Transcript
BtN7zqx4_24 • KONFLlK SUDAN MENGERIKAN ! BERAWAL DARI 2 SAHABAT REBUTAN KEKUASAAN & CAMPUR TANGAN ARAB
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1584_BtN7zqx4_24.txt
Kind: captions Language: id Genggeng. Oke, hari ini kita akan membahas tentang sebuah kejadian di kampung kalian ya. Sudan banyak banget nih yang minta bahas kasus ini. Kalau gua kan kampungnya di Mexico ya. Sesue yang membuka kan orang Mexico. Canda geng. Oke, pembahasan kita adalah sebuah pembahasan yang banyak sekali kalian request. Tapi sebelumnya gua disclaimer dulu. Pembahasan ini tidak bermaksud untuk menceritakan atau membahas sesuatu yang dilarang oleh YouTube ataupun hal-hal yang tidak diperbolehkan untuk kita sajikan di YouTube. Jadi, ini benar-benar sebuah informasi yang tujuannya adalah untuk edukasi buat kita semua. Jadi, gua dan tim kamar Jerry berusaha semaksimal mungkin membuat konten ini layak untuk didengarkan, layak untuk dikonsumsi oleh semua kalangan umur. Oke. Nah, jadi geng ceritanya saat ini Sudan itu sedang ada perang saudara yang berkecamuk yang membuat rakyat di sana sangat menderita dan menelan korban jiwa yang begitu banyak. Di dalam kurun waktu 3 hari aja korbannya itu sudah sampai ribuan orang yang meninggal dunia. udah kayak bencana alam loh. Dalam 3 hari ribuan orang berarti dalam 1 hari mereka bisa membantai 300-an lebih. Bahkan jumlahnya diduga jauh lebih banyak dibandingkan yang diberitakan. Karena kan banyak juga yang dikubur hidup-hidup yang hilang dan segala macam lah. Nah, oleh karena itu ada jutaan orang yang di saat ini terpaksa meninggalkan tanah mereka yang mana ini benar-benar mengerikan. Bisa dikatakan ini menjadi krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini. Kemarin kita baru saja ya menghadapi rasa sedih akibat apa yang terjadi di Palestina. Sekarang kita harus menerima kenyataan saudara-saudara kita di Sudan juga mengalami hal yang sama. Kondisinya benar-benar keos. Banyak rumah yang dibakar. Warga sipil terkhususnya perempuan dijadikan sebagai objek kekerasan sampai yang di bawah umur pun tidak luput dari sasaran. Krisis kemanusiaan yang saat ini terjadi di Sudan juga membuat fasilitas seperti rumah sakit tidak bisa bekerja dengan optimal. Selain karena korban jiwa yang begitu banyak, fasilitas publik yang ada di sana juga rusak, Geng. Karena ikut kena bombardir. Nah, pihak internasional melihat apa yang saat ini terjadi di Sudan sebagai genosida yang sedang berlangsung dengan benar-benar mengerikan. Jadi, hari ini kita akan membahas apa yang sebenarnya terjadi di Sudan. Mengapa bisa eskalasi konfliknya bisa sebegitu parah hingga menelan korban jiwa sampai ribuan? Dan apa yang dilakukan oleh pihak internasional untuk menghentikan situasi yang [musik] sudah seperti neraka di Sudan dan siapa di balik semua ini? Di video kali ini kita akan merangkum, kita akan membahas tentang kejadian ini. Langsung aja secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [musik] Genggeng, kita langsung masuk ke dalam topik utama yaitu pecahnya perang saudara di Sudan. Untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di Sudan nih, Geng. Ya, kita harus balik dulu nih ke beberapa tahun silam. Jadi, kalian harus dengar dengan seksama supaya kalian paham sejarahnya. Ceritanya itu ada dua orang tokoh yang menjadi kunci dari perang saudara yang terjadi di Sudan. Yang pertama itu ada Abdul Fattah Alburhan yang menjadi pemimpin Sudan Armed Force atau SF. Dan yang satu