TENTARA ISR4EL BISNIS VILA DI BALI & THAILAND MULAI KELUHKAN KELAKUAN TURIS ISR4EL
OahRLahLFE8 • 2025-07-04
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini kita akan membahas sebuah
topik yang cukup menarik. Kenapa bisa
dibilang menarik? Karena pembahasan ini
berhubungan dengan negara kita Indonesia
dan juga Isriwil. Soalnya, Geng, pas
kemarin di saat Iran dan istri Will
sedang sibuk-sibuknya perang, ada sebuah
kabar yang cukup menggemparkan bagi
orang-orang Indonesia yang ternyata ada
seorang mantan tentara Istri Will yaitu
IDF yang kedapatan sedang berada di
Pulau Dewata Bali. Nah, terus kenapa
bukannya Bali itu bebas untuk turis mana
aja, bisa didatangi oleh turis dari
berbagai negara gitu kan. Nah, tapi
masalahnya mantan tentara IDF ini bukan
cuma berlibur, Geng, ke Bali, tapi
mereka juga punya bisnis di Bali yang
diduga mereka ini menjalankan sebuah
bisnis villa nah kok bisa? Apakah
orang-orang di sana tidak tahu kalau
orang ini atau turis ini adalah mantan
tentara IDF? Nah, ini kan menjadi
kontradiktif, Geng, sama sikap Indonesia
yang tidak mendukung istri Will. Negara
kita aja gak punya kantor kedutaan di
Istriwel. Tapi di sisi lain orang
Istriwel-nya aja mantan IDF atau mantan
tentara lagi bisa punya bisnis di negara
kita, dapat uang dari negara kita.
Gimana bisa seperti ini? Apakah pihak
imigrasi dan otoritas setempat sengaja
membiarkan atau justru kecolongan? Nah,
nanti kita akan bahas secara lengkap di
video kali ini. Nah, terus geng gua juga
mau membahas gimana kelakuan orang-orang
istri WH ini ketika mereka sedang
mengunjungi negara-negara lain. Salah
satu contohnya adalah negara Thailand.
Nah, di video sebelumnya gua pernah
menjelaskan kalau banyak orang Thailand
yang bekerja di Istriwel. Tapi di sisi
lain orang isteri juga banyak yang
datang ke Thailand untuk liburan. Tapi
selama mereka di sana mereka justru
berperilaku yang cukup buruk. Nah, tidak
menghormati budaya setempat, seenaknya
sendiri, bahkan dengan sombongnya mereka
bilang kalau istriah yang membuat
pemerintah Thailand bisa membangun
negara mereka seperti sekarang.
Wah, gila ya. Songong banget, Geng. Oke,
langsung aja nih kita bahas secara
lengkap. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry,
[Musik]
genggeng. Untuk pembahasan yang pertama,
kita langsung masuk ke dalam pembahasan
ketika turis Rewill punya bisnis villa
di Bali.
Jadi awalnya nih, Geng, ya. Ketika
situasi antara Iran dan Isriwel masih
berperang, ada sebuah video yang
tiba-tiba viral di sosial media. Video
tersebut memperlihatkan adanya seorang
bule asal Isriwil yang sedang berada di
Bali dan membangun bisnis villa di sana.
Bule Istriwil ini bukan sekedar orang
biasa, tapi mereka adalah mantan dari
tentara Isriwil yang sering melakukan
berbagai aksi kekerasan terhadap
orang-orang Palestina yaitu IDF.
Diketahui kalau villa tersebut ya villa
punya tentara istri Will ini bernama
Gonen Villa Bali yang lokasinya ada di
Canggu. Villa ini punya akun Instagram,
Geng, dan sempat dicreenshot oleh
netizen. Di bio Instagramnya, villa
tersebut dimiliki oleh dua orang warga
istri Will yang bernama Sachar Gonen dan
Adi Hasha Monai Gonen. Diduga, Sachar
inilah yang menggunakan Instagram
tersebut dengan memberikan konten-konten
yang memperlihatkan vila-fila mewah
bergaya tropis modern yang ada di Bali
sebagai promosi untuk menargetkan
wisatawan kelas atas dan expatriat.
