Transcript
-NabNHUcFMA • ALAM INDONESIA MEMANG HARUS DIKERUK DAN BIARLAH RUSAK ! KENAPA HARUS PEDULI DENGAN EKOSISTEM AWAL?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1613_-NabNHUcFMA.txt
Kind: captions
Language: id
Gus Ulil ini malah menanyakan topik lain
yang kalimatnya sangat-sangat bikin
orang-orang garut-garut kepala lah gitu
ya. Dia bilang gini, "Peranya baliknya
adalah kenapa Anda begitu peduli untuk
mengembalikan ekosistem awal?" Buset. Ya
pedulilah Bapak
tunjukkan satu aja di mana wilayah
pertambangan di Indonesia ini yang mampu
mengembalikan ke ekosistem awalnya.
Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan
baliknya adalah kenapa Anda begitu
peduli untuk mengembalikan ee ekosistem
awal?
Geng, hari ini kita bakal membahas lagi
hal yang berkaitan dengan yang terjadi
di Sumatera. Ya, mohon maaf banget nih,
mungkin kalian agak bosan karena gua
ngebahas ini terus, ini terus. Tapi
kayaknya ini cocok untuk kita jadikan
pembelajaran karena ya betapa
berantakannya lah negara kita ya. Gua
enggak malu mengatakan ini walaupun
penonton gua tuh enggak cuma orang
Indonesia, ada orang Malaysia juga, ada
orang e Singapura dan juga e orang
Brunei dan bahkan warga Indonesia yang
mungkin sedang berada di luar negeri ya
menjadi pekerja migran ya. Terima kasih
buat teman-teman semua yang udah
meluangkan waktu untuk menonton channel
Kamar Jerry dan hari ini gua pengin
mengajak kalian untuk melihat fakta di
lapangan tentang Indonesia. kita akan
sedikit membahas tentang kondisi e
carut-marutnya pemerintahan kita dalam
mengambil kebijakan yang berakhir dengan
terjadinya bencana kayak sekarang.
Banyak orang yang mungkin mengatakan,
"Ya, bencana yang terjadi itu takdir
dari yang maha kuasa." Oke, itu enggak
salah. Yang kedua, bencana yang terjadi
ya akibat alam yang marah. Oke, enggak
salah juga. atau bencana yang terjadi ya
mungkin karena faktor alamiah, faktor
cuaca dan lain-lain juga enggak salah.
Tapi pernahkah kalian berpikir kalau
bencana di sebuah negara terkadang
faktornya itu akibat pemimpin atau
akibat pemerintahnya yang juga terkadang
salah mengambil kebijakan. Pada akhirnya
kita bisa melihat ternyata pilihan kita
selama ini adalah orang-orang yang
ternyata tidak kompeten. Pilihan kita
salah. orang-orang yang mengambil
kebijakan yang berakibat fatal terhadap
masyarakatnya, yaitu menimbulkan bencana
alam. Kenapa demikian? Ya, nanti gua
bakal bahas nih, gua bakal jelaskan ke
kalian di dalam video ini. Perlu kalian
ketahui ya, Geng, setelah fenomena
bencana yang besar ini ramai tuh ya,
pernyataan-pernyataan dari beberapa
pejabat kita yang diekspos oleh media
dan menjadi perhatian masyarakat. Salah
satunya adalah pernyataan dari e Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral yang
bernama Bahlil Lahadalia yang mana dia
menyebutkan kalau negara maju ya pernah
mengeksploitasi
lahan mereka dan dia mempertanyakan
kenapa ketika Indonesia mencoba
mengeksploitasi sumber daya alam malah
diprotes oleh masyarakat. Nah, yang jadi
pertanyaannya, benarkah pernyataan
beliau ini benarkah negara-negara maju
mengeksploitasi
sumber daya alam sebar-bar di negara
kita? Apakah negara-negara maju itu
tidak peduli dengan ekosistem alam
sampai pada akhirnya yang dipikirkan
hanya mengeksploitasi semua sumber daya,
tambang, kayu, lahan hijau, semuanya
dieksploitasi. Apakah benar demikian?
Nah, nanti kita bakal bahas juga ya.
Nah, karena jujur aja nih yang ngomong
Pak Bahlil. Gua sih sebagai rakyat tidak
meragukan beliau, tapi yang meragukan
beliau itu adalah presiden kita, Pak
Prabowo. Mau buktinya? Silakan lihat
video ini.
Aneh ini. Kenapa Pak Jokowi milih
Pak Bahlil, Menteri Investasi?
Nah, yang meragukan beliau itu Pak
Prabowo. Jadi, kalau ada pernyataan
beliau yang berapi-api, yang tegas, ya
patut kita kaji. Benar enggak nih ya
ucapannya katanya negara maju
mengeksploitasi sumber daya alam. nanti
kita bahas. Nah, terus selain Pak Bahlil
ya, ramai lagi nih video dari ee seorang
tokoh agama gitu ya, namanya Gus Ulil
yang mengeluarkan pernyataan seperti
ini.
Tunjukkan satu aja di mana wilayah
pertambangan di Indonesia ini yang mampu
mengembalikan ke eksekosistem awalnya.
Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan
baliknya adalah kenapa Anda begitu
peduli untuk mengembalikan ee ekosistem
awal?
Kenapa Anda begitu peduli untuk
mengembalikan ekosistem awal? Gila
enggak tuh? Kalian pasti pernah lihatlah
videonya ya, karena memang sudah mulai
viral lagi bersiliweran. Nah, di
pembahasan kali ini gua bakal mengajak
kalian untuk sama-sama mencari tahu
apakah benar pernyataan-pernyataan dari
pemerintah kita yang kontroversial ini
relate dengan kehidupan di negara-negara
maju di negara-negara lain atau apakah
Indonesia sekarang sedang terjebak di
dalam pembodohan? Ya, kita bahas secara
lengkap. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry [musik]
[musik]
Geng. Geng. Oke, untuk pembahasan
pertama kita akan bahas dulu statement
dari Pak Bahliladelia terkait banjir di
Sumatera dan statement pernyataan dari
Gus Ulil soal ekosistem awal supaya
nanti di belakang kita bisa mengambil
contoh dari negara-negara lain. Benarkah
sesuai dengan apa yang dikatakan oleh
orang-orang ini?
