UMAT KRISTEN MENNONITE YANG TIDAK PERCAYA BAPTIS DAN TOLAK HIDUP MODERN !
VvOmMTScP98 • 2025-06-09
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Oke, Geng. Kemarin kita membahas, ya
mengenai perusahaan yang bernama Cruso
yang menggarap sebuah project untuk
pembuatan AI yang canggih dan bahkan
bisa melatih AI lain agar bisa mencapai
kecerdasan yang melampaui kecerdasan
manusia. Ini menunjukkan kepada kita
kalau saat ini peradaban manusia sudah
semakin gila-gilaan. ya, makin banyak
penemuan-penemuan dan
teknologi-teknologi yang bakal
menggantikan peran manusia di dalam
berbagai bidang, terutama bidang
pekerjaan. Walaupun pada akhirnya ya ini
semua bisa diperdebatkan apakah
kecanggihan teknologi ini bisa membuat
maju peradaban manusia atau justru
menghancurkan peradaban. Nah, terlepas
dari semua itu, Geng, gua mau membahas
sebuah topik yang cukup menarik kali
ini, ya. Karena ternyata, Geng, ya, ada
sekelompok orang yang ee mengatasnamakan
mereka sebagai kelompok beragama dari
salah satu agama yang terbesar di muka
bumi ini. Dan mereka ini ya
keberadaannya untuk menolak modernitas
dan menolak kemajuan peradaban. Jadi,
teknologi-teknologi yang baru itu mereka
enggak terima. Mungkin hal ini bakal
mengingatkan kalian kepada salah satu
suku yang ada di Indonesia, yaitu suku
Badui yang mana mereka tidak mau
menerapkan e modernitas di dalam
kehidupan mereka. Mereka enggak pakai
listrik, enggak pakai internet, dan
enggak pakai kendaraan gitu kan. Nah,
tapi kali ini yang gua bahas nih agak
beda. Bukan badu ini. Karena ini bukan
suku, melainkan sebuah kelompok agama.
namanya itu adalah koloni
Menonight. Ya, ini merupakan sebuah
kelompok agama yang berasal dari luar
negeri. Nah, Menonight ini bukan sebuah
aliran sesat, Geng. Karena komunitas ini
bahkan sudah ada sejak abad ke-16. Jadi,
udah lama banget di dalam menjalankan
kehidupan sehari-hari, mereka ini enggak
seperti kita manusia modern sekarang
yang mungkin udah sering banget
menggunakan teknologi. Nah, tapi mereka
ini sama sekali enggak menggunakan
teknologi tersebut. Bahkan bisa
dikatakan mereka dilarang di dalam
aturan agama mereka dilarang untuk
menggunakan teknologi.
Kami tidak punya mobil, radio, ponsel,
tidak ada
apa-apa. Saya anti dengan ponsel dan
internet karena bisa mengubah tingkah
laku
orang. Nah, handphone mereka enggak
punya, radio enggak punya, TV apalagi
mereka enggak punya, mobil enggak punya
juga. Nah, di video kali ini gua mau
mengajak kalian untuk melihat nih ini
gimana sih kehidupan koloni Menonite
ini. Apa yang mereka lakukan ya? Apakah
mereka benar-benar hidup tanpa adanya
teknologi dan mereka ini sebenarnya
pecahan dari agama apa ya? Dasar dari
kelompok ini itu berasal dari agama apa?
Nah, sekarang kita akan bahas
selengkapnya. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jerry.
[Musik]
Genggeng. Oke, sebelum kita bahas
kontroversinya, kita bahas dulu sejarah
awal mula terbentuknya koloni Menonite
ini. Jadi, untuk bisa melihat lebih jauh
mengenai kehidupan dari koloni Menonight
ya, gua mau jelasin dulu, Geng, gimana
awalnya terbentuk koloni ini. Dilihat
dari sejarahnya nih ya, Menonight ini
berasal dari sekelompok orang yang
menyebut diri mereka sebagai Swiss
Brethren. Ya, ini koreksi gua kalau
salah dalam pengucapannya. Mereka ini
agak bersinggungan dengan peristiwa
reformasi gereja, Geng. Nah, kalau
kalian belum tahu apa itu reformasi
gereja, bisa nonton video gua yang ini.
Jadi, kalian ggak bingung pas gua
ngejelasin koloni Menonight ini. Oke,
kita lanjutin lagi. Jadi, pas itu kan
ada reformasi gereja nih, ya, sedang
bergejolak. Nah, di berbagai negara yang
pengaruh kekristenannya kuat termasuk
salah satunya di wilayah Swiss pada
tahun 1525. Nah, asal muasalnya dari
perpecahan agama Kristen nih. Dan waktu
itu ada gerakan dari Martin Luther yang
mengkritisi segala peraturan gereja.
