THE HAPPIEST COUNTRY IN THE WORLD BUT TAXES ARE 50%!
kn2pAI6Soik • 2025-11-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Ada hal yang menarik nih, Geng. Kata Viher Kenta ini bukan semata-mata besarnya pajak, tapi cara masyarakat Helsinki ini memahami pajak itu kayak gimana. Nah, dia bilang ada konsensus sosial yang membuat masyarakat berpendapat bahwa pajak tinggi bukan sesuatu yang menakutkan. Jadi, mereka tuh dari kecil sudah ditanamkan oleh orang tua mereka. Ya, kalau pajak yang tinggi, pajak yang besar dipotong dan ditarik oleh pemerintah, itu bukanlah beban, itu bukan hal yang menakutkan, itu bukan sebuah kerugian, itu adalah sesuatu yang logis. Oke, Geng. Jarang-jarang ya kita membahas tentang dunia perpajakan nih. Hari ini gua pengin ngajak kalian untuk ngebahas tentang dunia perpajakan. Ya, sesuai dengan judulnya yang mana ya sekali-kali kita bahaslah soal positifnya membayar pajak. Nah, karena kan selama ini kita selalu disajikan dengan pemberitaan-pemberitaan soal pajak ya di media-media itu yang negatif-negatifnya aja gitu. Jarang ada yang positifnya. Nah, kali ini gua pengen ngajak kalian sesekali untuk mendengarkan perihal pajak yang ternyata tidak selamanya menjadi beban bagi warga negara. Ya, seperti yang kita tahu ya, mungkin keluhan-keluhan sejauh ini kita itu selalu berbicara apapun yang ada di sekitar kita saat ini, terutama di Indonesia itu pasti ada pajaknya. Mau beli apapun kena pajaknya. Mau itu waktu kita makan di restoran kena pajaknya. Dapat gaji juga. Bahkan warisan kabarnya ada juga pajaknya. Tapi, Geng, ternyata pajak itu enggak selalu harus dikaitkan dengan hal-hal yang negatif atau buruk. Karena sebenarnya pajak yang dibebankan kepada warga negara itu ya ternyata ujung-ujungnya diperuntukkan untuk fasilitas warga negara juga. Nah, tapi balik lagi ya intinya adalah pemerintahnya jujur. Kalau pemerintahannya jujur, pajak itu bakal disalurkan kembali untuk kesejahteraan masyarakat yang membayarnya. membangun infrastruktur, biaya pendidikan, membayar gaji para pegawai di lembaga negara dengan harapan bakal memberikan pelayanan yang baik bagi warga yang membayar pajak. Dan itu semua ya diambil dari uang pajak tadi. Dan memang ya warga negara kita sering sekali mengeluhkan persoalan pajak ini. Tapi kalian tahu enggak, Geng? Ternyata pajak di negara kita itu bukan yang tertinggi. Masih banyak negara-negara di luar sana yang memberlakukan pajak tinggi untuk masyarakatnya. bahkan hingga menyentuh angka 50% dari pendapatan mereka. Tapi warganya enggak pernah ada yang protes. Berbeda dengan di negara kita ya waktu itu kan pernah ada wacana kenaikan PPN 12%. Masyarakat kita ngamuk-ngamuk habis-habisan. Nah, ternyata di negara orang bahkan ada yang setengah pendapatan mereka 50% itu dipotong untuk pajak. Nah, kenapa di negara yang memberlakukan pajak tinggi ee masih ada yang enggak protes kayak negara kita? Padahal kalau dibandingkan dengan negara kita, pajaknya enggak ada apa-apanya. Karena ternyata memang hasil dari pajak tersebut tepat sasaran, bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat mereka dan mereka tidak takut atau tidak merasa keberaratan untuk bayar pajak karena manfaatnya jelas gitu. Kota-kota mereka terlihat sangat bagus, Geng. Dan semua infrastrukturnya benar-benar oke. Sekolah, kesehatan, fasilitas umum seperti transportasi itu semua oke banget dan bisa dirasakan oleh rakyatnya. Nah, semua itu dibangun dari pajak rakyatnya. Makanya rakyatnya enggak merasa terbebani dengan membayar pajak yang tinggi. Nah, di pembahasan kali ini gua bakal ngajak kalian untuk membahas kota-kota di beberapa negara yang infrastrukturnya bagus-bagus banget, fasilitasnya terjamin, pendidikannya juga oke parah, oke punya. Yang mana itu semua dibangun dari pajak warganya. Negara mana aja itu ya? Langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [musik] Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita bakal masuk ke dalam pembahasan kota Helsinski yang ada di Finlandia. Jadi, Geng, kota ini terletak di Eropa Utara nih, Geng. Yaitu di Finlandia. Kalian tahu enggak sih, Geng? ya, kalau sebenarnya Finlandia itu merupakan negara yang memiliki pajak terbesar di Eropa. Kita ambil contoh aja ya, negara Inggris yang punya pajak sampai dengan 45%. Kalau Inggris aja udah segede itu, terus Finlandia bisa berapa tuh, Geng? Nah, ternyata, Geng, Finlandia pajaknya di atas Inggris yang jujur aja gua ngelihat datanya aja merinding gitu. Pajak mereka sebesar 56,95%. Gila enggak tuh? Negara ini memiliki ibu kota dengan nama Helsinki, Geng. Dan meskipun di Finlandia pajaknya sampai sebesar itu, tapi kerennya ya, Geng, Finlandia ini merupakan salah satu negara paling bahagia di muka bumi ini. Enggak nanggung-nanggung, ya. Dilansir dari World Happiness Report, ya, negara dengan jumlah penduduk yang cuma di angka 5,6 juta jiwa ini itu menduduki ranking pertama dalam indeks yang mengukur kebahagiaan masyarakatnya selama 6 tahun berturut-turut. Nah, jadi aneh ya. Makin tinggi pajaknya bukannya makin ngeluh malah makin bahagia mereka. Kok bisa kayak gitu? Jadi, Geng menurut Timo Viher Kenta yaitu seorang profesor hukum dan perpajakan di Alto University, ada alasan tertentu mengapa Finlandia hampir selalu menempati posisi puncak dalam setiap survei sebagai negara paling bahagia di dunia. Menurut Viher Kenta, ada dua faktor yang paling menentukan. Yang pertama nih, pendidikan dan kesehatan. Kedua, faktor ini menjadi tombak utama berkat kesediaan masyarakatnya membayar pajak dalam jumlah besar. Jadi, jumlah pajak mereka yang lebih dari setengah penghasilan mereka tadi itu digunakan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintahnya. Terutama banget untuk kesehatan dan pendidikan. Ya, siapa yang enggak tergiur? Kita lihat di negara kita, pendidikan sekarang ya gimana gitu ya. Ada yang mahal sih, ada yang murah juga, tapi kebanyakan orang mengeluhkan persoalan pendidikan ya kan. dunia kesehatan ya. Apalagi? Siapa yang gak mau sehat berobat gratis? Siapa? Ayo coba. Semua orang di negara kita ya karena ada BPJS berebut-rebutan untuk bisa mendapatkan fasilitas yang baik dengan BPJS. Nah, di negara orang hal itu sudah terwujud. Ada hal yang menarik nih, Geng. Kata Viher Kenta ini bukan semata-mata besarnya pajak, tapi cara masyarakat Helsinki ini memahami pajak itu kayak gimana. Nah, dia bilang ada konsensus sosial yang membuat masyarakat berpendapat bahwa pajak tinggi bukan sesuatu yang menakutkan. Jadi, mereka tuh dari kecil sudah ditanamkan oleh orang tua mereka. Ya, kalau pajak yang tinggi, pajak yang besar dipotong dan ditarik oleh pemerintah, itu bukanlah beban, itu bukan hal yang menakutkan, itu bukan sebuah kerugian. Itu adalah sesuatu yang logis. Kenapa? Ketika kita hidup di atas bumi ini, kita butuh jalanan, kita butuh transportasi, kita butuh taman, dan semua itu dibangun dari uang pajak. Nah, warga mereka percaya bahwa apa yang mereka bayarkan bakal balik lagi ke mereka dalam bentuk manfaat nyata yang meningkatkan kualitas hidup mereka. Dan itu benar-benar terjadi. Dan selain masyarakat di sana percaya kalau pajak yang mereka bayarkan bakal meningkatkan kualitas hidup mereka, hal yang mengejutkan juga ya adalah pendidikan gratis mereka. Selain itu juga layanan kesehatan universal ya, berbagai program sosial sampai dengan sistem pensiun yang terjamin semuanya hadir sebagai imbalan yang bisa dirasakan oleh masyarakat Finlandia langsung. Jadi ketika masa tua ya orang Finlandia ini pensiun dini terus mereka enggak kerja lagi cuman nikmati hidup aja. Mereka mau jalan-jalan naik kapal pesiar, mereka mau ke Bali, Thailand, pokoknya negara-negara tropis mereka enggak perlu kerja lagi. Cuma nikmati hidup sampai nunggu umur mereka selesai. Duitnya dari mana? ya duitnya dari pajak yang selama mereka muda mereka