Transcript
lsCO8tvxPw4 • KERACUNAN MAKAN BERGIZI GRATIS ! PEMERINTAH TURUN TANGAN & PENYEDIA MAKANAN TIDAK JAGA KEBERSIHAN?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1551_lsCO8tvxPw4.txt
Kind: captions Language: id Geng, hari ini kita bakal membahas tentang sebuah fenomena yang lagi ramai di negara kita, yaitu soal keracunan makanan bergizi gratis atau MBG. Tapi sebelumnya gua disclaimer dulu ya. Gua membahas ini bukan untuk menyudutkan pihak manapun. Karena ya gua yakin tujuan dari program MBG ini sebenarnya tujuannya baik, Geng. tujuannya bagus gitu ya untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Dan juga program seperti ini ee bukanlah program yang baru ya kan. Di berbagai negara maju di luar sana program makan siang untuk siswa seperti ini sudah ada. Nah, jadi baru sekarang diterapkan di negara kita. Dan seperti yang kita tahu ya, gagasan untuk membuat makan bergizi gratis atau MBG ini ya dicanangkan oleh Pak Prabowo yang mana beliau tujuannya adalah untuk kebaikan masa depan anak-anak Indonesia dan kebijakan ini disambut dengan baik mau itu dari kalangan siswa maupun orang tua sedari awalnya karena di saat itu ya banyak orang tua yang berpikir tidak perlu lagi menyiapkan bekal atau memberikan uang saku untuk anak-anaknya jajan di luar dan ya mungkin berpikirnya juga lebih ee terjamin gitu. gitu. Makanan dari program MBG ini bisa jadi dikatakan makanan yang bersih, ya kan namanya aja udah bergizi. Nah, ketimbang anak-anak harus jajan di luar yang kita enggak tahu gitu kebersihannya atau ya kandungan dari makanan itu apa, itu kan lebih berbahaya. Nah, tapi geng ya baru-baru ini program yang tujuannya sangat baik ini pada kenyataannya ternyata banyak mengalami kendala dan tidak berjalan dengan mulus. Kasus keracunan tiba-tiba muncul di mana-mana. yang lagi ramai juga kemarin ya, ada kasus keracunan MBG yang menunya adalah ikan hiu goreng. Ini jujur aja ya, gua baru pertama kali mendengar ikan hiu goreng. Biasanya ikan hiu itu agak apa ya, agak effort sih eh masak ikan hiu itu. Kalau misalkan di kampung gua nih, para mama-mama kita di sana itu biasanya digulai, tapi kalau digoreng tuh gua enggak pernah nyoba karena daging ikan hiu itu kayak kayak karet, Geng. Dia agak e apa ya? agak kenyal-kenyal gitu loh. Kalau misalkan enggak direbus pakai kuah, enggak disantan, enggak di ee gulai gitu, kayaknya rasanya gimana gitu. Nah, ini baru pertama kali nih muncul menu ikan hiu goreng. Apa mungkin di daerah kalian ada yang macam ini. Jujur aja kalau gua sendiri ya, gua berasal dari Aceh dan gua belum pernah merasakan atau nyobain ikan hiu goreng. Dari sini aja kita udah bisa lihat ya, Geng. Program yang sebenarnya tujuannya baik. Pak Prabowo mengadakan tujuannya itu adalah untuk kebaikan. Namun sampai ke bawah ada aja hal unik, ikan hiu goreng lah tiba-tiba. Nah, kasus keracunan MBG seperti ini ternyata itu bukan cuma berdampak menjadi muntaber, tapi juga ada yang sampai mengalami sesak nafas dan kejang-kejang. Orang tua yang mungkin awalnya menyambut baik program ini justru sekarang jadi cemas sebab takut anaknya justru ikut keracunan seperti siswa-siswa yang lain. Nah, di video kali ini kita bakal merangkum nih terkait fenomena ini dan di mana saja kasus tersebut terjadi dan seberapa banyak korbannya dan apa penyebabnya. Kemudian apa sih yang salah dari program ini? Apakah pengawasannya atau justru budgetnya atau ya seperti biasa negara kita ya kalau presidennya udah bagus, udah tegas, udah peduli dengan rakyatnya biasanya bawah-bawahnya itu ada aja yang korupsi. Nah, ini kita yang enggak tahu nih. Nah, lalu bagaimana arahan dari Presiden Prabowo setelah mengetahui sudah terjadi begitu banyak kasus keracunan MBG di Indonesia? Untuk menjawabnya kita langsung aja bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Geng, geng. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita akan membahas dulu ya program MBG dan juga pendistribusiannya. Nah, kita bahas ini supaya kalian paham alurnya. Nah, jadi geng program makan bergizi gratis atau MBG adalah salah satu program unggulan dari Presiden Prabowo dan sudah diperkenalkan oleh beliau ketika masa kampanye. Program ini akhirnya dijalankan setelah beliau terpilih dan dilantik menjadi presiden. Pada saat itu, pemerintahan ee Presiden Prabowo berencana akan menyediakan makan bergizi gratis bagi 82,9 juta anak-anak, ibu hamil, dan juga menyusui, serta pelajar di seluruh Indonesia. Pemerintah juga sudah menyiapkan anggaran sebesar R1 triliun per tahunnya. Awalnya ini untuk satu porsi makan bergizi ini ya dianggarkan sebesar Rp15.000. Namun Pak Prabowo merevisinya untuk memotong anggaran menjadi Rp10.000 per porsi. Nah, keputusan ini didasarkan pada hasil uji coba MBG yang ada di Sukabumi. Terus, Geng, gimana dengan pelaksanaan penyediaan makanan bergizi gratis atau MBG ini? Nah, jadi ketika diuji coba di masa pemerintahan Presiden Jokowi ya di saat itu beberapa alternatif diusulkan di antaranya melibatkan warung UMKM sebagai penyedia dari makanannya. Nah, tapi Badan Gizi Nasional atau BGN yang ditugaskan untuk mengurus makanan bergizi lebih memilih mendirikan satuan layanan di sejumlah wilayah. Jadi enggak diserahkan kepada warung-warung, tapi justru ada lembaga lain atau badan lain atau pihak lain yang menyediakan makanan itu. Makanya ada yang disebut dengan dapur MBG. Di saat itu ya, Kepala BGN yaitu Dadan Hindayana mengatakan dari data geospasial sekolah yang statis itu dijadikan sebagai landasan awal untuk membangun sebanyak satuan layanan di seluruh daerah di Indonesia yang nantinya bakal berjumlah sebanyak R30.000. Nah, cakupan layanan ini diperluas untuk melibatkan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita berdasarkan data real time di radius sekitar 6 km dari lokasi layanan. Layanan di seluruh daerah itu dirancang untuk mengelola anggaran senilai 7 sampai 10 miliar untuk menangani distribusi program MBG secara terstruktur ke berbagai kelompok sasaran. Nah, dengan anggaran R1 triliun dan setiap satuan layanan itu memerlukan anggaran 7 miliar per tahunnya. Maka dari itu ya ee ini hanya bisa mendirikan sekitar 10.000 satuan doang. Terus, Geng, pada hari Senin tanggal 2 Desember tahun 2024 setelah menghadiri sidang kabinet paripurna di kompleks Istana kepresidenan, Pak Dadan itu bilang setiap satuan layanan itu akan mencakup sekitar 3.000 anak sekolah sebagai basis utama. Sekitar 85% dari anggaran yang dikelola satuan layanan itu bakal dialokasikan untuk pembelian bahan baku makanan yang nantinya diolah menjadi menu harian. Sehingga badan gizi tidak akan membeli paket makanan yang sudah jadi, tapi justru membayar bahan baku. Nah, menu itulah yang bakal diatur di dalam 1 bulan, Geng. Misalnya nih, di hari Senin mereka bakal masak ayam balado dengan sayur lengkap, dengan nasi serta buah. Nah, bahan baku di hari itulah yang bakal dibayar oleh badan gizi. Nah, bahan baku tersebut akan dimasak sendiri oleh satuan layanan kemudian didistribusikan ke para penerimanya. Ada sebanyak 10,5% dari anggaran itu bakal digunakan untuk memberdayakan komunitas lokal seperti membayar ibu-ibu yang memasak dan juga bapak-bapak yang bertugas untuk mencuci peralatan MBG. Nah, target Badan Gizi Nasional adalah membentuk sebanyak 30.000 satuan layanan di seluruh Indonesia mulai dari Sabang sampai dengan Merauke. Di tahap awal fokusnya bakal diberikan kepada anak sekolah yang kemudian dilengkapi dengan kelompok rentan lain seperti ibu hamil serta balita. Nah, pendanaannya ini, Geng, berasal dari berbagai sumber pendapatan seperti APBN, kemitraan dengan kementerian dan lembaga lain, dan kolaborasi bersama pihak ketiga seperti koperasi, yayasan, serta UMKM. Dan Pak Dadan ini menargetkan sebanyak 82,9 juta orang yang menjadi penerima program MBG yang dihimpun dari berbagai sumber resmi dan akan diverifikasi di lapangan. Nah, basisnya itu dari sekolah yang mana datanya ini dari Kementerian Pendidikan. Sasaran utama program ini meliputi siswa sekolah, ibu menyusui, dan anak balita. Nah, untuk siswa sekolah datanya itu sudah lengkap. Namun, khusus untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita itu bakal ada verifikasi langsung di lapangan secara real time dan enggak bisa hanya mengandalkan data statis aja, Geng. Pak Dadan itu mengungkapkan bahwa setiap tahun ada sekitar 4 juta ibu hamil yang diikuti dengan kelompok ibu menyusui serta balita. Nah, mengenai perhitungan data untuk kategori tersebut, Pak Dadan menyebutkan diterapkan mekanisme penghimpunan dana berdasarkan siklus usia dari sejak anak itu