REDENOMINASI RUPIAH ! UANG 1000 RUPIAH BAKAL JADI 1 RUPIAH
gpKDtb4gT3M • 2025-11-19
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Langkah redenominasi pertama di
Indonesia itu diterapkan pada era
Presiden Soekarno berdasarkan penetapan
Presiden Nomor 27 Tahun 1965. Dan
redenominasi ini pada saat itu dilakukan
untuk mengatasi tantangan moneter yang
sedang dihadapi oleh Indonesia pasca
revolusi. Dengan adanya pecahan baru
yang lebih sederhana, pemerintah
berharap bisa mendorong stabilitas
ekonomi dan mempermudah sistem
pembayaran di saat itu. Nah, namun
enggak lama setelah kebijakan ini
diterapkan,
oke geng. Kalian sempat kepikiran enggak
kenapa mata uang negara kita tuh ya
satuannya pakai ribuan dan kalau kita
bandingin sama mata uang negara lain
kayaknya duit kita tuh gede banget ya.
Kayak misalkan nih Rp1.000 gitu. Itu di
dolar enggak ada harganya cuma kayak 0
sekian seekian gitu. Karena kan seperti
yang kita tahu ya ee 1 dolar itu adalah
Rp16.000
something lah. Nah, jadi Rp1.000 R000
kita kalau di dolar itu kayak nol under
gitu. Dan enggak perlu jauh-jauh kita
bandingin sama Amerika dengan dolarnya.
Kita cukup bandingin aja sama negara
tetangga kita yaitu Malaysia atau
mungkin Singapura. Di Malaysia itu
enggak ada tuh duitnya angkanya sampai
ribuan ratusan dengan nol yang begitu
banyak gitu ya. Adanya RM1, RM2, RM5,
RM50, RM100 gitu kan. Nah, begitu juga
dengan Singapura mereka menggunakan DO
Singapura bukan 1$.000. 000. Jadi di
negara-negara lain pun sama kayak gitu,
Geng. Nah, jadi negara kita itu berbeda
banget, Geng. Angka atau nol di mata
uang kita tuh banyak banget. Terus
tiba-tiba, Geng, semenjak pergantian
Menteri Keuangan yaitu Pak Purbaya ini
perubahannya begitu drastis, begitu
banyak sekali rencana-rencana yang
membuat masyarakat kita tuh jadi happy
gitu ya. yang mana salah satunya adalah
adanya wacana untuk mengganti satuan
rupiah di negara kita Indonesia ini.
Dari yang awalnya nolnya banyak kayak
Rp1.000 itu bakal menjadi Rp1, Rp10 ya
pokoknya nolnya bakal dikurangi.
Purbaya bakal ubah Rp1.000 jadi Rp1
target rampung 2027. Setelah
bertahun-tahun hanya menjadi wacana,
rencana redenominasi rupiah kini mulai
menemukan arah pelaksanaan yang jelas.
Nah, wacana ini setahu gua tuh memang
udah ada sejak beberapa tahun yang lalu,
Geng. Cuma belum terealisasi. Nah,
sekarang sejak Pak Purbaya menjadi
Menteri Keuangan, kayaknya rencananya
itu bakal ya diwujudkan. Istilahnya itu
adalah redenominasi yang mana ini bakal
segera dijalankan. Dan jika ini
diberlakukan kalian enggak akan lagi
membeli mie ayam seharga Rp15.000, tapi
kalian akan membeli sebesar Rp15. Nah,
gimana tuh menurut kalian kira-kira?
Apakah kalian setuju dengan wacana ini?
Nah, memang ya ada banyak yang mendukung
rencana tersebut dengan anggapan agar
Indonesia bisa seperti negara-negara
lain yang sudah melakukan redenominasi.
Nah, mungkin dengan redenominasi ini
bisa meningkatkan ekonomi negara kita.
Namun, ya ada juga yang tidak setuju
dengan menganggap untuk melakukan
redenominasi ini perlu kondisi
perekonomian yang stabil. Jadi, enggak
sembarang main hapus-hapus dan mengganti
mata uang aja. Dan Indonesia sendiri
secara ekonomi belum siap untuk hal itu
katanya. Nah, di video kali ini gua
bakal merangkum nih buat kalian tentang
pembahasan ini supaya kalian paham apa
sih redenominasi rupiah ini yang sedang
dirancang oleh Kementerian Keuangan dan
apakah bakal berdampak pada perekonomian
negara kita? Apakah kalian-kalian yang
mungkin isi tabungannya sekarang Rp5.000
di bank bakal menjadi orang kaya raya
setelah nilai uangnya diturunkan? Nah,
hari ini gua bakal bahas supaya kalian
paham, supaya kalian mengerti. Langsung
aja nih kita bahas secara lengkap. Halo
geng. Welcome back to Kamar Jerry
genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama
langsung aja kita bahas langkah
pemerintah kita untuk redenominasi
rupiah ini. Kira-kira gimana? Secara
istilah kalian sudah tahu ya apa itu
redenominasi? Yaitu mengganti satuan
mata uang. Nah, misalnya nih dari
Rp1.000 jadi Rp1. Terus selain
redenominasi ini ya ada juga istilah
sanering. Nah, ini dua kebijakan yang
sama-sama memangkas satuan mata uang
tapi agak berbeda, Geng. Sanering itu
memangkas satuan mata uang tapi ikut
menurunkan nilai uangnya. Nah, sementara
untuk redenominasi itu enggak kayak
gitu. Jadi, satuan mata uangnya
dipangkas cuma nilainya tetap sama. Rp1
bakal sama nilainya dengan Rp1.000.
