Transcript
35L9FAlOA-U • A CHILD FROM RANTAU DIED OF STARVATION & LEFT A WILL! THE STORY OF RANDIKA ALZATRIA SYAHPUTRA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1585_35L9FAlOA-U.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, belakangan gua lagi e senang
banget ngebahas tentang pemberitaan yang
terjadi di dalam negeri. Hari ini gua
pengen ngajak kalian untuk membahas
sesuatu yang eh bikin gempar dan kita
tidak menyangka kalau kejadian seperti
ini bisa ada di negara kita Indonesia.
yang mana katanya ekonominya semakin
meroket. Lapangan pekerjaan ada 19 juta
biji ya. Nah, jadi kemarin ada sebuah
kejadian yang benar-benar menyayat hati
dialami oleh seorang pemuda sekarang
sudah almarhum. Dia sudah meninggal
namanya adalah Randika Alzatria
Syahputra. Dia ini adalah anak muda asal
Lubuk Linggau yang ditemukan tidak
bernyawa di Jawa Tengah dengan kondisi
yang cukup memilukan.
[musik]
Nah, kalian bisa lihat dulu nih
pemberitaannya.
Kisah Pilu menggemparkan publik setelah
seorang anak rantau ditemukan meninggal
dunia di Cilacap. Pemuda yang diketahui
bernama Randika Alzatria Syaputra 28
tersebut diduga karena [musik]
kelaparan. Di samping jasad korban
ditemukan surat data pribadinya yang
berasal dari Lubuk Linggau, Sumatera
Selatan. Nah, jadi ceritanya bukan cuma
soal e bagaimana dia meninggal, Geng.
Tapi juga tentang perjuangan hidup
seseorang yang harus bertahan sendirian
di tanah perantauan. Dan kasus ini mulai
mencuat setelah jenazahnya ditemukan di
teras rumah warga di daerah Sampang,
Kabupaten Cilacap pada tanggal 17
Oktober 2025. Jadi warga sekitar awalnya
mengira ya pemuda ini cuma pingsan. Tapi
setelah diperiksa, ternyata pemuda yang
bernama Randika ini sudah tidak
bernyawa. Dan dari hasil pemeriksaan
sementara diduga dia meninggal karena
kelaparan. Kebayang ya di tanah atau di
negara yang tanahnya subur, sawahnya
banyak, hasil alam melimpah. Kalau
enggak percaya tanya Pak Bahlil ya, tapi
ada yang meninggal kelaparan. Miris ya.
Yang membuat kisah ini jadi menyayat
hati adalah ada sebuah surat wasiat yang
ditemukan dekat tubuhnya eh Randika ini.
Dari sanalah publik mulai penasaran
siapa sebenarnya Randika, kenapa dia
bisa sampai di Cilacap sendirian tanpa
bekal dan tanpa identitas. dan apa yang
sebenarnya terjadi sebelum dia ditemukan
tidak bernyawa? Apakah dia memang selama
ini hidup berpindah-pindah tempat atau
sebenarnya ada kisah lain di balik itu?
Dan juga kabarnya ya eh yang bikin gua
jadi sedih banget adalah eh dulunya itu
sebelumnya dia pernah meminta kepada
polisi untuk ditangkap. Dia mengaku
kalau dia sudah membuat sebuah tindakan
pidana dan dia pengin ditangkap, pengin
dipenjara.
Siapa nama kau?
Rika.
Rika. Kau maling di mana?
diad
tahun
jadi ke pores nih nak ngapo nak nyerah
Kediri
nak nyerah Kediri maling motor
nak nyerah Kediri ngapo kok nak nyerah
Kedirihan itu
nah gue yakin banget ya kalau misalkan
dari penglihatan gua nih ya kayaknya dia
pengin di penjara supaya di penjara tuh
dia bisa makan dia bisa dapat e asupan
yang cukup gitu karena di luar sana dia
merasa dia enggak tahu harus ngapain.
Nah, di video kali ini kita bakal
membahas ya perjalanan hidup dari
Randika ini mulai dari Lubuk Linggau
sampai ke Pulau Jawa dan bagaimana
kronologi penemuan jasadnya dan isi
surat wasiatnya yang membuat banyak
orang terdiam juga sampai fakta-fakta
lain yang membuat kasus ini e terasa
begitu memilukan. Nah, langsung aja kita
bahas secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry. [musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita bahas dulu nih kronologi
penemuan jenazahnya Randika Alzatria
Saputra ini.