dilahirkan, terus usia balita hingga menyusui. Nah, untuk lokasi yang dijadikan sebagai tempat memasak MBG, Badan Gizi Nasional membuat konsep standar bangunan dapur sehat yang mampu menampung aktivitas penyediaan makanan sebagai pendukung program MBG. Bangunan utama dari dapur sehat itu seluas 400 m² dan bakal digunakan oleh sekitar 40 orang pekerja yang menyediakan 3.000 porsi makanan persi. Banyak banget ya. Salah satu dapur MBG yang lebih awal beroperasi adalah satuan layanan pemunuhan gizi atau SPPG tanah sereal di Bogor, Jawa Barat yang memiliki area yang lebih besar dibandingkan konsep dapur sehat. Di dapur tersebut terdapat sebanyak 51 karyawan yang merupakan warga sekitar. SPPG tanah sereal itu memiliki dimensi bangunan utama 21,6* 21,6 m. Dan aktivitas penyediaan makanan di dapur ini dimulai dengan persiapan bahan baku pada jam .00 malam dan diakhiri dengan pencucian alat masak pada jam 11.00 malam di hari berikutnya. Radius dari dapur sehat ke sekolah itu sekitar 2 km. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas makanannya. Karena kan kalau misalkan terlalu jauh, takutnya nanti dalam perjalanan malah basi gitu. Jumlah dapur MBG juga akan bertambah seiring waktu. Konsep dari dapur sehat juga bisa diterapkan di lokasi yang belum memiliki fasilitas memasak yang sesuai dengan standar. Kesiapan dapur menjadi prioritas utama agar program MBG bisa berjalan dengan maksimal. Dan di tahap awal sudah ada sekitar 190 dapur MBG yang beroperasi di tanggal 6 Januari 2025 untuk menjaga kebersihan makanan. Karyawan diwajibkan menggunakan perlengkapan standar higienis ketika bekerja. ya, mungkin kayak masker, penutup kepala dan lain-lain. Pengantaran makanan itu dilakukan dua kali per hari, yaitu sebelum jam 10 pagi untuk makan pagi dan jam 12.00 siang untuk makan siang, Geng. Nah, jadi kurang lebih seperti itu ya, Geng, cara dari program MBG dan mekanismenya berjalan. Sebenarnya sangat positif, Geng, program yang diusung dan dijalankan oleh Pak Prabowo ini. Namun, pada penerapannya terjadi kasus keracunan di mana-mana. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan terkait kasus-kasus keracunan MBG di berbagai daerah. Di mana di antaranya ada yang keracunan karena habis makan lauk hiu goreng. Aneh banget. kita bahas. Jadi, Geng kasus keracunan MBG bukan baru ini terjadi, tapi udah terjadi bahkan sejak awal tahun ini. Dari data yang gua ambil dari beberapa media ya, di bulan Januari ada tiga kasus yang terjadi. Yang pertama itu tanggal 6 Januari di Cianjur ada sebanyak 72 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi MBG. Yang kedua terjadi pada tanggal 13 Januari di Kalimantan Utara. Ada puluhan siswa yang mengalami diare dan mual setelah menyantap menu MBG di SDN 03 dan SMAN 2 Nunukan Selatan. Terjadi lagi di tanggal 16 Januari di Sukoharjo. Ada 40 siswa mengalami mual dan muntah setelah makan ayam tepung dari MBG. Berlanjut lagi di bulan Februari pada tanggal 18 Februari di Sumatera Selatan ada delan siswa yang sakit perut dan muntah-muntah setelah menyantap MBG yang mana diduga kondisi makanannya sudah basi dan berulat. Masih di tanggal yang sama, ada 29 siswa yang mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap menu MBG yang juga diduga basi. Nah, kejadian yang kedua ini terjadi di NTT. Nah, terus Geng berlanjut lagi. Keesokan harinya di tanggal 19 Februari ya, ada kejadian 28 siswa mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan diare setelah makan menu MBG. dan kejadiannya di Banten. Selanjutnya di tanggal 27 Februari ada 12 orang siswa keracunan di Sulawesi Selatan. Nah, 10 orang dari SD Kapun Rengan. Satu siswa dari SD Bonto Ba'do, dan satu siswa lagi dari SD Lengkese. Kalau gua sebutkan dengan detail bakal banyak banget, Geng. Gua nyebutin banyaknya kasus per bulannya aja ya, Geng. Jadi, di bulan Maret itu ada dua kasus. Bulan April ada empat kasus. Bulan Mei ada dua kasus. Bulan Juni ada dua kasus, dan bulan Juli ada tiga kasus. Terus berlanjut. Bulan Agustus ada empat kasus dan di bulan ini ya e di bulan September itu kasusnya lebih banyak dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu ada sebanyak 12 kasus. Hingga di hari Sabtu tanggal 27 September ya berdasarkan pantauan dari jaringan pemantau pendidikan Indonesia atau JPPI tercatat ada sebanyak 8.649 anak yang dilaporkan mengalami keracunan. 