Transcript
zELC1s0_7hk • ARE SUMATERA FLOODS JUST ORDINARY? NOT A NATIONAL DISASTER?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1612_zELC1s0_7hk.txt
Kind: captions Language: id Tidak dikategorikannya banjir di Sumatera bagian utara ini sebagai bencana nasional dikarenakan aspek tersebut mengacu pada parameter penetapan bencana nasional mulai dari kerusakan absolut, lumpuhnya sistem pemerintahan daerah hingga hilangnya kendali layanan publik. Nah, menurut beliau kayak gitu tuh, Geng. Kemarin ya kita sudah merangkum bagaimana kondisi di Sumatera bagian utara yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di mana kondisinya itu benar-benar porakporanda karena di tempat banjir bandang dan lonsor kemarin. Kondisi tersebut diperparah dengan matinya listrik di sana dan terputusnya komunikasi dengan sanak keluarga yang membuat masyarakat jadi sulit mendapatkan kabar ee agar bisa mengetahui kondisi terkini di sana. Nah, kita juga bisa lihat ya dari dokumentasi yang ada di media sosial bagaimana situasi di tiga provinsi tersebut pada saat dan setelah dilanda Banjir bandang. Kondisinya parah banget ya. Mungkin bisa dikatakan ini adalah salah satu bencana terbesar yang dialami oleh negara kita ya dalam beberapa tahun ini. Netizen dari berbagai daerah juga menyuarakan dan menyatakan dukungan terhadap masyarakat di Sumatera yang terdampak. Bahkan ada yang berinisiatif untuk memberikan donasi agar bisa membantu para korban sehingga mereka tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah aja. Yang mana kabarnya bantuan dari pemerintah ya masih banyak titik yang belum bisa mendapatkan bantuan. Entah karena bantuannya memang lama atau mungkin jalur pendistribusiannya memang banyak yang terputus. Tapi geng yang membuat orang-orang jadi bingung dengan melihat bagaimana kondisi yang terjadi di sana saat ini, kenapa pemerintah kita masih belum juga menetapkan banjir bandang ini sebagai bencana nasional? Padahal kerusakannya masif, ribuan orang terkena dampak, dan bahkan sudah menyentuh angka 400 nyawa yang melayang. Gila enggak tuh? Dan bantuan yang datang bisa dikatakan ya sangat-sangat kurang, jauh dari kata cukup. Nah, ini masih dipertanyakan oleh masyarakat apakah ini karena faktor administrasi atau adanya syarat tertentu yang belum terpenuhi atau gimana. Nah, terus kemarin gue juga sempat menyebutkan satu perusahaan yang diduga oleh pihak WALHI sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas banjir yang terjadi di Sumatera bagian utara ini. Nah, tapi ternyata ada enam perusahaan lain, Geng, yang turut andil di dalam hal ini. Perusahaan yang mana aja nanti kita bakal bahas, ya. Pembahasan ini tujuannya agar kita lebih menyadari, Geng, seberapa rusaknya ekosistem di negara kita saat ini. Ya, mengeruk dan merusak alam di negara kita untuk keuntungan yang dirasakan oleh sebagian pihak tertentu aja ternyata sudah sangat lumrah terjadi. Nah, langsung aja kita bahas nih secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. Ging geng. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita bahas dulu nih alasan kenapa pemerintah kita masih belum menetapkan banjir di Sumatera bagian utara sebagai bencana nasional dan kenapa juga bantuan untuk para korban terasa sangat lambat. Kita bahas. Di video kemarin gua udah merangkum bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi di Sumatera bagian utara ini yaitu Aceh ya, Sumatera Barat dan juga Sumatera Utara. Kalian juga pasti udah melihat beberapa video serta foto yang tersebar luas di media sosial ketika banjir terjadi dan juga pasca banjir terjadi. Bahkan ya, Geng, si Bolga letaknya berada di tepi pantai aja itu enggak pernah mengalami banjir sebesar yang terjadi saat ini. Sekalinya banjir, udah pasti air langsung mengalir ke laut. Baru kali ini wilayah mereka disapu oleh banjir dengan debit air yang begitu besar. Hingga laut aja ya semacam tidak sanggup untuk menampung banyaknya air. Solidaritas masyarakat Indonesia di provinsi lain yang tinggal di luar Sumatera bagian utara menyuarakan dukungan lewat media sosial nih, Geng. Dengan harapan