PECULIK4N BALITA BILQIS DI MAKASSAR ! BERAKHIR DIJUAL KE SUKU ANAK DALAM DI JAMBI
KaoAd2AJwWs • 2025-11-12
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Di tangan Adit dan Meriana, Bilkis malah
dijual lagi. Jadi, gak ada yang
benar-benar tulus pengen mengadopsi
Bilkis. Kali ini Bilkis dijual ke
kelompok suku anak Dalam di daerah
Mentawak, Kabupaten Merangin, Jambi. Dan
lu tahu, Geng, berapa harganya Bilkis
dijual ke sana? yaitu Rp80 juta. Gila
banget ya, anak orang masih kecil
dioper-oper demi duit kayak barang
lelang.
Gengs, sebelum kita bahas kasus ini, gua
mau disclaimer dulu. Pembahasan ini
tidak bermaksud untuk melanggar aturan
YouTube ataupun membuat sesuatu yang
dilarang oleh YouTube. Karena ini adalah
sebuah informasi yang semoga bisa
menjadi edukasi untuk kita semua. Ini
penting banget untuk semua para orang
tua-orang tua yang sedang memiliki anak
balita atau sedang e bahagia-bahagianya
membesarkan anak yang mana anaknya itu
lagi suka main ke sana kemari terkadang
terlepas dari kontrol orang tuanya. Nah,
ini harus berhati-hati banget. Kalian
harus simak cerita dari kasus yang satu
ini. Geng, beberapa hari yang lalu gua
udah sempat eh membahas ya tentang kasus
penculikan di Indonesia.
E, gue juga sempat mention dengan
mengatakan kalau Indonesia lama-lama
udah kayak Mexico, ya kan? Penculikan
orang, terus setelah diculik, dihabisi
nyawanya, ada penjualan organ dan
lain-lain. Nah, kali ini tiba-tiba
sebuah kasus penculikan terulang lagi.
Jadi, kasus kali ini terjadi di
Makassar. Korbannya adalah seorang anak
di bawah umur namanya Bilkis yang
tiba-tiba hilang secara misterius dan
baru ditemukan beberapa hari kemudian
dengan kondisi yang syukur
alhamdulillahnya selamat.
Bilkis Ramadani berusia tahun yang
sempat dinyatakan hilang hampir kurang
lebih sepekan ini pemirsa akhirnya
ditemukan dalam keadaan sehat dan juga
baik.
Pada awalnya hilangnya Bilkis ini cuma
dikira mungkin dia nyasar atau mainnya
terlalu jauh. Nah, tapi kemudian ketika
e keluarganya memeriksa rekaman CCTV di
salah satu kafe di sekitar rumahnya
mereka, terlihatlah kalau ternyata Bill
Kiss sedang berjalan dengan seorang
wanita yang belum dikenal dan ditemani
oleh dua anak lain. Nah, dari sanalah
semuanya mulai heboh. Warga langsung
turun tangan untuk membantu mencari ke
mana Bilkis dan polisi juga bergerak
cepat. Bahkan LBH Makassar ikut didesak
oleh pihak berwenang untuk mengungkap
kasus ini. Tapi yang bikin aneh ya,
enggak lama kemudian Bilkes justru
ditemukan ratusan kilom dari Makassar,
tepatnya di sebuah pemukiman warga suku
Anak Dalam di daerah Jambi. Kok bisa
jauh banget? Nah, untungnya, Geng, dia
selamat. Ini fotonya Balisonya Balis.
Ya Allah,
alhamdulillah. Halo, callangkat. Tangkat
video call.
Tapi muncul pertanyaan besar. Bagaimana
caranya anak sekecil itu bisa sampai
sejauh itu? Siapa yang membawa dan apa
motif di balik kasus penculikan ini? Di
video kali ini, Geng, gua bakal ngajak
kalian untuk membahas tuntas cerita
lengkap dari kasus ini. Mulai dari awal
dia dinyatakan hilang sampai dengan
rekaman CCTV yang viral, proses
pencarian, dan akhirnya polisi berhasil
menemukan Bilkis yang ternyata Bilkis
dijual oleh si penculiknya. Wah, gila
ya. makin seram aja ya. Ya, beginilah di
saat perekonomian negara kita sedang
carut-marut. Kayaknya
yang belum dilakukan oleh masyarakat
adalah merobek perut mereka.
Ya, segala cara dicari, segala cara
ditempuh untuk bisa mengenyangkan perut,
untuk bisa menyambung hidup. Wah, miris
banget. Oke, langsung aja kita bahas
secara lengkap kasus ini. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jiri.
Geng, geng, untuk pembahasan yang
pertama nih, Geng. Kita bakal bahas
kronologinya.
