STUDENTS VICTIMS OF B*LLY BURNING DOWN AN ISLAMIC BOARDING SCHOOL IN ACEH! WANTED TO KILL THE PER...
K8etJcmAE3c • 2025-11-15
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
tempat yang setiap harinya menjadi e
pusat kegiatan belajar mengajar seperti
mengaji. Nah, terus juga mendalami ilmu
agama tiba-tiba saja berubah menjadi
lautan api. Apinya tuh gede banget
sampai nyambar ke bangunan lain di
sekitar asrama. Yang awalnya orang kira
ini cuma kebakaran biasa seperti
constelating listrik atau mungkin ada
yang lalai mematikan kompor atau justru
lilin gitu ya. Nah, tapi ketika
ditelusuri oleh pihak kepolisian dan
dilakukan oleh TKP nih, ternyata
hasilnya jauh dari dugaan. Polisi
menemukan, ternyata kebakaran ini bukan
murni karena ee kecelakaan atau faktor
alam, tapi justru disengaja dan
pelakunya bukan dari luar, melainkan
salah satu santri di pondok pesantren
itu.
Oke, Geng. Kalian ngerasa enggak sih,
Geng, kalau sekarang sedang ramai banget
kasus bully, kasus bullying ya?
Ya, pemirsa, seorang santri di Aceh
Besar ditetapkan sebagai tersangka dalam
kasusnya asrama pondok pesantren tempat
dia belajar. Dia disebut sengaja asrama
lantaran sakit hati karena kerap menjadi
oleh rekan-rekannya. Seorang siswa kelas
1 SMP Negeri 19 Kota Tangerang, Selatan,
Banten menjadi
hingga mengalami
dan anggota.
Dalam beberapa pekan terakhir, kasus
dari sekolah dasar hingga menengah,
atas, dan juga pesantren
ya tak hanya menimbulkan tetapi juga
menimbulkan trauma mendalam bagi korban.
Kemarin kita habis ngebahas tragedi
pengeboman di SMA 72 Jakarta Utara yang
menggemparkan banyak orang di Indonesia.
Karena ini mungkin baru pertama kalinya
insiden di mana korban nekat melawan
dengan cara ekstrem. Ya, korban bully
nekad melawan dengan cara yang ekstrem.
Makanya pada awalnya enggak ada yang
kepikiran kalau pelakunya itu adalah
sesama murid. Karena teror menggunakan
bom biasanya identik dengan terorisme.
Dari kasus ini membuka mata kita kalau
bully ini memiliki dampak yang begitu
negatif. Kalau korban sudah tidak kuat
lagi menahan semua perlakuan tersebut
dan memutuskan untuk melawan, dampaknya
bukan hanya dirasakan oleh si pelaku
bully aja, tapi juga bisa merembet ke
orang-orang yang enggak bersalah.
Kita-kita yang enggak nge-bully dia,
tapi juga ikut merasakan akibatnya,
gitu. Seharusnya kasus seperti ini
menjadi pelajaran bagi kita semua untuk
stop merundung atau melakukan bully
terhadap orang-orang ya, terutama di
dunia pendidikan. di semua jenjang
pendidikan tidak terkecuali di ranah
profesional seperti ya orang-orang di
kantor juga. Tapi sayangnya ya bukannya
menghentikan lingkaran setan ini malah
pelaku-pelaku perundungan atau pelaku
bully ini masih saja terus berulang dari
banyak kejadian yang udah ada di media
bahkan berkali-kali gue share juga di
kamar Jiri ya tetap aja ada kasusnya.
Nah, kali ini ada sebuah kasus nih yang
terjadi di Aceh ya. kasusnya melibatkan
seorang santri di pesantren yang mana si
santri ini adalah korban bully dan dia
memilih untuk membalas semua perlakuan
yang dia terima dengan cara membakar
pesantrennya. Jadi pondok pesantren itu
dibakar oleh si santri.
Santri pelaku asrama putra pondok
pesantren atau dayah Babul Magfirah di
Aceh telah diamankan oleh pihak
kepolisian. Polisi memastikan kasus ini
murni bicu persoalan pribadi dan tidak
terkait unsur lain.
Nah, yang sedihnya ya dia ini selalu
dibully oleh teman-teman sesama santri
selama di pondok pesantren dia disebut
idiot, disebut tolol dan lain-lain. Dan
ini hampir sama dengan kasus yang
terjadi di SMA 72 Jakarta karena
korbannya akhirnya memutuskan untuk
melakukan perlawanan. Terus, Geng, ada
juga nih, Geng, kasus selanjutnya yaitu
korban bully yang justru mengalami luka
bahkan matanya sampai rabun. nanti kita
juga bakal bahas. Nah, di video kali ini
kita bakal mengulik satu persatu kasus
bully di Indonesia ini. Karena menurut
gua ini udah apa ya? Kayak seharusnya
sudah ditangani dengan sangat-sangat
serius. Sudah sangat mengkhawatirkan.
Langsung aja kita bahas secara lengkap.
Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry.
[Musik]
Gengging. Untuk kasus yang pertama kita
bahas dulu kronologi santri yang
membakar pesantren di Aceh.
