Transcript
RwvOgPW9Oi8 • JAPAN VS CHINA! A WAR OF SOPHISTICATED WEAPONS MAKES JAPAN WORRY ABOUT CHINA'S POWER
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1604_RwvOgPW9Oi8.txt
Kind: captions
Language: id
Lee menjelaskan e jumlah pembatalan
tiket pada hari Minggu itu mencapai 27
kali dibandingkan jumlah pembelian tiket
baru. Dan itu artinya masyarakat itu
lebih memilih membatalkan perjalanan
mereka karena masalah keamanan dan
keselamatan mereka. Bukan hanya karena
alasan harga atau jadwal penerbangan,
tapi mereka sudah mulai khawatir kalau
mereka tetap ke Jepang bakal terjadi
apa-apa.
Geng, kalian tahu enggak kalau ada
hampir puluhan ribu tiket pesawat
penerbangan dari Cina ke Jepang
tiba-tiba dibatalin? Nah, kebayang
enggak tuh, Geng, ada turis hingga
pebisnis yang tadinya mengharuskan
mereka untuk pergi ke Jepang, namun
tiba-tiba ya mereka membatalkan rencana
perjalanan mereka. Apa yang sebenarnya
terjadi? Apakah lagi ada bencana alam
atau justru ya ada sesuatu yang terjadi
pada maskapai penerbangannya. Mungkin
pesawatnya sedang mengalami kendala
teknis atau ada hal lain gitu. Jika
benar begitu ya kan, mengapa pembatalan
tiketnya begitu banyak? Sampai ribuan
tiket benar-benar kayak semua orang dari
Cina itu tidak bisa atau tidak boleh ke
Jepang?
Sekitar 500.000 Rib turis Cina
membatalkan tiket penerbangan ke Jepang
dalam beberapa hari terakhir menyusul
ketegangan diplomatik kedua negara.
Nah, ternyata fakta di baliknya jauh
lebih rumit daripada hanya urusan
maskapai aja. Jauh lebih rumit daripada
urusan bencana doang. Karena ternyata
saat ini hubungan Cina dan Jepang lagi
panas banget. Dua negara Asia ini yang
mungkin bisa dikatakan mereka sedang
menjadi poros utama kemajuan teknologi
di era modern ya. Dua-duanya sedang
berkonflik. Pernah ngebayangin enggak
tuh Cina dengan segala kecanggihan
alat-alat mereka dan Jepang juga sama
tiba-tiba berkonflik, tiba-tiba
berperang. Apa yang bakal terjadi, Geng?
Nah, kita selama ini cuma mengira kalau
Cina hanya bersih tegang dengan Amerika
doang, apalagi persoalan ya perdagangan
ya kan perekonomian. Nah, ternyata Geng
mereka saat ini juga berperang dengan
Jepang. negara yang sama-sama berada di
satu kawasan Asia Timur. Dan Jepang
seperti yang kita tahu juga menjadi
negara yang ditargetkan oleh Cina. Dan
dengan kondisi yang semakin panas ini,
banyak warga Cina yang tidak
diperbolehkan oleh pemerintah mereka
untuk terbang ke Jepang. Nah, pembatalan
tiket pesawat ini seolah menjadi efek
domino di balik konflik kedua negara
ini, Geng. Jadi, e hal ini menjadi
strategi tekanan halus dari pemerintah
Cina untuk Jepang atau justru bisa
sebaliknya, langkah dari pihak maskapai
yang mengantisipasi situasi geopolitik
antara kedua negara yang saat ini sedang
bersih tegang. Nah, di video kali ini
gua bakal merangkum nih situasi dan
kondisi antara Cina dan Jepang ini. Apa
yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka
berkonflik dan kenapa tiba-tiba ada
ribuan warga Cina yang tidak
diperbolehkan terbang ke Jepang dan
tiket pesawat dari Cina ke Jepang itu
hangus semua. Dan ini benar-benar
membuat Jepang sebenarnya sedikit panik
karena ya kalian perlu tahu Geng, salah
satu penghasilan besar Jepang itu adalah
dari turis yang berasal dari Cina yang
mana turis-turis Cina ini banyak banget
berwisata ke Jepang. Dan ini merupakan
salah satu hal yang membuat Jepang
berpikir dua kali berkonflik dengan
Cina. Langsung aja nih kita bahas
konflik Cina Jepang ini secara lengkap.
Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry.
Geng, geng, untuk pembahasan yang
pertama kita bahas dulu nih hal yang
paling viral di media sosial ya.
Persoalan puluhan ribu tiket pesawat
Cina Jepang yang dibatalkan. Ribuan loh,
Geng.
Jadi, Geng, gelombang besar pembatalan
tiket penerbangan ke Jepang dari Cina
itu terjadi sejak hari Sabtu tanggal 15
November 2025. Maskapai penerbangan Cina
itu mencatat ada sekitar 491.000
tiket tujuan Jepang yang tiba-tiba
dibatalkan, Geng. Jumlah itu sekitar 32%
dari total pemesanan tiket ke Jepang
yang mana ya biasanya ya Jepang ini
menjadi tujuan favorit bagi wisatawan
dari Cina. dan wisatawan Cina atau
turis-turis Cina ini ya menjadi
penghasilan terbesar juga buat Jepang.
Persentasenya terus bertambah, Geng,
seiring waktu. Di hari Minggu
persentasenya itu mencapai 82,14%
dan di hari Senin di angka 75,6%.
