Transcript
Wwg2pDr5JRk • MYANMAR & KAMBOJA SEMAKIN MENGERIKAN ! MODEL BELA RUSIA & RIBUAN WARGA KORSEL ORGAN NYA DI JUAL !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1573_Wwg2pDr5JRk.txt
Kind: captions
Language: id
Oke, sebelum gua mulai konten ini ya,
gua disclaimer dulu. Ini konten adalah
sebuah informasi yang bertujuan untuk
edukasi, tidak bermaksud untuk melanggar
aturan YouTube. Dan semoga kalian bisa
mendengar ee konten ini sampai selesai
karena penting banget buat kalian yang
sedang mencari pekerjaan agar lebih
berhati-hati lagi. Geng, kita udah pasti
tahu ya. Dan gak heran setiap kita
mendengar berita mengenai betapa
banyaknya kejahatan di negara-negara
seperti Myanmar, Kamboja ini udah enggak
asing lagi di telinga kita orang
Indonesia.
20 warga negara Indonesia atau WNI
diduga menjadi
di Myanmar. Para calon pekerja migran
ini juga dilaporkan mengalami kekan
selama di
model muda asal Belusia Vera Crafsofa
ditemukan setelah diduga menjadi
lintas negara di Asia Tenggara. Hal ini
apalagi kalau bukan karena kasus
perdagangan orang atau TPPO dengan modus
lowongan kerja itu banyak sekali di
sana. Yang padahal ya lowongannya cuma
customer service tapi gajinya udah
setara dengan gaji manager. Nah, ini
yang bikin orang-orang tuh jadi tergiur
gitu. Cuma ya di kondisi perekonomian
yang lagi susah-susahnya saat ini, siapa
yang tidak tertarik dengan tawaran kerja
yang mudah tapi gaji [musik] tinggi?
Nah, tapi geng biasanya kasus-kasus TPPO
yang sering kita dengar ini korbannya
adalah orang-orang menengah ke bawah
yang e di negaranya e apa ya? Memang dia
tuh hidupnya melarat, kasihan banget
gitu ya, udah buntu mau ngapain lagi.
Salah satu contohnya di negara kita
Indonesia susahnya mencari pekerjaan,
banyak pengangguran yang membuat
orang-orang jadi tergiur dengan
tawaran-tawaran kerja kayak gini ya kan.
Nah, tapi saat ini, Geng, ya, aksi
penipuan kejahatan TPPO di dua negara,
yaitu Myanmar dan Kamboja ternyata
enggak cuma menyasar Indonesia doang
atau negara-negara Asia yang banyak
penganggurannya doang dan apa ya
korbannya itu udah bukan lagi menengah
ke bawah aja, tapi sudah menjangkau ke
orang-orang yang sebenarnya punya
pekerjaan yang cukup menjanjikan di
negara mereka sendiri. Dan baru-baru
ini, Geng, ya, ada seorang model asal
Belarusia. Bayangkan tuh model
pekerjaannya yang mana dikabarkan dia
diculik lalu dibawa ke Myanmar. Dia
tidak dipekerjakan sebagai scammer atau
admin judul di sana, melainkan lebih
parah dari itu. Dia dieksekusi kemudian
organnya dijual oleh sindikat kejahatan.
Dan selain itu, korban dari TPPO ini
enggak hanya berasal dari negara-negara
berkembang seperti negara kita Indonesia
dan India atau Pakistan dan lain-lain,
tapi sekarang sudah menjangkau
negara-negara yang tergolong maju
seperti Korea Selatan. Kebayang ya orang
Korea Selatan aja bisa tertipu dan saat
ini dikabarkan sudah ada puluhan orang
Korea Selatan yang hilang di Kamboja.
Mereka tergiur dengan tawaran kerja di
sana karena gaji yang ditawarkan lebih
tinggi dengan kerjaan mereka di negara
sendiri dan aasnya mereka justru jadi
korban TPPU. Mereka dihabisi, badannya
dibelek-belek organnya diambil dan
bahkan ada yang mengalami penyiksaan
dulu sebelum dihabisi. Nah, di video
kali ini kita bakal mencoba membahas
mengenai dua kasus ini, Geng. yang
sekaligus membuka mata kita semua bahwa
hari demi hari kasus penjualan orang
kayak gini ya seperti sudah semakin
berkembang dan semakin kuat. Yang gua
bingungnya terjadi di Kamboja dan
Myanmar itu pemerintahnya ngapain aja?
Negaranya udah terkenal berbahaya kayak
gitu kok kayak pergerakannya tuh enggak
ada gitu. Nah, sebenarnya nanti kita
bisa kupas juga ya mengapa dua negara
ini kok e adem-adem aja pemerintahnya
padahal udah terkenal berbahaya itu
negara. Nah, langsung aja kita bahas
secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jiri.