Jadi kisahnya ini, Geng, ya, dimulai
ketika tiba-tiba ramai perbincangan soal
penemuan jasad oleh warga di wilayah
Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
pada tanggal 17 Oktober 2025. Ketika itu
warga sekitar mengira kalau pemuda yang
ditemukan tidak bernyawa ini cuma sedang
istirahat di teras rumah warga. Nah,
tapi setelah beberapa jam dilihat
kembali kok enggak bergerak-gerak dan
salah satu warga mencoba memberanikan
diri untuk memeriksa. Nah, di situlah
mereka sadar kalau pemuda yang bernama
Randika ini ternyata udah e benar-benar
enggak bergerak sama sekali dan bahkan
dadanya udah enggak kembangkempis alias
tidak bernafas. Dari situlah berita soal
penemuan jasad seorang pemuda ini
langsung menyebar dengan cepat di media
sosial dan membuat banyak orang jadi
penasaran karena tidak ada satuun ee
orang-orang yang mengakui kalau itu
adalah keluarganya dan enggak ditemukan
juga identitas resmi yang bisa langsung
dikenali dari tubuhnya tersebut. Ya,
akhirnya orang-orang bingung. Nah, ada
sebuah tas kecil juga dan selembar surat
yang didapatkan di tubuh korban yang
ternyata selembar surat itu adalah
wasiat atau pesan terakhir dari si Randi
ini. Dari hasil pemeriksaan awal nih,
Geng. Polisi menemukan kalau di dalam
tas itu ternyata ada surat wasiat yang
ditulis tangan oleh Randika sendiri dan
isinya membuat banyak orang jadi kaget
dan sedih. Karena di dalam surat itu ya,
Randika ini mengaku sebagai anak broken
home dan dia minta agar jenazahnya
dikirim ke orang tuanya. Bahkan dalam
surat itu dia juga menuliskan alamat
lengkap rumahnya. Nama ayahnya juga ada,
nama ibunya juga ada, dan beberapa sanak
saudaranya. seolah-olah dia tahu kalau
ini sudah waktunya untuk dia atau
mungkin udah enggak lama lagi nyawanya
akan segera berakhir. Nah, makanya dia
sudah nulis wasiat itu. Dari keterangan
warga sekitar, Randika ini ditemukan
dalam kondisi yang benar-benar dehidrasi
gitu ya dan diduga meninggal karena
kelaparan setelah beberapa hari tidak
makan. Tapi sampai saat ini ya belum ada
pernyataan resmi dari pihak berwenang
yang menjelaskan secara detail apa
penyebab pastinya. Benarkah karena lapar
doang atau justru ada penyakit lain?
Mungkin ya penyakitnya itu dipicu karena
kelaparan juga misalkan kayak e maah dan
lain-lain lah.
Seorang pemuda bernama Randika Alzatria
Syaputra 28 temukan mening di Cilacap
dengan kondisi mengenaskan.
Randika Alzatria Syaputra diduga
meninggal dunia karena kelaparan. Kalau
dilihat dari perjalanan hidupnya nih,
Geng, semuanya seperti potongan cerita
yang benar-benar menyedihkan kayak film
gitu ya. Dan ini kisah nyata. Nah,
belakangan diketahui Randika ini adalah
anak rantau. Berasal dari Lubu
Kelinggau, Sumatera Selatan yang mana
dia berangkat ke Jawa dengan tujuan
untuk mencari pekerjaan dan mulai hidup
baru. Setelah keluarganya bercerai, dia
sempat tinggal di rumah ayahnya, tapi
setelah sang ayah meninggal dunia, rumah
mereka dijual. Dan sejak itu ya dia
hidup berpindah-pindah tanpa tempat
tinggal yang tetap. Dari keterangan
Dinas Sosial Kota Lubuk Linggau, Randika
ini ternyata sempat datang ke kantor
mereka beberapa waktu silam sebelum
berangkat ke Jawa. Waktu itu dia datang
sendiri ke kantor Dinsos tanpa membawa
identitas apapun dan mengatakan kalau
dia cuma ingin pergi ke Jawa untuk
mencari keluarganya. Keluarga yang mana
ya? Enggak tahu nih. Tapi menurut
keterangan kepala Dinsos yang bernama
Hasan Andria Uye, waktu itu Randika
datang dengan pakaian yang sederhana
tanpa uang sama sekali, tanpa KTP, dan
cuma bawa badan dengan tekad yang kuat
untuk berangkat atau merantau ke Pulau
