Transcript
zELC1s0_7hk • ARE SUMATERA FLOODS JUST ORDINARY? NOT A NATIONAL DISASTER?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1612_zELC1s0_7hk.txt
Kind: captions
Language: id
Tidak dikategorikannya banjir di
Sumatera bagian utara ini sebagai
bencana nasional dikarenakan aspek
tersebut mengacu pada parameter
penetapan bencana nasional mulai dari
kerusakan absolut, lumpuhnya sistem
pemerintahan daerah hingga hilangnya
kendali layanan publik. Nah, menurut
beliau kayak gitu tuh,
Geng. Kemarin ya kita sudah merangkum
bagaimana kondisi di Sumatera bagian
utara yang meliputi Aceh, Sumatera
Utara, dan Sumatera Barat. Di mana
kondisinya itu benar-benar porakporanda
karena di tempat banjir bandang dan
lonsor kemarin. Kondisi tersebut
diperparah dengan matinya listrik di
sana dan terputusnya komunikasi dengan
sanak keluarga yang membuat masyarakat
jadi sulit mendapatkan kabar ee agar
bisa mengetahui kondisi terkini di sana.
Nah, kita juga bisa lihat ya dari
dokumentasi yang ada di media sosial
bagaimana situasi di tiga provinsi
tersebut pada saat dan setelah dilanda
Banjir bandang. Kondisinya parah banget
ya. Mungkin bisa dikatakan ini adalah
salah satu bencana terbesar yang dialami
oleh negara kita ya dalam beberapa tahun
ini. Netizen dari berbagai daerah juga
menyuarakan dan menyatakan dukungan
terhadap masyarakat di Sumatera yang
terdampak. Bahkan ada yang berinisiatif
untuk memberikan donasi agar bisa
membantu para korban sehingga mereka
tidak hanya mengandalkan bantuan dari
pemerintah aja. Yang mana kabarnya
bantuan dari pemerintah ya masih banyak
titik yang belum bisa mendapatkan
bantuan. Entah karena bantuannya memang
lama atau mungkin jalur
pendistribusiannya memang banyak yang
terputus. Tapi geng yang membuat
orang-orang jadi bingung dengan melihat
bagaimana kondisi yang terjadi di sana
saat ini, kenapa pemerintah kita masih
belum juga menetapkan banjir bandang ini
sebagai bencana nasional? Padahal
kerusakannya masif, ribuan orang terkena
dampak, dan bahkan sudah menyentuh angka
400 nyawa yang melayang. Gila enggak
tuh? Dan bantuan yang datang bisa
dikatakan ya sangat-sangat kurang, jauh
dari kata cukup. Nah, ini masih
dipertanyakan oleh masyarakat apakah ini
karena faktor administrasi atau adanya
syarat tertentu yang belum terpenuhi
atau gimana. Nah, terus kemarin gue juga
sempat menyebutkan satu perusahaan yang
diduga oleh pihak WALHI sebagai pihak
yang seharusnya bertanggung jawab atas
banjir yang terjadi di Sumatera bagian
utara ini. Nah, tapi ternyata ada enam
perusahaan lain, Geng, yang turut andil
di dalam hal ini. Perusahaan yang mana
aja nanti kita bakal bahas, ya.
Pembahasan ini tujuannya agar kita lebih
menyadari, Geng, seberapa rusaknya
ekosistem di negara kita saat ini. Ya,
mengeruk dan merusak alam di negara kita
untuk keuntungan yang dirasakan oleh
sebagian pihak tertentu aja ternyata
sudah sangat lumrah terjadi. Nah,
langsung aja kita bahas nih secara
lengkap. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry.
Ging geng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita bahas dulu nih alasan
kenapa pemerintah kita masih belum
menetapkan banjir di Sumatera bagian
utara sebagai bencana nasional dan
kenapa juga bantuan untuk para korban
terasa sangat lambat. Kita bahas.
Di video kemarin gua udah merangkum
bagaimana situasi dan kondisi yang
terjadi di Sumatera bagian utara ini
yaitu Aceh ya, Sumatera Barat dan juga
Sumatera Utara. Kalian juga pasti udah
melihat beberapa video serta foto yang
tersebar luas di media sosial ketika
banjir terjadi dan juga pasca banjir
terjadi. Bahkan ya, Geng, si Bolga
letaknya berada di tepi pantai aja itu
enggak pernah mengalami banjir sebesar
yang terjadi saat ini. Sekalinya banjir,
udah pasti air langsung mengalir ke
laut. Baru kali ini wilayah mereka
disapu oleh banjir dengan debit air yang
begitu besar. Hingga laut aja ya semacam
tidak sanggup untuk menampung banyaknya
air. Solidaritas masyarakat Indonesia di
provinsi lain yang tinggal di luar
Sumatera bagian utara menyuarakan
dukungan lewat media sosial nih, Geng.
Dengan harapan supaya pemerintah pusat
itu bisa bertindak secepatnya untuk
memberikan bantuan kepada para korban
yang ada di sana. Dan ada juga yang
berinisiatif untuk menggalang donasi
bagi para korban sehingga masyarakat
yang terdampak tidak hanya bergantung
pada bantuan yang dikirim oleh
pemerintah yang entah kapan nyampainya.