[musik]
Genggeng. Oke, Geng. Untuk pembahasan
pertama kita akan bahas dulu kasus yang
menimpa model asal Belarusia yang
menjadi korban penculikan dan organnya
dijual.
Jadi, Geng, insiden terkait kasus TPPO
ini ya memang tidak cuma menargetkan
orang-orang dengan ekonomi menengah ke
bawah, melainkan sudah menargetkan
orang-orang yang sebenarnya memiliki
pekerjaan yang cukup bagus seperti
seorang model. Nah, jadi ada model dari
Belar Rusia yang bernama E Vera
Crafsofa. Usianya itu baru 26 tahun,
muda banget. Yang dikabarkan dia menjadi
korban penipuan een di Thailand. Seorang
model muda asal Belarusia, Vera Crafsofa
yang berusia 26 tahun dilaporkan menjadi
korban j peran lintas negara.
Vera ini diketahui sempat menetap di St.
Petersburg ya di daerah Rusia sana
setelah menyelesaikan kuliahnya di
universitas dan dia bekerja sebagai
model freelance dan pernah mengikuti
ajang pencarian bakat The Voice Belarus.
Nah, jadi apa ya? Di negaranya sendiri
sebenarnya dia udah punya nama gitu. Dan
kabarnya dia juga pernah bekerja di
China. Dan awalnya nih geng, dia ini
menerima tawaran kerja dari een agen
tersebut yang mengaku bisa membantu dia
untuk menembus industri modeling yang
ada di Thailand. Ya, kita tahu, Geng,
Thailand itu banyak banget spek
cewek-cewek yang berpenampilan seperti
model. Padahal mereka enggak berprofesi
sebagai model. Karena memang secara
fisik mereka tuh cocok banget jadi model
ya. Ee apa? Tulang pipi yang tinggi,
badannya yang tinggi, kaki jenjang gitu.
Nah, kebayangkan gimana kalau beneran
model gitu? Yang bukan model aja
kelihatan seperti model. Makanya
industri seputar kencatikan di sana
menjadi incaran banyak model yang ada di
seluruh dunia. Berpikir kalau itu bisa
menjadi peluang untuk berkarir di lintas
negara. Ya, di saat itu Vera merasa
tertarik dengan tawaran tersebut dan
memutuskan untuk pergi ke Thailand.
Karena dia sadar orang-orang di luar
negara dia menganggap ee manusia-manusia
di negaranya dia itu cantik banget gitu.
Dia sadar kayak, "Oke, gua di negara gua
biasa aja. mungkin gua harus ke negara
Asia karena gua di sana dianggap cantik.
Nah, kurang lebih kayak gitu. Akhirnya
berangkatlah dia menerima tawaran
tersebut. Tapi, geng, di saat itu ya dia
memang diberangkatkan ke Bangkok,
Thailand. Nah, sesampainya di sana, dia
justru kehilangan paspor serta
handphone-nya setelah dia berinteraksi
dengan sekelompok orang yang tadinya
mengaku sebagai perwakilan dari agensi
yang ternyata mereka ini adalah anggota
dari sindikat kejahatan. Nah, kejadian
ini terjadi di tanggal 9 Oktober 2025.
Dan dari sinilah tragedi terhadap dia
ini bermula. Menurut laporan dari media
Thailand Tiger, Vera ini kemudian dibawa
secara paksa ke wilayah utara negara
Myanmar, sebuah tempat yang dikenal
dengan sebutan camp. Nah, ini agak
mirip-mirip dengan cerita narasumber
kita. Kalau kalian tahu, gua pernah
membahas ini di sebuah e podcast ya.
Lokasi inilah yang diduga menjadi markas
operasi penipuan ee online secara scam
gitu ya, milik kelompok kriminal asal
China yang bekerja sama dengan milisi
lokal. Nah, di sini kalian harus paham
bahwa milisi lokal yang dimaksud itu
adalah para anggota angkatan bersenjata
pemberontak yang mana mereka itu semacam
membuat negara bagian sendiri di sana di
Myanmar. Nah, mereka ini ee dipekerjakan
atau bekerja sama dengan para
pengusaha-pengusaha bisnis hitam atau
bisnis ee kejahatan dari China. Jadi,
bos-bosnya itu orang China. Nah, mereka
ini minta dilindungi nih sama para
angkatan bersenjata, kelompok ee apa ya?
kelompok milisi lokal itu. Terus singkat
cerita nih, Geng. Sesampainya si Vera
ini di sana, dia diperintahkan untuk
melakukan penipuan asmara atau romance
scam atau love scam. Nah, jadi ini
persis banget nih kayak bintang tamu
kita kemarin. Ini adalah sebuah modus di
mana korban diharuskan berpura-pura
menjalin hubungan emosional dengan orang
kaya untuk bisa memeras uang mereka.