Jadi, pasca beredarnya banyak kayu-kayu
yang ikut hanyut nih, Geng. ya, terbawa
arus banjir. Banyak pihak khususnya
pihak WALHI yang menduga kalau banjir
yang terjadi di Sumatera saat ini bukan
cuma faktor alam atau takdir semata,
tapi ini adalah andil keserakahan
manusia yang terus menebang pohon
sehingga semakin berkurangnya resapan
air yang sebenarnya sangat membantu
untuk menampung air hujan dalam jumlah
besar supaya tidak menggenang di
permukaan tanah. Di video sebelumnya gua
juga udah sempat tuh mention beberapa
perusahaan yang menurut WALHI menjadi
dalang atas semakin tergerusnya hutan di
daerah Sumatera ya kan. Nah, dan ya
perusahaan-perusahaan itu katanya sih
sekarang udah mulai dipanggil oleh
pemerintah untuk mendapatkan sanksi.
Tapi kita gak tahu ya sanksinya seperti
apa. Dan kalau perusahaan tersebut yang
melakukan ya kan otomatis ya mereka ini
kan bekerja sesuai dengan izin dari
pemerintah. Enggak mungkin dong
perusahaannya dianggap legal berizin
tapi pemerintah enggak terlibat. Ya
jelas pemerintahnya terlibat. Dan siapa
lagi yang disorot kalau bukan
Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral atau ESDM? Ya, pasti dari pihak
badan kepemerintahan inilah yang
memberikan izin itu. Nah, dikarenakan
melalui kementerian tersebut perusahaan
bisa mendapatkan izin untuk
mengeksploitasi sumber daya alam di
negara Indonesia ini dan melakukan
aktivitas penambangan sesuka hati sesuai
dengan izin yang ada. Dan terkadang juga
ya kalau enggak ada izin pun atau
izinnya cuma sebatas A bisa dikembangkan
secara curang atau ilegal oleh mereka
sampai ke Z. izinnya cuma misalkan 3
hektar, mereka menambang sampai 5 hektar
dan itu sangat lumrah terjadi di negara
kita. Kecurangan-kecurangan yang tidak
terlihatlah gitu. Terus, Geng, setelah
kecaman dari publik terkait adanya
dugaan aktivitas penambangan pohon di
Sumatera, Pak Bahlil kemudian buka suara
tuh, Geng, saat memberikan sambutan
dalam acara talk show Aksi Nyata untuk
Bumi Lestari di DPP Partai Golkar yang
ada di Palmerah, Jakarta Barat pada hari
Jumat tanggal 28 November 2025. Di dalam
kesempatan itu, Pak Bahlil mengakui
kesalahannya di masa lalu. Karena
usahanya dia di sektor pertambangan
sering bersinggungan dengan aktivitas
penebangan pohon, katanya. Dan dia juga
menceritakan ketika dia menjadi seorang
pengusaha yang bersinggungan dengan
tambang yang mana tambang tersebut pasti
melakukan penebangan pohon di area
hutan. Dan dia juga mengatakan karena
pengalaman tersebut, dampak yang terjadi
sekarang adalah bencana ya akibat dari
pertambangan dan perkebunan yang tidak
ditata dan dikelola dengan baik.
Bahlilalia mengakui dosa masa lalunya
karena usahanya di sektor pertambangan
kerap bersinggungan dengan aktivitas
penebangan pohon. Hal tersebut
disampaikan Bahlil memberikan sambutan
dalam acara talk show Aksi Nyata untuk
Bumi Lestari di DPP Partai Golkar.
Dampaknya itu ya enggak cuma terjadi
pada ekosistem aja, tapi sampai ke
dampak sosial. Pada saat banjir dan
longsor, masyarakat jadi tidak bisa
berbuat apa-apa. Apalagi jika akses ke
daerah mereka terputus dan bantuan tidak
bisa disalurkan, komunikasi enggak ada,
dan ya semua masyarakat jadi menderita.
Nah, pernyataan tersebut dianggap oleh
publik sebagai pengakuan atas dosa yang
pernah dilakukan oleh si Pak Bahlil ini.
Nah, ini yang ngomong publik ya,
netizen, bukan gua. Namun, geng, beliau
juga mengaku nih setelah ditunjuk oleh
Pak Prabowo sebagai Menteri ISDM, dia
menata ulang secara menyeluruh proses
penambangan agar lebih ramah terhadap
lingkungan, katanya yang salah satunya
adalah melalui analisis mengenai ee
dampak lingkungan hidup atau AMDAL. Nah,
kalau tidak dikelola dengan baik menurut
dia akan sangat berbahaya sekali bagi
masyarakat.
Aduh, sudah terjadi bahayanya. Dan Pak
Bahlil ini melanjutkan ketika dia
meninjau bekas area pertambangan dari
udara menggunakan helikopter ya, kondisi
terbaik adalah ketika reklamasi dan
reboisasi sudah dilakukan katanya. Kalau
belum dilakukan maka ee kerusakannya
bisa permanen. Dan oleh karena itu,
Kementerian ESDM melakukan penataan
dengan meminta kepada seluruh izin-izin
pertambangan agar menjamin biaya
reklamasi terlebih dahulu. Jangan sampai
perusahaan cuma menambang aja, namun
meninggalkan hutan dengan kondisi yang
sudah gundul atau rusak. Wah, bijak juga
nih. Tapi kalau kita lihat dari
pernyataan Pak Bahlil ini enggak sesuai
bertentangan dengan ee ucapan dari Gus
Ulil ya. Kalau Gus Ulil kan ngomong
kenapa Anda terlalu peduli dengan
perbaikan ekosistem awal? Nah, sementara
Pak Bahlil mengatakan kondisi awal dari
daerah pertambangan harus diperbaiki
lagi. Tidak boleh dibiarkan gundul atau
rusak. Hm. Huh. Pemerintah
sesama mereka aja saling apa ya
kontradiktif gitu. Dan meskipun
Kementerian ESDM menekankan harus ada
AMDAL bagi perusahaan yang ingin
melakukan penambangan, tetap aja tambang
masih dianggap oleh sebagian besar pihak
tidak pernah mensejahterakan rakyat.