Jawa. Pak Hasan ini bilang Randi ini
anaknya sopan, tenang, tapi kelihatan
kayak lelah banget, capek banget sama
hidup gitu. Nah, akhirnya di saat itu
dia diterimalah, ditampunglah oleh pihak
Dinsos dan beberapa hari sempat dirawat
oleh pihak Dinsos karena terlihat sangat
lemah. Dan setelah beberapa hari
dirawat, tiba-tiba Randika ini minta
agar dia bisa diantarkan ke Jawa untuk
mencari keluarganya. Enggak ada yang
tahu pasti siapa keluarganya, yang dia
maksud ini siapa. Tapi karena niat si
Randy ini kuat, Dinsos akhirnya membantu
proses keberangkatannya dia. Dan sejak
saat itu tidak pernah ada kabar lagi
tentang si Randika ini. Sampai akhirnya
berita tentang dia meninggal dunia
muncul beberapa bulan kemudian di media
sosial dan pemberitaan. Di situlah pihak
Dinos kaget, "Wah, ini kan anak yang
kita bantu untuk berangkat ke Pulau
Jawa." Ternyata di Pulau Jawa malah
hilang nyawa, meninggal dunia. Nah, jadi
semua orang syok di saat itu. Tapi geng,
dari sinilah semuanya terasa semakin
aneh. Setelah surat wasiat Randika ini
disebarkan ke publik, ketua RT 33 RW09
di Palembang yang bernama Yulita
Kartikasari itu buka suara. Bu Yulita
ini bilang kalau dia baru mendapatkan
kabar terkait meninggalnya Randika
karena ada perwakilan DPW Partai PAN
yang ada di Palembang yang mencoba
mendatangi rumahnya dia pada hari Jumat
tanggal 17 Oktober kemarin. Informasi
yang disampaikan itu ya berkat
koordinasi dari DPW PAN Cilacap ini
dengan DPW PAN ee yang ada di Palembang.
Mereka mengatakan kalau alamat yang
ditulis oleh Randika di surat wasiatnya
memang benar ada. Jadi bukan alamat
palsu. Tapi wilayah itu sekarang sudah
mengalami pemekaran RT. Jadi alamat yang
dia tulis adalah versi lama dan rumah
yang dimaksud di dalam surat itu
ternyata sudah ditempati oleh pamannya
dia sendiri. Nah, lalu Bu Yulita ini
bilang sebenarnya pamannya itu tinggal
di RT53 yang mana RT53 ini ee hasil dari
pemekaran dari RT3 katanya. Mungkin
almarhum itu cuma tahu alamat yang lama.
Jadi di surat itu dia masih menuliskan
alamat ya RT3 tadi. Terus geng enggak
cuma itu, Geng. Bu Yulita juga sempat
membantah kabar kalau Randika ini
meninggal di teras rumah warga. Menurut
informasi yang dia terima dari
kerabatnya di Celacap, Randika ini
sebenarnya meninggal di area masjid
katanya. Dan jenazahnya mungkin
dipindahkan ke teras rumah karena saat
itu warga sedang bersiap-siap untuk
salat Jumat. Nah, mungkin karena warga
mau salat Jumat jadi jenazahnya
dipinggirkan sementara gitu loh, Geng.
Nah, atau ada kemungkinan lain juga yang
diucapkan oleh Bu Yulita ini. Nah, dari
situlah banyak orang yang mulai berpikir
kalau berita soal lokasi penemuan
jenazahnya ini ternyata masih sipang
siur masih belum pasti. Dan kasus ini
pun akhirnya banyak versi yang belum
sepenuhnya jelas nih, Geng. Namun
setelah berita ini viral, polisi
akhirnya melakukan koordinasi dengan
pihak keluarga korban untuk mengetahui
penyebab pasti kenapa Rendy ini
meninggal dan apakah karena dia yang
menyakiti diri sendiri atau justru ada
aksi yang dilakukan oleh orang lain. Ya,
curiganya nanti takutnya kan malah dia
ini dihabisi oleh orang atau mungkin
memang karena kelaparan ya atau bisa
jadi mm overdosis obat-obatan tertentu
bisa juga. Nah, makanya oleh karena itu
polisi perlu melakukan penyelidikan yang
mendalam. Dan singkat cerita, Geng, dari
hasil pemeriksaan dipastikan kalau di
tubuh Randika tidak ditemukan
tanda-tanda kekerasan. Selain itu, tidak
ditemukan juga bekas obat-obatan di
dalam tasnya. Yang artinya besar
kemungkinan dia meninggal dunia karena
kelelahan dan kekurangan asupan makanan
alias kelaparan.