Jadi geng kasus kebakaran di Pondok
Pesantren Babul Makfirah Aceh Besar ini
awalnya membuat ee warga sekitar jadi
kaget. Kejadiannya terjadi pada Jumat
dini hari tanggal 31 Oktober 2025
sekitar jam 49 pagi. Nah, di saat itu
kebanyakan santri masih pada tidur,
Geng. Suasana juga masih gelap, sunyi,
dan tidak ada yang menyangka kalau malam
itu bakal ee menjadi kejadian yang
mengerikan banget di ingatan mereka.
Nah, pesantren ini sendiri terletak di
Desa Lam Aluc, Kecamatan Kutabaru,
Kabupaten Aceh Besar. Nah, pesantren ini
dipimpin langsung oleh Tengku H. Masrul
ID yang sudah lama dikenal sebagai sosok
ustaz sekaligus pimpinan yayasan di
sana. Jadi bayangin aja, Geng. Tempat
yang setiap harinya menjadi ee pusat
kegiatan belajar mengajar seperti
mengaji. Nah, terus juga mendalami ilmu
agama tiba-tiba saja berubah menjadi
lautan api. Apinya tuh gede banget
sampai nyambar ke bangunan lain di
sekitar asrama. yang awalnya orang kira
ini cuma kebakaran biasa seperti
constelating listrik atau mungkin ada
yang lalai mematikan kompor atau justru
lilin gitu ya. Nah, tapi ketika
ditelusuri oleh pihak kepolisian dan
dilakukan oleh TKP nih, ternyata
hasilnya jauh dari dugaan. Polisi
menemukan ternyata kebakaran ini bukan
murni karena e kecelakaan atau faktor
alam, tapi justru disengaja dan
pelakunya bukan dari luar, melainkan
salah satu santri di pondok pesantren
itu.
Ada kejadian
kita melaksanakan olahpangan
dan ada bukti kita mendapatkan bukti
GTP. Polisi akhirnya mengungkap kalau
kasus ini ternyata dipicu oleh persoalan
personal si pelaku. Enggak ada unsur
politik, enggak ada motif lain yang
aneh-aneh, murni karena rasa sakit hati
akibat si pelaku ini sering dibully,
sering dirundung. Dia terus-menerus
dihina-hina oleh teman-temannya sendiri
di pondok pesantren. Dan dari hasil
penyelidikan, pelaku mengaku kalau dia
sering mendapatkan perlakuan yang tidak
manusiawi. Diejek dengan kata-kata idiot
dan juga tolol
adalah karena sakit hati. tersangka
sakit hati sama temannya yang karena dia
sering dibully, diejek oleh teman-teman
santri. Nah, mungkin buat sebagian orang
itu terdengar sepele, tapi buat dia ini
sudah menjadi beban pikiran yang sangat
berat banget selama dia belajar di
pondok pesantren itu bisa dikatakan udah
kena mental, tekanan mentalnya udah
numpuk lama menjadi beban dan dia merasa
dijauhi, direndahkan dan enggak ada yang
membela dia. Sampai pada akhirnya muncul
niat untuk melampiaskan semua rasa
marahnya dia dengan cara yang salah.
Yaitu dia berniat ingin membakar asrama
tempat para perundungnya atau pembulinya
itu tinggal. Jadi niatnya itu adalah
dibakar sekalian sama orang-orangnya
gitu. Nah, ini parah banget. Tapi di
sisi lain ini juga menunjukkan betapa
bahayanya seseorang yang sudah terkena
mental akibat dihina-hina, dibully gitu
ya, dibiarkan begitu saja tanpa
pengawasan. Nah, inilah akibatnya, Geng.
Oke, sekarang kita masuk ke dalam
kronologi bagaimana dia membakar asrama
pondok pesantren itu, Geng. Nah, jadi
ceritanya itu sekitar jam 3. pagi
subuh-subuh dini hari ya. Pelaku ini
diam-diam bangun dari tidur. Dia keluar
dari ruang asrama dengan membawa korek
api. Dia naik ke lantai du gedung ya
yang mana itu adalah asrama putra yang
waktu itu kebetulan lagi kosong. Di situ
dia menyalakan api lewat kabel dan ee
dan triplek yang ada di sekitar ruangan.
Gak butuh waktu lama, api itu membesar
karena bangunannya terbuat dari bahan
yang memang gampang sekali terbakar
seperti kayu dan papan. Nah, dari
sanalah api mulai menjalar ke seluruh
lantai dua. Salah satu santri yang
kebetulan terbangun di saat itu, dia
sempat ngelihat kok ada kayak
cahaya-cahaya api dari jendela. Panik
dong si santri itu. Dan dia langsung
teriak minta tolong dan membangunkan
teman-teman lain yang sedang tidur di
lantai bawah. Santri-santri ini langsung
keluar dari asrama. Beberapa di
antaranya sempat mencoba mengambil air
seadanya untuk menyiram atau memadamkan
api. Tapi karena apinya udah besar
banget, usaha mereka jadi sia-sia. Dan
enggak lama kemudian, api makin menyebar
dan menyambar ke bangunan kantin dan
bahkan sampai ke rumah salah satu
pembina yayasan yang ada di sebelah
asrama. Warga sekitar yang ngelihat
kobaran api gede di saat itu langsung
menelepon petugas pemadam kebakaran. Dan
enggak lama kemudian beberapa unit mobil
pemadam langsung datang ke lokasi. Tapi
karena apinya udah sempat menyebar luas,
proses pemadamannya pun butuh waktu yang
cukup lama. Hampir 2 jam lebih, santri,
warga, dan bahkan petugas pemadam
benar-benar bekerja sama untuk mematikan
api itu. Sampai pada akhirnya sekitar
menjelang subuh api baru berhasil
dipadamkan total. Tapi ya gitu, Geng.
