DONALD TRUMP ANCAM INDONESIA DENGAN TARIF IMPORT KARENA DEKAT DENGAN BRICS & RUSIA?
32Nz2Zr11rI • 2025-07-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, kali ini kita bakal membahas
sebuah topik yang mungkin lagi
hangat-hangatnya di dunia maya dan
mungkin juga bikin kening kita tuh jadi
mengkerut ya. Karena aduh berusan sama
Amerika lagi. Kalian pernah dengar
enggak sih, Geng, soal Donald Trump yang
suka masang tarif untuk barang-barang
impor dari negara lain? Nah, sekarang
ternyata mereka melakukan hal yang sama
yaitu penetapan tarif Trump terhadap
Indonesia negara kita. Ancaman tarif
Trum ini bukan sekedar angka-angka aja,
tapi juga cerita rumit di balik
diplomasi, intrigopolitik, dan masa
depan perdagangan negara kita. Nah,
kalian sadar enggak sih, Geng, kalau
handphone yang kalian pegang sekarang,
elektronik yang kita punya, ya kan, atau
baju yang kita pakai atau bahkan makanan
olahan yang ada di negara kita untuk
diekspor sekarang itu nasibnya sedang di
ujung tanduk. Donald Trump kembali
berulah. Presiden Amerika Serikat ini
baru aja ngetok palu tarif impor sebesar
32% nih. Ini pada awalnya nih ya 32%
untuk semua barang di Indonesia ya.
Tinggi banget gitu. Katanya sih karena
defisit perdagangan mereka yang bengkak.
Nah, Donald Trump juga mengancam mau
nambahin lagi tarif 10% dan ini
benar-benar mengkhawatirkan. Nah, apa
yang dituju oleh Donald Trump ini?
Apakah ini adalah perang atau cemburu
politik? Nah, langsung aja nih kita
masuk ke dalam pembahasannya. Gimana nih
keputusannya? Gua yakin beberapa dari
kalian udah pernah mendengar tentang
pembahasan ini di media-media ya. Yang
mana pada akhirnya kan dari 32% sempat
turun ke 16% dan ya beberapa keputusan
lain lah. Tapi nanti di sini kalian akan
mendengar ee apa ya runutan
permasalahannya. Gua akan berusaha
menjelaskan sedetail mungkin dan
seringan mungkin kepada kalian supaya
kita sama-sama paham tentang perihal ini
dan juga apa dampaknya untuk kehidupan
kita sebagai warga negara Indonesia.
Nah, langsung aja kita bahas secara
lengkap tentang kasus ini. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Untuk pembahasan pertama, kita
bahas dulu tentang awal mula negosiasi
dan keputusan Donald Trump ya terhadap
aturan-aturannya ini.
Jadi, geng kalian ingat enggak? Pada
tanggal 2 April 2025 kemarin, dunia
perdagangan Indonesia dikejutkan oleh
sebuah kebijakan yang datang dari gedung
putih Amerika. Presiden Amerika Serikat,
Donald Trump secara resmi menetapkan
tarif impor baru sebesar 32% untuk semua
produk yang masuk dari Indonesia ke
negara mereka. Kebijakan tarif ini
merupakan kelanjutan dari strategi tarif
resiprokal. Nah, biar gampang nih ya
bayanginnya kayak gini nih. Nih ee
kurang lebih ya gua kasih contoh. Misal
nih produsen MB dari Jepara ya, pembuat
mebel tukang mebel dari Jepara Jawa sana
itu ngejual produk mereka ke Amerika.
diekspor ke Amerika seharga Rp10 juta.
Gara-gara tarif ini ya yang diberlakukan
oleh Donald Trump, harganya di sana bisa
langsung melonjak jadi 13,2 juta. Nah,
mungkin menurut kalian, "Wih, bagus
dong, malah lebih mahal harganya." Ya,
tapi bukan di situ permasalahannya.
Permasalahannya adalah ya daya jualnya
jadi ee apa ya? jatuh gitu. Memang
harganya meningkat, tapi daya jualnya
jatuh. yang seharusnya bisa dijual
dengan harga yang relatif murah, cepat
laku. Nah, tapi harus dinaikkan harganya
dan lakunya susah. Hal ini sama aja
kayak dia tuh secara enggak langsung tuh
kayak pengin ngghalangin kita jualan
gitu. Dan ini adalah persaingan pasar
yang juga harus terkena 32% ee yang
dikenakan oleh Donald Trump. Nah, namun
tenang Geng, pemerintah Indonesia di
saat itu enggak cuma diam dan enggak
cuma menerima begitu aja tentang tarif
ini. Nah, pemerintah Indonesia langsung
mengirimkan utusan untuk bernegosiasi
dengan Donald Trump. Nah, kenapa
demikian? Kenapa ditanggapi serius
banget? Pasti kalian akan bilang, "Ya
udah, kalau memang Amerika bertingkah,
enggak usah dijual ke Amerika." Enggak
bisa gitu. Karena memang salah satu
konsumen terbesar tentang produk-produk
ee ekspornya kita itu ada di sana. Ya,
mereka konsumtif untuk barang-barang
buatan kita juga. Nah, jadi memang harus
banget diurus hal ini. Kalau enggak
kasihan pengusaha-pengusaha dan juga
yang kelas UMKM yang ee menjadi vendor,
yang menjadi supplier gitu kan. kasihan
nanti barang-barangnya jadi enggak bisa
kejual. Nah, lalu geng utusan dari
Indonesia yang merespon keputusan
dadakan ini, pemerintah Indonesia
langsung mengirim mereka dan di saat itu
pintu negosiasi pun dibuka dengan
Amerika dengan menawarkan beberapa hal.
Yang pertama mengenai penawaran
investasi di sektor mineral kritis
seperti nikel, tembaga yang penting
untuk industri kendaraan listrik,
militer, dan teknologi tinggi. Nah,
jadinya tuh kayak kita tuh mohon-mohon
ke Amerika kayak boleh dong turunin
nanti sebagai gantinya lu boleh invest
di pertambangan kita deh gitu. Nah,
tawaran ini diajukan melalui kemitraan
antara Amerika danantara yang dibentuk
oleh Presiden Prabowo. Dan mineral
kritis seperti tembaga itu sangat
dibutuhkan oleh industri elektronik,
militer dan antariksa. Yang kedua ya
tawarannya adalah perihal peningkatan
impor produk Amerika. Nah, jadi apa ya?