bayarkan dan itu kembali ke mereka dari pemerintahnya. Seru enggak tuh? Indah banget hidup di masa tuanya ya kan? Nah, semua faktor tadi dianggap sebagai fondasi kehidupan yang baik. Nah, sehingga dalam memperkuat semua faktor tadi selalu menjadi prioritas utama nasional, prioritas utama masyarakat Helsinki. Karena mereka yakin semua manfaat itu bakal mereka rasakan nanti ketika mereka udah enggak kuat lagi kerja, ketika mereka udah selesai dengan stresnya. Ya kan? Mereka mau santai-santai hidupnya semuanya terbayarkan. Menurut Viher Kenta lagi, kesehatan bahkan menjadi faktor paling signifikan dalam menciptakan kebahagiaan masyarakat. Ya, siapa yang enggak bahagia? Sakit dikit, flu dikit, ke dokter gratis. Apa nih? Ada sakit apa, cantengan. Ke dokter gratis. Pokoknya ya dari pajak yang mereka bayarkan manfaatnya benar-benar jelas. Dan Finlandia sudah lama dikenal memiliki sistem pendidikan yang bukan hanya unggul, tapi juga merata kualitasnya. Dan dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, seluruh sistem ini ditopang oleh pendanaan publik yang besar. Hasilnya, sekolah-sekolah enggak ada yang bergantung pada status sosial ekonomi warganya. Mau dari anak keluarga kaya ataupun yang tidak kaya, di sana tetap mendapatkan akses pendidikan dengan kualitas yang sama. Bahkan di sana kuliah juga sebagian besar gratis. Nah, ini adalah sebuah kebijakan yang bahkan di negara maju pun terasa hampir mustahil. Nah, selain pendidikan, layanan kesehatan juga menjadi salah satu faktor yang tidak luput dari salah satu kebijakan pembayaran pajak yang besar ini, Geng. Jadi, Helsinki ini menyediakan layanan kesehatan universal untuk seluruh warga seperti pemeriksaan dasar ya, kayak medical checkup biasa gitu, terus ee perawatan umum hingga pelayanan kesehatan preventif yang bisa diakses tanpa biaya sama sekali. Nah, jadi cuma ada beberapa pelayanan spesialis tertentu aja yang memerlukan pembayaran tambahan gitu seperti konsultasi dengan dokter jantung atau tindakan khusus yang lebih ribet lah ya. Nah, tapi yang lainnya semuanya free, gratis dan kalaupun harus bayar cenderung murah karena kenapa? Udah banyak free-nya gitu. Nah, masyarakat Helsinki itu memandang kalau pajak yang mereka bayarkan bukan merupakan hal yang memberatkan mereka, melainkan mereka percaya bahwa pajak itu merupakan tabungan sosial. Mereka membayar lebih tetapi mendapatkan keamanan sosial yang membuat hidup menjadi lebih stabil, lebih sehat, dan lebih layak. Mereka enggak perlu khawatir tentang biaya pendidikan anak mereka atau takut jatuh miskin ketika sakit. Nah, pajak mereka memberi mereka rasa aman untuk jangka panjang. Dan ini adalah sebuah fundamental bagi kebahagiaan mereka. Dan ya memang masyarakat Helsinski jarang yang miskin sih. Kalau miskin-miskin sekalipun enggak yang ngegembel gitu loh, Geng. Dan perbedaan ini cukup terlihat ya ketika kita membandingkan Finlandia dengan negara-negara yang memiliki jaminan sosial minim atau tingkat korupsi tinggi, ya kan? Nah, di negara-negara seperti itu wajar kalau warganya ya mungkin malas bayar pajak, masyarakatnya mungkin takut kalau uang yang mereka bayarkan untuk pajak malah hilang duluan sebelum bisa menjadi bentuk pelayanan publik. Dan lebih parahnya ya ee pajaknya juga bisa dikorupsi oleh pejabat yang tidak bertanggung jawab. Tapi geng, Finlandia dengan kota Helsinski-nya itu bisa kita jadikan contoh bahwa ketika uang publik dikelola dengan transparan dan juga masyarakatnya rajin bayar pajak ya, lalu ya semua uang pajak itu digunakan untuk kepentingan bersama dan memberikan manfaat nyata, masyarakat bukan hanya bahagia menerima manfaatnya, tapi juga bakal berbondong-bondong bersedia membayar pajak tersebut. Mereka merasa bangga ikut berkontribusi. Nah, di situlah letak rahasia kebahagiaan Helsinki ini. Rasa percaya, rasa aman, dan hadirnya negara dalam aspek-aspek paling penting dalam kehidupan ee