supaya pemerintah pusat itu bisa bertindak secepatnya untuk memberikan bantuan kepada para korban yang ada di sana. Dan ada juga yang berinisiatif untuk menggalang donasi bagi para korban sehingga masyarakat yang terdampak tidak hanya bergantung pada bantuan yang dikirim oleh pemerintah yang entah kapan nyampainya. Nah, meskipun kita tidak berada di tengah-tengah bencana tersebut ya, Geng, tapi kita bisa melihat atau menyaksikan dokumentasi-dokumentasi dari video-video yang ada di media sosial yang setidaknya kita bisa tahu gitu bagaimana mengerikan dan mencekamnya kondisi di sana. Membayangkan betapa ketakutannya masyarakat yang ada di sana ya. Mereka takut akan terjadi banjir susulan atau longsor susulan. Terlebih lagi tidak adanya listrik dan internet yang membuat mereka seperti terisolasi di sana. Mereka gak bisa meminta pertolongan dan hanya bisa pasrah menunggu sampai mereka mendapatkan bantuan. Cuma, geng, publik merasa semacam pemerintah khususnya pemerintah pusat nih ya, itu kayak enggak bersuara atau tidak memberikan tanggapan terkait bencana yang melanda tiga provinsi di pulau Sumatera tersebut. Nah, ini di awal-awal kejadian nih, Geng. Bukan yang sekarang ya. Mungkin kalau di hari ini, ini gua syuting di tanggal 1 Desember, ya. Mungkin udah banyak pergerakan karena sudah ada protes dari kalian. Nah, tapi dari kemarin-kemarin tuh kayak landai aja gitu. Kita berkaca pada Filipina, Geng. Presidennya yaitu Ferdinand Marcos Junior itu pernah menetapkan status darurat nasional di hari Kamis tanggal 6 November 2025 setelah topan Kalma menewaskan 140 orang dan ratusan orang lainnya dilaporkan hilang di sejumlah provinsi. Coba kita bandingkan, Geng, dengan kejadian di Sumatera ini yang meninggal 400 lebih. Belum lagi rumah-rumah yang hanyut, belum lagi kampung yang hilang, perkampungan yang tiba-tiba menjadi sungai. Tapi enggak, bagi pemerintah kita itu belum ada apa-apanya. Dan banyak statement-statement dari pemerintah kita yang bikin sakit hati banget yang katanya, "Oh, cuma ngeri di video doang." Pas dicek langsung ke lapangan biasa aja kok. Buset. Nih, kalian bisa dengar nih statement si Bapak ini nih. Kemarin kan kelihatannya mencekam ya karena kan berseliweran di media sosial, enggak bisa ketemu apa. Tapi begitu sampai ke sini sekarang begitu rekan media tadi hadir di lokasi kemudian tidak hujan. Ah, coba di Sumatera Utara yang kemarin kelihatannya mencekam kan sekarang yang menjadi hal yang sangat serius tinggal tabanol di tengah. Apakah perlu tidaknya apa bencana nasional atau daerah? Tapi sekarang statusnya masih bencana daerah tingkat provinsi. Nah, jadi kita lihat Filipin. Filipin 140 orang aja presidennya langsung menetapkan itu adalah bencana nasional. Kita 400 enggak cukup. Kayaknya harus 1400 kayaknya baru bencana nasional. Nah, terus geng di Philipin itu ya sebagian besar korbannya itu meninggal akibat tenggelam dalam banjir bandang. Jadi mirip nih kayak kejadian di Indonesia. Keputusan Marcos dikeluarkan pada saat rapat dengan pejabat penanggulangan bencana untuk menilai dampak topan itu. Nah, status tersebut memungkinkan agar pemerintah mereka menyalurkan dana darurat dengan cepat serta mencegah penimbunan dan kenaikan harga pangan. Nah, Kantor Pertahanan Sipil Filipina itu melaporkan ada hampir 2 juta orang yang terdampak dan lebih dari 560.000 warga yang terpaksa mengungsi termasuk sekitar 450.000 orang yang berlindung di tempat penampungan darurat. Di Indonesia udah longsor, banjir bandang, listrik, internet padam, terputus di berbagai wilayah di tiga provinsi itu sampai berhari-hari. Udah mau seminggu nih. Namun ya pemerintah juga tidak mengkategorikan kalau ini adalah bencana nasional. Kalau dari informasi yang disampaikan oleh Lejen TNI Suharyanto selaku Kepala BNPB, pemerintah masih mempertahankan status banjir bandang dan lonsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh ini sebagai bencana daerah tingkat provinsi, bukan bencana nasional. Beliau mengatakan perdebatan terkait status tersebut ya tidak perlu diperpanjang katanya karena menurut beliau negara kita ini