Nah, meskipun kita tidak berada di
tengah-tengah bencana tersebut ya, Geng,
tapi kita bisa melihat atau menyaksikan
dokumentasi-dokumentasi
dari video-video yang ada di media
sosial yang setidaknya kita bisa tahu
gitu bagaimana mengerikan dan
mencekamnya kondisi di sana.
Membayangkan betapa ketakutannya
masyarakat yang ada di sana ya. Mereka
takut akan terjadi banjir susulan atau
longsor susulan. Terlebih lagi tidak
adanya listrik dan internet yang membuat
mereka seperti terisolasi di sana.
Mereka gak bisa meminta pertolongan dan
hanya bisa pasrah menunggu sampai mereka
mendapatkan bantuan. Cuma, geng, publik
merasa semacam pemerintah khususnya
pemerintah pusat nih ya, itu kayak
enggak bersuara atau tidak memberikan
tanggapan terkait bencana yang melanda
tiga provinsi di pulau Sumatera
tersebut.
Nah, ini di awal-awal kejadian nih,
Geng. Bukan yang sekarang ya. Mungkin
kalau di hari ini, ini gua syuting di
tanggal 1 Desember, ya. Mungkin udah
banyak pergerakan karena sudah ada
protes dari kalian. Nah, tapi dari
kemarin-kemarin tuh kayak landai aja
gitu. Kita berkaca pada Filipina, Geng.
Presidennya yaitu Ferdinand Marcos
Junior itu pernah menetapkan status
darurat nasional di hari Kamis tanggal 6
November 2025 setelah topan Kalma
menewaskan 140 orang dan ratusan orang
lainnya dilaporkan hilang di sejumlah
provinsi. Coba kita bandingkan, Geng,
dengan kejadian di Sumatera ini yang
meninggal 400 lebih. Belum lagi
rumah-rumah yang hanyut, belum lagi
kampung yang hilang, perkampungan yang
tiba-tiba menjadi sungai. Tapi enggak,
bagi pemerintah kita itu belum ada
apa-apanya. Dan banyak
statement-statement dari pemerintah kita
yang bikin sakit hati banget yang
katanya, "Oh, cuma ngeri di video
doang." Pas dicek langsung ke lapangan
biasa aja kok. Buset. Nih, kalian bisa
dengar nih statement si Bapak ini nih.
Kemarin kan kelihatannya mencekam ya
karena kan berseliweran di media sosial,
enggak bisa ketemu apa. Tapi begitu
sampai ke sini sekarang begitu rekan
media tadi hadir di lokasi kemudian
tidak hujan. Ah, coba di Sumatera Utara
yang kemarin kelihatannya mencekam kan
sekarang yang menjadi hal yang sangat
serius tinggal tabanol di tengah.
Apakah perlu tidaknya apa bencana
nasional atau daerah? Tapi sekarang
statusnya masih bencana daerah tingkat
provinsi.
Nah, jadi kita lihat Filipin. Filipin
140 orang aja presidennya langsung
menetapkan itu adalah bencana nasional.
Kita 400 enggak cukup. Kayaknya harus
1400 kayaknya baru bencana nasional.
Nah, terus geng di Philipin itu ya
sebagian besar korbannya itu meninggal
akibat tenggelam dalam banjir bandang.
Jadi mirip nih kayak kejadian di
Indonesia. Keputusan Marcos dikeluarkan
pada saat rapat dengan pejabat
penanggulangan bencana untuk menilai
dampak topan itu. Nah, status tersebut
memungkinkan agar pemerintah mereka
menyalurkan dana darurat dengan cepat
serta mencegah penimbunan dan kenaikan
harga pangan. Nah, Kantor Pertahanan
Sipil Filipina itu melaporkan ada hampir
2 juta orang yang terdampak dan lebih
dari 560.000 warga yang terpaksa
mengungsi termasuk sekitar 450.000 orang
yang berlindung di tempat penampungan
darurat.
Di Indonesia udah longsor, banjir
bandang, listrik, internet padam,
terputus di berbagai wilayah di tiga
provinsi itu sampai berhari-hari. Udah
mau seminggu nih. Namun ya pemerintah
juga tidak mengkategorikan kalau ini
adalah bencana nasional. Kalau dari
informasi yang disampaikan oleh Lejen
TNI Suharyanto selaku Kepala BNPB,
pemerintah masih mempertahankan status
banjir bandang dan lonsor di Sumatera
Utara, Sumatera Barat, dan Aceh ini
sebagai bencana daerah tingkat provinsi,
bukan bencana nasional. Beliau
mengatakan perdebatan terkait status
tersebut ya tidak perlu diperpanjang
katanya karena menurut beliau negara
kita ini memiliki rekam jejak yang
sangat terbatas dalam menetapkan bencana
nasional. Nah, bencana nasional yang
pernah ditetapkan di Indonesia itu cuma
COVID-19 dan tsunami Aceh pada tahun
2004. Nah, sementara bencana besar lain
seperti gempa di Palu, NTB, Cianjur juga
tidak ditetapkan sebagai bencana
nasional. Tidak dikategorikannya banjir
di Sumatera bagian utara ini sebagai
bencana nasional dikarenakan aspek
tersebut mengacu pada parameter
penetapan bencana nasional mulai dari
kerusakan absolut, lumpuhnya sistem
pemerintahan daerah hingga hilangnya
kendali layanan publik. Nah, menurut
beliau kayak gitu tuh. Dan dia bilang
situasi banjir di Sumatera belum
mencapai ambang tersebut. Gila.