Nah, data tersebut diambil oleh analis
penerbangan independen yang bernama Lee
Henming yang mana mereka meneliti semua
maskapai asal Cina mainland. Lee
menjelaskan eh bahwa jumlah pembatalan
tiket pada hari Minggu itu mencapai 27
kali dibandingkan jumlah pembelian tiket
baru. Dan itu artinya masyarakat itu
lebih memilih membatalkan perjalanan
mereka karena masalah keamanan dan
keselamatan mereka. Bukan hanya karena
alasan harga atau jadwal penerbangan,
tapi mereka sudah mulai khawatir kalau
mereka tetap ke Jepang bakal terjadi
apa-apa. Lee ini juga bilang kalau dia
belum pernah melihat pembatalan tiket
besar-besaran kayak gini sejak awal
tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 yang
pada saat itu mulai meluas saat liburan
tahun baru Imlek di Cina. Jadi ibaratkan
ya dulu mereka pernah nih mengalami hal
kayak gini, pembatalan tiket
besar-besaran tapi itu pas COVID. Nah
sekarang kan lagi enggak ada bencana
apa-apa, lagi enggak ada pandemi dan
lain-lain, tapi justru pembatalannya
luar biasa gila. Karena kenapa ya?
Karena masyarakat Cina itu ee berpihak
kepada pemerintah mereka dan ditambah
mereka juga takut kalau sampai Cina dan
Jepang jadi perang mereka enggak bisa ke
mana-mana. Lee ini juga bilang
penerbangan rute Shanghai Tokyo dan
Shanghai Osaka paling terdampak
pembatalan tersebut. Nah, jadi
diperkirakan ya total kerugian dari
tiket yang dikembalikan atau dibatalkan
itu 70% di antaranya adalah tiket pulang
pergi yang mencapai miliaran yuan. Jadi
benar-benar kayak dalam satu waktu nih
ya maskapai itu rugi hampir triliunan
mungkin. Nah, menurut John Grant selaku
analis senior pada firma intelijen
penerbangan Inggris yang bernama
Official Ireland Gate ya atau disingkat
dengan OAG, maskapai penerbangan Cina
mungkin itu bisa dikatakan merugi lebih
besar dibandingkan maskapai penerbangan
Jepang. Karena yang dibatalkan tuh
kebanyakan adalah penerbangan dari Cina
ke Jepang dan ya penerbangan Cina Jepang
itu basisnya kebanyakan adalah di Cina.
Jadi ibaratnya gini, penerbangan Cina
Jepang itu kebanyakan pesawatnya berasal
dari Cina, bukan pesawat Jepang yang
menjemput e turis-turis Cina untuk ke
Jepang. Nah, sebenarnya Cina itu kayak
apa ya? E menyakiti tubuh sendiri gitu
loh, Geng. Jadi mereka membatalkan semua
penerbangannya dan ya perusahaan lokal
mereka yang merugi. Tapi di sana mereka
lebih baik mengambil risiko itu karena
ada yang jauh lebih besar yang harus
mereka ee khawatirkan. Nah, rata-rata
nih penerbangan Cina ke Jepang itu
adalah lima maskapai penerbangan teratas
semua dan semuanya berbasis di Cina.
Sehingga kemungkinan besar ya hal ini
akan merugikan maskapai-maskapai
tersebut dengan jumlah yang benar-benar
fantastis. Dalam beberapa minggu ke
depan ya kata si Grand tadi kemungkinan
akan terlihat perubahan besar dalam
jumlah penerbangan mulai dari kapasitas
kursi atau frekuensi penerbangan. Ada
tiga maskapai terbesar milik pemerintah
Cina yaitu Air China, terus ada China
Souttern, terus ada lagi China Eastern.
Nah, ditambah dengan empat maskapai lain
yang sudah memberikan pemberitahuan
bahwa penumpang bisa membatalkan atau
mengubah jadwal penerbangan mereka
menuju ke Jepang secara gratis. Jadi
pembatalannya itu enggak dipotong,
enggak dipungut biaya oleh si maskapai.
Nah, selama tiket mereka itu dipesan
sampai tanggal 31 Desember tahun ini,
Geng. Nah, gua yakin ya, Geng,
pembatalan tiket kayak gini nih mungkin
pemerintah Cinanya juga mensubsidi kali
ya. Karena kan kita tahu ya, pemerintah
Cina itu kan enggak mau banget
perusahaan-perusahaan lokal mereka
merugi. Mereka kan tetap menjaga
kekuatan ekonomi negara mereka ya,
melalui perusahaan-perusahaan yang
sekarang di negara mereka itu mulai
menjajah ya, mulai menjajah
negara-negara lain. Jadi mereka pasti
enggak mau tuh perusahaan-perusahaan
tumbang. Nah, itu yang mungkin menjadi
alasan kenapa perusahaan maskapai ini
berani nih ngasih gratis ke warga Cina
yang jumlahnya ribuan untuk nge-cancel
tiket itu, Geng. Nah, kemudian, Geng,
dari laporan media China yaitu Jim News
itu sudah melaporkan bahwa Shuan
Airlines itu sudah membatalkan semua
penerbangan mereka antara Shengdu dan
Saporo di bulan Januari hingga akhir
Maret. Nah, maskapai lain yaitu Spring
Airlines juga udah membatalkan beberapa
penerbangan mereka ke Jepang. Kedua
perusahaan tadi, Geng, memberikan alasan
kalau pembatalan terjadi karena
perencanaan perusahaan. Mereka enggak
mau ikut campur sebenarnya dan enggak
mau ngasih tahu apa alasannya. Padahal
jelas-jelas ini semua karena Cina dan
Jepang akan segera berperang, Geng.
