UMAT KRISTEN MENNONITE YANG TIDAK PERCAYA BAPTIS DAN TOLAK HIDUP MODERN !
VvOmMTScP98 • 2025-06-09
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Oke, Geng. Kemarin kita membahas, ya mengenai perusahaan yang bernama Cruso yang menggarap sebuah project untuk pembuatan AI yang canggih dan bahkan bisa melatih AI lain agar bisa mencapai kecerdasan yang melampaui kecerdasan manusia. Ini menunjukkan kepada kita kalau saat ini peradaban manusia sudah semakin gila-gilaan. ya, makin banyak penemuan-penemuan dan teknologi-teknologi yang bakal menggantikan peran manusia di dalam berbagai bidang, terutama bidang pekerjaan. Walaupun pada akhirnya ya ini semua bisa diperdebatkan apakah kecanggihan teknologi ini bisa membuat maju peradaban manusia atau justru menghancurkan peradaban. Nah, terlepas dari semua itu, Geng, gua mau membahas sebuah topik yang cukup menarik kali ini, ya. Karena ternyata, Geng, ya, ada sekelompok orang yang ee mengatasnamakan mereka sebagai kelompok beragama dari salah satu agama yang terbesar di muka bumi ini. Dan mereka ini ya keberadaannya untuk menolak modernitas dan menolak kemajuan peradaban. Jadi, teknologi-teknologi yang baru itu mereka enggak terima. Mungkin hal ini bakal mengingatkan kalian kepada salah satu suku yang ada di Indonesia, yaitu suku Badui yang mana mereka tidak mau menerapkan e modernitas di dalam kehidupan mereka. Mereka enggak pakai listrik, enggak pakai internet, dan enggak pakai kendaraan gitu kan. Nah, tapi kali ini yang gua bahas nih agak beda. Bukan badu ini. Karena ini bukan suku, melainkan sebuah kelompok agama. namanya itu adalah koloni Menonight. Ya, ini merupakan sebuah kelompok agama yang berasal dari luar negeri. Nah, Menonight ini bukan sebuah aliran sesat, Geng. Karena komunitas ini bahkan sudah ada sejak abad ke-16. Jadi, udah lama banget di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, mereka ini enggak seperti kita manusia modern sekarang yang mungkin udah sering banget menggunakan teknologi. Nah, tapi mereka ini sama sekali enggak menggunakan teknologi tersebut. Bahkan bisa dikatakan mereka dilarang di dalam aturan agama mereka dilarang untuk menggunakan teknologi. Kami tidak punya mobil, radio, ponsel, tidak ada apa-apa. Saya anti dengan ponsel dan internet karena bisa mengubah tingkah laku orang. Nah, handphone mereka enggak punya, radio enggak punya, TV apalagi mereka enggak punya, mobil enggak punya juga. Nah, di video kali ini gua mau mengajak kalian untuk melihat nih ini gimana sih kehidupan koloni Menonite ini. Apa yang mereka lakukan ya? Apakah mereka benar-benar hidup tanpa adanya teknologi dan mereka ini sebenarnya pecahan dari agama apa ya? Dasar dari kelompok ini itu berasal dari agama apa? Nah, sekarang kita akan bahas selengkapnya. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Genggeng. Oke, sebelum kita bahas kontroversinya, kita bahas dulu sejarah awal mula terbentuknya koloni Menonite ini. Jadi, untuk bisa melihat lebih jauh mengenai kehidupan dari koloni Menonight ya, gua mau jelasin dulu, Geng, gimana awalnya terbentuk koloni ini. Dilihat dari sejarahnya nih ya, Menonight ini berasal dari sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai Swiss Brethren. Ya, ini koreksi gua kalau salah dalam pengucapannya. Mereka ini agak bersinggungan dengan peristiwa reformasi gereja, Geng. Nah, kalau kalian belum tahu apa itu reformasi gereja, bisa nonton video gua yang ini. Jadi, kalian ggak bingung pas gua ngejelasin koloni Menonight ini. Oke, kita lanjutin lagi. Jadi, pas itu kan ada reformasi gereja nih, ya, sedang bergejolak. Nah, di berbagai negara yang pengaruh kekristenannya kuat termasuk salah satunya di wilayah Swiss pada tahun 1525. Nah, asal muasalnya dari perpecahan agama Kristen nih. Dan waktu itu ada gerakan dari Martin Luther yang