Nah, cuma Swiss Bretren ini enggak
tergabung ke dalam gerakannya si Martin
Luther, Geng. Nah, tapi mereka juga
bukan gerakan yang justru mendukung
gereja di saat itu. Nah, Swiss Breten
ini adalah sebuah gerakan baru berbeda
dari kedua belah pihak tadi. Apa bedanya
nih Swiss Bretin ini dengan gerakan
Martin Luther serta gerakan gereja? Nah,
jadi geng mereka ini memiliki keyakinan
yang berbeda ya, agak berbeda. Mereka
mempercayai kalau keimanan itu bukanlah
warisan yang diturunkan, tapi adalah
sebuah pilihan yang sadar setiap umat
manusia. Mereka menolak prosesi
pembaptisan bayi yang mana baptis ini
menjadi salah satu hal yang wajib nih
diikuti oleh bayi-bayi yang lahir dari
orang tuanya yang menganut agama
Kristen. Nah, bagi kelompok Swiss Bretin
cuma orang yang secara sadar atau
memilih percaya dengan Yesuslah yang
pantas untuk menjadi bagian dari gereja.
Nah, mereka berpikir ketika bayi mereka
kan belum mengetahui apa yang mereka
pilih. Ya, ibaratnya gini deh secara
logiknya ya. Ini kan berpikir tentang
kita tuh lahir tuh enggak enggak enggak
milih dari rahim siapa. Rahim ibu yang
muslim, rahim ibu yang Kristen, Yahudi
atau siapa. Kita enggak bisa milih. Nah,
tapi ya ketika kita lahir itu kalau
menurut kelompok Swiss Bretren ini, anak
bayi itu enggak boleh dipaksa untuk
menjadi seorang Kristen atau menjadi
seorang muslim atau menjadi seorang
Yahudi. Enggak boleh. biarkan dia
memilih nanti. Karena ketika bayi ya dia
itu kan tidak punya kesadaran untuk
memilih. Nah, kurang lebih begitulah
pemikiran mereka. Nah, mereka menganggap
kekristenan bayi tersebut adalah
keinginan orang tuanya. Sehingga
kekristenannya itu hanya sekedar
warisan. Nah, dan karena itulah mereka
enggak bisa dianggap sebagai seorang
Kristen yang baik karena tidak beriman
melalui panggilan hati. Menurut logika
orang Swiss Brethren ini. Dan oleh
karena itu ada beberapa tokoh dari Swiss
Breten yang menentang pembaptisan bayi
ini seperti Conrad Grebell dan juga
Felix Mans. Nah, walaupun menentang
pembaptisan bayi, orang-orang Swiss
Breten ini sebenarnya dibaptis juga sih,
Geng, ketika mereka masih bayi. Cuman
ketika mereka besar, mereka mempunyai
kesadaran yang berbeda. Jadi, mereka tuh
kayak ngomong, "Eh, kita dibaptis dari
bayi." Padahal kita enggak minta
dibaptis. kita enggak milih agama ini.
Kita enggak tergerak hati secara sadar
untuk memilih ini. Ini kan semua karena
orang tua kita. Nah, mereka akhirnya
memilih jalan yang berbeda. Mereka ini
memutuskan untuk melakukan pembaptisan
ulang sehingga gerakan mereka kemudian
dikenal sebagai ana baptis. Nah, kata
ana baptis ini diambil dari bahasa
Yunani. Ana yang berarti ulang, baptis
artinya membaptis. Sehingga anabtis
artinya adalah ya yang membaptis ulang.
Keyakinan yang dimiliki oleh kelompok
Swiss Breten ini bukan tanpa resiko,
Geng. Gereja dan pemerintahan Swiss di
saat itu merasa kalau gerakan kelompok
ini eh adalah ajaran yang sesat pada
saat itu. Dan mereka merasa terancam
karena semakin lama gerakannya ini
semakin besar. Makin banyak orang yang
ikut sadar dengan ya statement itu tadi
yang kayak kita kan lahir masih bayi
enggak tahu nih tiba-tiba dibaptis.
Berarti agama kita itu agama turunan
dong, agama warisan dong gitu. Jadi
orang-orang makin kayak oh iya juga ya
masuk akal gitu. Akhirnya bergabunglah
dengan Swiss Breten ini. Oleh karena
itu, gereja dan pemerintah di saat itu
berusaha untuk menekan Swiss Bretin ini
dengan menghentikan gerakan mereka. Nah,
termasuk dengan melakukan kekerasan.
Jadi, untuk menghentikannya itu ya
gimana ya bisa dikatakan tuh ya
ditekanlah mereka dihajar habis-habisan.