Menurut keterangan yang gua ambil dari
berbagai sumber, ya, een perjalanan
besar milik negara yang berbasis di
Beijing itu menghapus semua rute
perjalanan ke Jepang dari aplikasi
mereka. Gila ya segitunya. Ini ibarat
nih ya, kalau kalian pernah lihat ketika
Isriwel melawan Mamas ya, di saat itu
Isriwil berusaha menghapus nama eh
Palestina di peta. Nah, ini udah kayak
gitu, Geng. Orang-orang di Cina itu udah
menghapus apapun yang berhubungan dengan
perjalanan ke Jepang. Jadi, kayak
dianggap, "Ah, Jepang itu enggak ada."
Lu mau liburan? Ini ada negara-negara
lain. Ada Vietnam, ada Myanmar, ada
Thailand, ada Filipin dan lain-lain.
Tapi tidak ada Jepang di sana. Egen
tersebut juga sudah menghentikan layanan
aplikasi Visa dan akan mengembalikan
uang para pelanggan yang sudah membeli
paket perjalanan ke Jepang. Nah,
pengembalian ini tidak akan dikenakan
biaya tambahan. Egen perjalanan lain
tetap mengoperasikan tour dan berharap
gangguan ini hanya sementara. Namun, ada
perusahaan pariwisata swasta di ibu kota
China yang sudah berhenti total menerima
pelanggan baru untuk perjalanan ke
Jepang. Jadi memang mereka sudah tahu
ini bakal enggak kondusif dan kita tahu
ya Cina itu kekuatannya kayak gimana
sekarang. Berdasarkan catatan dari
perusahaan Cina yang bernama Trading Dex
yang berbasis di Singapura nih, Geng.
Data pembatalan dan pemesanan ulang itu
menunjukkan bahwa jumlah orang yang akan
terbang ke Jepang dalam beberapa minggu
ke depan itu turun dari 30% dibandingkan
minggu sebelumnya. Nah, penurunan ini
berdampak besar terjadi pada penerbangan
yang dijadwalkan sebelum bulan Januari,
Geng. Yang mana itu artinya orang-orang
terutama membatalkan perjalanan yang
sudah direncanakan dalam waktu dekat,
bukan untuk tahun depan. Jadi untuk
tahun ini, tahun baru, jangan harap ada
warga negara China yang berangkat ke
Jepang. Ya mungkin ada di Jepang mereka
ya. Tapi ya mungkin tuh orang-orang yang
memang sudah stay di sana. Karena
kebanyakan dari mereka yang berada di
Jepang sekarang mereka memilih untuk
pulang ke negaranya. Kenapa? Ya mereka
tahu gitu pemerintah mereka sekuat apa.
Kalau memang perang ini terjadi antara
China dan Jepang, maka mereka enggak mau
terjebak di negara yang menurut mereka
tidak lebih kuat dari negara mereka. Ya
kan? China kan gila banget sekarang
kekuatan militernya, Geng, dengan
alat-alat canggihnya gitu. Hal tersebut
menyebabkan beberapa hotel di Jepang itu
mulai mengalami pembatalan pemesanan
kamar dan kerugian besar-besaran. Salah
satu contohnya nih ya ee itu ada
Imperial Hotel. Pihak mereka ya sudah
menerima pembatalan atau penundaan dari
beberapa perusahaan China yang sudah
memesan kamar atau mau pesta di tempat
mereka itu udah banyak banget. Tapi
pihak hotel belum melihat dampak dari
pemesanan kamar yang dilakukan oleh
perorangan. Nah, jadi
perusahaan-perusahaan besar kan biasanya
nge-booking tuh banyak banget tuh
kamarnya. Nah, itu udah pada di-cancel
semua. Tapi ada beberapa orang yang
mungkin masih stay di Jepang ya,
orang-orang China ini ya masih ada yang
stay di hotel beberapanya. Tapi
kebanyakan hotel-hotel tersebut udah
di-cancel karena sering sekali yang
memesan hotel itu adalah
perusahaan-perusahaan besar dari China.
Di saat itu, Geng, Colo White Co yang
mengelola berbagai pub dan restoran ala
Jepang itu menyatakan keprihatinan
mereka tentang pembatalan serempak yang
dilakukan oleh warga Cina ini. Karena
kan target mereka itu turis-turis Cina
yang datang ke Jepang ingin ya berwisata
dan menikmati makanan di resto-resto ala
Jepang yang ada di sana, ya kan. Nah,
efek ini ternyata enggak cuma
berpengaruh pada sektor pariwisata yang
ada di Jepang aja, Geng. tapi juga di
industri hiburan seperti perfilman. Di
China itu setidaknya tuh ada dua film
Jepang yang akhirnya ditunda
penayangannya. Jadi sampai film Jepang
itu enggak boleh tayang di Cina tanpa
diberikan penjelasan ee waktunya ditunda
sampai kapan, apakah itu di-cancel
benar-benar kayak enggak boleh
ditayangkan sama sekali. Nah, ada satu
film yang sudah terlanjur dirilis di
China, yaitu film animasi Demon Slayer
Infinity Castle yang diklaim oleh media
pemerintah Cina jumlah penontonnya
merosot dalam beberapa hari terakhir.