Nah, jika dipertimbangkan berdasarkan
jangka pendek dan jangka panjang,
pertambangan hanya akan menguntungkan
untuk jangka pendek aja. Tapi yang jadi
soal adalah sumber daya alam yang
dihasilkan dengan cara ditambang itu
bakal habis dan jika habis pendapatan
negara dari sektor tersebut juga akan
terhenti sementara kerusakannya bakal
permanen dan sulit untuk dipulihkan
kembali. [musik] Maka dari itu, mau
dibuat seramah lingkungan apapun
faktanya pertambangan bakal selalu
merusak lingkungan, Geng. Dan itulah
yang terus ditentang oleh masyarakat,
terkhususnya masyarakat yang terdampak
dan aktivis lingkungan. Dan pada saat
pernyataan Pak Bahlil tadi viral, muncul
lagi nih pernyataan si Pak Bahlil ini
sekitar bulan Juni kemarin. Nah, pada
saat dia berbicara di Jakarta
Geopolitical Forum 9 yang juga viral
banget pada waktu itu. Nah, ini
pernyataan yang kontradiktif ya dengan
pernyataan dia yang tadi gua sebutkan.
Jadi di dalam pernyataannya dia, Pak
Bahlil ini menyindir dengan keras
pihak-pihak yang menentang pengelolaan
sumber daya di Indonesia. Alias dia itu
ee apa ya menyindir orang-orang yang
enggak suka dengan pertambangan lah.
Nah, Pakil ini memberikan contoh
negara-negara maju saat membangun
industri tambangnya pada tahun 1940-an
sampai 1960-an. Dia bilang. Dan Pak
Bahlil ini mengatakan negara maju
tersebut punya banyak hutan, tapi mereka
juga punya banyak tambang. Dan memang
pada saat itu negara mereka belum maju
seperti sekarang. Menurut beliau,
eksploitasi sumber daya alam yang
dilakukan oleh negara-negara maju di
tahun tersebut menyebabkan kerusakan
lingkungan yang justru lebih parah
dibandingkan yang terjadi di Indonesia.
Ini gimana sih membandingkan keburukan
dengan keburukan kayak sih? Nah, terus
dia bilang saat itu enggak ada tuh
masyarakat di negara maju tersebut yang
protes atau negara mendapatkan tekanan
yang serius dari masyarakat global. Nah,
yang menjadi pertanyaannya negara maju
yang dimaksud itu yang mana? Amerika
kah, yang mana nih? Eropa kah, di mana
gitu. Tapi beliau enggak nyebutin. Yang
jelas beliau bilang negara maju, ya kan?
Nah, pernyataan beliau ini menjadi
bentuk pembelaan dia terhadap kebijakan
hilirisasi sumber daya alam yang saat
ini jadi fokus pemerintah. Ya, dengan
kata lain itu menjadi tameng dia untuk
membenarkan pertambangan di titik-titik
di seluruh negara Indonesia ini termasuk
yang ada di Raja Ampat. Jadi menurut dia
enggak apa-apa ngerusakin hutan, enggak
apa-apa merusak pemandangan kekayaan
alam yang udah indah, yang penting hasil
tambangnya bisa diambil. Gunanya apa?
Supaya negara kita bisa maju seperti
negara-negara maju yang lain yang pernah
melakukan pertambangan dari tahun 1940
sampai 1960. Nah, itulah statement-nya
dia. Tapi menurut gua statementnya aneh
karena dia menyebutkan negara maju tapi
spesifiknya enggak ada. Terus tahunnya
juga udah lama banget 1940 1960. Kalau
kita berkaca dari beberapa negara nih,
salah satu contohnya yang di Eropa ya,
negara di tahun-tahun itu ya, di
tahun-tahun 1940 1960 itu biasanya
mereka sedang apa ya, berevolusi gitu
ya, sedang berevolusi dan banyak
kegagalan yang terjadi. Salah satu
contohnya adalah di Eropa itu pernah
menerapkan yang namanya energi
menggunakan batu bara. Ketika itu ya di
tahun tersebut itu di Eropa jadi gelap
gulita akibat apa? akibat polusi yang
disebabkan oleh batu bara. Artinya
mereka memang pernah menggunakan batu
bara tersebut tapi tidak berhasil.
Maksudnya tuh tidak berhasil dalam
artian merusak lingkungan dan mereka
menjadikan itu pelajaran dan tidak lagi
menggunakan bahan itu sebagai sumber
energi lagi. Nah, beda sama negara kita
ngelihat negara maju kayak gitu. Oh,
mereka pernah menggunakan batu bara
tahun 1940, 1960 misalkan, ya udah kita
juga pakai deh sekarang. Padahal itu
negara pakai bahan tersebut nyesel
karena merusak lingkungan, polusi. Sama
negara kita malah dicontoh. Bukannya
belajar dari kesalahan orang lain malah
niru. Niru hal tersebut. Akhirnya
sekarang kita lihat nih ketika
penggunaan batu bara untuk sumber daya
pembangkit listrik di negara kita. Lihat
polusinya kayak gimana. Kalau kalian mau
tahu, cari deh di Google atau di YouTube
bagaimana daerah-daerah yang ada
pembangkit listrik, tenaga batuanya itu
berakhir seperti apa? Berakhirnya polusi
parah. Nah, sama negara kita malah
sekarang dipakai.
Sudah banyak keluarga kami yang
menderita penyakit kulit terdampak oleh
debu batuara.
Hampir setengah tahun saya batuk.