Begitu juga dengan seterusnya. Rp10
bakal sama nilainya dengan Rp10.000. Dan
selain karena perbedaan nilai mata uang,
perbedaan lainnya itu dari sunering dan
juga redenominasi ini adalah e terletak
pada kondisi ekonomi negara tersebut
yang menjadi acuan mengapa diterapkannya
sanering atau redenominasi. Nah, jadi
enggak sembarangan tuh, Geng. Angkanya
dirubah-rubah. Pada penerapan
redenominasi umumnya itu dilakukan pada
saat kondisi ekonomi lagi stabil, sehat,
di mana pada saat sebuah negara itu lagi
mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik.
Nah, jadi bukan Ucuk-ucuk lagi susah
tiba-tiba melaksanakan redenominasi ini.
Itu gak bisa. Inflasi di negara tersebut
juga harus terkendali serta nilai tukar
mata uangnya masih terjaga. Sementara
untuk memberlakukan tipe yang sanering
itu biasanya dilakukan dalam kondisi
ekonomi yang lagi enggak sehat,
negaranya lagi carut-marut. Di mana
negara tersebut sedang terjadi gejolak
ekonomi seperti hiperinflasi, krisis
moneter, hingga defisit anggaran.
Nah, dari sini kalian udah bisa bedain
ya, Geng ya, apa itu redenominasi dengan
suning tadi. Kemudian perbedaannya
terletak pada proses penerapan kebijakan
tersebut. Untuk redenominasi itu perlu
waktu yang panjang mulai dari
perencanaan sampai tahap penerapannya.
Itu itu kebanyakan bank sentral dan dia
mengerjakan
sesuai dengan kebutuhan pada waktunya.
Sekarang tahun depan
tahun depan
enggak enggak tahun depan. Saya enggak
tahu itu bukan Menteri Keuangan tapi
perusahaan bank center kan Bang Sent
sudah kasih pernyataan tadi kan
ada tiga tahap yang diperlukan dalam
penerapan redenominasi ini yaitu
persiapan atau sosialisasi masa transisi
dari mata uang lama ke mata uang yang
baru lalu masa penarikan mata uang yang
lama. Nah, jadi mata uang yang beredar
di masyarakat itu ditarik kembali
ditukar gitu geng. Nah, sedangkan kalau
sing itu bisa dilakukan secara mendadak
tanpa adanya sosialisasi atau transisi
yang memadai dari pemerintah. Pasti
kalian bingung ya apa sebenarnya tujuan
dari redenominasi ini kalau ternyata
nilainya tetap sama aja dengan uang yang
sebelumnya kita gunakan. Nah, jadi
tujuannya tuh geng ya untuk
mensederhanakan pencatatan keuangan dan
meningkatkan efisiensi transaksi supaya
kan angkanya tuh enggak banyak banget
nolnya kayak gitu. Di tingkat
internasional, redenominasi ini juga
dianggap mencerminkan kredibilitas
ekonomi sebuah negara sehingga bisa
memperkuat citra Indonesia di mata
dunia. Nah, sementara Sanering itu
berbeda banget ya kan kalau negaranya
lagi anjlok tuh. Dan Sanering sendiri
sebenarnya udah pernah diterapkan di
negara kita Indonesia geng yaitu pada
tahun 1959 yang mana ketika itu
pemerintah menurunkan nilai pecahan mata
uang rupiah sebesar Rp500 dengan gambar
macan menjadi Rp50. Pemerintah juga ikut
menurunkan nilai pecahan Rp.000 dengan
gambar gajah menjadi sebesar Rp100. Tuh
di masa itu udah pernah tuh.
Dan dampaknya nih, Geng, mata uang yang
udah lama ditabung ya bukan di bank nih,
ditabung di dalam celengan jadi enggak
punya nilai. Seluruhnya cuma tinggal 10%
aja. Jadi di saat itu tuh orang
tua-orang tua yang gak percaya sama bank
gitu ya, yang mana mereka menyimpan uang
mereka itu di bawah bantal gitu, mereka
rugi besar dan di saat itu kerusuhan
massal terjadi di mana-mana karena
orang-orang pada rugi. Tiba-tiba nilai
mata uang jadi turun anjlok kayak gitu.
Hal ini disebabkan karena pada saat itu
enggak ada sosialisasi sama sekali
sehingga informasi yang beredar tidak
bisa diterima secara menyeluruh ke semua
wilayah di Indonesia. Orang-orang yang
tadinya udah nabung dia orang kaya
otomatis tiba-tiba mendadak jadi miskin.
Sanering ini terpaksa dilakukan oleh
pemerintah Indonesia karena adanya
hyperinlasi yang pada saat itu terjadi
lonjakan harga barang dan uang yang
beredar di masyarakat begitu banyak.
Pada tahun 1962
adalah sekitar Rp5 per porsi dan terus
naik hingga menjadi sekitar Rp1.500 per
porsi pada tahun 1965.
Harga kebutuhan pokok yang meroket
membuat banyak keluarga menjual barang
berharga mereka hanya untuk bertahan
hidup.
Nah, itu kan sering ya, Geng. Nah, terus
yang jadi pertanyaannya apakah red
denominasi ini adalah pertama kali
diterapkan di Indonesia? Apakah
sebelumnya pernah ada atau enggak? Nah,
jawabannya pernah. Redenominasi ini
pernah diberlakukan di Indonesia
tepatnya tanggal 13 Desember tahun 1965.
