Transcript
-_OnL-Ri-Zs • SUMATERA FLOODS! DUE TO DEFORESTATION FOR PALM OIL PLANTATIONS?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1607_-_OnL-Ri-Zs.txt
Kind: captions
Language: id
Ketika badai masih mendekat pada hari
Selasa, hujan ekstrem sudah terjadi di
Aceh. Nah, lalu di hari Rabbunya hujan
ekstrem dampak dari terjangan siklon
senyar terjadi tidak hanya di Aceh, tapi
juga sampai di Sumatera Utara dan
Sumatera Barat.
Oke, Geng. Hari ini kita bakal membahas
tentang musibah yang melanda
saudara-saudara kita yang ada di
Sumatera.
Seperti yang kita ketahui ya, beberapa
hari ini Sumatera dilanda oleh hujan
deras yang tidak henti-hentinya selama
beberapa hari. Sampai pada akhirnya
musibah pun datang yaitu banjir bandang
yang sangat besar. Daerah yang paling
terdampak dan paling diberitakan adalah
Sibolga dan Tapanuli, Sumatera Utara
yang juga terdampak ee akibat bencana
tersebut yang mana beberapa rumah yang
berada di wilayah ini juga tergenang
oleh banjir.
Sudah ada puluhan orang, Geng, yang
meninggal dunia dan hilang. Namun banjir
tidak hanya terjadi di Sumatera Utara
aja, tetapi juga sampai ke Aceh dan juga
Sumatera Barat. Nah, daerah-daerah
tersebut tadi itu benar-benar mencekam
kondisinya. Masalahnya, Geng, bukan cuma
banjir aja yang menjadi kendala,
melainkan akses komunikasi, ya. Terus
listrik juga terputus semuanya sehingga
menyulitkan orang-orang untuk bisa
menghubungi keluarga, mengetahui kondisi
keluarga mereka di saat mereka sedang
diantau. Salah satu contohnya adalah gua
sendiri. Gua beberapa hari kemarin
mencoba untuk menghubungi keluarga gue
yang ada di Aceh. Sulit banget. Listrik
padam, internet juga ikut padam. Udah
mana jaraknya juga jauh kan. Gua di
Jakarta, keluarga gua di Aceh ya, di
ujung Indonesia sana. Nah, hal inilah
yang semakin memperumit kondisi ini,
Geng. Satu-satunya cara yang bisa
dilakukan adalah memantau perkembangan
terkini kejadian ini atau musibah ini
melalui berita di media sosial. Menunggu
update terbaru dari kondisi yang ada di
sana. Di video kali ini gua pengen ajak
kalian untuk membahas bencana banjir
ini, Geng. Mulai dari yang terjadi di
Sumatera Utara, Aceh sampai dengan
Sumatera Barat. Seberapa parah
kondisinya dan bagaimana penanganannya.
Lalu, ada hal yang cukup krusial yang
bisa kita bahas. Apa penyebab banjir
ini? Benarkah ini musibah yang cuma
datang karena takdir dari yang maha
kuasa atau justru ini adalah sebuah
teguran untuk umat manusia yang serakah,
yang sudah mengambil banyak hal dari
alam, tetapi tidak pernah
mengembalikannya lagi ke alam atau
memperbaiki alam yang sudah dirusak?
Nanti kita bahas nih. Ini harus banget
kalian dengar karena ya supaya nanti
kalian di daerah-daerah kalian
masing-masing nih ya kalau kalian
melihat ada kecurangan, ada orang-orang
yang sengaja melakukan hal-hal yang bisa
menyebabkan bencana seperti ini,
buru-buru deh. Buru-buru dicegah supaya
apa yang terjadi kepada Sumatera Utara,
Aceh, dan juga Sumatera Barat cukuplah
terjadi di sana. Jangan sampai terjadi
juga di daerah kalian. Oke, langsung aja
kita bahas secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry.
Genggeng, untuk pembahasan yang pertama
kita bahas dulu kondisi banjir yang
terjadi di Sumatera Utara. Kenapa
Sumatera Utara terlebih dahulu? Karena
dampak paling mengerikan, paling parah
terjadi di sana.
Jadi, Geng, banjir dan longsor yang
disebabkan karena hujan dengan
intensitas tinggi yang mengguyur
sejumlah wilayah di Sumatera Utara sejak
beberapa hari terakhir kemarin
mengakibatkan adanya 65 kejadian bencana
alam. Data yang dikumpulkan oleh Polda
Sumut, bencana tanah longsor terjadi di
38 lokasi, banjir di 24 lokasi, dan ada
di 8 kabupaten atau kota di Sumatera
Utara, yaitu Sibolga, Padang Sidempuan,
dan juga Gunung Sitoli. Nah, lima
sisanya adalah wilayah kabupaten yaitu
Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli
Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing
Natal dan juga Papak-pak Barat. Nias pun
juga ikut menjadi salah satu wilayah
yang terdampak di Kabupaten Tapanuli
Tengah. Ya, tercatat 8 titik longsor dan
10 titik banjir. Di kota Sibolga longsor
melanda 6 titik. Dari informasi yang
dihimpun di tanggal 26 November 2025
berdasarkan data sementara ada empat
orang yang meninggal dunia. Nah, lalu
ada tiga orang yang masih tertimbun
material longsor di Tapanuli Tengah.
