TKI IMPOSED FOR 21 YEARS IN MALAYSIA! WITHOUT SALARY AND CANNOT CONTACT FAMILY
rYa3pk_U_A0 • 2025-11-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Nah, selama 21 tahun Seni ini bekerja di
Malaysia, dia benar-benar enggak pernah
digaji ya. Jangankan dibayar atau
digaji, dia bahkan dikurung tidak boleh
berkomunikasi
dengan keluarganya. Sama sekali enggak
boleh ke mana-mana.
Geng, pembahasan kita hari ini
berhubungan dengan pekerja migran atau
orang-orang yang mencoba peruntungan
mengadu nasibnya ke luar negeri. Ya, ini
adalah salah satu bukti atau salah satu
tanda bahwa di negara kita memang
semakin sulit aja untuk mendapatkan
lapangan pekerjaan. janji manis 19 juta
lapangan pekerjaan itu ya tinggal cerita
yang mengalir di selokan lah belum tentu
eh bakal terwujud. Nah, makanya banyak
orang-orang yang mencoba untuk mengadu
nasib ke luar negeri. Nah, tapi sedihnya
ada satu kasus ya. Jadi kasus ini
berhubungan dengan seorang pekerja
migran yang disekap oleh majikannya dan
dia mengalami tindakan yang tidak pantas
ya mulai dari disekap, disiksa, terus
enggak diupah dan terkurung selama 21
tahun.
Pekerja migran Indonesia asal
Temanggung, Jawa Tengah disap selama 21
tahun bekerja di Malaysia. Bahkan ia
tidak digaji selama bekerja. keluarga di
Temanggung pun tak dapat menghubunginya
selama bertahun-tahun.
Bayangin tuh 21 tahun selama itu dia itu
benar-benar enggak digaji dan bahkan
enggak boleh berkomunikasi lagi dengan
keluarganya. Padahal dia berangkat ke
luar negeri dengan harapan bisa
memperbaiki perekonomian keluarga dan
bahkan kabarnya ya dia ini ingin
membangun rumah. Tapi semenjak saat itu
ya semua harapannya pupus. mimpi dia
untuk bisa membangun rumah, memperbaiki
ekonomi keluarga, ya lenyap semuanya.
Dan yang paling menyedihkan nih, Geng
ya, dia berangkat di saat muda. Dan
ketika dia selamat setelah 21 tahun, dia
udah tua dan bahkan udah punya cucu. Dia
enggak pernah tahu dia udah punya cucu,
Geng. Sedih banget nih ceritanya. Nah,
kalian harus dengar dari awal karena ini
bisa menjadi edukasi buat kalian juga
agar lebih berhati-hati dalam memilih
pekerjaan. Nah, terus geng di cerita
yang kedua, gua juga pengen ajak kalian
untuk membahas salah seorang remaja yang
memiliki skill sepak bola yang baik. Dia
mendapatkan tawaran untuk bergabung
dengan PSMS Medan dan tawaran itu datang
dari seseorang yang mengaku bagian dari
manajemen PSMS melalui Facebook.
Tahu-tahu ketika dia menerima pekerjaan
itu ya, si remaja ini berangkatlah dari
Bandung menuju ke Medan tadinya. Tapi
tanpa dia sadari dia bukannya berada di
Medan malah dia berakhir di Kamboja dan
dia dijadikan pekerja paksa dan eh dia
diminta untuk menjadi seorang scammer
sampai pada akhirnya negara harus turun
tangan untuk membantu dia bisa
menyelamatkan dia dan kembali ke tanah
air. Nah, ini juga bisa menjadi
pelajaran untuk kita semua agar lebih
berhati-hati juga dalam menerima
tawaran-tawaran pekerjaan. Nah,
bagaimana cerita selengkapnya dari dua
kasus ini? Langsung aja kita bahas
secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jerry
Gengging. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita akan bahas dulu kasus yang
pertama tentang seorang TKI yang disekap
selama 21 tahun di Malaysia oleh
majikannya. Langsung aja kita bahas.
Jadi, Geng, kisah ini dialami oleh
seorang TKI atau pekerja migran asal
Temanggung yang hilang dari keluarganya
selama 21 tahun. Dia hilang setelah
menginjak tanah atau negeri orang lain
itu bukan karena keinginan dia, bukan
karena dia pengin pisah dari keluarga
atau justru dia berbuat kesalahan lalu
dipenjara, enggak sama sekali. Nah, jadi
geng dia ini ya terjebak terjebak tanpa
upah dan tidak boleh lagi berkomunikasi
dengan keluarganya yang ada di tanah
air.