Nah, jadi peristiwa ini terjadi di hari
Minggu tanggal 2 November 2025 sekitar
jam 09.00 sampai 10 pagi waktu setempat
waktu Makassar. Saat itu suasana di
Taman Pakui Sayang yang ada di Jalan AP
Petarani itu sedang ramai banget. Banyak
warga yang sedang berolahraga. Ada yang
jogging, ada yang main sepeda, ada
sebagian lagi main tenis di lapangan
taman. Nah, di situ juga ada keluarga
kecil yaitu Dwi Nurmas dan juga istrinya
yang sedang bermain tenis sambil ngajak
anak mereka Bilkis untuk main di sekitar
taman. Di saat itu semuanya berjalan
normal sampai akhirnya sebuah peristiwa
tidak terduga terjadi. Menurut
keterangan dari keluarga saat mereka
sedang fokus latihan tenis, anak mereka
Bilkis sempat main handphone dan minta
izin untuk main ke playground yang tidak
jauh dari lapangan. Waktu itu masih
aman-aman aja dan sekitar jam 09.00
waktu Indonesia bagian tengah, Dwi
sempat beberapa kali memanggil anaknya
di lapangan. Dua kali pertama masih
dijawab oleh e Bilkis dengan santai. Dia
jawab, "Iya, Pak." gitu. Nah, tapi pas
dipanggil yang ketiga, gak ada lagi
suara yang muncul. Di situlah perasaan
aneh mulai e menghantui mereka. Di
langsung berhenti main dan nyari anaknya
sampai keliling taman. Ibunya pun ikut
bantu nyari keliling ke area sekitar
Peta Rani sampai ke jalan pelita. Tapi
hasilnya nihil. Enggak ada satuun
tanda-tanda keberadaan dari Bilkis. Nah,
waktu terus berjalan di saat itu,
suasana semakin panik dan akhirnya pada
malam hari karena enggak ada kabar
apapun dari anak mereka, karena enggak
ada tanda-tanda kalau anak mereka ada di
sana, ya orang tuanya panik dan kedua
orang tua ini resmi melaporkan
kehilangan anak mereka ke polsek
Panakukang. Di saat itu polisi langsung
bergerak, Geng. Enggak menunggu satu
kali 24 jam seperti yang udah-udah, ya.
Langsung bergerak. Di saat itu mereka
menyebarkan foto Bilkis ke warga,
patroli ke beberapa titik, dan mulai
mencari rekaman CCTV di area sekitar
taman. Nah, barulah keesokan harinya di
hari Senin tanggal 3 November, polisi
bisa menemukan sesuatu yang cukup
penting, yaitu rekaman CCTV dari salah
satu kafe di sekitar Taman Pakui Sayang
itu. Di video tersebut terlihat jelas
ya, bahwa Bilkis ternyata sedang
berjalan dengan seorang wanita misterius
yang juga membawa dua anak kecil lain.
Dari gesturnya, si wanita ini terlihat
tenang banget. seperti bukan seorang
penculik, tapi lebih mirip seperti
ibu-ibu yang sedang mengajak anaknya
jalan-jalan. Nah, mungkin itulah ya
kenapa tidak ada yang curiga di saat itu
ee melihat Bilkis jalan bareng.
Perempuan asal Makassar, Sy menjadi
pelaku pertama yang tertangkap. Ia
ditangkap usai aksinya terekam kamera
pengawas saat membawa korban Bilkis dari
lokasi penculikan.
Tapi, Geng, semakin dicek lagi, ada hal
yang aneh dari rekaman CCTV lainnya. Si
wanita ini ternyata sempat mengubah
penampilannya, Geng. Awalnya dia
berhijab, tapi setelah dia keluar dari
taman, dia melepas hijabnya dan
mengganti atribut anak-anak dengan topi
supaya tidak gampang dikenali. Nah, di
titik inilah polisi langsung yakin kalau
ini bukan cuma kasus kehilangan biasa,
tapi ini adalah kasus penculikan anak
yang terencana dan merupakan sebuah
sindikat. Setelah laporan resmi dibuat
nih, Geng, Lembaga Bantuan Hukum atau
LBH Makassar juga ikut turun tangan.
Nah, mereka desak polisi untuk segera
bergerak cepat karena kasus ini diduga
punya pola yang mirip seperti kasus
perdagangan anak atau TPPO, tindak
pidana perdagangan orang. Nah, di saat
itu Ambara Dewita Purnama dari LBH
Makassar itu bilang kalau benar anak ini
kemungkinan besar dijual, diculik,
diperjualbelikan, maka sudah jelas ini
bukan sekedar penculikan, tapi
eksploitasi. Nah, desakan itu akhirnya
membuat penyelidikan semakin intens.
Polisi mulai buka jaringan komunikasi
lintas daerah, mengecek pelabuhan,
terminal sampai jalur darat yang mungkin
dilewati oleh pelaku, terus juga ee apa
ya ee bandara tuh pasti. Jadi benar aja,
beberapa hari kemudian, Sabtu malam
tanggal 8 November 2025, tim gabungan
polisi akhirnya menemukan posisi si anak
yaitu Bilkis yang mana dia dalam kondisi
selamat di pemukiman warga suku Anak
Dalam di daerah SPE Gading Jaya,
Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten
Merangin, Jambi. Bayangin, geng, dari
Makassar yang terbilang itu adalah
Indonesia Timur, ya. Ya, mungkin zona
waktunya Indonesia bagian tengah, ya.