Kayak kita tuh nawar kayak gini kayak
turunin dong ee ininya apa tarifnya.
Nanti kalian boleh impor lebih banyak
deh ke negara kita. Jadi benar-benar
kayak memohon-mohon gitu negara kita ke
mereka. Dan di dalam negosiasi ini,
Indonesia bersedia untuk meningkatkan
pembelian produk asal Amerika seperti
kacang kedelei dan juga gandum. Padahal
ya produk petani kita juga bagus di
sini. Nah, yang mana menurut pemerintah
kita, pembelian kacang kedelei dan juga
gandum dari Amerika ini bertujuan untuk
menjaga keseimbangan neraca dagang
katanya. Dan pemerintah kita juga bakal
membeli LPG serta LNG dari Amerika. Nah,
langkah ini diharapkan oleh pemerintah
kita bisa membantu mengurangi defisit
perdagangan Amerika terhadap Indonesia
yang menurut data tercatat dari USTR itu
bisa mencapai 17,9 miliar USD pada tahun
2024.
Nah, selanjutnya ada penawaran lagi nih,
yaitu penawaran relaksasi aturan tingkat
komponen dalam negeri atau TKDN. Nah,
Amerika ini, Geng, sebelumnya sempat
mengeluhkan aturan kewajiban kandungan
lokal yang dianggap menghambat produk
serta investasi dari perusahaan mereka.
Nah, Indonesia ini siap, Geng, untuk
melonggarkan aturan TKDN ini. Jadi,
kayak malah kita tuh yang mengalah gitu.
khususnya untuk sektor teknologi
informasi dan komunikasi dari perusahaan
seperti Apple, GE, terus Microsoft dan
juga Oracle.
Yang keempat ya penawaran dari negara
kita ke mereka nih yaitu melakukan
deregulasi dan reformasi kebijakan
impor. Nah, pemerintah mencabut
peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36
tahun 2023, Jungto nomor 8 tahun 2024
dan akan menggantinya dengan Permendak
nomor 16 tahun 2025 serta 8 peraturan
pelaksanaan yang lain. Aturan ini itu
bakal mempermudah impor untuk 10 jenis
komoditas asal Amerika demi meningkatkan
daya saing ekspor Indonesia. Dan yang
terakhir ya, pemerintah Indonesia juga
bakal melakukan penyesuaian tarif bea
masuk produk impor yang berasal dari
Amerika dan masuk kategori most favor
nation atau MFN. Tarif yang akan
diturunkan semula 5% sampai 10% menjadi
0% sampai 5%, Geng. Jadi benar-benar
kayak negara kita tuh mohon-mohon gitu
ya. Pemerintah Indonesia bakal membentuk
Satgas deregulasi sembari terus
melakukan lobi penurunan tarif impor
dengan Amerika. Yang mana salah satu
pekerjaan dari Satgas ini adalah untuk
memperbaiki kebijakan TKDN tadi.
Nah, jadi dari pembahasan ini kita bisa
lihat ya, Geng. Miris banget ya negara
kita kalau sampai bakal kena pajak dari
Amerika dan ya itu terjadi kalau kita
mengekspor barang ke sana. Yang kerasa
enggak adil itu adalah barang-barang
Amerika yang masuk ke Indonesia justru
enggak kena pajak. Padahal pajak dari
Amerika itu juga penting banget buat
pendapatan negara kita. Apalagi kita
tahu sendiri ya sekarang kondisi
perekonomian negara kita tuh lagi enggak
bagus gitu kan. Jadi baik perekonomian
kita dengan negara lain dan perekonomian
dalam negeri kita sendiri itu sedang
dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Nah,
ibaratnya negara kita ini lagi diserang
dari dua sisi sekaligus, Geng. Daya beli
masyarakat turun sementara harga
terus-terusan naik. Nah, uang yang
mereka dapat di hari ini ya dipakai
untuk bertahan hidup. Boro-boro mikirin
uangnya ditabung atau untuk masa depan.
Karena kan logikanya buat yang sekarang
aja masih kesusahan atau kurang. Apalagi
mikirin buat masa depan. Nah, karena
faktor ini juga banyak orang yang
usianya sudah 25 tahun ke atas yang
masih enggak punya tabungan sama sekali.
