Kind: captions Language: id Geng, pembahasan kali ini ini benar-benar sebuah informasi yang gua harap bisa menjadi edukasi untuk kita semua dan ee ini terutama untuk kalian-kalian yang merupakan orang tua yang masih punya anak kecil yang mana anak kecil ini kan biasanya rentan banget terhadap penyakit. Nah, di kasus yang akan kita bahas ini terjadi sebuah kejadian yang benar-benar bikin merinding akibat dari ya tidak sterilnya kehidupan sebuah keluarga dan ini juga dikarenakan ya sang ibu mengalami gangguan kejiwaan. Ya, di dalam kasus ini jujur ya ini gua tidak bermaksud membahas ini untuk melanggar aturan YouTube ataupun untuk menceritakan hal-hal yang tabu dilarang gitu. enggak sama sekali. Ini benar-benar tujuannya adalah untuk edukasi. kita ambil pelajarannya dari kasus ini. Dan gua yakin banget kalian semua e pasti udah sempat mendengar sedikit pemberitaannya soal ya ada seorang adik kecil yang tanpa dosa tidak bersalah tutup usia dengan kondisi yang benar-benar bikin kita tuh wah enggak pernah ngebayangkan sebelumnya bahwa hal ini bisa terjadi apalagi di negara kita Indonesia yang kita pikir kita jauh lebih bersih, jauh lebih baik dari negara-negara yang mungkin bisa dikatakan kayak di Afrika mungkin. ya kan negara-negara yang tertinggal atau mungkin di India ada beberapa bagian di India yang bisa dikatakan tuh kotor banget daerahnya. Nah, ternyata kita sekarang baru sadar ya rupanya di negara kita juga ada hal seperti itu. Kejadian yang bakal kita bahas ini dialami oleh seorang adik yang bernama Raya yang menderita cacingan akut kabarnya. Nah, dari video-video yang beredar di sosial media, cacing yang ada di dalam tubuh raya jumlahnya banyak banget dan sudah menyebar ke berbagai organ vital. Sampai-sampai ada cacing yang keluar dari hidungnya, bahkan ya dari organ-organ tertentu yang kita enggak pernah bayangin. Raya pun akhirnya tidak bisa bertahan dan dia pun tutup usia karena kondisi yang udah parah banget. kasusnya ini menjadi sorotan di Indonesia ya, menjadi sebuah peringatan bagi kesehatan anak di negara kita yang bisa dikatakan ya ini adalah sebuah kegagalan dari sistem kesehatan yang seharusnya bisa melindungi anak-anak dari penyakit yang bisa dicegah ya. Salah satunya adalah cacingan yang mana kan setiap tahun kita tuh pasti ada ee apa ya kayak imunisasi ee posandu, obat cacing dan segala macam. Tapi ternyata ada yang tutup usia gara-gara cacingan di negara kita. Nah, di video kali ini kita akan membahas bagaimana kisah dari adik raya ini agar menjadi refleksi bersama-sama dan jadi bahan evaluasi bagi pemerintah kita untuk terus meningkatkan sistem kesehatan. Perhatian tidak hanya kepada keuntungan doang. Mencari keuntungan, menjual hasil perut bumi. Enggak cuma itu doang, tapi juga harus diperhatikan masyarakatnya jangan sampai ada kejadian kayak gini. Nah, langsung aja nih kita bahas secara lengkap kasus dari raya ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry, [Musik] Geng. Geng, sebelum kita bahas tentang kronologi kejadiannya, kita bahas dulu background dari raya ini. Jadi, Geng, raya ini adalah seorang bocah berusia 4 tahun yang berasal dari Kampung Padang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Nah, raya selama ini diasuh oleh neneknya. Sebab sang ibu yang bernama Endah yang berusia 38 tahun menderita gangguan jiwa. Sementara ayahnya yang bernama Udin berusia 32 tahun itu menderita TBC. Namun ada juga yang mengatakan kalau ayahnya si Raya ini juga sama-sama menderita gangguan jiwa, Geng. Kebayang tuh sehari-hari Raya harus tumbuh ya di tengah-tengah orang tua yang sama-sama enggak waras lah ibaratnya ya. Tidak ya tidak bisa memberikan pendidikan dan kasih sayang yang memadai untuk Raya. Sehari-hari ayahnya Raya yang bernama Udin ini bekerja serabutan sebagai buru harian lepas. Sementara ibunya Endah cuma mengurusi rumah aja. Jadi ibu rumah tangga. Raya ini adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun salah satu saudaranya udah meninggal dunia, Geng. Jadi dia tinggal berdua dengan saudaranya yang lain lah. Dan raya tinggal di sebuah rumah panggung yang di bawahnya itu banyak ayam dan apa ya? Ya, peliharaan. Ini jujur ya, sebenarnya rumah jadul, rumah panggung zaman dulu tuh juga kayak gini nih. Di bawahnya itu bisa kandang bebek, di bawahnya itu bisa kolam lele atau apalah gitu. Nah, tapi entah kenapa ya kalau untuk zaman dulu kayaknya orang tua tuh e punya cara tersendiri untuk mensterilkan itu jadi lebih bersih. Kalau zaman sekarang kayaknya dibiarin aja kayak gitu. Contohnya kayak di rumah raya ini. Ayam-ayam yang ada di sana itu membuang kotorannya sembarangan di bawah rumah. Dan kabarnya raya sering bermain di kolong rumah tersebut yang penuh dengan kotoran ayam. Gua merinding banget ngebayanginnya. Ya Allah. Dan raya ini main di tempat yang sangat kotor, penuh dengan kuman. dan hampir setiap hari tanpa adanya pengawasan dari keluarganya. Karena ya menurut keluarganya mungkin berani kotor itu baik. Nah, itu iklan siapa tuh? Berani kotor itu baik. Nah, kayak gini ya. Sebenarnya okelah kalau main kotor untuk anak kecil itu baik, tapi setelahnya setelah dia main kotor ya harus bersih-bersih kukunya dicek ya kan atau ya dimandiin sebersih-bersihnya pakai sabun. Nah, tapi tidak dengan raya. Benar-benar tidak diawasi. Kedua orang tuanya tidak bisa diandalkan karena keduanya pun memiliki riwayat penyakit jiwa. Nah, kolong rumahnya ini yang menjadi tempat di mana raya diduga terpapar larva dari cacing. Kondisinya diperparah karena di rumah raya tidak ada kamar mandi. Sehingga setiap hari adik raya ini harus mandi di empang yang berada di seberang area rumahnya yang jauh dari kata higienis. Jadi udah main kotor, mandinya pun di tempat yang tidak bersih. Ada cerita dari Sarah selaku tante dari Raya yang juga ikut mengasuh Raya selama ini. Menurut ceritanya, Raya ini adalah sosok anak yang sebenarnya ceria dan biasanya suka bergaul dengan anak-anak seusianya dia. Namun dibandingkan dengan teman-temannya, raya ini mengalami apa ya ee kayak telat jalan gitu loh. Eh telat berkembang lah bisa dikatakan. Biasanya kan ada yang e speech delay atau telat berbicara. Nah, kalau raya ini telat jalannya. Jadi, raya ini belum lancar berjalan untuk anak seumuran dia. Dan meskipun begitu, dia masih bisa bermain dengan anak-anak yang lain. Dan selain itu, tantenya yang bernama Sarah juga mengatakan kalau setiap hari raya ini memang terlihat kotor. Kayak mainnya emang suka kotor-kotoran gitu. Nah, perihal Raya yang ternyata mengidap cacingan, Sarah enggak tahu. Ya, jelas enggak tahu siapa juga yang mau ngelihat isi perutnya. Kalau udah kotor kayak gitu, udah pasti kalau enggak kuman, cacing, bakteri, virus bahkan udah pasti menghinggap di sana. Apalagi anak kecil yang kekuatan imunnya belum seperti orang dewasa. Nah, si tantenya yang bernama Sarah ini cuma bilang kalau dia tahu raya ini memang sudah dinyatakan mengalami gizi buruk ketika dia diperiksa di posandu ketika usianya 2 sampai 3 tahun. Nah, menambahkan cerita si Sarah ini ya, ibunya yaitu Endah sempat diwawancarai oleh awak media, Geng. yang mana dia bilang kalau Raya memang suka main di tanah. Dulu sempat ada yang melarang agar Raya jangan digendong terus karena ditakutkan Raya enggak bisa jalan seperti anak normal dan akhirnya nanti ya maaf nih kayak lumpuh gitu. Dari mulai kalimat-kalimat yang sotoy kayak gitulah ya. Akhirnya ibunya si Endah ini serta anggota keluarga yang lain membiarkan raya main menginjak tanah kayak gitu aja enggak digendong. termasuk ketika raya bermain di kolong rumah, tempat di mana ya kotoran ayam banyak banget di sana. Yang mana menurut Endah Raya sejak lama sudah mengalami sakit seperti sesak, batuk-batuk. Jadi kayak hah enggak tahu deh pokoknya orang tuanya ini atau keluarganya ini ngedengar ya