3.289 di antaranya terjadi hanya dalam kurun waktu 2 minggu terakhir. Di bulan September, jumlah korban keracunan per minggu dilaporkan oleh JPI selalu meningkat. Penambahan jumlah korban terjadi pada 1 minggu lalu, yaitu antara tanggal 22 sampai 27 September 2025 yang mana korbannya bisa mencapai 2.197 anak. Enggak main-main ya, jumlah korbannya banyak banget. Tapi ingat nih, jangan buru-buru nge-judge programnya. Tapi ya lagi-lagi letak kesalahannya adalah kepada penyedia makanannya. Ini kira-kira mereka sudah memenuhi standar kebersihan atau belum? Alat makan, alat masaknya sudah diperhatikan atau belum. Kalau programnya ya udah pasti positif. Terus geng data JPPI itu menunjukkan lima provinsi dengan jumlah keracunan MBG terbanyak yaitu Jawa Barat dengan 2012 kasus. Terus ada Yogyakarta dengan 1047 kasus. Jawa Tengah dengan 722 kasus, Bengkulu dengan 539 kasus, dan Sulawesi Tengah sebanyak 446 kasus. Sementara data versi pemerintah yang dihimpun dari Badan Gizi Nasional atau BGN, Kementerian Kesehatan, serta BPOM itu mencatat jumlah korban berada di kisaran 5.000 orang. Nah, lalu berdasarkan laporan dari media lainnya dari tanggal 12 Agustus sampai 18 September 2025, kasus keracunan di berbagai sekolah sedikitnya sudah menyebabkan 978 siswa dirawat di rumah sakit dengan gejala yang bermacam-macam. Mulai dari diare, gatal-gatal di seluruh badan, mual, muntah, bengkak pada wajah, gatal di tenggorokan, sesak nafas, pusing, dan sakit kepala. Dan dari semua kasus keracunan MBG ini, ada satu kasus yang cukup menarik perhatian kita semua, yaitu kasus yang terjadi di SDN 12 Banua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat. Yang mana sedikitnya ada 25 siswa dan guru dilaporkan keracunan setelah menyantap MBG yang mana salah satu menunya adalah ikan hiu goreng. Mengalami keracunan. Usai menyantap menu makan bergizi gratis berupa ikan hiu fileet, saus tomat, osengkol, dan wortel. Nah, ikan hiu itu diolah menjadi nugget yang dilengkapi dengan saus tomat. Di menu tersebut juga ada nasi putih, tahu goreng, serta sayur osengkol dan juga wortel serta ada buah melon. Kasus ini jadi perhatian karena terletak pada menunya yaitu ikan hiu yang mana ini bukanlah lauk yang umum dimakan oleh orang Indonesia. Kalau boleh jujur ya, kadang juga ikan hiu tuh di beberapa daerah tuh mahal, Geng. Nah, jadi gua enggak paham nih kenapa di tempat ini mungkin ya memperdayakan nelayan kali ya. Karena nelayan di sana mungkin banyak menkap ikan hiu ya, udah dibeli gitu. Tapi gua juga enggak paham. Cuma gua tekankan ya, Geng. Mungkin buat kalian yang tinggal di area perkotaan, menu seperti ikan hiu atau ikan pari terdengar asing. Tapi untuk mereka yang memang hidup di daerah pesisir atau dekat dengan pantai, ikan hiu itu sudah jadi ya lauk keseharian lah. Di beberapa negara hiu juga jadi makanan yang cukup lazim dikonsumsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Kepala Regional MBG Kalimantan Barat yang bernama Pak Agus Kurniawi. Beliau menyebutkan kalau ikan hiu adalah produk lokal karena dibeli di TPI Rangga Sentap. TPI itu tempat ee pendaratan ikan atau apa ya tempat pokoknya TPI itu pantai gitu, Geng. Seingat gua ya. Ini koreksi gua kalau salah. Terus, geng, Pak Agus ini bilang, memang sebenarnya ikan hiu itu sendiri tidak direkomendasikan untuk anak-anak mengingat resiko adanya kandungan merkur pada ikan hiu. Terus kenapa bisa lolos jadi menu MBG? Ini lucunya nih. Pak Agus mengatakan bahwa ikan hiu itu merupakan rekomendasi dari ahli gizi yang ada di SPPG. Sehingga ahli gizi SPPG tersebutlah yang dianggap lalai dan teledor karena tidak teliti memilih menu. Namun Pak Agus ini mengklaim bahwa ahli gizi tersebut sudah meminta maaf dan mengakui apa yang sudah mereka lakukan. Yang mana ini mereka akui merupakan keteledoran dalam memilih menu yang kurang aman jika dikonsumsi oleh anak-anak. Nah, jadi orangnya udah minta maaf, Geng. Menurut kalian gimana tuh? sudah terjadi kasus keracunan karena program MBG yang gak bisa kita bilang sedikit karena menyentuh angka ribuan dan membuat banyak orang tua murid yang merasa khawatir akan kesehatan anak mereka jika terus mengkonsumsi makanan MBG ini. Nah, tapi apa sih penyebabnya kenapa bisa