Ketika berita ini mencuat nih, Geng ya,
mereka itu langsung mengunci akun
mereka, Geng. Langsung diprivivasi gitu.
Jadi, kita gak bisa lagi ngelihat
postingan postingannya. Namun menurut
keterangan dari netizen yang sempat
melihat postingan mereka sebelum
akhirnya diprivasi ini akunnya, ada
seseorang yang bernama Sacar ya. Ini
adalah seorang mantan IDF karena
diketahui salah satu dari postingannya
dia itu ketika dia menggunakan seragam
IDF dan sedang bertugas. Jadi jelas
kalau dia ini adalah anggota IDF. Bisnis
villa mereka ini juga enggak mereka
jalankan sendiri, Geng. Ada akun
Instagram dengan username Adi Homestyle
yang diduga sebagai pihak yang mendesain
villa tersebut. Jadi, akun itu merupakan
akun penyedia jasa arsiteknya lah. Dan
akun ini diduga juga berasal dari East
Rewill. Soalnya di bio Instagram-nya
tulisannya itu pakai bahasa Ibrani. Nah,
untungnya nih, Geng, udah ada yang
sempat nge-screenshot akun tersebut. Pas
gua cari di Instagram sih udah gak ada.
Dan yang paling enggak nyangkanya adalah
ternyata ada pihak lokal yang terlibat
di dalam promosi villa tersebut. Jadi
ada akun Instagram dengan username
Bali.indonesia.explore
yang pernah mengunggah penampakan dari
villa tersebut di Instagram pada tahun
2023. Jadi memang villa tersebut sudah
lama ada di Bali, cuma viralnya
baru-baru ini pas Iran dan istri lagi
berperang. Nah, jadi mencuatlah tuh.
Kemudian nih, Geng, netizen juga
menemukan adanya travel agent di Isriwel
yang mengatur perjalanan bagi
orang-orang Isriwil yang mau datang ke
Indonesia. Nama travelnya itu adalah
Yadim Travel. Di dalam situs milik
travel ini, biaya yang dikeluarkan bagi
orang istri yang mau mendapatkan visa ke
Indonesia yaitu sebesar 400 USD atau
setara dengan Rp6,4 juta. Nah, syarat
yang harus dimiliki oleh orang Isriwel
untuk bisa mendapatkan visa ke Indonesia
yaitu dengan menyerahkan foto paspor dan
semua formulir yang diperlukan paling
lambat 55 hari sebelum mereka berangkat
ke sini. Namun, persyaratan tersebut
tidak bisa langsung diverifikasi oleh
pihak Indonesia, Geng. Menurut situs
dari travel tersebut, mereka harus
menghubungi kedutaan besar di Thailand
atau Singapura terlebih dahulu untuk
melakukan verifikasi, menerima rincian
akhir, dan juga pemeriksaan agar
mendapatkan visa ke Indonesia.
Dari sini kita bisa menilai ya, Geng,
kalau sudah ada agen travel ISRI WHel di
sini itu menandakan memang sudah banyak
orang istri Willel yang melakukan
perjalanan ke Indonesia ya kan? Karena
logikanya enggak mungkin rute perjalanan
itu ada kalau pasarnya enggak ada atau
peminatnya enggak ada. Kalau ada rutenya
ya pasti karena banyak orang istri WH
yang pengin ke Indonesia, terkhususnya
ke Bali. Ya mungkin kalau tujuannya ke
Indonesia cuma untuk liburan, ya masih
bisa ditoleransilah. Tapi kalau sampai
mereka punya bisnis di Indonesia, apakah
itu diperbolehkan? Udah mana warga asing
ditambah lagi berasal dari istri Will,
negara yang cukup problematik yang suka
membuat kericuhan dan genosida gitu kan.
Dan Indonesia juga enggak pernah punya
hubungan diplomatik apa-apa dengan istri
Will. Pertanyaannya, kenapa bisa mereka
yang merupakan mantan anggota IDF atau
tentara Istriwill yang kejam ini bisa
mendapatkan izin untuk mendirikan villa
di Bali?