Beruntungnya nih ya, untuk sekarang tuh
teknologi udah makin canggih dan
internet ada yang membuat kita jadi
terbantu dalam kegiatan sehari-hari. Dan
sayang banget kalau kita tidak
memanfaatkan kecanggihan teknologi ini
untuk dijadikan sebagai cara untuk
menghasilkan penghasilan gitu ya. Nah,
dari semuanya gua rasa nih yang mungkin
ini adalah opportunity yang bagus untuk
kalian adalah untuk belajar menjadi
seorang trader nih. Tapi khusus untuk
kalian yang mau belajar ya ee tidak
disarankan untuk kalian yang e tidak
sepaham dengan profesi sebagai trader
gitu. Karena gua lihat-lihat banyak yang
enggak setuju. Katanya itu enggak
benarlah, katanya itu enggak baiklah,
segala macam. Padahal profesi trader itu
ya itu adalah profesi yang resmi di muka
bumi ini. Banyak orang yang bekerja
sebagai trader. Kalian bisa cek sendiri
di YouTubeyube itu banyak sekali
kelas-kelas yang menyediakan tentang
menjadi seorang trader tapi real trader
ya, bukan penipuan gitu. Nah, saat ini
memang udah ada beberapa platform yang
menyediakan fitur untuk kalian menjadi
seorang trader. Tapi ada satu yang e
cukup gua rekomendasikan ke kalian,
yaitu yang namanya Venex. Karena gua
nyaranin Phoenix ini soalnya Phoenix
merupakan platform yang terpercaya dan
sudah memiliki lisensi dari BAPTI di
tahun 2013 dan selain itu juga udah ada
lisensi dari JFX serta KBI. Nah, dengan
adanya lisensi ini pastinya Penex
mendapatkan pengawasan dari lembaga
negara kita yang menjamin keamanan data
dana dari para penggunanya. Bukan
seperti yang dilakukan oleh ya dua orang
yang dulu mempromosikan ee Binom SQUI ya
kan yang mana itu merupakan binary
option. Jadi itu jangan kalau itu kan
kalian nebak-nebak turun naik. Kalau ini
ya kalian belajar untuk menganalisa
pasar perdagangan. Oke, terus buat
kalian yang masih baru mulai itu ngerasa
kalian ragu gitu ya, kalian jangan
khawatir. Soalnya Fex ini juga bisa
dipakai oleh para pemula atau newubi dan
hal ini didukung dengan tampilan
interface yang simpel dan mudah
digunakan sehingga cocok untuk ya para
trader-trader pemula gitu. Fiturnya
lengkap, ada pending order, ada fitur
manajemen resiko dan bisa langsung buka
posisi dari layar utama. tarifnya
kompetitif, enggak ada komisi untuk
deposit atau penarikan dana. Dan Penex
juga menyediakan bank-bank besar dari
Indonesia sehingga ya proses deposit
atau penarikannya dilakukan dengan aman
dan cepat. Ada dua fitur nih, Geng, yang
bakal memudahkan kalian buat kalian yang
masih pemula, yaitu live chat yang akan
standby selama 24 jam. Nah, menarik kan
fitur-fiturnya? Gua sih enggak pernah
dengar ada platform yang kayak gini yang
menyajikan fitur sebaik dan selengkap
Venix ini. Karena biasanya yang bisa
paham itu kan cuma yang berpengalaman
aja. Jadi bikin yang masih pemula tuh
jadi bingung. Phoenix udah
mengantisipasi hal tersebut dengan
berbagai fitur milik mereka yang gua
yakin bisa memudahkan kalian yang masih
pemula. Jadi tanpa menunggu lama-lama,
kalian bisa mendapatkan manfaat semudah
ini dari Venex. Langsung aja klik link
yang ada di deskripsi dan juga scan QR
yang ada di layar. Silakan coba. Oke,
kita lanjut nih ke kontennya.
Dan dari semua penawaran yang diberikan
oleh pemerintah kita, itu semua ditolak
mentah-mentah oleh Donald Trump. Udah
kita mohon-mohon, udah kita yang ngalah
tapi ditolak mentah-mentah dan dia tetap
menetapkan tarif ke Indonesia sebesar
32% di saat itu. Nah, dia bakal merevisi
32% tersebut apabila Indonesia membuka
pasar perdagangan yang selama ini
ditutup bagi Amerika. Menghapus
kebijakan tarif dan non tarif serta
menghilangkan hambatan perdagangan,
katanya. Jadi, minta lebih tuh dia. Nah,
Donald Trump juga bilang Indonesia
enggak akan dikenakan tarif apabila
memproduksi produknya di Amerika
Serikat. Dah, gile. Nah, ini menjadi
keputusan berat yang harus
dipertimbangkan oleh pemerintah
Indonesia. Apakah ingin menuruti
permintaan dari Donald Trump atau
enggak? Penetapan tarif dari Donald
Trump ini bakal berlaku dari mulai
tanggal 1 Agustus besok, ya. Dan enggak
sampai di situ aja, Donald Trump juga
ternyata mengancam presiden kita yang
memperingatkan agar Indonesia tidak
membalas tarif yang dikenakan oleh
Donald Trump ini. Jadi, jangan sampai
ngebalas gitu. Lu jangan coba-coba
ngebalas kayak ala-ala Putin gitu,
jangan. Nah, hal ini disampaikan di
dalam surat yang dikirimkan oleh mereka
ke Pak Prabowo. Dan di dalam surat
tersebut Donald Trump mengungkapkan
alasannya mengenai Indonesia dengan
tarif impor 32% tersebut. Nah, dia
selama ini menilai hubungan dagang
antara Amerika dengan Indonesia itu
enggak seimbang sehingga membuat Amerika
mengalami defisit neraca dagang dengan
Indonesia. Dan untuk itu Donald Trump
menilai itu perlu mengeluarkan kebijakan
perdagangan untuk menutup defisit yang
selama ini dianggap sebagai ancaman
besar bagi ekonomi dan keamanan nasional
mereka.
Jadi kurang lebih kayak gitu tuh, Geng
ya. Dari Amerikanya itu benar-benar
garang banget ee apa ya ngasih
peringatan ke Indonesia. Terus yang
terbaru nih, Geng. Pak Prabowo itu
menyampaikan kalau Indonesia dan Amerika
ternyata sudah menyepakati penurunan
tarif yang dari awalnya 32% menjadi 19%
katanya. Yang mana ini sudah melalui
perundingan yang cukup sulit. Nah, tapi
tentunya Donald Trump enggak serta-merta
menyepakati hal itu tanpa adanya ya hal
yang menguntungkan dia kan gitu ya.
maksudnya kayak, "Oh, gua gak mau
sama-sama enak. Gua yang harus enak. El
nanggung, nanggung pahitnya," gitu. Pak
Prabowo di saat itu menyebutkan salah
satu syaratnya adalah ternyata mengenai
pembelian 50 pesawat Boeing asal Amerika
yang mana terutama ini adalah Boeing 77.
Padahal kita tahu ya, pesawat Boeing ini
sedang bermasalah banget dan reputasinya
lagi turun banget. negara-negara lain
pada enggak mau beli, tapi kita dipaksa
untuk beli. Menurut beliau juga,
pembelian ini diperlukan untuk bisa
membesarkan Garuda Indonesia yang butuh
armada baru, katanya. Begitu juga dengan
komunitas lain seperti gandum, kedelai,
serta migas yang memang masih memerlukan
bantuan impor dari Amerika. Sampai
sekarang gua masih bingung tuh kedelai
aja kita harus impor dari Amerika.
Bukankah petani kita, buset kita negara
kita kan sawahnya banyak, kebunnya
banyak, tanah kita lebih subur dari
Amerika. Kenapa kita harus impor ya?