Sementara ada lima orang lainnya
meninggal dunia dan tiga luka-luka dan
empat orang masih dalam pencarian. Tapi
itu data sementara ya, Geng. Ketika gua
syuting video ini, kabarnya sih datanya
ya korban itu semakin bertambah. Nah,
kemudian masih ada 2.543
kepala keluarga, Geng, yang terdampak.
445 di antara mereka itu mengungsi. Nah,
lalu sejumlah badan jalan di sana
terputus. Jadi, benar-benar ini adalah
bencana nasional, bencana besar. Di
Kabupaten Tapanuli Selatan, tepatnya di
Kecamatan Batangtoru, Polda Sumatera
Utara masih belum menyebut jumlah korban
yang meninggal. Salah satu warga
setempat yang bernama Aziz Hasibuan itu
menyebutkan kondisi di tiga desa, yaitu
Desa Garoga, Desa Hut Godang, terus Desa
Aek Ngadol. Saat ini lumpuh total, Geng.
Kondisi yang bikin merinding dan
menyedihkan, ya jenazah korban banjir
itu udah ditemukan. Kalau kalian lihat
di video-video itu, mereka tersangkut di
tumpukan sampah. tumpukan sampah yang
terbawa hanyut, puing-puing yang terbawa
hanyut oleh banjir. Dan sedihnya
jenazah-jenah ini belum bisa dimakamkan
karena ya air masih menggenang tinggi
dan tidak bisa dilalui. Bantuan Bupati
Tapanulis Selatan dan Pemprov Sumatera
Utara juga belum datang kabarnya. Dan
berdasarkan informasi dari Kepala
Puskesmas Batang Toru yaitu Elida
Batubara, data sementara korban yang
meninggal dunia akibat banjir ini ya
baru ditemukan sekitar en orang. Namun
Elida memperkirakan masih ada korban
yang lain yang masih belum ditemukan. Di
Mandiling Natal, longsor itu sampai
menutup jembatan Aek Inomon I geng.
Sementara banjir di muara Batang Gadis
itu sampai membuat 400 orang warga
mengungsi dan banjirnya merendam sampai
470 rumah di sana. Di Nias, longsor juga
menutup akses jalan utama di Desa
Holigodu, Gunung Sitoli. Sejak laporan
pertama masuk terkait kondisi di sana,
Polri langsung bergerak cepat
mengevakuasi warga serta mengamankan dan
mengatur lalu lintas di sejumlah titik.
Di desa lain yaitu Desa Panggugunan,
Kecamatan Pakat, Sumatera Utara itu juga
dilanda banjir bandang yang
mengakibatkan 11 korban meninggal dunia.
Dua orang korban di antaranya ditemukan
dalam kondisi yang ya sudah meninggal
dunia dan satu orang merupakan laki-laki
dewasa dan satu orang lagi adalah
perempuan dewasa. Sampai sekarang
petugas evakuasi masih terus melakukan
pencarian terhadap korban yang hilang
akibat banjir bandang tersebut. Dan saat
ini kondisi cuaca di lokasi masih cukup
ekstrem sehingga petugas masih kesulitan
untuk melakukan pencarian terhadap
korban-korban lain. Nah, kita bisa lihat
ya, Geng, betapa derasnya banjir di
Sumatera Utara ini, Geng. Berbagai
material seperti material bangunan,
kayu-kayu besar ikut terbawa.
Rumah-rumah mereka tuh hancur karena
tersapu aliran arus banjir dan juga
longsor.
Saking mengerikannya, sekaligus
mencekamnya kondisi yang terjadi di
Sumatera Utara, ada video yang beredar
di sosial media yang direkam oleh
pengungsi dari hutan di Hutana Bolon di
mana mereka berteriak, "Pak Bupati,
tolong kami di sini. Kiri kanan sudah
longsor. Enggak ada lagi jalan keluar,
Pak Bupati." Nah, kalian bisa lihat dari
videonya.
Pak Bupati, tolong kami tulu di sini,
Pak Putupati.
Kami sudah di tengah hutan ini, kiri
kanan sudah longsor, Pak Bupati.
Enggak lagi jalan keluar, Bupati.
Nah, sejak hari Selasa tanggal 25
November 2025, jaringan komunikasi itu
terputus di Kabupaten Tapanuli Tengah,
di Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan
juga Sibolga yang membuat sulitnya
orang-orang bisa mengetahui kondisi
kerabat mereka yang ada di sana. Salah
satunya ya dialami oleh Rosebua yang
terakhir kali berkomunikasi dengan
kerabatnya di Hutana Bolon Tapanuli
Tengah sekitar jam 11.00 siang pada hari
Selasa kemarin. Dia sempat menelepon
dari Jakarta dan di saat itu dia
menghubungi ibunya, dua adiknya dia, dan
satu keponakan yang berusia 3 bulan
serta kerabat-kerabat dia yang lain.