kalimat-kalimat tahayul orang lah kayak jangan sering-sering digendong anaknya dibanting aja gitu kali ya. Ya emang sih kalau bertetangga dengan orang-orang di daerah-daerah yang kayak gitu ada aja sok tahunya lebih pintar dari dokter gitu. Nah, dan hal inilah yang menjadi penyebab awal kenapa Raya dibiarkan kayak gitu aja, Geng. Terus, Geng, selama ini kalau Raya menderita sakit, ya ibunya si Endah ini enggak pernah membawa Raya ke rumah sakit ataupun ke puskesmas. Tapi raya cuma diobati dengan cara tradisional dengan cara dimandikan menggunakan air hangat dan daun singkong. Nah, neneknya Raya itu bilang kalau memang benar sudah sejak dulu memiliki riwayat sakit paru yang diduga tertular dari keluarganya, yaitu dari sang ayah yang memang TBC dan dari ibunya. Raya menunjukkan gejala sakit ketika menginjak usia 2 tahun yang mana Raya di saat itu baru bisa duduk ketika usia 2 tahun itu belum bisa merangkak, belum bisa jalan. Kondisi raya yang terkena penyakit paru ini diketahui oleh mantri, bukan dokter, mantri setempat. Tapi katanya ya enggak lama dari itu langsung sembuh. Kok bisa ya? Kan enggak berobat tiba-tiba sembuh. Nah, neneknya ini juga bilang selama ini raya itu rutin mendapatkan obat cacing dari posandu. Cuma geng enggak jelas apakah obat itu benar-benar diminumkan ya kepada Raya atau enggak. Dari informasi lain yang gua dapatkan, Raya sempat dibawa ke klinik yang ada di daerah kalapanunggal. Nah, pada saat itu dokter langsung mendiagnosis kalau raya memang benar-benar terinfeksi TBC. Keluarga Raya di saat itu masih belum tahu kalau selain menderita TBC, raya juga ternyata mengalami kondisi di mana tubuhnya dipenuhi oleh cacing. Huh. Oke, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai bagaimana perjalanan pengobatan untuk raya. Sekarang kita bahas. Jadi, Geng, perjuangan untuk bisa mengobati raya bisa dikatakan enggak mudah. Nah, di saat itu ada yang namanya Iin Aen. Dia ini adalah pendiri rumah teduh e and peaceful land. Dia adalah pihak yang pertama kali membagikan kondisi yang dialami oleh raya. Pada awalnya ada kerabat raya yang melaporkan kepada Iin ini ya mengenai kondisi Raya di tanggal 13 Juli 2025. Di saat itu pihak keluarga cuma menyampaikan kalau raya mengalami sesak nafas. Nah, mendapatkan laporan ini, relawannya langsung segera melakukan evaluasi di hari yang sama dengan langsung melihat kondisi Raya di rumahnya. Nah, jadi kayak didatangin lah gitu. Untuk sampai ke rumahnya raya harus melewati jalan berbatu yang belum sepenuhnya di aspal. Medan jalan yang menanjak juga menyulitkan perjalanan para relawan. Dan di sepanjang jalan ada kandang-kandang domba yang berjajar di sisi jalan. Karena memang diketahui warga sekitar itu memiliki ternak dan ada juga yang jadi buruh tani gitu, Geng. Rumah raya ini berada 100 m dari jalan utama dan lokasinya berada di ujung paling ujung rumahnya. Dan saat e tim relawan tiba di sana, raya sudah dalam kondisi yang enggak sadarkan diri. Kasihan banget anak kecil udah enggak sadarkan diri. Gimana tuh, Geng? Dia langsung dibawa ke RSUD R Smsuddin, SH untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut menggunakan ambulans oleh tim relawan. Nah, di saat itu raya ini tiba di rumah sakit sekitar jam 8.00 malam di hari yang sama. Dan berdasarkan informasi yang diberikan oleh keluarga e kepada dokter yang menangani raya, sehari sebelumnya raya ini mengalami gejala demam, batuk, dan pilek. Mendengar informasi tersebut, awalnya dokter menduga raya ini menderita ee meningitis TB atau komplikasi dari TBC paru. Sebab orang tuanya kan memang ee sedang menjalani pengobatan TBC dan juga dia pernah didiagnosis ya mengalami TBC dari umur 2 tahun. Nah, tapi dugaan tersebut berubah ketika dokter tiba-tiba melihat adanya cacing gelang atau ascarsis yang tiba-tiba keluar dari hidung raya selama observasi di IGD. Semua orang begidik ngeri di saat itu. Merinding ngelihatnya. Bahkan