Nah, padahal ini adalah sesama orang
Kristen. Jadi, ibaratnya terjadi semacam
perang saudara l di antara orang-orang
Kristen ini. Karena merasa
didiskriminasi, kelompok Swiss Bretren
ini akhirnya pergi meninggalkan Swiss
dan mereka pun pindah menyebar tersebar
ke seluruh penjuru Eropa. Ya, ini sama
seperti orang Yahudi ketika diincar oleh
Nazi pada zaman itu. Mereka berpencar ke
mana-mana, kabur menyelamatkan diri.
Nah, persebaran orang-orang Swiss
Bretren ini pada akhirnya jadi ikut
menyebarkan gerakan Anabtis tadi. Jadi
mereka tuh sembari kabur, sembari
berdakwah lah ya, menyebarkan ajaran dan
ya ideologi mereka. Dan banyak
pemimpin-pemimpin negara yang mana ee di
tempat mereka kabur gitu ya, itu merasa
tertarik dengan logika mereka dan
akhirnya ikut gerakan tersebut. termasuk
salah satunya adalah Meno Simons.
Menosimons ini diangkat sebagai imam
Katolik pada tahun 1524 dan selama 10
tahun dia mencoba berdamai mengenai
keanggotaannya di Gereja Katolik Roma
dengan dukungannya terhadap gerakan
reformasi yang sedang terjadi pada saat
itu. Tapi ada satu peristiwa yang
mengubah sudut pandang dia secara
mendadak. Saat itu ya terjadi eksekusi
terhadap seseorang penganut Anabtis di
kota asalnya serta pendalaman Alkitab
yang beliau lakukan membuat Simons itu
menerima ajaran Anabtis. Jadi kayak dia
menemukan jalannya, menemukan apa ya
kalau bahasa di dalam agama Islamnya itu
menemukan hidayahnya lah. Tapi versi
Kristen gitu. Nah, dia menemukan
hidayahnya untuk menerima ana baptis
tadi. Dan Simons akhirnya itu berpindah
keyakinan pada tahun 1536 dan enggak
lama setelah terjadinya tragedi Monsta
di mana ada sekelompok anak baptis
radikal yang mengambil alih kota
tersebut dan menganiaya orang-orang yang
enggak mengikuti gerakan anak baptis dan
mereka mencoba untuk mendirikan
kekuasaan mereka. Jadi sudah mulai nih
anak baptis ini karena udah ramai
anggotanya mereka mulai melakukan
penyebaran agama secara paksa. Dan upaya
tersebut ternyata berhasil digagalkan
karena ana baptis itu dihancurkan oleh
pasukan gabungan dari Katolik dan juga
Protestan karena dianggap ya ini adalah
kesesatan ya. Ana Baptis itu dianggap
sesat oleh pihak Katolik dan Protestan.
Nah, semenjak saat itu, Geng,
Simenosimon tadi mulai merapikan dan
memperkuat gerakan ana baptis yang
moderat, yang modern di Eropa. Di saat
itu, dia juga mengedepankan ajaran
pasifisme, yaitu gerakan yang menolak
kekerasan dalam tradisi Anabis. Dia juga
menjadi pemimpin generasi kedua yang
membantu menyusun dasar iman dan doktrin
dari gerakan tersebut. Nah, dari namanya
dia ini jugalah akhirnya menjadilah
sebuah kelompok baru yang dikenal dengan
Mononight. Nah, asal kata mononight ini
adalah dari namanya
Menosimons. Itu awal mulanya. Dan selain
Menonight, ada kelompok anak baptis lain
yang dipimpin oleh Hans H. Terus ada
Hans Deng, terus ada Pilgram Marpek. Ada
juga gerakan lain yang dikenal sebagai
Hatterian Bradrin. Namun tetap aja,
Geng, karena merasa kalau ajaran Anda
baptis ini bertentangan dengan ajaran
Kristen, mereka selalu mendapatkan
diskriminasi sampai yang paling parah
itu terjadi di abad ke-16. Nah, hal
tersebut membuat kelompok Mononight
akhirnya pergi dari Belanda ke wilayah
Sungai Vistula yang di saat ini termasuk
ke dalam wilayah Polandia Utara.
Nah, selama mereka berada di sana,
koloni mononight ini berkembang dengan
sangat baik. Pada tahun 1700-an ya,
jumlah anggota mereka yang sudah
dibaptis ya dengan cara ana baptis tadi
di gereja-gereja mononight di Belanda
itu mencapai 160.000 orang anggota. Udah
banyak banget. Terus, Geng, di dalam hal
kepercayaan mereka ini mengikuti paham
pencerahan atau enlightment, sebuah
gerakan intelektual yang populer di abad
ke-17 dan 18 yang mana mereka percaya
bahwa manusia bisa menjadi lebih baik
melalui penggunaan akal sehat yang
benar. Nah, cuma geng banyak profesi
pekerjaan yang enggak terbuka untuk
mereka ya karena mereka anggota ini.