Nah, tapi kan itu udah masuk ke timur
Indonesia ya. Bayangin bisa sampai ke
barat Indonesia yaitu ke Jambi nyeberang
pulau. Jaraknya ribuan kilometer. Nah,
ini udah jauh banget untuk ukuran kasus
penculikan anak. Tapi untungnya, Geng,
ketika ditemukan Bilkis ini masih dalam
kondisi sehat walau kelihatan dia itu
trauma. Ya, gimana enggak trauma
dipindah tangankan ke orang tua lain.
Video call angkat video. Angkat Ki.
Angkat ki, Ki,
angkat K. Video
angkat ki, Ki. Angkat Ki.
Angkat ki dulu.
Angkat dulu. Nah, polisi langsung
membawa Bilkis untuk pemeriksaan medis
dan pendampingan psikologis. Nah, biar
bisa pulih dari rasa takut yang dia
alami. Barulah keesokan harinya di hari
Minggu tanggal 9 November 2025, Bilkis
ini dipulangkan ke Makassar dan akhirnya
bertemu lagi dengan kedua orang tuanya.
Momennya haru banget, Geng. Ya, gimana
enggak ya, orang tuanya kehilangan sang
anak yang masih kecil. Banyak yang
nangis ketika lihat video yang tersebar
di media sosial. Ayah ibunya tuh peluk
anaknya erat-erat enggak bisa nahan air
mata lagi. Dan setelah itu, Bilkis juga
menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan
di Mapolrestabes Makassar. Nah, polisi
bilang kalau kondisi fisik dan
psikologis Bilkis itu stabil dan
alhamdulillah anaknya masih ceria.
Dan tadi sudah dicek kesehatannya,
alhamdulillah tidak ada tanda-tanda
penganiayaan ya dan kondisinya juga
baik. secara psikologis juga sudah dicek
ya ee dari Buis juga sudah ngcek
semuanya alhamdulillah dalam kondisi
yang sangat baik, anaknya juga ceria.
Tapi penyelidikan itu enggak berhenti
sampai di situ. Polisi terus memburu
siapa pelaku dan akhirnya pelakunya
berhasil diketahui. Yaitu empat orang
tersangka yang terlibat di dalam kasus
ini. Mereka ini berasal dari beberapa
daerah. Ini gua sebutkan namanya ee
secara lengkap aja ya. Biasanya kan
pakai inisial. Nah, ini gua kasih secara
lengkap karena memang di media itu
dibeberkan secara lengkap. Jadi, yang
pertama itu ada yang namanya e Sri
Yuliana, umurnya 30 tahun, terus e dia
warga Makassar. Nah, terus ada Nadya
Hutri umur 29 tahun, warga Sukoharjo.
Terus ada pasangan suami istri yang
bernama Meriana, umur 42 tahun dan Adit
Prayitno Saputra, umur 36 tahun asal
Merangi.
Di antaranya berinisial SY perempuan
pengurus rumah tangga, AP laki-laki,
pekerja swasta, dan perempuan E
berinisial MR pengurus rumah tangga dan
NH pengurus rumah tangga berjenis
kelamin perempuan. Nah, dari hasil
pemeriksaan, tiga pelaku perempuan punya
ciri-ciri berambut panjang sepunggung
dan dua di antaranya rambut dicat
pirang. Nah, sedangkan pelaku pria
berambut pendek hitam. Nah, polisi
bilang para pelaku ini punya jaringan
lintas daerah dan kemungkinan sudah
beberapa kali melakukan aksi serupa
sebelumnya. Nah, kalau memang sudah
beberapa kali harusnya banyak laporan
dong Pak Polisi tentang anak hilang gitu
ya. Dan dikatakan ya modusnya cukup
halus, Geng. Mereka itu ngincer
anak-anak yang lagi main sendirian di
tempat umum, terus pura-pura ramah dan
ngajak ngobrol. Bahkan kadang ngaku
kenal sama orang tuanya. Nah, kalau udah
dapat momennya mereka bawa kabur korban
pelan-pelan tanpa bikin panik orang
sekitar. Cara mereka berpindah lokasi
juga terorganisir banget. Dari Makassar
bisa nyeberang sampai Jambi tanpa
ketahuan. Yang mana itu artinya mereka
punya sistem yang rapi dan bantuan dari
beberapa pihak. Dan kasus ini, Geng,
membuat warga Makassar dan sekitarnya
jadi ketakutan. Banyak orang tua jadi
takut untuk meninggalkan anak mereka
main di taman atau tempat umum. Nah,
media juga memberikan tekanan besar ke
aparat hukum untuk mengusut tuntas siapa
saja dalang di balik jaringan ini.
Karena kalau dibiarkan ini bukan enggak
mungkin ya, bakal ada kasus-kasus lain.