Nah, Demon Slayer ini adalah salah satu
anime populer dari Jepang dan fans-nya
banyak banget sebenarnya di Cina, Geng.
Tapi yang terjadi di Cina saat ini
justru sebaliknya, hype-nya menurun, ya.
Media pemerintah mengklaim jika hal
tersebut disebabkan karena ketidakpuasan
dari penonton atau fans yang ada di
China terhadap konflik yang terjadi
antara negara China dan Jepang. Jadi,
masyarakat China ee enggak peduli mau
sebagus apapun film yang berasal dari
Jepang ini, anime yang berasal dari
Jepang ini. Tapi karena mereka membela
pemerintah mereka, ya, mereka tidak
terima dengan sesuatu yang sedang
terjadi antara Jepang dan China. Mereka
memilih untuk enggak nonton film
tersebut karena merasa itu adalah produk
Jepang. Gokil ya. Ini sebenarnya
masalahnya sama siapa sih? Ya nanti kita
cerita di belakang. Jadi gua bocorin
sedikit ya. Permasalahannya itu ada pada
Perdana Menteri Jepang yang bernama
Sanayai Takachi. Nah, salah satu alasan
kenapa warga Cina membatalkan tiket
pesawat, enggak mau beli ee
produk-produk dari Jepang, terus juga
membatalkan hotel-hotel mereka di Jepang
serta bahkan tidak mau menonton film
animasi produk Jepang yang tayang di
negara mereka. Ya, karena mereka membela
pemerintah mereka yang sedang bersih
tegang dengan pemerintah Jepang,
terutama perdana menteri Jepang Sanae
Takachi tadi.
Padahal nih, Geng ya, Cina ini adalah
negara yang menjadi penyumbang wisatawan
terbanyak yang datang ke Jepang selama 9
bulan pertama tahun ini. Seperti yang
kau katakan sebelumnya, dan tahun ini
tuh paling meledak tuh orang-orang China
yang datang ke Jepang. Jumlah mereka
mencapai 7,49
juta orang. Menurut laporan dari Kyodo
News yang mengutip dari data pemerintah
Jepang. Kalau dari informasi yang gua
ambil di media The Guardian, orang China
menjadi warga negara dengan sumber
wisatawan terbesar kedua di Jepang.
Mahasiswa dari Cina ya menjadi bagian
terbesar dari kelompok mahasiswa
internasional yang berkuliah di Jepang.
Selain itu, menurut organisasi
Pariwisata Nasional Jepang, jumlah
wisatawan Cina yang mengunjungi Jepang
dalam 8 bulan pertama tahun 2025 itu
lebih dari 6,7 juta kunjungan dan ini
meningkat lebih dari 4,6 juta kunjungan
pada periode yang sama di tahun 2024.
Jadi ibaratnya gini, Geng, ya Jepang mau
melawan China. Oke. Kalau kita bicara
soal kecanggihan alat-alatnya, oke
Jepang enggak kalah. Tapi satu hal yang
Jepang lupa. Jepang negaranya tidak
sebesar China. Warga negaranya tidak
sebanyak warga negara China. Dan mereka
tidak hanya mendapatkan penghasilan
untuk negara mereka, pemasukan buat
negara mereka dari barang-barang
elektronik canggih doang, tapi juga dari
kunjungan pariwisata atau kunjungan
turis. Yang mana ya kunjungan pariwisata
dan turis itu salah satunya berasal dan
terbesarnya dari China. mereka
kehilangan itu, Geng. Nah, itu yang
bikin mereka tuh wah ketar-ketir juga
tuh. E menurut para analis pariwisata,
orang Cina itu banyak memilih Jepang
sebagai tujuan wisata karena tiga
alasan, ya. Yang pertama karena jarak
penerbangan ke Jepang itu dekat dengan
China. Yang kedua, karena punya banyak
daya tarik dari segi budaya tradisional
Jepang. Mereka suka dengan budaya
Jepang. Dan yang ketiga, harga-harga di
Jepang lebih terjangkau yang disebabkan
nilai mata uang yen Jepang yang saat ini
itu sedang lemah dibandingkan mata uang
China. Jadi mereka kayak orang bule ke
Bali aja gitu, merasa jadi kaya karena
nilai mata uangnya jauh lebih besar.
Orang-orang Cina yang datang ke Jepang
itu bisa menghabiskan lebih dari 1
miliar dolar per bulan pada kuartal
ketiga dan menyumbang hampir 30% dari
total pengeluaran wisatawan di sana.
Saham pariwisata dan ritil Jepang itu
anjlok secara tajam pada hari Senin
karena ada himbauan pembatalan
perjalanan ke Jepang oleh pemerintah
Cina kepada warganya. Kebayang tuh ya
ruginya gimana. Jadi ibaratnya nih
Jepang bolehlah bisa bikin apapun bisa
bikin alat canggih, bisa bikin oleh-oleh
yang keren-keren ya kan. Tapi kalau
enggak ada yang beli gimana? Apakah ada
penghasilannya? Ya pembelinya siapa?