lagi itu bernama Muhammad Hamdan Dagalo yang dikenal sebagai Hamedti, kepala dari kelompok para militer yang bernama Rapid Super Force atau RSF. Nah, jadi ada dua pihak nih, S RF. Kedua orang ini dulunya bekerja sama bergabung, kerja bareng, teman. Mereka melakukan kudeta bersama-sama terhadap pemerintah. Nah, mereka juga memiliki riwayat hubungan yang panjang. Mereka memainkan peran kunci di dalam kelompok pemberontak Darfour dalam perang saudara di wilayah barat Sudan yang dimulai pada tahun 2003. Burhan sendiri mengendalikan tentara Sudan yang ada di Darfour. Sementara Hamti itu menjadi komandan salah satu dari banyak kelompok milisi Arab yang dikenal sebagai Janjawid yang digunakan oleh pemerintah untuk menumpas kelompok-kelompok pemberontak Darfour yang sebagian besar merupakan orang-orang non Arab. Di saat itu ada seorang wakil direktur Badan Intelijen dan Keamanan Nasional namanya Majak De Agut sebelum dia menjadi wakil Menteri Pertahanan di Sudan Selatan ketika wilayah itu memisahkan diri pada tahun 2011 ya. Nah, dia itu masih wakil direktur Badan Intelijen dan Keamanan Nasional tadi. Di suatu waktu The Agut ini bertemu dengan Jenderal Burhan dan juga Hametti di Darfour dan mengatakan bahwa mereka sudah bekerja sama dengan baik. Cuma, Geng, dia melihat adanya sedikit tanda-tanda bahwa keduanya bakal naik ke posisi tinggi di negara bagian. Hamti cuma seorang pemimpin milisi yang memainkan peran kontra pemberontakan dan membantu militer. Ya, sementara Burhan adalah seorang prajurit. Nah, militer sendiri sudah menguasai sebagian besar sejarah Sudan pasca kemerdekaan. Situasi di Darfour sendiri sudah digambarkan sebagai genosida pertama abad ke-21. Nah, di saat itu Janjawit itu dituduh melakukan genosida dan melakukan aksi ruda paksa massal sebagai senjata perang. Oleh karena itu, Hamti akhirnya menjadi komandan dari kelompok yang digambarkan sebagai sayap dari janjawid tadi, yaitu RSF. Kekuasaannya berkembang begitu cepat, Geng. Setelah dia mulai memasuk pasukan untuk berperang bagi koalisi pimpinan Saudi di Yaman. Nah, jadi ada kaitannya nih dengan Arab. Nah, penguasa militer Sudan pada saat itu yang bernama Omar Albasyir bergantung pada Hameti dan juga RSF sebagai penyeimbang angkatan bersenjata reguler dengan harapan akan terlalu sulit bagi kelompok bersenjata manapun untuk menggulingkan kekuasaannya. Di saat itu Basir sendiri sudah berkuasa di Sudan hampir 30 tahun setelah melakukan kudeta di tahun 1989. Nah, namun geng, tidak banyak yang puas akan kepemimpinan dari Omar Albasyir dan protes pun pecah hingga berbulan-bulan lamanya. Transitional military council to rule the country for two years according to a televis statement [musik] by Sudan's minister of defense. Dan singkat cerita, Burhan dan Hamti bersatu untuk menggulingkan Basyir pada bulan April 2019. Di dalam tahun yang sama, mereka menandatangani perjanjian dengan para pengunjuk rasa untuk membentuk pemerintahan sipil yang diawasi oleh Dewan berdaulat, yaitu sebuah badan gabungan sipil dan militer di mana Burhan itu menjadi pemimpinnya dan Hamti sebagai wakilnya. Situasi itu bertahan selama 2 tahun lamanya. Sampai pada akhirnya di bulan Oktober 2021 ketika militer menyerang dan mengambil alih kekuasaan, Burhan kembali menjadi kepala negara dan Hameti kembali menjadi wakilnya. Ada cerita dari Sidik Tower Cafi yang merupakan anggota sipil dari dewan berdaulat yang juga sering bertemu dengan Burhan dan juga Hameti. Dia menyebutkan