Sehingga komunitas Mononight ini beralih
ke dunia bisnis. Karena itulah banyak
anggota Mononight yang hidup
bergelimangan harta dan tinggal di
wilayah perkotaan. Nah, jadi semua itu
berawal dari hal pahit karena mereka
anggota Mononight. Mereka ini di apa ya?
Diblokir lah, diblacklist dari
pekerjaan-pekerjaan sebagai karyawan.
Mau enggak mau mereka harus berjuang
sendiri. Ada yang berusaha menjadi
pedagang, berbisnis dan lain-lain. Nah,
akhirnya mereka bekerja secara mandiri
untuk mendapatkan uang. Nah, tahu-tahu
malah mereka yang jadi orang kaya
bergelimangan harta. Nah, mereka juga
dikenal sebagai seniman, ada yang
penulis dan penggerak di bidang sosial.
Di sisi lain pada abad ke-18 jumlah
anggota Mononight ini menurun drastis
nih, Geng. Yang cuma menyisakan 15.000
orang pada tahun 1837. Nah, penurunan
jumlah anggota ini disebabkan dari
banyak faktor. Seperti keinginan untuk
mendapatkan posisi di pemerintahan,
hilangnya minat terhadap gereja karena
kekayaan mereka yang semakin besar, dan
ada ketertarikan terhadap ajaran
reformasi. Nah, jadi udah mencar-mencar
nih. Dan sementara itu di Swiss dalam
kurun waktu yang sama orang-orang
mononight ini masih mendapatkan
diskriminasi yang membuat mereka
akhirnya pindah ke Jerman selatan, Alses
yang di saat ini menjadi bagian dari
Prancis. Nah, terus ada juga yang pindah
ke Belanda dan Amerika Serikat dari abad
ke-17 sampai dengan abad ke-20. Sebagian
besar kaum mononaid ini ada di Swiss,
Jerman Selatan, dan Alses tadi. Nah,
mereka ini hidup di dalam komunitas
pedesaan yang semi tertutup dengan
ekonomi sederhana yang bergerak di
bidang pertanian. Nah, sementara
anggota-anggota Mononight yang sudah
kaya raya, yang tinggal di perkotaan itu
sudah mulai sedikit demi sedikit
meninggalkan Mononight ya, karena mereka
apa ya, udah terpengaruh dengan
kehidupan glamornya mereka gitu. Nah,
tersisalah orang-orang Mononight yang
hidupnya eh sederhana atau kalangan
bawah yang kebanyakan adalah petani.
Nah, untuk mononight yang ada di tiga
wilayah yang gua sebutkan tadi, mereka
ini dipengaruhi oleh paitisme. Sebuah
gerakan dalam pemahaman Lutheran yang
berfokus pada pengalaman iman dan
pemburuan rohani. Di tahun 178, banyak
orang-orang Mononet ini pindah dari
sungai Vistula ke wilayah selatan
kekaisaran Rusia yang sekarang menjadi
Ukraina, Geng. Nah, mereka mendapatkan
tanah dan bebas dari wajib militer. Pada
tahun 1835, ada sekitar 1600 keluarga
yang sudah menetap di 72 desa dan
memiliki lahan seluas sekitar 500.000
hektar di sana. Dan singkat cerita, pada
tahun 1860, sekelompok orang dari koloni
Mononight itu mendapatkan kebangkitan
rohani dan menuntut disiplin gereja yang
lebih ketat sehingga mereka mendirikan
gereja mononight Bradren tadi. Dan
sebagian dari anggotanya itu
meninggalkan kekaisaran Rusia bersama
dengan kelompok mononaite lain pada
tahun 1870-an setelah hak mereka untuk
bebas dari wajib militer dicabut. Nah,
banyak dari para imigran ini kemudian
menetap nih di Amerika Serikat dan juga
pindah ke Kanada. Tapi ada juga yang
memilih untuk ke wilayah Amerika Utara
dan selatan. Nah, meskipun dari
negara-negara yang berbeda, semuanya
memiliki latar belakang etnis Belanda
Prusia. Jadi, wajahnya
mirip-mirip. Nah, jadi kurang lebih
kayak gitu ya, Geng, penjelasannya. Ini
sejarah terbentuknya Mononight ini kayak
gimana. Oke, gua udah jelasin panjang
lebar nih, Geng, tentang awal mula dari
lahirnya koloni Mononight ini sampai
dengan perkembangannya yang tersebar di
berbagai negara. Sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan mengenai
ajaran serta kehidupan koloni mononight
yang jauh dari modernitas. Gimana sih?