memiliki rekam jejak yang sangat terbatas dalam menetapkan bencana nasional. Nah, bencana nasional yang pernah ditetapkan di Indonesia itu cuma COVID-19 dan tsunami Aceh pada tahun 2004. Nah, sementara bencana besar lain seperti gempa di Palu, NTB, Cianjur juga tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Tidak dikategorikannya banjir di Sumatera bagian utara ini sebagai bencana nasional dikarenakan aspek tersebut mengacu pada parameter penetapan bencana nasional mulai dari kerusakan absolut, lumpuhnya sistem pemerintahan daerah hingga hilangnya kendali layanan publik. Nah, menurut beliau kayak gitu tuh. Dan dia bilang situasi banjir di Sumatera belum mencapai ambang tersebut. Gila. Aduh, enggak habis pikir sih. Pak Suharyanto ini menegaskan kalau bencana kali ini masih bisa ditangani oleh struktur pemerintahan daerah dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat. Beliau juga menjelaskan kalau gambaran awal yang beredar di media sosial itu memang memunculkan kesan yang mencekam, termasuk laporan masyarakat yang terisolasi dan komunikasi yang terputus. Tapi kata dia, kondisi sebenarnya di sebagian besar lokasi jauh lebih terkendali, katanya. Klaimnya beliau tuh kayak gitu, Geng. katanya tuh kayak aslinya enggak seseram di video. Nah, kalian udah dengar sendiri, Geng, pernyataan langsung dari beliau ini melalui sebuah video yang gua tampilkan tadi dengan yang kejadian sekarang ini. Ya, memang kemarin kan kelihatannya mencekam ya, karena kan berseliweran di media sosial, enggak bisa ketemu apa. Tapi begitu sampai ke sini sekarang terus geng Pak Suharianto ini juga menyebutkan bahwa stabilitas pemerintahan daerah, akses layanan publik, dan kemampuan koordinasi itu masih berjalan. sehingga tidak ada urgensi untuk menaikkan status ke bencana nasional. Meskipun tidak berstatus sebagai bencana nasional, Pak Suhariyanto ini menekankan kalau keterlibatan pemerintah pusat itu enggak berkurang sedikitp. Nah, katanya mobilisasi bantuan justru berlangsung secara besar-besaran. Nah, BNPB menilai Tapanuli Tengah sebagai wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, baik dari sisi korban jiwa maupun kendala akses. Jalan yang menghubungkan Tapanuli Utara dan Sibolga masih jadi titik paling kritis katanya. Nah, BNPB ini memastikan bahwa pembukaan akses dilakukan secara paralel dengan evakuasi dan penyaluran logistik. Ya, dan Pak Suharianto ini bilang kondisi cuacanya cerah yang mulai muncul beberapa hari terakhir itu benar-benar membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan katanya. Dan beliau juga menyebutkan bahwa tim akhirnya bisa mencapai sejumlah titik terdampak yang sebelumnya tidak bisa diakses. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah benar? Ya, faktanya seperti yang dikatakan oleh si bapak ini benar kayak gitu. Benarkah jika kondisi saat ini sudah berangsur-angsur membaik, makanya pemerintah beralasan kalau banjir bandang di Sumatera tidak perlu dikategorikan sebagai bencana nasional. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai fakta kerusakan akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera bagian utara ini. Jadi, geng Pak Suharianto ini menyebutkan kalau kondisi di Sumatera itu sudah membaik saat ini dan dari indikator yang dimiliki oleh BNPB, banjir di Sumatera itu dikatakan belum mencapai ambang dari indikator tersebut. Tapi benar enggak saat ini kondisinya membaik seperti kata beliau. Nah, gua coba mencari tahu nih dari berbagai media yang memberikan informasi terkini mengenai kondisi di Sumatera saat ini yang mana apa yang disampaikan di media ini juga didapatkan dari keterangan BNPB. Dari informasi terbaru dikatakan total korban jiwa itu mencapai 442 orang yang meninggal dunia. Padahal awalnya masih 174 orang meningkat drastis. Terus pada awalnya ada 79 orang yang hilang, tapi untuk saat ini totalnya sudah menjadi 402 orang yang hilang dan belasan orang lainnya mengalami luka-luka. Sumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak. Ya, ini dari data sementara ya. Ini gua bacain nih. Jadi di Sumatera Utara itu 217 orang