Kalau di cerita podcast kita kemarin
yang menjadi eh penipunya ya yang
dipekerjakan itu adalah laki-laki. Nah,
tapi kalau ini adalah wanita cantik yang
real. Nah, ini kan lebih mudah untuk
menipu para targetnya. Di saat itu ya
dikatakan jika para korban ini gagal
mencapai target yang diberikan, maka
nasib mereka akan berakhir dengan cara
yang tragis. Nah, tidak pernah ada yang
tahu bagaimana nasib selanjutnya dari
Vera karena keberadaannya dia yang udah
enggak diketahui dan enggak terlacak
lagi oleh keluarganya dan enggak pernah
ada kontak lagi dari Vera. Keluarganya
juga bingung karena Vera ini tidak
pernah memberikan kabar sama sekali.
Singkat cerita ya, di suatu hari
keluarga Vera ini menerima pesan dari
seseorang yang menyebutkan jika Vera
sudah meninggal dunia. Nah, jika pihak
keluarga ingin agar jenazah Vera
dipulangkan kembali ke tanah airnya,
maka mereka harus membayar uang sebesar
500.000 000 Amerika Serikat atau setara
dengan Rp8,2 miliar. Nah, ini sudah
pasti informasi dari pihak scam atau
pihak penipu itu. Nah, mendapatkan kabar
tersebut, keluarganya enggak gegabah
dalam mengambil keputusan. Mereka enggak
langsung mengirimkan uang walaupun
mereka panik. Nah, tapi mereka kembali
mendapatkan pesan dari seseorang yang
menyebutkan uang yang tidak dikirim oleh
keluarga Vera merupakan tanda jika
mereka lebih memilih untuk tidak ingin
melihat anak mereka lagi alias Vera.
Nah, meskipun dalam kondisi yang sudah
tidak bernyawa katanya. Nah, untuk itu
jenazah Vera akhirnya dikremasi. Nah,
namun geng ada hal yang mengerikan
sebelum jenazah Vera dikremasi. Menurut
informasi yang beredar, orang yang
menghubungi keluarganya ya menyebutkan
jika organ tubuh Vera sudah diambil lalu
dijual ke organisasi perdagangan organ
sebuah sindikat kriminal yang
menjalankan operasi perdagangan organ
secara gelap.
Ver disebut disiksa dan akhirnya dipun.
Organ tubuhnya juga diperjual belikan
oleh kelompok pelaku.
Ibunya Vera kemudian memohon-mohon agar
mereka mengembalikan abunya Vera
walaupun udah dikremasi. Bahkan ibunya
bilang kalau dia berencana ingin pergi
ke Myanmar sendirian agar mengurus
kepulangan abunya Vera. Nah, yang mana
awalnya nih keluarganya agak apa ya,
agak alot lah diskusinya dengan e para
pemberontak ini ee para penipu ini. Tapi
pada akhirnya ketika dia tahu kalau
anaknya udah jadi abu, udah dikremasi,
mau enggak mau dia bermohon-mohon. di
saat itu. Kasus ini dengan cepat menjadi
perbincangan di Belarus ya, di Belarusia
pihak pemerintah Belarusia sampai angkat
bicara. Di saat itu Vladimir Borovikov
selaku duta besar Belarusia untuk
Vietnam sekaligus Myanmar membenarkan
bahwa pihak kedutaan menerima permohonan
bantuan dari seorang warga yang
melaporkan anak perempuan mereka hilang
di Thailand atau di Myanmar sekitar ee
tanggal 9 Oktober. Cuma, Geng, di dalam
pernyataan resminya, Borovikov tidak
menyebutkan nama Vera secara langsung.
Dia bilang bahwa pihak kedutaan sudah
menghubungi lembaga penegak hukum dan
kementerian luar negeri di kedua negara
untuk e menelusuri keberadaannya. Nah,
Borovikov menambahkan bahwa berdasarkan
data penerbangan, perempuan yang
dilaporkan hilang itu meninggalkan
Bangkok menuju Yangon pada tanggal 20
September. Dan sejak itu dia enggak
pernah terlihat lagi, enggak ada
kabarnya lagi. Dan dia menegaskan bahwa
pihak diplomatik cuma akan bertindak
berdasarkan data resmi dari otoritas
berwenang Thailand dan Myanmar doang.
