THE HAPPIEST COUNTRY IN THE WORLD BUT TAXES ARE 50%!
kn2pAI6Soik • 2025-11-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ada hal yang menarik nih, Geng. Kata
Viher Kenta ini bukan semata-mata
besarnya pajak, tapi cara masyarakat
Helsinki ini memahami pajak itu kayak
gimana. Nah, dia bilang ada konsensus
sosial yang membuat masyarakat
berpendapat bahwa pajak tinggi bukan
sesuatu yang menakutkan. Jadi, mereka
tuh dari kecil sudah ditanamkan oleh
orang tua mereka. Ya, kalau pajak yang
tinggi, pajak yang besar dipotong dan
ditarik oleh pemerintah, itu bukanlah
beban, itu bukan hal yang menakutkan,
itu bukan sebuah kerugian, itu adalah
sesuatu yang logis.
Oke, Geng. Jarang-jarang ya kita
membahas tentang dunia perpajakan nih.
Hari ini gua pengin ngajak kalian untuk
ngebahas tentang dunia perpajakan. Ya,
sesuai dengan judulnya yang mana ya
sekali-kali kita bahaslah soal
positifnya membayar pajak. Nah, karena
kan selama ini kita selalu disajikan
dengan pemberitaan-pemberitaan soal
pajak ya di media-media itu yang
negatif-negatifnya aja gitu. Jarang ada
yang positifnya. Nah, kali ini gua
pengen ngajak kalian sesekali untuk
mendengarkan perihal pajak yang ternyata
tidak selamanya menjadi beban bagi warga
negara. Ya, seperti yang kita tahu ya,
mungkin keluhan-keluhan sejauh ini kita
itu selalu berbicara apapun yang ada di
sekitar kita saat ini, terutama di
Indonesia itu pasti ada pajaknya. Mau
beli apapun kena pajaknya. Mau itu waktu
kita makan di restoran kena pajaknya.
Dapat gaji juga. Bahkan warisan kabarnya
ada juga pajaknya. Tapi, Geng, ternyata
pajak itu enggak selalu harus dikaitkan
dengan hal-hal yang negatif atau buruk.
Karena sebenarnya pajak yang dibebankan
kepada warga negara itu ya ternyata
ujung-ujungnya diperuntukkan untuk
fasilitas warga negara juga. Nah, tapi
balik lagi ya intinya adalah
pemerintahnya jujur. Kalau
pemerintahannya jujur, pajak itu bakal
disalurkan kembali untuk kesejahteraan
masyarakat yang membayarnya. membangun
infrastruktur, biaya pendidikan,
membayar gaji para pegawai di lembaga
negara dengan harapan bakal memberikan
pelayanan yang baik bagi warga yang
membayar pajak. Dan itu semua ya diambil
dari uang pajak tadi. Dan memang ya
warga negara kita sering sekali
mengeluhkan persoalan pajak ini. Tapi
kalian tahu enggak, Geng? Ternyata pajak
di negara kita itu bukan yang tertinggi.
Masih banyak negara-negara di luar sana
yang memberlakukan pajak tinggi untuk
masyarakatnya. bahkan hingga menyentuh
angka 50%
dari pendapatan mereka. Tapi warganya
enggak pernah ada yang protes. Berbeda
dengan di negara kita ya waktu itu kan
pernah ada wacana kenaikan PPN 12%.
Masyarakat kita ngamuk-ngamuk
habis-habisan. Nah, ternyata di negara
orang bahkan ada yang setengah
pendapatan mereka 50% itu dipotong untuk
pajak. Nah, kenapa di negara yang
memberlakukan pajak tinggi ee masih ada
yang enggak protes kayak negara kita?
Padahal kalau dibandingkan dengan negara
kita, pajaknya enggak ada apa-apanya.
Karena ternyata memang hasil dari pajak
tersebut tepat sasaran, bisa dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat mereka dan
mereka tidak takut atau tidak merasa
keberaratan untuk bayar pajak karena
manfaatnya jelas gitu. Kota-kota mereka
terlihat sangat bagus, Geng. Dan semua
infrastrukturnya benar-benar oke.
Sekolah, kesehatan, fasilitas umum
seperti transportasi itu semua oke
banget dan bisa dirasakan oleh
rakyatnya. Nah, semua itu dibangun dari
pajak rakyatnya. Makanya rakyatnya
enggak merasa terbebani dengan membayar
pajak yang tinggi. Nah, di pembahasan
kali ini gua bakal ngajak kalian untuk
membahas kota-kota di beberapa negara
yang infrastrukturnya bagus-bagus
banget, fasilitasnya terjamin,
pendidikannya juga oke parah, oke punya.
Yang mana itu semua dibangun dari pajak
warganya. Negara mana aja itu ya?
Langsung aja kita bahas secara lengkap.
Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry.
[musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita bakal masuk ke dalam
pembahasan kota Helsinski yang ada di
Finlandia.