Aneh banget gitu. Kalau gandum masih
masuk akal gitu ya. Migas lagi. Migas
kita juga ada sumber migas kita ya. Hah
begitulah. Dan selain wajib membayar
tarif sebesar 19% Indonesia juga harus
menjalankan kewajiban lain. Nih banyak
nih PR dan tugas yang diberikan oleh
Amerika untuk negara kita. Indonesia di
saat itu ya dikatakan harus membeli
produk energi Amerika senilai 15 miliar
dolar Amerika atau sekitar Rp244
triliun. Harus. Indonesia juga harus
membeli produk pertanian Amerika senilai
4,5 miliar dolar Amerika atau setara 73
triliun. Lalu Donald Trump menyetujui
penurunan tarif ini ya dikarenakan
Indonesia menawarkan produk-produk asal
Amerika yang tidak akan dikenakan tarif
apapun saat masuk ke Indonesia. Kan ta
kotok ya. Barang kita masuk ke negara
mereka kena tarif, barang mereka free.
Apalah ini. Dan inilah yang membuat
akhirnya Donald Trump menyetujui
penurunan tarif tersebut. Jadi sama-sama
aja geng kalau dibilang kita berhasil
negosiasi ya. Tidak. Sebenarnya jadi
Indonesia ini bakal tetap dikenain tarif
ya 19% sementara Amerika tidak dikenakan
tarif speser pun masuk ke negara kita
secara cuma cuma barang mereka. Para
ekonom tentu saja tidak sependapat
dengan hal ini dengan menyebut kalau
Indonesia menyetujuinya ya bakal membuat
posisi negara kita semakin dispelein dan
lemah. Barang milik Indonesia yang
diekspor ke Amerika harus kena pajak
19%. Sementara barang Amerika yang masuk
ke Indonesia free, enggak ada biaya.
Mereka full dapat keuntungan. Enggak ada
tuh timbal balik ke negara kita.
Ditambah lagi syarat Donald Trump yang
mengharuskan negara kita untuk membeli
produk mereka. Beberapa komunitas dari
negara tersebut dengan nilai kontrak
yang cukup besar. Bayangin tuh kita udah
harus wajib beli. Jadi kan enak banget
mereka mereka nanam mereka no worry gitu
pasti ada yang beli ya. Indonesia udah
nunggu gitu dan di dalam jangka panjang
lagi. Dan oleh karena itu para ekonom
memandang bahwa hasil negosiasi ini ya
gagal dan tidak akan menguntungkan
negara kita. Terus yang enggak kalah
kontroversialnya nih geng. Di dalam
kesepakatan antara Indonesia dan Amerika
terkait penurunan tarif ini, Amerika
meminta agar Indonesia mentransfer data
pribadi ee rakyat Indonesia ke Amerika,
ke pemerintah Amerika. Aneh banget. Dan
di dalam kesepakatan tersebut ya
disebutkan Indonesia bakal memberikan
kepastian mengenai kemampuan untuk
memindahkan data pribadi dari dalam
negeri ke Amerika melalui pengakuan
Amerika sebagai negara yang menyediakan
perlindungan data yang memadai
berdasarkan hukum Indonesia. Kacau
banget ya. Ini datanya. Duh, data-data
kita, Geng. Gimana ya pemerintah kita,
ya? Ini dataata data-data kita yang
bakal dikirim ke sana. Dan Indonesia
sendiri sudah memiliki undang-undang
yang mengatur soal data yaitu di
Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi
Pasal 55 dan Pasal 56 yang mana ini
menjadi salah satu kebijakan yang
disasar oleh Donald Trump, yang
ditargetin oleh Donald Trump. Nah, di
dalam pasal ini ditafsirkan bahwa sebuah
negara wajib mentransfer data pribadi ke
negara yang memiliki tingkat
perlindungan data pribadi yang setara
atau bahkan lebih tinggi. Dan Amerika ya
dianggap memiliki perlindungan yang
lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Sehingga di sinilah Indonesia diwajibkan
untuk memberikan data pribadi rakyatnya
ke negara tersebut. Kacau banget. Nah,
jadi itu dia, Geng, kurang lebih
permasalahannya. Nah, kalau tadi kita
berbicara mengenai penetapan tarif yang
diberlakukan oleh Donald Trump kepada
Indonesia, sekarang kita bakal membahas
kenapa Trump tetap memberlakukan tarif
ke Indonesia nih. Nah, ada dua hal yang
diduga menjadi penyebabnya, Geng. Kita
bakal masuk dulu ke penyebab pertama
yaitu keanggotaan Indonesia bersama BRI
dan itu bikin Amerika kesal sama negara
kita.
Jadi, Geng banyak yang menduga ya kenapa
Donald Trump ini tetap ingin
memberlakukan tarif ke Indonesia itu
karena Indonesia join ke BRIGS dan hal
ini itu cukup membingungkan. Kalian
sendiri tahu enggak, Geng, kapan
Indonesia bergabung ke dalam bricks ini?
Nah, jadi buat yang belum tahu kita
bahas sedikit ya. Jadi, BRIS ini adalah
organisasi antar pemerintah yang terdiri
dari 10 negara. Di antaranya ada Brazil,
Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan,
Mesir, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab,
dan ada Indonesia di sana. Nah,
Indonesia tergabung ke dalam bridge ini
itu di tanggal 6 Januari 2025 kemarin.
Jadi, baru beberapa bulan. Dan ada tiga
alasan kenapa Indonesia bergabung, yaitu
potensi ekonomi. Peluang pasar dalam
bricks itu berjumlah lebih dari 3 miliar
jiwa. dan produk-produk utama Indonesia
seperti minyak kelapa sawit, batu bara,
tekstil itu dapat meraih pangsa pasar
yang lebih luas di dalam bricks. Dengan
keberadaan New Development Bank atau NDB
ya, Indonesia dapat mengakses pendanaan
untuk proyek infrastruktur strategis.
Nah, apalagi bricks ini kan dia punya
mata uang sendiri nanti, Geng. Jadi,
ibaratnya tuh gini, Geng. Indonesia tuh
mau bergabung dengan bricks karena kita
itu kan salah satu negara produsen juga
ya. Kita banyak hasil alam kita. Yang
susah dicari itu pembelinya ya kan.