Bisa kasus SN ini adalah pekerja migran
asal Temanggung yang ditap selama 21
tahun oleh majikannya dan mengalami
kekerik kini menjadi sorotan dan
keprihatinan.
Kasus ini bermula ya ketika seorang TKI
yang bernama Senny dia berusia 47 tahun
sekarang. Nah, dikabarkan dia ini sudah
berangkat ke Malaysia dari tahun 2004.
Sebelum dia berangkat ke Malaysia, dia
ini berharap dia bisa membangun rumah,
memperbaiki ee perekonomian keluarga,
menafkahi keluarganya, dan bahkan geng
di kampungnya itu ya ada sebuah tumpukan
batu bata yang tujuannya untuk membangun
rumah, untuk membangun rumah impian dia.
Nah, tapi ternyata ya di saat itu dia
ingin mengumpulkan dananya dulu untuk
membangun rumahnya. Tapi mimpi itu sirna
semua. Batu bata itu sekarang bahkan
menjadi tumpukan yang sudah berlumut,
tidak terawat, tidak pernah dibangun,
dan menjadi saksi bisu. Awal mula Seni
ini menghilang. Nah, selama 21 tahun
Seni ini bekerja di Malaysia, dia
benar-benar enggak pernah digaji ya.
Jangankan dibayar atau digaji, dia
bahkan dikurung tidak boleh
berkomunikasi
dengan keluarganya. Sama sekali enggak
boleh ke mana-mana. Dan yang paling
mengerikan nih, Geng, ya. Dia itu ggak
cuma dikurung aja, tapi dia juga disiksa
dengan cara yang terbilang tidak
manusiawi. Mulai dari disiram air panas
ke mulutnya, dadanya dicubit sampai
infeksi, luka melepuh di kaki, mulutnya
sampai ditendang hingga giginya patah.
Bayangin, Geng. Di saat orang mau kerja
dengan tujuan menafkahi keluarga, tapi
dia malah mendapatkan e perlakuan yang
sebegitu mengerikan. Dan yang lebih
gilanya nih, Geng, ya. Luka-luka yang
dialami oleh Senny ini bakal menjadi
bekas luka yang permanen dan tidak bisa
hilang di tubuhnya dia. Jadi, ibaratnya
tuh cacat fisik. Nah, sudah mendapatkan
penyiksaan yang membuat fisiknya cacat,
mentalnya juga tertekan dan dia tidak
bisa sama sekali berkomunikasi dengan
keluarganya. 21 tahun itu bukan waktu
yang singkat loh, Geng. Bisa-bisa kita
lupa akan semuanya. Bahkan wajah
keluarga kita aja bisa lupa tuh. Ya kan?
21 tahun tidak diberikan komunikasi,
tidak boleh melihat wajah mereka,
ditambah dengan tekanan-tekanan serta
kekerasan fisik.
Menurut kesaksian tetangga dari Senny,
ya, tetangga dia di Indonesia sebelum
Senny ini berangkat ke Malaysia, ee Seni
ini terlihat sehat dengan tubuh yang
bugar. Terus juga ee maaf nih ya karena
cacatnya di bagian bibir juga. Bibirnya
itu utuh biasa. Nah, namun saat sekarang
ini ketika berita ini viral, kondisinya
dia sangat memprihatinkan. Tubuhnya
kurus kering akibat kekejaman yang dia
alami. Dan selain itu dia mendapatkan
penyiksaan fisik. Dia bahkan hanya
diberikan makan seadanya oleh si
majikan. Dan menurut Duta Besar Luar
Biasa dan Berkuasa Penuh atau LBB
Republik Indonesia untuk Malaysia, Dato
Indra Hermono. Nah, beliau ini bilang
kalau penyiksaan yang dialami oleh Seni
itu menyebabkan bekas luka seperti
bibirnya sampai sumbing karena disiram
dengan air panas yang membuat dia harus
mendapatkan penanganan medis karena luka
tersebut. dapat menyebabkan infeksi dan
bahkan dia harus dioperasi, Geng. Terus,
geng, uniknya ya kasus ini berhasil
dilaporkan ya, bukan karena tetangga
atau seninya sendiri berhasil kabur
ataupun mungkin e pihak keluarga Seni
yang mencoba untuk berusaha mencari
Seni. Nah, di sini nih semua ini bisa
terbongkar karena anak dari pelaku, anak
dari majikan yang mana anak dari
majikannya ini itu sudah tidak tahan,
sudah tidak kuat melihat Senny
diperlakukan seperti itu. Dialah yang
melaporkan kedua orang tuanya.