warganya. Geng, sebelum kita lanjut ke ceritanya, gua mau ngajak kalian untuk berkontribusi kecil nih agar bisa membuat dampak besar bagi kota Jakarta. Ya, dari tadi kita sudah bercerita nih ya, bagaimana kota-kota yang ada di negara-negara lain yang sangat bahagia masyarakatnya karena masyarakatnya itu mau membayar pajak ya. Nah, sebelumnya gua jelaskan sedikit ya. Ini terkhusus buat kalian yang tinggal di kota Jakarta. Pernah enggak sih kalian merasa infrastruktur di Jakarta semakin lama tuh semakin memudahkan dan membuat kita menjadi nyaman? Ya, kita contohkan aja ya kayak ee sekolah-sekolah. Anak-anak itu belajar di sekolah, di perpustakaan yang memadai. Ya, di Jakarta fasilitas pendidikannya semakin oke. Terus juga fasilitas kesehatan, rumah sakit di Jakarta semakin bagus, semakin membuat pasien dan keluarga pasien nyaman. Begitu juga dengan pelayanannya yang juga semakin oke, kualitas dokternya yang juga semakin bagus membantu masyarakat, terus juga transportasi. transportasi yang ada di Jakarta seperti LRT atau Transjarta semuanya semakin memudahkan dan semakin membuat nyaman. Tahu enggak sih kalian? Semua itu bisa berjalan karena PBB P2 yang dibayarkan oleh masyarakat, yaitu kalian sendiri. Nah, secara enggak langsung kalian sudah berkontribusi besar dalam membantu memajukan infrastruktur tersebut. Buat kalian yang masih punya tunggakan ya, tunggakan PBB P2 sekarang kesempatan yang sangat baik untuk kalian karena sedang ada keringanan pembayaran nih, Geng. Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap beban masyarakat ya, Pemprov DKI Jakarta itu memberikan insentif keringanan PBB P2 yang berlaku mulai dari tanggal 8 April sampai dengan 31 Desember 2025. Apa aja nih keringanannya? Ini gua kasih tahu kalian. Yang pertama itu adalah diskon 50% untuk PBB P2 tahun pajak 2013 sampai 2019. Terus yang kedua, diskon 5% untuk PBB P2 tahun pajak 2020 sampai 2024. Nah, yang paling menarik adalah ada penghapusan sanksi administratif untuk seluruh tunggakan sesuai dengan ketentuan. Nah, jadi sekarang beresin PBB jauh lebih ringan, kan? Jadi, tunggu apaagi? Yuk, ikut berkontribusi membangun Jakarta bersama. Untuk info lengkapnya kalian bisa langsung cek di @umaspajakjarta. Nah, gimana geng menurut kalian? Apakah negara kita Indonesia bisa mengikuti jejak Finlandia? Coba deh kalian tinggalkan komentar di bawah. Oke, Geng. Sekarang kita bakal pindah ke pembahasan yang lain, yaitu pembahasan tentang kota selanjutnya yang masyarakatnya bahagia karena membayar pajak, yaitu kota Zuric ya. Salah satu kota yang terletak di negara Swiss. Jadi yang kedua ini adalah kota Zuric nih, Geng. Ya, jadi ini merupakan salah satu kota besar yang terletak di Swiss. Nah, Zuric ini juga merupakan salah satu kota paling bahagia di dunia. Nomor dua tuh menurut data dari Happy City Index tahun 2025 dengan poin sebesar 993 tingkat kebahagiaan mereka. Tapi di balik kebahagiaan mereka ini, Zuris juga ternyata termasuk ke dalam kota dengan biaya hidup dan pajak yang sangat tinggi. Nah, jadi menurut data dari Numbeo ya, kota ini merupakan kota dengan biaya hidup termahal di muka bumi ini. Berdasarkan data indeks biaya hidup tersebut, mereka mengukur harga berbagai kebutuhan sehari-hari di sana. mulai dari makanan, transportasi sampai utilitas seperti listrik dan air. Tapi ada satu hal yang sengaja tidak dimasukkan, yaitu biaya tempat tinggal. Jadi angka yang kita lihat ini murni mencerminkan pengeluaran harian aja, bukan sewa atau cicilan rumah. Sebagai acuan nih, Geng, mereka itu memakai New York City sebagai titik nol dengan nilai indeks 100. Artinya, semua kota lain di seluruh dunia dibandingkan langsung dengan kondisi hidup yang ada di New York. Dan hasilnya cukup mengejutkan. Zuric itu memperoleh skor 112,5. Nah, kalau pakai bahasa ekonomnya itu ya berarti biaya hidup di Zurich itu sekitar 12,5% lebih mahal daripada kalian hidup di New York untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, ini bukan cuma soal apartemen mewah atau properti elite, tapi hal-hal yang kita beli setiap hari yang seharusnya murah kayak sayur dan berbagai hal kecil yang sering dilakukan setiap hari. Nah, di sana itu harganya benar-benar menyedot isi dompet. Hidup di Zuric itu memang mahal banget, tapi di balik angka itu ternyata ada kualitas layanan publik dan standar hidup yang sebanding lah. Yang mana membuat banyak orang rela tinggal di salah satu kota paling teratur dan aman di dunia walaupun mahal. Bagaimana dengan pajaknya? Nah, ternyata geng di Swiss-nya sendiri ya pajak negara itu bahkan sampai 52,3%. Tapi meskipun pajaknya ini gede banget, pemerintah mereka juga memberikan fasilitas yang sangat memadai sehingga kota ini bisa menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia. Beberapa pengamat urban dari ETH Zurich ya menggambarkan kalau kunci keberhasilan kota mereka bisa bahagia, bisa maju kayak gitu terletak pada hubungan antara warga negaranya dengan institusi pemerintahannya. Masyarakat mereka merasa lembaga publik benar-benar bekerja untuk mereka. Jadi pemerintahnya benar-benar all out lah kerja buat mereka bukan jadi beban apalagi ancaman. Rasa percaya yang kuat dari masyarakatnya ini terbentuk bukan dari janji-janji politisinya tapi dari konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan pelayanan yang tepat waktu, administrasi yang transparan, dan keputusan anggaran yang masuk akal. Nah, karena itulah banyak warga di zuritana menjalani hari-hari mereka lebih mudah dan praktis. Dan mereka tahu bahwa sistem yang menopang hidup mereka berfungsi sebagaimana mestinya dan itu memberikan rasa aman yang tidak bisa dibeli pakai apapun. Jadi ya dengan begitu mereka bayar pajak juga senang atau happy-happy aja gitu. Terus geng menurut laporan tata kelola ETH Zurich ya tahun 2024 itu menunjukkan bahwa mayoritas warga mereka sekitar 79%-nya menilai pemerintah kota bekerja dengan sangat baik dan berhasil. Penilaian positif ini datang dari layanan sederhana yang mempengaruhi hidup sehari-hari. Seperti pengurusan izin mereka tuh gampang. Enggak ada tuh calu-caluan atau duit sogok-sogokan. Pengelolaan sampah mereka bersih sampai dengan proses mendapatkan perumahan umum juga lancar di sana. Mungkin kayak ya subsidi pemerintahnya atau apanya gitu kan lebih oke, lebih murah gitu. Dan di banyak kota-kota lain urusan-urusan kecil seperti ini justru sering menjadi sumber kekacauan dan membuat stres warganya ya kan ya. Kita contohin aja beberapa negara di muka bumi ini tuh ada aja calonya ya kan. Mau ngurus KTP ada calonya, mau ngurus A BC ada calonya. Jadi enggak jujur. Nah di Zuric semua itu enggak ada. Dan di Zuric ini semuanya berlangsung dengan ritme yang dapat diprediksi. Sistem publiknya kompeten, jelas alurnya, dan minim dengan hal-hal yang menyebalkan. Prediktabilitas itulah yang sebenarnya berperan besar dalam kualitas hidup. Meski sering luput dari penelitian tentang kebahagiaan warga negaranya. Nah, ketika masyarakat tahu kalau layanan dasar di negara mereka itu berjalan tanpa hambatan, semuanya transparan dan membuat mereka happy gitu ya, beban mental mereka bakal berkurang dan pengurangan stres semacam ini meski terlihat kecil menciptakan ruang bagi rasa tenang yang bakal berkelanjutan yang artinya mereka itu ya happy, senang untuk membayar pajak di sana. Jadi kurang lebih seperti itulah kota Zuric, Geng ya. Kalian sudah bisa bayangkan ya kenapa masyarakatnya rela bayar pajak ya karena memang tingkat kebahagiaan karena fasilitas-fasilitas di sana itu terjamin. Masyarakatnya juga percaya kepada pemerintahnya karena mereka bekerja dengan sepenuh hati. Zuric ini sendiri terpilih menjadi kota paling berkelanjutan di dunia berdasarkan indeks kota berkelanjutan Arkadis tahun 2016. Secara subindeks tempat atau planet, Zuric ini berada di posisi pertama, Geng. Sedangkan