Aduh, enggak habis pikir sih. Pak
Suharyanto ini menegaskan kalau bencana
kali ini masih bisa ditangani oleh
struktur pemerintahan daerah dengan
dukungan penuh dari pemerintah pusat.
Beliau juga menjelaskan kalau gambaran
awal yang beredar di media sosial itu
memang memunculkan kesan yang mencekam,
termasuk laporan masyarakat yang
terisolasi dan komunikasi yang terputus.
Tapi kata dia, kondisi sebenarnya di
sebagian besar lokasi jauh lebih
terkendali, katanya. Klaimnya beliau tuh
kayak gitu, Geng. katanya tuh kayak
aslinya enggak seseram di video. Nah,
kalian udah dengar sendiri, Geng,
pernyataan langsung dari beliau ini
melalui sebuah video yang gua tampilkan
tadi dengan yang kejadian sekarang ini.
Ya, memang kemarin kan kelihatannya
mencekam ya, karena kan berseliweran di
media sosial, enggak bisa ketemu apa.
Tapi begitu sampai ke sini sekarang
terus geng Pak Suharianto ini juga
menyebutkan bahwa stabilitas
pemerintahan daerah, akses layanan
publik, dan kemampuan koordinasi itu
masih berjalan. sehingga tidak ada
urgensi untuk menaikkan status ke
bencana nasional. Meskipun tidak
berstatus sebagai bencana nasional, Pak
Suhariyanto ini menekankan kalau
keterlibatan pemerintah pusat itu enggak
berkurang sedikitp. Nah, katanya
mobilisasi bantuan justru berlangsung
secara besar-besaran. Nah, BNPB menilai
Tapanuli Tengah sebagai wilayah yang
mengalami kerusakan paling parah, baik
dari sisi korban jiwa maupun kendala
akses. Jalan yang menghubungkan Tapanuli
Utara dan Sibolga masih jadi titik
paling kritis katanya. Nah, BNPB ini
memastikan bahwa pembukaan akses
dilakukan secara paralel dengan evakuasi
dan penyaluran logistik. Ya, dan Pak
Suharianto ini bilang kondisi cuacanya
cerah yang mulai muncul beberapa hari
terakhir itu benar-benar membantu proses
evakuasi dan distribusi bantuan katanya.
Dan beliau juga menyebutkan bahwa tim
akhirnya bisa mencapai sejumlah titik
terdampak yang sebelumnya tidak bisa
diakses. Tapi yang jadi pertanyaannya,
apakah benar? Ya, faktanya seperti yang
dikatakan oleh si bapak ini benar kayak
gitu. Benarkah jika kondisi saat ini
sudah berangsur-angsur membaik, makanya
pemerintah beralasan kalau banjir
bandang di Sumatera tidak perlu
dikategorikan sebagai bencana nasional.
Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan mengenai fakta kerusakan
akibat banjir bandang dan longsor di
Sumatera bagian utara ini.
Jadi, geng Pak Suharianto ini
menyebutkan kalau kondisi di Sumatera
itu sudah membaik saat ini dan dari
indikator yang dimiliki oleh BNPB,
banjir di Sumatera itu dikatakan belum
mencapai ambang dari indikator tersebut.