Kalau kita pikir-pikir gila juga ya.
sekelas negara Belarus loh. Ini kan
negara koalisi atau negara yang dekat
banget sama Rusia gitu. Mereka aja
enggak berkutik loh menghadapi para
penipu-penipu dari Myanmar dan Kamboja
kayak gini. Gila banget. Nah, terus geng
ya akhirnya penyelidikan pun dilakukan
di Thailand di saat itu pada tanggal 21
Oktober 2025. Mayor Jenderal Polisi E
Chengron Rimpade ya yang menjabat
sebagai wakil komisaris dan juru bicara
Biro Imigrasi itu bilang bahwa lejen
polisi Panumas Buyaluk sudah
memerintahkan pemeriksaan menyeluruh
atas catatan perjalanan Vera melalui
sistem biometrik. Dalam pemeriksaan
tersebut diketahui ternyata Vera ini
datang ke Thailand pada tanggal 12
September jam 1241 dini hari waktu
setempat melalui Bandara Svarnabumi. Dia
kemudian meninggalkan Thailand pada
tanggal 20 September 2025 di jam . 20
waktu setempat dengan penerbangan Thai
Airways TG301 menuju ke Yangon Myanmar.
Dan sistem biometrik itu mengkonfirmasi
kalau penumpang tersebut memang orang
yang sama karena dia melewati automatic
channel yang disingkat dengan ABC gate.
Sehingga siapa aja yang melewati gate
ini enggak perlu berinteraksi dengan
petugas imigrasi. Nah, jadi ada
main-main nih ternyata ya. Gila ya dari
pihak bandaranya aja tuh udah
dipekerjakan gitu sama penipunya. Dan
dari rekaman CCTV ya juga memverifikasi
bahwa orang yang terlihat itu adalah
Vera. Tapi geng yang anehnya jika memang
Vera ini menjadi korban penculikan
biasanya kalau seseorang menjadi korban
itu bakal terlihat ekspresi seperti
takut atau cemas ya kan dia gelisah
gitu. Nah, tapi Geng ini enggak sama
sekali. Dari rekaman CCTV yang
memperlihatkan Vera selama berada di
bandara. Vera ini kayak kelihatannya
enggak enggak tertekan atau takut
enggak. Ekspresinya biasa aja. Dan oleh
karena itu pihak dari Thailand sendiri
ya mengklaim kalau kabar mengenai Vera
yang diculik di Thailand untuk dibawa ke
Myanmar dan jadi korban TPPO itu adalah
kabar yang enggak benar. Mereka
menyimpulkan kalau kepergian Vera itu
karena keinginannya sendiri dan kabar
Vera yang diculik itu cuma asumsi-asumsi
liar yang dibuat oleh orang yang tidak
bertanggung jawab di internet katanya
gitu. Nah, tapi kan ini apa ya semacam
pembelaan lah ya. pembelaan karena ya
semuanya udah terjadi. Kalau memang Vera
ini datang ke sana bukan karena ditipu
ya mana mungkin dia meninggoi gitu kan
sampai organ-organnya diambil.
Nah, di saat itu Gubernur Tourism
Authority of Thailand atau disingkat
dengan TAT yang bernama Tapane Kiat Paib
itu mengatakan kalau dia khawatir
diskusi yang ada di internet bisa
merusak kepercayaan global terhadap
pariwisata Thailand. Jujur aja nih,
Geng, ya. Gua sendiri sebenarnya udah ih
apa ya, kalau dengar kata Thailand,
Myanmar tuh udah merinding. Kamboja tuh
merinding gua, bulu kuduk gua udah ah
berdiri aja ya. Enggak usah bilang apa
ya merusak kepercayaan global udah rusak
memang karena udah banyak banget
korbannya. Di saat itu ya tapani ini
sudah memerintahkan kantor TAT Moskow
untuk segera menilai situasi ini,
memantau platform media sosial dan
memberikan informasi terbaru secara
berkala. Sementara menurut kantor TAT
yang ada di Moskow ya belum ada bukti
pembatalan perjalanan terkait kasus
tersebut. Namun Tat sudah memberikan
himbauan kepada para turis untuk tetap
waspada menghindari kontak dengan orang
asing selama di luar negeri dan segera
memberitahukan polisi setempat atau
kedutaan besar kalau mereka mencurigai
adanya bahaya yang mengintai mereka.
Nah, permasalahannya ya siapa juga yang
paham negara orang gitu kan. Gua kalau
misalkan tiba-tiba diculik kayak gitu,
ditipu kayak gitu di tengah-tengah
negara orang bingung juga harus ke mana.