Mereka di saat itu berada di hutan.
Mereka lari dari gereja BNKP Hutana
Bolon, tempat pengungsian mereka sejak
tanggal 22 November lalu. Menurut
ceritanya si Ros ini ya, dari pengakuan
keluarganya, keluarganya bilang cuma itu
jalan yang bisa mereka ambil. lari
menyusuri hutan karena menyeberang sudah
tidak mungkin lagi, tidak bisa lagi
karena sudah tertutup banjir. Malam
sebelum keluargaarus ini lari ke dalam
hutan di perbukitan Huta Bolon, mereka
baru aja mendapatkan bantuan dari
pemerintah, Geng. Jadi ibaratnya itu
dari awal banjirnya itu udah kelihatan
masih kecil ya. Mereka udah dapat
bantuan dari pemerintah, tapi belum
sempat si ibunya Rose ini dan
keluarganya menggunakan atau
mengkonsumsi bantuan tersebut. Mereka
tiba-tiba harus menghadapi banjir yang
lebih besar lagi. Mereka terpaksa harus
mengungsi keluar dari gereja BNKP Hutana
Bolon. Mereka kabur tanpa membawa
apapun. Cuma mengandalkan baju yang
melekat di badan. Ya, daripada mereka
hanyut gitu, Geng. Terus, Geng. Kisah
pencarian yang sama juga diceritakan
oleh Tanti yang tinggal di Jakarta. Dia
ini kehilangan kontak dengan ibu serta
dua orang saudara kandungnya serta
keluarga besarnya yang lain yang ada di
Sibolga sejak hari Selasa tanggal 25
November. yang mana saat banjir terjadi,
ibunya Tanti yang berumur 67 tahun
mengungsi ke rumah putranya. Nah, karena
berada tidak jauh dari pesisir pantai,
ibunya yakin banjir tidak akan ee sampai
ke pemukiman tersebut. Nah, tapi justru
dalam komunikasi terakhir antara tanti
dan ibunya sekitar jam 11.00 pagi malah
terdengar suara dari ujung telepon. Ayo,
ayo cepat cepat kayak orang mau kabur
gitu. Dan kurang dari 3 jam pagi itu
ibunya harus mengungsi untuk kedua
kalinya. Namun, Tanti enggak tahu tuh ke
mana dan bagaimana kondisi keluarga
mereka saat ini karena jaringan telepon,
komunikasi semuanya terputus. Kebayang
tuh ya
bagi Tanti ya, banjir bandang dan lonsor
di awal minggu ini sangat-sangat bikin
syok. Dia yakin keluarganya di Sibolga
pun merasakan hal yang sama. Alasannya
si Bolga itu enggak pernah dilanda
bencana kayak gini sebelumnya.
Setidaknya dari dia lahir 40 tahun lalu
tuh enggak ada cerita kayak gini. Nah,
ini makanya menarik banget nih. Kok bisa
daerah yang gak pernah banjir tiba-tiba
dilanda banjir bandang sebesar ini udah
kayak air bah ya. Apalagi kalau bukan
ada pelakunya. Nanti kita bakal bahas si
pelakunya siapa. Kalau buat kalian yang
belum tahu, Geng, ya. Kalau kalian yang
mungkin bukan orang Sumatera ee utara,
gua juga bukan, tapi gua mengetahui ini
dari beberapa informasi. Sibolga itu
adalah daerah tepi pantai. Memang di
sana sering hujan deras, tapi karena
berada di tepi laut, jadinya airnya
mudah turun ke laut. Itu logiknya airnya
mudah tumpah ke laut. Namun yang terjadi
kali ini sangat tidak bisa diprediksi
karena banjir bandang justru berasal
dari arah gunung tapi ke lautnya enggak
bisa ketampung saking besarnya. Bahkan
yang masih di satu provinsi yang sama
aja sulit untuk menghubungi keluarga,
Geng. Apalagi kita yang di Jakarta sini.
Ada cerita dari warga Medan yang bernama
Anisa Rahmadani. Ini dia mengaku sempat
berkomunikasi dengan keluarganya yang
tinggal di Desa Pandan, Kabupaten
Tapanuli Tengah di hari Selasa jam 10
pagi. Di saat itu ibunya mengabarkan
rumah mereka terkena banjir dan rumah
tersebut menjadi tempat tinggal ibu,
ayah, dan adik dari ayahnya atau
pamannya gitu. Dan sebelum banjir,
ibunya itu masih menjalani aktivitas
sehari-hari termasuk berjualan di kantin
sekolah. Dan ibunya ini naik mobil sama
ayahnya si Anisa. Tapi karena tidak bisa
jualan di sekolah akibat banjir,
pulanglah si ibunya. Rencananya dia mau
jemput pamannya yang tinggal di rumah.
Namun, geng, perjalanan mereka terhambat
saat berada di tangga 100. Ini semacam
daerah gitulah ya, kalau gua enggak
salah. Nah, di saat itu polisi meminta
mereka putar balik karena jalur yang
akan dilalui sudah terkena lonsor dan
sejak saat itu komunikasi dia dengan
keluarganya putus sama sekali. Nah, jadi
benar-benar e enggak ada kabar lagi.