dikabarkan cacing itu juga keluar dari ya bagian-bagian vital. Nah, selain enggak sadarkan diri, kondisi raya juga udah enggak stabil, Geng. Terutama tekanan darahnya. Setelah penanganan awal untuk menstabilkan kondisinya, raya segera dirawat di ruang PICU. ya, singkatan dari pediatric intensive care unit setelah dia dikonsultasikan dengan spesialis anak. Jadi gak tahu ya, Geng. Eh, apa ya? Gua enggak tahu ini mungkin pemikiran bodoh gua doang atau opini bodoh gua doang. Ya, mungkin buat teman-teman yang di dunia kesehatan bisa koreksi ini kalau informasi ini salah karena ini opini ya. Entah kenapa gua berpikir cacing-cacing itu keluar dari tubuhnya dia karena memang merasa kayak tubuhnya atau ee sebutannya apa? Inangnya gitu ya. Inangnya itu sudah tidak hidup. sudah tidak lagi apa ya, sudah tidak lagi memberikan makan untuk mereka, akhirnya mereka keluar. Jadi kemungkinan besar di saat itu cacing-cacing itu keluar karena raya itu udah udah enggak mungkin hidup lagi, udah enggak selamat jadinya cacing ini pada keluar dari sana untuk mencari tempat atau inang yang baru gitu kali ya. Atau gua salah? Pertanyaan itu muter-muter terus di kepala gue. Mohon ya teman-teman yang dari dunia kesehatan yang paham akan hal ini boleh dijawab. Nah, di saat itu dirawat selama 9 hari di rumah sakit tersebut, Geng. Namun, kondisinya gak kunjung membaik. Infeksi dari cacing gelang yang dia alami sudah sangat parah dan menyebar ke organ vital, bahkan sampai ke paru-paru. Dan bahkan bayangin, Geng, di otaknya aja ada cacing. Keluarnya cacing dari hidung raya menandakan bahwa cacing sudah menjalar sampai ke saluran pernapasan dan saluran pencernaan bagian atas. Diperkirakan ada sekitar 1 kg cacing yang bersarang di tubuh raya. 1 kilo, Geng. Duh, satu ekor aja tuh kan enggak ada seon-seonnya ya. Berat, ya. 1 kilo berarti. Ya Allah. Dan ini sudah dikatakan terlambat sebab cacingnya udah banyak banget dan ukurannya udah besar-besar banget. Kondisi tersebut membuat penanganan medis jadi semakin sulit dan tidak memungkinkan. Namun, tim dokter terus berupaya untuk mengeluarkan cacing satu demi satu dari dalam tubuh raya. Dan setiap harinya puluhan cacing keluar dari semua bagian lubang di tubuhnya, hidung. mulut bagian belakang. Dan beberapa cacing itu keluar masih dalam keadaan hidup. Sampai pada akhirnya raya dinyatakan tidak bisa diselamatkan. Dia tutup usia pada tanggal 22 Juli 2025 pukul 1424 siang. Benar-benar sebuah kondisi yang ironis banget, Geng. Ya, ada 1 kg cacing yang ada di tubuhnya sampai-sampai keluar dari hidung kayak gitu. Dan enggak sampai di situ aja, Geng. Iin juga menceritakan bagaimana perjuangan ketika ingin menyelamatkan raya. Sebab pihak mereka menghadapi kesulitan perihal administrasi. Ternyata, Geng, raya tidak memiliki identitas termasuk KK. Di saat itu, pihak rumah sakit memberikan kesempatan selama 3* 24 jam untuk mengurus BPJS PBI atau penerima bantuan iuran agar biaya perawatan bias ditanggung oleh pemerintah. Nah, pihak IIN langsung ke Duk Capil. Sesampainya di sana diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan. Tapi pada akhirnya Dinas Kesehatan juga enggak bisa mengurus dokumen raya. Intinya ribet. Intinya di negara kita nyawa entar dulu dokumen nomor satu. Oke, intinya kayak gitu deh. Nah, selama 3 hari berturut-turut ya enggak ada solusi untuk bisa membantu mengurus BPJS-nya raya. Sementara ya cacing di dalam tubuhnya terus berpesta kayak joget-joget. Bapak-bapak DPR itu loh lihat ya yang lagi viral itu kayak gitulah cacing di dalam tubuh raya di saat itu. Dan enggak ada tanggapan juga dari instansi terkait. Akibatnya tenggat yang diberikan oleh pihak rumah sakit pun terlewat. Demi keselamatan raya pihak IIN enggak bisa menghentikan pengobatan sehingga mereka mengalihkan status perawatannya menjadi tunai sepenuhnya yang ditanggung oleh rumah teduh milik IIN. Total tagihan perawatan