terjadi kasus keracunan MBG begitu banyak? Nah, mungkin di sini gua akan memberikan sedikit rangkuman informasi mengenai penyebab-penyebab yang diduga ya yang diduga eh menjadi dasar keracunan, menjadi dasar kenapa makanan-makanan itu justru meracuni anak-anak atau siswa-siswa Indonesia. Sekarang kita bahas. Jadi, geng terkait penyebab kenapa bisa terjadinya banyak kasus keracunan di berbagai daerah sehabis mereka menyantap MBG. Nah, ini dikarenakan ya di beberapa sampel yang diambil dari berbagai daerah ternyata MBG sudah terkontaminasi oleh bakteri. Dari hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus keracunan massal program MBG di Jawa Barat itu menunjukkan ditemukannya ada bakteri salmonela dan juga basilus sereus di sejumlah makanan yang diuji. Menurut Chandra Yoga Aditama selaku pakar kesehatan sekaligus mantan direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara, temuan ini sejalan dengan referensi global, Geng. di mana kontaminasi bakteri salmonella ini biasanya dihubungkan dengan makanan tinggi protein seperti daging e unggas ya kayak ayam gitu dan juga telur. Sementara basilus serereus itu ee sering muncul akibat penyimpanan nasi yang enggak tepat. Jadi beliau menegaskan kalau keracunan makanan bisa terjadi di berbagai belahan dunia dan enggak selalu dikaitkan dengan program MBG. Jadi ya kayak gua bilang tadi, tergantung si penyedia makanannya itu gimana dia udah menjaga kebersihan belum atau dia naruh makanannya ngasal-ngasal. Tapi untuk memastikan penyebabnya sebaiknya laboratorium di Indonesia memeriksa dengan lebih teliti sesuai dengan pedoman dari WHO, katanya gitu. Dan WHO menyebutkan setidaknya ada lima hal yang bisa diperiksa di dalam kasus keracunan makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, prion, dan juga kontaminasi bahan kimia. Selain salmonella, kasus keracunan makanan sering disebabkan karena kampilobakter dan juga eserisia bahkan listeria atau fibrio yang kedua adalah virus di antaranya ada neovirus dan juga hepatitis A. Yang ketiga ada parasit seperti cacing trematoda, terus ada cacing pitatenia, terus ada asaris, terus ada cryptoporidium sampai dengan giardia. Nah, jadi semua itu adalah nama dalam dunia medis. Nah, terus ada yang keempat nih yang disebut dengan pron atau bahan infeksi yang terdiri dari protein. Nah, meskipun yang keempat ini jarang terjadi, tapi prion ini bisa memicu penyakit seperti bovine, spongifom, esepalopati atau disingkat dengan BSE. Nah, terus yang kelima adalah bahan kimia. Mulai dari logam berat seperti timbal, merkuri, katmium, terus polutan organik persisten seperti dioksin dan juga PCBS sampai dengan toksin makanan seperti aflatoksin. Dari beberapa faktor tersebut ya, Geng ya. Memang di beberapa kasus MBG yang terjadi ketika siswa terkontaminasi oleh bakteri ya. Contohnya nih pada kasus keracunan MBG di Tasik Malaya itu ada bakteri basilus subtilis. Di menu MBG-nya ada orang tua siswa yang bernama Irma Nurliana yang anaknya buang air terus-menerus dari tengah malam sampai subuh. Bayangin tuh sedihnya ya. Capek banget jadi orang tuanya. Anaknya kesakitan, enggak bisa tidur. Pagi harinya, Bu Irma ini buka grup WhatsApp sekolah dan ternyata hampir semua anak yang makan MBG juga mengalami hal yang sama dengan anaknya. Buang air dan mual-mual. Nah, menu MBG yang anaknya makan terdiri dari ayam teriaki, sayur waluh, terus ada tahu goreng, jagung, dan buah anggur. Anaknya yang bernama Shina dibawa ke puskesmas dan kata dokternya dia mengalami keracunan karena ada bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Hasil pemeriksaan makanan di UPTD laboratorium Jawa Barat menunjukkan ada kandungan bakteri basilus subtilis pada ayam teriaki yang dikonsumsi. Jadi, bayangin tuh ya, makanan sehat jadi enggak sehat karena ada bakterinya. Terus geng, kasus selanjutnya terjadi di Sumatera Selatan ya, ada yang bernama Fitri Febrianti. Dia ini adalah orang tua dari siswa yang bernama Naila yang mana dia menceritakan anaknya merasa mual-mual, pusing, dan juga sakit kepala. Naya ini dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun, Bu Fitri ini baru mengetahui bahwa yang mengalami hal ini bukan cuma anaknya doang, enggak cuma Naa, tapi ada ratusan anak-anak lain yang diduga keracunan massal. Naila sempat