Jadi, anak kandung ini tidak tega
melihat bagaimana ee PRT-nya yang sudah
dia kenal sejak dia masih kecil
diperlakukan semena-mana oleh kedua
orang tuanya. Dan akhirnya dia membuat
video secara diam-diam dan kemudian dia
rekam dan dia sampaikan kepada
kepolisian di Malaysia.
Kenapa demikian? Nah, ini mungkin ada
hubungan yang benar-benar erat antara
Seni dan anak korban. Jadi, geng
ceritanya anak dari pelaku ini itu kan
gak tega ngelihat Senny dan dia itu
sebenarnya sudah dirawat oleh Senny atau
dalam artian Senny ini udah menjadi ART
di rumahnya dia itu e sejak dia masih
kecil, sejak anak dari pelaku ini masih
kecil. Nah, menurut Pak Hermono ya, anak
dari pelaku ini melaporkan orang tuanya
sendiri ke polisi karena dia udah enggak
tega lagi dengan perlakuan orang tuanya
tersebut kepada Seni. Anak itu udah
dirawat dari saat usia masih 3 tahun,
Geng. Walaupun dia tahu konsekuensi dari
melaporkan kedua orang tuanya sendiri,
tapi dia tetap melaporkan hal ini kepada
kepolisian Malaysia karena sudah
menganggap perlakuan orang tuanya kepada
Senny benar-benar sudah di luar akal
sehat. Setelah si anak pelaku ini
melaporkan kedua orang tuanya ke polisi
Malaysia, kepolisian Malaysia langsung
bergerak tuh, Geng, untuk segera
mengamankan kedua orang tuanya tadi.
Nah, akhirnya kedua orang tua yang
merupakan pelaku ini ditangkap pada
tanggal 19 Oktober 2025 di rumah mereka.
Dan Senny juga segera diselamatkan
dibawa ke Rumah Perlindungan namanya.
Nah, awalnya identitas dari Senny ini
tidak bisa didapatkan, tidak bisa
dikenali di karena kan sudah 21 tahun
udah enggak tahu lagi e data-data dia
ada di mana. Cuma bisa dipastikan kalau
dia adalah warga negara Indonesia
berdasarkan keterangan dari anak si
pelaku, anak dari majikannya.
Pada tanggal 30 Oktober 2025, akhirnya
Seni ini dibawa ke KBRI Kuala Lumpur
untuk dilakukan proses identifikasi
melalui pengambilan data biometrik
keimigrasian supaya ketahuan tuh dia ini
asalnya dari mana, namanya siapa. Karena
di saat itu dia kayak orang yang sudah
linglung. Namun data korban ternyata
tidak ditemukan di dalam sistem
keimigrasian Indonesia. Meskipun Seni
ini sudah mengaku pernah membuat paspor
pada tahun 2004 dan mengingat nomor
paspornya. Tapi ya itu dia tadi tidak
ada data yang valid di KBRI kita yang
ada di Malaysia. Nah, menindaklanjuti
hal tersebut, pihak Kepolisian Republik
Indonesia melakukan pengambilan sidik
jari dari seni ini dari korban dan
mengirimkannya ke pusat infis dan
identifikasi atau presiden Polri di
Indonesia untuk penelusuran lebih lanjut
tentang data si Seni ini. Karena kan
kalau dari sidik jari kita ini ya dicek
sama pihak kepolisian datanya itu ada
semua mulai dari garis keturunan kita
siapa, keluarga kita di mana, lahirnya
di mana, ya semuanya ada. Akhirnya hasil
identifikasi pun e dapat diketahui dan
di sana akhirnya ketahuanlah kalau Seni
ini memang seorang warga negara
Indonesia yang berdomisili di
Temanggung. Lalu untuk menindaklanjuti
hasil dari pemeriksaan tersebut, pihak
Polres Temanggung mengunjungi alamat
yang tertera yaitu alamat keluarga dari
Seni ini dan berhasil menemukan
keluarganya di sana. Setelah
dikonfirmasi, keluarga memberikan
selembar foto yang lama yang udah 21