Pembelinya ya warga Cina tadi yang
banyak banget yang akhirnya membatalkan
perjalanan mereka ke sana. Nah, para
analis itu mengatakan gangguan ini
mungkin bersifat jangka pendek memang,
tetapi dampaknya langsung terasa
terhadap sektor perjalanan dan
penerbangan yang sudah terlihat saat
ini. Jadi, udah kebayang ya, Geng,
gimana kondisi antara Jepang dan Cina
saat ini, Geng? Nah, sebelumnya kita
udah sempat membahas tuh ya kalau ada
penonton atau fans anime Demon Slayer
yang merasa tidak puas terhadap
pemerintah Jepang yaitu perdana menteri
Sanay Takachi ya kan mereka tidak mau
menonton eh anime tersebut padahal
mereka nge-fans ya tapi mereka lebih
berpihak kepada pemerintahnya. Kenapa
jadi bawa-bawa Perdana Menteri Jepang
nih dan kenapa dampaknya jadi meluas ke
mana-mana sampai ke industri perfilman
juga. Nah, jawabannya, Geng, ternyata
pembatalan tiket pesawat untuk
perjalanan China ke Jepang itu bukanlah
akar permasalahannya, tapi justru ini
adalah dampak yang terjadi atas kondisi
yang dialami oleh kedua negara. Nah,
yang mana Cina dan Jepang saat ini
sedang berkonflik parah. Konfliknya
seperti apa? Kita bahas nih awal mula
ketegangan antara negara Cina dan Jepang
yang bisa berakhir kepada perang
teknologi. Kita bahas.
Kita bakal mundur ke 2 bulan ke belakang
saat Sanae Takaichi ini terpilih menjadi
Perdana Menteri Jepang supaya kalian
bisa lebih relate dengan sosok Perdana
Menteri Jepang yang baru ini, Geng. yang
mana ini bakal ee membuat kalian paham
ya kenapa eh situasi antara Jepang China
ini jadi memanas. Oke, jadi geng Perdana
Menteri yang satu ini terpilih pada hari
Selasa tanggal 21 Oktober 2025 baru aja.
Dan dia menjadi perempuan pertama yang
menjadi perdana menteri Jepang, geng.
Dan Takaichi ini menggantikan Shigeru
Ishiba sebagai Presiden Liberal
Democratic Party atau LDP sekaligus
Perdana Menteri Jepang. Nah, kemenangan
dia tersebut mengakhiri kekosongan dan
pertikaian politik sejak kekalahan telak
LDP dalam pemilu di bulan Juli 2025.
Nah, dalam pemilihan putaran pertama di
hari Selasa siang, Takaichi ini meraih
suara mayoritas di dalam diet atau diet
gitu bacanya ya, yaitu ini nama parlemen
Jepang gitu. Nah, dia memperoleh e
sekitar 237 suara di majelis rendah dan
125 suara di majelis tinggi. Nah,
perolehan suara ini melebihi sedikit
persyaratan minimal 233 suara di majelis
rendah dan 124 suara di majelis tinggi.
Di Jepang, Geng, Takaichi ini terkenal
sebagai sosok politisi yang ekstrem
kanan atau ultra kanan yang
mengindikasikan kalau dia itu berhaluan
politik konservatif. Ya, kalau kalian
gak paham boleh deh digoogling dulu tuh
apa tuh politik konservatif. Yang jelas
dia ini mendukung mantan perdana menteri
Shzo Abe serta mengagumi perdana menteri
Inggris yaitu Margaret Techer yang cukup
tegas dalam memimpin. Nah, layaknya
Decher ya si Takaichi ini juga
mendapatkan julukan sebagai wanita besi
atau Iron Lady dari Jepang. Jadi udah
kebayang ya, mungkin kurang lebih tuh
apa ya, kalau dia lagi pidato mungkin
dia teriak solid solid enggak enggak
beda beda. Ini emang benar-benar setegas
itu sih dia sebagai pemimpin wanita dia
tegas banget dan meskipun menjadi
perempuan pertama yang menduduki jabatan
perdana menteri Jepang, hal ini tidak
menjadi sebuah angin segar bagi sebagian
rakyat Jepang, terutama bagi para
perempuan. Soalnya, Geng, walaupun dia
adalah perempuan, tapi Takaichi ini
enggak mau mempromosikan kesetaraan
gender di negara itu. Menurut dia, ya,
perempuan tetap perempuan, laki-laki ya
tetap lebih tinggi ee apa ya ee levelnya
daripada perempuan supaya bisa laki-laki
melindungi perempuan gitu. Tapi sekarang
nih belakangan dia mulai mengkampanyekan
soal kesetaraan gender. Memang sebelum
dia menang, Takaichi itu udah
merencanakan kabinetnya yang sepertinya
dia mau membawa perubahan pemerintahan
di bawah ldp tadi yang lebih inklusif
dan juga bersatu. Takaichi itu mau
meningkatkan peran perempuan di
posisi-posisi kunci. Tapi geng sayangnya
belum lama menjabat ya taikhi ini udah
melakukan hal yang kontroversial. Nah,
ini nih yang menyebabkan akhirnya China
tersinggung dan antara Jepang dan China
jadi bergesekan. Ya, kita tahu ya, Geng,
bagaimana workflow di Jepang. Sangat
keras dan disiplin orang-orangnya.
Bahkan banyak kasus kematian yang
disebabkan karena karyawan yang bekerja
berlebihan karena kedisiplinan tadi di
Jepang. Oleh karena itu, pemerintah
Jepang sudah menerapkan hari kerja yang
tadinya 5 hari menjadi 4 hari aja untuk
menekan kematian akibat bekerja
berlebihan. Tapi geng, Takaichi malah
mengadakan rapat di jam . dini hari
bersama dengan para ajudannya pada hari
Jumat tanggal 7 November 2025 yang mana
rapat tersebut bertujuan untuk
mempersiapkan debat parlemen pertamanya.
