Transcript
8SZjfiNoah4 • The case of kidnapping a car salesman in South Tangerang ends with a plot twist! Is KORB4N the em...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1567_8SZjfiNoah4.txt
Kind: captions
Language: id
Ada sebuah kejadian yang benar-benar
bikin gua enggak habis pikir ya. Tapi
sebelumnya gua disclaimer dulu. Ini
adalah sebuah kasus ee yang akan kita
bahas sebagai bentuk informasi dan
semoga bisa menjadi edukasi untuk kita
semua. Jadi ini tidak bermaksud untuk
melanggar aturan YouTube ataupun hal-hal
yang tidak diperbolehkan oleh YouTube.
Jadi ini murni untuk edukasi aja buat
kalian agar lebih berhati-hati. Jadi nih
ya gua tanyain dulu nih ke kalian.
Misalnya nih, kalian mau beli barang,
kalian udah menemukan penjualnya dan
merasa cocok dengan harga yang
ditawarkan, selanjutnya kalian pasti
bakal COD atau bertemu dengan penjualnya
gitu ya atau cash on delivery gitu. Tapi
ketika kalian bertemu dengan penjualnya,
orang ini malah menipu kalian. Nah,
kasus seperti ini enggak sedikit terjadi
ya kan? Mulai dari barang-barang yang
kecil seperti handphone, laptop, bahkan
kendaraan sekalipun. Cuma, Geng biasanya
kalau kasus pencurian seperti ini atau
penipuan kayak gini, pelakunya kan hanya
mengincar uang atau barang dari korban,
ya kan? Misalkan si korban melakukan
perlawanan, barulah pelaku terpaksa
melakukan kekerasan misalnya. Tapi
gimana jadinya ya kalau tiba-tiba kalian
ditipu terus diculik juga? Nah, ini
kejadiannya benar-benar epik banget.
Udah udah kayak bukan di Indonesia gitu.
Kasus penculikan udah sering banget
terjadi nih di negara kita. Ini negara
kita lama-lama jadi kayak Mexico gitu
ya. Jadi kayak Venezuela dan lain-lain
lah, Colombia dan segala macam. Nah,
hari ini gua bakal bercerita tentang
satu kasus yang lagi viral di media
sosial yang dikatakan ini sebuah kasus
yang berawal dari dugaan penipuan dengan
modus pelaku yang berpura-pura jadi
penjual. Yang anehnya dari kasus ini,
pelaku bukan cuma berniat ingin menipu
korban, tapi juga sampai menculik dan
menyandra korban dan melakukan kekerasan
terhadap si korban. Apa motifnya? Kenapa
sampai repot-repot menyandra korban?
Apakah kasus ini lebih dari sekedar
kasus penipuan atau ee perampokan biasa
gitu? Yang lebih bikin herannya lagi
adalah di tempat di mana korban di
Sandra ada barang-barang yang hanya
dimiliki oleh seorang anggota
kepolisian. Nah, kok bisa nih seorang
penculik punya barang-barang polisi
kayak seragam, mobil dinas sampai dengan
senjata api. Apakah jangan-jangan ada
keterlibatan oknum aparat di dalam kasus
ini? Mengingat kasus kemarin ya, yaitu
Ilham Pradipta, Kepala Cabang BRI yang
mana dia diculik dan dieksekusi ternyata
juga melibatkan oknum anggota aparat
bersenjata. Nah, di video kali ini kita
bakal membahas rangkuman beberapa fakta
terkait kasus penculikan atas penjualan
mobil ini. Langsung aja kita bahas
secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back
to kamar jer
[Musik]
ging untuk pembahasan awal kita akan
membahas mulanya terungkap kasus
penculikan dan penyekapan ini.
Jadi geng kasus ini bisa terungkap
karena adanya sebuah video yang sedang
ramai di media sosial. Video tersebut
kabarnya pertama kali diunggah oleh
sebuah akun di Instagram yaitu
wargaarta.id
yang kabarnya video itu diambil pada
hari Sabtu dini hari tanggal 11 Oktober
2025. Di dalam video itu terlihat ada
tiga orang pria yang bertelanjang dada
dan duduk berbaris. Walaupun videonya
bergambar hitam putih, kita bisa melihat
dengan jelas di punggung ketiga orang
tersebut penuh dengan luka-luka. Mereka
ini sedang mengoleskan cairan ke
punggung orang yang ada di depannya. Dan
banyak yang menduga cairan yang
dioleskan itu adalah balsem. Nah,
kebayang ya, Geng? udah luka-luka ya,
balsemnya dioles ke kulit yang luka.