mengkritisi segala peraturan gereja. Nah, cuma Swiss Bretren ini enggak tergabung ke dalam gerakannya si Martin Luther, Geng. Nah, tapi mereka juga bukan gerakan yang justru mendukung gereja di saat itu. Nah, Swiss Breten ini adalah sebuah gerakan baru berbeda dari kedua belah pihak tadi. Apa bedanya nih Swiss Bretin ini dengan gerakan Martin Luther serta gerakan gereja? Nah, jadi geng mereka ini memiliki keyakinan yang berbeda ya, agak berbeda. Mereka mempercayai kalau keimanan itu bukanlah warisan yang diturunkan, tapi adalah sebuah pilihan yang sadar setiap umat manusia. Mereka menolak prosesi pembaptisan bayi yang mana baptis ini menjadi salah satu hal yang wajib nih diikuti oleh bayi-bayi yang lahir dari orang tuanya yang menganut agama Kristen. Nah, bagi kelompok Swiss Bretin cuma orang yang secara sadar atau memilih percaya dengan Yesuslah yang pantas untuk menjadi bagian dari gereja. Nah, mereka berpikir ketika bayi mereka kan belum mengetahui apa yang mereka pilih. Ya, ibaratnya gini deh secara logiknya ya. Ini kan berpikir tentang kita tuh lahir tuh enggak enggak enggak milih dari rahim siapa. Rahim ibu yang muslim, rahim ibu yang Kristen, Yahudi atau siapa. Kita enggak bisa milih. Nah, tapi ya ketika kita lahir itu kalau menurut kelompok Swiss Bretren ini, anak bayi itu enggak boleh dipaksa untuk menjadi seorang Kristen atau menjadi seorang muslim atau menjadi seorang Yahudi. Enggak boleh. biarkan dia memilih nanti. Karena ketika bayi ya dia itu kan tidak punya kesadaran untuk memilih. Nah, kurang lebih begitulah pemikiran mereka. Nah, mereka menganggap kekristenan bayi tersebut adalah keinginan orang tuanya. Sehingga kekristenannya itu hanya sekedar warisan. Nah, dan karena itulah mereka enggak bisa dianggap sebagai seorang Kristen yang baik karena tidak beriman melalui panggilan hati. Menurut logika orang Swiss Brethren ini. Dan oleh karena itu ada beberapa tokoh dari Swiss Breten yang menentang pembaptisan bayi ini seperti Conrad Grebell dan juga Felix Mans. Nah, walaupun menentang pembaptisan bayi, orang-orang Swiss Breten ini sebenarnya dibaptis juga sih, Geng, ketika mereka masih bayi. Cuman ketika mereka besar, mereka mempunyai kesadaran yang berbeda. Jadi, mereka tuh kayak ngomong, "Eh, kita dibaptis dari bayi." Padahal kita enggak minta dibaptis. kita enggak milih agama ini. Kita enggak tergerak hati secara sadar untuk memilih ini. Ini kan semua karena orang tua kita. Nah, mereka akhirnya memilih jalan yang berbeda. Mereka ini memutuskan untuk melakukan pembaptisan ulang sehingga gerakan mereka kemudian dikenal sebagai ana baptis. Nah, kata ana baptis ini diambil dari bahasa Yunani. Ana yang berarti ulang, baptis artinya membaptis. Sehingga anabtis artinya adalah ya yang membaptis ulang. Keyakinan yang dimiliki oleh kelompok Swiss Breten ini bukan tanpa resiko, Geng. Gereja dan pemerintahan Swiss di saat itu merasa kalau gerakan kelompok ini eh adalah ajaran yang sesat pada saat itu. Dan mereka merasa terancam karena semakin lama gerakannya ini semakin besar. Makin banyak orang yang ikut sadar dengan ya statement itu tadi yang kayak kita kan lahir masih bayi enggak tahu nih tiba-tiba dibaptis. Berarti agama kita itu agama turunan dong, agama warisan dong gitu. Jadi orang-orang makin kayak oh iya juga ya masuk akal gitu. Akhirnya bergabunglah dengan Swiss Breten ini. Oleh karena itu, gereja dan pemerintah di saat itu berusaha untuk menekan Swiss Bretin ini dengan menghentikan gerakan mereka. Nah, termasuk dengan melakukan kekerasan. Jadi, untuk menghentikannya itu ya gimana ya bisa dikatakan tuh ya ditekanlah mereka dihajar habis-habisan. Nah, padahal ini adalah sesama orang Kristen. Jadi, ibaratnya terjadi semacam perang saudara l di antara orang-orang Kristen ini. Karena merasa didiskriminasi, kelompok Swiss