Transcript
Wwg2pDr5JRk • MYANMAR & KAMBOJA SEMAKIN MENGERIKAN ! MODEL BELA RUSIA & RIBUAN WARGA KORSEL ORGAN NYA DI JUAL !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1573_Wwg2pDr5JRk.txt
Kind: captions Language: id Oke, sebelum gua mulai konten ini ya, gua disclaimer dulu. Ini konten adalah sebuah informasi yang bertujuan untuk edukasi, tidak bermaksud untuk melanggar aturan YouTube. Dan semoga kalian bisa mendengar ee konten ini sampai selesai karena penting banget buat kalian yang sedang mencari pekerjaan agar lebih berhati-hati lagi. Geng, kita udah pasti tahu ya. Dan gak heran setiap kita mendengar berita mengenai betapa banyaknya kejahatan di negara-negara seperti Myanmar, Kamboja ini udah enggak asing lagi di telinga kita orang Indonesia. 20 warga negara Indonesia atau WNI diduga menjadi di Myanmar. Para calon pekerja migran ini juga dilaporkan mengalami kekan selama di model muda asal Belusia Vera Crafsofa ditemukan setelah diduga menjadi lintas negara di Asia Tenggara. Hal ini apalagi kalau bukan karena kasus perdagangan orang atau TPPO dengan modus lowongan kerja itu banyak sekali di sana. Yang padahal ya lowongannya cuma customer service tapi gajinya udah setara dengan gaji manager. Nah, ini yang bikin orang-orang tuh jadi tergiur gitu. Cuma ya di kondisi perekonomian yang lagi susah-susahnya saat ini, siapa yang tidak tertarik dengan tawaran kerja yang mudah tapi gaji [musik] tinggi? Nah, tapi geng biasanya kasus-kasus TPPO yang sering kita dengar ini korbannya adalah orang-orang menengah ke bawah yang e di negaranya e apa ya? Memang dia tuh hidupnya melarat, kasihan banget gitu ya, udah buntu mau ngapain lagi. Salah satu contohnya di negara kita Indonesia susahnya mencari pekerjaan, banyak pengangguran yang membuat orang-orang jadi tergiur dengan tawaran-tawaran kerja kayak gini ya kan. Nah, tapi saat ini, Geng, ya, aksi penipuan kejahatan TPPO di dua negara, yaitu Myanmar dan Kamboja ternyata enggak cuma menyasar Indonesia doang atau negara-negara Asia yang banyak penganggurannya doang dan apa ya korbannya itu udah bukan lagi menengah ke bawah aja, tapi sudah menjangkau ke orang-orang yang sebenarnya punya pekerjaan yang cukup menjanjikan di negara mereka sendiri. Dan baru-baru ini, Geng, ya, ada seorang model asal Belarusia. Bayangkan tuh model pekerjaannya yang mana dikabarkan dia diculik lalu dibawa ke Myanmar. Dia tidak dipekerjakan sebagai scammer atau admin judul di sana, melainkan lebih parah dari itu. Dia dieksekusi kemudian organnya dijual oleh sindikat kejahatan. Dan selain itu, korban dari TPPO ini enggak hanya berasal dari negara-negara berkembang seperti negara kita Indonesia dan India atau Pakistan dan lain-lain, tapi sekarang sudah menjangkau negara-negara yang tergolong maju seperti Korea Selatan. Kebayang ya orang Korea Selatan aja bisa tertipu dan saat ini dikabarkan sudah ada puluhan orang Korea Selatan yang hilang di Kamboja. Mereka tergiur dengan tawaran kerja di sana karena gaji yang ditawarkan lebih tinggi dengan kerjaan mereka di negara sendiri dan aasnya mereka justru jadi korban TPPU. Mereka dihabisi, badannya dibelek-belek organnya diambil dan bahkan ada yang mengalami penyiksaan dulu sebelum dihabisi. Nah, di video kali ini kita bakal mencoba membahas mengenai dua kasus ini, Geng. yang sekaligus membuka mata kita semua bahwa hari demi hari kasus penjualan orang kayak gini ya seperti sudah semakin berkembang dan semakin kuat. Yang gua bingungnya terjadi di Kamboja dan Myanmar itu pemerintahnya ngapain aja? Negaranya udah terkenal berbahaya kayak gitu kok kayak pergerakannya tuh enggak ada gitu. Nah, sebenarnya nanti kita bisa kupas juga ya mengapa dua negara ini kok e adem-adem aja pemerintahnya padahal udah