Sidang komite anggaran dijadwalkan
digelar di gedung parlemen Jepang pada
jam 09.00 pagi waktu setempat di hari
yang sama. Dan memang sebelum dia
terpilih, Takaichi pernah janji nih
untuk bakal bekerja keras. Atau mungkin
kalau di Indonesia itu sebutannya
bekerja bagai kuda kalau dia bisa
menjadi perdana menteri. Dan ternyata
itu dia buktiin dengan cara mengadakan
rapat di jam .00 subuh dini hari. Dan
kayaknya Takaichi ini memang enggak
bercanda dengan mengatakan kalau dia
bakal bekerja layak kuda gitu. Kubu
oposisi kepada Takaichi yang menyebutkan
jam kerja dini hari itu memberikan beban
yang tidak perlu terhadap staf-stafnya
yang harus begadang. Dan Takaichi ini
kayaknya dianggap mengabaikan
kesejahteraan para stafnya itu. Nah,
tapi kemudian ya Takaichi merespon hal
itu jika dia tinggal di asrama dan di
sana hanya ada FX tua dan itu tidak
berfungsi sehingga membuat dia tidak
bisa meninjau materi debat tepat waktu
dan untuk itu dia mengadakan rapat dini
hari. Nah, pada akhirnya Takaichi
menyampaikan permintaan maaf atas hal
tersebut karena udah diprotes. Tapi
lagi-lagi nih, Geng. Takaiichi ini
melakukan hal yang memicu kontroversi
lagi setelah yang tadi tuh, setelah
rapat dini hari itu. Tapi kali ini
berhubungan dengan negara lain yang
tidak lain ya Cina. Dalam sidang
parlemen yang diadakan pada hari Jumat
tanggal 7 November 2025, taikhi ini
menyatakan kalau keadaan darurat di
Taiwan ya yang melibatkan kapal perang
dan penggunaan kekuatan dari daratan
Cina itu bisa dianggap sebagai situasi
yang mengancam kelangsungan hidup
Jepang.
Jadi kalian harus tahu nih, Geng, antara
China dan Taiwan itu kan bergesekan.
Mereka tuh enggak baik dan Taiwan ini
lebih cenderung dibantu sama Jepang
sebenarnya. Dan pembahasan tentang
Taiwan itu agak sensitif karena pihak
Tiongkok sendiri, pihak China sendiri
menganggap Taiwan adalah masih bagian
dari kekuasaan mereka. Sementara Taiwan
tidak mau dianggap sebagai orang Cina,
sebagai orang Tiongkok. Mereka lebih ya
apa ya? pengin sendiri tapi dibantu oleh
Jepang. Nah, di saat itu Perdana Menteri
Jepang yang baru ini malah
nyenggol-nyenggol persoalan Taiwan. Dan
pasti kalian bingung ya, kenapa bisa ada
kapal perang dari Cina yang berada di
Taiwan? Nah, ini ada hubungannya dengan
klaim China yang menyebut kalau Taiwan
adalah masih bagian dari wilayah mereka
dan kekuasaan mereka. Nah, sementara
Taiwan seperti yang gua sebutkan
sebelumnya, kalau negara mereka e adalah
eh negara yang berdaulat dan mereka
menganggap kalau mereka itu sudah
merdeka, bukan di bawah Cina. Taiwan
sendiri pernah berada di bawah
pendudukan Jepang, Geng, selama sekitar
setengah abad sampai Jepang pada
akhirnya menyerah pada perang dunia
kedua dan menyerahkan kendali atas
Taiwan ini kepada ROC, yaitu Republik
China. Dan ROC sendiri kalah perang ya,
perang saudara dari partai komunis dan
mundur ke Taiwan. Nah, sementara partai
China itu tetap berada di China Minland
ya. Seperti yang saat ini kita lihat
dengan adanya pemerintahan komunis Cina
dan sampai saat sekarang ini Cina itu
bersi keras bahwa Taiwan adalah provinsi
punya mereka meskipun tidak pernah
memerintah ee di Taiwan gitu. Sementara
Jepang itu menolak Taiwan jatuh ke
tangan China, terutama karena posisi
strategis pulau tersebut dan keberadaan
fasilitas militer Amerika yang besar di
Jepang. Jika China memaksa aneksasi dan
Amerika turun tangan membela Taiwan,
maka Jepang hampir dipastikan terlibat
di dalam konflik itu karena berada di
area mereka. Nah, hal ini disebabkan
karena adanya perjanjian keamanan
Amerika dan Jepang yang mewajibkan kedua
negara untuk saling membela jika salah
satu diserang oleh lawan di wilayah
Jepang. Nah, gua bakal bahas sedikit nih
kenapa ya Takaichi ini bisa mengeluarkan
pernyataan tadi yang menyinggung Cina.
Jadi ya Cina tuh mengarahkan kapal induk
melalui selat Taiwan pada hari Jumat
tanggal 12 September 2025 yang mana itu
dilakukan saat hubungan Taiwan dan Cina
masih sama-sama panas. Dan dalam sebuah
pernyataan angkatan laut Cina itu
mengatakan bahwa hal tersebut
dimaksudkan untuk uji coba dan pelatihan
lintas wilayah untuk Fujian kapal induk
terbaru buatan Cina. Dan itu semua
adalah sesuatu yang normal dari proses
konstruksi kapal induk. Dan Cina bilang
kalau penyerahan kapal itu hanyalah
transit yang dilakukan agar kapal bisa
berlayar di wilayah laut Cina Selatan.