Kantor polisi. Emang kita tahu bentuk
kantor polisi di sana gimana? Bahasa aja
udah beda. Nah, dari informasi yang gua
ambil dari media L Bible ya, duta besar
Belarusia, Vietnam, dan Myanmar juga
sudah membantah laporan adanya
penculikan atau penjualan organ terhadap
Vera. Tapi menurut berita Rusia yaitu
Isvestia. Nah, di saat itu Vladimir
Borovikov itu bilang jika dia
menyayangkan perilaku tidak bermoral dan
tidak bertanggung jawab dari orang-orang
yang menyebarkan informasi ini yang mana
ee dikatakan ini tidak terverifikasi dan
isu Viera diculik dan organnya dijual
itu beredar setelah terjadinya kasus
sebelumnya. Nah, yang ini benar-benar
terjadi ya yang mana ada kejadian
seorang model e pria ya laki-laki
bernama Dasinima Ochirni Mayeva. Dia
usianya 24 tahun. Dia berasal dari e
Cheit Siberia yang mana dia direkrut dan
sudah dijadwalkan agar organnya dijual.
Beruntungnya dia berhasil dibebaskan
oleh diplomat Rusia. Nah, jadinya kan
sejauh ini kita sudah paham ya bahwa isu
tentang Vera ini dianggap enggak benar
alias hoa gitu kan. Nah, tapi pertanyaan
yang masih belum terjawab adalah jika
isu ini hoa lalu gimana kondisi dari
Vera sendiri? Apakah dia baik-baik aja?
Nah, sampai detik ini enggak ada yang
tahu karena belum ada informasi terbaru
mengenai keberadaan Vera. Jadi, semua
orang juga mempertanyakan ini sebenarnya
Belarusia nih bergerak atau enggak dan
pemerintah Thailand serta Myanmar
ngebantu atau enggak. Kalau memang Vera
ini enggak diculik, ya jangan buru-buru
membuat pernyataan. Tapi cari dulu
Veranya di mana, tunjukin ke publik baru
bikin pernyataan bahwa ini semua hoax.
Nah, di sinilah banyak orang yang merasa
marah gitu, Geng. Nah, sampai detik ini
kasus ini masih terus bergulir dan
keberadaan Vera belum diketahui. Nah,
itu adalah kasus yang pertama. Meskipun
dikatakan informasi diculik dan organnya
dijual itu tidak benar, namun masih
banyak yang percaya kalau dia memang
benar-benar sudah jadi korban. Karena
pihak pemerintah seolah tuh kayak apa
ya? Kayak malu mengakui kalau mereka
gagal menyelamatkan Vera. Sehingga
mereka tuh menyatakan kalau Vera ini
adalah korban berita hoa dan segala
macam. Nah, nanti jika ada info
terupdate, gua akan informasikan kepada
kalian soal kondisi Vera saat ini.
Terus, Geng ya di pembahasan kita
selanjutnya, kita akan membahas ya
kasus-kasus kayak gini. Ternyata memang
beneran terjadi dan kali ini ee
korbannya bukan orang dari negara kita,
ya. Ya, seperti yang kita tahu ya, di
negara kita kan sedang sulit banget
pekerjaan ya kan, banyak pengangguran
dan banyak juga korban yang [musik] ee
pergi ke Kamboja, Thailand, Myanmar
kayak gini akhirnya menjadi scammer,
menjadi admin judul gitu ya. Nah, tapi
untuk kali ini kalian enggak akan pernah
kepikiran bahwa korban-korban
selanjutnya itu justru menyasar
orang-orang dari Korea Selatan. Sebuah
negara yang kita anggap cukup sejahtera
ya. Dan pemerintah Korea Selatan udah
mulai panik banget karena sudah puluhan
orang Korea Selatan yang hilang menjadi
korban penjualan manusia di Kamboja.
Nah, sekarang kita akan bahas mengenai
hilangnya banyak orang Korea Selatan di
Kamboja.
Jadi, Geng, situasi di mana banyak
orang-orang yang menghilang setelah
mereka pergi ke Kamboja atau ke Myanmar
gitu ya untuk menerima tawaran kerja
ternyata enggak cuma terjadi di negara
kita Indonesia, tapi juga sekarang malah
merembat ke Korea Selatan. Warga Korea
Selatan udah hilang 80 orang yang mana
semuanya menuju ke Kamboja. Di sini gua
perlu ingatkan ya, biasanya orang-orang
Korea Selatan ini kan eh ada beberapa
kasus yang terjadi kalau mereka ke
negara kita itu e rasis gitu ya. Pernah
beberapa kaliah terjadi kerasisan.