Ya, sebenarnya nih, Geng, isu banyaknya
warga asing yang punya usaha di Bali.
Ya, itu udah sering kita dengar ya,
enggak baru-baru ini aja. Dan hal ini
disampaikan oleh Irjen Putu Jayan
Danuputra yang pada tahun 2023 menjabat
sebagai Kapolda Bali. Beliau ini
menyampaikan ternyata banyak warga
negara asing yang meminjam nama warga
negara Indonesia untuk membangun usaha
di Bali. Padahal aksi tersebut dilarang
di Indonesia berdasarkan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas. Nah,
temuan ini terungkap ketika ada warga
negara Indonesia yang jadi korban
penipuan, Geng. Berupa pemalsuan dokumen
sehingga si warga negara Indonesia ini
melaporkan ke kantor polisi. Dampak dari
banyaknya warga negara asing yang
meminjam nama dari orang lokal Indonesia
ini membuat sulitnya untuk bisa mendata
jumlah villa di Bali. Karena kan jadi
enggak tahu tuh mana yang villa asli
punya orang lokal dan yang mana villa
bodong gitu.
Salah satu kasusnya terjadi di Desa
Sembiran, Kabupaten Buleleng yang mana
diduga ada warga negara asing yang
membangun villa dengan meminjam nama
warga negara Indonesia seluas 30 hektar
di pinggir pantai. Di saat itu, Wakil
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran
Indonesia atau disingkat dengan PHRI
yang bernama Rai Suryawijaya, dia
menilai ratusan villa dibangun tanpa
izin lengkap atau ilegal di Bali. Itu
sudah terjadi sejak tahun 2015. Di
daerah Bandung aja udah ada hampir 20
sampai 30% itu villa bodong. Modus yang
dilakukan oleh warga negara asing ini
dengan meminjam nama warga negara
Indonesia untuk membangun rumah mewah
dengan izin residen. Rumah tersebut
kemudian ditempati secara pribadi dalam
kurun waktu tertentu setelah dibangun.
Biar terlihat seolah-olah rumah tersebut
tidak dibangun untuk keperluan
komersial, tapi dipergunakan sendiri
atau pribadi gitu oleh mereka. Karena
dipakai sendiri, mereka enggak perlu
mengurus izin apapun. Mau itu izin
villa, izin pondok wisata, ataupun izin
hotel, itu enggak perlu karena kan e
buat dipakai sendiri ceritanya. Barulah
setelah menempati rumah tersebut, si
warga negara asing ini bakal
mempromosikan secara online tanpa
mengurus izin apapun. Jadi, nyari duit,
bayar pajak, enggak. Bayar perizinan
juga enggak. Jadi, begitulah cara warga
negara asing ini berbisnis villa di
Indonesia, terkhususnya di Bali.
Ray ini sendiri itu enggak bisa
menghitung secara pasti berapa banyak
jumlah villa ilegal yang ada di Bali.
Jumlah vila di Bali menurut dia juga
berantakan, Geng. Yang disebabkan karena
adanya ketidaksesuaian data jumlah villa
yang dimiliki oleh berbagai instansi,
baik dari Dinas Pariwisata, Dinas
Perizinan, dan pajak yang ada di Bali.
Rai ini pernah mendata villa ini, Geng.
ketika dia mendata dari Dinas
Pariwisata, datanya beda dengan Dinas
Perizinan. Yang mana dari Dinas
Perizinan itu beda juga dengan dinas
pajak. Sebab bagi dinas pajak yang
penting itu mereka punya pajak dan bayar
pajaknya meskipun enggak punya izin, ya
kan. Nah, yang penting punya NPWP aja
udah cukup. Nah, udah bisa punya bisnis.