Peristiwa ini menjadi viral di media
sosial lantaran Randi diduga akibat
kelaparan. Ia juga berada sangat jauh
dari rumahnya di Lubuk Linggau, Sumatera
Selatan dan tak punya ongkos untuk
pulang.
Ada keterangan dari warga sekitar yang
sempat melihat Randy ini beberapa kali
duduk di depan warung dalam keadaan
lemas. Dari pengamatan warga ya, dia ini
enggak pernah meminta uang dan hanya
minta air minum aja. Nah, waktu itu
sempat ada salah seorang warga yang
memberikan Randi ini roti dan Randi
mengucapkan terima kasih pelan-pelan
lalu dia pergi dari sana. Nah, jadi
kurang lebih begitulah pengakuan
orang-orang yang mungkin sempat
berkomunikasi atau bertemu dengan Randi
ini. Di sisi lain, setelah semua proses
identifikasi selesai, keluarganya dia
akhirnya memutuskan untuk memakamkan
jenazah Randi di Bogor. Jadi, enggak
dipulangkan ke kampung halaman yang mana
ee di Bogor ini adalah tempat di mana
ibunya sekarang tinggal. Nah, padahal
dalam surat terakhirnya Randika menulis
keinginannya agar dimakamkan di
Palembang di dekat mendiang ayahnya.
Tapi karena pertimbangan jarak dan
biaya, keluarga sepakat untuk memakamkan
dia di Bogor aja. Nah, sampai di sini,
Geng. Cerita hidup Randika ini kita
sudah paham seperti memang penuh dengan
kesalahpahaman dan nasib yang buruk.
Dari rumah yang dijual setelah ayahnya
meninggal, kepergian tanpa identitas
sampai dengan akhirnya meninggal di
perantauan dengan kondisi yang kesepian.
Ya, tapi di balik itu semua, ada satu
hal yang membuat orang-orang tersentuh,
yaitu keinginan dia untuk pulang.
Meskipun dia sudah tidak punya rumah dan
enggak tahu siapa yang masih peduli sama
dia, namun Randika ini tetap menuliskan
alamat rumahnya di surat terakhirnya.
Seolah dia ingin sekali pulang. Kalaupun
dia enggak bisa pulang hidup-hidup, ya
setidaknya biarkan dia pulang dalam
keadaan tenang walaupun tidak bernyawa.
Nah, dari sinilah cerita Randika ini
mulai menyentuh banyak hati. Bukan cuma
karena cara dia meninggal, tapi juga
karena perjuangan hidupnya yang enggak
banyak orang tahu. Dan yang membuat
semakin miris adalah sampai sekarang
belum ada penjelasan resmi dari pihak
berwenang soal kenapa dia bisa meninggal
dengan kondisi seperti itu tanpa
keluarga, tanpa teman, dan tanpa
siapapun yang tahu kapan terakhir kali
dia makan. Nah, dari sinilah publik
mulai sadar bahwa di balik angka dan
berita ada manusia yang sebenarnya cuma
ingin satu hal sederhana. diterima,
diingat. Ya, ya ternyata itu yang enggak
didapatkan oleh Randika.
Namun ternyata kisah perjalanan Randika
ini tidak hanya viral ketika dia
ditemukan meninggal dunia, Geng.
Ceritanya dia ternyata pernah mengundang
simpati banyak orang sebelumnya. Nah,
nih orang nih sebenarnya pernah viral
juga. Apa yang sebenarnya terjadi sampai
dia viral? Sekarang kita bahas kisah
sosoknya Rendika Alzatria Saputra ini.