Tapi benar enggak saat ini kondisinya
membaik seperti kata beliau. Nah, gua
coba mencari tahu nih dari berbagai
media yang memberikan informasi terkini
mengenai kondisi di Sumatera saat ini
yang mana apa yang disampaikan di media
ini juga didapatkan dari keterangan
BNPB. Dari informasi terbaru dikatakan
total korban jiwa itu mencapai 442
orang yang meninggal dunia. Padahal
awalnya masih 174 orang meningkat
drastis. Terus pada awalnya ada 79 orang
yang hilang, tapi untuk saat ini
totalnya sudah menjadi 402 orang yang
hilang dan belasan orang lainnya
mengalami luka-luka. Sumatera Utara
menjadi provinsi dengan jumlah korban
terbanyak. Ya, ini dari data sementara
ya. Ini gua bacain nih. Jadi di Sumatera
Utara itu 217 orang yang meninggal
dunia. Terus 209 orangnya hilang enggak
tahu di mana. Di Sumatera Barat 129
orang yang meninggal dunia dan 118-nya
hilang. Di Aceh 96 orang yang meninggal
dunia. dan 75 orangnya hilang. Nah,
mereka ini semua tersebar di beberapa
kota ya di daerah yang gua sebutkan
tadi. Nah, di saat itu, Geng, hujan
deras dan longsor menyebabkan gangguan
akses transportasi jalur nasional ya
terutama di Sidempuan, Sibolga, dan
Sipiro Medan itu terputus di beberapa
titik. di Mandailing Natal, sejumlah
ruas jalan seperti Singkuang sampai
Tabuyung dan juga Bulu Soma sampai
Sopoot Tinjak itu masih belum bisa
dilalui. Nah, sampai saat sekarang ini
pemerintah masih berupaya untuk membuka
akses ya dilakukan terus dengan
pengerahan alat berat. Penyaluran
logistik sudah dilakukan terutama di
Tapanuli Tengah dan juga di daerah
Mandailing Natal termasuk bantuan beras,
makanan siap saji, tenda, terpal, serta
family kit. Nah, pemerintah pusat juga
mengerahkan personil BNPB, TNI, Polri,
serta dukungan lintas kementerian atau
lembaga. Bantuan presiden berupa alat
komunikasi, ada genset, LCR, terus ada
kompresor, tenda, dan kebutuhan
konsumsi. Semuanya sudah mulai
disalurkan. Dukungan alusista meliputi
pesawat Karavan, helikopter Airbus EC
155 untuk distribusi logistik dan
peralatan, dan juga ada alat berat untuk
mempercepat pembukaan akses terdampak.
BNPB itu menempatkan alat penyedia
jaringan internet yaitu Starling yang
sementara ditempatkan di lokasi
pengungsian maupun di posco penanganan
darurat. Kabupaten Tapanuli Tengah dan
Kota Sibolga itu menjadi terisolasi
karena terjadi pemadaman listrik total.
Gangguan jaringan internet serta akses
jalan yang terputus juga terjadi di
sana. Dan warga di Sumatera Utara itu
mengeluhkan kalau bahan pokok dan pangan
itu udah mulai habis langka. Kalaupun
ada harganya bisa mahal banget, Geng.
Harga cabe yang biasanya Rp50.000 per kg
sekarang jadi naik dua kali lipat yaitu
100.000 per kg. BBM juga makin langka.
Nah, banyak warga yang antri membeli BBM
tapi akhirnya tidak kebagian karena
bensin habis di SPBU pada hari Kamis
malam tanggal 27 November. Dan saking
sudah parahnya situasi di sana, sempat
ada penjarahan yang terjadi di beberapa
minimarket yang ada di Subolga. Ya, ini
semua terjadi karena masyarakat udah
kebingungan mau makan apa. Ya,
satu-satunya cara adalah dengan
memberanikan diri mengambil
barang-barang atau makanan-makanan yang
ada di minimarket tersebut. Mereka ya
sudah mulai menggunakan insting bertahan
hidupnya. Ada salah satu warga yang ikut
melakukan penjarahan, membuat video
klarifikasi sampai minta maaf. Dia
beralasan terpaksa melakukan itu karena
keluarganya hampir enggak bisa makan.
Jadi, bukan menjarah karena untuk nyari
untung, enggak. Tapi udah enggak ada
pilihan lain. Dan kabarnya, Geng, polisi
sudah menangkap 16 orang yang diduga
melakukan penjarahan di beberapa
minimarket tersebut. Nah, Gubernur
Sumatera Utara yaitu Bobi Nasution
menetapkan Sumatera Utara berstatus
tanggap darurat bencana yang berlaku
sampai 14 hari ke depan. Nah, terus geng
bagaimana dengan Aceh? Nah, di Aceh tadi
gua sudah menyebutkan kalau yang
meninggal dunia itu sampai sekarang ada
sebanyak 96 orang dan 75 orangnya
hilang. Di Aceh sendiri, terutama di
daerah benar meriah, Aceh Tenggara dan
Aceh Tengah, sebagian wilayahnya itu
benar-benar terdampak parah. Para
pengungsi tersebar luas di 20 kabupaten
atau kota, termasuk 96 titik di kota
Loksumawe. Ada sebanyak 4.846
kepala keluarga yang saat ini berada di
tempat pengungsian dan kerusakan akses
darat juga cukup parah. Jalur Nasional
Perbatasan Sumatera Utara Aceh terputus
akibat longsor. Sementara jembatan rusak
di daerah Meredu itu memutus
konektivitas Banda Aceh, Loksumawe, Aceh
Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Nah,
sejumlah kabupaten seperti Gayo, Lues,
Aceh Tengah dan benar meriah bahkan
tidak bisa diakses melalui jalur darat
lagi. Nah, pengiriman logistiknya juga
dilakukan menggunakan pesawat Hercules
dan armada udara lainnya. Nah, untuk
menjaga kelancaran komunikasi darurat
ya, perangkat Starling sudah dipasang di
Gayo Luwes, Aceh Tengah dan Bener Miriah
serta dalam proses mobilisasi ke
beberapa wilayah lainnya. Penyaluran
logistik ini dilakukan ya antara lain di
kota Loksmawe ya, berupa beras, mie
instan, e minyak goreng, telur, gula,
pampers, dan obat-obatan. Banyak warga
Aceh yang mengaku tidak pernah mengalami
banjir separah ini sebelumnya kecuali
tsunami ya. Nah, ini beda hal nih.