Berasa panasnya kayak apa ya kan. Nah,
dan mungkin ini bukan panas lagi tapi
perih parah gitu ya. Terus luka-luka
yang ada di bagian punggung itu juga
kemungkinan besar disebabkan karena
penyiksaan yang mereka alami dan diduga
luka tersebut disebabkan karena mereka
dicambuk. Nah, kesimpulan itu didapatkan
karena ada seorang pria yang berada di
depannya yang sedang memegang semacam
kayu atau rotan gitulah. Dan selain
memegang rotan, di sebelah kanan mereka
juga ada seorang pria yang duduk sambil
mengenakan topi. Pria yang pakai topi
ini memberitahukan cara mengoleskan
cairan tersebut di luka mereka. Dan dia
juga bilang kalau dulu dia diberikan
yang lebih parah dari ini. Nah, terus
diucapkan juga jebretin semua, usap
semua, begitu kata pria tersebut. Serta
ada seorang lagi yang bertugas untuk
merekam video. Sehingga total di situ
ada enam orang. Tiganya yang sedang
duduk dan diduga sedang mengalami
penyiksaan. Sementara tiga orang lain
adalah terduga pelakunya.
Banyak nihin taruh sini semua pusat
semua gitu. Off now
berdasarkan informasi awal yang diterima
geng, peristiwa ini bermula ketika ada
sepasang suami istri yang berniat ingin
membeli mobil. Diketahui istrinya
tersebut bernama Desi. Mungkin jika
ingin membeli mobil baru, budgetnya
terlalu besar dan lebih baik dialihkan
untuk kebutuhan lain. Oleh karena itu,
mereka lebih memilih mencari orang yang
ingin menjual mobil bekas. Sampai suatu
ketika mereka berhasil menemukan
seseorang yang ingin menjual mobil.
Berkomunikasilah mereka nih. Biasanya
pembeli kan bakal menawarkan harga
hingga tercapai harga yang sudah
disepakati tuh oleh kedua belah pihak
alias dengan kata lain negosiasi lah
gitu. Nah, selanjutnya pasangan suami
istri ini beserta dengan penjual janjian
tuh untuk bertemu. Transaksinya pun
dilakukan secara cash on delivery atau
COD yang berarti pembelian bakal
dibayar. Setelah melihat barangnya,
mereka memutuskan untuk bertemu di
kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan.
Lagi-lagi enggak jauh dari studionya
kamar Jerry nih. Dekat banget di daerah
sini nih. Nah, di hari mereka bertemu
dengan si penjual ini, sang suami
mengajak dua pria lain yang merupakan
temannya. Jadi, total ada empat orang
yang bertamu dengan penjual pada saat
itu. Nah, tentu tidak ada yang merasa
aneh lah ya. Mereka pikir ini cuma
proses transaksi jual beli biasa. Mereka
berempat menuju ke lokasi yang dimaksud.
Bertemulah mereka dengan si penjual.
Cuma di saat itu yang mereka pikir
awalnya hanya melihat mobil, membayar
mobil itu, kemudian pulang. Tapi justru
mereka mengalami sesuatu yang tidak
pernah mereka pikir atau tidak pernah
mereka bayangkan sebelumnya. Saat mereka
bertemu dengan orang yang mengaku
sebagai penjual, ternyata datang
beberapa pria lain di sana. Sekelompok
pria itu kemudian membawa mereka
berempat ke sebuah lokasi yang diketahui
adalah sebuah rumah. Di sana si suami
berserta dua dengan rekannya mengalami
penganiayaan dan terjebak selama 2 hari
di dalam rumah tersebut.
Aneh banget ya orang mau beli mobil
disekap gitu, Geng. Dan pada hari kedua,
sang istri berhasil melarikan diri
untungnya nih. Selain itu, mobil yang
digunakan oleh para korban untuk menemui
orang yang mengaku sebagai penjualnya
juga dilaporkan hilang entah ke mana.
