntutan
dari Donald Trump agar Harvard ini
membatasi aksi protes para mahasiswa
yang pro terhadap Palestina dan
menghapus kebijakan keberagaman,
kesetaraan, dan inklusi di kampus
tersebut. Nah, tapi berbeda dengan
Colombia, Harvard justru secara terbuka
menentang tuntutan tersebut, Geng. Kalau
Colombia tadi kan yang menentang itu
mahasiswanya kan. Kalau Harvard ini
enggak, pihak kampusnya juga langsung
menentang gitu. Bahkan Harvard menjadi
kampus pertama yang menolak hal
tersebut. Pemerintah menganggap Harvard
sudah membangkang dan enggak mau nurut
dengan pemerintah Donald Trump. Dan
sehingga pemerintah federal memutuskan
untuk memangkas dana hibah federal
senilai 2,6 miliar dolar Amerika untuk
Harvard. Dan dengan dipangkasnya dana
tersebut, Harvard terpaksa menanai
sendiri sebagian besar operasi
penelitian dari para mahasiswa serta
profesor mereka. Dan Harvard itu enggak
tinggal diam, Geng. Mereka mengajukan
gugatan kepada Donald Trump karena sudah
membekukan pendanaan federal mereka.
Tapi Donald Trump selalu punya cara
untuk bisa mengintimidasi Harvard, yaitu
dengan mengajukan gugatan keuangan lain
dengan mencabut status bebas pajaknya
Harvard sehingga Harvard akan dikenakan
pajak yang besar nantinya. Banyak
hukuman yang diberikan ke Harvard
melalui satuan tugas antisemitisme yang
dijalankan oleh pemerintah federal
dengan alasan Harvard ini gagal
melindungi mahasiswa Yahudi dari aksi
antisemit di tengah gelombang protes pro
Palestin di seluruh Amerika. Nah,
pejabat keamanan dalam negeri itu bilang
ada laporan internal terbaru di Harvard
yang menemukan banyak mahasiswa Yahudi
mengalami diskriminasi di kampus
tersebut. Di saat itu banyak pihak yang
berpendapat kebijakan yang diberikan
oleh Donald Trump kepada Harvard itu
sebagai bagian dari tindakan presiden
yang melanggar hukum. Pencabutan bebas
pajak kepada Harvard itu adalah sebuah
upaya yang melewati batas dan dia
melakukan itu untuk mengintimidasi lawan
politiknya atau kelompok yang enggak
disukai agar mereka bisa diam dan
menuruti keinginan Donald Trump. Nah,
tapi kita juga harus salut, Geng, sama
Harvard karena mereka mengambil sikap
yang melindungi kebebasan berpendapat di
lingkungan kampus. Meskipun mereka juga
terancam bakal kehilangan dana federal
sebesar 2,2 miliar dolar Amerika dan
pemerintah juga mengancam bakal mencabut
hibah tambahan lagi sebesar 1 miliar
dolar Amerika. Penanaan dari pemerintah
federal ini melebihi dari jumlah yang
didistribusikan dari Dana abadi atau
endomen Harvard sebesar 2,4 miliar dolar
Amerika untuk tahun fiskal yang berakhir
di bulan Juni 2024 yang mencakup 40%
dari total pendapatan operasional kampus
tersebut.
Tapi Harvard di saat itu enggak peduli,
Geng. Mereka lebih memilih untuk membela
mahasiswa yang pro Palestine
dibandingkan menuruti perintah Trump.
Dan untuk meringankan beban Harvard,
banyak staf kampus dan puluhan profesor
yang berjanji untuk menerima pemotongan
gaji supaya bisa membantu Harvard
melawan Trump di pengadilan. Jadi,
dosen-dosennya itu, profesor-profesor
mereka itu kayak ya udah potong aja gaji
kita supaya meringankan kampus. Karena
kan dana hibah buat kampus tuh udah
mulai ditahan-tahan sama Donald Trump.