Kalau hasil alamnya banyak tapi gak ada
yang beli, ujung-ujungnya apa? Hasil
alamnya ya busuk ya kan. Dan ketika ada
kesempatan bergabung dengan bricks yang
mana di dalamnya itu ada Rusia, ada
Tiongkok ya, Cina, ada, Brazil, ada
India, itu kan rakyatnya banyak ya. Jadi
kita punya pasar yang baru untuk menjual
barang-barang hasil bumi kita itu
potensi lain di dalam hal kerja sama
teknologi yaitu untuk mengembangkan
sektor teknologi digital dan energi
terbarukan.
Nah, terus yang kedua itu ada
diversifikasi mitra dagang. Peluang
untuk membangun hubungan dagang yang
lebih luas dan beragam lagi. Contoh
dengan India nih guna memperkuat sektor
tekstil dan IT. Dengan Rusia dapat
mengimpor teknologi pertahanan yang
lebih murah. Ya kan ya mau gimana kita
kalau ngomongin senjata Rusia senjatanya
udah canggih-canggih. Kalau kita
berteman dan berkelompok dengan mereka
ya bisa beli harga teman gitu kan.
Dengan India juga sama. Tekstil dari
India juga gila-gila. eh IT dari India
juga gokil-gokil gitu. Nah, terus alasan
ketiga adalah karena kekuatan diplomasi.
BRIX adalah platform strategis
negara-negara berkembang untuk
memperjuangkan reformasi ekonomi global.
Dengan menjadi anggotanya, Indonesia
diharapkan dapat mendorong perubahan
yang lebih inklusif seperti distribusi
hak suara yang lebih adil di
lembaga-lembaga global seperti IMF dan
juga Bank Dunia.
Nah, sebagai negara demokrasi terbesar
ketiga, Indonesia bisa memberikan
perspektif baru di BRIGS sebagai
penyeimbang kebijakan ekonomi global
yang mana ini bakal meningkatkan
pengaruh diplomatik internasional
Indonesia. Nah, tapi Geng kita tahu ya
bahwa Brix ini adalah e gerakan yang
diciptakan oleh musuhnya Amerika untuk
menyaingi dominasi Amerika di muka bumi
ini. Dan tentu aja Amerika enggak suka
dengan keberadaan Bricks dan berusaha
untuk menghambat pergerakan dari bricks
agar tidak mengacaukan agenda mereka.
Terus Donald Trump juga kembali
mempertegas sikap kerasnya terhadap
bricks ini, Geng. Nah, jadi ketika
negara-negara Bricks menggelar KTT di
Rio de Janeiro ya, e dia ini
memperingatkan bahwa dorongan kelompok
ini untuk melemahkan dominasi dolar AS
itu mengancam supremasi ekonomi Amerika
dengan menetapkan tarif terhadap anggota
Brick sebesar 10%. Suka-suka dia aja
itu. Dan ancaman ini menambah tekanan di
tengah tarif-tarif lain yang sudah
ditetapkan atau masih direncanakan. Nah,
ancaman ini memang lebih kecil
dibandingkan ancaman tarif 100% yang dia
katakan pada bulan Januari lalu terhadap
negara-negara yang dia anggap menentang
dolar seperti bricks. Dan karena
Indonesia sudah jadi bagian dari bricks,
apakah Indonesia bakal tetap kena tarif
tambahan 10% itu? Nah, ini masih belum
dipastikan. Kalau sampai kena berarti
19% + 10% jadi 29% sama aja gitu kan.
Nah, tapi geng tentunya ini menjadi
situasi yang sangat merugikan bagi
Indonesia. Padahal keanggotaan Indonesia
di Brick ini belum lama, baru beberapa
bulan. Dan y selemah itu kayaknya negara
kita di mata mereka ya. Dan karena baru
bergabung ini bisa jadi Indonesia adalah
negara yang paling lemah dianggap oleh
mereka di antara negara-negara bricks
lainnya. Dan Menteri Sekretaris Negara
yaitu Pak Prasetyo Hadi bilang penetapan
tarif 10% bagi anggota Bricks yang juga
dikenakan ke Indonesia dianggap sebagai
bagian dari keputusan Indonesia kalau
Indonesia bergabung dengan bricks. Ya,
sehingga penetapan tarif ke Indonesia
itu dianggap sebagai sebuah konsekuensi
yang harus diterima oleh pemerintah
kita. Meskipun begitu, Praset Yoiohadi
memastikan bahwa Indonesia tidak akan
meninggalkan bricks. Kita udah bulat
tekadnya tetap harus bersama bricks. Dan
terlepas imbas kenaikan tarif tambahan
dari presiden Amerika, Donald Trump, ya
negara kita enggak peduli. Nah, itu Geng
untuk alasan pertama tuh kenapa Donald
Trump kayak marah banget ke negara kita.
Sekarang kita akan masuk ke dalam alasan
kedua yaitu terkait kekosongan duta
besar Indonesia untuk Amerika. Apakah
Dubes perannya sepenting itu untuk bisa
menurunkan tarif Trump ke Indonesia
sehingga akhirnya negosiasi kita alot
banget. Nah, sekarang kita bakal bahas
soal ini.