Nah, itu baru beberapa cerita dari
orang-orang yang mengalami kemalangan
keluarganya di Sumatera Utara. Mereka
ada di rantau dan mereka enggak bisa
sama sekali menghubungi keluarganya.
Terus, Geng, Pemprov Sumatera Utara
sudah mengirimkan bantuan logistik, tim
serta peralatan evakuasi ke sejumlah
daerah yang terkena bencana banjir dan
longor ini. Tapi berdasarkan informasi
yang diambil di tanggal 26 November
kemarin, sehari sebelum gue syuting
video ini ya, ee bantuan logistik tuh
masih belum tersalurkan karena
terkendala akses. BPBD Sumatera Utara
juga sudah menyiapkan bantuan paket
senilai Rp60 juta beserta peralatan
penanganan bencana. Peralatan yang
dikirim untuk evakuasi dan penyelamatan
berupa 4 unit perahu karet, 2 unit mesin
perahu, dan 2 unit dongkrak angin, 2
unit genset, dan 6 unit pompa jinjing.
Lalu ada juga 4 unit pompa kohler dan
dua tenda pengungsi serta 2 unit
starling, 2 unit chino dan juga 42 unit
lampu. Pempr di saat itu sudah melakukan
koordinasi tuh dengan BNPB Republik
Indonesia untuk bantuan dana siap pakai
kepada kabupaten yang terdampak. dan
Pemprov juga berkoordinasi dengan BUMN
untuk bantuan kepada masyarakat. Sebelum
bantuan dari BPBD, Pemprov Sumatera
Utara melalui Dinas Sosial sudah
mengirimkan 1 ton minyak goreng, 500 kg
gula putih, dan 500 kotak teh celup,
20.000 bungkus mie instan, dan 1000
kaleng ikan sarden, Geng. Nah, itu dia,
Geng, ya. Bagaimana kondisi yang terjadi
di Sumatera Utara saat ini, ya. Cukup
mengerikan.
Banjir bandang. Banjir bandang,
Komandan. Jadi saat ini belum bisa kami
perkirakan apakah ada korban atau tidak.
Kami telah menghimbau tadi mengevakuasi
dan beberapa masyarakat sudah kami
mencikkan.
Oke, untuk selanjutnya kita bakal bahas
kondisi banjir yang terjadi di Aceh,
Geng.
Sejak pertengahan bulan November 2025,
sejumlah wilayah di Provinsi Aceh itu
sudah diguyur hujan deras dengan
intensitas yang cukup tinggi, Geng.
Curah hujan yang terus berlangsung
berhari-hari memicu luapan sungai dan
genangan air. Akibatnya, ada sembilan
daerah di Provinsi Aceh itu menetapkan
status darurat bencana banjir, yaitu di
Kabupaten Aceh Besar, PIDI, Aceh Utara,
Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, serta
Aceh Tengah dan Aceh Tenggara serta
sampai Aceh Barat. Dari data sementara
ya, ada sebanyak 46.893
jiwa yang terdampak dan 1497
orang di antaranya mengungsi. Banjir
terparah terjadi di Kabupaten Aceh
Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara. Di
daerah tersebut, Geng, ketinggian air
bervariasi sampai mencapai 80 cm dan
merendam fasilitas umum sampai dengan
lahan pertanian milik warga. Di hari
ketika gua syuting ini di website resmi
Badan Penanggulangan Bencana Aceh atau
BPBA, titik banjir di Aceh itu sampai
sekarang ada sembilan, yaitu di daerah
Biren, Loksmawe, Aceh Timur, Langsa,
terus ada Bener Meriah, terus ada
Gayoles, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan
Aceh Selatan. BPBA itu mencatat dalam
periode 18 November 2025 jam .00 pagi
sampai 26 November 2025 jam 12.00 siang,
bencana ini sudah berdampak pada 14.235
5 kepala keluarga atau sekitar 46.893
jiwa. Ada 455 kepala keluarga atau 1497
jiwa yang terpaksa mengungsi. Nah, jadi
bisa dikatakan ini bencana yang cukup
besar, Geng. Di Kabupaten Biren, hujan
dengan intensitas sedang sampai tinggi
terjadi sejak hari Minggu, Geng. Tanggal
23 November. Bayangin tuh. Dan hal ini
yang menyebabkan banjir luapan di tujuh
kecamatan. Saluran drainase tidak mampu
menampung debit air yang membuat air
meluap ke pemukiman. Merendam ratusan
rumah warga antara lain di Kecamatan
Gandapura, Jangka, Juli, Kutablang,
Makmur, dan Pedada serta Pesangan.
Oke.