ditanyakan oleh dokter terakhir kali dia makan apa sampai jadi seperti ini? Dan ibunya Fitri menjawab kalau Nayla terakhir kali makan MBG aja enggak ada makanan lain. Nah, dia sempat diberikan makanan setelahnya namun enggak sempat dimakan karena langsung muntah-muntah setelah makan MBG. Nah, Bu Fitri ini bilang di hari itu menu MBG yang disantap anaknya ada beberapa e menu, yaitu ikan tongkol suwir, tempe goreng, dan juga buah. Dan berdasarkan hasil laboratorium dari sampel makanan MBG ditemukan adanya kontaminasi bakteri stepcocus aureus pada tempe gorengnya. Enggak cuma itu, Geng. Air bersih dari sumur bor dan PDAM yang digunakan untuk mengolah makanan MBG ternyata mengandung bakteri koliform dan bakteri ekoli. Waduh gila gila. Mengapa bisa terjadi begitu banyak kasus keracunan yang disebabkan karena bakteri ya geng? Nah jawabannya itu Geng adalah fakta yang terjadi di lapangan dari 8.583 dapur MBG cuma 34 aja yang memiliki sertifikat kebersihan. Kebayang tuh 8.500 cuma 34 yang memiliki sertifikat kebersihan. SPPG harus memiliki lisensi yang bernama sertifikasi hygien dan sanitasi atau disingkat dengan SLHS dan juga prosedur keamanan pangan yang menjadi keharusan bagi SPPG. SLHS itu dikeluarkan oleh Kemenkes sebagai upaya mitigasi dan pencegahan keracunan pada program MBG. untuk SOP keamanan pangan dari 1379 SPPG cuma ada 413 yang memiliki SOP tersebut dan SOP ini cuma dijalankan oleh 312 SPPG. Muhammad Qodari selaku Kepala Kantor Staf Kepresidenan itu menyebutkan empat penyebab utama keracunan MBG, yaitu higienitas, makanan yang buruk, suhu, dan pengolahan pangan yang tidak sesuai, dan juga kontaminasi silang dari petugas serta indikasi alergi pada penerima manfaat atau siswa-siswanya mungkin ada alergi gitu. Dan selama ini juga ternyata juru masak di SPPG banyak yang melanggar SOP terkait teknik memasak, Geng. Nah, di saat itu ya Pak Candra itu menilai sertifikasi ini penting dan wajib tapi belum tentu menyelesaikan semua masalah. Ya, setidaknya tuh apa ya ee jaga-jagalah mengatasi gitu. Sertifikasi hanya bagian dari apa yang disebut dengan rantai keselamatan pangan. Rantai ini cuma dimulai dari produksi bahan ya sampai diolah menjadi makanan yang tersedia di atas nampan. Jadi harus dipastikan dari awal apakah bahan mentahnya itu sehat atau enggak, bagus atau enggak, ada insektisida atau enggak, hewan yang disembelih atau dijadikan makanan sehat atau enggak, transportasi untuk mengantar bahan mentah ke gudang itu bersih atau enggak. Nah, setelah itu tempat penyimpanannya atau gudangnya juga menjadi bagian yang enggak boleh terpisahkan dari prosedur keamanan dan kebersihan pangan tersebut. Terus, Geng, ada sebuah video nih yang cukup viral di sosial media yang memperlihatkan nampan atau wadah MBG yang digeletakan begitu saja tanpa adanya alas meja atau apapun untuk memisahkan wadah dengan tanah. Terus juga di video tersebut terlihat adanya air yang menggenang yang otomatis membuat wadah MBG-nya juga jadi terkena oleh air yang mengenang itu. Di dekat lokasi di mana wadah itu diletakkan, ternyata ada aliran air yang berisikan limbah. Apa yang terlihat di video tersebut menunjukkan betapa tidak higienisnya salah satu dapur MBG yang beroperasi. Nah, dari video itu banyak yang berkomentar kalau mereka tidak heran jika ada yang keracunan kalau ya salah satu dapurnya kayak gitu. Jadi bisa dikatakan enggak semua, tapi salah satu dapurnya modelan begitu. Udah pasti anak-anak keracunan. Nah, diketahui kalau video itu diambil dari ee sebuah SPPG yang berada di Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten. Ada beberapa sekolah yang menerima paket makanan dari SPPG ini, yaitu SMPN3 Cibadak dan SDN 1 Asem. Di hari Kamis tanggal 25 September 2025, kedua sekolah tersebut melaporkan paket makanan MBG itu berbau asam dan tidak lazim. Di SMPN 3 Cibadak, ratusan porsi makanannya enggak jadi dikonsumsi karena pihak sekolah khawatir nanti para siswanya akan mengalami keracunan, enggak jadi dikonsumsi. Di SMP Negeri 3 Cibadang, ratusan porsi MBG terpaksa tak disentuh karena pihak sekolah khawatir dengan kemungkinan para siswa akan mengalami keracunan. Berapa banyak duit rakyat yang hilang sia-sia, kebuang sia-sia gara-gara makanannya enggak jadi dimakan? Ya bukan salah pihak sekolah, salah dari