Jadi, Geng, kota ini terletak di Eropa
Utara nih, Geng. Yaitu di Finlandia.
Kalian tahu enggak sih, Geng? ya, kalau
sebenarnya Finlandia itu merupakan
negara yang memiliki pajak terbesar di
Eropa. Kita ambil contoh aja ya, negara
Inggris yang punya pajak sampai dengan
45%. Kalau Inggris aja udah segede itu,
terus Finlandia bisa berapa tuh, Geng?
Nah, ternyata, Geng, Finlandia pajaknya
di atas Inggris yang jujur aja gua
ngelihat datanya aja merinding gitu.
Pajak mereka sebesar 56,95%.
Gila enggak tuh? Negara ini memiliki ibu
kota dengan nama Helsinki, Geng. Dan
meskipun di Finlandia pajaknya sampai
sebesar itu, tapi kerennya ya, Geng,
Finlandia ini merupakan salah satu
negara paling bahagia di muka bumi ini.
Enggak nanggung-nanggung, ya. Dilansir
dari World Happiness Report, ya, negara
dengan jumlah penduduk yang cuma di
angka 5,6 juta jiwa ini itu menduduki
ranking pertama dalam indeks yang
mengukur kebahagiaan masyarakatnya
selama 6 tahun berturut-turut.
Nah, jadi aneh ya. Makin tinggi pajaknya
bukannya makin ngeluh malah makin
bahagia mereka. Kok bisa kayak gitu?
Jadi, Geng menurut Timo Viher Kenta
yaitu seorang profesor hukum dan
perpajakan di Alto University, ada
alasan tertentu mengapa Finlandia hampir
selalu menempati posisi puncak dalam
setiap survei sebagai negara paling
bahagia di dunia. Menurut Viher Kenta,
ada dua faktor yang paling menentukan.
Yang pertama nih, pendidikan dan
kesehatan. Kedua, faktor ini menjadi
tombak utama berkat kesediaan
masyarakatnya membayar pajak dalam
jumlah besar. Jadi, jumlah pajak mereka
yang lebih dari setengah penghasilan
mereka tadi itu digunakan dengan
sebaik-baiknya oleh pemerintahnya.
Terutama banget untuk kesehatan dan
pendidikan. Ya, siapa yang enggak
tergiur? Kita lihat di negara kita,
pendidikan sekarang ya gimana gitu ya.
Ada yang mahal sih, ada yang murah juga,
tapi kebanyakan orang mengeluhkan
persoalan pendidikan ya kan. dunia
kesehatan ya. Apalagi? Siapa yang gak
mau sehat berobat gratis? Siapa? Ayo
coba. Semua orang di negara kita ya
karena ada BPJS berebut-rebutan untuk
bisa mendapatkan fasilitas yang baik
dengan BPJS. Nah, di negara orang hal
itu sudah terwujud. Ada hal yang menarik
nih, Geng. Kata Viher Kenta ini bukan
semata-mata besarnya pajak, tapi cara
masyarakat Helsinki ini memahami pajak
itu kayak gimana. Nah, dia bilang ada
konsensus sosial yang membuat masyarakat
berpendapat bahwa pajak tinggi bukan
sesuatu yang menakutkan. Jadi, mereka
tuh dari kecil sudah ditanamkan oleh
orang tua mereka. Ya, kalau pajak yang
tinggi, pajak yang besar dipotong dan
ditarik oleh pemerintah, itu bukanlah
beban, itu bukan hal yang menakutkan,
itu bukan sebuah kerugian. Itu adalah
sesuatu yang logis. Kenapa? Ketika kita
hidup di atas bumi ini, kita butuh
jalanan, kita butuh transportasi, kita
butuh taman, dan semua itu dibangun dari
uang pajak. Nah, warga mereka percaya
bahwa apa yang mereka bayarkan bakal
balik lagi ke mereka dalam bentuk
manfaat nyata yang meningkatkan kualitas
hidup mereka. Dan itu benar-benar
terjadi. Dan selain masyarakat di sana
percaya kalau pajak yang mereka bayarkan
bakal meningkatkan kualitas hidup
mereka, hal yang mengejutkan juga ya
adalah pendidikan gratis mereka. Selain
itu juga layanan kesehatan universal ya,
berbagai program sosial sampai dengan
sistem pensiun yang terjamin semuanya
hadir sebagai imbalan yang bisa
dirasakan oleh masyarakat Finlandia
langsung. Jadi ketika masa tua ya orang
Finlandia ini pensiun dini terus mereka
enggak kerja lagi cuman nikmati hidup
aja. Mereka mau jalan-jalan naik kapal
pesiar, mereka mau ke Bali, Thailand,
pokoknya negara-negara tropis mereka
enggak perlu kerja lagi. Cuma nikmati
hidup sampai nunggu umur mereka selesai.