Kemungkinan Schar Gonen dan Adi
Hashamonai Gonen itu melakukan hal yang
sama geng dengan warga negara asing yang
lain yang punya bisnis villa di Bali
secara bodong. Mereka meminjam nama
orang lokal atau WNI untuk menempati
rumah tersebut sementara. Baru setelah
itu dipromosikanlah rumah tersebut
sebagai vila. Untuk itu ya pemerintah
Bali itu berkomitmen untuk melakukan
penertiban dan juga pengawasan khususnya
untuk vila bodong yang ada di sana. Dan
beberapa bulan belakangan, pemerintah
Bali sudah menunjukkan komitmen tersebut
melakukan penertiban vila-vila bodong
yang ada di berbagai area yang ada di
Bali. Nah, terus juga geng maraknya
villa yang tidak berizin di Bali itu
bukan cuma sekedar persoalan persaingan
usaha dengan villa legal yang dimiliki
oleh orang lokal, tapi juga sudah
menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan
tata ruang wilayah serta masa depan bagi
para wisata Bali. Di saat itu, Geng,
Ketua Bali Villa Rental Management
Association atau disingkat dengan BVRMA
yang bernama KD Atnyana, dia ini
memperingatkan keberadaan akomodasi
tidak berizin berpotensi menjadi ancaman
yang serius bagi masa depan pariwisata
serta masyarakat lokal. Lingkungan
mereka jadi rusak, pendapatan daerah
hilang, dan fungsi lahan jadi tidak
terkendali. Villa ilegal ini itu kan
dibangun tanpa memenuhi persyaratan
lengkap seperti sertifikat like fungsi
atau SLF, persetujuan bangunan gedung
atau PBG, dan juga izin pondok wisata.
Nah, hal ini enggak cuma membuat rugi
pendapatan negara dari sektor pajak,
tapi juga memicu ketimpangan dalam
pemanfaatan ruang dan infrastruktur.
Selain merugikan bisnis vila orang
lokal, adanya potensi pelarangan hukum
di balik operasional vila-villa ilegal
ini termasuk dugaan praktik kriminal dan
penyalahgunaan fungsi properti seperti
misalkan ya dijadikan tempat untuk
memproduksi dan menyimpan narkoboy
sampai dengan prostitusi. Karena kan
udah pernah kejadian ya ada sebuah villa
di Bali yang ternyata dijadikan sebagai
pabrik narkoboy. Kita udah pernah bahas
di konten kita yang ini.
Makanya, Geng, ketika berita ini viral,
banyak netizen yang mengecam kepemilikan
Villa oleh Sachar Gonen dan Adi
Hashamonai Gonen ini yang merupakan
mantan anggota tentara istri yaitu IDF.
Banyak juga netizen yang mempertanyakan
baik orang-orang lokal Bali maupun
pemerintah lokal Bali yang terkesan
membiarkan mereka sampai bisa memiliki
bisnis villa di sana. Karena enggak
mungkin enggak ada yang tahu pembangunan
villa tersebut, apalagi warga yang
tinggal di sekitar villa tersebut. Ya,
enggak mungkin mereka enggak tahu. Dan
untuk itu, netizen berharap agar
pemerintah bisa menindak tegas villa
milik mantan anggota IDF tersebut. Kalau
bisa sekalian ditutup karena ini sangat
kontradiktif. Masa Indonesia mengecam
tindakan Istri Will, tapi di satu sisi
memperbolehkan mantan anggota IDF
mendapatkan uang dari Indonesia. Kalau
menurut kalian gimana, Geng? Apakah
kalian setuju kalau mantan anggota IDF
ini punya di Bali atau justru ya ditutup
aja? Coba deh, tinggalkan komentar di
bawah.
[Musik]
Nah, terus geng di bio akun Instagramnya
Sacar dan juga Adi Hashamai itu tertulis
kalau mereka saat ini tinggal di
Thailand bukan di Bali. Nah, ketika gua
cari lebih dalam lagi ternyata memang
Thailand itu ya banyak sekali orang
istri WH di sana dan bisa dikatakan
menjadi salah satu destinasi favorit
bagi orang-orang istri Will. Tapi geng,
orang-orang ister ini juga arogan banget
ternyata ketika mereka berada di
Thailand. Enggak cuma di negaranya, di
negara orang pun mereka tetap saja
problematik. Nah, sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan mengenai
betapa problematiknya orang istri WH
yang ada di Thailand.