tahun yang lalu sebelum Senny ini
berangkat ke Malaysia dan kemudian
dikonfirmasi oleh Senny kalau foto itu
benar dia dan keluarganya. Wah, sedih
banget deh, Geng. Wajahnya udah berubah
gitu, udah cacat gitu. Nah, akhirnya
identitas dari Seni ini berhasil
dipastikan secara sah. Jadi, diketahui
juga nama dari kedua pelaku ini adalah
pasangan suami istri yang bernama Azhar
Mattaib dan Zuzian Mahmud. Nah, kalau
dari namanya orang Melayu ya, orang
Melayu dan gua yakin banget dari namanya
sih muslim. Nah, yang jadi pertanyaan
gua memang ini enggak ada hubungannya
sama agama ya. Tapi yang jadi pertanyaan
gua, sejak kapan orang Melayu bisa
sekejam ini? Sampai bingung gua. Ini
mungkin teman-teman dari Malaysia bisa
menjelaskan ya. Untuk kalian yang
mungkin paham dengan cara pemikiran
orang-orang di negara kalian ini orang
seperti apa sih yang bisa sekejam ini
gitu. Kalau di Indonesia biasanya ya
adalah orang-orang tertentu yang memang
punya pemikiran yang tidak manusiawi
kayak gini. Tapi di Indonesia sendiri ya
kalau gua lihat bahkan seorang penjahat
sekalipun orang-orang yang suka
ngancam-ngancam orang atau orang-orang
yang suka berantem, beramai-ramai gitu
ya, itu aja masih punya hati nurani,
masih punya kasih sayang. Nah, ini ini
dia siapa sih? apa tabiat atau apa
culture yang mungkin dia dia ambil
sebagai paham sehingga mereka berdua nih
suami istri ini bisa punya apa ya rasa
kek aduh gua sampai bingung ngomongnya
kejam banget masalahnya. Nah, akhirnya
ya dua orang yang merupakan suami istri
ini yang bernama Azhar Mataib dan juga
Zuzian Mahmud ini ya didakwa atas kasus
perdagangan orang dan eksploitasi
terhadap Seni korbannya. Nah, Jaksa
menjelaskan bahwa pasangan tersebut
diduga memperdagangkan korban untuk
dieksploitasi sebagai tenaga kerja
menggunakan ancaman dan kekerasan sampai
menyebabkan luka berat hingga cacat
fisik. Nah, atas perbuatan mereka,
mereka pun akhirnya dijerat dengan pasal
13 Undang-Undang Anti Perdagangan Orang
yang ada di Malaysia serta pasal 34 KUHP
Malaysia dengan ancaman hukuman yang
bisa mencapai penjara seumur hidup. Dan
saat ini ya si pelaku alias si
majikannya tersebut memang sudah ditahan
oleh kepolisian otoritas Malaysia. Nah,
tetapi terakhir kali ya gua dengar
kabarnya sih ini cukup bikin kesal. E
ada yang mengatakan statusnya sekarang
justru sudah dibebaskan dengan jaminan.
Nah, jujur aja sebenarnya agak kesal ya
mendengar e pernyataan tersebut kalau
memang benar ee dua pelaku ini
dibebaskan dengan jaminan. Gua yakin
banget ya teman-teman dari Malaysia juga
gak senang dengan berita ini. I kan
pasti kalian juga miris banget ya
melihat adanya warga negara Malaysia
yang sekejam ini. Kalau memang dia
dibebaskan dengan jaminan, ya gua harap
ya kalau kalian ketemu mereka berdua di
jalan ya pakai hukum rimba aja sekalian
karena ini jahat banget menurut gua.
Terus, Geng, sekarang katanya ya, kalau
memang berita ini benar, mereka
dibebaskan dengan jaminan. Artinya kedua
pelaku ini menjalani tahanan rumah
sambil menunggu proses hukum yang lebih
lanjut. Dan ketika para pelaku ini sudah
berhasil ditangkap oleh pihak
kepolisian, ya sebelum akhirnya dilepas
lagi, Senny ini sudah bisa menghubungi
keluarganya yang ada di Temanggung.