Jadi, geng Randika Alzatria Saputra atau
yang biasa dipanggil Randi, dia ini eh
bukanlah sosok yang mungkin sering
kalian dengar di media atau ya sosok
yang terkenal gitu ya. Dia bukan artis,
bukan pejabat, bukan juga orang
berpengaruh. Tapi kisah hidupnya dia
ini, Geng, cukup membuat siapapun yang
mendengar itu seperti berhenti sejenak
nafasnya dan berpikir bahwa kadang hidup
bisa sekejam itu kepada orang yang cuma
pengin hidup damai. Nah, kenapa
demikian? Jadi gini, Randy ini lahir di
Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pada 21
Desember 1997. Dari kecil hidupnya itu
udah enggak mudah. Kedua, orang tuanya
pisah. Dan sejak itu Randi tumbuh
sebagai anak yang bisa dikatakan ya
sepi, [musik] sendiri gitu. Ayahnya
meninggal beberapa tahun kemudian dan
rumah keluarga mereka dijual. Dari
situlah pelan-pelan dia mulai hidup
berpindah-pindah atau nomiden enggak
punya tempat yang benar-benar bisa
disebut rumah. Tahun 2019, Randy ini
sempat tersandung masalah hukum.
Dikatakan dia sempat mencuri sepeda
motor di kawasan Talang Bandung. Tapi 4
tahun kemudian, tepatnya di tahun 2023,
dia malah datang sendiri ke Polres Lubuk
Kelinggau untuk menyerahkan diri. Pada
saat itu dia ditanya oleh polisi, "Kamu
maling di mana?" Nah, Randi pun menjawab
di daerah Talang Bandung tahun 2019,
Pak. Nah, selanjutnya Randi ini ditanya
lagi nih, "Kamu ke Pores mau ngapain?"
"Myerahkan diri." Randi lantas menjawab,
"Enggak tahan, Pak. Ingin hidup tenang."
Jadi ke Pores nih, Nak. Ngapo?
Nak nyerah Kediri.
Nak nyerah Kediri? Maling motor.
Nak nyerah Kediri? Ngapo? Kok nak nyerah
Kediri? Tahanak tenan.
Bayangin, Geng. Enggak ada yang nyari
dia, enggak ada yang nuduh. Tapi dia
datang dengan kesadaran sendiri. Katanya
dia pengin hidup tenang. cara hidup
tenangnya dengan masuk ke dalam penjara.
Jadi kayak benar-benar apa ya orang yang
udah gak ada arah gitu. Jadi semacam dia
ingin mengulang lagi hidupnya dari awal
tanpa beban masa lalu dan dia pengin
memulai sesuatu dari dalam penjara. Ini
definisi ee super duper kesepian sih
kalau kata gue. Nah, lalu ketika polisi
memeriksa TKP tempat di mana dia mengaku
mencuri motor, tidak ada satuun warga
yang mengaku kehilangan kendaraan di
saat itu. 2019 enggak ada. Enggak ada
yang kayak merasa kemalingan. Tidak ada
laporan juga dan tidak ada bukti juga.
Dan polisi di saat itu sempat bingung
kok ada orang yang menyerahkan diri yang
minta di penjara. Biasanya kan kalau
orang menyerahkan diri itu kebanyakan ya
bukan maling. Kebanyakan tuh orang udah
mengeksekusi orang lain. Enggak tenang
hidupnya karena dihantui, [musik] karena
merasa bersalah, menyesal, datang ke
polisi minta ditangkap. Itu banyak.
Kalau maling udah gitu udah lama dan TKP
juga enggak jelas gitu. Nah, akhirnya
polisi sadar mungkin Randi ini sedang
berjuang dengan beban pikirannya.