Sekarang mereka ke Kamboja justru mereka
hilang. Dari sini kita bisa lihat ya
ternyata lebih baik mereka ke negara
kita yang ramah ya kan daripada mereka
ke Kamboja hilang nyawa gitu kan. Tapi
di negara kita sendiri ya masih ada aja
mereka yang rasis terhadap kita padahal
kita udah ramah gitu. Terus, geng,
mereka yang hilang ini diduga menjadi
korban penipuan lowongan pekerjaan palsu
atau fake job scam. Dan kasus banyaknya
orang Korea Selatan yang hilang di
Kamboja ini bisa terungkap setelah
adanya kematian dari seorang mahasiswa
yang bernama Parkminu. Ya, akibat ee
mengalami penyiksaan di markas penipuan
yang ada di Kamboja. Dia ditemukan
meninggal dunia di dalam truk pick up
pada tanggal 8 Agustus di Provinsi
Kampot Kamboja Selatan. Dari hasil
otopsi menunjukkan kalau dia meninggal
dunia akibat mengalami penyiksaan berat
dengan banyaknya memar dan luka yang ada
di sekujur tubuh. Dan untuk menangani
hal ini, kantor kepresidenan mengatakan
sudah mengirimkan tim tanggap gabungan
ke Kamboja pada hari Rabu tanggal 15
Oktober 2025 yang dipimpin oleh Wakil
Menteri Luar Negeri atau Wamenlu. Juru
bicara kepresidenan yaitu Kim Namjun ya
mengatakan pemerintah juga sedang
mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat
himbauan perjalanan ke Kamboja dan
seorang pejabat Kementerian Luar Negeri
Korea Selatan bilang sejak bulan Januari
hingga Agustus tahun ini sudah ada 330
warga Korea Selatan yang dilaporkan
hilang atau justru ditahan setelah
memasuki Kamboja dan Kementerian Luar
Negeri Korea Selatan sedang ee memeriksa
ulang data tersebut dengan data
kepolisian Kamboja untuk menghindari
data yang ee tumpang tindih.
Pemerintah Korea Selatan di saat itu
berhasil memulangkan sekitar 64 orang
warga Korea Selatan yang sudah ditahan
di Kamboja. Namun masih ada 79 orang
yang dikabarkan belum diketahui
keberadaannya, Geng. Ada sekitar 200.000
orang dari berbagai negara yang terlibat
di dalam industri penipuan di Kamboja
dan sekitar 1000 orang di antaranya dia
kini berasal dari Korea Selatan. Nah,
mengapa bisa kayak gini? Banyak orang
Korea Selatan yang pergi ke Kamboja.
Ternyata hal ini dikarenakan adanya
iklan yang menargetkan warga Korea
Selatan dan tersebar di platform online
serta Telegram. Di mana di dalam iklan
tersebut mereka diiming-imingi
setidaknya gaji sebesar 5 juta won atau
sekitar 33.500 Amerika yang kalau
dirupiahkan sekitar Rp580 juta. Wuh,
angka yang ditawarkan jauh lebih besar
daripada pendapatan rata-rata pekerja di
Korea Selatan dalam sebulan. Fantastis
banget. Dan kelompok kejahatan
terorganisir yang ada di Korea Selatan
menjalani operasi penipuan di Kamboja
dengan skala yang lebih kecil
dibandingkan sindikat yang dijalankan
oleh ee negara China. [musik] Jaringan
yang lebih kecil yang dijalankan oleh
pemuda Korea Selatan berusia 20 tahunan
sampai 30 tahunan juga beroperasi di
Kamboja. Beberapa warga Korsel yang
pergi ke Kamboja dengan niat untuk
bekerja dalam kegiatan ilegal dan
beberapa lainnya dengan sukarela kembali
ke Kamboja setelah berhasil pulang ke
Korea Selatan. Wah, gila ya sindikatnya.
Dan para sindikat kriminal ini
menjalankan operasi mereka dengan
mengurung para pekerja yang menolak
untuk bekerja dan mereka semua dipukuli,
disiksa, bahkan diperas uangnya dari
keluarga mereka. Nah, beberapa lainnya
dipaksa untuk mengkonsumsi narkoboy dan
mengalami pelecehan dan mereka menjalani
pemeriksaan medis dengan tujuan
perdagangan organ. Jadi, organ-organ
yang masih bagus, yang masih bisa untuk
diperjual belikan seperti ginjal,
jantung, hati, dan lain-lain bakal
diperjual belikan. Dan setiap menit dan
detiknya itu adalah soal hidup dan mati
untuk mereka. Nah, beberapa dari mereka
akhirnya ada yang bisa melarikan diri
atau menghubungi keluarganya melalui
Telegram yang kemudian akhirnya
keluarganyaalah yang membantu kepulangan
mereka kembali ke negara masing-masing.