mereka tidak terlihat mengalami perselisihan sampai kudeta di tahun 2021 terjadi. Karena geng, setelah kudeta di tahun 2021, Burhan ini mulai mengembalikan kelompok Islamis dan mantan anggota rezim ke posisi lama mereka. Seolah-olah Burhan ini ingin mengembalikan rezim lama Omar Albasyir ke Sudan. Nah, di saat itulah Siddiq mulai percaya jika hal tersebut membuat Hamti jadi ragu. Dia melihat jika kroni-kroni Basyir itu tidak pernah sepenuhnya mempercayai dia. Nah, di informasi lain juga disebutkan nih, Geng. Burhan ini sebagai kepala angkatan bersenjata menuntut penyatuan cepat di bawah komando militer. Sementara Hamti itu menolak karena khawatir kehilangan kendali atas kekuatan dan sumber daya ekonominya. Terus, Geng, konflik ini juga berhubungan dengan situasi atau background dari Hamti itu sendiri. Jadi situasi politik di Sudan itu selalu didominasi oleh elit yang sebagian besar berasal dari kelompok etnis yang berbasis di sekitar Kartouum dan Sungai Nil. Nah, jadi gambarannya itu kayak misalkan nih ee warga-warga di daerah A itu kasanya tinggi-tinggi ya, mereka orang pintar-pintar. Nah, mereka biasanya menjadi penguasanya. Begitulah kurang lebih penggambarannya. Nah, sementara Hameti itu berasal dari Darfour. Karena perbedaan background inilah elit Sudan sering membicarakan dia serta tentaranya dengan nada merendahkan seperti sering disebut sebagai orang udik atau orang kampung yang enggak layak untuk memerintah negara. Jadi rasislah ya. Selama dua atau 3 tahun Hameti ini sudah mencoba memposisikan diri sebagai tokoh nasional bahkan sebagai perwakilan dari kelompok yang terpinggirkan. Dia mencoba menjalin aliansi dengan kelompok pemberontak di Darfour dan Cordovan Selatan yang sebelumnya sudah ditugaskan untuk menghancurkan dia. Di saat itu dia juga rutin tuh ngobrolin kalau demokrasi itu dibutuhkan di Sudan. Nah, meskipun pasukannya sendiri secara brutal menghentikan aksi protes dari masyarakat sipil di masa lalu, tapi kayak apa ya kelompoknya dia memberhentikan aksi protes masyarakat sipil, tapi dia mengatakan demokrasi itu penting. Sementara dia menghentikan demokrasi itu sendiri, ya kan? Karena kan bentuk protes masyarakat itu adalah bentuk demokrasi gitu kan. Nah, jadi yang jelas apa ya kita pahamlah ya ee wajah-wajah pemerintah apalagi wajah-wajah pemerintah militer kayak gini kan mereka kadang ngomongnya A demi A tapi yang dilakukan B gitu enggak sesuai dengan apa yang mereka bicarakan. Singkat cerita nih, Geng. Ketegangan antara tentara dan juga RSF ini meningkat seiring dengan semakin dekatnya tenggat waktu untuk membentuk pemerintahan sipil yang fokus pada persoalan rumit terkait bagaimana RSF harus diintegrasikan kembali ke dalam angkatan bersenjata reguler. Nah, tapi karena tidak satu visi, akhirnya perpecahan semakin tidak terhindarkan. Dan pada finalnya pertempuran antara RSF dan ASF ya Hamti melawan Burhan dimulai yaitu pada bulan April 2023. Tujuannya adalah untuk menguasai Sudan. Nah, jadi apa ya persoalan perebutan kekuasaan nih sama-sama tamak gitu. Dan dari kedekatan yang pernah Hamed dijalin dengan Burhan ini kan dua sahabat yang berantem tiba-tiba saling perang. Nah, mereka saling mempelajari satu sama lain, terutama Hamti ya. Dia mempelajari sesuatu dan mengikuti jejaknya Burhan. Selama beberapa tahun terakhir Hameti sudah membangun kerajaan bisnis yang luas termasuk tambang emas dan banyak sektor lainnya. Sehingga bisa dikatakan dari segi kekuatan maupun sokongan dan Hamti merupakan lawan yang seimbang bagi Burhan. Kurang lebih ya. Begitulah bagaimana awal mula dari pecahnya konflik di Sudan ini. Jadi ada dua kubu, ada dua orang tamak nih, dua pemimpin yang ingin memimpin Sudan yang tadinya sahabat. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan bagaimana situasi di saat Sudan berada dalam kekacauan karena perang. Langsung aja kita bahas. Jadi, Geng, tidak membutuhkan waktu lama setelah dua pemimpin yang saling bertikai membuat Sudan seperti neraka. Masyarakat sipil yang enggak tahu apa-apa tuh jadi korban. Keduanya saling menuduh satu sama lain sebagai pemicu ledakan dan serangan pertama. Konflik yang awalnya dipicu karena perubutan kekuasaan itu kemudian tiba-tiba meluas dan membesar menjadi perang saudara di seluruh negeri. Nah, RSF ya dan milisi Arab yang bersekutu. Nah, mereka ini disokong oleh Arab. Mereka menargetkan orang-orang dari kelompok etnis non Arab seperti Masalit. Padahal yang non Arab ini kan enggak ada salahnya juga gitu. Nah, sekitar kurang lebih 18 bulan RSF mengepung Elvaser, sebuah ibu kota di wilayah Darfour Utara. Makanya nih kalau dari pemberitaan kalian sering banget dengar kan? Wah, ee perang ini ya di Sudan kelompok persenjatanya di-support oleh e Uni Emirat Arab. Nah, sebenarnya bukan secara eksplisit di-support enggak. Tapi mereka itu memang udah sekutu dari lama, udah di-support dari lama sebelum perang saudara ini pecah. Kebetulan perang saudara ini pecah ya ya support itu berlanjut gitu. Terus, Geng, pengeboman dan penembakan terjadi terus-menerus di daerah Elvaser. Sebagian besar daerah Elvaser itu sudah terputus dari dunia luar selama setahun. Bayangin tuh karena sibuk dengan perang sampai kita tuh enggak tahu apa yang terjadi di sana karena pemberitaan enggak enggak menyebar. Karena konflik tersebut membuat para jurnalis tidak bisa memasuki kota untuk mengetahui bagaimana kondisi di Elvaser itu sendiri. Cuma, Geng, ada beberapa warga yang masih berinteraksi dengan dunia luar karena masih menggunakan handphone. Merekalah yang menjadi jurnalis dadakan, amatir, merekam kejadian di sana. Mereka yang menyebarkan ke internet. Salah satunya itu dilakukan oleh seseorang yang bernama Hafizah. Dia ini perempuan yang tinggal di daerah Elfaser di tengah-tengah perang tersebut. Hafizah ini bilang, ya, dia cerita kalau ayahnya sudah meninggal sebelum perang terjadi. Rumah Hafizah adalah kota besar terakhir yang dikuasai oleh militer wilayah Darfour, Sudan Barat dan sudah dikepung oleh RSF. Pada bulan Agustus 2024, sebuah perang menghantam pasar tempat ibunya menjual perkakas rumah tangga, tempat ibunya bekerja. RSF di saat itu mengendalikan jalan masuk dan keluar kota di sana. Mereka juga terkadang mengizinkan setiap warga sipil untuk meninggalkan daerah tersebut untuk pergi. Jadi, Hafizah ini bisa mengirim saudara-saudaranya, yaitu dua adik perempuannya yang masih remaja serta adik laki-lakinya yang masih berusia 5 tahun untuk ee pergi ke rumah keluarga mereka yang berada di wilayah yang netral yang tidak terjadi perang. Jadi, alias mengungsi gitu. Nah, Hafizah ini cerita gimana dia bisa membagikan selimut dan air setiap hari ke orang-orang terlantar yang tinggal di tempat penampungan. Dia membantu di dapur umum dan mendukung sebuah kelompok ee support untuk penyakit kanker demi bisa mendapatkan sedikit imbalan uang untuk bisa bertahan hidup di tengah kondisi perang tersebut. Nah, jadi itu baru cerita dari Hafizah. Terus ada cerita