mungkin rasa bersalah atau tekanan batin
yang dia simpan terlalu lama dan polisi
pun tidak bisa menahan dia karena enggak
ada bukti. Nah, akhirnya polisi
menganggap ya kalau ee Randi ini adalah
ee warga terlantar dan dibawalah dia ke
Dinas Sosial Kota Lubuklinggau oleh
pihak kepolisian. Dan di saat itulah
kepala Dinsos yaitu Pak Hasan Andria Uye
pernah bilang kalau waktu itu Randi
sempat datang tanpa identitas sama
sekali. Nah, jadi dia diantarkan oleh
polisi. Dia enggak bawa KTP, dia enggak
bawa kartu keluarga, bahkan dompet pun
enggak ada. Bajunya lusuh, tatapannya
kosong kayak orang enggak ada arah. Nah,
tapi meskipun begitu dia masih punya
harapan kecil di dalam hatinya ee di
Dinsos dia bilang dia mau berangkat ke
Jawa [musik] tadi. Katanya di sana ada
keluarga yang mungkin masih bisa dia
temui. Entah siapa ya yang dimaksud
keluarga di Jawa itu. Tapi dari situ
jelas satu hal, dia masih pengin mencari
kehidupan. Nah, beberapa hari kemudian
Dinos membantu proses keberangkatannya
ke Jawa. Dan sejak itu kabar Randy
hilang. Nah, enggak ada yang tahu dia ke
mana, kerja di mana, atau tinggal di
mana. Terus, Geng, Randy ini dikenal
sebagai orang yang pendiam. Dia jarang
bicara, tapi kalau lagi cerita katanya
suaranya lembut. Nada bicaranya tuh
sopan banget. Nah, orang-orang di
sekitarnya bilang dia ini anak baik,
cuma sering murung kayak orang kena
mental. Dia suka ngelamun kayak
memikirkan sesuatu dengan beban hidup
yang benar-benar berat gitu. Kadang dia
juga suka nulis buku ee catatan kecil
gitu ya, Geng, yang selalu dia bawa ke
mana-mana. Ada yang bilang di dalam buku
itu banyak tulisan tentang kehidupannya
dia, tentang rasa kehilangan, tentang
pengin pulang. Nah, pokoknya benar-benar
orang putus asa, enggak punya arah, dan
kesepian lah. Dan dari situlah mungkin
titik paling menyedihkan dari hidup
Randi ini, Geng. Rasa pengin pulang tapi
enggak tahu harus pulang ke mana. Rumah
masa kecilnya udah dijual, ayahnya udah
meninggal, ibunya sekarang tinggal di
Bogor dan sudah menikah lagi. Sementara
keluarganya di Palembang sudah jarang
menghubungi dia dan semacam dia itu
dilupakan. Jadi untuk Randy ya kata
pulang mungkin cuma tinggal angan-angan,
cuma tinggal wacana, rencana yang tidak
pernah bisa terwujud. Sesuatu yang dia
rindukan tapi enggak pernah bisa dia
temui lagi di muka bumi ini.
Terus, Geng, ketika dia ditemukan
meninggal dunia di Celacap itu, banyak
yang kaget karena nama di surat
wasiatnya lengkap banget. Dia menulis
nama orang tuanya, alamat rumahnya,
bahkan RT RW-nya pun jelas. Tapi menurut
Bu Yulita Kartikasari, ketua RT di
daerah yang dimaksud, alamat yang
tertulis di surat wasiat udah enggak
sama lagi. Itu alamat lama. Namun, Geng,
yang membuat banyak orang berpikir dua
kali adalah soal tempat Randi ditemukan.
Versi berita bilang jasadnya ditemukan
di teras rumah warga. Nah, tapi versi Bu
Yulita dikatakan Randi ini sebenarnya
meninggal di masjid sebelum akhirnya
dipindahkan ke teras warga karena ya
warga ingin salat. Nah, tapi enggak ada
yang bisa memastikan mana yang benar.
Semua pihak berbicara dari sisi
masing-masing dan akhirnya ya kisah ini
menjadi samar-samar.
Terus, Geng, enggak sedikit orang-orang
yang merasa kayak curiga gitu ya dengan
meninggalnya Randi ini. Apa mungkin
benar dia meninggal cuma karena
kelaparan atau kesepian? Nah, tapi di
dalam hal ini polisi sudah memastikan
polisi sudah mengeluarkan pernyataan
kalau tidak ada tanda-tanda kekerasan di
tubuh. Jadi enggak ada kemungkinan dia
ini dihabisi oleh orang lain. Yang
artinya dia benar-benar kemungkinan
besar meninggal karena kelaparan dan
lelah. Enggak makan berhari-hari, enggak
punya tempat berteduh, dan mungkin juga
kehilangan semangat untuk bertahan.
