Transcript
Bd8S4l1U8zs • FAKE KRAMAT GRAVE BUSINESS! A DECEIT TO MAKE A PROFIT
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1614_Bd8S4l1U8zs.txt
Kind: captions Language: id Dan dengan cerita yang dibungkus sedemikian rupa, makam yang sebenarnya fiktif itu tiba-tiba mendadak berubah menjadi lokasi untuk ziarah. Nah, para peziarah yang entah datang dari mana, entah dapat e cerita dari mana, mereka datang ke sana dan percaya kalau makam itu keramat. Nah, pembodohannya mulai dari memberikan sumbangan berupa uang, menyumbang uang kebersihan, bahkan membeli paket doa. Paket doa. Ingat ya, Geng. Paket doa bukan paket kuota. Oke, Geng. Hari ini sementara waktu kita beranjak dulu sejenak dari pemberitaan tentang banjir ya. Nanti kita bakal bahas lagi perkembangannya. Tapi hari ini gua mau ngajak kalian untuk membahas sesuatu yang mungkin cukup menggelitik, mungkin kelihatan jauh dari radar kita, tapi sebenarnya cukup nyambung lah sama isu sosial keagamaan, dan bahkan soal integritas moral di negeri kita. Ini cerita ini bukan tentang kriminal jalanan, bukan soal politik panas, tapi tentang fenomena makam palsu, tokoh agama yang ternyata banyak banget tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dan yang lebih seramnya lagi ada yang dijadikan sebagai ladang bisnis. Diduga dijadikan tempat untuk ritual pesugihan, sebuah gazebo dan 31 makam palsu di Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten dibongkar paksa oleh warga setempat. Ya, hal tersebut sebagai bentuk penolakan atas keberadaan makam-makam yang dianggap tidak jelas asal-usulnya dan juga dinilai hanya menyesatkan masyarakat. Fenomena ini bukan sekedar soal batu nisan atau kompleks pemakaman biasa, tapi ini menyangkut manipulasi sejarah, penyalahgunaan nama tokoh agama sampai komersialisasi tempat yang dianggap sakral dan yang sudah pasti bawa-bawa agama. Dan makin digali semakin kelihatan kalau pola bisnis yang terselubung ini mulai dari pengelola yang sengaja mendongkrak nama tokoh tertentu supaya tempat itu ramai penziarahnya sampai pihak-pihak yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk mengambil keuntungan. Terus ya intinya dibuat-buatlah cerita dongengnya. Ini berbicara soal kepercayaan publik tentang pemalsuan identitas sejarah sampai potensi penipuan berjamaah. Makanya banyak orang yang mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa makam yang klaimnya besar banget ternyata ya sejarahnya itu tidak berbukti hanya berdasarkan katanya, katanya, katanya sampai akhirnya orang-orang percaya dan ya gilanya adalah banyak yang musyrik atau syirik gitu ya, lalu ya mengeluh-eluhkan, memuja-muja meminta sesuatu kepada makam tersebut. Yang jadi pertanyaan gua, kok bisa ya fenomena ini terjadi? Ini kan sebuah pembodohan sebenarnya. Terus sejauh apa, Geng, pengawasan pemerintah kita soal situs-situs religi, terutama yang palsu-palsu kayak gini? Dan apakah masyarakat bisa dikatakan sudah menjadi korban dari narasi yang sengaja dibentuk padahal semuanya bohong? Ya kan? Di video kali ini kita bakal membahas lengkap bagaimana praktik makam palsu ini bisa muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia, di tengah-tengah kemajuan zaman yang semakin modern. Tapi kok masyarakat kita terasa semakin mundur dengan hal ini? Siapa yang diuntungkan