Nah, ini sama nih dengan pernyataan dari
Pak Bahlil yang mencontohkan
negara-negara maju zaman dulu
mengeksploitasi sumber daya alam. Itu
zaman dulu, Pak, perkembangan ilmu belum
sebagus sekarang. Dan gua yakin
negara-negara maju yang dimaksud oleh
Pak Balil kalau memang ada nih saat ini
mereka sudah menyesal. Bahkan
penyesalannya bukan saat ini tapi udah
berpuluh-puluh tahun silam mereka
menyesal mengeksploitasi sumber daya
alam mereka. Makanya sekarang mereka
lebih memperhatikan negara mereka jauh
lebih baik lagi. Ekosistemnya
diperbaiki. Apa yang mereka lakukan di
masa lalu, sebuah kesalahan tidak mereka
lakukan lagi. Ya, enggak ada tahu negara
maju dan bahagia itu yang benar-benar
mengeksploitasi sumber daya alamnya
sebar-bar kita. Gua contohkan kayak Arab
misalnya, mana ada mereka
mengeksploitasi sumber daya alam mereka
sebar-bar kita. Mereka sumber daya
alamnya satu doang nih ya. Minyak doang
gitu. minyak bumi tapi bisa sejahtera
sebegitu gilanya. Nah, kita nih di
negara kita yang dieksploitasi apa aja?
Kayu, emas, ya kan? Nikel, biji besi,
minyak bumi, dan segala rempah-rempah.
Tapi rakyatnya lihat ada tuh sesejahtera
masyarakat di Arab. Kagak miskinnya
miskin banget. Bahkan udah ada yang
merobek perut karena kelaparan. Nah,
terus Pak Bahlilnya ngomong tuh di depan
mimbar untuk kemajuan rakyat. Karena
kita melihat contoh negara maju maneh
negara yang mana yang dicontoh ini
benar-benar apa ya gila banget ya kalau
dipikir-pikir gitu dan ketika melakukan
pernyataan tersebut Pak Bahlil juga
mengakui memang ada tekanan dan kritik
yang sebagian besar datang dari kelompok
asing katanya atau lembaga suadaya
masyarakat atau LSM. Nah, cuma dia
menilai ini adalah sebatas serangan
geopolitik untuk menggagalkan
kemandirian industri nasional. Dan
selain itu dia juga menegaskan kalau
hilirisasi termasuk dengan tambang nikel
hingga pembangunan smelter dan industri
baterai itu bukan cuma strategi ekonomi,
tapi juga langkah untuk mempertahankan
kedaulatan nasional. Nah, menurut dia ya
hal ini ditakuti oleh negara lain
katanya. Nah, jadinya banyak tekanan
dari luar katanya yang mengganggu negara
atau pemerintah mencoba mengeksploitasi
sumber daya alam. Nah, jadi dia
menganggap protes masyarakat terhadap
perusakan alam akibat tambang, akibat
eksploitasi, sumber daya gitu ya, itu
adalah bisikan asing menurut dia, bukan
karena dorongan keinginan masyarakat
sendiri. Jadi ini menurut gua aneh
banget gitu. Padahal ini adalah suara
masyarakat yang memang tidak mau alam
dirusak, ekosistem dirusak, tapi malah
dituduh, wah ini jangan-jangan asing nih
pihak asing yang iri sama Indonesia
karena Indonesia bakal maju dengan
pertambangannya. Aduh. Jadi benar-benar
waduh gitu ya. Gak habis pikir cara
berpikir pemerintah kita. Nah, terus
geng ramai lagi nih geng video dari Gus
Ulil juga yang waktu itu sempat ramai
saat berdebat dengan perwakilan dari
Greenpace Indonesia di dalam sebuah
acara yang membahas mengenai dampak
pertambangan nikel di Indonesia. Jadi
sebagai konteksnya nih ya Gusulil ini
kan dari pihak PBNU. Nah, di saat itu
PBNU dan organisasi masyarakat keagamaan
lainnya diberikan izin oleh pemerintah
untuk mengelola tambang berdasarkan
ketentuan peraturan pemerintah atau PP
nomor 25 tahun 2024 yang mengubah PP
nomor 96 tahun 2021. Dan melalui
perubahan tersebut, Geng, badan usaha
milik organisasi masyarakat alias ormas
keagamaan mendapatkan izin untuk
mengelola wilayah izin usaha
pertambangan khusus atau WIUP.
Nah, di dalam debat tersebut ya Gus Ulil
ini menyebutkan kelompok pegiat
lingkungan seperti Greenpace dan Walhi
adalah Wahabi lingkungan.
Aduh, ada-ada aja
Bang. Satu pohon misalnya dalam Satarwi
tapi eskavator bisa menebang ribuan
hektar dalam satuan itu enggak head to
head Gus. Ini yang saya sebut dengan
Wahabisme itu Wahabisme itu artinya
gini, Rossi. H
orang Wahabi itu begitu
begitu kepenginnya menjaga kemurnian
teks.
Nah, juru kampanye hutan Green Peace
Indonesia yang bernama Kibal Damanik itu
awalnya menantang Gus Ulil agar beliau
menunjukkan satu saja bekas pertamangan
di Indonesia yang bisa direklamasi
sehingga ekosistemnya bisa kembali
seperti semula alias tuh dikembali
hijaukan lah gitu ya seperti awal. Nah,
tapi ini orang bukannya menjawab
pertanyaan tersebut, Gus Ulil ini malah
menanyakan topik lain yang kalimatnya
sangat-sangat bikin orang-orang
garut-garut kepala lah gitu ya. Dia
bilang gini, "Peranya baliknya adalah
kenapa Anda begitu peduli untuk
mengembalikan ekosistem awal?" Buset, ya
pedulilah Bapak.
Tunjukkan satu aja di mana wilayah
pertambangan di Indonesia ini yang mampu
mengembalikan ke ekosistem awalnya.
Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan
baliknya adalah kenapa Anda begitu
peduli untuk mengembalikan ee ekosistem
awal?