Jadi, Geng kita kan tahu ya orang
Thailand itu banyak yang bekerja di
Istri Wheel yang juga sempat gua bahas
di video sebelumnya. Tapi ternyata di
Thailand sendiri juga banyak orang istri
Will-nya, Geng. Nah, sekitar 2 tahun
yang lalu enggak banyak orang istri Wil
yang memilih Thailand sebagai destinasi
mereka. Tapi semakin ke sini semakin
banyak aja nih yang datang ke sana.
Meningkatnya jumlah orang Isriwil ke
Thailand bisa dilihat sebagai efek
lanjutan dari konflik Isriwil yang ada
di Gaza. Banyak warga negara Isriwil
yang masih muda memilih Thailand sebagai
destinasi mereka setelah menyelesaikan
dinas militer mereka di IDF. Orang-orang
Istriwil ini biasanya datang ke Pai,
Provinsi My Hongson, Thailand. Nah,
sayangnya, Geng. Enggak seperti
peribahasa di mana bumi dipijak, di situ
langit dijunjung, orang-orang istriwil
yang ada di Thailand ini malah
seenaknya. dan banyak yang enggak
menghargai warga lokal serta tradisi di
negara Thailand tersebut. Jadi, waktu
itu ada sebuah video yang memperlihatkan
seorang turis perempuan asal ISWIL yang
diketahui bernama Kasim Chohen. Dia ini
sedang berada di sebuah cafe yang ada di
pulau Full Moon Party Kohpangan pada
tanggal 5 Mei tahun 2025. Di video
tersebut, Kasem ini dengan angkuhnya
bilang ke pemilik kafe kalau uang dari
negaranya yaitu negara Isriwel itu
membangun negaramu katanya membangun
negara Thailand.
Kata-kata itu diucapkan karena
sebelumnya pihak restoran ini meminta
agar Kas membuka sepatu sebelum masuk ke
dalam kafe. Nah, di Thailand ada
berbagai tempat yang menerapkan aturan
untuk membuka sepatu sebelum masuk ke
dalam ruangan, Geng. Di Indonesia juga
ada yang kayak gitu, ya kan? Nah,
seperti kalau kita mau masuk ke dalam
rumah diharuskan untuk membuka sepatu
atau ya mau duduk di lesehan gitu harus
buka sepatu. Negara-negara di Asia
lainnya juga banyak yang menerapkan
aturan seperti itu. Dan memang aturannya
tidak tertulis, tapi karena sudah
menjadi tradisi ya semua orang yang ada
di sana wajib untuk mentaati aturan
tersebut. Namun ketika si pemilik kafe
menegur si Kesem ini, Kesem ini malah
enggak terima. dia malah mengeluarkan
kata-kata yang cukup nyelekit dan
berdebat dengan si pemilik kafe. Nah,
video ini pun jadi viral di Thailand dan
Kesem langsung mendapatkan kecaman dari
orang-orang Thailand dengan menyebut
bahwa perilakunya ini enggak sopan
terhadap warga lokal. Orang-orang
Thailand bahkan meminta polisi untuk
campur tangan dan mendeportasi si Kesem
ini dari Thailand. Banyak orang Thailand
yang merasa enggak terima karena orang
lokal pastinya menyambut turis dengan
ramah agar mereka bisa nyaman ketika
mengunjungi Thailand. Tidak dipungkiri
juga ya kalau kedatangan mereka juga
berpengaruh besar bagi pendapatan negara
dan masyarakat Thailand. Tapi kalau
melihat bagaimana arognya si Kesem ini
kepada orang lokal yang membuat mereka
semua jadi marah dan kesal atas kelakuan
orang istri Will tersebut di negara
mereka.