lain dari Mustofa ya. Mustfa ini sempat mengirimkan sebuah video kepada media BBC yang memperlihatkan situasi di Elfaser yang dipenuhi suara tembakan setiap hari. Pada satu waktu ya setelah dia mengunjungi keluarganya, Mustofa ini mencoba untuk kembali ke rumahnya dia di Elfaser dan mendapati rumahnya di dekat pusat kota sudah dihantam oleh peluru. Jadi atap, dinding rumahnya tuh rusak semua. Dan para penjara udah masuk ke dalam rumah mengambil barang-barang yang ada di sana. rumahnya itu teracak-acak seperti kapal pecah lah. Dari sini kita bisa lihat bahwa tentara RSF pun juga melakukan penjarahan di rumah warga. Jadi enggak ada sisi baik sisi jahat di sini. Sama-sama jahat semuanya. Saat Mustofa ini menjadi sukarelawan di tempat penampungan pengungsian, di daerah itu malah diserang terus-terusan. Buat dia enggak ada lagi tempat aman di Elfaser. Bahkan kem-kcem pengungsi itu dibom dengan peluru artileri enggak cuma keberadaan dari anggota RSF yang mengancam hidup para warga ini, tapi juga sulitnya mencari air bersih di Elvaer karena sumber air minum mereka sudah terkontaminasi oleh limbah dan bahkan jasad-jasad yang bergeletakan di sana. Nah, PBB ya memperingatkan bagaimana kelaparan bisa melanda kota tersebut. Banyak orang yang tidak bisa keluar rumah untuk sekedar mencari makanan karena percuma aja, Geng. Mereka tidak bisa membeli apapun. Karena di sana ketika perang semua harga melonjak, uang tidak ada harganya, tidak ada tidak ada apa ya, tidak ada nilainya gitu. Di sana juga enggak ada listrik yang membuat suasana kota ketika malam datang itu makin mencekam. Orang-orang yang menggunakan tenaga surya untuk menyalakan listrik atau baterai itu tetap takut menyalakan lampu karena nantinya mereka malah terdeteksi oleh drone. Karena perangnya kan sudah mulai canggih nih. Nanti ketika nyala lampu pada malam hari, drone-nya malah nembak rumah mereka. Sampai pada akhirnya nih, Geng. Di tanggal 26 Oktober kemarin, RSF itu mengklaim sudah menguasai secara penuh daerah Elvaser. Setelah beberapa hari pertempuran sengit, keberhasilan ini menjadi titik penting bagi RSF mengingat Elvaser adalah medan simbolis yang strategis dalam perang saudara yang sedang berlangsung di Sudan. Pasukan militer Sudan mengumumkan penarikan diri dari kota tersebut untuk mencegah pembantaian dan kehancuran sistematis terhadap warga sipil oleh RSF. Di bulan April tahun ini aja ya, RSF sudah mengeksekusi lebih dari 1500 warga sipil di kem pengungsi internal Zamzam namanya dalam kurun waktu 72 jam. Nah, investigasi yang dilakukan oleh para jurnalis termasuk dari The Guardian itu menemukan kesaksian mengenai pembantaian yang ditargetkan secara etnis, eksekusi massal dan penculikan dalam skala besar pada kejadian perang ini. Nah, oleh karena itu ada ratusan ribu orang yang mengungsi dan pindah ke Elvaser karena mereka enggak tahu kondisi di Elvaser. Namun sampainya mereka di sana, mereka kaget. Ternyata Elvaser juga mengalami kondisi yang mengerikan dijadikan target dari RSF dan kembali melakukan pembantaian di sana. Nah, setelah pasukan militer Sudan yang pergi meninggalkan Elfaser, hal-hal mengerikan pun mulai terjadi karena enggak ada lagi yang melawan. Ya kan? RSF di saat itu membabi buta menyerang warga sipil yang ada di Alfaser. Bahkan mereka dengan brutalnya menyerang rumah sakit yang mana di sana banyak orang-orang yang sedang terluka dan orang-orang yang merawat orang-orang yang terluka. Seperti yang kita tahu, geng, rumah