Bayangin, Geng. Gimana rasanya meninggal
di dalam diam tanpa ada satuun orang
yang mengenali dia, peduli sama dia,
ataupun mencari dia dan di kota yang
bukan kampung halamannya, di
antah-berantah yang dia tidak pernah
tahu. Terus setelah jenazahnya
diidentifikasi lewat surat wasiat, pihak
keluarga akhirnya barulah dihubungi. Dan
Ibu Randi yang tinggal di Bogor datang
di saat itu sepakat untuk memakamkan
Randi di Bogor aja. Nah, di dalam surat
wasiatnya itu kan dia minta dimakamkan
di Palembang, tapi ya ibunya nih yang
ingin dia dikuburkan di Bogor agar dekat
nih sama keluarga yang masih hidup yaitu
ibunya supaya bisa dijenguk, dibersihkan
gitu, bisa didoain juga. Kalau kalian
baca surat wasiatnya Randi, isinya
sederhana tapi dalam banget. Di situ tuh
dia bilang dia ini anak Broken home, dia
enggak nyalahin siapapun. Tapi dari
kalimatnya kita bisa merasakan betapa
capeknya dia hidup. Dia kesepian hidup
di perantauan tanpa arah dan tanpa
keluarga. Surat itu ditulis rapi, enggak
terburu-buru, dan kabarnya tulisan
tangannya masih stabil alias bukan kayak
orang kecapekan, kelaparan, yang gemeter
gitu. Enggak sama sekali. Dan artinya
dia itu sadar penuh ketika dia menulis
itu. Dia tahu apa yang dia tulis. Dan
dari situ geng, banyak orang yang sadar
bahwa kisah ini bukan sekedar berita
tragis, tapi ini lebih seperti panggilan
untuk kita semua tentang bagaimana
seseorang yang bisa hilang perlahan dari
pandangan dunia tanpa ada yang sadar.
Jadi saking dia ini enggak dicari,
saking dia ini enggak ada yang
pedulinya. Dan ini adalah tentang
bagaimana seorang anak yang bisa
kehilangan semuanya, rumah, keluarga,
dan bahkan dirinya sendiri. Nah, Randy
mungkin bukan orang penting nih dibanta
banyak orang, tapi kisahnya nyentuh
banget. Kita enggak nyangka kisah kayak
gini tuh ada di Indonesia, Geng. Nah,
dan dia ini melambangkan soal jutaan
orang di luar sana yang mungkin sedang
berjuang sendirian dan tidak pernah
didengar dan yang cuma pengin hidup
tenang tanpa gangguan siapapun. Nah,
sampai sekarang gak ada yang tahu nih
bagaimana pastinya hari-hari terakhir
Randy sebelum dia akhirnya meninggal.
Apakah dia ya sempat mungkin minta
tolong atau mungkin dia udah sempat
nangis-nangis berdoa? Apakah dia masih
berharap ada orang yang nolongin atau
justru dia udah pasrah dengan semua yang
terjadi. Makanya perlahan-lahan ya udah
dia enggak makan, dia enggak minum, dan
dia lebih memilih untuk menulis surat
wasiat karena dia tahu pada akhirnya ya
waktunya sudah dekat. Di dalam surat
wasiatnya ini semacam menjadi bukti
bahwa meskipun hidupnya itu sepi banget,
dia masih pengin dikenang sebagai
seseorang yang punya nama dan orang yang
punya keluarga dan pernah berjuang gitu.
Bahwa di luar sana masih banyak orang
yang kayak dia, orang-orang yang enggak
punya siapa-siapa, yang berjalan tanpa
arah tapi tetap berharap bisa pulang.
Dan mungkin ya kalau aja ada satu tangan
yang sempat menyapa dia waktu itu atau
peduli sama dia, melihat dia lemas di
saat itu, ya mungkin nasibnya enggak
akan berakhir di teras rumah atau di
masjid yang sepi dengan kondisi yang
enggak bernyawa kayak gini.
Kabar tentang meninggalnya Randi ini
menyebar dengan sangat cepat di media
sosial dan menimbulkan gelombang simpati
dari ribuan netizen. Kita semua enggak
pernah menyangka nih bahwa di tengah
negeri yang dikenal subur, makmur gitu
ya, masih ada anak muda ya. Ingat ya,
anak muda yang meninggal karena
kelaparan dan kesepian. Sejak kabar ini
beredar, kolom komentar dari media
sosial dipenuhi dengan doa, penyesalan,
dan refleksi sosial. Ada netizen yang
menulis, "Bayangin dia lebih milih mati
kelaparan dibandingkan harus mengemis.
Salut sama perjuangannya. Semoga Allah
hapus semua dosa-dosanya," kata netizen.
Kemudian ada lagi komentar lain yang
berbunyi, "Ini bukan semata-mata salah
negara, melainkan kita semua yang gagal
sebagai manusia. Kita tahu ada yang
lapar, namun kita semua diam, katanya.
Kita baru menyesal setelah mereka mati.
Nah, ungkapan-ungkapan duka itu menyebar
cepat di berbagai platform media sosial,
mau itu Instagram, TikTok, hingga X.