Setelah mendapat banyak kecaman nih,
Geng, Kesem ini kemudian membuat video
klarifikasi. Dia menjelaskan kalau
kata-kata yang dia ucapkan di video itu
di luar konteks. Katanya maksud dari
kalimatnya itu untuk mengatakan kalau
para wisata ISRW itu berkontribusi
terhadap ekonomi Thailand, kata dia
gitu. Dan setelah videonya viral di
sosial media, dia mengaku menjadi
sasaran netizen Thailand yang
menyerangnya secara fisik verbal sebagai
akibat dari kemarahan orang-orang
Thailand terhadap wisatawan asal Isriwil
yang ada di Thailand. Video itu juga
bukan direkam oleh pemilik kafe atau
staf kafe, kata Kesem, melainkan
pengunjung lain yang merekamnya dan
diviralkanlah. Dan Kesem ini memberikan
klarifikasi kalau sebenarnya di saat itu
dia diizinkan untuk menggunakan sepatu
karena kakinya sedang sakit. Nah, ada
aja tuh alasannya tuh. Dan justru yang
memarahi dia adalah pengunjung lain
serta temannya yang mana si pengunjung
lain ini sambil menggunakan kekerasan
untuk memaksa si Kesem ini keluar dari
kafe tersebut. Pada akhirnya Kesem ini
memutuskan untuk pergi dari kafe
tersebut agar tidak terjadi pertengkaran
menurut dia.
Ya, meskipun si Kesem ini gak berantem
sama pihak kafe, cuma kita bisa nilai
sendiri dari kalimat yang dia ucapkan ya
kalau orang istri Will ini arogan
banget, sombong banget dari kalimatnya.
Merasa negaranya membantu pendapatan
Thailand karena banyak yang datang ke
negara tersebut. Jadi merasa bisa
seenaknya sendiri. Namun geng, itu bukan
satu-satunya kasus betapa arogannya
orang-orang Will yang ada di Thailand.
Hal ini bisa terlihat dari beberapa
pemilik usaha di PI, di daerah Pai yang
memasang tanda penolakan terhadap warga
isriwill. Nah, jadi udah banyak tuh
papan-papan yang bertuliskan mereka
tidak suka dengan warga istri Will,
orang istri Will yang tidak diterima di
daerah-daerah tertentu. Nah, pemilik
usaha ini mengaku kalau orang-orang
istri Will yang ada di sana memiliki
perilaku yang kurang baik. Mereka enggak
tertib. suka mabuk-mabukan dan kalau
mabuk ya mereka ini selalu bikin onar.
Ada kejadian yang gua ambil dari
informasi di media Kompas nih yang
mengutip dari The Star. Di tanggal 9
Februari tahun ini, ada orang istri Will
yang mabuk dan menunjukkan perilaku yang
benar-benar enggak sopan terhadap wanita
pemilik restoran. Pasca kejadian itu,
pemilik restoran mengungkapkan rasa
enggak amannya dia dan menyampaikan
kekhawatirannya dia dengan akhirnya
sering menutup restoran lebih awal,
terutama di hari Selasa dan hari Jumat.
Setiap hari dia merasa takut dengan
perilaku orang-orang ini. Apalagi dia
serta pemilik toko yang lain itu adalah
perempuan yang kemungkinan besar bakal
kesulitan untuk melawan orang-orang
Isriwil yang mulai melakukan hal-hal
aneh dan mengancam mereka. Nah, karena
keberadaan orang Isriwil yang berbuat
onar ini, setiap hari mereka jadi enggak
bisa tenang dan enggak bisa leluasa
menjalankan bisnis mereka di sana.
Kebayang tuh, Geng, orang lokalnya aja
udah mulai ngerasa terancam.
Keluhan yang sama juga disampaikan oleh
seorang dokter yang bekerja di Rumah
Sakit Pie. Nah, sampai-sampai ke rumah
sakit nih dia ya bercerita ada empat
orang warga istri Will yang diketahui
bernama Daniel Gagaev, terus ada Afif
Rom, terus ada Immanuel Ashton dan juga
Dan Nisko. Nah, itu masuk ke dalam ruang
gawat darurat.
Gila enggak tuh ke IGD? Mereka
mengamuk-ngamuk di sana sampai
mengakibatkan kerusakan. Insiden ini
terjadi setelah ada warga istri Will
yang terlibat kecelakaan motor. Akhirnya
ya gara-gara mereka rusuh ini, mereka
pun dideportasi setelah didakwa dalam
kasus pengancaman, pelecehan, dan
mengganggu kenyamanan orang lain. Nah,
mereka semua didenda masing-masing
sebesar 3.000 bat atau yang setara
dengan Rp1,4 juta. Visa turis milik
mereka juga dicabut dan mereka resmi
dilarang masuk ke Thailand sejak saat
itu. Dan peristiwa seperti ini bukan
pertama kali terjadi di rumah sakit
tersebut. Berkali-kali rumah sakit PAI
ini menghadapi turis Istriwil yang
kasar, agresif, dan melanggar hukum.