Video ini akhirnya jadi viral di media
sosial. Banyak yang heran jika pelaku
ingin menipu korban, kenapa sampai harus
menculik dan menyiksa. Karena kan di
kebanyakan kasus seperti ini biasanya
yang diincar cuma uang, ya kan?
Sekaligus barang berharga yang dibawa
oleh korban. Dan ini aneh banget sampai
orangnya dibawa ke rumah lagi. Ini kan
bakal membuat kasusnya jadi panjang
gitu. Banyak yang menduga jika kasus ini
bukanlah merupakan kasus penipuan biasa,
melainkan sebuah aksi kriminal yang
dijalankan oleh komplotan atau sindikat
besar. Karena bisa melakukan aksi sejauh
itu dengan menculik, menyiksa. Berarti
kan ini udah kayak kartel gitu, Geng.
Bahkan ada yang menduga jika kasus ini
jangan-jangan adalah aksi perdagangan
orang dengan modus pura-pura menjual
mobil agar bisa menculik korban. Nanti
organnya diambil atau orangnya langsung
diambil, dikirim ke luar negeri. Wah,
merinding banget ya Indonesia bisa
sampai kayak gini. Tapi itu baru rumor.
Oke, beruntungnya di saat itu, Geng, ya,
Desi, si istri itu berhasil kabur dari
tempat tersebut dan melaporkan insiden
yang mereka alami ini kepada pihak
kepolisian. Nah, kejanggalan demi
kejanggalan mulai terungkap ketika
polisi melakukan penggerebekan di rumah
yang menjadi tempat penyekapan para
korban. Sekarang kita bakal masuk nih ke
dalam pembahasan selanjutnya mengenai
fakta-fakta yang terungkap di dalam
kasus ini.
Jadi, geng, setelah mendapatkan laporan
dari sang istri, ya, Polda Metro Jaya
langsung melakukan penggerebekan pada
hari Senin tanggal 13 Oktober 2025 di
sebuah rumah dua lantai di perumahan
Taman Mangu Indah. Saat polisi
menggeledah rumah tersebut, petugas
menemukan adanya satu senjata api
rakitan, enam butir peluru, dan beberapa
e setel seragam polisi. Ya, di saat itu
ada ketua RT yang bernama Air Langga.
Dia ikut menyaksikan proses
penggeledahan tersebut dan dia sendiri
juga menyaksikan adanya barang-barang
tersebut yang berada di dalam rumah. Dan
Pak Air Langga ini menyebutkan bahwa
rumah tersebut dihuni oleh pasangan
suami istri juga yang merupakan
keponakan dari si pemilik rumah. Nah,
awalnya dia mengira jika penggerebekan
yang dilakukan oleh polisi terkait
dengan kasus narkoba. Dia gak pernah
ngebayangin kalau si pemilik rumah
menculik orang. Nah, dari penjelasan
polisi, penggerebakan tersebut dilakukan
karena berkaitan dengan kasus penyekapan
dan penculikan yang videonya sampai
viral di media sosial. Pada saat
penggerebekan, polisi berhasil
mengamankan tiga orang korban yang
terlihat sedang mengalami penyiksaan di
dalam video. Menurut Air Langga,
sepasang suami istri yang menempati
rumah tersebut sudah mendapatkan izin
dari pemilik rumah untuk tinggal di
sana. Cuma, Geng, dari keterangan Pak
Air Langka ini lagi, yang tinggal di
sana tidak hanya si suami istri itu aja,
melainkan ada seorang pria lain. Pria
itu mengaku merupakan anak buah dari
pasangan suami istri ini. Dari
keterangan lain, Air Langga menyebutkan
jika pemilik rumah bernama Nanang yang
saat ini sudah pindah ke luar kota dan
saat ini yang menempati rumah tersebut
adalah anaknya yang bernama Adit bersama
dengan beberapa teman yang disebut
sebagai anak buahnya si Adit. Ada salah
satunya yang bernama Victor. Di garasi
rumah terlihat juga ada satu mobil
berplat polisi, empat sepeda motor,
serta beberapa sepatu yang berserakan.