Bretren ini akhirnya pergi meninggalkan Swiss dan mereka pun pindah menyebar tersebar ke seluruh penjuru Eropa. Ya, ini sama seperti orang Yahudi ketika diincar oleh Nazi pada zaman itu. Mereka berpencar ke mana-mana, kabur menyelamatkan diri. Nah, persebaran orang-orang Swiss Bretren ini pada akhirnya jadi ikut menyebarkan gerakan Anabtis tadi. Jadi mereka tuh sembari kabur, sembari berdakwah lah ya, menyebarkan ajaran dan ya ideologi mereka. Dan banyak pemimpin-pemimpin negara yang mana ee di tempat mereka kabur gitu ya, itu merasa tertarik dengan logika mereka dan akhirnya ikut gerakan tersebut. termasuk salah satunya adalah Meno Simons. Menosimons ini diangkat sebagai imam Katolik pada tahun 1524 dan selama 10 tahun dia mencoba berdamai mengenai keanggotaannya di Gereja Katolik Roma dengan dukungannya terhadap gerakan reformasi yang sedang terjadi pada saat itu. Tapi ada satu peristiwa yang mengubah sudut pandang dia secara mendadak. Saat itu ya terjadi eksekusi terhadap seseorang penganut Anabtis di kota asalnya serta pendalaman Alkitab yang beliau lakukan membuat Simons itu menerima ajaran Anabtis. Jadi kayak dia menemukan jalannya, menemukan apa ya kalau bahasa di dalam agama Islamnya itu menemukan hidayahnya lah. Tapi versi Kristen gitu. Nah, dia menemukan hidayahnya untuk menerima ana baptis tadi. Dan Simons akhirnya itu berpindah keyakinan pada tahun 1536 dan enggak lama setelah terjadinya tragedi Monsta di mana ada sekelompok anak baptis radikal yang mengambil alih kota tersebut dan menganiaya orang-orang yang enggak mengikuti gerakan anak baptis dan mereka mencoba untuk mendirikan kekuasaan mereka. Jadi sudah mulai nih anak baptis ini karena udah ramai anggotanya mereka mulai melakukan penyebaran agama secara paksa. Dan upaya tersebut ternyata berhasil digagalkan karena ana baptis itu dihancurkan oleh pasukan gabungan dari Katolik dan juga Protestan karena dianggap ya ini adalah kesesatan ya. Ana Baptis itu dianggap sesat oleh pihak Katolik dan Protestan. Nah, semenjak saat itu, Geng, Simenosimon tadi mulai merapikan dan memperkuat gerakan ana baptis yang moderat, yang modern di Eropa. Di saat itu, dia juga mengedepankan ajaran pasifisme, yaitu gerakan yang menolak kekerasan dalam tradisi Anabis. Dia juga menjadi pemimpin generasi kedua yang membantu menyusun dasar iman dan doktrin dari gerakan tersebut. Nah, dari namanya dia ini jugalah akhirnya menjadilah sebuah kelompok baru yang dikenal dengan Mononight. Nah, asal kata mononight ini adalah dari namanya Menosimons. Itu awal mulanya. Dan selain Menonight, ada kelompok anak baptis lain yang dipimpin oleh Hans H. Terus ada Hans Deng, terus ada Pilgram Marpek. Ada juga gerakan lain yang dikenal sebagai Hatterian Bradrin. Namun tetap aja, Geng, karena merasa kalau ajaran Anda baptis ini bertentangan dengan ajaran Kristen, mereka selalu mendapatkan diskriminasi sampai yang paling parah itu terjadi di abad ke-16. Nah, hal tersebut membuat kelompok Mononight akhirnya pergi dari Belanda ke wilayah Sungai Vistula yang di saat ini termasuk ke dalam wilayah Polandia Utara. Nah, selama mereka berada di sana, koloni mononight ini berkembang dengan sangat baik. Pada tahun 1700-an ya, jumlah anggota mereka yang sudah dibaptis ya dengan cara ana baptis tadi di gereja-gereja mononight di Belanda itu mencapai 160.000 orang anggota. Udah banyak banget. Terus, Geng, di dalam hal kepercayaan mereka ini mengikuti paham pencerahan atau enlightment, sebuah gerakan intelektual yang populer di abad ke-17 dan 18 yang mana mereka percaya bahwa manusia bisa menjadi lebih baik melalui penggunaan akal sehat yang benar. Nah, cuma geng banyak profesi pekerjaan yang enggak terbuka untuk mereka ya karena mereka anggota ini. Sehingga komunitas Mononight ini beralih ke dunia bisnis. Karena itulah banyak