Duitnya dari mana? ya duitnya dari pajak
yang selama mereka muda mereka bayarkan
dan itu kembali ke mereka dari
pemerintahnya. Seru enggak tuh? Indah
banget hidup di masa tuanya ya kan? Nah,
semua faktor tadi dianggap sebagai
fondasi kehidupan yang baik. Nah,
sehingga dalam memperkuat semua faktor
tadi selalu menjadi prioritas utama
nasional, prioritas utama masyarakat
Helsinki. Karena mereka yakin semua
manfaat itu bakal mereka rasakan nanti
ketika mereka udah enggak kuat lagi
kerja, ketika mereka udah selesai dengan
stresnya. Ya kan? Mereka mau
santai-santai hidupnya semuanya
terbayarkan. Menurut Viher Kenta lagi,
kesehatan bahkan menjadi faktor paling
signifikan dalam menciptakan kebahagiaan
masyarakat. Ya, siapa yang enggak
bahagia? Sakit dikit, flu dikit, ke
dokter gratis.
Apa nih? Ada sakit apa, cantengan. Ke
dokter gratis. Pokoknya ya dari pajak
yang mereka bayarkan manfaatnya
benar-benar jelas. Dan Finlandia sudah
lama dikenal memiliki sistem pendidikan
yang bukan hanya unggul, tapi juga
merata kualitasnya. Dan dari sekolah
dasar sampai dengan perguruan tinggi,
seluruh sistem ini ditopang oleh
pendanaan publik yang besar. Hasilnya,
sekolah-sekolah enggak ada yang
bergantung pada status sosial ekonomi
warganya. Mau dari anak keluarga kaya
ataupun yang tidak kaya, di sana tetap
mendapatkan akses pendidikan dengan
kualitas yang sama. Bahkan di sana
kuliah juga sebagian besar gratis. Nah,
ini adalah sebuah kebijakan yang bahkan
di negara maju pun terasa hampir
mustahil. Nah, selain pendidikan,
layanan kesehatan juga menjadi salah
satu faktor yang tidak luput dari salah
satu kebijakan pembayaran pajak yang
besar ini, Geng. Jadi, Helsinki ini
menyediakan layanan kesehatan universal
untuk seluruh warga seperti pemeriksaan
dasar ya, kayak medical checkup biasa
gitu, terus ee perawatan umum hingga
pelayanan kesehatan preventif yang bisa
diakses tanpa biaya sama sekali. Nah,
jadi cuma ada beberapa pelayanan
spesialis tertentu aja yang memerlukan
pembayaran tambahan gitu seperti
konsultasi dengan dokter jantung atau
tindakan khusus yang lebih ribet lah ya.
Nah, tapi yang lainnya semuanya free,
gratis dan kalaupun harus bayar
cenderung murah karena kenapa? Udah
banyak free-nya gitu. Nah, masyarakat
Helsinki itu memandang kalau pajak yang
mereka bayarkan bukan merupakan hal yang
memberatkan mereka, melainkan mereka
percaya bahwa pajak itu merupakan
tabungan sosial. Mereka membayar lebih
tetapi mendapatkan keamanan sosial yang
membuat hidup menjadi lebih stabil,
lebih sehat, dan lebih layak. Mereka
enggak perlu khawatir tentang biaya
pendidikan anak mereka atau takut jatuh
miskin ketika sakit. Nah, pajak mereka
memberi mereka rasa aman untuk jangka
panjang. Dan ini adalah sebuah
fundamental bagi kebahagiaan mereka. Dan
ya memang masyarakat Helsinski jarang
yang miskin sih. Kalau miskin-miskin
sekalipun enggak yang ngegembel gitu
loh, Geng. Dan perbedaan ini cukup
terlihat ya ketika kita membandingkan
Finlandia dengan negara-negara yang
memiliki jaminan sosial minim atau
tingkat korupsi tinggi, ya kan? Nah, di
negara-negara seperti itu wajar kalau
warganya ya mungkin malas bayar pajak,
masyarakatnya mungkin takut kalau uang
yang mereka bayarkan untuk pajak malah
hilang duluan sebelum bisa menjadi
bentuk pelayanan publik. Dan lebih
parahnya ya ee pajaknya juga bisa
dikorupsi oleh pejabat yang tidak
bertanggung jawab. Tapi geng, Finlandia
dengan kota Helsinski-nya itu bisa kita
jadikan contoh bahwa ketika uang publik
dikelola dengan transparan dan juga
masyarakatnya rajin bayar pajak ya, lalu
ya semua uang pajak itu digunakan untuk
kepentingan bersama dan memberikan
manfaat nyata, masyarakat bukan hanya
bahagia menerima manfaatnya, tapi juga
bakal berbondong-bondong bersedia
membayar pajak tersebut. Mereka merasa
bangga ikut berkontribusi. Nah, di
situlah letak rahasia kebahagiaan
Helsinki ini. Rasa percaya, rasa aman,
dan hadirnya negara dalam aspek-aspek
paling penting dalam kehidupan ee
warganya.