Jadi, Geng, dari kegagalan Indonesia
dalam melakukan diplomasi ke AS untuk
menurunkan tarif Trump itu dipengaruhi
juga oleh kekosongan kursi kedutaan
besar Indonesia sejak tanggal 17 Juli
2023. yang mana ini artinya sekitar 2
tahun, Geng, ya, Indonesia itu enggak
punya kedudukan tertinggi di luar
negeri. Inilah salah satu faktor ya yang
mempengaruhi kenapa Indonesia gagal
dalam melakukan negosiasi terhadap
Amerika Serikat. Jadi enggak
semerta-merta itu karena kesalahan
presiden atau ya pemerintah kita itu
lemah banget atau apa. Jadi faktornya
tuh jelas gitu. Nah, menurut seseorang
yang bernama Dina dari Syergi Policis,
dia bilang posisi dubes Indonesia di
Washington DC merupakan posisi tertinggi
dan sebagai perwakilan negara di Amerika
Serikat. Bahkan ketika tidak ada arahan
atau minim sinyal dari Jakarta. Nah,
seorang dubes di AS harus berani
mengambil keputusan strategis. pokoknya
sesuai dengan apa ya kayak instingnya
dia tuh harus bekerja lah ini keputusan
yang harus diambil tuh seperti apa. Nah,
namun sekarang posisinya kosong dan
menanggapi kekosongan posisi itu sejak
Juli 2023, Dina ini juga menyoroti
memang ada banyak nuansa politis dalam
penunjukan duta besar di AS. Dina juga
menilai kekosongan jabatan dubes di AS
ini selama 2 tahun belakangan terjadi
karena transisi politik. Posisi duta
besar Indonesia di AS itu sangat
bergengsi sebenarnya. Selain menghindari
dari terjadinya dualisme antara dubes
Indonesia di AS dan siapapun yang
menjadi menteri luar negeri, ya Dina ini
juga menyebutkan Presiden Jokowi juga
ingin menempatkan orang di sana dari
sisi politis ya, dari dulu, dari
semenjak Presiden Jokowi lah sebelum ee
sekarang dijabat oleh Presiden Prabowo.
Dan karena tidak memiliki duta besar di
Amerika dalam melakukan negosiasi,
Indonesia pada akhirnya membentuk tim
negosiasi yang dipimpin oleh Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian yaitu
Pak Airlangga Harto. Nah, kalau
seandainya Indonesia masih terus tidak
memiliki dubes di Amerika, maka
negosiasi yang akan dilakukan
selanjutnya oleh Indonesia menjadi
terhambat. Sebab dues itu lebih
mengetahui bagaimana kondisi Amerika dan
bagaimana langkah-langkah yang akan
diambil oleh Amerika bagi Indonesia.
Sehingga dengan informasi yang
didapatkan oleh seorang Dubes akan
membantu untuk menyusun strategi terbaik
agar bisa berdiplomasi dengan Amerika.
Ya, fungsi duta besar itu benar-benar
kayak apa ya, Geng? Kalau dibilang
mata-mata bukan. Jadi perwakilan yang
menyerap segala informasi dari negara
luar ya, supaya negara kita bisa bersiap
untuk kemungkinan apapun gitu. Nah, lalu
kira-kira siapa aja nih bursa nama yang
sedang digadang-gadang akan menjadi duta
besar Indonesia untuk Amerika? Nah,
disebut-sebut nih ya calon dubes
Indonesia untuk Amerika itu ada yang
bernama Dwioo Indroyono Susilo. Beliau
merupakan sarjana teknik geologi ITB
yang lulus di tahun 1978 dan memegang
gelar pasca sarjana dari Universitas
Michigan dan serta dokter dari
Universitas Iowa dan kemudian pernah
menjadi menteri koordinator kemaritiman
pada periode 2014 sampai 2015 dan sempat
menjabat sebagai direktur perikanan dan
aku badan pangan PBB FAO pada tahun 2012
sampai 2014. Kemudian Pak Indro pernah
menjabat sebagai penasehat di
Kementerian Pariwisata pada tahun 2015
sampai 2019 dan di saat ini beliau
adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan
Indonesia atau disingkat dengan APHI dan
ketua forum komunikasi masyarakat
Perhutanan Indonesia. Nah, di dalam
wawancaranya dengan media BBC, Pak Indro
Yono ini bilang kalau dia belum bisa
berkomentar banyak terkait relasi
Indonesia dan Amerika Serikat saat ini.
Nah, ketika ditanya mengenai latar
belakangnya ya yang bukan diplomat karir
dari Kementerian Luar Negeri, Pak Indro
Yono ini bilang kalau dia berpengalaman
sebagai direktur senior di FAO. Oke, y
gitulah ya kekosongan duta besar. Jadi
salah satu alasannya. Dan ternyata udah
ada calonnya nih. Tapi entah kenapa ya
lama banget gitu dipilihnya ya. Nanti
kita tunggu aja. lah. Semoga segera ada
duta besar Indonesia untuk Amerika
supaya permasalahan kayak gini nih
enggak terjadi lagi. Nah, saat ini nih,
Geng, tarifnya Trump itu kan sudah
diturunkan gitu ya. Nah, apakah ini akan
membawa dampak positif atau justru lebih
negatif lagi negara kita? Sekarang kita
bakal masuk nih ke dalam pembahasan
mengenai dampak dari tarif Donald Trump
ke Indonesia ini, Geng.
Jadi, Geng, meskipun sudah terjadi
penurunan terhadap tarif Trump di
Indonesia, enggak serta-merta
menghilangkan dampak yang bakal
dirasakan oleh negara kita dan
masyarakatnya. Apa aja nih dampaknya?
Apakah dampaknya positif atau negatif?
Nah, jadi nih, Geng ya, Ketua Asosiasi
Produsen Serat dan benang filamen
Indonesia yang bernama Redma Gita Wira.
Nah, dia bilang nih, dia mengapresiasi
negosiasi yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dengan Amerika. Nah, Pak Redma
ini bilang kalau produsen Indonesia
masih bisa bersaing di pasar Amerika dan
hal ini bisa dilihat dari perbandingan
tarif yang dikenakan di Indonesia dengan
negara-negara lain. Menurut beliau,
angka tarif sebesar 19% tadi masih
berada di bawah rata-rata negara lain
yang sama-sama kena tarif Trump seperti
Cina dan Bangladesh. Nah, sebelum adanya
kesepakatan sebesar 19% produk-produk
serat dan benang filamen Indonesia sudah
dikenakan tarif resiprokal sebesar 23%
katanya. Dan oleh karena itu, Pak Retma
ini percaya kalau konsumsi komoditas
yang diproduksi anggota asosiasinya itu
gak bakal turun walaupun tetap harus
waspada. Pemberlakuan tarif ini mungkin
aja memunculkan peluang baru yaitu
merebut pasar Amerika dari Cina yang
kena tarif sebesar 30% dan Korea Selatan
sebesar 25%. Nah, jadi menurut beliau
nih ada sisi positifnya juga. Namun,
geng, Pak Retma ini tetap
mengkhawatirkan resiko terjadinya
transhipment. Apa itu transhipment? Jadi
singkatnya itu transitment ini kayak
praktik pengiriman barang ke negara
ketiga untuk menghindari biaya masuk
atau tarif tertentu. Dan contohnya nih
ya kayak barang-barang Cina itu lewat ke
Indonesia dulu supaya bisa mendapatkan
tarif yang lebih murah dibandingkan
langsung ke Amerika. Jadi kayak negara
kita tuh dimanfaatkan untuk ee nyalu
doang gitu. Eh kita mampirin ya barang
kita dari Cina ke Indonesia. Entar dari
Indonesia baru dikirim ke Amerika.