Kita
bahas. Jadi, geng, kelompok Mononight
ini ya dari sungai Vistula itu menyebar
ke berbagai penjuru negara yang salah
satunya adalah ada di Argentina. Nah, di
pembahasan ini gua bakal fokus untuk
membahas mononight yang ada di
Argentinanya nih, Geng. Nah, jadi koloni
Mononight yang berjumlah 150-an orang di
saat itu pergi dari Rusia pada tahun
1948. Mereka ingin menuju ke Paraguay,
tapi mereka malah terdampar di Argentina
dan di saat itu sebagian besar dari
mereka menetap di daerah Buos Aires dan
mereka bercampur dengan masyarakat asli
Argentina. Kelompok Mononight yang sudah
terlebih dahulu ada di Paraguay ini
akhirnya bergabung dengan Mononight yang
ada di Argentina sehingga jumlah mereka
menjadi bertambah sekitar 400-an orang
di pertengahan tahun 1950-an. Dan
singkat cerita, tahun 1986 ada
sekelompok orang di Mononight yang
sangat konservatif. Mereka ini berasal
dari koloni Kapulin namanya yang
terletak di kota Neofokasas Grandis di
bagian utara Chihuahua, Mexico. Koloni
Capulin ini datang ke Argentina kemudian
mendirikan koloni sendiri yang bernama
Laneva Esperanza yang terletak 40 km
dari Guatrahi, Lapampa. Nah, lalu datang
koloni kedua yang berasal dari Mononight
di Durango, Mexico dan mendirikan koloni
di dekat Pampa The Los Guanachos di
Santiago del Estero pada tahun
1995. Tapi nih geng, ya, gua enggak
bakal membahas soal Mononight kalau ini
kelompok enggak ada yang unik, ya. Kalau
koloni ini enggak ada yang unik. Memang
saat ini kelompok Mononite itu udah
tersebar di berbagai wilayah, tapi
enggak semuanya memiliki tradisi yang
sama. Jadi bisa gua katakan ya, yang gua
ceritakan ini adalah Mononight yang
memang memiliki tradisi yang aneh dan
unik banget. Jadi, ada kelompok
Mononight di Argentina terkhususnya yang
tinggal di dekat Pampa, The Los
Guanacos, ya. Mereka itu menjalani
kehidupan sehari-hari enggak sama
seperti kita. Karena mereka sama sekali
enggak diperbolehkan untuk menggunakan
teknologi. Mereka sama sekali enggak
boleh punya HP, TV, bahkan mobil pun
enggak ada di sana. Untuk menempuh
perjalanan yang lumayan jauh, mereka itu
harus pakai kereta kuda. Satu-satunya
kemajuan teknologi yang bisa kalian
lihat itu cuma dari mesin traktor yang
dipergunakan oleh orang Mononite untuk
bertani. Karena kalau enggak menggunakan
traktor, mereka bakal kesulitan untuk
memanen dengan tangan manusia ya, tangan
kosong di lahan yang luasnya
berhektar-hektar. Jadi untuk ee
teknologi yang mereka gunakan ya paling
enggak ada traktor. Nah, cuma traktornya
ini beda dari traktor yang lain, Geng.
Karena di bagian rodanya traktor yang
digunakan oleh komunitas Mononight ini
menggunakan roda yang terbuat dari
logam. Nah, hal ini dikarenakan karena
koloni Mononite di Pampa The Los
Guanacos itu percaya kalau penggunaan
roda karet di barang yang memiliki mesin
sebagai penggeraknya atau kayak mobil
ada bannya gitu ya. Nah, itu
bertentangan dengan ajaran agama mereka.
Enggak bisa tuh. Nah, roda karet itu
cuma digunakan untuk kereta kuda yang
mereka kendarai setiap hari ketika
mereka ingin ibadah ke gereja. Kereta
kudanya juga dibuat oleh anggota dari
Mononight sendiri. Nah, kalau mereka mau
keluar rumah mereka tuh harus
menggunakan topi. Kalau yang laki-laki
topinya itu mirip koboy gitu, Geng. Dan
menggunakan baju overall. Dan anak
laki-laki serta perempuan juga tidak
berbaur kecuali kalau mereka berasal
dari keluarga yang sama. Jadi,
semisalkan mereka bertemu di jalan,
mereka harus menundukkan wajah agar
tidak menatap satu sama lain. Wah, ini
kayak apa ya? Ya, ajaran agamanya kayak
gitu kali ya. Jadi enggak boleh menatap
perempuan supaya tidak nafsu mungkin.
Dan setiap acara makan ya, anggota
keluarga laki-laki dan perempuan
terpisah dan saling berhadapan. Yang
laki-laki di kanan, perempuan di kiri.