Semuanya sudah apa ya? Ya, terbakar ya.
Kerugian atas kejadian ini udah besar
banget. Asrama putra kantin, dan satu
rumah pembina yayasan itu terbakar.
Barang-barang milik santri juga habis
semua. Enggak ada yang sempat
diselamatkan. Dari hasil perhitungan
sementara, kerugian akibat kejadian ini
ya ditaksir mencapai R2 miliar. Ya, R2
miliar loh. Cuma karena merasa kesal,
marah, sakit hati yang enggak bisa
dikontrol akibat sering dibully. Yang
bikin mirisnya menurut pengakuan dari
Ustaz Masul Aidi selaku pimpinan pondok
pesantren, ini bukan pertama kalinya
pesantren ini kebakaran. Di dalam 2
tahun terakhir, sudah tiga kali
kebakaran terjadi di lokasi yang sama.
Tapi yang kali ini paling parah karena
penyebabnya bukan hal teknis, tapi
justru ulah dari salah satu santri
mereka karena disengaja. Setelah
kejadian ini ya polisi langsung bergerak
cepat. Kapolresta Banda Aceh yaitu
Kombes Polisi Joko Harry Purwono
langsung ee memimpin penyelidikan di
lapangan. Mereka memeriksa 10 orang
saksi mulai dari pengasuh pesantren,
beberapa santri, penjaga pondok sampai
orang tua dari si pelaku sendiri. Dan
gak cuma itu, tim juga memeriksa rekaman
CCTV dan menemukan beberapa bukti
seperti pakaian yang dipakai pelaku
ketika malam kejadian dan dari e
gerak-geriknya. Semua bukti itu.
Akhirnya polisi yakin kalau pelakunya
adalah salah satu dari santri kelas 12
di pesantren tersebut. Pelaku sendiri
sempat kabur ya dan setelah membakar
asrama dia langsung kabur ke rumah
keluarganya di daerah lain. Tapi tidak
butuh waktu yang lama polisi berhasil
menangkap dia dan langsung dibawa ke
kantor untuk diperiksa. di depan
penyidik. Pelaku mengaku kalau dia
sengaja membakar asrama karena ingin
barang-barang milik teman-teman yang
sering membully dia ikut terbakar juga.
Jadi, dari situ bisa diambil kesimpulan
bahwa niatnya memang adalah untuk
pelampiasan dendam, Geng. Nah, setelah
olah TKP dan pemeriksaan selesai, polisi
akhirnya menetapkan pelaku sebagai
tersangka. Dia dijerat dengan pasal 187
KUHP tentang pembakaran dengan ancaman
maksimal 15 tahun penjara. Tapi karena
dia masih di bawah umur, kasusnya
ditangani sesuai dengan sistem peradilan
pidana anak atau SPPA dan dia akan
ditempatkan di lembaga pembinaan khusus
anak atau LPKA Banda Aceh.
Karena pelaku merupakan anak di bawah
umur, maka penanganan perkaranya sesuai
dengan ketentuan sistem peradilan pidana
anak.
Terus, Geng, Kantor Wilayah Kementerian
Agama Aceh juga sempat memberikan
pernyataan resmi kepada Kanwil Kemenak
Aceh yaitu Pak Azhari. Dia mengatakan
kalau e mereka prihatin sekali dengan
kejadian ini dan mengajak semua pihak di
lingkungan pesantren untuk lebih peka
dengan kondisi psikologis santri dan
memperkuat budaya saling menghargai satu
sama lain. Soalnya kejadian seperti ini
adalah bukti kalau bully tidak bisa
dianggap enteng apalagi di lingkungan
pendidikan agama. Nah, kalau kita lihat
secara keseluruhan kasus ini bukan cuma
soal satu orang yang nekad membakar
asrama, tapi sudah soal sistem yang
gagal melindungi anak-anak dari tekanan
sosial di lingkungan itu sendiri.