Banyak yang memposting ulang foto dari
Randy saat muda dengan caption yang
sangat menyayat hati. Ingat nama ini,
Randika Alzatria Syaputra 1997 sampai
2025. Uh, gila. Nah, meninggalnya Randi
menjadi simbol dari kegagalan kolektif.
bukan hanya negara, namun juga
masyarakat kita terasa gagal secara
sosial, ya kan gak bisa peduli sama
sesama. Dan banyak netizen yang
mengingatkan bahwa kasus seperti ini
cuma puncak gunung es dari krisis sosial
dan ekonomi yang semakin menekan
kelompok-kelompok rentan. Jadi, puncak
gunung es itu ibaratnya kayak ee gunung
es itu ya kayak di air ya kan di atas
air yang kelihatan cuma pucuk yang kecil
tapi aslinya di bawahnya tuh besar. Jadi
banyak yang sebenarnya mengalami hal
yang sama seperti Randi hanya saja belum
viral. Beberapa aktivis sosial juga
menyoroti lemahnya sistem pendataan
warga miskin dan pekerja rentan yang ada
di daerah. Menurut mereka, jika ada
mekanisme yang lebih responsif, ya
mungkin Randi ini tidak perlu mati
sendirian di perantauan. Dan kisah Randi
bukan sekedar berita duka. Ini adalah
tamparan moral bagi bangsa ini, terutama
bagi pemerintah dan masyarakatnya.
Seorang anak muda yang memilih mati
dalam diam dibandingkan dia harus ngemis
atau minta-minta. yang mana dia menulis
namanya di secari kertas agar dunia tahu
bahwa dia ada tapi dia tidak pernah
dipedulikan. Randika Alzatria Saputra
mungkin ya udah pergi, udah tidak lagi
di muka bumi ini tapi kisahnya bakal
terus diingat sebagai simbol kemanusiaan
yang hilang di tengah hiruk pikuk
kehidupan modern. Ya, ini adalah simbol
bagaimana ya manusia di Indonesia ini
saling enggak peduli. [musik]
Udah sibuk masing-masing diperbudak oleh
sistem. Ya, sampai akhirnya kita orang
terdekat pun kita tidak peduli apakah
dia baik-baik aja untuk sekedar bertanya
apa kabar, udah makan belum? Sekarang
tuh kayak nanya apa kabar itu kayak apa
ya sesuatu yang aneh ya di tengah
masyarakat ya. Kalau kita tanya, "Eh,
apa kabar?" "Baik lu lihat gua baik
nih?" Atau kita tanya, "Eh, udah makan
belum?" Aduh, pertanyaannya basi banget
ya. Lu gak perlu nanya gua udah makan
apa belum. Kalau gua lapar, gua pasti
makan. Nah, kebiasaan-kebiasaan yang
seperti ini nih yang bahaya banget. Itu
dia geng ya kisah tentang Randika
Alzatria Saputra. Seorang anak muda yang
pernah salah ya. Menurut dia, dia
mengaku pernah jadi maling. Tapi kita
enggak pernah tahu, ya karena enggak
terbukti tentang hal itu ya. Dia adalah
seorang perantau yang kehilangan rumah,
kehilangan keluarga, tapi masih punya
harapan untuk pengin pulang. Dan dari
seseorang yang e di tengah-tengah
sepinya hidup masih sempat menulis pesan
terakhir agar dunia tahu bahwa dia
pernah ada di muka bumi ini. Nah, kalau
kalian mendengar kisah ini sampai
selesai, ya coba deh kalian pikirkan
berapa banyak orang di sekitar kalian
yang mungkin sekarang sedang merasakan
hal yang sama seperti Randi. Kadang
mereka enggak minta bantuan besar, cuma
butuh didengar, cuma mau diajak ngomong,
atau sekedar disapa. Karena untuk
beberapa orang, perhatian kecil bisa
jadi alasan untuk tetap hidup dan tetap
semangat. Dan mari sama-sama kita
mendoakan ya untuk almarhum Randi semoga
diterima di sisi yang maha kuasa, tenang
di sana dan karena meskipun dunia tidak
melihat dia ketika dia hidup, ya
sekarang banyak orang yang mendengarkan
cerita dia. Dan itu berarti kita tidak
pernah benar-benar sendirian, ya. Oke,
bagaimana menurut kalian tentang
pembahasan hari ini? Coba deh,
tinggalkan opini kalian di kolom
komentar.