anggota Mononight yang hidup bergelimangan harta dan tinggal di wilayah perkotaan. Nah, jadi semua itu berawal dari hal pahit karena mereka anggota Mononight. Mereka ini di apa ya? Diblokir lah, diblacklist dari pekerjaan-pekerjaan sebagai karyawan. Mau enggak mau mereka harus berjuang sendiri. Ada yang berusaha menjadi pedagang, berbisnis dan lain-lain. Nah, akhirnya mereka bekerja secara mandiri untuk mendapatkan uang. Nah, tahu-tahu malah mereka yang jadi orang kaya bergelimangan harta. Nah, mereka juga dikenal sebagai seniman, ada yang penulis dan penggerak di bidang sosial. Di sisi lain pada abad ke-18 jumlah anggota Mononight ini menurun drastis nih, Geng. Yang cuma menyisakan 15.000 orang pada tahun 1837. Nah, penurunan jumlah anggota ini disebabkan dari banyak faktor. Seperti keinginan untuk mendapatkan posisi di pemerintahan, hilangnya minat terhadap gereja karena kekayaan mereka yang semakin besar, dan ada ketertarikan terhadap ajaran reformasi. Nah, jadi udah mencar-mencar nih. Dan sementara itu di Swiss dalam kurun waktu yang sama orang-orang mononight ini masih mendapatkan diskriminasi yang membuat mereka akhirnya pindah ke Jerman selatan, Alses yang di saat ini menjadi bagian dari Prancis. Nah, terus ada juga yang pindah ke Belanda dan Amerika Serikat dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-20. Sebagian besar kaum mononaid ini ada di Swiss, Jerman Selatan, dan Alses tadi. Nah, mereka ini hidup di dalam komunitas pedesaan yang semi tertutup dengan ekonomi sederhana yang bergerak di bidang pertanian. Nah, sementara anggota-anggota Mononight yang sudah kaya raya, yang tinggal di perkotaan itu sudah mulai sedikit demi sedikit meninggalkan Mononight ya, karena mereka apa ya, udah terpengaruh dengan kehidupan glamornya mereka gitu. Nah, tersisalah orang-orang Mononight yang hidupnya eh sederhana atau kalangan bawah yang kebanyakan adalah petani. Nah, untuk mononight yang ada di tiga wilayah yang gua sebutkan tadi, mereka ini dipengaruhi oleh paitisme. Sebuah gerakan dalam pemahaman Lutheran yang berfokus pada pengalaman iman dan pemburuan rohani. Di tahun 178, banyak orang-orang Mononet ini pindah dari sungai Vistula ke wilayah selatan kekaisaran Rusia yang sekarang menjadi Ukraina, Geng. Nah, mereka mendapatkan tanah dan bebas dari wajib militer. Pada tahun 1835, ada sekitar 1600 keluarga yang sudah menetap di 72 desa dan memiliki lahan seluas sekitar 500.000 hektar di sana. Dan singkat cerita, pada tahun 1860, sekelompok orang dari koloni Mononight itu mendapatkan kebangkitan rohani dan menuntut disiplin gereja yang lebih ketat sehingga mereka mendirikan gereja mononight Bradren tadi. Dan sebagian dari anggotanya itu meninggalkan kekaisaran Rusia bersama dengan kelompok mononaite lain pada tahun 1870-an setelah hak mereka untuk bebas dari wajib militer dicabut. Nah, banyak dari para imigran ini kemudian menetap nih di Amerika Serikat dan juga pindah ke Kanada. Tapi ada juga yang memilih untuk ke wilayah Amerika Utara dan selatan. Nah, meskipun dari negara-negara yang berbeda, semuanya memiliki latar belakang etnis Belanda Prusia. Jadi, wajahnya mirip-mirip. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu ya, Geng, penjelasannya. Ini sejarah terbentuknya Mononight ini kayak gimana. Oke, gua udah jelasin panjang lebar nih, Geng, tentang awal mula dari lahirnya koloni Mononight ini sampai dengan perkembangannya yang tersebar di berbagai negara. Sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai ajaran serta kehidupan koloni mononight yang jauh dari modernitas. Gimana sih? Kita bahas. Jadi, geng, kelompok Mononight ini ya dari sungai Vistula itu menyebar ke berbagai penjuru negara yang salah satunya adalah ada di Argentina. Nah, di pembahasan ini gua bakal fokus untuk membahas mononight yang