Dan di sisi lain banyak yang mulai
intropeksi. Orang tua sekarang sadar
kalau pengawasan anak mereka enggak bisa
setengah-setengah, apalagi di tempat
yang ramai. Sekali aja lengah ya bisa
jadi kesempatan untuk orang jahat
melakukan tindakannya. Nah, makanya saat
ini tuh udah mulai banyak nih, Geng,
aktivis anak yang mulai mengkampanyekan
soal kesadaran keamanan anak di ruang
publik. Mulai dari pentingnya GPS
tracker, komunikasi dua arah, sampai
pelatihan kecil untuk anak-anak biar
tahu gimana respon kalau ada orang asing
yang dekatin mereka. Nah, kasus Bilkiss
ini akhirnya bukan cuma jadi berita
penculikan biasa, Geng, tapi juga jadi
peringatan keras untuk semua orang tua.
Nah, terus, Geng, bagaimana hasil dari
penyelidikan polisi atas kasus ini? atas
keempat tersangka yang sudah mulai
ditangkap yang mana ternyata mereka
punya keterikatan dengan jaringan yang
lebih besar. Dan dugaan sementara kasus
ini bukan sekedar penculikan atau
penjualan anak-anak yang biasa-biasa.
Sekarang kita bahas nih hasil
penyelidikan polisi.
Setelah kisah penculikan Bilkis itu
bikin heboh, pihak kepolisian tidak
butuh waktu lama untuk ngebongkar satu
persatu benang kusut di balik kasus ini.
Awalnya orang-orang cuma ngira ini
penculikan biasa atau e pelaku lihat ada
kesempatan terus bawa kabur anak gitu,
terus selesai. Nah, tapi ternyata, Geng,
ketika diselidiki lebih dalam, ya
semuanya jauh lebih rumit dari yang
kelihatan di permukaan. Di saat itu
Kapolda Sulawesi Selatan nih, Irjen Paul
Juhandani Raharjopuro. Dia mengatakan
kalau pelaku penculikan Bilkis itu
enggak bertindak sendiri, malah terlibat
di dalam jaringan perdagangan anak
lintas provinsi yang mana orang-orangnya
itu ramai. Nah, mereka dari Makassar
sampai ke Jambi itu ada jalur panjang
yang harus mereka lalui seperti rantai
yang menghubungkan beberapa orang dengan
satu tujuan yaitu uang. Penelusuran
polisi dimulai dari titik awal, taman
tempat Bilkis terakhir kali terlihat. Di
situ penyidik nyari CCTV dan menanyakan
kepada warga sekitar dan memastikan
siapa aja yang sempat lewat di waktu itu
di sana. Nah, dari hasil penyelidikan
muncul satu nama yang sering disebut
yaitu Sri Yuliana alias Ana yaitu
perempuan 30 tahun yang bekerja sebagai
pembantu rumah tangga di kawasan
Rapocini Makassar. Nah, dari si Ana ini
duluan nih di tracking. Awalnya Ana ini
dikira cuma orang lewat biasa. Tapi
makin lama polisi mempelajari, makin
jelas kalau dia adalah dalang di balik
semua ini. Setelah mengambil Bilkis dari
taman, Ana ini ternyata langsung membawa
Bilis ke kosannya di Jalan Abu Bakar
Lambogo. Di sana bukannya panik atau
bingung, dia malah tenang banget. Ana
tahu apa yang harus dia lakukan. Nah,
dia buka HP, dia login ke Facebook,
terus masuk ke grup yang bernama Adopsi
Anak. Nah, di grup itulah semua mulai
berjalan. Ana ini bikin unggahan pakai
akun palsu. Di postingannya dia mengaku
kalau Bilkis adalah anak kandungnya
sendiri dan katanya dia gak sanggup lagi
ngerawat karena kondisi ekonomi. Nah,
tapi di balik kata-kata yang kelihatan
sedih itu ada maksud tersembunyi yaitu
dia ingin menjual Bilkis untuk sejumlah
uang. Dari postingan itulah muncul salah
satu nama yaitu Nadya Hutri. Umur 29
tahun, perempuan asal Sukoharjo, Jawa
Tengah yang tinggal di Jakarta. Nadya
ini bilang dia mau mengadopsi Bilkis,
tapi dari hasil chatnya polisi tahu
kalau mereka sudah membahas uang sejak
awal, bukan cuma adopsi gitu aja. Dan
tawar-menawar pun dilakukan. Akhirnya
disepakati harga Rp3 juta. Nah, enggak
lama kemudian Nadia pun datang ke
Makassar untuk mengambil Bilkis di
kos-kosannya si Ana. Ana menyerahkan
Bilkis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dan setelah transaksi selesai, Ana balik
ke rutinitas seolah enggak terjadi
apa-apa dan dia menerima uang sebesar
Rp3 juta hasil menjual Bilkis tadi.
Untuk si Nadya sendiri alias si
penadahnya orang yang membeli Bilkis,
nah semua ini baru dimulai. Begitu
Bilkis dibawa sampai ke Jakarta, dia
enggak lama-lama di sana. Entah karena
takut ketahuan atau memang niatnya dari
awal bukan untuk mengurus Bilkis, dia
tiba-tiba langsung mengontak dua orang
lain yaitu Adit Prayitno Saputra dan
Meriana yang katanya punya jalur cepat
untuk cari keluarga angkat yang memang
menginginkan anak. Nah, tapi ternyata
dua orang tua ini ya juga bagian dari
jaringan yang sama. Mereka sepakat untuk
jual lagi Bilkis dengan harga Rp15 juta.