penyedia makanannya. Dan sementara di SDN 1 Asem ya sebagian porsi makanan sudah dikonsumsi tapi enggak habis karena dikatakan sudah berbau asam. Dan pengelola dapur MBG Asem yaitu Atim Afandi mengakui insiden itu terjadi karena dapur mereka sempat tergenang banjir akibat hujan katanya. Nah, selokannya sempat mampet, namun sudah mereka perbaiki dan aliran airnya sudah lancar. Mengenai makanan yang disebut berbau asam, dia mengatakan makanan itu belum dikonsumsi secara luas oleh para siswa dan pada saat itu juga sudah diberikan penggantinya untuk mengantisipasi potensi keracunan. Nah, terus Geng ya enggak cuma masalah di makanan dan di dapurnya aja geng. Food tray atau nampan yang digunakan di dalam program MBG juga dinilai bermasalah. Nah, mungkin kita kira ya semua aspek dalam program MBG ini full semuanya dari negara. Tapi ternyata enggak. Fotreay atau wadah makanan aja itu impor dari Cina. Pak Dad dan Hindayana selaku ketua BGN mengaku sebenarnya rencana awal MBG akan dilakukan dengan menggunakan nampan yang sudah tersedia di pasar Indonesia. Namun food trer yang dibutuhkan belum diperdagangkan di tingkat nasional atau belum diproduksi. Nah, pada bulan Juni tahun 2024, BGN sudah mengundang yang disebut dengan Asosiasi Pengusaha Peralatan Alat dapur dan alat makan untuk memproduksi food tray di dalam negeri. Cuma mungkin pada saat itu pengusahanya belum yakin kalau program MBG ini akan berjalan dengan cepat. Menurut Pak Dadan, pengusaha dalam negeri ketika itu cuma mampu memproduksi 10 juta nampan per bulan. Sementara untuk MBG-nya masih kekurangan sekitar 70 juta foot ray. Nah, karena itulah pemerintah memilih impor aja sebagai solusi kekurangan dari foot tray ini. Nah, Pak Dadan menegaskan impor food trer dari Cina merupakan pengadaan yang dilakukan oleh mitra. Namun, Pak Dadan mengatakan belum ada speser pun uang anggaran BGN yang dipergunakan untuk pengadaan food ini. Nah, lalu geng tiba-tiba ya masyarakat Indonesia dihebohkan dengan sebuah laporan yang dibuat oleh Indonesia Business Post yang menyebutkan kalau food trer untuk MBG itu dibuat di beberapa pabrik yang ada di daerah Kausan China. Tapi anehnya foot tray tersebut malah tertulis kalau foot tray-nya itu dibuat di Indonesia dan berlogo SNI. SNI sendiri adalah standar nasional resmi yang menjamin suatu produk memenuhi persyaratan keselamatan kualitas dan kinerja Indonesia. Jika terjadi penyalahgunaan bisa menyesatkan konsumen dan melemahkan pengawasan regulasi nasional. Skema ini juga melanggar aturan WTO dan Rules of Origin sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghindari tarif atau kuota impor yang menjadi penipuan serius dan berpotensi menutupi impor ilegal. Terus kemudian food tray yang digunakan di dalam program MBG tersedia dalam tiga jenis yaitu nampan premium, nampan foot grade 316 dan 304 serta nampan nonfot grade 2011. Pemerintah Indonesia pernah memberlakukan larangan impor baja tahan karat tipe 2011 ini untuk melindungi kesehatan masyarakat, tapi malah dipakai sekarang di MBG. Jadi dengan kata lain ya, Geng, nampannya aja itu bukan yang food grade alias bukan yang standar untuk naruh makanan dan itu kalau udah ditaruh makanan bahaya tapi itulah yang dipakai. Gimana orang enggak keracunan dan investigasi dari Indonesia Busnis Pos menemukan bahwa larangan ini ternyata tidak dijalankan dengan baik. Menurut keterangan seorang importir di Indonesia, nampan tipe 2011 masih beredar luas. Meskipun sebagian besar importir memesan tipe 304. Nah, ini dikarenakan tekanan harga pasar. Produsen Cina mencampur nampan tipe 304 dan 2011 yang berarti ada jutaan unit yang beresiko tinggi sudah menjadi wadah MBG dan sampai ke anak-anak. Produsen lokal di Cosan itu mengatakan kalau nampan tipe 2011 sendiri itu sudah dilarang sebagai wadah makanan di Cina karena tipe tersebut cepat berkarat ketika terkena cairan asam. Dan tipe 2 kasus 1 ini mengandung mangan ya, mangan kandungan kimia yang tinggi sekitar 5,5 sampai 7,5% dan nitrogen sebagai pengganti nikel sehingga lebih murah ya tetapi kurang tahan terhadap lingkungan dibandingkan dengan tipe 304 dan 316. Pengujian dari PPOM di Jawa Tengah pada bulan Maret 2024 mengkonfirmasi hal ini. Dari 100 wadah yang diuji, 65-nya gagal uji logam berat dan sebagian besar tidak