mencapai Rp23 juta lebih yang kemudian mendapatkan diskon dan sisa tagihannya dibebaskan setelah pembayaran awal. Huh, sedih banget gua anjir dengar ceritanya. Terima kasih Mbak Iin. Respect untuk kemanusiaan. Respect buat yang joget-joget. Ah, udahlah gua mau doain orang yang jelek-jelek. Yang jelas lihat sendirilah. Sedih banget. Untuk itulah kita membayar semua. Ah, stay cool. Oke, lanjut. Kemudian ya ada keterangan dari Wardi Sutandi selaku Kepala Desa Cianaga. Wardi ini menjelaskan kalau pemerintah desa sudah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu keluarga raya, Geng. Ada bantuan dari pemerintah, baik dari Dinkes maupun dari dana desa. Bahkan ya kata Pak Wardi, raya sempat sehat, berat badannya sempat naik karena diberikan pemberian makanan tambahan atau PMT yang ada di setiap harinya, ya kan? Terus beliau juga menambahkan bahwa rumah keluarga raya sempat hancur dan dibangun ulang oleh warga serta pemerintah desa. Tapi sayangnya karena orang tuanya memang mengalami gangguan kejiwaan ya, alas rumahnya atau lantai rumahnya kan itu rumah panggung gitu kan. Alas rumahnya kan terbuat dari kayu malah dihancurin sama orang tua raya ini untuk dijadikan bahan bakar memasak jadi kayu bakar. Nah, menurut Bapak ini ya, keluarga raya ini tidak langsung membawa raya ke rumah sakit ketika kondisi raya memburuk. Ya, mungkin karena enggak menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan yang benar-benar mengerikan, yaitu menderita cacingan yang parah. Terus juga Pak Wardi ini bercerita kalau keluarga dari raya memang sulit diatur, Geng. Ya, itu tadi karena ada permasalahan gangguan jiwa gitu. Nah, pernah ya menurut Bapak itu ada cerita program vaksinasi COVID. Nah, keluarganya malah kabur ke hutan selama 3 bulan dan keluarganya juga jarang berinteraksi dengan orang lain selain dengan keluarga sendiri. Nah, jadi memang rada-rada keluarganya. Selain itu, Pak Wardi juga mengatakan meskipun sering dibawa ke klinik dan puskesmas, pengobatan raya terhambat karena enggak punya dokumen resmi, enggak ada Kak, enggak ada akta kelahiran. Kemudian menurut Kepala Dusun Tiga Lemah Duhur yang bernama Arif Rahman Hakim, keluarga raya berada di bawah garis kemiskinan. Memang kondisi ini enggak cuma dialami oleh keluarga raya, dari total sekitar 350 kepala keluarga dengan lebih dari 1000 jiwa, separuh di antaranya itu ya masih hidup di bawah garis kemiskinan di sana. Dan kebanyakan warga di sana cuma memiliki rumah yang sangat sederhana. Bahkan masih ada yang berupa rumah panggung seperti rumah keluarga raya ini. Nah, setiap harinya mereka bekerja sebagai petani. Namun, ada juga yang menjadi buru harian lepas atau buru-buru di luar desa. Kondisi di desa ini juga enggak beda jauh dengan desa-desa di sekitar. Termasuk rumahnya yang sampai kondisi ekonominya rata-rata memang kehidupannya sama kayak keluarga raya. Yang mana artinya nih, Geng? Ya, secara enggak langsung ya bisa diyakini masih banyak raya-raya yang lain di desa tersebut. Sedih banget ya kalau dipikir-pikir. Terus, Geng, ketika kondisi yang dialami oleh raya ini viral di sosial media, banyak netizen yang menyoroti mengapa warga sekitar enggak ada yang mau membantu untuk membawa raya untuk bisa mendapatkan perawatan dari awal. Karena kalau seandainya warga sekitar tanggap dan ingin membawa raya, mungkin kondisinya enggak akan separah sekarang. Ya, ada benarnya pertanyaan netizen, tapi balik lagi kan udah dibilang mereka aja tuh semuanya serba kesulitan. Yang kesulitan enggak cuma keluarga raya, tapi semua keluarga di sana boro-boro ngebantu orang, ngebantu diri sendiri aja udah sulit. Nah, terus netizen juga jadi mempertanyakan mengapa orang tua raya yang memiliki gangguan jiwa bisa menikah. Banyak yang nanyain tuh, padahal secara psikologis mereka tidak memiliki daya untuk memberikan pengasuhan yang baik untuk anaknya. Apakah mereka berdua menikah sebelum