Kalaupun hujan deras di sana, banjir
biasanya tidak pernah sampai menyentuh
lutut kaki. Dan gak jarang juga banyak
warga yang merasa trauma karena
mengingatkan mereka terhadap tsunami
dulu yang menerjak Aceh tahun 2004
silam. Bedanya tsunami airnya hitam,
sementara banjir ini airnya kuning,
keruh, kecoklatan. Nah, listrik dan air
itu padam sejak hari Rabu tanggal 26
November dan jalan-jalan juga dipenuhi
oleh lumpur tebal. Nah, beberapa di
antara mereka ada yang terpaksa harus
mengungsi ke halaman toko karena tempat
pengungsian ternyata kebanjiran.
Sebagiannya lagi ada yang mengungsi ke
masjid yang cukup besar dan aman dari
banjir. Nah, warga juga khawatir karena
barang-barang di toko yang menjual
kebutuhan pokok itu semakin menipis
karena ya bantuan logistik belum sampai.
Warung makan bahkan menjual nasi dan
lauk seharga Rp20.000. Padahal di hari
biasanya hanya Rp8.000 aja di sana. Nah,
pada hari Kamis tanggal 27 November ya,
Gubernur Aceh yaitu Muzakir Manaf atau
Mualim itu menetapkan status tanggap
darurat di Aceh yang berlaku selama 14
hari mulai dari 28 November sampai 11
Desember 2025.
Bahwa penetapan
status
keadaan tanggapan tangkap darurat
bencana
alam tahun
2025.
Penetapan status tanggap darurat
tersebut diambil oleh pemerintah
provinsi Aceh setelah melihat dampak
banjir dan longsor yang begitu parah,
Geng. Nah, jadi di beberapa daerah
pemimpinnya sudah menetapkan status
tanggap darurat untuk daerah
masing-masing. Ya, pemerintah pusat
belum menetapkan kalau ini adalah ya
kasus atau bencana nasional. Oke, gimana
tuh menurut kalian, Geng, dari
kondisinya? Menurut kalian apakah sudah
pantas dianggap sebagai bencana nasional
atau belum? Nah, terus geng di Sumatera
Barat seperti yang gua sebutkan tadi,
ini jumlah dari korbannya juga enggak
kalah banyak, yaitu ada sekitar 129
orang yang meninggal dunia dan 118-nya
hilang tanpa kabar. Banyak banget. Nah,
para korban ini tersebar di Padang
Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang,
dan ee Pasaman Barat. Wilayah
pengungsian juga cukup luas dengan 50
titik di pesisir selatan dan 3 titik di
Kota Padang serta titik-titik lain di
daerah Solok, Pasaman, dan ee Tanah
Datar. Nah, total sementara pengungsian
itu mencapai 3.900 kepala keluarga dan
kerusakan infrastruktur mereka meliputi
lima jembatan di Padang Pariaman dan
longsor yang menutup di jalur nasional
Bukit Tinggi Padang di kawasan Padang
Panjang. Sekitar 200 kendaraan itu
sempat terjebak di sana akibat jalan
yang terputus di Kecamatan Ampek Koto
namanya. BNPB sudah menyalurkan bantuan
darurat berupa paket sembako, hygen kit,
kasur lipat, makanan siap saji, dan
perlengkapan kebersihan. Bantuan
presiden juga udah mulai dikirim nih
melalui jalur udara. Di Kota Padang ada
puluhan orang yang berdesak-desakan di
lorong rumah sakit bayangkara Polda
Sumatera Barat yang terletak di Jalan
Jati, Kecamatan Padang Timur. Kedatangan
mereka untuk mencari kerabat mereka yang
hilang yang mungkin sudah berhasil
diselamatkan. Ada sebagian dari mereka
yang berhasil menemukan anggota
keluarganya cuma dengan kondisi yang
sudah tidak bernyawa, sudah meninggal
dunia. Nah, mereka menangis histeris lah
di saat itu. Nah, tapi masih ada yang
belum diketahui keberadaannya sehingga
masih dinyatakan hilang. Pempr Sumatera
Barat juga mengambil langkah yang sama
dengan e Sumatera Utara dan juga Aceh
dengan menetapkan masa tanggap darurat
bencana selama 14 hari. Nah, dari
penjelasan itu ya, Geng, kita kurang
lebih bisa membayangkan ya betapa
buruknya kondisi di sana saat ini.
Ditambah dengan video-video yang
tersebar di media sosial yang semakin
memberikan gambaran betapa parahnya
situasi di Sumatera sekarang. Nah, terus
geng ada informasi ini gua enggak tahu
benar atau enggak, tapi ini gua
sampaikan aja ke kalian ya, yang mana
dikatakan Starling ya, sebuah perusahaan
internet milik Elon Marx dikabarkan
menggratiskan layanan mereka bagi para
korban. Hal ini pun ternyata
dikonfirmasi nih oleh Elon Musk sendiri
yang menyebutkan kebijakan SpaceX adalah
menggratiskan Starling setiap kali
terjadi bencana alam di satu tempat.
Mengambil keuntungan dari musibah ini
bukanlah tindakan yang benar. Nah, namun
Geng dari komentar netizen asal
Indonesia di tweet-nya Elon Marx,
katanya sih ada oknum yang memanfaatkan
e momen ini untuk mengambil keuntungan
dengan mematok tarif R10.000 per jam.
Benar enggak sih, Geng? Nah, ini gila
banget ya. di tengah-tengah musibah
kayak gini ada aja yang culas gitu
pengin ngambil-ngambil untung. Oke,
setelah penjelasan gua tadi, Geng, ya,
apakah menurut kalian dari dokumentasi
yang ada, video-video yang terlihat,
apakah bisa dikatakan kalau kondisi saat
ini sudah berangsur-angsur membaik
seperti yang diklaim oleh BNPB? Nah,
apakah yang terjadi saat ini di Sumatera
tidak bisa dikatakan sebagai bencana
yang menimbulkan dampak yang parah? Coba
deh kalian berikan pendapat kalian
terkait hal ini.
Karena sampai sekarang masih banyak para
perantau yang sulit menghubungi
keluarganya di kampung yang mana
keluarganya tinggal di wilayah
terdampak. Nah, ini kan sedih banget ya
kalau kita pikir-pikir ya. Indonesia
bisa selambat ini menangani bencana yang
pemerintahnya aja bilang ini enggak
gede-gede banget tapi penanganannya bisa
selambat ini. Ini gimana ceritanya?
Terus Geng untuk informasi terbarunya
nih Geng. Kabarnya Pak Prabowo sudah
berangkat nih menuju ke Sumatera Utara.
Beliau sudah tiba di Bandara
Internasional Sisinga Mangaraja 12,
Silang Langit, Sumatera Utara sekitar
jam5 pagi di hari Senin tadi, yaitu hari
ini. Dari sana Pak Prabowo langsung naik
ke helikopter Karakal untuk menuju
lokasi bencana banjir dan juga longsor
di daerah Tapanuli Tengah yang menjadi
salah satu wilayah paling parah terkena
dampak banjir ini. Presiden juga dalam
kunjungan kali ini akan memastikan bahwa
langkah-langkah darurat telah
dilaksanakan sesuai standar penanganan
bencana yang cepat, tepat, dan juga
terkoordinasi dengan baik. Berbagai
pihak, terkhususnya lembaga masyarakat
sipil itu mendesak agar pemerintah
menetapkan bencana di Sumatera Utara,
Aceh, dan Sumatera Barat ini sebagai
bencana nasional. Cuma sampai gua
syuting hari ini di tanggal 1 Desember,
pemerintah masih belum melakukan hal
itu, Geng. Dan seperti yang sudah gua
jelaskan di video yang sebelumnya bahwa
memang penyebab dari banjir bandang dan
lonsor di Sumatera ini disebabkan oleh
adanya siklon atau badai yang menerjang
ee daerah tersebut. Cuma, Geng, siklon
ini bukanlah penyebab atau faktor
tunggal mengapa bisa terjadi bencana
banjir dan longsor sebesar ini dan
separah ini di Sumatera, melainkan
karena adanya aktivitas penebangan
hutan. juga di video kemarin gua udah
menyebutkan satu nama perusahaan yang
diduga bertanggung jawab atas
penerbangan hutan di Sumatera. Tapi saat
ini ya di media mainstream sudah banyak
tersebar nama perusahaan lain yaitu ada
sekitar enam perusahaan yang ternyata
diketahui ikut berkontribusi terhadap
kerusakan alam yang ada di sana.
Perusahaan apa aja? Kita bahas
dari video-video yang berada di sosial
media, kita bisa lihat ya betapa banyak
batang kayu yang ukurannya begitu besar
hanyut terbawa oleh arus banjir. Nah,
ternyata kondisi ini enggak cuma terjadi
di satu lokasi aja, Geng. Di video lain
itu menunjukkan ada banyak sekali batang
kayu yang menumpuk di pantai parkit air
tawar kota Padang, Sumatera Barat.
Kalian bisa lihat nih dari video ini.
Apa yang Anda saksikan saat ini bukanlah
daratan baru yang muncul dari dasar
laut. Dan ini bukanlah hamparan tanah
kering. Ini adalah pantai parkit di
kawasan air tawar, Kota Padang. tempat
yang biasanya menyajikan pasir dan debur
ombak hari ini berubah total menjadi
lautan kayu.
Nah, hal ini menunjukkan kalau
penebangan pohon enggak cuma terjadi di
satu tempat aja, tapi kemungkinan
terjadi di tiga provinsi, yaitu Aceh,
Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dan
kita bahas dulu nih di Sumatera Utara
dulu. Di Kabupaten Tapanuli Selatan,
Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara
serta Kota Sibolga ada sebuah ekosistem
yang bernama Batang Toru yang merupakan
hutan penyangga hidrologis yang
berfungsi sebagai resapan air. Ini
sangat berguna, Geng. Kalau terjadi
hujan deras, air yang jatuh ke tanah
bakal otomatis diserap oleh pohon
sehingga tidak akan menggenang di atas
permukaan tanah. Batang toru ini menjadi
salah satu benteng hutan tropis esensial
terakhir di Sumatera Utara. secara
administratif ya, 66,7%-nya
berada di Tapanuli Utara, 22,6%-nya
di Tapanuli Selatan, dan 10,7%-nya di
Tapanuli Tengah. Sebagai bagian dari
bukit barisan, hutan ini menjadi sumber
air utama, mencegah banjir dan erosi
serta menjadi pusat daerah aliran sungai
atau DAS menuju ke wilayah Hilir. Terus,
Geng, ekosistemnya ini sangat penting.
Enggak hanya bagi satwa yang hidup di
sana. Enggak cuma bagi hewan-hewan
doang, tapi juga bagi keseimbangan alam
yang berdampak pada manusia.
malah kian hari justru malah ditebang
terus. Pihak Walhi itu menduga ada tujuh
perusahaan yang menyebabkan kerusakan di
Sumatera Utara yang disebabkan oleh
aktivitas eksploitatif yang membuka
tutupan hutan Batang Toru. Yang pertama
sudah sempat gua mention di video
sebelumnya yaitu PT Agin Court Resource.
Perusahaan ini sudah mengurangi tutupan
hutan dan lahan sekitar 300 hektar di
DAS Batang Toru. Yang kedua ada PLTA
Batang Toru yang dijalankan oleh PT
North Sumatera Hydroenergi dan proyek
tersebut sudah menyebabkan hilangnya
lebih dari 350 hektar tutupan hutan di
sepanjang 13 km daerah sungai, serta
gangguan fluktuasi debit sungai,
sedimentasi atau pengendapan tinggi
akibat pembuangan limbah galian
terowongan dan pembangunan bendungan
serta potensi polisi sungai jika limbah
galian mengandung unsur yang beracun.
Video luapan sungai Batang Toru di
jembatan Trikora itu menunjukkan
gelondongan kayu dalam jumlah besar.
Walhi Sumatera Utara menduga kayu-kayu
tersebut berasal dari area pembangunan
infrastruktur PLTA. Terus geng yang
ketiga nih ada PT Toba Pol Lestari yang
memiliki proyek perkebunan kayu rakyat
atau PKR. Ratusan hingga ribuan hektar
hutan di DAS Batangtoru sudah beralih
fungsi menjadi PKR yang ditanami
eukaliptus terutama di Kecamatan Sipiro,
Tapanuli Selatan. Kemudian ada lagi PT
Pahai Julu Micro Hydro Power yang
menjalankan proyek pembangkit listrik
tenaga Micro Hydro atau PLTMH yang ada
di Pahejulu. Nah, selanjutnya ada PT Sol
Geothermal Indonesia yang menjalankan
geothermal di Tapanuli Utara. Terus ada
lagi PT Sago Nauli Plantation yang
menjalankan perkebunan sawit di Tapanuli
Tengah serta PTPN 2 Batang Toru Estate
yang menjalankan perkebunan sawit di
Tapanuli Selatan. Kemudian ada lagi
skema yang dijalankan di sana yaitu
pembukaan hutan melalui skema
pemanfaatan kayu tumbuh alami atau PHAT
yang menjadi salah satu pemicu banjir
bandang. Kawasan koridor satwa yang
menghubungkan Dolok Sibualbuali dan
hutan lindung batang toru blok barat itu
sudah terdegradasi sekitar 1500 hektar
dalam 3 tahun terakhir, Geng. Padahal
nih, Geng ya. batang toru itu ya. Ini
adalah habitat orang utan Tapanuli,
harimau Sumatera, tapir, serta masih
banyak spesies lain yang dilindungi di
sana. Jadi bisa kebayang ya, Geng,
ternyata selama ini manusia mencoba
untuk mengambil rumah dari hewan-hewan
liar, satwa-satwa liar, tapi justru
dampak mengerikannya untuk manusia itu
sendiri. Ya, mungkin pelakunya bukan
manusia yang terdampak, pelakunya ya
orang-orang besar di sana. Tapi kita
bisa lihat ya ketika alam membalas semua
perbuatannya ya nauzubillah minzalik
seram banget. Dan hal yang sama juga
terjadi di Sumatera Barat. Hutan di
Sumatera Barat terus-menerus tergerus.
Di periode tahun 2011 sampai 2021,
Sumatera Barat kehilangan 139.590
atau lebih dari 1 seteng kali luas kota
New York hutan mereka. Kerusakan hutan
ini terjadi karena berbagai penyebab
seperti bisnis ekstraktif berskala
besar, pembalakan liar, maupun
pertambangan emas ilegal dan lain-lain.
Nah, pihak Walhi pun menyoroti akan
penampakan kayu-kayu besar yang hanyut
terbawa oleh banjir di Sumatera Barat.