Bayangkan, Geng. Seorang santri yang
harusnya tumbuh di tempat penuh nilai
agama malah merasa sendirian dan tidak
punya tempat untuk cerita. Akhirnya rasa
tertekan itu meledak dan menjadi sebuah
tragedi yang mengerikan kayak gini. Dan
yang membuat mirisnya lagi, ini bukan
kasus pertama. Sudah banyak kejadian
bully di pesantren atau sekolah yang
berakhir dengan fatal. kayak gini. Nah,
tapi kadang ya enggak semua bisa
terekspos di media. Kasus di Aceh ini
akhirnya bisa menjadi alarm keras untuk
semua pihak kalau pembinaan mental dan
pengawasan di dunia pendidikan itu
penting banget. Enggak cuma ya
mengajarkan hafalan doang atau pelajaran
agama doang, tapi juga harus apa ya
ditangani gitu bagaimana cara saling
menghargai, saling ngejaga perasaan satu
sama lain dan tidak merendahkan orang
lain. Jadi bisa dikatakan kebakaran di
Pondok Pesantren Babul Makfirah ini
bukan sekedar musibah biasa. Ini seperti
alarm peringatan keras untuk semua pihak
di sana kalau ternyata masih banyak hal
yang perlu dibenahi di lingkungan
pendidikan pesantren ini. Terutama soal
empati dan perlakuan antar siswa. Karena
kalau hal kecil seperti ejekan aja bisa
berujung tragedi sebesar ini, artinya
ada sesuatu yang salah tuh di dalam
sistem yang harus segera dibenahi,
diperbaiki tuh, Geng. Jadi mungkin fokus
nih, ini nih ide ide gua doang ya. Ya,
misalkan nih di dalam kegiatan belajar
mengajar pesantren diadakan satu hari
itu yang mana hari tersebut bukan cuma
belajar soal ilmu agama, mungkin bukan
cuma mengaji, tapi ada hari keakraban.
Jadi sesama siswa itu diajak untuk ee
berkemahlah atau apalah atau e atau
bakar-bakar barbecue gitu ya. Terus
saling ngobrol satu sama lain untuk
semakin akrab. Ya, ini ide bodoh gua
doang. Nah, di sana kan bisa tuh antara
guru dan murid-muridnya antara guru dan
santri-santrinya bisa saling bertanya
apa keluh kesah kalian saling terbuka.
Nah, kayaknya itu lebih menarik gitu ya
untuk membuat bonding antara guru dengan
santri dan juga santri dengan santri
yang lain gitu. Nah, kalau memang ada
yang berani untuk curhat ternyata dia
selama ini mengalami perundungan nah
mungkin itu bisa didampingi kurang lebih
kayak gitu, Geng. Tapi sayang banget ya,
Geng, kejadian seperti ini bukan cuma
terjadi di pesantren aja. Di tempat lain
pun masih banyak sebenarnya kasus yang
kayak gini muncul dengan pola yang
hampir sama yaitu bully, tekanan mental
dan akhirnya berujung fatal. Nah, salah
satunya ya baru-baru ini juga ada nih
kasus yang terjadi di SMPN1 Tangerang
Selatan di mana ada seorang siswa
menjadi korban kekerasan dari
teman-temannya sendiri. Korban ini
sampai mengalami luka serius dan trauma
berat. Nah, biar kalian makin paham nih
dengan cerita bagaimana parahnya efek
dari bully di lingkungan sekolah, kita
bakal lanjut membahas kasus yang satu
ini, yaitu kasus bully di SMPN 19
Tangerang Selatan.
Jadi, setelah kita bahas soal kasus
kebakaran di Pondok Pesantren Aceh yang
ternyata dipucu karena tindakan bully,
sekarang kita lanjut nih ke kasus lain.
Ini terjadi di SMP Negeri 19 Tangerang
Selatan. Kasus ini sempat viral banget
karena korbannya yang masih kecil yaitu
baru kelas 7 atau bisa disebut dengan
kelas 1 SMP tapi sudah harus mengalami
kekerasan dari teman-temannya bahkan
kakak kelasnya sendiri. Ini gila banget.
Dunia pendidikan lagi-lagi tercoreng
gara-gara perilaku yang seharusnya tidak
pernah terjadi di lingkungan sekolah.
Seorang siswa SMP Negeri 19 Kota
Tangerang Selatan, MH menjadi korban ber
atau oleh teman sekelasnya hingga di
rumah sakit akibat yang dideritanya.
Nah, korban ini berinisial MH, Geng.
Umurnya 13 tahun. Wah, merinding gua. 13
tahun. Kalau ini adik gua atau anak gua,
Aduh, enggak bisa terima banget sih.
Masih kecil banget umurnya.
Masih, masa depannya masih panjang gitu.