Sementara kepala keluarga akan duduk di
ujung-ujung meja. Nah, acara makan itu
dimulai dengan doa dan ketika mereka
menyanta makanan, suasananya hampir
hening. Enggak boleh tuh ada suara tang
ting tang ting kayak cara lu makan ee
ayam geprek atau pecel ayam. Ya, enggak
ada tuh di sana. Sana tuh harus hening
gitu. Dan enggak ada satuun yang boleh
berbicara. Hanya terdengar suara dari
peralatan makan yang mereka gunakan
selama acara makan itu juga enggak yang
kayak itu tadi kayak suara pedang,
enggak. Dan setelah mereka selesai
makan, yang laki-laki bakal meninggalkan
meja makan dan bertukar giliran dengan
anak-anak dan yang perempuan akan
mengatur tempat duduk anak-anak tersebut
berdasarkan jenis kelamin mereka dan
usia mereka. Gila, teratur banget
hidupnya. Dan anak-anak pun dididik
dengan ketat di sana. Mereka enggak sama
sekali diperbolehkan untuk menggunakan
teknologi ataupun mainan. Jadi enggak
ada anak kecil dari Mononight yang
tantrum minta handphone atau minta tab
atau minta iPad. Enggak ada. Dan sistem
pendidikan yang diterapkan oleh koloni
monet ini juga masih jadi misteri, Geng.
Karena koloni monet ini yang cenderung
tertutup dan enggak mau memberikan
informasi mengenai kehidupan mereka di
sana. Jadi enggak ada yang tahu gimana
sih mereka mendidik anak mereka. Nah,
tapi anak laki-laki itu dikatakan bakal
bersekolah mencapai usia 13 tahun.
Sementara anak perempuan lebih cepat 1
tahun. Anak perempuan mereka bersekolah
hingga mereka mencapai usia 12 tahun.
Jadi kalau kita ngomong sekolah juga ya
paling apa ya kayak mungkin kayak di
kampung-kampung belajar ngaji, belajar
budaya kayak gitu-gitu sih. Bukan yang
sekolah reguler yang kayak kita pikirkan
gitu. Karena mereka benar-benar menolak
yang namanya modernisasi. Dan orang yang
bukan berasal dari koloni Mononight itu
dilarang untuk masuk ke gereja dan
sekolah mereka. Bahkan untuk sekedar
mendekati bangunan tersebut pun enggak
boleh saking mereka tertutupnya.
Terus, Geng, ada kesenjangan nih antara
laki-laki dan perempuan di dalam
komunitas ini. Yang mana di dalam
komunikasi sehari-hari mereka
menggunakan sebuah bahasa yang disebut
dengan plaudia ya, sebuah varian dialek
bahasa Jerman rendah. Meskipun mereka
tinggal di Argentina yang mayoritasnya
orang menggunakan bahasa Spanyol, nah
para perempuan mononight itu enggak bisa
bahasa Spanyol. Jadi, yang mereka bisa
cuma bahasa plaudiage tadi dan itu juga
merupakan bahasa Jerman kayak bahasa
Jerman kuno gitu. Dan ini semua
disebabkan karena perempuan Mononight
enggak pernah pergi ke manapun. Mereka
cuma berada di dalam koloni mereka
doang. Jadi enggak pernah berinteraksi
dengan masyarakat luas. Dan sehari-hari
mereka cuma di rumah aja. Membersihkan
rumah, masak, dan mengurus anak-anak.
Bahkan mereka juga harus menjahit baju
bagi anggota keluarga. Benar-benar hidup
tradisional, Geng. Karena itulah para
perempuan Mononight ini enggak punya
kesempatan untuk belajar bahasa Spanyol.
Namun kemajuan teknologi adalah sesuatu
yang sulit ditolak sekalipun bagi
komunitas yang menolaknya. Ya, banyak
anak muda di sana yang mulai terpapar
dengan teknologi. Padahal itu dilarang
di dalam tradisi dan agama mereka. Nah,
tapi kalian bayangkan aja nih. Mereka
tuh punya radio, punya handphone udah
kayak kriminal. Mereka simpan itu secara
diam-diam untuk bisa didengarkan atau
mengetahui bagaimana kehidupan di luar
komunitas mereka. Yang mana mereka itu
sudah mulai penasaran. Nah, semisalkan
ada anak muda yang ketahuan menyimpan
handphone atau melakukan pelanggaran
lain seperti ya menyimpan alkohol, minum
alkohol, mereka bakal mendapatkan
hukuman.
Terus, Geng, pengaruh teknologi ini juga
menjadi alasan bagi beberapa orang yang
memutuskan untuk keluar dari komunitas
Mononight. Salah satunya mantan anggota
Mononight yang bernama David. David ini
bercerita, Geng. Dia bilang, "Kenapa
handphone enggak boleh digunakan oleh
anggota Mononight?" Karena mereka
berpikir kalau handphone itu adalah
barang setan. Barang yang jahat karena
bisa digunakan untuk hal-hal buruk. Wah,
setuju sih gua.