menderita ODGJ atau justru setelah menikah tiba-tiba ya stres jadi ODGJ. Nah, soalnya kan untuk menikah itu syaratnya harus berakal gitu kan. Nah, seandainya orang tuanya menikah dengan kondisi yang sudah mengalami ODGJ, kenapa bisa dinikahkan? Dokumen-dokumen untuk anaknya nanti juga enggak akan bisa tercatat karena kondisi yang seperti itu, ya. Seperti yang dialami oleh raya ini sehingga kesulitan mendapatkan BPJS. Nah, terus geng ya ada isu yang menyebar di sosial media nih soal desa tempat di mana raya tinggal. Di saat itu isu ini menyebutkan kenapa raya itu enggak punya jaminan kesehatan, enggak punya identitas. Ini memang karena di desa tempat raya tinggal kalau ada orang yang mau membuat atau mengurus dokumen seperti KK, KTP sampai BPJS harus bayar uang jalan kepada pemerintah desa senilai Rp150.000 untuk membuat KTP dan Rp200.000 untuk membuat KK. Karena ternyata berdasarkan informasi yang beredar luas di sosial media di desa tempat tinggal almarhum raya dan keluarganya ini, masyarakat yang ingin membuat ataupun mengurus dokumen-dokumen seperti KK, KTP, hingga BPJS harus membayar uang jalan kepada perangkat desanya. senilai Rp150.000 untuk pembuatan KTP dan Rp200.000 untuk pembuatan KK. Entah berapa ratus ribu yang harus dibayar masyarakat setempat untuk membuat BPJS. Dan informasi ini nampaknya dibenarkan oleh salah seorang perangkat desa setempat. Sedangkan ini kan kendalanya kita kalau bikin nya kedah ka ustaz maran ka distruk Capil gitu. Jadi bahasa mereka sendiri kitu intina mah ngagentosan kang ongkos lah kitu jangan dibahasakan pal basa mayar kakak mahalnya mangga atuh ti samanya nyari cuman desa hanya ngasih persyaratan itu gede banget loh geng angkanya untuk sekelas e masyarakat menengah ke bawah mungkin buat kalian-kalian yang terbiasa ngopi-ngopi cantik di coffee shop ya kecil tapi untuk orang-orang kayak keluarga raya gede banget loh Rp200.000 ini termasuk pungli enggak sih? Ini masih sekedar isu memang di sosial media belum tahu benar atau enggak tapi jika benar ini adalah bentuk pungli yang benar-benar ya menyakitkan banget ya. Lihat dampaknya sampai memakan korban jiwa. Jadi enggak cuma cacing doang yang menjadi penyebab atas meninggalnya raya, tapi pungli juga kalau memang isu ini benar. Kalau enggak benar silakan bantah di kolom komentar. Oke. [Musik] Lalu, Geng. Kang Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat sudah mengetahui terkait apa yang dialami oleh raya. Beliau menyampaikan rasa prihatin serta kekecewaan yang mendalam yang diikuti dengan permintaan maaf atas meninggalnya raya. Kang Dedi ini sudah mengkonfirmasi kondisi raya kepada tim dokter yang menangani dan membenarkan apa yang terjadi. Kang Dedi ya selanjutnya akan melakukan pemberian sanksi kepada perangkat desa dan pihak yang dinilai lalai memberikan pelayanan kepada masyarakat. Nah, karena ini ada unsur ya kelalaian juga. Benar banget menurut Kang Dedi ini. Dan tindakan tersebut dilakukan oleh Kang Dedi dikarenakan fungsi-fungsi pokok pergerakan PKK, posandu dan kebidanan yang bisa dikatakan gagal total, tidak berjalan. Selain itu, Kang Dedi juga sudah mengirimkan tim untuk memberikan perawatan bagi keluarga raya dan akan memberikan teguran tegas kepada Bupati Sukabumi agar kasus seperti raya tidak terulang kembali di kemudian hari. Terus geng, ada sebuah statement yang cukup lucu nih. Ini datang dari Menteri Kesehatan yaitu Pak Budi Gunadi Sadikin. Ini gua bacain ya. Jadi justru beliau ini ya menyebutkan kalau raya ini bukan meninggal karena cacingan. Padahal yang mendiagnosis itu kan dokter ya. Beliau bilang ya eh raya ini meninggal karena infeksi katanya. Nah menurut beliau infeksi tersebut diduga karena meningitis atau TBC. Dan dugaan tersebut dikarenakan raya sudah 3 bulan terus-menerus mengalami batuk berdahak dan enggak bisa sembuh sehingga menyebabkan tubuhnya lemah. Meninggal bukan karena cacingan yang