Nah, setelah penggerebekan oleh polisi,
suasana rumah itu tampak sunyi dengan
pagar yang tertutup rapat. Dan yang
anehnya, kenapa bisa ada barang-barang
aparat polisi seperti seragam dan mobil
dengan plat polisi di sana? Apakah rumah
tersebut adalah tempat tinggal dari
seorang anggota polisi? Kemudian kenapa
bisa ada senjata rakitan di sana? Karena
logikanya, jika ada senjata rakitan
berarti pelaku tahu bagaimana caranya
menggunakan senjata api. Sehingga bisa
dikatakan pelaku mungkin merupakan orang
yang berpengalaman melakukan aksi dalam
memakai senjata api. Apakah ada
keterlibatan anggota dalam kasus ini?
Nah, itulah yang menjadi pertanyaan
besar bagi banyak orang, Geng. Dan
bukti-bukti yang berada di TKP sudah
diamankan oleh polisi untuk kemudian
diselidiki lebih lanjut. Apakah benar
ada keterlibatan oknum anggota atau
enggak? Seperti yang sudah diasumsikan
oleh banyak orang ketika kejadian ini
viral. Dan terkait keberadaan mobil
berplat nomor polisi ya di saat itu
ketua RW yang bernama Boy Irfan dia
mengatakan jika mobil itu ternyata bukan
barang baru di sana. Dia sudah sering
melihat kendaraan tersebut terparkir di
garasi rumah bahkan sebelum kasus ini
mencuat. Kemudian polisi memberikan
update terbaru terkait barang-barang
yang berkaitan dengan instansi
kepolisian. Di saat itu, Briikjen Polisi
AD Arishayam Indradi selaku Kabit Humas
Polda Metro Jaya itu langsung
membenarkan adanya temuan barang bukti
yang berkaitan dengan polisi di TKP. di
TKP tempat penculikan dan penganiayaan
di pondok Aren ini. Namun, Adik Ari
memastikan jika plat dinas polisi di
mobil hitam itu adalah palsu. Beliau
juga membenarkan bahwa polisi menemukan
adanya senjata api di dalam rumah. Tapi
setelah dicek, ternyata senjata tersebut
bukanlah senjata api, melainkan hanyalah
air shoftgun. Tapi meskipun begitu, Pak
Adik Ari memastikan tidak ada
keterlibatan oknum polisi dalam aksi
penculikan dan penganiayaan ini. Jadi
itu semua adalah polisi ee palsu atau
gadungan gitu. Dan ya jadi sudah
dikonfirmasi, Geng, kasus ini tidak ada
kaitannya dengan pihak anggota dan
mungkin adanya barang-barang tersebut
sengaja diberikan ee identitas
kepolisian oleh pelaku supaya tidak ada
yang mengusik mereka lah. Seolah-olah
mereka tuh keluarga polisi beneran. Jadi
kurang lebih seperti itulah, Geng,
fakta-fakta yang terungkap di dalam
kasus ini dan bagaimana kronologinya,
ya. Nah, sekarang kita akan masuk ke
dalam pembahasan mengenai penangkapan
dari pelaku ini yang kabarnya saat ini
sudah ada orang yang diamankan. Kita
bahas.