secara subindeks people atau masyarakat dan ekonomi atau profit, kota ini menempati posisi ke-27 dan juga 5. Indeks kota berkelanjutan Arkadis ini menggali tiga permintaan terhadap people, planet, dan juga profit untuk mengembangkan sebuah peringkat indikatif terhadap 50 kota-kota di dunia yang mana subindeks pengukuran people itu berdasarkan pada infrastruktur transportasi, terus kesehatan, edukasi, ketidaksamaan pendapatan, keseimbangan kehidupan kerja, rasio ketergantungan dan ruang hijau di dalam kota. Nah, indikator ini bisa secara luas dianggap sebagai upaya untuk menangkap kualitas hidup untuk warganya di kota masing-masing. Sementara subindeks planet itu melihat pada konsumsi energi kota, pembagian energi terbarukan, dan siklus daur ulang, emisi gas rumah kaca, terus resiko bencana alam, ketersediaan air minum, sanitasi sampai ke tingkat polusi udara. Untuk subindeks profit itu dilihat dari bagaimana performa kota dalam hal perspektif bisnis ya, penggambungan sistem transportasi, kemudahan melakukan bisnis, serta keterlibatan kota dalam jaringan ekonomi global. Terus kepemilikan properti, biaya hidup, produk domestik bruto atau PDB per kapita, serta efisiensi energi. Menurut penilaian Arkadis, terpilihnya Zurit sebagai kota paling berkelanjutan di dunia itu karena memiliki reputasi kuat sebagai kota yang ramah untuk ditinggali. Nah, menarik banget nih ya. Dan selain itu, Zuris juga dikenal sebagai kota kontemporer yang fokus terhadap lingkungan sama dengan fokus mereka untuk menjadi institusi finansial dunia. Ya, walaupun berada di puncak untuk sub index planet dan profit, Zuric masih berada di posisi 27 untuk sub index people. Hal ini disebabkan karena biaya hidup di sana tuh tinggi, Geng. Dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi masih terjadi di sana. Adapun faktor yang membuat Zuric berada di posisi pertama subindex planet itu adalah upayanya untuk menjadi pionir sebagai kota 2000 watt society pada tahun 2050 mendatang, Geng. Nah, 2000 watt society ini sendiri adalah pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah kota Zuric untuk menghadapi perubahan iklim dan semakin langknya sumber daya alam. Tujuannya adalah untuk membuat masyarakat di Zurich hanya menggunakan energi sebesar 2000 watt aja per kapita sesuai dengan jumlah penggunaan energi berkelanjutan global. Komitmen yang dibuat untuk bisa merealisasikan program ini di antaranya adalah dengan investasi dan fokus terhadap penghematan energi serta energi terbarukan dan membangun gedung-gedung berkelanjutan. Kemudian mobilitas untuk masa depan dan upaya untuk meningkatkan kesadaran publik termasuk menyelenggarakan acara tahunan dengan tema lingkungan dalam hari aksi Zuuric multiobile. Dan faktor berikutnya adalah transportasi umum yang modelnya sangat berkelanjutan dibandingkan negara lain. Keberadaan trem, kereta, terus bis, serta kereta cepat itu semua terkoordinasi dengan baik sehingga mobilitas publik menjadi lebih simpel dan terjangkau. Sebagai bagian dari ekonomi global, Zuur tidak hanya menarik sebagai tempat ee bisnis aja, Geng. Tapi juga menarik untuk orang-orang yang berada di sana. Bagusnya kualitas kehidupan di sana, pendidikan yang atraktif, dan kesempatan bekerja tinggi menjadi faktor lain tentang tingginya posisi zur di dalam segala indeks arkadis ini. Beragam inovasi dan industri bisnis mulai dari yang kecil sampai besar membentuk dasar penting di dalam sektor ekonomi Zurich. Nah, tingginya level produktivitas dan rendahnya upah buruh di Zuric itu membuat biaya produksi jauh lebih rendah. dibandingkan kota-kota lain di dunia. Dari semua faktor ini enggak salah ya, Geng, kenapa Zuric bisa menjadi kota yang atraktif untuk dijadikan tempat berinvestasi, tinggal dan bekerja. Oke, untuk pembahasan selanjutnya yaitu kota Copenhagen yang ada di Denmark. Ini koreksi gua kalau salah dalam pengucapan ya, Geng. Nah, jadi