Geng, sebelum kita lanjut ke ceritanya,
gua mau ngajak kalian untuk
berkontribusi kecil nih agar bisa
membuat dampak besar bagi kota Jakarta.
Ya, dari tadi kita sudah bercerita nih
ya, bagaimana kota-kota yang ada di
negara-negara lain yang sangat bahagia
masyarakatnya karena masyarakatnya itu
mau membayar pajak ya. Nah, sebelumnya
gua jelaskan sedikit ya. Ini terkhusus
buat kalian yang tinggal di kota
Jakarta. Pernah enggak sih kalian merasa
infrastruktur di Jakarta semakin lama
tuh semakin memudahkan dan membuat kita
menjadi nyaman? Ya, kita contohkan aja
ya kayak ee sekolah-sekolah. Anak-anak
itu belajar di sekolah, di perpustakaan
yang memadai. Ya, di Jakarta fasilitas
pendidikannya semakin oke. Terus juga
fasilitas kesehatan, rumah sakit di
Jakarta semakin bagus, semakin membuat
pasien dan keluarga pasien nyaman.
Begitu juga dengan pelayanannya yang
juga semakin oke, kualitas dokternya
yang juga semakin bagus membantu
masyarakat, terus juga transportasi.
transportasi yang ada di Jakarta seperti
LRT atau Transjarta semuanya semakin
memudahkan dan semakin membuat nyaman.
Tahu enggak sih kalian? Semua itu bisa
berjalan karena PBB P2 yang dibayarkan
oleh masyarakat, yaitu kalian sendiri.
Nah, secara enggak langsung kalian sudah
berkontribusi besar dalam membantu
memajukan infrastruktur tersebut. Buat
kalian yang masih punya tunggakan ya,
tunggakan PBB P2 sekarang kesempatan
yang sangat baik untuk kalian karena
sedang ada keringanan pembayaran nih,
Geng. Sebagai bentuk kepedulian dan
dukungan terhadap beban masyarakat ya,
Pemprov DKI Jakarta itu memberikan
insentif keringanan PBB P2 yang berlaku
mulai dari tanggal 8 April sampai dengan
31 Desember 2025. Apa aja nih
keringanannya? Ini gua kasih tahu
kalian. Yang pertama itu adalah diskon
50% untuk PBB P2 tahun pajak 2013 sampai
2019. Terus yang kedua, diskon 5% untuk
PBB P2 tahun pajak 2020 sampai 2024.
Nah, yang paling menarik adalah ada
penghapusan sanksi administratif untuk
seluruh tunggakan sesuai dengan
ketentuan. Nah, jadi sekarang beresin
PBB jauh lebih ringan, kan? Jadi, tunggu
apaagi? Yuk, ikut berkontribusi
membangun Jakarta bersama. Untuk info
lengkapnya kalian bisa langsung cek di
@umaspajakjarta.
Nah, gimana geng menurut kalian? Apakah
negara kita Indonesia bisa mengikuti
jejak Finlandia? Coba deh kalian
tinggalkan komentar di bawah.
Oke, Geng. Sekarang kita bakal pindah ke
pembahasan yang lain, yaitu pembahasan
tentang kota selanjutnya yang
masyarakatnya bahagia karena membayar
pajak, yaitu kota Zuric ya. Salah satu
kota yang terletak di negara Swiss.
Jadi yang kedua ini adalah kota Zuric
nih, Geng. Ya, jadi ini merupakan salah
satu kota besar yang terletak di Swiss.
Nah, Zuric ini juga merupakan salah satu
kota paling bahagia di dunia. Nomor dua
tuh menurut data dari Happy City Index
tahun 2025 dengan poin sebesar 993
tingkat kebahagiaan mereka. Tapi di
balik kebahagiaan mereka ini, Zuris juga
ternyata termasuk ke dalam kota dengan
biaya hidup dan pajak yang sangat
tinggi. Nah, jadi menurut data dari
Numbeo ya, kota ini merupakan kota
dengan biaya hidup termahal di muka bumi
ini. Berdasarkan data indeks biaya hidup
tersebut, mereka mengukur harga berbagai
kebutuhan sehari-hari di sana. mulai
dari makanan, transportasi sampai
utilitas seperti listrik dan air. Tapi
ada satu hal yang sengaja tidak
dimasukkan, yaitu biaya tempat tinggal.
Jadi angka yang kita lihat ini murni
mencerminkan pengeluaran harian aja,
bukan sewa atau cicilan rumah. Sebagai
acuan nih, Geng, mereka itu memakai New
York City sebagai titik nol dengan nilai
indeks 100. Artinya, semua kota lain di
seluruh dunia dibandingkan langsung
dengan kondisi hidup yang ada di New
York. Dan hasilnya cukup mengejutkan.