Nah, sampai laporan terakhir yang
diperoleh nih, Geng, ya. Air di sejumlah
lokasi itu masih belum surut. Kemudian
di kota Loksumawe juga banjir dan
longsor terjadi pada hari Rabu tanggal
26 November setelah hujan dan angin
kencang mengguyur wilayah tersebut sejak
tanggal 20 November. Empat kecamatan
yang terdampak itu meliputi Banda Sakti,
Blang Mangat, Muara 2, Muara 1. Kondisi
serupa juga melanda Aceh Timur pada hari
Sabtu. Jadi hujan lebat dan angin
kencang menyebabkan banjir di 11
kecamatan termasuk di Banda Alam,
Birbayen, terus ada Darul Ihsan, Idi
Timur, Indramakmur, Julo, Mad,
Nurussalam, dan juga Pantai Bidari.
Selanjutnya di Kota Langsa nih, banjir
genangan yang dipicu oleh hujan 3 hari
berturut-turut serta air kiriman dari
lahan perkebunan sawit PTPN 1 Langsa
menenggelamkan sedikitnya 110 rumah di
Desa Paya Bujo, Selemak. Nah, terus ada
lagi Kabupaten benar meriah. Hujan deras
memicu longsor di Desa Pantai Kemuning,
Kecamatan Timang Gajah, serta banjir
yang merendam 10 kecamatan di sana.
Terus di Gayo Luwes nih ya kalau kalian
tahu Gayol Luwes ini adalah dataran
tinggi sebenarnya tapi juga terdampak.
Banjir terjadi pada tanggal 18 November
justru menyebabkan 11 kecamatan
terdampak dan sampai saat sekarang ini
air masih belum surut juga di Aceh
Singkil ya. Nah Aceh Singkil ini
sebagian datarannya adalah dataran
tinggi daerah gunung sebenarnya. Tapi di
sana juga mengalami banjir yang mana ini
disebabkan karena meluapnya sungai Lai
Cinendang yang menenggelamkan sejumlah
kecamatan dengan ketinggian air mencapai
50 sampai 80 cm. Ribuan warga terdampak
terutama di Kecamatan Aceh Singkil ini,
Simpang Kanan dan Gunung Meriah. Nah,
banjir juga meluas sampai ke Aceh Utara
dengan ketinggian air mencapai 30 sampai
50 cm di puluhan kecamatan. Banjir di
Aceh Selatan juga terjadi nih terpantau
mulai beransur surut setelah melanda
wilayah tersebut sejak tanggal 22
November. Nah, banjir bandang yang
sering sekali disertai dengan longsor
ini menyebabkan jalur yang menghubungkan
antara Biren dan juga Takengon di
Kabupaten Aceh Tengah itu putus total
karena longsor dan jembatannya ambruk.
Kondisi banjir ini makin diperparah,
Geng. Dengan padamnya listrik dan
terputusnya koneksi internet sehingga
warga Aceh seperti terisolasi di sana
tanpa bisa memberikan kabar kepada
keluarga. Nah, ini yang terdampak ke gua
juga nih, Geng. Nah, di saat itu tower
transmisi 150 kV pada ruas Arun Ben yang
terletak di kawasan Krung Juli,
Kabupaten Biren itu roboh akibat banjir.
Yang mana akibatnya, Geng? Sebagian
wilayah di Aceh mengalami pemadaman
listrik dan PLN sudah menurunkan seluruh
personelnya ke lapangan untuk pemulihan
pasukan listrik secara bertahap.
Pemandaman di Banda Aceh dan juga Aceh
Besar masih terjadi sampai pada tanggal
26 November. Di saat itu, Kota Langsa
lumpuh total. Banyak warga Aceh yang
tidak bisa menghubungi keluarganya e
yang ada di Aceh. Salah satunya ini
dialami oleh seorang warga Aceh yang
tinggal di Jakarta bernama Teku Zulman.
Nah, dia bilang dia tidak bisa
menghubungi keluarganya yang berdomisili
di Kecamatan Langsa Baru dan juga Langsa
Barat. Komunikasinya dengan keluarga
terputus pada hari Rabu tanggal 26
November jam .30 sore akibat pemadaman
listrik. Dan sampai saat sekarang ini
dia enggak tahu bagaimana kondisi
keluarganya di tengah banjir yang
melanda kota tersebut. Dan kabar
terakhir yang dia dapatkan, banjir
terjadi hampir di sebagian besar wilayah
Kota Langsa. Bukan cuma Zulman aja yang
mengalami hal tersebut, rekan dan
kenalannya yang sesama dari Langsa juga
tidak bisa mendapatkan respon pada saat
mencoba berkomunikasi dengan keluarga.
Dan pihak dari BPBA belum bisa
memastikan kapan akses listrik dan
internet khususnya di Langsa bisa
dipulihkan. Nah, semua ini terjadi
akibat dari tiga tower yang ada di sana
tuh tumbang dan masih dalam upaya
pemulihan. Dari informasi terakhir yang
gua dapatkan, ada sembilan warga yang
dilaporkan meninggal dunia akibat
bencana longsor yang melanda pemukiman
penduduk di dua kecamatan, yaitu BBSEN
dan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.