Bayangin aja, Geng. Enggak pernah
melihat wajah-wajah orang-orang
tersayang selama 21 tahun. Gimana
rasanya? Dan akhirnya setelah 21 tahun
tanpa kabar Senny bisa berkomunikasi
lagi dengan keluarganya. Pertemuan jarak
jauh mereka itu via video call dan
berlangsung di KBRI Malaysia. Nah, dalam
suasana yang langsung berubah hening
ketika wajah-wajah dari Temanggung
muncul di layar handphone dilihat
langsung oleh Senny. Di situlah dia
kayak ya menangis jadi-jadinya. Dulu dia
ke Malaysia masih muda, sekarang 21
tahun. Wow. Udah, udah beda wajahnya.
Dan yang paling sedihnya adalah ketika
dia berangkat ke Malaysia, dia itu
meninggalkan anaknya di usia 5 tahun.
Dan saat ini anaknya itu bahkan sudah
punya anak lagi. Jadi, Senny ini sudah
punya cucu. Jadi, momennya benar-benar
wah merinding banget, Geng. Suasana di
ruang di saat itu ya, di ruang KBRI itu
enggak cuma e membuat Seni doang yang
sedih dan juga keluarganya doang yang di
Temanggung yang sedih. Tapi para petugas
yang mendampingi dia pun wah ikut
merinding, ikut nangis. Dan beberapa
dari mereka ya menahan tangis, menahan
haru saat menyaksikan bagaimana seorang
ibu yang sudah dua dekade enggak pernah
melihat keluarganya lagi, anaknya lagi,
dan bahkan dia enggak pernah tahu kalau
dia udah punya cucu. Huh. Setelah
melakukan komunikasi itu ya mereka
memang udah enggak sabar untuk bertemu
dengan Senny. Keluarganya udah enggak
sabar buat ketemu sama Senny. Tapi
dikabarkan Senny ini belum kembali ke
Temanggung. Saat ini dia masih ada di
rumah perlindungan yang ada di Malaysia
karena prosesnya enggak segampang itu,
Geng.
Terus, Geng. Menteri P2 MI yaitu Pak
Mutaruddin itu memastikan kalau kasus
ini sudah masuk ke dalam radar utama
lembaga beliau. negara ya tidak akan
tinggal diam ketika ada pekerja migran
yang haknya terabaikan. Perlindungan dan
pemulihan penuh menjadi prioritas yang
harus dijamin. Nah, di sisi lain langkah
diplomatik juga sudah bergerak. KP2 MI
bersama pihak KBRI Kuala Lumpur itu
mengirimkan nota resmi kepada
Kementerian Luar Negeri Malaysia meminta
agar kasus ini mendapatkan perhatian
maksimal dari otoritas setempat dan
upaya pendampingan hukum bagi korban pun
ya juga dilakukan oleh negara ya dan
sudah ada seorang pengacara yang
ditunjuk melalui bar konsil Malaysia
yang disiapkan untuk memastikan proses
hukumnya berjalan dengan semestinya.
Nah, itu dia geng kisah dari Seni ya.
Seorang wanita yang berasal dari Tulung
Agung. Dia meninggalkan rumahnya,
meninggalkan anaknya untuk mengadu nasib
ke Malaysia. Tahu-tahu sampai di
Malaysia malah disekap. Tidak pernah
boleh keluar lagi, tidak pernah boleh e
pergi dari sana. Dan saat sekarang ini
ketika dia diselamatkan, dia justru
dalam kondisi yang sudah memprihatinkan.
Tubuhnya udah cacat permanen dan
kenyataan pahitnya adalah dia baru bisa
melihat anaknya lagi setelah anaknya
dewasa. bahkan sudah punya anak juga.
Jadi, Senny ini sudah punya cucu saat
ini. Nah, coba deh, Geng. Kalian
bayangkan tuh kisahnya, Geng. Merinding
enggak sih? Oke, untuk sekarang gua
pengen ajak kalian untuk membahas kisah
selanjutnya, ya. Kisah seorang remaja
asal Bandung yang ingin menjadi pemain
bola di Medan malah dibawa ke Kamboja.
Jadi, Geng, kasus ini dialami oleh
seorang pemuda yang berasal dari Bandung
yang mana pada awalnya dia ditawari
untuk menjadi seorang pemain bola di
Medan. Jadi, kisah ini berawal dari
pemuda asal Dayuh Kolot, Kabupaten
Bandung yang bernama Rizki Nurfadilah.
Usianya masih 18 tahun. Nah, dia diduga
menjadi korban dari kasus tindak pidana
perdagangan orang atau TPPO. Awalnya dia
ini diiming-imingi untuk menjadi pemain
sepak bola di salah satu klub terkenal
di Medan, yaitu PSMS Medan. Nah, tapi
ketika dia sudah menerima tawaran
tersebut, dia justru dibawa ke Kamboja.
Dari keterangan nenek korban yang
bernama Imas Siti Rohana itu, dia
memberikan kesaksian kalau cucunya ini
semula mendapatkan tawaran dari PSMS
Medan untuk seleksi pemain bola. Di
awalnya dia mendapatkan tawaran tersebut
dari kenalan di media sosial Facebook.
Ayah korban yang bernama Dedi Shihudin
juga bilang kalau tawaran yang
didapatkan oleh Rizki dari Facebook ini
ya dari seseorang yang mengaku sebagai
manajer, sebagai manajer atau bagian
dari manajemen klub PSMS. Nah, jadi di
saat itu Rizki ini senang banget. Dia
terimalah tawaran tersebut. Dan sebelum
dia menuju ke Medan untuk melakukan
seleksi, Rizki sempat dibawa ke Jakarta
terlebih dahulu oleh orang tersebut. Dan
selanjutnya barulah ya dia direncanakan
akan berangkat menuju Medan menggunakan
pesawat. Nah, di saat itu dia merasa
tenang-tenang aja. Oh iya bakal jadi
pemain bola nih ke Medan nih ya kan
sudah dibawa ke Jakarta udah ada
buktinya. Nah tapi kenyataannya ketika
menuju ke Medan ternyata pesawat yang
membawa dia tidak menuju ke Medan. Dia
justru malah dibawa ke Kamboja. Dan
sesampainya di Kamboja dia dipaksa untuk
bekerja di sana menjadi seorang scammer.
Nah, menurut sang ayah yang bernama
Deddy, awalnya anaknya ini ditawari
kontrak untuk menjadi pemain bola di
PSMS selama 1 tahun tuh pada tanggal 26
Oktober ya dia berangkat dari rumahnya.
Bahkan dia juga dijemput oleh pihak yang
menawarkan dia untuk seleksi menggunakan
travel. Nah, sebelumnya nih geng ya
sebelum diberangkatkan, kakek dari Rizki
ini sebenarnya udah curiga dengan
tawaran yang diberikan oleh e kenalan
dari Facebook ini. Nah, namun Rizki di
saat itu tetap berisik kukuku. Dia
pengin berangkat. Kakeknya bahkan udah
minta tuh nomor dari pelatih dan orang
yang menawarkan seleksi ini. Tapi Rizky
ini malah bilang kalau dia gak punya
nomornya. Nah, ini kan semakin aneh,
semakin mencurigakan. Sampai pada
akhirnya tibalah hari di mana dia
berangkat tuh dengan orang tersebut.
Nah, singkat cerita ketika dia sampai di
Jakarta, pihak keluarganya mendapatkan
kabar tentang Rizki yang mengatakan
kalau kondisinya dia sehat-sehat aja dan
sesuai dengan tujuan awal. Nah,
sesampainya dia di Medan, dia langsung
dibawa lagi ke Malaysia. Barulah di sana
dia diterbangkan lagi menuju ke Kamboja.
Nah, tapi geng ibunya Rizki ini saat itu
ya sedang bekerja di Hongkong. Nah, jadi
ibunya ini juga merantau lah ya ke
negara orang. Nah, dia malah mendapatkan
kabar pada awal November kalau anaknya
tiba-tiba sudah ada di Kamboja. Dan
seperti yang gua katakan sebelumnya,
Geng, di Kamboja udah pasti dia dipaksa
bekerja sebagai seorang scammers atau
penipuan secara online. Dan di saat itu
ternyata Rizki ini ditargetkan untuk
bekerja sebagai scammer dengan korban
dari orang-orang Cina atau orang-orang
Tiongkok. Nah, padahal Rizki ini mengaku
kalau dia itu enggak bisa menggunakan
komputer.
Kacau banget ya. Karena dia ini enggak
bisa menggunakan komputer, dia sering
salah mengoperasikan komputer tersebut.
Dan ketika dia tidak bisa memenuhi
target ya, ya boro-boro menuhin target
ya kan untuk bisa ee menjalankan
komputer aja enggak bisa ya akhirnya dia
mendapatkan siksaan
di sana. Dia harus mencari cara untuk
setidaknya menemukan minimal 20 nomor
telepon warga negara Tiongkok, Geng. Dan
menurut pengakuan dari ayahnya ya, Rizki
ini dipaksa untuk mulai bekerja dari jam
800.00 pagi sampai dengan tengah malam.
Rizki sering dipukul, sering disiksa di
saat itu karena memang dia jarang sekali
memenuhi target. Dan selama dia di sana,
sebenarnya Rizki ini bisa berkomunikasi
dengan keluarganya walaupun secara
diam-diam. Karena kalau ketahuan ya dia
bakal disiksa lagi. Dan Rizki ini sering
bertukar pesan dengan keluarganya via
WhatsApp dan juga Instagram. Dia bilang
dia sering banget disiksa dan siksaannya
itu sampai disuruh push up sebanyak
ratusan kali bahkan disuruh angkat galon
dari lantai 1 ke lantai 10. Dan selama
dia bekerja di sana, Rizki juga
diiming-imingi bisa mendapatkan iPhone
kalau bekerja selama 3 hari. Nah, tapi
semua itu hanyalah ya penipuan juga
gitu. iPhone yang dijanjikan itu enggak
pernah ada. Yang ada dia cuma disiksa
terus-menerus.
Setelah pihak keluarga Rizki mendapatkan
kabar kalau Rizki ini dibawa paksa ke
Kamboja, mereka berupaya untuk
memulangkan Rizki ke Indonesia. Segala
cara tuh, Geng, dilakukan oleh
keluarganya. Salah satu cara yang
dilakukan oleh keluarganya adalah
melaporkan kejadian ini kepada pihak
kepolisian dan juga ke pemerintah daerah
hingga kepada kedutaan besar atau KBRI.
Nah, tapi pada saat itu hasilnya nihil
ya. Meskipun pada saat itu hasilnya
masih nihil, pemerintah itu enggak
tinggal diam, tetap merespon laporan ini
dan dikabarkan bakal segera melaporkan
perkembangan lebih lanjut. Disnaker atau
Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung
mengkonfirmasi kalau orang tua Rizki
sudah memberikan laporan pada tanggal 7
November 2025. Dan setelah laporan itu,
Dnaker juga berupaya untuk membantu
dengan mekanisme yang sudah ditetapkan.
Salah satunya adalah dengan melaporkan
kejadian ini langsung ke Balai Pelayanan
Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
atau BP3I Jawa Barat. Menurut pengakuan
dari pihak Disnaker, proses ini mungkin
lebih rumit dari yang lain karena Rizki
berstatus sebagai pekerja ilegal. Nah,
sedangkan dari pihak KBRI sendiri saat
itu sudah meminta untuk e mengisi data
tentang Rizki ini, tapi dari KBRI juga
belum ada kabar mengenai pemulangan
Rizki. Di tengah-tengah kisro yang
menimpa Rizki, ya, gelombang dukungan
mulai bermunculan dari para pemain sepak
bola ya, dari dunia sepak bola. Para
pemain Persip Bandung itu serempak
angkat suara lewat Instagram story,
membagikan poster yang berisikan ajakan
untuk peduli dan memberikan perhatian
terhadap kondisi Rizki yang dikabarkan
terjebak di Kamboja. Nah, di saat itu
ada Adam Alice, ada Rezaldi Hehanusa,
Robi Darwis sampai dengan Hamra Hehanusa
itu turut menyebarkan poster tersebut
dan enggak berhenti di sana. Sejumlah
pemain lain juga ikut angkat suara
mengenai kasus ini dan membuat kasus ini
semakin bergema di kalangan pecinta
sepak bola. Nah, isi poster yang
berseleweran di media sosial itu
menyingkap awal mula persoalan yang
menyeret Rizki menjadi korban TPPO yang
mana seharusnya Rizki bisa mengejar
karir mimpinya sebagai pesepak bola,
tapi dia justru menjadi korban
perdagangan orang. Nah, di titik ini
dukungan para pemain bukan sekedar
unggahan. Mereka juga ya berusaha
menarik perhatian publik supaya kasus
ini bisa segera ditangani oleh
pemerintah kita.