bersangkutan meninggalnya karena infeksi. Infeksinya kita duga bisa karena meningitis ini masih dugaan dan bisa juga karena TBC. Kalau kita lihat ya dari keterangan Bapak ini, dari statement Bapak ini dengan video yang beredar itu sangat kontradiktif. Di video jelas-jelas di tubuhnya udah keluar cacing, tapi dikatakan bukan itu penyebabnya. Terus ada statement lain yang enggak kalah nyeleneh dari seorang Pak Pratikno selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau Menko PMK. Jadi pada saat diwawancarai oleh media, di saat ya beliau ditanyakan soal kondisi raya, beliau itu cuma bilang kalau rincian mengenai kasus tersebut sepenuhnya sudah ditangani oleh Kemenkes. Dan pada saat Awak media menanyakan lebih lanjut mengenai koordinasi pemerintah terkait masalah ini, beliau justru menjawab kalau dia ngantuk. Ah, sedih banget ya. mungkin anu ya Kemenkes yang awal cukup detail. Iya, Pak. Kalau Bapak ee sudah mendapatkan informasi lebih lanjut tapi anu detailnya nanti di Kemenkes ya. Nanti ada mungkin akan dikoordinasi tahu saya ini agak ngantuk dikit ini. Oke, selain membahas kasusnya Raya ini gua juga mau memberikan edukasi ke kalian mengenai penyakit yang dialami oleh Raya yaitu infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang yang berada di dalam tubuh. Ya kan? Dan dari kasus raya ini menjadi sebuah tanda bahwa sistem kesehatan di negara kita masih belum bisa melindungi anak-anak kita dari penyakit. Bahkan kita sendiri dari penyakit ya seperti cacingan ya kan. Sekarang gua bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai kegagalan sistem kesehatan di negara kaya raya dengan tambangnya ini. Jadi, geng, penyakit yang raya alami disebut dengan askariasis. atau cacingan yang disebabkan oleh cacing gelang yang bisa tumbuh 30 sampai 40 cm di dalam tubuh manusia. WHO menyebutkan kalau penyakit ini sangat sering terjadi di negara-negara tropis dan subtropis dengan kondisi sanitasi yang buruk. Anak usia 10 tahun ke bawah ya yang biasanya lebih rentan untuk terkena infeksi cacing. Dan hal ini disebabkan karena mereka yang sering bermain di tanah dan belum terbiasa dalam menjaga kebersihan tangan. Jadi apa aja dipegang gitu. Telur cacing itu biasanya kan bakal masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau air yang tercemar dengan kotoran manusia atau hewan. Nah, tanah yang digunakan sebagai pupuk juga bisa tuh atau buah dan sayuran yang enggak dicuci dulu atau enggak dimasak dengan e matang gitu. Proses dari berkembang biaknya cacing di dalam tubuh juga cukup mengerikan, Geng. Telur cacingnya itu bakal masuk melalui mulut, menetaskan telurnya di usus, dan larva yang keluar dari telur tersebut akan menembus dinding usus, ya kayak ya, kayak mereka ngegali tanah aja gitu. dan kemudian bakal masuk ke dalam aliran darah yang menuju ke paru-paru. Dari paru-paru, larva bakal naik ke tenggorokan dan ini akan membuat manusia jadi batuk-batuk. Dan ketika batuk larva bakal tertelan kembali ke usus. Lalu larvanya bakal tumbuh menjadi cacing dewasa dan menghasilkan telur lagi. Gitu terus tuh siklusnya. Satu ekor cacing betina, Geng, bisa menghasilkan 200.000 telur per harinya. Bayangin 200.000 telur. Enggak heran kenapa bisa diperkirakan ada 1 kg lebih cacing di tubuh raya. sekalinya bertelur banyak banget. Nah, gejala askariasis atau cacingan ini bisa mirip e kayak asma atau radang paru ketika larva cacing berada di paru-paru. Makanya suka disalah artikan sebagai penyakit paru. Ada beberapa jenis cacing yang bisa menginfeksi tubuh manusia. Yang pertama adalah cacing gelang tadi. Kemudian ada cacing tambang, terus ada cacing cambuk dan cacing kremy. Itu beda-beda tuh. Menurut WHO ya, ada lebih dari 1,5 miliar orang di dunia yang terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah. Dari jumlah tersebut ya, anak usia di bawah umur jadi kelompok yang paling rentan. Ada lebih dari 260 juta anak usia