Nah, di saat itu, Geng, ya. Harusnya di
usia segitu tuh dia lagi
semangat-semangatnya buat belajar,
kenalan sama teman baru, sama guru baru,
pokoknya menikmati masa awal menjadi
anak SMP. Tapi yang dia dapat malah jauh
dari kata nyaman. Dari cerita kakaknya
yang bernama Rizki, ternyata MH sudah
mulai jadi korban perundungan sejak masa
MPLS alias masa pengenalan lingkungan
sekolah. Fauzi juga menyatakan MH sudah
sering mendapatkan sejak masa pengenalan
lingkungan sekolah atau MPLS. Jadi
bayangin, Geng. Masa yang harusnya untuk
seru-seruan dan adaptasi malah menjadi
awal dari mimpi buruk untuk dia. Awalnya
mungkin dia cuma dianggap ee bercanda
oleh kakak kelas, kayak disuruh-suruh,
diteriakin atau diperlakukan enggak
enaklah kayak masa ospek gitu. Tapi
lama-lama semakin parah. MH ini sering
sekali diganggu, dipukul, bahkan
ditendang. Dan yang membuat makin enggak
masuk akal, guru-guru atau pihak sekolah
sepertinya tidak menyadari dan apa ya
terkesan kayak ya udah gitu macam udah
biasa aja. Kalau sebutan dari si
kakaknya pura-pura enggak tahu ya kita
enggak tahu juga ya, Geng. Karena kita
orang luar tapi dari pihak keluarga
menuduh seolah-olah guru-guru di sana
pura-pura tidak tahu. Sampai pada
akhirnya puncak kejadian itu terjadi
pada hari Senin tanggal 20 Oktober 2025,
Geng. yang mana di hari itu si MH ini
katanya sampai dipukul oleh teman
sekelasnya sendiri pakai bangku. Gila ya
pakai bangku sekolah. Nah, bayangin Geng
anak kecil dipukul pakai benda sekeras
itu di bagian kepala. Setelah kejadian
itu, MH mulai mengeluh sakit kepala dan
badan. Dan besoknya, Selasa tanggal 21
Oktober, dia cerita ke orang tuanya
kalau kepalanya sakit. Awalnya
keluarganya mengira mungkin ini cuma
luka ringan, tapi ketika dicek
kondisinya semakin parah dan akhirnya
dia langsung dibawa ke rumah sakit
terdekat. Dan dari situlah baru
diketahui ternyata lukanya enggak
main-main. Kepalanya bengkak, badannya
lebam dan dia mulai susah berjalan. Yang
lebih parahnya ya yang yang bikin sedih
nih ya ketika keluarganya mendalami
cerita dari MH ternyata penganiayaan itu
bukan dialami oleh si MH ini sekali dua
kali. Dia sudah sering dibully bahkan
dari awal masuk sekolah kadang dipukul
kadang ditendang, kadang diejek depan
teman-temannya. Dan seperti biasa, Geng,
pelaku Bully itu terkadang merasa tidak
kenapa-napa. Padahal untuk korban
efeknya bisa seumur hidup. Kondisi mh
makin memburuk. Beberapa hari kemudian
dia akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit
Fatmawati Jakarta untuk perawatan
intensif. Di sana dokter bilang kondisi
anak ini udah serius banget. Matanya
mulai rabun, tubuhnya udah lemas dan dia
susah untuk makan. Nah, jadi semacam
hantaman benda keras tadi itu
menyebabkan kayak saraf-saraf dia itu
terganggu, Geng. Dan bahkan untuk jalan
aja dia udah enggak kuat. Bisa kalian
bayangkan ya, Geng. Anak umur 13 tahun
yang seharusnya sedang ceria-cerianya
malah terbaring lemah di rumah sakit
gara-gara ulah teman-temannya sendiri.
Kakaknya yang bernama Rizki sempat
curhat di media sosial dan bilang kalau
keluarganya merasa kecewa sekali dengan
pihak sekolah karena respon mereka
sangat lambat. Seharusnya ya begitu tahu
kasus kekerasan di lingkungan sekolah
ini ada langsung ditindak dan langsung
dipanggil semua pihak. Tapi nyatanya
enggak. Justru ini menunggu viral
terlebih dahulu baru semuanya sibuk
mengklarifikasi dan membicarakan soal
tanggung jawab. Nah, ini yang bikin
banyak orang di internet nih
netizen-netizen jadi geram. Kepala Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel yaitu
Pak Deden Deni akhirnya sampai buka
suara. Dia bilang kalau dinas bakal
bertanggung jawab penuh dan berjanji
akan memberi sanksi tegas kepada pelaku.
Nah, tapi ya itu tadi keluarga korban
merasa semua udah telat. Kondisi MH udah
terlanjur parah, trauma udah terbentuk
dan rasa percaya ke sekolah sudah
hilang. Dan kasus ini menjadi sorotan
nasional. Banyak yang mulai nanya,
"Gimana bisa sekolah negeri sebesar SMPN
19 Tangsel kecolongan seperti ini."
Bukannya setiap sekolah sekarang sudah
diwajibkan untuk punya program anti
bully. Nah, tapi ternyata ya di lapangan
masih banyak banget sekolah yang
menganggap bully ini adalah hal sepele,
menganggap ini candaan bahkan cuma
bagian dari proses adaptasi. Padahal
jelas-jelas sudah banyak kasus yang
menunjukkan kalau dampaknya fatal. Dan
yang paling bikin miris, korbannya itu
sering sekali diam, enggak berani
mengadu. Mereka enggak berani ngomong
karena takut malah makin menjadi parah,
disiksa. Enggak ada yang berpihak ke
mereka. Dan sama seperti MH ini, dia
sempat cerita ke keluarganya. Tapi tidak
langsung dari awal. Dia menahan semua
sendiri dulu sampai akhirnya badannya
udah enggak kuat barulah dia cerita.
Nah, kalau dipikir-pikir ya, Geng, dua
kasus yang baru saja kita bahas ini dari
Pondok Pesantren Aceh sampai dengan SMP
di Tangsel polanya hampir sama.
sama-sama dimulai dari ejekan dulu,
penghinaan dulu, atau bully-bully kecil
yang dianggap bercandaan. Tapi karena
dibiarkan terus-menerus, akhirnya
tragedi yang mengerikan terjadi. Cuma
ada dua pilihan, antara korbannya yang
berakhir tragis atau justru korbannya
yang akan melakukan sesuatu yang tragis
seperti di Aceh tadi. Dan sedihnya ya
setelah semuanya terjadi viral, sudah
menjadi abu gitu ya, barulah mencari
solusi. Banyak juga orang di Meksos yang
mulai mendesak pemerintah untuk lebih
tegas lagi membuat aturan atau hukum
anti bully yang benar-benar berjalan.