ada di Argentinanya nih, Geng. Nah, jadi koloni Mononight yang berjumlah 150-an orang di saat itu pergi dari Rusia pada tahun 1948. Mereka ingin menuju ke Paraguay, tapi mereka malah terdampar di Argentina dan di saat itu sebagian besar dari mereka menetap di daerah Buos Aires dan mereka bercampur dengan masyarakat asli Argentina. Kelompok Mononight yang sudah terlebih dahulu ada di Paraguay ini akhirnya bergabung dengan Mononight yang ada di Argentina sehingga jumlah mereka menjadi bertambah sekitar 400-an orang di pertengahan tahun 1950-an. Dan singkat cerita, tahun 1986 ada sekelompok orang di Mononight yang sangat konservatif. Mereka ini berasal dari koloni Kapulin namanya yang terletak di kota Neofokasas Grandis di bagian utara Chihuahua, Mexico. Koloni Capulin ini datang ke Argentina kemudian mendirikan koloni sendiri yang bernama Laneva Esperanza yang terletak 40 km dari Guatrahi, Lapampa. Nah, lalu datang koloni kedua yang berasal dari Mononight di Durango, Mexico dan mendirikan koloni di dekat Pampa The Los Guanachos di Santiago del Estero pada tahun 1995. Tapi nih geng, ya, gua enggak bakal membahas soal Mononight kalau ini kelompok enggak ada yang unik, ya. Kalau koloni ini enggak ada yang unik. Memang saat ini kelompok Mononite itu udah tersebar di berbagai wilayah, tapi enggak semuanya memiliki tradisi yang sama. Jadi bisa gua katakan ya, yang gua ceritakan ini adalah Mononight yang memang memiliki tradisi yang aneh dan unik banget. Jadi, ada kelompok Mononight di Argentina terkhususnya yang tinggal di dekat Pampa, The Los Guanacos, ya. Mereka itu menjalani kehidupan sehari-hari enggak sama seperti kita. Karena mereka sama sekali enggak diperbolehkan untuk menggunakan teknologi. Mereka sama sekali enggak boleh punya HP, TV, bahkan mobil pun enggak ada di sana. Untuk menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka itu harus pakai kereta kuda. Satu-satunya kemajuan teknologi yang bisa kalian lihat itu cuma dari mesin traktor yang dipergunakan oleh orang Mononite untuk bertani. Karena kalau enggak menggunakan traktor, mereka bakal kesulitan untuk memanen dengan tangan manusia ya, tangan kosong di lahan yang luasnya berhektar-hektar. Jadi untuk ee teknologi yang mereka gunakan ya paling enggak ada traktor. Nah, cuma traktornya ini beda dari traktor yang lain, Geng. Karena di bagian rodanya traktor yang digunakan oleh komunitas Mononight ini menggunakan roda yang terbuat dari logam. Nah, hal ini dikarenakan karena koloni Mononite di Pampa The Los Guanacos itu percaya kalau penggunaan roda karet di barang yang memiliki mesin sebagai penggeraknya atau kayak mobil ada bannya gitu ya. Nah, itu bertentangan dengan ajaran agama mereka. Enggak bisa tuh. Nah, roda karet itu cuma digunakan untuk kereta kuda yang mereka kendarai setiap hari ketika mereka ingin ibadah ke gereja. Kereta kudanya juga dibuat oleh anggota dari Mononight sendiri. Nah, kalau mereka mau keluar rumah mereka tuh harus menggunakan topi. Kalau yang laki-laki topinya itu mirip koboy gitu, Geng. Dan menggunakan baju overall. Dan anak laki-laki serta perempuan juga tidak berbaur kecuali kalau mereka berasal dari keluarga yang sama. Jadi, semisalkan mereka bertemu di jalan, mereka harus menundukkan wajah agar tidak menatap satu sama lain. Wah, ini kayak apa ya? Ya, ajaran agamanya kayak gitu kali ya. Jadi enggak boleh menatap perempuan supaya tidak nafsu mungkin. Dan setiap acara makan ya, anggota keluarga laki-laki dan perempuan terpisah dan saling berhadapan. Yang laki-laki di kanan, perempuan di kiri. Sementara kepala keluarga akan duduk di ujung-ujung meja. Nah, acara makan itu dimulai dengan doa dan ketika mereka menyanta makanan, suasananya hampir hening. Enggak boleh tuh ada suara tang ting tang ting kayak cara lu makan ee ayam geprek atau pecel