memiliki kode QR atau sertifikasi resmi. Tipe 304 sebenarnya memenuhi SNI dan bisa diproduksi baik di Indonesia maupun Cina, tapi harganya bisa 40% lebih mahal dari tipe 2011. Importir lebih menyukai tipe 304, tapi mereka menginginkan ee harga yang tipe 2011. Sehingga mungkin aja ya produsen di Cina itu ikut mencampurkan tipe 2011 ini untuk menekan biaya dan memenangkan harga pasar. Ya, tapi ya resikonya tipe 2011 ini enggak aman untuk kesehatan anak-anak. Jika benar yang terjadi seperti ini, maka enggak heran mengapa begitu banyak kasus keracunan di program MBG negara kita. [Musik] Kekhawatirannya enggak sampai di situ aja, Geng. Karena dari investigasi e tersebut ya, Indonesia Business Post juga menemukan beberapa pabrik produksi food tray baik yang dari 21 maupun 304 kemungkinan menggunakan lemak babi sebagai bagian dari pelumasnya. Nah, berdasarkan dokumen dan wawancara yang dilakukan dengan pihak pabrik, minyak lemak babi dicampurkan dengan minyak mineral dan bahan aditif lainnya untuk mengurangi gesekan dan meningkatkan kinerja mesin selama fabrikasi baja tahan karat, terutama di dalam operasi yang berat. Nah, jika benar ada kandungan lemak babi di foot tray-nya atau di nampan wadahnya, itu hal ini pastinya sudah menyalahi aturan bagi yang beragama Islam ya. Karena apapun yang bersentuhan dengan babi meskipun tidak dikonsumsi tetap haram hukumnya. Nah, padahal sebelumnya Pak Dadan ini sudah bilang semua wadah MBG yang diproduksi di Cina bakal dievaluasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH untuk mengeluarkan sertifikasi halal bagi itu. Nah, beliau juga menjelaskan kalau isu minyak babi sebenarnya enggak ada di komponen FUTRE. Nah, ini kayak hoa doang gitu. Nah, kata Pak Dadan untuk food tray yang diproduksi di dalam negeri itu menggunakan minyak nabati dan akan difokuskan untuk memproduksi di Indonesia. Nah, terkait soal isu adanya lemak babi ini, gua menemukan pendapat yang berbeda ya. Dari pihak BPJPH mengatakan seluruh peralatan, bahan baku, dan menu di dalam program MBG sudah terjamin kehalalannya. Enggak cuma itu, para pengelola MBG juga sedang mendapatkan pelatihan khusus untuk memastikan makanan yang disajikan sesuai dengan standar halal dan gizi yang ditetapkan oleh BGN. Nah, tapi geng dari informasi yang gua dapatkan juga MUI ya mengkonfirmasi terkait dugaan foot tray MBG yang digunakan di dalam program MBG yang terpapar minyak babi. Itu adalah informasi yang valid. Nah, ini yang ngomong MUI, Geng. Bukan gue ya. Gue cuma menyampaikan nih. Nah, konfirmasi tersebut diperoleh dari penjelasan pihak yang menyaksikan langsung proses produksi di perusahaan. Hal itu juga didukung oleh dokumen tertulis. Nah, jadi ada dua pendapat yang berbeda nih terkait dugaan lemak babi di Futre MBG ini. Ada yang bilang valid, ada yang bilang enggak ada atau hoa? Nah, kalau menurut kalian yang mana nih, Geng, yang benarnya? Coba deh tinggalkan komentar di bawah. Lalu geng, fenomena keracunan massal ini juga sudah diketahui oleh Pak Prabowo dan beliau juga memantau terkait hal ini. Dikatakan kalau Pak Prabowo akan memanggil Pak Dadan selaku Kepala BGN dan sejumlah pejabat terkait untuk membahas masalah ini. Kemudian Pak Prabowo menegaskan bahwa keracunan karena MPG menjadi masalah yang besar. Namun beliau yakin bahwa masalahnya akan terselesaikan dengan baik. Di sisi lain, Pak Prabowo mewanti-wanti jangan sampai ada politisasi atau yang mengadu domba masalah tersebut dengan program MBG. Sampai gua syuting video ini belum ada tanda-tanda kalau program MBG bakal dihentikan sementara atau gimana. Enggak ada. Ada pejabat lain seperti Charles Honoris selaku anggota DPR yang mengusulkan agar anggaran MBG disalurkan langsung ke orang tua siswa supaya orang tua siswa bisa memasak sendiri sesuai dengan kebutuhan anaknya. Dan soal kebersihannya udah pasti terjamin kata si Pak Charles Honoris ini. Namun belum ada keputusan terkait hal ini, Geng. Karena sejauh ini dikabarkan program MBG masih akan berjalan sebagaimana semestinya. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai kasus keracunan MBG di berbagai daerah di Indonesia dan apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Gimana, Geng, menurut kalian terkait fenomena ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.