Nah, untungnya baik pihak kampus dan
mahasiswa itu solid, Geng. Mereka
bekerja sama semua untuk melawan Donald
Trump. Nah, tapi Geng, lagi-lagi Donald
Trump ini enggak kehabisan cara untuk
terus mengintimidasi Harvard. Yang
terbaru, Donald Trump melarang Harvard
untuk menerima mahasiswa asing di tahun
ajaran 2025 sampai 2026. Sehingga ada
ribuan mahasiswa yang terancam harus
pindah ke kampus lain atau terpaksa
meninggalkan Amerika. semuanya bermula
di tanggal 16 April tahun 2025 ketika
Kristinom selaku Menteri Keamanan Dalam
Negeri itu meminta Harvard untuk
menyerahkan informasi mengenai mahasiswa
asing yang mungkin terlibat di dalam
kekerasan atau protes yang bisa
menyebabkan mereka dideportasi. Nah,
namun Harvard itu enggak memberikan
informasi tersebut, Geng. Dan pelarangan
ini menjadi sanksi yang diberikan oleh
pemerintah kepada Harvard. Misalnya,
Harvard menerima hampir 68.800 mahasiswa
asing di kampus mereka yang ada di
Cambridge, Massachusett yang mencakup
lebih dari seperempat jumlah mahasiswa
mereka. Nah, sebagian besar dari mereka
itu adalah mahasiswa pasca sarjana yang
berasal lebih dari 100 negara. Mereka
semua terancam enggak bakal bisa
kuliah. Terus menurut keterangan dari
Departemen Keamanan Dalam Negeri,
larangan tersebut disebabkan karena
Harvard ini sudah menciptakan lingkungan
kampus yang enggak aman dengan
mengizinkan orang-orang anti Amerika dan
juga pro teroris untuk menyerang
mahasiswa Yahudi yang ada di area
kampus. Departemen Keamanan Dalam Negeri
juga menuduh Harvard sudah bekerja sama
dengan Partai Komunis Cina untuk
menampung dan melatih anggota kelompok
para militer Cina sampai tahun 2024.
Aneh-aneh aja tuduhannya dan kedengaran
enggak masuk akal gitu. Nah, tapi itulah
adanya tuduhan tersebut ditujukan kepada
Harvard dan Harvard menyebut pelarangan
tersebut sudah melanggar hukum dan akan
memberikan bimbingan kepada mahasiswa
mereka. Dan Kristi mengatakan Harvard
ini bisa kembali menerima mahasiswa
asing kalau mereka bisa menunjukkan
banyak informasi mengenai mahasiswa
asing dalam waktu 72 jam yang berisikan
rekaman audio atau video mengenai
mahasiswa asing yang ikut di dalam aksi
protes atau aktivitas yang mendukung
Palestina atau yang melakukan
diskriminasi kepada mahasiswa Yahudi.
Jadi ibaratnya tuh kayak ngebocorin data
ee mahasiswa-mahasiswa asing yang
membela Palestina lah. Nah itu diminta
tuh datanya oleh pihak pemerintah Trump.
Kalau bisa itu dikasih, ya berarti
mahasiswa asing yang lain yang enggak
terlibat boleh tuh belajar di Harvard.
Kurang lebih kayak gitu. Tapi di saat
itu Harvard tetap enggak mau, Geng.
Mereka tetap teguh pendiriannya untuk
membela mahasiswa yang pro Palestina.
Jadi enggak mereka bocorkan data itu ke
pemerintah Donald Trump. Dan tindakan
pemerintah tersebut mendapatkan kecaman
dari banyak mahasiswa Harvard. Mahasiswa
Harvard itu terus memberikan dukungan
kepada Harvard untuk terus bertahan
meskipun diterpa dengan berbagai
kebijakan Trump yang merugikan mereka.
Dan karena inilah pemerintahannya Trump
sekarang sedang mendapatkan kecaman dari
berbagai kelompok yang memperjuangkan
kebebasan berbicara yang mana hal
tersebut merupakan salah satu elemen
penting dalam demokrasi di Amerika. Nah,
sebagai negara demokrasi, Amerika pun
harus melindungi setiap orang yang
berpendapat sekalipun itu bertentangan
dengan pendapat pemerintah. Nah,
pembungkaman yang dilakukan oleh Donald
Trump dianggap sebagai sikap yang
otoriter dan membatasi kebebasan dari
semua orang, termasuk mahasiswa yang pro
Palestina. Gila ya Donald Trump ya.
Biasanya kan Amerika tuh senang banget
tuh merangin negara orang, habis itu e
pemerintahannya digulingkan, presidennya
di e matiin gitu ya dengan alasan tuh
presiden otoriter atau diktator. Nah,
sekarang coba lihat apa yang dilakukan
oleh Donald Trump. Ini semacam ya
menjilat ludah sendiri. Sikapnya
benar-benar otoriter dan seperti seorang
diktator. Gila banget ya karma itu
nyata.
Nah, itu dia geng pembahasan kita kali
ini mengenai mahasiswa dan kampus yang
ada di Amerika yang pro terhadap
Palestina yang mana mereka mendapat
tekanan dari berbagai sisi. Di Colombia
University, pihak kampusnya memilih
untuk tunduk dengan aturan dari Presiden
Donald Trump. Sehingga ketika ada
penangkapan terhadap mahasiswa yang pro
Palestin, pihak kampus diam aja. Namun
di sisi lain ada Harvard University yang
mana mereka sangat solid bekerja sama
dengan mahasiswa untuk menentang Donald
Trump dan tetap membela Palestina.
Gimana geng menurut tanggapan kalian
tentang pembahasan kita kali ini? Coba
tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:13 UTC
Categories
Manage