Sama dengan yang terjadi di Sumatera
Utara, Walhi menduga kalau banjir
bandang di Sumatera Barat disebabkan
karena ada praktik eksploitasi hutan.
Walhi mencatat Sumatera Barat sudah
kehilangan 320.000 hektar hutan primer
lembab sepanjang tahun 2001 sampai 2024.
Nah, adapun tutupan pohon yang hilang
sudah mencapai 740.000
hektar. Di tahun 2024 aja nih, Geng.
Sumatera Barat udah kehilangan sebanyak
32.000 hektar hutan dan setidaknya ada 3
DAS di sekitar Kota Padang. Di antaranya
ada Dasin,
terus ada DAS e Kuranji, terus ada DAS
Arau. Nah, DAS Ay Dingin dan DAS Kuranji
itu menjadi daerah terparah terdampak
bencana. Hulu kota Padang sudah
mengalami tekanan ekologis yang serius.
Analisis dari Walhi Sumatera Barat
menggunakan Citra Satelit pada tahun
2001 sampai 2024. Kota Padang itu
kehilangan 3.400 hektar hutan. Sementara
itu jika dianalisis lebih mikro ya das
dingin itu sudah kehilangan sebanyak 780
hektar tutupan pohon dan hal ini terjadi
karena deforestasi yang terjadi di
wilayah hulu yang berperan penting dalam
meredam aliran permukaan dan mencegah
banjir bandang. Lalu di Aceh pun juga
demikian, Geng. Di tahun 2024, aparat
gabungan yang terdiri dari Kesatuan
Pengelolaan Hutan atau KPA wilayah 3,
Polri, dan TNI itu menargetkan operasi
di kawasan hutan produksi. Sebelumnya
petugas mendapatkan informasi terkait
adanya pembalakan di kawasan tersebut.
Di lokasi ya tim gabungan itu menemukan
kayu yang sudah dibelah jadi balok
bertumpuk rapi di tepi jalan, Geng. Ada
sedikitnya sekitar 31 m³ kayu di sana,
Geng. Pelakunya enggak ditemukan, tapi
ada peralatan masak, ada perlengkapan
tidur di sebuah gubuk yang menandakan
ada aktivitas pembalahkan yang dilakukan
selama berhari-hari di sana. Ada data
yang menunjukkan dugaan kehilangan
tutupan hutan per kabupaten di Aceh itu
dari tahun 2017 sampai 2021. Kalian bisa
lihat sendiri Aceh Tengah menjadi
kabupaten paling banyak kehilangan
tutupan hutan dan sepertinya pembalakan
ini terus berlanjut hingga berdampak
pada banjir di sana. Terus geng,
bagaimana nih tanggapan dari Kementerian
Kehutanan dengan fakta-fakta ini? Nah,
melalui Pak Dwi Janwanto Nugroho selaku
Direktur Jenderal Penegakan Hukum
Kementerian Kehutanan, beliau ini justru
membantah kalau kayu yang hanyut bersama
dengan banjir itu berasal dari
pembalakan liar. Menurut beliau ya
praktik seperti ini saat ini lebih
banyak terjadi di wilayah Indonesia
Timur, katanya. Kayu tersebut sebagian
besar merupakan kayu lapuk tua atau
tumbang secara alami, katanya. Nah,
itulah hasil analisis dari pihak
Kementerian Kehutanan dan laporan dari
Wakil Menteri. Sebagian kayu menurut
beliau tumbang alami. Tapi ada juga yang
berasal dari penbangan, tapi merupakan
penbangan resmi di area izin pengusahaan
hutan yang sudah mengikuti prosedur
mekanisme yang legal, katanya. Tapi
meskipun begitu, Kemenhood masih
melakukan penyelidikan untuk memastikan
asal muasal semua kayu gelondongan yang
terbawa banjir. Operasi terkait dugaan
pencurian kayu melalui mekanisme
penegakan hukum terpadu juga sedang
berjalan untuk mencegah praktik ilegal.
Kira-kira gimana tuh, Geng, menurut
kalian? Kalian percaya enggak dengan apa
yang disampaikan oleh Pak Dwi Janwanto
tadi? Jadi, Geng, itu pembahasan kita
hari ini, ya, mengenai alasan kenapa
pemerintah belum juga menetapkan bencana
nasional terhadap bencana banjir bandang
di Sumatera. Sekaligus ya kita juga
membahas bagaimana kondisi terkini di
sana dan menurut klaim dari BNPB sudah
membaik katanya. Tapi yang kita temukan
di mana-mana dan berdasarkan pemberitaan
yang ada di media, mau itu dari media
besar maupun laporan netizen, kondisinya
masih sama aja, belum kunjung membaik.
Terus kita juga sudah membahas soal
keberadaan tujuh perusahaan yang
dianggap melakukan penebangan hutan yang
mana mereka dianggap sebagai penyebab
dari terjadinya banjir ini. Gimana,
Geng, menurut kalian? Apa yang bisa
kalian utarakan dari kasus ini? Coba
tinggalkan komentar di bawah.