ayam. Ya, enggak ada tuh di sana. Sana tuh harus hening gitu. Dan enggak ada satuun yang boleh berbicara. Hanya terdengar suara dari peralatan makan yang mereka gunakan selama acara makan itu juga enggak yang kayak itu tadi kayak suara pedang, enggak. Dan setelah mereka selesai makan, yang laki-laki bakal meninggalkan meja makan dan bertukar giliran dengan anak-anak dan yang perempuan akan mengatur tempat duduk anak-anak tersebut berdasarkan jenis kelamin mereka dan usia mereka. Gila, teratur banget hidupnya. Dan anak-anak pun dididik dengan ketat di sana. Mereka enggak sama sekali diperbolehkan untuk menggunakan teknologi ataupun mainan. Jadi enggak ada anak kecil dari Mononight yang tantrum minta handphone atau minta tab atau minta iPad. Enggak ada. Dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh koloni monet ini juga masih jadi misteri, Geng. Karena koloni monet ini yang cenderung tertutup dan enggak mau memberikan informasi mengenai kehidupan mereka di sana. Jadi enggak ada yang tahu gimana sih mereka mendidik anak mereka. Nah, tapi anak laki-laki itu dikatakan bakal bersekolah mencapai usia 13 tahun. Sementara anak perempuan lebih cepat 1 tahun. Anak perempuan mereka bersekolah hingga mereka mencapai usia 12 tahun. Jadi kalau kita ngomong sekolah juga ya paling apa ya kayak mungkin kayak di kampung-kampung belajar ngaji, belajar budaya kayak gitu-gitu sih. Bukan yang sekolah reguler yang kayak kita pikirkan gitu. Karena mereka benar-benar menolak yang namanya modernisasi. Dan orang yang bukan berasal dari koloni Mononight itu dilarang untuk masuk ke gereja dan sekolah mereka. Bahkan untuk sekedar mendekati bangunan tersebut pun enggak boleh saking mereka tertutupnya. Terus, Geng, ada kesenjangan nih antara laki-laki dan perempuan di dalam komunitas ini. Yang mana di dalam komunikasi sehari-hari mereka menggunakan sebuah bahasa yang disebut dengan plaudia ya, sebuah varian dialek bahasa Jerman rendah. Meskipun mereka tinggal di Argentina yang mayoritasnya orang menggunakan bahasa Spanyol, nah para perempuan mononight itu enggak bisa bahasa Spanyol. Jadi, yang mereka bisa cuma bahasa plaudiage tadi dan itu juga merupakan bahasa Jerman kayak bahasa Jerman kuno gitu. Dan ini semua disebabkan karena perempuan Mononight enggak pernah pergi ke manapun. Mereka cuma berada di dalam koloni mereka doang. Jadi enggak pernah berinteraksi dengan masyarakat luas. Dan sehari-hari mereka cuma di rumah aja. Membersihkan rumah, masak, dan mengurus anak-anak. Bahkan mereka juga harus menjahit baju bagi anggota keluarga. Benar-benar hidup tradisional, Geng. Karena itulah para perempuan Mononight ini enggak punya kesempatan untuk belajar bahasa Spanyol. Namun kemajuan teknologi adalah sesuatu yang sulit ditolak sekalipun bagi komunitas yang menolaknya. Ya, banyak anak muda di sana yang mulai terpapar dengan teknologi. Padahal itu dilarang di dalam tradisi dan agama mereka. Nah, tapi kalian bayangkan aja nih. Mereka tuh punya radio, punya handphone udah kayak kriminal. Mereka simpan itu secara diam-diam untuk bisa didengarkan atau mengetahui bagaimana kehidupan di luar komunitas mereka. Yang mana mereka itu sudah mulai penasaran. Nah, semisalkan ada anak muda yang ketahuan menyimpan handphone atau melakukan pelanggaran lain seperti ya menyimpan alkohol, minum alkohol, mereka bakal mendapatkan hukuman. Terus, Geng, pengaruh teknologi ini juga menjadi alasan bagi beberapa orang yang memutuskan untuk keluar dari komunitas Mononight. Salah satunya mantan anggota Mononight yang bernama David. David ini bercerita, Geng. Dia bilang, "Kenapa handphone enggak boleh digunakan oleh anggota Mononight?" Karena mereka berpikir kalau handphone itu adalah barang setan. Barang yang jahat karena bisa digunakan untuk hal-hal buruk. Wah, setuju sih gua. Karena