Jadi, geng menurut kesaksian Air Langga
selaku ketua RT sekitar jam 0.30 0.30
malam ya. Pak Erlangga ini didatangi
oleh tiga anggota polisi dari tim Resmop
Polda Metro Jaya pada hari Senin, hari
yang sama ketika penggerebekan dilakukan
dengan maksud meminta izin atau meminta
sekaligus pendampingan ee proses
penggeledahan di sebuah rumah yang
berlokasi di Jalan Eboni 2. Nah, jadi
apa ya? Langkah Bapak-Bapak polisi ini
udah sesuai prosedur banget gitu, Geng,
ya. Meminta izin kepada Ketua RT
terlebih dahulu. Mendapatkan permintaan
tersebut, Pak Air Langga pun menyanggupi
dan segera menuju ke lokasi. Cuma pada
saat itu, Pak Airlangga sampai di sana,
ternyata proses penangkapan sudah
terjadi sehingga dia tidak menyaksikan
secara langsung proses penangkapan dari
para pelaku. Pak Airlangga sempat
melihat para terduga pelaku sudah
diamankan dan berada di dalam mobil
polisi. Dalam penggeledahan tersebut,
polisi mengamankan lima orang yang
diduga sebagai pelaku serta tiga orang
korban. Dari lima pelaku ini, salah
satunya adalah perempuan yang awalnya
polisi hanya meminta pendampingan karena
kasus tersebut diduga berkaitan dengan
penyekapan. Tapi ketika proses
penyertaan barang bukti dilakukan,
polisi menemukan rekaman video
penyiksaan terhadap tiga korban yang
belakangan viral di sosial media. Nah,
meskipun dikatakan pelaku yang sudah
diamankan ini ada lima orang, pada saat
itu pihak kepolisian mengkonfirmasi baru
menangkap tiga orang pelaku terkait
kasus penculikan dan penyiksaan dengan
modus jual beli mobil di wilayah Pondok
Aren ini. Nah, ketika itu, Geng, Kabit
Humas Polda Metro Jaya yaitu Brickjen
Paul Adari menyebutkan kalau pelaku
berpura-pura sebagai pembeli mobil
sebelum akhirnya melakukan penyiksaan
terhadap korban. Nah, ini enggak tahu
nih, Geng, mana yang benar. Karena
awalnya dikatakan para pelaku ini
berpura-pura jadi penjual. Namun dari
keterangan Pak Adik Ari, pelaku ini
malah dikatakan berpura-pura sebagai
pembeli. Nah, keterangannya masih
simpang siur. Dalam keterangan itu, Pak
Adik Ari juga menghimbau kepada
masyarakat untuk berhati-hati ketika
berkomunikasi khususnya dengan seseorang
yang tidak dikenal. Karena insiden
penipuan seperti ini menggunakan
berbagai macam modus yang mana di
antaranya menggunakan informasi dan
transaksi elektronik atau ITE.
telah kami sampaikan di medsos kami,
kemudian Babin Kampas juga menyampaikan
ada beberapa modus-modus kejahatan,
penipuan, penggelapan. Ada juga yang
menggunakan IT. Kami berharap kita
masing-masing individu agar berhati-hati
ya dalam berkomunikasi,
bertransaksi
harus
waspada ya. Waspada.
Dan pada saat itu dikatakan jika pihak
kepolisian masih akan melakukan
pendalaman terhadap kasus ini untuk
dikembangkan agar mengetahui potensi
adanya pelaku lain di dalam kasus ini.
Karena enggak mungkin ya mereka seberani
ini tanpa ada support dari banyak orang.
Nah, jadi bisa dikatakan ini komplotan.
Singkat cerita, Geng, dari pengembangan
tersebut polisi berhasil
mengidentifikasi empat pelaku lain yang
kemudian ditangkap di sejumlah lokasi
yang berbeda. Informasi yang gua
dapatkan dari akun Instagram
wargaarta.id. Dua orang di antara pelaku
itu bernama Adrian dan Nunung. Mereka
ditangkap di sebuah apartemen yang ada
di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan.
Pada saat ingin ditangkap, Adrian dan
Nunung berusaha melarikan diri. Tapi
beruntungnya upaya tersebut berhasil
digagalkan oleh pihak kepolisian.
Akhirnya mereka berdua diboyong menuju
ke kantor polisi untuk dimintai
keterangan. Kalau informasi dari akun
tersebut, Nunung dan Adrian ini
dikatakan ingin membeli mobil dari
korban dengan cara menyicil, Geng.
Mereka kemudian menyerahkan uang muka
atau DP sebesar Rp75 juta. Namun entah
karena mereka ini enggak sanggup untuk
membayar cicilannya sehingga Nunung
mencari-cari alasan kepada si korban.
Dia bilang jika mobil tersebut sudah
dijual ke orang lain. Nah, mungkin juga
karena takut akan dilaporkan ke polisi.
Nunung dan Adrian ini kemudian berupaya
untuk membungkam korban dengan melakukan
penyakapan dan penganiayaan terhadap
korban. Nah, untungnya Desi yaitu sang
istri berhasil lolos sehingga bisa
melaporkan aksi kejahatan ini kepada
polisi. Jadi itu, Geng. Jadi, si pelaku
ini enggak mampu bayar mobil ternyata.