ya kota Copenhagen ini yang ada di Denmark ya. Kita lihat nih bagaimana sistem perpajakan di Denmark dulu nih. Sebenarnya geng sistemnya itu sama dengan negara kita Indonesia yaitu bersifat progresif dengan tarif maksimal orang pribadi yang mana di Indonesia mencapai 30%. Sementara di Denmark tarif tertinggi pajak orang pribadi mencapai 55,8% lebih tinggi dari negara kita. Nah, ini berarti semakin tinggi penghasilannya maka semakin besar pajak yang dibayar. Bahkan di Denmark ya, pajak yang dibayarkan bisa lebih besar dari penghasilan bersih yang diterima setelah pajak. Gila gak tuh? Untuk pajak pusat ditetapkan secara progresif, sementara untuk pajak daerah ditetapkan secara flat atau tetap. Penghasilan dari DKK 43.442 sampai dengan DKK 479.600 itu dikenakan tarif terendah sebesar 10,8% dan penghasilan di atas DKK Rp479.000 dikenakan tarif ya 15%. untuk pajak daerah itu dikenakan sebesar eh 24,91%. Nah, semua penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan dan wirausaha itu dikenakan pajak sebesar 8% sebelum penghasilan. Pajak ini disebut sebagai gross tax. Pajak kontribusi kesehatan itu sebesar 2% dan pada tahun 2019 itu bahkan akan dihapuskan. Nah, kemudian ada lagi pajak gereja itu memiliki tarif yang berkisar antara 0,41% sampai dengan 1,3% yang hanya berlaku untuk anggota gereja Denmark. PPN Denmark itu mencapai 25%. Potongan pajak itu dikenakan 22 sampai 27% untuk bunga royalty, dan deviden. Dan sampai saat ini Denmark sudah memiliki perjanjian penghindaran pajak berganda atau P3B dengan hampir 80 negara. Nah, sistem perbajakan Denmark ini membuat seorang warga negaranya membayar ya hampir setengah dari penghasilan yang mereka terima. Jadi, ibaratnya gini, kalau gaji lo ada e R1 juta, maka lu tuh kayak bayar pajaknya itu hampir Rp500.000 gitu. Nah, jadi itu cukup besar gitu kan. Dan alasan utama yang menyebabkan Denmark bisa bahagia dengan membayar pajak, yang membuat warganya suka membayar pajak yang begitu tinggi jumlahnya adalah kesadaran membayar pajak yang tinggi dari warganya. Serta pemerintah Denmark yang memiliki predikat sebagai negara paling tidak korup. Nah, jadi pemerintahnya itu mengelola pajak yang dibayarkan oleh masyarakatnya dengan sangat baik sehingga terjadi simbiosis mutualisme yang terjalin antara warga negara dengan pemerintah mereka. Warga Denmark itu menganggap kalau mereka itu sebenarnya bukan membayar pajak, tetapi justru melakukan investasi untuk hidup mereka yang lebih baik. Dan ini semua bisa terlihat nih dari ibu kota negaranya yaitu Copenhagen tadi. Di sana pendidikan menjadi pondasi bagi Denmark sehingga di Copenhagen ya kualitas pendidikannya sangat terjamin, gratis lagi. Copenhagen dikenal sebagai kota yang rapi dan tertib. Orang yang berjalan kaki dan mengendarai sepeda tidak perlu khawatir mereka bakal ditabrak oleh motor atau mobil yang sering ugal-ugalan di jalan. Tuh enggak ada tuh. Di Copenhagen enggak ada tuh yang namanya motor lewat di trotoar. Itu enggak ada. Nah, Copenhagen sudah didesain untuk mempertimbangkan para pejalan kaki justru dan objek wisata yang ada di sana sengaja dibuat berdekatan agar para turis bisa menjangkau dengan berjalan kaki. Kualitas kesehatannya pun sudah terjamin jika kalian pergi ke sana ya, kalian bakal mendapatkan ya sistem pengobatan yang sangat canggih dan gratis. Kalaupun bayar tuh murah banget. Nah, fasilitas kesehatan mereka itu ada di mana-mana dan warganya juga sehat-sehat. Bahkan, Geng, enggak cuma secara fisik aja ya, mereka semua juga sehat secara mental. Lingkungan di Copenhagen ini meskipun merupakan sebuah ibu kota yang misalkan nih kita melihat ibu kota Jakarta aja crowded banget ya, macet di mana-mana gitu, semua orang sibuk dan tergesa-gesa. Nah, tapi di sana enggak sama sekali bahkan enggak ada polusi. Kalian bisa menemukan di mana-mana banyak pohon dan taman sehingga udaranya sangat bersih. Dan enggak heran