yang meninggal dunia. Terus 209 orangnya hilang enggak tahu di mana. Di Sumatera Barat 129 orang yang meninggal dunia dan 118-nya hilang. Di Aceh 96 orang yang meninggal dunia. dan 75 orangnya hilang. Nah, mereka ini semua tersebar di beberapa kota ya di daerah yang gua sebutkan tadi. Nah, di saat itu, Geng, hujan deras dan longsor menyebabkan gangguan akses transportasi jalur nasional ya terutama di Sidempuan, Sibolga, dan Sipiro Medan itu terputus di beberapa titik. di Mandailing Natal, sejumlah ruas jalan seperti Singkuang sampai Tabuyung dan juga Bulu Soma sampai Sopoot Tinjak itu masih belum bisa dilalui. Nah, sampai saat sekarang ini pemerintah masih berupaya untuk membuka akses ya dilakukan terus dengan pengerahan alat berat. Penyaluran logistik sudah dilakukan terutama di Tapanuli Tengah dan juga di daerah Mandailing Natal termasuk bantuan beras, makanan siap saji, tenda, terpal, serta family kit. Nah, pemerintah pusat juga mengerahkan personil BNPB, TNI, Polri, serta dukungan lintas kementerian atau lembaga. Bantuan presiden berupa alat komunikasi, ada genset, LCR, terus ada kompresor, tenda, dan kebutuhan konsumsi. Semuanya sudah mulai disalurkan. Dukungan alusista meliputi pesawat Karavan, helikopter Airbus EC 155 untuk distribusi logistik dan peralatan, dan juga ada alat berat untuk mempercepat pembukaan akses terdampak. BNPB itu menempatkan alat penyedia jaringan internet yaitu Starling yang sementara ditempatkan di lokasi pengungsian maupun di posco penanganan darurat. Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga itu menjadi terisolasi karena terjadi pemadaman listrik total. Gangguan jaringan internet serta akses jalan yang terputus juga terjadi di sana. Dan warga di Sumatera Utara itu mengeluhkan kalau bahan pokok dan pangan itu udah mulai habis langka. Kalaupun ada harganya bisa mahal banget, Geng. Harga cabe yang biasanya Rp50.000 per kg sekarang jadi naik dua kali lipat yaitu 100.000 per kg. BBM juga makin langka. Nah, banyak warga yang antri membeli BBM tapi akhirnya tidak kebagian karena bensin habis di SPBU pada hari Kamis malam tanggal 27 November. Dan saking sudah parahnya situasi di sana, sempat ada penjarahan yang terjadi di beberapa minimarket yang ada di Subolga. Ya, ini semua terjadi karena masyarakat udah kebingungan mau makan apa. Ya, satu-satunya cara adalah dengan memberanikan diri mengambil barang-barang atau makanan-makanan yang ada di minimarket tersebut. Mereka ya sudah mulai menggunakan insting bertahan hidupnya. Ada salah satu warga yang ikut melakukan penjarahan, membuat video klarifikasi sampai minta maaf. Dia beralasan terpaksa melakukan itu karena keluarganya hampir enggak bisa makan. Jadi, bukan menjarah karena untuk nyari untung, enggak. Tapi udah enggak ada pilihan lain. Dan kabarnya, Geng, polisi sudah menangkap 16 orang yang diduga melakukan penjarahan di beberapa minimarket tersebut. Nah, Gubernur Sumatera Utara yaitu Bobi Nasution menetapkan Sumatera Utara berstatus tanggap darurat bencana yang berlaku sampai 14 hari ke depan. Nah, terus geng bagaimana dengan Aceh? Nah, di Aceh tadi gua sudah menyebutkan kalau yang meninggal dunia itu sampai sekarang ada sebanyak 96 orang dan 75 orangnya hilang. Di Aceh sendiri, terutama di daerah benar meriah, Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, sebagian wilayahnya itu benar-benar terdampak parah. Para pengungsi tersebar luas di 20 kabupaten atau kota, termasuk 96 titik di kota Loksumawe. Ada sebanyak 4.846 kepala keluarga yang saat ini berada di tempat pengungsian dan kerusakan akses darat juga cukup parah. Jalur Nasional Perbatasan Sumatera Utara Aceh terputus akibat longsor. Sementara jembatan rusak di daerah Meredu itu memutus konektivitas Banda Aceh, Loksumawe, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Nah, sejumlah kabupaten seperti Gayo, Lues, Aceh Tengah dan benar meriah bahkan tidak bisa diakses melalui jalur darat lagi. Nah, pengiriman logistiknya juga dilakukan menggunakan pesawat Hercules dan armada udara lainnya. Nah, untuk menjaga kelancaran komunikasi darurat ya, perangkat