Kebijakan ini dilakukan dengan menghapus
tiga angka nol yang menunjukkan satuan
untuk ribuan pada mata uang lama. Nah,
sebagai contoh pecahan 1000 lama diganti
menjadi Rp1 rupiah baru. Namun seperti
yang gue jelaskan sebelumnya, pergantian
satuan mata uang dalam penerapan
redenominasi ini enggak mengubah daya
beli atau nilai tukar mata uang rupiah
di pasaran. Harganya tetap sama.
Misalkan hari ini kalian beli sayur
Rp1.000 ee satu ikatan gitu ya. Nah,
terus tiba-tiba renominasi diberlakukan
yaitu sayur akhirnya menjadi Rp1. Sama
aja nilainya itu ya kayak 1.000
sebelumnya. Langkah redenominasi pertama
di Indonesia itu diterapkan pada era
Presiden Soekarno berdasarkan penetapan
Presiden nomor 27 tahun 1965. Dan
redenominasi ini pada saat itu dilakukan
untuk mengatasi tantangan moneter yang
sedang dihadapi oleh Indonesia pasca
revolusi. Dengan adanya pecahan baru
yang lebih sederhana, pemerintah
berharap bisa mendorong stabilitas
ekonomi dan mempermudah sistem
pembayaran di saat itu. Nah, namun
enggak lama setelah kebijakan ini
diterapkan, nominal rupiah tiba-tiba
kembali ke format awal akibat
ketidakstabilan ekonomi yang terus
berlanjut. Jadi udah capek-capek
diturunin tiba-tiba naik naik naik naik
gara-gara inflasi jadi balik ke
settingan awal. Nah, sebelum adanya
rencana redenominasi baru-baru ini
muncul sebenarnya sempat ada isu seperti
kayak gini juga, Geng. Contohnya di
tahun 2010 yang mana pada saat itu Bank
Indonesia atau BI pernah menyatakan
bakal menyelesaikan studi redenominasi
atau menyederhanakan nilai tukar di
akhir tahun tersebut. dan Bank BI bakal
melanjutkan dengan sosialisasi mulai
dari awal tahun 2011. Dan hal ini bukan
sekedar spekulasi melainkan ya keluar
dari pernyataan Pak Darmin Nasution yang
pada saat itu menjabat sebagai pejabat
sementara Gubernur Bank Indonesia. Nah,
beliau menegaskan studi terkait
redenominasi ini sudah selesai dan
tinggal pembahasan mengenai bagaimana
sistem informasi perbankan dan
sosialisasinya. Dan di saat itu kalau
aja DPR menyetujui rencana redominasi
ini dan selanjutnya bakal disepakati
masuk dalam RUU mata uang, maka Bank BI
bakal langsung melanjutkan dengan
sosialisasi ke masyarakat. Nah,
rencananya nih, Geng, Bank BI bakal
memanfaatkan kantor-kantor mereka di
daerah untuk melakukan sosialisasi
secara menyeluruh. Nah, setelah
sosialisasi, Bank BI bakal melanjutkan
dengan transisi dengan mencetak uang
baru dengan nominal yang lebih kecil.
Dan proses pencetakan uangnya sendiri
tidak berbeda dengan yang biasa
dilakukan oleh Bank BI tiap tahunnya.
Nah, jadi nanti kita tuh bakal ada fase
di mana ya ketika kita bayar Rp1.000
bisa aja kembaliannya itu Rp0,5
karena kan 1.000 di saat itu sudah
setara dengan Rp1 baru. Nah, nanti uang
lama itu bakal dikumpulkan, bakal
ditukar oleh para pedagang. Pokoknya
orang-orang yang menyimpan uang lama ke
Bank BI untuk ditukar.
Terus, Geng, Bank BI sendiri itu bakal
menargetkan kalau redenominasi rupiah
itu awalnya bakal tuntas di tahun 2022
kemarin pas saat pandemi. Mengacu pada
pengalaman sejumlah negara, redenominasi
ini diprediksi membutuhkan waktu kurang
lebih 10 tahun untuk bisa diterapkan,
Geng. Jadi, enggak mudah. Nah, cuma,
Geng, wacana itu enggak kunjung terwujud
hingga masa jabatan Pak Darmi Nasution
sebagai gubernur ee Bank BI di saat itu
habis pada tahun 2013. Nah, singkat
cerita pada tahun 2017, Pak Agus Marto
Wardojo yang saat itu sudah menggantikan
jabatan menjadi Gubernur BI tiba-tiba
memberikan kabar baik di bawah
kepemimpinan beliau. Bank BI menargetkan
redenominasi ini ee bisa dilaksanakan
pada tahun tersebut. Nah, cuma untuk
bisa menyelesaikan hal ini perlu banyak
proses yang harus dilewati sampai akhir
jabatannya dia, lagi-lagi wacana
redenominasi ini belum juga
terealisasikan dan RUU belum jadi dan
tidak masuk program legislasi nasional
atau proleknas. Nah, rencana
redenominasi ini kembali muncul dalam
Peraturan Menteri Keuangan atau PMK
nomor 77 tahun 2020 tentang rencana
strategis Kementerian Keuangan tahun
2020 sampai 2024. Nah, di PMK tersebut
penyederhanaan e nominal angka rupiah
itu masuk ke dalam salah satu RUU
Proolleknas jangka menengah tahun
2020-2024, Geng. Di tahun 2021 ya, Geng,
sempat beredar tuh sebuah video yang
menampilkan lembaran uang dengan angka
1.0. Nah, ketika itu banyak orang
Indonesia yang menganggap uang
tersebutlah yang menjadi hasil dari
redenominasi ini. Tapi Perum Peruri itu
membantah kalau ee ini adalah isu yang
benar. Pihak Peruri di saat itu ya ee
menyebutkan kalau lembaran itu cuma host
note atau uang contoh yang memang
diterbitkan sebagai alat promosi doang
seperti promosi untuk kemampuan
perusahaan dalam mencetak fitur keamanan
uang kertas. Nah, kayak yang kita tahu
ya, yang mencetak uang di Indonesia itu
Peruri. Dan di saat itu mereka bikinlah
sampel contohnya. Nah, di saat yang sama
Head of Corporate Secretary Peruri yaitu
Pak Adi Sunardi mengungkapkan kalau hal
ini memang lazim digunakan oleh
perusahaan percetakan uang untuk
menunjukkan kompetensi dan kemampuan
maksimal perusahaan. Karena cetak uang
itu kan enggak asal diprint, harus ada
tingkat keamanan yang tinggi. Pas
dicetak, dicek tuh uangnya bisa ditiru
atau enggak. Nah, itu adalah salah satu
sampelnya tadi. Dan lagi-lagi, Geng, isu
redenominasi ini kembali mencuat pada
tahun 2023. Namun, di saat itu dibantah
oleh pihak Bank BI dan Pak Peri Wirjoyo
yang sudah menjabat sebagai Gubernur
Bank BI di saat itu mengatakan kalau
konsep redenominasi ini memang sudah
lama disiapkan. Sebab hal tersebut
dianggap bisa meningkatkan efisiensi
transaksi dan mencerminkan kredibilitas
ekonomi Indonesia di tingkat global.