Para petugas medis sampai takut terhadap
keamanan mereka ketika bekerja di rumah
sakit. Bahkan ada berita kalau
turis-turiswel itu berani merokok ganjo
di rumah sakit. Warga lokal P sendiri
juga pernah cerita kalau turis-turis ini
sering kedapatan menghisap ganjo di
pinggir jalan. Nah, masalahnya asap
ganjo itu bisa terhirup oleh siapa saja
termasuk para bocil-bocil.
Terus, Geng, ada juga yang mengaku kalau
orang Isriwil di sana sering mengadakan
pesta tapi pestanya terus berlanjut
sampai tengah malam dan itu terjadi
hampir setiap hari yang akibatnya warga
sekitar jadi enggak bisa tidur karena
terlalu berisik dan berdampak pada
mereka yang enggak bisa menjalankan
aktivitas secara produktif. Dari
informasi yang gua ambil di media eh
Taipe PBS ya, ini adalah media Thailand
nih. Ada berbagai keluhan dari warga
lokal Pie kepada turis istri Wil ini,
Geng. Orang-orang istri Will ini
dikatakan sering melakukan kegiatan
wisata seperti bermain arung jeram tapi
sambil diisi dengan minuman alkohol,
berpesta sampai enggak tahu waktu dipap
dan juga bar sehingga menimbulkan
kebisingan. Terus banyak turis istriwel
yang menyediakan rental ilegal juga
serta menyediakan sekolah mengemudi yang
enggak berizin. Ini kan sebenarnya
enggak boleh ya. Sama kayak kejadian di
Bali itu ada beberapa turis Rusia yang
menyediakan sekolah mengemudi bagi
turis-turis lain yang mana ini enggak
berizin. Mereka tuh gak boleh buka usaha
seperti itu. Itu adalah usahanya warga
lokal. Kemudian geng ada juga orang
istri Wil yang menggunakan layanan
publik untuk keuntungan mereka sendiri.
Orang istri Will juga sering melanggar
aturan lalu lintas lalu melakukan
penjualan ganjo serta rokok. Ya, intinya
ya banyak perilaku mereka yang enggak
pantas ya dan apa ya yang seharusnya itu
pekerjaan warga lokal seperti penjualan
rokok, penjualan ganjo karena kan di
sana ganjo tuh ee legal ya tapi untuk
tempat-tempat dan takaran tertentu gitu.
Nah, biasanya cuma warga lokal yang
boleh melakukan itu. Tapi warga istriwil
di sana malah mengambil bagian tersebut.
Dan hal ini membuat warga lokal jadi
takut kalau mereka bisa mencuri
pekerjaan warga lokal ini. Bahkan
ketakutan mereka semakin besar ketika
ada sinagog. yaitu tempat ibadahnya
orang Yahudi yang e mulai dibangun di
sana, yaitu lokasinya tepat di belakang
kantor polisi Pai. Ini menimbulkan
asumsi bagi warga lokal Pai kalau orang
istri Will akan mengambil alih Pai dan
menetap secara permanen di sana. Bahkan
ada yang menduga kalau orang istri Will
sudah menargetkan Thailand sebagai tanah
yang dijanjikan selanjutnya. Aduh,
Palestina udah tuh. Ciprus otw. Nah,
sekarang Thailand juga. Gokil banget
memang. Masih dari media The Tyai PBS
disebutkan kalau ada lebih dari 30.000
orang istri Will yang akan menetap di
PI. Sudah terlihat banyak infrastruktur
yang dibangun untuk mendukung hal ini.
Salah satunya dengan berdirinya sinagog
tadi ya kan. Banyak bisnis yang juga
sudah dibuka yang mengakomodasi
orang-orang istriwil untuk memiliki
bisnis di pie seperti restoran, film
mewah sampai tempat angkas rambut atau
barber. Berbagai jenis pekerjaan yang
seharusnya diperuntukkan bagi warga
lokal Thailand justru dikuasai oleh
orang-orang Isriwil demi mengakomodasi
mereka. Nih kalian bayangkan ya, jumlah
wisatawan ISRI di Pai itu sebanyak
31.735
orang yang terdaftar. Dari 31.000 itu
masyarakat lokal P itu hanya ada 21.000
orang lebih banyak turisnya. Gimana
enggak warga lokal ketakutan? Tapi dari
31.000 orang itu bukan yang menetap.
yang menetap itu cuma ada 3.000 orang
istri Will. Nah, sisanya itu mereka
pulang pergi wisatawan yang datang
sebentar terus balik lagi gitu. Tapi
tetap aja jumlah mereka banyak banget.
Yang jadi masalahnya mereka ini berbuat
onar dan meresahkan penduduk setempat.
Bagi penduduk lokal, Pai yang tadinya
adalah kota yang damai, alamnya asri,
dan budaya yang kental, sekarang sudah
berubah menjadi kota yang didominasi
oleh wisata asing, terkhususnya orang
istri Wil di dalam berbagai hal. Dan ini
bukanlah sebuah hal yang baru bagi warga
lokal. Dan memang beritanya baru keblow
up beberapa tahun ini, tapi dominasi
orang istri Will dipie sudah terlihat
sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan
memang sebenarnya enggak cuma orang
istriwil aja, Geng, yang ada di Pai.
Namun orang Isriwel ini menjadi salah
satu kelompok yang paling berpengaruh di
sana karena jumlahnya ramai banget dan
mereka enggak datang ke sana cuma
sekedar untuk liburan, tapi banyak yang
tinggal selama berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun dengan menggunakan visa
turis atau visa pelajar. Yang mana hal
ini memungkinkan mereka untuk tinggal di
Thailand dalam jangka waktu yang cukup
lama. Dulunya Pai menjadi kota wisata
dengan berbagai macam negara. Tapi
sebagian dari kota Pai saat ini sudah
jadi tempat komunitas bagi orang istri
yang bisa terlihat dari berbagai
restoran dan papan nama yang tertulis
dalam bahasa Ibrani. Perubahan ini sudah
menimbulkan konflik sosial serta budaya
di sana. Penduduk asli Thailand yang ada
di PAI harus beradaptasi dengan
masyarakat asing yang menetap di sana
dalam jangka waktu yang cukup lama.
Penduduk lokal juga menjadi terbagi dua
ya. ada yang merasa diuntungkan karena
orang-orang istri Will ini mungkin mata
uangnya lebih besar ya kan, pertumbuhan
ekonomi lebih oke gitu ya dengan mereka
ada di sana. Tapi ada juga yang merasa
terusir dari tanah mereka sendiri akibat
semakin banyaknya orang istriwil di
sana. Sementara ya orang istriwel-nya
sendiri merasa sangat diuntungkan.
Mereka bisa hidup di tanah orang lain,
berperilaku seenaknya di tanah orang
lain, dan tidak jauh berbeda seperti apa
yang terjadi di Palestina. Bedanya di
Palestina mereka pakai cara kekerasan,
tapi di Thailand mereka mengambil alih
dominasi melalui bisnis, usaha, dan
parwisata. Nah, gitu geng. Itu dia
pembahasan kita hari ini tentang
bagaimana masyarakat istri Will yang
datang ke daerah orang lain lalu membuka
bisnis, ada yang bikin rusuh. Nah, yang
pertama tadi kita bahas orang istri Will
yang datang ke negara kita ke Bali.
Mereka mantan anggota IDF, tentara yang
terkenal kejam terhadap orang-orang
Palestina. Dan mereka sampai di Bali
membuka usaha villa ya, villa mewah.
Sementara yang di Thailand itu ternyata
mereka bersikap arogan. Gimana, Geng,
menurut kalian tentang pembahasan kita
kali ini? Coba tinggalkan komentar di
bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:17:07 UTC
Categories
Manage