Supaya apa? Supaya tidak terkena tarif
20 sampai 23% tadi. Karena kalau dari
Indonesia cuma 19% gitu tuh
kecurangannya. bakal muter-muter tuh.
Dan praktik ini dikhawatirkan bisa
membuat impor di Indonesia melonjak ya.
Karena kan impor dari Cina tuh masuk ke
Indonesia dulu ya. Walaupun nanti bakal
jalan ke Amerika tapi kan mampir di
Indonesia dulu. Enggak mungkin enggak
ada yang nyangkut gitu. Dan kalau
praktik ini dilakukan dan diketahui oleh
pihak Amerika maka resikonya bisa
membuat tarif resiprokal yang ditetapkan
untuk Indonesia ya bakal berubah lagi.
Kalau ketahuan kayak Amerika langsung,
"Eh, lu kok curang sih? Bantu-bantu
Cina." Ya kan? Ya udah kita naikin nih,
lu lebih mahal dari Cina. Pihak Cinanya
ngapain? Ya dia tinggal-tinggalin aja
Indonesia. Ya udah gak usah di Indonesia
lagi. Kita cabut cari negara yang lebih
rendah daripada Indonesia. Tarifnya yang
nanggung tuh kita. Itu yang bahayanya.
Yang mana ini kemungkinan besar ya ee
permasalahannya tuh bakal lebih runyam.
Terus geng permasalahan kedua yang
mungkin bisa terjadi adalah praktik
dumping yaitu nilai ekspor filamen Cina
ke Amerika berada di atas 5 miliar dolar
Amerika. Begitu kena tarif yang tinggi,
kelebihan stok produksi filamen mungkin
aja masuk ke Indonesia. Dan dampaknya
Indonesia bakal kelebihan barang-barang
asal Cina yang lebih banyak lagi jika
hal ini sampai terjadi. Ya, kita tahu ya
negara kita kan main tampung-tampung aja
gitu. Ketika Cina enggak bisa jual
barang mereka ke Amerika itu kan sisanya
banyak tuh daripada numpuk jadi bangke
biasanya bakal dibuang ke negara kita,
negara konsumtif ini. Sekarang lihat aja
Indonesia. Kalau kalian mau lihat wajah
Indonesia, kalian ke Jakarta deh. Lihat
aja tuh gimana mobil sekarang
gila-gilaan ya. Mobil buatan Cina itu
sudah memadati jalan-jalan Jakarta. Dan
Jakarta saat ini gua bisa bilang tuh
kayak super duper macet. Kalau kita
berbicara enggak macet bukan Jakarta
namanya. Iye dari dulu Jakarta macet
tapi untuk saat ini macetnya udah enggak
ngotak, Geng. Karena kenapa?
Barang-barang ekspor dan diimpor ke
negara kita dari Cina itu benar-benar
udah enggak kebendung. mobil makin
banyak ditambah dengan mobil listrik
jadi jalan semakin padat. Nah, itu yang
bakal terjadi nanti.
Nah, terus g yang di sektor lainnya ya
komoditas sepatu ya memungkinkan untuk
memperluas pasar selain di Amerika yang
mana di saat itu Yosep Billy Dosiwoda
selaku direktur eksekutif asosiasi
persepatuan Indonesia atau disingkat
dengan Aprisindo itu menyambut baik
kesepakatan perundingan Indonesia dengan
European Union Comprehensive Economic
Partnership Agreement atau disingkat
dengan IUPA. Nah, salah satu manfaat
utama dari implementasi UCEPA ini adalah
penghapusan tarif impor secara
signifikan. Dan di dalam waktu 1 sampai
2 tahun setelah perjanjian berlaku,
sebanyak 80% ekspor Indonesia ke Uni
Eropa akan mendapatkan tarif sebesar 0%
alias enggak ada pajak yang dikenakan.
Beda kalau ke Amerika gitu. Nah, Yosep
ini menilai kesepakatan antara Indonesia
dengan Uni Eropa harus dilihat sebagai
perluasan pasar ekspor tambahan ya,
bukan untuk mengganti pasar yang ada
dengan negara lain termasuk Amerika.
Jadi ibaratnya tuh ya jangan sampai yang
di Amerika enggak lagi tapi malah
semuanya ke Uni Eropa. Enggak. Uni Eropa
enggak mau kayak gitu. Tapi Uni Eropa
ini ya menjadi tambahan lah. Jadi
meskipun mendapatkan tarif ya Indonesia
enggak perlu untuk mengganti pasar
Amerika dengan negara lain sebab masih
ada peluang untuk mendapatkan keuntungan
di pasar Amerika itu. Nah, justru
Indonesia harus menambah pasar di
negara-negara lain supaya pendapatannya
jauh lebih besar. Dan kemudian nih,
Geng, menurut keterangan dari Esther Sri
Astuti selaku direktur executif
institute for Development of Economics
and Finance atau disingkat dengan INDEF,
meskipun ada keyakinan kalau produsen
Indonesia masih bisa mendapatkan
keuntungan di tengah-tengah pemberlakuan
tarif Trump, masih ada ancaman PHK
terhadap karyawan yang bekerja di
berbagai sektor industri yang mengekspor
barang ke Amerika. Sebab kenaikan tarif
yang ditetapkan oleh Amerika akan
langsung diikuti dengan kenaikan harga
komoditas di tingkat pembeli. Dampaknya
nih ya bakal mengurangi permintaan
terhadap produk tersebut ya. Kalau itu
terjadi, perusahaan bisa-bisa mengalami
resesi yang kemudian bisa menyebabkan
layof tenaga kerja alias PHK. Dan IMF
memprediksi ya angka pengangguran di
Indonesia bakal meningkat dari tahun
sebelumnya. Wah gila tahun ini aja udah
hancur banget. Gimana kalau nambah tuh
penganggurannya? Dan di tahun 2024 aja
nih, Geng. Angkanya sudah sebesar 4,9%
dan akan meningkat menjadi 5,1% di tahun
2026. Dan bagi Esther, potensi
pengangguran baru ini bakal menambah
beban yang baru juga di tengah
keterbatasan lapangan pekerjaan yang ada
di Indonesia. Dan kalau banyak yang
nganggur, maka angka kriminal semakin
tinggi. Karena orang lapar, orang pengin
makan, orang butuh penghidupan. Kalau
enggak ada kerjaan, dia enggak punya
duit. Kalau enggak punya duit ngapain?