Nah, Gusul ini kemudian melanjutkan
dengan sebuah analogi mengenai
pertambahan penduduk yang ikut merusak
ekosistem kata dia. Jadi, dia ini
bercerita ketika dia kecil, ketika masih
dia di kampung, dia bisa menikmati
ekosistem yang baik. Maksudnya ekosistem
itu dia bisa menikmati ee suasana
kampung dia yang baik, penuh dengan
pohon, penuh dengan sawah katanya. Nah,
terus dia tambahkan lagi. Dia bilang
sekarang saat dia dewasa karena
pertambahan penduduk ekosistemnya alias
hal-hal yang indah tadi sudah hilang ya.
Mungkin kayak sawah sudah jadi perumahan
ya, pohon-pohon sudah mulai ditebang,
sudah menjadi pemukiman. Nah, dia bilang
lagi, "Anaknya udah enggak bisa
menikmati apa yang dia nikmati di masa
kecil." Nah, maksud pernyataan dia
tersebut adalah dia bilang ekosistem itu
akan berubah dengan sendirinya. Kalaupun
enggak dijadiin tambang, suatu hari akan
jadi pemukiman. Nah, jadi ekosistem itu
tidak akan pernah bertahan seperti yang
awal. Nah, statement tersebut menurut
gua agak konyol ya. Agak konyol kenapa
dia membandingkan membabat hutan dengan
cara barbar karena pertambangan dengan
pertambahan penduduk yang pertumbuhannya
itu pelan-pelan. Bahkan pernyataan dari
Gus Ulil ini dibantah tuh oleh Iqbal
Damanik yang menyebutkan perbandingan
itu tidak sepadan atau tidak setara.
Masa ia ekskavator dan manusia disamain.
Jadi pembebatan hutan dengan ekskavator
demi tambang dengan pertumbuhan penduduk
itu disamain gitu. Satu orang mungkin
cuma bisa menebang satu pohon per hari
ya kan kalau untuk manusia. Sementara
ekskavator bisa menumbangkan ribuan
hektar sekaligus. Nah, itulah yang
disebut dengan perusakan lingkungan.
Mendapatkan respon tersebut, Gus Ulil
ini kemudian mengeluarkan pernyataan
kontroversial lain, khususnya mengenai
kelompok pegiat lingkungan yang
dianggapnya sebagai Wahabi. Nah, Gus
Ulil ini melihat kalau teman-teman
aktivis lebih puritan, lebih ekstrem
seakan-akan menolak total pertambangan.
Padahal industri ekstraktif memang punya
resiko dan bahaya. Nah, itu dia, Geng,
statement dari Pak Bahlil dan Gus Ulil,
ya, terkait bagaimana kondisi alam di
Indonesia dan penilaian dari perspektif
mereka terkait apa yang terjadi di
negara kita. Nah, sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembuktian atas apa yang
dikatakan oleh Pak Bahlil. Benarkah
negara-negara maju melakukan eksploitasi
sumber daya di negara mereka sebelum
mereka menjadi negara maju? Nah,
walaupun Pak Bahlil tidak memberikan
contohnya negara mana secara spesifik
ya, coba deh kita cari sendiri aja
negara maju yang dimaksud ya. Semoga
benar negara ini. Kita bahas.
Oke, kita awali dulu dengan Amerika
Serikat nih. Jadi, geng, hasil tambang
di negara maju ini adalah batu bara,
tembaga, timah, uranium, molipdenum,
nikel, fosfat, perak, emas sampai dengan
besi. Nah, Amerika memiliki sejarah
panjang dalam bidang pertambangan yang
sudah dimulai dari tahun 1800-an.
Meskipun mengalami proses yang naik
turun, pertambangan di negara tersebut
pada tahun 2020 tercatat sudah membaik
dalam berbagai aspek. Industri tambang
Amerika Serikat menjadi salah satu yang
terbaik di dunia berkat dukungan dari
teknologi industri yang paling maju. Dan
selain itu, Amerika juga menyediakan
beberapa opsi penggabungan teknologi
terbaik untuk memberikan opsi
penambangan yang aman dan berkelanjutan.
Gabungan dari semua sumber daya tambang
di Amerika sudah menghasilkan industri
pertambangan Amerika Serikat yang
bernilai sekitar 82,3 miliar dolar pada
tahun 2020. Industri tersebut ya tidak
hanya memperkuat perekonomian Amerika
Serikat aja, tapi juga menyediakan
lowongan pekerjaan dengan gaji yang
tinggi. Di tahun 2017 ada lebih dari
612.000 orang yang dipekerjakan di
industri tambang Amerika Serikat. Nah,
jadi kurang lebih Amerika seperti itulah
kondisinya dan mereka sudah
mengeksploitasi e sumber daya alam
mereka itu dari tahun 1800-an. Nah,
selanjutnya ada negara Inggris. Di tahun
2022 ya, Inggris baru menyetujui tambang
batu bara pertama mereka dalam beberapa
dekade untuk menghasilkan bahan bakar.
Pertambangan tersebut bakal digunakan
dalam pembuatan baja dan diyakini bisa
menciptakan 500 pekerjaan baru. Nah, The
Wood House Colery akan dikembangkan oleh
West Cambria Mining di barat laut
Inggris. Perusahaan tersebut akan
mengekstrak batu bara yang biasa
digunakan dalam industri baja
dibandingkan untuk pembangkit listrik.
Nah, sebenarnya proyek tersebut sudah
diresmikan dari tahun 2014. Namun
kecaman dari penasehat iklim independen
pemerintah Inggris serta aktivis dan
organisasi iklim membuat proyek ini
tidak berjalan mulus. Di sisi lain,
Inggris sebenarnya udah mengesahkan
undang-undang yang mewajibkan untuk
membawa semua emisi gas rumah kaca ke
nol bersih pada tahun 2050. Nah, jadi
mereka tuh udah enggak mau lagi ada yang
namanya polusi. Sebenarnya emisi gas
rumah kaca dari pembakaran batu bara itu
adalah satu-satunya penyumbang terbesar
perubahan iklim. Tambang batu bara itu
sendiri berukuran sekitar 23 hektar.