Karena mereka bilang ini adalah barang
setan yang bisa digunakan untuk hal-hal
buruk. Padahal kalau digunakan secara
normal saya rasa tidak ada yang
salah. Salah satu hal buruk yang
digunakan menggunakan handphone adalah
selingkuh. Nah, itu bahaya tuh.
Selingkuh, nonton-nonton film-film dewas
A, ngerekam-ngerekam yang enggak benar.
Nah, itu itu adalah ee apa ya? Ee barang
setan. Fix barang setan. Nah, padahal
nih ya, Geng ya. Menurut David kalau
handphone itu dia gunakan secara normal
ya enggak akan ada salahnya. Sejak dulu
David ini selalu bertanya kenapa
handphone dilarang tapi enggak satu pun
bisa menjelaskan yang David tanya yang
ada dari pertanyaannya tersebut ya dia
malah makin bingung. Dan sampai suatu
hari David ini nekad untuk membeli radio
agar dia bisa mendengar berita dan
musik. Pada saat pertama kali dia
mendengar radio, David merasa senang
banget karena akhirnya dia bisa
mengetahui apa yang terjadi di luar
komunitasnya. Tapi meskipun melakukan
pelanggaran karena sudah memiliki
teknologi, dia enggak diasingkan dan dia
juga enggak dikeluarkan dari komunitas
tersebut. Tapi David ini sendirilah yang
memilih untuk meninggalkan Mononight
sekitar 4 tahun yang lalu. Jadi
benar-benar dia sendiri yang milih
kayak, "Wah, udah enggak benar nih
komunitas nih, gua keluar deh." Alasan
David ini selain segala peraturan yang
enggak masuk akal buat dia, David juga
memikirkan anak-anaknya nanti karena dia
enggak melihat masa depan anak-anaknya
ada di kelompok Mononight ini. Meskipun
David ini sendiri juga enggak tahu
gimana kehidupan anak-anaknya di luar
komunitas Mononight, tapi setidaknya
anak-anaknya jadi tahu kalau di dunia
ini ya itu ada dunia lain di luar sana
yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan kelompok Mononight dan
anak-anaknya jadi tahu mengenai dunia
luar enggak seperti dia yang tumbuh
besar di dalam Mononight yang sangat
tertutup. Nah, David juga enggak pernah
mau lagi kembali ke Mononight sekalipun
tempat tersebut pernah dia anggap
sebagai rumah. hubungannya dengan
keluarganya yang masih tinggal di koloni
Mononight itu akhirnya terputus habis.
Dan sejak keluarnya David ini dari
koloni tersebut mereka enggak pernah
berkomunikasi
lagi. Terus geng di sisi lain ada
kelompok Mononight yang jauh lebih
terbuka terhadap teknologi sebenarnya
yang terletak di kota San Jose de
Meitan. Nah, di dalam koloni Monight
yang ada di Metan ini ada seorang
anggota koloni baru yang meninggalkan
koloninya yang lama yaitu Nueva
Esperanza. Dia ini bernama Abraham. Dari
ceritanya, orang-orang koloni lamanya
selalu menganggap dia memiliki kebiasaan
buruk karena Abraham selalu minum bir,
ngerokok, ya mengkonsumsi kok yang mana
itu semua dilarang oleh komunitas
Abraham sebelumnya. Dan orang-orang di
dalam komunitas lamanya ini selalu
menganggap kebiasaan buruk Abraham itu
disebabkan karena dia dipengaruhi oleh
setan. Nah, di suatu waktu Abraham
ketahuan punya handphone dan dia
mendapatkan hukuman anak-anaknya
dikeluarkan dari sekolah dan Abraham
jadi kehilangan pekerjaan di sana. Nah,
merasa dia dan keluarganya terasingkan
karena hukuman yang dia dapatkan,
Abraham merasa enggak tahan lagi
sehingga dia memutuskan untuk keluar
dari tempat tersebut dan pindah ke
koloni barunya yang ada di Meitan
bersama dengan istrinya yang bernama
Sarah serta anak-anaknya. Masih ada
keluarga Abraham dan Sarah di Nueva
Esperanza ini. Salah satunya adalah yang
bernama Eva. Nah, saudara perempuan
Sarah. Walaupun dari penjelasan Abraham,
Nueva Esperanza menerapkan peraturan
yang ketat, tapi itu enggak dilakukan
oleh keluarganya Eva. Suaminya yang
bernama Abraham Lawen itu secara terbuka
mengatakan kalau dia memiliki handphone.