Zuric itu memperoleh skor 112,5. Nah,
kalau pakai bahasa ekonomnya itu ya
berarti biaya hidup di Zurich itu
sekitar 12,5% lebih mahal daripada
kalian hidup di New York untuk kebutuhan
sehari-hari. Jadi, ini bukan cuma soal
apartemen mewah atau properti elite,
tapi hal-hal yang kita beli setiap hari
yang seharusnya murah kayak sayur dan
berbagai hal kecil yang sering dilakukan
setiap hari. Nah, di sana itu harganya
benar-benar menyedot isi dompet. Hidup
di Zuric itu memang mahal banget, tapi
di balik angka itu ternyata ada kualitas
layanan publik dan standar hidup yang
sebanding lah. Yang mana membuat banyak
orang rela tinggal di salah satu kota
paling teratur dan aman di dunia
walaupun mahal. Bagaimana dengan
pajaknya? Nah, ternyata geng di
Swiss-nya sendiri ya pajak negara itu
bahkan sampai 52,3%.
Tapi meskipun pajaknya ini gede banget,
pemerintah mereka juga memberikan
fasilitas yang sangat memadai sehingga
kota ini bisa menjadi salah satu negara
paling bahagia di dunia. Beberapa
pengamat urban dari ETH Zurich ya
menggambarkan kalau kunci keberhasilan
kota mereka bisa bahagia, bisa maju
kayak gitu terletak pada hubungan antara
warga negaranya dengan institusi
pemerintahannya. Masyarakat mereka
merasa lembaga publik benar-benar
bekerja untuk mereka. Jadi pemerintahnya
benar-benar all out lah kerja buat
mereka bukan jadi beban apalagi ancaman.
Rasa percaya yang kuat dari
masyarakatnya ini terbentuk bukan dari
janji-janji politisinya tapi dari
konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan
pelayanan yang tepat waktu, administrasi
yang transparan, dan keputusan anggaran
yang masuk akal. Nah, karena itulah
banyak warga di zuritana menjalani
hari-hari mereka lebih mudah dan
praktis. Dan mereka tahu bahwa sistem
yang menopang hidup mereka berfungsi
sebagaimana mestinya dan itu memberikan
rasa aman yang tidak bisa dibeli pakai
apapun. Jadi ya dengan begitu mereka
bayar pajak juga senang atau happy-happy
aja gitu. Terus geng menurut laporan
tata kelola ETH Zurich ya tahun 2024 itu
menunjukkan bahwa mayoritas warga mereka
sekitar 79%-nya menilai pemerintah kota
bekerja dengan sangat baik dan berhasil.
Penilaian positif ini datang dari
layanan sederhana yang mempengaruhi
hidup sehari-hari. Seperti pengurusan
izin mereka tuh gampang. Enggak ada tuh
calu-caluan atau duit sogok-sogokan.
Pengelolaan sampah mereka bersih sampai
dengan proses mendapatkan perumahan umum
juga lancar di sana. Mungkin kayak ya
subsidi pemerintahnya atau apanya gitu
kan lebih oke, lebih murah gitu. Dan di
banyak kota-kota lain urusan-urusan
kecil seperti ini justru sering menjadi
sumber kekacauan dan membuat stres
warganya ya kan ya. Kita contohin aja
beberapa negara di muka bumi ini tuh ada
aja calonya ya kan. Mau ngurus KTP ada
calonya, mau ngurus A BC ada calonya.
Jadi enggak jujur. Nah di Zuric semua
itu enggak ada. Dan di Zuric ini
semuanya berlangsung dengan ritme yang
dapat diprediksi. Sistem publiknya
kompeten, jelas alurnya, dan minim
dengan hal-hal yang menyebalkan.
Prediktabilitas itulah yang sebenarnya
berperan besar dalam kualitas hidup.
Meski sering luput dari penelitian
tentang kebahagiaan warga negaranya.
Nah, ketika masyarakat tahu kalau
layanan dasar di negara mereka itu
berjalan tanpa hambatan, semuanya
transparan dan membuat mereka happy gitu
ya, beban mental mereka bakal berkurang
dan pengurangan stres semacam ini meski
terlihat kecil menciptakan ruang bagi
rasa tenang yang bakal berkelanjutan
yang artinya mereka itu ya happy, senang
untuk membayar pajak di sana.
Jadi kurang lebih seperti itulah kota
Zuric, Geng ya. Kalian sudah bisa
bayangkan ya kenapa masyarakatnya rela
bayar pajak ya karena memang tingkat
kebahagiaan karena fasilitas-fasilitas
di sana itu terjamin. Masyarakatnya juga
percaya kepada pemerintahnya karena
mereka bekerja dengan sepenuh hati.