Meskipun begitu, kebijakan ini masih
memerlukan kajian mendalam dan persiapan
matang sebelum bisa direalisasikan. Nah,
tapi sekarang di tahun 2025 terutama
ketika Pak Purbaya Yudi Sadewa menjadi
Menteri Keuangan, rencana redenominasi
ini kembali terdengar. Hal tersebut
disebabkan karena beliau menetapkan
rencana strategis Kementerian Keuangan
tahun 2025 sampai 2029 dalam PMK nomor
70 tahun 2025. Nah, yang mana dalam PMK
tersebut Pak Purbaya menekankan langkah
penyiapan kerangka regulasi untuk
menyederhanakan mata uang rupiah dengan
menyusun RUU tentang perubahan harga
rupiah dan ini bakal berlaku pada tahun
depan, Geng. Nah, ditargetkan ini bakal
selesai tahun 2027. Urgjensinya adalah
efisiensi perekonomian yang bisa dicapai
melalui peningkatan daya saing nasional,
menjaga kesinambungan perkembangan
nasional, menjaga nilai rupiah yang
stabil sebagai wujud terpeliharanya daya
beli masyarakat dan meningkatkan
kredibilitas rupiah. Masih dalam PMK
yang sama nih, Pak Purbaya juga
menetapkan penanggung jawab. Penyusun
RUU redenominasi adalah Direktorat
Jenderal Perbendaharaan Kementerian
Keuangan dengan target penuntasan
kerangka regulasinya yaitu pada tahun
2026. Nah, walaupun sudah masuk ke dalam
PMK, Pak Purbaya menekankan kalau
kebijakan tersebut sepenuhnya ada di
tangan BI selaku otoritas moneter, Geng.
Dan selain yang disebutkan oleh Pak
Purbaya, sebenarnya tuh ya ada lima
alasan nih yang menyebabkan redenominasi
ini penting untuk dilakukan. Yang
pertama, untuk efisiensi transaksi dalam
mata uang rupiah menjadi penting
mengingat nilai transaksi makin terus
berkembang mengikuti perkembangan laju
pertumbuhan ekonomi atau produk domestik
bruto atau PDB. Nah, hasil riset Bank
Dunia itu menunjukkan rupiah menempati
urutan kedua mata uang yang mencetak
pecahan tertinggi yaitu sebesar
Rp100.000. Yang mana urutan pertama
adalah dong, mata uang Vietnam yang
memiliki pecahan terbesar senilai
500.000 dong. Gila, 500.000 dalam satu
lembar. Banyaknya angka nol di rupiah
bahkan membuat seorang warga negara
Indonesia yang bernama Zico Leonard
Jagardo Simanjuntak sempat menggugat
undang-undang mata uang ke Mahkamah
Konstitusi. Nah, yang mana menurut dia
nih ya ada risiko salah hitung saat
nominal mata uang rupiah terlalu banyak
nolnya. Nah, cuma tuntutan Zico ini
sudah terhenti karena hakim MK menolak
seluruh permohonan uji materialnya dia.
Kerugian lain yang dikatakan oleh Zico
adalah karena kebiasaan dalam menghitung
denominasi yang besar berdampak pada
meningkatnya rabun jauh yang disebabkan
karena kelelahan visual dan ketegangan
otot mata. Ya, ini sebenarnya cukup
masuk akal lah tuntutan Mas Zico ini ya.
Tapi kita tahu ya negara kita ini kan
negara heleh gitu ya. Kalau kita ngajuin
hal-hal yang kayak gini nih yang
sebenarnya bermanfaat ya, kita ngomong
kayak, "Pak, ini uangnya nolnya terlalu
banyak, bisa bikin mata kelelahan, bisa
bikin rabun." Jawabannya apa? Beda sama
negara luar. Kalau negara luar tuh
ditangani kayak, "Oh, iya ya. Oke, kita
pelajari dulu." Nah, itu negara luar.
Kalau negara kita, halah
halah. Terima aja. Udah bisa beli jajan
makan nasi padang udah terima. Nah,
itulah kalau di negara kita tuh segala
eh keluhan ya yang berdampak pada
kesehatan kayaknya jawabannya halh dulu
ya kan. Terus Geng kemudian ya
kebanyakan nol di dalam digit pecahan
rupiah juga sebenarnya bakal terus
mengikis kredibilitas rupiah itu sendiri
dan yang terakhir ya tidak sesuai dengan
pendidikan anak. Maksudnya gimana? Nah,
kalian pasti bingung nih. Jadi menurut
Pak Darmi Nasution yang pada saat itu
menjabat sebagai Gubernur Bank BI, nilai
mata uang yang kebanyakan nol tidak
sesuai dengan pendidikan matematika saat
usia anak. Beliau bilang dalam pelajaran
sekolah anak-anak itu diajarkan bahwa 4
+ 7 hasilnya 11. Sementara ketika
transaksi di luar sekolah satu barang
dihargai ribuan, bukan angka sederhana
yang diajarkan saat sekolah. Jadi udah
di atas kemampuan mereka gitu. Sementara
itu, Pak Peri Wirjoyo selaku Gubernur BI
yang baru itu mengadakan redenominasi
yang menjadi salah satu target yang
dibuat oleh Pak Purbaya belum menjadi
bagian dari fokus kebijakan BI saat ini.
Nah, Pak Peri mengatakan fokus BI justru
saat ini masih tertuju pada upaya
menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Nah, beliau juga menegaskan ya proses
redenominasi ini memerlukan persiapan
yang panjang dan selain itu pelaksanaan
kebijakannya juga membutuhkan waktu yang
tepat. Tapi sayangnya beliau belum
mengungkap indikator penentu timing yang
tepat ini kapan, apa yang menjadi
pertimbangan BI itu apa gitu ya. Nah,
itu belum belum diungkapkan oleh beliau
dan pihak istana negara pun juga
mengeluarkan tanggapan terkait rencana
redenominasi yang digagas oleh Pak
Purbaya ini. Geng, melalui Pak Praset
Yoio Hadi selaku Menteri Sekretaris
Negara, beliau mengungkap sejauh ini
belum ada rencana eksekusi terkait
kebijakan redenominasi ini. Bahkan
beliau bilang kebijakan itu belum matang
dan perlu dikaji lebih dalam. Dan beliau
juga bilang redenominasi masih sangat
jauh untuk bisa dilakukan. Jadi sejauh
ini, Geng, ini masih rencana dari Pak
Purbaya aja. Nah, kira-kira kalian
gimana mendengar hal ini? Kalian happy
atau terkesan? Ya udah, biasa aja toh
nilainya juga sama. Gimana tuh menurut
kalian? Nah, sementara itu dari pihak
Bank BI maupun pemerintah menyebutkan
jika redenominasi ini masih jauh untuk
bisa diterapkan. Meskipun begitu, ketika
isu ini mencuat, animo masyarakat
terlanjur besar. Karena sebagian besar
dari masyarakat kita sudah hidup di mana
rupiah yang beredar itu berbentuk ribuan
seperti kayak sekarang. mengingat
redominasi ini cuma terjadi di tahun
1965 yang pernah gitu. Untuk sekarang
kira-kira menurut kalian bisa apa
enggak? Terus geng, bagaimana dengan
dampak yang bakal ditimbulkan? Apakah
redenominasi ini bisa berdampak bagi
perekonomian negara kita atau enggak?
Nah, apalagi kan kondisi kita semua
sekarang sedang enggak baik-baik aja,
kelas menengah semakin mengecil,
orang-orang sulit mendapatkan kerja. Dan
apakah langkah redenominasi ini adalah
hal yang tepat untuk dilakukan? Nah,
biar kalian tahu jawabannya, selanjutnya
gua bakal membahas dampak dari
redenominasi ini, Geng. Kita bahas
dalam Indonesia Treasury Review tahun
2017 tentang desain strategis dan
assesment kesiapan redenominasi di
Indonesia itu diungkapkan sejumlah
manfaat dari redenominasi ini terhadap
ya negara ini. Jadi itu di antaranya
yang pertama itu ada menyederhanakan
nominal mata uang agar lebih praktis
dalam transaksi dan pembukuan akuntansi.
Digit yang banyak pada mata uang itu
merupakan masalah pada bisnis berskala
besar, Geng. Termasuk pada software
akuntansi dan sistem IT perbankan yang
mengalami kendala teknis untuk angka di
atas 10 triliun. Jadi kalau misalkan
aplikasi-aplikasi para pebisnis gitu ya,
ketika mereka ngitung pendapatan mereka,
omset mereka itu kalau pakai mata uang
Indonesia bisa banyak banget nolnya.
Makanya kebanyakan tuh kalau usaha-usaha
atau bisnis besar di muka bumi ini
biasanya diconvert jadi dolar gitu kan.
Nah, terus yang kedua geng dengan
berkurangnya jumlah digit mata uang,
potensi human error di dalam penulisan
atau penginputan data pada tiap
transaksi bisa lebih diminimkan, gitu.