Enggak cuma di atas kertas doang. Karena
kalau seperti ini kasusnya enggak bakal
bikin pelakunya jerah. Ya, kita lihat
aja kayak pelaku-pelaku bully atau
kekerasan yang masih di bawah umur
hukumannya enggak seberapa, ya kan?
Karena dianggap masih di bawah umur.
Nah, dan ya kalau kita berbicara soal
dunia sekolah, sepertinya semua orang
sedang sibuk membicarakan nilai prestasi
ya. Tidak pernah membicarakan soal ya
anak-anak yang setiap hari berjuang
untuk sekedar merasa aman agar bisa
belajar di sekolah ya. Di negara kita
ini sekolah itu bukan untuk mencari
pengalaman sosial, mencari ilmu, enggak.
Tapi yang diincer itu nilai.
Nilai. Para murid itu akan mengincar
nilai setinggi-tingginya dengan cara
sebanyak-banyaknya. Apapun mau nyontek
kek, mau ngancam temannya buat ngerjain
tugas dia kek, yang penting nilainya
tinggi. Nah, itu bedanya tuh kalau di
negara kita. Sementara di negara orang
nilai itu enggak terlalu berarti dan
enggak terlalu dikejar. yang dikejar itu
adalah pengalamannya, yang dikejar itu
adalah ilmunya, gitu. Kayak contoh ya,
sekolah-sekolah di Jepang dan Cina,
anak-anak kecil itu sudah diajarkan
berkebun. Jadi supaya ada pengalaman
mereka ya berkebun itu seperti apa.
Bahkan ada yang sudah mulai praktik
dengan mesin-mesin ee sederhana supaya
ada pengalamannya dengan mesin-mesin
tersebut. Nah, kalau kita enggak
semuanya serba teori, semuanya serba di
dalam otak, kita diminta untuk berpikir
dan diminta untuk mengejar nilai.
Ya, itulah yang terjadi di dalam dunia
pendidikan kita. Dan ketika hal seperti
ini terjadi, ya, hal-hal yang berbau-bau
sosial yang ternyata sudah gagal untuk
ditangani
antara satu murid dengan murid yang lain
saling menindas, barulah semuanya bilang
prihatin, barulah semuanya ee heboh,
mengklarifikasi. Padahal yang dibutuhkan
oleh para korban di dalam kasus-kasus
kayak gini bukan rasa prihatin, tapi
perlindungan yang nyata.
Nah, sekarang kita coba lihat nih, Geng,
ya. Bagaimana tanggapan dari pihak SMPN
19 Tangsel yang sekarang menjadi
sorotan. Biar enggak salah paham dan
kalian tahu juga bagaimana e reaksi dari
pihak sekolah setelah kasus ini viral.
Nah, coba simak baik-baik. Kita bahas
keterangan dari pihak sekolah.
Jadi, setelah kasus ini viral nih, Geng,
heboh dibicarakan di mana-mana, pihak
sekolah akhirnya buka suara. Kepala
sekolah dari SMPN 19 Tangsel ini bernama
Bu Frida Tesalonik. Dia muncul untuk
memberikan klarifikasi dan menjelaskan
kronologi kejadian tersebut. Ya, ini
dari sisi pandangan mereka. Jadi,
ternyata sebelum kasus ini viral, pihak
sekolah tuh sudah sempat melakukan
langkah mediasi antara keluarga korban
dan keluarga pelaku. Dan Bu Frida bilang
waktu itu sekolah cuma pengin
menyelesaikan masalah ini dengan cara
kekeluargaan biar tidak semakin melebar
dan bisa diselesaikan secara damai.
Pertemuan itu juga enggak cuma sebentar,
Geng. Kabarnya kedua belah pihak sudah
ngobrol panjang dan akhirnya sepakat
untuk damai. Semua hasil mediasi juga
dituangkan dalam bentuk surat pernyataan
bersama yang ditandatangani langsung
oleh kedua keluarga dan disaksikan oleh
pihak sekolah. Di dalam surat itu
disebut juga kalau keluarga pelaku
bersedia menanggung seluruh biaya
pengobatan MH si korban sampai sembuh
total. Jadi dari sana pihak sekolah
merasa masalah sudah kelar dan sudah
beres secara kekeluargaan. dengan
tataran kami di pihak sekolah karena
sudah ada orang tua dari kedua belah
pihak ya kami selesaikan kami bantu
menjembatani membuat kesepakatan dan
terjadilah kesepakatan kedua belah pihak
pelaku, orang tua pelaku untuk membiayai
si korban. Bu Frida juga bilang ketika
perjanjian dibuat, semua pihak sepakat
untuk tidak memperpanjang masalah ini.
Mereka sama-sama berkomitmen untuk
saling memaafkan dan pihak sekolah pun
janji bakal lebih ketat lagi mengawasi
para siswa mereka. Jadi menurut mereka
setelah surat damai itu ditandatangani,
kasusnya dianggap selesai. Enggak ada
niatan untuk nutup-nutupin. Nah, cuma
karena kedua belah pihak sudah bertemu,
ya pihak sekolah tuh menganggap ya
udahlah gitu cukup sampai di sana. Tapi,
Geng, ternyata setelah beberapa hari
berlalu keadaan malah berubah total.