Zuric ini sendiri terpilih menjadi kota
paling berkelanjutan di dunia
berdasarkan indeks kota berkelanjutan
Arkadis tahun 2016. Secara subindeks
tempat atau planet, Zuric ini berada di
posisi pertama, Geng. Sedangkan secara
subindeks people atau masyarakat dan
ekonomi atau profit, kota ini menempati
posisi ke-27 dan juga 5. Indeks kota
berkelanjutan Arkadis ini menggali tiga
permintaan terhadap people, planet, dan
juga profit untuk mengembangkan sebuah
peringkat indikatif terhadap 50
kota-kota di dunia yang mana subindeks
pengukuran people itu berdasarkan pada
infrastruktur transportasi, terus
kesehatan, edukasi, ketidaksamaan
pendapatan, keseimbangan kehidupan
kerja, rasio ketergantungan dan ruang
hijau di dalam kota. Nah, indikator ini
bisa secara luas dianggap sebagai upaya
untuk menangkap kualitas hidup untuk
warganya di kota masing-masing.
Sementara subindeks planet itu melihat
pada konsumsi energi kota, pembagian
energi terbarukan, dan siklus daur
ulang, emisi gas rumah kaca, terus
resiko bencana alam, ketersediaan air
minum, sanitasi sampai ke tingkat polusi
udara. Untuk subindeks profit itu
dilihat dari bagaimana performa kota
dalam hal perspektif bisnis ya,
penggambungan sistem transportasi,
kemudahan melakukan bisnis, serta
keterlibatan kota dalam jaringan ekonomi
global. Terus kepemilikan properti,
biaya hidup, produk domestik bruto atau
PDB per kapita, serta efisiensi energi.
Menurut penilaian Arkadis, terpilihnya
Zurit sebagai kota paling berkelanjutan
di dunia itu karena memiliki reputasi
kuat sebagai kota yang ramah untuk
ditinggali. Nah, menarik banget nih ya.
Dan selain itu, Zuris juga dikenal
sebagai kota kontemporer yang fokus
terhadap lingkungan sama dengan fokus
mereka untuk menjadi institusi finansial
dunia. Ya, walaupun berada di puncak
untuk sub index planet dan profit, Zuric
masih berada di posisi 27 untuk sub
index people. Hal ini disebabkan karena
biaya hidup di sana tuh tinggi, Geng.
Dan keseimbangan antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi masih terjadi di sana.
Adapun faktor yang membuat Zuric berada
di posisi pertama subindex planet itu
adalah upayanya untuk menjadi pionir
sebagai kota 2000 watt society pada
tahun 2050 mendatang, Geng. Nah, 2000
watt society ini sendiri adalah
pendekatan yang dilakukan oleh
pemerintah kota Zuric untuk menghadapi
perubahan iklim dan semakin langknya
sumber daya alam. Tujuannya adalah untuk
membuat masyarakat di Zurich hanya
menggunakan energi sebesar 2000 watt aja
per kapita sesuai dengan jumlah
penggunaan energi berkelanjutan global.
Komitmen yang dibuat untuk bisa
merealisasikan program ini di antaranya
adalah dengan investasi dan fokus
terhadap penghematan energi serta energi
terbarukan dan membangun gedung-gedung
berkelanjutan. Kemudian mobilitas untuk
masa depan dan upaya untuk meningkatkan
kesadaran publik termasuk
menyelenggarakan acara tahunan dengan
tema lingkungan dalam hari aksi Zuuric
multiobile. Dan faktor berikutnya adalah
transportasi umum yang modelnya sangat
berkelanjutan dibandingkan negara lain.
Keberadaan trem, kereta, terus bis,
serta kereta cepat itu semua
terkoordinasi dengan baik sehingga
mobilitas publik menjadi lebih simpel
dan terjangkau. Sebagai bagian dari
ekonomi global, Zuur tidak hanya menarik
sebagai tempat ee bisnis aja, Geng. Tapi
juga menarik untuk orang-orang yang
berada di sana. Bagusnya kualitas
kehidupan di sana, pendidikan yang
atraktif, dan kesempatan bekerja tinggi
menjadi faktor lain tentang tingginya
posisi zur di dalam segala indeks
arkadis ini. Beragam inovasi dan
industri bisnis mulai dari yang kecil
sampai besar membentuk dasar penting di
dalam sektor ekonomi Zurich. Nah,
tingginya level produktivitas dan
rendahnya upah buruh di Zuric itu
membuat biaya produksi jauh lebih
rendah. dibandingkan kota-kota lain di
dunia. Dari semua faktor ini enggak
salah ya, Geng, kenapa Zuric bisa
menjadi kota yang atraktif untuk
dijadikan tempat berinvestasi, tinggal
dan bekerja. Oke, untuk pembahasan
selanjutnya yaitu kota Copenhagen yang
ada di Denmark.
Ini koreksi gua kalau salah dalam
pengucapan ya, Geng. Nah, jadi ya kota
Copenhagen ini yang ada di Denmark ya.