dari fenomena ini dan kenapa bisa terus terjadi? Kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [musik] [musik] Geng. Geng. Untuk pembahasan yang pertama, kita langsung bahas dulu nih 31 makam palsu yang ada di Serang, Banten. Ini mungkin teman-teman dari Banten bisa ee menjelaskan juga kalau misalkan ada kekeliruan atau penjelasan gue yang kurang di kolom komentar. Oke, kita bahas. Jadi, Geng, 31 makam palsu diserang Banten ini ya dijadikan lapak pesugihan oleh orang-orang yang enggak dikenal. Makam ini terletak di tempat pemakaman umum atau TPU yang bernama Kampung Kamadean di Desa Seat, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten. Awalnya nih ya, tempat ini ee sebenarnya tenang-tenang aja, enggak ada isu apapun di sana. Dan sejak 2018 warga-warga di sana tahu kalau cuma ada satu makam keramat di sana dan makam itu merupakan ee seorang tokoh masyarakat lama yang memang dihormati sejak dulu di daerah tersebut. Nah, jadi dikeramatkan tuh makamnya. Gak ada yang aneh dan gak ada yang mencurigakan. Yang namanya makam keramat mungkin makam tua. Ya udah kayak gitu aja didoakan ya udah gitu. Nah, tapi geng ya akhirnya warga di sana itu sadar kalau mereka mulai merasa ada yang tidak beres. Jadi di atas tanah wakaf TPU tersebut tiba-tiba bermunculan makam-makam baru yang entah kapan adanya. Enggak cuma satu atau dua makam, tapi langsung puluhan makam yang muncul di daerah dekat e makam keramat tadi. Dan bukan makam biasa. Di setiap nissan makam baru ini punya nama yang bisa dikatakan ee membuat orang-orang menghormatilah makam itu atau nama dari makam itu. Namanya itu punya gelar yang tinggi seperti Syekh Antaboga, Nyimas Ratu Gandasari, Prabu Taji Malela, Ratu Sundagaluh sampai dengan Nyai Sangketa. Nah, namanya enggak main-main gitu ya. Kalau untuk masyarakat Sunda ini terdengar sangat sakral namanya kayak apa ya? Gua enggak bisa bilang darah biru atau ningrat ya, gimana ya sebutannya tuh kayak ya bukan rakyat biasalah, bukan makam rakyat biasa, tapi tokoh-tokoh penting, tokoh-tokoh yang zaman dahulu mungkin sangat dihormati dan dihargai. Kalau kita mendengar nama-nama itu, pasti kita berpikir nama-nama tersebut punya ee sejarah cerita yang panjang sampai akhirnya berakhir di tempat itu. Nah, tapi setelah ditelusuri nama-nama tersebut tidak punya jejak atau sejarah di tempat itu. Orang yang lewat mungkin langsung berpikir kalau ini merupakan makam keramat semua. Tapi untuk warga yang tinggal di sana bertahun-tahun, justru mereka terbingung-bingung dari mana asalnya, dari mana munculnya ini makam. Dulu enggak ada dan kenapa tiba-tiba ada. Dan saat mereka menanyakan kepada para e tetua-tetua di sana, kok enggak ada ya cerita leluhur mereka yang ee berkenaan dengan nama-nama itu. Dan masyarakat di sana pun mulai ngerasa janggal. Bukan cuma soal jumlah makamnya, tapi klaim keramatnya yang ternyata tidak punya dasar. Dan dari sinilah kecurigaan warga mulai menguat. Ya, kecurigaan warga akhirnya disampaikanlah kepada aparat desa. Awalnya dugaan mereka sederhana. Mungkin [musik] ada pihak luar yang asal-asalan menaruh Nissan karena salah informasi atau sekedar iseng-iseng aja. Tapi setelah dicek satu persatu, justru makam-makam tersebut semakin menunjukkan pola yang janggal. Nisan-nisannya dibuat dengan model yang