Ini koreksi gua kalau salah dalam
menyebutkan nama tempatnya ya, Geng.
memang agak sedikit sulit menyebutkan
nama-nama daerah di Aceh nih. Gua bahkan
sebagai orang Aceh aja kadang ya agak
kurang familiar karena gua asalnya dari
Aceh Barat Daya, bukan dari bagian Aceh
Tengah atau timur. Nah, terus geng ada
korban yang berasal dari beberapa desa.
Masing-masing itu ada dari Desa Tamiem,
terus ada Kebayakan, terus ada Desa
Payatumpi Baru yang jumlahnya dua orang,
terus ada Kampung Daling yang berjumlah
tiga orang dan Desa Bukit Sama yang
berjumlah dua orang. BPBD Aceh Tengah
itu mengatakan seluruh korban sudah
ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa
meninggal dunia. Mereka bahkan tertimbun
material longsor berupa tanah kuning
bersamaan dengan rumah yang berada di
kawasan lereng perkebunan kopi dekat
dengan tebing gunung. Di wilayah lain
yaitu di Kecamatan Matang Kul ya, Aceh
Utara, ada seorang warga yang meninggal
dunia karena tersengat arus listrik saat
mencoba mengevakuasi harta bendanya di
dalam rumah. Wah, gila ya, sedih banget.
Situasi banjir di Aceh Utara ini semakin
parah, Geng. Setelah jebolnya tanggul
sungai di Sungai Krungpeto di Desa Krung
Km 5 dan tanggul sungai di gampung
Kumbang LT km 7 di Kecamatan Luk Sukun
ya serta tanggul Sungai Krung Pas di
Desa Tepinjo e Kecamatan Nibong.
Informasi terbarunya korban jiwa di Aceh
Utara itu bertambah lagi geng. Korban
kedua ini bernama Muhammad Afdalil
usianya 27 tahun dari Desa Jerat
Manyang. Dia tewas setelah terseret arus
banjir saat mengendarai sepeda motor.
Berusaha untuk menyelamatkan diri. Pihak
dari Dinas Sosial Aceh itu terus
menyalurkan bantuan logistik bagi daerah
terdampak. Bantuan logistik ini semakin
meluas seiring dampak yang terjadi di
beberapa wilayah tersebut. Selain
bantuan tanggap darurat, pihak
Kementerian Sosial rencananya bakal
mengunjungi Aceh yang sekaligus untuk
menyalurkan bantuan bagi wilayah yang
terdampak. Pihak Dinas Sosial masih
berupaya untuk mendata wilayah terdampak
dengan pengungsi yang ada di lapangan.
Namun, Geng, sejumlah warga yang saat
ini mengungsi itu mengaku belum menerima
bantuan sembako sama sekali. Pengakuan
tersebut datang dari warga korban banjir
di Loksmawe. Salah satunya adalah
pengungsi Jalan Samudra, Desa Hagu
Selatan. Nah, pengungsi meminta
pemerintah Kota Luksmawe bergerak cepat
untuk mendistribusikan bantuan bahan
makanan bagi warga terdampak. Dan hal
serupa juga terjadi di Posco Dapur Umum
Desa Menasah, Masjid, Kecamatan Muara 2,
Geng.
Begitulah kurang lebih ya, Geng. kondisi
di Aceh bagaimana menyeramkannya dan ya
banjir ini sampai memakan banyak korban.
Oke, Geng. Untuk selanjutnya kita akan
membahas kondisi banjir di Sumatera
Barat. Kita bahas sekarang.
Nah, Sumatera Barat, Geng. juga
mengalami hal yang sama. Beberapa hari
terakhir ya hujan lebat, memicu banjir
dan lonsor. Masyarakat di wilayah Sumbar
pun diingatkan untuk mewaspadai potensi
bencana hidrometeorologi
pada periode 21 sampai 27 November 2025.
Daerah yang dilanda banjir atau longsor
di Sumatera Barat antara lain ada Padang
Pariaman, Pesisir Selatan, Pariaman,
Padang, Solok, ee Tanah Data, dan juga
Agam. Bencana terjadi sejak hari Sabtu
tanggal 22 November seiring dengan
meningkatnya intensitas hujan di Padang
Pariaman. Banjir terjadi di 33 nagari
yang tersebar di 14 kecamatan dengan
lebih dari 3.076 keluarga yang
terdampak. BPBD Padang Pariaman
mengatakan banjir terjadi karena
meluapnya sungai akibat hujan lebat
sejak hari Sabtu kemarin. Salah satu
titik banjir terparah ada di Nagari
Kampung Galapuang, Kecamatan Ulakan
Tapakis. Sungai di sekitar lokasi itu
meluap ke pemukiman dan berdampak pada
keluarga. Sebagian warga pun mengungsi
ke tempat keluarga mereka yang lebih
tinggi dan juga ke rumah ibadah. Dan
pihak BPBD Padang Pariaman sudah
berkoordinasi dengan instansi terkait
untuk penanganan banjir. Pemerintah
Kabupaten Padang Pariaman juga
memberikan bantuan konsumsi pada
masyarakat dan menyerahkan bahan makanan
untuk diolah di beberapa lokasi dapur
umum. Sementara itu, Geng, di pesisir
selatan banjir melanda sejumlah negari
antara lain Nagari Duku dan Nagari
Cumanteh di Kecamatan Koto 11 Tarusan
serta Nagari Asam Kamba Pasar Baru,
nagari sawah laweh Pasar Baru, dan
Nagari Aur Bagalung Talao di Kecamatan
Kambang. Ketinggian banjir itu
bervariasi berkisar 0,5 m sampai 1 m
lebih. Nah, jadi sebenarnya di Sumatera
Barat enggak terlalu besar dibandingkan
dengan di Sumatera Utara dan Aceh. Nah,
banjir terjadi akibat curah hujan yang
tinggi yang menyebabkan sungai-sungai
itu meluap sejak hari Minggu tanggal 23
November. Di Nagari Duku, kendaraan
sempat tidak bisa lewat karena air
menggenangi jalan nasional lintas barat
Sumatera hingga 1 m. BPBD pesisir
Selatan masih menghimpun e berapa jumlah
warga yang terdampak yang mana selain
merendam pemukiman, banjir yang meluap
ini juga membuat adanya seorang warga
yang hanyut yang berasal dari Kampung
Akad, Nagari Kambang Utara, Kecamatan
Lengayang. Warga tersebut adalah seorang
petani yang hanyut saat menyeberang
sungai dan sampai saat sekarang ini
belum diketahui kabarnya. Dan di saat
gua syuting ini, banjir sudah
berangsur-angsur surut, Geng.
Menurut keterangan dari Ilham Wahab
selaku juru bicara BPBD Sumatera Barat,
di antara tujuh daerah yang dilanda
bencana, Padang Pariaman itu adalah
daerah yang terdampak secara luas. Ada
3076 rumah terdampak banjir yang dihuni
oleh 9.228 jiwa. Selain rumah, banjir
juga berdampak pada lahan pertanian,
sarana prasarana, dan juga irigasi. Nah,
di Padang Pariaman ini, Geng, longsor
juga terjadi di sejumlah titik. Nah,
Ilham ini menyebutkan di pesisir
selatan, banjir sempat menggenangi jalan
nasional yang menghubungkan Padang
dengan Bengkulu. Di Kota Solok, banjir
berdampak pada enam keluarga. Di
Pariaman pun tidak luput dari terjangan
banjir. Nah, sementara di daerah Agam,
selain angin kencang dan tanah lonsor,
banjir bandang juga berdampak pada
sarana pariwisata, Geng. Nah, kemudian
di Tanah Datar itu satu rumah rusak
akibat banjir. Nah, jadi itu dia, Geng,
bagaimana kondisi di Padang Sumatera
Barat. Kalian bisa bayangkan seberapa
mengerikannya kejadian ini.
Oke, dari tadi kita sudah ngebahas ya
bagaimana kondisi di ketiga provinsi
yang terdampak banjir ini. Nah, sekarang
kita bakal membahas nih mengenai ya
penyebab dari banjir ini yang disertai
dengan longsor. Apakah ini adalah murni
sebuah bencana alam biasa atau justru
ini ada penyebabnya? Nah, sekarang kita
bakal bahas bersama-sama. Langsung aja.
Jadi, Geng menurut BNPB, banjir dan
longsor tersebut disebabkan oleh
sikropis koto di Laut Sulu dan bibit
siklon 95B di Selat Malaka. Nah, ini apa
sih maksudnya? Jujur aja ya, gua yang
menjelaskan kepada kalian dari awal juga
enggak paham ini apa. Ini adalah hal
yang sangat asing di telinga kita e
masyarakat Indonesia, masyarakat awam.
Tapi dari yang gua pelajari, gua
jelaskan sedikit. Jadi, ini disebut
dengan siklon. Dan dua siklon tersebut
yang menyebabkan hujan lebat dan angin
kencang di kawasan Sumatera Utara.
Siklon tropis koto adalah nama yang
diberikan untuk siklon yang terbentuk di
wilayah barat Laut Pasifik, khususnya
dari bibit siklon yang berkembang di
Laut Sulu. Nama Koto berasal dari daftar
penamaan siklon tropis yang disusun oleh
Badan Meteorologi Regional di kawasan
Pasifik Barat. Di mana setiap badai atau
siklon yang mencapai kategori tertentu
akan diberi nama agar mempermudah
pemantauan dan penanganan. Nah, siklon
tropiskoto ini terbentuk ketika suhu
permukaan laut hangat, pertemuan angin
yang membentuk pusaran, tekanan udara
yang menurun tajam dan terjadi
percepatan angin secara bertahap.
Meskipun pusat siklonnya berada di luar
wilayah Indonesia, efek secara tidak
langsung ya bisa mempengaruhi cuaca di
negara kita, Geng. Terutama daerah yang
dekat dengan pusat pembentukannya. Nah,
hujan ekstremnya terbentuk dan terjadi
lebih luas lagi di daerah Sumatera Utara
sepanjang hari Rabu tanggal 26 November
atau hari ketika siklon tropis senyar
masuk Sumatera. Badai tropis itu sampai
di Langsa tuh sampai di daerah Aceh
dekat perbatasan Aceh dengan Sumatera
Utara dengan Medan. Ketika badai masih
mendekat pada hari Selasa, hujan ekstrem
sudah terjadi di Aceh. Nah, lalu di hari
Rabbunya hujan ekstrem dampak dari
terjangan siklon senyar terjadi tidak
hanya di Aceh, tapi juga sampai di
Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Nah, jadi dengan istilah lain ya, siklon
ini sebutan ilmiah untuk badai gitu.
Nah, siklon atau badai inilah yang
menjadi penyebab mengapa hujan mengguyur
tiga provinsi di Sumatera tersebut
selama berhari-hari, terutama di
Sumatera Utara. Cuma, Geng, ada kelompok
advokasi lingkungan yaitu Walhi
sebenarnya meyakini banjir dan longsor
tersebut ya bukan hanya disebabkan
karena faktor tunggal, bukan cuma
disebabkan gara-gara siklon tadi atau
badai tadi, tapi justru ada hal lain,
ada hal lain yang men-support ini gitu.
ini tidak bisa lepas dari kerusakan
hutan akibat penebangan kayu yang masif
dan pertambangan emas yang dioperasikan
oleh salah satu PT. Nah, ini yang
ngomong bukan gua ya, Geng. Ini bukan
tuduhan gua, tapi ini adalah pihak
WALHI. Gua menginformasikan ke kalian
nama PT-nya adalah PT Angin Court
Research yang ada di Sumatera Utara.
Nah, deforestasi di sekeliling wilayah
terdampak banjir bandang ini sangat
tinggi, Geng. Devestasi ini sendiri
adalah kegiatan penghilangan atau
pengurangan luas hutan secara permanen
yang biasanya diakibatkan karena
penebangan pohon dalam jumlah besar,
pembakaran hutan atau ahli fungsi lahan
untuk keperluan lain. Dan kesimpulan ini
diambil karena ya ini bukan tambah bukti
ya, ini ada buktinya. Di sejumlah video
yang beredar saat banjir terjadi, kalian
bisa lihat banyak sekali ya kayu-kayu
pohon gelondongan yang hanyut. Kalian
bisa lihat sendiri nih, Geng. Bahkan
kabarnya sebelum banjir bandang dan
longsor terjadi, aktivitas pengangkutan
batang pohon di Sibolga dan Tapan Nuli
Tengah dilakukan secara terang-terangan.
Kayak enggak berdosa, kayak enggak
peduli dengan alam. Kalian bisa lihat
sendiri di Kecamatan Batang Toru yang
meluap itu adalah Sungai Batang Toru. Di
hulunya ada tiga sumber aliran air yang
tutupan hutannya sebagian sudah hilang,
sudah ditebang. Oleh karena itu, Walhi
menuduh PT Agin Court Resource itu
bertanggung jawab atas deforestasi di
Batang Toru. Perusahaan ini memegang
konsesi berdurasi 30 tahun tambang
Martabe seluas 130.253
hektar yang diterbitkan pemerintah pada
tahun 1997. PT Agin Court Resource ini
adalah anak usaha dari PT Danusa Tambang
Nusantara yang mayoritas sahamnya
dimiliki oleh PT United Tractors Tbk.
BMKG itu mengungkapkan siklon tropis
senyar dan siklon tropis koto akan
menyebabkan cuaca ekstrem di Indonesia
dan gelombang tinggi di perairan pada
hari Kamis tanggal 27 November yang
artinya tuh hari ini ketika gue syuting.
BMKG mencatat siklon tropis senyar pada
hari ini ya berada di selatan Malaka
sebelah timur Aceh dengan pergerakan
menjauhi wilayah Indonesia dengan
kecepatan angin maksimumnya menurun.
Meskipun begitu, dampak cuaca ekstrem
tetap berpotensi terjadi di Aceh dan
Sumatera Utara dengan intensitas hujan
lebat sampai ekstrem. Dampaknya adalah
wilayah Sumatera Barat akan dilanda
hujan lebat dan sangat ekstrem.
Sedangkan di Riau ada prediksi untuk
intensitas hujan sedang sampai dengan
hujan lebat. Menurut BMKG nih, siklon
senyar juga bisa menyebabkan angin
kencang di wilayah Aceh dan Sumut. Oleh
karena itu, nelayan atau masyarakat yang
beraktivitas di pesisir pantai dan laut
diminta untuk waspada terhadap potensi
gelombang kategori tinggi di wilayah
Salat Malaka bagian utara, perairan
Aceh, Samudra Hindia, dan sebelah barat
Aceh hingga Kepulauan Mentawai. Nah,
jadi makanya ada isu-isu katanya bakal
terjadi tsunami. Nah, yang dimaksud itu
ini, Geng. Nah, ombak tersebut bisa
setinggi 2,4 sampai 4 m loh, Geng. Jadi,
ya stay safe ya buat kalian, Geng, yang
ada di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera
Barat. Semoga kondisinya segera membaik,
ya. dan bisa secepatnya mengetahui kabar
sanak keluarga yang ada di sana. Amin ya
rabbal alamin.