Tapi mereka ya punya alasan tersendiri
kenapa punya handphone ya karena
handphone tersebut digunakan oleh Eva
dan Abraham Laan untuk menghubungi Sarah
dan juga Abraham. Nah, Eva dan Abraham
Laon itu gak takut. Padahal jelas-jelas
keluarganya diasingkan karena ketahuan
punya handphone. Semisalkan ketahuan,
mereka tinggal menyerahkan handphone-nya
aja dan enggak perlu berbohong. Nah,
kalaupun HP-nya Disita, Abraham Laon ini
mengatakan dia bisa beli handphone lagi
yang baru. Ya, yang paling
mengagetkannya adalah Abraham Laon ini
bilang kalau komunitas Mononight Nueva
Esperanza itu enggak mau memberitahu
orang asing kalau sebenarnya ada anggota
yang memiliki handphone. Soalnya
orang-orang tahunya mereka enggak boleh
pakai teknologi apapun seperti
handphone. Nah, jadi ditutup-tutupilah
gitu. Dan di internet ya orang-orang
Mononight ini identik dengan penolakan
mereka terhadap teknologi dan itu
menjadi daya tarik mereka tersendiri
sebagai sebuah komunitas beragama. Dan
oleh karena itu banyak turis yang datang
ke koloni mononight Nueva Esperanza dan
pada akhirnya ya ini mendatangkan cuan
bagi mereka orang-orang kelompok
Mononight. Kalau kita lihat dari video
dokumenter yang dibuat oleh media DW
ketika jurnalis DW mendatangi koloni
Mononight, orang-orang Mononight ini ya
kayak enggak mau menatap, merasa
terganggu. Bahkan ada yang secara
terang-terangan berteriak melarang untuk
merekam. Nah, kelihatannya ya kayak
tertutup banget, Geng, dengan orang luar
ya. Tapi kalau dari penjelasan Abraham
Lon, ternyata itu semua merupakan sebuah
kamuflase. Tujuannya adalah agar
turis-turis jadi penasaran dan mau
berkunjung ke sana. Dan ternyata benar
aja, di akhir video DW memperlihatkan
kalau ada segerombolan turis yang
mendatangi koloni Mononight. image yang
awalnya terlihat kalau mereka sangat
tertutup dengan orang asing, tapi
berbeda 180 derajat ketika turis yang
datang. Nah, mereka terlihat ramah dan
welcome gitu. Ada yang berfoto dengan
anak-anak mononight terus diperbolehkan
masuk ke dalam rumah anggota. Para turis
juga disajikan makanan. Bahkan para
turis diperbolehkan untuk melihat bagian
dalam dari gereja yang padahal katanya
orang asing enggak boleh ya mendekat.
Orang-orang Mononight juga memanfaatkan
kedatangan turis untuk menjual berbagai
snack serta oleh-oleh. Dan harga
kunjungan turis ke koloni Mononight itu
dipatok dengan tarif 60o atau setara
dengan Rp1,1 juta per orangnya. Gila,
mahal banget. Dan biasanya ada sekitar
30 turis yang datang ke koloni
Mononight. Nah, itu artinya mereka bisa
mendapatkan R3 juta untuk satu rombongan
turis. Dan kabarnya nih, Geng, kunjungan
turis itu dilakukan setiap seminggu
sekali. Berarti dalam sebulan mereka
bisa meraup keuntungan sekitar Rp13 juta
kurang lebih. Banyak banget
ya. Nah, terlepas dari bagaimana ajaran
mereka yang menolak modernitas ya enggak
mau menjadi modern menolak teknologi.
Rupanya perlahan-lahan anggota koloni
Mononight juga sudah banyak yang
terpapar oleh ya kemajuan teknologi.
Entah mereka benar-benar menerapkan
larangan tersebut karena menjaga
keyakinan mereka terhadap ajaran agama
yang mereka anut gitu ya. atau justru
mereka ini berusaha untuk menutupi hal
tersebut karena untuk mempertahankan
ketertarikan turis-turis agar masih
terus mengunjungi koloni mononight dan
mereka bisa mendapatkan uang dari sana
ya karena ternyata ada nilai jual dari
keyakinan yang mereka buat dan hal ini
membuat mereka semakin terkenal di dunia
luar yang penasaran terhadap kehidupan
mereka selama ini. Nah, jadi kurang
lebih kayak gitu,
Geng. Itu dia, Geng. Pembahasan kita
kali ini mengenai koloni mononight yang
merupakan sebuah kelompok Kristen yang
menolak modernitas. Apakah menurut
kalian mereka memang benar-benar enggak
menggunakan teknologi atau itu adalah
salah satu cara mereka untuk terus
menarik turis supaya datang dan
menghasilkan uang? Coba deh tinggalkan
komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:33 UTC
Categories
Manage