Starling sudah dipasang di Gayo Luwes, Aceh Tengah dan Bener Miriah serta dalam proses mobilisasi ke beberapa wilayah lainnya. Penyaluran logistik ini dilakukan ya antara lain di kota Loksmawe ya, berupa beras, mie instan, e minyak goreng, telur, gula, pampers, dan obat-obatan. Banyak warga Aceh yang mengaku tidak pernah mengalami banjir separah ini sebelumnya kecuali tsunami ya. Nah, ini beda hal nih. Kalaupun hujan deras di sana, banjir biasanya tidak pernah sampai menyentuh lutut kaki. Dan gak jarang juga banyak warga yang merasa trauma karena mengingatkan mereka terhadap tsunami dulu yang menerjak Aceh tahun 2004 silam. Bedanya tsunami airnya hitam, sementara banjir ini airnya kuning, keruh, kecoklatan. Nah, listrik dan air itu padam sejak hari Rabu tanggal 26 November dan jalan-jalan juga dipenuhi oleh lumpur tebal. Nah, beberapa di antara mereka ada yang terpaksa harus mengungsi ke halaman toko karena tempat pengungsian ternyata kebanjiran. Sebagiannya lagi ada yang mengungsi ke masjid yang cukup besar dan aman dari banjir. Nah, warga juga khawatir karena barang-barang di toko yang menjual kebutuhan pokok itu semakin menipis karena ya bantuan logistik belum sampai. Warung makan bahkan menjual nasi dan lauk seharga Rp20.000. Padahal di hari biasanya hanya Rp8.000 aja di sana. Nah, pada hari Kamis tanggal 27 November ya, Gubernur Aceh yaitu Muzakir Manaf atau Mualim itu menetapkan status tanggap darurat di Aceh yang berlaku selama 14 hari mulai dari 28 November sampai 11 Desember 2025. Bahwa penetapan status keadaan tanggapan tangkap darurat bencana alam tahun 2025. Penetapan status tanggap darurat tersebut diambil oleh pemerintah provinsi Aceh setelah melihat dampak banjir dan longsor yang begitu parah, Geng. Nah, jadi di beberapa daerah pemimpinnya sudah menetapkan status tanggap darurat untuk daerah masing-masing. Ya, pemerintah pusat belum menetapkan kalau ini adalah ya kasus atau bencana nasional. Oke, gimana tuh menurut kalian, Geng, dari kondisinya? Menurut kalian apakah sudah pantas dianggap sebagai bencana nasional atau belum? Nah, terus geng di Sumatera Barat seperti yang gua sebutkan tadi, ini jumlah dari korbannya juga enggak kalah banyak, yaitu ada sekitar 129 orang yang meninggal dunia dan 118-nya hilang tanpa kabar. Banyak banget. Nah, para korban ini tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, dan ee Pasaman Barat. Wilayah pengungsian juga cukup luas dengan 50 titik di pesisir selatan dan 3 titik di Kota Padang serta titik-titik lain di daerah Solok, Pasaman, dan ee Tanah Datar. Nah, total sementara pengungsian itu mencapai 3.900 kepala keluarga dan kerusakan infrastruktur mereka meliputi lima jembatan di Padang Pariaman dan longsor yang menutup di jalur nasional Bukit Tinggi Padang di kawasan Padang Panjang. Sekitar 200 kendaraan itu sempat terjebak di sana akibat jalan yang terputus di Kecamatan Ampek Koto namanya. BNPB sudah menyalurkan bantuan darurat berupa paket sembako, hygen kit, kasur lipat, makanan siap saji, dan perlengkapan kebersihan. Bantuan presiden juga udah mulai dikirim nih melalui jalur udara. Di Kota Padang ada puluhan orang yang berdesak-desakan di lorong rumah sakit bayangkara Polda Sumatera Barat yang terletak di Jalan Jati, Kecamatan Padang Timur. Kedatangan mereka untuk mencari kerabat mereka yang hilang yang mungkin sudah berhasil diselamatkan. Ada sebagian dari mereka yang berhasil menemukan anggota keluarganya cuma dengan kondisi yang sudah tidak bernyawa, sudah meninggal dunia. Nah, mereka menangis histeris lah di saat itu. Nah, tapi masih ada yang belum diketahui keberadaannya sehingga masih dinyatakan hilang. Pempr Sumatera Barat juga mengambil langkah yang sama dengan e Sumatera Utara dan juga Aceh dengan menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari. Nah, dari penjelasan itu ya, Geng, kita kurang lebih bisa membayangkan ya betapa buruknya kondisi di sana saat ini. Ditambah dengan video-video yang tersebar di media sosial yang semakin memberikan gambaran betapa parahnya situasi di Sumatera sekarang. Nah, terus geng ada