Namun ada informasi lain yang gua
dapatkan kalau Nadya ini justru menjual
Bilkis ke Adit dan Meriana karena ingin
membantu mereka yang sudah 9 tahun belum
punya anak. Entah mana yang benar nih.
Setelah dia menyerahkan Bilkis, Nadya
langsung melarikan diri ke Sukoharjo.
Setelah mengantongi uang yang cukup
besar tadi. Suami istri yang sekarang
sudah memiliki Bilkis. Nah, mereka
mengaku sebenarnya mereka beli Bilkis
itu bukan Rp15 juta, tapi justru dua
kali lipatnya, yaitu Rp30 juta dari
Nadya. Namun semuanya ternyata gak
berhenti sampai di situ. Di tangan Adit
dan Meriana, Bilkis malah dijual lagi.
Jadi gak ada yang benar-benar tulus
pengen mengadopsi Bilkis. Kali ini
Bilkis dijual ke kelompok suku anak
dalam di daerah Mentawak, Kabupaten
Merangin, Jambi. Dan lu tahu, Geng,
berapa harganya Bilkis dijual ke sana?
Yaitu Rp80 juta. Gila banget ya, anak
orang masih kecil dioper-oper demi duit
kayak barang lelang dan makin jauh
berpindah semakin tinggi nilainya.
Menurut pengakuan dari si Adit dan
Meriana, mereka mengaku sudah memperjual
belikan sembilan bayi dan satu anak
melalui TikTok dan WhatsApp. Gila. Gila
Indonesia loh kayak gini ya. Dan dari
pengakuan para pelaku lain, transaksi
ini mereka lakukan lewat perantara yang
sudah biasa jadi jembatan mereka antara
calon pembeli dan komunitas dari suku
anak dalam tadi. Mereka pakai alasan
kemanusiaan seolah-olah ingin
menyelamatkan anak dari keluarga miskin.
Padahal ujung-ujungnya ya tetap duit.
Ketika berita penculikan Bilkis ini
mulai viral di media sosial dan juga TV,
Nadya di saat itu langsung panik. Dia
gak nyangka ternyata anak yang dia
perjual belikan itu wajahnya terpampang
jelas di CC TV. Dia sadar anak yang dia
bawa itu korban yang sedang dicari
polisi. Apalagi setelah tahu kalau Ana
sudah lebih dulu ditangkap. Nah, jadi
pelaku yang di awal tuh sudah ditangkap
terlebih dahulu karena ketahuan di CCTV
yang otomatis pengembangan kasusnya akan
mengarah ke si Nadia. Nah, bersama
dengan Adit dan Meriana, mereka berusaha
mengambil balik Bilkis dari warga suku
Anak Dalam. Tapi niatnya bukan buat
nolong, melainkan biar bisa menutupi
jejak mereka. Tapi masalahnya, warga
suku anak dalam itu udah mulai curiga.
Mereka dengar berita di radio lokal soal
anak hilang dan wajah Bilkis mirip
banget sama yang diciri-cirikan. Nah,
akhirnya warga tersebut menolak untuk
memberikan Bilkis. Di sisi lain, polisi
yang sudah melacak sinyal handphone
Nadia langsung tahu keberadaan Nadia di
mana. Dan tim gabungan dari Polda
Sulawesi Selatan serta Polda Jambi
berangkat tuh untuk menangkap si pelaku
dan sekaligus ya mencari keberadaan
Bilkis. Pencariannya ini enggak mudah
ya, Geng. Dan punya tantangan tersendiri
bagi kepolisian. Lokasi tempat Bilkis
disembunyikan itu berada di wilayah yang
jauh dari kota dan cuma bisa dijangkau
oleh jalan setapak. Ya, suku anak dalam
benar-benar di pedalaman gitu. Dan dari
informasi yang beredar, suku anak dalam
di Jambi katanya kebal sama hukum. Nah,
maksud kebal sama hukum itu adalah
karena mungkin mereka itu adalah
masyarakat adat yang bisa dikatakan ya
mungkin mereka terisolasi sendiri,
mengisolasi diri dan tidak terlalu
mengenal ee dunia modern. Ya, mungkin
kayak orang Badui gitu ya, kurang lebih.
Tim polisi bahkan harus berkoordinasi
dengan tokoh adat dan kepala suku dulu
untuk bisa masuk ke sana. Mereka datang
baik-baik, enggak maksa karena kalau
salah langkah bisa dianggap menyerang
wilayah adat. Negosiasi pun berlangsung
lama. Kepala suku awalnya enggak percaya
kalau anak yang diadopsi atau dibeli
bahkannya oleh suku anak dalam ini
adalah hasil dari penculikan. Nah,
katanya anak itu diberikan dengan
sukarela oleh ibunya. Tapi setelah
polisi menunjukkan bukti foto dan
laporan hilang dan keterangan dari
pelaku yang sudah ditangkap, barulah
kepala suku sadar kalau mereka juga
sudah ditipu. Nah, jadi ya suku anak
dalam atau keluarga dari suku anak dalam
yang membeli Bilkis ini enggak bermaksud
untuk membeli atau menculik gitu ya.