ya, kalau enggak nikam orang jadi
maling, jadi apa. Nah, makin seram
negara kita kalau kayak gitu. Terus,
Geng, apa yang bisa dilakukan oleh
pemerintah kita nih? Nah, untuk bisa
menangani ancaman terhadap tarif Trum
ini, pemerintah bisa memberikan subsidi
transportasi pengiriman barang dari
Indonesia dan selain itu diversifikasi
pasar komunitas dan meninjau kembali
pembangunan sektor industri yang
dibutuhkan. Menurut Esther juga ada
sektor lain yang bisa dikembangkan oleh
pemerintah untuk bisa menghasilkan
pendapatan di luar industri manufaktur
seperti sektor pertanian serta
pariwisata. Dan kalau pemerintah serius
dalam mengurus transportasi serta
infrastruktur ke arah destinasi wisata,
hal ini pastinya bakal menarik devisa
yang lebih banyak dari para turis yang
berkunjung ke Indonesia. UMKM juga
pastinya bakal mendapatkan keuntungan
juga, Geng. Nah, pertanyaan selanjutnya
nih, ya. Apakah dengan penerapan tarif
yang lebih rendah ini bisa membuat
negara kita lebih dilirik oleh investor
asing? Ya, enggak bisa dikatakan kayak
gitu juga. Gua coba kasih perbandingan
nih. Indonesia tuh dapat tarif 19% hanya
selisih 1% dari Vietnam. Negara yang
dikenal bisa banyak menarik investor
asing karena memberlakukan tax
holidaynya. Yang mana mereka di dalam
case ini mereka itu terkena 20% ya, beda
1% sama negara kita. dan itu angka yang
kecil sehingga enggak serta-merta tarif
yang lebih kecil dibandingkan Vietnam
ini bisa membuat investor lebih
mengutamakan berinvestasi ke negara
kita. Ada banyak pertimbangan bagi
investor untuk menanam modal di sebuah
negara. Namun yang paling utama adalah
upah tenaga kerja yang lebih terjangkau
serta kemudahan iklim berinvestasi. Nah,
untuk bisa membuat Indonesia lebih
dilirik lagi ya perlu adanya pembenahan
iklim investasi bagi para investor agar
investor itu merasa kalau Indonesia itu
mempedulikan kenyamanan dan keamanan
para investor ketika menanam modal di
negara kita. Tapi kayaknya untuk yang
satu ini agak mustahil ya. Ya, kita
lihat aja salah satu contohnya soal
pemalakan dari ormas yang pernah kita
bahas di konten gua kemarin yang sampai
membuat investor tuh jadi resah dan
takut karena ya dipalakin mulu gitu.
Nah, semisalnya itu dibenahi ya pastinya
bakal menambah kepercayaan para
investor. Tapi kalau enggak ya enggak
usah berharap deh. Nah, lalu terkait
soal transfer data ya yang katanya data
masyarakat Indonesia akan ditransfer ke
Amerika Serikat secara cuma-cuma. Banyak
pihak yang takut ya kalau data-data
milik masyarakat akan diberikan secara
cuma-cuma ke Amerika dan itu
disalahgunakan. Apalagi sampai saat ini
Amerika sendiri tidak memiliki hukum
yang spesifik mengenai perlindungan data
pribadi. Jadi sangat mungkin bagi
Amerika nantinya menyalahgunakan data
milik warga Indonesia ini. Namun
berdasarkan penjelasan dari Hasan Nasbi
selaku Kepala Kantor Komunikasi
Kepresidenan, tujuan dari transfer data
ini adalah bagian dari komersial, bukan
agar data milik Indonesia dikelola oleh
Amerika, katanya. Nah, transfer data ini
menjadi bagian dari pertukaran barang
dan juga jasa tertentu antara Indonesia
dengan Amerika. Bahkan Pak Hasan Nasbi
juga bilang kalau ini bisa jadi
bermanfaat, tapi bisa juga jadi hal yang
berbahaya sehingga dibutuhkan
keterbukaan data itu sendiri. Nah, tapi
kan pada akhirnya nih, Geng, ya. Enggak
bisa menjamin juga apakah data itu bakal
aman atau enggak ketika diberikan ke
Amerika meskipun hanya untuk tujuan
berdagang aja, ya kan? Kalau menurut
kalian bakal aman atau enggak, Geng?
Coba deh kira-kira kebijakan dan
syarat-syarat yang diberikan oleh
Amerika ke Indonesia itu worth it enggak
untuk diambil oleh pemerintah kita?
Nah, itu dia, Geng, ulasan singkat
mengenai tarif Trump yang dikenakan ke
Indonesia yang akhirnya saat ini sudah
turun jadi 19%. Haduh, kalau kayak gini
ujung-ujungnya ya kita lagi yang
ngos-ngosan ya. Setiap bulan, setiap
tahun hasil kerja keras kita ya pajaknya
makin aneh-aneh aja. Oke, gimana menurut
kalian, Geng, tentang pembahasan kita
kali ini? Coba tinggalkan komentar di
bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:13:55 UTC
Categories
Manage