Keluarga korban kembali mengontak pihak
sekolah dan mengatakan kalau kondisi MH
justru semakin memburuk. Rasa sakit di
kepala yang awalnya dikira luka ringan
ternyata makin parah sampai pada
akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit
untuk perawatan intensif. Dan dari sana
pihak sekolah mulai kaget juga karena
mereka pikir semuanya udah aman. Dan Bu
Frida sendiri bilang kalau dia tidak
menyangka kasus ini bakal menjadi
perhatian publik sebesar ini. Awalnya
mereka cuma pengin menangani secara
internal, tapi setelah keluarga korban
kembali mengabarkan soal kondisi MH yang
makin parah, akhirnya situasi tidak bisa
dikontrol. Media mulai mengangkat berita
ini dan masyarakat mulai bereaksi dan
sekolah pun otomatis menjadi viral. Nah,
dalam pernyataannya Bu Frida juga
menyebutkan kalau pihak sekolah akan
mengevaluasi besar-besaran terkait
sistem pengawasan di lingkungan sekolah
ini. Jadi mereka itu sadar kalau
kejadian ini bukan cuma soal
kesalahpahaman antar siswa, tapi juga
ada celah dalam pengawasan dan
komunikasi yang harus diperbaiki di
sekolah itu. Nah, dia bilang kasus ini
menjadi pelajaran berharga untuk mereka
semua mulai dari guru, wali kelas sampai
dengan pihak kesiswaan. Nah, jadi geng
kurang lebih seperti itu tanggapan dari
pihak sekolah dan dari dua kasus
tersebut ditambah dengan kasus di SMA 72
Jakarta kemarin yang sampai dibom gitu
ya. Ini wah gila gua enggak habis pikir
deh bocah-bocah zaman sekarang ini
membuat banyak orang tua menjadi resah
dan khawatir kalau anak mereka menjadi
korban bully. Memang ya di Indonesia ini
waduh gila banyak banget yang
bocah-bocah soo jagoan sekarang ya. Lu
pada enggak mikir apa ibu bapak lu udah
pakai baju partai, geng? Ekonomi itu
susah sekarang. Ekonomi kita lagi sulit.
Tolonglah jangan aneh-aneh di sekolah
belajar yang benar. Kalau enggak lu
disikat sama warga negara lain nanti
SDM-nya kayak gini. SDA-nya siapa yang
mengolah? Ya kan kalau bukan warga
negara lain karena kita jadi bodoh-bodoh
gitu. Oke, sekarang kita akan membahas
tingginya tingkat bully di Indonesia.
Nah, kalau kita membicarakan soal bully
di Indonesia, ternyata kasusnya itu
sudah sampai ke level yang
mengkhawatirkan, Geng. Ini bukan cuma
soal anak-anak yang iseng mengejek
temannya, tapi sudah masuk ke dalam
ranah kekerasan yang serius yang bisa
meninggalkan luka baik fisik maupun
mental. Enggak heran kalau sekarang
banyak pihak yang mulai menyebutkan
fenomena ini sebagai darurat perundungan
karena tiap tahun jumlah kasusnya terus
naik. Dan yang paling parah, sebagian
besar kejadiannya justru ada di
lingkungan sekolah, tempat yang
seharusnya menjadi ruang paling aman
untuk tumbuh dan belajar. Angka kasus
perundungan di Indonesia dalam 5 tahun
terakhir melonjak hingga lima kali
lipat.
Menurut data dari jaringan pemantau
pendidikan Indonesia atau JPPI,
sepanjang tahun 2024 aja kasus kekerasan
di dunia pendidikan itu naik
gila-gilaan. Dari 285 kasus di tahun
sebelumnya melonjak menjadi 573 kasus.
yang mana itu artinya naik lebih dari
dua kali lipat cuma dalam waktu 1 tahun.
Dari semua kasus itu sekitar 31%-nya
adalah perundungan alias bully yang mana
ini menjadikan jenis kekerasan paling
dominan yang ada di sekolah. Kebayang
geng ya sepertiga dari semua masalah di
sekolah itu terkait sama perilaku saling
merundung atau saling mengejek, saling
menekan. Bukan sibuk belajar malah
anak-anak justru saling berjuang
menghadapi tekanan sosial dari
teman-teman mereka sendiri. Kalau
dilihat dari data Komisi Perlindungan
Anak Indonesia atau KPAI ya, kondisinya
juga enggak jauh beda. Memang jumlah
laporan perlindungan anak sempat menurun
dari 3.800 kasus di 2023 menjadi 2.57
kasus di 2024. Tapi kasus bully tetap
jadi yang paling banyak muncul dan belum
bisa dibereskan sampai sekarang. Artinya
kekerasan di sekolah itu masih terus
terjadi. Cuma mungkin bentuknya aja yang
berubah. Nah, sekarang enggak cuma
sekedar dipukul atau ditendang, tapi
juga lewat kata-kata yang menyakitkan,
diejek di media sosial atau dikucilkan
dari pergaulan. Bentuknya lebih halus,
tapi efeknya tetap sama yang membuat
anak-anak kehilangan kepercayaan diri
dan trauma. Nah, ini mungkin bisa
berawal dari rumah juga ya, Geng. eh
untuk menanamkan
kepada anak-anak ya. Buat kalian yang
punya anak yang di sekolah mungkin
kalian enggak bisa kontrol, enggak tahu
dia ngapain aja, ditanamkan rasa percaya
diri atau justru diajarkan mereka itu ee
bahwa e yakin dengan diri sendiri, harus
PD, harus tahu bahwa mereka itu spesial
ya, berarti untuk keluarganya atau kalau
bisa ya diajarkan ilmu bela diri
sekalian. Boxing kah, karate kah, atau
apa supaya mereka bisa membela dirinya
gitu kan. Terus, Geng, yang bikin makin
miris nih, ya, dari data gabungan JPPI
dan KPAI, 55,5% kasus bully di Indonesia
masih berbentuk kekerasan fisik. Nah,
makanya butuh banget tuh belajar bela
diri. Nih bisa gua contohkan kayak dia
dipukul, ditendang, dijambak rambut,
atau dilempar bareng-barengnya.