serupa, gaya penamaannya mirip dan muncul dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh alias berdekatan. Seolah cuma satu orang yang mengatur semuanya dari belakang. Jadi kayak sengaja dibuat atau dicetak berbarengan. Dari sini penyelidikan kecil-kecilan mulai dilakukan tuh oleh warga maupun pemerintah desa. Mereka mendatangi orang-orang yang sering terlihat di sekitar TPU, memeriksa siapa saja yang pernah mengurus izin lahan tersebut sampai mencoba menelusuri apakah ada tokoh adat yang pernah mengakui kehadiran figur-figur sejarah yang namanya tertulis di batu nisan itu, Geng. Dan pelan-pelan sosok-sosok yang diduga mengatur semua ini mulai mengerucut. Jadi kayak ditanya satu-satu, "Pak, Bapak kuncen di sini ya?" Iya. itu kenapa ada ee kuburan keramat baru di sana? Siapa yang buat? Ya kan? Nah, kuncinannya nunjuk oh ada bapak si ini. Oh, ada si ini, si itu, si itu. Akhirnya mengerucut kepada satu nama. Nah, jadi terduga pelakunya adalah orang yang bernama Suhada. Seorang pria warga Kabupaten Karawang yang memiliki kerabat di Desa Seat. Jadi bukan warga asli di sana, justru orang Karawang yang datang ke sana terus punya ide kayak, "Oh, oke kita bangun makam. Tujuannya supaya cuan. Abdina syuhada nyuhunkeun hampura 1000 hampura syuhada bikin resah masyarakat. Orang ini tinggal tidak jauh dari TPU Kampung Kamadean. Dia adalah orang yang beberapa kali terlihat memandori. Jadi dia jadi mandor penempatan batu nisan yang baru tersebut. dia yang mengarahkan. Dia juga disebut kera pembawa orang-orang luar masuk ke area pemakaman, memperlihatkan makam-makam tersebut seakan-akan itu adalah situs sejarah. Dan enggak cuma makam aja, Geng, yang dia buat, tapi juga ditemukan sebuah gua ya, goa yang ee mirip terowongan yang dibangun untuk melakukan praktik ritual pesugihan di sana. Ih, mana ke mana? Ih, masuk. Ah, sawah. Dan selain itu menurut pengakuan warga sekitar, syuhada ini juga menyebarkan ilmu sesat kepada warga di sana seperti ya tidak melakukan salat Jumat hingga tidak melakukan puasa Ramadan. Dan dari sinilah muncul dugaan bahwa makam dan goa-goa tersebut sengaja dibangun untuk tujuan yang jauh lebih pragmatis, yaitu bisnis si Suhada ini. Praktik sesat sekaligus mencari cuan. Informasi dari warga itu menyebutkan si Suhada ini tidak sekedar menaruh Nissan lalu pergi dari sana. Dia juga menjual narasi kepada para peziarah dari luar daerah. Dia menyampaikan bahwa makam-makam itu adalah makam para tokoh sakti dan leluhur penting di daerah Sunda. Dan dengan cerita yang dibungkus sedemikian rupa, makam yang sebenarnya fiktif itu tiba-tiba mendadak berubah menjadi lokasi untuk ziarah. Nah, para peziarah yang entah datang dari mana, entah dapat e cerita dari mana, mereka datang ke sana dan percaya kalau makam itu keramat. Nah, pembodohannya mulai dari memberikan sumbangan berupa uang, menyumbang uang kebersihan, bahkan membeli paket doa. Paket doa. Ingat ya, Geng. Paket doa bukan paket kuota. Dari sinilah motifnya semakin jelas, yaitu makam palsu ini dijadikan sebagai ladang bisnis oleh si Suuhada tadi. Polisi akhirnya turun tangan dan ketika itu barulah semuanya terungkap. Hasil penyelidikan dari Pores Serang yaitu AKB Conro Sasongko. Beliau mengungkapkan bahwa ada total 31 makam dibangun secara ilegal. Makam loh ilegal dibangun. Jadi enggak ada mayatnya di dalam dan tanpa dasar sejarah apapun. Suhada ini ditetapkan sebagai tersangka utama karena menjadi aktor yang memprakarsai kemunculan makam-makam itu. Bahkan dia sudah ee membuat bisnis makam palsu ini sejak tahun 2018. dan dia juga terbukti memungut uang dari para berziarah yang datang ke sana mulai dari tarif ritual, ongkos perawatan makam sampai sumbangan yang tidak pernah tercatat secara resmi dan bahkan ya ee biaya parkir gitu, Geng, juga dia ambil. [musik] Nah, dengan kata lain, semakin kuat keyakinan orang pada makam keramat itu, maka semakin besar pula keuntungan yang bisa didapatkan oleh si Suhada dan komplotannya. Walaupun terduga pelaku sudah terungkap nih, Geng. Tapi sampai saat ini belum ada informasi apakah si Suuhada ini e ditangkap atau dipenjara atau justru masih eh dia bebas di luar sana. Nah, tapi geng setelah melakukan penyelidikan ini, petugas kepolisian dan juga para warga berbondong-bondong dan saling bantu untuk ee proses pembongkaran makam palsu ini setelah melakukan musyawarah bersama dengan Muspika dan ketua MUI Kecamatan Petir serta tokoh agama di sana. Nah, petugas bersama dengan masyarakat sekitar melakukan pembongkaran pada tanggal 3 Juni 2025 dan polisi sudah memberikan polis line di makam tersebut, Geng. Gila, ya. Ada-ada aja cara orang berbisnis dan enggak tanggung-tanggung 31 makam palsu. Yang artinya dia untuk ngebohongin orang itu butuh modal. Bangun makam palsu kan enggak cuma sekedar ya cuma gundukan tanah. harus bikin nisannya, harus bikin pembatas atau frame dari kuburannya supaya terlihat itu adalah makam yang megah, mewah, punya wali ya kan atau punya tokoh tertentu. Nah, itu kan butuh modal tuh ada semen, ada keramiknya dan itu semua dilakukan oleh orang ini untuk bisa melipat gandakan keuntungan. Tapi yang jadi pertanyaan gua, kok bisa ada orang yang percaya ee datang ke makam keramat, berziarah ke makam keramat, berdoa di sana bisa mendatangkan rezeki? Kalau dari sini kita lihat, sepertinya negara kita ya sebagian masyarakatnya udah mirip kayak di India, enggak sih? Di India pagar ngeluarin air aja itu disembah, airnya dianggap suci. Padahal itu cuma kebocoran pipa. Itu banyak tuh kejadiannya nih. Boleh kalian coba lihat nih. Dan bahkan ada kejadian juga di India kebocoran air AC yang kebetulan airnya netes di ee patung atau di mana gitu atau di batu gitu gua lupa ya. Nanti boleh editor gua cariin tuh videonya tampilkan ya. Itu juga dianggap air keramat. Nah, bagaimana ya? Kayak gila banget deh negara kita. Oke, itu baru 31 makam palsu yang dibangun di Banten. Nah, ini yang lebih gila lagi nih kejadiannya di Wonosobo yaitu ada 78 makam wali palsu. Wali palsu ya di Wonosobo 78. Gila. Kita bahas. Nah, jadi geng di daerah yang bernama Desa Ngalian, Wadas Lintang, Wonosobo, ada 78 makam wali palsu yang ditemukan. Sebenarnya berita ini tuh enggak baru-baru banget ya, Geng. Ini udah terjadi sekitar tahun 2024, tepatnya di bulan Agustus lalu. Dan makam ini dikenal dengan makam Wali Telu atau dapat diartikan dari bahasa Jawa adalah tiga wali. Makam Keramat yang disebut sebagai wali telu ini ternyata baru diresmikan pada 2021. Makam diresmikan anjir kayak monumen ya kan? Makam diresmikan. Konon katanya ya pembangunan makam tersebut dilakukan setelah adanya petunjuk dari seorang Habib yang cukup dikenal di kalangan masyarakat setempat. Wah, lagi-lagi berhubungan dengan Habib nih, Geng. Ya, sejak dibuka, tempat itu cepat menarik perhatian. Banyak orang yang datang untuk berziarah ke sana meyakini bahwa makam tersebut memiliki nilai spiritual. Lambat laun, makam itu pun dikembangkan menjadi semacam wisata religi proyek yang digadang-gadang bisa membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar. Nah, lokasinya sendiri cukup strategis. Ini kalau kita lihat dari fenomenanya kayaknya ya e kuburan bisa mengalahkan Wapres Gibran. Wapres Gibran menjanjikan 19 juta lapangan pekerjaan. Kuburan tidak perlu berjanji apa-apa. Tiba-tiba bisa menaikkan perekonomian. Waduh, top. Jadi, makam ini berada tidak jauh dari Waduk Wada Selintang. salah satu destinasi andalan di Kabupaten Wonosobo sehingga semakin mudah menarik peziarah sekaligus wisatawan yang melintas di sana. Jadi tempatnya strategis yang dipilih. Kemudian, Geng, para warga di sana itu mulai mempertanyakan, "Ini asli enggak sih?" Kok apa ya ee makamnya tiba-tiba muncul dan mereka enggak pernah tahu selama ini ada makam di sana, ada makam keramat gitu. Dan pada 2022 ya, pemerintah Kabupaten Wonosobo sebenarnya sudah mencoba mencari titik terang soal keberadaan makam wali teluh di Kalicutang ini tepatnya pada 7 Februari 2022. Nah, jadi digelarlah sebuah audiensi di ruang e Mangun Kusumo namanya, Sekretariat Daerah Wonosobo. Pertemuan itu melibatkan banyak pihak, Lembaga Pencegahan Korupsi dan Pungli Jawa Tengah dan DIY atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Terus ada Plt Kesra Sekda Wonosobo dan Dinas Sosial PMD dan bagian hukum serta bagian pemerintahan. Terus ada Camat Wadelintang, Kepala Desa Ngalian, pihak BPD dan saksi tokoh masyarakat hingga dinas teknis lain yang berkaitan. Jadi semua pihak itu sudah dikumpulin cuma buat ngebahas apa? Ngebahas kuburan. Kuburan yang nghasilin cuan. Nah, dari audiensi ini mulai terlihat masalah utamanya. Makam yang dinamai Wali Telu yang jumlahnya di saat itu mencapai 78 titik di kawasan Kicutang, Sigedong, Desa Ngalian ternyata tidak ada izin resmi. Makin pusing gua ada gitu kuburan pakai izin resmi. Ini izin resminya apa ya? Kuburannya pakai kayak mau buka warung pakai izin resmi. Terus geng, tidak ada persetujuan dari Dinas Pariwisata, Kantor Kementerian Agama dan Dinas Cash Bank Pool. Terus enggak ada juga dari DPMPTSP serta DPUPR itu enggak ada izin itu semua. Semua instansi yang sebenarnya berwenang justru tidak pernah dilibatkan sejak awal. Mereka enggak tahu apa-apa kok tiba-tiba ini makam tiba-tiba muncul jadi destinasi wisata spiritual. Jadi tempat yang dieluh-eluhkan, diagung-agungkan, disembah-sembah dan ternyata menjadi ladang cuan. Perputaran uangnya besar. Ya, kita tahu sendiri ya, ketika ladang cuan tidak melibatkan pemerintah, maka pemerintahnya protes. Maka pemerintahnya bakal turun tangan. Dan ternyata ada baiknya juga. Ketika pemerintah tidak dilibatkan, maka pemerintah akan turun tangan untuk ngecek dan akhirnya kepalsuan ini terbongkar. Nah, simbiosis mutualismenya kurang dapat tuh abang-abang ya, abang-abang e pebisnis makam palsu ya. Mungkin di tempat lain bisnis kayak gini tuh masih banyak ya. Tapi kong Kalikong dengan pihak-pihak berwenang setempat akhirnya belum terbongkar. Nah, kalau ini terbongkar nih. Yang membuat persoalan semakin rumit, maka-makap tersebut sudah lebih dulu disahkan menggunakan tanda tangan dan stempel kepala desa. Nah, jadi yang mendapatkan cuannya, pelicinnya adalah kepala desa di sana. Dan padahal tidak ada penelitian sejarah atau verifikasi arkeologis yang semestinya menjadi dasar. Bahkan menurut keterangan dari DPUPR, lokasi makam itu pun melanggar aturan tata ruang atau ITR. Nama-nama para wali yang ditempatkan di makam-makam itu disebut-sebut berasal dari rekomendasi seorang ulama ternama. Dan namun tanpa data pendukung, tanpa kajian sejarah, tanpa izin dari pihak berwenang dan rekomendasi itu justru memunculkan praktik yang akhirnya berbenturan dengan regulasi. Singkat cerita, setelah 2 tahun dibiarkan berdiri dari tahun 2022, akhirnya 78 makam yang berada di perbatasan Desa Ngalian, Kecamatan Wada Selintang ini dibongkar habis. Puluhan nisan di kawasan Kali Cutang dinyatakan sebagai makam fiktif dan klaim keberadaannya tidak bisa diakui secara ilmiah. Nah, oleh karena itu pada Rabu tanggal 28 Agustus 2024 makam-makam tersebut dibongkar oleh tim pembongkar makam Koramil Wadelintang dan Cash Bank Pol serta sejumlah tokoh masyarakat. Dan Arga Balarama salah satu anggota tim pembongkaran menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk mencegah pembelokan sejarah. Dan sejak awal banyak warga yang meragukan keaslian makam-makam tersebut. Apalagi semua nama yang tercantum digadang-gadang sebagai ulama atau wali itu tanpa bukti yang kuat. Arga menjelaskan bahwa timnya turun langsung ke lapangan untuk melakukan penelusuran dan menafsirkan berbagai temuan yang ada. Dan mereka menemukan bahwa kemunculan puluhan makam ini cuma bersumber dari cerita beberapa tokoh masyarakat melalui pendekatan spiritual tanpa didukung kajian ilmiah. Jadi ibaratnya tuh kayak ada tetua di sana mungkin kayak lagi ngedongeng kali ya, lagi bikin cerita biar seru aja akhirnya diseriusin. Padahal enggak ada kajian ilmiahnya, enggak ada penelitian arkeologi atau bukti sejarah apapun yang seharusnya ada di sekitar lokasi. Dan tim sama sekali tidak menemukan artefak dan dokumen kuno maupun catatan sejarah yang bisa memperkuat klaim kalau area itu memang merupakan situs cagar budaya gitu. Jadi kayak ya udah diada-adain orang-orangnya percaya dan langsung datang ke sana. Bahkan saat ditelusuri lebih dalam, jumlah makam dan nama-nama tokoh yang dicantumkan pun tidak konsisten dan tidak diketahui kapan tokoh-tokoh tersebut di ee dimakamkan di sana. Setelah ditelusuri, makam tersebut juga awalnya ternyata dibangun di tanah ilalang yang berstatus tanah milik desa. Tadinya tanah kosong. Dan Pak Arga ini juga menyebutkan bahwa rekomendasi yang diberikan sejumlah tokoh masyarakat ternyata tidak dibangun dari informasi yang lengkap. Beberapa di antara mereka bahkan meminta agar nama mereka dihapus dari daftar pemberi rekomendasi karena khawatir dianggap ikut e melegitimasi situs yang tidak jelas asal-usulnya. Nah, giliran udah ketahuan kayak gini banyak yang mau cuci tangan ya kan? Dan menurut tim yang membongkar makam tersebut penemuan yang hanya berdasarkan petunjuk spiritual dan tidak bisa dijadikan dasar kebenaran ilmiah dan ini bersifat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Nah, mereka menegaskan bahwa tugas mereka hanya sebatas penelitian dan juga pembongkaran. Sementara persoalan hukum terkait kasus makam fiktif ini menjadi ranah pihak yang lain. Pak Arga juga menjelaskan kalau dia juga sudah berkonsultasi dengan instansi terkait dan juga ahli sejarah. Dan tim tersebut menyimpulkan bahwa makam palsu yang terletak di kawasan Kalicutang ini tidak dapat diakui sebagai penemuan yang sah karena tidak didukung oleh kajian ilmiah. Nah, gila ya. 31 makam di awal ini, 78 makam enggak main-main. Oke. Nah, udah pembahasan kedua ya. Gimana menurut kalian? Maskin merasa tertinggal enggak masyarakat kita? Apa kalian merasa ini sebuah kemajuan? Oke, untuk pembahasan selanjutnya kita akan bahas lagi makam palsu yang lain yaitu makam Wali Lima di daerah Ngawi. Selanjutnya, Geng, ada sebuah makam fiktif yang terletak di Dusun Kudung Rejo 1, Desa Guyung, Kecamatan Gerih, ee Ngawi, Jawa Timur. Nih, ada teman-teman yang dari Ngawi enggak nih? Coba tinggalkan komentar di bawah. Makam ini sering disebut oleh warga sekitar dan juga para peziarah dengan nama makam Wali Lima. Dan anehnya makam ini terletak di perkarangan rumah dari seorang tokoh masyarakat yang ada di sana yaitu K. Haji Qosyim namanya. Nah, jadi di rumahnya ada makam gitu. Nah, ini ibaratkan kalau misalkan kita analogikan ya kayak orang nih punya rumah terus halaman depannya atau teras depannya dijadiin toko kelentong. Jadi bisa sembari bersih-bersih rumah, beres-beres rumah, nyantai-nyantai di rumah, tapi buka usaha. Kalau usaha si Kiai Haji Qasim ini adalah bikin makam palsu. Jadi sambil nyantai-nyantai di rumah, kipas-kipas pakai sarung, ada orang datang berdoa di depan rumahnya di makam itu ngasih duit. Wah, ide bisnis yang bagus ya. [tertawa] Nah, selain itu, Geng, nama-nama yang dipakai untuk makam palsu di rumahnya ini juga seperti nama-nama ulama besar yang ada di Indonesia. Misalkan kayak Syekh Maulana Muhammad Almisri, Syekh Maulana Sahid Almulti, Syekh Maulana Sahid Albakri, Syekh Maulana Alngalawi, dan Syekh Maulana Ahmad Muhammad. Terus ini kapan sih tiba-tiba kok makamnya ada di rumah atau di perkarangan rumahnya? Nah, makam ini ternyata sudah mulai dibangun atau dibuat oleh dia sejak tahun 2009. Dia buat itu ya mungkin sebagian orang tahu, tapi dia cuek. Yang jelas kiai Qosyim ini ya membuat situs makam tersebut dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Menurut pengakuan dia, dia membangun makam itu karena mendapat perintah dari gurunya katanya. Dan selain itu, dia juga merasa mendapat firasat lewat mimpi. Katanya ada jasad seorang wali yang bersemanyam di bekas perkarangan gundukan pembuatan batu bata merah tersebut. Dan pada tahun 2020, makam itu mulai direnovasi untuk menarik ee perhatian para jemaah. Nah, jadi makam ini awalnya cuma bekas gundukan aja. Bahkan ketua pejuang Wali Songo Indonesia Laskar Sabilah atau PWILS cabang Ngawi yang bernama Budi Cahyono menegaskan kalau makam dengan nisa nama-nama para ulama ini adalah jelas-jelas palsu. Dan Pak Budi ini juga menjelaskan kalau pihak mereka berinisiatif untuk melakukan pembongkaran dan sebelumnya mereka sudah berkoordinasi dengan perangkat desa serta kepolisian. Sebab kalau enggak dibongkar maka bakal banyak warga yang percaya dan berziarah di sana. Nah, sampai akhirnya nih, Geng, makam ini pun benar-benar dibongkar pada hari Minggu tanggal 12 Januari 2025. Dan pembongkaran ini dilakukan oleh kelompok pejuang Wali Songo Indonesia, Laskar Sabilillah atau PWILS cabang Ngawi yang turun tangan langsung untuk membongkar sebuah bangunan makam tersebut. Nah, aksi ini langsung dibenarkan oleh Kapores Ngawi AKBP Dwi Sumrahadi Rahmanto yang memastikan kalau pembongkaran memang terjadi dan sedang ditangani oleh aparat. Dan Dui menjelaskan kalau di sana terdapat lima makam yang dibongkar. Dan benar aja semua makam itu kosong dan tidak ada jasadnya. Kelima makam itu juga tidak sepenuhnya digali sampai bawah karena si Kosim ini sudah menjelaskan bahwa makam ini memang kosong. Jadi dia akui dia itu berbohong. Dan dari sini banyak yang percaya kalau makam ini merupakan salah satu ladang bisnis yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan semata. Walaupun tidak diberitahu jelas berapa keuntungannya, tapi kasus ini sangat merugikan bagi orang-orang yang masih percaya hal-hal seperti ini. Dan ketua RT setempat ya, yaitu Agus Suprianto juga menjelaskan bahwa cerita makam-makam itu sebenarnya sudah berdiri lebih dari 15 tahun lamanya. Selama itu pula banyak peziarah dari luar daerah berdatangan dengan keyakinan kuat bahwa yang mereka kunjungi adalah makam para wali lima. Keyakinan itu terus hidup di masyarakat meski asal-usul makamnya sendiri sebenarnya gak pernah benar-benar jelas. Nah, jadi geng dari semua kasus ini kita bisa lihat satu pola yang sama ketika kepercayaan masyarakat tidak dibarengi dengan literasi sejarah dan pengawasan yang kuat. Ruang kosong itu gampang banget ya diisi oleh orang-orang yang mencari kesempatan. Makam yang harusnya menjadi tempat mendoakan justru dijadikan komoditas. Sejarah yang harusnya dijaga malah dipelintir demi keuntungan. Dan ya masyarakat yang datang dengan niat baik malah berpotensi menjadi korban narasi yang direkayasa. Fenomena makam palsu ini bukan sekedar soal Nissan kosong atau nama besar yang ditempel seenaknya. Dan ini adalah soal bagaimana sebuah cerita bisa dimanipulasi ya, bagaimana simbol-simbol spiritual bisa dijual dan bagaimana kepercayaan publik bisa disesatkan kalau tidak ada ketegasan dari pemerintah minimnya literasi atau kurangnya kesadaran masyarakat untuk kritis sebelum percaya. Jadi, Geng, dengan semua fakta yang ada, kita bongkar dari awal kemunculan makam-makam palsu, pengakuan para tersangka sampai proses pembongkaran yang melibatkan aparat dan tokoh masyarakat. Ya, menurut kalian gimana? Apakah kasus makam fiktif ini bakal jadi titik balik untuk masyarakat semakin kritis dengan narasi spiritual yang dikemas, rapi demi keuntungan atau justru menunjukkan kalau selama ini pengawasan terhadap situs religi di Indonesia masih longgar banget. Nah, apakah pembongaran makam-makam palsu ini membuat publik sedikit lega? karena aparat dan warga akhirnya bergerak berbarengan atau malah membuat orang-orang semakin skeptis karena ternyata kepercayaan masyarakat kita dimanfaatkan oleh segelintir orang demi bisnis. Gimana menurut kalian? Ini sekedar soal makam yang diklaim keramat tapi kosong atau ada pemain yang lebih besar di balik manipulasi sejarah dan praktik komersialisasi tempat sakral ini? Coba deh tuliskan pendapat kalian di kolom komentar.