terkenal berbahaya itu negara. Nah, langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jiri. [musik] Genggeng. Oke, Geng. Untuk pembahasan pertama kita akan bahas dulu kasus yang menimpa model asal Belarusia yang menjadi korban penculikan dan organnya dijual. Jadi, Geng, insiden terkait kasus TPPO ini ya memang tidak cuma menargetkan orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah, melainkan sudah menargetkan orang-orang yang sebenarnya memiliki pekerjaan yang cukup bagus seperti seorang model. Nah, jadi ada model dari Belar Rusia yang bernama E Vera Crafsofa. Usianya itu baru 26 tahun, muda banget. Yang dikabarkan dia menjadi korban penipuan een di Thailand. Seorang model muda asal Belarusia, Vera Crafsofa yang berusia 26 tahun dilaporkan menjadi korban j peran lintas negara. Vera ini diketahui sempat menetap di St. Petersburg ya di daerah Rusia sana setelah menyelesaikan kuliahnya di universitas dan dia bekerja sebagai model freelance dan pernah mengikuti ajang pencarian bakat The Voice Belarus. Nah, jadi apa ya? Di negaranya sendiri sebenarnya dia udah punya nama gitu. Dan kabarnya dia juga pernah bekerja di China. Dan awalnya nih geng, dia ini menerima tawaran kerja dari een agen tersebut yang mengaku bisa membantu dia untuk menembus industri modeling yang ada di Thailand. Ya, kita tahu, Geng, Thailand itu banyak banget spek cewek-cewek yang berpenampilan seperti model. Padahal mereka enggak berprofesi sebagai model. Karena memang secara fisik mereka tuh cocok banget jadi model ya. Ee apa? Tulang pipi yang tinggi, badannya yang tinggi, kaki jenjang gitu. Nah, kebayangkan gimana kalau beneran model gitu? Yang bukan model aja kelihatan seperti model. Makanya industri seputar kencatikan di sana menjadi incaran banyak model yang ada di seluruh dunia. Berpikir kalau itu bisa menjadi peluang untuk berkarir di lintas negara. Ya, di saat itu Vera merasa tertarik dengan tawaran tersebut dan memutuskan untuk pergi ke Thailand. Karena dia sadar orang-orang di luar negara dia menganggap ee manusia-manusia di negaranya dia itu cantik banget gitu. Dia sadar kayak, "Oke, gua di negara gua biasa aja. mungkin gua harus ke negara Asia karena gua di sana dianggap cantik. Nah, kurang lebih kayak gitu. Akhirnya berangkatlah dia menerima tawaran tersebut. Tapi, geng, di saat itu ya dia memang diberangkatkan ke Bangkok, Thailand. Nah, sesampainya di sana, dia justru kehilangan paspor serta handphone-nya setelah dia berinteraksi dengan sekelompok orang yang tadinya mengaku sebagai perwakilan dari agensi yang ternyata mereka ini adalah anggota dari sindikat kejahatan. Nah, kejadian ini terjadi di tanggal 9 Oktober 2025. Dan dari sinilah tragedi terhadap dia ini bermula. Menurut laporan dari media Thailand Tiger, Vera ini kemudian dibawa secara paksa ke wilayah utara negara Myanmar, sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan camp. Nah, ini agak mirip-mirip dengan cerita narasumber kita. Kalau kalian tahu, gua pernah membahas ini di sebuah e podcast ya. Lokasi inilah yang diduga menjadi markas operasi penipuan ee online secara scam gitu ya, milik kelompok kriminal asal China yang bekerja sama dengan milisi lokal. Nah, di sini kalian harus paham bahwa milisi lokal yang dimaksud itu adalah para anggota angkatan bersenjata pemberontak yang mana mereka itu semacam membuat negara bagian sendiri di sana di Myanmar. Nah, mereka ini ee dipekerjakan atau bekerja sama dengan para pengusaha-pengusaha bisnis hitam atau bisnis ee kejahatan dari China. Jadi, bos-bosnya itu orang China. Nah, mereka ini minta dilindungi nih sama para angkatan bersenjata, kelompok ee apa ya? kelompok milisi lokal itu. Terus singkat cerita nih, Geng. Sesampainya si Vera ini di sana, dia diperintahkan untuk melakukan penipuan asmara atau romance scam atau love scam. Nah, jadi ini persis banget nih kayak bintang tamu kita kemarin. Ini adalah sebuah modus di mana korban diharuskan berpura-pura menjalin hubungan emosional dengan orang kaya untuk bisa memeras uang mereka. Kalau di cerita podcast kita kemarin yang menjadi eh penipunya ya yang dipekerjakan itu adalah laki-laki. Nah, tapi kalau ini adalah wanita cantik yang real. Nah, ini kan lebih mudah untuk menipu para targetnya. Di saat itu ya dikatakan jika para korban ini gagal mencapai target yang diberikan, maka nasib mereka akan berakhir dengan cara yang tragis. Nah, tidak pernah ada yang tahu bagaimana nasib selanjutnya dari Vera karena keberadaannya dia yang udah enggak diketahui dan enggak terlacak lagi oleh keluarganya dan enggak pernah ada kontak lagi dari Vera. Keluarganya juga bingung karena Vera ini tidak pernah memberikan kabar sama sekali. Singkat cerita ya, di suatu hari keluarga Vera ini menerima pesan dari seseorang yang menyebutkan jika Vera sudah meninggal dunia. Nah, jika pihak keluarga ingin agar jenazah Vera dipulangkan kembali ke tanah airnya, maka mereka harus membayar uang sebesar 500.000 000 Amerika Serikat atau setara dengan Rp8,2 miliar. Nah, ini sudah pasti informasi dari pihak scam atau pihak penipu itu. Nah, mendapatkan kabar tersebut, keluarganya enggak gegabah dalam mengambil keputusan. Mereka enggak langsung mengirimkan uang walaupun mereka panik. Nah, tapi mereka kembali mendapatkan pesan dari seseorang yang menyebutkan uang yang tidak dikirim oleh keluarga Vera merupakan tanda jika mereka lebih memilih untuk tidak ingin melihat anak mereka lagi alias Vera. Nah, meskipun dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa katanya. Nah, untuk itu jenazah Vera akhirnya dikremasi. Nah, namun geng ada hal yang mengerikan sebelum jenazah Vera dikremasi. Menurut informasi yang beredar, orang yang menghubungi keluarganya ya menyebutkan jika organ tubuh Vera sudah diambil lalu dijual ke organisasi perdagangan organ sebuah sindikat kriminal yang menjalankan operasi perdagangan organ secara gelap. Ver disebut disiksa dan akhirnya dipun. Organ tubuhnya juga diperjual belikan oleh kelompok pelaku. Ibunya Vera kemudian memohon-mohon agar mereka mengembalikan abunya Vera walaupun udah dikremasi. Bahkan ibunya bilang kalau dia berencana ingin pergi ke Myanmar sendirian agar mengurus kepulangan abunya Vera. Nah, yang mana awalnya nih keluarganya agak apa ya, agak alot lah diskusinya dengan e para pemberontak ini ee para penipu ini. Tapi pada akhirnya ketika dia tahu kalau anaknya udah jadi abu, udah dikremasi, mau enggak mau dia bermohon-mohon. di saat itu. Kasus ini dengan cepat menjadi perbincangan di Belarus ya, di Belarusia pihak pemerintah Belarusia sampai angkat bicara. Di saat itu Vladimir Borovikov selaku duta besar Belarusia untuk Vietnam sekaligus Myanmar membenarkan bahwa pihak kedutaan menerima permohonan bantuan dari seorang warga yang melaporkan anak perempuan mereka hilang di Thailand atau di Myanmar sekitar ee tanggal 9 Oktober. Cuma, Geng, di dalam pernyataan resminya, Borovikov tidak menyebutkan nama Vera secara langsung. Dia bilang bahwa pihak kedutaan sudah menghubungi lembaga penegak hukum dan kementerian luar negeri di kedua negara untuk e menelusuri keberadaannya. Nah, Borovikov menambahkan bahwa berdasarkan data penerbangan, perempuan yang dilaporkan hilang itu meninggalkan Bangkok menuju Yangon pada tanggal 20 September. Dan sejak itu dia enggak pernah terlihat lagi, enggak ada kabarnya lagi. Dan dia menegaskan bahwa pihak diplomatik cuma akan bertindak berdasarkan data resmi dari otoritas berwenang Thailand dan Myanmar doang. Kalau kita pikir-pikir gila juga ya. sekelas negara Belarus loh. Ini kan negara koalisi atau negara yang dekat banget sama Rusia gitu. Mereka aja enggak berkutik loh menghadapi para penipu-penipu dari Myanmar dan Kamboja kayak gini. Gila banget. Nah, terus geng ya akhirnya penyelidikan pun dilakukan di Thailand di saat itu pada tanggal 21 Oktober 2025. Mayor Jenderal Polisi E Chengron Rimpade ya yang menjabat sebagai wakil komisaris dan juru bicara Biro Imigrasi itu bilang bahwa lejen polisi Panumas Buyaluk sudah memerintahkan pemeriksaan menyeluruh atas catatan perjalanan Vera melalui sistem biometrik. Dalam pemeriksaan tersebut diketahui ternyata Vera ini datang ke Thailand pada tanggal 12 September jam 1241 dini hari waktu setempat melalui Bandara Svarnabumi. Dia kemudian meninggalkan Thailand pada tanggal 20 September 2025 di jam . 20 waktu setempat dengan penerbangan Thai Airways TG301 menuju ke Yangon Myanmar. Dan sistem biometrik itu mengkonfirmasi kalau penumpang tersebut memang orang yang sama karena dia melewati automatic channel yang disingkat dengan ABC gate. Sehingga siapa aja yang melewati gate ini enggak perlu berinteraksi dengan petugas imigrasi. Nah, jadi ada main-main nih ternyata ya. Gila ya dari pihak bandaranya aja tuh udah dipekerjakan gitu sama penipunya. Dan dari rekaman CCTV ya juga memverifikasi bahwa orang yang terlihat itu adalah Vera. Tapi geng yang anehnya jika memang Vera ini menjadi korban penculikan biasanya kalau seseorang menjadi korban itu bakal terlihat ekspresi seperti takut atau cemas ya kan dia gelisah gitu. Nah, tapi Geng ini enggak sama sekali. Dari rekaman CCTV yang memperlihatkan Vera selama berada di bandara. Vera ini kayak kelihatannya enggak enggak tertekan atau takut enggak. Ekspresinya biasa aja. Dan oleh karena itu pihak dari Thailand sendiri ya mengklaim kalau kabar mengenai Vera yang diculik di Thailand untuk dibawa ke Myanmar dan jadi korban TPPO itu adalah kabar yang enggak benar. Mereka menyimpulkan kalau kepergian Vera itu karena keinginannya sendiri dan kabar Vera yang diculik itu cuma asumsi-asumsi liar yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab di internet katanya gitu. Nah, tapi kan ini apa ya semacam pembelaan lah ya. pembelaan karena ya semuanya udah terjadi. Kalau memang Vera ini datang ke sana bukan karena ditipu ya mana mungkin dia meninggoi gitu kan sampai organ-organnya diambil. Nah, di saat itu Gubernur Tourism Authority of Thailand atau disingkat dengan TAT yang bernama Tapane Kiat Paib itu mengatakan kalau dia khawatir diskusi yang ada di internet bisa merusak kepercayaan global terhadap pariwisata Thailand. Jujur aja nih, Geng, ya. Gua sendiri sebenarnya udah ih apa ya, kalau dengar kata Thailand, Myanmar tuh udah merinding. Kamboja tuh merinding gua, bulu kuduk gua udah ah berdiri aja ya. Enggak usah bilang apa ya merusak kepercayaan global udah rusak memang karena udah banyak banget korbannya. Di saat itu ya tapani ini sudah memerintahkan kantor TAT Moskow untuk segera menilai situasi ini, memantau platform media sosial dan memberikan informasi terbaru secara berkala. Sementara menurut kantor TAT yang ada di Moskow ya belum ada bukti pembatalan perjalanan terkait kasus tersebut. Namun Tat sudah memberikan himbauan kepada para turis untuk tetap waspada menghindari kontak dengan orang asing selama di luar negeri dan segera memberitahukan polisi setempat atau kedutaan besar kalau mereka mencurigai adanya bahaya yang mengintai mereka. Nah, permasalahannya ya siapa juga yang paham negara orang gitu kan. Gua kalau misalkan tiba-tiba diculik kayak gitu, ditipu kayak gitu di tengah-tengah negara orang bingung juga harus ke mana. Kantor polisi. Emang kita tahu bentuk kantor polisi di sana gimana? Bahasa aja udah beda. Nah, dari informasi yang gua ambil dari media L Bible ya, duta besar Belarusia, Vietnam, dan Myanmar juga sudah membantah laporan adanya penculikan atau penjualan organ terhadap Vera. Tapi menurut berita Rusia yaitu Isvestia. Nah, di saat itu Vladimir Borovikov itu bilang jika dia menyayangkan perilaku tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab dari orang-orang yang menyebarkan informasi ini yang mana ee dikatakan ini tidak terverifikasi dan isu Viera diculik dan organnya dijual itu beredar setelah terjadinya kasus sebelumnya. Nah, yang ini benar-benar terjadi ya yang mana ada kejadian seorang model e pria ya laki-laki bernama Dasinima Ochirni Mayeva. Dia usianya 24 tahun. Dia berasal dari e Cheit Siberia yang mana dia direkrut dan sudah dijadwalkan agar organnya dijual. Beruntungnya dia berhasil dibebaskan oleh diplomat Rusia. Nah, jadinya kan sejauh ini kita sudah paham ya bahwa isu tentang Vera ini dianggap enggak benar alias hoa gitu kan. Nah, tapi pertanyaan yang masih belum terjawab adalah jika isu ini hoa lalu gimana kondisi dari Vera sendiri? Apakah dia baik-baik aja? Nah, sampai detik ini enggak ada yang tahu karena belum ada informasi terbaru mengenai keberadaan Vera. Jadi, semua orang juga mempertanyakan ini sebenarnya Belarusia nih bergerak atau enggak dan pemerintah Thailand serta Myanmar ngebantu atau enggak. Kalau memang Vera ini enggak diculik, ya jangan buru-buru membuat pernyataan. Tapi cari dulu Veranya di mana, tunjukin ke publik baru bikin pernyataan bahwa ini semua hoax. Nah, di sinilah banyak orang yang merasa marah gitu, Geng. Nah, sampai detik ini kasus ini masih terus bergulir dan keberadaan Vera belum diketahui. Nah, itu adalah kasus yang pertama. Meskipun dikatakan informasi diculik dan organnya dijual itu tidak benar, namun masih banyak yang percaya kalau dia memang benar-benar sudah jadi korban. Karena pihak pemerintah seolah tuh kayak apa ya? Kayak malu mengakui kalau mereka gagal menyelamatkan Vera. Sehingga mereka tuh menyatakan kalau Vera ini adalah korban berita hoa dan segala macam. Nah, nanti jika ada info terupdate, gua akan informasikan kepada kalian soal kondisi Vera saat ini. Terus, Geng ya di pembahasan kita selanjutnya, kita akan membahas ya kasus-kasus kayak gini. Ternyata memang beneran terjadi dan kali ini ee korbannya bukan orang dari negara kita, ya. Ya, seperti yang kita tahu ya, di negara kita kan sedang sulit banget pekerjaan ya kan, banyak pengangguran dan banyak juga korban yang [musik] ee pergi ke Kamboja, Thailand, Myanmar kayak gini akhirnya menjadi scammer, menjadi admin judul gitu ya. Nah, tapi untuk kali ini kalian enggak akan pernah kepikiran bahwa korban-korban selanjutnya itu justru menyasar orang-orang dari Korea Selatan. Sebuah negara yang kita anggap cukup sejahtera ya. Dan pemerintah Korea Selatan udah mulai panik banget karena sudah puluhan orang Korea Selatan yang hilang menjadi korban penjualan manusia di Kamboja. Nah, sekarang kita akan bahas mengenai hilangnya banyak orang Korea Selatan di Kamboja. Jadi, Geng, situasi di mana banyak orang-orang yang menghilang setelah mereka pergi ke Kamboja atau ke Myanmar gitu ya untuk menerima tawaran kerja ternyata enggak cuma terjadi di negara kita Indonesia, tapi juga sekarang malah merembat ke Korea Selatan. Warga Korea Selatan udah hilang 80 orang yang mana semuanya menuju ke Kamboja. Di sini gua perlu ingatkan ya, biasanya orang-orang Korea Selatan ini kan eh ada beberapa kasus yang terjadi kalau mereka ke negara kita itu e rasis gitu ya. Pernah beberapa kaliah terjadi kerasisan. Sekarang mereka ke Kamboja justru mereka hilang. Dari sini kita bisa lihat ya ternyata lebih baik mereka ke negara kita yang ramah ya kan daripada mereka ke Kamboja hilang nyawa gitu kan. Tapi di negara kita sendiri ya masih ada aja mereka yang rasis terhadap kita padahal kita udah ramah gitu. Terus, geng, mereka yang hilang ini diduga menjadi korban penipuan lowongan pekerjaan palsu atau fake job scam. Dan kasus banyaknya orang Korea Selatan yang hilang di Kamboja ini bisa terungkap setelah adanya kematian dari seorang mahasiswa yang bernama Parkminu. Ya, akibat ee mengalami penyiksaan di markas penipuan yang ada di Kamboja. Dia ditemukan meninggal dunia di dalam truk pick up pada tanggal 8 Agustus di Provinsi Kampot Kamboja Selatan. Dari hasil otopsi menunjukkan kalau dia meninggal dunia akibat mengalami penyiksaan berat dengan banyaknya memar dan luka yang ada di sekujur tubuh. Dan untuk menangani hal ini, kantor kepresidenan mengatakan sudah mengirimkan tim tanggap gabungan ke Kamboja pada hari Rabu tanggal 15 Oktober 2025 yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri atau Wamenlu. Juru bicara kepresidenan yaitu Kim Namjun ya mengatakan pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat himbauan perjalanan ke Kamboja dan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan bilang sejak bulan Januari hingga Agustus tahun ini sudah ada 330 warga Korea Selatan yang dilaporkan hilang atau justru ditahan setelah memasuki Kamboja dan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan sedang ee memeriksa ulang data tersebut dengan data kepolisian Kamboja untuk menghindari data yang ee tumpang tindih. Pemerintah Korea Selatan di saat itu berhasil memulangkan sekitar 64 orang warga Korea Selatan yang sudah ditahan di Kamboja. Namun masih ada 79 orang yang dikabarkan belum diketahui keberadaannya, Geng. Ada sekitar 200.000 orang dari berbagai negara yang terlibat di dalam industri penipuan di Kamboja dan sekitar 1000 orang di antaranya dia kini berasal dari Korea Selatan. Nah, mengapa bisa kayak gini? Banyak orang Korea Selatan yang pergi ke Kamboja. Ternyata hal ini dikarenakan adanya iklan yang menargetkan warga Korea Selatan dan tersebar di platform online serta Telegram. Di mana di dalam iklan tersebut mereka diiming-imingi setidaknya gaji sebesar 5 juta won atau sekitar 33.500 Amerika yang kalau dirupiahkan sekitar Rp580 juta. Wuh, angka yang ditawarkan jauh lebih besar daripada pendapatan rata-rata pekerja di Korea Selatan dalam sebulan. Fantastis banget. Dan kelompok kejahatan terorganisir yang ada di Korea Selatan menjalani operasi penipuan di Kamboja dengan skala yang lebih kecil dibandingkan sindikat yang dijalankan oleh ee negara China. [musik] Jaringan yang lebih kecil yang dijalankan oleh pemuda Korea Selatan berusia 20 tahunan sampai 30 tahunan juga beroperasi di Kamboja. Beberapa warga Korsel yang pergi ke Kamboja dengan niat untuk bekerja dalam kegiatan ilegal dan beberapa lainnya dengan sukarela kembali ke Kamboja setelah berhasil pulang ke Korea Selatan. Wah, gila ya sindikatnya. Dan para sindikat kriminal ini menjalankan operasi mereka dengan mengurung para pekerja yang menolak untuk bekerja dan mereka semua dipukuli, disiksa, bahkan diperas uangnya dari keluarga mereka. Nah, beberapa lainnya dipaksa untuk mengkonsumsi narkoboy dan mengalami pelecehan dan mereka menjalani pemeriksaan medis dengan tujuan perdagangan organ. Jadi, organ-organ yang masih bagus, yang masih bisa untuk diperjual belikan seperti ginjal, jantung, hati, dan lain-lain bakal diperjual belikan. Dan setiap menit dan detiknya itu adalah soal hidup dan mati untuk mereka. Nah, beberapa dari mereka akhirnya ada yang bisa melarikan diri atau menghubungi keluarganya melalui Telegram yang kemudian akhirnya keluarganyaalah yang membantu kepulangan mereka kembali ke negara masing-masing. Menurut Kantor Kepresidenan dan Badan Intelijen Nasional ya diperkirakan ada 1000 warga Korea Selatan yang saat ini berada di kompleks penipuan Kamboja. Jadi bukan 80 orang aja, ada 1000 orang. Dan tanpa adanya informasi yang detail mengenai identitas mereka, pemerintah yakin akan sulit untuk menyelesaikan masalah ini seperti menyelamatkan mereka dalam jangka waktu yang pendek. Nah, pemerintah berencana untuk berbagi informasi melalui satuan tugas respons gabungan Korea Kamboja yang sudah disepakati untuk dibentuk pada tanggal 17 Oktober 2025 sembari terus mendesak pemerintah Kamboja untuk lebih proaktif dalam menindak kejahatan dan mengidentifikasi warga Korea Selatan dalam prosesnya. Dan untuk bisa bergerak cepat memulangkan orang-orang Korsel yang masih terjebak di Kamboja, mereka itu ya itu bakal melakukan investigasi terhadap 64 orang yang sudah berhasil diselamatkan untuk mengumpulkan informasi tentang ee perantara siapa dalang di balik sindikat ini [musik] sehingga memungkinkan otoritas Kamboja untuk lebih proaktif dalam menindak kejahatan di daerah mereka. Pemerintah Korea Selatan juga bakal memperkuat staf mereka, termasuk dengan mengirimkan personel Kementerian Luar Negeri dan Kepolisian ke Kedutaan Besar Korea Selatan yang ada di Kamboja untuk membantu menyelesaikan kasus ini. Jadi, ditangani dengan serius. pemerintah ya ee memprioritaskan pencarian dan pemulangan sekitar 80 orang yang kasusnya masih belum terselesaikan setelah dilaporkan hilang oleh mereka sendiri atau keluarga mereka di tahun lalu dan juga tahun ini. Nah, laporannya sudah banyak banget dan menurut data yang diterima oleh kantor anggota parlemen Partai Demokratik Korea Selatan yaitu Pak Chandai dari Kementerian Kehakiman pada tahun 2021 aja itu 113 orang Korea Selatan berangkat ke Kamboja dan hilang kabar di tahun 2022 jumlahnya meningkat drastis menjadi 3.000 9 orang. Gila enggak tuh? Nah, di tahun 2023 yang berangkat itu sebesar 2.662 orang dan di tahun 2024 sebanyak 3.248 orang. Angka ini menunjukkan bahwa ribuan warga Korea Selatan yang berangkat ke Kamboja setiap tahunnya tidak kembali ke negara asalnya. Dan untuk tahun ini aja diperkirakan udah ada 864 orang yang belum balik. Sementara menurut data yang diambil dari imigrasi Kamboja, jumlah warga Korea Selatan yang masuk ke negara tersebut tercatat sebesar 6.074 74 orang di tahun 2021 dan 64.040 orang di tahun 2022 dan 170.171 orang di tahun 2023 serta 192.305 orang di tahun 2024 dan di bulan Januari sampai Juli 2025 ada 106.686 orang. Huh, gila enggak tuh? Nah, terus kenapa di pemberitaan katanya cuma puluhan orang padahal ada ribuan orang yang hilang. Apakah yang puluhan orang itu yang sudah melapor atau gimana? Nah, angka tersebut hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan data dari pemerintah Korea Selatan yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara data dari kedua negara, Geng. Bahkan di kalangan orang-orang yang memahami bagaimana situasi di Kamboja nih, banyak yang berpendapat kalau jumlah orang Korea Selatan yang bekerja di sana jauh lebih banyak dibandingkan [musik] yang diperkirakan oleh pemerintah Korea Selatan. Ada ee seorang kenalan yang namanya diinisialkan menjadi eh A gitu ya. Dia ini kerja di kompleks kriminal itu, Geng. Nah, si A ini bilang orang Korea di sana setidaknya ada 2 sampai 3000 orang dan enggak semuanya berangkat secara resmi menggunakan pesawat. Ada juga yang diselundupkan melalui negara lain seperti dari China. Nah, si A ini juga bilang kalau ada beberapa kompleks di mana korban itu dipaksa menjalankan penipuan online yang memiliki krematorium sendiri, tempat di mana para pekerja bisa disiksa sampai meninggal dan organnya dijual. Jadi, enggak mau disia-siakan. Tuh, orang-orang ini misalkan enggak perform atau enggak bisa menghasilkan uang, ya dibelek badannya, dijual organnya. Yang penting dia tetap bisa menghasilkan uang dari segimanapun. Selanjutnya, Geng, ada pria yang berusia 20 tahunan inisialnya B yang pernah bekerja di salah satu kompleks yang menjalankan online scam. Dia cerita di tempat dia bekerja ada sekitar 50 orang Korea Selatan dan beberapa di antara mereka bahkan sudah menghasilkan uang dan ee pindah ke negara lain untuk membuka perusahaan [musik] baru yang sejenis. Gila enggak tuh? Dan menurut Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, jumlah laporan kasus penculikan dan penahanan orang Korea Selatan di Kamboja relatif kecil pada tahun 2022, yaitu cuma 11 kasus. Tapi kasus-kasus ini pelan-pelan mulai meningkat dengan tajam. Di tahun 2023 ada 21 kasus, 2024 ada 221 kasus dan terus meningkat menjadi 330 kasus di bulan Januari sampai Agustus. Peningkatan kejahatan terhadap orang Korea Selatan itu diperkirakan terjadi karena sasaran kejahatannya meluas dan juga karena orang Korea Selatan memberikan potensi keuntungan yang tinggi bagi pelaku. Dan menurut O Changsu, seorang misionaris yang membantu menyelamatkan korban yang ada di Kamboja, dia bilang kalau alasan pelaku mendatangkan orang Korea Selatan karena harga tebusan orang Korea Selatan dari keluarga-keluarga mereka ya itu paling mahal, Geng. Dan keuntungan dari penipuan yang berbasis suara lewat telepon gitu ya, yang melibatkan orang Korea Selatan juga menjadi penipuan terbesar gitu. Dia menyebutkan kalau saat menjual korban ke kelompok lain misalkan ya, misalkan nih ee mereka udah bosan nih sama orang Korea Selatan yang mereka siksa, yang mereka pekerjakan. Nah, dijual nih ke sindikat milik orang Cina lah gitu ya. Sindikat kriminal milik orang Cina. Nah, pelaku ini bisa mendapatkan bayaran sekitar 10.000 sampai 15.000. Gede banget ya. Satu orang dijual hampir 200 jutaan. Dan kasus yang pernah terjadi adalah kasus yang ditangani oleh kepolisian Jeju Barat di mana ada laporan terkait seorang pria berumur 20 tahunan diculik di Kamboja dan mengaku diminta tebusan berupa koin crypto senilai 35 juta won dan dia dibebaskan setelah bisa membayar. Nah, kasus lainnya juga menimpa dua orang yang diminta untuk membayar tebusan melalui koin crypto sekitar 16 juta won. Dan setelah membayarnya mereka baru dibebaskan. Nah, karena kondisi yang sudah mengkhawatirkan di Korea Selatan ini, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan sudah memberlakukan peringatan perjalanan ke beberapa e wilayah Kamboja seiring dengan kasus penipuan kerja yang semakin meningkat tajam dan peringatan level 4 yang melarang semua perjalanan untuk Gunung Bokor di Provinsi Kampot dan juga kota Buffet dan Poipet yang sebelumnya berada di bawah peringatan perjalanan khusus. Jadi, ini daerah paling berbahaya lah di sana. Nah, lalu kemudian Provinsi Sihanockville ya sudah dinaikkan ke level 3 dan semua warga Korea Selatan disarankan untuk meninggalkan daerah tersebut. Nah, peringatan perjalanan khusus yang sudah ada untuk daerah lain tetap berlaku. Sementara daerah yang sebelumnya berada di level 1 yang menyarankan untuk berhati-hati di sana sudah ditingkatkan menjadi level 2. Yang mana ee di sini para turis yang datang ke sana disarankan untuk mempertimbangkan kembali kunjungan mereka karena tempat itu bukan tempat yang asik untuk berwisata. Nah, itu dia geng. Dua pembahasan kita kali ini mengenai dua kasus yang menunjukkan tingkat kejahatan di negara-negara seperti Myanmar dan Kamboja semakin mengerikan, semakin besar dan serius hingga menargetkan orang-orang dari negara maju. Gimana, Geng, menurut pendapat kalian terhadap kasus ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.