Dibangun dengan biaya yang diperkirakan
pada tahun 2019 sebesar 165 juta pound
dan diusulkan untuk dioperasikan selama
50 tahun. Nah, di dalam catatan Inggris
ini pernah mempekerjakan sebanyak 1,2
juta orang di hampir 3.000 tambang
batubara. Tambang terakhir mereka itu
ditutup pada tahun 2015. Nah, itu
Inggris yang mengeksploitasi sumber daya
alam di negara mereka. Terus selanjutnya
ada negara Australia, negara yang
menjadi produsen atau penghasil biji
besi terbesar di dunia tahun 2020.
Jumlah biji besi yang dihasilkan oleh
negara tersebut bisa mencapai 900 juta
ton atau sekitar 37,5%
dari total produksi di dunia di tahun
2020. Australia juga menjadi negara
dengan cadangan biji besi mentah
terbesar di dunia yang diperkirakan oleh
US Geological Survey sekitar 50 miliar
ton. Nah, itu Australia. Terus ada lagi
negara lain, Jerman. Negara tersebut
dulunya memiliki industri pertambangan
yang signifikan terutama untuk batuara
dan biji besi yang menjadi hal yang
paling fundamental bagi industrialisasi
di Rembah R. Meskipun pertamangan batu
bara sudah berakhir pada tahun 2018 di
negara mereka, tapi Jerman saat ini
memiliki banyak bekas tambang yang
diubah menjadi tujuan wisata dan proyek
revitalisasi lingkungan seperti mengubah
area bekas tambang menjadi danau untuk
rekreasi dan ekowisata. tuh. Jadi enggak
ditinggalin kayak gitu aja. Nah, tapi
geng di era modern seperti ini ya,
negara-negara maju yang gua sebutkan
tadi itu sudah memikirkan dampak
lingkungan yang bakal terjadi kalau
mereka masih merusak sumber daya alam di
negara mereka. Oleh karena itu, mereka
mulai memanfaatkan negara lain yang jauh
lebih kaya sumber daya alamnya untuk
dieksploitasi.
Jangan salah, memang seperti kata Pak
Bahlil tadi ya, negara-negara maju ini
pernah mengeksploitasi sumber daya alam
mereka. Tapi sekarang mereka justru
tidak mau melakukan itu lagi. Kalaupun
ada, tidak semasif dulu, tidak sebesar
dulu, mereka sekarang justru mencari
sumber daya alam dari negara-negara
lain. Contohnya aja seperti yang terjadi
di Kongo yang mana masih terjadi sebuah
perbudakan. Kekayaan alam mereka yaitu
kobalt itu dikeruk untuk menghasilkan
baterai-baterai handphone yang sekarang
kita pakai nih. Nah, itu semua adalah
kekayaan di tanah mereka, tapi bukan
mereka yang menikmati. Yang menikmati
siapa ya? orang-orang dari Eropa yang
mengeksploitasi mereka dengan upah yang
seadanya. Ditambah lagi karena sekarang
sedang ngetren mobil listrik, jadi
semakin gencar juga penambangan di Kongo
itu. Negara maju seperti Eropa di zaman
dulu yang melakukan eksploitasi di
negara jajahan mereka jadi tidak 100%
hanya mengandalkan hasil tambang dari
negara mereka sendiri. Kayak kita nih
ya, nambang dikeruk semua hasil yang ada
di perut bumi Indonesia. Akhirnya apa?
Ketika musibah, yang mengalami musibah
adalah rakyat Indonesia. Sementara di
Eropa mereka udah enggak lagi mengeruk
hasil perut bumi mereka, tapi mereka
mengeruk hasil perut bumi dari negara
lain. Dan apabila negara-negara maju ini
masih melakukan eksploitasi atau
mengeruk sumber daya di negara mereka
sendiri, pastinya pengawasannya super
ketat. Enggak yang kayak asal-asalan,
enggak yang kayak asal tebang pohon
tiba-tiba banjir, tiba-tiba makan korban
banyak, tapi pas dimintai bantuan
planga-plongo. Nah, itulah yang terjadi.
Dan gilanya di negara kita tidak hanya
pertambangan resmi aja yang barbar.
Banyak juga pertambangan-pertambangan
liar yang sering membuat pemerintah
kecolongan di berbagai daerah. Namun
Geng, ada juga loh, Geng, negara yang
pernah punya tambang, tapi negara
tersebut nasibnya tidak seperti
negara-negara barat yang sudah gua
sebutkan tadi, ya. Negara tersebut
adalah Nauru. Nah, ini Nauru walaupun
dia punya tambang sendiri di negaranya,
tapi nasibnya cukup malang. Nauru ini
adalah negara pulau kecil yang terletak
di bagian barat Pasifik, tidak jauh dari
garis katulistiwa dan sekitar 4.000 km
dari timur laut Australia yang kalau
ditarik garis lurus dari Jakarta
jaraknya tuh kira-kira 6.700 00 km
dengan luas hanya 21 km² dan kurang
lebih hanya seluas kota Mojokerto dan
populasinya sekitar 12.000 jiwa aja.
Nauru ini menjadi salah satu negara
berdaulat terkecil di dunia baik secara
wilayah maupun jumlah penduduknya. Nah,
tapi kecil ukurannya tidak mencerminkan
ee besar dan kompleksnya krisis yang
menimpa negara tersebut. Dulunya Nauru
ini memiliki ekosistem yang kaya akan
kehidupan pesisir dan hutan dataran
rendah yang mendukung kehidupan untuk
bercocok tanam dan memancing bagi
masyarakat lokal selama berabad-abad.
Burung-burung laut menjadi asal mula
terciptanya fosfat diuru dan selama
jutaan tahun mereka bersarang di negara
tersebut dan dalam koloni atau kelompok
burung tersebut mereka menghasilkan
guano, yaitu kotoran burung laut dalam
jumlah besar. Guano ini kaya akan fosfor
dan nitrogen yang terakumulasi secara
bertahap hingga membentuk lapisan
setebal beberapa meter di negara itu. Di
bawah tekanan dan waktu, endapan guano
ini mengalami mineralisasi dan berubah
menjadi batu fosfat sehingga menjadikan
Nauru sebagai salah satu sumber fosfat
paling murni dan bernilai tinggi di
dunia. Tuh.