informasi ini gua enggak tahu benar atau enggak, tapi ini gua sampaikan aja ke kalian ya, yang mana dikatakan Starling ya, sebuah perusahaan internet milik Elon Marx dikabarkan menggratiskan layanan mereka bagi para korban. Hal ini pun ternyata dikonfirmasi nih oleh Elon Musk sendiri yang menyebutkan kebijakan SpaceX adalah menggratiskan Starling setiap kali terjadi bencana alam di satu tempat. Mengambil keuntungan dari musibah ini bukanlah tindakan yang benar. Nah, namun Geng dari komentar netizen asal Indonesia di tweet-nya Elon Marx, katanya sih ada oknum yang memanfaatkan e momen ini untuk mengambil keuntungan dengan mematok tarif R10.000 per jam. Benar enggak sih, Geng? Nah, ini gila banget ya. di tengah-tengah musibah kayak gini ada aja yang culas gitu pengin ngambil-ngambil untung. Oke, setelah penjelasan gua tadi, Geng, ya, apakah menurut kalian dari dokumentasi yang ada, video-video yang terlihat, apakah bisa dikatakan kalau kondisi saat ini sudah berangsur-angsur membaik seperti yang diklaim oleh BNPB? Nah, apakah yang terjadi saat ini di Sumatera tidak bisa dikatakan sebagai bencana yang menimbulkan dampak yang parah? Coba deh kalian berikan pendapat kalian terkait hal ini. Karena sampai sekarang masih banyak para perantau yang sulit menghubungi keluarganya di kampung yang mana keluarganya tinggal di wilayah terdampak. Nah, ini kan sedih banget ya kalau kita pikir-pikir ya. Indonesia bisa selambat ini menangani bencana yang pemerintahnya aja bilang ini enggak gede-gede banget tapi penanganannya bisa selambat ini. Ini gimana ceritanya? Terus Geng untuk informasi terbarunya nih Geng. Kabarnya Pak Prabowo sudah berangkat nih menuju ke Sumatera Utara. Beliau sudah tiba di Bandara Internasional Sisinga Mangaraja 12, Silang Langit, Sumatera Utara sekitar jam5 pagi di hari Senin tadi, yaitu hari ini. Dari sana Pak Prabowo langsung naik ke helikopter Karakal untuk menuju lokasi bencana banjir dan juga longsor di daerah Tapanuli Tengah yang menjadi salah satu wilayah paling parah terkena dampak banjir ini. Presiden juga dalam kunjungan kali ini akan memastikan bahwa langkah-langkah darurat telah dilaksanakan sesuai standar penanganan bencana yang cepat, tepat, dan juga terkoordinasi dengan baik. Berbagai pihak, terkhususnya lembaga masyarakat sipil itu mendesak agar pemerintah menetapkan bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat ini sebagai bencana nasional. Cuma sampai gua syuting hari ini di tanggal 1 Desember, pemerintah masih belum melakukan hal itu, Geng. Dan seperti yang sudah gua jelaskan di video yang sebelumnya bahwa memang penyebab dari banjir bandang dan lonsor di Sumatera ini disebabkan oleh adanya siklon atau badai yang menerjang ee daerah tersebut. Cuma, Geng, siklon ini bukanlah penyebab atau faktor tunggal mengapa bisa terjadi bencana banjir dan longsor sebesar ini dan separah ini di Sumatera, melainkan karena adanya aktivitas penebangan hutan. juga di video kemarin gua udah menyebutkan satu nama perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas penerbangan hutan di Sumatera. Tapi saat ini ya di media mainstream sudah banyak tersebar nama perusahaan lain yaitu ada sekitar enam perusahaan yang ternyata diketahui ikut berkontribusi terhadap kerusakan alam yang ada di sana. Perusahaan apa aja? Kita bahas dari video-video yang berada di sosial media, kita bisa lihat ya betapa banyak batang kayu yang ukurannya begitu besar hanyut terbawa oleh arus banjir. Nah, ternyata kondisi ini enggak cuma terjadi di satu lokasi aja, Geng. Di video lain itu menunjukkan ada banyak sekali batang kayu yang menumpuk di pantai parkit air tawar kota Padang, Sumatera Barat. Kalian bisa lihat nih dari video ini. Apa yang Anda saksikan saat ini bukanlah daratan baru yang muncul dari dasar laut. Dan ini bukanlah hamparan tanah kering. Ini adalah pantai parkit di kawasan air tawar, Kota Padang. tempat yang biasanya menyajikan pasir dan debur ombak hari ini berubah total menjadi lautan kayu. Nah, hal ini menunjukkan kalau penebangan pohon enggak cuma terjadi di satu tempat aja, tapi kemungkinan terjadi di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dan kita bahas dulu nih di Sumatera Utara dulu. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara serta Kota Sibolga ada sebuah ekosistem yang bernama Batang Toru yang merupakan hutan penyangga hidrologis yang berfungsi sebagai resapan air. Ini sangat berguna, Geng. Kalau terjadi hujan deras, air yang jatuh ke tanah bakal otomatis diserap oleh pohon sehingga tidak akan menggenang di atas permukaan tanah. Batang toru ini menjadi salah satu benteng hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara. secara administratif ya, 66,7%-nya berada di Tapanuli Utara, 22,6%-nya di Tapanuli Selatan, dan 10,7%-nya di Tapanuli Tengah. Sebagai bagian dari bukit barisan, hutan ini menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi serta menjadi pusat daerah aliran sungai atau DAS menuju ke wilayah Hilir. Terus, Geng, ekosistemnya ini sangat penting. Enggak hanya bagi satwa yang hidup di sana. Enggak cuma bagi hewan-hewan doang, tapi juga bagi keseimbangan alam yang berdampak pada manusia. malah kian hari justru malah ditebang terus. Pihak Walhi itu menduga ada tujuh perusahaan yang menyebabkan kerusakan di Sumatera Utara yang disebabkan oleh aktivitas eksploitatif yang membuka tutupan hutan Batang Toru. Yang pertama sudah sempat gua mention di video sebelumnya yaitu PT Agin Court Resource. Perusahaan ini sudah mengurangi tutupan hutan dan lahan sekitar 300 hektar di DAS Batang Toru. Yang kedua ada PLTA Batang Toru yang dijalankan oleh PT North Sumatera Hydroenergi dan proyek tersebut sudah menyebabkan hilangnya lebih dari 350 hektar tutupan hutan di sepanjang 13 km daerah sungai, serta gangguan fluktuasi debit sungai, sedimentasi atau pengendapan tinggi akibat pembuangan limbah galian terowongan dan pembangunan bendungan serta potensi polisi sungai jika limbah galian mengandung unsur yang beracun. Video luapan sungai Batang Toru di jembatan Trikora itu menunjukkan gelondongan kayu dalam jumlah besar. Walhi Sumatera Utara menduga kayu-kayu tersebut berasal dari area pembangunan infrastruktur PLTA. Terus geng yang ketiga nih ada PT Toba Pol Lestari yang memiliki proyek perkebunan kayu rakyat atau PKR. Ratusan hingga ribuan hektar hutan di DAS Batangtoru sudah beralih fungsi menjadi PKR yang ditanami eukaliptus terutama di Kecamatan Sipiro, Tapanuli Selatan. Kemudian ada lagi PT Pahai Julu Micro Hydro Power yang menjalankan proyek pembangkit listrik tenaga Micro Hydro atau PLTMH yang ada di Pahejulu. Nah, selanjutnya ada PT Sol Geothermal Indonesia yang menjalankan geothermal di Tapanuli Utara. Terus ada lagi PT Sago Nauli Plantation yang menjalankan perkebunan sawit di Tapanuli Tengah serta PTPN 2 Batang Toru Estate yang menjalankan perkebunan sawit di Tapanuli Selatan. Kemudian ada lagi skema yang dijalankan di sana yaitu pembukaan hutan melalui skema pemanfaatan kayu tumbuh alami atau PHAT yang menjadi salah satu pemicu banjir bandang. Kawasan koridor satwa yang menghubungkan Dolok Sibualbuali dan hutan lindung batang toru blok barat itu sudah terdegradasi sekitar 1500 hektar dalam 3 tahun terakhir, Geng. Padahal nih, Geng ya. batang toru itu ya. Ini adalah habitat orang utan Tapanuli, harimau Sumatera, tapir, serta masih banyak spesies lain yang dilindungi di sana. Jadi bisa kebayang ya, Geng, ternyata selama ini manusia mencoba untuk mengambil rumah dari hewan-hewan liar, satwa-satwa liar, tapi justru dampak mengerikannya untuk manusia itu sendiri. Ya, mungkin pelakunya bukan manusia yang terdampak, pelakunya ya orang-orang besar di sana. Tapi kita bisa lihat ya ketika alam membalas semua perbuatannya ya nauzubillah minzalik seram banget. Dan hal yang sama juga terjadi di Sumatera Barat. Hutan di Sumatera Barat terus-menerus tergerus. Di periode tahun 2011 sampai 2021, Sumatera Barat kehilangan 139.590 atau lebih dari 1 seteng kali luas kota New York hutan mereka. Kerusakan hutan ini terjadi karena berbagai penyebab seperti bisnis ekstraktif berskala besar, pembalakan liar, maupun pertambangan emas ilegal dan lain-lain. Nah, pihak Walhi pun menyoroti akan penampakan kayu-kayu besar yang hanyut terbawa oleh banjir di Sumatera Barat. Sama dengan yang terjadi di Sumatera Utara, Walhi menduga kalau banjir bandang di Sumatera Barat disebabkan karena ada praktik eksploitasi hutan. Walhi mencatat Sumatera Barat sudah kehilangan 320.000 hektar hutan primer lembab sepanjang tahun 2001 sampai 2024. Nah, adapun tutupan pohon yang hilang sudah mencapai 740.000 hektar. Di tahun 2024 aja nih, Geng. Sumatera Barat udah kehilangan sebanyak 32.000 hektar hutan dan setidaknya ada 3 DAS di sekitar Kota Padang. Di antaranya ada Dasin, terus ada DAS e Kuranji, terus ada DAS Arau. Nah, DAS Ay Dingin dan DAS Kuranji itu menjadi daerah terparah terdampak bencana. Hulu kota Padang sudah mengalami tekanan ekologis yang serius. Analisis dari Walhi Sumatera Barat menggunakan Citra Satelit pada tahun 2001 sampai 2024. Kota Padang itu kehilangan 3.400 hektar hutan. Sementara itu jika dianalisis lebih mikro ya das dingin itu sudah kehilangan sebanyak 780 hektar tutupan pohon dan hal ini terjadi karena deforestasi yang terjadi di wilayah hulu yang berperan penting dalam meredam aliran permukaan dan mencegah banjir bandang. Lalu di Aceh pun juga demikian, Geng. Di tahun 2024, aparat gabungan yang terdiri dari Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPA wilayah 3, Polri, dan TNI itu menargetkan operasi di kawasan hutan produksi. Sebelumnya petugas mendapatkan informasi terkait adanya pembalakan di kawasan tersebut. Di lokasi ya tim gabungan itu menemukan kayu yang sudah dibelah jadi balok bertumpuk rapi di tepi jalan, Geng. Ada sedikitnya sekitar 31 m³ kayu di sana, Geng. Pelakunya enggak ditemukan, tapi ada peralatan masak, ada perlengkapan tidur di sebuah gubuk yang menandakan ada aktivitas pembalahkan yang dilakukan selama berhari-hari di sana. Ada data yang menunjukkan dugaan kehilangan tutupan hutan per kabupaten di Aceh itu dari tahun 2017 sampai 2021. Kalian bisa lihat sendiri Aceh Tengah menjadi kabupaten paling banyak kehilangan tutupan hutan dan sepertinya pembalakan ini terus berlanjut hingga berdampak pada banjir di sana. Terus geng, bagaimana nih tanggapan dari Kementerian Kehutanan dengan fakta-fakta ini? Nah, melalui Pak Dwi Janwanto Nugroho selaku Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, beliau ini justru membantah kalau kayu yang hanyut bersama dengan banjir itu berasal dari pembalakan liar. Menurut beliau ya praktik seperti ini saat ini lebih banyak terjadi di wilayah Indonesia Timur, katanya. Kayu tersebut sebagian besar merupakan kayu lapuk tua atau tumbang secara alami, katanya. Nah, itulah hasil analisis dari pihak Kementerian Kehutanan dan laporan dari Wakil Menteri. Sebagian kayu menurut beliau tumbang alami. Tapi ada juga yang berasal dari penbangan, tapi merupakan penbangan resmi di area izin pengusahaan hutan yang sudah mengikuti prosedur mekanisme yang legal, katanya. Tapi meskipun begitu, Kemenhood masih melakukan penyelidikan untuk memastikan asal muasal semua kayu gelondongan yang terbawa banjir. Operasi terkait dugaan pencurian kayu melalui mekanisme penegakan hukum terpadu juga sedang berjalan untuk mencegah praktik ilegal. Kira-kira gimana tuh, Geng, menurut kalian? Kalian percaya enggak dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dwi Janwanto tadi? Jadi, Geng, itu pembahasan kita hari ini, ya, mengenai alasan kenapa pemerintah belum juga menetapkan bencana nasional terhadap bencana banjir bandang di Sumatera. Sekaligus ya kita juga membahas bagaimana kondisi terkini di sana dan menurut klaim dari BNPB sudah membaik katanya. Tapi yang kita temukan di mana-mana dan berdasarkan pemberitaan yang ada di media, mau itu dari media besar maupun laporan netizen, kondisinya masih sama aja, belum kunjung membaik. Terus kita juga sudah membahas soal keberadaan tujuh perusahaan yang dianggap melakukan penebangan hutan yang mana mereka dianggap sebagai penyebab dari terjadinya banjir ini. Gimana, Geng, menurut kalian? Apa yang bisa kalian utarakan dari kasus ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.