prasekolah, 654 juta anak usia sekolah, dan 108 juta remaja perempuan, dan 138,8 juta ibu hamil. Dan juga menyusui yang tinggal di daerah dengan penularan cacing parasit dan membutuhkan pengobatan serta intervensi pencegahan. Negara yang paling tinggi eh yang mengalami infeksi cacing kayak gini itu pertama Afrika subsahara. Ada di China, Amerika Selatan, serta Asia yang menjadi kawasan dengan kasus cacing tertinggi. Indonesia jadi salah satu negara dengan prevalensi tinggi infeksi cacing, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan daerah dengan sanitasi yang buruk. Yang mana kondisi ini berkaitan erat dengan kebiasaan bermain tanah tanpa menggunakan alas kaki serta kurangnya akses terhadap sanitasi yang layak. Terus, Geng, riset terbaru yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2023 dan 2024 itu menemukan prevalensi infeksi cacing anak masih mencapai 20 sampai 30% di beberapa daerah dengan kondisi sanitasi yang buruk. Dan fakta ini didukung dari sebuah studi yang ada di Sumatera yang melaporkan hubungan erat antara infeksi cacing dengan anemida dan juga malnutrisi yang menunjukkan infeksi cacing bisa merampas kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini. Jadi yang kayak anaknya banyak makan tapi tetap kurus gitu. Nah, itu makanannya disikat sama cacing di dalam tubuhnya. Dan dari risite ini, kasus raya bukanlah sebuah fenomena baru. Ini merupakan gunung es dari masalah yang lebih besar. Yaitu masih banyak anak-anak Indonesia yang hidup di dalam lingkaran kemiskinan, sanitasi buruk, dan gizi yang rendah, lingkungan yang tidak higienis, kebiasaan tidak mencuci tangan, serta keterbatasan terhadap akses air bersih yang menjadikan infeksi cacing seolah hal yang biasa. Meninggalnya raya karena cacingan menunjukkan kegagalan sistemik di berbagai sektor. Posyandu dan layanan kesehatan masyarakat yang seharusnya menjadi garda terdepan sering tidak bisa mendeteksi ee anak yang berisiko. Entah karena keterbatasan tenaga kesehatan ataupun lemahnya koordinasi. Nah, edukasi kesehatan juga belum mampu untuk menjangkau seluruh keluarga. Padahal nih, Geng ya, gejala cacingan itu sering sekali terlihat jelas. Perutnya kayak buncit, berat badan sulit naik, anak muda lelah, dan anemia yang terus berulang. Salah satu masalah yang paling masih apa ya menjadi masalah besar lah di Indonesia itu masalah sanitasi, yaitu masalah WC, masalah toilet. Nah, masih banyak keluarga yang tinggal di rumah dengan lingkungan yang tidak layak, bahkan berdampingan dengan kandang ternak atau terbiasa buang air sembarangan. Yang mana kondisi ini menciptakan siklus infeksi yang terus berulang. Yang lebih ironisnya lagi, obat cacing sebenarnya murah dan bahkan tersedia gratis di puskesmas. Tapi tanpa adanya distribusi yang aktif, kesadaran kolektif, anak-anak tetap terjebak di dalam lingkaran penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, tapi kayak enggak ada kesadaran untuk mencegah itu. Dan Posyandu serta PKK sebenarnya harus benar-benar digerakkan sebagai pusat pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan anak di sebuah daerah. Ya namanya anak kecil ya kan dia mana bisa perhatiin dirinya sendiri. Yang bertanggung jawab adalah orang tuanya. Jadi enggak cuma sekedar kegiatan formal bulanan aja geng. melainkan ini juga harus menjadi wadah nyata untuk mendeteksi ya secara dini resiko kesehatan termasuk cacingan. Jadi, ini benar-benar udah mengerikan banget. Oke, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai raya, seorang adik kecil yang menderita cacingan akut sehingga kehilangan nyawa. Nah, semoga dari kasusnya raya ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua dalam menerapkan hidup yang sehat dan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk bisa meningkatkan program atau sistem kesehatan di negara kita. Gimana, Geng, menurut kalian? Coba tinggalkan komentar di bawah.