Nah, setelah perjuangan keluarga Rizki
yang cukup panjang, akhirnya Rizki ini
berhasil dipulangkan ke Indonesia. Nah,
kepulangan Rizki terjadi pada tanggal 22
November 2025 dan dia tiba di terminal
2F Bandara Soekarno Hatta. Nah, di sana
sudah ada aparat kepolisian yang
menunggu untuk meminta keterangan dari
Rizky demi bisa membongkar tuntas
sindikat perdagangan orang yang merekrut
dia sampai dia terjebak di Kamboja. Nah,
ketika di bandara dia sudah ditunggu
oleh tim Polresta Bandung dan juga
petugas Polres Metro Bandara Sutta serta
BP3 MI Jawa Barat sampai dengan
perwakilan Kemenlu dari Direktorat PWNI.
Nah, semuanya berkumpul di sana
menyambut kedatangan Rizki dan
menandakan kalau kasus ini bukan sebuah
perkara yang kecil, Geng.
Setelah Rizkiy tiba, ya, Geng, di saat
itu dia tidak dibiarkan berlama-lama di
bandara. Dia langsung dibawa menuju ke
Bandung untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Ya, bukan hanya soal fisik, tapi juga
memastikan kondisi mentalnya juga aman.
Di sisi lain, Polda Jabar itu menegaskan
melalui Kabit Humas Kombes Polisi Hendra
Rohmawan, arah kasus ini bakal dibuat
jelas. Penyelidikan tidak akan berhenti
sampai semua pihak yang terlibat di
dalam jaringan perdagangan manusia ini
bisa ditemukan dan
mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
Ya, jadi yang bakal diincer dulu itu
adalah orang-orang yang merekrut di
Indonesia, Geng. Nah, di saat ini
perhatian Polda Jabar sepenuhnya tertuju
pada satu hal, yaitu menelusuri setiap
potongan pengalaman yang dialami oleh
Rizky Nurfadilah selama dia di Indonesia
sampai ke Kamboja. Mulai dari bagaimana
dia direkrut siapa aja orang yang
terlibat sampai momen ketika dia mulai
dieksploitasi di Kamboja. Semua detail
itu diperlukan dan akan menjadi puzzle
penting untuk membuka peta lengkap
jaringan yang bermain di balik layar
TPPO ini.
Untuk menjaga kondisi Rizky ya, Geng,
setelah apa yang dialami, pihak polisi
itu enggak bekerja sendirian. Di saat
itu Rizki didampingi oleh profesional
yang sudah dilibatkan untuk pemulihan
fisik dan mentalnya dia. Dan selama
proses ini, Rizki juga bakal ditempatkan
di rumah aman milik Dinas Sosial
Kabupaten Bandung, yaitu sebuah rumah
singgah yang disiapkan agar dia bisa
beristirahat tanpa adanya gangguan dari
sekitar. Nah, di tengah penyelidikan
yang berjalan, Kabit Humas di saat itu
kembali mengingatkan masyarakat Jawa
Barat untuk hati-hati dan waspada. itu
jangan mau diiming-imingi pekerjaan yang
besar atau pekerjaan yang ee
menggiurkan, tapi ternyata penipuan.
Nah, kalau kita lihat dari kasus Rizki
yang berasal dari Bandung dan juga Seni
yang berasal dari Temanggung ini
keduanya menunjukkan satu kenyataan
pahit, yaitu betapa rentannya masyarakat
kita ya terhadap godaan janji kerja di
luar negeri sekaligus betapa banyaknya
celah eksploitasi yang belum tertutup
rapat. Rizkiy dibawa jauh dari mimpinya
yang ingin menjadi seorang pemain bola.
Sementara Seni malah menjalani siksaan
selama 21 tahun tanpa digaji dan tidak
boleh pulang dan berkomunikasi dengan
keluarga. Nah, ini bukan sekedar
persoalan biasa, tapi ini sudah menjadi
masalah sistemik yang harus ditangani
oleh negara. Nah, jadi geng dari kasus
ini gimana menurut kalian? Apakah sistem
perlindungan pekerja migran kita sudah
cukup kuat untuk melindungi masyarakat
Indonesia ee atau para pekerja yang
berasal dari Indonesia dari bahayanya
TPPO seperti yang dialami oleh Rizky dan
juga Seni atau justru masih banyak yang
harus dibenahi? Coba tinggalkan komentar
di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:04 UTC
Categories
Manage