Jadi, takut nanti jadi panjang
masalahnya, diculiklah si pemilik mobil
ini supaya tidak dilaporkan. Tapi malah
ya pengin nyelesaiin masalah malah jadi
lebih besar gitu ya masalahnya. Lalu ada
kronologi lain juga yang berasal dari
media warta kota nih. Ini ee entah benar
entah enggak ya, tapi e gua ceritakan
aja ke kalian. Dikatakan jika peristiwa
ini terjadi pada hari Sabtu tanggal 11
Oktober 2025 jam .30 11 malam ketika
empat korban bertemu dengan Nunung
tersebut di wilayah Jagakarsa, Jakarta
Selatan. Jadi, pertemuannya itu bukan di
Pondok Aren awalnya, melainkan di
Jagakarsa terlebih dahulu. Dan pertemuan
itu juga bukan dikarenakan Nunung yang
ingin beli mobil, melainkan untuk
membahas terkait transaksi jual beli
yang terjadi tahun 2021. Jadi, mereka
itu udah lama transaksinya, tapi
kayaknya berbelit-belit enggak
kelar-kelar. Dari informasi di media ini
ya juga dikatakan jika Nunung ini memang
menjadi penjualnya, Geng. dan korban
dikatakan sudah mentransfer DP ke Nunung
sebesar Rp49 juta. Di hari itu saat
sedang memesan makanan, ada beberapa
orang yang mendatangi mereka dan
langsung merampas handphone serta tas
milik mereka, milik si korban gitu. Di
saat itu, Nunung dan beberapa orang yang
merampas ini ya berteriak dengan kata
koperatif koperatif sambil memasukkan
keempat korban ke dalam mobil. Dan mata
para korban ini ditutup dengan
menggunakan kain hitam dan mereka dibawa
ke sebuah rumah yang ada di Pondok Aren.
Nah, kalau dari informasi ini, Pondok
Aren sebagai lokasi ketika korban sudah
disekap ya dan dianiaya. Nah, mereka tuh
diambil ditangkap di Jagakarsa.
Setibanya di lokasi, keempat korban
dikeluarkan dari mobil dan digandeng
masuk ke dalam rumah dan mereka
ditempatkan di sebuah kamar yang berada
di lantai dua rumah tersebut. Salah satu
di antara mereka yang bernama Desi,
satu-satunya perempuan yang menjadi
korban berhasil melarikan diri pada
keesokan paginya jam 5.00 pagi ketika
para pelaku sedang tidur sehingga
penjagaan terhadap para korban menjadi
lengah. Nah, setelah berhasil keluar
dari rumah itulah dia menumpang motor
yang sedang lewat ya, minta bantuan
orang dan melanjutkan perjalanan
menggunakan taksi ke Polda Metro Jaya
untuk membuat laporan polisi.
Nah, itu dari informasi warta kota. Nah,
tapi kalau dari informasi yang diberikan
oleh pihak kepolisian nih, Geng. Jadi
dikatakan Adrian itu menjual mobil ke
Nunung. Mobilnya adalah mobil Alpart.
DP-nya sebesar Rp75 juta. Namun, Nonung
belum bisa membayar sisanya sebesar R00
juta. Cuma utang tersebut tidak
dibayarkan bertahun-tahun oleh Nunung.
Setelah enggak dibayar-bayar, Nunung ini
malah e menjual mobil tersebut kepada si
Desi. Nah, Adrian yang akhirnya menagih
sisa pembayaran yang belum dilunasi oleh
Nunung dan ingin bertemu dengan dia.
Singkat cerita, bertemulah Nunung dengan
Adrian. Dan dalam pertemuan itulah Nonu
memberitahu kalau mobil yang belum bisa
dia lunasi itu udah dia jual kepada
seseorang yang bernama Desi. Nah, jadi
udah manjang-manjang nih belum lunas
malah dijual lagi. Dan oleh karena itu,
Adrian dan Nunung sepakat untuk mencari
Desi dan memintanya untuk melunasi
pembayaran atas mobil tersebut. Yang
mana seharusnya itu kan haknya Nunung.
Nunung udah jual ke Desi. Harusnya uang
yang dari Desi Nunung lunasin ke Adrian.
Kenapa jadi Desin-nya yang jadi salah?