Mereka tuh memang pengin adopsi anak aja
ya. E mereka enggak tahu kalau Bilkis
itu didapatkan dari hasil menculik.
Kabarnya juga, Geng, suku Anak Dalam
meminta tebusan kepada polisi sebesar
Rp100 juta kalau Bilkis mau
dikembalikan. Kalau permintaan tersebut
tidak dipenuhi, maka mereka tidak akan
mengembalikan Bilkis dalam kondisi yang
masih bernyawa alias ya dihabisi
nyawanya karena mereka juga udah bayar,
kan. Terus, Geng, setelah pembicaraan
yang panjang dan suasana yang sempat
tegang yang bahkan katanya menghabiskan
dua malam hanya untuk negosiasi,
akhirnya Bilkis bisa dibawa pulang
dengan aman dengan cara menukarkan
Bilkis dengan mobil Pajero katanya. Nah,
tapi enggak tahu juga ya, Geng,
informasi kalau suku anak dalam ini
minta tebusan dan polisi sampai harus
menukar menggunakan mobil Pajero ini
benar atau enggak, tapi itu adalah rumor
yang beredar. Mungkin kalian yang lebih
tahu tentang hal ini, boleh e tinggalkan
komentar di bawah ya untuk mengkoreksi.
Nah, tapi begitulah isu yang beredar di
sosial media. Ketika itu suasana haru
banget. Bayangin aja seorang anak kecil
yang seminggu lebih berpindah-pindah
tangan akhirnya bisa ketemu lagi sama
keluarga kandungnya. Namun pada saat
Bilkis bakal dibawa pulang dari kediaman
suku Anak Dalam, mereka terlihat begitu
sedih karena mereka udah sayang sama
Bilkis. Bilkis dipangku, dielus,
ditimang-timang oleh mereka dan video
tersebut viral, Geng, di sosial media.
Bahkan saat polisi melakukan video call
dengan keluarga Bilkis untuk memberitahu
kalau Bilkis sudah berada di tangan yang
tepat, Bilkis seperti menolak dan terus
nangis. Menurut pernyataan polisi,
Bilkis itu udah dekat tuh dengan
orang-orang dari suku anak dalam itu,
Geng. Karena memang dia disayang di
sana. Jadi, suku anak dalam ini enggak
berniat jahat karena memang mereka itu
emang pengin anak, pengin mengadopsi
gitu dan mereka rela bayar mahal untuk
punya anak. Jadi bonding antara Bilkis
dan suku anak dalam ini sudah terjadi.
Sehingga di saat itu Bilkis sendiri tuh
nolak untuk diajak pulang. Dia sampai
nangis yang ya seperti kalian bisa lihat
di video,
ada salah satu netizen yang memberikan
komentar kalau suku anak dalam itu punya
ilmu katanya supaya seorang anak bisa
ikut dengan mereka. Nah, ini apa ya? Gua
enggak bisa membenarkan juga ya. Kadang
rumor-rumor kayak gini tuh e menyangkut
paudkan dengan hal-hal gaib tapi
terkadang enggak punya bukti yang
konkret. Tapi ya komentar itu ada,
kalian bisa cek sendiri. Yang jadi
pertanyaannya apakah benar kayak gitu,
Geng? Ya, buat kalian yang mungkin
berasal dari Jambi bisa kasih
informasinya ya di kolom komentar. Nah,
setelah itu Bilkis pun akhirnya
dipulangkan ke Makassar. Sesampainya di
Makassar, Bilkis langsung dibawa ke
rumah sakit untuk pemeriksaan. Dan
syukurnya secara fisik dia baik-baik aja
walaupun pastinya secara mental itu
masih terguncang. Nah, polisi juga
langsung memberikan pendampingan
psikolog agar Bilkis bisa pulih
pelan-pelan. Terus sementara itu, Geng,
keempat pelaku yaitu Ana, Nadya, Adit,
dan Meriana ditangkap dan dibawa ke
Pores Tabes Makassar. Menurut informasi
dari pihak kepolisian, salah satu di
antara mereka sepertinya mengalami
gangguan mental sebab jawabannya sering
ngelantur. Nah, dia sempat beralasan
sudah mengembalikan Bilkis ke Taman
Pakui, katanya. Tapi kadang dia juga
mengaku menjual Bilkis, tapi nanti ganti
lagi. Dia bilang kalau Bilkis dititipkan
kepada seseorang. Nah, jadi udah apa ya
ngelantur kayak orang enggak waras gitu.