Nah, fosfat yang terbentuk dari endapan
biologis ini dikenal sebagai salah satu
yang paling murni di dunia dengan
kandungan mineral tinggi yang sangat
dibutuhkan dalam industri pupuk
pertanian. Deposit ini ditemukan secara
tidak sengaja oleh Albert Ellis dari
Pacific Island Company di awal abad
ke-20 ketika sebuah batu yang dijadikan
penahan pintu di kantor perusahaan
Sydney dianalisis dan ternyata
mengandung kadar fosfat yang luar biasa
tinggi. Nah, jadi ditemukan secara
enggak sengaja gara-gara ada ee ganjel
pintu gitu, Geng. Penemuan itulah yang
mengubah nasib Nauru selamanya. Mulai
dari awal tahun 1990-an, negara-negara
kolonial seperti Jerman, Inggris,
Australia rebutan untuk datang ke Nauru
menambang fosfat di Nauru. Setelah
perang dunia pertama, Inggris,
Australia, dan Selandia Baru itu
membentuk British fosfat komisioner atau
BPC yang mengelola eksploitasi fosfat
diuru secara masif dan sistematis dengan
harga murah untuk mensubsidi pertanian
mereka sendiri. Jadi digali tuh negara
orang, digali tuh Nauru, dikasih budget
dikit nih sama Inggris, Australia dan
Selandia baru tadi. Terus hasil fosfat
itu dibawa ke negara mereka, dikeruk
dari negara orang untuk keuntungan
mereka sendiri. Dan pada masa tersebut
hampir seluruh keuntungan hasil tambang
itu enggak pernah kembali ke masyarakat
Nauru, melainkan ya semuanya diserahkan
kepada pendapatan negara Nauru.
Masyarakatnya dapat enggak? Semuanya
berubah, Geng. Setelah kemerdekaan Nauru
pada tahun 1968, pemerintah baru segera
mengambil alih industri fosfat dan
mengalami ledakan ekonomi secara
besar-besaran. Jadi di era 1970-an, PDB
perkapitana bahkan melampaui
negara-negara industri maju dan warganya
menikmati layanan sosial gratis,
pendidikan gratis, ya perumahan hingga
perjalanan ke luar negeri mereka free di
saat itu. Karena fosfatnya tadi tuh yang
dikelola sama Inggris, Australia, dan
Selandia Baru udah ditarik semua sama
pemerintah. Negara ini bahkan bisa
berinvestasi real estate mewah seperti
gedung pencakar langit yang ada di
Melbourne. Jadi mereka bangun gedung
pencakar langit yang bernama Nauru House
dan membeli kapal pesiar pribadi negara.
Tapi kita semua tahu ya, Geng. Nauru
jadi ketergantungan pada komoditas
fosfat ini. Karena penghasilan yang
terbesarnya di negara tersebut cuma itu.
Nah, di tengah kejayaan ekonomi negara
ini gara-gara fosfat tadi, eksploitasi
fosfat terus dilakukan tanpa
mempertimbangkan dampak lingkungan
negara mereka. Sekitar 80% dari daratan
kecil negara Nauru ini ditambang habis.
Udah negaranya kecir digali lagi.
Hasilnya bagian tengah pulau yang
dikenal sebagai topside berubah menjadi
landscape yang mirip permukaan bulan
yang gersang penuh cars hingga setinggi
1 m. Nah, cars ini adalah kondisi alam
yang terbentuk akibat e pelarutan batuan
gitu loh, Geng. Dan hal tersebut membuat
e negara ini ya bagian yang dikeruk itu
tidak bisa lagi ada tumbuhan yang hidup
di sana dan terus berdampak pada sistem
perasapan air tanah, peningkatan erosi
dan punahnya seluruh flora dan fauna
lokal gara-gara tambang tadi. Dan saat
masyarakat Nauru sudah tidak bisa lagi
bertani ya udah enggak bisa lagi ee apa
berternak gitu, pemerintah terpaksa
bergantung pada makanan impor. Jadi
enggak ada lagi petani, enggak ada lagi
hasil alam. Karena semuanya udah
dijadiin tambang, akhirnya impor
makanan. Yang bikin ironisnya adalah
makanan yang tersedia di pasar adalah
makanan olahan rendah gizi, tinggi gula,
tinggi lemak. Karena maaf ya,
makanan-makanan sampah lah ibaratnya
dari luar negeri dijual ke mereka. Dan
akibatnya negara tersebut mencatat
tingkat obesitas lebih dari 70% pada
orang dewasa dan hampir seluruh
populasinya menderita diabetes tipe 2.
Kacau enggak tuh? Nah, dari sini kita
bisa lihat ya, Geng. bahwa kerusakan
lingkungan tidak hanya berdampak pada
lingkungan aja, tapi langsung pada
kesehatan manusia. Menurut data yang
diambil oleh UNICEF, sekitar 24% anak di
bawah 5 tahun diuru mengalami stunting.
Ya, apa semua tanahnya dijadiin untuk
tambang, akhirnya ekosistem enggak
berjalan, sawah enggak ada, hasil bumi
enggak ada. Boro-boro bisa makan yang
sehat, akhirnya beli dari luar negeri
makanannya. Ketika mereka menyadari
bahwa sebagian besar kerusakan terjadi
selama masa kolonial di tahun 1989,
Nauru akhirnya menggugat Australia di
Mahkamah Internasional atas tanggung
jawab lingkungan. Gugatan ini tercatat
sebagai kasus certain postpart lens
inuru yang menjadi ee keputusan penting
dalam hukum lingkungan internasional.