sih, Geng, ya, kalau The Institute for Quality of Life tahun 2025 itu menetapkan Copenhagen ini sebagai kota paling bersih, paling bahagia, paling makmur di tahun 2025 ini. Dari salah satu warga yang bernama Thomas Franklin nih, Geng. Sekaligus dia ini adalah CO dari perusahaan vintage yaitu yang bernama swapit.com. Nah, dia bilang kereta bakal datang tepat di jam 121 jika dijadwalkan di jam tersebut. Tidak ada yang memandang aneh kalau kita datang ke restoran mewah dengan sepatu catch. Berenang di pelabuhan yang bersih tetap memungkinkan di bulan Januari kalau kita cukup berani katanya. Mungkin karena ini masih masuk ke dalam musim dingin yang ee peralihan ke musim semi gitu ya. Jadi udaranya mungkin masih agak dingin. Nah, buat Franklin, Copenhagen ini selalu berhasil memikat dia dengan ketenangan yang ada di sana. Jalan-jalannya yang lebar, jumlah sepeda yang jauh lebih banyak dibandingkan mobil membuat dia merasa tenang dan bisa melepas kepenatan. Nah, Franklin juga menghargai semangat komunitas yang ada di Copenhagen dan minimnya ee tekanan sosial di sana. Kondisi tersebut memungkinkan warga bertemu dengan teman di tepi kanal tanpa perencanaan atau ngobrol-ngobrol sambil minum kopi selama 2 jam tanpa harus janjian dulu. Bahkan nih, Geng, walaupun langitnya sering mendung, Copenhagen tetap ramai karena adanya pasar terbuka, sauna di publik, dan suara anak-anak yang berlarian di taman. Jadi, benar-benar sebuah ya kota yang bahagia. Dan selain mendapatkan predikat kota paling bahagia di dunia, Copenhagen dinebatkan sebagai kota paling layak huni di tahun ini. Capaian ini menggeser wina yang menjadi langganan peringkat atas dalam indeks kelayakan huni global. Copenhagen unggul di dalam infrastruktur ramah keluarga, transportasi publik yang bersih dan handal, serta lingkungan yang tenang dan efisien. Ada seorang jurnalis nih asal Amerika Serikat yang bernama Olivia Liveng. Dia ini sudah menetap 8 tahun di Copenhagen dan menyebutkan di sana dia membesarkan anaknya itu menjadi sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan ya. Semuanya berkat layanan publik yang berkualitas. Semuanya ditunjang oleh sistem pajak yang transparan dan ya pemerintah yang bersih. Anak Olivia sekolah di sekolah bersubsidi penuh yang mencapai sekitar 600 Amerika atau setara dengan Rp9,8 juta per bulannya. Jadi itu udah free Rp9 juta per bulan. Dan itu sudah mencukupi semua kebutuhan di sana. Setiap warga bisa melihat kalau pajak yang mereka keluarkan itu ujung-ujungnya digunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Dan Olivia juga bilang nih, Geng, kalau di Copenhagen itu menjadi bukti keseimbangan kerja dan kehidupan yang baik. Dan semuanya terlihat nyata bukan sekedar mimpi. Dia bilang banyak perusahaan yang mendorong karyawan untuk mengambil cuti selama 3 minggu pada bulan Juli setiap tahunnya. Malah disuruh ngambil cuti gitu, Geng. Dan selain itu, infrastruktur kota tersebut dirancang dengan sangat cermat. Olivia membandingkan dengan stasiun kereta bawah tanah yang minim lif sehingga mungkin cukup merepotkan orang tua yang membawa anak dengan stroller. Nah, tapi di Copenhagen, Geng, semua stasiun metronya ada lift-nya. Jadi benar-benar orang-orang di sana dimudahkan. Transportasi umum yang ada di sana juga bersih dan bisa dihandalkan. Bisnya pun juga ramah terhadap penumpang yang membawa stroller. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini tentang kota-kota yang masyarakatnya bahagia karena membayar pajak. Ya, itu semua dikarenakan pemerintahnya tepat sasaran dalam mengelola pajak warga negaranya, pajak e masyarakat mereka sehingga menjadikan uang pajak itu untuk mewujudkan fasilitas-fasilitas yang mempermudah masyarakat di sana. Kira-kira, Geng, dari semua pembahasan kota-kota tadi, mana nih yang bisa ditiru oleh kota-kota yang ada di Indonesia? Coba deh, tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories