Transcript
pUKdL-tM7_g • A SOCIETY WITHOUT GOD AND RELIGION BECOME THE HAPPIEST AND SAFEST COUNTRY! HOW IS THIS POSSIBLE?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1602_pUKdL-tM7_g.txt
Kind: captions Language: id Karena pertumbuhan tersebut, jumlah orang yang tidak beragama juga meningkat persentasenya di dalam populasi umat manusia di dunia. Dari yang tadinya cuma 23% pada tahun 2010, sekarang menjadi 24% pada tahun 2020. Antara tahun 2010 sampai 2020, jumlah manusia yang tidak memiliki agama meningkat di semua wilayah di dunia. Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan kelompok beragama di hampir semua wilayah, kecuali kawasan Asia Pasifik dan Afrika subsahara. Geng, hari ini mungkin pembahasan gua cukup kontroversial ya. Eh, tapi di dalam hal ini gua pengen ingatin ke kalian dulu pembahasan ini tidak bermaksud untuk mendoktrin atau memberikan pemahaman-pemahaman yang enggak baik. Ya, di sini gua cuma pengin memberikan informasi bahwa fenomena atau kejadian ini ada terjadi dan semoga ya ada pelajaran yang bisa kita petik. dari pembahasan kali ini. Jadi, geng kemarin tuh lagi ramai banget eh ada beberapa pemberitaan yang mengatakan ada ilmuwan yang mencoba untuk meneliti negara-negara yang masyarakatnya tidak beragama. Nah, lalu timbullah sebuah statement yang cukup gila menurut gua ya, yaitu statementnya mengenai betapa bahagianya orang-orang atau masyarakat yang hidup di negara tanpa memeluk agama ini. Kok bisa? Padahal seperti yang kita tahu ya, sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia yang mana kita sedari lahir itu sudah diberikan pemahaman bahwa agama menjadi suatu landasan hidup bagi sebagian besar umat manusia. Dengan adanya agama, kita bisa memahami bagaimana cara hidup sebagai manusia yang memiliki moral dan memiliki pedoman. Bahkan di dalam agama juga ya diberikan pedoman-pedoman tentang politik dan hukum. Ya, kita bisa melihat negara-negara yang mayoritasnya Islam, mayoritasnya Kristen ya. Contohnya misalkan di Arab Saudi yang mayoritasnya Islam. Nah, di mana hukum yang berlaku di negara tersebut berdasarkan dengan hukum yang diterapkan sejak zaman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Nah, lalu ada lagi Vatikan misalkan. Nah, di sana kita tahu ya agamanya Katolik gitu. Hukum-hukum di sana ya berdasarkan dengan apa yang diajarkan di dalam agama Katolik. Intinya, Geng, semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan. Nah, kalau kalian melihat agama itu buruk, itu bukan salah agamanya, tapi karena orangnya, umatnya, gitu kan. Gue juga udah menjelaskan berulang kali jika kita akan cenderung menemukan orang-orang yang beragama tapi ternyata melakukan kejahatan karena agama tersebut menjadi mayoritas di sebuah negara. Contoh di Indonesia kalian akan menemukan orang jahatnya banyak banget, orang baiknya banyak banget yang beragama Islam. Kenapa? Karena mayoritasnya Islam. Kalau kalian ke Brazil, kalian akan menemukan orang jahat yang banyak banget tentunya orang baik yang banyak banget. Namun dari agama Kristen. Begitu juga kalau kalian ke India, mayoritasnya akan didominasi oleh masyarakat beragama Hindu. Itu semua berdasarkan dari mayoritas pemeluk agama di sebuah negara tersebut. Bukan berarti karena agamanya yang salah, Geng. Nah, terus, Geng. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir, mulai banyak nih orang-orang yang memilih untuk tidak beragama. Bahkan mereka memilih untuk tidak percaya dengan Tuhan. yang selama ini kita kira negara-negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi pasti bakal damai, tentram, aman, tapi justru salah, Geng. Karena ternyata ada yang meneliti kalau mayoritas negara yang masyarakatnya tidak beragama malah dikatakan lebih damai dan tingkat kejahatannya jauh lebih rendah. Emang benar kayak gitu? Nah, jadi ini datang dari penelitian seorang profesor yang bernama Pil Zuckerman yang membuat sebuah buku yang berjudul Society Without God atau yang artinya Masyarakat Tanpa Tuhan. Nah, kira-kira apa nih isi bukunya? Apa yang Zakerman ini temukan dalam penelitiannya tersebut? Dan negara-negara mana saja yang dimaksud mayoritas warganya ateis, tidak beragama, tidak bertuhan, dan dianggap lebih sejahtera dan bahagia dibandingkan negara-negara yang masyarakatnya memeluk agama. Nah, sekarang kita bakal bahas secara lengkap dan semoga bisa ada pelajaran yang bisa kita ambil nih dari pembahasan ini. Jadi, bukan berarti di dalam pembahasan ini kalian tiba-tiba ucuk-ucuk ah milih untuk enggak beragama. Ah, jangan begitu. Tapi kita ambil positifnya. Bisa jadi yang membuat mereka sejahtera bukan karena mereka tidak beragama. Bisa jadi ada kebiasaan-kebiasaan yang positif yang mereka terapkan dan hal negatifnya yang mereka buang. Ya kan? Nah, itu yang patut kita contoh. Oke, kalian harus dengar pembahasan ini sampai selesai. Langsung aja kita bahas. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry Gengging. Sebelum kita bahas soal penelitian negara-negara yang masyarakatnya tanpa agama, sepertinya ada baiknya kita bahas sosok dari si peneliti tersebut, yaitu Pil Zakerman. supaya kalian bisa menilai apakah penelitian dia ini valid ataukah dia cuma melakukan kampanye hitam untuk membuat orang-orang yang beragama jadi tidak beragama. Nah, coba deh kalian nilai dulu ya sosoknya Pil Zakerman ini. Nama lengkapnya adalah Pil Josep Zakerman. Dia adalah seorang profesor sosiologi di Pizzer College Claire Moon, California. Zakerman ini lahir pada tanggal 26 Juni tahun 1969 dan tumbuh besar di Pacific Palis e California. Dia pernah berkuliah di Santa Monica College sebelum akhirnya pindah ke University of Oregon, tempat di mana dia meraih gelar BA pada tahun 1992 dan MA di tahun 1995 serta PhD tahun 1998 di dalam bidang sosiologi. Nah, jadi memang ahli sosiologi nih. Zakerman ini merupakan ketua pendiri program studi sekularisme pertama di California, Geng. Saat program tersebut diperkenalkan, Institut Studi Sekularisme dalam Masyarakat dan Kebudayaan dari Trinity College itu menyebutkan bahwa program ini adalah program pertama yang menawarkan gelar khusus di dalam studi sekoler. Program tersebut memungkinkan mahasiswa untuk mengambil jurusan studi sekuler dan termasuk dengan mata kuliah utama yaitu sosiologi kesekuleran. Nah, selain itu Zaker Meneni juga menjabat sebagai direktur eksekutif Humanis Global Charity, yaitu sebuah organisasi yang bekerja menciptakan dunia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menghormati sains, mendukung pendidikan sekular, serta memajukan kebaikan, perdamaian, serta demokrasi. Dia ini menulis banyak buku terkenal, Geng. seperti the nonreligious, terus ada living the school life, terus ada faith no more, society without God, invitation to the sociology of religion, terus ada lagi, Unstrive in the sanctuary. Dua di antara buku-buku tersebut yaitu Society Without God, terus ada Fight No More membuat dia meraih penghargaan buku perak dari Forward Magazine. Kalau kita lihat dari buku-bukunya kayaknya sering banget dia ngebahas soal e apa ya kehidupan tanpa Tuhan ya. Dua buku yang meraih penghargaan bahkan kalian bisa lihat ya pembahasannya adalah kehidupan tanpa Tuhan, tanpa agama. Karya-karyanya ini sudah diterjemahkan ke enam bahasa termasuk bahasa Persia, Korea, dan Turki. Nah, Zakerman ini adalah salah satu tokoh yang sering dibicarakan ketika kita membahas kehidupan tanpa agama, Geng. Karena memang dia meneliti di bidang itu. Dia meneliti bagaimana orang bisa hidup dengan baik, bahagia, dan bermoral meskipun tidak memeluk agama. Yang membuat Zakarman ini berbeda adalah dengan cara dia membuktikan semua itu melalui penelitian secara langsung. Dia terjun ke lapangan bukan dari sebuah teori yang dia pikirkan di dalam otaknya. Enggak. Dia menjalani kehidupan itu. Dia datang ke negara-negara yang tidak bertuhan dan dia melihat sendiri bagaimana bahagianya mereka. Nah, pandangannya dia pun cukup berani, Geng, menurut gua. Karena dia juga mengkritik sisi negatif agama seperti munculnya intoleransi dan konflik. Tapi Zakerman ini menyatakan dia tidak berarti menyuruh orang untuk menolak agama atau bahkan lebih ekstrem dari itu. Dia cuma ingin menunjukkan bahwa agama bukan satu-satunya jalan menuju kehidupan yang baik. Jadi dia tuh kayak enggak masalahlah kalau orang itu mau beragama, kalau orang tidak ada agama, orang tidak percaya Tuhan tapi percaya agama atau justru percaya agama tidak percaya Tuhan, dia enggak masalah dengan hal itu. Tapi tujuan dia melakukan penelitian dan membuat buku itu adalah menunjukkan ke orang-orang bahwa yang beragama itu jangan merasa kalau yang tidak beragama tidak akan sebahagia mereka. Dan juga sebaliknya yang tidak beragama jangan merasa yang beragama itu tidak akan bahagia seperti mereka juga. Nah, jadi kayak dia ingin menunjukkan sebenarnya ada porsi masing-masing. Namun yang dia temukan ternyata banyak juga masyarakat yang tidak beragama ternyata tetap bahagia hidup di dunia. Pandangan ini jelas berbeda banget, Geng, dari beberapa pemikiran. Contohnya kayak Peter Burger. Burger ini berpendapat bahwa meskipun dunia semakin modern, agama tetap bertahan dan masih penting bagi banyak orang. Selain itu ada lagi Charles Taylor. Charles Tayyor ini dia adalah orang yang menganggap kalau agama akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia, hanya saja bentuknya berubah dan semakin personal gitu. Lain hal dengan Zuckerman ini, Geng, dia lebih fokus ya menunjukkan sisi positif dari masyarakat sekoler dan tetap yakin bahwa hidup tanpa agama bisa memberikan dampak yang baik. Nah, jika mendengar penjelasan yang gua katakan tadi, apakah kalian berasumsi jika Zakerman ini sebenarnya memang membenci agama dan dia pengin membuktikan kalau agama itu tidak ada gunanya untuk kehidupan ee manusia. Nah, bahkan dia mungkin punya campaign ingin menghapus keberadaan agama di muka bumi ini. Menurut kalian gimana tuh, Geng? Nah, kalau kalian menganggap Zakerman ini benci dengan agama dan ingin agama itu hilang di muka bumi ini, nah, ternyata salah, Geng. Ya, justru ya Zakerman ini berbeda dengan beberapa penulis ateus yang terkenal. Dia bukan orang yang ingin agama dihapus. Zakerman ini justru mengakui bahwa agama bisa memberikan bantuan dan kenyamanan bagi banyak orang. Dan karena itulah agama masih punya fungsi penting di dalam atau di tengah-tengah masyarakat. Tapi geng, pandangan pribadinya dia sendiri berasal dari sikap sekuler yang merasakan kekaguman pada keindahan dan kerumitan hidup serta alam semesta tanpa harus menghubung-hubungkan apapun yang ada di bumi ini dengan Tuhan atau agama. Jadi, ibaratnya gini, dia tuh pengin ngasih tahu orang gitu ya, kalau lu pengin ee hidup lu bahagia, jangan apa-apa dikaitkan dengan agama. Ya, misalkan nih ee kita berada di hutan yang indah banget dengan kicauan burung yang indah banget juga. Si Zakermen ini beranggap kalau itu adalah ya semesta alam. Alam yang indah. Semuanya indah ya karena alam, bukan karena Tuhan, bukan karena agama. Jadi dia penginnya kalau lu mau nyembah Tuhan, kalau lu mau beragama, ya udah ibadah aja. Tapi jangan semua hal dikaitkan dengan Tuhan. Itu tuh keinginan Dia. Menurut gua masih aneh sih. Padahal kan konsepnya kita percaya Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan segala keindahan yang ada di muka bumi ini ya hadir karena ciptaan Tuhan. Nah, justru dia ingin memisahkan hal itu, Geng. Nah, itu apa ya? Enggak nyampe pikiran kita mungkin ya dengan pemahamannya dia. Dia sendiri bahkan tidak terlalu suka menggunakan istilah sekularis, ateis atau agnostik untuk menyebut dirinya dia. Zakerman lebih suka menyebut dirinya itu sebagai Aweis atau bacanya tuh ewis ya. yaitu seseorang yang hidup dengan rasa kagum terhadap kehidupan itu sendiri tanpa menghubung-hubungkan siapa yang menciptakan ini. Karena siapa, penyebabnya apa. Karena menurut dia semua hal yang indah, semua hal yang terjadi itu punya porsi dan tercipta sendiri tanpa adanya pencipta. Tuh, konsep yang aneh banget menurut gua. Jadi, kurang lebih begitu ya, Geng. Bagaimana background dari Zakerman ini? Nah, sekarang gua tertarik banget nih untuk ngajak kalian membahas inti dari video ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Zakerman yang kemudian dijadikan buku yang berjudul Society Without God yang artinya Masyarakat Tanpa Tuhan. Apa isi buku tersebut? Sekarang kita bakal masuk ke dalam penjelasannya. Untuk membuat buku ini ya, Zakerman ini harus pergi ke Denmark dan Swedia selama 14 bulan untuk melakukan riset dengan mewawancarai masyarakat yang ada di sana. Nah, perlu kalian ketahui geng, kedua negara ini adalah negara yang sering dianggap sebagai puncak dari peradaban modern. Bukan negara dengan teknologi maju seperti Jepang atau negara yang mendominasi perpolitikan serta ekonomi seperti Amerika. Dalam banyak laporan seperti dari World Happiness Report dan Human Development Index, kedua negara tadi itu hampir selalu menempati peringkat teratas negara terbahagia. sistem kesejahteraan sosial yang adil, tingkat kejahatan yang rendah, serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang merata menjadikan Denmark dan Swedia sebagai surga yang ada di muka bumi. Nah, namun geng hal yang menarik dan sering menjadi perdebatan jika berbicara mengenai dua negara tersebut adalah bagaimana keberhasilan itu bisa diraih dengan kondisi masyarakat di sana yang mayoritas tidak beragama. Jadi, orang-orang di sana itu enggak memeluk agama, Geng. Di Denmark dan Swedia, kereligiusan sudah lama memudar. Survei yang dilakukan oleh PE Research Center pada tahun 2017 itu menunjukkan bahwa kurang dari 20% populasi di kedua negara ini merasa agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Jadi menurut mereka hidup mereka itu enggak butuh agama. Ya, kalau kalian ke Swedia, ke Denmark, mereka masyarakatnya merasa apa yang terjadi di dalam hidup mereka bukan diarahkan oleh agama. Gereja-gereja yang dulunya menjadi pusat komunitas di sana saat ini lebih sering difungsikan untuk kegiatan budaya dan pernikahan aja. Jadi kayak ya kegiatan agama mereka yang mungkin paling sering mereka lakukan adalah pernikahan. Di luar itu kayak perayaan hari Natal mungkin. Setelah itu mereka enggak pernah ibadah. Jadi udah kayak formalitas aja adanya gereja. adanya tempat ibadah. Zakermin ini ingin melihat dan mengetahui secara langsung apakah benar yang terjadi di Denmark dan Swedia seperti itu. Di mana masyarakatnya memang tidak percaya kepada Tuhan, tapi bisa menciptakan lingkungan yang baik. Di dalam bukunya, Zakerman ini menyebutkan jika masyarakat di negara Skandinavia bukan tidak beragama, Geng. Cuma mereka itu tidak bertuhan. Mereka tidak percaya dengan konsep-konsep transcendent, yaitu konsep tentang sesuatu yang berada di luar batas pengalaman atau kemampuan manusia seperti Tuhan. Jadi, mereka itu lebih kepada orang yang logis gitu loh, Geng. Kayak Tuhan itu ada tapi kok enggak terlihat gitu. Nah, itu yang mereka pikirkan. Mereka tuh cuma percaya dengan apa yang bisa dilihat, bisa disentuh aja yang gaib. Dan di luar pemikiran, di luar batas kemampuan manusia mereka enggak percaya. Nah, dari beberapa orang yang diwawancarai oleh Zakerman di sana, mereka hanya percaya hal tersebut di ruang-ruang privat aja. Jadi, enggak bisa dibahas ee untuk kepercayaan bareng-bareng atau dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Tapi kayak kehidupan masing-masing tidak dipublikasikan. Ya, kepercayaan mereka di rumah aja, di luar mereka enggak bisa membawa hal itu. Jadi kalau mereka percaya dengan Tuhan ya mereka bahas itu di rumah mereka aja. di luar mereka adalah orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya agama. Kurang lebih kayak gitu. Jika ada yang percaya terhadap konsep transcenden tadi dan dipublikasikan, malah mereka ditertawakan oleh orang-orang. Jadi kayak orang aneh gitu, Geng. Kalau di negara kita kan beda ya. Di negara kita kalau kita melihat orang yang enggak percaya Tuhan, orang yang menjadi seorang ateis, agnostik, justru itu orang yang bakal ditertawakan atau itu orang-orang yang bakal dicemoo. Oh kayak, "Ih, kafir, ih gak beragama. Ih, apaan tuh? Setan ya kan? Pasti kayak gitu. Nah, tapi kalau di sana beda. Justru yang terlihat religius, beragama, terlalu fanatik misalkan membawa-bawa hal agama yang mereka anggap privacy tadi ke publik itu akan ditetwakan kayak ya apa sih lu? Hidup lu beragama banget gitu. Nah, itu perbedaan negara mereka. Nah, orang-orang di Skandinavia itu mempercayai agama sebagai bentuk produk budaya aja. Namun di sisi lain mereka tetap ke gereja membaptis anak-anak mereka dan merayakan hari Natal. Nah, itu sudah menjadi budaya atau kebiasaan. Bukan lagi dianggap sebagai ritual yang sakral. Lebih kayak adat aja istilahnya. Itu semacam seremonial aja kayak pesta rakyat. Tidak ada ikatan secara spiritual terhadap Tuhan lagi. Apa yang mereka lakukan tadi? Baptis Natal itu enggak ada enggak ada hubungannya sama Tuhan. Bagi mereka konsep ketuhanan itu adalah hal yang tidak masuk akal. Mereka enggak menyalahkan praktik-praktik kebudayaan dari satu agama, tapi mereka tidak percaya kalau itu ada makna spiritualitasnya. Nah, di sisi lain mereka juga enggak mau disebut sebagai ateis karena bagi mereka istilah tersebut terkesan negatif. Tapi mereka tuh enggak pengin dianggap apa-apa lah kayak ya udah sih di dunia kita, di dunia kami, di negara kami gitu kan. Kami enggak mau kalian membahas apa agama kami. Kayak gitulah kurang lebih. Di antara banyaknya orang-orang yang diwawancarai oleh Zakerman tadi ya untuk penelitian bukunya ada dua orang Denmark yang merupakan pasangan suami istri yang bernama Ekni usianya 60 tahun dan Akta yang berusia 67 tahun. Mereka ini tinggal di desa kecil yang terletak di pesisir timur Jatlandia dan mereka sudah menikah selama 43 tahun. Dari pernikahan mereka dan Akta ini dikaruniai dua orang anak yang sudah dewasa. anak perempuannya sudah bekerja sebagai sekretaris dan seorang anak laki-laki yang sudah merantau ke Thailand. Dan Akta ini rutin hadir ke gereja dan mungkin lebih rutin dibandingkan kebanyakan masyarakat Denmark pada umumnya. Yang mana masyarakat Denmark itu datang ke gereja kayak sebulan sekali doang. Nah, tapi ya Zakerman ini tanya nih kepada si suami istri ini apakah mereka percaya pada Tuhan? Nah, Ekne ini menjawab jika dia tidak terlalu percaya sebenarnya. Kemudian Zakerman ini bertanya lagi, "Jika tidak percaya dengan Tuhan, terus ngapain ke gereja? Ibadah ngapain?" Nah, mereka menjawab nih kalau mereka rutin ke gereja merupakan bagian dari tradisi, budaya yang menyenangkan, kumpul-kumpul, happy-happy, ya kayak orang lagi nongkrong aja gitu. Kapan lagi kita bisa ngumpul-ngumpul, kapan lagi kita bisa bincang-bincang. Mungkin kalau di Indonesia kebiasaannya ngumpul di warung kopi, nah di sana itu jadinya di gereja. Nah, Zakerman ini nanya lagi. Tapi kali ini ee dia nanya tentang kematian. Dia tanya ke mereka nih, "Kira-kira apa yang terjadi pada kalian atau kitalah umat manusia setelah mati?" Nah, si akta ya suaminya itu merespon dengan gestur ya. Dia seolah-olah mengisyaratkan jika kehidupan setelah mati itu seperti yang diajarkan oleh agama itu semuanya omong kosong menurut dia. Bagi dia, jika seseorang yang sudah mati ya hidupnya sudah selesai, enggak ada lagi setelah itu. Nah, jasadnya dikubur dan tidak ada lagi yang terjadi. Itulah yang mereka percaya. Mereka pun tidak mempercayai adanya surga dan neraka. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Zakerman ini dengan santai banget. Seolah ini adalah hal yang normal untuk mereka karena tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian dan tidak percaya dengan hari akhir Tuhan. Mereka enggak percaya. Dan jawaban seperti ini enggak hanya diutarakan oleh pasangan suami istri yang bernama Akne dan Akta ini aja, Geng. Di saat Zakerman mewawancarai warga Denmark yang lain, mereka ternyata akan menjawab dengan jawaban yang sama. Enggak ada yang percaya dengan Tuhan, enggak ada yang percaya dengan kehidupan setelah kematian. Mereka menjawab bahwa kalau sudah mati ya sudah. Kayak gitu. Selain itu, Zakerman juga mewawancarai orang Swedia yang salah satunya adalah bernama Tina. Dia ini adalah insinyur kimia yang umurnya 39 tahun dari kota Stockholm. Dia menanyakan hal yang sama nih ke si Tina ini. Tina ini merespon pertanyaan dari Zakerman kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi dijawab itu sambil tertawa kecil gitu loh. Tina sendiri tidak punya jawaban spesifik untuk menjawab pertanyaan itu. Dia menilai manusia tidak perlu mengkhawatirkan atau memikirkan apakah sebenarnya ada kehidupan setelah kematian atau tidak dan juga tidak perlu memikirkan Tuhan itu ada atau tidak. Dina ini melanjutkan dia bilang kalau Tuhan itu ada dan kehidupan setelah kematian itu memang ada, toh kita akan mengetahuinya nanti. Jadi enggak usah lu pikirin sekarang kata dia gitu. Tapi kalau misalkan semua itu enggak ada, gimana? Jadi itu bukanlah sebuah masalah yang sampai harus dipikirkan dan dikhawatirkan kata dia. Nah, justru dia bilang kita harus fokus pada kehidupan kita saat ini dan bagaimana cara kita berelasi ee berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain. Nah, intinya orang-orang di sana itu apa ya? Kayak bisa dibilang tuh 100% duniawi gitu. Apa yang terjadi di dunia ya udah jalanin aja, enggak perlu mikirin akhirat. Itu yang mereka pikirkan. Nah, dan di dalam buku Society Without God milik Zakerman ini, Zakerman juga menemukan bahwa orang-orang di Denmark dan Swedia yang dikatakan dua negara ini tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakatnya paling tinggi di puncak di muka bumi ini. Ngelewatin semua negara yang lain. Dia bilang kalau warga di sana tidak takut mati, tidak merasa berdosa, tidak ada yang mencari makna kehidupan dari agama, atau tidak ada yang ee mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Enggak ada. Mereka hanya menjalani kehidupan di muka bumi dan mereka punya keluarga, teman, pekerjaan dan menjadi pribadi yang hangat dan baik. Dan tingkat stres di negara tersebut sangat rendah. Terus, Geng, yang jadi pertanyaannya, apakah dengan tidak beragamanya orang-orang di Denmark dan Swedia disebabkan karena propaganda pemerintahnya seperti yang terjadi di China atau Korea Utara gitu. Nah, tapi ternyata enggak, Geng. Memang pada dasarnya orang-orang di sana yang memang perlahan-lahan mulai berhenti menggantungkan hidup mereka terhadap kepercayaan ee tentang adanya Tuhan. Agama bagi mereka bukan lawan. Mereka tidak memusuhi agama, tapi juga bukan jawaban dari segala permasalahan hidup mereka. Jadi mereka itu yang ibaratnya kalau lagi kena masalah tidak ada tuh yang kayak berdoa ke Tuhan, tolong bantu mereka. Enggak. Mereka lebih ke logisnya aja. Kalau lu punya masalah lu selesaikan sendiri. Tidak perlu dengan doa. Hanya ada usaha. Di sisi lain, mereka menggunakan prinsip yang berlandaskan pada etika dan empati, pendidikan, dan keadilan sosial yang bukan berasal dari rasa takut terhadap neraka. Jadi, ketika mereka berbuat baik, mereka tidak berharapkan surga. Ketika mereka berbuat jahat, mereka tidak akan takut pada neraka. Kurang lebih kayak gitu. Jadi, enggak ada alasan perbuatan mereka itu untuk tujuan hari akhir. Dan buku Society of God ini sendiri dibuat oleh Zakerman bukan sebagai serangan terhadap agama atau masyarakat beragama. Dia sama sekali tidak menyerang siapapun. Dia hanya memberikan informasi. Dan ini adalah sebuah bentuk refleksi untuk masyarakat di muka bumi ini, terutama yang beragama. Dan mempertanyakan apakah kebaikan yang selama ini dilakukan hanya bisa tercipta karena takut pada pertanggungjawaban di kehidupan setelah mati. Ya, ibarat lagunya Kris gitu, Geng. Jika surga dan neraka tak pernah ada, kira-kira gimana? Masih bersujud enggak sama Tuhan? Nah, kayak gitulah kurang lebih. Nah, jadi Zakerman ini membuat penelitian itu adalah sebuah eh jawaban atau sudut pandang lain terhadap orang-orang yang tidak percaya dengan konsep yang dibuat oleh agama. Nah, justru di dalam buku ini ya membuat para pembacanya atau manusia-manusia jadi berpikir bagaimana menjalani hidup yang baik bukan perihal siapa yang disembah dan dijadikan Tuhan, tapi bagaimana cara memperlakukan manusia lain tanpa paksaan dan tuntutan dari agama dengan janji akan masuk surga. yang ibaratnya nih berbuat baik ya karena memang baik bukan berharap dapat pahala atau dapat surga itu maksudnya. Dan Zakerman ini justru secara tidak langsung seperti menantang setiap umat manusia kalau masyarakat yang tidak mempercayai Tuhan aja bisa hidup lebih damai seperti di Denmark dan Swedia. Nah, apakah selama ini orang-orang atau masyarakat yang paham dengan agama, memiliki pedoman agama, bisa memahami soal moralitas, bisa hidup dengan damai, atau selama ini yang dipikirkan oleh orang-orang beragama itu justru hal-hal yang sesuai dengan peraturan dari agama yang dianut aja. Jadi, tidak benar-benar bertujuan ingin berbuat baik lebih kepada takut dengan dosa-dosa yang disebutkan di dalam konsep agama. Nah, itu tujuannya si Zakerman ini. Nah, terus geng kritik terhadap orang yang beragama juga pernah dikatakan oleh Carl Marx, ya, pencetus dari komunisme yang mana lewat sebuah kalimat yang sangat terkenal dia bilang agama adalah candu. Nah, ini maksudnya adalah agama itu membuat orang-orang jadi ketergantungan. Semua hal yang dijalani tergantung pada agama. Yaitu misalkan nih mau berbuat baik. Oh, tujuannya supaya dapat pahala. menghindari perbuatan jahat. Oh, supaya tidak masuk neraka. Nah, itulah yang dianggap oleh Karmax sebagai candu dan apapun yang dijalani itu harus berdasarkan agama. Nah, terus geng hal ini ternyata enggak cuma keluar dari mulut Carl Marx doang. Ada pemikiran dari aliran kiri yang berasal dari Indonesia yaitu almarhum Tanmalaka yang mana dia ini juga menyebutkan kalau agama sering sekali menjadi hiburan bagi orang miskin agar tidak memberontak. Sementara keuntungan bisa dinikmati oleh orang kaya. Nah, itu kata-kata dari Tanaka. Nah, tentu aja Geng, tidak banyak orang yang setuju dengan pemikiran itu, termasuk dengan pemikiran Zakerman tadi. Nah, namun itu tergantung masing-masing ya, Geng. Dan nanti kita bakal bahaslah soal itu. Tapi sekarang gua bakal mengajak kalian untuk melihat tren orang-orang yang tidak beragama yang semakin meningkat di banyak negara. Negara-negara mana aja nih yang sekarang masyarakatnya memilih untuk tidak beragama? Kita bahas penduduk yang tidak berafiliasi dengan agama atau yang disebut dengan nons ya, yang berarti tidak beragama ini merupakan kelompok terbesar ketiga di dunia setelah pemeluk agama Kristen dan Islam. Kelompok ini mencakup orang-orang yang dalam survei atau sensus menyatakan tidak memiliki agama atau mengidentifikasikan diri mereka sebagai ateis maupun agnostik. Nah, antara tahun 2010 sampai 2020, jumlah orang yang tidak beragama itu meningkat lebih cepat dibandingkan dengan kelompok agama lain, kecuali Islam nih ya. Pada tahun 2020, Geng, kelompok tidak beragama sudah menjadi mayoritas penduduk di 10 negara dan wilayah meningkat dari hanya tujuh negara di 10 tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang tidak beragama sebenarnya bukan berasal dari lingkungan yang tidak beragama awalnya, melainkan mereka dibesarkan di dalam lingkungan yang beragama. Orang tua mereka ada agama. Dari kecil mereka diajarkan beragama dan kemudian ketika mereka dewasa, mereka memilih untuk tidak beragama. Mereka menemukan jalan untuk tidak percaya terhadap Tuhan. Pola ini biasanya bisa kita temui di negara-negara Eropa, Amerika Utara, Australia, dan juga Selandia Baru. Di mana banyak orang yang dibesarkan sebagai ee umat Kristen tapi di saat ini mengakui tidak mau lagi menganut agama Kristen. Itu banyak banget. Di seluruh dunia, jumlah orang yang menyatakan tidak memiliki agama meningkat sebesar 17% dari sekitar 1,6 miliar pada tahun 2010 menjadi 1,9 miliar pada tahun 2020. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan kenaikan 11% pada kelompok masyarakat yang memiliki agama. Karena pertumbuhan tersebut jumlah orang yang tidak beragama juga meningkat persentasenya di dalam populasi umat manusia di dunia. Dari yang tadinya cuma 23% pada tahun 2010, sekarang menjadi 24% pada tahun 2020. Antara tahun 2010 sampai 2020, jumlah manusia yang tidak memiliki agama meningkat di semua wilayah di dunia. Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan kelompok beragama di hampir semua wilayah, kecuali kawasan Asia Pasifik dan Afrika subsahara. Di mana kelompok beragama di sana justru tumbuh lebih cepat. Nah, di Amerika Utara jumlah orang yang tidak berafiliasi dengan agama hampir dua kali lipat yaitu menjadi 114 juta orang. Naik 92% antara tahun 2010 dan 2020. Di wilayah Amerika Latin dan Karibia, jumlah mereka juga meningkat menjadi 77 juta orang, naik ke angka 67%. Di periode yang sama, jumlah orang tanpa agama juga bertambah menjadi 1,5 miliar di kawasan Asia Pasifik dan 29 juta di wilayah Afrika subsahara. Cuma, Geng, kenaikan di kedua wilayah ini hanya sekitar 10%, sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan kelompok yang memiliki agama. Persentase penduduk tanpa agama itu meningkat paling banyak tuh di Amerika Utara, Geng. di mana pada tahun 2020 mereka itu mencapai e 30% dari total penduduk naik 13 poin. Di Eropa, kelompok ini juga naik menjadi 25% dari populasi atau naik 7 poin. Nah, diikuti oleh Amerika Latin dan Caribia yang mencapai 12% atau naik 4 poin. Nah, sementara itu, Geng, persentase orang tanpa agama justru sedikit menurun di kawasan Asia Pasifik yaitu turun sebesar 0,2 poin dan di Afrika subsahara yang turun 0,5 poin. di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara persentase ini tidak mengalami perubahan. Jadi orang-orang di Timur Tengah, di Afrika Utara mereka tuh masih stabil lah dengan mempercayai agama. Nah, di tahun 2020 ya sebagian besar orang yang tidak memiliki agama yang tinggal di kawasan Asia Pasifik itu adalah di Cina sana. Di sana tuh makin banyak orang yang menjadi ateis dan tidak mau beragama. Nah, penurunan jumlah ini ya terjadi bersamaan dengan kenaikan jumlah orang tanpa agama di Amerika Utara dan juga di Eropa serta Amerika Latin dan Karibia. Saat ini Eropa menjadi ee tempat tinggal untuk sekitar 10% dari seluruh kelompok nons di dunia yang kemudian disusul oleh Amerika Utara sebanyak 6% dan wilayah Amerika Latin Karibia sebesar 4%, Geng. Nah, kurang lebih ya sebanyak itulah, Geng, ya. Negara-negara yang masyarakatnya sekarang sudah mulai meninggalkan agama. Nah, kalau tadi Zuckerman ya meneliti di Denmark dan Swedia sebenarnya ada lagi negara yang warganya banyak yang ateis. Salah satunya itu adalah Republik Ceko. It's more of a tradition in the sense that maybe in South America, Catholicism is a tradition or things like that. Um, you'll talk to them and you'll say they'll say, "Oh, I'm atheist. Like, you don't I'm not the person you're looking for." Di sana dikatakan presentasi orang ateisnya itu mencapai 78,4%. Kebayang enggak tuh? Hampir ya seluruh umat manusia yang ada di Republik Ceko enggak punya agama. Jika kalian berwisata di Ceko, kalian enggak perlu khawatir soal adanya kekerasan atau perampokan, Geng. Sebab Republik Ceko ini adalah salah satu negara dengan tingkat kejahatan yang paling rendah di dunia. Tapi kebetulan masyarakatnya enggak punya agama. Selanjutnya ada Jepang dengan populasi orang yang tidak beragama atau ateis mencapai 60,2%. Gila, rame banget. Setengah negaranya lebih malah. Nah, gua enggak usahlah ya jelasin panjang lebar soal majunya Jepang tuh kayak gimana. Angka kejahatan di sana juga dikenal sangat rendah. Meskipun ada, tapi aksi kriminalitas di sana tuh jarang banget terjadi. Sekalinya terjadi itu dilakukan oleh para pendatang. Entah itu dari India, entah itu dari negara kita Indonesia dan mungkin dari negara-negara lain lagi. Kalau masyarakat Jepangnya sendiri justru damai banget. Selain itu, Jepang juga merupakan negara kaya dan menjadi kekuatan ekonomi ketiga terbesar di dunia. Gila ya. Terus kemudian ada lagi negara Belanda yang populasi ateisnya mencapai 44,3% hampir mencapai setengah penduduk di sana. dari negara-negara tersebut tadi ya memang secara fakta dan data lebih rendah tingkat kriminal mereka dibandingkan dengan negara-negara yang memeluk agama seperti Timur Tengah, daerah-daerah Brazil yang mayoritasnya Kristen, ee daerah-daerah Colombia yang mayoritasnya Kristen tapi justru banyak kartelnya. Nah, makanya tuh aneh banget. Semakin masyarakatnya beragama kok kayaknya problemnya gede-gede banget di itu negara ya kan. Nah, terus geng setelah gua membahas mengenai negara-negara yang saat ini meningkat populasi orang ateis atau tidak beragamanya, ya sekarang mungkin kita bakal bahas nih mengenai kritikan-kritikan atas buku Society Without God karya Phil Zakerman ini. Karena kan enggak mungkin semua orang bakal suka dengan buku itu karena dianggap terlalu menjerumuskan, karena dianggap terlalu mendoktrin gitu ya. Nah, sekarang kita bahas soal kritiknya. Apa sih yang dikritik oleh orang-orang? Di dalam buku milik Zakerman tersebut, Zakerman ini secara tidak langsung menyatakan dukungannya dia terhadap pandangan dari orang-orang Denmark dan Swedia yang menganggap jika agama bukanlah suatu hal yang penting. Menurut Zakerman, negara-negara yang paling tidak religius adalah negara yang paling makmur dan stabil. Dia menuliskan di dalam bahasa Indonesia, ya nih gua artiin banyak negara yang religius dan taat justru merupakan negara paling berbahaya dan miskin katanya. Sebaliknya, rendahnya kepercayaan terhadap Tuhan tidak membuat masyarakat hancur. Faktanya, negara demokratis yang paling tidak religius justru yang paling sejahtera dan sukses. Cuma, Geng ya pernyataan tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya nih. Karena perbandingan yang Zakarman buat itu enggak setara. Agama yang dianut oleh masyarakat di dalam jumlah besar di berbagai negara. Sedangkan negara yang masyarakatnya tidak beragama itu jumlahnya jauh lebih sedikit. Karena ketidakseimbangan inilah kesimpulan bahwa negara religius lebih miskin bisa terlihat ee lebih menonjol. Bukan agama yang menjadi penyebab miskinnya sebuah negara ya. Karena memang jumlah negara dengan mayoritas penduduk religiusnya lebih banyak. Paham enggak sih kayak lu kalau mau ngomongin oh negara beragama itu miskin-miskin lah Dubai lah Arab gimana tuh? Uni Emirat Arab beragama tuh ya kan? Kuwait beragama tuh. Qatar beragama kaya juga. Tapi apakah ada penganut agama Islam yang negaranya tidak kaya, miskin, bahkan perang terus? Ada Irak contohnya, Iran contohnya, Palestina contohnya. Ya kan walaupun negaranya enggak mayoritas Islam tapi sejahtera, perang. Iya. Islamnya banyak. Penganut agama kan kita ngomongnya tuh penganut agama nih. Ya. Itu dia negara kita Indonesia penganut agamanya mayoritas Islam sejahteraah ya nilai sendiri. Sementara negara-negara yang tidak beragama kan jumlahnya sedikit ya. Salah satu kita ambil contoh nih, negara yang tidak beragama ya, yang mayoritas masyarakatnya tidak diketahuilah agamanya. Korea Utara apakah sejahtera? Belum tentu gitu. Nah, tapi memang kebanyakan ditemukan negara-negara yang sejahtera karena masyarakatnya tidak beragama itu terkesan banyak. Karena kenapa? Ya, karena jumlah negara dengan masyarakat yang tidak beragama itu sedikit jumlah negaranya gitu, Geng. Nah, terus geng selain itu ya pernyataan dari Zuckerman yang menyebutkan bahwa negara yang tidak religius adalah negara yang paling sejahtera ya juga tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Misalnya nih Swedia memang dikenal sebagai negara yang aman dan makmur, tapi saat ini kejahatan di Swedia lagi meningkat-meningkatnya, Geng. Data menunjukkan bahwa kasus penghilangan nyawa itu naik dari 68 kasus di tahun 2012 menjadi 116 kasus pada tahun 2022. Jumlah penembakan juga meningkat dari 324 kasus pada tahun 2017 menjadi 391 kasus pada tahun 2022. Nah, tren serupa terjadi pada kasus kekerasan seksual yang meningkat lebih dari 15.000 laporan pada tahun 2012 menjadi hampir 24.000 laporan pada tahun 2022. Kasus ruda paksa juga naik nih dari 6.300 kasus pada tahun 2012 menjadi 9.400 kasus pada tahun 2022. Dengan begitu klaim Zakerman yang mengatakan rendahnya religiusitas otomatis membawa kesejahteraan yaitu enggak bisa dianggap sepenuhnya benar mutlak gitu ya. Karena setiap negara memiliki kondisi sosial, budaya, dan permasalahan masing-masing ya. Kalau misalkan sekarang kita bisa melihat ee Swedia dan Denmark sejahtera, bukan berarti mereka bakal sejahtera selamanya. Ada fasenya atau ada masanya mereka bakal mengalami hal-hal buruk juga. Contohnya kayak sekarang, kejahatan sedang meningkat. Terus di Denmark sendiri, Geng, pernah ada seorang warga yang bernama Majid Esam yang mengalami diskriminasi. Meskipun dia sudah tinggal di Denmark selama 24 tahun, tapi dia masih belum bisa mendapatkan status kewarganegaraan. Dan hal ini menurut dia adalah unsur rasisme. Nah, di Denmark orang non kulit putih dianggap merugikan dan termasuk ke dalam kelompok rentan. Misalnya orang yang berkulit gelap kayak orang Afrika itu bakal lebih sering dihentikan dan diperiksa oleh polisi dibandingkan orang-orang kulit putih, orang-orang bule. Masalah rasisme tersebut semakin disorot setelah kematian George Floyd, seorang pria kulit putih hitam di Amerika Serikat yang meninggal karena dianiaya polisi yang menjadi pemicu protes besar-besaran di berbagai negara, termasuk di Eropa. Nah, selain itu orang yang memiliki nama Arab juga lebih sulit mendapatkan pekerjaan di Denmark. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Zakerman berpendapat bahwa negara dengan tingkat religiusitas rendah eh cenderung lebih sejahtera, kenyataan yang sebenarnya ya ternyata jauh lebih kompleks. Ada permasalahan lain. Membandingkan negara yang religius dengan negara yang tidak religius ternyata tidak bisa diukur hanya dengan menilai kesejahteraannya doang. Ada banyak faktor lain yang berpengaruh seperti kebijakan sosial, kondisi ekonomi, dan dinamika budaya. Swedia dan Denmark memang sering disebut sebagai negara maju dan aman, tapi mereka juga menghadapi masalah sosial seperti negara lain. Mau itu tentang kesulitan dalam mengurus imigran, terus diskriminasi hingga kesenjangan sosial. Nah, masalah-masalah tersebut tidak selalu berkaitan dengan agama, tapi lebih kepada kebijakan imigrasi, ketimpangan ekonomi, dan tantangan dalam masyarakat dengan kultur yang beragam. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai sebuah buku karya Phil Zakerman yang berjudul Society Withed God yang membahas mengenai negara dengan masyarakat tanpa agama yang cenderung menjadi negara maju dibandingkan dengan negara masyarakat beragama. Bagaimana, Geng, menurut kalian setelah pembahasan ini? Kalian setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zakerman. Orang enggak beragama lebih bahagia daripada orang beragama? Coba deh tinggalkan komentar di bawah.