Sedangkan 29,3% sisanya ya bully verbal
atau psikis seperti diejek, hinaan, atau
bahkan penguncilan dari kelompok. Ya,
hal-hal kayak gini kadang ada juga siswa
yang mentalnya kuat yang menganggap
hinaan itu sebagai candaan gitu ya. ada
juga. Nah, tapi yang enggak kuat
biasanya bakal terkena mental. Nah,
banyak korban yang akhirnya merasa
sendirian, dia takut sekolah atau bahkan
sampai malas berinteraksi dengan orang
lain. Kalau kita lihat dari sisi jenjang
pendidikan, ternyata anak-anak di usia
SD yang justru paling sering menjadi
korban bully, Geng. Sekitar 26% dari
kasus bully terjadi di tingkat sekolah
dasar di SD. Baru SMP 25% dan SMA
sekitar 18,75%.
Nah, ini menunjukkan kalau perundungan
itu mulai muncul bahkan di usia dini, di
usia kecil banget saat anak-anak belum
mengerti sepenuhnya mana bercanda dan
mana yang sudah termasuk kekerasan. Dan
yang lebih bahaya lagi, kebanyakan dari
kasus di jenjang ini tidak pernah
dilaporkan karena banyak korban yang
memilih untuk diam aja karena takut,
malu, atau enggak tahu harus cerita ke
siapa ya. Nah, ini juga mungkin ada
saran sedikit ya. Biasakan e untuk
kalian yang punya anak mungkin ya, ada
jadwal makan bareng keluarga gitu kayak
pulang sekolah ayo makan bersama di meja
atau malam ngumpul bersama di meja dan
di sanalah saat-saat yang paling seru
untuk bertanya bagaimana hari kamu?
Bagaimana kamu hari ini di sekolah?
Berapa nilai kamu? Ya, buat orang-orang
tua ya. Nah, dan di sanalah anak-anaknya
mungkin bisa curhat kepada orang tuanya
apa yang dia alami. Mungkin nih, mungkin
ya. Nah, terus kalau berbicara soal
wilayah, ada tiga provinsi dengan angka
bully atau angka perundungan yang paling
tinggi nih, Geng. Sepanjang 2024, yaitu
yang pertama banget tuh kotanya Horek,
Jawa Timur, ya. Nah, kota Horek nih
dengan total 81 kasus. Disusul Jawa
Barat sebanyak 56 kasus dan Jawa Tengah
45 kasus. Oh, rata-rata di Jawa ya.
Daerah lain enggak ada nih. Nah, tapi
ini baru data yang tercatat ya, Geng.
Kita enggak tahu nih. Mungkin di
Sumatra, Sulawesi juga ada kali ya. Dan
bisa jadi angka aslinya jauh lebih besar
karena banyak sekolah yang memilih untuk
menutup-nutupi kasus seperti ini biar
gak jadi sorotan. Dan parahnya lagi
enggak cuma sekolah umum aja yang
terkena. Lembaga pendidikan yang
berbasis agama seperti madrasah,
pesantren juga ternyata enggak pernah
luput dari kasus ini. Catatannya ada 92
kasus di madrasah dan 114 kasus di
pesantren sepanjang tahun 2024. Dan ini
menunjukkan kalau masalah bully sudah
menyebar ke semua jenis lingkungan
pendidikan tanpa pandang label.
Pesantren yang dianggap agamais banget
juga banyak bulinya. Ya, bisa dikatakan
nilai moral yang diajarkan di pesantren
tidak berbanding lurus dengan apa yang
terjadi pada santri-santri yang saling
bully ini. Banyak sekolah yang masih
menganggap bully cuma masalah sepele
kayak bercandaan antar siswa. Padahal
dampaknya bisa menyeret korban ke trauma
panjang bahkan sampai kehilangan
semangat hidup. Dan selama budaya diam
dan tutup mata ini masih terjadi, kasus
seperti di Aceh ya, seperti di Tangsel
itu bakal terus berulang. Nah, jadi
gimana geng menurut kalian? Apakah
lingkungan pendidikan di Indonesia sudah
cukup aman untuk anak-anak atau justru
masih banyak hal yang harus dibenahi
atas kejadian yang sudah kita bahas hari
ini? Coba tuliskan komentar kalian.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:15:42 UTC
Categories
Manage