Menurut Kantor Kepresidenan dan Badan
Intelijen Nasional ya diperkirakan ada
1000 warga Korea Selatan yang saat ini
berada di kompleks penipuan Kamboja.
Jadi bukan 80 orang aja, ada 1000 orang.
Dan tanpa adanya informasi yang detail
mengenai identitas mereka, pemerintah
yakin akan sulit untuk menyelesaikan
masalah ini seperti menyelamatkan mereka
dalam jangka waktu yang pendek. Nah,
pemerintah berencana untuk berbagi
informasi melalui satuan tugas respons
gabungan Korea Kamboja yang sudah
disepakati untuk dibentuk pada tanggal
17 Oktober 2025 sembari terus mendesak
pemerintah Kamboja untuk lebih proaktif
dalam menindak kejahatan dan
mengidentifikasi warga Korea Selatan
dalam prosesnya. Dan untuk bisa bergerak
cepat memulangkan orang-orang Korsel
yang masih terjebak di Kamboja, mereka
itu ya itu bakal melakukan investigasi
terhadap 64 orang yang sudah berhasil
diselamatkan untuk mengumpulkan
informasi tentang ee perantara siapa
dalang di balik sindikat ini [musik]
sehingga memungkinkan otoritas Kamboja
untuk lebih proaktif dalam menindak
kejahatan di daerah mereka. Pemerintah
Korea Selatan juga bakal memperkuat staf
mereka, termasuk dengan mengirimkan
personel Kementerian Luar Negeri dan
Kepolisian ke Kedutaan Besar Korea
Selatan yang ada di Kamboja untuk
membantu menyelesaikan kasus ini. Jadi,
ditangani dengan serius. pemerintah ya
ee memprioritaskan pencarian dan
pemulangan sekitar 80 orang yang
kasusnya masih belum terselesaikan
setelah dilaporkan hilang oleh mereka
sendiri atau keluarga mereka di tahun
lalu dan juga tahun ini. Nah, laporannya
sudah banyak banget dan menurut data
yang diterima oleh kantor anggota
parlemen Partai Demokratik Korea Selatan
yaitu Pak Chandai dari Kementerian
Kehakiman pada tahun 2021 aja itu 113
orang Korea Selatan berangkat ke Kamboja
dan hilang kabar di tahun 2022 jumlahnya
meningkat drastis menjadi 3.000
9 orang. Gila enggak tuh? Nah, di tahun
2023 yang berangkat itu sebesar 2.662
orang dan di tahun 2024 sebanyak 3.248
orang. Angka ini menunjukkan bahwa
ribuan warga Korea Selatan yang
berangkat ke Kamboja setiap tahunnya
tidak kembali ke negara asalnya. Dan
untuk tahun ini aja diperkirakan udah
ada 864 orang yang belum balik.
Sementara menurut data yang diambil dari
imigrasi Kamboja, jumlah warga Korea
Selatan yang masuk ke negara tersebut
tercatat sebesar 6.074 74 orang di tahun
2021 dan 64.040
orang di tahun 2022 dan 170.171
orang di tahun 2023 serta 192.305
orang di tahun 2024 dan di bulan Januari
sampai Juli 2025 ada 106.686
orang. Huh, gila enggak tuh? Nah, terus
kenapa di pemberitaan katanya cuma
puluhan orang padahal ada ribuan orang
yang hilang. Apakah yang puluhan orang
itu yang sudah melapor atau gimana? Nah,
angka tersebut hampir dua kali lipat
lebih tinggi dibandingkan dengan data
dari pemerintah Korea Selatan yang
menunjukkan adanya perbedaan signifikan
antara data dari kedua negara, Geng.
Bahkan di kalangan orang-orang yang
memahami bagaimana situasi di Kamboja
nih, banyak yang berpendapat kalau
jumlah orang Korea Selatan yang bekerja
di sana jauh lebih banyak dibandingkan
[musik] yang diperkirakan oleh
pemerintah Korea Selatan. Ada ee seorang
kenalan yang namanya diinisialkan
menjadi eh A gitu ya. Dia ini kerja di
kompleks kriminal itu, Geng. Nah, si A
ini bilang orang Korea di sana
setidaknya ada 2 sampai 3000 orang dan
enggak semuanya berangkat secara resmi
menggunakan pesawat. Ada juga yang
diselundupkan melalui negara lain
seperti dari China. Nah, si A ini juga
bilang kalau ada beberapa kompleks di
mana korban itu dipaksa menjalankan
penipuan online yang memiliki
krematorium sendiri, tempat di mana para
pekerja bisa disiksa sampai meninggal
dan organnya dijual. Jadi, enggak mau
disia-siakan. Tuh, orang-orang ini
misalkan enggak perform atau enggak bisa
menghasilkan uang, ya dibelek badannya,
dijual organnya. Yang penting dia tetap
bisa menghasilkan uang dari segimanapun.