Kita lihat nih bagaimana sistem
perpajakan di Denmark dulu nih.
Sebenarnya geng sistemnya itu sama
dengan negara kita Indonesia yaitu
bersifat progresif dengan tarif maksimal
orang pribadi yang mana di Indonesia
mencapai 30%. Sementara di Denmark tarif
tertinggi pajak orang pribadi mencapai
55,8%
lebih tinggi dari negara kita. Nah, ini
berarti semakin tinggi penghasilannya
maka semakin besar pajak yang dibayar.
Bahkan di Denmark ya, pajak yang
dibayarkan bisa lebih besar dari
penghasilan bersih yang diterima setelah
pajak. Gila gak tuh? Untuk pajak pusat
ditetapkan secara progresif, sementara
untuk pajak daerah ditetapkan secara
flat atau tetap. Penghasilan dari DKK
43.442
sampai dengan DKK 479.600
itu dikenakan tarif terendah sebesar
10,8% dan penghasilan di atas DKK
Rp479.000
dikenakan tarif ya 15%. untuk pajak
daerah itu dikenakan sebesar eh 24,91%.
Nah, semua penghasilan yang diperoleh
dari pekerjaan dan wirausaha itu
dikenakan pajak sebesar 8% sebelum
penghasilan. Pajak ini disebut sebagai
gross tax. Pajak kontribusi kesehatan
itu sebesar 2% dan pada tahun 2019 itu
bahkan akan dihapuskan. Nah, kemudian
ada lagi pajak gereja itu memiliki tarif
yang berkisar antara 0,41% sampai dengan
1,3% yang hanya berlaku untuk anggota
gereja Denmark. PPN Denmark itu mencapai
25%. Potongan pajak itu dikenakan 22
sampai 27% untuk bunga royalty, dan
deviden. Dan sampai saat ini Denmark
sudah memiliki perjanjian penghindaran
pajak berganda atau P3B dengan hampir 80
negara. Nah, sistem perbajakan Denmark
ini membuat seorang warga negaranya
membayar ya hampir setengah dari
penghasilan yang mereka terima. Jadi,
ibaratnya gini, kalau gaji lo ada e R1
juta, maka lu tuh kayak bayar pajaknya
itu hampir Rp500.000 gitu. Nah, jadi itu
cukup besar gitu kan. Dan alasan utama
yang menyebabkan Denmark bisa bahagia
dengan membayar pajak, yang membuat
warganya suka membayar pajak yang begitu
tinggi jumlahnya adalah kesadaran
membayar pajak yang tinggi dari
warganya. Serta pemerintah Denmark yang
memiliki predikat sebagai negara paling
tidak korup. Nah, jadi pemerintahnya itu
mengelola pajak yang dibayarkan oleh
masyarakatnya dengan sangat baik
sehingga terjadi simbiosis mutualisme
yang terjalin antara warga negara dengan
pemerintah mereka. Warga Denmark itu
menganggap kalau mereka itu sebenarnya
bukan membayar pajak, tetapi justru
melakukan investasi untuk hidup mereka
yang lebih baik. Dan ini semua bisa
terlihat nih dari ibu kota negaranya
yaitu Copenhagen tadi. Di sana
pendidikan menjadi pondasi bagi Denmark
sehingga di Copenhagen ya kualitas
pendidikannya sangat terjamin, gratis
lagi. Copenhagen dikenal sebagai kota
yang rapi dan tertib. Orang yang
berjalan kaki dan mengendarai sepeda
tidak perlu khawatir mereka bakal
ditabrak oleh motor atau mobil yang
sering ugal-ugalan di jalan. Tuh enggak
ada tuh. Di Copenhagen enggak ada tuh
yang namanya motor lewat di trotoar. Itu
enggak ada. Nah, Copenhagen sudah
didesain untuk mempertimbangkan para
pejalan kaki justru dan objek wisata
yang ada di sana sengaja dibuat
berdekatan agar para turis bisa
menjangkau dengan berjalan kaki.
Kualitas kesehatannya pun sudah terjamin
jika kalian pergi ke sana ya, kalian
bakal mendapatkan ya sistem pengobatan
yang sangat canggih dan gratis. Kalaupun
bayar tuh murah banget. Nah, fasilitas
kesehatan mereka itu ada di mana-mana
dan warganya juga sehat-sehat. Bahkan,
Geng, enggak cuma secara fisik aja ya,
mereka semua juga sehat secara mental.
Lingkungan di Copenhagen ini meskipun
merupakan sebuah ibu kota yang misalkan
nih kita melihat ibu kota Jakarta aja
crowded banget ya, macet di mana-mana
gitu, semua orang sibuk dan
tergesa-gesa. Nah, tapi di sana enggak
sama sekali bahkan enggak ada polusi.