sakit tidak boleh jadi target penyerangan, padahal, kan. Nah, tapi para anggota RSF ini enggak peduli dan mereka juga memanfaatkan bekas pangkalan militer yang ada di kota tersebut untuk merayakan kemenangan mereka karena sudah berhasil menguasai Alfaser. Nah, menurut laporan dari Sudan Doctors Network dan Aljazira, sedikitnya ada 1500 sampai 2000 orang yang tewas dalam beberapa hari setelah RSF mengambil alih kota tersebut. Geng, ada sebuah video ini, Geng, yang beredar luas beberapa bulan lalu di media sosial yang memperlihatkan bagaimana kejamnya RSF dalam melakukan pembantaian. Nah, tapi kan gua enggak bisa secara eksplisit menampilkan ini ya. Kalian bisa cari di Google lah atau mungkin di forum-forum yang lebih rahasia lah gitu ya, seperti di tele atau di mana gitu. Di salah satu videonya itu ada Brigadir Jenderal Alfateh Abdullah Idris atau yang lebih dikenal sebagai Abu Lulu. Dia ini merupakan komandan garis depan yang sudah lama terlibat di dalam penyerangan di Elva, Cortom, dan juga Cordovan. Ada salah satu video yang diambil di Darfour Utara dengan duduk bersama sejumlah anggota RSF di mana mereka di saat itu menyatakan rasa bangga mereka karena sudah mengeksekusi sebanyak 900 orang penduduk sipil di Elfaser. Nauzubillah ya. Bahkan mereka berjanji akan segera meningkatkan jumlah korban jadi 1.000. Nah, di berbagai lain terlihat nih Abu Lulu ini sedang menghabisi warga sipil. Termasuk salah satu adegan ketika dia berkata kepada seorang pria yang tergeletak tidak bernyawa di Parit. Dia bilang kayak gini dalam bahasa Indonesia nih, "Aku tidak akan memberi ampun kepadamu. Aku tidak akan memaafkanmu." Nah, sebelum akhirnya dia melepaskan tembakan yang mengerikan. Terus di dalam video lainnya dia juga terlihat sedang bertanya ke warga sipil yang bernama Aam Ahmed mengenai afiliasi suku dan keberadaan komandan militer Sudan sebelum akhirnya dia menembak orang tersebut dari jarak dekat setelah mengetahui bahwa pria itu berasal dari suku Borgo, salah satu kelompok non Arab Darfour. Nah, terus ada lagi salah satu rekaman audio yang sempat beredar di WhatsApp. Suara yang diyakini milik Abu Lulu yang terdengar mengatakan, "Aku akan terus mengeksekusi hingga jumlah korban mencapai 2000 orang. Nauzubillah. Gila banget ya. Nah, namun geng saat ini Abu Lulu ini sudah ditangkap oleh pihak RSF dan diumumkan oleh RSF ya pada hari Kamis tanggal 30 Oktober 2025 disertai dengan dirilisnya video yang memperlihatkan Abu Lulu yang diborgol lalu dibawa ke penjara Shala di Elvaser oleh pasukan bersenjata. Nah, RSF menambahkan bahwa penyelidikan hukum sedang dilakukan terhadap Abu Lulu dan sejumlah tersangka lain yang terlibat di dalam pelanggaran selama pengambil alihan di Elfaser. Hamti juga dilaporkan sudah memerintahkan pembentukan komite hukum dan militer untuk menyelidiki pelanggaran tersebut dan menegaskan bahwa setiap pelaku bakal dimintai pertanggungjawaban. Terus saat ini bagaimana dengan kondisi dari warga Elvaser itu sendiri, Geng? Jadi dikatakan ada lebih dari 60.000 orang yang memilih untuk mengungsi dari Elvaser setelah kota tersebut direbut oleh RSF. Arus pengungsian yang melarikan diri ee itu menuju ke kota Tawila yang berjarak sekitar 80 km di sebelah barat Elvaser. Para pengungsi tersebut menggambarkan betapa mengerikannya aksi yang dilakukan oleh RSF di sana yang mana RSF ini melakukan pembantaian besar-besaran, ruda paksa, dan aksi kejam lainnya. Di dalam kondisi seperti itu, United Nation