Selanjutnya, Geng, ada pria yang berusia
20 tahunan inisialnya B yang pernah
bekerja di salah satu kompleks yang
menjalankan online scam. Dia cerita di
tempat dia bekerja ada sekitar 50 orang
Korea Selatan dan beberapa di antara
mereka bahkan sudah menghasilkan uang
dan ee pindah ke negara lain untuk
membuka perusahaan [musik] baru yang
sejenis. Gila enggak tuh? Dan menurut
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan,
jumlah laporan kasus penculikan dan
penahanan orang Korea Selatan di Kamboja
relatif kecil pada tahun 2022, yaitu
cuma 11 kasus. Tapi kasus-kasus ini
pelan-pelan mulai meningkat dengan
tajam. Di tahun 2023 ada 21 kasus, 2024
ada 221 kasus dan terus meningkat
menjadi 330 kasus di bulan Januari
sampai Agustus. Peningkatan kejahatan
terhadap orang Korea Selatan itu
diperkirakan terjadi karena sasaran
kejahatannya meluas dan juga karena
orang Korea Selatan memberikan potensi
keuntungan yang tinggi bagi pelaku. Dan
menurut O Changsu, seorang misionaris
yang membantu menyelamatkan korban yang
ada di Kamboja, dia bilang kalau alasan
pelaku mendatangkan orang Korea Selatan
karena harga tebusan orang Korea Selatan
dari keluarga-keluarga mereka ya itu
paling mahal, Geng. Dan keuntungan dari
penipuan yang berbasis suara lewat
telepon gitu ya, yang melibatkan orang
Korea Selatan juga menjadi penipuan
terbesar gitu. Dia menyebutkan kalau
saat menjual korban ke kelompok lain
misalkan ya, misalkan nih ee mereka udah
bosan nih sama orang Korea Selatan yang
mereka siksa, yang mereka pekerjakan.
Nah, dijual nih ke sindikat milik orang
Cina lah gitu ya. Sindikat kriminal
milik orang Cina. Nah, pelaku ini bisa
mendapatkan bayaran sekitar 10.000
sampai 15.000.
Gede banget ya. Satu orang dijual hampir
200 jutaan. Dan kasus yang pernah
terjadi adalah kasus yang ditangani oleh
kepolisian Jeju Barat di mana ada
laporan terkait seorang pria berumur 20
tahunan diculik di Kamboja dan mengaku
diminta tebusan berupa koin crypto
senilai 35 juta won dan dia dibebaskan
setelah bisa membayar. Nah, kasus
lainnya juga menimpa dua orang yang
diminta untuk membayar tebusan melalui
koin crypto sekitar 16 juta won. Dan
setelah membayarnya mereka baru
dibebaskan. Nah, karena kondisi yang
sudah mengkhawatirkan di Korea Selatan
ini, Kementerian Luar Negeri Korea
Selatan sudah memberlakukan peringatan
perjalanan ke beberapa e wilayah Kamboja
seiring dengan kasus penipuan kerja yang
semakin meningkat tajam dan peringatan
level 4 yang melarang semua perjalanan
untuk Gunung Bokor di Provinsi Kampot
dan juga kota Buffet dan Poipet yang
sebelumnya berada di bawah peringatan
perjalanan khusus. Jadi, ini daerah
paling berbahaya lah di sana. Nah, lalu
kemudian Provinsi Sihanockville ya sudah
dinaikkan ke level 3 dan semua warga
Korea Selatan disarankan untuk
meninggalkan daerah tersebut. Nah,
peringatan perjalanan khusus yang sudah
ada untuk daerah lain tetap berlaku.
Sementara daerah yang sebelumnya berada
di level 1 yang menyarankan untuk
berhati-hati di sana sudah ditingkatkan
menjadi level 2. Yang mana ee di sini
para turis yang datang ke sana
disarankan untuk mempertimbangkan
kembali kunjungan mereka karena tempat
itu bukan tempat yang asik untuk
berwisata. Nah, itu dia geng. Dua
pembahasan kita kali ini mengenai dua
kasus yang menunjukkan tingkat kejahatan
di negara-negara seperti Myanmar dan
Kamboja semakin mengerikan, semakin
besar dan serius hingga menargetkan
orang-orang dari negara maju. Gimana,
Geng, menurut pendapat kalian terhadap
kasus ini? Coba tinggalkan komentar di
bawah.