Jadi, kapal tersebut tidak diarahkan
untuk berperang atau tidak diarahkan
untuk mengintimidasi pihak Taiwan. Nah,
tapi Takaichi tadi menyenggol-nyenggol
hal itu seolah-olah Cina mau nyerang
Taiwan. Jadinya Cina ini kayak apaan sih
lu? Fitnah banget nyenggol-nyenggol
kita. Maunya apa?
Tapi geng, meskipun tidak dimaksudkan
untuk berperang ya oleh Cina, tetap aja
hal tersebut dianggap bakal meminu
konflik karena tumpang tindih klaim
antara Cina dan Taiwan tadi. Dan
berdasarkan Undang-Undang Jepang,
pengakuan atas kondisi tersebut bisa
memicu penerapan hak bela diri kolektif
oleh pasukan bela diri Jepang.
Sederhananya nih ya, kalau aja nih
terjadi konflik antara Cina versus
Taiwan, maka Jepang bisa terlibat secara
militer, Geng. Jadi Jepang bakal belain
Taiwan karena jarak antara Taiwan dan
Jepang itu dekat banget dan Taiwan ini
adalah daerah strategis menurut Jepang.
Serangan terhadap kapal perang Amerika
yang dikirim untuk membantu mematahkan
blokade Cina atas Taiwan bisa memaksa
Jepang untuk turun tangan secara militer
demi melindungi diri dan sekutunya. Bagi
Takaichi tadi, ancaman terhadap Taiwan
masih masuk dalam kepentingan nasional
Jepang karena jarak Jepang cuma sekitar
110 km dari pulau utama Taiwan. Ya,
ibaratnya nih kalau Cina nyerang Taiwan,
maka cipratan-cipratan eeknya bakal kena
ke Jepang. Makanya Jepang tuh harus
siap-siap nge-flash gitu ya. Ya,
ibaratnya tuh El yang perang, gue yang
kena peluru nyasar nih, gitu. Jadi,
Jepang juga harus siap-siap dan secara
hukum posisi Jepang itu memang berubah,
Geng, sejak Undang-Undang Keamanan tahun
2015 yang disahkan pada masa Sinzo AB
yang memungkinkan Jepang menggunakan
pertahanan diri kolektif meskipun tidak
secara langsung, Geng. Nah, jadinya,
Geng, pasca Takaichi memberikan
pernyataan tersebut tentunya pemerintah
China itu enggak tinggal diam. Nah, apa
nih respon pemerintah China? Ini respon
yang membuat warga negara China jadi
membatalkan penerbangan ke Jepang dan
was-was. Kalau mereka berada di Jepang,
mereka bakal menjadi bulan-bulanan ya
senjata militer negara mereka sendiri
yang sekarang cukup kuat. Kita langsung
masuk ke dalam pembahasannya.
Jadi, geng sehari setelah Takaichi
memberikan pernyataan Sujian selaku
konsul jenderal China di Osaka itu
langsung memberikan komentar pedas di
akun X pribadinya dia dengan menuliskan,
"Leher kotor yang ikut campur harus
dipotong." Waduh, pernyataannya kejam
banget nih. Pernyataan perang keras nih.
Nah, yang mana ini diduga dimaksudkan
untuk si Takaichi tadi, tapi saat ini
tweet itu udah enggak bisa dilihat lagi,
Geng. Karena mungkin udah dihapus oleh
si Shu tadi. Nah, cuma katanya, Geng,
unggahan tersebut ada pada artikel
berita yang mengutip pernyataan Takaichi
soal isu Taiwan. Jadi, juru bicara
Kementerian Luar Negeri Cina yang
bernama Linjian itu melakukan pembelaan
atas pernyataan itu, Geng. dan dia
mendesak untuk menghentikan pembelaan
yang salah kepada kekuatan separatis
kemerdekaan Taiwan. Kementerian Luar
Negeri China juga kembali memperingatkan
Jepang agar menarik ucapan tersebut.