mereka bilang ini adalah barang setan yang bisa digunakan untuk hal-hal buruk. Padahal kalau digunakan secara normal saya rasa tidak ada yang salah. Salah satu hal buruk yang digunakan menggunakan handphone adalah selingkuh. Nah, itu bahaya tuh. Selingkuh, nonton-nonton film-film dewas A, ngerekam-ngerekam yang enggak benar. Nah, itu itu adalah ee apa ya? Ee barang setan. Fix barang setan. Nah, padahal nih ya, Geng ya. Menurut David kalau handphone itu dia gunakan secara normal ya enggak akan ada salahnya. Sejak dulu David ini selalu bertanya kenapa handphone dilarang tapi enggak satu pun bisa menjelaskan yang David tanya yang ada dari pertanyaannya tersebut ya dia malah makin bingung. Dan sampai suatu hari David ini nekad untuk membeli radio agar dia bisa mendengar berita dan musik. Pada saat pertama kali dia mendengar radio, David merasa senang banget karena akhirnya dia bisa mengetahui apa yang terjadi di luar komunitasnya. Tapi meskipun melakukan pelanggaran karena sudah memiliki teknologi, dia enggak diasingkan dan dia juga enggak dikeluarkan dari komunitas tersebut. Tapi David ini sendirilah yang memilih untuk meninggalkan Mononight sekitar 4 tahun yang lalu. Jadi benar-benar dia sendiri yang milih kayak, "Wah, udah enggak benar nih komunitas nih, gua keluar deh." Alasan David ini selain segala peraturan yang enggak masuk akal buat dia, David juga memikirkan anak-anaknya nanti karena dia enggak melihat masa depan anak-anaknya ada di kelompok Mononight ini. Meskipun David ini sendiri juga enggak tahu gimana kehidupan anak-anaknya di luar komunitas Mononight, tapi setidaknya anak-anaknya jadi tahu kalau di dunia ini ya itu ada dunia lain di luar sana yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok Mononight dan anak-anaknya jadi tahu mengenai dunia luar enggak seperti dia yang tumbuh besar di dalam Mononight yang sangat tertutup. Nah, David juga enggak pernah mau lagi kembali ke Mononight sekalipun tempat tersebut pernah dia anggap sebagai rumah. hubungannya dengan keluarganya yang masih tinggal di koloni Mononight itu akhirnya terputus habis. Dan sejak keluarnya David ini dari koloni tersebut mereka enggak pernah berkomunikasi lagi. Terus geng di sisi lain ada kelompok Mononight yang jauh lebih terbuka terhadap teknologi sebenarnya yang terletak di kota San Jose de Meitan. Nah, di dalam koloni Monight yang ada di Metan ini ada seorang anggota koloni baru yang meninggalkan koloninya yang lama yaitu Nueva Esperanza. Dia ini bernama Abraham. Dari ceritanya, orang-orang koloni lamanya selalu menganggap dia memiliki kebiasaan buruk karena Abraham selalu minum bir, ngerokok, ya mengkonsumsi kok yang mana itu semua dilarang oleh komunitas Abraham sebelumnya. Dan orang-orang di dalam komunitas lamanya ini selalu menganggap kebiasaan buruk Abraham itu disebabkan karena dia dipengaruhi oleh setan. Nah, di suatu waktu Abraham ketahuan punya handphone dan dia mendapatkan hukuman anak-anaknya dikeluarkan dari sekolah dan Abraham jadi kehilangan pekerjaan di sana. Nah, merasa dia dan keluarganya terasingkan karena hukuman yang dia dapatkan, Abraham merasa enggak tahan lagi sehingga dia memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut dan pindah ke koloni barunya yang ada di Meitan bersama dengan istrinya yang bernama Sarah serta anak-anaknya. Masih ada keluarga Abraham dan Sarah di Nueva Esperanza ini. Salah satunya adalah yang bernama Eva. Nah, saudara perempuan Sarah. Walaupun dari penjelasan Abraham, Nueva Esperanza menerapkan peraturan yang ketat, tapi itu enggak dilakukan oleh keluarganya Eva. Suaminya yang bernama Abraham Lawen itu secara terbuka mengatakan kalau dia memiliki handphone. Tapi mereka ya punya alasan tersendiri kenapa punya handphone ya karena handphone tersebut digunakan oleh Eva dan Abraham Laan untuk menghubungi Sarah dan juga Abraham. Nah, Eva dan Abraham Laon itu gak takut. Padahal jelas-jelas keluarganya diasingkan karena ketahuan punya handphone. Semisalkan ketahuan, mereka tinggal menyerahkan handphone-nya aja dan enggak perlu berbohong. Nah, kalaupun HP-nya Disita, Abraham Laon ini mengatakan dia bisa beli handphone lagi yang baru. Ya, yang paling mengagetkannya adalah Abraham Laon ini bilang kalau komunitas Mononight Nueva Esperanza itu enggak mau memberitahu orang asing kalau sebenarnya ada anggota yang memiliki handphone. Soalnya orang-orang tahunya mereka enggak boleh pakai teknologi apapun seperti handphone. Nah, jadi ditutup-tutupilah gitu. Dan di internet ya orang-orang Mononight ini identik dengan penolakan mereka terhadap teknologi dan itu menjadi daya tarik mereka tersendiri sebagai sebuah komunitas beragama. Dan oleh karena itu banyak turis yang datang ke koloni mononight Nueva Esperanza dan pada akhirnya ya ini mendatangkan cuan bagi mereka orang-orang kelompok Mononight. Kalau kita lihat dari video dokumenter yang dibuat oleh media DW ketika jurnalis DW mendatangi koloni Mononight, orang-orang Mononight ini ya kayak enggak mau menatap, merasa terganggu. Bahkan ada yang secara terang-terangan berteriak melarang untuk merekam. Nah, kelihatannya ya kayak tertutup banget, Geng, dengan orang luar ya. Tapi kalau dari penjelasan Abraham Lon, ternyata itu semua merupakan sebuah kamuflase. Tujuannya adalah agar turis-turis jadi penasaran dan mau berkunjung ke sana. Dan ternyata benar aja, di akhir video DW memperlihatkan kalau ada segerombolan turis yang mendatangi koloni Mononight. image yang awalnya terlihat kalau mereka sangat tertutup dengan orang asing, tapi berbeda 180 derajat ketika turis yang datang. Nah, mereka terlihat ramah dan welcome gitu. Ada yang berfoto dengan anak-anak mononight terus diperbolehkan masuk ke dalam rumah anggota. Para turis juga disajikan makanan. Bahkan para turis diperbolehkan untuk melihat bagian dalam dari gereja yang padahal katanya orang asing enggak boleh ya mendekat. Orang-orang Mononight juga memanfaatkan kedatangan turis untuk menjual berbagai snack serta oleh-oleh. Dan harga kunjungan turis ke koloni Mononight itu dipatok dengan tarif 60o atau setara dengan Rp1,1 juta per orangnya. Gila, mahal banget. Dan biasanya ada sekitar 30 turis yang datang ke koloni Mononight. Nah, itu artinya mereka bisa mendapatkan R3 juta untuk satu rombongan turis. Dan kabarnya nih, Geng, kunjungan turis itu dilakukan setiap seminggu sekali. Berarti dalam sebulan mereka bisa meraup keuntungan sekitar Rp13 juta kurang lebih. Banyak banget ya. Nah, terlepas dari bagaimana ajaran mereka yang menolak modernitas ya enggak mau menjadi modern menolak teknologi. Rupanya perlahan-lahan anggota koloni Mononight juga sudah banyak yang terpapar oleh ya kemajuan teknologi. Entah mereka benar-benar menerapkan larangan tersebut karena menjaga keyakinan mereka terhadap ajaran agama yang mereka anut gitu ya. atau justru mereka ini berusaha untuk menutupi hal tersebut karena untuk mempertahankan ketertarikan turis-turis agar masih terus mengunjungi koloni mononight dan mereka bisa mendapatkan uang dari sana ya karena ternyata ada nilai jual dari keyakinan yang mereka buat dan hal ini membuat mereka semakin terkenal di dunia luar yang penasaran terhadap kehidupan mereka selama ini. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu, Geng. Itu dia, Geng. Pembahasan kita kali ini mengenai koloni mononight yang merupakan sebuah kelompok Kristen yang menolak modernitas. Apakah menurut kalian mereka memang benar-benar enggak menggunakan teknologi atau itu adalah salah satu cara mereka untuk terus menarik turis supaya datang dan menghasilkan uang? Coba deh tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories