Transcript
-NabNHUcFMA • ALAM INDONESIA MEMANG HARUS DIKERUK DAN BIARLAH RUSAK ! KENAPA HARUS PEDULI DENGAN EKOSISTEM AWAL?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1613_-NabNHUcFMA.txt
Kind: captions Language: id Gus Ulil ini malah menanyakan topik lain yang kalimatnya sangat-sangat bikin orang-orang garut-garut kepala lah gitu ya. Dia bilang gini, "Peranya baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal?" Buset. Ya pedulilah Bapak tunjukkan satu aja di mana wilayah pertambangan di Indonesia ini yang mampu mengembalikan ke ekosistem awalnya. Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ee ekosistem awal? Geng, hari ini kita bakal membahas lagi hal yang berkaitan dengan yang terjadi di Sumatera. Ya, mohon maaf banget nih, mungkin kalian agak bosan karena gua ngebahas ini terus, ini terus. Tapi kayaknya ini cocok untuk kita jadikan pembelajaran karena ya betapa berantakannya lah negara kita ya. Gua enggak malu mengatakan ini walaupun penonton gua tuh enggak cuma orang Indonesia, ada orang Malaysia juga, ada orang e Singapura dan juga e orang Brunei dan bahkan warga Indonesia yang mungkin sedang berada di luar negeri ya menjadi pekerja migran ya. Terima kasih buat teman-teman semua yang udah meluangkan waktu untuk menonton channel Kamar Jerry dan hari ini gua pengin mengajak kalian untuk melihat fakta di lapangan tentang Indonesia. kita akan sedikit membahas tentang kondisi e carut-marutnya pemerintahan kita dalam mengambil kebijakan yang berakhir dengan terjadinya bencana kayak sekarang. Banyak orang yang mungkin mengatakan, "Ya, bencana yang terjadi itu takdir dari yang maha kuasa." Oke, itu enggak salah. Yang kedua, bencana yang terjadi ya akibat alam yang marah. Oke, enggak salah juga. atau bencana yang terjadi ya mungkin karena faktor alamiah, faktor cuaca dan lain-lain juga enggak salah. Tapi pernahkah kalian berpikir kalau bencana di sebuah negara terkadang faktornya itu akibat pemimpin atau akibat pemerintahnya yang juga terkadang salah mengambil kebijakan. Pada akhirnya kita bisa melihat ternyata pilihan kita selama ini adalah orang-orang yang ternyata tidak kompeten. Pilihan kita salah. orang-orang yang mengambil kebijakan yang berakibat fatal terhadap masyarakatnya, yaitu menimbulkan bencana alam. Kenapa demikian? Ya, nanti gua bakal bahas nih, gua bakal jelaskan ke kalian di dalam video ini. Perlu kalian ketahui ya, Geng, setelah fenomena bencana yang besar ini ramai tuh ya, pernyataan-pernyataan dari beberapa pejabat kita yang diekspos oleh media dan menjadi perhatian masyarakat. Salah satunya adalah pernyataan dari e Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang bernama Bahlil Lahadalia yang mana dia menyebutkan kalau negara maju ya pernah mengeksploitasi lahan mereka dan dia mempertanyakan kenapa ketika Indonesia mencoba mengeksploitasi sumber daya alam malah diprotes oleh masyarakat. Nah, yang jadi pertanyaannya, benarkah pernyataan beliau ini benarkah negara-negara maju mengeksploitasi sumber daya alam sebar-bar di negara kita? Apakah negara-negara maju itu tidak peduli dengan ekosistem alam sampai pada akhirnya yang dipikirkan hanya mengeksploitasi semua sumber daya, tambang, kayu, lahan hijau, semuanya dieksploitasi. Apakah benar demikian? Nah, nanti kita bakal bahas juga ya. Nah, karena jujur aja nih yang ngomong Pak Bahlil. Gua sih sebagai rakyat tidak meragukan beliau, tapi yang meragukan beliau itu adalah presiden kita, Pak Prabowo. Mau buktinya? Silakan lihat video ini. Aneh ini. Kenapa Pak Jokowi milih Pak Bahlil, Menteri Investasi? Nah, yang meragukan beliau itu Pak Prabowo. Jadi, kalau ada pernyataan beliau yang berapi-api, yang tegas, ya patut kita kaji. Benar enggak nih ya ucapannya katanya negara maju mengeksploitasi sumber daya alam. nanti kita bahas. Nah, terus selain Pak Bahlil ya, ramai lagi nih video dari ee seorang tokoh agama gitu ya, namanya Gus Ulil yang mengeluarkan pernyataan seperti ini. Tunjukkan satu aja di mana wilayah pertambangan di Indonesia ini yang mampu mengembalikan ke eksekosistem awalnya. Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ee ekosistem awal? Kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal? Gila enggak tuh? Kalian pasti pernah lihatlah videonya ya, karena memang sudah mulai viral lagi bersiliweran. Nah, di pembahasan kali ini gua bakal mengajak kalian untuk sama-sama mencari tahu apakah benar pernyataan-pernyataan dari pemerintah kita yang kontroversial ini relate dengan kehidupan di negara-negara maju di negara-negara lain atau apakah Indonesia sekarang sedang terjebak di dalam pembodohan? Ya, kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [musik] [musik] Geng. Geng. Oke, untuk pembahasan pertama kita akan bahas dulu statement dari Pak Bahliladelia terkait banjir di Sumatera dan statement pernyataan dari Gus Ulil soal ekosistem awal supaya nanti di belakang kita bisa mengambil contoh dari negara-negara lain. Benarkah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang ini? Jadi, pasca beredarnya banyak kayu-kayu yang ikut hanyut nih, Geng. ya, terbawa arus banjir. Banyak pihak khususnya pihak WALHI yang menduga kalau banjir yang terjadi di Sumatera saat ini bukan cuma faktor alam atau takdir semata, tapi ini adalah andil keserakahan manusia yang terus menebang pohon sehingga semakin berkurangnya resapan air yang sebenarnya sangat membantu untuk menampung air hujan dalam jumlah besar supaya tidak menggenang di permukaan tanah. Di video sebelumnya gua juga udah sempat tuh mention beberapa perusahaan yang menurut WALHI menjadi dalang atas semakin tergerusnya hutan di daerah Sumatera ya kan. Nah, dan ya perusahaan-perusahaan itu katanya sih sekarang udah mulai dipanggil oleh pemerintah untuk mendapatkan sanksi. Tapi kita gak tahu ya sanksinya seperti apa. Dan kalau perusahaan tersebut yang melakukan ya kan otomatis ya mereka ini kan bekerja sesuai dengan izin dari pemerintah. Enggak mungkin dong perusahaannya dianggap legal berizin tapi pemerintah enggak terlibat. Ya jelas pemerintahnya terlibat. Dan siapa lagi yang disorot kalau bukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM? Ya, pasti dari pihak badan kepemerintahan inilah yang memberikan izin itu. Nah, dikarenakan melalui kementerian tersebut perusahaan bisa mendapatkan izin untuk mengeksploitasi sumber daya alam di negara Indonesia ini dan melakukan aktivitas penambangan sesuka hati sesuai dengan izin yang ada. Dan terkadang juga ya kalau enggak ada izin pun atau izinnya cuma sebatas A bisa dikembangkan secara curang atau ilegal oleh mereka sampai ke Z. izinnya cuma misalkan 3 hektar, mereka menambang sampai 5 hektar dan itu sangat lumrah terjadi di negara kita. Kecurangan-kecurangan yang tidak terlihatlah gitu. Terus, Geng, setelah kecaman dari publik terkait adanya dugaan aktivitas penambangan pohon di Sumatera, Pak Bahlil kemudian buka suara tuh, Geng, saat memberikan sambutan dalam acara talk show Aksi Nyata untuk Bumi Lestari di DPP Partai Golkar yang ada di Palmerah, Jakarta Barat pada hari Jumat tanggal 28 November 2025. Di dalam kesempatan itu, Pak Bahlil mengakui kesalahannya di masa lalu. Karena usahanya dia di sektor pertambangan sering bersinggungan dengan aktivitas penebangan pohon, katanya. Dan dia juga menceritakan ketika dia menjadi seorang pengusaha yang bersinggungan dengan tambang yang mana tambang tersebut pasti melakukan penebangan pohon di area hutan. Dan dia juga mengatakan karena pengalaman tersebut, dampak yang terjadi sekarang adalah bencana ya akibat dari pertambangan dan perkebunan yang tidak ditata dan dikelola dengan baik. Bahlilalia mengakui dosa masa lalunya karena usahanya di sektor pertambangan kerap bersinggungan dengan aktivitas penebangan pohon. Hal tersebut disampaikan Bahlil memberikan sambutan dalam acara talk show Aksi Nyata untuk Bumi Lestari di DPP Partai Golkar. Dampaknya itu ya enggak cuma terjadi pada ekosistem aja, tapi sampai ke dampak sosial. Pada saat banjir dan longsor, masyarakat jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi jika akses ke daerah mereka terputus dan bantuan tidak bisa disalurkan, komunikasi enggak ada, dan ya semua masyarakat jadi menderita. Nah, pernyataan tersebut dianggap oleh publik sebagai pengakuan atas dosa yang pernah dilakukan oleh si Pak Bahlil ini. Nah, ini yang ngomong publik ya, netizen, bukan gua. Namun, geng, beliau juga mengaku nih setelah ditunjuk oleh Pak Prabowo sebagai Menteri ISDM, dia menata ulang secara menyeluruh proses penambangan agar lebih ramah terhadap lingkungan, katanya yang salah satunya adalah melalui analisis mengenai ee dampak lingkungan hidup atau AMDAL. Nah, kalau tidak dikelola dengan baik menurut dia akan sangat berbahaya sekali bagi masyarakat. Aduh, sudah terjadi bahayanya. Dan Pak Bahlil ini melanjutkan ketika dia meninjau bekas area pertambangan dari udara menggunakan helikopter ya, kondisi terbaik adalah ketika reklamasi dan reboisasi sudah dilakukan katanya. Kalau belum dilakukan maka ee kerusakannya bisa permanen. Dan oleh karena itu, Kementerian ESDM melakukan penataan dengan meminta kepada seluruh izin-izin pertambangan agar menjamin biaya reklamasi terlebih dahulu. Jangan sampai perusahaan cuma menambang aja, namun meninggalkan hutan dengan kondisi yang sudah gundul atau rusak. Wah, bijak juga nih. Tapi kalau kita lihat dari pernyataan Pak Bahlil ini enggak sesuai bertentangan dengan ee ucapan dari Gus Ulil ya. Kalau Gus Ulil kan ngomong kenapa Anda terlalu peduli dengan perbaikan ekosistem awal? Nah, sementara Pak Bahlil mengatakan kondisi awal dari daerah pertambangan harus diperbaiki lagi. Tidak boleh dibiarkan gundul atau rusak. Hm. Huh. Pemerintah sesama mereka aja saling apa ya kontradiktif gitu. Dan meskipun Kementerian ESDM menekankan harus ada AMDAL bagi perusahaan yang ingin melakukan penambangan, tetap aja tambang masih dianggap oleh sebagian besar pihak tidak pernah mensejahterakan rakyat. Nah, jika dipertimbangkan berdasarkan jangka pendek dan jangka panjang, pertambangan hanya akan menguntungkan untuk jangka pendek aja. Tapi yang jadi soal adalah sumber daya alam yang dihasilkan dengan cara ditambang itu bakal habis dan jika habis pendapatan negara dari sektor tersebut juga akan terhenti sementara kerusakannya bakal permanen dan sulit untuk dipulihkan kembali. [musik] Maka dari itu, mau dibuat seramah lingkungan apapun faktanya pertambangan bakal selalu merusak lingkungan, Geng. Dan itulah yang terus ditentang oleh masyarakat, terkhususnya masyarakat yang terdampak dan aktivis lingkungan. Dan pada saat pernyataan Pak Bahlil tadi viral, muncul lagi nih pernyataan si Pak Bahlil ini sekitar bulan Juni kemarin. Nah, pada saat dia berbicara di Jakarta Geopolitical Forum 9 yang juga viral banget pada waktu itu. Nah, ini pernyataan yang kontradiktif ya dengan pernyataan dia yang tadi gua sebutkan. Jadi di dalam pernyataannya dia, Pak Bahlil ini menyindir dengan keras pihak-pihak yang menentang pengelolaan sumber daya di Indonesia. Alias dia itu ee apa ya menyindir orang-orang yang enggak suka dengan pertambangan lah. Nah, Pakil ini memberikan contoh negara-negara maju saat membangun industri tambangnya pada tahun 1940-an sampai 1960-an. Dia bilang. Dan Pak Bahlil ini mengatakan negara maju tersebut punya banyak hutan, tapi mereka juga punya banyak tambang. Dan memang pada saat itu negara mereka belum maju seperti sekarang. Menurut beliau, eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh negara-negara maju di tahun tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan yang justru lebih parah dibandingkan yang terjadi di Indonesia. Ini gimana sih membandingkan keburukan dengan keburukan kayak sih? Nah, terus dia bilang saat itu enggak ada tuh masyarakat di negara maju tersebut yang protes atau negara mendapatkan tekanan yang serius dari masyarakat global. Nah, yang menjadi pertanyaannya negara maju yang dimaksud itu yang mana? Amerika kah, yang mana nih? Eropa kah, di mana gitu. Tapi beliau enggak nyebutin. Yang jelas beliau bilang negara maju, ya kan? Nah, pernyataan beliau ini menjadi bentuk pembelaan dia terhadap kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang saat ini jadi fokus pemerintah. Ya, dengan kata lain itu menjadi tameng dia untuk membenarkan pertambangan di titik-titik di seluruh negara Indonesia ini termasuk yang ada di Raja Ampat. Jadi menurut dia enggak apa-apa ngerusakin hutan, enggak apa-apa merusak pemandangan kekayaan alam yang udah indah, yang penting hasil tambangnya bisa diambil. Gunanya apa? Supaya negara kita bisa maju seperti negara-negara maju yang lain yang pernah melakukan pertambangan dari tahun 1940 sampai 1960. Nah, itulah statement-nya dia. Tapi menurut gua statementnya aneh karena dia menyebutkan negara maju tapi spesifiknya enggak ada. Terus tahunnya juga udah lama banget 1940 1960. Kalau kita berkaca dari beberapa negara nih, salah satu contohnya yang di Eropa ya, negara di tahun-tahun itu ya, di tahun-tahun 1940 1960 itu biasanya mereka sedang apa ya, berevolusi gitu ya, sedang berevolusi dan banyak kegagalan yang terjadi. Salah satu contohnya adalah di Eropa itu pernah menerapkan yang namanya energi menggunakan batu bara. Ketika itu ya di tahun tersebut itu di Eropa jadi gelap gulita akibat apa? akibat polusi yang disebabkan oleh batu bara. Artinya mereka memang pernah menggunakan batu bara tersebut tapi tidak berhasil. Maksudnya tuh tidak berhasil dalam artian merusak lingkungan dan mereka menjadikan itu pelajaran dan tidak lagi menggunakan bahan itu sebagai sumber energi lagi. Nah, beda sama negara kita ngelihat negara maju kayak gitu. Oh, mereka pernah menggunakan batu bara tahun 1940, 1960 misalkan, ya udah kita juga pakai deh sekarang. Padahal itu negara pakai bahan tersebut nyesel karena merusak lingkungan, polusi. Sama negara kita malah dicontoh. Bukannya belajar dari kesalahan orang lain malah niru. Niru hal tersebut. Akhirnya sekarang kita lihat nih ketika penggunaan batu bara untuk sumber daya pembangkit listrik di negara kita. Lihat polusinya kayak gimana. Kalau kalian mau tahu, cari deh di Google atau di YouTube bagaimana daerah-daerah yang ada pembangkit listrik, tenaga batuanya itu berakhir seperti apa? Berakhirnya polusi parah. Nah, sama negara kita malah sekarang dipakai. Sudah banyak keluarga kami yang menderita penyakit kulit terdampak oleh debu batuara. Hampir setengah tahun saya batuk. Nah, ini sama nih dengan pernyataan dari Pak Bahlil yang mencontohkan negara-negara maju zaman dulu mengeksploitasi sumber daya alam. Itu zaman dulu, Pak, perkembangan ilmu belum sebagus sekarang. Dan gua yakin negara-negara maju yang dimaksud oleh Pak Balil kalau memang ada nih saat ini mereka sudah menyesal. Bahkan penyesalannya bukan saat ini tapi udah berpuluh-puluh tahun silam mereka menyesal mengeksploitasi sumber daya alam mereka. Makanya sekarang mereka lebih memperhatikan negara mereka jauh lebih baik lagi. Ekosistemnya diperbaiki. Apa yang mereka lakukan di masa lalu, sebuah kesalahan tidak mereka lakukan lagi. Ya, enggak ada tahu negara maju dan bahagia itu yang benar-benar mengeksploitasi sumber daya alamnya sebar-bar kita. Gua contohkan kayak Arab misalnya, mana ada mereka mengeksploitasi sumber daya alam mereka sebar-bar kita. Mereka sumber daya alamnya satu doang nih ya. Minyak doang gitu. minyak bumi tapi bisa sejahtera sebegitu gilanya. Nah, kita nih di negara kita yang dieksploitasi apa aja? Kayu, emas, ya kan? Nikel, biji besi, minyak bumi, dan segala rempah-rempah. Tapi rakyatnya lihat ada tuh sesejahtera masyarakat di Arab. Kagak miskinnya miskin banget. Bahkan udah ada yang merobek perut karena kelaparan. Nah, terus Pak Bahlilnya ngomong tuh di depan mimbar untuk kemajuan rakyat. Karena kita melihat contoh negara maju maneh negara yang mana yang dicontoh ini benar-benar apa ya gila banget ya kalau dipikir-pikir gitu dan ketika melakukan pernyataan tersebut Pak Bahlil juga mengakui memang ada tekanan dan kritik yang sebagian besar datang dari kelompok asing katanya atau lembaga suadaya masyarakat atau LSM. Nah, cuma dia menilai ini adalah sebatas serangan geopolitik untuk menggagalkan kemandirian industri nasional. Dan selain itu dia juga menegaskan kalau hilirisasi termasuk dengan tambang nikel hingga pembangunan smelter dan industri baterai itu bukan cuma strategi ekonomi, tapi juga langkah untuk mempertahankan kedaulatan nasional. Nah, menurut dia ya hal ini ditakuti oleh negara lain katanya. Nah, jadinya banyak tekanan dari luar katanya yang mengganggu negara atau pemerintah mencoba mengeksploitasi sumber daya alam. Nah, jadi dia menganggap protes masyarakat terhadap perusakan alam akibat tambang, akibat eksploitasi, sumber daya gitu ya, itu adalah bisikan asing menurut dia, bukan karena dorongan keinginan masyarakat sendiri. Jadi ini menurut gua aneh banget gitu. Padahal ini adalah suara masyarakat yang memang tidak mau alam dirusak, ekosistem dirusak, tapi malah dituduh, wah ini jangan-jangan asing nih pihak asing yang iri sama Indonesia karena Indonesia bakal maju dengan pertambangannya. Aduh. Jadi benar-benar waduh gitu ya. Gak habis pikir cara berpikir pemerintah kita. Nah, terus geng ramai lagi nih geng video dari Gus Ulil juga yang waktu itu sempat ramai saat berdebat dengan perwakilan dari Greenpace Indonesia di dalam sebuah acara yang membahas mengenai dampak pertambangan nikel di Indonesia. Jadi sebagai konteksnya nih ya Gusulil ini kan dari pihak PBNU. Nah, di saat itu PBNU dan organisasi masyarakat keagamaan lainnya diberikan izin oleh pemerintah untuk mengelola tambang berdasarkan ketentuan peraturan pemerintah atau PP nomor 25 tahun 2024 yang mengubah PP nomor 96 tahun 2021. Dan melalui perubahan tersebut, Geng, badan usaha milik organisasi masyarakat alias ormas keagamaan mendapatkan izin untuk mengelola wilayah izin usaha pertambangan khusus atau WIUP. Nah, di dalam debat tersebut ya Gus Ulil ini menyebutkan kelompok pegiat lingkungan seperti Greenpace dan Walhi adalah Wahabi lingkungan. Aduh, ada-ada aja Bang. Satu pohon misalnya dalam Satarwi tapi eskavator bisa menebang ribuan hektar dalam satuan itu enggak head to head Gus. Ini yang saya sebut dengan Wahabisme itu Wahabisme itu artinya gini, Rossi. H orang Wahabi itu begitu begitu kepenginnya menjaga kemurnian teks. Nah, juru kampanye hutan Green Peace Indonesia yang bernama Kibal Damanik itu awalnya menantang Gus Ulil agar beliau menunjukkan satu saja bekas pertamangan di Indonesia yang bisa direklamasi sehingga ekosistemnya bisa kembali seperti semula alias tuh dikembali hijaukan lah gitu ya seperti awal. Nah, tapi ini orang bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Gus Ulil ini malah menanyakan topik lain yang kalimatnya sangat-sangat bikin orang-orang garut-garut kepala lah gitu ya. Dia bilang gini, "Peranya baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal?" Buset, ya pedulilah Bapak. Tunjukkan satu aja di mana wilayah pertambangan di Indonesia ini yang mampu mengembalikan ke ekosistem awalnya. Pertanyaan balik enggak? Pertanyaan baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ee ekosistem awal? Nah, Gusul ini kemudian melanjutkan dengan sebuah analogi mengenai pertambahan penduduk yang ikut merusak ekosistem kata dia. Jadi, dia ini bercerita ketika dia kecil, ketika masih dia di kampung, dia bisa menikmati ekosistem yang baik. Maksudnya ekosistem itu dia bisa menikmati ee suasana kampung dia yang baik, penuh dengan pohon, penuh dengan sawah katanya. Nah, terus dia tambahkan lagi. Dia bilang sekarang saat dia dewasa karena pertambahan penduduk ekosistemnya alias hal-hal yang indah tadi sudah hilang ya. Mungkin kayak sawah sudah jadi perumahan ya, pohon-pohon sudah mulai ditebang, sudah menjadi pemukiman. Nah, dia bilang lagi, "Anaknya udah enggak bisa menikmati apa yang dia nikmati di masa kecil." Nah, maksud pernyataan dia tersebut adalah dia bilang ekosistem itu akan berubah dengan sendirinya. Kalaupun enggak dijadiin tambang, suatu hari akan jadi pemukiman. Nah, jadi ekosistem itu tidak akan pernah bertahan seperti yang awal. Nah, statement tersebut menurut gua agak konyol ya. Agak konyol kenapa dia membandingkan membabat hutan dengan cara barbar karena pertambangan dengan pertambahan penduduk yang pertumbuhannya itu pelan-pelan. Bahkan pernyataan dari Gus Ulil ini dibantah tuh oleh Iqbal Damanik yang menyebutkan perbandingan itu tidak sepadan atau tidak setara. Masa ia ekskavator dan manusia disamain. Jadi pembebatan hutan dengan ekskavator demi tambang dengan pertumbuhan penduduk itu disamain gitu. Satu orang mungkin cuma bisa menebang satu pohon per hari ya kan kalau untuk manusia. Sementara ekskavator bisa menumbangkan ribuan hektar sekaligus. Nah, itulah yang disebut dengan perusakan lingkungan. Mendapatkan respon tersebut, Gus Ulil ini kemudian mengeluarkan pernyataan kontroversial lain, khususnya mengenai kelompok pegiat lingkungan yang dianggapnya sebagai Wahabi. Nah, Gus Ulil ini melihat kalau teman-teman aktivis lebih puritan, lebih ekstrem seakan-akan menolak total pertambangan. Padahal industri ekstraktif memang punya resiko dan bahaya. Nah, itu dia, Geng, statement dari Pak Bahlil dan Gus Ulil, ya, terkait bagaimana kondisi alam di Indonesia dan penilaian dari perspektif mereka terkait apa yang terjadi di negara kita. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembuktian atas apa yang dikatakan oleh Pak Bahlil. Benarkah negara-negara maju melakukan eksploitasi sumber daya di negara mereka sebelum mereka menjadi negara maju? Nah, walaupun Pak Bahlil tidak memberikan contohnya negara mana secara spesifik ya, coba deh kita cari sendiri aja negara maju yang dimaksud ya. Semoga benar negara ini. Kita bahas. Oke, kita awali dulu dengan Amerika Serikat nih. Jadi, geng, hasil tambang di negara maju ini adalah batu bara, tembaga, timah, uranium, molipdenum, nikel, fosfat, perak, emas sampai dengan besi. Nah, Amerika memiliki sejarah panjang dalam bidang pertambangan yang sudah dimulai dari tahun 1800-an. Meskipun mengalami proses yang naik turun, pertambangan di negara tersebut pada tahun 2020 tercatat sudah membaik dalam berbagai aspek. Industri tambang Amerika Serikat menjadi salah satu yang terbaik di dunia berkat dukungan dari teknologi industri yang paling maju. Dan selain itu, Amerika juga menyediakan beberapa opsi penggabungan teknologi terbaik untuk memberikan opsi penambangan yang aman dan berkelanjutan. Gabungan dari semua sumber daya tambang di Amerika sudah menghasilkan industri pertambangan Amerika Serikat yang bernilai sekitar 82,3 miliar dolar pada tahun 2020. Industri tersebut ya tidak hanya memperkuat perekonomian Amerika Serikat aja, tapi juga menyediakan lowongan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Di tahun 2017 ada lebih dari 612.000 orang yang dipekerjakan di industri tambang Amerika Serikat. Nah, jadi kurang lebih Amerika seperti itulah kondisinya dan mereka sudah mengeksploitasi e sumber daya alam mereka itu dari tahun 1800-an. Nah, selanjutnya ada negara Inggris. Di tahun 2022 ya, Inggris baru menyetujui tambang batu bara pertama mereka dalam beberapa dekade untuk menghasilkan bahan bakar. Pertambangan tersebut bakal digunakan dalam pembuatan baja dan diyakini bisa menciptakan 500 pekerjaan baru. Nah, The Wood House Colery akan dikembangkan oleh West Cambria Mining di barat laut Inggris. Perusahaan tersebut akan mengekstrak batu bara yang biasa digunakan dalam industri baja dibandingkan untuk pembangkit listrik. Nah, sebenarnya proyek tersebut sudah diresmikan dari tahun 2014. Namun kecaman dari penasehat iklim independen pemerintah Inggris serta aktivis dan organisasi iklim membuat proyek ini tidak berjalan mulus. Di sisi lain, Inggris sebenarnya udah mengesahkan undang-undang yang mewajibkan untuk membawa semua emisi gas rumah kaca ke nol bersih pada tahun 2050. Nah, jadi mereka tuh udah enggak mau lagi ada yang namanya polusi. Sebenarnya emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara itu adalah satu-satunya penyumbang terbesar perubahan iklim. Tambang batu bara itu sendiri berukuran sekitar 23 hektar. Dibangun dengan biaya yang diperkirakan pada tahun 2019 sebesar 165 juta pound dan diusulkan untuk dioperasikan selama 50 tahun. Nah, di dalam catatan Inggris ini pernah mempekerjakan sebanyak 1,2 juta orang di hampir 3.000 tambang batubara. Tambang terakhir mereka itu ditutup pada tahun 2015. Nah, itu Inggris yang mengeksploitasi sumber daya alam di negara mereka. Terus selanjutnya ada negara Australia, negara yang menjadi produsen atau penghasil biji besi terbesar di dunia tahun 2020. Jumlah biji besi yang dihasilkan oleh negara tersebut bisa mencapai 900 juta ton atau sekitar 37,5% dari total produksi di dunia di tahun 2020. Australia juga menjadi negara dengan cadangan biji besi mentah terbesar di dunia yang diperkirakan oleh US Geological Survey sekitar 50 miliar ton. Nah, itu Australia. Terus ada lagi negara lain, Jerman. Negara tersebut dulunya memiliki industri pertambangan yang signifikan terutama untuk batuara dan biji besi yang menjadi hal yang paling fundamental bagi industrialisasi di Rembah R. Meskipun pertamangan batu bara sudah berakhir pada tahun 2018 di negara mereka, tapi Jerman saat ini memiliki banyak bekas tambang yang diubah menjadi tujuan wisata dan proyek revitalisasi lingkungan seperti mengubah area bekas tambang menjadi danau untuk rekreasi dan ekowisata. tuh. Jadi enggak ditinggalin kayak gitu aja. Nah, tapi geng di era modern seperti ini ya, negara-negara maju yang gua sebutkan tadi itu sudah memikirkan dampak lingkungan yang bakal terjadi kalau mereka masih merusak sumber daya alam di negara mereka. Oleh karena itu, mereka mulai memanfaatkan negara lain yang jauh lebih kaya sumber daya alamnya untuk dieksploitasi. Jangan salah, memang seperti kata Pak Bahlil tadi ya, negara-negara maju ini pernah mengeksploitasi sumber daya alam mereka. Tapi sekarang mereka justru tidak mau melakukan itu lagi. Kalaupun ada, tidak semasif dulu, tidak sebesar dulu, mereka sekarang justru mencari sumber daya alam dari negara-negara lain. Contohnya aja seperti yang terjadi di Kongo yang mana masih terjadi sebuah perbudakan. Kekayaan alam mereka yaitu kobalt itu dikeruk untuk menghasilkan baterai-baterai handphone yang sekarang kita pakai nih. Nah, itu semua adalah kekayaan di tanah mereka, tapi bukan mereka yang menikmati. Yang menikmati siapa ya? orang-orang dari Eropa yang mengeksploitasi mereka dengan upah yang seadanya. Ditambah lagi karena sekarang sedang ngetren mobil listrik, jadi semakin gencar juga penambangan di Kongo itu. Negara maju seperti Eropa di zaman dulu yang melakukan eksploitasi di negara jajahan mereka jadi tidak 100% hanya mengandalkan hasil tambang dari negara mereka sendiri. Kayak kita nih ya, nambang dikeruk semua hasil yang ada di perut bumi Indonesia. Akhirnya apa? Ketika musibah, yang mengalami musibah adalah rakyat Indonesia. Sementara di Eropa mereka udah enggak lagi mengeruk hasil perut bumi mereka, tapi mereka mengeruk hasil perut bumi dari negara lain. Dan apabila negara-negara maju ini masih melakukan eksploitasi atau mengeruk sumber daya di negara mereka sendiri, pastinya pengawasannya super ketat. Enggak yang kayak asal-asalan, enggak yang kayak asal tebang pohon tiba-tiba banjir, tiba-tiba makan korban banyak, tapi pas dimintai bantuan planga-plongo. Nah, itulah yang terjadi. Dan gilanya di negara kita tidak hanya pertambangan resmi aja yang barbar. Banyak juga pertambangan-pertambangan liar yang sering membuat pemerintah kecolongan di berbagai daerah. Namun Geng, ada juga loh, Geng, negara yang pernah punya tambang, tapi negara tersebut nasibnya tidak seperti negara-negara barat yang sudah gua sebutkan tadi, ya. Negara tersebut adalah Nauru. Nah, ini Nauru walaupun dia punya tambang sendiri di negaranya, tapi nasibnya cukup malang. Nauru ini adalah negara pulau kecil yang terletak di bagian barat Pasifik, tidak jauh dari garis katulistiwa dan sekitar 4.000 km dari timur laut Australia yang kalau ditarik garis lurus dari Jakarta jaraknya tuh kira-kira 6.700 00 km dengan luas hanya 21 km² dan kurang lebih hanya seluas kota Mojokerto dan populasinya sekitar 12.000 jiwa aja. Nauru ini menjadi salah satu negara berdaulat terkecil di dunia baik secara wilayah maupun jumlah penduduknya. Nah, tapi kecil ukurannya tidak mencerminkan ee besar dan kompleksnya krisis yang menimpa negara tersebut. Dulunya Nauru ini memiliki ekosistem yang kaya akan kehidupan pesisir dan hutan dataran rendah yang mendukung kehidupan untuk bercocok tanam dan memancing bagi masyarakat lokal selama berabad-abad. Burung-burung laut menjadi asal mula terciptanya fosfat diuru dan selama jutaan tahun mereka bersarang di negara tersebut dan dalam koloni atau kelompok burung tersebut mereka menghasilkan guano, yaitu kotoran burung laut dalam jumlah besar. Guano ini kaya akan fosfor dan nitrogen yang terakumulasi secara bertahap hingga membentuk lapisan setebal beberapa meter di negara itu. Di bawah tekanan dan waktu, endapan guano ini mengalami mineralisasi dan berubah menjadi batu fosfat sehingga menjadikan Nauru sebagai salah satu sumber fosfat paling murni dan bernilai tinggi di dunia. Tuh. Nah, fosfat yang terbentuk dari endapan biologis ini dikenal sebagai salah satu yang paling murni di dunia dengan kandungan mineral tinggi yang sangat dibutuhkan dalam industri pupuk pertanian. Deposit ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Albert Ellis dari Pacific Island Company di awal abad ke-20 ketika sebuah batu yang dijadikan penahan pintu di kantor perusahaan Sydney dianalisis dan ternyata mengandung kadar fosfat yang luar biasa tinggi. Nah, jadi ditemukan secara enggak sengaja gara-gara ada ee ganjel pintu gitu, Geng. Penemuan itulah yang mengubah nasib Nauru selamanya. Mulai dari awal tahun 1990-an, negara-negara kolonial seperti Jerman, Inggris, Australia rebutan untuk datang ke Nauru menambang fosfat di Nauru. Setelah perang dunia pertama, Inggris, Australia, dan Selandia Baru itu membentuk British fosfat komisioner atau BPC yang mengelola eksploitasi fosfat diuru secara masif dan sistematis dengan harga murah untuk mensubsidi pertanian mereka sendiri. Jadi digali tuh negara orang, digali tuh Nauru, dikasih budget dikit nih sama Inggris, Australia dan Selandia baru tadi. Terus hasil fosfat itu dibawa ke negara mereka, dikeruk dari negara orang untuk keuntungan mereka sendiri. Dan pada masa tersebut hampir seluruh keuntungan hasil tambang itu enggak pernah kembali ke masyarakat Nauru, melainkan ya semuanya diserahkan kepada pendapatan negara Nauru. Masyarakatnya dapat enggak? Semuanya berubah, Geng. Setelah kemerdekaan Nauru pada tahun 1968, pemerintah baru segera mengambil alih industri fosfat dan mengalami ledakan ekonomi secara besar-besaran. Jadi di era 1970-an, PDB perkapitana bahkan melampaui negara-negara industri maju dan warganya menikmati layanan sosial gratis, pendidikan gratis, ya perumahan hingga perjalanan ke luar negeri mereka free di saat itu. Karena fosfatnya tadi tuh yang dikelola sama Inggris, Australia, dan Selandia Baru udah ditarik semua sama pemerintah. Negara ini bahkan bisa berinvestasi real estate mewah seperti gedung pencakar langit yang ada di Melbourne. Jadi mereka bangun gedung pencakar langit yang bernama Nauru House dan membeli kapal pesiar pribadi negara. Tapi kita semua tahu ya, Geng. Nauru jadi ketergantungan pada komoditas fosfat ini. Karena penghasilan yang terbesarnya di negara tersebut cuma itu. Nah, di tengah kejayaan ekonomi negara ini gara-gara fosfat tadi, eksploitasi fosfat terus dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan negara mereka. Sekitar 80% dari daratan kecil negara Nauru ini ditambang habis. Udah negaranya kecir digali lagi. Hasilnya bagian tengah pulau yang dikenal sebagai topside berubah menjadi landscape yang mirip permukaan bulan yang gersang penuh cars hingga setinggi 1 m. Nah, cars ini adalah kondisi alam yang terbentuk akibat e pelarutan batuan gitu loh, Geng. Dan hal tersebut membuat e negara ini ya bagian yang dikeruk itu tidak bisa lagi ada tumbuhan yang hidup di sana dan terus berdampak pada sistem perasapan air tanah, peningkatan erosi dan punahnya seluruh flora dan fauna lokal gara-gara tambang tadi. Dan saat masyarakat Nauru sudah tidak bisa lagi bertani ya udah enggak bisa lagi ee apa berternak gitu, pemerintah terpaksa bergantung pada makanan impor. Jadi enggak ada lagi petani, enggak ada lagi hasil alam. Karena semuanya udah dijadiin tambang, akhirnya impor makanan. Yang bikin ironisnya adalah makanan yang tersedia di pasar adalah makanan olahan rendah gizi, tinggi gula, tinggi lemak. Karena maaf ya, makanan-makanan sampah lah ibaratnya dari luar negeri dijual ke mereka. Dan akibatnya negara tersebut mencatat tingkat obesitas lebih dari 70% pada orang dewasa dan hampir seluruh populasinya menderita diabetes tipe 2. Kacau enggak tuh? Nah, dari sini kita bisa lihat ya, Geng. bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada lingkungan aja, tapi langsung pada kesehatan manusia. Menurut data yang diambil oleh UNICEF, sekitar 24% anak di bawah 5 tahun diuru mengalami stunting. Ya, apa semua tanahnya dijadiin untuk tambang, akhirnya ekosistem enggak berjalan, sawah enggak ada, hasil bumi enggak ada. Boro-boro bisa makan yang sehat, akhirnya beli dari luar negeri makanannya. Ketika mereka menyadari bahwa sebagian besar kerusakan terjadi selama masa kolonial di tahun 1989, Nauru akhirnya menggugat Australia di Mahkamah Internasional atas tanggung jawab lingkungan. Gugatan ini tercatat sebagai kasus certain postpart lens inuru yang menjadi ee keputusan penting dalam hukum lingkungan internasional. Meskipun akhirnya diselesaikan di luar pengadilan, Australia setuju tuh membayar kompensasi lebih dari 100 juta dolar Australia selama 2 dekade ganti rugi. Dan sebagian dana tersebut digunakan untuk membuat Nauru Rehabilitation Corporation atau NCR pada tahun 1999 yang tugasnya melakukan pemulihan lahan-lahan yang tadinya menjadi ee tempat tambang. Nah, jadi dampaknya luar biasa. Bahkan Australia dituntut sama Nauru dan uang dari Australia dari hasil tuntutan ya dijadikan dana untuk memperbaiki ekosistem awal. Jadi kalau ditanya mengapa Anda terlalu peduli dengan pengembalian ekosistem awal? Ya ini jawabannya Nauru udah ada contoh. Udah ada contoh di Nauru ya. Kalau yang ngomong umurnya udah tua ya mungkin tidak terlalu berdampak karena kita enggak tahu umurnya sampai kapan ya. Tapi yang berdampakan pada anak cucunya, pada kita-kita yang masih muda ini gitu kan. Kalau beliau kan bentar lagi udah kita enggak tahu umurnya kapan. Nah, makanya jawaban dari mengapa Anda terlalu peduli dengan pengembalian ekosistem awal adalah untuk masa depan generasi bangsa yang selanjutnya. Jangan sampai mereka justru ya diwarisi dengan problem lingkungan seperti Dinau. Terus geng sedihnya ya kenyataannya ya kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem di Nauru tidak semudah itu. Jadi pemulihan ekosistem tidak bisa diukur dengan uang. udah 100 juta dolar Australia selama dua dekade diberikan oleh Australia kepada Nauru, tapi gak bisa memperbaiki ekosistem awal tadi. Nah, reklamasi lahan di top side yang ada di Nauru itu memerlukan infrastruktur besar, teknologi khusus, dan biaya yang sangat tinggi. Dan sampai saat ini kemajuan perbaikan di Nauru benar-benar enggak terlihat lambat banget. Sementara itu, sebagian besar penduduk mereka saat ini tinggal di wilayah pesisir yang sempit. Karena kan di tengahnya tuh udah digali. Mereka tuh makin minggir, minggir, minggir. Yang mana di pesisir juga semakin tergerus abasi dan semakin mencekam karena ancaman naiknya permukaan air laut akibat krisis iklim. Yang perlu kalian ketahui suatu hari nanti entah kapan itu Nauru akan hilang. Jadi negara ini bakal hilang. Tidak ada lagi negara yang namanya Nauru. Nah, di atas wilayah topside yang kondisinya sudah rusak parah tadi, Australia membangun pusat penahanan imigran sebagai bagian dari kebijakan luar negeri mereka. yang mana Amnesti Internasional menyebutkan fasilitas tersebut sebagai salah satu tempat paling tidak manusiawi di dunia. Gila enggak tuh? Mengapa Anda terlalu peduli dengan pengembalian ekosistem awal? Ya udah ada contohnya. Ekonom ekologis yang bernama John Gy dan Carl McDonell itu mendeskripsikan Nauru sebagai contoh ekstrem dari kutukan sumber daya. Di mana kekayaan alam yang melimpah justru menjadi akar kehancuran sosial dan lingkungan akibat tata kelola yang lemah. Nah, saat ekonomi terlalu bergantung pada satu komunitas dan gagal membangun keragaman komoditas maupun mekanisme perlindungan ekologis, maka kehancuran bisa dipastikan bakal terjadi. Dan Nauru bisa menjadi contoh bagi negara-negara berkembang seperti kita, negara Indonesia yang saat ini banyak pulau-pulau besar dan juga pulau kecil yang menjadi pusat eksploitasi besar-besaran. Tanpa adanya perencanaan jangka panjang dan strategi berkelanjutan, sangat besar kemungkinan akan menjadi seperti Nauru. Apalagi ada statement dari seorang tokoh yang mengatakan kenapa Anda terlalu peduli dengan pengembalian ekosistem awal? Nah, itu adalah statement yang gila banget menurut gua untuk seorang beliau yang banyak pengikutnya. Kalau pemahaman beliau diaminkan oleh para pengikutnya, wah gila sih. Kita sebagai masyarakat Indonesia ya enggak ada yang mau kita bakal bernasib seperti Nauru dan ya pemerintah perlu memikirkan ulang atau kalau bisa menghentikan aktivitas penambangan atau pembukaan lahan untuk beberapa hal yang merusak gitu kan. Kalau memang penambangan dan ya eksploitasi sumber daya ini tidak punya perencanaan yang matang gitu. Kecuali kalau memang perencanaannya matang itu gak apa-apa banget ya. Tapi kalau perencanaannya gak matang, cuma dikeruk terus ditinggalin kayak lubang-lubang tambang timah yang ada di Bangka Belitung sana itu kan sayang banget. Dan saat ini teguran dari alam sudah kita rasakan. Bencana terjadi di tiga provinsi yang diakibatkan oleh eksploitasi sumber daya alam itu yang tidak terencana ya kan yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat penebangan pohon. Nah, orang-orang yang meninggal seperti dianggap hanya angka atau statistik, bukan dianggap nyawa manusia oleh para pengusaha-pengusaha ini. Itu adalah sebuah kerusakan moral sih menurut gua. Gimana tuh, Geng, menurut kalian? Nah, jadi itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai statement dari Pak Bahlil dan Gus Ulil yang coba kita riset lagi bersama-sama terkait negara-negara maju yang membuka lahan tambang di negara mereka. Apakah benar mereka maju karena mengeksploitasi sumber daya alam? Dan apakah benar seperti kata Gus Ulil, kita tidak perlu mengembalikan ekosistem seperti awal ketika ekosistem itu sudah dirusak akibat dari eksploitasi sumber daya alam. Coba deh dari apa yang gua uraikan tadi menurut kalian gimana? Tuliskan komentar di bawah.