Jika Jepang berani menggunakan kekuatan
untuk campur tangan di selat Taiwan, hal
itu dikategorikan sebagai tindakan
agresi dan Cina akan merespon dengan
tegas. Ya, pakai apa? Pakai senjata yang
canggih-canggih juga. Dan Kementerian
Luar Negeri Cina itu juga memberikan
pesan kepada Jepang dengan jelas, yaitu
kalau Jepang harus sepenuhnya bertobat
atas kejahatan perang mereka. Dan di
hari Senin tanggal 10 November 2025,
pemerintah Jepang melayangkan protes
kepada Cina. Jepang menganggap unggahan
sho tersebut ya sangat tidak pantas dan
dapat merusak hubungan antar kedua
negara. Nah, padahal ya hubungan kedua
negara sudah rusak ya kan semenjak siapa
ya? Semenjak Takaichi tadi membuat
pernyataan. Nah, namun geng, hal itu
tidak menghentikan China untuk mengecam
ucapan yang sudah dikeluarkan oleh
Perdana Menteri Jepang, Takaichi Sun We
Dong selaku wakil menteri luar negeri
China itu memanggil duta besar Jepang
yaitu Kenji Kanasugi pada hari Jumat
tanggal 14 November 2025 untuk
menyampaikan protes dan SUN menegaskan
kalau isu Taiwan adalah permasalahan
yang tidak boleh disentuh. Jadi, jangan
disenggol-senggol. Nah, Kementerian
Pertahanan China juga ikut memberikan
peringatan bahwa Jepang bakal mengalami
kekalahan telak jika nekad turun tangan
dalam isu Taiwan. Di hari yang sama,
Jepang juga memanggil duta besar China
sebagai balasan. Dan selanjutnya nih,
Geng. Di hari Minggu tanggal 16 November
kemarin, kapal penjaga pantai China itu
melakukan patroli di perairan sekitar
Kepulauan Diaoyu atau Senkaku. Nah,
sehari sebelumnya pemerintah China itu
mengeluarkan himbauan perjalanan kepada
orang Cina yang akan pergi ke Jepang
dengan menyebutkan adanya peningkatan
resiko keamanan dan pembahasan yang tadi
gua jelaskan di awal itu bahwa jangan
sampai nih ya warga-warga gue gitu kata
pemerintah Cina. Lu semua yang ke Jepang
nanti terjebak di sana. Kalau sampai
kita berperang melawan Jepang, maka
pemerintah Cina juga enggak bisa
membedakan ya kan? Mana warganya
sendiri, mana warga Jepang. Kalau dibom
mah dibom aja. Menanggapi ketegangan
yang semakin serius, pejabat senior
Kementerian Luar Negeri Jepang yaitu
Masa Akikanai dikirim ke China untuk
meredakan perselisihan tersebut pada
hari Senin tanggal 17 November 2025.
Pertemuan dilakukan dan pertemuan itu
bakal dilangsungkan untuk mempertemukan
dia dengan pejabat China yang bernama
Liu Jinsong agar menjelaskan bahwa
pernyataan Takaichi sebelumnya tidak
akan menandai perubahan kebijakan
keamanan Jepang. Dan walaupun China
menuntut agar Takaichi menarik
pernyataannya, namun Takaichi sendiri
menolak melakukan hal itu, Geng. Nah,
terus sementara itu, Geng, La Chingte ya
selaku Presiden Taiwan menilai bahwa
China sedang melancarkan serangan
multifaset terhadap Jepang. Serangan
multifaset ini adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan serangan
yang dilakukan dengan banyak cara atau
melalui berbagai titik sekaligus. Hal
ini bakal berdampak parah pada
perdamaian dan stabilitas di kawasan
Indo Pasifik. Oleh karena itu, dia
menyerukan agar komunitas internasional
tetap memberikan perhatian dan meminta
China untuk menahan diri dan menunjukkan
perilaku layaknya negara besar bukan
menjadi pembuat masalah bagi stabilitas
regional. Lei ini kemudian menambahkan
kalau China harus kembali pada tatanan
internasional yang berbasis aturan dan
meminta agar China berpikir dua kali
dalam ya
membuat pernyataan ini. Nah, situasi
yang semakin memanas ini membuat Jepang
harus memperingatkan warganya yang ada
di China untuk mengambil tindakan
pencegahan keamanan dan mengingatkan
para ekspatriat untuk menghormati adat
istiadat setempat serta berhati-hati
dalam berinteraksi dengan penduduk
setempat. Ada lebih dari 100.000 rib
warga Jepang yang tinggal di China pada
tahun 2023 dan itu menurut Kementerian
Luar Negeri Jepang. Nah, Minoru Kihara
sekaligus sekretaris kabinet utama
Jepang itu menyarankan agar orang Jepang
yang ada di China menghindari tempat
ramai yang disebabkan karena melonjaknya
sentimen anti Jepang di media China.
Bisa-bisa orang-orang Jepang yang ada di
China itu di ah sama orang-orang
Chinanya karena orang-orang China itu
sangat membela negara mereka. Nah,
kedutaan besar Jepang di Beijing juga
memberikan himbauan kepada orang Jepang
yang ada di China untuk waspada terhadap
lingkungan sekitar, tidak berpergian
sendirian dan lebih berhati-hati saat
berpergian dengan anak-anak mereka. Nah,
namun Kementerian Luar Negeri China
mengatakan bahwa pihaknya selalu dan
akan terus melindungi keselamatan warga
negara asing di China sesuai dengan
hukum. Jadi kalaupun ada
himbauan-himbauan seperti itu dari
pemerintah Jepang terhadap warganya,
tapi dapat dipastikan oleh ee pemerintah
Jepang ya enggak usah takut-takut
amatlah kita juga enggak main gila
seperti itu. Nah, menurut pemerintah
Cina ya kita lihat aja Geng nanti
bagaimana situasi ke depannya. Apakah
bakal mereda atau justru semakin panas
nih antara Cina Jepang? Kalau dari
tebakan gua sih bisa-bisa perang ya.
Seram banget kalau dua negara ini
perang. Perang alat canggih gitu.
Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali
ini mengenai pergesekan antara Jepang
dan China yang berdampak pada pembatalan
tiket besar-besaran. Tiket pesawat
besar-besaran. Ada ribuan dari warga
Cina yang akan ke Jepang. Dan ini
membuat Jepang sedikit ketar-ketir
karena ya pemasukan pariwisata mereka
yang berasal dari warga negara Cina yang
cukup besar jumlahnya datang ke negara
mereka itu jadi anjlok berkurang.
Gimana, Geng? Menurut kalian, apa yang
bisa kalian sampaikan kalau dua negara
maju ini berperang?
Tinggalkan komentar di bawah.
Yeah.