High Commissioner for Refugies atau disingkat dengan UNHCR ya, sebuah organisasi dari PBB. Mungkin kalian pernah dengar ya, UNHCR yang biasanya nolong-nolongin Rohingya tuh. Nah, mereka ini berfokus untuk melindungi para pengungsi. Nah, mereka mengaku kesulitan untuk menyediakan tempat berlindung dan makanan yang cukup bagi masyarakat di Elfaser. UNHCR ini juga menyebutkan jika setiap anak yang ada di sana itu menderita kekurangan gizi. Diperkirakan masih ada lebih dari 150.000 orang yang terjebak di Elfaser enggak bisa keluar di tengah-tengah peperangan. Di dalam akumulasi selama 2 tahun berlangsungnya perang saudara di Sudan, udah ada lebih dari 40.000 orang yang meninggal dunia dan sudah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia dengan lebih dari 14 juta orang yang mengungsi. Di saat itu WHO mengkonfirmasi adanya laporan serangan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan. Ada enam tenaga kesehatan yang diculik. Empat orang itu berprofesi sebagai dokter, seorang perawat, dan apoteker. Nah, di bulan Oktober aja nih, Geng. Rumah Sakit The Saudi Maternity itu sudah diserang lima kali. Setelah jatuhnya Elvaser ke tangan RSF, Badan Kesehatan PBB saat ini tidak bisa membantu mereka yang terkena dampak cedera yang terjadi akibat berbagai serangan terhadap warga sipil. Ya, jadi WHO itu ee enggak bisa berbuat banyak. Mereka mengkonfirmasi bahwa ada 189 serangan sudah diverifikasi di Sudan tahun ini yang mengakibatkan ada 1670 orang meninggal dunia. Gila, merinding, Geng. 1670 orang dan 419-nya itu luka-luka. 86% dari semua e korban meninggal ini disebabkan karena serangan yang terjadi di tahun ini. Gila, 1 tahun 1670 orang yang meninggal di berondong senjata. Nah, angka tersebut menunjukkan jika serangan yang dilancarkan oleh RSF ini semakin mengerikan. Itu dia, Geng. Ya, bagaimana gambaran betapa mengerikannya yang terjadi di Sudan saat ini? Sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan lain, yaitu yang masih berhubungan dengan pembantaian yang terjadi di Sudan dengan skala yang begitu besar. Apakah ini murni dilakukan oleh dua kubu yang bertikai tadi atau justru ada setiran dari pihak asing atau ada orang yang mengendalikan di belakang ini. Nah, langsung aja nih kita bahas secara lengkap adanya dugaan pihak asing yang terlibat di dalam konflik Sudan ini. Jadi meskipun konflik di Sudan itu diakibatkan ada dua kubu yang saling memperebutkan kekuasaan, tapi ada indikasi jika perang besar di Sudan ini semacam sudah dipengaruhi oleh negara lain yang mana ini semakin memperparah kondisi di Sudan itu sendiri. Ya, negara tersebut yang dicurigai ya yang banyak sekali orang bahas sekarang adalah Uni Emirat Arab atau UEA atau UAE yang mana mereka dituding memasuk senjata kepada RSF. Nah, laporan dari Dewan Keamanan PBB itu menemukan adanya peralatan militer buatan Inggris yang disuplai melalui jalur Uni Emirat Arab ini. Dan selain itu ada juga dukungan finansial hingga pasukan bayaran kepada RSF dari Uni Emirat Arab. Namun pihak dari Uni Emirat Arab sendiri membantah hal tersebut. Selain itu, tokoh militer Libya yaitu Jenderal Khalifa Hafar juga dikaitkan dengan bantuan logistik dan senjata kepada RSF ini. Di sisi lain, Iran dan Turki diduga mendukung SA, pihak lawan dengan mengirimkan senjata dan juga drone tempur melalui penerbangan kargo militer dan termasuk Muhajir 6 sejak akhir tahun 2023. Akibat keterlibatan banyak pihak dari luar, inilah konflik menjadi semakin rumit dan