Nah, atas perbuatannya tersebut ya
mereka semua dijerat dengan pasal 83
Jungto Pasal 76F Undang-Undang Nomor 35
tahun 2014 tentang perlindungan anak
serta pasal 2 ayat 1 dan 2 jungto pasal
17 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007
tentang pemberantasan tindak pidana
perdagangan orang. Ancaman hukumannya
adalah ya 15 tahun penjara. Dan Kapolda
Sulawesi Selatan juga sudah bilang kalau
penyidik tidak bakal berhenti cuma di
empat pelaku ini aja. Mereka sekarang
sedang memburu beberapa nama lain yang
diduga ikut membantu transaksi termasuk
admin dari grup adopsi anak yang masih
aktif di Facebook sampai saat sekarang
ini. Nah, dari hasil penyelidikan
digital, grup itu punya lebih dari
12.000 anggota dan sebagian besarnya
pakai akun palsu. Banyak juga yang pakai
alasan adopsi untuk menutupi bisnis jual
beli anak yang ilegal ini. Dan polisi
sudah mengirimkan laporan ke unit Cyber
Mabes Polri untuk memastikan aktivitas
grup dimonitor secara ketat. Nah, karena
dari grup itu bisa jadi masih banyak
kasus serupa yang belum kebongkar dan
kasus Bilkis ini mungkin baru satu dari
sekian banyak jaringan perdagangan anak
yang beroperasi secara online di
Indonesia, kata Kapolda. Nah, kalau
dipikir-pikir nih, Geng, ngeri juga ya.
Zaman sekarang cuma lewat media sosial
aja, kejahatan bisa berjalan semulus
itu. Orang-orang bisa nyamar jadi siapa
aja. Pakai foto anak lain, pakai cerita
sedih biar kelihatan meyakinkan. Tapi di
balik semua ini ya niat jahat yang siap
menyakiti siapapun bahkan anak kecil
sekalipun. demi uang. Dan hasil dari
penyelidikan ini, kita jadi tahu kalau
kasus Bilkis ini bukan kejadian spontan,
tapi eh ini benar-benar terencana. Bukan
kesempatan emas yang tiba-tiba
dimanfaatkan oleh satu orang. Semuanya
sudah sangat matang direncanakan mulai
dari ee pengintaian, penculikan,
diposting di media sosial sampai
akhirnya jual beli lintas provinsi pun
dilakukan. Semuanya sudah disusun
seperti rantai yang saling bersambung.
Nah, dari sini ternyata di balik hasil
penyelidikan ada fakta-fakta yang
mencengangkan tentang penculikan Bilkis
yang belum banyak orang tahu. Apa aja
ya? Kita bakal bahas nih tentang
fakta-fakta dari kasus penculikan Bilkis
ini, Geng.
Jadi, ternyata ya makin hari makin
banyak fakta yang keluar dan semuanya
malah bikin bulu kuduk berdiri. Awalnya
ya orang-orang cuma mikir kalau ini cuma
penculikan biasa yang mana penculiknya
cuma pengin uang aja. lagi kepepet
ekonomi atau iseng. Nah, tapi setelah
polisi memeriksa lebih dalam, ternyata
polisi menemukan hal yang jauh lebih
rumit dari itu. Ada jaringan yang
benar-benar terorganisir seperti
sindikat jual beli anak yang sudah lama
beroperasi dan mencari korban lewat
dunia maya. Salah satu yang pertama
ketahuan adalah seorang perempuan yang
bernama Nadya Hutri tadi. Dari hasil
penyelidikan, Nadya mengaku sudah tiga
kali bahkan jadi perantara adopsi ilegal
lewat grup Facebook dan aplikasi chat
seperti WhatsApp. Nah, jadi sistemnya
itu seperti jualan barang online, tapi
yang diperdagangkan bukan baju, bukan
barang bekas, melainkan manusia kecil
yang tidak mengerti apa-apa. Orang yang
mau mengadopsi tinggal chat mereka,
kasih kriteria, terus nanti Nadya ini
membantu carikan anak yang sesuai
pesanan. Setelah itu transaksi ditutup
lewat transferan. Nah, jadi gila banget.
Udah kayak benda mati dibuatnya. Dan
dunia digital sekarang bisa jadi pasar
gelap yang enggak semua orang tahu. Nah,
ternyata Nadya bukanlah satu-satunya.
Polisi juga menemukan pasangan lain
yaitu pasangan Sejoli, Adit Prayitno
Saputra dan Meriana tadi yang sudah
lebih dulu main di dunia jual beli anak
ini. Mereka berdua malah punya jejak
yang lebih panjang dan lebih gila lagi
di wilayah Jambi. Dari pengakuan mereka,
sudah ada sembilan bayi dan satu anak
kecil yang mereka jual lewat aplikasi
TikTok dan WhatsApp.
Gila, bayangin ya platform yang
seharusnya menjadi hiburan dan
sosialisasi ya, malah menjadi tempat
jual beli manusia. Dan yang lebih bikin
kasus ini makin gelap ya, Geng. Mereka
juga sempat ganti akun berkali-kali biar
jejaknya susah dilacak polisi. Dan dari
penyelidikan polisi terungkap juga kalau
sindikat ini tidak berdiri sendiri. Ada
orang lain yang berperan sebagai calon
pembeli, penyalur, bahkan penampung
anak-anak dari hasil transaksi. Jadi
seperti benar-benar rantai sindikat yang
panjang lah. Dan polisi masih terus
mencari siapa saja yang terlibat di
balik layar dan besar kemungkinan ee
masih ada pihak lain yang belum
ketangkap. Nah, di antara semua nama
yang muncul, ada satu sosok yang paling
disorot, yaitu Sri Yuliana alias Ana.