Meskipun akhirnya diselesaikan di luar
pengadilan, Australia setuju tuh
membayar kompensasi lebih dari 100 juta
dolar Australia selama 2 dekade ganti
rugi. Dan sebagian dana tersebut
digunakan untuk membuat Nauru
Rehabilitation Corporation atau NCR pada
tahun 1999 yang tugasnya melakukan
pemulihan lahan-lahan yang tadinya
menjadi ee tempat tambang. Nah, jadi
dampaknya luar biasa. Bahkan Australia
dituntut sama Nauru dan uang dari
Australia dari hasil tuntutan ya
dijadikan dana untuk memperbaiki
ekosistem awal. Jadi kalau ditanya
mengapa Anda terlalu peduli dengan
pengembalian ekosistem awal? Ya ini
jawabannya Nauru udah ada contoh. Udah
ada contoh di Nauru ya. Kalau yang
ngomong umurnya udah tua ya mungkin
tidak terlalu berdampak karena kita
enggak tahu umurnya sampai kapan ya.
Tapi yang berdampakan pada anak cucunya,
pada kita-kita yang masih muda ini gitu
kan. Kalau beliau kan bentar lagi udah
kita enggak tahu umurnya kapan. Nah,
makanya jawaban dari mengapa Anda
terlalu peduli dengan pengembalian
ekosistem awal adalah untuk masa depan
generasi bangsa yang selanjutnya. Jangan
sampai mereka justru ya diwarisi dengan
problem lingkungan seperti Dinau. Terus
geng sedihnya ya kenyataannya ya
kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
pemulihan ekosistem di Nauru tidak
semudah itu. Jadi pemulihan ekosistem
tidak bisa diukur dengan uang. udah 100
juta dolar Australia selama dua dekade
diberikan oleh Australia kepada Nauru,
tapi gak bisa memperbaiki ekosistem awal
tadi. Nah, reklamasi lahan di top side
yang ada di Nauru itu memerlukan
infrastruktur besar, teknologi khusus,
dan biaya yang sangat tinggi. Dan sampai
saat ini kemajuan perbaikan di Nauru
benar-benar enggak terlihat lambat
banget. Sementara itu, sebagian besar
penduduk mereka saat ini tinggal di
wilayah pesisir yang sempit. Karena kan
di tengahnya tuh udah digali. Mereka tuh
makin minggir, minggir, minggir. Yang
mana di pesisir juga semakin tergerus
abasi dan semakin mencekam karena
ancaman naiknya permukaan air laut
akibat krisis iklim. Yang perlu kalian
ketahui suatu hari nanti entah kapan itu
Nauru akan hilang. Jadi negara ini bakal
hilang. Tidak ada lagi negara yang
namanya Nauru. Nah, di atas wilayah
topside yang kondisinya sudah rusak
parah tadi, Australia membangun pusat
penahanan imigran sebagai bagian dari
kebijakan luar negeri mereka. yang mana
Amnesti Internasional menyebutkan
fasilitas tersebut sebagai salah satu
tempat paling tidak manusiawi di dunia.
Gila enggak tuh? Mengapa Anda terlalu
peduli dengan pengembalian ekosistem
awal? Ya udah ada contohnya. Ekonom
ekologis yang bernama John Gy dan Carl
McDonell itu mendeskripsikan Nauru
sebagai contoh ekstrem dari kutukan
sumber daya. Di mana kekayaan alam yang
melimpah justru menjadi akar kehancuran
sosial dan lingkungan akibat tata kelola
yang lemah. Nah, saat ekonomi terlalu
bergantung pada satu komunitas dan gagal
membangun keragaman komoditas maupun
mekanisme perlindungan ekologis, maka
kehancuran bisa dipastikan bakal
terjadi. Dan Nauru bisa menjadi contoh
bagi negara-negara berkembang seperti
kita, negara Indonesia yang saat ini
banyak pulau-pulau besar dan juga pulau
kecil yang menjadi pusat eksploitasi
besar-besaran. Tanpa adanya perencanaan
jangka panjang dan strategi
berkelanjutan, sangat besar kemungkinan
akan menjadi seperti Nauru. Apalagi ada
statement dari seorang tokoh yang
mengatakan kenapa Anda terlalu peduli
dengan pengembalian ekosistem awal? Nah,
itu adalah statement yang gila banget
menurut gua untuk seorang beliau yang
banyak pengikutnya. Kalau pemahaman
beliau diaminkan oleh para pengikutnya,
wah gila sih. Kita sebagai masyarakat
Indonesia ya enggak ada yang mau kita
bakal bernasib seperti Nauru dan ya
pemerintah perlu memikirkan ulang atau
kalau bisa menghentikan aktivitas
penambangan atau pembukaan lahan untuk
beberapa hal yang merusak gitu kan.
Kalau memang penambangan dan ya
eksploitasi sumber daya ini tidak punya
perencanaan yang matang gitu. Kecuali
kalau memang perencanaannya matang itu
gak apa-apa banget ya. Tapi kalau
perencanaannya gak matang, cuma dikeruk
terus ditinggalin kayak lubang-lubang
tambang timah yang ada di Bangka
Belitung sana itu kan sayang banget. Dan
saat ini teguran dari alam sudah kita
rasakan. Bencana terjadi di tiga
provinsi yang diakibatkan oleh
eksploitasi sumber daya alam itu yang
tidak terencana ya kan yang terjadi di
Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
akibat penebangan pohon. Nah,
orang-orang yang meninggal seperti
dianggap hanya angka atau statistik,
bukan dianggap nyawa manusia oleh para
pengusaha-pengusaha ini. Itu adalah
sebuah kerusakan moral sih menurut gua.
Gimana tuh, Geng, menurut kalian? Nah,
jadi itu dia, Geng, pembahasan kita kali
ini mengenai statement dari Pak Bahlil
dan Gus Ulil yang coba kita riset lagi
bersama-sama terkait negara-negara maju
yang membuka lahan tambang di negara
mereka. Apakah benar mereka maju karena
mengeksploitasi sumber daya alam? Dan
apakah benar seperti kata Gus Ulil, kita
tidak perlu mengembalikan ekosistem
seperti awal ketika ekosistem itu sudah
dirusak akibat dari eksploitasi sumber
daya alam. Coba deh dari apa yang gua
uraikan tadi menurut kalian gimana?
Tuliskan komentar di bawah.