memperparah perpecahan di Sudan. karena yang men-support negara-negara besar, negara-negara kuat. Banyaknya organisasi HAM seperti Human Rights Watch, terus Amnesty Internasional yang menuduh RSF serta milisi sekutunya melakukan genosida terhadap suku Masalit dan juga kelompok non Arab lainnya di Darfur. Pimpinan RSF di saat itu secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Ya, walaupun di tanggal 29 Oktober Hameti mengakui kalau kelompoknya melakukan pelanggaran di Elfaser memang. Nah, tuduhan ini diperkuat bukan hanya dari kesaksian warga sipil aja tapi juga dari anggota RSF yang menyebarkan sendiri, yang memperlihatkan ya kebrutalan mereka dalam melakukan penyerangan kepada warga sipil di bulan Januari 2025. Nah, Departemen Luar Negeri Amerika secara resmi menyatakan bahwa RSF dan sekutunya sudah melakukan genosida di Sudan dengan laporan bahwa pasukan tersebut mengeksekusi pria dan anak laki-laki berdasarkan etnis dan merudah paksa perempuan serta mencegah warga sipil mendapatkan bantuan. Jadi, benar-benar tersiksa banget mereka. Pemerintah sudah eh menggugat juga ya e pihak Uni Emirat Arab ke Mahkamah Internasional atau ICJ atas dugaan keterlibatan dalam genosida dengan memberikan dukungan finansial dan persenjataan militer kepada RSF. Nah, tapi ICJ ya menolak ee kasus tersebut karena menganggap tidak memiliki yurisdiksi. [musik] Nah, sebelum konflik semakin meluas seperti sekarang, sempat ada upaya perdamaian yang dilakukan sejak ee tahun 2023. Beberapa putaran perundingan damai sudah dilakukan dengan mediasi Arab Saudi dan Amerika serta Uni Afrika. Namun semua upaya itu berakhir tanpa adanya hasil. Nah, di bulan Oktober 2025, kelompok negara yang dikenal sebagai Kuat yang terdiri dari Amerika, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab mengumumkan rencana baru mereka untuk menghentikan konflik. Rencana itu mencakup gencatan senjata selama 3 bulan agar bantuan kemanusiaan bisa masuk diikuti dengan gencatan senjata permanen dan transisi menuju pemerintahan sipil dalam e kurun waktu 9 bulan. Nah, tapi geng di saat itu Burhan ya sebagai seorang pemimpin menolak rencana tersebut karena menuntut agar RSF itu dibubarkan aja sepenuhnya sebelum pembicaraan dilanjutkan. Setelah bertemu dengan presiden Mesir yaitu Abdel Fattah LC pada pertengahan bulan Oktober, Burhan sempat menyatakan kesediaan mereka untuk membuka kembali dialog. Namun situasi sudah berubah dengan cepat ketika RSF berhasil merebut kota Elvaser ini di akhir bulan Oktober 2025. Nah, peristiwa itu kemudian menggagalkan proses negosiasi yang sedang dijajaki oleh Amerika dan menandai ya berakhirnya harapan kejatan senjata dalam waktu dekat. Jadi konflik di Sudan ini sudah menunjukkan betapa rapuhnya proses transisi politik di negara yang baru keluar dari rezim otoriter. Dan selama kekuasaan masih diperebutkan dengan senjata, ya rakyat Sudan akan terus menjadi korban dari perang tanpa akhir. Ini gila ya, dua pemimpin yang saling bertikai demi bisa berkuasa, tapi warga sipil yang menjadi ee umpannya. Mungkin untuk next gua bakal membahas fakta-fakta lain tentang Perang Sudan ini yang mana banyak banget aksi-aksi mengerikan yang gua dapatkan, video-videonya juga ya dan fakta-fakta yang bikin Buluk kita merinding. Nah, untuk sekarang gua bahas sejarahnya dulu supaya kalian paham duduk perkara dari peperangan di sana. Kalau kalian setuju untuk kita membahas fakta-fakta selanjutnya, coba tinggalkan komentar di bawah. Yeah.