Kalian bisa menemukan di mana-mana
banyak pohon dan taman sehingga udaranya
sangat bersih. Dan enggak heran sih,
Geng, ya, kalau The Institute for
Quality of Life tahun 2025 itu
menetapkan Copenhagen ini sebagai kota
paling bersih, paling bahagia, paling
makmur di tahun 2025 ini.
Dari salah satu warga yang bernama
Thomas Franklin nih, Geng. Sekaligus dia
ini adalah CO dari perusahaan vintage
yaitu yang bernama swapit.com. Nah, dia
bilang kereta bakal datang tepat di jam
121 jika dijadwalkan di jam tersebut.
Tidak ada yang memandang aneh kalau kita
datang ke restoran mewah dengan sepatu
catch. Berenang di pelabuhan yang bersih
tetap memungkinkan di bulan Januari
kalau kita cukup berani katanya. Mungkin
karena ini masih masuk ke dalam musim
dingin yang ee peralihan ke musim semi
gitu ya. Jadi udaranya mungkin masih
agak dingin. Nah, buat Franklin,
Copenhagen ini selalu berhasil memikat
dia dengan ketenangan yang ada di sana.
Jalan-jalannya yang lebar, jumlah sepeda
yang jauh lebih banyak dibandingkan
mobil membuat dia merasa tenang dan bisa
melepas kepenatan. Nah, Franklin juga
menghargai semangat komunitas yang ada
di Copenhagen dan minimnya ee tekanan
sosial di sana. Kondisi tersebut
memungkinkan warga bertemu dengan teman
di tepi kanal tanpa perencanaan atau
ngobrol-ngobrol sambil minum kopi selama
2 jam tanpa harus janjian dulu. Bahkan
nih, Geng, walaupun langitnya sering
mendung, Copenhagen tetap ramai karena
adanya pasar terbuka, sauna di publik,
dan suara anak-anak yang berlarian di
taman. Jadi, benar-benar sebuah ya kota
yang bahagia. Dan selain mendapatkan
predikat kota paling bahagia di dunia,
Copenhagen dinebatkan sebagai kota
paling layak huni di tahun ini. Capaian
ini menggeser wina yang menjadi
langganan peringkat atas dalam indeks
kelayakan huni global. Copenhagen unggul
di dalam infrastruktur ramah keluarga,
transportasi publik yang bersih dan
handal, serta lingkungan yang tenang dan
efisien. Ada seorang jurnalis nih asal
Amerika Serikat yang bernama Olivia
Liveng. Dia ini sudah menetap 8 tahun di
Copenhagen dan menyebutkan di sana dia
membesarkan anaknya itu menjadi sebuah
pengalaman yang sangat menyenangkan ya.
Semuanya berkat layanan publik yang
berkualitas. Semuanya ditunjang oleh
sistem pajak yang transparan dan ya
pemerintah yang bersih. Anak Olivia
sekolah di sekolah bersubsidi penuh yang
mencapai sekitar 600 Amerika atau setara
dengan Rp9,8 juta per bulannya. Jadi itu
udah free Rp9 juta per bulan. Dan itu
sudah mencukupi semua kebutuhan di sana.
Setiap warga bisa melihat kalau pajak
yang mereka keluarkan itu ujung-ujungnya
digunakan untuk kepentingan mereka
sendiri. Dan Olivia juga bilang nih,
Geng, kalau di Copenhagen itu menjadi
bukti keseimbangan kerja dan kehidupan
yang baik. Dan semuanya terlihat nyata
bukan sekedar mimpi. Dia bilang banyak
perusahaan yang mendorong karyawan untuk
mengambil cuti selama 3 minggu pada
bulan Juli setiap tahunnya. Malah
disuruh ngambil cuti gitu, Geng. Dan
selain itu, infrastruktur kota tersebut
dirancang dengan sangat cermat. Olivia
membandingkan dengan stasiun kereta
bawah tanah yang minim lif sehingga
mungkin cukup merepotkan orang tua yang
membawa anak dengan stroller. Nah, tapi
di Copenhagen, Geng, semua stasiun
metronya ada lift-nya. Jadi benar-benar
orang-orang di sana dimudahkan.
Transportasi umum yang ada di sana juga
bersih dan bisa dihandalkan. Bisnya pun
juga ramah terhadap penumpang yang
membawa stroller. Nah, itu dia, Geng,
pembahasan kita hari ini tentang
kota-kota yang masyarakatnya bahagia
karena membayar pajak. Ya, itu semua
dikarenakan pemerintahnya tepat sasaran
dalam mengelola pajak warga negaranya,
pajak e masyarakat mereka sehingga
menjadikan uang pajak itu untuk
mewujudkan fasilitas-fasilitas yang
mempermudah masyarakat di sana.
Kira-kira, Geng, dari semua pembahasan
kota-kota tadi, mana nih yang bisa
ditiru oleh kota-kota yang ada di
Indonesia? Coba deh, tinggalkan komentar
di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:05 UTC
Categories
Manage