Nah, agar Desi mau melunasi hutang itu,
maka dilakukanlah aksi penculikan dan
penyekapan serta penganiayaan tersebut.
Dan secara total sudah ada se orang yang
ditangkap dan ditetapkan sebagai
tersangka. Selain Nunung, ada yang
berinisial MAM berusia 41 tahun, VS
berusia 33 tahun, terus ada HJE berusia
25 tahun, dan S berusia 35 tahun, terus
ada inisial APN berusia 25 tahun, ee
terus ada inisial Z berusia 34 tahun,
inisial I yang usianya belum diketahui,
dan MA yang berusia 39 tahun. Nah, belum
diketahui juga, Geng. Manakah di antara
mereka yang berinisial itu yang
merupakan bernama Adrian itu belum
diketahui orangnya yang mana. Mereka ini
memiliki peran yang berbeda-beda. Mam
sebagai koordinator lapangan, perencana,
eksekutor, dan penyiksa korban. Dia juga
berperan memeras dan menyediakan mobil
untuk menculik korban. Nunung itu
berperan sebagai koordinator lapangan,
kemudian juga memancing agar korban mau
bertemu dan dibawa ke lokasi penculikan.
Nah, dia juga berperan memeras korban.
Terus APN berperan untuk merekam video
penyiksaan dan ikut di dalam proses
membawa korban ke lokasi penculikan.
Terus inisial VS berperan untuk menyuruh
APN merekam video dan menyediakan rumah
yang menjadi tempat penculikan. Nah, dia
ikut menyiksa korban sekaligus menjaga
korban agar tidak kabur. Terus ada lagi
yang inisial, HJE, berperan menyiksa
korban dan S berperan sebagai eksekutor
menyiksa korban dan juga menyediakan
rumah. Nah, yang inisial Z berperan
sebagai penyiksa korban dan yang inisial
I berperan sebagai eksekutor,
koordinator lapangan, penyedia mobil,
dan menyiksa korban. Dan yang terakhir,
inisial MA berperan sebagai penyedia
rumah. Nah, pihak kepolisian masih e
bakal melakukan pendalaman atas kasus
ini untuk mengetahui hubungan dari
pelaku ee dan juga korban. Tapi ya ini
bakal butuh proses yang panjang karena
melibatkan banyak orang. Namun tentunya
kasus ini begitu menggemparkan netizen
masyarakat Indonesia ketika videonya
viral di media sosial. Sebab tidak
pernah ada kasus yang seperti ini
sebelumnya di Indonesia yang berkaitan
dengan penipuan. Apalagi sebelumnya ada
dugaan ee kalau melibatkan oknum polisi
di dalam kasus ini. Nah, untuk sementara
baru itu aja, Geng, informasi terakhir
yang bisa kita rangkum di dalam kasus
yang aneh ini. Nanti kita tunggu update
selanjutnya.
Nah, Geng, ada informasi tambahan nih.
Jadi, gua nemuin komentar dari salah
satu netizen yang menyebutkan jika
ketiga pria yang menjadi korban itu
ternyata enggak sepenuhnya bisa
dikatakan korban. Jadi, menurut komentar
netizen ya, ketiga pria tersebut adalah
pelaku penggelapan kendaraan yang mana
hal ini yang membuat mereka menjadi
korban penyekapan ini, Geng. Sementara
si pelaku yang terlihat menyuruh mereka
untuk mengoleskan cairan di lukanya
justru sebenarnya adalah korban dari
tiga pria yang disekap ini. Karena
kendaraan mereka digelapkan oleh tiga
pria yang mereka sekap. Nah, ini gue
enggak tahu ya, Geng, informasinya valid
atau enggak karena ini bukan berdasarkan
keterangan dari polisi sih, melainkan
hanya dari komentar netizen. Tapi
menurut kalian gimana nih? Apakah
komentar dari netizen ini benar adanya
atau dia cuma ngarang? Coba deh menurut
kalian. Oke, geng. Itu dia pembahasan
kita mengenai kasus penculikan dan
penganiayaan yang terjadi di Pondok Aren
yang ternyata berawal dari sebuah
transaksi jual beli mobil yang belum
lunas. Gimana, Geng, menurut kalian?
Coba tinggalkan komentar di bawah.