Dia ini orang yang langsung berinteraksi
dengan Bilkis di saat kejadian
penculikan terjadi. Dan banyak orang
mengira Ana ini semacam eksekutor
lapangan dari sindikat tersebut yang
kerjanya pura-pura jadi ART lah. Tapi
ketika ditanya oleh penyidik, anak ini
memberikan keterangan yang lumayan
panjang dan agak mengejutkan. Dia bilang
kalau dua anak kecil yang sempat terekam
nih, yang bareng dia itu ternyata bukan
korban penculikan, tapi itu adalah anak
kandungnya sendiri. Nah, dia sengaja
bawa dua anaknya itu supaya Bilkis
enggak curiga pas diajak pergi. Biar
suasananya kelihatan seperti aman,
akrab, lagi main gitu. Nah, menurut
pengakuan dia waktu itu, Ana sempat
nanya ke Bilkis, "Orang tuanya di mana?"
Dan Bilis jawab, "Kalau ayah ibunya
enggak ada," katanya. Nah, di situlah
Ana bilang dia langsung ngajak pergi
Bilkis tanpa memaksa. Cuma dengan ajakan
ringan ya, seolah-olah pengin main sama
anak-anaknya. Dan dari situlah akhirnya
Bilkis bisa dengan gampang dia bawa.
Tapi Ana ini mengaku seolah-olah dia ini
bukan sindikat. Dia bilang dia
menyerahkan eh Bilkis ini ke seseorang
yang dijanjikan bakal mengurus dan
mengadopsi. Karena menurut pengakuan
dia, Bilkis sendiri mengaku enggak punya
orang tua. Nah, tapi di sinilah jalurnya
mulai gelap nih menurut si Ana. Ana
bilang ee dia salah menyerahkan ke orang
ya gara-gara lewat aplikasi malah Bilkis
ini diperjualbelikan. Tapi kan yang jadi
pertanyaannya kalau memang dia niatnya
baik, kenapa dia nerima duit ya kan dari
orang tua yang katanya mau mengadopsi
Bilkis di awal ya itu kan artinya memang
dia udah punya niat untuk memperjual
belikan Bilkis. Nah pada akhirnya Ana
berhasil ditangkap oleh polisi di kamar
in the cost-nya di Jalan Abu Bakar
Lambogo, Kecamatan Makassar tanggal 6
November 2025. Saat ditanyakan dia ngaku
kaget waktu dia tahu Bilkis udah dibawa
jauh sampai ke Jambi. Katanya dia kira
Bilis cuma bakal dibawa ke Jakarta untuk
diadopsi sama keluarga yang enggak punya
anak. Dia bahkan ngaku kenal sama
pembeli pertama cuma lewat Facebook dan
gak tahu siapa sebenarnya orang itu.
Nah, jadi selama ini semua transaksi dan
komunikasi itu cuma lewat dunia maya
tanpa pernah ketemu langsung. Ana juga
buka suara soal alasan kenapa dia nekad
ngelakuin semua itu. Katanya dia lagi
kepepet banget sama masalah ekonomi
juga. Jadi di tengah kesulitan itu dia
dapat tawaran dari seorang perempuan
yang dikenal lewat Facebook dan
menjanjikan uang Rp3 juta kalau bisa
dapetin anak kecil untuk diserahkan.
Bahkan Rp500.000 udah ditransfer duluan
nih sebagai uang muka.
Anak-anak kau di mana? Sama siapa?
Hah? Siapa namanya? Itu orang namanya
siapa?
Berapa?
R juta, Pak. Eh, tapi dia juga minta
sendiri bilang.
Nah, jadi kan ini agak membingungkan ya
keterangan Ana ini ya. Awalnya dia
bilang dia kasihan karena Bilkis ngaku
enggak punya orang tua. Jadi dicariin
orang tua adopsi. Tapi belakangan dia
ngaku bahwa dia memang diminta untuk
mencarikan seorang anak bahkan udah di
DP Rp500.000 duluan. Nah, gara-gara
iming-iming itulah ana mulai keliling ke
tempat umum seperti taman bermain,
kompleks perumahan, atau sekitar masjid
untuk mencari anak-anak yang terlihat
sedang sendirian sampai akhirnya dia
menargetkan Bilkis dan tanpa banyak
mikir dia langsung e menjalani aksinya.
Nah, itu dia geng kasus dari Bilkis.
Gimana, Geng, menurut kalian atas
fakta-fakta yang ada di dalam kasus ini?
Apakah kalian merasa hidup di Indonesia
hah makin bikin kita ggak tenang atau
justru ya ini cuma kebetulan aja sekali
dari 1000 kasus ya sempat terjadi
seperti ini. Tapi kan kalau
dipikir-pikir ya berarti sebegitu
sulitnya masyarakat kita saat ini sampai
harus menghalalkan segala cara untuk
bisa mendapatkan ee nafkah, uang, rezeki
ya sampai harus ngejual anak orang. Gila
banget ya. Coba deh menurut opini kalian
gimana? Tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:15:49 UTC
Categories
Manage