Nah, terus yang ketiga dari sisi
pengelola kebijakan moneter, penggunaan
digit yang lebih sedikit berarti
jangkauan harga barang konsumsi semakin
kecil sehingga lebih mempermudah
pengelolaan moneter secara inflasi
secara nasional. Terus yang terakhir,
redenominasi ini bakal mengurangi biaya
cetak uang karena variasi nominal uang
kertas bakal lebih sedikit gitu dan uang
koin bisa bertahan lebih lama. Nah, lalu
geng sejumlah ahli juga sudah lama
mengungkap manfaat dari kebijakan
redenominasi rupiah. Nah, salah satunya
adalah Pak Raden Pardede selaku ekonom
senior Indonesia. Beliau tuh sudah
menjelaskan pemangkasan tiga digit pada
nominal rupiah itu bisa sangat
berpengaruh pada psikologis pelaku pasar
keuangan terhadap ee nilai rupiah
tersebut. Misalnya nih ya, hitungan
konversi rupiah ke dolar itu enggak lagi
Rp15.000, R.000 tapi Rp15 yang membuat
kesan jika rupiah itu enggak terlalu
jauh beda dengan dolar ya. Cuma ya Pak
Raden ini mengingatkan sebagaimana
tujuannya bukan untuk mengubah nilai
tukar rupiah. Redenominasi itu enggak
berarti seketika memperkuat kurs rupiah
terhadap dolar. Enggak sama sekali.
Nilainya tetap sama. Nilai tukar bisa
menguat tergantung faktor fundamentalnya
seperti kinerja, neraca pembayaran,
inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan aliran
keluar masuk modal asing, serta
pertumbuhan hutang. Nah, hal inilah yang
membuat beberapa negara maju lainnya ada
yang belum menerapkan redominasi
terhadap mata uang negara mereka.
Seperti salah satu contohnya Korea
Selatan dan Jepang. Mereka sama sekali
belum, Geng. Nah, pemerintah di dua
negara itu tadi ya menganggap penguatan
nilai tukar lebih penting dibandingkan
menyederhanakan nilai atau angka di mata
uang. Nah, negara mereka tuh beda.
Mereka tuh lebih memilih ya udah kalau
mau dikurangin angkanya sekalian mata
uangnya dikuatkan supaya ya terus
menurun gitu angka yang ditulis di mata
uang mereka. Terus geng, berbeda nih
dengan Nailul Huda selaku Econom of
Economic and Law Studies atau disingkat
dengan Celios yang mana beliau ini
menilai rencana pemerintah melakukan
penyesuaian nilai mata uang atau
redominasi rupiah tadi ee bagi beliau
tuh belum tepat untuk diterapkan karena
katanya perlu mempertimbangkan kondisi
ekonomi juga, terus keuangan negara dan
kondisi masyarakat kita. Semua itu
dikarenakan ya ini semua butuh biaya
yang besar untuk melakukan rededominasi
yang mana harus ditanggung oleh negara
serta beberapa pihak swasta. Nah, Pak
Huda ini menilai jika redenominasi
rupiah diterapkan tanpa mempertimbangkan
kondisi ekonomi sekarang, swasta bakal
menanggung biaya untuk penyesuaian
sistem kerja. ada biaya yang enggak
sedikit bahkan bisa mencapai ratusan
miliar yang harus ditanggung oleh
ekonomi. Nah, biaya yang ditanggung
negara dan swasta adalah pada bagian
percetakan uang baru hingga peralihan
sistem. Dan selain itu, Pak Huda ini
menilai ada risiko redenominasi gagal
dan bisa menyebabkan inflasi
besar-besaran. Dan kegagalan ini
dikarenakan pemahaman terkait dengan
redominasi yang timpang di tengah-tengah
masyarakat, Geng.
Terus, Geng, warga di Jakarta mungkin
lebih mudah memahami tapi lain hal
dengan masyarakat yang ada di daerah
lain nih. Ya, mungkin di Jakarta tuh
lebih kayak oh gini ya, pemangkasan
angka di mata uang. Tapi bayangkan nih
saudara-saudara kita yang masih ada di
kampung-kampung, di pedalaman sana
ketika ini semua berubah. Pemahaman yang
berbeda inilah yang bisa menimbulkan
kenaikan harga sehingga inflasi bakal
meningkat tajam dan daya beli semakin
tertekan. ya apa boleh buat ya negara
kita negara kepulauan dengan suku-suku
yang berbeda-beda, kesejahteraan juga
belum rata gitu kan ya bisa dikatakan
Indonesia kan bukan cuma Pulau Jawa aja.
Kalau misalkan masyarakat Pulau Jawa
mungkin lebih cepat gitu informasinya
dapat lebih cepat paham apalagi yang di
Jakarta. Nah, gimana kabarnya dengan
masyarakat yang di daerah? Sehingga
menurut beliau tadi, langkah
rededominasi yang dipercepat oleh Pak
Purbaya belum memiliki urgensi tinggi,
terutama di tengah tekanan geopolitik
global dan keterbatasan fiskal. Nah,
terkait salah satu tujuan dan manfaat
dari redominasi adalah untuk
meningkatkan kepercayaan investor. Nah,
menurut Budiah Ayu Febriani, peneliti
ekonomi dari Selios ya, disebutkan ini
bukanlah hal yang utama. Dia menyebut
faktor-faktor yang meningkatkan
kepercayaan investor di antaranya adalah
stabilitas makroekonomi hingga
transparansi komunikasi publik. Dan
menurut beliau indeks kemudahan
berbisnis atau is doing bisnis di
Indonesia itu masih sangat rendah. Nah,
hal itulah yang menyebabkan para
investor itu mulai pergi ke negara
tetangga ninggalin Indonesia seperti ya
ke Vietnam atau ke Filipina. Nah, kurang
lebih gitu ya, Geng kira-kira dampaknya.
Ada yang positif dan ada juga yang
merasa ini negatif.
Sekarang gua bakal beri contoh nih
beberapa negara-negara yang berhasil dan
juga gagal di dalam menjalankan
redominasi mata uang mereka. Biar kalian
punya gambaran, biar kalian punya
perbandingan. Apa sih yang bakal terjadi
ke negara kita kalau mata uang kita yang
tadinya misalkan 1.000 dipangkas nolnya
jadi Rp1. Dari Rp1.000 jadi Rp1. Nah,
kira-kira apa yang akan terjadi? Nah,
kita coba ambil contoh-contoh dari
negara-negara ini kita bahas.
Jadi, Geng, kita bakal bahas negara yang
berhasil dulu nih. Yang pertama itu
adalah Hungaria. Redominasi yang paling
signifikan dalam sejarah dunia terjadi
di Hungaria pada tahun 1946. Yang mana
pada saat itu mata uangnya yaitu Pengo
itu dirubah ke Forin dengan nilai tukar
menjadi satu. Jadi uang kertas
denominasi tertinggi ya ketika itu
memiliki nilai 20 okilunion pengos dan
nilai tukarnya cuma 0,0435
Do. Kecil banget. Nah, Hungaria akhirnya
meredonominasi mata uang mereka lantaran
mengalami hyperinlasi
yang paling parah yang tercatat di dalam
sejarah. Nah, ternyata ini bukan
redominasi pertama di negara tersebut.
Setelah perang dunia pertama, Kronia
Hungaria yang merupakan mata uang
nasional di saat itu, itu mengalami
inflasi yang sangat tinggi. Dengan
pinjaman dari PBB, pemerintah Hungaria
menggantinya dengan Pengo. Jadi, Pengo
ini mata uang setelah ee dulu mereka
punya mata uang yang bernama Kronia.
Nah, setelah itu mereka ganti dengan
Pengo yang mana di saat itu ya
perbandingan antara Pengo dengan Kronia
itu adalah 12.500 00 banding 1. Jadi
mata uang baru ini dipatok dengan
standar emas dan untuk beberapa waktu
menjadi yang paling stabil di negara
tersebut. Di saat hyperinflasi terus
berlanjut, pemerintah Hungaria
memutuskan untuk mengganti mata uang
yang terdepresiasi dengan Forin pada
Agustus 1946. Nah, saat ini ya mereka
udah pakai uang forign. Jadi mereka udah
tiga kali tuh ganti tuh. Yang pertama
tadi Kronia, terus ganti Pengo, terus
sekarang mereka pakai yang namanya
Forin. Forin Hungaria. Dan saat ini
Forin Hungaria tetap menjadi mata uang
nasional negara tersebut dan dianggap
sebagai mata uang yang relatif stabil.
Tuh, Hungaria berhasil. Terus
selanjutnya yang berhasil lagi ada
Turki. Nah, mereka ini berhasil
meredonominasi pada 1 Januari 2005.
Langkah ini diambil karena nilai tukar
lira mata uang mereka terhadap dolar
Amerika itu benar-benar terjun bebas.
Nah, mata uang lira atau TL ya diubah
menjadi lira baru atau disingkat dengan
YTL. Konversi mata uang lama ke baru
yang dilakukan itu dengan menghilangkan
sebanyak 6 angka nol. Misalnya nih 1
YTL. Nah, 1 YTL itu yang baru ya untuk 1
juta TL. Jadi tadinya ada 1 juta TL
dipotong semuanya nolnya 6 biji itu
dihapus jadi 1 TL atau YTL. Nah,
pemerintah Turki sangat berhati-hati
menggunakan langkah redenominasi ini
yang mana Turki membutuhkan waktu 7
tahun, Geng, sebelum memutuskan hal
tersebut. karena mereka memperhatikan
stabilitas perekonomian negara mereka.
Dalam kurun waktu 7 tahun itu, Geng,
Turki mulai menarik uang lira lama
mereka dan menggantinya dengan mata uang
yang baru. Dan selama redominasi,
awalnya banyak warga yang masih
kebingungan dalam transaksi dengan dua
mata uang yang berbeda. Stabilitas
ekonomi dan tingginya pertumbuhan
ekonomi Turki di saat itu membuat
redominasi ini berhasil diterapkan di
negara tersebut. Meskipun begitu ya,
beberapa tahun setelah sukses melakukan
redominasi ini ya, negara ini juga
akhirnya dilanda krisis ekonomi parah.
Bahkan itu semua masih berlanjut sampai
saat sekarang ini. Nah, kalau Turki bisa
dikatakan mereka berhasil tapi mereka
tetap dilanda krisis ekonomi. Ya, ini
udah beda hal lah ya. Terus negara yang
ketiga nih, Geng, ada Ukraina. Nah,
negara ini melakukan redenominasi pada
tahun 1996. Alasan Ukraina melakukan hal
itu karena hyperinflasi juga pada tahun
1990-an dan dampak pecahnya eh
negara-negara Uni Soviet. Nah,
pemerintah mereka melakukan pergantian
mata uang Ukraina yaitu Kovanets menjadi
mata uang baru yang bernama Hifnias
dengan menyederhanakan lima angka
terakhir.
Misalkan nih 100.000 ya 100.000 pada
mata uang kabo Vanage mereka diganti
menjadi satu rivias. Langkah redominasi
ini ya membuat ekonomi Ukraina menjadi
lebih stabil. Nah, mereka ini termasuk
yang berhasil, Geng. Nah, terus ada
negara selanjutnya nih, negara keempat
yang bernama Rumania. Mereka ini
melakukan redenominasi pada tahun 2005.
Hal tersebut dilakukan demi mengatasi
inflasi yang tinggi juga hyperinflasi
pada tahun 1990-an. Mata uang Rumania
yaitu Rumania Lei atau disingkat dengan
Roll diganti dengan Leu atau disingkat
dengan Ron dengan memangkas empat angka
di belakangnya. Nah, contohnya nih
10.000 lewu
dan hal ini ya atau redominasi ini
membuat nilai mata uang Rumania pada
tahun 2002 akhirnya menjadi stabil. Nah,
itu yang berhasil. Gimana tuh menurut
kalian dari negara-negara yang gua
sebutin kira-kira Indonesia masuk ke
jajaran yang berhasil enggak? Atau
justru Indonesia malah bakal gagal? Nah,
kalau bakal gagal ini artinya akan
seperti negara-negara yang akan gua
sebutkan satu persatu ini. Jadi, ini
adalah negara-negara yang gagal
menjalankan rededominasi. Ya, yang
pertama itu ada Brazil yang pertama kali
melakukannya pada tahun 1986. Namun,
Brazil gagal. Mereka menyerah. Nah, tapi
mereka mencoba kembali pada tahun 1994.
Brazil kemudian mengganti mata uangnya
dari Cruiro menjadi Cruzado. Akan
tetapi, kurs mata uangnya justru
terdepresiasi secara tajam terhadap
dolar Amerika hingga benar-benar terjun
bebas. Nah, kegagalan tersebut
disebabkan karena pemerintah Brazil itu
enggak mampu mengelola inflasi pada
waktu itu yang mencapai 500% per tahun.
Dan Presiden Nicolas Maduro ya di tengah
hyperinflasi itu kembali memangkas lima
angka nol dalam mata uang Brazil. Nah,
sebelum Maduro ada Chavez yang juga
menghapus tiga angka nol dari Bolivar
pada tahun 2008. Tapi hal itu gagal juga
untuk menjaga inflasi. Nah, semenjak itu
Brazil benar-benar dianggap gagal
pemerintahnya. Terus geng, ada negara
selanjutnya yaitu Rusia. Wah, tadi
Ukraina berhasil tapi Rusia justru gagal
nih. Di awal rededominasi ini ya, nilai
tukar kurs mata uang rubel Rusia sempat
terjun bebas. negara tersebut kurang
melakukan sosialisasi dengan masif
penggunaan mata uang baru mereka dan
penarikan bertahap mata uang lama
mereka. Nah, kondisi keuangan negara
yang sulit juga berkontribusi pada
kegagalan redominasi tersebut. Tapi yang
anehnya, politisi dan media Rusia justru
menyatakan jika rededominasi yang mereka
lakukan itu berhasil. Padahal aslinya
gagal. Terus ada negara ketiga yang
gagal nih, yaitu Korea Utara. Terjadi
pada tanggal 30 November 2009.
Pemerintah Korea Utara meredenominasi
ulang mata uang negara mereka yaitu won.
Korea Utara membatasi jumlah uang kertas
lama dan menukarkannya dengan uang
kertas baru sehingga 100 won sekarang
bisa bernilai 1 won. Tapi, Geng, Korea
Utara gagal mengeksekusi redominasi
tersebut. Kegagalan ini disebabkan
karena stok mata uang baru mereka
terbatas, enggak banyak cetakannya. Dan
saat warga hendak menggantikan uang lama
won mereka ke uang baru, stok uang
barunya malah belum dicetak. Banyak
kalangan menilai redenominasi mata uang
Korea Utara ini dilakukan di waktu yang
kurang tepat karena di saat itu sedang
dilanda krisis mereka jadinya ya
carut-marut lah. Terus yang terakhir
nih, nah ini negara yang paling viral di
saat itu ya, yaitu Zimbabwe. Negara
tersebut pernah melakukan tiga kali
redenominasi yang disebabkan hyperinlasi
yang parah. Kalau kalian ingat ya, pada
saat itu Zimbabwe bahkan sempat apa ya
di negara mereka telur harganya tuh
jutaan bahkan ratusan juta tuh. karena
saking hyper inflasinya. Nah, ini nih
pada saat-saat itu. Nah, di awalnya kurs
dolar Zimbabwe kedua adalah 250 ZWN
hingga 1 dolar Amerika. Nah, tapi ketika
inflasi melebihi 1000% itu mencapai
30.000 ZWN hingga 1 Amerika pada tahun
2007. Di tahun 2008, mata uang itu ya
didominasi kembali dengan nilai 10
miliar ZWN DO kedua ke angka 1 ZWR baru
atau dengan kata lain dolar ketiga. Nah,
pada saat itu nilai ZWN ini turun
menjadi sekitar 688 miliar per1 Amerika.
Nah, kemudian di bulan November 2008
hyperinflasi mencapai tingkat bulanan
sebesar 79,6 miliar%. Jadi pada tahun
2009 Red Dominasi ketiga memotong 12
dari nilai nominal ZWR. Nah, ingat ya di
awal tadi ada ZWN dan ini adalah ZWR.
Nah, nilai tukarnya adalah 1 triliun ZWR
untuk 1 dolar keempat baru. Ada lagi nih
muncul yang baru dari ZWN jadi ZWR
sekarang ZWL. Nah, ini adalah dolar
keempat yang baru. Nah, terakhir pada
bulan April 2009, pemerintah Zimbabwe
baru memutuskan untuk mendemonstrasikan
dolar Zimbabwe dan melegalkan beberapa
mata uang asing seperti rat Afrika
Selatan, dolar Amerika, euro, yuan Cina,
dan lain-lain. Nah, jadi itu dia geng
ya. Bagaimana kondisi negara kita
kira-kira kalau melakukan redenominasi
atau pemangkasan jumlah angka uang di
uang Indonesia. Kira-kira kita bakal
berakhir berhasil seperti negara-negara
yang di awal atau justru berakhir buruk
seperti negara-negara yang gua sebutkan
barusan? Coba deh opini kalian gimana,
Geng?
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:09 UTC
Categories
Manage